14 Mei 2016

1/2 Prince Jilid 2 Bab 4 LN Bahasa Indonesia


TAKDIR
"Dengar semuanya!" nada bicara Wolf-dàgē terdengar serius saat dia memanggil kami sebelum membulai ronde pertama kami di babak final. "Kita harus bekerja lebih keras dari biasanya karena sekarang kita di babak final. Lawan yang akan kita hadapi pastinya adalah lawan yang pantas. Kita tidak boleh menganggap mereka enteng."
Kami semua mengangguk dengan sungguh-sungguh.
"Lolidragon, apa kau tahu siapa yang akan kita lawan berikutnya?" tanyaku. Lolidragon mengangguk, dan aku melahap segigit roti lagi sebelum mendesaknya tentang detail musuh kami.
Lolidragon mengerutkan alisnya dan berkata, "Mereka disebut 'Ascendant Dragons'. Aku belum pernah mendengar rumor spesial apapun mengenai mereka, tapi sepertinya kekuatan tempur mereka sangat rata-rata. Mereka hanya dapat sampai ke final karena mereka belum menemui musuh kuat sejauh ini, jadi mereka seharusnya akan cukup mudah untuk ditangani."
Aku menghela nafas lega. "Baguslah kalau begitu. Sepertinya pertandingan pertama kita akan sangat mudah."

Aku melangkah menuju ke arena, terlihat seperti lambang sosok yang keren seperti biasa, tapi… Meskipun sebenarnya adalah hal yang normal untuk merasa gugup saat pertandingan pertama babak final, kakiku terasa seperti jeli. Mataku menjadi lesu, pikiranku sama sekali kosong, dan bibirku meregang menjadi garis ketat saat aku menatap bodoh pada tim lawan.
Di tengah-tengah tim tersebut, terdapat satu pasangan menyolok mata yang terang-terangan menunjukkan kemesraan yang memualkan dan menjijikkan mereka… tapi itu bukanlah alasan dari menghilangnya ketenanganku secara mendadak. Alasan mengapa aku begitu terkejut adalah karena…
Mereka adalah orang tuaku – orang tua yang sama yang telah meninggalkan saudaraku dan aku untuk mempertahankan diri kami selama berbulan-bulan saat mereka pergi bulan madu kesekian kalinya!
Ya ampun, Ayah dan Ibu! Kalian pergi bulan madu — bagaimana bisa kalian malah ada di Second Life?! Bagaimana caranya aku bertarung? Kalau aku menghajar orang tuaku, akankah aku dianggap sebagai putri yang durhaka? Yang terburuk, kalau aku sampai ketahuan, UANG SAKUKU AKAN MENJADI SEJARAH.
"Prince, ada apa? Ada yang salah?" tanya Lolidragin, terlihat sedikit khawatir.
"Uh…semuanya baik-baik saja!" jawabku, menenangkan diriku sendiri. Tidak akan terjadi apa-apa! Bahkan saudara kembarku sendiri — yang menempel padaku dari sepanjang hari — tidak menyadari bahwa aku adalah saudarinya, si manis Feng Lan. Kalau begitu, tidak mungkin orang tuaku — yang pergi bulan madu selama dua ratus hari setahun — akan mengenaliku! Uang sakuku tidak akan berkurang karena menghajar orang tuaku……
"Suamiku, bukankah kau pikir si tampan di situ kelihatannya sedikit akrab?" ujar mage Ascendant Dragon, si istri dari pasangan mesra tersebut. Semakin dia melihatnya, semakin dia merasa bahwa dia pernah melihat Prince sebelumnya…
Si suami yang mesra itu menatap dengan sangat bergairah pada istrinya dan, saat mendengar perkataannya, dengan rasa enggan mengangkat kepalanya untuk melihat. Dia membalas, "Eh! Dia memang terlihat sedikit akrab. Apakah dia salah satu dari tetangga kita?"
"Entahlah!"
Aku memutar bola mataku. Ayah, Ibu, bisa tidak kalian berbicara lebih lembut? Bahkan anggota timku dapat mendengar kalian! Dengan tak berdaya, aku menatap mata menyelidik teman setimku dan mengangkat bahu dengan tampang polos.
"Pertandingan, mulai!" sang wasit tanpa ampun berteriak.
Ah, sudah dimulai! Apa yang harus kulakukan? Benakku dalam keadaan kacau saat aku melihat teman setimku dan kemudian pada orang tuaku, pikiranku berada dalam medan pertempuran konflik emosi pada saat ini.
"Sayang, pertandingan dimulai. Ayo selesaikan ini secepatnya supaya kita dapat naik pesawat dan pulang ke rumah."
"Oh… tapi kalau kita pulang ke rumah, kita tidak akan berduaan lagi! Ditambah lagi, kau akan harus memasak dan melakukan pekerjaan rumah tangga, dan kau tidak akan dapat menghabiskan waktu denganku. Itu akan sangat menyebalkan!" kata si istri, wajahnya jelas-jelas memperlihatkan keinginannya untuk tidak pulang ke rumah.
"Haha, jangan khawatir! Aku telah melatih Feng Lan! Kita akan menyuruhnya untuk membersihkan rumah dan memasak. Dengan begitu, aku akan dapat menghabiskan seluruh waktuku bersamamu, oke?" balas si suami. Hahaha, pikirnya. Seperti kata pepatah, 'Rawatlah putrimu selama seribu hari, dan dia akan merawatmu sepanjang hidupmu!'1
Ibu! Ayah! Aku berubah pikiran! Sebuah urat syaraf muncul di dahiku saat aku mengepalkan tinjuku sampai kepalanku berbunyi berkeretak. Sekalipun itu berarti aku akan kehilangansetiap sen dari uang sakuku untuk seumur hidupku, aku akan menghajar kalian berdua habis-habisan! "Prince…?" Anggota Odd Squad melihatku dengan keheranan, saat tubuhku seakan terbakar dengan kemarahan yang tak terlihat.
"Aku. Akan. Melenyapkan. Mereka!" Kata-kata itu keluar dari antara gertakkan gigi.

Di dunia nyata…
Kriiiiiiing! Kriiiiiing!
Aku menjulurkan tanganku saat mematikan dering alarm yang berisik, dan melepaskan helm gameku.
Sedikit merasa bersalah, aku bertanya-tanya. Apakah aku terlalu brutal terhadap orang tuaku? Hmph! Lupakan, merekalah yang mengkhianatiku lebih dulu, jadi mereka tidak dapat menyalahkanku karena membalas mereka. Lagipula, yang kulakukan hanyalah meninju ayahku sekitar beberapa ratus kali. Dan aku benar-benar bermurah hati pada ibuku, aku membunuhnya dalam sekali serang!
Aku meregangkan badan, merangkak turun dari tempat tidurku, dan pergi untuk menyiapkan sarapan. Sekarang adalah hari pertama masuk sekolah; akan gawat kalau aku terlambat. Aku memutuskan untuk membasuh wajahku, dan kemudian bertarung dengan kocokan telur, roti panggang, dan kopi.
Melangkah keluar dari dapur dengan piring berisi sarapan yang beraroma sedap, aku melihat saudaraku dengan malas menggeletak di meja makan.
"Apa sarapannya, kak?"
"Satu telur spesial untuk menambah tenaga, sepotong French Toast kelas atas, dan secangkir Turkish coffee kental dan creamy."
"Oh… Jadi sandwich telur dengan secangkir kopi!" kata saudaraku yang bodoh, sebelum dengan kasar mengambil piring dan mulai melahapnya. Waaah! Itu adalah sarapan yang kubuat dengan sepenuh hati dan jiwa! Tidak bisakah kau memakannya dengan cara yang lebih anggun?
Aku tiba-tiba teringat sesuatu. "Ngomong-ngomong, kita perlu membeli bahan makanan setelah sarapan. Ibu dan Ayah akan pulang."
"Eh? Kenapa kau bisa tahu?" tanya saudaraku, menatapku curiga.
Jantungku hampir berhenti. "Uhhh…merek menelpon."
"Benarkah…? Sejak kapan mereka belajar untuk menelpon dan memeriksan keadaan anak-anaknya?" Ketidakpercayaan terlihat jelas di wajah saudaraku.
"Makan saja rotimu, oke? Kalau kau terus mendesakku, akan kupastikan kau tidak mendapat makan malam nanti," seruku, mengesampingkan rasa bersalahku.
"Oke, oke!... Kau selalu mengancamku dengan makanan," gerutu Yang Ming.
"Mau bagaimana lagi? Makanan adalah satu-satunya hal yang berefek padamu," kataku sambil mengangkat bahu. Dalam hal ini, kami benar-benar bersaudara.
Bukan hanya makanan yang menjadi kesamaan kami. Biar kuperjelas di sini bahwa ikatan hubungan yang disesalkan ini antara saudaraku dan aku sudah berjalan BEGITU lama. Baik di SD maupun di SMP, kami berada di kelas yang sama. Kami masuk SMA yang sama (meskipun kami berada di kelas yang berbeda, karena sekolah tersebut memisahkan antara siswa laki-laki dan perempuan), dan sekarang, kami berada di kelas universitas yang sama. Hanya ada satu cara untuk menjelaskan situasi ini : takdir.
Aku benar-benar curiga, walau begitu, bahwa alasan yang SEBENARNYA mengapa kami berada di kelas yang sama di universitas adalah karena saudaraku yang pemalas diam-diam menyalin formuli rencana karirku karena dia terlalu malas bahkan untuk mengisinya sendiri! (Bukannya dia mengakui itu!) Bagaimanapun juga, kami sekarang berada di universitas yang sama dan bahkan berada di kelas yang sama pula. (Sebagai catatan tambahan, universitas itu sangat dekat dengan rumah, jadi kami tinggal di rumah dan pergi ke kampus dengan menggunakan kendaraan umum.)
"Ayo cepat, Kak! Bisnya akan berangkat!" Yang Ming berseru kesal.
"Oke, oke!" teriakku saat mulai berlari sekencang-kencangnya, mengumpat diam-diam, Yang Ming bodoh! Kau pikir kecepatan dan panjang kakiku di dunia nyata sama dengan yang ada di 'Second Life'?
Kehabisan nafas dan terengah-engah, saudaraku dan aku memasuki ruang kelas semenit setelah bel berbunyi, yang kemudian kusadari bahwa gurunya telah berada di atas podium! Aku cepat-cepat membungkuk dan meminta maaf pada guru tersebut, "Maaf, saya benar-benar minta maaf."
"Jangan khawatir, cepat temukan kursi dan duduklah."
Suara sang guru yang dalam dan lembut menenangkanku, tapi entah kenapa itu terasa aneh…
Kenapa suara ini terdengar begitu akrab? Sebuah alarm terdengar di otakku, dan dengan sedikit enggan, aku perlahan mengangkat kepala untuk melihatnya.
Wow… wajah yang begitu tampan… GUI! Aku menatapnya, dengan mulut ternganga dan mata melebar, dan berpikir, Apakah aku masih bermain?

"Kak? Kalau kau mau menatapi pria-pria tampan, setidaknya lakukan itu setelah kau berada di kursimu." Suara saudaraku yang menyebalkan itu terdengar di dalam ruang kelas, dan teman-teman sekelasku meledak tertawa.
Aku hanya dapat berjalan terhuyung-huyung di kursiku yang biasa dengan setengah sadar. Kedua sahabatku yang duduk di sebelahku: Gu Yun Fei (dia laki-laki, tapi dia jago menggosip jadi aku dan Jing memperlakukannya sebagai seorang wanita) di sebelah kiriku dan Lü Jing (dia adalah seorang gadis yang manis) di sebelah kananku.
"Siapa dia?" tanyaku pada Yun dan Jing, menunjuk pada wajah tak asing di podium.
"Sepertinya dia adalah profesor yang baru," Jing membalas saat dia memandangi si 'profesor baru', jelas-jelas terpesona.
"Dia terlalu muda untuk itu!" Aku melihat "Gui" dengan rasa tidak percaya. Dia bahkan tidak mungkin berusia tiga puluh tahun. Dia sudah pasti tidak lebih dari dua puluh lima tahun, setidaknya dua puluh enam! Dia hanya beberapa tahun lebih tua daripada para mahasiswa, tapi dia sudah menjadi seorang profesor?
"Kudengar dia adalah seorang jenius dengan IQ 200, kemudian dia memasuki universitas pada usia lima belas tahun, lulus pada usia delapan belas tahun, mendapatkan gelar doktor pada usia dua puluh dua tahun sebelum melanjutkan studi ke luar negeri, dan kembali dengan gelar doktor lainnya pada usia dua puluh lima tahun. Lalu, pada umur dua puluh enam tahun, universitas-universitas terkenal di negara ini semuanya berlomba-lomba untuk merekrut dia sebagai seorang profesor," kata Yun, iri.
…Kalau begitu dia mungkin sama sekali bukan Gui! Entah apakah benar atau tidak Gui sebenarnya memiliki apapun di dalam kepalanya itu adalah sesuatu yang selama ini kucurigai sampai hari ini. Tetap saja…dia terlihat sangat mirip dengan Gui. Dia terlihat sama persis dengan Gui di Second Life, tanpa dipercantik atau semacamnya.
Profesor "Yang-Mirip-Gui" itu tersenyum dan berkata, "Selamat pagi, para mahasiswa. Aku adalah Profesor baru kalian untuk Sejarah Sastra Cina, Min Gui Wen; kalian bisa memanggilku Gui. Aku sebenarnya tidak terlalu tua daripada kalian, jadi kuharap kita dapat akrab seperti teman."
Aku terhenyak ke kursiku. Kalau kubilang dia bukanlah Gui, siapa yang akan mempercayaiku? Gui adalah profesorku? Ya Tuhan, AKU TIDAK MEMPERCAYAINYA!
"Jing, bisa bantu aku untuk menanyakan padanya — Profesor Min — apakah dia bermain Second Life?" tanyaku mengumpulkan keberanian. Aku memutuskan untuk memastikan saat ini juga apakah keberuntungan benar-benar serusak itu.
Jin memandangku curiga. "Kenapa kau tidak menanyakannya sendiri?"
"Uhhh, Aku… Aku malu!" balasku dengan tawa lemah.
"…" Jing dan Yun melihatku dengan curiga dan wajahku bersemu merah karena malu.
"Aku tidak tahu apa yang sedang kau coba lakukan… Baiklah, terserah saja, aku akan membantumu bertanya! Aku tertarik, karena aku bermain Second Life juga," gumam Yun. Dia kemudian mengangkat tangan dan bertanya, "Profesor Min, boleh saya menanyakan sesuatu yang tidak berkaitan dengan kelas?"
Profesor Min membalas dengan senyum santai, "Boleh."
"Apakah anda bermain Second Life?"
Profesor Min terdiam sesaat, terkejut, dan kemudian membalas dengan bersemangat, "Tentu saja! Aku ikut serta dalam Adventure's Tournament. Timku sudah menyelesaikan ronde pertama babak final!"
Empat dari lima mahasiswa memberikan seruan terkejut, seperti "Benarkah?", "Itu hebat!", atau "Di tim mana anda berada?"
Saat suasana kelas semakin bersemangat, Profesor Min juga menurunkan sikap profesornya, dan menjawab semua pertanyaan dengan senangnya. "Aku adalah seorang bard dari ras demon. Aku adalah anggota dari Odd Squad."
"Odd Squad? Itu adalah tim yang sangat terkenal dan aneh. Kudengar petarung utama mereka, Prince si warrior, begitu kuat dan tampan luar biasa tampan!" seru Yun.
Profesor Min… Gui dengan antusias,"Ya! Prince benar-benar sangat kuat, dan dia juga begitu tampan."
"Anda serius? Bahkan lebih tampan daripada anda, Profesor?" tanya Jin, terpukau.
"Penampilannya jauh lebih baik dariku," balas Gui, ekspresinya serius.
"Ya ampun, Lan, kau dengar itu? Bukankah kau bermain Second Life? Kau pernah melihat Prince?" Jing tiba-tiba mencengkeram bahu dan mulai mengguncangku, membuatku sadar dari kondisi setengah sadar seperti zombie.
"Kurasa…kau bisa bilang begitu!" balasku lemas, semua tenagaku terkuras habis sekarang setelah kebenarannya telah dipastikan.
"Ohhh… jadi kau pasti pernah bertemu Profesor Min di Second Life! Karena itulah kau ingin kami menanyainya, ya 'kan, Lan?" kata Yun, suaranya yang lantang menarik perhatian Gui.
Ya TuhanGui melihatku! Aku menghindari tatapannya dan dengan acuh tak acuh mengangkat sebelah tangan untuk menutupi wajahku saat aku bergumam, "Bukan. Aku kemarin pergi menonton Adventurer's Tournament, jadi aku melihatnya dari jauh, hanya itu."
Tiba-tiba, sebuah suara tidak puas terdengar nyaring di ruang kelas.
"Prince? Hmph!" cemoohan Feng Yang Ming terlihat jelas di wajahnya.
"Apakah kau ada masalah dengan Prince?" tanya Gui. Ekspresinya jadi mengeras membeku, dan suasana di kelas menjadi dingin dengan cepat juga.
Kepala Yang Ming miring ke satu sisi, postur tubuhnya jelas-jelas menunjukkan sikap angkuh saat dia membalas, "Aku hanya pernah berpapasan dengannya, hanya itu."
Aku mengawasi suasana tegang antara saudaraku dan Gui dengan risau, tapi entah kenapa, Gui sepertinya mematung. Tatapan di wajahnya begitu rumit untukku kutebak. Suasana dingin tersebut berlangsung beberapa saat sebelum…
"Berdiri," kata Gui dengan nada tegas.
Semua orang di kelas mengeluarkan menarik napas tanda paham. Aku, juga, memandang saudaraku dengan gelisah, sangat khawati bahwa dia akan menyinggung perasaan si profesor di hari pertama dimulainya kelas. Ekspresi Yang Ming kaku, dan dia perlahan bangkit berdiri. Meskipun dia melakukan seperti yang diperintahkan, tatapan di matanya berkata bahwa dia sama sekali tidak ada niat untuk mundur.
Gui terlihat terguncang awalnya. Kemudian, seakan dia sulit mempercayai penglihatannya, dia berbicara setelah jeda waktu yang panjang. "Prince…?"
Yang Ming menatap profesor tersebut dengan tidak mengerti.
"…" Mataku melebar. Pemandangan apa yang sedang kulihat ini?
Gui sepertinya sadar bahwa dia telah bersikap aneh di depan kelasnya, karena dia segera menjadi tenang dan tersenyum. "Kau boleh duduk sekarang! Ayo kita mulai mengabsen sehingga kita dapat saling mengenal."
Aku duduk di situ dengan tidak tenang atas setumpuk pertanyaan yang tak terjawab sampai bel tanda pelajaran selesai berbunyi. Begitu Gui berjalan keluar dari ruang kelas, aku segera ambruk di atas mejaku. Kupikir, Apa yang sebenarnya akan kulalui di semester ini? Dan Gui berkata "Prince" saat dia melihat saudaraku tadi — apa maksudnya itu sebenarnya? Mungkinkah Gui telah salah mengira bahwa saudaraku adalah aku? Itu mustahil…
SIAL! pikirku, saat tiba-tiba teringat bahwa Gui adalah HOMO! …Kalau dia salah mengira saudaraku adalah aku, maka… Ya Tuhan! Darah serasa membeku di pembuluh-pembuluhku.
"Lan, Lan! Profesor Min bilang bahwa kalau kita bermain Second Life, dia akan mengajak kita untuk bertemu dengan anggota Odd Squad. Aku saaaaangat ingin bertemu Prince!" Jing berkata dengan wajah penuh harap, "Jadi, kuputuskan untuk bermain, bisakah kau membantuku menaikkan level?"
"…" *GAWAT*
"Lan, beritahukan padaku username-mu. Aku akan mem-PM-mu begitu aku online dan kita dapat meningkatkan level bersama Jing! Setelah itu, kita semua bisa pergi dan menemui Prince. Aku ingin menanyakan padanya bagaimana caranya dia bisa sekuat itu," kata Yun, ekspresinya sama-sama penuh dengan antisipasi.
"Aku…" Apa yang harus kulakukan…? Aku ingin menangis…
"Ada masalah apa? Mungkinkah levelmu terlalu rendah dan kau terlalu malu untuk mengatakannya pada kami?" tanya Yun, tertawa.
"Err, ya, itu dia! Aku tidak banyak berlatih, jadi aku tidak bis membantu menaikkan level Jing. Kau bisa mengurusi dia," aku berkata dengan terburu-buru.
Dengan kebingungan, Jing berkata," Jadi kenapa? Kita minta saja Yun untuk menaikkan level kita berdua kalau begitu!"
Aku melemparkan sebuah alasan, alasan apapun. "Aku… uh, suamiku akan menaikkan levelku!"
"Ohhh— jadi kau hanya tidak ingin siapapun masuk ke dalam dunia pribadi kalian, menyingkirkan teman-temanmu demi seorang pria," kata Jing dan Yun, menggodaku.
"Aku…" Waaah…aku benar-benar ingin menangis sekarang…

Di klinik kampus…
Gui melangkah masuk ke klinik kampus. Bersandar pada dinding, dia mengamati seorang dokter bertubuh tinggi dan bahu yang lebar di dalam, yang sedang sibuk menempatkan peralatan medis. Setelah beberapa saat, dia akhirnya berkata, "Aku bertemu dengan seorang mahasiswa hari ini yang benar-benar mirip dengan Prince."
Punggung dokter tersebut terlihat membeku untuk sesaat. Kemudian dia berbalik. "Kebetulan sekali! Prince juga di sini?"
"Aku tidak yakin apakah itu adalah dia. Dalam hal penampilan, mereka tidak begitu mirip, tapi postur tubuh dan sikapnya hampir serupa," kata Gui, alisnya sangat berkerut saat berpikir.
"Mau mencob menanyainya?"
"Aku ingin bertanya pada awalnya, tapi dia sepertinya tidak mengenaliku. Aku tidak tahu apakah dia hanya berpura-pura tidak tahu atau apakah dia memang benar bukan Prince." Gui mengangkat kepalanya dan melihat ke dokter tersebut. "Wolf-dàgē, sebaiknya aku bertanya atau tidak?"
"Tentang itu… hmmm!" Wajah yang kasar dan tampak jujur Wolf-dàgē — Lee Tian Lang — dipenuhi dengan keraguan. "Penampilanmu persis sama antara yang di dunia nyata dengan yang ada di dunia game, jadi kalau dia benar-benar Prince, dia mungkin saja berpura-pura tidak mengenalmu, karena dia mungkin mengenalimu… Kenapa tidak kau tanyakan saja malam ini, saat kau online?"
"Hmm, baiklah," jawab Gui, berpikir secara mendalam.

Pada saat ini, aku baru saja menyeret pulang diriku yang kelelahan, saat aku melihat ayah dan ibuku yang sedang menggerutu di ruang keluarga.
"Ayah, Ibu, kalian pulang," aku menyapa mereka dengan waspada.
"XIAO LAAAAAN!" ibuku tiba-tiba memelukku dengan erat dan mulai terisak-isak tak jelas.
Terkejut, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, jadi aku segera menoleh ke ayahku dan bertanya, "Ayah, apa yang terjadi?"
"Ini semua karena Prince…" ayahku berkata dengan marah lewat gigi-giginya yang bergemeretak. "Kami mengerahkan banyak usaha untuk masuk ke babak final, hanya untuk dikalahkan di ronde pertama olehnya. Dasar brengsek!"
"…" Ini tentang alter-egoku lagi, pikirku, berkeringat dingin.
"Prince sialan itu, aku membencinya," kata ibuku saat dia mendongak ke atas, wajahnya mengerut dengan kebencian.
"Siapa yang bilang mereka benci Prince?" Yang Ming bertanya saat dia masuk melewati pintu. "Aku juga benci cowok brengsek itu — dia mencuri gadis-gadisku dan membuatku dihukum pada hari pertama kuliah oleh profesorku. Aku akan membunuhnya meskipun harus mempertaruhkan nyawaku!"
"Itu benar! Kita akan membunuhnya, sekalipun mempertaruhkan nyawa kita!" seru orang tuaku.
"…" *Hiks* Aku akhirnya mengerti bagaimana perasaanmu saat dikepung musuh di hadapamu Xiang Yu!2

Online…
Aku menemui Lolidragon begitu aku log on ke Second Life malam itu.
"Prince, kau terlihat cukup pucat," kata Lolidragon. Dia menatapku khawatir saat aku berganti-ganti dari duduk dan melangkah mondar-mandir dengan tidak tenang.
"Apakah Gui sudah di sini?" tanyaku, tidak benar-benar menjawab pertanyaannya. Sebagai gantinya, aku terus melirik ke kanan dan ke kiri, tidak dapat menenangkan hatiku.
"Belum… Sejak kapan kau begitu mempedulikannya?" Lolidragon bertanya, melihatku dengan tidak yakin.
"Berhenti menggodaku, Lolidragon! Kau harus menyelamatkanku!" ratapku saat meluncur ke lengannya.
Lolidragon terlihat jelas ketakutan karena tindakanku. Dia segera menanyakanku tentang apa yang sedang terjadi, jadi dengan berurai air mata, aku menceritakan kembali pengalaman tragisku hari ini. Pertama-tama, aku menceritakan tentang pertemuanku dengan Gui, dan kemudian tentang bagaimana dia salah mengira adik lelakiku sebagai aku. Setelah itu, aku memberitahukannya tentang kebencian saudaraku padaku, dan akhirnya, tentang bahkan bagaimana orang tuaku bersumpah untuk membunuhku atau mati saat mencobanya…
Ya ampun, ini benar-benar hari tersialku selama ini.
"Hmmm…" Dia benar-benar kasihan. Ini dunia yang begitu luas, tapi Prince tetap bertemu Gui — ini pastilah takdir!
Setelah tiga detik merasa bersimpati dalam kesunyian atas ketidakberuntungan Prince, Lolidragon mulai merasa bahwa seluruh kejadian ini… sangat menarik!
Sayangnya, dengan kepala yang terbenam di lengannya, aku tidak menyadari bahwa Lolidragon — yang merasa senang dalam kekacauan — sedang menyengir jahat, ekor rubahnya muncul…
"Kau tidak perlu merasa begitu khawatir, Prince. Kau bahkan tidak perlu tergesa-gesa untuk menyangkalnya; kurasa Gui mungkin malah tidak mempercayaimu. Hanya masalah waktu sebelum kita bertemu dengan Feng Wu Qing, dan saat itu terjadi, Gui akan menyadari bahwa dia telah membuat kesalahan," kata Lolidragon.
Di dalam kepalanya, dia sedang berpikir, Tetap saja, sebelum kita bertemu Feng Wu Qing… Heh heh, akan ada sebuah tontonan menarik untuk disaksikan! Cengiran Lolidragon menjadi semakin licik.
"Benarkah?" tanyaku, alisku mengerut.
Lolidragon mulai mengangguk sekuat tenaga.
"Kalau begitu… baiklah, kurasa!" kataku. Aku masih sedikit ragu, tapi… Haah! Apa yang akan terjadi, terjadilah. Apa yang bisa kulakukan soal itu lagipula?
Lolidragon tiba-tiba menunjuk ke belakangku dan berkata, "Gui di sini."
Aku membeku. Saat aku menoleh perlahan, wajah Gui yang akrab dengan senyum riang dan nakalnya, muncul.
Aku memaksakan otot-otot wajahku yang kaku untuk mengendur dan tersenyum kikuk. "Pagi, Gui."
"Selamat pagi, Tuanku yang seindah dan semulia seperti biasanya pagi ini." Gui memberikan sebuah salam membungkuk seperti biasa.
"Yah… Ahahaha… " aku tertawa lemah.
Gui —  yang telah mengangkat kedua tangan untuk melindungi kepalanya, siap untuk dipukul — mematung sesaat, sebelum mengangkat kepalanya dan memberikan lirikan bingung. Senyuman nakal yang biasanya berada di wajahnya telah menghilang, dan si otak kosong Gui digantikan dengan Gui yang memiliki IQ 200. Dia menatapku mataku dalam-dalam seakan dia sedang merenungkan sesuatu.
"Prince, apakah kau masih seorang mahasiswa?" tanyanya.
"Eh? Uh, yah!" balasku, dan jantungku hampir melompat keluar dari dadaku.
Dia terus menatapku tajam saat dia bertanya, "Apakah kau berada di Universitas XXX?" Dia akhirnya menyebutkan nama universitasku.
Berkeringat dingin, aku sengaja berbohong dan berkata, "Tidak."
"Oh." Kata "curiga" terlihat jelas di mata Gui saat dia melihatku dengan sungguh-sungguh.
Wajahku memucat, dan aku menoleh melihat Lolidragon, tapi yang dia lakukan hanyalah memberikan tanda "OK". OKApakah ada apapun di dunia yang kurang OK dari ini?
Untungnya, Gui tiba-tiba mengganti topik pembicaraan. "Oh iya, aku bertemu Wolf-dàgē di kampusku. Dia adalah dokter di klinik kampus!"
Mendengarnya, mataku hampir keluar. "APA?"
Wolf-dàgē juga ada di kampusku? Ya ampun, apakah rangkaian pertemuan yang ditakdirkan ini akan berlanjut lebih jauh lagi? BERIKANLAH AKU JAWABAN, WAHAI DEWA!
Sekalipun aku mengutuki langit, Lolidragon mengulas ulang bagan babak eliminasi dengan kebimbangan di wajahnya. Sayangnya, aku tidak berminat untuk mendengar tentang siapa lawan kami nantinya. Tidak peduli siapa itu, aku akan melampiaskan kemarahanku pada mereka! Pikirku dengan berapi-api.
Tepat saat itulah, suara Wolf-dàgē terdengar nyaring dengan jelas, dan aku merangkak dengan enggan dari sudut gelap keputusasaanku untuk mendengarkan. "Kali ini, lawan kita adalah orang yang kita kenal. Tim Rose."
APA? Ini adalah serangan berat lainnya untukku. Aku merangkak kembali ke pojok gelapku untuk meratapi prasangka Takdir terhadapku. Ini sudah cukup buruk bahwa aku tidak dapat melampiaskan kemarahanku, tapi kenapa harus Tim Rose, yang semua anggotanya berpiki bahwa aku adalah homo…? Waaaaaaah!
"Pertandingan ini mungkin terbukti merepotkan untuk Gui," Yu Lian-dàsăo berkata, melihat Gui dengan simpati.
"Yah, kasihan Gui." Lolidragon juga melihat Gui seakan pria itu adalah seseorang yang sudah mati.
Akan tetapi, Gui dan aku sama-sama sangat kebingungan. Ada masalah apa dengan Gui? Bukannya aku yang seharusnya mendapat lebih banyak simpati?
"Kudengar Rose dan Fairsky membentuk sebuah grup pendukung Prince, dan mereka berhasil mengajak banyak gadis untuk bergabung. Grup mereka sepertinya bernama… Grup Pendukung Selamatkan Prince si Super Tampan dari Cengkeraman Guiliastes si Iblis Homo dan Bantu Prince Mengerti Kebaikan Wanita Sekali Lagi." Lolidragon selesai menyebutkan nama grup tersebut dalam sekali tarikan nafas, dan hampir tercekik saat melakukannya.
Nama grup pendukung aneh macam apa itu? Pikirku sambil mendengarkan, terheran-heran. Sebuah grup pendukung yang ternyata terbentuk karena aku? Ya ampun, apa aku masih belum cukup bermasalah saat ini?
"Terlebih lagi, untuk menghajar Gui habis-habisan, mereka telah menjalani pelatihan khusus akhir-akhir ini. Fairsky juga telah menghabiskan banyak uang untuk semua jenis senjata dewa, yang kemudian sangat meningkatkan kekuatan tempur Tim Rose," Yu Lian-dàsăo menambahkan dengan mengerutkan dahi dan mendesah.
Akhirnya ada seseorang yang keberuntungannya lebih buruk dariku, pikirku, menghela nafas lega. Aku kemudian memberikan Gui tatapan simpati. Sayangnya, cengiran di wajahku sama sekali menyiratkan kenyataan bahwa aku sebenarnya senang sekali dengan penderitaannya.
Gui hanya tersenyum.
"Demi Prince, aku bisa menghadapi apapun," katanya. Dia menatapku, perasaannya terlihat jelas di wajahnya. Dia segera dibawa ke pinggir untuk dihajar…
Saat ini, aku sulit untuk merasa terganggu dengan kenyataan bahwa dia adalah profesorku. Bagaimanapun juga, saat ini dia sedang menganggap bahwa aku adalah Feng Yang Ming! Sekalipun Profesor Min Gui Wen ingin membalas dendam di dunia nyata, dia tidak akan mencari Feng Lan… Heh heh, saran Lolidragon benar-benar bagus!
"Sementara Prince sibuk menghajar Gui, ayo kita pikirkan bersama dan membuat rencana tempur,"Wolf-dàgē berkata dengan tegas. "Bisakah kalian memikirkan cara untuk menghadapi senjata dewa mereka?"
"Hmph! Aku tidak percaya Black Dao-ku lebih payah dibandingkan dengan sebuah senjata dewa!" balasku, bahkan sambil melemparkan tinju yang lain pada Gui.
"Aku juga tidak merasa bahwa senjata dewa mereka adalah masalah besar. Aku tidak yakin mereka dapat menghabisi kita hanya dengan senjata dewa," Lolidragon menambahkan dengan dingin. "Uang tidaklah sehebat itu; uang dapat membeli senjata dewa, tapi tidak kemampuan untuk menggunakannya."
Aku menurunkan tinjuku untuk sesaat dan berkata perlahan, "Lolidragon, kau kelihatannya…cukup kesal?"
Lolidragon memberengut, dan berseru getir, "Tentu saja aku kesal! Apa kau tahu berapa banyak uang yang Fairsky habiskan untuk senjata-senjata dewa itu? Sepuluh juta dolar dunia nyata! Dia menghabiskan sepuluh juta dolar yang sebanyak itu, begitu saja! Kalau aku punya sepuluh juta, aku tidak harus bekerja keras sebagai seorang G—AKU SUDAH MENGUNDURKAN DIRI!"
Jadi, pada dasarnya, kau cemburu karena dia memiliki banyak uang, pikirku, menatap tanpa daya Lolidragon yang sedang menunjukkan kebenciannya.
"Kalau begitu pertama-tama, ayo kesampingkan masalah senjata dewa untuk saat ini. Sekarang, Tim Rose terbentuk dari dua warrior, satu archer, satu priest, satu mage, dan satu thief. Ini dalah kombinasi tim yang sangat bagus, tapi seharusnya tidak menjadi terlalu masalah untuk kita. Tapi tetap saja, untuk berjaga-jaga, kita sebaiknya menghadapi mereka dengan serius dan tidak meremehkan mereka," Wolf-dàgē berkata dengan serius.
Semua anggota Odd Squad mengangguk setuju, kecuali Gui… Itu bukanlah kesalahannya, walau begitu, karena orang yang pingsan di lantai tidak mungkin dapat mengangguk.

Saat aku memimpin jalan ke dalam arena, tidak salah lagi wajah-wajah anggota Tim Rose yang akrab pun muncul. Berdiri dengan mengenakan helm mereka adalah Fairsky dan Rose, ekspresi mereka bersedih hati saat melihatku. Di dalam hati, aku merasa amat sangat gugup, tapi di permukaan, ekspresiku terlihat dingin dan jauh seperti biasa.
"Prince…" Rose memanggilku dengan ragu-ragu.
Aku mengangkat tanganku, menyelanya. "Jangan katakan apapun saat ini. Sebuah pertandingan adalah sebuah pertandingan; jika ada yang ingin kau bicarakan, hal tersebut bisa menunggu sampai selesai pertandingan."
Mendengar perkataanku, air mata mulai mengembang di mata Rose. Penderitaan dan rasa terluka dalam tatapannya meningkat…
Ketidakpastian tiba-tiba menyerangku. Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?
"Prince, bagaimana bisa kau mengatakan sesuatu yang sekejam itu?" Fairsky dipenuhi dengan kebencian, dan dia berseru, "Apa kau tahu betapa kami memikirkanmu setiap hari? Kami mendatangi setiap pertandinganmu untuk memberi semangat, dan kami bahkan membentuk sebuah grup pendukung untukmu. Apakah itu semua masih tidak cukup untuk menggerakkan hatimu?"
Aku kejam? Aku hanya ingin menyelesaikan masalah yang ada saat ini! Aku sama sekali tidak mengerti cara berpikir perempuan…
Sial! Apa aku telah semakin tidak seperti perempuan dan lebih seperti laki-laki!?
"Ayo mulai!" Aku tidak ada pilihan selain terus berbicara dengan nada dingin. Hanya setelah kami menyelesaikan masalah ini, aku baru bisa secara terbuka mendiskusikan masalah grup pendukung dengan-nama-yang-sulit-untuk-diucapkan itu.
Suara yang akrab dari wasit terdengar nyaring. "Pertarungan, mulai!"
Doll segera memanggil skeletonnya. Menurut perhitunganku, para skeleton dan aku akan lebih dari cukup untuk membuat Li'l Strong dan Broken Sword sibuk. Aku memutuskan untuk menangani Broken Sword pertama-tama dan menyerahkan Li'l Strong untuk ditangani skeleton. Percakapan kami di restoran telah membuatku sadar bahwa Broken Sword adalah lawan yang patut diakui.
Seperti yang diduga, Broken Sword menyapukan pedangnya padaku dengan sebuah teriakan "Swaying Sword Style!"
Aku segera menahan serangannya dengan Black Dao-ku, berpikir, Hmph! Saudaraku telah menceritakan isi dari seri novel Jing Yong padaku berkali-kali sampai aku mengenalinya seperti telapak tanganku sendiri. Ada hujan percikan keperakan dan keemasan saat senjata kami beradu dengan gema suara logam yang bertemu logam.
Broken Sword adalah lawan yang pantas, seperti yang kuduga. Saat kami bertarung maju dan mundur, darahku mulai mendidih karena sangat bersemangat. Setelah saling bertukar serangan beberapa kali, kami menemukan diri kami terkunci sama sekali. Melepaskan diri, kami saling mengundurkan diri beberapa langkah untuk jeda sesaat.
"Kau memang benar-benar kuat, Broken Sword," kataku, melihatnya dengan rasa hormat.
"Berhenti bicara omong kosong." Mata Broken Sword penuh dendam dan kebencian, amat sangat mengejutkanku.
Ada apa? Tidak ada alasan baginya untuk membenciku sampai seperti ini, sekalipun dia percaya aku ini adalah homo, 'kan? Bagaimanapun juga, aku tidak melakukan XX dan OO padanya, 'kan?
"Pertandingan hanyalah sebuah pertandingan, Broken Sword. Apakah perlu bagimu untuk membenciku seperti ini?" raungku bahkan saat menahan pedangnya dengan dao-ku.
"Kalau bukan karena kau, Tim Rose kami tidak akan menjadi seperti ini!" Broken Sword berseru meradang.
"Menjadi seperti ini?" Seperti apa? Pikirku, dan membeku… tapi, sialnya, terhenti di arena pertempuran bukan hal pintar untuk dilakukan. Sekalipun aku berhasil menangkis pedangnya, aku ditinju tepat di wajah dengan tangan kirinya dan terjatuh ke tanah.
Broken Sword segera menggunakan lututnya untuk mengunciku ke lantai, dan menempatkan pedangnya di tenggorokanku. Dia merapatkan giginya begitu rapat hingga dia menggertakkan gigi saat dia berdiri di atasku.
Lewat gertakkan giginya, dia berkata marah, "Karena kauKaulah orang yang mengubah Rose dan Fairsky. Rose hanya dapat menatap fotomu sepanjang hari dan menangis. Sementara itu, Fairsky terus menghabiskan ribuan dan ribuan dolar untuk membeli senjata dewa, atau untuk menyuap tim lawan agar menyerah, dengan harapan untuk menemuimu di salah satu pertandingan. Tim ini… T-tim ini! Kalau bukan karena kami tidak tega untuk meninggalkan Rose dan Fairsky, kami berempat sudah keluar dari tim ini sejak lama."
Saat ini, kedua tim telah berhenti dan mendengarkan perkataan Broken Sword. Begitu pula aku — aku hanya dapat mendengarkan tuduhan tersebut dengan bingung, sebelum menoleh untuk melihat Li'l Strong, Legolas, dan For Healing Only. Mereka semua memelototiku dengan campuran perasaan murka dan amarah.
Rose menutupi wajah dengan tangannya dan mulai menangis, sementara Fairsky berteriak marah, "Tidak bisakah aku menyukai dia? Orang yang kusukai adalah Prince dan Prince saja. Bagaimanapun juga, aku tidak akan pernah menyerah. Tidak peduli metode atau strategi apa yang harus kugunakan — sekalipun aku harus menghabiskan uang yang tak terhitung banyaknya — aku tidak akan menyerah."
"Tanpa mempedulikan jumlah orang yang akan kau lukai — orang-orang yang ada di sisimu, dan memperhatikanmu?" Doll bertanya, menatap dengan begitu sedih. Denyutan rasa bersalah sekejap melintas di wajah lawan bicaranya.
Aku mendengarkan, merasa sedikit kebas, seperti biasa Doll ternyata mengatakan sesuatu yang sangat dewasa. Sudah terlalu banyak hal mengherankan yang terjadi hari ini. Syaraf-syarafku telah menerima terlalu banyak kejutan; aku tidak lagi bisa merasakan apapun.
"Aku tidak peduli!" teriak Fairsky, menutupi telinganya seakan dia dapat memblokir perkataan Doll. "Dan Broken Sword, singkirkan senjatamu dari Prince! Jangan sampai kau berani menyakiti Prince, atau… atau aku akan mengambil kembali senjata dewa yang kuberikan padamu!"
Begitu kata tersebut keluar dari mulut Fairsky, semuanya menyadari bahwa dia telah melakukan sebuah kesalahan besar. Wajah Broken Sword pertama-tama memerah. Kemudian memucat, dan kemudian menghijau…
Dia memberikn Fairsky sebuah tatapan penuh penderitaan sebelum tanpa kata-kata menjauhkan pedangnya dari tenggorokkannya. Dengan sebuah dentang logam yang nyaring, dia melemparkan pedangnya ke tanah. Kemudian, dia berbalik dan meninggalkan arena.
"Broken Sword…" Fairsky mengawasi saat dia pergi, terpaku.
Ada suara dentang logam lainnya saat sebuah objek berat dijatuhkan ke tanah. Li'l Strong telah membuang kapak besarnya juga.
"Sudah cukup, Fairksy. Aku tidak menginginkan uangmu," katanya sebelum mengikuti Broken Sword keluar dari arena. Dengan sebuah ekspresi dingin, Legolas melemparkan busurnya dan pergi tanpa berkata apapun. Akhirnya, For Healing Only  menghela nafas dalam-dalam dan melepaskan tongkatnya, melemparkan sebuah lirikan sedih pada Fairsky dan Rose sebelum pergi.
Rose melihat punggung-punggung dari anggota Tim Rose yang pergi, dan ekspresi di wajahnya mengkhianati pergolakan batin dan keraguan-raguannya. Setelah cukup lama, dia berjalan ke arahku dan berkata, "Prince, aku akan belajar untuk melupakanmu."
Kemudian dia tiba-tiba melingkarkan lengannya padaku dan MENCIUMKU…
Pikiranku menjadi kosong melompong. Merasa sepenuhnya mati rasa, aku berpikir, Bagus! Peristiwa lainnya untuk menambah daftar kejadian mengejutkanku untuk hari ini… Aku baru saja memberikan ciuman pertamaku pada seorang wanita cantik!
"Selamat tinggal, Prince." Rose berkata dengan senyum yang berlinang air mata — sebuah senyuman yang seperti mengatakan bahwa dia telah membebaskan dirinya dari suatu hal setelah sekian lama. Aku mengamati saat dia dengan anggunnya berbalik dan pergi. Meskipun dia mungkin telah mencuri ciuman pertamaku, aku masih berharap dia baik-baik saja dari dalam lubuk hatiku, dan kuharap bahwa dia akan menemukan Pangerannya yang sebenarnya nanti.
"Rose, kau akan pergi juga?" teriak Fairsky. "Bahkan kau juga akan meninggalkanku?"
Rose berhenti melangkah dan menarik napas dalam-dalam sebelum membalas. "Ya, aku akan pergi. Kuharap kau akan segera sadar juga, Fairsky." Kemudian dia kembali berjalan menjauh.
"Aku tidak ingin! Aku tidak ingin menyerah! Aku tidak akan menyerah, Prince," Fairsky berteriak padaku, matanya penuh dengan air mata. Kemudian, dia lari pergi dari arena, terisak-isak… dan untuk alasan yang tidak diketahui, Doll mengejarnya…
Saat tim yang pertama kali kutemui ketika aku baru memulai Second Life hancur di depan mataku, ada sebuah rasa pedih yang tak dapat diungkapkan dalam hatiku. Akan tetapi, yang paling membuatku kacau adalah…
Apakah ini salahku? Aku mau tidak mau bertanya-tanya, Bagaimanapun juga, apakah aku yang menyebabkan Tim Rose menjadi seperti ini?
"Lolidragon, apakah kebohonganku juga menyakiti banyak orang di sisiku yang mempedulikanku?" tanyaku lewan team channel.
"Err… Yah, kurasa Gui menikmati disakiti olehmu," Lolidragon membalas dengan santai.
"Lolidragon…" kataku marah, tapi dia menyelaku dengan segera.
"Kau tidak perlu merepotkan dirimu dengan hal itu, Prince. Percayalah padaku, itu bukan salahmu," dia menjawab dengan tegas.
"Benarkah?" tanyaku, masih merasa ragu-ragu.
Wolf-dàgē, Yu Lian dan Gui mendengarkan dialog antara Lolidragon dan aku, saling bertukar tatapan bingung. Akan tetapi, mereka sangat pengertian dan menahan diri untuk menanyakan apapun padaku saat ini.

"Fairsky, tunggu!" Doll terengah-engah kehabisan napas karena berlari, tapi dia masih tidak dapat mengejar Fairsky, yang adalah seorang thief.
Fairsky memutar badannya. "Kau mau apa? Ingin mencemoohku?" desaknya.
"Bukan begitu. Hanya saja… Aku mengerti cara berpikir Fairsky-jiějie," Doll berkata dengan lembut.
"Kau suka Prince juga?" tanya Fairsky skeptis.
"Tidak, hanya saja keluarga Doll juga sangat kaya…"
Fairsky terlihat sedikit bingung. "Kau…? Aku sama sekali tidak mengira hal itu."
"Itu bukanlah inti masalahnya, Fairsky-jiějie. Doll hanya ingin mengatakan padamu bahwa kau tidak bisa terus-terusan seperti ini. Banyak hal yang tidak dapat dibeli dengan uang," kata Doll. Nada bicaranya melembut. "Doll juga dulunya berpikir bahwa kau bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan dengan uang… Lama kemudian baru kusadari bahwa kau tidak dapat membeli apapun yang benar-benar berarti."
"Tapi… tapi aku benar-benar menyukai Prince. Selain menggunakan uang, aku tidak tahu cara lain untuk mendapatkan hatinya," Fairsky berkata dengan sedih. Aku tidak secantik Rose atau Lolidragon, dan kepribadianku terlalu berapi-api. Tanpa kekayaanku, bagaimana lagi caranya aku melampaui wanita lainnya?
Doll membalas dengan tegas, "Kalau kau benar-benar menyukai Prince-gēge, maka lakukan seperti yang Doll katakan."
"Apa yang harus kulakukan?"
"Minta maaflah pada semua orang di Tim Rose."
Saat mendengarnya, wajah Fairsky segera menjadi kaku, dan Doll cepat-cepat menambahkan, "Kalau berhubungan baik dengan anggota timmu dan bekerja keras bersama-sama untuk mengalahkan tim kami, Prince-gēge tidak akan menyesalkan dirimu. Dia bahkan mungkin akan benar-benar menghargaimu, atau sangat menyukaimu! Tidakkah kau lihat betapa dia menghormati Broken Sword-gēge?"
"Mm!" Fairsky setuju dengan rasa enggan setelah berpikir beberapa saat. Bagaimanapun juga, dia juga bukannya ingin hubungan antara dirinya dan anggota Tim Rose lainnya retak begini.
"Doll, kau benar-benar orang yang tidak biasa," kata Fairsky, melihat Doll dengan penasaran. "Siapa sebenarnya kau…?"
Doll hanya tersenyum dengan misterius.

Seperti biasa, sekarang waktunya untuk makan dan beristirahat setelah pertandingan. Berkumpul di restoran dengan sejumlah besar hidangan di atas meja di hadapan mereka, anggota Odd Squad… menatap dengan tak berdaya saat aku menghela nafas berat lagi. Aku bahkan tidak mengangkat sumpitku.
"Ternyata makanan sekalipun tidak dapat membuat Prince senang; ini benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya!" Lolidragon berkata tanpa daya. Dia melihat ke sekitar meja, tapi semua orang hanya menggelengkan kepalanya, tidak dapat memikirkan cara untuk memulihkan suasana.
"Haaah…"Aku telah merenungkan tentang apa yang terjadi pada Tim Rose; rasa bersalah memberatkan hatiku seperti sebongkah batu yang dipungut dari setumpuk kotoran — itu benar berat dan berbau menjijikkan. Sekalipun aku ingin melakukannya, mustahil untuk berpura-pura tidak mempedulikannya…
Terutama, perkataan Doll terngiang-ngiang di dalam kepalaku. Apakah aku sebaiknya jujur terhadap semuanya? Aku bertanya-tanya. Tapi apa yang akan terjadi jika aku mengatakan yang sebenarnya? Bagaimana kalau mereka tidak dapat menerimanya?  Aku di ambang keinginan untuk menjambak rambutku. Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan?
"Jangan salahkan dirimu sendiri untuk hal ini, Prince. Bagaimanapun juga, ada terlalu banyak gadis di luar sana yang menyukaimu. Tidak mungkin kau dapat membalas semua perasaan mereka," Yu Lian-dàsăo berkata dengan lembut.
"Tapi…" Masalahnya adalah aku seorang gadis, dan tetap saja itu berarti aku berbohong pada semua gadis itu…
"Tapi apa?" Ada sebuah nada sedikit memaksa pada suara lembut Yu Lian-dàsăo saat dia bertanya.
"Err…" Wajahku menjadi pucat pasi. Apakah aku benar-benar harus jujur terhadap mereka? Apakah sekarang harinya untuk kebenaran terungkap?
"Prince, kebohongan apa yang sudah kau lakukan pada semuanya…?"
"Aku…" Aku akan terus terang tentang yang sebenarnya kalau begitu! Aku tidak ingin menipu semuanya, aku berpikir dengan tidak senang. "Aku adalah seorang pe—"…
Yu Lian-dàsăo menyelaku, berkata, "Kurasa kebohongan yang kau katakan adalah tentang sesuatu yang kau sembunyikan dari kami, ya 'kan? Prince, kau tidak perlu takut tentang hal semacam itu. Tingkah laku semua orang berbeda antara yang mereka lakukan di internet dengan yang mereka lakukan di dunia nyata. Aku, sebagai contohnya. Aku sebenarnya tidak selembut dan sesantai ini di dunia nyata!" Saat dia berkata demikian, Dàsăo bahkan mencoba untuk mendemonstrasikannya pada kami dengan memperlihatkan raut wajah yang kaku dan mengerut…
Dàsăo, kupikir senyum bayangan dirimu "yang lembut dan santai" itu jauh lebih menakutkan…
Wolf-dàgē juga mencoba menghiburku, berkata, "Itu benar, Prince. Selama dirimu yang ada di dalam game tetap adalah dirimu, itu sudah cukup bagi kami. Orang seperti apa dirimu di dunia nyata tidaklah penting."
"Itu juga tidak benar sepenuhnya. Bagaimana misalnya kalau Prince adalah salah satu dari sepuluh buronan yang paling dicari?" Lolidragon pura-pura berekspresi ketakutan saat dia melihatku…
Kau! Coba kau pikirkan lagi, dasar Lolidragon bodoh! Memangnya siapa yang termasuk dlami sepuluh buronan yang paling dicari? Kau adalah yang berada di tingkat teratas dari daftar "kriminal yang paling dicari" di Second Life!
"Itu mustahil. Tuanku yang Mulia tidak mungkin seorang buronan yang sedang dicari," kata Gui, menatapku dengan keyakinan yang teguh. Matanya seakan berkata dia mempercayaiku sepenuhnya… jadi aku mulai menghajarnya. Kenapa, katamu? Karena tanganku gatal tidak menghajarnya untuk waktu yang lama!
"Yey! Prince-gēge mulai menghajar Gui-gēge! Itu hebat! Sepertinya Prince-gēge sudah pulih kembali akhirnya!" Doll berseru senang saat menyaksikan orang tertentu yang menghajar Gui.
"Yep, yep, kalau dia bisa menghajar Gui, itu berarti segalanya baik-baik saja sekarang." anggota Odd Squad lainnya mengangguk lega.
Whew! Itu adalah latihan yang lama dan memuaskan. Rasanya aku menggunakan tinjuku untuk melampiaskan semua perasaan negatif yang telah terbentuk di dalam hatiku.
Aku melihat ke bawah pada Gui yang babak belur dan compang-camping. Terima kasih untuk pengorbananmu! Aku mengatupkan kedua tanganku dan berdoa untuk jiwanya yang telah pergi. Semoga kau beristirahat dalam damai!
Sudah hampir waktunya bagi kami untuk offline. "Sampai bertemu lagi," kata setiap anggota timku bergantian. Aku mengamati saat semuanya log off satu demi satu, tapi tepat saat aku sendiri akan log off untuk membuat sarapan, Gui tiba-tiba menyambar bagian kaki celanaku.
Dia mengangkat kepala dan melihatku, tatapannya tak tergoyahkan seperti sebelumnya.
"Maafkan aku, Prince…"
"Huh?" Aku benar-benar takjub. Sejak kapan seorang korban meminta maaf pada orang yang menghajarnya?
"Aku tidak akan mencoba menyelidiki urusanmu lagi," kata Gui, menatapku dengan lembut. Ekspresinya begitu indah menawan hati sampai membuat hatiku berdebar-debar.
"Tidak peduli siapakah dirimu, aku tidak masalah," Gui berkata, nada bicaranya menguat.
Oh, benarkah? Untuk beberapa alasan, aku merasa sangat tidak senang mendengar kalimat tersebut. Kupikir, Kau adalah homo, tapi aku adalah seorang perempuan. Kau yakin tidak merasa bermasalah?
 "Bahkan sekalipun aku di dunia nyata benar-benar berbeda secara drastis dari diriku yang ada di dalam game?" tanyaku dingin.
"Aku yakin dengan pasti bahwa kau yang sekarang adalah dirimu yang sebenarnya, sama seperti diriku yang ada saat ini adalah diriku yang sesungguhnya," Gui berkata dengan tegas. "Yang lain tidaklah penting — baik itu gender, atau kepura-puraan yang kita lakukan di dunia nyata… satu pun tidak ada yang penting."
Perkataan Gui membuatku sangat penasaran. Apakah itu artinya Gui yang tak berotak adalah Gui yang sebenarnya?
"Jadi Profesor Min di dunia nyata hanyalah sebuah kepura-puraan?"
Begitu perkataan tersebut meluncur dari mulutku, Gui membeku.
Aku juga membeku. Bukankah kalimat tersebut jelas-jelas menyatakan secara tidak langsung bahwa aku tahu siapa Gui di dunia nyata? Wajahku memucat, tapi tidak ada jalan keluar saat ini, jadi aku melihat Gui dengan mantap dan berkata, "Aku bukanlah Feng Yang Ming."
Aku sebaiknya mengatakannya itu. Bagaimanapun juga, kucing sudah keluar dari karungnya. Selain itu, jika ini berarti mencegah Gui untuk terus salah mengira saudaraku adalah aku… Lihat, betapa baiknya aku padamu, Yang Ming? Waaah…
Gui tiba-tiba kembali ke sikapnya yang semula dan, dengan sebuah wajah yang tersenyum, membalas singkat, "Mm, kau bukanlah Feng Yang Ming, kalau begitu… Aku bukanlah Min Gui Wen. Aku adalah Guiliastes!"
Tunggu seben… Oh, ya ampun, lupakan soal melompat ke Sungai
langit; aku tidak dapat berkata apa-apa!

[½ Prince Jilid 2 Bab 4 Selesai]

Footnote :
1.   Rawatlah putrimu selama seribu hari, dan dia akan merawatmu sepanjang hidupmu : Dalam bahasa Cina ini adalah “养女千日用在一生” (yăng nǚ qiān rì yòng zài yì shēng), yang secara harfiah berarti "rawatlah (dengan memberi makan dan pakaian) seorang putri selama seribu hari dan dia akan berguna untuk seumur hidupmu". Ini adalah sebuah permainan kata-kata dari “养兵千日用在一” (prn. yăng bīng qiān rì yòng zài yì shí) yang berarti "rawatlah seorang prajurit selama seribu hari dan dia akan berguna untuk waktu yang singkat." 
2.         Xiang Yu : Xiang Yu adalah salah satu dari jenderal-jenderal yang paling menonjol dari sejarah Cina. Sesudah kematian dari Qin Shi Huang, dinasti Qing menemui akhirnya (diruntuhkan oleh Xiang Yu) dan kemudian muncullah dua grup — Chu dan Han. Xiang Yu berasal dari bangsawan Chu, dan dengan demikian dia muncul untuk menjalankan kerajaan Chu, tapi dia akhirnya dikalahkan oleh Liu Bang, pemimpin dari Han dan leluhur dari Liu Bei (yang suka bermain game online atau sedikit sejarah Cina, orang ini adalah salah satu dari Legenda Tiga Kerajaan). 
Menurut legenda, Xiang Yu terkepung di medan pertempuran ketika dia dan pengawal pribadinya sedang dalam pertahanan terakhirnya. Xiang Yu akhirnya gugur dengan pedangnya sendiri (beberapa mengatakan bahwa dia memenggal kepalanya sendiri), lebih memilih untuk tewas di medan pertempuran dan dengan sisa-sisa kehormatannya. Setelah kematiannya, dinasti Han pun berkuasa.  
3.         Lupakan soal melompat ke Sungai Kuning : Di sini, Feng Lan merujuk pada pepatah Cina, yang berkata, "Melompat ke dalam Sungai Kuning tidak akan membasuh bersih pelanggaran hukummu atau kecurigaan terhadapmu."

1/2 Prince Jilid 2 Bab 4 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.