08 Juni 2016

1/2 Prince Jilid 2 Bab 5 LN Bahasa Indonesia

ZHUO LIN BIN DAN OU YANG MEI
Sejak aku bangun tidur, memasak sarapan, mengejar bis, sepanjang waktu hingga kelas Gui selesai, pikiranku hanya terpaku pada satu hal: Apakah sebaiknya aku menyelinap ke klinik kampus dan mengintip Wolf-dàgē atau tidak?
Berbicara secara rasional, akan lebih bijak bila aku tidak pergi; bagaimanapun juga, siapa yang tahu apakah Wolf-dàgē akan mengenaliku atau tidak? Tetapi, berbicara secara emosional… Ohhh, AKU BENAR-BENAR ingin melihat seperti apa wajah Wolf-dàgē yang sebenarnya! Tidak mungkin dia seperti dirinya yang ada di dalam game, ya 'kan!? Itu sudah jelas, karena Wolf-dàgē bukan seorang manusia serigala.
Tidak yakin dengan apa yang harus dilakukan, aku hanya dapat mulai mencabuti kelopak-kelopak bunga… "Pergi melihat, tidak pergi melihat, pergi melihat, tidak pergi melihat, pergi melihat…"
Tiba-tiba, suara berat seseorang berbicara dari belakangku, "Nona, kau tidak bisa memetik bunga di sini!"
"Maaf, maaf," aku meminta maaf, membungkuk pada paman penjaga taman.
Kurasa aku akan pergi dan melihat bagaimanapun juga! Setelah memutuskan tekadku, aku berbalik untuk pergi ke klinik kampus, tapi tiba-tiba aku berpikir, Tidakkah sebaiknya aku mendapat luka sedikit sebelum pergi? Kalau tidak, apa yang akan menjadi alasanku pergi ke klinik? Tapi luka rasanya sakit dan ini tidak seperti berada di dalam game, di mana aku hanya perlu minum health potion untuk menyembuhkan lukaku. Luka yang sebenarnya akan terasa sakit selama beberapa hari, ditambah lagi juga akan meninggalkan bekas! Aku tidak mau terluka… Tapi aku tidak akan bisa melihat Wolf-dàgē jadinya. Apa yang harus kulakukan?
"Kak, sedang apa kau di sini?" Yang Ming tiba-tiba muncul dan memukul punggungku.
"AHHH! Kau menakutiku, Yang Ming bego!" kataku.
Aku sedang berada di tengah-tengah penderitaan akan sesuatu!
"Apa yang membuatmu begitu galak begitu? Apa itu datang?" Yang Ming memberiku sebuah isyarat kedipan.
Itu? Ah, benar! Itu! Sekarang aku punya alasan.
Aku dengan pelan mendorong pintu klinik dan menyembulkan kepalaku ke dalam untuk melihat. Sepertinya tidak ada siapa-siapa di sini?
"Ada masalah apa, gadis kecil?" tanya suara besar di belakangku.
Aku berbalik, terkejut. Inikah edisi manusia dari Wolf-dàgē? Wooow! Sekalipun dia tidak tampan, dia sangat bergaya dengan caranya sendiri. Bagaimana aku mengatakannya ya —— dia seperti sosok seorang kakak laki-laki yang berwibawa dari manga action, dengan suara yang besar dan memerintah… Baiklah! Kuakui bahwa analogiku memang menyedihkan.
Wolf-dàgē melihatku saat aku menggaruk kepalaku, kemudian dengan lembut bertanya, "Mahasiswi, apakah kau terluka?"
Aku kembali sadar. "Uh, aku— aku nyeri haid…" kataku. Bahkan saat aku menggosok perutku, berpura-pura kesakitan, aku terus meliriknya dari sudut mataku.
Wooow, Wolf-dàgē benar-benar tinggi di dunia nyata seperti yang ada di dalam game. Otot-otot leherku mulai merasa nyeri karena melihatnya begitu jauh ke atas, karena tinggiku hanya 165 cm.
"Oh, kalau begitu berbaringlah di tempat tidur sebelah sana. Aku akan pergi mengambilkan botol air panas untukmu sekarang."
Aku berbaring di tempat tidur dengan patuh, tapi mataku terus mengikuti Wolf-dàgē saat dia bergerak mengelilingi ruangan. Heehee, apakah tatapanku membuat Wolf-dàgē merasa sedikit malu? Entah kenapa aku mendapatkan kesan bahwa punggungnya kelihatan sangat, sangat kaku— Aku tidak pernah mengira kalau Wof-dàgē begitu pemalu! Diam-diam, aku terkekeh dalam hati.
Memegang botol air panas, Dokter Li Tian berkata selembut mungkin, "Ini, taruhlah ini di atas perutmu. Itu akan membuatmu merasa lebih baik."
Aku menerima botol air panas itu dengan rasa terima kasih. Wolf-dàgē benar-benar lembut di dunia nyata seperti di dalam game. "Terima kasih, Wolf-dàgē," kataku tulus.
Wolf-dàgē dan aku sama-sama membeku. Ya ampun, aku benar-benar bodoh!
"Profesor Min dari kelasku menceritakan pada siapapun tentang dirimu! Aku—Kudengar kalian berdua teman baik di dalam game? Aku juga menonton pertandingan turnamenmu sebelumnya, jadi sebenarnya aku mencoba untuk melihatmu… Hahaha! Maaf, aku tidak benar-benar sedang nyeri haid," kataku, tertawa lemah. Ya Tuhan, semoga Wolf-dàgē percaya ceritaku!
"Oh, jadi Gui menceritakan padamu tentangku!" Li Tian Lang pulih kembali, tertawa. "Kau membuatku kaget, karena biasanya hanya temanku — Prince — yang memanggilku Wolf-dàgē. Yang lainnya memanggilku Wolf-gē atau hanya Wolf. Class apa yang kau mainkan? Apakah kau berada di dalam sebuah tim?"
Aku tanpa pikir panjang meneruskan cerita kebohonganku. "Uh, aku adalah seorang mage… Ya, tapi tidak seterkenal timmu. Wolf-dàgē mungkin tidak pernah mendengarnya!" Waah, Wolf-dàgē, aku tidak berniat untuk menipumu!
"Oh, berjuanglah kalau begitu!" Li Tian Lang mengulurkan tangan dan menepuk kepalaku dan aku nyengir seperti biasa. "Tuliskan nama dan nomor identitas mahasiswamu pada daftar pasien hari ini. Sekalipun kau hanya pura-pura, lebih baik diisi."
"Oke." Aku mengambil lembar daftar itu darinya dan mengisikan namaku.
"Yah, tidak ada banyak orang sekarang, jadi kau bisa berbaring di sini sampai kau ingin pergi!" Wolf-dàgē berkata padaku sambil tersenyum.
"Haha, aku pergi sekarang," balasku, turun dari tempat tidur. Ya benar, terus berbaring? Aku bahkan belum masak makan malam; aku akan dipojokkan dan dibunuh tiga orang begitu aku sampai di rumah. "Sampai jumpa, Wolf-dàgē."
"Sampai jumpa." Li Tian Lang menatapku saat aku mendorong pintu membuka dan pergi.
Li Tian Lang mengangkat daftar pasien di tangannya dan menyimak baik-baik… "Feng Lan? Feng Yang Ming? Hmm…"
Pintu  terdorong terbuka kembali untuk kedua kalinya.
"Wolf-gē? Apakah itu tadi mahasiswaku barusan? Apakah dia terluka?" Gui bertanya dengan nada khawatir.
"Tidak, dia datang untuk melihatku. Siapa yang memintamu untuk menggembar-gemborkan soal aku!" Li Tian Lang berkata dengan nada mencela.
Gui benar-benar kebingungan. "Aku? Apakah aku pernah menceritakan tentang dirimu?"
Saat mendengarnya, Li Tian Lang merenungkan dengan tenang untuk sesaat sebelum bertanya, "Apa hubungan antara Feng Lan dengan Feng Yang Ming?"
"Mereka saudara kembar — kenapa kau bertanya?" tanya Gui, bingung.
"Bukan apa-apa." Tetapi, Li Tian Lang masih merasa bahwa sikap tindakan Feng Lan dan Prince sangat mirip. Saat dia menepuk-nepuk kepala Prince, Prince juga nyengir dengan cara yang sama. Atau ini hanya kemiripan karena Feng Lan dan Feng Yang Ming adalah kembar dan saudara kembar sikapnya mirip? "Aku akan pergi melihat seperti apa Feng Yang Ming suatu hari nanti."
"Hmm… Tapi aku berjanji pada Prince bahwa aku tidak akan ikut campur urusannya lagi," kata Gui, terdengar kebingungan.
"Mungkin kau benar. Baiklah, kalau Prince tidak mau mengatakannya pada kita, maka ayo kita lupakan dan biarlah berjalan sebagaimana mestinya! Aku tidak akan ikut campur juga," kata Li Tian Lang dengan tulus.

Saat ini aku sedang berjalan pulang ke rumah, tidak sadar bahwa identitasku hampir terungkap. Aku hanya memikirkan apakah akan memasak sop iga atau sop kentang saat Rose berjalan melewatiku. Aku mendongak, penasaran. Apakah seharusnya aku menyapanya? Tapi terakhir kali kami bertemu, dia berkata akan melupakanku. Aku penasaran apakah dia masih mau berteman denganku…
Tunggu! Aku melirik ke bawah sambil menarik kerah kemejaku lebih lebar — Aku punya dada! Aku melihat ke sekelilingku. Ini adalah area pemukiman yang normal. Aku sedang berada di dunia nyata, jadi bagaimana bisa aku melihat Rose?
Aku mengumpulkan fokusku dan melihatnya lagi. Rose sekarang berdiri di tanda rambu pemberhentian bis, menunggu bis.  Ini adalah perasaan yang aneh… Tunggu sebentar! Pria yang berdiri sekitar tiga langkah dari Rose terlihat saaaangat familiar… Wicked! YA TUHAN! Lebih buruk lagi, sepertinya aku akan naik bis yang sama dengan mereka!
Ahhh, Buddha! Ahhh, Dewa! Ahhh, Tuhan! Aku mulai merapalkan naskah Buddha sambil membentuk salib di depanku dengan lengan. Aku mohon dengan sangat pada kalian! Ini pasti adalah halusinasi… Atau biarkanlah ini adalah sebuah lamunan! Waaaaaaah…
Akan tetapi, kenyataany tetaplah kejam seperti biasa. Aku masih tetap naik bis tersebut dan berdiri bersebelahan dengan mereka berdua… Lupakan saja, bagaimanapun juga, mereka mungkin tidak akan — Tidak, mereka sudah pasti tidak akan dapat mengenaliku!
Aku mencuri pandang pada si tampang dan si cantik yang berdiri di sebelahku. Rose memang benar-benar cantik dan Wicked juga sangat tampan! Mereka berdua benar-benar orang yang menawan—mungkinkah mereka adalah pasangan? Aku diam-diam bertanya-tanya.
Tetap saja, setelah beberapa pemberhentian, tidak satu pun dari mereka yang berniat untuk turun dari bis. Rumahku berada di pemberhentian terakhir.
Sial, tidak mungkin 'kan secara kebetulan mereka adalah tetanggaku, ya 'kan? Tidak, itu mustahil. Tetanggaku sebelah rumahku adalah paman dari suami kakak perempuan ibuku dan keluarganya, bukan?
Selain itu, kalau ada orang tampan seperti Wicked di antara kerabat jauhku, ibuku pasti sudah menyeretku ke sesi perjodohan sejak lama. Dengan begitu, ibuku akan mendapatkan pria menawan ini untuk menikah ke dalam keluarga kami1 — maksudku, menikahkanku ke dalam keluarganya, dan kemudian membawanya pulang untuk memuaskan matanya.
 Saat aku berspekulasi liar, Rose turun satu pemberhentian sebelum aku. Aku menghela nafas lega. Dengan begitu berkurang satu orang untuk kukhawatirkan sekarang.
Akhirnya, bis tiba di rumahku. Aku pandang yang terakhir kali pada wajah tampan Wicked sebelum mengalihkan pandangan dan melangkah turun dari bis…
Ehhh, seseorang sepertinya sedang mengikutiku!
Keringat dingin mengalir menuruni leherku saat aku menolehkan kepalaku ke belakang, hanya untuk melihat Wicked tersenyum samar padaku. Hah? Apa yang sebenarnya terjadi di sini?!
Sekalipun aku merasa panik dalam hati, aku memaksa diriku sendiri untuk terlihat tenang di luar saat aku membalas senyuman Wicked. Aku kemudian berbalik dan bersiap untuk melarikan diri.
"Tunggu," Wicked tiba-tiba memanggilku.
Secara singkat aku mempertimbangkan situasi saat ini. Dengan tinggi badan, panjang kaki, kekuatan fisik, dan staminaku sekarang, aku tidak dapat berharap berlari lebih cepat dari Wicked. Lupakan kalau begitu! Pikirku, menyerahkan diriku pada nasib saat aku berbalik menghadapinya. "Ada apa?"
"Xiao Lan — kau adalah Xiao Lan, 'kan?" Tak diduga, ada sebuah ekspresi hangat di wajah Wicked.
Dia mengenalku? Dia bahkan tahu namaku? Aku terpana.
"Kau lupa kalau begitu… Aku Zhuo Ling Bin — Zhuo-gēge. Ingat aku?"
Zhuo-gēge? Orang yang dulunya tinggal di sebelah rumahku saat aku masih kecil dan kemudian pindah —Zhuo-gēge YANG ITU? Aku ternganga memandang Wicked, mencoba untuk mencerna pernyataan yang meragukan dan mengejutkan itu.  Ini benar? Kebetulan sebesar ini? Wicked adalah Zhuo-gēge?!
"Kau benar-benar Zhuo-gēge?"
"Itu benar! Akhirnya kau ingat. Aku tadinya tidak terlalu yakin apakah kau benar-benar Xiao Lan. Waktu yang pas — aku barusan merasa khawatir kalau-kalau aku lupa arah ke rumahmu." Wicked… tidak, Zhuo-gēge tersenyum saat melihatku.
Setelah makan malam, aku membawa senampan seduhan teh ke ruang keluarga di mana saudaraku dan Zhuo-gēge sedang mengobrol dengan ramainya. Menurut penjelasan Zhuo-gēge, dia berada di Universitas XXX.
Itu juga adalah universitasKU! Aku tidak menyangka bahwa dia ternyata mengadakan penelitian kelulusannya di laboratorium universitasku!
Karena itulah, dia telah melihatku secara tak sengaja, jadi dia secara khusus melakukan perjalanan ke rumahku untuk melihat apakah itu benar-benar aku.
Tepat saat aku duduk dengan tenang, aku mendengar percakapan mereka mengarah ke Second Life
"Hebat, jadi Yang Ming adalah Feng Wu Qing — apakah itu berarti kita telah berada di tim yang sama selama ini?" ekspresi terheran-heran Zhuo-gēge terlihat di wajahnya.
Mendengarnya, aku tiba-tiba teringat juga. Yah, itu benar — saudaraku dan Zhuo-gēge sama-sama anggota Dark Emperor 'kan ya?
"Jadi Zhuo-gēge adalah Wicked-dàgē, dan aku bahkan tidak menduganya." Keheranan terlihat jelas di wajah saudaraku.
Apa yang perlu diherankan tentang itu? Kau bahkan tidak dapat mengetahui identitas kakak kembarmu sendiri di dalam game, yang lahir dari rahim yang sama denganmu! Apalagi Zhuo-gēge, yang tidak pernah kau lihat dalam 8 tahun, pikirku dengan mencela.
"Kalau begitu Ming Huang adalah Zhuo Ming Bin?" saudaraku tiba-tiba berseru. "Dia sangat berbeda daripada saat dia masih kecil. Dia kelihatannya jadi lebih bertemperamen buruk."
Apa? Ming Huang adalah Zhuo-dìdi2? Tidak mungkin — Zhuo-dìdi tadinya sangat manis dan menggemaskan, selalu mengikutiku  ke mana-mana dan memanggilku "Jiějie"… Bagaimana bisa dia menjadi si bukan-laki-laki, bukan-perempuan yang begitu kejam, Ming Huang? Jangan hancurkan kesan Zhuo-dìdi yang indah! Tangisku.
Zhuo Ling Bin tersenyum pasrah. "Anak itu sedang dalam masa membangkang!"
Zhuo-gēge kemudian menoleh padaku dan bertanya, "Apakah kau juga main, Xiao Lan?"
Aku merasa ragu-ragu untuk sesaat sebelum menjawab, "Uhhh, yah."
"Dia bahkan menjadi seorang banci di situ!" Saudaraku — yang tidak tahan untuk menjatuhkan bom di atas orang lain — ternyata telah membocorkan rahasiaku! Aku memelototinya dengan kejam, kebencian dan penyesalan meluap-luap di dalam hatiku.
YA TUHAN … Kenapa aku memberitahukan rahasiaku pada mulut paling bocor di keluar Feng?!
"Banci? Itu seharusnya tidak mungkin di dalam Second Life, 'kan?" Zhuo-gēge melihatku dengan pandangan tidak percaya.
Ini mendorong saudaraku — yang memiliki mulut yang lebih besar daripada Tiga Jurang — untuk segera mulai menceritakan kembali keseluruhan kisahnya pada Zhuo-gēge. Aku terus menundukkan kepalaku rendah dari awal hingga akhir narasinya, berharap bahwa Zhuo-gēge akan melupakan seperti apa rupaku … Atau melupakan seperti apa rupa Prince.
"Jadi seperti itu?" Zhuo-gēge tersenyum padaku yang gelisah dan berkata, "Jangan khawatir, aku tidak akan mengatakannya pada siapapun."
Tapi aku tidak takut kau akan membocorkan rahasiaku, aku takut bahwa kau akan mengenaliku…
Zhuo Ling Bin melirik jam dinding dan kemudian berdiri, berkata, "Sudah semakin larut, aku sebaiknya pulang. Masih ada pertandingan malam ini. Sampai bertemu di Second Life, Yang Ming." Saudaraku memberi sebuah isyarat OK dengan tangannya.
"Aku akan mengantarmu ke pintu, Zhuo-gēge." Aku mengantarnya dengan hati-hati.
Zhuo-gēge berhenti saat kami mencapai pintu masuk. Dengan seulas senyum tipis di wajahnya, dia berkata, "Xiao Lan, kuharap aku akan dapat menemuimu di Second Life suatu hari nanti!"
"Yah." Kita sudah pernah bertemu!
Mendengarnya, senyum Zhuo-gēge semakin melebar, dan aku merasa bahwa senyuman tersebut menyakitkan untuk dilihat. Zhuo-gēge, tolong jangan memberi lebih banyak tekanan padaku!
Sesaat kemudian, dia bertanya, "Kudengar gurumu adalah Gui dari Odd Squad?"
"Ya." Kenapa kau mengubah pembicaraannya menjadi Gui sekarang?Apakah kau tahu itu membuatku gugup?
"Aku benar-benar tertarik dengan Odd Squad. Lain kali, aku akan duduk di kelasmu. Profesormu pasti akan sangat terkejut melihatku."
Yah, itu benar! Kalau dia melihatmu dekat dengan saudaraku, dia mungkin akan berpikir kau adalah saingan cintanya! Pikirku licik, mencob membayangkan situasinya. Sepertinya itu pasti akan sangat menarik… ?
Begitu aku membayangkan keseluruhan skenario yang mungkin terjadi dan sangat menarik, aku melupakan semua resiko tentang identitas. Aku tersenyum dengan riang sambil berkata, "Tentu, tentu. Beritahu saja aku sebelum kau datang dan aku akan mengatakan pada saudaraku untuk menyiapkan sebuah tempat duduk untukmu."
"Oh? Aku lebih suka untuk duduk di sebelahmu sebenarnya," kata Wicked. Sebelum aku dapat bereaksi, dia sudah melambaikan tangan selamat tinggal dan pergi, meninggalkanku membeku di tempat di belakangnya.
Di sebelahku, Yang Ming bersiul keras. "Sepertinya Zhuo-gēge sangat tertarik dengan kakakku. Kak, kau bisa memanfaatkan dia di Second Life. Warrior dark elf Dark Emperor, Wicked, sangat terkenal!"
Bersandar pada Wicked di Second Life? Aku membayangkan situasinya: Dua pria bermesraan berjalan bergandengan tangan satu sama lain. Kemudian, setelah itu, tambahkan pria lain — Gui — mengamati dengan cemburu dari samping… Bisakah siapapun melihat pemandangan tersebut dengan serius?
Aku menggelengkan kepalaku dengan tidak sabar, mengenyahkan bayangan yang cukup menjijikkan itu. Tidak lagi memikirkan seluruh kekacauan dari peristiwa dan identitas, aku baru saja akan kembali ke kamarku dan log on untuk berlatih di Second Life saat…
"Xiao Lan, apakah kalian sudah selesai mengobrol? Kemari dan temuilah sepupu kalian yang baru saja kembali dari Amerika," kata ibuku dengan senyum lebar saat memberi isyarat padaku untuk datang ke ruang keluarga.
"Sepupu?" tanyaku tak mengerti.
"Itu benar! Sementara kalian mengobrol dengan Ling Bin, sepupu kalian mampir berkunjung. Dia adalah putri ketiga paman dari suami saudara perempuan ibu yang tinggal di sebelah rumah." Senyum ibu semakin cerah. Dengan wajah yang dipenuhi dengan niat yang dipertanyakan, dia menarik saudaraku dan berbisik, "Nak, sekalipun sepupumu itu lebih tua daripadamu sekitar dua, tiga tahun, dia sangat cantik. Ditambah lagi, dia adalah saudara jauh yang tidak berhubungan darah denganmu, jadi kalau kau ada kesempatan…"
Saudaraku itu — yang sangat suka main-main dengan perempuan — ternyata dengan kasar menjawab, "Aku tidak ada minat dengan perempuan yang lebih tua. Aku hanya suka gadis yang sepantaran denganku."
Walau begitu, saudaraku dan aku tetap dengan patuh pergi untuk menyapa sepupu kami. Saat berjalan ke ruang keluarga, saudaraku memperlihatkan ekspresi polos, menyunggingkan senyuman yang secara khusus untuk berurusan dengan kerabat yang lebih tua.
Dasar penipu! Pikirku, meskipun aku tersenyum seanggun mungkin dan melihat sepupuku…
Saudaraku dan Rose secara bersamaan berseru lantang:
"Rose?"
"Wu Qing?"
"Mawar apanya? Ini adalah sepupumu, Ou Yang Mei," kata ayahku, terlihat bertanya-tanya pada mereka berdua.
Jariku gemetar. "Bagaimana mungkin begini? Bukannya kau jelas-jelas turun di pemberhentian bus lebih duluan tadi?"
Rose… Sepupu Ou Yang Mei melihatku. "Bis? Oh, aku turun lebih dulu karena aku ingin membeli buah sebagai oleh-oleh. Apakah kau ada di bis itu juga, Sepupu?"
"Lupakan bisnya, apa kau benar-benar sepupuku?" Yang Ming bertanya tidak percaya. "Bukannya kau lebih muda dariku?"
"Tahun ini, umurku dua puluh tiga tahun. Wajahku baby-face." Ou Yang Mei tersenyum pasrah. "Tak disangka kau ternyata adalah sepupuku, Wu Qing."
"Yah…"
"Tunggu sebentar—apakah ada seseorang yang akan menjelaskan pada kami berdua sebagai orang tua tentang apa sebenarnya sedang terjadi?" Ayahku dan ibuku akhirnya menyela, tidak lagi dapat menyaksikan dalam diam.
"Bukan hal besar, hanya saja Sepupu dan aku tadinya berada di tim yang sama di Second Life," Ou Yang Mei berkata dengan senyum lemah.
"Jadi begitu…"
Ayah, ibu, saudara, dan sepupuku segera bercakap-cakap dengan riang di antara mereka berempat. Aku, walau begitu, hanya duduk dengan kaku di samping mereka, kadang-kadang tersenyum. Dalam hatiku, aku sedang berpikir, Tidak hanya aku sudah membunuh ayah dan ibuku serta merampas gadis adikku sebagai Prince, tapi aku sudah berbuat lebih jauh lagi dengan menolak sepupuku…dan aku bahkan menciumnya.
Lalu…saat samaran Prince terbuka — itukah saatnya aku dibenci oleh keluargaku sendiri?
Dengan kesadaran itu, aku meratap dalam hati, Siapa itu Prince? Aku bukan Prince…

[½ Prince Jilid 2 Bab 4 Selesai]

Footnote :
1.         Menikah ke dalam keluarga kami : Masyarakat Cina biasanya (dan kadang-kadang, masih) menganut garis keturunan dari ayah. Karena itulah, ketika seorang wanita menikah, dia menikah ke dalam keluarga suaminya dan pindah untuk tinggal dengan mereka.
2.         Dìdi : Akhiran ini berarti "adik laki-laki" dalam bahasa Cina, tapi juga digunakan pada laki-laki yang lebih muda yang dekat dengan si pembicara (sama halnya dengan akhiran –kundalam kebiasaan bahasa Jepang).

1/2 Prince Jilid 2 Bab 5 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.