22 Juni 2016

Heavy Object Jilid 2 Bab 2 Bagian 1 - 2 LN Bahasa Indonesia

 
Si Kaki Tiga Yang Merangkak Naik Ke Gunung Merupakan Masalah Hidup Dan Matinya >> Pertempuran Di Gunung Iguazu

Bagian 1
Di Samudera Atlantik di dekat kepulauan Falkland, seorang kapten yang usianya hampir menyentuh 60 tahun dari kapal induk serbu Charlemagne berjalan perlahan di dek kapal yang digunakan untuk pendaratan pesawat. Di sampingnya adalah Froleytia, seorang perempuan yang usianya hanya 18 tahun. Dek sepanjang 170 meter4 sepertinya terlalu pendek untuk digunakan sebagai tempat jalan-jalan di kapal ini.
“Aku pikir perasaan yang aku rasakan saat ini adalah sebuah arus perjalanan waktu,” kata kapten berjangut putih itu dengan senyumnya saat dia menggunakan satu tangannya untuk memegang sebuah pipa pendek dan besar yang biasa digunakan oleh para detektif barat pada jaman dahulu. “Dulu, kapal pengangkut ini bisa membawa 70-80 pesawat, tapi sebenarnya pada pertempuran yang sesungguhnya yang digunakan tidak sampai sebanyak itu. dengan penemuan torpedo dengan kecepatan suara dan bom stealth, menenggalamkan sebuah kapal induk sepertinya bukan lagi impian di siang bolong ... Risiko dan biaya untuk berlabuh di daratan pernah menjadi masalah yang cukup serius bagi kami saat itu.”
“Jadi mereka berhenti menggunakan personil dan peralatan yang biasanya berfokus pada satu tempat, sekarang disebar ke tempat lain untuk mengurangi risiko, benar begitu?” jawab Froleytia.
Di mulutnya terdapat sebuah Kiseru Jepang yang lancip dan panjang yang sangat berbeda dengan apa yang digunakan oleh sang kapten.
Kapten itu mengangguk dan berkata, “Jika ada 10 kapal saja berada di dalam sebuah kapal, itu sudah cukup bagus buatku. Kalau kau ingin lebih dari itu, yang dibutuhkan hanyalah kapal lain. Panjang landasan pacu untunk mendarat juga menjadi masalah bagi kapal induk yang tidak terlalu besarm, tapi pengembangan sensor presisi tinggi dan nozzle pendorong membuat halangan itu lebih berkurang. Dan terkadang ada hal lain yang membuat misi kami terhalangi lagi ... Ya, benar, kedatangan era Object.”
Suara besi yang berdentum keras bergema di tempat itu.
 Dua buah kapal induk sedang melakukan sebuah formasi dengan jarak di antara keduanya sekitar 50 meter. Di tengah-tengahnya terdapat monster yang memiliki meriam raksasa dengan 100 senjata di tubuh bolanya. Itu adalah Baby Magnum. Rancah dan kabel yang tak terhitung banyaknya mengelilingi Object yang menjadi kebanggaan Kerajaan Legitimasi.
Kapten melihat tubuh raksasa monster itu dan berkata, “Dengan pengembangan teknologi laser, kiprah penguasa udara sudah dialihkan ke monster itu. Misi kami sekarang tidak lagi mengirim pesawat ke medan perang. Sebagai gantinya, tugas kami sekarang adalah menjadi pembawa suku cadang Object di laut, membuat perimter pertahan saat melakukan perawatan, dan menjaganya agar jangan sampai ada hal-hal yang tidak diinginkan.”
Itulah kenapa kapal ini tidak lagi dikenal sebagai pesawat induk saja. Tugasnya juga sebagai tempat mendaratnya pesawat. Kapal ini membawa peralatan yang dibutuhkan untuk membangun sebuah markas di pesisir dan menggerakannya agar bisa dibangun dengan cepat. Itulah fungsi sebuah kapal induk di era Object saat ini.
Froleytia mengangguk pelan sekali lagi dan berkata, “Aku berterima kasih untuk bantuanmu. Kami berharap suatu saat nanti kami bisa membangun markas di manapun kami diperintahkan, tapi sepertinya kami terlalu terfokus pada pertempuran darat.
“Tidak usah dipikirkan. Sebenarnya, aku tidak keberatan seperti ini. Jika kau bisa membangun markas dengan sigap dengan melewati samudera luas seperti ini, tidak akan ada ruang bagi angkatan laut seperti kami di dalam pertempuran. Aku senang diberikan kesempatan untuk menggunakan armadaku untuk hal seperti ini.”
Setelah berkata seperti itu, sang kapten menghembuskan asap tembakau dari mulutnya dan menjaga agar asapnya tak tertiup ke arah Froletyia.
Sang kapten kemudian bertanya lagi untuk mengganti mood perbincangan ini, “Jadi, siapa yang kalian kejar di dalam pertempuran ini?”
“Apa aku bisa mengatakan kalau yang kami kejar adalah Konglomerat Mass Driver?”

Bagian 2
Quenser berada pada 30 meter di atas permukaan laut.
Biasanya, Baby Magnum menjalani perawatan di tempat berbentuk persegi empat yang dibentuk dari sejumlah kendaraan yang sangat besar. Namun, perawatannya saat ini tidak bisa dilakukan secara maksimal di atas permukaan laut. Object memposisikan dirinya di antara dua buah kapal induk yang menghubungkan kabel yang jumlahnya tak terhitung banyaknya dari kedua belah sisi. Ini adalah sebuah bengkel perawatan yang berbeda dari biasanya.
Beberapa crane dengan lengan yang bisa dipanjangkan dipasang di kedua sisi kapal induk. Mereka tidak hanya fokus pada satu sisi saja tapi dipasang agar keseimbangannya tidak mengganggu keseimbangan kapal agar tidak miring.
Rancah tempat Quenser berdiri tidak persis sama seperti tempat para peragawati berjalan di catwalk karena rancah ini terbuat dari logam padat. Plat baja tipis menghubungkan dua sisi yang disanggah oleh kabel sehingga membuatnya terlihat seperti sebuah jembatan gantung kecil dan sempit. Tentu saja, goyangan kapal yang diakibatkan oleh gelombang laut dan angin laut membuat kabel ini tidak stabil dan jembatannya pun bergoyang ke sana dan ke sini.
“Wah wah wah wah wah!?”
Dengan kedua tangannya, Quenser meraih kabel yang lebih tebal yang dipasang di teralisnya saat tubuh bagian atasnya berguncang seperti seorang pemula yang baru saja belajar bermain skateboard. Sementara itu, sang mekanik kawakan, yaitu nenek tua yang menjadi teknisi Object, melipat tangannya tanpa berpegangan pada satu kabel pun.
“Sekarang, bagaimana caranya kamu bekerja kalau kau tidak menggunakan kedua tanganmu? Apakah kau tidak bisa melepaskan satu tangan saja? Memangnya untuk apa kita susah payah naik ke sini?”
“Aku tidak bisa! Rancahnya bergoyang terlalu kuat dan kita berada terlalu tinggi di atas ini! Kalau aku jatuh, aku pasti mati!!”
“Di bawah kita ini cuman ada lautan, jadi kalau kau jatuh belum tentu kau akan mati. Kecuali kalau ada badai, dan ada angin yang membuat ombak menjadi sangat tinggi. Kalau kau belajar untuk menjaga keseimbangan, tubuhmu bahkan tidak akan banyak berguncang.”
“Kenapa kau memintaku untuk melakukan hal gila seperti inii!!”
Quenser berpikir kalau sebenarnya nenek tua ini adalah seorang master aikido atau ahli bela diri lainnya, tapi saat dia melihat ke sekelilingnya, dia melihat prajurit lain melakukan perawatan dengan memasang plat baja ke Baby Magnum atau memeriksa apakah radanya berfungsi dengan baik dengan kedua tangan mereka. Sepertinya, ini adalah kemampuan dasar yang mutlak harus dimiliki oleh seseorang yang bekerja di bagian perawatan Object.
“... Kenapa tidak ada yang menggunakan peralatan keselamatan?”
“Menggunakan peralatan seperti itu akan membuat tubuhmu sulit untuk bergerak dan memperlambat kerjamu. Seperti yang aku bilang tadi, kau tidak akan mati jika jatuh ke lautan lepas ini. Kau cuman butuh peralatan keselamatan saat nyawamu terancam.”
“Aku rasa kemampuan seperti ini tidak aku butuhkan untuk menjadi seorang desainer ...” gumam Quenser.
Teknisi tua itu mengernyitkan dahinya dan berkata, “Coba pikir anak kecil, apa kau sudah menemukan bahan penelitian untuk membuat Object?”
“Saat aku baru mau memikirkan hal itu, aku dilempar ke sebuah misi di Alaska,” jawab Quenser merasa terganggu. “Ada beberapa topik yang membuatku tertarik sebenarnya. Seperti membagi massa tubuh Object dan menggunakan energi pendorong secara lebih efektif. Aku hanya tidak mengerti bagian Object apa yang harus aku pilih agar aku bisa segera menjadi seorang desainer Object.”
“Kau memilih pergi dari negara aman sebagai seorang tamtama di sini dan sekarang kau ingin memilih lapangan spesialisasi yang membuatmu menjadi seorang desainer dengan cepat? .. Kau sepertinya hanya memikirkan jalan yang lebih mudah, bukan begitu?”
“Aku lebih suka menyebutnya ‘rencana yang efesien’.”
Pada saat itu, sirine peringatan yang menandakan bahwa sebuah crane akan bergerak berbunyi. Quenser dan nenek tua itu menundukkan kepalanya saat lengan crane itu menurunkan barang beberapa meter di atas kepala Quenser.
Melihatnya, Quenser agak sedikit terkejut.
“Apa itu?”
“Kulkas kecil. Microwave juga dijadwalkan akan dipasang.”
“Dipasang di mana? Dan kenapa???”
“Berlayar melewati tujuh lautan membutuhkan waktu. Sebagai contoh, melewati Samudera Pasifik membutuhkan setengah hari. Sebenarnya sudah ada kebijakan untuk menjamin bahwa para Elit tetap mendapatkan makanan saat berlayar untuk menjaga fokusnya.”
“Begitu ya. Jadi itu kenapa dipasangnya di dalam kokpit—“
Saat Quenser mengerti jawaban itu dari nenek tua itu, dia mengangkat kepalanya saat baru menyadarinya.
Ransum tanpa rasa yang selalu dia permasalahkan karena bentuknya seperti penghapus raksasa sepertinya ransum seperti karet penghapus itu tidak perlu disimpan di dalam kulkas atau dihangatkan dengan oven. Itu berarti ...
“Tidak adil!! Kenapa putri mendapat gratin, steak salisbury, ayam goreng, dan makanan enak lainnya.”
“Ini sudah sangat adil. Dia membutuhkan fokus saat pertempuran, jadi cukup adil untuk menyiapkan makanan seperti itu buatnya. Ransum yang kita makan tidak diberi rasa karena tidak ada rasa ransum apapun yang disukai oleh orang-orang. Dengan membuatnya tanpa rasa, moral para prajurit bisa tetap dijaga. Namun, selera makan sang putri bisa disesuaikan dengan apa yang dia suka.”
“Tapi putri sendirian makan ayam goreng yang diambil dari microwave dan ia bisa makan ayam goreng dimanapun dan kapanpun dia mau! Ini ayam goreng!!”
“... Oke, aku tahu kalau kau sangat ingin makan ayam goreng, jadi tolong tenang ya.”

Heavy Object Jilid 2 Bab 2 Bagian 1 - 2 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.