15 Mei 2016

My Dearest Jilid 2 Chapter XX



PERTARUNGAN MELAWAN HELIASHA

Bagian Pertama 
Keisha dan yang lainnya masih terlihat melayang mencoba melarikan diri, tujuan mereka untuk mencuri kembali buku pembangkitan itu telah sukses dilakukan.

Tapi sayang, saat ini mereka sedang terhalang oleh Heliasha dan Charles. Wajah keduanya terlihat marah dan menatap tajam Keisha. Di atas sekitar Heliasha juga terlihat puluhan pedang darah yang melayang.

“Keisha… kembalikan buku itu!!”

“Tak akan pernah, meski kau mengambil nyawaku sekalipun!”

“Baiklah, jika kau tidak ingin mengembalikannya… aku akan mulai serius untuk mengambil buku itu…” Heliasha terlihat sangat serius. Auranya terasa berat, aura yang dipenuhi kemarahan.

Keisha dan yang lainnya seketika terdiam ketakutan, karna mendapatkan intimidasi darinya.

“Ai, kau jangan ikut bertarung dalam pertarungan ini. Lebih baik kau pergi dan bawa buku itu…” bisik pelan Keisha pada Ai, wajahnya terlihat khawatir karena gertakan Heliasha tadi.

“Ba-baiklah…” Ai terlihat khawatir.

“Masuk kesini….” Jelas Gramior melihat Ai. DIa membuat gerbang dimensi baru untuknya.

“Ya terima kasi –“

WUIGNGGG!!!!

Sebuah pedang merah seketika melayang cepat ke arahnya, hanya hitungan detik saja sampai pedang itu menancap kepala Ai.

Keisha dan yang lainnya terkejut akan serangan dadakan dari Heliasha, serangan tersebut seakan-akan sudah pasti akan mengenai Ai, tapi.

ZWUBBB!!!!

Muncul sebuah gerbang dimensi yang berbeda dengan Gramior, gerbang tersebut terlihat lebih besar dan indah berwarna ungu.

Pedang merah Heliasha tersebut masuk ke dalam gerbang dimensi berwarna ungu tersebut.

JLEBBB!!!!

Tiba-tiba terdengar suara tusukan pedang yang cukup keras. Ya … pedang tersebut muncul kembali dari dimensi yang sama persis di belakang Heliasha dan menusuk punggungnya.

“Eh?” Heliasha terlihat terkejut, mencoba melirik punggungnya.

“Siapa?” Charles terlihat khawatir.

Dragon Storm …!!” teriak seseorang diatas Heliasha.

Dia melesat jatuh sangat cepat ke bawah, lebih tepatnya ke arah Heliasha. Dia mengangkat kedua tangan yang ia kepalkan. Naga petir berwarna hitam juga terlihat di sekitar tangannya,

Heliasha dan Charles lekas melompat mundur ke belakang untuk menghindari serangan tersebut,

GWARRRRR!!!! JELAGARRR!!

Suaranya bagaikan sambaran petir yang sangat hebat, sambaran petir yang sangat menakutkan, sambaran petir yang seakan-akan dipenuhi oleh kemarahan sang naga.

Siapa orang ini….” Heliasha terlihat khawatir melihat lelaki tersebut..

“Kau terlalu berlebihan, Serraph..” jelas seseorang yang tiba-tiba muncul dari gerbang dimensi. Dia melihat lelaki yang sebelumnya mengeluarkan petir, yakni Serraph.

Lelaki itu terlihat berdiri di atas ranting pohon yang muncul dari gerbang dimensinya.

“Benarkah? Tapi saat lawanku Keina, aku mengeluarkan skill yang lebih buruk dari ini, Jeremy…” senyum Seraph melihat Heliasha yang terlihat khawatir.

Se-serraph? Mungkinkah….” Keisha terlihat sangat terkejut melihat lelaki yang berada didepannya. Dia hampir menangis melihat lelaki yang membelakangi dirinya.

“Siapa kau –“ teriak Heliasha tapi perkataannya terpotong oleh Anggela.

“Aku tidak menyangka kalau semua itu benar, Heliasha!!” kesal Anggela menatap tajam Heliasha, dia terlihat bersiaga melindungi Ai.

“Ang-Anggela!?” Keisha terlihat cukup terkejut.

“Anggela….” Heliasha terlihat semakin khawatir karena telah terkepung.

“Heliash –“ Charles terlihat khawatir.

Schyte Room!!” teriak Heliasha sangat marah, dalam sekejap mereka semua tanpa terkecuali masuk dalam dunia yang dibuat oleh heliasha.

Terlihat langit yang berwarna merah darah, danau sangat luas yang terbuat dari merah segar. Ditengah-tengah danau tersebut terlihat Heliasha yang sedang berdiri.

“Di-dimana kita!?” Ai terlihat ketakutan bertanya pada Anggela.

Schyte room, ini dunia yang dibuat oleh Heliasha…”

“Lalu apa bedanya dengan dunia kita…”

“Tentu saja berbeda, dunia ini bisa dikontrol penuh oleh pembuatnya…”

“Ehhh memangnya ada kemampuan seperti itu!? Aku baru mendengarnya…!!” Ai memasang wajah terkejut.

“Ini kemampuan khusus tingkat Davinity, bukan hal yang aneh jika kamu tidak mengetahuinya….” Lily terlihat khawatir melirik Ai.

“Kita hentikan dulu pembicaraan ini, lihat di atas kalian…” Gramior sambil melihat langit berwarna merah darah.

Awan merah terlihat melayang diatas kepala Anggela dan yang lainnya, awan tersebut seolah sudah siap menjatuhkan beban yang ia bawa.

“Bloody ice rain…” geram Heliasha sambil mengangkat tangannya ke arah mereka.

Hujan es berwarna merah seketika turun dengan deras ke arah Anggela dan yang lainnya.

Lily segera mengangkat kedua tangannya sambil berteriak, “Deflection Area….”

Beberapa hujan es yang jatuh ke arah mereka mulai dipantulkan kembali ke tempat awalnya, tapi karena jumlah hujan es tersebut yang terlalu banyak Lily tidak dapat memantulkan beberapa hujan es yang menembus pertahanannya.

Beberapa hujan es melesat jatuh sangat cepat ke arah Anggela dan yang lainnya, tapi tiba-tiba hujan es tersebut langsung terpantulkan sangat cepat ke berbagai arah. Ya itu bukan kemampuan milik Lily, tapi kemampuan milik Keisha.

Saat hujan es tersebut hampir mencapai mereka, Keisha berteriak sambil merentangkan kedua tangannya yang sejajar dengan bahu,

Gravity Shock!!”

Heliasha hanya terdiam kesal sambil berjalan pelan ke arah mereka, dia mulai bergumam pelan memejamkan mata, “Bloody Code: Noble Sword Damascus….”

“Gramior, Lily, Alcot dan Anggela tolong jaga Ai yang membawa buku itu, dan untuk Aya – maksudku Serraph dan Jeremy bantu aku untuk menghentikan Helias –“ Keisha terlihat khawatir melihat Heliasha yang serius.

“Tunggu Kak! Aku juga ikut bertarung!!“ kesal Anggela menatap Kakaknya.

“Tapi….” Keisha terlihat khawatir melihat Ai.

“Biar aku saja yang ikut menjaga gadis muda ini….” Senyum Jeremy melirik Ai.

“Tapi kami membutuhkan kemam –“

“Biarkan dia yang menjaganya, Jeremy sangat cocok untuk melindungi seseorang…” senyum Serraph sambil menatap Heliasha.

“Ba-baiklah…” Keisha terlihat gugup membuang wajah.

“Bagus……” jelas Jeremy dan Anggela bersamaan.

“Gramior, Lily, Ai, Alcot kemari dan berkumpul didekatku…” lanjut Jeremy sambil terlihat berkonsentrasi mengeluarkan skillnya.

Ai dan yang lainnya lekas mendekati Jeremy yang sedang bersiap-siap mengeluarkan skillnya.

“Apa yang dia lakukan?” tanya Anggela dan Keisha kebingungan.

“Sesuatu yang cukup menakjubkan…. Lebih baik kita berkonsentrasi pada musuh kita….” Serraph kembali melirik Heliasha yang sudah berlari mendekati mereka.

“Biar aku yang menghent –“ Keisha terlhat bersiap kembali tapi langsung terdiam karena perkataan ayahnya.

“Keisha, kah?”

“Y-ya itu namaku…”

“Baiklah…. Keisha, Anggela bisa beri aku ruang …?”

“Ba-baik, tapi apa yang ingin anda lakukan?” tanya Keisha terlihat kebingungan.

“Hanya ingin menguji seberapa besar ketahanan pedang miliknya itu….” Jelas Seraph sambil mengambil lempeng batu yang cukup besar di atas tanah.

“Menguji? Pedang itu adalah pedang legendaris Damascus! Kau tidak –“ Anggela terlihat sedikit kesal karena perkataan Serraph yang meremehkan.

“Sudah sudah, biar aku mencoba ini Anggela, Keisha…?” senyum Seraph sambil mengangkat lempeng batu yang hampir seukurannya.

“Baiklah….” Keisha dan Anggela mulai memberikan ruang pada Serraph untuk mengeluarkan skillnya.

Zzztttttt!!!!

Percikan listrik berwarna hitam seketika muncul di tangannya. Dia berkonsentrasi mengeluarkan skillnya.

Kemudian dia melempar lempengan batu itu ke atas. Saat lempengan tersebut jatuh kembali, dia lekas memukulnya sekuat tenaga dengan tangan kanannya ke arah Heliasha.

Jangan katakan….” Anggela dan Keisha terlihat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Serraph.

Saat batu tersebut terpukul oleh tangan kanan Serraph yang dialiri banyak listrik, seketika terdengar tekanan yang dalam hingga membuat tanah di sekitar Serraph menjadi cekung tak beraturan…

BEM!!!!!

Setelah itu muncul sebuah tembakan dashyat ke arah Heliasha yang berlari ke arahnya.

BOAMMMM!!!!

Railgunn……” jelas Serraph tersenyum melihat Heliasha yang berhenti karena cukup terkejut.

Tembakan Railgun tersebut sangat kuat bahkan getaran saat pelepasan tembakan itu terus membuat daerah sekitarnya bergoncang hebat.

In-ini lebih kuat dari miliknya….” Keisha bergumam melirik Anggela.

Ini lebih kuat dari milikku…” gumam Anggela terkejut dalam hati.

Heliasha lekas mengayunkan pedang damascusnya secara horizontal ke arah tembakan railgun Serraph,

BBAAAARRRRRR!

Mungkin seperti itulah suara tabrakan antara tembakan Serraph dengan pedang legendaris milik Heliasha.

Cukup lama Heliasha bertahan dengan pedangnya itu, dia terlihat bersusah payah memotong tembakan itu, tapi hasilnya.

Cess……….. BOAMMMMM!!!!

Tembakan itu dibalikan ke arah Serraph dengan sangat cepat, Serraph hanya memiringkan kepalanya untuk menghindari serangan Heliasha.

Otomatis tembakan tersebut melesat langsung ke arah Ai dan yang lainnya.

“AI AWAS!” teriak Anggela khawatir ketakutan.

Tapi tiba-tiba tembakan langsung itu hanya melewatinya, tembakan itu hanya menembus mereka.

Ai, Gramior, dan Lily sudah terlihat sangat ketakutan karena tembakan yang dashyat itu.

“Ap –“ Anggela terlihat cukup terkejut tapi langsung terdiam karena mendengar ledakan besar yang jauh di belakang Ai dan yang lainnya.

BWWWUUUAAAAARRRRRR!!!

Ledakan yang dahsyat bagaikan sebuah ledakan bom berskala besar.

28 detik…… daya tahan yang luar biasa…. Daya tahannya hampir mirip seperti sayap milik Keina…” Serraph terlihat bergumam dalam hati sambil melihat pedang milik Heliasha.

Heliasha hanya terdiam sambil mengambil nafas kelelahan.

Siapa orang ini, hah hah hah…” 

“Tu-tunggu kenapa tembakan tadi hanya melewati kalian!?” Anggela berlari khawatir pada Ai dan yang lainnya.

“Aku tidak tau..!” Ai terlihat masih ketakutan.

“Aku juga –“ Lily terlihat masih khawatir tapi terpotong oleh Keisha yang berjalan ke arah mereka.

“Itu skillmu kan?” Keisha melirik Jeremy.

“Ya, Distracted room…. “ senyum Jeremy memejamkan mata.

Dis-Distracted room? Ke-kemampuan apa itu ?!” Alcot terlihat khawatir.

“Hmmmm, sulit untuk menjelaskannya, tapi Anggela tolong serang kami sekarang….”

“Tapi –“

“Serang mereka Anggela…” Keisha terlihat penasaran melihat Jeremy.

“Baiklah….. Railgun!” Anggela menembakkan skill Railgun miliknya ke arah Jeremy.

Seketika Jeremy dan Serraph hanya terdiam terkejut dengan apa yang Anggela lakukan, dan seketika juga skill Anggela menghilang lenyap sebelum mencapai Jeremy dan yang lainnya.

Up!” jelas Jeremy, lalu muncul tembakan Railgun milik Anggela yang keluar dari atas Jeremy dan yang lainnya.

Tembakan tersebut meledak di atas.

DUARR!!

“Begitu…. Perpidahan dimensi, kah?” Keisha tersenyum memejamkan mata.

“Ya, aku membuat kubus dmensi, jadi semua gangguan yang datang akan aku keluarkan kembali dari sisi yang aku ingin kan…”

“Seolah-olah menjadi pertahanan tak tertembus, kah?” senyum Lily melirik Jeremy.

“Aku pengguna dimensi, tapi aku belum pernah memikirkan hal ini….” Gramior terlihat cukup terkejut.

“Hahahaha, tapi aku ingin bertanya beberapa hal padamu Anggela…” Jeremy terlihat serius melihat Anggela.

“Ap-apa –“

“Darimana kau mendapatkan skill yang sama persis denganku?” tanya Serraph yang berada di belakang Anggela.

***

Bagian Kedua
Di sebuah apartement mewah yang tidak diketahui tempatnya, beberapa menit sebelum Heliasha dan yang lainnya berpindah dengan Schyte room.

Terlihat Litias yang sedang bosan sambil memindah-mindahkan chanel  TV. Dia hanya tiduran sambil menonton televisi yang terlihat mewah.

Tiba-tiba dia menghentikan pergerakan jarinya untuk memindahkan chanel. Gadis berambut hijau itu terkejut melihat berita yang ada dalam TV.

“Ka-kak Keina …” Litias melirik Keina yang sedang memakai pakaian, rambutnya terlihat sedikit basah yang menandakan kalau dia baru saja selesai mandi.

“Hmmmm….”

“Lihat berita di pertarungan Kine –“

“Kineser? Aku sudah tau berita itu, aku tidak peduli dengan berita bodoh itu, yang aku pikirkan adalah dimana bajingan –“

“Tapi bajingan yang Kakak maksud sedang terlibat dalam pertarungan itu…!”

“Eh…?” Keina terlihat terkejut, dia berjalan sangat cepat menghampiri Litias untuk melihat isi dari berita TV tersebut, meski tubuhnya terlihat masih setengah telanjang dia benar-benar tidak peduli.

“Serraph, apa yang sebenarnya kau lakukan….?!” geram sangat kesal Keina yang terbakar amarah. Litias memasang wajah ketakutan karena aura membunuh di sekitar Keina.

“Litias!”

“Ya Kak!”

“Bersiaplah …. Kita akan memburu bajingan itu!”

“Se-sekarang?”

“Tentu saja!!”

“Tap-tapi lihat mereka tiba-tiba menghilang tak berbekas!”

“Eh….?”

“Kamu benar…” lanjut Keina tersenyum.

“Ken-kenapa kamu tersenyum, Kak?”

Scyhte room, berpindah ke dimensi dunia buatan…. Aku tidak tau siapa gadis itu, tapi sangat jelas kalau dia tingkat akhir sepertiku…”

“Gadis?! Gadis yang mana? Da-dan apa itu Schyte Room?”

“Kau akan tau nanti, bersiaplah… ini akan menjadi lebih mudah untuk mengejarnya jika bajingan itu ikut pindah bersama gadis tingkat akhir itu….” Senyum Keina sambil memakai bajunya, bukan baju yang sebelumnya mau ia pakai. Tapi baju berwarna ungu gelap bagaikan baju untuk bertempur.

Lalu kembali ke tempat Anggela dan yang lainnya.

“Apa maksud pertanyaanmu? Tentu saja skill itu kudapat karena seseorang yang mengajariku…”

“Siapa yang mengajarimu?” Serraph bertanya memejamkan matanya.

Aku kini sudah yakin siapa Serraph ini, tapi aku tidak bisa berkata kalau skill ini darimu…”

“Da-dari Ayahku…” jelas gugup Anggela.

“Ayahmu? Siapa dia? Kenapa dia –“ tanya Serraph tetapi perkataanya terdiam karena mendengar perkataan Keisha.

“Serraph, kami memang belum mengatakannya…. tapi Aku, Anggela, Gramior, dan Lily berasal dari masa depan..”

“Kak Keisha –“ Anggela terlihat terkejut.

“Tak apa…” senyum Keisha melirik Anggela.

“Masa depan….? Ah, aku mengerti…..” Serraph tersenyum memejamkan matanya seakan paham.

“Mengerti apanya Serraph?” Jeremy terlihat kesal karena masih belum mengerti.

“Aku mengerti siapa sebenarnya Anggela ini…”

“Mengerti? Siapa sebenarnya dia?!”

“Dia memiliki mata yang sama denganku dan mewarisi kemampuanku yang unik, bukankah itu petunjuk yang sangat jelas?”

Railgun? Dia belajar dari Ayahn –, jangan katakan?!”

“Tunggu kau benar-benar bisa mempunyainya?!” Jeremy terlihat terkejut menatap Serraph.

“Aku juga mahluk hidup, pasti memiliki keturunan suatu saat nanti,” senyum kesal Serraph.

“Tapi dengan siapa!? Aku benar-benar tidak pernah memikirkan hal ini!”

“Tebak saja, padahal sangat jelas jika kau melihat Kakak perempuan Anggela…” senyum Serraph melihat Keisha yang terlihat gugup.

Jika dipikir-pikir wajah gadis ini sangat mirip dengan Keina, hanya warna rambutnya saja yang berwarna hitam… tapi apa mungkin dengan Keina? Serius?” Jeremy terlihat mengamati Keisha.

“Keina…?” Jeremy terlihat terkejut tidak percaya.

“Ya…. aku tidak tau –“

“Mustahil! Ak-aku tau dia itu mantan kekasihmu, tapi sekarang berbeda! Dia benar-benar membencimu, bukankah kamu juga begitu?! Dia itu musuh terbesarmu sekarang!”

Ibu dengan Ayah? Bermusuhan!? Aku belum pernah mendengarnya…” Keisha terlihat cukup terkejut.

“Sudah kubilang kita tidak tau apa yang terjadi di masa depan nanti, Jeremy…”

“Baik baik, tapi ijinkan aku bertanya padamu… pertanyaan ini sudah berulang kali aku tanyakan padamu tapi kau selalu saja mengelak…”

“Ap-apa itu?”

“Apa kamu masih mencintai Keina…?”

Untuk sesaat suasana terasa hening, begitu juga dengan Heliasha yang terlihat duduk memulihkan tenaganya.

“Ba-baik pembicaraan selesai, kita harus segera menyelesaikan pertarungan ini…” jelas Serraph berbalik melihat Heliasha yang sudah mulai berdiri.

Di-dia mengelak lagi….” gumam semua orang disana dalam hati sambil melihat Serraph.

Anggela dan yang lainnya terlihat sedikit kecewa dengan jawaban Serraph, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Keadaan mereka memang sedang tidak memungkinkan, mereka harus berkonsentrasi pada pertarungan mereka.

Heliasha terlihat berjalan mundur ke belakang, terus berjalan mundur hingga menginjak danau darah yang dia bekukan.

Kini dia berada di tengah-tengah danau tersebut, dia mulai terlihat bekonsentrasi mengeluarkan skillnya.

Sedangkan di sisi lain Keisha juga mulai terlihat berkonsentrasi mengeluarkan skill tingkat tingginya, percikan listrik berwarna putih mulai terlihat di sekitar tubuhnya.

“Skill itu…?” Anggela terlihat terkejut melihat kakaknya yang berkonsentrasi mengeluarkan salah satu skill khususnya.

“Lindungi aku Anggela…” Keisha terlihat memejamkan mata sambil terus berkonsentrasi.

Heliasha cukup terkejut melihat Keisha yang menggunakan skill tersebut, dia mulai tersenyum bersemangat sambil membatalkan skill sebelumnya.

Aku tidak percaya kau akan seserius ini, Keisha…” gumam Heliasha dalam hati sambil menyentuh pelan dataran darah membeku disekitarnya.

Red Insulation!!” teriak Heliasha sangat keras.

Dalam sekejap darah di setiap sisi danau tersebut mulai terangkat ke atas, melindungi Heliasha yang berada di dalamnya. Sebuah isolasi berwarna merah tak tertembus hingga membentuk setengah lingkaran.

“Ga-gawat!! Anggela, Serraph cepat hentikan dia!!” teriak Keisha sangat khawatir, dia terlihat sangat terkejut dan konsentrasinya pecah karena melihat tindakan Heliasha.

“Ap-apa sebegitu berbahayanya sampai kau menghancurkan konsentrasimu itu, Kak?” Anggela bertanya khawatir melihat Kakaknya.

“Iya, dia hanya mengurung dirinya sendiri? Bukankah skill itu hanya berfokus untuk bertahan..”

“Bukan skill Red Insulation yang berbahaya darinya Anggela, Serraph… tapi skill setelahnya akan menjadi bencana untuk kita semua…” Keisha terlihat bergemetar.

“Eh, maksudmu dia sedang berkonsentrasi mengeluarkan skill khususnya?”

“Ya, apa kamu tau alasan Heliasha mendapatkan julukan Bloody Taker?”

“Karena dia bisa mengendalikan darah manusia?”

“Hampir benar, tapi alasan yang sebenarnya adalah…. Karena dia bisa mengendalikan semua mahluk hidup yang memiliki darah, kita akan dengan mudah bisa dikendalikan olehnya…”

“Oi oi, bukankah itu sama saja dengan skill Charles?!” Anggela terlihat terkejut.

“Lebih buruk dari itu, saat dia menggunakan mode terkuatnya, dia dapat dengan mudah menciptakan mayat hidup…. Bagaikan seorang Necromancer…”

“Tunggu bukankah itu berlebihan!? Aku tau jika darah bisa membentuk gumpalan daging, tulang atau bentuk tubuh manusia yang lainnya. Tapi itu akan memakan waktu yang lama! Ratusan bahkan ribuan tahun jika kineser biasa yang melakukannya! Dan lebih buruk dari itu, apa kamu tau konsekunsinya jika melakukan hal tabu seperti itu.” Serraph terlihat sangat marah melihat Keisha.

“Berbeda dengan menghidupkan seseorang, Heliasha hanya membuat wadah yang berisi darah yang dapat dia kontrol untuk menyerang musuhnya, dia hanya membuat boneka. Berbeda dengan yang anda maksud … menghidupkan atau membangkitkan seseorang sangat tabu dan mustahil dilakukan.”

“Tapi bagaimana dengan waktu yang dia butuhka –“

“Dia tingkat 8, apa itu menjawab pertanyaanmu, ayah?”

“Ah, ak-aku mengerti sekarang, bukan hal aneh jika dia bisa melakukan hal itu.” Serraph terlihat paham dan melirik Heliasha yang tertutup oleh isolasi merahnya.

“Kalau begitu kita hanya harus menembus benteng itu, kan?” Anggela terlihat bersiaga menyerang.

“Baiklah aku akan mencoba menghancurkan benteng it –“ Serraph terlihat bersiap mengeluarkan skillnya.

“Berhenti! Jika kau menyerangnya, gumpalan darah disekitarnya akan membalasnya dengan kekuatan yang sama…” Keisha terlihat khawatir menggigit ibu jarinya.

“Haah?! Kalau begitu bagaimana kita menghentikannya!?” Anggela memasang wajah kesal.

“Diamlah! Kakak sedang berpikir di sini!” Keisha terlihat kesal sambil memikirkan sesuatu. Wajahnya sungguh terlihat khawatir.

Tap tap ....

Terdengar suara langkah kaki yang halus di belakang Jeremy dan yang lainnya, dia berjalan pelan sambil mulai berkata, “Kalian tenanglah …, biar aku yang mengurus Kak Heliasha…”

“Si-siapa…?” tanya beberapa orang penasaran.

“Ka-kau…” Anggela terlihat sangat terkejut, seluruh tubuhnya bergemetar hebat.

“Her-Herliana….” Keisha juga terlihat sangat terkejut melihat Herliana yang berjalan ke arahnya.

Herliana…? Siapa?” gumam dalam hati semua orang disana kecuali Anggela dan Keisha.

Herliana mulai menghentikan langkahnya dan mulai berteriak pada Heliasha yang tertutupi oleh isolasi merah miliknya.

“Hentikan semua ini, Kak Heliasha!!”

Su-suara ini? Her-herliana?” gumam terkejut Heliasha yang mulai terganggu konsentrasinya.

“Dengarkan aku! Aku tidak tau apa yang Halsy katakan padamu, tapi biarkan aku mengatakan ini! Akulah reinkarnasi dari Light Princess itu!!”

Eh….?!” Heliasha sangat terkejut dan lekas membatalkan skillnya, dia terlihat sangat kesal menatap Herliana yang fisiknya tidak berubah sedikitpun.

“Apa yang kamu katakan!! Halsy lah reinkarnasi dari putri pahlawan itu!! Dia lah yang mendapatkan takdir untuk menghentikan calon raja iblis itu!!! Aku sebagai Kakaknya harus membantu –“

“Akulah reinkarnasi dari orang itu, Kak…” senyum Herliana sambil memegang dada dengan tangan kanannya.

“Ak-aku tidak percaya it –“

“Baiklah, meski hanya sebentar…. Aku akan membiarkan sang putri untuk menggunakan tubuhku….”

“Eh… apa maksudnya itu?” Heliasha terlihat terkejut menatap Herliana.

Wahai para pendahuluku, leluhurku, orang yang pernah hidup dan berinkarnasi menjadi diriku…. Aku ijinkan engkau, dirimu untuk menggunakan tubuhku untuk sementara……”jelas Herliana memejamkan mata, memegang dada dengan kedua tangannya. Suaranya menggema di daerah sekitar, setiap katanya terasa sangat berharga.

“Ap-apa ini….?” Anggela terlihat ketakutan melihat Herliana.

“Aku tidak tau, aku juga baru melihat hal in –“

“Pelafalan sihir…. Ini mantra sihir…” Serraph terlihat cukup terkejut menelan air liurnya.

WINKKK!!!!!!

Sebercak cahaya putih seketika muncul dari dalam tubuh Herliana, cahaya putih yang menyilaukan hingga semua orang yang berada disana menutup matanya.

Lalu setelah itu cahaya tersebut secara perlahan menghilang, suasana terasa sangat hening, semua orang menatapa penasaran Herliana yang masih memejamkan matanya.

Mereka tau kalau sesuatu yang menakjubkan baru saja terjadi, ada yang aneh dari Herliana. Aura disekitarnya terasa berbeda seolah bukan dari dirinya, dia seakan menjadi orang yang berbeda.

Dan benar saja, ketika Herliana membuka matanya hanya cahaya terang yang terlihat, seolah-olah dia sedang dirasuki oleh sesuatu.

“Si-siapa kau!?” teriak Heliasha sedikit ketakutan.

Aahhh….. sudah lama sekali aku tidak menggerakkan tanganku seperti ini….” Jelas Herliana sambil menggerakkan tangannya secara perlahan ke atas. Suaranya terlihat menggema di daerah sekitar. Membuat hati semuar bergemetar.

“Aku bertanya, siapa kau ini!?” Heliasha terlihat kesal.

“Apa yang terjadi dengan Herliana?” Anggela berbisik pada Kakaknya.

“Entahlah, kakak juga tidak tau….” Keisha terlihat khawatir.

Takeover, dia dirasuki oleh jiwa yang sudah mati,” Serraph.

Baiklah, aku memiliki beberapa peringatan dan permintaan untuk kalian… tapi sebelum itu aku ingin memperkenalkan diriku dulu. Namaku Emily Aeldra C. Frostlily, wanita pertama yang menggunakan ilmu Kinesis dan pendiri dari keluarga Aeldra. Orang-orang biasa memanggilku dengan, Light Princess…”

***

My Dearest Jilid 2 Chapter XX Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.