31 Mei 2016

Hataraku Maou-sama! Jilid 3 Bab 3 LN Bahasa Indonesia




SI RAJA IBLIS DAN SI PAHLAWAN, MENDENGAR SARAN DAN PERGI KE TAMAN HIBURAN

“Emi, apa terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan?”
“Huh?”
“Rasanya dari pagi, kau terus memasang muka masam.”
Dikatakan begitu oleh rekan kerjanya Suzuki Rika, Emi mulai menyadarinya.
“Apa terjadi sesuatu lagi dengan Maou-san?”
Rekan kerjanya itu tanpa basa basi langsung menuju intinya, membuat Emi terkejut dan melihat ke belakang.
“Ke-kenapa kau merasa begitu!”
“Karena yang kutahu, kalau Emi sedang punya masalah atau yang lain, itu pasti ada hubungannya dengan orang orang itu.”
“Ma-mana mungkin!”
“Apa benar? Tapi di saat sebelum Emi setuju memberitahuku tentang Maou-san, rasanya belum pernah aku melihatmu seperti ini.”
Ini di luar dugaan.
Sebagai seorang pahlawan yang tujuan akhirnya adalah membasmi Raja Iblis, Emi selalu serius dan mempertahankan tekadnya itu. Di dalam hidupnya tidak pernah sekalipun dia lengah!
“Kalau dipikir-pikir lagi, biasanya saat aku makan bersamamu, kau kelihatan sangat senang sampai membuatku lupa semua kekhawatiranku. Dan kapan pun kita pergi keluar, kau kelihatan sangat menikmatinya. Kau baru mulai membuat ekspresi serius itu belum lama ini.”
“Eh…….”
Dalam hati Emi mulai merasa gelisah.
Ada saat di mana, makanan dan budaya Jepang memberi pengaruh yang sangat besar terhadap Emi, membuat dia merasa apapun yang ditangkap oleh matanya semuanya bersinar. Khususnya makanan Jepang yang membuat ketagihan, dia bisa putuskan bahkan makanan Ente-Isla tidak bisa mengalahkan makanan Jepang.
“Ah, diingat lagi, kau pernah cerita kalau kau tidak bisa tidur di malam hari karena AC-nya tidak jalan dan udaranya terlalu panas.”
“………..”
Wajah Emi jatuh ke atas meja.
Sejak Emi datang ke Jepang sudah berlalu setahun lebih. Dia mulai merasa benci dengan dirinya sendiri karena sekarang mulai menikmati kehidupan yang tidak perlu khawatir apa-apa.
“Selain itu, kau pernah curhat denganku soal shift kerja, yang menyebabkan dirimu tidak bisa mencocokkan hari untuk janji pemeriksaan gas apartemen……”
“Rika……..aku menyerah, tolong jangan bahas lagi.”
“Hm? Benarkah? Ah, telepon.”
Di saat Emi sudah menyerah, Rika mulai kembali disibukkan pekerjaannya.
“Kalau begitu, kali ini apa yang kalian bertengkarkan?”
Di saat pekerjaannya mulai selesai, Rika bertanya lagi.
“Kenapa kau terlihat sedikit senang?”
Emi dengan tatapan protes menjawab, tapi Rika tidak akan mundur hanya karena ini.
“Karena setelah mendengarnya pasti tidak akan bosan.”
Berbicara apa adanya seperti ini adalah salah satu sifat positif Rika, tapi juga adalah kebiasaan buruknya pada saat yang sama.
“Apalagi teman sedang ada masalah, aku mana bisa duduk diam saja~”
“Jawaban jujurmu sebelum itu dan nada bicaramu tidak sesuai.”
Emi menjawab dengan senyum terpaksa.
“Kondisi kali ini bukan hanya merepotkan, juga sangat susah diurus.”
“Lanjutkan, lanjutkan.”
“Masalah kali ini berhubungan dengan seorang anak.”
Rika seperti menyadari sesuatu, dan mengatakan dengan seperti 'tentu saja' :
“Apa itu adalah anak Emi dan Maou-san?”
“Hanya dia yang bilang begitu sih……..ah!”
Emi tanpa pikir panjang dan langsung membantah, dan selanjutnya dia menyadari bahwa dia sedang menggali kuburannya sendiri.
Tapi Rika juga tidak menduga reaksi Emi yang seperti ini, Rika mulai terkejut, dan membuka matanya lebar-lebar menatap Emi.
“Wah, hei, itu benar?”
“Bu-bukanlah! Bukan begitu, eh, itu, walau tidak salah, tapi bukan begitu!”
“Apa yang kau katakan? tenang sedikit dulu.”
Emi seperti dipermainkan, dan Emi putuskan menenangkan diri dulu dengan menarik napas dalam-dalam.
“…….apa kau ingin aku menceritakannya dengan serius?”
“Aku sejak awal sudah serius kok?”
Emi dengan pelan melirik Rika yang menjawab dengan santai, lalu dengan tenang mulai menjelaskan :
“…….di tempat Maou, sekarang ada seorang anak kecil. Sepertinya……..itu adalah anak yang dititipkan orang lain padanya.”
“Apakah keluarga Maou-san?”
“Aku juga tidak begitu tahu mengenai intinya.”
Untuk menghindari masalah, Emi menjawab seolah tidak tahu apa-apa.
“Apa kau masih ingat gadis yang waktu itu memakai yukata? Di saat aku pergi menemuinyalah aku bertemu dengan anak itu.”
“Namanya siapa, di dalam ingatanku sepertinya namanya sedikit unik……….ah, Kamazuki-san kan? Aku ingat namanya Kamazuki Suzuno-san.”
“Benar, waktu itu juga pernah kuberitahu, dia tinggal di sebelah Maou, jadi biarpun aku tidak ingin bertemu dengannya kadang-kadang saja tetap akan bertemu, dan masalah ini terjadi saat itu.”
Emi menaruh tangannya di atas meja dan mulai menghela napas.
“Anak itu sepertinya salah menganggap aku sebagai Mamanya, rasanya menyusahkan sekali.”
“Eh?”
Rika dengan terkejut menatap Emi.
“Aku tiba-tiba dipanggil Mama oleh anak kecil yang belum pernah bertemu 1 kalipun.”
“Apa dia selalu mengikutimu seperti kau adalah Mamanya?”
“Bukan hanya itu, sepertinya anak kecil itu benar-benar mengaggap aku adalah Mamanya.”
Emi mengangguk-angguk kepala dan melihat ke Rika. Rika langsung mengubah ekspresinya yang tadi main-main itu menjadi ekspresi yang serius.
“Situasi seperti itu……memang lumayan menyusahkan sih. Kalau hanya hubungan menjadi dekat sih tak apa, tapi malah dikira Mama…….”
Rika mulai berpikir, lalu menghadapkan badannya ke kursi yang sedang dia duduki dan berkata :
“Walau anggapan ini sedikit ‘gelap’,  tapi apakah di saat anak itu lahir, Mamanya langsung meninggal?”
“Heh?”
Nada bicara Rika lebih serius dari yang diduga, membuat Emi terkejut.
“Kalau saja Mamanya sering bersama anaknya, biarpun berpisah 2 atau 3 hari pun, anak itu tidak akan pernah salah menganggap Mamanya dengan wanita lain. Selain itu, mungkin saja Emi itu sangat mirip dengan Mamanya anak itu bagaikan kembar,atau  anak itu memang sejak awal tidak memiliki kenangan dengan Mamanya.”
“Ma-……….”
Emi awalnya ingin membalas ‘mana mungkin’ , namun terdiam lagi setelah berpikir sesaat.
Emi sendiri juga tidak memiliki kenangan apapun soal ibunya, dan akhir akhir ini baru tahu bahwa masih hidup.
Dalam kenangannya yang saat kecil juga, bisa menemukan pengalaman salah mengangap wanita lain menjadi Mama.
Dan juga sebelum itu, bahkan apakah Alas-Ramus memiliki ‘anggota keluarga yang asli’ juga belum pasti, jadi---
“Mama, apa kau ingin meninggalkanku lagi?”
Jangan-jangan dia berpisah dengan ibunya karena beberapa alasan, jadinya dia bicara seperti itu?
“Apa kau menemukan beberapa solusi?”
“………hn, ini, aku juga tidak begitu tahu……..”
“hn, pokoknya ini masalah Maou-san kan? Emi sebenarnya tak usah pikirkan ini.”
Mungkin karena melihat Emi mulai berpikir, untuk meringankan suasananya, dia mencoba bicara dengan nada yang lebih santai.
“Mungkin saja aku terlalu banyak berpikir, tapi di saat seperti ini yang bisa ‘orang luar’ lakukan juga terbatas, kecuali memang ingin ikut campur sampai akhir, kalau tidak sebaiknya tak usah ikut campur dulu.”
Rika menepuk bahu Emi saat dia selesai bicara, dan bel berbunyi menandakan jam pulang kerja, Emi mengangkat kepala dan bilang :
“………tapi aku sudah bilang hari ini saat pulang aku akan pergi ke sana sebentar.”
“Hei! Emi, bukannya kau sangat bersemangat?”
Rika kali ini mengejek dengan bertepuk tangan.
“Cu-cuma janji karena terpaksa, kok.”
“Janganlah pernah bertindak secara emosi di depan Maou-san dan yang lainnya, ya.”
Rika kemudian mulai mengingatkan 1 per 1 kelemahan Emi.
“Bu-bukan begitu…….tidak kok, itu……tapi, bukannya begitu……..”
Biarpun sebelahnya ada Suzuno, juga belum tahu apa identitas asli Alas-Ramus, dengan hanya ada seorang anak kecil di benteng Raja Iblis, itu sudah cukup membuat khawatir.
Apalagi……
“Aku bukannya kasihan dengan anak itu, cuma merasa kalau saja anak itu bisa bahagia saat di sini, itu sudah cukup…….”
Rika yang melihat Emi mulai menjadi lemah lembut, melepaskan headsetnya dan tertawa getir.
“Tidak peduli itu baik atau jahat, Emi orangnya terlalu baik!”
Emi hanya menjawab dalam hati ‘ itu karena aku adalah pahlawan ‘.
“Tapi sejujurnya aku kurang tahu apakah ini baik atau buruk untuk anak itu, perlu tunggu mereka dewasa baru mengetahuinya. Biarpun begitu, Emi bisa menghadapinya dengan pikiranmu sendiri kan? Tidak peduli apakah Maou-san mereka merasa baik atau buruk.”
Rika memperlihatkan ekspresi yang kompleks saat dia menambahkan kata "tapi" yang besar pada akhir kalimat tersebut.
 “Emi, kau belum pernah ada pengalaman membantu teman menjaga peliharaan, 'kan.”
“Kenapa kau tiba-tiba bicarakan ini.”
“Dengan hanya memberi makan dia 1 atau 2 hari, maka akan menimbulkan hubungan rasa sayang, lho. Kalau sampai terlalu dalam, tunggu anak itu kembali ke orangtuanya yang asli, kau jangan menjadi sedih ya.”
“…….aku akan mengingatnya.”
“Hm, baik! Kalau begitu sudah saatnya kau pulang, bagaimanapun anakmu yang tersayang sedang menunggumu.”
“Rika!”
Mengejar Rika yang sudah mau pulang, Emi juga ikut melepaskan headset miliknya.
“Orangtua yang asli, ya…….”
Setelah berkata begitu, Emi menaruh headset kembali ke tempatnya, dan berdiri dari tempat duduknya.
“Hei, Emi, anggap saja untuk membuat kenangan indah, ini bagaimana menurutmu?”
Rika yang sudah mengganti bajunya di dalam ruang ganti, mengeluarkan tasnya. Setelah Emi mendekat, dia mengeluarkan secarik kertas yang kecil.
“Walau aku juga tidak terlalu mengerti, tapi sepertinya karena Docodemo juga ikutan, jadi aku dapatkan hadiah ini.”

* * *

“…………”
“…………”
“Apa ini, apa ini?”
Maou, Alas-Ramus dan Emi terdiam melihat susunan tiket yang tersusun rapi itu.
“Biarpun kadang-kadang, tapi semuanya sudah lengkap.”
Chiho yang disampingnya sepertinya sedang bingung mau menunjukkan ekspresi seperti apa.
Di atas meja itu tersusun 6 tiket Tokyo Big Egg Town – taman hiburan yang baru dibuka.
Di dalam amplop yang diberi Kizaki, di dalamnya selain ada tiket yang bisa dipakai untuk menikmati semua wahana permainan secara gratis, juga 2 buah tiket yang bisa dipakai untuk meringankan biaya. Tapi dibanding itu, yang didapat Emi dari Rika itu adalah 3 buah tiket yang bisa dipakai untuk meringankan biaya, tapi potongan harga 3 tiket itu bahkan lebih bagus daripada yang diberi Kizaki.
Pokoknya, Kizaki maupun Rika menyarankan untuk membuat kenangan yang indah.
Ya, soalnya tidak bisa terus mengunci Alas-Ramus di dalam kamar yang berukuran 6 tatami ini, kalau tidak suatu saat sepertinya Ashiya, akan stress.
“Eh, lumayanlah? Yang namanya taman hiburan, itu adalah tempat yang bisa membuat anak-anak bahagiakan? Tinggal pergi dengan tiket pemberian ini kurasa tidak akan mengeluarkan banyak biaya.”
Suzuno dengan santai bicara, dan yang lebih penting---
“Pergi jalan-jalan dengan papa dan Mama!”
Alas-Ramus sudah menganggap ini adalah wisata keluarga dan sangat bersemangat.
Dan yang dimaksud keluarga di sini itu tentu saja adalah Maou dan Emi.
Dapat tiket dari Kizaki saja rasanya aneh, tapi dapat lagi 3 tiket dari Emi yang diberi temannya, kebetulan yang luar biasa.
Maou dan Emi dari tadi menatap terus tiket itu dengan diam.
Walau 2 orang itu dari dalam hatinya ingin menolak sekali, tapi kalau sampai Alas-Ramus menangis maka masalah ini akan menjadi lebih repot lagi, jadi 2 orang itu sedang berada pada situasi yang sangat susah.
“……..huft~”
Di dalam situasi yang tegang ini, Maou dengan menyerah mengangguk-angguk kepala. Dan Emi hanya menghela napas.
“Kalau kau membawa barang seperti ini kemari, kau sudah tahu apa akibatnya kan?”
“A-apa………”
“Oi, Alas-Ramus, walau aku ingin membawamu pergi jalan-jalan, tapi Mama tidak ikut, boleh tidak?”
“Tak mau! Pergi sama-sama!”
Gadis itu dengan kuat menjawab dan hampir menangis.
Alas-Ramus meloncat dari lutut Maou dan berjalan ke arah Emi, Ashiya memindahkan  gelas teh yang hampir ditumpahkan Alas-Ramus.
“Kalau begitu, Alas-Ramus pergi dengan Mama, lalu aku tidak ikut gimana?”
“Tak mau!”
Gadis itu menjawab dengan semakin kuat dan menutup mulutnya.
“……….jadi, sekarang apa ada seseorang yang mempunyai ide yang bagus, bisa membuat Alas-Ramus setuju. Aku dan Emi akan berusaha membantu.”
“Sasaki Chiho, apa kau benar-benar tidak masalah dengan ittthuuu!”
Urushihara mencoba untuk menggoda Chiho dari dalam lemari, .tapi Suzuno, yang berdiri di samping pintu geser lemari, memukul untuk mendiamkannya.
“Ta-tapi……Raja iblis, Emilia juga Alas-Ramus…. bertiga…….itu berarti…….”
Chiho menghentikan Ashiya yang baru saja ingin mengatakan sesuatu.
“……..Yusa-san, apa kau bisa menemaninya pergi?”
“Eh, Chiho?”
Kalimat yang sama sekali tidak diduga ini, membuat Ashiya, Suzuno dan Emi terkejut.
“Itu, anggap saja untuk mengawasi Maou-san, jangan sampai dia melakukan sesuatu yang aneh.”
“………..”
“Karena, Maou-san pasti belum pernah ke taman hiburan kan? Membiarkan Maou-san yang hanya pernah pergi di tempat antara Sasazuka dan Harajuku, membawa Alas-Ramus jalan-jalan ke Tokyo, apa kau tidak merasa tidak tenang?”
Walau Maou bukannya benar-benar tidak tahu apa-apa, tapi karena Chiho mengatakan dengan serius, ini membuat Emi terdiam.
“Juga, sekarang masih tidak tahu alasan kenapa Alas-Ramus chan muncul di Jepang kan? Kalau masalah ini berkaitan dengan orang jahat seperti Sariel-san, bisa saja penjahat yang sedang mengincar Alas-Ramus-chan menyerang Maou-san saat dia sedang sendirian, bisa saja nanti Maou-san akan dibunuh, apa kau tidak peduli?”
“……….Chiho-san, memang cocok untuk jurusan hukum ya.”
Suzuno berbisik-bisik sendiri dengan suara yang tidak terdengar.
Walau belum pasti ada orang yang mengincar Alas-Ramus, tapi melihat situasinya sekarang, yang dikatakan Chiho tadi bukannya tidak mungkin.
“Tapi Chiho kau…….”
“Aku tidak apa. Kalau khawatir Alas-Ramus, luangkanlah lebih banyak waktumu untuk menemani dia, untuk tidak menyesal setelah semua ini berakhir, tolong bersemangat!”
Setelah selesai mengatakannya, Chiho sekali lagi menatap ke Emi dan Maou, dan akhirnya Emi dengan menyerah menundukkan kepala.

“Chiho-san!”
Jalan di Sasazuka sudah mulai gelap, di perjalanan pulang Chiho, dia mendengar seseorang memanggilnya dari belakang.
“Eh? Suzuno-san?”
Terdengar suara sandal kayu, Suzuno berlari mendekat.
“Ada apa? Apa aku ketinggalan sesuatu?”
“Eh, bukan, bukan begitu.”
Suzuno mengelap keringatnya sejenak, dan mulai bertanya :
“Walau rasanya aneh kalau aku menanyakannya……tapi apa aku boleh bertanya?”
“Mengenai apa?”
“Ya……itu, soal si Raja Iblis akan pergi dengan Emilia…..”
“Ah…….aku sedikit khawatir kalau Maou-san akan bertengkar dengan Yusa-san sih, dan mungkin nanti Maou-san akan ditebas……”
“Eh, itu, walau itu mungkin juga, tapi yang ingin kubicarakan bukan ini.”
Chiho merasakan perasaan yang nyaman pada Suzuno yang berlari mengejarnya, dan dengan senyum mengatakan :
“Aku sangat khawatir lho. Karena Yusa-san, tidak terlihat seperti sangat benci dengan Maou-san lho.”
Kalau kalimat yang tadi didengar Emi sendiri, mungkin saja akan pingsan, tapi Chiho tidak membantah.
“Tapi Maou-san, dia bilang percaya padaku.”
“Apa?”
“………hehe, bukan apa-apa.”
Chiho menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya.

 “Ngomong-ngomong, sekarang orang yang harusnya paling khawatir itu aku lho. Yusa-san sudah pulang kan?”
“Ah,nn. Bagaimanapun dia belum bisa memutuskan apakah harus menginap atau tidak……”
“Kalau begitu, setelah Yusa-san pulang, Ashiya-san mungkin saja akan mulai ribut dan bertengkar lho?”
“Alsiel?”
Suzuno merasa tidak tenang.


“Maou-san! Tetap saja terlalu bahaya. Tolong dipertimbangkan lagi!”
Setelah Suzuno pulang, yang dikatakan Chiho tadi langsung terjadi.
“Tenang sedikit, Emi juga tidak mungkin akan menebasku di kerumunan orang kan!”
“Meskipun Emilia tidak berbahaya, kemungkinan yang paling buruk pun, seperti yang dikatakan Sasaki-san mungkin akan ada orang jahat yang mengincar Alas-Ramus……”
“Bukannya sudah kubilang tenang sedikit! Kalau memang begitu, itu tak beda jauh dengan pergi atau tidak! Apa kau berencana sembunyi di gedung tua ini terus, menutup kaca dan mengantisipasi pembunuh dari Ente-Isla? Ah? Kalau kita mengunci diri sendiri di sini meringkuk ketakutan karena musuh yang tidak diketahui, kita akan mati kepanasan dalam oven ini lama sebelum kita diserang!”
“Bahkan seekor semut dapat membuat pukulan terakhir untuk menghancurkan dinding istana!”
“Kebalikannya! Itu seperti kita sedang mencoba untuk bertahan menghadapi peluru dengan tameng dari kertas! Kalau di dalam kamar terus, dan membuat Alas-Ramus menjadi seperti Urushihara siapa yang akan bertanggung jawab nanti!”
“Mereka berdua itu sama sekali beda! Alas-Ramus tidak pernah lupa untuk membawa piringnya padaku setelah selesai makan, dan pasti selalu berkata, 'terima kasih untuk makanannya'!”
“Apa maksudmu Urushihara lebih rendah dari Alas-Ramus?”
“Benar! Seperti yang anda katakan!”
“Urushihara!“
“Kalian berdua sama sekali tidak masuk akal!”
Karena kaca jendela yang tidak ditutup, Suzuno yang mendengar semuanya mulai sakit kepala.
“Apa yang sedang kalian pertengkarkan. Aku sampai bisa mendengar semuanya dari luar.”
“Suzu-neecha, syelamat dathang kembalhi!”
Tidak peduli pertengkaran orang dewasa yang seperti anak-anak itu, Alas-Ramus yang sedang merobek koran di depan pintu, mengangkat tangannya di depan Suzuno.
“I-iya. Terima kasih….aku pulang.”
Mungkin karena belum terbiasa dengan panggilan ‘Suzu-neecha’, wajah Suzuno memerah lagi.
“Suzu-neecha, liha! Sefi-ott!”
“Hm? Apa ini?”
Alas-Ramus menarik-narik bagian bawah yukata Suzuno, dan memberi lihat sebuah halaman berwarna pada koran bekas. Di situ tertera sebuah iklan mobil keluarga.
Itu adalah sebuah iklan yang mempromosikan sebuah mobil minivan berkapasitas luas dengan sebuah gambar banyak balon berwarna-warni keluar dari bagasinya dan karikatur kota di latar belakangnya.
“sefi-ott!”
“Eh………?Y-ya, aku mengerti.”
Tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Alas-Ramus, Suzuno menjawab dengan sembarangan.
“Di mana Emilia? Apa sudah pulang?" Suzuno bertanya pada Maou.
“Ah iya, kurasa dia pulang setelah Chii-chan. Kau tidak berpapasan dengannya?”
“Tidak, aku tidak berpapasan……..tapi tidak kusangka ternyata Alas-Ramus tidak menangis.”
“Karena dia sudah berjanji pada Emi akan menjadi anak yang pintar. Jadi rencananya akan dilaksanakan hari Minggu ini.”
“Maou-sama, tolong anda pertimbangkan sekali lagi…….”
“keteh, nezah, malkoo… tidak ada bina. Papa, tidak ada bina!"
“Hm? Ada apa?”
Alas-Ramus sepertinya sangat suka dengan iklan mobil itu, dan terus memanggil  Maou dengan terus memukuli koran itu.
Suzuno memperhatikan mereka berdua dan kemudian berbisik pada Ashiya :
“……….Alsiel, kalau kau begitu khawatir, kenapa tidak mengikuti mereka saja?”
Ashiya entah kenapa menjadi pucat karena usulan Suzuno.
“Kita masih punya beberapa kupon yang tersisa. Itu cukup untuk menguntit mereka.”
“Ta-tapi……..”
Ashiya mulai mengeluarkan suara aneh, dan menunjukkan ekspresi yang sangat kebingungan.
“Maou-sama punya tiket gratis, dan bahkan meskipun Emilia membayar untuk dirinya sendiri, Alas-Ramus adalah anak-anak, jadi diskonnya untuk anak-anak, dan sekalipun itu setengah harga, perjalanan bolak-balik dengan kereta akan… dan tergantung waktunya, mereka mungkin akan makan di luar juga. Kalau seperti itu…”
Walau Suzuno tidak bisa membaca pikiran orang, tapi sepertinya dia tahu apa yang sedang Ashiya pikirkan.
“Alsiel, kau lihat dengan lebih teliti lagi! Taman hiburan ini tidak ada yang namanya tiket masuk. Hanya saja perlu membayar di setiap wahana permainan yang akan diikuti. Jadi kalau memang mau mengikuti mereka, kau hanya perlu mengkhawatirkan tentang biaya perjalan pulang-perginya.”
“Hmm….be-begitu ya.”
“Kalau begitu pergilah. Aku akan jaga rumah seperti biasanya :”
Begitu Ashiya mulai serius mempertimbangkannya, Urushihara memanggil dengan nada senang dari dalam lemari. Tapi, suara tersebut membuat Ashiya meringis lagi.
“Tidak! Tidak bisa Urushihara, kau ini! Kau pasti akan memesan barang aneh lagi saat aku tidak ada dirumah 'kan!”
“……….”
Urushihara terdiam, sepertinya tebakan Ashiya benar.
“Kalau ingin pergi, pergi saja. Aku akan membantumu menjaga Lucifer.”
“Hei!”
“…….sebenarnya apa yang terjadi padamu……..”
Di dalam lemari terdengar suara protes yang amat menyedihkan. Ashiya dengan curiga menatap ke Suzuno.
Lalu Maou dengan diam-diam merapikan koran yang dimainkan Alas-Ramus.
“Aku juga tinggal di sini. Kalau memang terjadi sesuatu, apa kau merasa meninggalkan Lucifer sendirian di sini akan berguna?”
“……..Ugh……kau ini.”
“Hei, Hei, Ashiya? Kenapa kau menunjukkan ekspresi seperti ditusuk sesuatu?”
“Memang mungkin saja seseorang yan berkaitan dengan Alas-Ramus benar-benar muncul, tapi mereka mungkin belum tentu orang jahat seperti yang Chiho-dono katakan. Kalau orang tua aslinya datang untuk menjemput, yang bisa kita lakukan adalah dengan damai membiarkan Alas-Ramus pergi ke tempat asalnya. Tapi sebaliknya juga, kalau memang khawatir, akan ada musuh yang datang menyerang Alas-Ramus, musuh juga kemungkinan paling besar akan muncul di ‘gerbang’ yang pernah terbuka di Villa-Rosa Sasazuka. Kalau di saat seperti itu meninggalkan Lucifer sendiri di sini, apa kau pikir dia dapat menangani situasi ini?”
 “Ugh-mgmgmg….”
“Hei, Ashiya, aku ingin dia menarik kembali kata-katanya itu, ayolah, katakan sesuatu!”
“Yah, kau tidak perlu membuat keputusan sampai harinya tiba.”
“Ughmgmgmgmgmgmgmgmg….”
Meninggalkan Ashiya yang kepalanya sepertinya akan terbakar, juga Urushihara yang tidak bertanggungjawab, Suzuno membalikkan badannya dan menghadap ke Maou.
“Sedangkan kau, kau dapat mengandalkan Emilia untuk melindungimu.”
“Hm, benar. Apalagi kalau disekitar ada banyak orang, jadi tergantung dari situasinya, mungkin saja akan ada kesempatan untuk memulihkan sihir.”
Walau sedang menemani Alas-Ramus, tapi Maou tetap mendengar dengan serius.
“hoh, tiferez!”
Alas-Ramus tidak peduli dengan sekitarnya dan terus memainkan koran bekas yang di atasnya ada iklan mobil itu.
“Yah, semua kekhawatiran ini tidak akan membantu kita sampai sesuatu benar-benar terjadi. Jadi aku hanya perlu mengkhawatirkan situasi yang lebih realistis, bahwa hari-hari damai ini akan terus berlanjut.”
“Hm? Apa maksudnya?”
“Apa perlu dijelaskan lagi?”
Maou mengelus-elus kepala Alas-Ramus.
Alas-Ramus yang dari awal sangat fokus dengan koran bekasnya itu, sadar akan tangan Maou, dia berusaha ingin menggapai tangan itu.
“Aku akan bekerja keras, hanya itu saja. Kalau aku tidak bisa memberi makan mereka, semuanya tamat.”

“Ugh... capeknya.”
Setelah pulang pun Emi tidak melepaskan sepatunya, dan langsung terjatuh di depan pintu.
Alas-Ramus mungkin adalah anak yang sangat imut, tapi dia tidak ada hubungan dengannya sama sekali.
“Apa yang harus kulakukan…?”
Setelah mengeluh sebentar, dia melempar tasnya dan mulai melepaskan sepatunya.
“………..kenapa aku tiba-tiba jadi ragu begitu! Aku 'kan hanya berpura-pura menjadi Mama Alas-Ramus, dan aku sudah jelas bukan is-is-is…."
Hanya kata itu, biarpun sedang bicara sendiri, tapi kata itu tidak boleh keluar dari mulut.
“Mana mungkin begitu!”
Menghindari kata paling penting dari monolognya sekalipun tidak ada siapapun yang mendengarkannya, Emi menundukkan kepalanya, dan merapikan rambutnya yang tertempel di leher dan kening karena keringat.
“…….apa sebaiknya aku pergi ke salon ya………”
Di saat Emi dengan tidak sadar selesai menggumamkan kalimat ini, ponselnya mulai memainkan soundtrak Raging General dari dalam tasnya dengan keras.
“A~~haloooooo~~? Ini aku, Emeradaaa~~”
“Huh!? Emmy?Aku sama sekali tidak menantikannya!”
“A-apa yang sedang kau bicarakaaaan, dengan tiba-tiba? Oh, apa kau masih kerjaaaa?”
Emerada Etuva, rekan lama Emi, bertanya balik dari ponsel, kebingungan dengan pertahanan Emi yang aneh.
 “Ah, ti-tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja, aku baik-baik saja.”
“A-apa kau yakin~~? Kau tidak terdengar seperti biasanya.”
Walau cara berbicaranya sangat santai, namun dia juga intuisinya sangat tajam dan cerdik. Kalau tidak, maka dia tidak akan menjadi pejabat tingkat tinggi yang melayani langsung di bawah pemimpin bangsa terbesar di Benua Barat.
“Aku meneleponmu karena merasa sedikit khawatir denganmu~~”
“A-aku bekerja dengan baik kok! Juga tidak melupakan tugas sebagai pahlawan!”
Kalimat yang tadi didengar bagaimanapun seperti sedang mencari alasan.
“……..baik~~kalau begitu aku merasa tenang sekaran~~.”
“Huh?”
“Ah ‘alang-alang’ku~~bilang sepertinya pihak gereja mulai bertindak yang aneh-aneh lagi~~jadi aku ingin memastikan kau baik-baik saja~~”
Maksudnya ‘alang-alang’, mungkin adalah kode mata-mata atau sesuatu. Juga yang dimaksud dengan pihak gereja mulai bertindak aneh, ini pasti berhubungan dengan Suzuno dan rekannya.
“Ah~tenang saja. Walau aku memang ada hubungan dengan seseorang di gereja, tapi orang itu berbeda dengan Orba, dia itu orang yang baik.”
Emi menjelaskan mengenai kemunculan Suzuno juga penyerangan yang dilakukan Sariel.
Walau sejak awal Emerada sudah mulai mengantisipasi orang-orang gereja, tapi sepertinya dia juga tidak menganggap seluruh orang gereja adalah musuh dan setelah mendengar latar belakang dan insiden yang terjadi dengan Suzuno, dia sepertinya puas menerima penjelasan Emi itu.
“Sudah kubilang kan~~kalau begitu bukannya bahaya~~? Malaikat itu masih di tempat kalian 'kan~~?”
“Ya begitulah…….eh, tapi di Jepang juga ada orang yang kuat, kok. Soal Sariel mungkin kita bisa kesampingkan dulu.”
Yang dimaksud orang kuat itu tentu saja adalah manager Mg.Ronald, Kizaki.
“Tapi akhirnya, tetap saja tidak tahu kenapa mereka ingin merebut pedang sucinya.”
"Hm~~ngomong-ngomong, aku juga tidak pernah mendengar asal usul tentang pedang suci~~. Menurut pihak gereja, itu sepertinya adalah barang yang diberikan langit yang sudah sangat lama sampai sekarang~~nanti aku akan coba menyelidikinya.”
“Terima kasih. Tapi, kau masih punya pekerjaan di dalam negeri 'kan, jangan terlalu memaksakan diri. Apa pembangunan kembalinya lancar-lancar saja?”
“Orang-orang tidak pernah berhenti mengeluh soal itu~~jadi sebaiknya kau jangan bertanya~~~”
Di saat sebelum pasukan Raja Iblis muncul, hubungan antar 5 benua di Ente-Isla berjalan dengan baik. Setelah benua pusat yang mengatur segalanya kehilangan fungsinya sekarang, 4 benua lain saling terlibat dalam pertengkaran poitik untuk memperebutkan Isla-Centrum.
“Tapi, tidak kusangka bahwa Hakim gereja seperti ‘Sang Pencabut Nyawa-Bell’ adalah orang mungil dan manis? Akan bagus kalau dia bergabung dengan kita~~”
Untuk menghindari topik berat, Emerada dengan santai mengatakannya.
“Dari semua orang, seharusnya tidak mengatakan orang lain 'mungil dan imut'.”
“Di saat aku sedang berkeliling di kota~~aku sering dianggap ksatria penjaga sebagai anak yang hilang sih~~”
Seperti Suzuno, Emerada memiliki tubuh yang kecil dan wajah kekanakan, yang menyebabkan cukup banyak masalah. Penampilannya tidak menampilkan wibawa dan tanggung jawab yang diperlukan Penyihir Istana dari bangsa besar Saint Aire di Benua Barat.
“Kalau begitu, ada apa kau menghubungiku?”
“Ah~~iya~~selain itu~~aku ingin bertanya sesuatu padamu~~apa Laylah ada pergi ke tempatmu~~?”
“Eh?”
Emi terkejut karena topik yang tiba-tiba ini.
“Beberapa saat yang lalu~~saat dia bilang ingin berkeliling ke kota, dia tidak balik lagi~~. Dia sendiri yang berkata bahwa dia tidak dapat bergerak dengan bebas~~, jadi kupikir kalau dia pergi ke suatu tempat, itu mungkin ke tempatmu berada~~.”
“Yah, sebelum itu, aku saja tidak tahu wajah ibuku seperti apa…….eh? Tunggu sebentar, apa kau tinggal bersama dengan ibuku?”
“Tidak benar-benar bisa dibilang tinggal bersama………eh, walau tidak tahu bagaimana harus mengatakannya padamu, tapi~~ini lebih seperti memaksaku~~”
“Hmm………begitu ya.”
Bagi Emi sendiri, dia hanya bisa menjawab seperti itu.
“Po-pokoknya, akhir-akhir ini selain si Bell dengan Sariel tidak ada orang dari Ente-Isla yang datang kok…….ah.”
Setelah bicara sampai sini, Emi terpikir sesuatu.
“I-itu ya, walau aku tidak yakin apakah ada hubungannya……….”
Emi dengan sekejap selesai menjelaskan tentang Alas-Ramus. Tapi tentu saja dia kesampingkan soal dia dan Maou menjadi orangtuanya.
“Gadis kecil…….dalam bentuk apel~~? Aku tidak pernah mendengar manusia ataupun iblis seperti itu, dan selain Crestia Bell, seingatku tidak ada tanda-tanda benua bagian barat membuka ‘gerbang’~~”
“Begitu ya……benar juga sih.”
Ente-Isla sangat luas, dan ada tak terhitung banyaknya orang yang dapat menggunakan Gerbang. Emerada mungkin adalah seorang yang berkuasa di negaranya, tapi dia tidak mungkin dapat merasakan segalanya.
“Maaf. Aku hanya berpikir mungkin ada hubungannya, sepertinya aku sendiri yang terlalu banyak berpikir. Pokoknya, mulai sekarang aku akan berhati-hati. Walau bicaranya begitu, diriku yang sekarang juga tidak bisa apa-apa.”
“Tidak apa-apa~~ Dia itu selalu mandiri, orang yang semaunya saja, jadi mungkin saja hari ini dia akan pulang~~. Aku hanya berpikir ingin memberitahumu~~. Aku juga~~ mencarinya tanpa terlihat mencurigakan~~. Itu saja ya~~”
“Ah, tunggu sebentar, Eme……..”
Setelah selesai bicara, Emerada langsung menutup teleponnya. Sekarang tidak usah bahas soal Alas-Ramus, Emi belum pernah bertemu Laylah sebelumnya. Tapi karena wajahnya seperti apa pun tidak tahu, tidak ada yang dapat dia lakukan.
“……Huft, sudahlah. Karena itu ibuku, aku yakin tidak perlu khawatir.”
Emi dengan sekejap selesai membuat keputusan, dan Emi segera melepas sandalnya dan masuk apartemennya.
Dia dengan bersamaan membuka AC dan TV, dan dengan malas dia duduk dikursi.
“……….sudah kuduga………lebih baik nanti aku pergi ke salon. Aku tidak mau terlihat kecapekan," sambil merapikan poninya dengan tangannya yang satu, Emi bergumam.
Dan saat ini iklan TV kebetulan sedang menayangkan info info terkait ‘Tokyo Big Egg Town’.
Itu tentang kolaborasi yang aneh antara spesial efek pahlawan untuk anak laki-laki dan anime seorang pahlawan wanita untuk anak-anak perempuan.
* * *
Setelah itu, dengan damai 4 hari telah berlalu. Biarpun semua orang sedang mengantisipasi hal-hal berbahaya yang akan terjadi dengan Alas-Ramus, tapi yang membuat terkejut, ternyata apa pun tidak terjadi.
Bahkan ‘orang luar’ yang Emi beritahu situasinya pun belum mendapat informasi apapun.
Kalau ingin bilang ada perubahan, mungkin saja karena dibandingkan dengan Alas-Ramus, Urushihara sekarang dengan sendirinya akan menaruh piring bekas makannya ke bak cuci piring dan menyiramnya dengan air, juga kemampuan penduduk benteng Raja Iblis mengganti pempes semakin hebat.
Kalau merasa ‘kalau hari ini tidak ada apa-apa, mungkin saja besok juga tidak akan apa-apa’, itu merupakan bukti sudah mulai lengah, tapi hari-hari merawat anak dan bekerja tidak menunggu siapapun.
Akan tetapi, terlalu terbiasa dengan kedamaian atau tidak, mengetahui trik untuk merawat anak dan bekerja pada saat yang bersamaan adalah hal penting untuk menghindari kematian karena kelelahan. Suzuno adalah satu-satunya orang yang tidak perlu mengkhawatirkan masalah ini, tapi bahkan dia pun memiliki batas.
Dan akhirnya semua orang melewati  4 hari itu dengan ‘baik-baik saja’, menyambut pagi hari saat hari Minggu.
Maou dan Ashiya sudah terbangun jam 7 pagi karena dipaksa Alas-Ramus.
Sepertinya dia sangat mengingat hari ini adalah hari ‘jalan-jalan bersama dengan Mama’.
Maou sudah membuat janji dengan Emi yang dengan terpaksa menerimanya, pada pukul 1 siang, di Stasiun Kourakuen Tokyo Metro.
Itu karena bagaimanapun Emi tidak bisa meloloskan diri dari pekerjaannya saat pagi.
Di saat sudah memutuskan akan pergi ke Tokyo Big Egg Town sampai hari ini, situasi kerja Maou sangat sangat ekstrim.
Menurut Chiho dan yang lain yang bekerja di shift yang sama dengannya, Maou yang bekerja mati-matian seperti iblis Asura, yang bertangan enam dan berwajah delapan.
Bahkan gaji manajer sementara tidak jauh berbeda dengan pegawai biasa, dan Maou bekerja sekeras mungkin untuk meningkatkan upahnya meskipun hanya satu yen.
Walau waktu bermain antara Maou dengan Alas-Ramus berkurang karena ini, tapi karena Suzuno dan Ashiya biasanya bergiliran membawa dia pergi jalan-jalan atau ke MgRonald, jadi suasana hati Alas-Ramus tetap terlihat senang.
Lalu Emi akhir akhir ini tidak menampakkan dirinya. Hanya pernah menelepon sekali Suzuno, dan berbicara dengan Alas-Ramus lewat ponsel.
Mungkin karena Alas-Ramus masih sangat kecil, jadi hanya dengan suara saja dia sudah tahu kalau yang berbicara itu adalah Emi, jadi dia sama sekali tidak curiga.
Sekarang pukul sembilan pagi setelah sarapan.
“Papa, kitha bisha pegi? Bisha pegi tidakh?”
Alas-Ramus yang terlihat sudah tidak sabar ini terus menarik lengan baju Maou. Setelah mengataka padanya untuk menunggu setiap kali dia berbuat begitu, Maou teringat sesuatu dan menepuk lututnya.
“Ah, iya. Akhir-akhir karena sibuk kerja, aku hampir saja lupa. Ashiya, aku pergi sebentar.”
“Anda ingin pergi ke mana?”
“Aku mau ke tempat Hirose-san sebentar. Aku ingin membahas soal sepeda dengan dia.”
Dullahan II, yang dibelikan Suzuno untuk Maou, sebenarnya masih baru dan bahkan belum seminggu dipakai. Tidak jelas kenapa dia perlu membahasnya
“Karena gadis kecil ini.”
“Huh?”
Alas-Ramus jadi bingung karena kepalanya tiba-tiba dielus.
Di sisi lain, untuk menenangkan Alas-Ramus yang sudah tidak sabar ingin pergi, Maou dengan gadis itu dengan berpegangan tangan berjalan di distrik perbelanjaan Sasazuka.
Toko sepeda distrik perbelanjaan Bosatsu-Dori, Toko Sepeda Hirose, baru saja membuka penutup jendela tokonya.
“Hirose-san!”
“Hn……….? Oh, Maou-chan, pagi. Ada perlu ap……..?”
Hirose yang masih ngantuk, setelah melihat orang yang sedang bersama Maou, matanya terbuka lebar  seperti disirami air dingin.
“Hirose-san, sepeda yang kubeli beberapa saat lalu, masih bisa dipasang keranjang bawaan dan yang lainnya, 'kan?”
“Y-ya…….jadi, jangan-jangan kau…….”
“wapuu!”
Seperti merasa reaksi tegang Hirose menarik, Maou menggendong Alas-Ramus dan berkata :
“Apa ada tempat duduk sepeda yang bisa dipakai anak kecil ini?”
Maou meminta bantuan pada Hirose yang terkejut dengan serius. Dia kemudian menghabiskan waktu kira kira sejam melihat berbagai tempat duduk sepeda sebelum pulang.
“Yah, aku sudah menduga dia akan berekasi seperti itu, jadi aku sudah siap.”
Matahari belum terbit melewati depan asrama, Maou sedang memasang tempat duduk untuk anak kecil yang dibelinya seharga 5000 yen di bagian dekat pegangan Dullahan II.
“Anda seharusnya tidak melakukan itu, Maou-sama. Bagaimana kalau muncul rumor?”
“Jangan khawatir, aku sudah beritahu Hirose-san bahwa dia adalah anak kecil yang dititipkan keluargaku.”
Ashiya terlihat tidak senang, tapi Maou tidak peduli.
“………Maou-sama, apa boleh bertanya 1 hal?”
“Apa?”
“Aku seharusnya menanyakan ini lebih cepat, tapi kenapa anda memutuskan untuk merawat Alas-Ramus, Maou-sama?”
“Kau tidak menyukainya?”
“Tidak, bukan begitu, hanya kurasa kalau membiarkan Crestia yang mengurus juga tidak apa-apa…….”
“Yah, kurasa pada akhirnya, hanya kau, Suzuno dan Chii-chan yang menjaganya. Maaf.”
“I-itu, bukan begitu…”
“Aku hanya merasa kalau akhirnya memang terjadi sesuatu, lebih baik biar aku yang bertanggungjawab saja. Aku tidak punya bukti bahwa akan ada sesuatu yang terjadi atau petunjuk apakah itu, sih.”
Maou mulai mengumpulkan potongan pembungkus vinyl dan penutup berbentuk segienam tempat duduk itu.
“Ada beberapa hal yang membuatku penasaran.” Kata Maou sambil menepuk keningnya, dan kembali ke dalam apartemen meninggalkan Ashiya yang tidak puas.
Ashiya dengan bergantian melihat ke kamar yang ada di lantai 2 dan tempat duduk berwarna emas yang baru, sambil berpikir sambil berjalan ke kemar.
 “Maou-sama… kumohon, kumohon berhati hatilah! Dia adalah si Pahlawan! Kita tidak tahu cara kotor apa yang dia mungkin lakukan!”
Ashiya dengan mati matian menceramahi Maou yang sedang bersiap-siap untuk pergi. Oran lain mungkin merasa itu kebalikkannya. (yang dimaksud kebalikkan itu adalah harusnya Raja Iblis yang menggunakan cara kotor, bukan pahlawan yang menggunakannya.)
“Huft, kalau memang terjadi sesuatu, aku akan meminta tolong pada polisi, jadi tenang saja. Tidak peduli terjadi apa pun, aku pasti akan menjaga Alas-Ramus.”
Maou meninggalkan Istana Raja Iblis, tidak membuat Ashiya merasa lebih baik sedikit pun.
Kalau Maou yang dulu, dia pasti akan berjalan ke Stasiun Shinjuku yang satu stasiun lebih jauh dari Sasazuka, kemudian turun di Stasiun JR Suidoubashi, stasiun kereta di sebelah Tokyo Big Egg Town, dan menghemat biaya kereta 120 yen. Tapi kali ini dia membawa seorang anak kecil. Lebih aman untuk naik kereta dari Jalur Keioushin di Stasiun Sasazuka, kemudian berganti ke Jalur Kereta Shinjuku yang dijalankan pemerintah metropolitan dan berganti ke Jalur Kereta Nanboku di Stasiusn Ichigaya, dan akhirnya turun di stasiun lain yang dekat dengan taman, Stasiun Tokyo Metro Kourakuen.
Walau Maou tidak ingin diceramahi karena telat, namun matahari ternyata sudah terbit tinggi di atas langit, dengan tidak berbelas kasihan menyinari seluruh kota.

Di tas tangan yang biasa dibawa Maou saat kerja, di dalamnya ada gelas, tisu basah, popok ekstra, dan bahkan cairan oral rehidrasi untuk anak-anak. Kalau sudah disiapkan lengkap begini, tapi kalau untuk menghemat biaya bepergian dan menambah resiko dia pingsan karena kepanasan, itu malah akan sia-sia saja.
Alas-Ramus terlihat senang dan sangat bersemangat karena ini pertama kalinya dia naik kereta, tapi saat kereta masuk ke terowongan bawah tanah, dan di luar terdengar suara ‘tong tong tong’, dia terlihat sedikit takut.
Setelah dikatakan betapa imutnya Alas Ramus oleh sepasang orang tua yang naik kereta di Stasiun Kereta Keioushin Shinjuku, mereka berganti kereta di Jalur Nanboku di Stasiun Ichigaya, yang secara langsung dihubungkan dengan jalur Shinjuku yang dijalankan pemerintah metropolitan, yang tidak pernah dilakukan Maou sebelumnya. Mereka kemudian tiba di Stasiun Kourakuen, dan naik eskalator panjang dari lantai dasar.
Di saat lift baru naik sampai setengah eskalator, terlihat di bawah ada sebuah bayangan yang sedang dengan khawatir menatap ke bagian belakang Maou.
“…….tidak ada orang yang mencurigakan………Maou-sama, Ashiya akan melindungi belakang punggungmu.”
Orang itu adalah Ashiya. Dia sangat payah dalam membuntuti orang, persiapannya hanya menggunakankan sebuah kacamata hitam sebagai penyamaran, tapi malah dia sendiri yang terlihat sangat mencurigakan, sangat menarik perhatian sekitarnya. Belum lagi, dia telah gagal dalam misinya dengan hanya fokus pada Maou dan bukan sekitarnya.
 “Ashiya-san, sosokmu yang sekaranglah yang paling mencurigakan daripada yang lain lho.”
Ashiya membeku karena mendengar suara orang itu dari belakang.
“Lepaskan kacamata hitam-dari-toko-seratus yen itu. Sama sekali tidak cocok denganmu, malah mencolok sekali jadinya.”
“Uwaaaaa! Sa-Sasaki-san!”
Apakah ini benar-benar bisa diterima untuk seorang ahli strategi Raja Iblis untuk diserang oleh seorang gadis SMA dengan mudahnya?
 “Aku naik kereta yang sama denganmu lho. Suzuno-san yang memberitahuku…….ngomong-ngomong, kalau memang terjadi sesuatu nanti, aku rasa dibanding Maou-san, tetap saja lebih bermasalah di bagian Ashiya-san, 'kan?”
“Ma-maksudnya?”
“Ashiya-san tidak punya ponsel, 'kan. Kalau memang terjadi sesuatu, kau berencana menghubungi yang lain lewat apa?”
“Eh, a-aku berencana menggunakan telepon umum…”
“……….sudah kuduga pasti begitu… Karena kau tidak punya cara cepat untuk menghubunginya, itu berarti Maou-san tidak boleh tahu Ashiya-san sedang membuntutinya lho.”
“Ah,hm, ya, karena kalau ketahuan oleh Emilia, akan menjadi sebuah masalah………”
Walau perhitungannya ini benar, tapi biar pun begitu, kenapa tidak lebih banyak mempersiapakan sesuatu untuk membuntuti sih?
“Kalau memang terjadi sesuatu nanti, aku akan meminjamkan teleponku. Ayo pergi! Kita kehilangan mereka!”
Terdorong kata-kata tegas Chiho, Ashiya mengikutinya dengan cepat, tapi dia ingin menanyakan sesuatu.
“Tapi, itu………kenapa Sasaki-san………”
Melihat ekspresi Chiho yang terlihat tidak senang waktu membalikkan kepalanya, Ashiya langsung merasa menyesal karena pertanyaannya itu.
“Walau aku bisa mengerti, tapi tetap saja rasanya aku sangat khawatir!”
“……….maaf.”
Untuk menghindari kehilangan Maou, Chiho dan Ashiya berlari di atas eskalator.
Emi dan Maou berjanji bertemu di depan tempat pembelian tiket Jalur Marunouchi di Stasiun Kourakuen.
Setelah Maou melihat sebentar peta taman hiburan, dia pun menggandeng tangan Alas-Ramus dan naik tangga. Tempat pembelian tiket Jalur Nanboku Stasiun Kourakuen berada di bawah dalam stasiun. Maou khawatir mungkin Alas-Ramus akan merasa lelah, namun dia malah berada jauh di depan Maou, menggerakkan kaki dan tangan kecilny tanpa lelah sama sekali.
Chiho yang melihat itu dengan tidak tahan mulai tersenyum karen pemandangan imut itu, tapi kemudian.
“……….!”
“A-ada apa, Sasaki-san?”
Tapi setelah melewati tangga itu, Chiho mulai menelan ludah
Dia menyadari seorang perempuan yang pakaiannya terlihat modis dan rapi, sedang dengan bosan menatap jam tangannya.
Perempuan itu menggunakan sebuah topi yang lebar dan terlihat modis, dan mengikat rambutnya yang biasanya hanya dibiarkan tergerai, tanpa diragukan lagi adalah Emi.
Alasan Maou dan Ashiya belum ketemu Emi, itu karena penampilannya hari ini berbeda jauh  dengan penampilannya yang biasa.
“Yusa-san…….tanpa diduga sangat antusias.”
Untuk menghias bagian leher yang kosong karena mengikat rambutnya, Emi bahkan menggunakan kalung hias yang besar. Itu adalah penampilan seorang perempuan dewasa sempurna, cocok sampai Chiho terpana melihatnya.
“Hm……..? Jangan-jangan itu adalah Emilia? Hmph, tak kusangka dia menggunakan pakaian yang terlihat tidak cocok sama sekali untuk bertempur, kesadarannya sebagai pahlawan sepertinya kurang.”
Melihat ke arah tatapannya Chiho, Ashiya yang akhirnya melihat Emi itu memprotes tidak tepat sasaran.
“Ashiya-san, apa yang dipakai Maou-san hari ini…?”
“Tidak berbeda jauh dengan biasanya. Sama sekali tidak ada alasan untuk berdandan untuk Emilia, kami bahkan tidak punya uang untuk membeli pakaian musim panas, karena pengeluaran kami bertambah sejak Urushihara bergabung.”
Chiho mulai merasa iri, berharap Maou tidak berdiri sama-sama dengan Emi yang berdandan cantik ; namun setelah melihat Maou-san yang mengenakan baju UNIxLo, dia mulai merasa Maou-sangat tidak cocok dengan Emi yang mengenakan baju bagus, dan merasa khawatir terhadap selera fashionnya---Chiho merasa ragu karena 2 perasaan ini yang bercampur aduk.
Sepertinya Alas-Ramus lebih dulu menemukan Emi dibanding Maou. Menggandeng tangan Maou sambil berlari ke arahnya. Melihat punggung Maou tidak memperlihatkan bagaimana reaksinya.
Seperti yang diduga, setelah Emi melihat Alas-Ramus dengan cepat ia tersenyum, namun dengan sekejap mulai memasang muka kesal setelah melihat penampilan Maou.
Situasi ini dari awal hingga akhir dilihat Chiho dan Ashiya yang sembunyi di balik tiang, tapi kemudian,
“Hohoho, menurut kalian bagaimana penampilan Emi hari ini? Pakaian Emi hari ini benar-benar hebat, 'kan?”
Di saat sadar ada seseorang yang tiba-tiba memegang bahu, 2 orang itu dengan terkejut melihat ke belakang pelan-pelan. Dan yang muncul di depannya adalah-----
“Ah……..ternyata teman Yusa-san…….”
“Su-Suzuki san!?”
Dengan erat memegang bahu Chiho dan Ashiya, Suzuki Rika dengan diam diam tersenyum.
Perempuan di dunia ini, sepertinya lebih pandai menyelinap muncul di belakang iblis.
“A-Apa yang kau lakukan di sini?”
Chiho melihat ke Rika dan Emi yang jauh dengan bergantian.
“Tidak, tidak, aku juga ingin bertanya begitu. Aku malah berpikir kenapa kau bisa bersama dengan Ashiya-san, tapi diluar dugaan, yang kalian buntuti itu Emi dan Maou 'kan? Jadi kupikir untuk menyapa kalian.”
Ashiya tiba-tiba menyadari sesuatu.
Alasan kenapa memilih jam sekarang hari ini, itu karena Emi masih bekerja sampai siang. Jadi seharusnya Emi tidak ada waktu untuk pulang ke Kota Eifuku, jadi sepertinya dia langsung menggunakan penampilan yang sekarang pergi bekerja.
“Yah, Aku juga sangat terkejut! Soalnya bagaimana pun Emi tidak pernah berdandan seperti itu sebelumnya. Walau sekarang kurang kelihatan, tapi dia kemarin pasti pergi ke salon," Rika yang bersikap aneh, dengan sengaja mengeluarkan kata-kata untuk melihat reaksi Chiho.
“Be-begitu ya?”
“Hm? Apa itu mengganggumu?”
“A-a-aku, eh, tidak, ka-kalau bilang tidak memikirkannya, eh, itu……………”
Ditambah pengaruh cuaca yang panas, wajah Chiho sekejap menjadi merah. Melihat reaksi yang jelas dan diluar dugaan ini, membuat Rika menyerah.
“Hehe, maaf, maaf. Sepertinya aku bercanda keterlaluan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Emi berdandan seperti itu hanya karena dia keras kepala.”
“………huh?”
“Pada dasarnya hubungan Emi dan Maou-san tidak begitu baik kan? Itu hanya senjata supaya tidak direndahkan oleh lawan. Tapi ya…......”
Pandangan Rika sedikit berpindah ke Maou.
“Kalau terlalu berusaha keras, malah jadi menyerang balik, deh. Sepertinya yang menang adalah Maou-san yang datang dengan santai.”
Saat ini Emi, Maou dan Alas-Ramus dengan bersamaan mulai berjalan ke bagian timur Tokyo Big Egg Town.
Setelah Chiho membalikkan kepalanya, terlihat sosok Alas-Ramus yang sedang berpegangan tangan dengan ‘Papa’, ‘Mama’ dan berjalan di tengah, membuat hatinya menjadi ragu.
“Kalau begitu selanjutnya……..”
Rika tersenyum kecil.
“Apa yang akan kita lakukan sekarang?”

Desain Tokyo Big Egg Town, merupakan lapangan pemain baseball profesional.
Ini adalah taman hiburn besar di dalam kota, dan memiliki berbagai macam atraksi dari pusat perbelanjaan di sebelah Stasiun Kourakuen, The Lagoon, ke area di sekitar Big Egg Hotel.
Tidak begitu banyak penjaga, menggunakan sistem berbayar untuk masing masing wahana permainan, jadi pengunjung bisa dengan bebas dan santai untuk menggunakannya.
Mall di sisi berseberangan dengan The Lagoon dan Stasiun Kourakuen juga memiliki toko yang menjual barng untuk segala usia , yang juga merupakan tempat belanja yang populer.
Selain itu ada juga pertunjukan pahlawan yang diadakan saat hari libur, pertunjukkan ini sangat menarik perhatian.
Walaupun ada pengguna kartu yang bisa menikmati semua wahana permainan dengan gratis tetap saja mereka perlu membayar biaya lain, juga panggung yang dipakai untuk pertunjukan pahlawan, setiap kali tampil selalu menarik perhatian anak-anak.
Di taman hiburan yang mengundang tawa dan semangat semua orang, Maou dan Emi tidak tertawa dan hanya diseret Alas-Ramus kemana-mana.
Air mancur di area luar lantai dua The Lagoon memainkan musik pada waktu tertentu, memunculkan pertunjukan tarian air mancur. Kebetulan, itu terjadi tepat pada saat mereka bertiga melewatinya, dan begitu banyak pancaran air menyembur, membuat bentuk-bentuk berbeda dan menghilang.
"ooooou…!"

“ou……….!”
Membuat Alas-Ramus yang melihatnya sampai matanya bersinar sinar.
“Hei.”
“Apa?"
Melihat bayangan punggung itu, Maou yang sedikit kepanasan itu dengan malas menjawab suara Emi.
“Sinar matahari hari ini terik sekali, kau memberi dia krim tabir surya, 'kan?”
“Ah~itu…kubaca di suatu tempat bahwa itu tidak apa-apa jika diresepkan dokter, tapi…"
Menurut Urushihara, berdasarkan banyak pendapat orang adalah tabir surya anak-anak kecil kemungkinannya menyebabkan masalah kulit jika diresepkan dokter daripada barang biasa yang dapat dibeli di apotek..
Tapi Alas-Ramus tidak bisa menggunakan asuransi kesehatan Maou. Kalau membiarkan dia pergi ke dokter dengan tidak menggunakan asuransi kesehatan, sepertinya akan sangat bermasalah bagi ekonomi benteng Raja Iblis, jadi tidak bisa membantunya menyiapkan krim tabir surya.
“Kalau begitu, pikirkanlah cara lain atau setidaknya mebelikannya sebuah topi. Lantai 2 The Lagoon ada toko pakaian, jadi kita akan pergi ke sana dulu. Kalau sudah putuskan mau mengadopsinya, tolong dengan serius bertanggungjawablah.”
Sikap bicara Emi sangat tegas dan tidak bisa membantah. Jadi Maou hanya bisa dengan jujur menjawab :
“Ya, maaf…….Hei, Alas-Ramus, kau senang?”
“ooooou…ooooooooh….!”
“Masih terpesona dengan air mancur, ya.”
Semenara itu, Ashiya, Chiho dan Rika membuntuti mereka dari teras yang mengarah ke bagian luar lantai kedua di mana Maou dan yang lainnya ada.
“Hm~ternyata mereka seperti keluarga normal,ya. Gadis kecil itu sepertinya sangat dekat dengan Emi.”
“Lu-lucu sekali.”
Alas-Ramus dengan tidak mengedipkan mata melihat air mancur terus, Chiho yang melihat itu pun menghela napas.
Walau Ashiya masih dengan teliti memperhatikan sekeliling Maou dan keamanannya. Tapi, dia tidak lupa untuk memastikan supaya Maou tidak boros menghabiskang uangnya.
Sementara itu, ketiga orang itu sama sekali tidak sadar reaksi orang-orang yang membuntuti mereka, atau kenyataan bahwa mereka sedang dibuntuti. Setelah melihat pertunjukkan air mancur, mereka berpegangan tangan berjalan ke toko di The Lagoon untuk membeli topi Alas-Ramus.
3 orang yang tersisa itu terus mengikuti dari belakang.
“Oh, ada UNIxLO.”
Maou menyadari sebuah logo yang tampak tidak asing di dalam toko pakaian The Lagoon.
“Tidak, kenapa kau hanya memakai UNIxLO.”
Emi dengan terang-terangan menolak.
“Karena bajunya  murah dan juga praktis…….”
“Aku bilang ya, kau juga kadang-kadang lihatlah ke toko lain. Walau aku tidak tahu apa yang kau bayangkan tentang toko-toko lain, tapi pada dasarnya barang-barang di tempat lain tidak semahal yang kau pikir.”
“Apaaa?”
“Jangan 'apaaa' denganku! Bagaimana nanti Alas-Ramus tumbuh dan meniru sikap kikirmu itu!”
“Bukannya hemat seperti diriku itu baik?”
“…ayo pergi, Alas-Ramus. Jangan pedulikan orang itu.”
“………..?”
Tangan Alas-Ramus ditarik Emi, dengan cepat berjalan ke eskalator, tiba di lantai yang banyak toko pakaiannya, termasuk UNIxLo.
“Hmm…ini masih agak besar untukmu.”
Emi mengambil beberapa pakaian anak-anak, mulai mengukur ukuran tubuh Alas-Ramus.
“Tapi sebentar lagi kau juga akan tumbuh besar, yang penting tidak kena lantai, jadi besar sedikit tidak apa.”
Setelah selesai bicara, Emi melirik ke Maou.
“……..kenapa kau tidak katakan apapun? Saat aku bilang 'sebentar', aku berbicara tentang beberapa bulan.”
“Kalau kau menungguku untuk mengatakan sesuatu padamu, tak perlu menunggu. Aku tidak akan bicara padamu kalau aku bisa.”
“Kau berencana menjaga dia sampai kapan?”
Emi dengan cepat sambil bicara sambil memilih bebrapa baju yang kelihatan cocok dengan Alas-Ramus, dan menaruhnya di atas bahunya.
“…siapa tahu? Mungkin saja orangtuanya yang asli akan muncul hari ini, tapi juga mungkin saja akan menjaganya sampai dia menikah nanti.”
“Menikah ya….walaupun menanyakan ini begitu agak kurang kerjaan, tapi apa kau serius ingin menghabiskan sisa hidupmu di Jepang terus?”
“……Oh, bagaimana dengan yang ini? Ini bahkan bisa menutupi bahunya dari matahari!”
Sebuah topi yang diambil Maou saat dia selesai bicara, di luar dugaan ternyata sangat cocok dengan Alas-Ramus.
“Walau seharusnya bukan aku yang katakan ini, apa kau tidak khawatir dengan bawahan yang kau tinggalkan?”
Jawaban Maou-sangat singkat dan padat.
“Oh, kalau soal itu, aku sudah menyerah.”
“…Hah?”
“Pitanya ada yang warna merah dan kuning, Alas-Ramus suka yang mana?”
“mm~ malkoo!”
Alas-Ramus menunjukkan ke topi yang berpita warna kuning.
Saat Emi tidak membalas jawaban dingin yang bisa diduga dari si raja iblis, Maou mengangkat bahu dengan malas.
“Ayolah. Tidakkah kau tidak tahu arti Emerada dan Alberto, juga Orba dan Suzuko ke sini?”
Maou dengan santai melihat ke harga topi jerami yang dia pilihkan untuk Alas-Ramus, dan dengan terkejut membuka matanya lebar lebar.
“Satu tahun, sebenarnya terlalu panjang. Pasukan Raja Iblis yang waktu itu menyerang Ente-Isla, mungkin sudah dimusnahkan. Kalau tidak, yang disebut-sebut sebagai aset tempur manusia yang paling terpenting, mana mungkin bisa dengan santai berlibur ke dunia asing.”
Ketiga iblis tingkat tinggi dan Lucifer telah secara resmi dimusnahkan, dan karena itu rantai komando pasukan raja iblis telah hancur total. Itu bukanlah cerita yang sulit untuk dipercayai. Tetapi,
“A-aku mengerti. Tapi, rasanya sedikit menyedihkan, hancur begitu saja tanpa pemimpin. Kurasa itu yang bisa kau duga dari para iblis.”
Karena Emi tidak ada niat untuk kasihan dengan Maou, jadi dia menyindir seperti biasa.
“Aku tidak bisa katakan apapun. Mereka memang tidak bisa melakukan apapun tanpa aku. Tapi kalau kembali ke sana dengan tanpa mengumpulkan cukup kekuatan, yang ada hanya akan ada pengkhianatan. Walaupun begitu………”
Maou sepertinya sudah memutuskan, meninggalkan Emi dan Alas-Ramus, mengambil topi jerami dan berjalan ke kasir.
“Biarpun kekuatan iblisku sudah kembali, aku yang sekarang, pasti tidak bisa menaklukkan dunia.”
“Memang benar, pada dasarnya iblis bukannya semuanya sudah dimusnahkan, kau tidak bisa menyebut dirimu sendiri sebagai raja iblis.”
“Iblis sudah musnah semuanya? Hal bodoh apa yang kau katakan?”
Maou membalikkan bada dengan ekspresi yang terlihat seakan dia menganggap Emi benar-benar bodoh :
“Saat kalian manusia pergi perang, apakah setiap orang dari kalian pergi ke medan tempur?”
“Apa?”
Biarpun Emi sekejap tidak mengerti apa yang Maou katakan, tapi Maou tidak peduli, berjalan ke kasir.
Karena akan langsung dipakai, maka dia meminta karyawannya menggunting labelnya, dan berjalan kembali memakaikan topinya pada Alas-Ramus.
“hehehe, apa aku lucu?”
Alas-Ramus sedang bercermin di depan cermin toko, dan terus-terusan menatap ke Maou.
“Ya, kau terlihat sangat lucu!”
Dia menghilangkan suasan tegang yang ada beberapa detik yang lalu, dan wajah Maou mengendur sampai terlihat malu-malu
“Hei, bajunya lain kali aja belinya. Ngomong-ngomong, sudah saatnya makan siang. Sekarang wahana permainan sepertinya lebih sepi? Hei, Alas-Ramus, kau ingin bermain apa?
“ithu, papa! Yang ithu!”
Alas-Ramus menunjuk ke luar The Lagoon, terlihat wahana permainan terjun bebas.
“Hm~itu diumurmu yang sekarang masih tidak bisa. Ayo kita jalan-jalan ke sekitar dulu.”
Emi dengan ekspresi seperti telah ditipu, dengan tidak bisa mengatakan apa-apa ikut di belakang kedua orang itu.
 Lalu 3 orang yang ada dibelakang, terus menatap Maou dan yang lainnya.
“Padahal baru beli topi tapi kenapa mereka menunjukkan ekpresi yang galau.”
“Eh…….jangan-jangan karena topi itu sangat mahal.”
Setelah Ashiya mendengar percakapan Rika dan Chiho, Ashiya pun dengan iseng mengambil topi yang sama dengan yang dibeli Maou untuk Alas-Ramus---
“Du-dua ribu li-lima ratus, yen.”
Lalu mengeluarkan suara yang terdengar seperti tercekik.
“Penghematan dari tiket gratis ludes dalam sekejap…”
“Eh? Ashiya-san, sepertinya wajahmu terlihat pucat? Apa mau minum sesuatu?”
“Ha,hahaha, tidak perlu, ja-jangan khawatir. Ngomong-ngomong, sudah saatnya kita pergi, hahahaha.”
Ashiya dengan menunjukkan senyuman yang kaku dan menaruh topi kembali pada tempatnya, mengajak Rika pergi. Chiho pun melihat topi dengan label yang tertulis "Topi baru untuk musim panas ini‼". Dia melihat label harganya, setelah itu menghapus air mata, dan tidak mengatakan apapun lalu menaruhnya kembali.
“Tapi, rasanya tidak begitu menarik. 2 orang itu di luar dugaan ternyata dewasa juga. Aku awalnya pikir kalau terjadi sesuatu maka aku akan ikut campur, tapi anak kecil memang bisa membuat orangtuanya damai ya.”
“Hah? Suzuki san, bukannya kau datang ke sini hanya ingin menganggu?”
Chiho tidak tahan dan bertanya.
“Ayolah, Chiho~ kau pikir kakak ini siapa? Hm?”
Rika dengan tertawa memainkan pipi Chiho.
“Awuuu, maafu…….”
“Walaupun aku bukannya sama sekali tidak ingin begitu, tapi sekarang jam pulangku dan aku bosan. Aku datang untuk mengawasinya mengurus anak.”
“Mwhewhangawhati?”
“Benar. Gadis kecil itu keponakan Maou-san kan? Kalau seorang anak kecil seperti itu yang begitu dekat tiba-tiba pergi, Emi akan sangat terluka lho? Saat itu terjadi, kalau ada orang yang mengerti dengan situasi seperti ini menemaninya pergi minum, bukannya bagus?”
“Hm……., benar juga.”
Pipi Chiho yang akhirnya dilepaskan itu, dia meneka-nekan pipinya dengan kedua tangannya.
“Daaan, aku sangat penasaran Emi akan menampilkan ekspresi seperti apa pergi dengan seorang pria.”
“T-ternyata kau memang mengganggu! Kau mencubitku dengan sia-sia!”
“Kau salah, Chiho. Saat seperti ini seharusnya mengatakan ‘menguntit’ baru benar.”
“Malah lebih buruk lagi!”
“Kau ngomong begitu, tapi bagaimana denganmu Chiho? Kau juga bukannya keluarga Maou-san, kenapa kau dengan curi-curi mengikuti mereka dari belakang?”
“A-a-aku bukannya, itu…………”
“Ayolah, aku tidak akan mengatakannya pada siapapun, curhat saja dengan kakak sini.”
“………aku senang kalian berdua sangat bersenang-senang.”
Ashiya dengan tidak bertenaga mengatakan itu di belakang Rika dan Chiho yang sedang bercanda.
“Ayolah, jangan bicara begitu!”
“Uwaa!”
Ashiya mengeluarkan suara terkejut karena tiba-tiba ditarik bahunya.
“huft, aku tahu Emi adalah salah satu alasan kenapa perusahaan Ashiya-san bangkrut. Tapi kalian sekarang bukan sainganmu, 'kan? Dia tidak akan memakanmu, jadi apa perlu seserius itu?”
Walau lawan merupakan musuh, tapi jangankan dimakan, ditebas juga tidak heran, tapi Ashiya tentu saja tidak akan memberitahu Rika.
“Aku sarankan Ashiya-san membaca buku karangan Soseki Natsume.”
“Ke-kenapa tiba-tiba bicara begitu?”
“Hn~karena di dalam ada banyak kelimat yang coock dengan Ashiya-san yang menjalani hidup dengan keras?”
Dengan senang melihat ke Ashiya yang kebingungan sebentar, Rika akhirnya membiarkan Ashiya.
 Menghadapi Rika yang pandai membaca isi hati orang, Chiho dan Ashiya hanya bisa dipermainkan, oleh karyawati Kaisai yang agresif dan tidak ragu-ragu mengungkit titik kelemahan orang
“Tapi ya…….”
Rika mulai bergumam cukup pelan sampai Ashiya dan Chiho, yang sedang menatap satu sama lain dengan ekspresi bingung, tidak dapat mendengarnya  :
“Aku lebih suka orang seperti itu daripada beberapa orang bodoh yang tidak hidup demi apapun.”

Alas-Ramus dengan sangat senang memegang balon yang berwarna warni di tangannya.
Dia sepertinya sangat menyukai benda-benda berwarna cerah, dan membuat Maou membelikannya balon berkali-kali di sepanjang jalan.
“Ya ampu….sepertinya aku bisa melihat masa depan sosok dirimu yang menjadi Papa tak berguna yang tidak bisa berkata tidak pada anakmu," gumam Emi, sambil menggunakan lembaran promosi The Lagoon untuk mengipasi dirinya, sambil minum menghilangkan dahaga.
Saat Emi melihat Alas-Ramus menaiki wahana kuda-kudaan kecil sambil bersorak gembira bersama Maou, yang tidak terlihat tidak senang, dia merasa ingin meninggalkan segalany dan kembali ke Ente Isla.
Kata-kata yang Maou bicarakan tadi, sampai sekarang terus terpikir oleh Emi.
Itu bukan hanya karena jengkel.
Soal tentang iblis dibasmi oleh manusia, Emi hanya merasa senang, atau dengan kata lain ini lebih alami.
Maou menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada saat-saat penting, jadi sulit untuk dikatakan apakah yang sebenarnya dia pikirkan, tapi di permukaan, dia tidak menunjukkan emosi kesedihan atau kemarahan karena dia telah memprediksi bahwa bawahannya telah dimusnahkan.
Tapi hanya karena sebuah kalimat dari Maou, membuat Emi mulai merasa berhati-hati terhadap sesuatu yang dia anggap tentu saja dulu.
Kalau dugaannya tentang sesuatu yang dia yakini sama jelasnya dengan bernapas atu minum air…
“…….Hei……Hei, Emi!”
“…….Hah? Ah, maaf, ada apa?”
Di saat Emi sedang memikirkan itu, entah sejak kapan Maou sudah turun dari kereta kuda yang berputar, dan sedang berdiri di sampingnya.
“Ada apa? Bisa-bisanya kau melamun di sini. Apa rasanya mau pingsan karena kepanasan?”
“Ma-mana mungkin! Ngomong-ngomong, jangan tiba-tiba mendekat seperti ini! Lalu, ada apa?’
“Alas-Ramus sepertinya ingin melihat itu.”
Maou menunjuk pada papan pemberitahuan, di situ terpajang poster pertunjukkan pahlawan yang merupakan atraksi terpopuler di Tokyo Big Egg Town.
Walau beberapa hari yang lalu ada promosinya d iklan TV, tapi ada sebuah hal yang membuat Emi lebih penasaran.
“…Apa kau membeli TV?”
Nilai jual dari pertunjukkan ini, sepertinya adalah membiarkan spesial efek pasukan tempur yang memakai kostum beraneka warna dan gadis-gadis penyihir berwarna-warni. Tapi yang terpenting, tema dari pertunjukkan ini, adalah film anak-anak yang ditayangkan tiap hari minggu pagi.
“Lupakan soal TV, antena saja aku tidak punya.”
Ya, jawaban Maou tidak begitu mengejutkan.
“Tapi, sepertinya Alas-Ramus suka dengan benda yang berwarna-warni. Walaupun aku tidak tahu alasannya, sih.”
Alas-Ramus menatap dengan serius poster yang terpajang di luar panggung itu. Di atas terlukis pasangan pasukan tempur dan gadis penyihir—rasanya ini sedikit aneh untuk ditonton.
“Aku tidak apa-apa melihatnya, tapi sepertinya ini tidak termasuk dalam tiket yang kita pakai, ini perlu keluar duit lagi, lho? Apa kau tidak apa?”
“…nanti aku akan meminta maaf pada Ashiya. Topi juga sudah terlanjur dibeli.”
Setelah ragu untuk waktu yang sedikit lama, Maou akhirnya memutuskan. Padahal ini uang hasil dia kerja sendiri, tapi kenapa dia merasa begitu ragu?
“…Ya sudahlah. Bagian Alas-Ramus akan kubayar. Tapi bagianmu tanggung sendiri, ya.”
“Terima kasih banyak!”
Sosoknya sebagai seorang Raja Iblis, kenapa bisa dengan mudah tunduk pada seorang Pahlawan.
Bagi Emi sendiri, sebenarnya dia ingin Raja Iblis berutang sesuatu padanya. Dengan begitu, sepertinya sudah cukup untuk membayar utang dia soal Suzuno dan Ashiya. Dan untuk antisipasi, Emi bahkan ingin membayar untuk bagian Maou, tapi kalau begitu sepertinya keterlaluan jadi Emi menghilangkan niatnya itu. Emi berjalan ketempat pembelian tiket, tapi karyawannya malah menunduk meminta maaf.
“Katanya tiket pertunjukkan yang sekarang sudah habis. Kalau mau menunggu pertunjukkan yang selanjutnya sepertinya perlu menunggu 2 jam?”
Emi membalikkan kepalanya dan memberitahu Maou.
"Benarkah? Kalau begitu, beli tiket untuk pertunjukkan selanutnya dulu, lalu pergi makan gimana?”
“Boleh juga. Kalau begitu beli 2 tiket orang dewasa dan 1 tiket anak-anak ya.”
Emi membeli tiket semua orang.
“Ini dia, satu tiket orang dewasa 1.500 yen.”
“Baiklah kalau begitu.”
Maou mengeluarkan uang dari dompet dan memberikannya pada Emi, mengambil tiketnya dari dia. Setelah itu mereka pun membawa Alas-Ramus, melihat peta sebentar, dan membawanya ke salah satu tempat makan.
“Hmm, rasanya hubungan kedua orang itu menjadi akrab ya.”
“…”
“…”
Sementara situasinya sudah cukup menghiburnya, Rika menambahkan komentar karena ingin melihat reaksi Ashiya dan Chiho yang menarik.
“Tapi pertunjukkan pahlawan ya. Dulu waktu aku kecil aku ingin menontonnya. Bagaimana? Mau masuk?”
“Itu agak……..”
“Kurasa sebaiknya tidak………”
“Hah? Kenapa?”
Chiho dan Ashiya menunjukkan sikap yang aneh bersamaan, membuat Rika merasa sangat penasaran.
“Ka-karena itu khusus anak-anak, 'kan? Akan jadi aneh kalau sekelompok orang seperti kita menonton semacam itu……”
“Chiho-chan, kau sangat ketinggalan jaman. Generasi muda sangat ketinggalan jaman.”
“Apa!?”
“Di jaman sekarang ya~bahkan orang dewasa juga ingin melihat pertunjukkan pahlawan lho. Dulu sekali, beberapa wanita yang lebih tua ikut pertunjukkan spesial efek pahlawan karena mereka suka aktor berototnya sebelum mereka berubah wujud dan mengenakan topeng, tapi di panggung sebenarnya seperti ini, mereka sudah merekam suara dari para aktor tersebut. Hal-hal semacam itulah yang membuatnya menarik.”
“Apaaa?”
“Juga anime ini……..”
“Walau saat kecil aku pernah menontonnya, tapi rasanya akhir-akhir ini banyak sekali jenis yang seperti ini…….kalau tak salah namanya PrePure, 'kan?”
Seri anime "Magical Girl Pretty Pure" dan beberapa seri sentai lainnya memiliki beberapa persamaan, seperti dengan memakai kostum  berwarna warni. Selain populer, tiap tahun juga akan mendapatkan setidaknya 1 adaptasi  film.
“Selalu ada permintaan untuk anime, dan aktor suaranya jadi sangat populer akhir-akhir ini, 'kan? Ada sebagian laki laki yang sangat suka dengan seri seperti ini lho, bahkan saat sudah besar mereka masih berkumpul untuk membaca majalahnya bersama.”
“Hmm…….jadi maksudnya tidak peduli di kalangan mana pun tetap saja populer ya.”
“Eh, aku pikir, bukan itu yang kukhawatirkan, tapi……”
Chiho merasa kagum di beberapa bagian yang agak keluar topik, Ashiya malah menyela dengan kikuk.
Karena ada biaya tiket masuknya, sudah pasti tidak dapat mengintip dari luar, tapi suara yang jelas bukanlah suara anak-anak dapat terdengar dari dalam.
Rika tersenyum tegang melihat ekspresi Chiho yang kaku karena suara tersebut dan mengatakan :
“Kalau begitu, ayo kita pergi makan?”
Rika menunjuk ke tempat yang berada di seberang panggung, restoran gaya Italian dengan tempat minum kopi yang ada di luar.

Setelah 2 jam, Maou dan mereka duduk di bagian depan, yang saling berhadapan dengan panggung pertunjukkan pahlawan.
“Tempat duduk ini bagus juga. Padahal hanya panggung yang sederhana, tapi ternyata semua tempat duduk disediakan dengan bagus.”
Maou duduk bersandar di kursi panjang dan melihat ke mana mana.
“Kalau boleh memilih tempat duduk secara bebas, sepertinya akan menyebabkan beberapa anak kecil yang tidak bisa melihat panggung.”
“Eh? Kenapa?”
“Di dunia ini ada bermacam-macam orang.”
Walaupun menggunakan sistem duduk sesuai nomor tiket, tapi tidak seperti tempat duduk di dalam bioskop, jadi bagaimanapun sepertinya akan berhubungan orang yang ada di kiri dan kanan.
Alas Ramus dan barang bawaan mereka memisahkan mereka, tapi Emi tetap saja merasa sedikit gugup karena duduk terlalu dekat dengan Maou.
Biarpun di keramaian orang yang banyak ini, Emi tetap saja tidak tahan duduk dekat Maou.
Panggung kali ini juga sepertinya tempat duduknya penuh, ditambah sinar matahari yang langsung menusuk, suhu di sekitar meningkat kira-kira 2 atau 3 celcius. Dan di saat seperti ini, tiba-tiba terdengar lagu tema dengan suara yang sangat besar, di atas panggung juga dihiasi oleh asap dan petasan. Para pahlawan spesial efek muncul di atas panggung, tapi Alas-Ramus terlompat terkejut karena suara bising mendadak itu.
Walau kadang setiap super sentai mempunyai suatu tema, robot gabungan ataupun jurus pamungkas, tapi sepertinya super sentai kali ini cuma memiliki tema ‘ninja’.
Di tengah panggung terdapat sebuah pohon besar yang tingginya kira-kira setara 2 lantai, 5 pahlawan tersebut dengan berbagai pose meloncat ke mana mana.
“Oh, tak kusangka mereka berani melompat dari tempat yang begitu tinggi!”
“………padahal seorang Raja Iblis, buat apa kau merasa terpukau begitu?”
“Tapi kenapa ninja memakai pakaian berwarna-warni begitu?”
“Kenapa kau begitu rewel tentang pertunjukkan anak kecil?”
Walau tiap kali saat pahlawan beraksi akan mencampur beberapa gerak ninja, tapi ninja yang berwarna warni sepertinya terlalu menarik perhatian.
Pohon di tengan-tengan digunakan untuk segmen PrePure berikunya, di mana itu akan mengumpulkan 'energi alam' untuk membantu pertempuran.
“Wah, gerakan mereka lumayan juga! Aku penasaran apakah mereka sebenarnya dapat bertempur dalam militer."
Harusnya biasanya musuh ninja adalah ninja yang lain, tapi entah kenapa jadinya seperti alien.
Setelah alien yang seperti karakter boss monster muncul, anak-anak mulai bersorak sorai.
“Oh, semangatlah, penjahat! Ternyata dia lumayan populer juga.”
“Aku bilang ya, karakter seperti itu sebenarnya bukan populer, tapi mereka akan mulai poopuler setelah dikalahkan oleh para pahlawan.”
“Kau yang seharusnya berhenti rewel. Alas-Ramus, kau lebih suka yang mana……”
Maou menyadari sesuatu yang aneh saat dia mencoba untuk mengajak bicara Alas-Ramus.
Alas-Ramus yang biasanya paling suka dengan benda yang berwarna-warni, sekarang dengan ekspresi datar menatap panggung terus.
“Hei, Alas-Ramus?”
Emi juga merassa ada yang aneh karena mendengar suara Maou.
“Ada apa?”
“Dia sedang melamun……ada apa, Alas-Ramus? Apa badanmu kurang sehat?”
“se…ott.”
“Huh?”
“Kami jatuh…….”
“Apa, ada apa?”
Karena di sekitar sangat ribut, jadi biarpun tahu Alas-Ramus sedang bicara, Maou dan Emi tetap saja kurang jelas mendengarnya.
“papa, itu sefiott.”
“Apa itu? Ada apa?”
“kami semua jatuh darhi phohon. Mama membawaku pergi. Markoo hilang.”
“Pohon? Markoo? Apa yang kau…whaa!” Maou panik
Walau tidak tahu alasannya kenapa, tapi tiba-tiba di kening Alas-Ramus muncul tanda bulan sabit.
Tanda itu berbentuk seperti kristal…dan bersinar warna ungu seperti mata dan rambut Alas-Ramus.
“…Apa…itu?”
Biarpun Maou sudah menutup tanda itu dengan menggunakan topi Alas-Ramus sampai ke bagian mata, tapi Emi sudah melihatnya.
“……..apa sebelumnya kau tidak sadar? Sejak anak ini muncul di apartemen, juga pernah muncul tanda seperti ini. Walau langsung menghilang. Hei, Alas-Ramus, ayolah!”
“Hei, jangan menggoyang-goyangkannya. Pokoknya, pergi dari sini dulu! Itu, permisi! Anak ini tiba-tiba merasa tidak enak badan……..”
Emi tidak peduli dengan penjelasan Maou, dan berusaha menggendong Alas-Ramus keluar dari tempat itu.
Walau Emi sempat berpikir untuk mencari staf karyawan, tapi kalau ditanya soal keningnya maka akan menjadi lebih buruk lagi.
Setelah memastikan Maou yang menyusul dengan membawa barang bawaan Emi, Emi memutuskan untuk membawa Alas-Ramus yang masih melamun dan berbisik-bisik sendiri  mencari tempat dingin dan sepi yang bisa membuat Alas-Ramus tenang.
Dia menaruh tangannya pada kening gadis itu, tapi tidak terlihat tanda tanda demam atau keluar banyak keringat. Walau terlihat tidak seperti akan pingsan karena kepanasanm tapi Emi sama sekali tidak mengerti apa maksud tanda bulan yang ada di kening gadis itu.
Menuju ke tempat berpendingin udara, Emi berlari ke bangunan The Lagoon, setelah menemukan ada 1 kursi panjang yang kosong. Dia pun duduk----
“Raja Iblis, cepat beli minuman!”
Dan mengatakannya pada Maou yang menyusul dari belakang.
“B-bagaimana dengan yang ini?”
Maou mengelurkan larutan oral rehidrasi.
“Sini!”
Emi merebut minuman itu, dan menaruhnya di atas mulut Alas-Ramus.
“Selain itu, cepat pergi mencari barang yang dingin! Bukan untuk minum, tapi untuk ditaruh di bagian lehernya agar panasnya turun!”
“B-baik!”
Walau Maou-sangat panik, tapi dia sudah mengikuti petunjuk Emi dengan benar. Setelah berlari untuk mencari mesin penjual minuman otomatis---
“Apa dia tidak apa-apa?”
Ada seseorang yang bertanya pada Emi yang menggendong Alas-Ramus.
Setelah Emi mengangkat kepala, maka dia pun menemukan ada seorang perempuan cantik dengan gaun berwarna putih juga topi yang serba putih berdiri di depan.
Perempuan menatap Emi dan Alas-Ramus dengan mata yang warnanya begitu mengagumkan sampai seperti akan menghisap mereka.
“Ah, iya, dia akan baik-baik saja. Sepertinya bukan pingsan karena kepanasan, hanya merasa kurang enak badan sedikit…….”
“………Mama?”      
Tiba-tiba, Alas-Ramus sadar dari kondisi termenung dan tak responnya, dan menanyai Emi seakan dia menyadari sesuatu.
Emi merasa sedikit lega, dan melihat ke wajah Alas-Ramus.
“Aku di sini. Kau tidak apa-apa?”
“yha…………”
Biarpun wajah gadis itu tidak berubah banyak, tapi suaranya terdengar lemah. Emi pura-pura mengelap keringat gadis itu, berencana untuk menutupi kening Alas-Ramus. Tapi kemudian---
“Pemisi.”
Perempuan berpakaian putih itu tiba-tiba jongkok di depan Emi, dan menaruh tangannya di atas kepala Alas-Ramus.
“A-apa yang kau lakukan?”
“Tenang, sebentar saja.”
Nada bicara perempuan itu tidak kasar, tapi entah kenapa bisa membuat Emi diam dan menutup mulutnya. Jari manis pada tangan kiri perempuan itu yang sedang menaruh tangannya di atas kepala Alas-Ramus, ada sebuah cincin dengan permata yang kecil.
Karena sinar pantulan matahari, membuat Emi merasa cincin itu sekejap mengeluarkan sinar berwarna ungu----
“…ou…..ou!?”
Alas-Ramus tiba-tiba melompat.
“hn? Uh? Huh? Papa?”
Alas-Ramus bertingkah seperti baru bangun dari mimpi buruk, mulai melihat ke sekeliling.
Topi sempat terjatuh saat Alas-Ramus mengangkat badannya, tapi yang paling membuat Emi terkejut adalah, tanda bulan yang ada di kening gadis itu sudah menghilang.
“ah, Mama, uwa!”
Emi sekejap mengambil keputusan, untuk melindungi Alas-Ramus dia menggendongnya ke belakang punggungnya, dengan gagah melirik ke perempuan berpakaian serba putih itu.
“Tidak perlu begitu hati-hati denganku. Aku bukan musuhmu.”
Perempuan berpakaian serba putih itu tiba-tiba mengangkat roknya dengan alami, dan tertawa kecil.
“Juga bukan musuh anak itu…..Alas Ramus, kau sudah besar, ya.”
“‼”
Emi belum pernah sekalipun mengucapkan nama Alas-Ramus di depan perempuan itu.
“Bagaimana kau tahu namanya…….”
Terhadap pertanyaan Emi, perempuan itu tersenyum lagi.
“Tentu aku tahu. Bagaimanapun itu adalah nama yang penting.”
Saat melihat ekspresi perempuan itu, detak jantung Emi bertambah cepat.
Dalam pikiran Emi muali terpikir Emerada yang meneleponnya 3 hari yang lalu.
Kalau dilihat dari sikap bicaranya, perempuan itu sepertinya sudah tahu identitas Alas-Ramus.
Jangan-jangan perempuan ini…….
Walau Emi mulai merasakan perasaan semangat yang berbeda dengan panas suhu sekarang, tapi senyuman perempuan itu tiba-tiba menjadi ekspresi yang serius.
“Berhati-hatilah. Karena apa yang telah terjadi barusan, mereka pasti merasakan keberadaan dari pecahan Yesod di dahinya. Musuh gadis kecil ini akan segera muncul. Gabriel dan malaikat bawahannya sudah bergerak.”
“Pecahan…‘Yesod’? Gabriel….? Tunggu, jangan-jangan kau……”
“Hei, Emi! Aku sudah mendapatkannya!”
Emi mulai merasakan berbagai firasat, dan ingin bertanya pada perempuan itu, tapi Maou yang membawa botol juga minuman kaleng di lengannya berlari padanya.
Di saat perhatian Emi teralihkan---
“Mama…….”
“!”
Perempuan berpakaian putih itu pun menghilang.
Bagaikan sebuah mimpi, perempuan itu menghilang dengan begitu saja.
“Syukurlah aku dengan cepat menemukan mesin penjual minuman otomatis. Ini……hm? Alas-Ramus, kau tidak apa-apa?”
“Papa, selamat kembali.”
“Ah, oh, oh, apa? Sepertinya sia-sia saja aku pergi ya. Huft, walau lebih baik begini, tapi apa yang terjadi?”
“apha mhaksudnyha?”
“Eh…..ah, uh, ya sudahlah. Hei, Emi, kenap…puh!”
“Kenapa kau tidak bisa melihat situasi, sih!”
“A-apaan sih! Apa yang kulakukan! Ke-kenapa kau tiba-tiba memukulku……”
“Mama, kau menakutkan!”
* * *
 “Ah!ketemu ketemu! Suzuki san, sudah ketemu mereka!”
“Ah, bagus, Chiho! Iniklah yang dinamakan kekuatan cinta!”
“Su-sudah kubilang bukan!”
“Yang benar…..tak kusangka perutmu sakit hanya karena minyak zaitun. Ashiya-san lebih lemah dari yang kupikirkan, ya. Karena menunggumu buang air besar, membuat kami habiskan banyak tenaga unuk mencari mereka, lho.”
“Ma-maaf………”
Semuanya karena perut Ashiya yang bereaksi cepat dengan minyak zaitun, jadi menyebabkan Chiho mereka kehilangan jejak Maou, Emi dan Alas-Ramus.
Mereka mencari di tempat duduk para penonton tapi tidak ada, pada akhirnya Chiholah yang menemukan Emi yang sedang berlari membawa Alas-Ramus dan Maou yang mengejar di belakang Emi.
Sepertinya Emi berlari ke arah Ferris Wheel raksaka.
“Apa dia ingin naik Ferris Wheel? Sepertinya Emi lebih ‘aktif’ dari yang diduga ya……”
“Kalau naik Ferris Wheel di saat seperti ini, apa tidak panas?”
“Tempat duduk di Ferris Wheel di sini pada dasarnya dipasangi AC. Jadi tinggal pakai sunscreen, sebenarnya lumayan nyaman saat naik.”
“Bo-boros sekali!”
Yang protes tentang AC itu, siapa lagi kalau bukan Ashiya.
“Ngomong-ngomong, kenapa Emi ingin membawa Maou-san ke ruang tertutup yang ada di udara, sebenarnya apa yang ingin dilakukannya ya…….”
“Suzuki san!”
“Chiho, ekspresimu menakutkan sekali. Cuma bercanda saja, kok.”
Karena Suzuki melakukannya dengan sengaja, jadi tampaknya Chiho lebih marah lagi.
“Yah, ayo kita pergi melihat mereka. Walaupun kurasa tidak akan terjadi apapun.  Ashiya-san, apa kau tidak apa-apa?”
“Yah, lumayan...”
Karena biasanya hanya makan makanan yang kurang bergizi, dan saat ini sedang di tengah musim panas, memakan makanan Italia yang berat jadi seperti hukuman mati untuk perut Ashiya, yang telah melemah karena musim panas.
“Walau aku tidak tahu alasan kalian mengikuti kemari, tapi sepertinya tidak akan terjadi apa-apa.”
Suzuki yang sama sekali tidak mengerti dengan situasi sekarang dengan gembira mengatakan, Chiho dan Ashiya hanya bisa saling menatap dengan ekspresi yang rumit.

“Selamat datang! Selamat datang di Ferris Wheel raksasa kami……eh……..”
Karyawan yang bertugas memeriksa tiket Ferris Wheel raksasa itu menahan napas saat melihat pasangan yang sedang membawa anak mereka mengeluarkan aura yang menyeramkan.
Daripada dibilang aura menyeramkan, sebenarnya hanya terlihat seperti seorang suami yang takut pada istrinya yang sedang marah. Juga anak yang kira kira berumur 2 tahun itu, dia merasa bingung mungkin karena tidak tahu harus mendukung siapa.
“3 orang!”
Si istri itu seperti ingin meninju orang saat menunjukkan tiketnya, karyawan itu hanya bisa menggangguk keras dan membiarkan mereka lewat.
“Hai, apa kabar! Ambillah fotomu di sini~! Fotonya dapat dibeli sebagai kenang-kenangan di tempat sebelah sana! Silakan membeli setelah menaikinya! Terima kasih!”
Di tempat naik Ferris Wheel raksasa itu terlihat karyawan yang memegang kamera, sepertinya mereka akan memfoto para pelanggan untuk membuat foto kenangan.
“…….kurasa tidak perlu………”
"Ah, kalau tidak perlu nanti kami akan langsung menghapusnya! Silahkan berdiri di sana, sini, si papa, bisakah anda menggendong anak dan berdiri di tengah? Benar! Seperti itu! Maaf, tolong pindahkan balonnya ke belakang dulu?”
Pemotretan yang tidak perlu dilakukan dengan semangat tinggi dan dipaksa.
 “papa, itu apa?”
Tapi saat Alas-Ramus melihat karyawan yang memegang kamera itu, maka dengan penasaran dia bertanya.
“Hm? Itu namanya kamera, nanti dia akan mengambil foto Alas-Ramus, lho.”
“fo-toh?”
Biarpun kata-kata yang tidak ada di Ente-Isla, biarpun mengerti bahasa Jepangnya, sepertinya tetap saja ada beberapa kosakata yang belum dia ketahui.
“Eh, itu, dengan kata lain lukisan, itu adalah barang sihir yang bisa melukis. Kau perlu melihat ke barang bulat yang berwarna hitam itu saat kakak memotretmu ya.”
“oh~~”
Tidak tahu apakah sudah mengerti, tapi rasa penasaran Alas-Ramus semua terlukis di wajahnya, dan dia mulai fokus ke kameranya.
“Si mama! Apa anda bisa melihat ke sini sebentar?”
“……..”
Walau Emi ingin pura-pura tidak melihatnya,tapi biarpun melakukan ini terhadap orang yang tidak dikenal juga tidak ada artiny, hanya bisa dengan pasrah melihat ke arah kamera.
“Baik! Saatnya ambil foto! Ayo, senyum semuanya! ………bagus sekali! Fotonya bagus! Kalau perlu, bisa dibeli nanti setelah naik Ferris Wheel!”
Merasakan berbagai perasaan aneh, akhirnya 3 orang itu bisa naik Ferris Wheel.
“Ah, dingin dan nyaman di sini ~”
Awalnya Maou mengira di dalam Ferris Wheel akan panas seperti di sauna, tapi tempat duduknya ternyata dillengkapi AC, juga diputarkan musik. Walau tempat duduknya agak keras, tapi ruangan ini lumayan nyaman daripada yang dibayangkan.
“Hati-hati dengan balon. Sekali putaran kira-kira 15 menit, juga mohon pengertiannya untuk tidak merokok atau makan di dalam. Semoga hari anda menyenangkan!”
Karyawan itu dengan cepat menjelaskan hal yang perlu diperhatikan, setelah itu pintu pun ditutup.
“Ah, mereka sudah naik!”
Biarpun Emi dan yang lainnya belum sadar, tapi Chiho, Rika dan Ashiya saat ini sedang berada di lobi pembelian tiket Ferris Wheel.
“Nanti ketinggalan! Cepat!”
Disuruh Rika degan cepat, Ashiya dan Chiho dengan panik memasukan uang ke dalam mesin penjual otomatis. Tapi---
“Itu, maaf menggangu sebentar.”
“Iya?”
Tiba-tiba ada seseorang mengajak Chiho bicara disampingnya.
Seorang nenek yang sepertinya sedang membawa cucunya sedang berdiri di sebelah Chiho, kelihatan kebingungan di depan mesin.
“Itu, boleh bertanya cara menggunakan mesin penjual otomatis ini?”
“Ah, iya, yang pertama masukan uang ke sini dulu……lalu ini layar sentuh untuk pembeliannya.”
Chiho tahu untuk orang yang agak tua mereka kurang mengerti cara pemakaian layar sentuh, mereka akan mulai merasa panik ketika meliaht benda ini.
Mesin penjual otomatis ini sepertinya kurang bagus, selain langkah cara pemakaiannya agak jauh, di atas layar juga tidak ada penjelasan apapun, hanya ada tombol yang menandakan harga.
“Sepertinya Ferris Wheel ini tidak memungut biaya untuk anak kecil, jadi total harganya begini, juga di bagian sini untuk memilih jumlahnya……..”
Chiho setahap demi setahap menjelaskan, membantu nenek itu membeli tiket.
Akhirnya nenek itu berhasil membeli tiketnya untuk diri sendiri dan cucunya.
Setelah itu, nenek itu dengan sambil berjalan ke arah Ferris Wheel sambil terus berterima kasih pada Chiho.
“Ah! Celaka!”
Chiho yang dengan tidak hati-hati mulai melupakan tugas, akhirnya teringat Rika dan Ashiya yang masih menunggunya.
“……………Eh?”
Tempat naik dan lobi pembelian tiket Ferris Wheel tidak begitu besar. Tapi di mana pun tidak terlihat bayangan Ashiya dan Rika.
“Apa? Apaa?”
Di saat Chiho yang terkejut tidak bisa mengatakan apa-apa melihat ke arah Ferris Wheel, dengan pas dia bertatap muka dengan Rika yang ekspresinya kaku.
“Apaaaaa?”

“Kalau begitu, jelaskan.”
Dalam tempat duduk yang sempit, Maou yang dalam keadaan tidak bisa lari kemana pun dilirik Emi dengan eksrepsi yang menyeramkan. Tatapan Emi yang terlihat dari celah antara balon Alas-Ramus itu, terlihat sangat menakutkan.
“Sejak awal aku sudah curiga. Padahal kau sangat benci dengan masalah, kenapa tiba-tiba ingin mengasuh anak ini?”
“Eh, itu………..”
“Juga, sepertinya kau tahu sesuatu dengan tanda bulan yang ada di keningnya? Cepat beritahu semua yang kau tahu!”
“Mama, itu besar sekali, apa itu?”
“Hm…..? Itu Tokyo Sky Tree.”
“Karena itulah, hanya membeli TV itu sia-sia karena kau masih tidak dapat menonton apapun.”
“Jangan pindah topik!”
Gondola yang dinaiki 3 orang itu, karena sebuah benturan yang keras jadinya bergoyang dengan pelan.
Lalu gondola ke dua yang ada dibelakang mereka itu, sepertinya di dalam hanya ada Rika dan Ashiya.
“Ugh….kalau saja kita lebih cepat 1 gondola, kita pasti bisa mengamati mereka.”
Biarpun 2 orang itu dengan buru-buru naik Ferrs Wheel, gondolanya tidak transpara dan tidak mungkin untuk melihat ke dalam gondola yang jauh.
“……………”
Dalam sisi lain, Rika yang duduk berhadapan dengan Ashiya, dengan tubuh kakunya dia terus melihat ke kakinya.
Rika awalnya kira Chiho akan segera menyusul, tapi sepertinya karena beberapa alasan, setelah sadar dia sekarang sendirian dengan Ashiya.
“Suzuki-san, ada apa?”
“Kyaa! Hah?”
Rika yang masih semangat dan tegang dari tadi tiba-tiba menjadi sangat diam, tentu saja Ashiya merasa aneh.
“Ah, hn, hm, itu, Chiho, rasanya kurang enak dengan Chiho meninggalkannya begitu…”
“Aku megerti. Tadi kita terburu-buru……..”
Ashiya dengan polos menyertujui jawaban Rika yang aneh tanpa bertanya-tanya lagi, menghela napas dan menyandarkan dirinya dikursi.
“……‼”
Gondola Ferris Wheel tidak terbilang besar. Jadi kalau duduk berhadapan, lutut ataupun kaki kedua orang itu pasti kadang-kadang akan tersentuh secara tidak sengaja.
Jadi kesimpulannya, Rika bisa begitu semangat dan bertenaga, semua ini karena ada Chiho sebagai ‘pengawas’. Walau yang penting ada orang lain, bersentuhan tidak apa, ruang yang sempit juga tidak apa, Rika tidak akan memikirkannya, tapi kalau berduaan dengan seorang laki laki di ruang tertutup, ini adalah sebuah pengalaman yang belum pernah dia rasakan.
Apalagi, pria itu adalah Ashiya.
Di saat Rika mengenal Ashiya pada insiden yang terlibat dengan Emi dan Suzuno seminggu lalu, dia berpikir bahwa Ashiya adalah orang yang cukup ekssentrik, tapi setelah berjalan beberapa jam hari ini, kesan menjadi lebih kuat lagi.
“Kau tidak apa-apa? Wajahmu terlihat merah, apa terlalu banyak berjemur di bawah matahari?”
“De-dekat sekali!”
“Eh?”
“Ah, ah, bukan, tidak apa-apa, aku tidak apa-apa. Sepertinya tabir suryaku tidak bekerja dengan baik. Hanya itu. Ya!”
Rika memundurkan badannya ke belakang sejauh mungkin, melambai-lambaikan kedua tangannya. Ashiya tidak begitu mencurigai, dan mulai melihat ke pemandangan di sekitar.
Walau karyawannya bilang berputar 1 putaran itu hanya perlu 15 menit, namun Rika yang merasa sangat malu sekarang sama sekali tidak percaya dia bisa bertahan selama itu.
Saat ini Chiho sedang duduk di tempat duduk yang ada dekat Ferris Wheel, sedang dengan meneguk teh hijau yang dia beli dari mesin penjual otomatis.

“Jadi, kau ingin menjelaskan!? Atau tidak!? Atau ingin mati!?”
“Pilihannya terlalu sedikit! Juga, jangan bicarakan hal kasar seperti ini di depan anak kecil!”
Di gondola yang pertama, sekarang masih ribut soal ‘mau menjelaskan atau tidak’.
“Aku bilang, memangnya itu penting!? Aku juga tidak melakukan sesuatu yang jahat, pokoknya biarkan aku jadi papa Alas-Ramus!”
“Biarpun kau merasa tidak apa, tapi aku tidak merasa begitu! Apa tadi kau tidak melihat perempuan berpakaian putih yang berdiri di depanku? Selanjutnya pasti akan terjadi banyak hal menyusahkan! Juga dia bicarakan soal Gabriel dan pasukannya! Kalau tidak ingin bermusuhan denganku, sebaiknya kau memberitahuku semua hal yang kau tahu!”
“lihat apaan!? Kalau aku memberitahumu, apa kau akan berada di pihakku?”
“Bukan di pihakmu! Tapi berada di pihak anak kecil ini!”
Emi kemudian menatap ke Alas-Ramus yang sedang menikmati pemandangan di luar.
Di saat kedua orang itu melihat ke punggung Alas-Ramus, gondola sedang dengan perlahan menuju ke titik paling atas.
“……….seseorang memberikannya padaku dulu sekali.”
Maou yang sepertinya sudah menyerah, dengan wajah yang serius menghelas napas.
“Lupakan tentang seorang raja iblis, ini dulu saat aku masih bocah kecil yang terliht seperti goblin berambut.”
Melihat Maou yang akhirnya setuju untuk menjelaskan, Emi berhenti untuk marah-marah lagi dan mendengar dengan serius.
“Bahkan sebelum kau lahir, dunia Iblis itu benar-benar tempat yang menyedihkan. Itu adalah sebuah dunia di mana, kalau Iblis yang berbeda suku bertemu, maka mereka akan mulai saling membunuh…dunia semacam itulah. Sukuku adalah suku lemah yang akan lenyap hanya di ‘tiup’ iblis lain, dan akhirnya dimusnahkan oleh seekor iblis yang tidak bisa menggunakan sihir dan otaknya seperti hanya terbuat dari otot saja, dan hanya mengadalkan kekuatan fisik. Kenangan kedua orangtuaku yang mati terbaring tewas, merupakan kenanganku yang pertama juga yang terakhir dengan mereka.”
Maou mulai menceritakan masa lalunya. Walau rasanya akan buruk bila diceritakan terus karena ada Alas-Ramus, tapi Emi tidak mengganggu dan terus membiarkan Maou berbicara.
“Kami kalah dari perang melawan suku lain dan sukuku dibantai, dan aku dibuang seperti sampah yang menunggu mati. Tapi ada seseorang yang menyelamatkan seorang iblis kecil kotor dengan begitu saja.”
Maou melihat ke pemandangan di luar Ferris Wheel, dengan sedikit nostalgia.
“Di saat itulah pertama kalinya aku bertemu yang namanya malikat, dia mempunyai sayap paling putih yang belum pernah kulihat sebelumnya.”
“papa, itu apa?”
“Hm? Oh, hebat juga ya kau  bisa menemukannya, Alas-Ramus! Itu namanya kapal terbang, lho.”
“kapan terbang?”
Alas-Ramus dengan mulut terbuka lebar menatap kapal terbang yang berlayar di udara itu.
“Tadi sudah sampai bagian mana?”
“Aampai di bagian malaikat menyelamatkanmu……..”
“Ah, benar-benar,karena waktu itu otakku masih selevel goblin, jadi biarpun menderita luka seperti apapun, tetap ingin melancarkan serangan. Kalau sekarang dipikirkan lagi sepertinya orang itu adalah malaikat besar. Aku sama sekali tidak dapat mengenainya. Biarpun begitu, orang itu tidak membunuhku. Karena aku adalah iblis, dengan hanya melewati masa-masa bahaya maka akan sembuh sendiri, tapi orang itu terkadang tetap akan datang untuk melihat keadaanku, dan terus membicarakan hal-hal yang tidak kupedulikan. Aku mendengarkan karena aku tidak dapat bergerak. Tapi berkat orang itu, aku mengetahui banyak hal yang tidak kuketahui sebelumnya.”
Emi merasa sangat terkejut.
Biarpun disebut Raja Iblis Satan, Emi awalnya kira asalnya berasal dari keluarga Iblis yang terpandang (memperkirakan Iblis itu memiliki hubungan keluarga), lalu sejak lahir merupakan Raja Iblis.
“Yah, karena luka yang kuderita sangat parah, jadi aku menghabiskan banyak waktu baru bisa sampai tahap dimana aku bisa bergerak sendiri. Karena dia terus mengatakan padaku hal-hal yang tidak kuketahui, aku juga mempelajari banyak macam hal. Tapi semakin aku mendengarnya, aku mulai mengerti betapa anehnya seorang malaikat menolong seorang iblis. Jadi aku bertanya. Bertanya pada orang itu kenapa dia menolongku.”
“……..lalu?”
“……Dilarang tertawa. Kalau ketawa, nanti aku tidak melanjutkannya lagi.”
Maou entah kenapa dengan malu mengalihkan pandangannya.
“……..karena saat itu, aku menangis.”
“Huh?”
“Karena itu pertama kalinya orang itu melihat iblis menangis, jadi rasanya tidak bisa meninggalkanku begitu saja.”
Tidak peduli alasan seperti apa, Emi sama sekali tidak bisa membayangkan sosok iblis saat menangis, tapi ini pertama kalinya Emi sadar, dirinya tidak mengetahui apapun tentang ‘iblis’.
“Kenapa waktu itu, kau menangis?”
Maou mengerutkan dahi karena pertanyaan Emi, tapi karena Emi sepertinya bukan sedang bercanda, jadi hanya bisa menjawab jujur dengan ekspresi pahit :
“Yah, ada banyak alasan. Walau sebelumnya juga sudah pernah kubilang, aku tidak merasa sedih atas kematian orangtuaku ataupun keluargaku. Tapi kalau serius ingin membahasnya, mungkin karena diriku yang lemah ini atau kenapa aku bisa mati semudah ini, jadi aku merasa marah terhadap hal-hal seperti ini.”
Mungkin karena mengenang kembali ingatan yang menyakitkan, Maou sedikit menghindari pandangan Emi.
“Pokoknya setelah itu, sampai lukaku sembuh total, selain dijaga oleh dia, aku juga mendengar berbagai hal. Juga di saat itulah pertama kali aku tahu soal tentang dunia manusia.”
“!”
Walau Maou hanya sedikit mengenang kembali, tapi bagi Emi ini adalah kenyataan yang tidak bisa dipercaya.
Alasan Raja Iblis menginvasi Ente-Isla, karena seorang malaikat?
Tapi tentu saja tidak ada bukti yang bisa membuktikan yang dikatakan Maou tadi semua itu kenyataan. Tapi, kalau itu benar, bisa saja mengguncang dunia.
“Anak ini…….kristal yang menciptakan anak ini, itulah yang ditinggalkan malaikat itu ketika dia pergi. Itu adalah sebuah kristal berwarna ungu berbentuk bulan.”
“ihh, aku masih ingin melihat!”
Alas-Ramus protes marah karena tiba-tiba digendong oleh Maou.
Walau di kening gadis itu tidak muncul gambar apapun, tapi bekas ukiran yang berbentuk bulan itu, sepertinya melambangkan kristal itu.
“'Kalau ingin lebih memahami dunia ini, cobalah untuk menanam biji ini dan besarkan. Bersemangatlah, Raja Iblis Besar Satan.’ “
“Apa?”
“……..Itulah catatan yang ditinggalkannya. 'Menulis' merupakan kemampuan paling berharga yang kudapat darinya; sebuah metode berkomunikasi selain berteriak dan kekerasan. Aku akan mempersingkatnya dan melewati bagian di mana aku bertumbuh dan menghabiskan waktu 200 thun mengubah dunia saling membunuh menjadi lingkungan iblis yang teratur. Tapi tanpa pengetahuan yang kuterima saat itu, tidak ada apapun yang mungkin terjadi. Karena itulah aku menanam benih bulan sabit itu. Kupikir itu akan menguntungkanku, sekalipun aku tidak tahu apa itu. Yah, aku disuruh untuk menanamnya, tapi aku amat terkejut saat sebuah tanaman ternyata mulai menumbuhkan kristal seperti itu.”
Dalam mata Maou seperti terlihat masa lalu yang tidak jauh. Seperti terlihat Isla-Centrum, kota terbesar yang ada di pusat benua Ente-Isla—Benteng Raja Iblis yang menandakan revolusi dunia iblis.
Melihat dunia lain selain dunia iblis, Raja Iblis Satan menanam kristal ungu berbentuk bulan sabit itu dengan harapan akan bertunas, di sebuah pot yang menghadap ke langit di belakang ruang tahta raja, di mana tidak ada seorang pun yang boleh masuk.
 “Aku bukanlah Raja Iblis karena sejak lahir. Nama Satan pada dunia Iblis dulu, begitu umum, sampai jika seekor Cerberus lewat, dia akan disebut begitu. ‘Satan’ adalah nama Raja Iblis besar yang ada di legenda tua. Sebelum legenda langit. Tak kupikir dunia iblis bisa meninggalkan legenda seperti itu. Aku tidak tahu kenapa malaikat itu memanggilku Raja Iblis ,tapi kalau ingin bilang, itu merupakan ‘garis start’ku, dengan kata lain, ‘garis start’ku adalah anak ini.”
Maou sambil mengelus kepala Alas-Ramus, tapi anak perempuan yang hanya ingin melihat pemandangan yang ada di luar itu melepaskan tangan Maou, dan menempel dekat jendela gondola lagi.
“Yah, pokoknya alasanku kira-kira seperti inilah. Kalau dilihat dari aku membantu kristal berwarna ungu itu menjadi Alas-Ramus, aku sepertinya pantas mengatakan aku adalah ayah anak ini.”
“Jadi, malaikat itu adalah orangtua Alas-Ramus yang sebenarnya………”
“Secara logikanya memang begitu. Tapi saat aku mendapatkannya dari malaikat itu, itu hanyalah sebuah kristal ungu. Aku tidak tahu apakah dia memiliki kesadaran waktu itu.”
Di saat Emi mendengar Maou berbicara, dia mulai mengeluarkan keringat dingin karena semangat dan berbagai firasat yang dibayangkannya. Dia bertanya :
“Malaikat itu siapa?”
Laylah, yang menghilang saat bersama Emerada. Wanita berpakaian putih yang mengetahui identitas Alas-Ramus. Malaikat yang memberikan kristal yang merupakan inti Alas-Ramus pada seorang iblis muda yang akhirnya menjadi raja iblis. Dan jika dilihat dari sejak Alas-Ramus lahir dari kristal itu memanggil Emi ‘Mama’---
Jangan-jangan.
Dalam hati Emi sedang bertiup angin yang membawa harapan, firasat juga tidak tenang.
Seperti merasakan apa yang dirasakan Emi, setelah beberapa saat Maou baru menjawab :
“Dia ada orang yang tidak kau kenal.”
Angin yang bertiup di dalam hati Emi, menghilang begitu saja sebelum bisa menghasilkan sesuatu.
“…….jangan-jangan kau sedang menipuku.”
“Tidak, aku tidak melakukannya, tapi dia bukan malaikat yang terkenal yang bisa kau temukan di dalam Alkitab juga. Hei, ngomong-ngomong, bagaimana Alas-Ramus bisa kembali seperti semula lagi. Kau pasti tahu sesuatu?”
Maou dengan jelas sedang menahan diri, tapi kalau mengetahui masa lalu Maou dengan detail juga tidak berguna, jadi Emi menjawab dengan jujur.
“Disembuhkan oleh seorang perempuan berpakaian putih. Perempuan itu menyembuhkannya hanya dengan menaruh tangannya di atas Alas-Ramus.”
“……..Apa itu? Apa dia berasal dari suatu agama?’
Sepertinya Maou belum pernah bertemu dengan perempuan itu. Emi dengan marah mengatakan :
“Bukan! Kau tidak melihatnya saat kau kembali? Setelah cincin orang itu bersinar, Alas-Ramus mulai sembuh seperti bangun dari mimpi!”
“Aku tidak melihatnya! Bentuk cincin itu seperti apa?”
“Cincin yang biasa saja, sih. Tapi di atasnya ada permata berwarna ungu……..”
“……..dengan hanya bagian ini sudah jelas tidak biasa kan.”
Emi yang terkadang tidak berpikir dulu sebelum bicara, mulai membuat sakit kepala Maou.
“Apa ada yang lain?”
“Aku tidak punya cukup waktu untuk melihat karena orang bodoh yang tidak dapat melihat situasi dan kembali sambil berteriak.”
“Hei!”
“Perempuan itu sempat membicarakan soal Gabriel dan pasukannya, juga sesuatu yang bernama potongan ‘Yesod’, ah sakit!”
Maou tidak dapat menahan diri untuk menjitak Emi.
“Ke-kenapa, sih! Kutebas kau nanti!”
Menghadapi ancaman Emi yang berbahaya, Maou juga tidak bisa bertahan diam.
“Apa dulu kau benar-benar pernah menjadi ksatria gereja? Anak-anak jaman sekarang! Sesekali pelajarilah sedikit soal dunia!”
Maou tiba-tiba menaikkan suaranya, kemudian menundukkan kepala, lalu membungkuk.
“ ‘Yesod’……jadi ‘Yesod’ kah? Sialan, ternyata begitu! Apa yang sebenarnya dipikirkan malaikan itu, memberikan sesuatu seperti itu padaku! Apa yang sebenarnya sedang terjadi…!”
“Ke-kenapa, kenapa kau tiba-tiba begitu?.”
“Tunggu pulang nanti, kau pasti akan direndahkan oleh Suzuno lagi.”
“Apa!?”
“Dengar, ‘Yesod’adalah—”
“papa, kenapa?”
Alas-Ramus yang awalnya konsentrasi menikmati pemandangan yang ada di luar, mulai bereaksi terhadap kata ‘Yesod’ yang dibicarakan Maou tadi.
“Hah?”
Emi karena tidak tahu arti reaksi ini jadi bingung, sedang Maou dengan tatapan yang percaya juga pasrah melihat ke Alas-Ramus.
“Hei, Alas-Ramus.”
“Ada apa, papa?”
“Ini apa?”
Maou menunjuk ke balon berwarna merah. Alas-Ramus dengan tidak ragu langsung menjawab :
“ge'ura“
“Kalau ini?”
Maou kemudian menunjuk ke balon berwarna kuning tua yang mendekati warna emas.
“tiferez.”
“Kalau warna kuning yang terang ini?”
"malkoo. Mah fwend.”
“kalau yang putih ini?”
“keteeh!”
“A-apa yang anak ini katakan…?’
Emi terkejut karena berbagai kata yang belum pernah ia dengar.
“Kalau begitu ini?”
Setelah Maou selesai mengatakannya dia pun mengambil balon berwarna ungu.
“yesod. Itu aku.”
“………begitu ya, pintar sekali, kau bisa menyebutkan semuanya.”
“pintaar? Eheheee.”
Gondola yang dinaiki Maou mereka akan selesai. Tapi Emi mulai menutup matanya karena silaunya matahari yang terbenam.
“Walau aku tidak tahu banyak…….tapi sepertinya kehadiran Alas-Ramus lebih mengagumkan daripada iblis ataupun malaikat.”
“Eh?”
“Gevurah, Tiferet, Malchut, Keter, dan Yesod. Semua itu adalah nama Sefirot, permata dari Pohon Kehidupan yang membentuk dunia ini. Alas Ramus mungkin… adalah inkarnasi dari Yesod”
Di saat-saat menunggu selesainya Ferris Wheel yang dinaiki Maou, Ashiya dan Rika, Chiho menunggu dengan kesal.
Setelah Chiho menenangkan diri, dia sadar dia sendiri sama sekali tidak pantas protes pada Rika.
Walau ada alasan bisa meminjamkan ponsel ke Ashiya saat Maou terjadi sesuatu, tapi sejak awal Chiho akhirnya menyadari dia hanya iri dengan Emi yang berperan sebagai ‘istri’ Maou.
“Maou-san, padahal bilang percaya padaku…….”
Karena Chiho melakukan tindakan mengkhianati kepercayaan, dia jadi merasa bersalah pada Maou dan Emi.
Chiho yang mulai serius memikirkan hal-hal ini, rasanya mulai menjadi malu.
“Maou-san……..maaf.”
Karena diri sendiri yang tidak tenang dan iri melihat Emi, sehingga melakukan hal yang tidak pantas. Chiho berdiri, tanpa menunggu Ashiya dan Rika dia langsung turun lewat tangga.
Saat bayangan Chiho baru menghilang, tidak lama, Maou, Emi juga Alas-Ramus turun dari gondola yang mereka naiki.
“Huft, di luar panas sekali.”
“Huft~”
Tubuh yang dingin di gondola---begitu terkena udara panas, Maou dan Alas-Ramus mulai menjadi malas lagi.
Dan Emi yang keluar terakhir dari gondola tidak mengatakan apapun.
“Terima kasih! Fotonya sudah disiapkan!”
3 orang itu karena dipanggil jadi berbalik untuk melihat siapa yang memanggil. Ternyata foto yang diambil saat naik Feeris Wheel sudah selesai dicetak.
“Uwoo!”
“……ekspresinya buruk sekali.”
Mata Alas-Ramus berbinar-binar karena melihat gambar yang sama persis dengan dia. Emi malah menjadi malas setelah melihat wajahnya yang kurang enak dilihat di foto.
“Hmm totalnya seribu yen.”
“Heh, tidak gratiskah?”
Maou yang tidak sadar mengeluarkan kalimat ini, dijitak kepalanya oleh Emi dari belakang.
“Uuuuuu…….seribu yenku…….”
“Papa, Papa, itu, itu!”
Alas-Ramus jelas menginginkan foto itu. Tapi setelah mempertimbangkan harga kertas foto, tintanya, juga kartunya, seribu yen sepertinya terlalu mahal hanya untuk ini.
“……..1 sudah cukup, berikan aku 1 saja.”
Tidak disangka Emi langsung memutuskan, mengeluarkan seribu yen dan membeli fotonya, lalu dia memberi fotonya pada Alas-Ramus.
“Uwaa!”
Setelah Alas-Ramus membuka fotonya, di atas terlihat Maou yang tersenyum kecil, juga Emi yang memasang wajah masam juga dirinya sendiri yang berteriak kesenangan.
“Hei, hei, apa tidak apa-apa?”
“Cuma seribu yen kok, jangan pelit begitu. Kau memang tidak berguna ya. Itu adalah foto dia yang pertama kali, lho.”
“Be-benar juga sih.”
“Aku ingatkan dulu! Saat Eme dan Albert datang nanti, jangan biarkan mereka melihat foto ini ya! Ini akan sangat mempengaruhi posisiku nanti!”
“Ashiya, Suzuno dan Chi-chan tidak apa-apa, 'kan.”
“Anggap saja tidak apa. Tapi, Lucifer juga ingat jangan biarkan dia melihat foto ini ya.”
“Bagaimana caranya aku melakukannya…?"
Karena berbagai permintaan Emi yang memaksa, Maou tersenyum getir, dan berjongkok menghadap Alas-Ramus lalu berkata:
“Sini, Alas-Ramus, bilang terima kasih ke Mama.”
“Terima kasih Mama!”
Dengan suara yang cukup untuk membuat semua orang yang ada di pemberhentian Ferris Wheel membalikkan kepalanya, membuat Emi dengan wajah memerah mengatakan :
“Se-sesebagai Mama, ini sudah tentu aku melakukan ini untukmu! Mau bagaimana lagi, ini semua karena Papa tidak berguna!”
Dia mengatakan alasan yang tidak masuk akal, tapi jelas karena Emi hanya ingin melakukan sesuatu untuk Alas-Ramus, dan itu tidak ada kaitannya dengan Maou.
“Hei, sudah saatnya jalan!”
Mengejar Emi yang turun lewat tangga dengan menundukkan kepala, Maou dan Alas-Ramus juga dengan bersama-sama melangkahkan kakinya.
Di saat seperti ini.
“Ah, Emi, tunggu, ada telepon.”
“Eh…….ah, punyaku juga. Alas-Ramus, tunggu kami sebentar.”
Maou dan Emi secara bersamaan menerima panggilan telepon.
2 panggilan telepon itu masing-masing ditelepon oleh Urushihara dan Suzuno.

“Hi-hilang?”
Ashiya karena tidak menemukannya di pemberhentian Ferris Wheel menjadi panik. Padahal hanya beda 2 urutan gondola, jadi waktunya seharusnya tidak selisih jauh.
Ashiya berlari menuruni tangga sampai di bagian perbelanjaan, mencari di sekitar tapi tidak menemukan Maou ataupun Emi.
“Chi-chiho juga tidak tahu ke mana.”
Padahal sebelumnya duduk di gondola yang ada pendingin udaranya, tapi wajah Rika tetap panas dan memerah.
“Jangan-jangan Chiho mengejar mereka….ba-bagaimana, Ashiya-san?”
Ini sangat bermasalah bagi Rika. Kalau tidak segera ketemu Chiho ataupun Emi, maka dia terpaksa berduaan begerak dengan Ashiya.
“……Ba-bagaimana……aku tidak ada cara untuk menghubungi mereka…….”
“Heh?”
“Aku tidak punya ponsel.”
“Eh, benar?”
Setelah keluar dari ruang tertutup, Rika akhirnya kembali normal.
“Sesuai rencana, kalau terjadi sesuatu, maka aku akan meminjam ponsel Sasaki-san……tapi kalau situasinya begini…….”
Biarpun waktu sekarang sudah memasuki sore menuju malam, tapi orang di sini tetap banyak, kalau ingin bertemu Maou dan Emi mereka tetap akan kesusahan.
“…….tidak ada cara lagi. Huft, walau ini agak sembarangan…………”
Rika mengeluarkan ponselnya, menelepon nomor Emi.
“Ah, hei, ini Emi?”
Tindakan Rika tiba-tiba menelepon Emi, hampir membuat Ashiya berteriak, tapi karena Rika dengan menaruh jari telunjuknya di depan bibir menandakan tenang, Ashiya dengan terpaksa menutup mulutnya.
“Eh, ahh, tidak ada apa-apa~~ aku hanya ingin menanyakan kencanmu dengan Maou-san lancar tidak……ahaha, maaf maaf, benar sih~~kau melakukannya demi anak itu 'kan ~~sekarang meneleponmu apakah tidak apa-apa? Sudah saatnya makan juga…….huh?”
Rika awalnya ingin akting untuk bermain dengan Emi, lewat telepon mencari posisinya, tapi jawaban Emi di luar dugaannya.
“Sekarang, kau sedang jalan pulang?”
“Eh?”
Ashiya juga terkejut. Rika dengan tidak mudah menahan suara terkejutnya itu---
“Ah, begitu ya, masalah stamina anak kecil. Hm hm, begitu. Huft, yang penting anak kecil itu senang sudah cukup. Sekarang kau pergi ke stasiun ya, hm, aku tahu, maaf tiba-tiba meneleponmu, hati-hati ya, hn, hn……sepertinya begitu.”
Selanjutnya dia pun menutup teleponnya, dan mengatakan ini ke Ashiya :
“Sudah pulang…..huft…..kenapa begitu.”
“Kalau begitu, terus-terusan di sini juga tidak ada gunanya. Jangan-jangan Sasaki-san juga sudah pulang.”
“Ini, aku tidak terlalu yakin, tapi rasanya kurang enak dengannya…….kalau lain kali sempat bertemu lagi, boleh tolong titip minta maaf ke dia?”
“Tentu saja. Kalau begitu sudah saatnya aku pergi juga. Terima kasih untuk bantuanmu hari ini.”
“Ah, i-itu, tunggu sebentar.”
Rika tidak sadar menghentikan Ashiya yang baru berencana pulang mencari Maou.
“Iya?”
“Ah, itu……..”
Walau dia berhasil memanggilnya, tapi Rika yang tidak tahu harus mengatakan apa, hanya bisa terdiam.
“Eh, itu, oh ya! I-ini!”
Rika dengan buru-buru mengeluarkan catatannya. Dia dengan cepat merobek halaman tengahnya, dan menulis beberapa hal di atas lalu memberinya ke Ashiya.
“Ini…….nomor teleponkah?”
“Hm…..itu, punyaku…….”
“Punya Suzuki-san?”
Ashiya yang menerima kertas itu bertanya dengan serius.
“Itu, kalau terjadi sesuatu mungkin bisa menghubungiku, mungkin saja aku bisa membantu nanti.”
Biarpun Rika sendiri yang mengatakan terjadi sesuatu, tapi dia sendiri tidak yakin apa yang akan terjadi, tapi kalau tidak mengatakan ini, dia tidak tahan dengan suasana saat ini.
“Begitu…..benar juga, mungkin lain kali masih perlu meminta bantuanmu, aku juga belum tahu.”
“………huh?”
Biarpun Rika selalu mengatakan hal-hal seperti ini di situasi dia kehabisan kata-kata, tapi Ashiya selalu menjawab dengan tidak ragu :
“Seperti yang kubilang tadi, karena aku tidak mempunyai ponsel, jadi kalau Maou terjadi sesuatu………”
Berbicara sampai di sini, Ashiya seperti tiba-tiba terpikir sesuatu dan menggeleng-geleng kepalanya. Walau biasanya email ponsel yang dipakai selalu menggunakan telepon Maou, tapi kalau dipikir-pikir lagi memang seharusnya tidak memberi nomor telepon tuannya ke orang lain.
“Tidak…….hal-hal yang terjadi hari ini sudah cukup banyak. Jadi sedikit atau banyak mungkin akan masalah untuk ekonomi keluarga, sepertinya aku memang memerlukan sebuah ponsel. Tentang membelinya, apa kau bisa memberiku beberapa saran?”
Wajah Rika sekejap memerah.
“Suzuki-san dan Yusa sama-sama punya pekerjaan tentang ponsel, 'kan. Walau sekarang aku belum tahu apakah akan membeli ponsel dari perusahaanmu, tapi kalau lebih praktis, semoga kau bisa membantuku memilih beberapa.”
“Ba-baik! Um, hubungilah aku kapan saja!”
Tunggu sampai sadar, Rika sudah terlalu bersemangat dan dengan semangat mengangguk-anggukan kepala.
“Terima kasih. Kalau begitu, dalam waktu dekat aku akan menghubungimu lagi. Aku pikir aku akan menggunakan telepon umum.”
“Hm………”
“Kalau begitu, maaf saya duluan.”
Ashiya memberi salam, dan kali ini benar-benar berjalan ke arah stasiun.
“Ini bohong…..kenapa begitu, ihh……hei, kenapa ini?”
Sementara itu, Rika masih berdiri di tempatnya, sampai bayangan Ashiya tidak terlihat lagi.
“Bagaimana…………….bagaimana…………….bagaimana?”
Akhirnya dia dengan langkah kaki yang tidak begitu yakin, mulai berjalan ke arah stasiun yang arahnya terbalik dengan Ashiya.

Hataraku Maou-sama! Jilid 3 Bab 3 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.