30 Mei 2016

My Dearest Jilid 2 Chapter XXII

ALASAN PERTARUNGAN SERRAPH DAN KEINA

Bagian Pertama:
BUARRRR!!!! BUARRR!!
Ledakan yang cukup besar terus bermunculan di sekitar mereka. Suasana terasa amat tegang, bagaikan pertempuran berskala besar. 
Wajah mereka, wajah Heliasha dan orang-orang disekitarnya terlihat khawatir. Bukan khawatir karena pertempuran di dekatnya, tapi kekhawatiran mereka lebih buruk dari kondisi disekitarnya saat ini. 
“Semuanya, aku memang tidak mengenal beberapa orang disini, tapi aku punya permintaan pada kalian. Jangan pernah menyebut atau menyinggung nama Anggelina,” Jeremy terlihat sangat khawatir ketakutan melihat orang-orang di sekelilingnya. 
“Ya, tanpa diberitahupun aku akan melakukan itu,” Eve berbalik dan mulai berjalan memasuki pertempuran. 
“Putri, biarkan aku menjadi pelindungmu dalam pertempuran ini,” Savila berwajah khawatir berjalan menghampiri Eve. 
“Ya terima kasih.” 
“Biarkan aku membantu,” Silica ikut dalam pertempuran, wajahnya terlihat sangat bersemangat. 
“Sebaiknya kamu tidak usah ikut campur, Silica. Pertempuran mereka benar-benar di tingkat berbeda dengan kita,” Alcot melirik Sang Guild Master Blizzard. 
“Hoo, lalu darimana kamu mendapatkan luka diperutmu itu…?” senyum Silica melirik perut Alcot. 
“Karena serangan Heliasha,“ lirik sinis Alcot pada Heliasha, Heliasha hanya tersenyum memejamkan mata seolah merasa bersalah. 
“Kamu sudah tau kemampuan mereka dan kamu masih melibatkan diri? Sudah kuduga kalau aku salah menilaimu, Guild Master Ignite.” Silica tersenyum melihat Alcot. 
“……” 
“Jadi siapa yang akan kita lawan, Evelyn?” lanjut Silica bertanya melihat Eve. 
“Sebelum melawan seseorang, aku harus melakukan ini dulu,” jawab Eve terlihat serius berkonsentrasi. Dia mengepalkan kedua tangan di dada seolah sedang bersiap berdoa. 
“Putri…?” Savila keheranan menatap Eve. 
Setelah cukup lama dia berkonsentrasi, tiba-tiba dia mulai melompat, lompatan yang cukup tinggi. Saat mencapai titik tertinggi lompatannya, Eve merentangkan kedua tangannya yang sejajar dengan bahunya, saat itu juga muncul sinar berwarna merah muda yang menyebar ke daerah sekitar. 
Aura Clarity Beholder….” 
Saat lingkaran sinar merah muda tersebut menyebar dan menggapai Anggela beserta Kakaknya, mereka berdua langsung terdiam tak menyerang, seakan telah disadarkan dari pengaruh Charles. 
Eve mendarat kembali ke tanah. Tidak dalam kurun waktu lama dia berpijak, dia kembali melompat seperti sebelumnya, kali ini muncul sinar berwarna hijau daun yang menyebar di titik tertingginya. 
Aura Clarity Defender….. “ 
Empat kali lagi dia melakukan lompatan hal yang serupa, dan empat kali juga sinar berbeda warna yang muncul dari titik tertinggi lompatannya. 
Aura Clarity Accuracy…” sinar berwarna merah darah yang memukau. 
Aura Clarity Acceleration…” sinar berwarna biru muda yang sangat indah. 
Eve mendarat dan mulai membuka matanya, dia tersenyum pada rekan-rekannya yang terkejut melihat kemampuannya. 
Vi-vitakinesis….?” Heliasha terlihat sangat terkejut melihat Eve. 
“Ah aku melupakan hal yang penting,” senyum Eve melihat Heliasha yang terluka. 
Dia mulai menari singkat yang membuat semuanya terkejut karena terpesona, tarian lembut bagai seorang putri yang berharap akan kedamaian orang-orang disekitarnya. 
Welfare for their helpless bodies,” 
Kali ini sinar berwarna putih indah yang keluar dari tubuhnya, saat sinar tersebut mencapai seseorang yang terluka seperti Heliasha dan Alcot, sinar putih tersebut mulai terhisap oleh mereka, dan untuk sesaat membuat Heliasha dan Alcot cukup bercahaya sementara. 
Secara perlahan luka mereka berdua disembuhkan. Perasaan hangat dipenuhi kedamaian mulai dirasakan oleh Heliasha dan Alcot. 
Perasaan tersebut tidak dirasakan saja oleh mereka berdua, tapi perasaan kedamaian itu dirasakan oleh semua orang yang diinginkan pengguna. 
“Baiklah sekarang kalian bisa bertarung, aku akan membantu kalian dari sini…” Eve melihat pertarungan yang terhenti karena kemampuan Eve. Begitu pula dengan Anggela dan Keisha yang telah sadar akan pengaruh ilusi Charles. 
“Bahkan sang putri mahkota Half-elf turut datang ke tempat ini,” senyum Keina melihat Evelyn. 
“Evelyn…” jelas Serraph melirik khawatir Eve. 
“Sial, ini benar-benar tidak adil jika seorang Priest menjadi musuh kita….” Litias terlihat khawatir. 
“Apa yang kulakukan….?” Anggela terlihat kebingungan melihat kedua tangannya. 
“Ah, Kepalaku pusing, apa kamu juga Anggela?” Keisha terlihat memegang kepala. 
“Ya, kepalaku sedikit berputar.” 
“Ayo kita ke tempat mereka…” Keisha menunjuk tempat Jeremy dan yang lainnya. 
“Ya, kita harus tanyakan apa yang terjadi selama ini.” 
Keisha mulai berjalan ke arah Jeremy dan yang lainnya. Tapi belum lima langkah dia berjalan, Anggela sudah bergumam menghentikan langkah kakinya. 
“Ka-Kak, coba lihat pertarungan disana….” Anggela terlihat khawatir melihat pertarungan Serraph dan Keina. 
“Ayah…. Ibu….?” Keisha terkejut melihat kedua orang tuanya saling bertarung satu sama lain. 
“Ayah? Ibu? Apa maksud perkataanmu?” tanya Litias cukup terkejut. 
“Maksud perkataanku? Bukankah sudah jelas kalau mereka orang tua kami, kenapa mereka bertarung satu sama lain?” 
“Sudah kuduga…” senyum Litias. 
“Kamu mempercayai kami dengan mudah?!” Anggela cukup terkejut. 
“Wajahmu terlihat sangat mirip dengan Kak Keina, dan tatapanmu setajam Serraph. Bagaimana mungkin aku tidak mempercayainya?” senyum Litias melihat Keisha lalu Anggela. 
“Litias Smargd Deviluck, kenapa orang tua kami bisa bertarung satu sama lain seperti itu…?” tanya Anggela penasaran. 
Bersamaan pertanyaan Anggela, bersamaan juga Evelyn bertanya pada Jeremy, 
“Aku tau alasan Anggela bertarung dengan Litias, itu semua karena Charles yang mengendalikan mereka. Setelah aku disini, Charles bukanlah ancaman lagi. Tapi aku benar-benar tidak mengerti dengan mereka, kenapa mereka bertarung? Apa tujuan dari pertarungan mereka?” Evelyn bertanya sambil melihat pertarungan Serraph dan Keina yang dimulai kembali. 
“Aku tidak tau bagaimana Serraph dan Kak Keina bisa memiliki kalian di masa depan, tapi jika aku melihat masa lalu mereka berdua, melihat kebencian mereka satu sama lain, aku pikir cukup mustahil bagi keduanya untuk bersatu kembali…” jelas Litias. 
“Kembali? Maksudmu?! Ap-apa mereka pernah bersama?” tanya Savila pada Jeremy, Jeremy seolah menjawab pertanyaan Evelyn sebelumnya dengan jawaban yang sama persis seperti Litias. 
“Ya dimasa lalu mereka pernah bersama, mereka saling menyayangi, menjaga, membantu satu sama lain. Saat itu juga aku benar-benar dekat dengan Serraph dan Jeremy, benar-benar dekat, mereka seperti Kakakku saat itu.” Litias tersenyum memejamkan mata. 
“….” 
“Sungguh tak terduga jika kamu memiliki hubungan seperti itu dengan Litias…” Savila terlihat terkejut melihat Jeremy. 
“Ya, dia benar-benar seperti adikku saat itu,” senyum Jeremy memejamkan mata. 
“Lalu kenapa mereka bisa seperti ini … ?” Keisha terlihat penasaran. 
“Semua berjalan lancar, bahkan aku juga mengira kalau mereka akan seperti yang kalian pikirkan di masa depan. Mereka saling menghargai satu sama lain, saling mengasihi satu sama lain hingga …” Litias tersenyum. 
“Hingga… ?” tanya Keisha dan Eve penasaran. 
Dua insiden mengerikan itu terjadi pada mereka… “ Jelas Litias dan Jeremy bersamaan, mereka terlihat memejamkan matanya seakan takut untuk mengingatnya kembali. 
“Dua insiden ….?” tanya Anggela dan Savila penasaran. 
“Insiden yang pertama adalah kematian adik kandung Kak Keina, putri kedua dari keluarga utama Deviluck, Kaysha Corona Deviluck. Serraph Skullwalker lah yang bertanggung jawab atas kematiannya tersebut,” Litias membuka matanya melihat Anggela dan Keisha, tatapannya terlihat tajam yang dipenuhi kemarahan. 
“Insiden yang kedua adalah Kematian adik kandung Serraph. Putri keluarga ras Half-elfyang mewarisi darah kami, Arcdemons. Serena Athaletha Skyline. Kalian pasti tau bagaimana sang putri kedua itu meninggal?” Jeremy melirik Eve dan Savila. 
***
 Bagian Kedua :

“Kak Serena!?” Eve terlihat sakit memegang kepalanya, beberapa ingatan mulai kembali padanya. 
“Dia dibunuh oleh Keina saat pembantaian itu,” Savila terlihat mengerti alasan Serraph dan Keina bertarung. 
“Be-begitu….” Keisha terlihat terkejut tidak percaya. 
“Aku tidak tau kalau kejadian seperti itu menimpa orang tua kami,” Anggela terlihat sedih. 
“Jika aku ada di posisi Ayah dan Ibu, aku mungkin akan sangat terpukul jika kehilangan kamu dan Anggelin –“ Keisha melihat Anggela, tapi langsung terdiam seakan telah mengingat sesuatu yang amat penting bagi dirinya. 
“……” 
“Di mana Anggelina!?” lanjut Keisha bertanya pada adik laki-lakinya. Tubuhnya gemetar ketakutan. 
“Anggelina….? Astaga kenapa aku bisa melupakannya!?” kesal Anggela sambil memegang kepalanya. 
“Anggela Dwiputra Deviluck! Aku bertanya padamu, di mana adik kembarmu!?” Keisha terlihat sangat marah. 
“Di-dia diculik oleh Savila dan ras Half-elf … ma-maaf aku tidak bisa melindunginya. Tapi tenang Kak, aku akan merebut dia kemba –“ 
“Kenapa bisa terjadi!? Jelaskan pada Kakak bagaimana ceritanya sampai kalian bertarung dengan ras Half-elf!” 
“Aku juga tidak mengerti, mereka lah yang menyerang kami duluan!“ 
“Hei, apa yang kamu maksud Savila itu adalah sang elementer api?” tanya Litias penasaran. 
“Ya, dia orangnya!” 
“Dia ada disini, sejak tadi.” Jelas Litias sambil melihat Savila yang berkumpul dengan yang lainnya. 
Anggela lekas melihatnya, pikirannya langsung kosong dan bersiap menyerang Savila. Dia sudah termakan amarah dan mulai menggunakan kemampuan percepatan listriknya. 
ZWIBTTT!!! 
Dalam sekejap Anggela berada dibelakang Savila, berniat memukulnya dengan aliran listrik yang amat tinggi dipukulannya, tapi. 
Protection A Glance!!” Eve terlihat terkejut merentangkan tangannya, dia melihat Savila dan Anggela yang berada dihadapannya. 
SWUBTTTTT BUARRRRRRRR!!! 
Pukulan Anggela meledak kebelakang dan Savila terhindar dari serangan tersebut, semua orang terkejut dengan kehadiran Anggela yang tiba-tiba itu. 
“Apa yang kau laku –“ Savila terlihat kesal melihat kebelakang, tapi perkataanya terpotong oleh teriakan Anggela yang semakin keras darinya. 
“DI MANA ANGGELINA!!!”Tatapannya terlihat tajam melihat Savila yang terkejut ketakutan. Anggela terlihat bersiap menggunakan Giga Stream denganAtlantis Dhrone-nya yang baru saja keluar. 
“Tu-tungg –“ Savila terlihat ketakutan, tapi. 
BEB!!! DUARRKGHHH!!!!! 
Savila membentur tanah sangat keras hingga berbentuk cekung tak karuan. Gravitasinya seakan sangat berat hingga dia kesulitan untuk mengangkat kepalanya. 
“Tu-tunggu seben –“ Savila semakin menangis ketakutan. 
Di mana adikku….. !?“ Keisha menggeram murka, terlihat melayang di atas Savila dan yang lainnya, tatapannya sangat tajam merendahkan Savila. 
“Ke-Keisha, Anggela, tolong tahan emosi kalian –“ 
“APA KAU MEMBELANYA, HELIASHA?!” teriak kesal Keisha menatap tajam Heliasha. 
“…..” Heliasha hanya terdiam ketakutan melihat Keisha yang mulai murka. Tubuhnya gemetar ketakutan. Ini pertama kali baginya melihat sang sahabat seperti itu. 
Herliana dan Eve semakin terlihat khawatir memejamkan mata. Semua orang disana juga terlihat ketakutan melihat kemampuan Anggela dan Keisha yang dipenuhi amarah. 
“Anggela, Kak Keisha ….  tenanglah dan dengarkan kami baik-baik, kami akan memberitahukan pada kalian di mana keberadaan Anggelina ….” Herliana terlihat gemetar ketakutan. 
“Iya tolong tenanglah sebentar, ini bukan salah Savila. Biar aku yang menjelaskannya,” Eve juga terlihat mencoba menenangkan keduanya. 
“Baik, jelaskan!” kesal Anggela dan Keisha mulai menghentikan kemampuannya. 
“Baik aku akan mengatakan yang sebenarnya,” Herliana terlihat khawatir. 
“Tu-tunggu, apa kamu yakin dengan pilihan itu!?” Jeremy terlihat amat sangat ketakutan. 
“Tak apa, dengan sisa kemampuanku, aku bisa menghentikan keduanya…” bisik Herliana pada Jeremy. 
“Tunggu, kamu salah –“ Jeremy semakin terlihat khawatir ketakutan. 
“Tenanglah dan dengarkan aku baik-baik. Aku hanya akan mengatakannya sekali saja….” Herliana menatap serius Anggela dan Keisha. 
“Herliana tunggu jangan katakan kebenarannya!! Bukanlah kemampuan Overrun yang akan mereka alami, tapi –“ 
“Ang-Anggelina sudah tinggal di tempat ternyaman, dia hanya pergi lebih cepat dari kalian…” Herliana gugup ketakutan, dia terlihat memejamkan matanya. 
“…..” Sontak, Anggela dan Keisha menundukkan kepalanya, tak ada jawaban dari mereka. 
“Ka-kalian harus membiarkan dia pergi. Kami tau ini salah ras kami, tapi –“ Eve terlihat khawatir menenangkan Anggela dan Keisha, tapi. 
“Apa maksud perkataanmu tadi, Herliana? Aku tidak mengerti.” Anggela terus menundukkan kepalanya, nadanya terdengar sangat berat. Suasananya terasa sangat mencekam. 
“Di-dia, di-dia –“ Herliana terlihat gemetar ketakutan, dia menggigit bibir bawahnya. 
KATAKAN DENGAN JELAS …!” geram Keisha sangat kesal, dia mengangkat kepalanya dan terlihat kedua bola matanya yang berubah menjadi hitam dengan pupil merah darah. 
“Di-dia sudah meninggalkan dunia ini –“ 
HOLY WARP!!!” kesal Jeremy menggunakan kemampuan perpindahan dimensinya. 
SWUBTTT!! 
Dia memindahkan semua orang disekitarnya kecuali Anggela dan Keisha. 
Mereka berpindah sangat jauh dari mereka berdua. 
“Kenapa kau memindahkan kami, padahal aku berniat menggunakan kemampuanku untuk menghen –“ Herliana terlihat sangat kesal. 
“MUSTAHIL!! Hanya iblis kuno yang bisa menghentikan iblis kuno! Bukan Overrun yang akan terjadi pada mereka, tapi Overrun Takeover lah yang akan mereka alami!!!” teriak Jeremy sangat kesal. Ketakutan bukan main. 
Overrun Takeover? Apa itu!? Aku baru mendengar kemampuan itu?” Herliana terkejut penasaran. 
“Sulit untuk menjelaskannya sekarang. Semoga hanya iblis lemah yang bisa melakukan resonansi dengan mereka….” Jeremy terlihat sangat khawatir sambil memperkuat pertahanan dimensinya. Terus memperkuat hingga batas kemampuannya. 
“Jika kalian masih ingin hidup, masuklah!!” lanjut Jeremy terlihat kesal melirik Eve dan yang lainnya. 
“Tunggu, apa semenakutkan itu kah Anggela dan Keisha yang saat in –“ Heliasha terlihat panik penasaran. 
“Di-dia datang, “ Ai terlihat khawatir melihat Anggela yang berjalan menghampiri mereka. 
“Apa yang kita lakukan –“ 
“Potong Kakinya! Cepat!!” kesal Jeremy berteriak. 
“Tunggu, apa itu tidak berlebihan –“ Heliasha terlihat terkejut. 
“Apa kau ingin mati?! Cepat lakukan!“ 
“Ba-baiklah, “ Heliasha mengigit tangannya hingga berdarah, dia mulai berteriak ke arah Anggela. 
Bloody Slicer!” 
SWING! SWING! 
Darah berbentuk sabit bulan mulai melayang ke arah kaki Anggela, tapi Anggela hanya terdiam dan terus berjalan. Alhasil kedua kakinya terpotong secara rapih dan dia pun jatuh terpelungkup. 
“Kyaaa!!!” Ai terlihat terkejut ketakutan. 
Tak ada respon? Ib-iblis apa yang merasuki Anggela saat ini?”  Jeremy terlihat sangat terkejut. Menggigit ibu jarinya. 
“Lihat apa yang kau katakan! Bagaimana aku menjelaskan nanti pada Keish –“ Heliasha terlihat kesal tapi perkataannya kembali terpotong. 
“DIAMLAH!!” kesal Jeremy terlihat kebingungan. 
Kenapa? Kenapa? Apa yang terjadi!?” Jeremy bergumam dalam hati sambil melihat Anggela yang terpelungkup jatuh. 
Tiba-tiba Anggela mulai mengangkat kepalanya, dia mulai membuka matanya dan tersenyum melihat Jeremy. 
Matanya terlihat berbeda dari biasanya, bukan mata milik dirinya maupun mata saat dia mencapai Overrun. Tapi mata biasa dengan pupil merah darah yang menyala. Saat Anggela tersenyum, terlihat juga taring kecil di sekitar sisi bibirnya. 
Anggela mulai mengangkat tangan kanannya ke arah Jeremy dan bergumam sesuatu. 
Jeremy yang menyadari itu lekas berteriak. 
“PERGI DARI SINI, SEKARANG!!!” 
“Eh?” semua orang terkejut melihat Jeremy yang ketakutan. 
BOOOOMMMMMMMMM!!!!!!! 
Lasser bertegangan listrik berwarna biru keunguan mulai bergerak cepat ke arah Jeremy dan yang lainnya, lasser yang sangat besar bahkan lebih besar dari skill Giga Stream. 
Jeremy lekas memindahkan semuanya selain dirinya ke samping kanan yang cukup jauh, tapi sayang dia tidak sempat memindahkan dirinya sendiri. 
Pertahanan dimensinya tidak cukup kuat menampung serangan Anggela yang maha besar,  alhasil pertahanannya hancur tertembus terlihat mengerikan. 
“ARGHHHH!!!” teriak Jeremy kesakitan. 
Lasser tersebut menghancurkan pertahanan Jeremy, tapi anehnya Jeremy terlihat masih hidup. 
Jika bukan karena Buff dari Putri Eve, aku sudah mati tadi…” Jeremy terlihat khawatir kesakitan, dia terlihat memegang tangan kirinya yang sudah hancur tak berbekas. 
Anggela terlihat duduk sambil memasangkan kembali kakinya yang terpotong. 
“Su-sudah kuduga…” 
Semua orang disana terlihat sangat terkejut, menutup mulut.Termasuk Serraph dan Keina yang menghentikan pertarungan. Tubuh mereka gemetar, melebarkan mata ketakutan melihat Anggela. 
“Celakalah kita, aku tak menyangka kalau Iblis kelas A yang akan beresonansi dengannya. Seperti yang kuduga dari anak Serraph,” Jeremy memejamkan sebelah matanya terlihat pasrah, dia benar-benar terlihat kesakitan karena luka parah yang ia dapatkan. 
Di saat pertahanan Jeremy yang kosong tersebut, tiba-tiba muncul mayat hidup dari belakang Jeremy, mayat hidup tersebut muncul dari bawah tanah dan membawa pedang tajam, berniat menebas Jeremy dengan sangat cepat. 
CRANKKK!!! 
Dengan sangat cepat juga muncul Litias yang menahan serangan mayat hidup tersebut. Dia menahan serangan itu dengan tulang tajam yang keluar dari tangannya. Setelah itu dia menendang keras mayat tersebut hingga terlempar jauh. 
“Apa yang terjadi hingga mereka berdua menjadi seperti ini!!” teriak kesal Litias melirik Jeremy.Wajahnya sungguh terlihat ketakutan. 
“Ak-akan kuceritakan nanti…” Pelan Jeremy Menjawab, pandangannya terlihat kabur. Dia sudah mencapai batas kehidupan. 
“Ib-iblis kuno kelas B dan A, ini hampir mirip seperti beberapa tahun yang lalu. Hanya saja kali ini iblis yang beresonansinya lebih lemah.” Litias terlihat sangat khawatir. 
“Me-memang benar saat itu iblisnya lebih kuat. Tapi berkat adanya tetua Ras Half-elf dan Astaroth, kita bisa mengatasinya…” Jeremy melirik Litias. 
“Ya dengan pengorbanan keduanya, kita bisa menghentikan Kak Keina dan Serraph.” Litias terlihat sangat sedih. 
“Konsentrasi Litias! Saat ini kita sedang berhadapan dengan iblis jaman dahulu, jangan longgarkan pertahananmu sedikitpun!” Jeremy menatap tajam Anggela yang tersenyum kecil padanya. 
“…..” Litias hanya menganggukan kepalanya, dia terlihat serius dalam posisi siap bertempur. 
 “Ak-aku tak menyangka jika kita akan bertarung dengan Vampire dan Necromancer jaman terdahulu …” lanjut Litias sambil melihat Anggela kemudian Keisha yang melayang tepat diatasnya. 
“…..” Jeremy terlihat memejamkan matanya, dia terlihat kacau dan tak menjawab keluhan Litias. Hanya hitungan menit saja sampai dia tak sadarkan diri karena lukanya. 
“Nah, Kak Jeremy …  ap-apa kita akan mati disini …?” tanya Litias sangat khawatir ketakutan. 
“Ya mungkin saja. Tapi Litias, cobalah bertahan sampai mereka berdua turun tangan,” lirik Jeremy pada Serraph dan Keina. 
“Ya, tap-tapi bukannya aku meragukan kekuatan Kak Keina atau Serraph. Aku tau betul jika Kak Keina dan Serraph itu kuat bahkan sangat kuat. Tapi aku masih tetap ragu jika kekuatan mereka berdua bisa mencapai para iblis ini,” 
Ya, aku tau itu. Se-setidaknya biarkan aku mengatakan harapan kecil untuk kita semua. hah hah hah....” Jeremy hanya bergumam ketakutan dalam hati, dia hampir pingsan karena darah merah terus mengucur dari tangan kirinya yang hancur. 
***

My Dearest Jilid 2 Chapter XXII Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.