07 Mei 2016

Overlord Jilid 4 Bab 2 LN Bahasa Indonesia



OVERLORD
JILID 4 BAB 2
BERKUMPUL, LIZARDMAN



Bagian 1
Sudah setengah hari perjalanan dengan menaiki Rororo melintasi lahan basah. Matahari telah tinggi di langit, namun Zaryusu tidak menemui satu pun musuh yang dia khawatirkan, dan tiba dengan selamat di tujuannya.
Di lahan-lahan basah tersebut, terdapat beberapa pemukiman dengan rumah-rumah yang dibuat dengan gaya yang sama dengan yang ada di suku Green Claw, dikelilingi dengan pasak-pasak yang ditajamkan ke luar dari segala sisi. Meskipun ada beberapa celah lebar di antara pasak tersebut, itu cukup efektif untuk menghalangi makhluk-makhluk besar seperti Rororo untuk menyerang. Meskipun jumlah rumah-rumahnya lebih sedikit dari suku Green Claw, secara individu, setiap rumah tersebut berukuran lebih besar.
Dengan demikian, tidak jelas sisi mana yang memiliki populasi yang lebih besar.
Setiap pemukiman memiliki sehelai bendera yang dipasangkan dan berkibar ditiup angin. Semua bendera itu memiliki tanda dari lizardman Red Eye.
Tepat, ini adalah tujuan pertama yang direncanakan Zaryusu — perkampungan dari suku Red Eye.
Setelah mengamati sekelilingnya, Zaryusu menghela nafas lega.
Ini dikarenakan, untungnya bagi Zaryusu, tempat habitat mereka perada di petak lahan basah yang sama, konsisten dengan pengetahuan yang didapatkan sebelumnya. Dia awalnya mengira bahwa mereka telah berpindah karena peperangan sebelumnya, sehingga dia tadinya mungkin harus mulai mencari suku mereka.
Zaryusu melihat kembali ke arah dia datang, dan meskipun dia tidak dapat melihat dengan jelas, tepat hampir di luar jangkauan penglihatannya adalah desanya sendiri. Saat ini, desanya seharusnya sedang dengan penuh semangat membuat berbagai persiapan. Meskipun dia pergi dengan rasa cemas, dia dapat dengan cukup yakin bahwa desa tersebut akan aman dari serangan untuk sementara ini.
Kenyataan bahwa Zaryusu dapat tiba di sini dengan selamat adalah buktinya.
Dia tidak dapat menentukan apakan ini sebuah kecacatan dari rencana Great One, ataukah tindakannya ini sudah termasuk dalam perhitungannya, tapi bagaimanapun juga lawannya tersebut saat ini tidak berniat untuk mengingkari perkataannya sendiri, dan tidak mencoba untuk menghalangi persiapan perang.
Tentu saja, sekalipun yang disebut Great One turun tangan untuk menghalangi, Zaryusu hanya dapat bertindak untuk melaksanakan keyakinannya itu.
Zaryusu melompat turun dari Rororo dan merenggangkan tubuhnya. Sekalipun mengendarai Rororo sejauh itu membuat otot-ototnya kaku, merenggangkan punggungnya membuat rasa lelahnya cukup menyenangkan.
Setelah itu, Zaryusu memerintahkan Rororo untuk tetap berada di tempatnya untuk menunggunya, kemudian mengeluarkan beberapa ikan kering dari ranselnya untuk Rororo, sebagai sarapan dan makan siangnya.
Sejujurnya, dia ingin hewan itu untuk mengumpulkan makanannya sendiri di sekitar sini, tapi menahan keinginan tersebut karena adanya kemungkinan mengganggu daerah perburuan suku Red Eye.
Setelah mengelus setiap beberapa kepala Rororo beberapa kali, Zaryusu pergi sendirian dan melanjutkan perjalanan.
Kalau dia membawa Rororo dengannya, pihak lain akan merasa takut pada hydra dan tidak ingin muncul keluar. Zaryusu ada di sini untuk membentuk aliansi, dan tidak berharap untuk muncul seakan seperti seorang penguasa.
Dia terus maju sambil membuat suara percikan air.
Di sudut penglihatannya, Zaryusu dapat melihat beberapa warrior suku Red Eye berjalan dalam satu baris di sekitar pinggiran dalam perimeter pasak. Perlengkapan mereka persis sama dengan yang dipakai sukur Green Claw, tidak mengenakan armor dan memegang tombak kayu yang terbuat dengan tulang yang diruncingkan yang ditambahkan pada ujung sebuah tongkat kayu. Ada juga beberapa orang yang memegang tali yang digunakan sebagai ketapel batu, tapi karena tidak dimuati dengan batu, itu bisa menandakan bahwa mereka tidak memiliki niat untuk langsung menyerang.
Zaryusu mencoba sebisa mungkin menghindar untuk memicu pihak seberang, jadi dia perlahan-lahan mendekat sampai kedua sisi tiba di depan pintu masuk. Dia mengarahkan pandangannya pada lizardman yang waspada dan mengeluarkan suaranya.
"Saya adalah Zaryushu Shasha dari suku Green Claw. Ada sebuah masalah yang ingin  saya diskusikan dengan ketua suku kalian!"
Setelah beberapa saat, seorang lizardman yang terlihat terhormat dengan memegang sebatang tongkat muncul, dengan lima lizardman besar dan tegap mengikutinya di belakang. Tubuh seluruh lizardman tua itu dari atas sampai bawah memiliki tanda yang dicat dengan cat tubuh warna putih.
Inikah Elder Druid-nya?
Zaryusu mempertahankan postur tubuh berwibawanya.
Orang di hadapannya ini berada pada posisi yang sama, karena itu dia tidak dapat menunjukkan tanda-tanda kelemahan. Bahkan saat sang elder druid tersebut mengamati tanda di dadanya, Zaryusu tidak goyah.
"Zaryusu Sasha, dari suku Green Claw. Saya kemari untuk membicarakan suatu masalah."
"…Walaupun saya tidak dapat mengatakan bahwa anda disambut, pemimpin dari suku kami berkenan untuk menemui anda. Silakan ikuti saya."
Pembicaraan aneh ini membingungkan Zaryusu.
Apa yang membuatnya bingung adalah mengapa orang tersebut tidak disebut kepala suku, dan juga kenapa mereka tidak memintanya untuk menunjukkan sebuah benda yang menunjukkan identitasnya. Akan tetapi, mengatakan apapun pada saat itu akan menyinggung perasaan pihak lain, dan itu akan menyebabkan masalah. Meskipun dia merasa bahwa itu adalah hal yang aneh, Zaryusu dengan diam mengikuti di belakang barisan lizardman.
***
Dia dibawa ke sebuah pondok kecil yang indah.
Itu bahkan lebih besar dari milik kakak Zaryusu. Dindingnya diwarnai dengan pola yang langka, membuktikan bahwa pemilik rumah tersebut adalah bangsawan.
Yang menjadi perhatiannya adalah bangunan tersebut tidak memiliki jendela, hanya ada  sebuah celah untuk ventilasi. Lizardman dapat melihat dengan jelas dalam kegelapan, tapi ini bukan berarti bahwa mereka menikmati kegelapan.
Kalau begitu, kenapa ada yang mau tinggal di dalam pondok segelap itu?
Zaryusu memiliki banyak keraguan namun tidak dapat menanyakan pada siapapun untuk mendapatkan jawabannya.
Melihat ke belakangnya, druid dan warrior yang menunjukkan jalannya tadi telah menghilang.
Saat mereka yang menunjukkan jalan mengatakan bahwa mereka akan pergi, dia merasa bahwa mereka bersikap terlalu gegabah. Dia hampir membiarkan keraguannya lewat.
Tapi saat Zaryuu mendengar bahwa ini adalah keinginan dari sang pemimpin, selaku penjabat kepala suku, pendapatnya mengenai orang tersebut yang sedang menunggu di dalam pondok pun meningkat.
Meskipun dia telah berjanji kepada saudaranya bahwa dia akan kembali dengan selamat, Zaryusu telah mempersiapkan diri untuk kemungkinan bahwa dia tidak akan dapat memenuhi janji tersebut. Dengan demikian, dirinya yang dikelilingi penjaga bersenjata untuk menekannya akan terbukti tidak berpengaruh. Malahan, itu hanya akan membuatnya merasa kecewa akan kenyataan bahwa hanya ini yang bisa mereka lakukan.
Akan tetapi, jika pihak seberang sudah tahu pemikirannya dan masih bersikap murah hati…
Kemungkinan adalah seorang negosiator handal, lawan yang merepotkan…
Mengabaikan mata-mata yang mengintip dari kejauhan, Zaryusu langsung menuju ke pintu dan mengumumkan dengan suara lantang:
"Saya adalah Zaryusu Shasha dari suku Green Claw, dan saya di sini untuk bertemu dengan pemimpin suku ini."
Sebuah suara kecil dari dalam merespon ramah, suara seorang wanita. Dia memberikan izinnya untuk masuk.
Zaryusu membuka pintu tanpa ragu-ragu.
Bagian dalamnya gelap seperti yang dia bayangkan.
Karena ada perbedaan cahaya, bahkan sekalipun dia memiliki kemampuan penglihatan malam, Zaryusu terpaksa harus mengerjapkan matanya beberapa kali.
Udara di dalam tercium mirip dengan obat-obatan, tercampur dengan aroma herba yang menusuk hidung. Zaryusu membayangkan seorang lizardmen wanita tua, tapi ini diingkari oleh kenyataan.
"Selamat datang."
Sebuah suara berbicara dari dalam kegelapan. Dia telah salah mengira bahwa suara dari balik pintu adalah seorang lansia. Tapi mendengarnya dari dekat, suara tersebut mengandung energi masa muda.
Akhirnya terbiasa dengan perubahan cahaya, seorang lizardman muncul di depan matanya.
Putih.
Inilah kesan pertama Zaryusu.
Sisik-sisik yang putih, kemurnian tanpa noda. Mata yang bulat dan berwarna merah terang seperti permata merah delima, dan anggota tubuh ramping yang bukan milik seorang pria, tapi seorang wanita.
Seluruh tubuhnya ditutupi dengan pola-pola merah dan hitam, yang berarti bahwa dia adalah seorang dewasa, dapat menggunakan beragam sihir dan…belum menikah.
Zaryusu pernah sekali ditusuk sebatang tombak di waktu yang lalu.
Pada saat itu, tubuhnya terasa panas terbakar seakan ditembus oleh sebuah pancang besi panas dan selain itu jantungnya juga mengikuti dengan berdegup dengan cepatnya, keduanya bergabung untuk menghasilkan rasa sakit yang menyerang seluruh tubuhnya.
Saat ini tidak ada rasa sakit, tapi…
Zaryusu kehilangan kata-kata saat dia berdiri tanpa bergerak.
Mengartikan sikap diamnya dengan caranya sendiri, wanita itu hanya memberi seulas senyum yang mencela diri sendiri.
"Sepertinya saya adalah sebuah pemandangan yang aneh bahkan untuk seorang pemilik salah satu dari keempat pusaka, Frost Pain."
Albino secara alamiah adalah hal yang amat sangat langka, sebagian karena mereka terlalu menarik perhatian. Itu membuat mereka sulit untuk bertahan hidup.
Lizardmen yang agak berbudaya ini memiliki kecenderungan lemah terhadap cahaya matahari, memiliki penglihatan yang buruk. Mereka tidak mencapai tingkatan budaya di mana individu yang rapuh semacam ini dapat bertahan. Karena itulah, amat sangatlah langka untuk bertemu dengan seorang albino dewasa. Bahkan ada beberapa kasus di mana mereka dibunuh setelah lahir.
Ini seharusnya sudah dianggap sebagai sebuah keberuntungan jika para albino dipandang sebagai keberadaan yang dibenci oleh para lizardmen umumnya. Ada beberapa yang bahkan memandang mereka sebagai semacam monster. Karena itulah, wanita itu bersikap mengolok dirinya sendiri.
Akan tetapi, Zaryusu tidaklah seperti itu.
"…Ada apa?"
Lizardman wanita di dalam bertanya dengan pertanyaan yang mengejutkan pada Zaryusu yang berdiri tak bergerak di depan pintu. Tanpa bereaksi pada pertanyaan itu, Zaryusu mengeluarkan sebuah pekikan yang menggetarkan.
Mendengar suara ini, lizardman wanita itu membelalakkan matanya dan membuka mulutya, dengan terkejut, bingung, dan malu.
Suara itu tidak lain adalah sebuah pekikan untuk melamar.
Zaryusu kembali sadar dan menyadari apa yang telah dia lakukan. Sama seperti telinga manusia yang akan memerah, dia mengibas-ngibaskan ekornya dengan heboh.
"Ah, tidak, salah, tunggu, tidak salah, bukan begitu, bukan ini yang saya…"
Gerakan Zaryusu yang panik menyebabkan si lizardman wanita menjadi tenang, dan dia tersenyum, membuat Zaryusu bertanya-tanya.
"Tolong tenanglah dulu. Akan merepotkan kalau anda bersikap begitu heboh."
"Ah! Maaf."
Zaryusu menundukkan kepalanya, membuat permintaan maaf dan kemudian memasuki ruangan itu. Pada saat yang sama, ekor si lizardman wanita turun seakan dia akhirnya tenang. Akan tetapi, ujung ekornya masih berkedut-kedut, menandakan bahwa dia tidak sepenuhnya tenang.
"Silakan mendekat."
"…Terima kasih."
Memasuki rumah tersebut, Zaryusu melihat tempat di mana wanita itu tunjukkan memiliki sebuah bantalan yang dijalin dari tanaman yang tidak dikenal. Dia duduk di atasnya, dan wanita itu duduk berseberangan dengannya.
"Ini pertama kalinya kita bertemu, saya adalah seorang traveler dari Suku Green Claw, Zaryusu Shasha."
"Terima kasih untuk kesopananmu. Aku adalah penjabat kepala suku dari Suku Red Eye, Crusch Lulu."
Setelah perkenalan selesai, keduanya saling mengamati seakan mengira-ngira niat satu sama lain.
Pondok itu untuk sementara tenggelam dalam kesunyian, tapi ini tidak boleh terus berlanjut. Zaryusu adalah seorang tamu, karena itu sudah seharusnya bagi Crusch sebagai tuan rumah yang memulai percakapan.
"Pertama, tuan pembawa pesan, saya yakin bahwa tidak perlu bagi kita untuk bersikap terlalu formal. Saya ingin supaya kita berbicara dengan bebas, jadi silakan buatlah dirimu merasa nyaman."
Menerima saran untuk berbicara tanpa sungkan, Zaryusu mengangguk.
"Aku benar-benar merasa berterima kasih atas hal itu, karena aku tidak terbiasa untuk berbicara dengan nada serius dan formal."
"Kalau begitu, apakah kau keberatan untuk mengatakan apa alasan kunjunganmu?"
Meskipun dia bertanya begitu, Crusch sudah mendapat sebuah perkiraan kasar.
Undead misterius yang muncul di tengah-tengah desa. Sihir yang mengendalikan cuaca, sihir tingkat 4 Control Cloud. Dan sekarang lizardman pria dari suku yang berbeda, seseorang yang bahkan dapat disebut sebagai seorang pahlawan.
Dari sini, hanya ada satu jawaban yang mungkin. Saat Crusch mempertimbangkan dengan hati-hati bagaimana cara menangani jawaban balasan Zaryusu — dia merasa semua perkiraannya hancur.
"…Menikahlah denganku."
……
……?
……?!
"…Ha?!"
Untuk sekejap, Crusch meragukan pendengarannya.
"Sebenarnya, ini bukanlah tujuan awalku datang kemari. Aku benar-benar sadar bahwa ini seharusnya menunggu sampai tujuanku selesai. Tapi aku tidak dapat berbohong pada hatiku. Kau boleh menertawakan pria konyol ini.'
"A…a…ah… ha."
Ini adalah kata-kata yang tidak pernah dia dengar semenjak dia lahir, dan semestinya tidak sangkut pautnya dengan dia. pikirannya tercabik-cabik dalam badai yang bergolak, bertebaran ke semua arah sampai dia tidak dapat mengaturnya.
Terhadap Crusch yang kebingungan, Zaryusu menampilkan seulas senyum yang dipaksakan dan melanjutkan bicara:
"Aku minta maaf, aku tidak tahu harus berkata apa, kita saat ini sedang menghadapi sebuah kemungkinan. Balasanmu dapat menunggu sampai ini berakhir."
"Uh, ha…haha."
Akhirnya dapat mengumpulkan kembali benaknya dan berhasil melanjutkan pikirannya, Crusch mendapatkan kembali ketenangannya. Akan tetapi, saat mengingat kembali perkatan Zaryusu beberapa saat yang lalu, pikirannya sekali lagi sedikit kacau.
Crusch mencoba untuk secara diam-diam mengintip wajah pria yang ada di hadapannya yang berekspresi begitu tenangnya.
Mengatakan sesuatu seperti itu padaku, tapi dia masih tetap begitu tenang… Mungkin dia sering melamar orang lain? Atau mungkin dia sudah terbiasa melakukan hal ini begitu sering? …Meskipun dia jelas cukup tampan… Ah, apa yang kupikirkan! Ini adalah bagian dari rencananya, pasti begitu, berniat untuk mengendalikanku, membuat sebuah lamaran dan menyatakan cinta. Me-me-mengajukan lamaran pada seseorang seperti aku…
Dia, yang tak pernah memiliki pengalaman diperlakukan sebagai seorang wanita, tidak dapat tetap tenang dan gagal menyadari bahwa ujung ekor Zaryusu juga sedikit gemetar. Pria di depannya ini juga mengerahkan segenap kekuatannya untuk mengendalikan emosi supaya tidak terlihat.
Karena itulah saat-saat terdiam muncul. Keduanya memerlukan beberapa waktu sunyi untuk membiarkan rasa gembiranya mereda.
Hampir sepuluh menit kemudian, akhirnya sepertinya mungkin untuk kembali ke topik awal yang ada.
Crusch berniat untuk menanyai Zaryusu lagi tentang alasan kunjungannya, tapi teringat perkataan sebelumnya.
…Bagaimana mungkin kau bisa membicarakan hal itu!
Dengan sebuah sabetan, ekor Crusch menghantam papan lantai. Pria yang ada di depannya berjengit, hampir seakan dialah yang mendapat pukulan tersebut.
Tindakan ini sangat tidak sopan, dan Crusch merasa panik dalam hatinya.
Bahkan sekalipun dia hanya seorang traveler, orang itu juga adalah seorang perwakilan… dan terlebih lagi bukan lizardman biasa, namun sang pahlawan yang memiliki Frost Pain. Ketidaksopanan terhadap pada orang seperti itu sudah jelas tidak dapat dimaafkan.
Tapi ini salahmu! Terlebih lagi, katakanlah sesuatu!
Zaryusu sebenarnya sedang merasa malu merenungkan tindakannya yang gegabah, dan memilih untuk tetap diam. Akan tetapi Crusch, yang sedang disibukkan dengan emosinya seakan dia sedang menempatkan sebuah penutup pada gunung berapi aktif, tidak menyadari ini sama sekali.
Kesunyian terus berlanjut, tapi karena ini bukanlah solusi untuk situasi saat ini, Crusch yang telah menyadari ini, memutuskan bahwa hal terbaik adalah mengubah topik pembicaraan.
"Karena kau tidak takut dengan tubuhku, mungkin karena itulah tidak mengejutkan kau menjadi seorang pahlawan?"
Terhadap perkataan menusuk Crusch, Zaryusu terlihat kebingungan yang menunjukkan dia sama sekali tidak mengerti maksud perkataannya.
"Tidak takut dengan tubuh albinoku, maksudku."
"…Itu seperti salju putih yang menutupi puncak pengunungan."
"…Eh?"
"…Warna yang indah."
Tentu saja, dia tidak pernah mendengar kalimat ini sekalipun dalam hidupnya.
A-apa yang dia sedang katakan!
Perasaan tertekan yang terbentuk di dalam Crusch mencapai sebuah titik yang tidak dapat lagi ditahan, dan tutup yang menahannya meledak dengan satu kalimat ini. Sementara Crusch hanyut dalam kekacauan pikirannya, Zaryusu dengan lembut menjangkau dan mengelus sisik-sisiknya. Warnanya yang cerah adalah sebuah keindahan yang terpoles… dan pada sisik-sisik yang terasa sedikit dingin itu, tangannya bergerak turun seperti aliran sungai.
Hiss! Itu adalah sebuah suara peringatan singkat, tapi ada hal lain yang tercampur dalam nafas gadis itu juga.
Hal tersebut memberikan keduanya kesempatan untuk mendapatkan ketenangannya kembali.
Keduanya menyadari apa yang sudah terjadi pada gadis tersebut dan apa yang pria itu baru saja lakukan tanpa sadar. Seluruh tubuh mereka gemetar. Kenapa aku melakukan itu? Kenapa aku membiarkan dia? Keraguan menjadi kegelisahan, dan kegelisahan menjadi kebingungan.
Sebagai hasilnya, kedua ekor tersebut menghantam lantai, cukup keras hingga menggetarkan pondok.
Kemudian mereka berdua saling melihat, dan memastikan keadaan dari ekor satu sama lain. Seakan-akan waktu telah berhenti, kedua ekor tersebut berhenti bergerak.
"……"
"……"
Suasananya terasa berat, atau mungkin lebih baik menggambarkannya sebagai kecanggungan. Kesunyian turun pada kedua invidu tersebut, diikuti dengan mereka berdua yang saling curi-curi pandang satu sama lain. Setelah akhirnya berhasil menata pikirannya, Crusch menanyainya dengan tatapan dingin, bertekad untuk menemukan kebohongan apapun dalam perkataannya.
"…Kenapa kau…begitu tiba-tiba?"
Meskipun Crusch kesulitan untuk mengekspresikan pikirannya dalam kata-kata, Zaryusu nampaknya mengerti saat dia membalas dengan jujur dan tanpa keraguan.
"Itu adalah cinta pada pandangan pertama. Selain itu, kematian mungkin adalah akhir dari perang kali ini, dan aku tidak ingin meninggalkan penyesalan apapun."
Kejujuran yang sederhana ini, perkataannya yang tidak menyembunyikan emosinya sedikit pun, membuat Crusch untuk sesaat kehilangan kata-kata. Akan tetapi, ada satu bagian yang tidak dapat dia pahami.
"…Bahkan pemilik dari Frost Pain yang terkenal itu siap untuk mati dalam pertempuran?"
"Tepat. Lawan adalah musuh yang tidak dapat dipahami, seseorang yang tidak dapat dianggap enteng… Apakah kau telah melihat monster yang bertindak sebagai pembawa pesan? Yang datang ke perkampungan kami memiliki penampilan seperti ini…"
Crusch menerima ilustrasi yang disodorkan Zaryusu, dan mengangguk setelah meliriknya sepintas.
"Ya. Itu adalah monster yang sama persis."
"Apakah kau tahu monster jenis apakah ini?"
"Tidak. Termasuk aku, tidak ada satu pun di dalam suku ini yang tahu."
"Begitukah…sebenarnya aku pernah bertemu monster semacam ini sekali sebelumnya…" Zaryusu berbicara sampai titik ini dan berhenti sesaat untuk mengamati respon Crusch saat dia melanjutkan "…dan aku melarikan diri."
"—Eh?"
"Mustahil untuk dikalahkan. Tidak, lebih tepatnya, kemungkinannya 50 banding 50 untuk mati."
Crusch kemudian mengerti bahwa monster itu adalah undead yang begitu mengerikan, dan menghela nafas lega bawah keputusannya untuk menghentikan para warrior saat itu adalah keputusan yang tepat.
"Dia dapat mengeluarkan sebuah teriakan yang bisa menyebabkan kekacauan mental. Tidak hanya itu, dia memiliki tubuh magis, jadi karena itu hampir sepenuhnya kebal terhadap semua serangan yang menggunakan senjata yang tidak diperlengkapi secara magis. Mengandalkan banyaknya penyerang tidak akan berhasil."
"Di antara sihir yang druid kami gunakan, terdapat sejenis sihir yang secara sementara dapat memberikan sihir pada pedang…"
"…Apakah itu dapat bertahan terhadap serangan mental?"
"Sihir tersebut dapat memperkuat kekebalan, tapi melindungi kondisi mental semuanya akan menjadi terlalu berlebihan dan kekuatan kami akan tidak cukup."
"Jadi begitu…apakah semua druid dapat menggunakan sihir tersebut?"
"Jika itu adalah sihir yang memperkuat kekebalan, hampir semua druid mampu melakukannya. Tapi hanya akulah satu-satunya di suku ini yang dapat melindungi pikiran dari serangan kebingungan."
Crusch menyadari bahwa napas Zaryusu sedikit berubah. Kelihatannya dia telah menyadari bahwa posisi Crusch bukanlah hanya sebuah gelar kosong.
Tepat. Lizardman Crusch adalah forest druid yang sangat berbakat. Bahkan mungkin berada di atas beberapa para elder druid lizardman lainnya.
"…Berada pada urutan ke berapa suku Red Eye akan diserang?"
"Lawan mengatakan bahwa kami adalah yang keempat."
"Aku mengerti… kalau begitu, apa rencanamu?"
Waktu pun berlalu.
Crusch sedang merenungkan apakah mengungkapkan rencananya akan menguntungkan. Suku Green Claw sudah jelas akan memilih pergi berperang, dan tujuan Zaryusu datang kemarin pastinya adalah untuk membentuk sebuah aliansi, meminta kepala suku untuk bertempur bersama. Dengan pikiran tersebut, apakah yang harus dilakukan agar dapat menguntungkan suku Red Eye?
Suku Red Eye sebenarnya tidak berniat untuk membentuk aliansi. Pendapat mereka adalah untuk mengungsi. Pergi berperang melawan orang yang dapat menggunakan sihir tingkat 4 adalah sebuah ide yang amat sangat bodoh. Terlebih lagi, mengetahui bahwa undead tersebut yang dikirimkan oleh lawan memiliki kemampuan mengerikan seperti itu, membuatnya menjadi lebih jelas bahwa tidak ada pilihan lain apapun.
Akan tetapi, apakah mengungkapkan hal tersebut dengan sejujurnya benar-benar adalah yang terbaik?
Terhadap Crusch yang sedang terjebak dalam pemikirannya sendiri, Zaryusu menyipitkan matanya, dan membuka mulutnya untuk berbicara:
"Biarkan aku mengatakan apa yang benar-benar kupikirkan."
Tidak tahu apa yang Zaryusu akan katakan, Crusch menatapnya dengan mata yang tidak berkedip.
"Apa yang kukhawatirkan adalah apa yang terjadi setelah mengungsi."
Terhadap Crusch yang tidak dapat mengerti makna dari kalimat ini, Zaryusu dengan tenang melanjutkan.
"Apakah kau berpikir bahwa setelah pindah dari lingkungan yang kau kenal di mana kau biasanya tinggal, kau dapat mempertahankan gaya hidup yang sama seperti saat ini?"
"Mustahil…tidak, itu akan sangat sulit."
Kalau mereka meninggalkan tempat ini dan membangun habitat tempat yang baru, mereka akan harus berjuang dengan nyawa mereka sebagai taruhannya —— mereka akan harus memenangkan pertempuran untuk menyelamatkan diri. Kenyataan bahwa lizardmen sebenarnya bukanlah satu-satunya penghuni danau ini, dan mereka mendapatkan sebagian lahan basah ini setelah peperangan selama bertahun-tahun yang melelahkan. Bagi spesies semacam ini, bukanlah hal yang mudah untuk membentuk sebuah habitat baru di lingkungan yang tidak dikenal.
"Akan ada kemungkinan yang lebih dari cukup bahwa tidak akan ada cukup makanan."
"Kemungkinan begitu."
Crusch, yang tidak dapat memahami apa yang lizardman pria yang sedang berdiri di hadapannya ini sedang bicarakan, membalas dengan dengan sebuah nada suara curiga yang tajam.
"Kalau begitu, bagaimana lima suku terdekat mengungsi pada saat yang bersamaan, apa yang menurutmu akan terjadi?"
"Itu…!"
Crusch terdiam, karena dia sudah mengetahui makna sebenarnya dari perkataan Zaryusu.
Sekalipun ukuran danau tersebut sangatlah luas, saat satu suku memilih area tertentu untuk menjadi sebuah tempat pengungsian, area tersebut juga akan menjadi tempat di mana suku lainnya akan ingin dapatkan. Karena itu, hanya berpindah ke tempat yang baru dapat memicu pertempuran lain untuk mempertahankan diri, yang lain juga akan memiliki lawan yang akan bertarung demi ikan sebagai sumber utama untuk suplai makanan. Dengan begini, situasi seperti apa yang akan terjadi? Pada akhirnya, tidak akan ada jaminan bahwa hal yang paling menakutkan akan muncul, bahwa hal tersebut akan menjadi perang seperti yang ada di masa lalu.
"Jangan katakan padaku…alasan kau ingin bertempur meskipun kita mungkin tidak menang…"
"…Itu benar. Dengan suku-suku lain yang bergabung aku mempertimbangkan berkurang seberapa banyak mulut yang kita beri makan."
"Demi sesuatu seperti itu!"
Karena itulah dia ingin membentuk sebuah pasukan. Jadi meskipun mereka kalah dalam pertempuran, akan ada lebih sedikit lizardmen untuk diberi makan.
Dalam sebuah peperangan demi kelangsungan hidup, itu akan menjadi sesuatu yang ekstrim namun dapat dipahami dengan memikirkan bahwa semuanya selain para warrior, hunter, dan druid yang dapat bertempur adalah sesuatu yang dapat dikorbankan. Tidak, dalam jangka waktu yang panjang, akan lebih baik jika sisanya tewas begitu saja.
Lebih sedikit mulut untuk diberi makan berarti lebih sedikit makanan yang diperlukan untuk bertahan hidup. Kalau begitu, bahkan hidup berdampingan menjadi hal yang mungkin.
Crusch mati-matian mencoba memikirkan alasan untuk menolak idenya.
"Kau bahkan tidak tahu betapa berbahayanya lokasi yang baru, namun kau ingin memulai dari awal dengan penduduk yang jumlahnya berkurang?"
"Kalau begitu aku akan menanyakan ini. Katakanlah kita dapat menang dalam perang mempertahankan hidup, lalu apa? Kalau ikan kita berkurang, apakah kelima suku akan bertarung satu sama lain berikutnya?"
"Kita mungkin dapat menangkap lebih banyak ikan!"
"Dan bagaimana jika tidak bisa?"
Dia tidak dapat secara langsung menjawab rentetan pertanyaan dingin Zaryusu.
Tindakan Zaryusu dengan apa yang terdekat berkaitan dengan kemungkinan skenario terburuk dalam pikirannya. Crusch berpikir dengan khayalan keinginan sebagai dasarnya. Jika situasi buruk muncul, pilihannya akan menjadi bencana, sementara pilihan Zaryusu tidak.
Dan sekalipun mereka kalah dan jumlah lizardman dewasa berkurang, mereka akan mati dengan gugur secara terhormat dalam perang.
"…Kalau kau menolak, kami akan harus menyerang Red Eyes lebih dulu."
Nada gelap dalam suaranya membuat Crusch berjengit.
Itu adalah sebuah pernyataan bahwa mereka tidak membiarkan suku Red Eyes melarikan diri ke daerah baru dengan semua anggota mereka secara lengkap.
Itu adalah penilaian yang tepat dan beralasan.
Jika sebuah suku dengan jumlah penduduk yang berkurang melarikan diri ke tempat di mana Red Eyes, dengan kekuatan penuh mereka yang tidak berkurang, berada, satu-satunya hal yang menunggu mereka adalah malapetaka. Mempertimbangkan bahayanya, satu-satunya pencegahan adalah serangan lebih dulu. Itu adalah sebuah pilihan yang jelas bagi seseorang yang bertanggungjawab atas seluruh suku. Kalau gadis itu sendiri berada pada posisi tersebut, dia juga akan membuat keputusan yang sama.
"Sekalipun kita kalah dalam perang, aku yakin bahwa dengan bersekutu dengan kami akan mengurangi kemungkinan adanya pertumpahan darah antara suku-suku kita di habitat yang baru."
Crusch, yang tidak mengerti apa yang dia maksud, menunjukkan ekspresi jujur dan kebingungan di wajahnya. Zaryusu menjelaskan sendiri sehingga niatnya yang sebenarnya akan menjadi jelas.
"Itu akan menumbuhkan sebuah perasaan senasib sepenanggungan. Daripada sebagai suku-suku yang berbeda, kita akan dapat mengenali satu sama lain sebagai sekutu yang berjuang bersama."
Itu benar.
Crusch mengolah perkataan Zaryusu dalam pikirannya.
Pria itu menyatakan kemungkinan bahwa suku-suku yang berjuang bersama tidak akan begitu cepat berperang melawan satu sama lain jika makanan menjadi susah didapatkan. Tapi ide dan pengalamannya sendiri menyebabkan dia merasa ragu. Dengan wajah yang sedikit turun, segera saat dia akan hanyut dalam pikirannya, Zaryusu mengajukan sebuah pertanyaan.
"Ngomong-ngomong, bagaimana caranya Red Eyes melewati masa itu?"
Itu terasa seperti ditusuk jarum. Sebelum gadis itu menyadarinya, Crusch melompat. Melihat wajah pria itu secara langsung, gadis itu dapat melihat keterkejutan di wajah Zaryusu, yang menanyakan pertanyaan tersebut.
Ah, dia menanyakannya karena dia benar-benar tidak tahu.
Meskipun dia baru mengenalnya untuk waktu yang singkat, Crusch memahami sifat dasarnya, sifat dari seorang pria bernama Zaryusu. Dia secara naluriah menyadari bahwa itu bukanlah sebuah pertanyaan untuk mengancam mereka.
Crusch menyipitkan matanya dan menatap Zaryusu. Tatapannya begitu tajam sehingga terlihat sepertinya akan menembus membuat sebuah lubang pada dirinya. Tidak dapat mengerti alasan dari tatapannya, gadis itu melihat betapa dirinya telah membuat dirinya merasa tidak berdaya. Tapi walau begitu, Crusch tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri.
"—Apakah ada alasan untukku perlu mengatakannya?"
Dia mengucapkan kata-katanya dengan gugup, dengan nada yang penuh kebencian. Perubahan Crusch tersebut membuatnya ragu apakah dia sedang berbicara dengan orang yang sama.
Tapi Zaryusu tidak dapat mundur. Mungkin terdapat jawaban yang akan membuat semuanya selamat.
"Aku ingin mendengarnya. Apakah itu adalah kekuatan druid? Atau adakah metode lain? Mungkin itulah caranya kita selamat…"
Zaryusu berhenti di situ dan menutup mulutnya.
Jika benar itu memiliki jawabannya, tidak mungkin Crusch akan terlihat begitu terluka seperti saat ini.
Seakan gadis itu membaca pikirannya, Crusch mendengus seakan dia sedang mengejek segala sesuatu, termasuk dirinya sendiri.
"Kau benar. Tidak ada keselamatan."
Setelah jeda sesaat, dia menunjukkan senyuman letih dan melanjutkan.
"Apa yang kami lakukan setelah perang saudara—kami memakan penduduk kami yang tewas."
Zaryusu tidak dapat membuka mulutnya karena rasa syok yang menguasainya. Membunuh yang lemah — mengurangi jumlah mulut yang diberi makan bukanlah hal yang tabu. Tapi memakan makhluk sejenismu sendiri adalah sebuah tindakan kotor dan sebuah hal yang paling tabu di antara hal tabu lainnya.
Kenapa dia mengatakan padaku tanpa ragu-ragu? Ini adalah sesuatu yang seharusnya dibawa sampai mati. Kenapa dia mengatakan ini pada orang luar, seorang utusan? Apakah dia berniat untuk tidak membiarkanku hidup? Tidak, ini bukanlah suasana semacam itu.
Crusch sendiri tidak dapat mengerti kenapa dia mengatakan padanya`.
Dia tahu dengan baik seberapa banyak pandangan merendahkan yang akan didapat dari suku-suku lainnya. Jadi kenapa—
Mulutnya bergerak dengan lancarnya, seakan bukan miliknya sendiri.
"Hari itu, saat suku lain memulai perang, suku kami juga mengalami kekurangan pangan yang serius dan berada dalam situasi berbahaya. Tapi alasan mengapa suku kami tidak berpatisipasi dalam perang adalah karena kami terdiri dari banyak druid dan sedikit warrior. Druid kami dapat menciptakan makanan dengan sihir."
Mulut Crusch tidak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda berhenti, seakan dikendalikan oleh sebuah kesadaran lain.
"Tapi makanan yang diciptakan druid kami tidaklah cukup, tidak jika kau bandingkan dengan seisi suku secara keseluruhan. Satu-satunya pilihan yang tersisa bagi kami adalah berjalan menyusuri jalur menuju kehancuran setahap demi setahap. Kemudian suatu hari, ketua suku kami membawa pulang makanan. Membawa daging merah."
Mungkin aku ingin dia mendengarkan…dosaku.
Crusch menggertakkan giginya. Pria di depannya mendengarkan dengan tenang. Sekalipun dia merasa jijik, dia menyembunyikannya dan mendengarkan.
Karena hal itu, Crusch merasa bersyukur.
"Semuanya samar-samar tahu jenis daging apakah itu. Untuk sesaat, kami membuat aturan ketat dan siapapun yang melanggarnya akan dibuang keluar. Satu-satunya saat kepala suku membawa daging merah adalah saat ada yang dibuang. Meskipun begitu, kami semua menutup mata dan memakannya untuk bertahan hidup. Tetapi sesuatu seperti itu tidak akan pernah berlangsung lama. Kesedihan yang menumpuk tiba-tiba semuanya meledak suatu dan mengambil bentuk sebuah revolusi."
Dengan matanya yang tertutup, dia teringat kepala suku mereka.
"Kami memakannya…kami tahu itu dan masih tetap memakannya. Itu membuat kami menjadi sekomplotan, tapi tetap saja…mengingatnya kembali sekarang, itu adalah sesuatu yang konyol."
Crusch menyelesaikan sebuah permohonan diam-diam dan menatap langsung pada wajah Zaryusu. Dia melihat ke dalam matanya yang tenang dan melihat bahwa tidak tercermin rasa jijik. Dia merasa terkejut karena rasa sukacita yang tumbuh dari suatu tempat dalam hatinya.
Kenapa dia merasa senang?
Crusch juga, samar-samar mengetahui alasan pertanyaan tersebut.
"…Lihatlah aku. Suatu waktu, seseorang sepertiku terlahir dalam suku Red Eye. Sejak zaman kuno, mereka akan menunjukkan sebuah kekuatan. Dalam kasusku, itu adalah kekuatan seorang druid. Ini membuat kami memiliki otoritas yang hampir menyaingi kepala suku… Dan aku berada di tengah-tengah pemberontakan yang memecah suku menjadi dua. Kami menang karena kami memiliki jumlah yang lebih banyak."
"Dan pada akhirnya, makanan dibagi rata pada mereka yang masih tersisa?"
"Ya… sebagai hasilnya, suku kami berhasil mempertahankan hidup. Saat pemberontakan—pada saat itu, kepala suku tidak pernah menyerah. Dia tewas dengan luka yang tak terhitung banyaknya. Dan saat dia mendapatkan serangan terakhir, dia tersenyum padaku."
Seakan-akan dia sedang terbatuk darah, Crusch terus berbicara.
Itu adalah nanah yang perlahan-lahan menimbun di dalam hatinya, semenjak dia membunuh kepala suku.
Nanah yang tidak pernah akan bisa dia tunjukkan pada anggota-anggot suku yang mempercayainya dan bertempur melawan kepala suku mereka, Crusch baru saja dapat mengakuinya pada seseorang yang bernama Zaryusu. Karena itulah kata-katnya tidak berhenti, seperti air yang dikuras dari bagian bawah.
"Itu bukan mata dari seseorang yang sedang menatap pembunuhnya. Tidak ada kebencian, kecemburuan, permusuhan, kutukan, tidak satu pun. Itu adalah sebuah senyuman yang indah! Kepala suku selalu menghadapi kenyataan secara langsung dan bertindak. Dan kami… kami bertindak atas idealisme dan permusuhan. Mungkin yang benar adalah kepala suku! Itulah yang selalu kupikirkan! Karena kepala suku tewas—yang dianggap sebagai akar dari segala kejahatan, suku kami dapat bersatu sekali lagi. Dan yang lebih buruknya lagi, karena jumlah kami mengecil, kami bahkan mendapat hadiah dengan tidak ada lagi masalah pangan!"
Ini adalah batasan dirinya.
Sebagai kepala suku pengganti, sebagai seseorang yang memikul tanggung jawab dosa tersebut, mati-matian menahan itu semua, kekuatan saat dia runtuh sama besarnya dengan perjuangannya. Aliran berlumpur yang meluap menelan segalanya. Pikiran-pikiran yang telah tercabik-cabik menjadi serpihan, sulit untuk mengubahnya begitu saja menjadi kata-kata.
Dengan sebuah suara samar, sekalipun air matanya tidak jatuh, secara mental, dia sedang menangis.
Itu adalah sesosok tubuh yang kecil.
Dia setuju dengan alam, bahwa kelemahan adalah sebuah dosa. Tentu saja, anak-anak harus dilindungi, tapi walau begitu, baik lizardman pria maupun wanita menekankan kekuatan sebagai sebuah kehormatan. Pada titik tersebut, wanita di depannya hanya dapat dilihat sebuah objek bahan olokan. Seseorang yang menyatukan sebuah suku, bagaimana mungkin dia menunjukkan kelemahan semacam itu di depan seorang asing, apalagi yang berasal dari suku yang berbeda?
Akan tetapi, apa yang Zaryusu rasakan dalam hatinya adalah emosi yang sama sekali berbeda.
Itu bisa saja karena gadis itu adalah seorang wanita yang cantik. Tapi semakin dia memikirkannya, dia yakin bahwa yang ada di hadapannya adalah seorang warrior. Terluka, merintih, dalam penderitaan, tapi dia tetap mencoba untuk berjalan maju. Dia berpikir bahwa seorang warrior sekaliber tersebut hanya menunjukkan kelemahannya untuk sesaat.
Seseorang yang mencoba untuk berdiri dan berjalan maju, orang tersebut tidaklah lemah.
Zaryusu mendekatinya dan memeluk Crusch di bahunya.
"—Kita bukanlah makhluk yang maha tahu ataupun maha kuasa. Kita hanya dapat memilih jalan kita untuk sesaat. Aku mungkin bertindak yang sama jika aku berada di posisi tersebut. Tapi aku tidak berharap untuk menghiburmu. Apakah ada tempat di mana seseorang akan menemukan sebuah jawaban yang akan sepenuhnya membetulkan dunia ini. Kita hanya sekedar berjalan maju, telapak kaki kita mendapat tak terhitung jumlahnya luka-luka dari penyesalan dan penderitaan kita. Kau juga, satu-satunya pilihanmu adalah bergerak maju. Inilah yang kuyakini."
Saat suhu tubuh mereka tersampaikan antara satu sama lain, meskipun sedikit, mereka dapat merasakan debaran jantung lewat tubuh mereka. Mereka terperangkap dalam ilusi di mana dua jantung berdetak tersebut menyamakan iramanya dan perlahan menjadi satu.
Itu adalah sebuah sensasi yang misterius.
Zaryusu merasakan sebuah kehangatan yang tidak pernah dia alami sejak dia lahir. Itu bukan karena dia sedang memeluk seorang lizardman.
Apakah ini karena aku memeluk wanita ini, Crusch Lulu?
Setelah beberapa saat, Crusch memisahkan dirinya dari tubuh Zaryusu.
Rasa hangat yang meninggalkannya adalah hal yang disayangkan, tapi dia tidak dapat mengatakannya karena malu.
"Aku sudah menunjukkan padamu sesuatu yang memalukan… apakah kau memandangku rendah?"
"Memangnya bagian mana yang memalukan? Dan apakah kau melihatku sebagai jenis pria yang memandang seseorang yang bangkit dan berjalan maju melewati kesakitan dan penderitaan? Kau cantik."
"——! ——! ! "
Sebuah ekor putih berulang kali menghantam lantai.
"Apa yang harus kulakukan?"
Bahkan tanpa dapat menanyakan Crusch yang sedang bergumam tentang apa yang ia maksudkan, Zaryusu menanyakan sebuah pertanyaan berbeda.
"Ngomong-ngomong, apakah suku Red Eye mengembangbiakkan ikan?"
"Mengembangbiakkan?"
"Benar, itu membesarkan ikan yang akan menjadi makanan."
"Kami tidak melakukannya. Ikan adalah anugerah alam, bagaimanapun juga."
Pengembangbiakkan yang Zaryusu katakan adalah sebuah tekhnik yang tidak diketahui oleh suku lizardman manapun. Ide bahwa mereka dapat membesarkan mangsa mereka dengan tangan mereka sendiri adalah sebuah ide yang pada dasarnya berbeda dari cara mereka berpikir.
"Itu sepertinya adalah cara berpikir druid. Apakah kau mau untuk berkompromi? Membesarkan ikan dengan satu-satunya tujuan untuk memakan mereka. Para druid di sukuku telah menyetujuinya."
Crusch menganggukan kepalanya.
"Kalau begitu aku akan mengajarimu bagaimana caranya mengembangbiakkan ikan. Bagian terpentingnya adalah apa yang kau berikan sebagai makanan mereka. Kau bisa memberi mereka buah-buahan yang dibuat dari sihir druid. Itu akan sangat mempercepat pertumbuhan mereka."
"Apakah tidak masalah kau membagikannya seperti itu?"
"Tentu saja. Tidak ada gunanya menyembunyikannya. Adalah hal yang lebih penting supaya banyak suku bertahan hidup dengan menggunakan metode ini."
Crusch menundukkan kepalanya dalam-dalam dan menaikkan ekornya.
"Terima kasih."
"Rasa terima kasihmu… tidak diperlukan. Sebagai gantinya, aku ingin menanyaimu lagi.
Rasa terima kasih menghilang dari wajah Crusch. Melihat sikapnya, Zaryusu menenangkan hatinya.
Pertanyaan yang sama sekali tidak dapat dihindari. Baik Zaryusu dan Crusch menarik napas pada saat yang bersamaan.
Dan dia bertanya.
"Tindakan apakah yang suku Red Eye akan lakukan berkaitan dengan perang yang akan datang?"
"…Dari kesepakatan pertemuan kemarin, kami akan melarikan diri."
"Kalau begitu, aku akan bertanya pada Crusch Lulu, sebagai penjabat kepala suku. Dan hari ini, apakah keputusan tersebut tidak berubah?"
Crusch tidak menjawab.
Jawabannya akan menentukan nasib dari suku Red Eye. Sudah jelas dia akan merasa ragu-ragu.
Akan tetapi, tidak ada yang Zaryusu bisa lakukan di sini. Yang bisa dia lakukan hanya tersenyum kikuk.
"…Itu adalah keputusanmu. Alasan kenapa kepala suku sebelumnya tersenyum padamu mungkin karena dia sedang meninggalkan masa depan suku ini dalam tanganmu. Maka sekarang adalah waktunya bagimu untuk menjalankan misimu. Aku sudah mengatakan segala sesuatu yang perlu dikatakan. Kau tinggal membuat pilihan."
Mata Crusch dengan cepat menelusuri interior di sekitarnya di dalam pondok. Dia bukannya sedang mencari jalan keluar, ataupun mencari pertolongan. Tapi hanya menarik jawaban tepat dari dalam dirinya sendiri.
Apapun yang di putuskan, Zaryusu akan menerimanya.
"Aku akan bertanya sebagai penjabat kepala suku. Berapa pengungsi yang rencananya akan kau ungsikan?"
"Untuk pengungsi dari tiap suku, aku mempertimbangkan sepuluh warrior, dua puluh hunter, tiga druid, tujuh puluh pria, seratus wanita, dan beberapa anak-anak."
"…Dan sisanya?"
"—Tergantung dari situasinya, mereka akan mati."
Crusch tanpa kata-kata menatap kosong, kemudian tiba-tiba bergumam.
"—Aku mengerti."
"Kalau begitu, katakanlah keputusanmu, penjabat kepala suku Red Eye, Crusch Lulu."
Crusch memikirkan begitu banyak ide.
Tentu saja, membunuh Zaryusu juga adalah pilihan yang mungkin. Dia secara pribadi tidak ingin membunuhnya. Tapi penjabat kepala suku Crusch berbeda. Bagaimana jika seluruh suku melarikan diri setelah membunuhnya?
Dia membuang ide tersebut. Kemungkinan ke depannya terlalu berbahaya. Juga, tidak ada jaminan bahwa dia benar-benar datang sendirian.
Lalu, bagaimana dengan berjanji padanya sebelum melarikan diri?
Ini juga dapat menjadi masalah. Kalau berjalan dengan salah, itu akan memicu perang antara mereka dan suku Red Eye. Mereka akan menjadi target pengurangan populasi. Niat sebenarnya dari pihak mereka adalah mengurangi populasi, jadi tidak masalah siapa targetnya.
Pada akhirnya, dia menyadari jika jawabannya adalah tidak untuk membuat sebuah aliansi, Zaryusu  mungkin akan kembali ke desanya dan memimpin satu pasukan ke sini untuk memusnahkan suku Red Eye.
Akan tetapi, tidak tahu apakah Zaryusu menyadarinya, ada satu celah. Pada akhirnya, masalah tentang makanan tidak terselesaikan.
Crusch tiba-tiba tersenyum. Sejak awal tidak ada jalan keluarnya. Sejak Zaryusu menyarankan padanya untuk membentuk sebuah aliansi; sejak dimulainya fase mengambil tindakan dari suku Green Claw—
Hanya ada satu jalan untuk bertahan hidup bagi suku Red Eye, itu membentuk aliansi dengan yang lain dan berpatisipasi bersama dalam perang. Karena itulah, Zaryusu pasti sudah mengerti alasannya.
Walau begitu, dia harus menunggu Crusch untuk menanggapinya secara personal. Dia mungkin ingin melihat apakah Crusch yang mengepalai suku lizardman tersebut, memiliki kualifikasi untuk menjadi seorang rekan aliansi.
Yang tersisa adalah apakah dia ingin mengutarakan keputusannya.
Kecuali, setelah memberikan keputusan tersebut, pasti akan ada banyak individu yang kehilangan nyawanya. Akan tetapi—
"Biarkan aku memperjelas sesuatu. kita tidak akan pergi berperang demi mengorbankan nyawa, tapi untuk meraih kemenangan. Aku mungkin telah mengatakan banyak hal yang membuatmu merasa resah. Akan tetapi, kita ingin menjadi yang berdiri dan tertawa penuh kemenangan. Tolong jangan salah paham mengenai hal ini."
Crusch menggangguk untuk menandakan dia mengerti.
Lizardman pria ini benar-benar baik. Dengan pemikiran seperti itu, Crusch menyatakan keputusannya sendiri.
"…Kami, suku Red Eye akan bekerja sama denganmu, karena aku tidak ingin melihat senyuman kepala suku menjadi sia-sia, dan juga karena itu akan memberi anggota suku Red Eye kesempatan untuk bertahan hidup."
Crusch menurunkan kepalanya untuk menunduk dalam-dalam; ekornya lurus dan naik.
"—Aku amat sangat berterimakasih."
Zaryusu mengangguk sedikit. Ekor yang dinaikkan tersebut menunjukkan pemikiran yang kompleks, lebih kuat daripada perkataannya.
***
Pagi-pagi sekali.
Zaryusu berdiri di depan Rororo, melihat ke arah pintu utama suku Red Eye.
Dia tidak dapat menahan untuk membuka mulutnya lebar-lebar dan menguap. Semalam dia menjadi penonton tamu pada pertemuan Red Eye sampai larut malam, karena itu dia saat ini merasa sedikit letih. Akan tetapi, tidak ada banyak waktu tersisa, dan penting untuk mengunjungi suku lainnya pada hari ini.
Zaryusu mati-matian berjuang melawan rasa kantuknya, tapi untuk sesaat mereda dan menguap lagi, tapi yang kali ini lebih lebar daripada yang sebelumnya.
Walaupun duduk di atas Rororo tidaklah cukup nyaman untuk tidur, dia merasa dia dapat melakukannya.
Setelah melihat sekilas matahari berwarna kuning yang baru saja terbit, Zaryusu kembali mengalihkan pandangannya pada pintu masuk, dan kemudian merasa sedikit kebingungan. Itu karena objek aneh yang baru saja berlari keluar dari gerbang utama.
Itu adalah seikat rumput liar.
Ada rerumputan liar yang tumbuh di atas sehelai pakaian yang dijahit bersama dari banyak carikan panjang kain dan benang pakaian. Jika seseorang berada di lahan basah dan mengamatinya dari kejauhan, itu akan terlihat seperti seberkas rumput liar.
Ah, aku yakin aku pernah melihat monster yang serupa di suatu tempat sebelumnya.
Zaryusu mengingat kembali sebuah pemandangan yang dia lihat saat berkelana sebagai seorang traveler ketika Rororo di belakangnya mengeluarkan sebuah geraman rendah memperingatkan.
Tentu saja Zaryusu tahu siapakah sebenarnya berkas rumput itu, dan mustahil untuk salah karena ekor putihnya sedikit terlihat.
Saat dia menatap kosong pada ekor yang bergoyang dengan semangat itu dan pada saat yang sama menenangkan Rororo, berkas rumput itu telah tiba di sebelah Zaryusu.
"—Selamat pagi."
"Un, selamat pagi…sepertinya kau menyatukan seluruh suku tanpa masalah."
Dia mengarahkan tatapannya ke pemukiman suku Red Eye. Sejak pagi-pagi sekali, tempat berkumpul telah bergemuruh dengan niat membunuh. Banyak lizardman yang berlarian hilir mudik dengan heboh. Crusch juga berdiri di satu isi menghadap ke arah yang sama dan membalas:
"Ya, tidak ada masalah yang muncul. Hari ini kita seharusnya dapat tiba di perkampungan suku Razor Tail, dan mereka yang berharap untuk melarikan diri pasti juga telah berkemas."
Para druid di dalam desa menggunakan sihir untuk menyampaikan situasi terbaru. Suku Razor Tail dikatakan bahwa mereka akan menjadi suku pertama yang dimusnahkan. Suku pertama yang akan disapu habis bukanlah suku Dragon Tusk, dengan demikian ini lebih menguntungkan dalam hal waktu.
"Kalau begitu Crusch, kenapa kau kau mau bergabung dengan kami?"
"Jawabannya sangat sederhana, Zaryusu, tapi sebelum aku menjawabnya, pertama-tama katakan padaku tentang satu hal. Apakah rencanamu?"
Setelah pertemuan kemarin yang memakan waktu dari sore hingga dini hari, kedua invidu ini tidak merasa sungkan bahkan saat saling memanggil nama. Alasannya adalah karena mereka menjadi cukup akrab hingga cara berbicara mereka dengan satu sama lain berubah.
"Untuk berikutnya, aku berencana untuk mengunjungi suku lain… suku Dragon Tusk."
"Mereka adalah suku yang mengganggap bahwa kekuatan adalah segalanya, 'kan? Kudengar kekuatan tempur mereka adalah yang terkuat dari semua suku."
"Erm, kau benar. Melihat bahwa pihak sana adalah suku yang belum pernah kita hubungi sebelumnya, kita harus mempersiapkan diri secara mental."
Semua informasi dari pihak tersebut diselubungi dengan tabir misteri. Karena itu hanya dengan mengarah ke tempat pihak tersebut adalah sebuah masalah yang sangat berbahaya. Terlebih lagi, mereka telah menampung yang selamat dari dua suku yang dimusnahkan saat perang lalu. Kenyataan ini hanya semakin meningkatkan bahaya yang akan datang.
Bagi yang dikalahkan dari dua suku itu, Zaryusu, yang berperan aktif di perang sebelumnya sudah pasti adalah musuh yang dibenci, amat sangat dibenci.
Walau begitu, merekalah bantuan yang paling dibutuhkan dari semua suku yang ada dalam perang kali ini.
"Kalau begitu…jadi, tetap lebih baik bagiku untuk pergi denganmu."
"— Apa?"
"Apakah itu sangat aneh?"
Tumpukan rumput liar itu membuat sedikit gerakan, dan mengeluarkan sebuah suara bisikan samar. Karena dia tidak dapat melihat wajahnya, dia tidak dapat tahu apa yang menjadi niatnya.
"Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa itu aneh...tapi ini akan sangat berbahaya."
"Apakah masih ada tempat yang aman saat ini?"
Zaryusu terdiam. Dia sedang berpikir dengan tenang, membawa Crusch dengannya akan menguntungkan dalam berbagai cara. Akan tetapi sebagai seorang lizardman pria, dia masih merasa keberatan untuk membawa seorang lizardman wanita, yang mana dia memiliki perasaan terhadapnya, ke tempat yang jelas berbahaya.
"—Aku benar-benar tidak dapat cukup tenang."
Sekalipun Crusch tersembunyi di dalam rerumputan, dan ekspresinya tidak dapat terlihat, dia hapir terlihat tersenyum ringan.
"…Kalau begitu biar kutanyakan pertanyaan lain. Ada apa dengan penampilanmu?"
"Apakah tidak terlihat bagus?"
Pertanyaan apakah ini terlihat bagus atau tidak adalah sebuah hal yang aneh. Akan tetapi, bukankah akan lebih bagus untuk memberi sedikit pujian? Zaryusu tidak tahu cara menanggapinya, dan setelah sesaat berpikir masak-masak, mengamati ekspresi lawan bicaranya yang tak terlihat dan menjawab:
"…Aku sebaiknya mengatakan itu terlihat bagus…ya 'kan?"
"Yang benar saja."
Crusch dengan cepat menolaknya. Zaryusu merasa kekuatan terkuras dari dirinya, mau bagaimana lagi.
"Ini hanya karena aku lemah terhadap cahaya matahari, karena itu saat aku pergi keluar, aku hampir selalu berpakaian seperti ini."
"Jadi karena itu…"
"Ah, kau belum memberiku jawabanmu. Apakah kau akan membiarkanku pergi bersamamu?"
Memperpanjang diskusi ini mungkin tidak akan menggoyahkan pikirannya. Dari sudut pandang untuk membentuk aliansi, membawanya serta akan menjadi keuntungan dalam mencapai tujuan ini. Dia juga memiliki pemikiran yang sama, karena itulah dia mungkin menyarankan hal ini. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk menolak keikutsertaannya.
"…Aku mengerti, kalau begitu tolong bantu aku, Crusch."
Crusch merasa senang dari dalam lubuk hatinya saat dia membalas.
"—Baiklah, Zaryusu. Serahkan saja padaku."
"Apakah kau sudah siap untuk berangkat?"
"Tentu saja. Tas ranselku sudah diisi dengan bermacam-macam benda yang diperlukan."
Setelah mendengar ini, Zaryusu mengamati dengan hampir tidak kentara bagian punggung gadis itu dan menemukan ada sebuah gundukan kecil di permukaan rumput. Aroma rumput segar tercium dari area tersebut, begitu pula beberapa wangi yang pekat. Karena dia adalah seorang forest druid, maka seharusnya ada beberapa skill yang berkaitan dengan tumbuh-tumbuhan obat, karena itulah isi di dalamnya seharusnya dipenuhi dengan barang-barang yang berkaitan.
"Zaryusu, kau kelihatan sangat lelah."
"Ah, ya, sedikit. Dua hari belakangan ini rasanya kacau, aku kurang tidur."
Pada saat ini, sebuah tangan bersisik putih terjulur keluar dari bawah kostum rumput itu.
"Untukmu. Ini adalah buat yang memulihkan tenaga. Makanlah bersama dengan kulitnya."
Ada sebutir buah berwarna ungu pada tangan yang dijulurkan itu. Dengan ragu-ragu, Zaryusu mendekatkannya ke mulut dan mencoba segigit.
Mulutnya dengan segera dipenuhi dengan rasa yang tajam dan pahit, melenyapkan sedikit rasa lelahnya. Tentunya untuk meningkatkan kewaspadaan, efek ini cukup memadai, tapi setelah mengunyahnya beberapa kali, tiba-tiba sebuah semburan rasa meledak di bagian atas lidahnya. Tidak hanya itu, bahkan nafas yang dia hembuskan memiliki rasa yang sama.
"Muu, sensasi dingin apa ini yang bahkan dapat menembus rongga hidung?"
Zaryusu tanpa sadar memekikkan kalimat favorit saudaranya. Melihat reaksinya, Crusch tidak dapat menahan diri untuk terkekeh.
"Apakah kau merasa rasa kantukmu perlahan-lahan menghilang? Sebenarnya itu tidak benar-benar menghilang, jadi tolong jangan sampai terlalu terbiasa dengan sensasinya. Masih tetap lebih baik bagimu untuk menemukan waktu istirahat."
Zaryusu merasakan pikirannya menjadi jelas dan segar karena tarikan dan hembusan nafasnya, dan karena tubuhnya dipenuhi dengan sensasi yang dingin. Merasa puas, Zaryusu mengangguk dan membalas:
"Kalau begitu, ayo kita sempatkan waktu nanti dan tidur siang singkat di atas Rororo."
Berkata demikian, Zaryusu segera memanjat ke atas punggung Rororo, diikuti dengan Crusch yang juga memanjat ke atas. Perasaan tak biasa di mana setumpuk rumput berada di atas tubuhnya membuat Rororo melotot dengan tidak senang pada Zaryusu, tapi pada akhirnya memikirkan sebuah cara untuk menenangkannya.
"Kalau begitu, ayo berangkat. Karena perjalanannya akan melonjak-lonjak, berpeganganlah padaku."
"Baik."
Crusch memeluk pinggang Zaryusu — rasa menusuk-nusuk dari rumput tersebut membuat Zaryusu sedikit gatal.
"......"
Perbedaan antara perasaan yang sebenarnya dan dengan apa yang tadinya dia bayangkan, membuat sudut-sudut bibir Zaryusu terkulum.
"—Ada apa?"
"Tidak, bukan apa-apa. Rororo, ayo berangkat."
Apakah yang membuat gadis itu begitu gembira? Tawa Crusch yang sangat riang datang dari belakangnya, membuat Zaryusu tidak dapat menahan diri untuk menunjukkan senyuman lebar di atas punggung Rororo.

Bagian 2

Hutan Tove yang baru dikuasai penuh dengan kesunyian, setiap makhluk hidup takut pada tatapan sang raja dan menahan napas mereka.
Tapi, hanya tempat ini yang berbeda.
Bunyi pepohonan yang ditebang dan suara-suara menyebar ke sampai ke sekitarnya.
Para golem di sini akan membuat orang memikirkan tentang mesin konstruksi berat — Heavy Iron Machine, yang sedang mengirimkan gelondong-gelondong kayu ke tempat area konstruksi sebuah bangunan besar. Bangunan ini masih memiliki jalan yang panjang sebelum selesai, pondasinya besar, dan sebagian kecil telah rampung.
Bekerja di area ini adalah sekelompok golem dan undead.
Selain undead yang bekerja di sini, kebanyakan dari mereka adalah para Elder Lich, yang mengenakan jubah merah menyala.
Di setiap bahu setiap mereka terdapat demon setinggi sekitar tiga puluh senti, ditopang dengan sayap kelelawar panjang dan kulit berwarna merah tembaga—demon yang dikenal sebagai imp. Imp tersebut mengangkat tinggi ekor beracun mereka agar tidak meneteskan racunnya dan menghalangi Elder Lich.
Salah satu Elder Lich yang bekerja begitu keras membuka lembaran rancang bangun di tangannya, dan memberikan perintah pada para golem yang sedang bekerja.
Memperhatikan golem-golem yang berhenti bekerja dan mematuhi perintahnya, dia membandingkan konstruksi bangunan tersebut dengan rancangan di tangannya. Setelah mempertimbangkannya sedikit, dia berbicara pada imp yang sedang duduk di bahunya.
Setelah mendengarkan, imp itu menunjukkan tanda mengerti, mengepakkan sayapnya dan terbang ke langit.
Dengan gaya terbang yang tidak bisa dikatakan elegan, imp itu memeriksa area dengan mata yang terbuka lebar. Tidak berapa kemudian, imp itu menemukan targetnya dan dengan cepat terbang turun.
Orang itu adalah Guardian Lantai Keenam Great Tomb of Nazarick, Aura Bella Fiore, dan juga salah satu raja baru dari hutan ini.
Gadis Dark Elf itu menggunakan selembar kertas yang digulung sebagai megaphone, membuat suaranya terdengar sampai jauh. Imp itu terbang turun dan berdiri memberi hormat di depannya, Aura kemudian bertanya dengan nada bicara yang akrab.
"Bagus~ sekarang dari grup mana kau berasal?"
"Aura-sama, itu adalah Grup U, nomor 3."
"Grup U, bagus, bagus, baiklah. Sekarang, masalah apa lagi?"
Yang bekerja di sini dibagi menjadi grup-grup yang dinamai dengan huruf, dari A sampai ke U1, setiap grup dikirim ke area yang berbeda untuk melakukan pekerjaan yang berbeda. Menurun ingatan Aura, dia ingat bahwa tugas Grup U adalah membangun gudang penyimpanan, yang kemajuan prosesnya berada di posisi tercepat kedua.
"Ada masalah dengan lebar balok kayu yang digunakan untuk konstruksi, apakah kami dapat meminta sedikit wak—"
Pada saat ini, suara imp tersebut tiba-tiba berhenti, ini karena sebuah suara yang muncul dari sepotong besi yang bergantung di sekitar pergelangan tangan Aura.
"Waktunya istirahat~"
Mendengar suara wanita yang bersemangat tinggi, rona wajah Aura tiba-tiba berubah, telinganya turun, dan terlihat berekspresi malu.
"Ya, mengerti, Simmering Teapot-sama!"
Aura dengan bersemangat membalas suara dari pergelangannya.
"Jadi, karena sekarang sudah waktunya untuk makan, pekerjaan pagi ini berakhir sekarang."
Dari semua monster yang bekerja di area tersebut hampir mereka semua tidak butuh makan. Mengenai itu, Aura sendiri juga mengenakan Ring of Sustenance, dan tidak membutuhkan makanan maupun tidur. Tapi karena Masternya mengkhawatirkan keadaan kesehatan semua orang dan selalu berkata, "Selalu cukup istirahat", dia mengikuti instruksi ini dengan senang hati.
"Walaupun ini kurang sopan, tapi sekarang waktunya untuk istirahat, jadi silakan kembali setelah sejam lagi."
"Baik, kalau begitu bawahan ini akan mohon diri sekarang."
Imp tersebut pergi dan terbang ke udara, hanya meninggalkan suara kepak sayapnya.
Melihat imp tersebut pergi ke tempat konstruksi gudang penyimpanan sedang dilakukan, Aura mengguncang bahunya, kemudian melihat tali di pergelangannya.
Kali ini dia menunjukkan ekspresi penuh kebahagiaan.
Ini adalah sebuah hadiah yang diberikan oleh masternya karena semua kerja kerasnya. Tentu saja, tugas utama mereka sebagai Floor Guardian adalah bekerja keras atas pekerjaan yang telah diberikan, dan tidak diperlukan sebuah hadiah. Malahan, sudah seharusnya untuk memberikan segala yang dimilikinya untuk sang master.
Akan tetapi, dia tidak dapat menolak begitu saja jam tangan yang diberikan padanya oleh masternya.
"Hohoho, aku benar-benar ingin lebih lagi mendengar suara Simmering Teapot-sama."
Aura dengan hangat menyentuh tali pada pergelangannya. Tidakannya saat ini dapat dikatakan lebih hanya daripada saat dia menyentuh hewan peliharaan miliknya.
Semua suara yang muncul dari alat inilah yang menciptakan Aura.
Meskipun suara itu hanya digunakan untuk menunjukkan waktu, ini tetap sangat memuaskan Aura.
Saat dia mendengar bahwa adik laki-lakinya menerima Ring of Ainz Ooal Gown, dia merasa sedikit cemburu, tapi sejujurnya, saat ini dia merasa benda yang dia dapatkan itu jauh lebih baik.
"Hohohohohohoho."
"Kenapa Ainz-sama mengatur waktu yang tidak bisa digunakan?"
Ainz-sama memerintahkan bahwa jam 7:21 dan 19:19 tidak bisa diatur untuk alarm.
"Eh…kenapa tidak kita tanyakan saja padanya? Ah, ini gawat!"
Aura melihat angka pada jam tersebut, dan segera berlari.
Di depan tempat tujuannya ada seorang pelayan.
Salah satu dari 41 pelayan di dalam Great Tomb of Nazarick, seorang homunculus yang penampilan luarnya adalah seorang wanita cantik, tapi dia adalah sebuah pengecualian.
Kepalanya adalah kepala seekor anjing, dengan garis vertikal yang melintasi bagian tengah wajahnya seperti sebuah bekas luka dengan tanda dijahit. Terlihat seakan wajahnya telah terbelah dua dan kemudian dijahit menyatu lagi.
Namanya adalah Pestunia S Wanko.
Dia adalah Kepala Pelayan Great Tomb of Nazarick, dan sekaligus seorang High Priest.
"Seperti yang Aura-sama inginkan, saya telah membawakan sepotong burger, dan juga dua acar, kentang goreng yang masih berkulit, dan minumannya adalah cola… Guuk."
Setelah jeda panjang, dia mengeluarkan suara "guuk", membuat Aura berpikir bahwa dia mungkin lupa untuk menambahkannya pada akhir kalimat.Tapi Aura tidak merasakan ada sesuatu yang spesial tentang ini, karena ada hal lain yang menyita perhatiannya. Itu adalah aroma yang akan membuat perut seseorang berbunyi. Meskipun Ring of Sustenance membuat seseorang tidak perlu untuk mengkonsumsi makanan, bukan berarti tidak dapat makan. Lagipula makan adalah hal yang menyenangkan, tertutama jika itu adalah makanan yang sangat enak.
"Berbicara tentang keseluruhan efek memakan ini…"
"Ah, tidak perlu, tidak perlu, aku tidak memakan ini demi efek yang menguntungkan."
"Mengerti, guuk."
Aura berjalan menuju ke sebelah Pestunia, di mana kereta makanan mengeluarkan aroma yang harum.
"Waktunya makan, waktunya makan.
Pestunia, saat menengar lagu saat makan karangan langsung Aura, mengangkat penutup makanan dari piring di kereta makanan.
"Aah~"
Aura mau tidak mau menatap cermat pada makanan yang ada di hadapannya, pada saat yang sama mengatakan kata-kata yang tiba-tiba muncul di pikirannya.
"Meskipun daging sapi A7 juga bagus, tapi aku lebih menyukai campuran daging sapi dan daging babi. Seandainya aku dapat menggunakan kombinasi tersebut untuk membuat pai daging 3 lapis."
"Kalau begitu, pelayan anda ini akan menyampaikan saran anda pada chef, guuk."
"Ah, maaf merepotkanmu!"
Aura kemudian mengambil piring tersebut dan berjalan menjauh.

Bagian 3
Zaryusu mengamati perkampungan Suku Dragon Tribe di depannya. Pada saat yang sama, seberkas tumbuhan muncul di sebelahnya. Tidak perlu dikatakan lagi, berkas tumbuhan itu sebenarnya adalah Crusch. Dia mengulurkan tangannya untuk memisahkan rumput-rumput, menampakkan apa yang Zaryusu pikir adalah seraut wajah yang cantik.
"Apa kau benar-benar ingin untuk menyerang begitu saja ke dalam? Apakah kau mencoba untuk menghadapi mereka secara langsung?"
"Salah, justru kebalikannya. Suku Dragon Tusk sangat menghargai kekuatan. Kalau kita begitu saja berpisah dengan Rororo dan memasuki tempat tersebut, kita sangat mungkin akan bertemu orang-orang yang menantang bertarung bahkan sebelum kita bertemu dengan kepala suku, dan itu akan merepotkan. Terus maju sambil mengendarai Rororo akan menahan situasi tersebut untuk muncul."
Setelah mengendarai Rororo maju cukup jauh, bermacam-macam warrior di seluruh desa pasti telah melihat mereka. Setiap dari mereka memegang senjata, dan mengawasi grup Zaryusu dengan tatapan yang tidak goyah.
Merasakan niat bermusuhan, Rororo mengeluarkan sebuah geraman rendah. Zaryusu mendengarkan peringatan Rororo dan memberi tanda untuk dia terus melangkah maju.
Terus maju pada akhirnya akan memicu sebuah pertempuran. Namun mereka tetap berjalan sampai mereka mencapai sebuah ambang pintu, sebuah batas di mana segala sesuatu dapat saja terjadi kapan saja; sebelum Zaryusu akhirnya menghentikan Rororo dan melompat turun. Crusch juga mengikutinya dan turun dalam sesaat.
Beberapa tatapan tajam warrior terarah langsung kepada dua individu tersebut. Tatapan-tatapan itu begitu intens sehingga tidak lagi hanya sekedar bermusuhan tapi jelas-jelas membunuh.
Crusch sediki merasa terintimidasi dengan tatapan mereka yang membuatnya menunda langkah kakinya. Meskipun dia adalah individu yang luar biasa terampil di antara para druid, dia kurang berpengalaman berada di garis depan.
Sebaliknya, Zaryusu mengambil satu langkah maju lagi. Menggunakan setengah tubuhnya untuk melindungi Crusch, dia berseru lantang :
"—Aku adalah perwakilan dari Suku Green Claw, Zaryusu Shasha, dan kedatanganku kemari adalah untuk berdiskusi dengan kepala suku!"
Suara lantangnya yang kuat nampak seperti akan mengenyahkan niat membunuh di sekitar mereka. Para warrior suku Dragon Tusk terkejut dan terlihat hampir seperti terintimidasi.
Mengikuti, Crusch juga berbicara, mengumumkan dirinya sendiri :
"Aku adalah penjabat kepala suku, Crusch Lulu, dan aku juga datang untuk mengunjungi kepala suku di sini."
Sekalipun suaranya tidak terdengar nyaring, suara tersebut membawa kebanggaan dan kesadaran diri seorang pemimpin suku. Sesosok lizardman wanita muda bertubuh ramping sebelumnya telah menghilang karena suara penuh kepercayaan diri lizardman pria yang menyemangatinya.
"Sekali lagi, kami di sini untuk menemui kepala suku! Di manakah dia!"
Pada detik ini, atmosfir di sekitar mereka beriak. Ini seperti suasana dari pemandangan ini tiba-tiba berubah menjadi kekuatan serangan sebenarnya yang diarahkan kepada mereka berdua.
Setiap dari empat kepala Rororo melakukan jungkir balik. Membuka rahangnya, mengeluarkan raungan mengancam ke empat penjuru sambil menggelengkan kepala dan menatap marah. Saat hydra raksasa tersebut mengeluarkan pekikan tajam, rasa takut sepertinya menyerap ke sekeliling ketika suasananya menegang.
"…Tidak perlu melindungiku dari sesuatu yang begitu remeh."
"Aku tidak berniat untuk melindungimu, karena kau datang dengan keinginanmu sendiri. Akan tetapi, akulah yang membuat seluruh suku mereka binasa, karena itu seharusnya hanya aku sendiri yang menanggung tatapan bermusuhan mereka."
Para warrior mulai berkumpul di bagian dalam pemukiman suku. Mereka semua adalah lizardman bertotot dan tegap dengan bekas-bekas luka ringan pada sisik-sisiknya, menandakan bahwa mereka adalah para veteran dari begitu banyak pertarungan. Akan tetapi Zaryusu merasa bahwa kepala suku itu tidak ada di antara mereka.
Setiap lizardman ini hanyalah warrior. Tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki otoritas seperti kakaknya, tidak juga ada penampilan aneh dengan atmosfir percaya diri sebagai kepala suku seperti Crusch.
Selama saat ini ketika hanya Rororo yang mengeluarkan sebuah suara yang mengintimidasi, setiap individu lizardman mempertahankan kewaspadaan tingkat tinggi. Pada saat inilah—
"Haah!"
Crusch menghembuskan nafas, mengeluarkan suara yang lemah. Akan tetapi, Zaryusu, yang telah memperkirakan bahwa pada akhirnya akan ada satu lizardman yang muncul, tetap tidak bergerak. Ini karena bahkan sebelum lawan menunjukkan dirinya, dia dapat merasakan bahwa ada sebuah kekuatan yang luar biasa besar yang perlahan-lahan mendekat.
Tapi tetap saja dia mau tidak mau menatap bingung pada lizardman yang muncul di hadapannya.
Sederhananya, penampilan lizardman itu aneh.
Lawan adalah individu berbadan besar dengan tubuh yang tingginya melampaui dua ratus tiga puluh sentimeter. Sosok ini sendiri tidak cukup dinilai hanya sebagai sesuatu yang aneh, karena ada alasan lainnya untuk menggambarkan penampilannya seperti itu.
Yang pertama, bahu kirinya memiliki penampilan luar yang aneh dengan lebih bentuk yang lebih tebal daripada yang lainnya, sama seperti kepiting jenis fiddler yang hanya satu capitnya berukuran besar di satu sisi. Tidak, bahu kirinya sama sekali tidak kecil, dengan ketebalan yang hampir sama dengan bahu Zaryusu sendiri. Jadi pada dasarnya lengan kanannyalah yang tebalnya tidak biasa, dan ini bukan karena penyakit atau cacat bawaan, tapi merupakan otot yang sesungguhnya.
Jari manis dan kelingking tangan kirinya sama sekali tak ada.
Mulutnya terpisah jauh ke belakang, mungkin hasil dari luka irisan, dan ekornya tertekan begitu rata, tidak seperti lizardman tapi lebih mirip ekor buaya.
Akan tetapi, bahkan saat dibandingkan dengan ini semua, ciri-ciri yang paling mencolok adalah—tanda terbakar yang ada pada dadanya. Meskipun bentuknya berbeda dengan yang ada di dada Zaryusu, arti sama, membuktikan bahwa lizardman ini juga adalah seorang 'traveller'.
Lizardman dengan penampilan aneh itu mengamati Zaryusu, dan mengeluarkan tawa mengerikan saat gigi-geliginya bertumbukan, terdengar seperti tubrukan antara dua pohon mati.
"Selamat datang, pemilik Frost Pain."
Suaranya yang berat begitu cocok dengan penampilannya, kecuali bahwa suara tersebut memiliki efek untuk membuat pembicaraan sederhana sekalipun terdengar mengancam.
"Ini adalah pertama kalinya kita bertemu. Aku adalah perwakilan dari suku Green Claw, Zaryu—"
Lizardman itu melambaikan tangannya, menandakan bahwa perkenalan tersebut tidak diperlukan.
"Cukup nama saja."
"…Aku adalah Zaryusu Shasha, dan ini adalah Crusch Lulu."
"Dia ini bukan…seekor monster tanaman 'kan? Tapi, karena kau sudah membawa seekor hydra ke sini, membawa serta seekor monster sebagai makanannya seharusnya tidak begitu mengejutkan."
"…Bukan begitu."
Terhadap Crusch yang akan melepaskan kostum rumputnya, lizardman berpenampilan aneh itu sekali lagi melambaikan tangannya untuk memberitahu bahwa tindakan itu tidak diperlukan.
"Jangan anggap serius candaanku, merepotkan."
"—!"
Merasa tidak tertarik, lizardman berpenampilan aneh itu melirik sekilas pada berkas rumput tersebut yang adalah Crusch sebelum kembali mengalihkan pandangannya pada Zaryusu.
"Kalau begitu, kenapa kalian datang?"
"Sebelum itu, maukah kau memberitahukan namamu pada kami?"
"Ah. Aku adalah kepala suku dari Suku Dragon Tusk, Zenberu Gugu. Panggil saja aku Zenberu."
Zenberu memperlihatkan giginya saat dia tersenyum. Meskipun ini sudah dalam perkiraannya, kenyataan bahwa seorang traveller juga adalah seorang kepala suku tetap saja merupakan kabar yang mengejutkan.
Tapi sebalinya, ini juga merupakan jawaban yang paling dapat diterima. Adalah hal yang musthil bahwa lizardman pria kuat seperti ini hanyalah seorang traveller. Kenyataannya, pada saat dia muncul, niat bermusuhan di sekeliling dengan segera menghilang bagaikan asap. Lizardman pria ini memiliki otoritas sebesar itu dan juga kelihaian bertarung yang luar biasa serta terpadu.
"Kau juga dapat memanggilku Zaryusu saja. Kalau begitu, Zenberu, tolong beritahukan pada kami apakah ada monster tidak biasa apapun yang telah mendatangi desa kalian belum lama ini."
"Un, si Supreme One."
"Karena lawan telah datang kemarin, maka yang didiskusikan menjadi lebih mudah—"
Zenberu mengangkat tangannya, menyela perkataan Zaryusu.
"Aku secara garis besar dapat menebak apa yang akan kau katakan. Tapi, kami hanya mempercayai kekuatan. Hunuskan pedangmu."
Lizardman besar dan tegap yang berdiri di depan Zaryusu—kepala suku Dragon Tusk, Zenberu Gugu — tersenyum memperlihatkan gigi di mulutnya.
"Apa!"
Hanya Crusch yang berseru. Zaryusu dan warrior di sekeliling mereka menunjukkan ekspresi setuju.
"…Metode ini sederhana, Kepala Suku Dragon Tusk. Ini membuat penilaiannya singkat, dan sama sekali tidak membuang-buang waktu."
"Kau benar-benar utusan yang luar biasa. Tidak, karena kau adalah tuan dari Frost Pain, itu pastinya adalah pemberian, 'kan?"
* * *
Memilih yang terkuat sebagai kepala suku—bagi para lizardman ini adalah hal yang alamiah dan sudah biasa.
Tapi, untuk masalah di mana penghidupan suku yang menjadi taruhannya, apakan metode sesederhana ini layak untuk menentukan jawabannya? Bukankah masalah seperti ini didiskusikan dan dievaluasi oleh setiap orang, mengambil analisis mendetail dari berbagai pendekatakan sebelum mengambil keputusan?
Crusch berpikir demikian, dan menyadari bahwa memikirkan ide ini adalah hal yang tidak masuk akal.
Kenyataannya, semua warrior yang mengelilingi untuk mengamati, tidak peduli apakah mereka pria atau wanita, semuanya setuju dengan penilaian sang kepala suku. Sebelumnya, dia sendiri juga akan merasa bahwa keputusan ini adalah salah satu pilihan.
Lalu, kenapa diriku saat ini merasa ragu-ragu tentang ini?
Dari manakah rasa ragu ini berasal?
Apakah dia berpikir begini karena dia telah menderita karena serangan sihir dari seorang asing? Mustahil. Saat berkaitan dengan sihir, dia percaya diri bahwa dirinya tidak akan kalah dengan siapapun.
Crusch menoleh untuk melihat kedua individu tersebut.
Zaryusu dan Zenberu.
Mereka berdua berdiri bersama dan terlihat seperti seorang anak kecil melawan seorang dewasa.
Tentu saja, tubuh fisik tidak menentukan segalanya, dan sebagai seorang pengguna sihir dia sangat memahami hal ini. Akan tetapi setelah melihat perbedaan dalam bentuk bentuk yang terlihat seperti langit dan bumi, dia mau tidak mau berteriak dalam hatinya bahwa dia tidak berharap ini akan menjadi seperti ini.
Tidak berharap? Aku berharap mereka tidak—tidak, apakah aku berharap mereka tidak bertarung?
Crusch ingin memahami mengapa perasaan yang ajaib itu membuncah di dalam dirinya. Kenapa dia tidak berharap ini terjadi? Kenapa dia tidak mengharapkan mereka untuk bertarung satu sama lain?
Hanya ada satu jawaban yang jelas.
Crusch menyunggingkan seulas senyum tipis. Itu adalah seulas senyum simpul dan juga senyum yang mengejek dirinya sendiri.
Kau hanya dapat mengakuinya dengan jujur sekarang, Crusch. Kau tidak ingin Zaryusu bertarung karena kau takut bahwa dia akan terluka…takut bahwa dia mungkin akan tewas.
Secara sederhana, itulah masalahnya.
Dalam pertarungan semacam ini, sangat langka terjadi berakhir dengan kematian dari salah satu pihak. Akan tetapi arti dari 'langka' adalah masih ada kemungkinan untuk hal tersebut terjadi. Dalam pertarungan yang memanas dan membuat yang terlibat kehilangan alasannya, sebuah nyawa dapat dengan mudah dirampas. Lahir sebagai seorang lizardman wanita, dia tidak berharap partnernya akan kehilangan nyawanya karena partisipasinya dalam pertarungan ini.
Ini juga berarti bahwa kenyataannya, tanpa sadar, Crusch sudah lama menerima pengakuan cinta Zaryusu.
Ini karena tidak ada pria di masa laluku yang pernah memperlakukanku seperti yang dia lakukan… karena itulah aku dengan begitu mudahnya… kalau begini, apakah sebenarnya aku mudah untuk dirayu? Eh, setidaknya aku merasa…sedikit senang dan juga sedikit sedih…ah, sudah, cukup!
Dengan jujur menerima perasaannya, Crusch berjalan ke sebelah Zaryusu yang sedang bersiap-siap untuk bertarung, dan dengan lembut menepuk pundaknya.
"Apakah kau kekurangan sesuatu dalam persiapanmu?"
"Tidak. Tidak ada masalah sama sekali."
Sekali lagi Crusch menepuk pundaknya.
Pundaknya yang kuat dan kekar.
Sejak masa mudanya, dia telah menempuh jalan seorang druid, dan telah melakukan kontak fisik dengan tubuh para lizardman pria saat berdoa, membalurkan obat, dan ketika merapalkan sihir. Akan tetapi sepertinya saat menyentuh tubuh Zaryusu terasa lebih lama daripada waktu-waktu lalu jika dikumpulkan.
Jadi inilah tubuh Zaryusu…ah.
Saat menghadapi pertarungan, darah panas yang mengalir melintasi tubuh memompa otot-otot kuat yang membuat orang lain merasakan kemaskulinannya.
"…Ada apa?"
Karena Crusch masih tidak melepaskannya, Zaryusu untuk sesaat merasa bahwa ini aneh.
"—Eh? Ah, itu…ini adalah berkat dari druid."
"Ini…akankah roh leluhurmu tetap membantuku sekalipun aku berasal dari suku yang berbeda dengan Crusch?"
"Leluhur sukuku tidak berpikiran sesempit itu. Semoga beruntung."
Crusch menarik tangannya dari bahu Zaryusu, dan memohon pengampunan dalam hatinya pada para leluhurnya. Itu karena dia telah berbohong untuk kemenangan pria pilihan hatinya.
Pada saat yang sama, Zenberu sedang melakukan persiapan yang sama. Di pergelangan tangan kanannya dia memegang sebuah tombak besar—sebuah tombak logam dengan panjang hampir tiga meter, yang bagi para lizardman umumnya butuh kedua lengan untuk  menggunakannya.
Lalu dia dengan santai mengayunkannya.
Gerakan menyapu ke samping tersebut menghasilkan sebuah hembusan angin kencang, bahkan Crusch, yang cukup jauh dari gerakan sapuan tersebut, juga merasakan anginnya.
"Apakah kemena…tidak, apakah semuanya baik-baik saja?"
"Tentang ini… Aku akan beradaptasi dengan situasi sesuai yang dibutuhkan."
Crusch awalnya berniat untuk bertanya apakah mungkin baginya untuk menang, tapi dia tidak mengatakannya. Zaryusu tahu bahwa dia sedang menghadapi pertarungan di mana kekalahan bukanlah sebuah pilihan.
Maka lizardman pria ini tidak mungkin kalah. Mereka baru saja mengakrabkan diri sepanjang setengah hari perjalanan mereka, dan baru bertemu sejak sehari yang lalu, tapi ada satu hal yang Crusch ketahui dengan baik.
Lizardman pria ini layak untuk diidamkan olehnya.
"Kalau begitu, apakah persiapanmu selesai? Pengguna Frost Pain…ah, Zaryusu."
"Sudah selesai, dan kita dapat memulainya kapan saja."
Zaryusu dengan tentangnya berbalik menghadapkan punggungnya ke arah Crusch, dan berjalan ke perimeter zona pertarungan.
Crusch menghela nafas sekali. Alasannya adalah karena dia tidak dapat menahan diri untuk menatapi bagian belakang sosoknya.
Tangan Crusch melakukan untuk waktu yang sangat lama—sebenarnya tidak selama itu—dan kehangatan dari bahunya telah perlahan-lahan menghilang.
Pertarungan yang akan dilangsungkan itu sederhana, mirip dengan yang dilakukan untuk menentukan kepala suku. Karena ini adalah pertarungan satu lawan satu, dengan demikian keterlibatan pihak ketiga dengan menambahkan sihir peningkatan adalah sebuah pelanggaran aturan.
Saat kehangatan masih berada di bahunya, pikiran Zaryusu menjadi kacau. Saat tangan Crusch tidak melepaskan bahunya, dia hampir berpikir bahwa gadis itu sedang memasang beberapa sihir pertahanan padanya, tapi sebagai penjabat kepala suku, pastinya dia tidak akan lupa pada aturan ini.
Kalau begitu, meskipun gadis itu sudah jelas tidak menggunakan sihir peningkatan, kenapa Zaryusu saat ini merasa begitu semangat?
Apakah ini karena dirinya adalah seorang pria, dan ingin memperlihatkan sebuah pertunjukkan bagus di depan seorang wanita? Kakak pernah berkata bahwa dia itu terlalu tumpul… tapi ungkapan ini sepertinya tidak benar untuk saat ini.
Zaryusu memasuki lingkaran yang dibuat oleh para lizardman dan dengan cepat menghunuskan Frost Pain. Pedang tersebut merespon pada perintah Zaryusu dan menghasilkan kabut putih beku.
Lizardman di sekitarnya menjadi ribut.
Mereka tahu siapa pemilik Frost Pain sebelumnya, dan juga yang selamat dari Suku Sharp Edge, karena itu mereka secara pribadi mengenali kemampuan hebat dari Frost Pain.
Melihat kemampuan yang hanya dapat dikeluarkan oleh pemilik sebenarnya dari Frost Pain, ekspresi wajah menyeramkan Zenberu berubah menjadi senang, menunjukkan gigi-giginya saat dia menggeram dalam, sama seperti yang dilakukan seekor hewan buas liar.
Terhadap lizardman di hadapannya yang terang-terangan menampilkan keinginannya untuk bertarung, Zaryusu hanya mengatakan satu kalimat dengan dingin:
"Aku tidak ingin kau menderita luka serius."
Perkataan provokatif tersebut meningkatkan antisipasi dari lizardman di sekitarnya sampai ke tingkat maksimal, akan tetapi ceburan air berikutnya dan suara benturan antara permukaan air dengan momentum yang luar biasa membuat sekelilingnya terdiam.
Suara tersebut muncul karena Zenberu menhunjam lahan basah dengan halberdnya.
"Oh…jadi biarkanlah aku merasakan kekalahan dengan puas! Dengar aku baik-baik! Jika aku mati dalam pertarungan ini, dialah yang akan menjadi kepala suku kalian! Tidak ada kata keberatan untuk hal ini!"
Warrior di sekelilingnya seharusnya tidak setuju, tapi tidak ada seorang pun yang menyuarakan keberatannya. Sebenarnya, jika Zaryusu benar-benar membunuh Zenberu, semuanya akan memberikan kesetiaan mereka sekalipun harus menggigit bibir mereka saat melakukannya.
"Baiklah, kerahkan niatmu untuk membunuhku dalam pertarungan ini. Aku akan menjadi lawanmu yang paling tangguh untuk dihadapi."
"Baik… aku mengerti. Lalu, kalau aku mati di tanganmu—"
Tatapan Zaryusu sedikit beralih ke belakang ke arah Crusch.
"Tentu saja, aku akan membiarkan wanita untuk pulang dengan selamat."
"…Belum menjadi 'wanitaku'."
"Ho, kelihatannya kau benar-benar ingin mengejar monster rumput itu. Apakah lizardman wanita itu begitu cantik."
"Amat sangat cantik."
Zaryusu mengabaikan si lizardman wanita yang berjongkok dengan kedua tangan menutupi wajahnya.
"Aku benar-benar ingin melihatnya. Kalau aku menang, sebelum aku melepaskan dia pergi, bagaimana kalau aku melihat dia dulu sebelumnya."
Sampai saat ini, Zaryusu memiliki semangat tempur seorang warrior. Sekarang ada motivasi lain untuk bertarung yang muncul.
"…Kelihatannya sekarang aku punya sebuah alasan bagiku untuk tidak kalah sama sekali. Aku tidak akan membiarkan lizardman sepertimu melihat wajah Crusch."
"Kau benar-benar menyukainya sampai ke titik di mana tidak ada obat yang dapat menyembuhkanmu."
"Ya, sebegitu besarlah aku menyukai dia."
Ada beberapa lizardman wanita yang mengatakan beberapa kata pada Crusch yang berlutut, dan dia segera menyangkalnya dengan menggelengkan kepala untuk memberi tanda kepada mereka bahwa mereka sebaiknya mengabaikan saja kedua orang itu.
"Ha!"
Zenberu tertawa terbahak-bahak dengan senangnya.
"Kalau begitu kalahkan aku! Kalau kau tewas, itu akan jadi sia-sia!"
"Itulah niatku sejak awal."
Zaryusu dan Zenberu bertukar kata sampai saat ini dan mereka menatap satu sama lain.
"—Akan kumulai seranganku."
"—Lakukan."
Kedua lizardman tersebut bertukar kata singkat, tapi keduanya sama-sama tidak bertindak apapun.
Saat lizardman di sekitar yang mengamati mulai merasa gelisah, Zaryusu mulai perlahan mendekat. Mereka berada di lahan basah yang dipenuhi air, namun suara percikan air sama sekali tidak terdengar.
Zenberu tetap diam saat menunggu.
Beberapa saat kemudian, ketika Zaryusu mendekat—Sesuatu berkilat dengan suara benturan keras di depan mata Zaryusu saat dia melompat ke samping. Itu adalah suara yang muncul karena halberd Zenberu.
Tidak ada tekhnik yang digunakan, hanya sebuah ayunan sederhana.
Tapi itulah yang membuatnya begitu mengejutkan.
Zenberu mengambil sikap kuda-kuda dengan halberdnya saat dia bersiap untuk menyerang Zaryusu lagi. Hanya dengan tangan kanannya, Zenberu dapat menggunakan halberd raksasa itu. Setelah setiap aksi mengayun yang seperti angin tornado, dia dapat segera kembali ke posisi awalnya.
Zaryusu bingung.
Karena itu, untuk memastikan niat dari tindakan-tindakan tersebut, dia sekali lagi melompat ke daerah jangkauan musuh—dan kembali disambut dengan ayunan ganas horizontal identik lainnya. Zaryusu menahannya dengan Frost Pain dan sebuah serangan hebat mendarat pada tangan di mana dia memegang Frost Pain, dan tubuhnya terpental mundur.
Mengirimkan satu lizardman dewasa terbang hanya dengan satu lengan, kekuatan lengannya benar-benar luas biasa.
—Darah terasa mendidih dengan kegembiraan.
Saat para warrior melihat Kepala Suku mereka menunjukkan kekuatan lengan yang tak tertandingi, mereka bersorak nyaring.
Zaryusu mengayunkan ekor untuk mengembalikan keseimbangannya saat dia mundur.
Dia mengguncang tangannya yang kebas sambil menyipitkan mata.
Apa…maksudnya ini?
Zaryusu fokus pada tubuh raksasa yang ada di hadapannya.
Apa ini? Dia…terlalu lemah.
Zenberu cepat seperti petir, dan akan mengirim Zaryusu terbang jika dia menahan serangannya dengan pedang. Tapi hanya itu, tidak ada hal menakutkan lainnya.
Gerakan Zenberu mirip dengan seorang bocah yang sedang bermain dengan sebatang tongkat: bisa dikatakan tidak ada tekhnik, hanya ayunan kuat dengan tenaga besar semata. Tapi apa hanya itu saja? Dengan lengan raksasanya, Zenberu seharusnya dapat menggunakan senjata tersebut dengan lebih terampil daripada ini.
Apakah dia menahan diri untuk memancingku lengah?
Zaryusu merasa bahwa bukan karena itu.
Merasa waspada dengan perasaan aneh yang tak diketahuinya itu, dia memirkirkan ulang strateginya. Zenberu yang belum bergerak selangkah pun bertanya sambil tersenyum:
"Nah? Apa kau tidak akan menggunakan kemampuan Frost Pain?"
Seringaian tersebut mungkin adalah sebuah ejekan dan Zaryusu tidak bereaksi terhadap hal tersebut.
"Aku pernah dikalahkan oleh pemegang Frost Pain di masa lalu."
Zaryusu teringat, dia tahu siapa yang dimaksud Zenberu. Orang itu adalah kepala sukur 'Razor Edge', yang dibunuh oleh Zaryusu.
Zaryusu menurunkan fokusnya sedikit pada Zenberu dan mengamati sekelilingnya.
Di antara rasa permusuhan yang dia rasakan di sekitarnya, niat untuk membunuh yang terkuat pastilah berasal dari mereka yang selamat dari 'Razor Edge'.
"Dua jari tanganku seperti ini karena pertarungan tersebut."
Zenberu menunjukkan tangan kirinya yang kehilangan dua jari pada Zaryusu.
"Kalau kau menggunakan kekuatan yang orang tersebut lepaskan untuk mengalahkanku, kau mungkin dapat menang."
"Begitukah?"
Zaryusu menjawab dengan tenang.
Benar, itu adalah kemampuan yang kuat.
Dan karena kemampuan tersebut hanya dapat digunakan tiga kali dalam satu hari, dia memiliki kesempatan besar untuk menang jika dia menggunakan kemampuan tersebut. Zaryusu baru dapat mengalahkan pemilik sebelumnya dari Frost Pain karena kemampuan tersebut telah habis digunakan. Jika dia menggunakan kemampuan tersebut, Zaryusu mungkin telah tewas.
Tapi itu adalah hal yang mustahil bagi seseorang yang mengetahui kemampuan Frost Pain untuk mengejek dan memancingnya menggunakan hal tersebut.
Zaryusu meningkatkan penjagaannya.
Aku tidak mengertiTapi, semua ini tidak akan pernah berakhir kalau kami terus seperti ini, aku harus menyerang.
Zaryusu memantapkan tekadnya dan berderap maju dengan kecepatan dua kali lipat.
Zenberu mengayunkan halberdnya pada Zaryusu dengan kecepatan yang mengagumkan.
Zaryusu tidak mengelak dan menahannya dengan Frost Pain. Semua orang yang melihat hal ini berpikir bahwa Zaryusu akan dipentalkan mundur.
Pedang dan halberd berbenturan—dan serangan tersebut ditangkis dengan mudahnya.
Tidak perlu menggunakan kemampuan tersebut. Zenberu hanya menggunakan halberd seperti seorang bocah, dan itu bisa ditangkis tidak peduli seberapa keras dia mengayunkannya.
Zenberu membelalakkan matanya dengan terkejut—tidak, it adalah sebuah kekaguman.
Pada saat yang sama, Zaryusu menyerang ke arah Zenberu—tidak memberinya  waktu untuk mundur dengan halberd untuk bertahan. Sekalipun dia memiliki otot seperti itu, diperlukan waktu untuk menarik halberd yang terpental untuk kembali. Itu waktu yang cukup bagi Zaryusu untuk mendekat.
Kali berikutnya, Frost Pain menebas ke arah tubuh Zenberu—
—Darah memercik.
Sebuah sorakan lantang meledak dan tangisan lembut terdengar.
Yang berdarah dan mundur bukanlah Zenberu. Itu adalah Zaryusu yang sedang berdarah dari dua luka gores di wajahnya.
Berkebalikan dengan taktiknya sejauh ini, Zenberu mengambil langkah lebar ke arah Zaryusu untuk menyerang dengan senjatanya, tidak membiarkan dia menjauh.
Senjata tersebut adalah— cakar.
Frost pain dan cakar tersebut berbenturan dengan suara logam yang nyaring. Setelah itu, suara dari halberd yang jatuh ke dalam air terdengar.
"Wargghhh—!"
Zenberu menghembuskan nafas dalam-dalam, dan menyerang secara terus-menerus dengan lengan besarnya  saat dia melangkah maju.
Tidak seperti permainan halberd kekanakan sebelumnya, serangan Zenberu dengan cakar berada pada level master. Zaryusu akhirnya mengerti setelah informasi yang paling penting terungkap.
Zenberu bukanlah seorang warrior, tapi seorang monk yang menggunakan tubuhnya sendiri sebagai senjata dengan menggunakan energi khusus yang disebut Qi.
Zaryusu memblokir tebasan tersebut dengan Frost Pain.
Cakar lizardman lebih keras dari cakar manusia, tapi tidak begitu kuat sehingga dapat mengeluarkan suara logam seperti itu. Benar, ini adalah hasil dari mengeraskan bagian-bagian tubuh— seperti cakar dan taring. Sebuah kemampuan yang dikenal sebagai 'Natural Steel Weapon', sebuah kemampuan dari monk.
Dikatakan bahwa tinju seorang monk yang mencapai level tertinggi dapat menghancurkan material adamantium terkeras. Tapi dilihat dari perasaan yang dari bertukar serangan tadi, Zenberu belum berada pada level tersebut, dia setidaknya berada pada level baja. Walau begitu, dia sebanding dengan salah satu dari empat pusaka lizardman, Frost Pain, dan itu bukanlah suatu hal yang bisa diremehkan.
Mereka berdua bertukar serangan.
Zenberu menyerang dengan cakarnya sementara Zaryusu menebas dengan Frost Pain. Mereka saling menghindari setiap serangan dan melompat mundur, menjauh dari satu sama lain.
"—Hahah, kau masih hidup!"
Zenberu menjilat darah dan daging di jemarinya.
Zaryusu menggunakan lidah panjangnya untuk menjilati cairan merah di wajahnya.
Zaryusu merasa beruntung, karena berhasil menghindari serangan cakar ke matanya. Dia terluka, tapi itu hanya sebuah goresan, dia masih dapat bertarung. Dia bersyukur berkat perlindungan dari para leluhur dan—
Mungkin aku menghindarinya karena para leluhur Crusch.
Zaryusu merasa bersyukur sementara Zenberu mengeluh tidak senang.
"Ngomong-ngomong, kau kelihatannya menahan diri dengan menolak untuk menggunakan kemampuan tersebut."
Zenberu mengetatkan kedua tinjunya dan berulang kali memukul dadanya.
"Maafkan aku, tapi aku tidak ada niatan untuk menggunakan jurus tersebut."
"Eh? Kalau begitu jangan mengeluh setelah aku mengalahkanmu karena tidak menggunakan kekuatan secara penuh."
"Setelah bertukar serangan denganku, kau masih berpikir bahwa aku adalah jenis orang yang akan mengatakan hal semacam itu?"
"…Tidak, kurasa tidak. Maaf, aku telah berkata keterlaluan. Tapi—kalau kau tidak berencana untuk menggunakan jurus tersebut, maka giliranku sekarang!"
Dengan suara angin yang menusuk, Zenberu melayangkan sebuah tendangan ke arah Zaryusu dengan kakinya yang sama tebalnya dengan sebuah batang kayu.
Gerakan tersebut dilakukan tanpa sedikit pun keraguan.
Saat Zaryusu menghindari serangan tersebut, dia juga mengayunkan Frost Pain untuk menebas Zenberu. Akan tetapi sebuah suara metal terdengar nyaring dan pedang tersebut ditangkis.
Mata Zaryusu terbelalak kaget.
Jika seseorang menggunakan sebilah pedang untuk menahan serangan tubuh, pihak yang menyerang akan menjadi yang terluka, ini adalah hal yang jelas. Akan tetapi, dengan menggunakan energi Qi, monk telah memutarbalikkan logika ini.
Ini adalah efek dari 'Steel Skin'. Pada saat sebuah serangan akan melakukan kontak dengan kulit si pengguna, kemampuan khusus ini akan menggunakan Qi untuk menyelimuti tubuh, mengubah kulit menjadi sekeras baja. Kemampuan ini sama dengan 'Natural Steel Weapon', di mana kesamaannya adalah jumlah latihan yang diperlukan untuk memperbaiki tekhnik ini yang berarti semakin besar tingkat kekerasan yang didapat.
Kulit musuh telah menangkis sebilah pedang sihir. Ini berarti lawan telah meningkatkan kemampuan monk ini ke tingkat yang sangat tinggi. Akan tetapi Zaryusu tetap percaya diri bahwa kemenangan berada dalam jangkauannya.
Bukan karena perbedaan dalam tekhnik bertarung dari kedua pihak yang besar, tapi lebih karena keadaan Zenberu yang tak terpisahkanlah yang secara relatif tidak menguntungkan.
Membuat seseorang kewalahan dengan serangan-serangan beruntun.
Tendangan, sapuan ekor, tinju, tebasan, berbagai macam serangan.
Zenberu bergantung pada kemampuan tubuhnnya untuk setiap serangan, yang tidak hanya cepat namun juga berat. Menghadapi lawan semacam itu, bahkan Zaryusu harus menurunkan serangannya untuk mempertahankan pertahanannya.
Serangan-serangan beruntun diikuti dengan serangan-serangan yang semakin berkelanjutan.
Jika dia memutuskan untuk bertahan menghadapi serangan penghancur lawan, Zaryusu tidak diragukan lagi akan kalah. Lizardman di sekelilingnya yakin bahwa kepala suku yang sedang melakukan serangan beruntun tanpa henti sudah hampir pasti menang dan berseru menyemangati.
Cakar Zenberu kadang-kadang menggores Zaryusu, dengan mudahnya menghancurkan sisik-sisik keras yang melindungi tubuh, menyebabkan darah segarh mengalir. Luka-lukanya sama sekali tidaklah ringan.
Tubuh Zaryusu penuh dengan luka. Nyawanya bagaikan sebatang lilin di tengah angin, dan tidak akan mengejutkan jika dia menyerah kapan saja. Buktinya terlihat di semua wajah lizardman yang menunjukkan sennyuman gembira karena senang dengan kemenangan kepala suku mereka.
Akan tetapi, Zenberu tidak ikut merasa demikian.
Setiap kali sebuah serangan beruntun dihentikan, Zenberu merasa kemenangan menyalip semakin jauh dan jauh saja, yang membuatnya sangat tertekan.
Bilah Frost Pain mengakibatkan embun beku dingin yang menumpukkan cedera beku untuk setiap irisan yang dilakukan pada lawan. Sebagai tambahan, benda ini memilik sebuah efek di mana musuh yang melakukan kontak dengan senjata ini akan mengalami beberapa cedera beku. Dengan kata lain, hanya dengan bertukar kontak antara pedang dan daging, Zenberu perlahan-lahan sedikit dikikis oleh hawa beku.
Dengan kedua tangan dan kaki yang menjadi kebas, pergerakannya menjadi semakin lamban.
Memalukan…karena pertarungan sebelumnya ada sebuah kekalahan yang cepat… Aku bahkan tidak tahu kalau benda tersebut pada dasarnya memiliki kemampuan semacam itu! Kelihatannya senjata itu tidak hanya memiliki satu kemampuan! Tidak heran jika benda itu menjadi salah satu dari empat pusaka!
Tepat karena Zaryusu tahu bahwa benda tersebut memiliki efek semacam itu makanya dia memilih untuk tetap bertahan— Malahan, karena itulah dia memilih metode ini karena dapat menjamin menyebabkan cedera pada lawan. Karena inilah dia tidak menghindari serangan-serangan Zenberu tapi menghadapinya secara langsung.
Pilihan ini adalah pilihan yang paling waspada dan juga sebuah langkah rumit menuju kemenangan.
Itu tanpa celah. Bagi Zenberu saat ini, itu adalah musuh terbesar.
Terhadap Zaryusu yang melompat maju, Zaryusu melepaskan sebuah tinju yang sangat kuat. Jika gerakan ini ditahan, kesempatan Zenberu untuk menang akan turun drastis.
Zenberu merasa seakan dia sedang melakukan pertarungan solo melawan benteng yang tak dapat ditembus.
Ah, ah, betapa memalukannya, apakah aku tidak dapat mengalahkannya… Tapi, aku telah menunggu saat seperti ini untuk waktu yang sangat lama!
Dia mengingat kembali kenangan saat dirinya pergi sendiri untuk menantang lizardman pria itu. Sejak saat itu, dia telah menjadi lebih kuat, dan telah melewati pelatihan yang-merontokkan-tulang-tanpa-henti untuk meraih kemenangan. Saat dia mendengar kabar bahwa orang yang mengalahkannya telah dibunuh, dia merasa begitu menyesal, namun dia tidak menghentikan pelatihannya.
Semua siap untuk kedatangan hari ini.
Sebagai kepala suku, dia tidak dapat mengesampingkan segalanya untuk menerima sebuah tantangan, karena itu saat dia mendengar bahwa pemegang Frost Pain telah tiba di desa, dia mengalami kesulitan untuk menahan rasa gembiranya.
Dia tidak dapat membiarkan pertarungan ini, yang telah lama dia nantikan selama ini, untuk berakhir dengan begitu mudahnya
Zenberu meninju dan menendang, namun indera perabanya perlahan-lahan kehilangan kemampuannya, dan Qi-nya juga semakin tidak efektif untuk mencapai tangan dan kakinya. Walau begitu, dia masih menyerang tanpa henti.
Sangat kuat, bahkan lebih kuat daripada pria waktu itu!
Melihat dirinya sendiri telah berlatih tanpa henti, lizardman pria di depannya ini pasti telah melewati latihan terus menerus sampai saat ini.
Karena sejak dimulai, kedua lizardman ini tidak semakin mendekat saat pertarungan, dan tentu saja dia juga dapat menemukan alasan dengan mengatakan bahwa dia telah kalah dengan kemampuan dari Frost Pain, tapi dia tidak berharap untuk menggunakan kata-kata sepengecut itu.
Mengagumkan! Pantas saja dia menjadi tuan dari Frost Pain! Lizardman pria terkuat di antara para lizardman!
Nampak di luar, Zenberu tidak menghentikan serangan beruntunnya, namun di dalam dia dengan tenang memuji Zaryusu yang menggunakan Frost Pain untuk menahan serangannya.
Terluka, darah mengalir, dan semakin banyak luka.
Crusch, yang tanpa ragu-ragu mengawasi pertandingan ganas ini, telah melihat hasil akhirnya lewat kemampuan druidnya yang luar biasa.
Benar-benar persepsi yang mengagumkan…dia telah memperkirakan pertarungan ini secara kasar tepat setelah ini dimulai.
Dia merasa sangat terkejut pada kemampuan luar biasa Zaryusu sebagai seorang warrior.
Sekeliling mereka tanpa henti menyerukan semangat.
Sorakan tersebut mengarahkan semangat mereka pada si penyerang tanpa henti, pada Zenberu yang nampaknya telah menang melawan musuhnya. Lizardman di sekitar sepertinya lupa pada kenyataan bahwa anggota tubuh Zenberu telah menjadi lambat bergerak.
Zaryusu kuat. Crusch yakin dengan kesimpulan ini.
Hampir semua lizardman bergantung pada tubuh kuat dan kekar, menggunakan kekuatan semata untuk bertarung, tapi Zaryusu…tidak, bahkan Zenberu juga… begantung pada tekhnik untuk bertarung, dan Frost Pain hanyalah sekedar sebuah aset pendukung.
Dengan demikian, mengenai situasi saat ini… jarak antara kedua individu ini dan Frost Pain sangat berhubungan, tapi Crusch memahami dengan jelas bahwa Frost Pain bukanlah satu-satunya faktor yang memunculkan hasil ini.
Secara hipotesis, jika Frost Pain diberikan pada orang biasa untuk digunakan, apakah orang tersebut dapat menghadapi Zenberu seperti ini?
Jawabannya mungkin tidak. Zenberu bukanlah lawan yang mudah.
Senjata itu memang kuat, tapi Zaryusu yang dapat dengan indahnya menggunakan kemampuan senjata itu juga merupakan warrior kelas atas.
Tapi yang patut dipuji adalah kemampuan pengamatannya yang tajam dan menyeluruh.
Zaryusu dapat menghindari serangan saat dia menjatuhkan halberdnya, karena dia selalu waspada dan terus menerus mengamati situasinya. Dia pertama-pertama mengamati lawan untuk mencari kartu andalannya, dan menyadari bahwa halberdnya hanyalah sekedar tipuan.
Menghadapi keputusan sulit ditandai sebagai seorang traveller, namun memilki ketetapan hati untuk menanggung konsekuensinya, pengatahuan apalagi dan seberapa banyak yang dia dapat selama perjalanannya selain mengembangbiakkan ikan dan taktik tempur ini?
Tanpa menyadari hal ini, Crusch telah begitu yakin bahwa Zaryusu telah meraih kemenangan. Saat ini, hatinya berdebar begitu kencang, bukan karena mengkhawatirkannya namun karena alasan lain saat dia memandang dalam diam wajah lizardman pria tersebut.
"Dia benar-benar seorang lizardman pria yang luar biasa."
Pertempuran yang menegangkan itu menyita waktu semua orang dengan mudahnya, tapi bagi kedua pihak yang sedang bertarung, itu terasa sangat panjang. Mereka kehabisan nafas dan kelelahan secara mental serta fisik mereka lebih besar daripada waktu yang dihabiskan.
Zaryusu yang menahan keinginannya untuk bertarung meskipun berdarah-darah di sekujur tubuhnya memiliki keberanian yang patut dipuji. Dia menerima pujian tinggi dari para lizardman yang sedang menonton karena bertahan menghadapi kepala suku mereka lebih lama daripada yang orang lain dapat lakukan.
Tiba-tiba, Zenberu yang kelihatan beberapa inci lagi dari kemenangan, menurunkan posisi bertarungnya.
Lizardman yang ada di sekeliling menunggu dengan nafas tertahan untuk Zenberu mengumumkan kemenangannya saat dia berseru.
Tapi isi dari pengumuman tersebut berlawanan dengan apa yang mereka harapkan.
"Ini adalah kekalahanku!"
Kepala suku mereka tinggal sedikit lagi dari kemenangan.
Jadi kenapa kepala suku menyatakan kekalahannya? Hanya Crusch yang tahu bahwa ini akan terjadi. Dia berlari tergesa-gesa ke tengah-tengah formasi lingkaran.
"Kau tidak apa-apa?"
Zaryusu menghela nafas dalam-dalam saat mendengar pertanyaan itu. Dia menurunkan pedang di tangannya dan menjawab dengan kelelahan.
"Tidak ada luka fatal… Ini tidak akan mempengaruhi pertempuran yang akan datang."
"… Baguslah, aku akan menyembuhkanmu dengan mantera."
Crusch membuat suara gemeresak dengan kostum rumputnya dan menunjukkan wajahnya.
Zaryusu merasa sebuah kehangatan lembut pada luka-lukanya, berbeda dengan rasa sakit membakar yang dia derita sebelumnya. Zaryusu menghanyutkan dirinya sendiri dalam sensasi aliran energi ke dalam tubuhnya dan menolehkan wajahnya untuk menatap lizardman raksasa yang tadi melakukan pertarungan mematikan dengannya.
Zenberu dikelilingi oleh rakyat sukunya saat dia menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi dan taktik Zaryusu.
"Sudah cukup."
Setelah melancarkan manteranya dua kali, Crusch menyatakan bahwa perawatannya sudah selesai. Zaryusu melihat tubuhnya sendiri.
Masih ada darah kering pada kulitnya, tapi luka-lukanya telah sembuh dengan sempurna. Zaryusu masih merasakan ketegangan saat dia melenturkan bagian-bagian luka sebelumnya, tapi kelihatannya bagian tersebut tidak akan terbuka.
"— Terima kasih."
"Sama-sama."
Crusch tersenyum cerah, dia terlihat cantik dengan menunjukkan gigi-giginya yang berwarna putih bagaikan mutiara.
"—Cantiknya."
"Ah…!"
Ekornya memukul keras permukaan air.
Mereka berdua terdiam.
Crusch terdiam karena dia merasa malu-malu dengan betapa mudahnya lizardman pria ini mengatakan kata-kata itu. Bagi Crusch yang tidak terbiasa dipuji, hal itu tidak bagus bagi jantungnya untuk mendengar Zaryusu mengatakan kata-kata tersebut terlalu sering.
Di sisi lain, Zaryusu tidak mengerti mengapa Crusch tidak menanggapi. Mungkinkah dia melakukan kesalahan—perasaan gelisah semacam itu melintasi benaknya. Sebenarnya, dia selalu merasa bahwa hidupnya tidak akan ada kaitannya dengan lizardman wanita, jadi dia tidak tahu reaksi macam apa yang harus diperbuatnya. Tak disangka, Zaryusu sendiri juga kebingungan.
Saat mereka berdua kebingungan dan bertanya-tanya harus berbuat apa, sebuah suara menyelamatkan mereka.
"Hei hei hei, kalian terlalu membuat iri, dasar sialan."
Mereka berdua melihat ke arah yang sedang berbicara— Zenberu.
Zenberu kebingungan untuk sesaat saat mereka berdua bereaksi dengan cara yang sama.
"Eh~ si putih, bisakah kau menyembuhkanku?"
Zenberu tidak bereaksi bahkan setelah melihat wajah albino Crusch. Saat Crusch mengingat kembali kesan yang dirasakannya setelah melihat penampilan Zenberu untuk pertama kali, dia mengerti minimnya reaksi Zenberu.
"Baiklah… Tapi bukankah akan jadi masalah tidak membiarkan druid sukumu untuk menyembuhkanmu?"
"Yeah, tidak masalah. Jangan banyak bicara, aku sedang terluka sekarang, bahkan tulang-tulangku sedang membeku, bisa cepat?"
"Kau yang mau aku melakukan ini, ingatlah untuk menjelaskannya pada druidmu."
"Ya, akulah yang memaksamu, jadi tolonglah."
Crusch menghela nafas dan memulai perawatannya.
Zaryusu merasakan jumlah tatapan bermusuhan telah menurun, dan melihat bahwa niat baik telah mulai bermunculan.
"Oke, aku sudah selesai."
Crusch melancarkan lebih banyak mantera penyembuhan pada Zenberu dibandingkan dengan Zaryusu. Ini berarti bahwa lukanya lebih dalam, meskipun tidak kelihatan.
"Oh, kemampuanmu lebih baik daripada para druid di sukuku."
"Terima kasih, tapi aku jarang melakukan ini untuk suku lain… Tidak, terima kasih untuk pujianmu."
"Yah, luka-luka kami sudah dirawat, ayo masuk ke topik utama hari ini, oke? Apakah ini sedikit tergesa-gesa untukmu?"
"Oh! Ayo dengarkan apa yang kalian ingin katakan— Meskipun aku ingin mengatakan itu pada kalian…" Zenberu berhenti sesaat ketika dia mencapai titik ini, dan kemudian berkata dengan seulas senyuman: "Tapi ayo kita minum dulu!"
Zaryusu dan Crusch—mereka berdua terlihat kebingungan, saat mereka tidak mengerti apa yang Zenberu sedang katakan.
"Masalah formal yang merepotkan harus didiskusikan dalam perjamuan, kau mengerti?"
Membiarkan pihak lain untuk tahu kekuatanmu akan memberimu keuntungan dalam negoisasi. Zaryusu mengerti bahwa dia harus mempertaruhkan nyawanya untuk ini karena begitulah para lizardman melakukannya. Tapi dia tidak dapat mengerti kebiasaan mengadakan sebuah perjamuan karena 'Green Claw' tidak memiliki adat seperti itu.
Itu terlihat buruk untuk berpesta tepat setelah pertarungan mematikan.
"Aku tidak mengerti…"
Sebuah rasa pasrah meliputi Zaryusu, membuatnya menunjukkan keterkejutannya dengan terang-terangan saat dia menjawab dengan suara halus. Tapi gelombang penyesalan muncul di hatinya dengan segera, karena dia telah menunjukkan reaksi kekanakan semacam itu pada seorang kepala suku yang belum bersekutu denganya. Zaryusu juga merasa Crusch menatapnya dengan pandangan aneh.
Bagi Zaryusu yang tidak memiliki pengalaman tentang cinta, adalah hal yang mustahil untuk merasakan bahwa Crusch sedang melihatnya karena lizardman yang gadis itu sukai menampilkan sebuah sisi yang baru. Itu adalah tatapan rasa ingin tahu yang begitu menyukai sesuatu yang imut.
"Tidak, apa yang kumaksud adalah minum terlalu banyak akan menumpulkan pikiran dan mempersulitku."
Zaryusu mengubah kata-katanya dengan panik, tapi Zenberu tidak terlihat keberatan dan membalas:
"Hei hei hei, kau adalah seorang traveler, 'kan? Kalau kau ingin mempelajari pengetahuan di sini, itu pastinya para Dwarf 'kan?"
"Tidak, aku tidak mempelajarinya dari para dwarf, tapi dari para manusia yang tinggal di dalam hutan."
"Begitukah? Kalau begitu ingatlah ini, teman yang minum bersama akan menjadi sahabat, itulah ajaran dari para dwarf. Mungkin tidak ada banyak waktu yang tersisa, tapi kita sebaiknya melakukan pembicaraan kita secepatnya. Apakah aku benar, Zaryusu Shasha?"
"Aku mengerti… Aku paham sekarang, Zenberu Gugu."
"Mengagumkan! Semuanya, kita akan mengadakan perjamuan! Bawa kemari! Mulai persiapannya!"
* * *
Sebuah lubang api dengan lebar hampir dua meter telah dibuat di atas tanah, apinya hampir menghanguskan langit. Cahaya merahnya mengusir kegelapan malam untuk menjauh.
Di dekat api unggun ada sebuah guci raksasa dengan tinggi hampir semeter dan diameter sekitar 80 cm, aroma alkohol menyebar di udara.
Lusinan lizardman bergantian menciduk cairan di dalamnya. Tapi anggur dari guci alkohol tersebut terlihat seperti tak berdasar.
Seperti Frost Pain milik Zaryusu, ini adalah salah satu dari empat pusaka, 'Giant Pot of Wine'.
Cita rasa dari anggur yang tak ada habisnya ini lembut dan akan membuat semua orang yang menyukai alkohol memberengut. Tapi bagi para lizardman, ini adalah anggur yang nikmat.
Karena itulah mereka terus kembali untuk mengambil lagi.
Pada jarak dekat dari guci anggur itu adalah sebuah tempat yang sangat tenang. Alasannya, karena para lizardman yang mabuk terbaring tak bergerak di situ.
Para lizardman yang ambruk karena alkohol ditumpuk di sini.
Crusch yang telah melepas kostum rumputnya melangkah di atas tanah dengan hati-hati — meskipun dia telah menginjak ekor seorang lizardman tanpa sengaja — saat dia bergerak maju. Langkah-langkahnya mantap dan tidak terlihat mabuk, tapi dia juga tidak terlihat baik sepenuhnya.
Ekornya terlihat bergerak dengan sendirinya, memukul-mukul dengan semangat. Melingkar pada satu waktu, lurus pada waktu berikutnya. Menegang pada saat ini dan melemas kemudian, bersemangat seperti seorang anak kecil.
Kenyataannya, Crusch merasa seakan sebuah hembusan angin telah bertiup di dalam hatinya. Sebagian alasannya adalah karena alkohol, tapi perasaan bebas juga menyebabkan ini.
Ini adalah pertama kalinya dia menunjukkan tubuh albinonya pada sekumpulan besar orang. Itu mengejutkan beberapa orang, tapi karena kepala suku mereka juga terlihat seperti seorang mutan, dia berbaur dengan yang lain tidak lama kemudian.
Crusch membawa makanan dengan kedua tangan dan berjalan dengan langkah-langkah cepat.
Dia datang ke tempat di mana Zaryusu dan Zenberu sedang duduk bersila dan minum bersama.
Mereka berdua menggunakan sesuatu seperti tempurung kelapa sebagai cangkir. Di dalamnya terdapat cairan transparan, tapi aroma alkoholnya kuat.
Ikan mentah ditempatkan di depan mereka untuk melengkapi alkohol. Zenberu menyapa Crusch yang berjalan mendekati dengan seulas senyuman.
"Ah, monster tanaman."
"….Tidak bisakah kau mengubah caramu memanggilku?"
Dia telah melepaskan kostum tersebut, tapi lizardman pria ini bersikeras untuk memanggilnya seperti itu. Dia mungkin berencana untuk mengerjainya seperti itu untuk selamanya. Crusch yang menyadari hal ini memutuskan untuk menghentikan perlawanannya yang sia-sia.
"Apakah kalian sudah menyelesaikan diskusi kalian?"
Zaryusu dan Zenberu melirik satu sama lain dan mengangguk.
"Untuk sebagian besar."
Mereka ingin berbicara empat mata, jadi mereka meminta Crusch untuk memberi mereka beberapa waktu untuk berdua saja. Mereka telah membuatnya begitu jelas, jadi dia tidak punya pilihan selain pergi dan mengumpulkan makanan, meskipun ingin ambil bagian dalam percakapan mereka. Kalau mereka ingin mendiskusikan pertempuran yang akan datang, dia akan diikutsertakan juga.
Dia ingin tahu inti dari semuanya sementara menghindari detail-detail yang membuat canggung—
"Ini adalah pembicaraan antar laki-laki."
Tapi Zenberu menutup topik ini secara dingin dengan kalimat tersebut. Crusch menunjukkan rasa tidak senang di wajahnya dengan terang-terangan, dan tidak ada pilihan lain selain mengganti topik pembicaraan.
"Jadi apa rencana kalian? Membentuk aliansi dan bertempur bersama?"
"Huh? Oh, tentu saja kami akan bertempur. Bahkan sekalipun kalian berdua tidak datang, kami akan tetap bertempur."
Suara dua papan kayu yang saling bergesekkan muncul dari mulut Zenberu.
"Kau benar-benar maniak tempur."
"Jangan memujiku seperti itu, aku akan jadi merasa malu."
Zenberu mengabaikan Crusch yang terpaku dan meminta sesuatu darinya.
"Oh benar, monster tanaman, bisakah kau membantuku membujuk dia? Tidak peduli seperti apa aku memohon padanya, Zaryusu tetap tidak akan menjadi kepala suku kami."
Zaryusu juga menunjukkan ekspresi menolak dan lelah. Crusch dapat mengetahui bahwa tampang letih itu bahwa saat Crusch tidak ada di sini, pertanyaan itu telah diulang berkali-kali.
"Mustahil untuknya mengambil tugas itu. Dia berasal dari suku yang berbeda dan seorang—" Crusch ingin mengatakan traveller, tapi dia teringat bahwa Zenberu juga seorang traveller juga, jadi dia mengganti topik pembicaraan: "Kenapa kau menjadi seorang traveller?"
"Huh?Oh, kehilangan pemilik Frost Pain merupakan sebuah pukulan besar bagiku, jadi tentu saja aku ingin pergi dan mengunjungi tempat-tempat lain dan menjadi semakin kuat, 'kan? Karena itulah aku menjadi seorang traveller."
Zaryusu yang berada di sisinya menurunkan bahu dengan lelah. Crusch ingat Zaryusu juga berbicara tentang perjalanannya juga.
Saat Zaryusu menjadi seorang traveler, dia termotivasi dengan tekad, ketetapan hati dan kewajibannya terhadap sukunya. Zenberu yang merupakan seorang traveller pasti memiliki pemikiran yang sama… Tapi itu tidak terlihat dari cara dia bertindak.
Crusch meletakkan tangannya dengan lembut pada bahu Zaryusu untuk menghiburnya, menyampaikan pesan padanya bahwa Zenberu adalah Zenberu, dan kau adalah kau.
Bagi yang melihat, tindakan Crusch pasti terlihat seperti sikap seorang kekasih. Saat dia menyadari itu, ekor Crusch mulai menjadi panik. Ekor Zaryusu juga memukul-mukul dengan hebat.
Mereka berdua menatap mata satu sama lain dan tersenyum malu-malu.
Zenberu berpura-pura tidak melihat itu semua dan kembali berbicara dengan senangnya.
"Kupikir bahwa pastilah ada orang-orang kuat di gunung karena tempat itu begitu besar, belajar banyak dari dwarf yang kutemui dalam perjalananku dan mendapatkan war scythe tersebut. Aku tidak menginginkan itu awalnya, tapi karena dia bilang bahwa itu adalah sebuah kenang-kenangan pertemuan kami, aku tidak punya pilihan selain menerimanya."
"…Jadi, itulah yang terjadi, baguslah."
Crusch menjawab dengan dingin.
"Ya, terima kasih."
—Sarkasme tidak berhasil.
Dengan suasana bagus yang runtuh, Crusch mengambil sebuah cangkir dan meminum semuanya. Dia merasa tenggorokkannya memanas, rasa hangat menyebar dari anggur tersebut di dalam perutnya ke seluruh tubuhnya. Zaryusu juga melakukan hal yang sama.
Pada saat ini, sebuah suara keraguan yang halus muncul. Perasaan ini sama sekali berbeda daripada sebelumnya, membuatnya sulit untuk mengetahui siapa yang bertanya saat itu juga.
"Jadi, kau berpikir bahwa kita dapat menang?"
Zaryusu menjawab dengan lembut.
"…Aku tidak tahu."
"Yah, aku juga berpikir demikian, tidak ada jaminan dalam perang. Jika seseorang menjamin tanpa mengetahui kekuatan lawan, aku ingin menghajarnya dan memintanya untuk tidak berkata omong kosong."
Crusch tidak mengatakan apapun pada Zenberu yang tertawa lembut.
"Tapi… musuh kita itu bertindak sembrono, ini mungkin akan mempengaruhi kesempatan kita untuk menang."
Crusch menjelaskan pada Zenberu yang kebingungan menggantikan Zaryusu.
"Apakah kau ingat apa yang monster itu katakan?"
"Maaf, aku sedang tidur siang waktu itu."
"… Pasti ada yang mendengarnya 'kan?"
"Hmmp, aku lupa karena itu merepotkan. Lagipula, yang penting adalah mereka menyerang kita, dan kita menyerang balik mereka, 'kan?"
Orang ini tidak bisa diharapkan— Crusch menyerah untuk menjelaskan dengan wajah seperti itu sementara Zaryusu menjelaskan dengan tersenyum simpul.
"…Mereka bilang, 'Melawanlah sebisa mungkin, makhluk fana'."
Sebuah ekspresi berbahaya muncul pada wajah Zenberu, pandangan marahnya berubah menjadi seringaian.
"Gila sekali, memandang rendah kita sejak awal."
Zenberu menggerung marah.
Itu menunjukkan betapa kuat murka dan rasa tidak senangnya.
"Itu benar, mereka memandang rendah kita. Merasa begitu percaya diri seperti itu… berarti mereka memiliki kekuatan untuk melampaui kita dengan mudah… Tapi kita akan menghancurkan kesombongan musuh kita. Kita akan menggabungkan kelima suku dan menunjukkan kepada mereka kekuatan terbesar yang dapat kita kumpulkan. Kita akan menundukkan mereka, dan mengatakan bahwa kita bukanlah si lemah yang tak berdaya."
"Hmmp, tidak buruk, itu adalah cara termudah untuk mengatakannya. Aku suka itu."
Saat kedua lizardman pria itu berdiskusi dengan bersemangat tentang bagaimana cara bertempur, Crusch memadamkan suasana pada rencana mereka.
"Itu tidak akan berdampak bagus bagi kita jika terlalu melukai harga diri mereka. Kita hanya perlu menunjukkan kepada mereka kekuatan kita, benar? Jika mereka tahu bahwa kita berguna, mereka mungkin akan tidak jadi menyapu habis kita."
"Hei hei, kau mau kita menundukkan kepala pada orang-orang menyebalkan itu?"
"Zaryusu… aku mengerti bahaya dari evakuasi, tapi kupikir mempertahankan nyawa kita itu lebih penting daripada kehilangan kebebasan kita."
Crusch mengungkapkan pikirannya dengan lembut.
Kedua pria tersebut tidak menolak ataupun mengolok dia tentang hal ini.
Tidak ada seorang pun yang ingin dijajah, tapi diperbudak itu lebih memiliki masa depan daripada kehilangan nyawa. Jika mereka memiliki masa depan, maka akan kemungkinan tanpa batas.
Sebagai contoh, jika mereka mengajari tekhnik perikanan pada semua orang, mereka mungkin dapat meninggalkan rumah mereka saat ini dan melarikan diri.
Jika ada yang menyerah terhadap kemungkinan ini dan memerintahkan semua orang untuk mati, maka dia tidak punya hak untuk menjadi seorang pemimpin.
"Dengarkan ini."
Setelah mendengar apa yang Zaryusu katakan dengan lembut, mereka bertiga memasang telinganya dan mendengar setiap suara tawa dari perjamuan yang terbawa oleh angin.
"Kita mungkin tidak akan dapat bersenang-senang seperti ini setelah dijajah."
"Mungkin saja kita bisa, 'kan?"
"Benarkah? Aku tidak berpikir begitu. Aku tidak merasa bahwa keberadaan yang terhibur dengan kematian kita akan begitu murah hati. Kalau mereka memang memiliki belas kasihan, mereka tidak akan mencoba untuk menyapu habis kita dengan sikap santai tersebut."
Crusch mengangguk menyetujui.
Walau begitu—
"Apa yang ingin kukatakan adalah… tolong jangan mati."
"—Tidak akan, tidak sebelum aku mendengar jawabanmu atas pertanyaanku."
"—!"
Crusch dan Zaryusu menatap mata satu sama lain di bawah langit malam yang sejuk.
Dan membuat sebuah sumpah.
—Sama sekali mengabaikan Zenberu yang merasa tidak puas.




Translater note

1.       A sampai ke U : Pembagian grup di sini didasarkan pada sistem huruf Hiragana Bahasa Jepang, yaitu A, I, U, E, O. 

Overlord Jilid 4 Bab 2 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Marcellino Novaldo

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.