14 Juni 2016

Dungeon ni Deai wo Motomeru no wa Machigatteiru Darou Ka? Jilid 3 Prolog


ALEA JACTA EST
“Ottar. Anak itu telah bertambah kuat lagi.”
“Sekali lagi, bukan.”
“Ehehe.”
Ruangan tersebut remang-remang. Dan senja menutupi jendela hingga ke ujung ruangan.
Lampu Ajaib di atas meja berkelap-kelip bagai nyala api pada lilin. Freya perlahan mengangkat ujung mulutnya.
Menara pencakar langit tersebut dibangun tepat diatas dungeon. Di lantai teratasnya.
Di sana terdapat beberapa furnitur. Meski dekorasinya sampai pada tingkat di mana tidak pas dengan ruangan top-class yang luas, tetapi apapun dekorasinya, memberikan kesan mewah. Dan pada saat bersamaan, dekorasi ruangan tersebut juga sangatlah elegan.
Rak buku raksasa, tempat tidur yang besarnya di luar kewajaran, dan karpet unik berwarna merah gelap. Sebuah lukisan bulan dan matahari di gantung dan memenuhi seisi ruangan.
Seorang dewi berambut perak memegang segelas wine sembari hanyut dalam topik pembicaraaan dengan seorang pengikutnya yang terpilih.
“Sepertinya aku salah lihat. Itu bukan <Status> nya. Hanya dengan mendapatkan Sihir, cahaya  anak itu telah naik ke level lainnya......Dan menurutku, ini seperti material yang semakin halus.”
Melihat tembus dari gelas yang dikelilingi oleh udara dingin yang terpancar dari cahaya bulan yang memasuki ruangan, Freya menatap permukaan air yang memantulkan cahaya.
Wine putih muda yang terpapar cahaya tidak memiliki warna yang pekat. Dan begitu pula rasanya.
Namun bagi Freya, nampaknya warna transparan itu tidak tergantikan. Mata peraknya sedikit sipit dan memlengkung keatas, dan ia mendekatkan gelas tersebut ke bibirnya.
“Perkembangan material.... Kemajuannya terlihat jelas, bukan?”
“Mungkin itu benar.”
Berdiri di tengah ruangan itu adalah Ottar yang serius, yang mengkonfirmasi dengan singkat.
Sembari mempertahankan postur tegaknya tanpa bergerak, tatapannya terhadap dewinya sebagai seorang pengikut sangatlah tenang.
Sambil dijaga oleh tatapan mata berwarna karat, meski perlahan, Freya menurunkan kelopak matanya.
“Meski begitu, hanya ada satu.... hanya satu, sebuah keberadaan yang menghalangi cahaya itu. Bagaikan rantai yang mengekang anak itu.”
“......”
“Ya, benar, materialnya sudah sangat cukup. Namun intinya masih belum. Tidak, intinya itu sendiri berada disana, namun nampaknya sangat samar......Apakah itu kehilangan sesuatu atau itu sedang dicegah.”
“Ottar, tahukah kau?” Freya berbalik untuk mendapat saran. Singkatnya, karena mereka berdua dulunya anak laki-laki, jadi ia menanyakan ini.
Makhluk seperti binatang yang diam seperti patung tersebut merapatkan mulutnya sejenak, lalu dia merespon pertanyaan pemiliknya.
“Mungkin hubungan yang telah ditakdirkan”
“Hubungan yang telah ditakdirkan......?”
“Ya, Seperti apa yang Freya-sama katakan, Itu  adalah hubungan yang telah ditakdirkan antara orang tersebut dengan Minotaur itu......Karena tidak mampu membersihkan noda masa lalunya. Mungkin ia menjadi duri di tempat di mana tidak ada orang yang mengetahuinya, dan itu menyiksanya.”
Dia sebelumnya memperbolehkan Ottar mendengarkan tentang perselisihan Bell dan Minotaur tersebut. Freya sendiri, bahkan, tidak mendengarnya langsung dari mulut Bell. Dan pada akhirnya, ini hanyalah rumor belaka yang ia dengar.
Dia tidak melebihi batas spekulasinya, numun menderita kekalahan telak terhadap Banteng yang ganas itu dan melarikan diri karena panik. Ini juga mungkin benar.
Freya meletakkan jarinya yang menekuk ke rahang bawahnya.
“Dengan kata lain, trauma...... Anak-anak benar-benar sangat polos. Meskipun kita memiliki sesuatu yang bernama kegigihan, yang tentu saja tidak akan melekat pada masa lalu.Menarik...... Atau perlu kukatakan, dari sudut pandangmu, kita hanya dengan bahagia melalui hari-hari?”
“Itu tidak benar.”
“Andai saja dia bisa berkembang lebih lagi, maka aku tidak akan merasa bosan......”
Kepada Ottar, yang sedang mempertahankan sifat sopannya, seraya berakata “yah, tidak mengapa” Freya tersenyum halus. Lalu melihat lagi ke arah Ottar.
“Lalu, apakah yang seharusnya kulakukan untuk menyingkirkan duri yang mengekang anak tersebut?”
Sambil melemparkan pandangan yang memprovokasi, Freya menanyakan pertanyaan ini kepada pengikutnya itu.
“Untuk bisa mengucapkan selamat tinggal kepada hubungan yang ditakdirkan di masa lalu, tidak ada cara lain selain menghancurkan simbol itu dari masa lalu dengan tanganmu sendiri.”
Ottar terus memberi tanggapan positif terhadap pertanyaan Dewi utamanya.
“......Meskipun itu adalah dirimu, apakah akan tetap sama?”
“Laki-laki adalah makhluk yang dapat membuat kekeliruan, itulah yang saya percayai.”
Freya tersenyum dan memindahkan tatapannya.
Dia, yang telah meng-eliminasi kekhawatirannya, menunjukkan mood  yang bagus dan mulai berpikir.
(Jika Minotaur  tersebut telah menjadi masa lalu yang menghambat dan menyelimuti anak itu, maka jawabannya sangatlah mudah. Tidak melakukan apapun dan menunggu sudah cukup. Jika anak tersebut telah menjadi lebih dewasa, cepat atau lambat, ia akan dapat melewati batasan itu sendiri......)
Hanya perlu menunggu waktu, Bell akan mendapatkan kekuatan untuk mengalahkan Minotaur tersebut.
Berhasil melewati masa lalu yang menghambatnya. Dan tidak akan ada masalah lagi.
(Lalu, menunggu hingga waktunya datang ketika dia mengalahkan Minotaur tersebut, maka tidak akan ada lagi hal yang menghalangi cahaya anak itu......)
Jika seperti itu, dia kelak akan dapat berdiri dihadapan Freya dalam wujudnya yang sudah dewasa. Di mana Freya sendiri akan dapat melihat dewa.
Dengan mata yang berbinar, atau kurang lebih itu yang dia bayangkan. Bagi Freya sekarang, Bell merupakan pusat perhatiannya, dan jauh lebih menarik dari siapa pun.
Mendambakan anak tersebut.
Ia bahkan telah berpikir ke titik dimana kelak ia dapat meletakkan ujung jarinya pada anak tersebut.
Memikirkan ini, Freya tiba-tiba bertanya kepada Ottar.
“Ottar.
“Ada apa?”
“Kau, apa kau punya saran? Aku telah terpesona oleh anak itu, dan tidak memikirkan orang lain lagi, yang bahkan berada dalam <Familia> ku.”
Kepada Ottar, yang ekspresinya sama sekali tidak berubah, Freya lanjut berbicara.
“Jika anak tersebut jadi lebih kuat darimu, apa yang harus kita lakukan?”
“......”
“Dibandingkan denganmu, Mungkin aku lebih memilih anak itu. Aku bahkan mungkin akan menurunkanmu dari jabatanmu, dan membiarkan anak itu menggantikanmu.”
“Semua tergantung keinginan Freya-sama”
“Apa kau tidak iri?”
Ottar perlahan menunjukkan ketulusannya, seakan itu adalah rasa kepercayaannya.
“Cinta-mu terhadap semua orang adalah sama. Tidak ada satu pun yang spesial, terlepas dari kepantasannya.”
“......”
“Saya sangat yakin, meski bayangan saya hilang dari posisi ini, cinta-mu tetap tidak akan hilang.”
Mata perak dan mata berwarna karat saling bertukar pandang.
Dalam keheningan ini, Ottar menekuk tubuhnya dan perlahan membungkuk.
“Saya berkata kasar.”
“Tidak apa. Bisa dibilang juga rasa cintaku kepadamu juga bertambah.”
“Saya merasa sangat terhormat.”
Seakan mereka berbicara sarkastik, yang saling berbolak-balik diantara mereka berdua.
Setelah itu, Freya memperlihatkan sedikit senyuman jahat, dan mengeluarkan suara yang indah.
“Tapi itu hal yang sangat disesali. Kau, yang keras kepala, Aku ingin sedikit melihat tampang cemburumu.”
“Jika itu mau anda.”
“... ...Fu,Ufufu! Ahahaha! Sungguh, Ottar? Tidak bisakah kau lebih lucu lagi? Jika aku melihat tampang cemburumu, Aku tidak yakin dapat menahan tawaku.”
“... ...”
Seakan baginya itu hal yang lucu dari lubuk hatinya, Freya tertawa. Dengan tangannya menutup mulutnya, seperti anak kecil yang polos memegangi perutnya.
Dari sisi Ottar, wajahnya, yang selalu kaku setiap saat, saat itu sedikit----Seakan dirinya merasa malu----terguncang. Telinga babinya yang tumbuh dikepalanya menjadi sedikit melingkar kearah yang tidak wajar.
Freya, yang puas tertawa, menyeka matanya dan memahami perasaan malu dalam hati bawahannya tersebut, dan nampaknya ingin mengganti atmosfir dan topiknya.
“Sekarang, Ottar, bagaimana menurutmu?”
“... ... Apa yang anda maksud?”
“Tentang anak itu. Apakah kegelisahanku mengganggumu?
Dia mencoba bertanya berdasarkan ide awalnya.
Ottar dengan cepat mendapatkan kembali ketenangannya dan perlahan mendengarkan.
“Anak itu, meski aku tidak melakukan apa pun, dia tetap akan menjadi lebih kuat. Dan suatu saat nanti dia akan bisa memotong hubungan yang ditakdirkan yang anda katakan itu.”
“... ...”
“Namun, pada saat bersamaan aku juga gelisah, apakah ini tidak apa-apa. Meski aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata... ... Cepat atau lambat, dalam proses ini, selama aku mau mengorbankan waktu... ... Dibandingkan dengan keluhan, ya, aku merasa ini akan menjadi mengerikan. Meski tidak ada hal semacam itu, tapi aku merasa kalau kelak aku akan jatuh.”
Apa aku berpikir terlalu banyak, bisiknya dalam hati.
Meski tidak ada masalah, ataupun memiliki masalah terhadap keadaan Bell, Freya merasakan perasaan samar-samar yang tidak dapat dijelaskan. Apakah aku bisa meneruskannya, perasaan ini.
Tidak ada bukti pasti. Tapi melihat ke beberapa anak... ... dia, yang memiliki anggota yang berbakat, berpikir apakah baik jika membiarkan waktu memainkan perannya.
Pada saat ini, Ottar menyipitkan matanya untuk pertama kali.
“Ottar, apa kau merasa tidak apa-apa jika membiarkan waktu menyelesaikan masalah ini?”
“Ehhhh, tidak ada salahnya. Namun pada akhirnya akan menjadi seperti itu. Hanya... ...”
Ottar seketika berhenti berbicara, lau dia melanjutkan lagi dengan rasa percaya diri tinggi.
“Orang yang tidak mengambil resiko tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggunya. Dan itu juga fakta.”
Dia berhenti.
Saran yang dia berikan.
Pernyataan kontras terhadap perempuan setengah-elf yang tidak berada disana.
Dia, yang telah mempertaruhkan nyawanya berkali-kali, higga akhirnya mencapai posisinya sekarang sebagai ahli pedang sejati. Dia dengan yakin mengucapkan kata-katanya tentang mereka yang tidak mengambil resiko tidak akan bisa mencapai puncak.
Ini juga menyiratkan kemungkinan untuk menstimulasi <Unknown> dalam tubuh anak itu, yang tidak dapat dilihat Freya.
Itu benar.
Apa yang tidak dapat dilihat Freya, yang dapat diprediksi Ottar, adalah kemungkinan anak itu.
“... ... Kali ini, tindakan terhadap anak itu sepenuhnya bergantung padamu, Ottar.”
Sang dewi kecantikan meletakkan gelas yang memancarkan aroma anggur.
Menutup matanya, dia entah bagaimana tampak tidak acuh dan bersandar ke sandaran kursi.
Pada saat ini saja, Ottar menyembunyikan keterkejutannya.
“... ... Angin apa yang akan berhembus kali ini?”
“Tapi setelah itu, dibandingkan dengan diriku, kau jauh lebih mengerti tentang situasi anak itu.”
Mengangguk perlahan, setelah mengatakan pendapatnya tentang kecocokannya.
Freya mengangkat kepalanya, menyipitkan matanya dan memperlihatkan senyum nakal.
Ke batas dimana aku cemburu.”

Dungeon ni Deai wo Motomeru no wa Machigatteiru Darou Ka? Jilid 3 Prolog Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.