01 April 2016

Rokujouma no Shinryakusha!? Jilid 7 Bab 3 LN Bahasa Indonesia



Rokujouma no Shinryakusha!?
Jilid 7 Bab 3
Medan Pertempuran Pencarian Kerja dan Merasa seperti Seorang Tuan Putri

Bagian 1
Rabu, 23 Desember
Koutarou yang sedang membaca naskahnya, telah membaca sampai di akhir halaman. Seakan sedang menunggu dirinya selesai, naskah tersebut membalik halamannya sendiri. Halaman itu tidak digerakkan oleh tangan, karena tidak ada yang menyentuhnya. Seolah-olah angin sendiri yang membalikkan halaman tersebut buat Koutarou.
Meskipun begitu, Koutarou tidak kelihatan terkejut sama sekali. Dia terus membaca halaman selanjutnya seperti tidak ada hal aneh yang terjadi.
“Makasih.”
“Mm~”
Ketika Koutarou berterimakasih, suara Sanae terdengar dari atas. Sanae menggunakan kekuatan hantunya untuk membalik halaman naskah tersebut. Adegan itu sangat mirip dengan fenomena yang terjadi di dalam film horor ketika halaman buku terbalik sendiri.
“Oh.”
Sesaat setelah mulai membaca halaman selanjutnya, Koutarou berhenti. Karena adegannya telah berakhir, lebih dari setengah halaman itu kosong.
Sudah waktunya pergi, jadi kurasa cukup sampai sini saja.
Karena waktunya kelihatan bagus untuk berhenti, Koutarou menutup naskah di tangannya. Dia kemudian menyatukan tangannya dan meregangkannya di atas kepala.
“Hmm~~”
Ketika dia melakukan hal itu, terdengar suara gemeretuk dari sendi-sendi tubuhnya karena dia telah membaca naskah tersebut dalam posisi yang sama dari pagi.
“Membaca buku memang membuat bahuku kaku.”
Setelah selesai meregangkan tangannya, Koutarou memegangi bahunya dengan tangannya sendiri; peregangan sederhana dapat menghilangkan rasa kaku di bahunya.
“Koutarou, aku akan memijat bahumu.”
“Ah, tolong ya.”
“Serahkan saja pada Sanae-chan!”
Sanae melayang turun menuju punggung Koutarou dan mulai memijat bahunya.
“Bahumu cukup kaku!”
“Ah, rasanya enak.”
“Ini kan pijatan spiritual spesial milik Sanae-chan
Sanae menggunakan poltergeistnya untuk memijat bahu Koutarou sambil mengendalikan aliran aura di sekeliling. Dia membetulkan atau memperkuat aura yang tidak beraturan dan meningkatkan kondisi tubuh Koutarou. Metode pemijatan yang benar-benar baru yang bahkan akan membuat para profesional merasa terkejut.
“Kau bisa dapat banyak uang dengan pijatan ini.”
“Tidak mungkin, aku cuma bisa melakukan hal seperti ini buat Koutarou. Orang lain akan merasa waspada, pijatannya jadi tidak berguna.”
“Aku tidak terlalu mengerti, tapi sayang sekali.”
“Hehe, puji aku lebih banyak lagi brengsek
Karena Sanae sangat terampil dalam memijat, Koutarou menyerahkan tubuhnya pada Sanae selama beberapa saat. Rasanya seperti besi yang terkubur di bahunya telah meleleh seperti es.
“Maaf membuat anda menunggu, Satomi-sama.”
Di momen itu, Ruth muncul dari dinding bercahaya, dia mengenakan pakaian olahraga. Dia akan pergi joging untuk membangun kekuatan fisiknya.
“Aku pergi.”
“Saya pergi sekarang.”
Koutarou dan Ruth berlari keluar dari kamar. Keduanya mengenakan pakaian olahraga untuk joging. Dan karena Koutarou akan ikut dalam kegiatan klub perkumpulan merajut nanti, dia juga membawa tas berisi pakaian ganti.
“...Hati-hati di jalan.”
Theia melihat mereka pergi dan bahunya sedikit turun.
Ksatria Biru pergi menuju Putri Perak. Itulah hal yang wajar, kan...?
Theia mencoba meyakinkan dirinya sendiri seperti itu ketika dia menyadari kekecewaannya sendiri. Meskipun itu hanya peran akting saja, dia tidak suka saat ksatrianya pergi menuju putri lain.
Koutarou mungkin akan bersumpah setia pada Putri Perak, bukan, pada Sakuraba Harumi...
Theia mulai merasa seolah-olah ada jurang yang lebar antara dirinya dan Harumi.
Koutarou telah menghormati dan mengagumi Harumi sejak lama, tapi dia tidak melakukan hal yang sama terhadap Theia. Sudah jelas siapa yang lebih mulia di mata Koutarou.
Pada akhirnya, sifatku jauh dari sifat alami seorang putri...
Theia menutup pintu, dia tidak tahu harus merasa bagaimana ketika Koutarou dan Ruth menghilang dari pandangannya.
Jika aku dan Sakuraba Harumi berebut tentang siapa yang akan menjadikan Koutarou pengikut-
Perasaan gelap menyebar ke seluruh dadanya ketika Theia membayangkan hal itu.
Aku tidak bisa mengalahkan Sakuraba Harumi. Aku tidak mungkin menang dengan keadaanku saat ini...
Setelah ditinggalkan sendiri di dalam kosan, Theia merasa kalah untuk pertama kalinya.
Koutarou dan Ruth sedang berlari berdampingan di jalan menuju sekolah.
Baik Ruth yang ingin joging dan Koutarou yang mau pergi ke sekolah untuk kegiatan klub dapat mencapai tujuan mereka dengan joging ke sekolah.
Karena Kouatarou menyamakan langkahnya dengan langkah kaki Ruth, Koutarou berlari lebih lambat dari biasanya. Langkah kaki Ruth lebih pendek, dan ototnya lebih sedikit. Pertama-tama, Ruth harus melatih ototnya. Latihan beladirinya masih dalam tahap awal.
Karena waktunya menjelang siang saat liburan musim dingin, tidak ada orang lewat di jalan menuju sekolah. Jalan musim dingin yang memang dingin kelihatan semakin sepi saat hanya ada dua orang yang sedang lari disana. Namun, kedua pelari itu tidak berhubungan sama sekali dengan kesunyian tersebut.
“Maaf sudah membuang waktu anda, Satomi-sama.”
“Tidak masalah, kau sudah banyak membantuku, Ruth-san.”
Ruth melihat dengan mata menyesal ke arah Koutarou sambil berlari. Namun, Koutarou menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
“Kau selalu mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, jadi aku merasa sedikit bersalah. Jadi jangan khawatirkan hal seperti ini.”
“Terimakasih, Satomi-sama.”
Ruth mengangguk dengan riang. Karena suasana hatinya sedang bagus, tentu saja langkah kakinya terasa lebih ringan. Tapi, Ruth mulai merasa bimbang.
Tapi, kenapa saya harus jadi lebih kuat? Setelah saya pikir-pikir, sebenarnya itu tidak perlu...
Sampai saat ini, Ruth didorong oleh keinginannya untuk menjadi lebih kuat. Ketika dia lari bersama dengan Koutarou, dia tidak merasakan keinginan itu lagi. Tapi di waktu yang sama, dia tidak mau berhenti berlari; dia merasa ingin seperti itu selamanya. Mau tidak mau, Ruth merasa kalau apa yang dia rasakan adalah hal yang misterius.
Tapi di waktu yang sama, saya ini pengawal yang mulia. Jika saya menjadi semakin kuat, maka yang mulia akan semakin aman!
Pada akhirnya, Ruth memutuskan untuk menjadi lebih kuat. Dia meragukan perasaannya, tapi semakin dia menjadi lebih kuat, maka Theia akan semakin aman. Malah, tidak menjadi kuat adalah pilhan yang buruk.
“Saya harap saya bisa menjadi cukup kuat untuk melindungi yang mulia.”
“Theia sudah sangat kuat, apa ada alasan lain untuk melindunginya?”
Koutarou tersenyum kecut pada Ruth.
Baginya, Theia bukanlah orang lemah yang perlu dilindungi. Setelah banyak ditolong olehnya, Koutarou menganggapnya sebagai orang yang bisa diandalkan.
“Fufufu, Satomi-sama, jika anda mengambil senjata-senjata itu dari yangmulia, beliau hanyalah gadis biasa.”
“Tapi dia juga kuat dalam pertarungan tangan kosong.”
Koutarou masih tersenyum kecut sambil mengusap dagunya. Theia memukul dagu Koutarou beberapa hari yang lalu. Koutarou sering adu otot melawan Theia, jadi dia tahu seberapa kuat Theia sebenarnya.
Gerakan Theia cukup lincah meskipun pukulannya cukup kuat. Dia juga punya intuisi yang bagus dalam bertarung. Koutarou tidak bisa menganggap Theia sebagai gadis biasa, seperti yang dikatakan Ruth.
“Fufufu, tapi Satomi-sama, musuh beliau bukan hanya satu.”
“Ah, benar juga. Aku sering lupa kalau dia itu tuang putri.”
Di momen itu, Koutarou ingat siapa sebenarnya Theia.
Meskipun sekarang dia baik-baik saja, ketika dia kembali ke negerinya, dia akan dikelilingi banyak musuh, ya...
Theia adalah tuan putri kerajaan yang menguasai galaksi. Dia punya banyak lawan politik dan selalu dalam bahaya. Ada juga kelompok radikal yang melawan pemerintah selain rival yang bersaing memperebutkan kursi kaisar. Ditambah lagi, ibunda Theia, Elfaria, memiliki hubungan buruk dengan militer, dan suasana mencurigakan bisa dirasakan diantara keduanya.
Kehidupannya sekarang di Bumi adalah pengecualian, tapi normalnya, dia adalah gadis yang hidup di dunia seperti itu.
“Benar. Setelah yang mulia pulang, dia akan kembali ke kehidupan yang jauh lebih berbahaya dari sekarang.”
Wajah Ruth berubah tegas dalam sekejap. Melihat wajah Ruth seperti itu, Koutarou merasa kalau kehidupan itu jauh lebih keras daripada apa yang dia bayangkan.
Jadi karena itulah dia ingin melindungi Theia dan menjadi lebih kuat... Bukannya ingin menangani bahaya itu sendiri, tapi dia ingin Theia merasa aman...
Koutarou bisa sedikit mengerti perasaan Ruth. Saat dia menatap langit musim dingin, dia ingin membantu Ruth.
“Saya ingin minta sesuatu pada anda, Satomi-sama.”
“Iya?”
Saat Koutarou mengalihkan pandangannya dari langit menuju Ruth, dia melihat ekspresi serius di wajah Ruth.
Kayaknya ini hal yang serius...?
Merasakan keseriusan Ruth, Koutarou berhenti berlari. Begitu pula dengan Ruth.
Mereka saling menatap di jalan menuju sekolah.
“Satomi-sama, ini bukanlah keinginan yang mulia. Saya mengatakan ini atas inisiatif saya sendiri, jadi saya ingin anda merahasiakan hal ini dari yang mulia selama beberapa waktu.”
Ruth memulai perkataannya dengan itu. Dia sudah memikirkannya sampai saat ini, jadi baik kata-kata maupun ekspresinya tidak menunjukkan keraguan sedikitpun.
“Satomi-sama, saya tidak keberatan jika anda tidak langsung melakukannya, tapi terlepas dari apakah yang mulia menguasai kamar 106 atau tidak, maukah anda melayani yang mulia?”
“Eh...”
Tawaran Ruth membuat Koutarou terkejut. Koutarou bertanya pada Ruth karena dia tidak terlalu paham apa yang Ruth maksud.
“Apa maksudnya melayani Theia...?”
Jika Theia mengambil alih kamar 106, Koutarou tahu kalau Theia perlu membuat Koutarou menjadi pengikutnya. Menguasai suatu lokasi dan penghuninya adalah ujian Theia.
Tetapi, Ruth ingin Koutarou untuk melayani Theia baik jika dia menang maupun tidak. Koutarou tidak paham maksud di balik kata-kata tersebut.
“Benar. Seperti yang saya katakan, yang mulia punya banyak musuh, dan tidak punya waktu untuk lengah. Beliau tidak pernah tahu kapan orang-orang yang beliau anggap sebagai sekutu akan mengkhianatinya.”
Ruth menatap langsung ke dalam mata Koutarou seraya menjelaskan situasinya. Harapan yang kuat dan kepercayaan yang dalam memancar di dalam mata tersebut.
“Beliau juga tidak bisa mudah percaya pada orang-orang yang menawarkan bantuan. Itu karena beliau tidak tahu organisasi apa yang ada di belakang mereka.”
Konsultasi dengan Koutarou ini bukan hanya penting bagi Theia, tapi juga bagi Ruth sendiri. Dia terus bicara seperti sedang berdoa.
“Tetapi, Satomi-sama, anda berbeda.”
“Aku?”
“Iya. Satomi-sama, anda tidak punya hubungan dengan Forthorthe. Tidak ada organisasi apapun di belakang anda. Dan saya sendiri sangat tahu betul orang macam apa anda ini.”
Setelah mendengar sejauh itu, Koutarou mulai mengerti apa maksud perkataan Ruth.
Setelah kupikir-pikir, Ruth pernah mengatakan hal seperti ini sebelumnya...
Berdasarkan ingatan Koutarou, sesaat sebelum mereka semua pergi ke pantai, Ruth sudah menjelaskan situasi Theia.
Karena alasan politik, dan karena gelar serta posisinya sebagai tuan putri, Theia kesulitan mencari kawan. Namun, dia telah datang ke Bumi dan bertemu Koutarou, yang tidak punya hubungan apapun dengan Forthorthe. Berkat hal itu, Theia memiliki teman untuk pertama kalinya, orang yang bisa dia teriaki dan akan balas berteriak padanya.
Dan kali ini juga sama.
Koutarou tidak punya hubungan dengan Forthorthe, dan sebagai teman mereka mempercayainya. Setelah memastikan hal itu, Ruth meminta Koutarou untuk melayani Theia.
“Dan karena itulah kau memintaku?”
“Benar. Saya mohon, dengan cara apapun. Terlepas dari apakah yang mulia menjadi kaisar ataupun tidak, dia perlu sekutu yang bisa dia percaya, seorang ksatria.”
Terlepas dari apakah Theia menjadi kaisar, baik dia tetap seorang tuan putri maupun tidak, dia tetap akan punya banyak musuh. Jadi apapun yang terjadi pada Theia di masa depan, Ruth, yang khawatir akan keamanannya, ingin Koutarou ada di sisi Theia.
“Tapi Ruth, aku ini alien, atau lebih tepatnya manusia dari tata bintang yang berbeda. Kupikir apa yang kau katakan itu tidak mungkin!”
Koutarou sadar betul seberapa penting tawaran Ruth ini. Tawaran ini berada di tingkat yang benar-benar berbeda dari tingkatan menjadi pengikut dekoratif untuk ujian Theia. Karena hal itu, Koutarou merasa kaget; hal ini bukanlah hal yang bisa dia putuskan dengan mudah.
“Bukan masalah. Sudah banyak waktu berlalu sejak Forthorthe menginjakkan kakinya di galaksi. Sudah ada beberapa contoh manusia dari planet berbeda yang menjadi bangsawan.”
Ruth langsung menjawab keraguan Koutarou, seolah-olah dia sudah menduga respons Koutarou. Namun, Koutarou menjawab dengan lebih bersemangat.
“Meskipun begitu, aku tidak punya status maupun kewenangan kan! Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku bisa membantu!”
Melihat reaksi itu, Ruth semakin yakin kalau dia tidak salah menilai Koutarou.
Pad saat anda mengkhawatirkan hal semacam itu, kami tidak punya pilihan selain menjadikan anda sebagai sekutu, Satomi-sama...
Ruth sedikit tersenyum dan menjawab Koutarou.
“Jika masalahnya tentang status atau kewenangan, yang mulia sudah punya kedua hal itu. Jika anda bersikeras, saya tidak keberatan jika anda menjadi anggota keluarga Pardomshiha.”
Theia bisa memberi status dan kewenangan pada Koutarou. Jika dia perlu dukungan sejarah, dia bisa diadopsi keluarga Pardomshiha.
Ruth bukan meminta hal semacam itu pada Koutarou.
“Yang kami butuhkan bukanlah status maupun kewenangan. Yang kami butuhkan adalah anda sendiri, Satomi-sama.”
Ruth meminta diri Koutarou sendiri.
Permintaannya itu adalah keinginan tulus yang menandingi pernyataan cinta.
Bagian 2
Koutarou berjalan menuju gedung klub di dalam SMA Harukaze sambil menggaruk kepalanya dan berpikir.
“Menjadi pengikut Theia, ksatrianya, ya...”
Dia berpisah dari Ruth di pintu gerbang sekolah, dan Ruth tidak lagi kelihatan. Namun, kepala Koutarou masih dipenuhi oleh kata-kata yang telah Ruth katakan.
Ruth ingin Koutarou melayani Theia terlepas dari apakah Theia menguasai kamar 106 maupun tidak.
Saran Ruth cukup sederhana, tapi Koutarou tidak tahu harus merasa apa.
“Itu terlalu mustahil, Ruth-san...”
Koutarou menghela napas berkali-kali.
Menjadi pengikut Theia berarti pergi ke Forthorthe, meninggalkan Bumi dan kehidupannya yang sekarang.
Jadi Koutarou tidak bisa langsung memberikan jawaban. Untungnya, Ruth paham hal itu dan tidak keberatan menunggu jawaban Koutarou sampai kepemilikan kamar 106 selesai ditentukan.
“Tidak terlalu sulit jika hanya menjadi pengikut Theia... tapi jika aku harus meninggalkan Bumi...”
Koutarou tidak begitu menentang jika dirinya menjadi pengikut Theia dibandingkan dengan ketika mereka pertama kali bertemu. Theia telah menyelamatkan Koutarou beberapa kali, dan dia tahu kalau di balik topeng keras kepala Theia, Theia benar-benar kesepian dan lembut. Baik Koutarou maupun Theia telah berkembang, dan hubungan keduanya telah berubah drastis.
Jadi jika cuma menjadi pengikut Theia, itu bukanlah masalah bagi Koutarou. Koutarou sendiri keras kepala jadi dia kesulitan mengatakan hal itu di depan Theia, tapi dia memang tidak keberatan menjadi pengikutnya.
Alasan kenapa dia tidak melakukan hal itu adalah karena dia tahu tentang situasi Kiriha. Jika Koutarou menjadi pengikut Theia, keseimbangan kekuatan di kamar 106 akan goyah. Dan jika Theia menang, situasinya dapat berkembang menjadi seperti yang ditakutkan Kiriha. Hal itu harus dihindari dengan cara apapun.
Satu hal lagi yang membuat Koutarou sulit menjadi pengikut Theia adalah apa yang akan terjadi setelah dia menjadi pengikut Theia. Theia pasti akan pulang ke Forthorthe. Saat itu terjadi, sebagai pengikutnya, Koutarou harus menemaninya pulang. Jika Koutarou meninggalkan Bumi, dia bukan lagi penduduk Bumi, melainkan warga negara Forthorthe. Koutarou sangat menyukai kehidupannya yang sekarang, jadi dia tidak bisa mengambil keputusan dengan mudah.
Dia tidak benci ide mengenai dirinya menjadi pengikut Theia. Dia juga tahu kesulitan yang dimiliki Theia serta musuh-musuhnya. Tapi dia tidak  bisa membiarkan Kiriha kalah sekarang. Dia juga sangat menyukai kehidupannya di Bumi. Pikiran-pikiran tersebut terus berputar di kepala Koutarou, dan sebentar lagi, otaknya hampir meledak.
“Ahhh~, aku menyerah!!”
Setelah mencapai batasnya, Koutarou berhenti berpikir. Toh ia tidak perlu mengambil keputusan sekarang. Ruth juga berkata demikian.
Yang manapun yang kupilih, aku merasa ada sesuatu yang hilang...
Itulah yang disimpulkan Koutarou seraya berjalan menuju gedung klub.
Apakah dirinya menjadi pengikut atau tidak, terlepas dari apa yang sudah dia putuskan, dia menginginkan satu lagi alasan yang jelas. Saat ini, timbangan di kepala Koutarou seimbang antara Kiriha di satu sisi dengan Theia di sisi lain. Jika dia punya satu laasan yang akan membuat keseimbangan tersebut bergeser ke salah satu pihak, Koutarou dapat mengambil keputusannya.
“Merajut, merajut.”
Koutarou menghentikan langkahnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan kekhawatirannya. Mulai saat ini dia akan mengikuti kegiatan klub perkumpulan merajut. Dia tidak boleh terus memikirkan tentang apa yang harus menjadi keputusannya.
“Aku tidak mau membuat Sakuraba-senpai khawatir karena ekspresi serius di wajahku.”
Setelah mengganti ekspresinya, Koutarou mulai berjalan lagi. Saat dia berjalan, tiba-tiba dia merasa kalau dia sedang diintip seseorang. Intipan itu membuat bulu kuduknya berdiri.
“Apa?”
Koutarou melihat ke sekelilingnya, mencari-cari darimana tatapan itu berasal, tapi dia tidak melihat siapapun. Karena area di sekitar gedung klub adalah area terbuka, dia dapat menemukan pemilik tatapan tersebut dengan cepat. Tapi Koutarou tidak melihat siapapun.
“...Apa aku yang terlalu gugup ya?”
Koutarou berasumsi kalau itu hanyalah imajinasinya saja dan masuk ke dalam gedung.
Harumi kelihatan senang meskipun wajahnya terlihat cemas ketika dia menerima naskahnya.
“Terimakasih, Satomi-kun.”
Dia lalu mulai membolak-balik halaman naskah tersebut. Di mata Koutarou, Harumi kelihatan puas dengan naskah itu.
“Satomi-kun, ini mungkin sedikit mendadak, tapi apa kita bisa berlatih dialognya sekarang?”
“Sakuraba-senpai, aku mengerti kalau kamu senang, tapi kita punya kegiatan klub.”
“Ah, b-benar, maaf Satomi-kun.”
Wajah Harumi menjadi merah ketika Koutarou mengatakan hal itu. Dia buru-buru menutup naskahnya dan mengambil jarum rajut miliknya di atas meja.
Perkumpulan merajut telah merencanakan kegiatan klub hari ini. Selain itu, mereka hanya menerima izin untuk menggunakan ruang klub demi hal tersebut. Koutarou juga ingin berlatih untuk drama nanti, tapi menghentikan kegiatan klub begitu saja hanya akan menimbulkan masalah.
Jika kita mulai berlatih sekarang, besok akan timbul masalah...
Koutarou lalu mulai menggerakkan jarum rajut miliknya dan memanggil Harumi yang sedang panik.
“Aku akan menemanimu berlatih nanti.”
“...Satomi-kun, kau licik.”

Harumi, masih memerah, melirik ke arah Koutarou untuk melihat ekspresi di wajahnya, lalu segera kembali mengalihkan pandangannya ke kain rajutan di tangannya.
“Biarpun kau bilang begitu, ada persiapan yang perlu dilakukan besok.”
“A-aku tahu, kamu ini memang licik...”
Harumi menggerakkan jarum rajutnya dengan wajah yang masih merah. Ekspresi dan nada bicara Harumi kelihatan tidak senang, tapi pada kenyataannya Harumi merasa sebaliknya. Malahan, dia menyukai situasi ini.
Akhir-akhir ini aku jadi mudah mengobrol dengan Satomi-kun...
Harumi berhenti sejenak dan melirik lagi ke arah Koutarou. Koutarou sedang menggerakkan jarumnya sendiri dengan riang, wajahnya masih tersenyum sambil mengobrol bersama Harumi.
Harumi merasa sedih ketika Koutarou hanya memperlakukan dirinya sebagai senior yang dihormati. Jadi baginya, Koutarou yang bertingkah usil padanya dari waktu ke waktu adalah kejadian yang menyenangkan.
Ini semua berkat Nijino-san... Tapi ini masih tidak bisa dibandingkan dengan Theiamillis-san...
Hubungan ideal yang Harumi inginkan adalah hubungan yang dimiliki oleh Koutarou dan Theia.
Mereka mengobrol tanpa menahan diri, dan kadang-kadang bertengkar, tapi mereka selalu kelihatan energik dan riang.
Cara yang benar untuk menghargai seseorang bukanlah dengan memperlakukan orang tersebut seperti tuan putri atau pelanggan. Tetapi dengan saling memperlihatkan sifat baik dan sifat buruk tanpa menahan diri. Itulah yang dipikirkan Harumi.
Karena itulah Harumi iri pada Theia. Satu-satunya orang selain Theia yang seakrab itu dengan Koutarou adalah Kenji.
Aku juga ingin kami seperti itu suatu hari nanti... dan nanti...
Wajah Harumi mendadak merona. Dia merasa malu ketika membayangkan masa depan idealnya bersama Koutarou. Dia kemudian buru-buru menggerakkan jarum rajutnya, mencoba menghapus bayangan memalukan dari pikirannya melalui merajut.
“Benar juga, tentang besok.”
“Kyaaa!?”
Ketika Koutarou bicara pada Harumi, dia berteriak karena terkejut.
“Ada apa, senpai?”
“T-Tidak, bukan apa-apa.”
Wajah Harumi yang sedang menggeleng semakin memerah. Warna merahnya hampir seperti tomat atau apel.
“Benarkah? Yah pokoknya, tentang besok―”
Koutarou tidak terlalu memikirkan hal itu dan terus bicara. Sementara itu, Harumi berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan dirinya sendiri. Karena itu, dia menggerakkan jarumnya semakin cepat.
“Apa kamu siap buat besok?”
“T-tidak masalah, besok akan jadi kali pertama bagiku merayakan Natal seperti itu, jadi aku bingung mau pakai baju apa, tapi persiapan lainnya sudah siap.”
“Begitu. Aku juga sudah siap. Tapi aku kesulitan mencari sesuatu yang cocok dengan seleramu, senpai.”
“A-akan kupastikan kalau aku tidak telat besok.”
Bagian 3
Koutarou sedang memegang kartu logam dengan jari jemarinya. Kartu tersebut adalah trading card yang dia peroleh beberapa waktu lalu ketika dia pergi ke taman hiburan bersama Kiriha. Koutarou sendiri tidak punya perasaan kuat mengenai kartu tersebut, tapi dia tahu kalau Kiriha punya kenangan berharga tentang kartu ini, jadi dia tidak tega untuk membuangnya.
“S-Satomi-kun, punya waktu sebentar?”
“Iya.”
Ketika Harumi memanggilnya, dia meletakkan kartu itu diantara halaman dalam naskahnya lalu dia menutupnya. Saat ini, dia sedang menggunakan kartu tersebut sebagai pembatas buku.
Setelah menyelesaikan kegiatan klub mereka untuk saat ini, Koutarou dan Harumi mulai berlatih drama. Biarpun dibilang begitu, mereka baru saja mendapat naskahnya hari ini dan kemarin, jadi yang bisa mereka lakukan hanyalah memeriksa adegan dan dialog mereka.
“Mengenai adegan perpisahan terakhir ini―”
“S-Sakuraba-senpai, ada apa!? Apa kamu merasa sakit?”
Tapi ketika Koutarou melihat wajah Harumi, dia sangat terkejut sampai-sampai dia berdiri. Air mata mengalir dari mata Harumi.
“Ah, m-maaf, bukan begitu. Ceritanya sangat bagus sampai-sampai air mataku tiba-tiba mengalir...”
Harumi tersenyum pada Koutarou sambil menyeka air mata dari matanya. Harumi merasa kalau isi naskahnya sangat menyentuh hatinya sehingga air matanya keluar begitu saja.
Setelah menyadari kesalahpahamannya, Koutarou menghela napas lega sambil tersenyum kecut dan kembali duduk di kursinya. Dia kemudian membuka halaman terakhir naskah tersebut.
Dia pasti sangat menyukainya. Tidak, Sakuraba-senpai memang lembut, jadi mungkin karena itu...
Ceritanya berakhir dengan perpisahan Ksatria Biru dan Putri Perak. Adegan tersebut kelihatannya sangat menyentuh perasaan Harumi, dan air matanya tidak berhenti menetes. Melihat hal itu, Koutarou merasa kalau Harumi memang orang yang seperti itu.
“Maaf karena sudah tiba-tiba menangis...”
“Hahaha, tidak apa-apa, jangan dipikirkan. Jadi bagian cerita mana yang kamu sukai?”
Koutarou ingin menampilkan yang tebaik di bagian cerita yang membuat Harumi menangis. Jadi ia ingin memastikan hal itu.
“Itu...”
Harumi membolak-balik halaman naskahnya sambil tersenyum dan menangis.
“Perasaan Putri Perak yang disampaikan melalui cerita ini.”
Dia kemudian mengelus dialog Putri Perak di dalam naskahnya. Baik elusan maupun lirikannya terasa lembut.
“Perasaan sedih dan tidak sabar karena tidak bisa menyatakan cintanya. Putri bersedia memberikan nyawanya demi Ksatria Biru, tapi posisi mereka menghalangi hubungan keduanya dan dia tidak bisa menyampaikan perasaannya. Hal itu benar-benar menyentuh perasaanku...”
Harumi pelan-pelan menutup matanya dan meletakkan tangannya di dada seraya berkata begitu.
“Jika aku harus memilih, mungkin adegan perpisahan yang paling terakhir.”
“Tebakanku benar.”
Koutarou mengangguk ketika Harumi memilih adegan terakhir.
Sulit dipercaya kalau Theia menulis adegan terakhir ini...
Cinta Putri Perak dan Ksatria Biru berakhir tanpa berkembang sedikitpun. Cerita ini bukan hanya karangan Theia saja, melainkan sebuah fakta sejarah.
Ada jurang yang terlalu besar antara kaisar selanjutnya, Putri Perak dan ksatria lokal seperti Ksatria Biru. Terlepas dari banyaknya jasa Ksatria Biru, itu semua tidak cukup untuk menutup jurang tersebut. Jadi jika tiba-tiba Ksatria Biru memperoleh posisi tinggi melalui pernikahan dengan Putri Perak, para aristocrat yang tidak stabil karena perang pasti akan protes. Itu adalah resiko yang tidak boleh diambil.
Selain itu, Forthorthe masih belum menguasai seluruh planet, jadi biarpun posisi mereka tidak menghalangi, mustahuil bagi mereka berdua untuk menikah. Pernikahan adalah salah satu kartu yang digunakan dalam politik dengan negara lain.
Karena hal itu, Ksatria Biru pergi sebelum timbul masalah. Dikatakan jika dia hanya kembali ke kota kelahirannya, tapi para sejarawan juga berteori kalau dia pergi karena alasan politis.
“Satomi-kun, jika orang yang kamu cintai adalah orang yang tidak bisa kamu dapatkan, apa yang akan kamu lakukan?”
Harumi kembali menyeka air matanya. Kali ini air matanya terseka seluruhnya.
“Aku...”
Koutarou mulai berpikir.
Jika aku ada di posisi Ksatria Biru dan jatuh cinta pada Putri Perak...
Namun, kehidupan Ksatria Biru benar-benar berbeda dari kehidupannya saat ini, jadi dia kesulitan membayangkan hal itu.
“Aku tidak tahu. Kurasa aku tidak akan tahu sampai situasi itu benar-benar terjadi... Cinta yang melampaui status, ya... aku penasaran...”
Koutarou memiringkan kepalanya dari satu sisi ke sisi lain. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Ksatria Biru.
Kayaknya akan buruk jika aku tidak bisa sedikit membayangkan bagaimana rasanya sebelum drama dimulai...
Koutarou menurunkan bahunya dan tersenyum kecut melihat ketidakmatangannya sendiri.
“Begitu ya...”
Tetapi Harumi, tersenyum saat dia melihat hal itu.
Aku senang aku punya status yang sama dengan Koutarou...
Harumi paham betul perasaan Putri Perak. Jadi dia merasa lega karena dirinya dan Koutarou hanyalah siswa SMA biasa.
“Bagaimana denganmu, Sakuraba-senpai?”
“R... Rasanya akan sulit bagiku buat menyampaikan perasaanku.”
Harumi telah memperoleh jawabannya, tapi sama seperti Putri Perak, dia tidak bisa memberitahunya.
Jika aku dan Theiamillis-san menyatakan cinta pada Satomi-kun di saat yang sama, Satomi-kun pasti akan memilih Theiamillis-san. Aku tidak bisa menang...
Masalah Harumi adalah dia merasa kalau dia bukanlah tandingan Theia.
“Kamu memang orang seperti itu, Sakuraba-senpai.”
Koutarou tersenyum ketika mendengar jawaban Harumi. Jawabannya adalah jawaban yang cocok dengan harumi yang pemalu dan rendah hati.
“Tapi kupikir begitu saja tidak boleh.”
Namun, ketika dia membandingkan dirinya dengan Putri Perak, Harumi merasa kalau dia tidak boleh menyerah begitu saja.
Aku tidak boleh menyerah. Aku berbeda dari Putri Perak yang menghadapi banyak halangan...
Dia tidak perlu memikirkan perbedaan status, serta mempertimbangkan para aristocrat atau politik dengan negara lain. Satu-satunya hal yang belum sampai pada Koutarou hanyalah perasaannya.
“Sakuraba-senpai...”
Mendengar Harumi berkata kalau tidak bisa menyampaikan perasaannya itu tidak boleh membuat Koutarou terkejut. Ketika Harumi berkata begitu, kemauan yang kuat terlihat di matanya.
Sakuraba-senpai benar-benar kuat... Seperti tuan putri sungguhan...
Melihat hal iru, Koutarou sekali lagi merasa kalau dia tidak salah telah mengajukan Harumi sebagai pemeran tuan putri.
“Jadi kamu akan menyatakan cintamu?”
“Iya. Kayaknya tidak mungkin kalau sekarang, tapi suatu hari nanti pasti bisa.”
Harumi menatap Koutarou tepat di matanya dan mengangguk.
Tidak peduli berapa tahun berlalu, atau seberapa jauh jarak diantara kota, suatu hari nanti aku akan...
Keinginan kuat itu adalah perbedaan besar antara gadis dalam naskah dan Harumi.
Bagian 4
Ketika Koutarou turun dari bus, Harumi, yang sudah turun duluan, menyapanya dengan senyuman.
“Kupikir tidak baik jika seorang ksatria membuat tuan putrinya menunggu.”
“Itu karena hanya yang mulia yang punya kartu langganan.”
Di Kota Kitsushouharukaze, penumpang bayar ketika mereka mau turun dari bus. Karena hal itu, Koutarou, yang tidak biasa pulang dengan bus, membutuhkan sedikit waktu untuk bayar dan turun, berbeda dari Harumi yang punya kartu langganan.
“Stopat.”
“Apa maksudnya itu?”
“Fufufu.”
“Ahaha.”
Keduanya tertawa bersama saat mereka berjalan berdampingan dari halte bus. Tujuan mereka adalah tempat dingdong di dalam mal yang bisa mereka lihat. Karena hari mulai gelap, cahaya lampu disana bersinar dengan cantik.
Setelah menyelesaikan kegiatan klub dan latihan drama, mereka pergi ke halte bersama. Koutarou punya kerjaan membagi pamflet, dan Harumi ingin membeli sesuatu di mal. Dan dalam kasus Harumi, jalan ini adalah rute yang biasa dia lalui ketika pulang.
“Sapertinya malam ini akan terasa dingin... Kerjaanmu pasti sulit.”
Matahari masih bersinar, tapi anginnya terasa dingin. Setelah memasuki bagian akhir Bulan Desember, musim dingin telah datang. Jadi Harumi mencemaskan Koutarou yang akan bekerja sendirian.
Tubuh Harumi sedikit bergetar ketika menengadah ke langit. Matahari yang sedang terbenam di langit musim dingin yang dingin selalu kelihatan melankolis baginya.
“Hari ini hari terakhir, jadi aku harus berusaha sekuat tenaga.”
Tapi, Koutarou tidak punya urusan dengan emosi semacam itu dan malah menyemangati dirinya sendiri.
Hari ini tanggal 23 Desember. Hari ini adalah hari terakhir baginya untuk membagikan pamflet, karena hari ini adalah hari terakhir toko roti tempatnya bekerja menerima pesanan kue Natal. Rasa dinginnya mungkin terasa berat, seperti yang Harumi bilang, tapi Koutarou memotivasi dirinya sendiri dengan mengingatkan dirinya kalau hari ini adalah hari terakhir.
“Satomi-kun, tolong jagalah tubuhmu sedikit.”
Harumi tersenyum getir. Dia setengah heran dan setengah terkesan pada Koutarou.
Satomi-kun selalu saja gegabah...
Koutarou sering melakukan hal yang nekat, Harumi mengenang beberapa contohnya di masa lalu.
Ketika festival olahraga, dia menggendongku sambil melompat. Saat festival budaya, tiba-tiba saja dia menyuruhku memerankan heroin drama...
Harumi punya banyak kenangan dengan Koutarou. Kenangan-kenangan tersebut muncul ke dalam kepalanya seolah mengalir keluar dari suatu mata air.
Begitu pula saat kami dikejar oleh pasukan kudeta. Meskipun aku mencoba sekuat tenaga untuk menghentikannya, dia malah pergi sendiri. Dan ketika para penyihir memanggil seekor naga, aku memohon padanya supaya tidak datang, tapi pada akhirnya dia datang juga...
Di hutan sekitar perbatasan, Koutarou tetap tinggal untuk menghalangi pasukan kudeta dan membiarkan Harumi dan yang lain meloloskan diri. Ketika para penyihir memanggil monster aneh, dia menhadapi monster itu tanpa takut sedikitpun.
“Satomi-kun selalu saja ne― tunggu, huh?”
Harumi berhenti di titik itu.
“Saat kami dikejar pasukan kudeta...? Naga...?”
Harumi kebingungan karena kenangan yang muncul di dalam kepalanya. Tentu saja, hal semacam itu belum pernah terjadi di kehidupannya.
Tidak boleh. Aku terlalu mendalami karakter dalam drama...
Kenangan yang dia ingat sangat mirip dengan adegan-adegan dalam ‘Putri Perak dan Ksatria Biru'. Jadi Harumi dengan cepat memutuskan kalau dia terlalu mendalami karakter yang dia perankan.
“Fufu, fufufu.”
“Ada apa, Sakuraba-senpai?”
Koutarou kelihatan bingung ketika dia menoleh pada Harumi yang tiba-tiba tertawa. Harumi merespons pertanyaan Koutarou sambil tertawa.
“H-Habis, Rasanya sangat lucu ketika aku merasa seperti seorang tuan putri. Fufu, Fufufufu, sepertinya aku terlalu mendalami peranku.”
“Mengenai dramanya, barangkali aku juga harus begitu.”
“Tidak boleh. Jika kita berdua jadi begitu, rasanya jadi aneh. Fufu, fufufufu.”
“Hahaha, benar juga. Mereka akan mengira kalau kita adalah perkumpulan yang aneh. Hahaha.”
Tawa riang Koutarou dan Harumi terdengar keras dan Harumi mulai berjalan kembali. Dan setelah dia menyusul Koutarou, mereka mulai berjalan berdampingan lagi.
“Benar juga, Satomi-kun. Apa aku perlu membantumu lagi kayak kemarin?”
“Tidak boleh. Aku tidak bisa membiarkan orang yang merasa seperti tuan putri membantuku.”
“...Dasar pelit, Satomi-kun.”
“Yang anda katakan memang benar, tuan putri.”
“Dasar.”
Berlawanan dari suasana cerah yang mengelilingi kedua orang itu, sekeliling mereka mulai berubah gelap.
Pada kenyataannya, sebuah lambang berbentuk pedang telah muncul di dahi Harumi sejak mereka turun dari bus. Dan lambang tersebut sekarang berkedip-kedip lalu menghilang.
Jika jalanannya lebih terang, Koutarou mungkin akan menyadari hal itu. Tapi, karena jalanannya kurang terang, Koutarou tidak menyadari hal itu sama sekali.
Bagian 5
“Hatsyi.”
Koutarou berhenti membagikan pamflet untuk bersin. Sekarang waktunya sudah jam delapan lebih dan udara di mal semakin dingin. Koutarou merasa jauh lebih hangat ketika bersama dengan Harumi.
“Apa menolak bantuannya memang ide yang bagus ya...”
Koutarou menyeka hidungnya dengan tisu ketika dia merasa begitu.
Harumi menawarkan bantuan untuk membagikan pamflet seperti kemarin, tapi Koutarou menolak dan menyuruhnya pulang. Ketika kemarin dia membantu, dia hanya membantu di bagian akhir. Jika dia membantu dari awal, dia akan bekerja lebih lama. Dan karena tubuh Harumi itu lemah, Koutarou tidak akan menerima hal itu.
“Jika Sakuraba-senpai membantuku dari awal, aku harus memberimu upahku.”
“Apa kamu tidak bisa mengganggap ini seperti membalas budi buat semua hal yang sudah kamu bantu?”
“Tidak bisa. Selain itu, kamu kan punya urusan, senpai?”
“Tidak bisa pakai cara lain?”
“Tidak bisa. Besok itu lebih penting.”
Harumi berusaha protes, tapi setelah Koutarou menyinggung tentang besok, dia menyerah dengan enggan. Persiapan besok juga penting.
“Senpai memang lebih berenergi akhir-akhir ini, tapi kali ini mungkin terlalu berlebihan.”
Koutarou mulai membagikan pamflet lagi. Meskipun begitu, hawa dingin membuat tubuhnya semakin dingin. Helaan nafas leganya setelah menyuruh Harumi pulang keluar seperti kabut putih.
“Ada yang mau kue Natal!? Di Toko Roti Harukaze, kami menerima pemesanan kue-kue Natal! Hari ini adalah hari terakhir pemesanan!”
Temperatur malam ini akan semakin turun, dan pamflet yang perlu dibagikan masih banyak. Kerjaan terakhir Koutarou di tahun ini adalah kerjaan paling keras.
Hampir satu jam kemudian, ketika jarum jam telah melewati angka Sembilan, suara Sanae, atau lebih tepatnya gelombang spiritualnya, menggema ke seluruh mal.
“Ah, disana! Koutarou ketemu!”
Sanae menaikkan suaranya karena dia menemukan Koutarou. Sanae sudah ahli dalam hal menemukan Koutarou, karena dia selalu menempel pada Koutarou, membuatnya lebih sensitif terhadap gelombang spiritual Koutarou.
“Dimana?”
“Disana, di bawah lampu itu.”
“Ah... kostum konyol apa itu?”
Dengan petunjuk Sanae, Theia menemukan Koutarou. Tapi, ketika dia melihatnya, Theia cemberut.
“Yang Mulia, kostum itu digunakan untuk meniru Sinterklas. Sinterklas adalah semacam peri yang membagikan hadiah pada anak kecil di waktu-waktu ini dalam setahun.”
“Oh, jadi kemencolokan itu karena kostum itu berdasarkan fantasi?”
Ruth bisa dilihat di samping Theia. Sepertinya mereka tertarik pada kostum Santa yang dikenakan Koutarou dan menatap kostum itu, saling berdampingan.
Dan di belakang mereka berdua adalah Yurika dan Kiriha.
“Brrr, cepat kita pulang, dan jauh dari rasa dingin ini.”
Hidung Yurika meler dan tubuhnya menggigil kedinginan. Meskipun pakaiannya lebih tebal dari yang lain, kelihatannya dialah yang paling merasa kedinginan.
“Fufu, Yurika, bukannya kamu yang bilang kalau kita harus menemui Koutarou?”
Kiriha sangat berbeda dari Yurika; meskipun pakaiannya lebih tipis, dia tidak kelihatan kedinginan sedikitpun. Dia kelihatan biasa saja seperti di kamar 106.
“Tapi tidak kusangka kalau dinginnya seperti ini.”
“...Kau memang tidak punya keberanian sedikitpun.”
“Aku tidak akan lebih hangat dengan keberanian.”
“Tapi Koutarou kelihatan baik-baik saja.”
“Satomi-sama kan punya semangat yang berlebih.”
“Biarpun begitu, bukan berarti udaranya tidak terasa dingin. Kita harus buru-buru.”
Mengikuti Kiriha, penghuni kamar 106 mendekati Koutarou.
Pada kenyataannya, kelima gadis itu mencemaskan Koutarou yang bekerja di cuaca dingin seperti ini, jadi mereka datang untuk mengecek Koutaoru.
Alasannya adalah sebuah pesan yang diterima Yurika dari Harumi sekitar jam 9 tepat saat mereka menonton berita. Dalam pesan itu, Harumi mengkhawatirkan Koutarou yang bekerja di cuaca dingin ini. Di saat yang sama, berita di TV melaporkan kalau hari ini adalah hari terdingin di Kota Kitsushouharukaze City di tahun ini. Karena itu, para gadis jadi khawatir dan datang kesini.
“Ada yang mau kue Natal!? Di Toko Roti Harukaze, kami menerima pemesanan kue-kue Natal! Hari ini adalah hari terakhir pemesanan!”
Saat itu, dia hampir selesai, dia hanya punya sisa 6 pamflet lagi. karena toko rotinya buka sampai jam 10 malam, dia yakin kalau dia bisa selesai sebelum tokonya tutup.
“Terimakasih. Tolong pesan kue Natal anda di Toko Roti Harukaze.”
Koutarou menaikkan suaranya saat memberikan satu pamflet kepada pasangan yang membawa anaknya. Itu berkat si anak yang tertarik pada kostum Koutarou.
“Selamat tinggal, Santa, tolong beri aku banyak hadiah!”
“Jika kamu anak yang baik, aku akan memberimu hadiah sebanyak yang kamu mau. Sampai jumpa.”
Anak itu melambaikan tangannya pada Koutarou saat melangkah pergi. Koutarou segera balas melambai, saat dia melambai, orang tua anak tersebut tersenyum dan membungkuk sambil memegangi tangan anak mereka dan melangkah pergi.
“Fufu, aku ingat kalau aku pernah begitu juga.”
Koutarou menatap pasangan suami istri bersama anaknya itu saat mereka melangkah pergi.
Si anak sedang memegang pamflet yang diberikan Koutarou dan bicara pada orang tuanya tentang sesuatu. Dia masih percaya kalau Santa itu nyata. Koutarou merasa hangat ketika dia melihat orang tua dan anaknya itu serta mengenang hal sama yang pernah dialaminya.
“Oh, tak saya sangka kalau kamu punya sisi yang manis juga.”
“Woah!? K-Kiriha-san!?”
Koutarou terkejut oleh Kiriha yang tiba-tiba berbisik di telinganya dan karena telah mendengarnya bicara sendiri.
“Bukan hanya Kiriha.”
“Eh?”
Ketika Koutarou menoleh ke arah suara Sanae, dia melihat lima orang perempuan: Kiriha, Sanae, Theia, Ruth dan Yurika. Para penghuni kamar 196 berkumpul semua disini.
“Ada apa, datang semuanya seperti ini?”
“Kami dengar di TV kalau malam ini akan sangat dingin, jadi kami datang untuk mengecek keadaanmu.”
Theia menjawab pertanyaan Koutarou. Dia menunjuk ke arah ujung hidung Koutarou dan menatap langsung ke arah Koutarou.
“Keadaanku?”
“Kamu tidak suka?”
Kiriha tersenyum ke arah Koutarou yang sedang terkejut.
“Tidak, bukan begitu.”
Saat Koutarou melihatnya tersenyum, dia sadar kalau ini bukanlah hal yang mengejutkan.
Dia sudah akrab dengan Sanae sejak gencatan senjata. Yurika sedikit tidak bisa diandalkan, tapi dia pikir akan menyenangkan kalau Yurika ada di dekatnya. Kiriha hanya menunjukkan sifat aslinya pada Koutarou, jadi mereka sudah semakin akrab sejak saat itu. Bisa dibilang kalau mereka sudah menjadi sahabat. Sedangkan Theia, dia merasa kalau Theia sudah semakin dewasa bila dibandingkan dengan saat mereka pertama kali bertemu. Berkat hal itu, hubungan mereka meningkat. Dan Ruth sangat mempercayai Koutarou sampai-sampai Ruth memintanya melayani Theia bersama.
Benar juga, aku tidak perlu heran kalau mereka datang mengecek keadaanku. Tapi itu artinya...
Tapi jika hal itu bukanlah sesuatu yang mengejutkan, berarti dia punya hal baru yang bisa membuatnya terkejut.
Dia ingin Sanae tetap tinggal di dalam kamar supaya dia bisa menunggu orang tuanya. Jika Kiriha kalah, perang mungkin pecah, dan dia ingin menolong Kiriha mencari cinta pertamanya. Dia tidak keberatan bekerjasama dengan Theia mengenai ujiannya. Dan dia tidak mau mengkhianati kepercayaan Ruth. Sedangkan Yurika, dia sering tergerak oleh ekspresi tulusnya yang kadang Yurika tunjukkan dari waktu ke waktu. Yurika jadi sering lebih serius dan dia adalah teman Koutarou dan Harumi. Hobinya yang tidak biasa sendiri bukanlah alasan untuk mengusirnya.
Aku tidak merasa ingin mengusir mereka satupun dari kamar 106...!
Kejutan barunya adalah dia tidak lagi menentang invasi mereka.
Pada awalnya, Koutarou melawan keinginan semua gadis-gadis tersebut, tapi tanpa ia sadari, dia mulai merasa berlawanan. Dia mulai merasa kalau dia ingin semua invasi mereka sukses.
Mereka bahkan sudah menginvasi hatiku...
Saat ini, jika perebutannya berakhir, perang yang ditakuti Kiriha mungkin pecah. Sebagai seorang putri, Theia ingin menang dengan jujur dan adil. Ruth ingin perebutan ini berlangsung lebih lama lagi supaya Theia bisa hidup dengan tenang. Jika para penjajah menghilang, Sanae mungkin akan merasa kesepian. Dan Koutarou ingin Yurika hidup sesuai yang ia inginkan.
Karena alasan-alasan tersebut, Koutarou ingin perebutannya berlanjut. Bukan hanya demi kepentingannya sendiri, tapi untuk melindungi dunia permukaan, dan demi para penjajah juga.
Karena itu juga aku mengambil pekerjaan ini...
Meskipun dia merasa bimbang tentang perubahannya sendiri, dia tidak berpikir kalau itu salah. Itu karena semua gadis tersebut telah datang menjemputnya.
“Satu, dua, tiga, empat, lima. Sisa lima pamflet lagi!”
“Kalau begitu jika kita mengambil masing-masing satu, pekerjaannya akan selesai.”
“A-Ayo cepat pulang, Satomi-san! Kita tidak perlu keluar rumah di udara dingin ini!”
“Baiklah, ayo pulang dan kita mulai latihanmu!”
“Yang Mulia, sebelum itu, Satomi-sama harus mandi dan makan malam dulu.”
Dan dia percaya kalau kelima gadis itu sudah mulai merasa kalau mereka semua penting bagi satu sama lain.
Setelah selesai membagikan pamfletnya, Sanae melompat ke punggung Koutarou seperti biasanya saat keenam orang itu pulang ke rumah.
“Ah, Koutarou, tubuhmu dingin sekali!”
Dan sesaat kemudian, Sanae merasa sangat terkejut sampai-sampai dia melepaskan diri dari Koutarou selama sejenak.
“Benarkah?”
“Iya benar!! Kalau terus begini kau akan demam!”
Karena suhu tubuh Koutarou turun bertahap saat dia bekerja, dia hanya merasa kalau rasa dingin itu berasal dari luar. Tapi Sanae bisa tahu keadaan tubuh Koutarou saat ini melalui kekuatan spiritual, dan dia terkejut oleh seberapa dingin tubuh Koutarou saat ini.
“Tidak apa, aku PD dengan tubuhku.”
“Tutup mulutmu, dasar. Setidaknya kau bisa memakai pakaian lebih.”
Sambil mengeluh, Sanae meletakkan telapak tangannya di punggung Koutarou. Dia berencana untuk menghangatkan tubuh Koutarou dengan memanipulasi pembuluh darahnya sama seperti ketika dia memijat Koutarou dulu.
“Apa!?”
Saat Theia dengar apa yang dikatakan Sanae, dia menyambar tangan Koutarou dan menggenggamnya dengan tangannya sendiri.
“D-Dia benar! Tolol, apa yang kau lakukan sampai kau sedingin ini!?”
“Sudah jelas, aku bekerja.”
“Bukan itu maksudku!?”

Theia melotot ke arah Koutarou dan menghembuskan napasnya ke tangan Koutarou. Dia sedang mencoba menghangatkan Koutarou, sama seperti Sanae.
“Ah...”
Melihat Theia melakukan hal itu, Sanae berhenti. Dia melepaskan punggung Koutarou dan menatap telapak tangannya sendiri lalu memasang wajah yang sangat kesepian.
Aku iri pada Theia... Aku tidak bisa begitu...
Sanae menatap melalui tangannya yang sedikit tembus pandang tersebut. Itu karena dia adalah hantu tanpa tubuh. Dia biasanya menempel pada Koutarou, tapi pada kenyataannya, dia tidak bisa menyentuh Koutarou secara langsung. Meskipun dia tahu bagaimana rasanya saat tubuh spiritualnya menyentuh Koutarou, dia tidak mendapat sensasi yang sama dengan menyentuh Koutarou secara langsung.
“Dasar... apa yang akan kau lakukan jika kau terkena demam dan tidak latihan!?”
“...Apa kau tidak bisa mengkhawatirkanku sedikit?”
“Aku mengkhawatirkanmu. Kau kan peran utamaku yang penting.”
“Itu sih khawatir tentang dramanya!”
“Jangan khawatir. Jika kamu demam, saya akan merawatmu sepanjang malam. Untungnya besok kita libur, jadi saya akan merawatmu dengan penuh kasih sayang dan―”
“Jangan bohong dengan tampang serius, Kiriha-san! Jika kau tidak berhenti, aku akan menghadapimu dengan serius dasar sialan!”
“Akhir-akhir ini kamu jadi dingin, Koutarou. Hah... Dulu, reaksimu lebih cemerlang...”
“Tentu saja! Aku tidak akan tertipu lagi!”
“Ruth, bantu kami. Lepaskan pakaian Yurika dan berikan pada Koutarou.”
“Sesuai yang anda inginkan, tuan putri.”
“Kyaaaaaa!! Tidaaaaak!!”
Di sisi lain dari telapak tangan Sanae yang tembus pandang, ada Koutarou dan empat orang gadis yang sedang meributkan sesuatu.
Bukan hanya Theia... semuanya  bisa melakukan hal itu...
Meraba, mengambil, menggoyangkan.
Semuanya melakukan hal itu seperti hal yang wajar. Tapi, Sanae tidak bisa begitu. Jika dia mencoba menyentuh siapa saja, dia hanya akan menembus tubuh orang tersebut. Jika dia merasuki seseorang, dia bisa merasakan sensai menyentuh, tapi yang menyentuh bukanlah dirinya.
Hantu, ya... Aku memang hantu...
Sanae akhirnya ingat kalau dia benar-benar berbeda dari gadis lainnya.

Rokujouma no Shinryakusha!? Jilid 7 Bab 3 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Marcellino Novaldo

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.