11 April 2016

My Dearest Jilid 1 Special Chapter: Annoying Childhood Friend


MY DEAREST JILID 1
SPECIAL CHAPTER
ANNOYING CHILDHOOD FRIEND

Aku perlahan membuka pintu rumahku, berjalan cukup pelan menuju sekolahku. Langit yang berwarna biru muda, udara yang cukup dingin terasa mengiringi kepergianku untuk terus melangkahkan kakiku ke sekolah.
Namaku Lisa Angelic, gadis berambut putih dengan bola mata yang berwarna biru muda. Aku bisa terbilang populer karena kecantikanku dan karena gen dari orang tuaku yang berasal dari Negara Inggris. Bahkan beberapa lelaki pernah memintaku untuk menjadi kekasih mereka, tapi sayangnya aku menolak mereka, alasannya tentu saja karena aku sudah mempunyai lelaki yang aku suka.
Aku berjalan melewati beberapa gedung tinggi yang biasa dipanggil apartemen. Aku berjalanpelantidak ingin terburu-buru. Kulihat jam tangan yang berada ditangan kananku menunjukan bahwa waktu masih cukup pagi. Kicauan burung dilingkunganku juga terdengar sangat merdu. Mereka seolah-olah sedang bernyanyi untukku.
Untuk sesaat aku hanya berdiam diri. “Aku masih memiliki cukup banyak waktu untuk ke sekolah,” pikirku saat itu. Aku memejamkan mataku, menghirup udara segar di pagi hari. Aku menyukuri karunia tuhan yang Dia berikan padaku, aku beryukur bisa hidup sampai saat ini.
Tapi, disaat aku sedang merasakan nikmatnya suasana pagi hari, disaat aku sedang merasakan ketenangan jiwaku ini. Tiba-tiba dalam sekejap tubuhku terdorong oleh seseorang di belakangku. Dia mendorongku hingga terjatuh ke tanah.
DRAGGGHH!!!
“Maaf Lisa, aku nggak sengaja!!”
Jika dia benar tidak sengaja, tentu saja aku bisamemaafkannya. Tapi nadanya itu! Nada bicaranya yang seolah-olah meremehkanku itu membuatku kesal. Dia benar-benar terlihat sengaja mendorongku hingga aku terjatuh seperti ini.
“Bohong! Kamu hanya mengusiliku lagi, kan?!”teriakku kesal sambil terus duduk diatas tanah.
“Hahahahaha, ketahuan yah? Padahal –“ perkataan lelaki tersebut terhentikan karena dia menghindari sesuatu yang jatuh diatasnya.
PRANKK!!!
Sebuah vas bunga dari atas apartemen jatuh tepat diatas lelaki tersebut. Tapi untung saja dia dapat menghindari vas bunga tersebut dengan cepat. Wajahnya benar-benar terlihat ketakutan saat itu. Aku hanya bisa tertawa kecil melihat wajahnya.
“Ke-kenapa kamu malah tertawa!”
“Hahahahaha, rasakan itu Ivan! Itu karma dari Tuhan karena telah usil kepadaku!”
“I-itu tidak lucu! Bagaimana jika vas bunga itu mengenai kepalaku?!”
“Entahlah, mungkin kepalamu hanya akan bocor...,” senyumku sambil berdiri dan membersihkan rokku yang kotor.
Lelaki yang berada didepanku ini bernama Ivan, dia teman masa kecilku. Entah sejak kapan aku benar-benar tidak pernah mengerti dengan jalan pikirannya. Dia benar-benar sangat mengangguku dengan alasan yang tidak jelas seperti tadi.
Dia juga satu-satunya temanku yang mengetahui kondisiku, kondisi tubuhku yang lemah.Tapi meski dia mengetahui kondisi tubuhku, dia tetap bersikap seperti biasanya padaku, dia seakan-akan berpura-pura tidak tau tentang kondisiku ini.
“Apa kamu menginginkan itu?! Apa kamu menginginkan kepalaku pecah?“
“Mungkin saja, jika –“
“Lisa, Ivan!” tiba-tiba terlihat seorang lelaki yang cukup jauh dibelakang kami. Dia berteriak memotong perkataanku.
Aku sudah tau siapa yang berteriak, aku bisa tau orang tersebut hanyadengan mendengar suaranya saja.
Alasannya sangat mudah ditebak. Ya, karena aku sangat menyukai lelaki tersebut.
Arthur Ryuuki, merupakan lelaki yang sangat populer disekolahku. Lelaki cukup tinggi dengan senyuman menawan ini memiliki rambut hitam indah dengan kedua bola mata yang berwarna coklat.
Dari hal itu sudah dapat dipastikan kalau dia keturunan dari benua berbeda, yakni Eropa dan Asia. Selain tampan dia benar-benar baik dan sangat perhatian terhadap orang lain.
Ya, tentu saja sifatnya sangat berkebalikkan dengan teman masa kecilku ini. Ivan terkadang memasang wajah menyebalkan ketika Arthur datang mendekatiku.
Tidak hanya itu saja, dia bahkan pernah memukul beberapa lelaki yang hampir berpacaran denganku. Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dia pikirkan saat itu.
Kenapa dia selalu menghalangi kebahagiaanku?!
“Ohh ohhhh, datang mas populer,” sinis Ivan sambil memalingkan wajahnya.
“Awas jika kamu membuat masalah lagi!” kesalku pada Ivan, aku tidak ingin dia menghancurkan jalan cintaku kali ini.
“Berisik, ayo kita pergi! Kita hampir terlam –“
“Apa yang kamu katakan?! Kita harus menunggu Art –“
“Ivan!!” teriak seorang gadis yang berjalan di belakang Arthur.
Aku tidak menyadari keberadaan gadis tersebut. Saat Arthur berteriak, aku hanya fokus memperhatikannya, tidak melirik yang lainnya.
“Ciee, rivalnya datang,” senyum meledek dari Ivan kearahku. Aku hanya melirik sinis Ivan, wajahnya saat itu benar-benar membuatku kesal. Dia terlihat bahagia saat aku terbakar cemburu seperti ini.
“Yooo, Karin!!” lanjut Ivan berteriak membalas teriakan gadis tersebut, gadis yang berjalan bersama dengan Arthur.
Karin Viona, gadis cantik keturunan Rusia ini merupakan rivalku. Bukan rival karena kepopuleran di sekolah, tetapi karena Arthur. Aku tidak tau perasaanya pada Arthur, tapi dia benar-benar sangat dekat dengan Arthur. Mereka bagaikan seperti sepasang kekasih bagiku.
“Maaf membuat kalian menunggu,”senyum menyesal Arthur kearahku dan Ivan. Sementara aku berpikir tentang hubungan Arhur dan Karin, tanpa aku sadari kalau mereka sudah berada didekat kami.
“Memang benar kamu membuatkami menunggu! Apa tidak bisa lebih cepa –“
“Ti-tidak apa kok, berangkat bersama-sama kan lebih seru!”  senyumku sambil menginjak kaki Ivan, aku menginjak kakinya sekuat tenagaku hingga dia memasang wajah yang kesakitan.
“Sa-sakit! Apa yang kamu –“ teriak kesal Ivan tapi kembali lagi perkataanya terpotong olehku. Aku menarik lengan Arthur dan berkata.
“Ayo kita berangkat!”
Untuk sekilas, kulihat tatapan yang tidak mengenakan dari Karin saat aku menarik tangan Arthur. Dia benar-benar menatapaku dengan tatapan yang seolah-olah sedang menahan amarahnya. Tapi aku tidak takut dengan tatapanya! Aku akan membuat Arthur menjadi milikku.
Kami berjalan ke sekolah secara berpasangan. Aku dengan Arthur, Karin dengan Ivan. Tekanan udara  menjadi semakin berat saat itu. Aku menolehkan kepalaku kebelakang, aku ingin melihat suasana disekitar Ivan dan Karin. Terlihat tatapan yang tajam dari mereka berdua kearahku. Ok, aku bisa mengerti alasan Karin menatap tajam diriku. Tapi kenapa Ivan juga menatapku seperti itu?
Apa dia cemburu padaku?! Apa dia menyukaiku?
Ahahaha, anggapan tersebut merupakan anggapan terakhir yang aku berikan pada Ivan. Dia mustahil menyukai gadis yang selalu ia ganggu, gadis sepertiku hanya ia anggap sebagai mainan untuk leluconnya.
Satu-satunya yang terpikirkan olehku adalah. “Dia ingin mengagalkan jalan cintaku lagi. Sebenarnya seberapa mengesalkannya anak ini?! Kenapa dia sangat senang melihatku menderita!”
Aku harus bergerak cepat, banyak orang yang menghalangi jalan cintaku kali ini. Pulang sekolah nanti aku harus mengatakannya, aku harus mengatakan kalau aku menyukainya pada Arthur.
***
Sekolah berlangsung seperti biasanya. Kami, maksudku..., aku, Ivan, Arthur, dan Karin menjadi pusat perhatian seperti biasanya. Kami memiliki wajah yang menarik perhatian karena kami keturunan orang asing.
Terlihat tatapan kagum dari mereka saat kami berjalan masuk ke sekolah. Dan terjadi lagi, seorang gadis menghentikan kami berdua, menghentikan aku dan Arthur. Dia menatap kagum pada Arthur dan berkata.
“Kak Arthur ...., aku menyukaimu!! Kumohon terima aku!” teriak gadis tersebut memasang wajah memerah yang lucu.
Arthur hanya tersenyum, lalu secara perlahan dia memegang kepala gadis tersebut dan mengusap lembut kepalanya. Dia mememejamkan matanya dan berkata.
“Maaf, aku tidak bisa. Kamu kelas satu, kan? Lebih baik kamu gunakan waktumu untuk belajar ..., agar nanti tidak kesulitan.”
“Y-ya...,” jawab gadis tersebut, wajahnya memerah terlihat sangat terkejut. Bukan terkejut karena ditolak, tetapi terkejut kagum karena mendengar perkataan Arhtur yang mengkhawatirkan dirinya.
Setelah kejadian yang menarik perhatian tersebut, bel masuk pun berbunyi. Aku dan Arthur pergi ke kelas masing-masing. Aku sekelas dengan teman masa kecilku yang mengesalkan, sedangkan Arthur sekelas dengan Karin, rival terberatku.
Aku berjalan cukup cepat melewati lorong sekolah. Mustahil bagiku untuk berlari karena kondisi tubuhku ini, aku hanya terus berjalan cukup cepat dan melirik sinis teman masa kecilku dibelakang. Dia berjalan pelan sambil bersiul cukup merdu.
“Kenapa kamu tidak lari saja? Apa kamu sedang mengasihaniku?”tanyaku melirik Ivan.
“Haah?! Un-untuk apa aku melakukan hal itu?! Aku hanya malas dengan pelajaran matematika, bukan berarti aku berjalan pelan karenamu!” teriak kesal dari Ivan.
“Jawabnya biasa aja dong, aku bertanya dengan baik-baik kok! Kenapa kamu harus berteriak seperti itu!!”
Ivan hanya tersenyum sombong sambil menunjuk jam tangan miliknya. Dia seolah-olah mengatakan kalau, “kamu akan terlambat!”
Melihat hal tersebut, aku mengurungkan niatku untuk berdebat dengannya. Aku menaikan kecepatan kakiku untuk melangkah pergi ke kelas. Berbeda denganku yang merasa khawatir, Ivan hanya tersenyum lalu berjalan kembali, dia tidak mengubah kecepatan langkahnya.
Aku tidak peduli dengannya, dan terus berjalan cukup cepat. Aku berharap dapat sampai di kelas dengan tepat waktu, tapi sayang guru sudah ada didalam dan hukuman sudah siap datang untukku.
Aku berdiri di depan kelas, dan mendapatkan teguran dari Pak Andi.
“Lisa, kamu telat 2 menit. Rumahmu kan dekat, kenapa bisa sampai terlambat?!”
“An-anu pak, soalnya –“
“Rok kamu juga kotor, sebenarnya apa yang kamu lakukan tadi pagi,”geram kesal Pak Andi melihatku.
Saat itu aku benar-benar malu, telihat tertawaan kecil dari teman-temanku yang melihat rokku. Ini semua salahnya, salah Ivan yang mendorongku hingga membuat rokku kotor seperti ini.
“Lisa, aku tau kamu ini sangat pintar. Tapi tolong sikapmu itu –“
“Ini bukan salah Lisa Pak! Ivan yang tiba-tiba mendorongku hingga aku terjatuh!!” teriak kesalku saat itu. Dan secara bersamaan juga, Ivan mulai masuk ke kelas dan membantah perkataanku.
“Itu tidak sengaja! Sudah kubilang kalau aku tidak sengaja, kan?!” teriak Ivan sangat kesal.
“Pembohong! Kamu pasti sengaja, kan?!”
“Ivan!! Kamu terlambat 5 menit, dan juga..., jadi ternyata kamu yang menyebabkan Lisa terlambat yah?!”
“Haaah?! Lisa terlambat karena ulah Arthur, dia malah berdiam diri menunggunya –“
“Iya Pak, dia yang membuatku terlambat!!” teriak Lisa menunjuk Ivan.
“Li.... saaa!” geram sangat kesal Ivan.
“Lihat Pak! Dia mulai mengancamku!”
“Baiklah kalau begitu, Lisa cepat duduk di kursimu! Dan Ivan, berdiri diluar kelas! Sekarang!!” teriaksangat kesal Pak Andi.
“Kenapa hanya aku yang dihukum?! Dia juga terlam –“ Ivan mencoba membela dirinya sendiri, tapi langsung terdiam dan menatap kesal ke arahku yang berjalan menuju tempat duduk.
Saat Ivan melihatku, aku langsung memasang wajah menghina padanya, sedangkan dia hanya bergeram kesal sambil berjalan menuju pintu keluar.
“Baiklah! Aku keluar!! Paling tidak biarkan aku memakai jaketku! Diluar sangat dingin!” teriak kesal Ivan sambil menyimpan tas dan keluar membawa jaketnya.
Aku tau ini, jika dia terdesak seperti itu, dia pasti akan menerima hukuman Pak Andi. Lagipula dia juga tidak suka matematika, sudah dipastikan kalau dia ingin menunggu di luar kelas.
Tapi aku lupa kalau di luar cuacanya cukup dingin, apa aku terlalu berlebihan? Apa jangan-jangan dia merasa kesal karena kelakukanku ini? Sepertinya aku harus meminta maaf padanya nanti.
Tak terasa, bel masuk dari istirahat telah berbunyi. Aku tidak percaya ini, dia benar-benar mengesalkan! Aku mencoba meminta maaf padanya, pada Ivan. Tapi coba apa yang dia katakan?!
Jangan ge’er, aku menuruti perintah Pak Andi bukan karenamu! Aku hanya malas mengikuti pelajarannya. Eh...,tapi perasaan aku sudah mengatakan ini padamu? Apa cuman imajinasiku saja yah, ahahahaha!” jelasnya tertawa saat itu, lalu berjalan ke arah kantin bersama teman dekatnya, Hadi.
Kekhawatiranku padanya benar-benar sebuah penyesalan terberatku, aku benar-benar menyesal karena sudah mengkhawatirkannya. Dan serius, ada apa dengan sikapnya itu? Kenapa dia sangat menyebalkan, apa dia memperlakukan gadis lainnya seperti itu?
Jika benar, pantas saja dia tidak laku-laku. Sifatnya itu benar-benar mengesalkan, dia tidak pernah mengerti perasaan seorang wanita!!
Akhirnya kita memasuki pelajaran terakhir, setelah ini aku akan menemuinya, menemui Arthur. Aku akan mengungkapkan perasaanku padanya. Mentalku sudah kuat, aku sudah siap menerima kabar terburuk dari mulutnya.
***
Akhirnya datang, waktu yang selama ini kutunggu akhinya datang. Di belakang sekolah dekat dengan lapangan basket, saat ini aku dan Arthur sedang berdiri saling berhadapan. Wajahku saat ini pasti benar-benar memalukan.
Kupingku memerah, detak jantungku benar-benar berdetak sangat cepat. Jatungku bagaikan sebuah bom waktu yang siap meledak. Aku belum menyampaikan perasaanku tapi sikapku sudah seperti ini?! Tentu saja dia pasti akan menyadarinya, dia pasti akan sadar alasanku memanggilnya ke tempat seperti ini.
Wajah Arthur yang penasaran berubah menjadi wajah yang tersenyum sedih, dia seakan-akan sudah tau dengan apa yang akan aku katakan.
Apa dia akan menolakku? Tapi aku tidak boleh pesimis, aku harus mengatakannya.
“Ar-Arthur, sebenarnya aku –“
“Aku juga,” senyum sedih darinya menatapku. Suasana menjadi sangat hening, kedua mata kami saling bertatapan satu sama lain.
Wushh~
Suara angin seakan-akan menambah suasana menjadi lebih hening, tidak ada satupun dari kami yang berbicara kembali.
Aku juga,” apa maksudnya itu? Apa dia juga menyukaiku? Aku berpikir keras tentang perkataanya itu. Aku menolehkan kepalaku ke belakang, berniat menyembunyikan wajahku yang malu. Tiba-tiba kulihat Ivan yang bersembunyi dibalik pohon, dia memasang wajah khawatir.
Ohh salah, tidak hanya Ivan yang berada disana. Kulihat juga Karin yang menatap sedih kami berdua, dansesekali dia melirik Ivan disampingnya.
Apa Ivan akan mengganggu jalan cintaku lagi?
Seperti 2 tahun yang lalu, dia tiba-tiba memukul lelaki yang akan aku tembak. Karena ulahnya tersebut, lelaki tersebut sekarang membenciku.
Awalnya aku berpikir seperti itu, berpikir bahwa Ivan akan menganggu jalan cintaku lagi.
Akan tetapi.
Dia tersenyum sedih, menampakkan dirinya. Dia sadar kalau keberadaannya telah diketahui olehku. Sambil memejamkan matanya, dia tersenyum sedih dan memberikan jempol ibu jarinya. Dirinya seolah-olah sedang berkata. “Semoga sukses!”
Aku terkejut, benar-benar terkejut dengan sikapnya. Ada apa dengan sikapnya itu? Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya. Apa dia benar-benar cemburu padaku?! Apa dia benar-benar menyukaiku?!
“Aku mengerti perasaanmu, tapi maaf!” Arthur sangat sedih menghancurkan pikiranku, pikiran tentang Ivan. Sedangkan Ivan mulai berjalan pergi menjauh, dibelakangnya juga terlihat Karin yang mengikutinya.
Aku kembali menolehkan kepalaku padanya, pada Arthur. Aku cukup terkejut dengan perkataanya tersebut. Aku mulai bertanya alasan dia menolakku.
“Ke-kenapa? Bukankah tadi kamu bilang kalau kamu juga sama?!”
“Karena itulah aku menolakmu. Aku tidak ingin membuat gadis yang kusukai menjadi bersedih.”
“Ap-apa maskudnya itu? Apa kamu sudah mempunyai kekasih? Apa itu Karin?”
“Karin? Kenapa masalah kita bisa berhubungan dengannya? Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya. Dia hanya teman sekelas dan tetanggaku.”
“Benarkah?”
“Ya, lagipula aku juga belum pernah mempunyai seorang kekasih,” lanjut Arthur memalingkan wajahnya yang memerah.
“La-lalu kenapa?!”
“Aku belum mengatakan ini pada siapapun, tapi...”
“Tapi?”
“Aaahh ..., lebih baik aku tidak mengatakan –“ Arthur memejamkan matanya sangat erat. Seolah sedang ketakutan.
“Cepat katakan! Apa alasanmu sampai menolakku?!
“Baiklah ..., sejujurnya, aku terkena penyakit leukimia stadium dua. Jika tidak mendapatkan donor, hidupku hanya akan bertahan 5 tahun lagi,” senyum sedih Arthur.
Aku hanya terdiam mendengar jawabnnya, tubuhku terasa mati rasa saat dia berkata seperti itu. Apa itu benar? Tidak! Tidak mungkin itu benar! Itu mungkin hanya alasan dia untuk menolakku.
“Ka-kamu pasti bercanda, kan? Jika kamu ingin menolakku, kamu tidak perlu berkata seperti –“
“Sayangnya ini kebenaran.” Arhur hanya menutup matanya, hanya kesedihan yang terlihat dari wajahnya.
Memang benar aku sudah siap menerima kabar terburuk dari Arthur, tapi bukan ini! Ini terlalu mengerikan. Lelaki yang akusuka menderita penyakit yang serius! Umurnya hanya tinggal 5 tahun lagi!
Menangis? tentu saja aku menangis! Gadis mana yang tidak akan menangis jika menghadapi cobaan seperti ini.
“Ke-kenapa kamu baru mengatakannya sekarang ....!! Hiks....
“Aku tidak mau membuatmu seperti ini, aku tidak mau melihat gadis yang kusuka bersedih,” kata Arthur lalu secara perlahan berjalan ke arahku.
Aku hanya bisa menangis, hanya bisa menundukan wajahku yang berlinangan air mata. Lagi, hal ini terjadi lagi. Tiga tahun yang lalu aku seperti ini, aku menangis saat aku mendengar kabar ibuku yang sudah meninggalkan dunia ini.
“Sudahlah, ini adalah takdir dari Tuhan. Memang benar aku hidup tak lama, akan tetapi aku bersyukur karena telah hidup sampai saat ini.”
“Tung-tunggu!!” teriakku sambil memasang wajah terkejut. Wajahku saat itu mungkin terlihat seperti seorang gadis yang mendapatkan kesempatan untuk menggapai harapannya kembali.
“Aku akan mencarikanmu pendonor! Jika ada pendonor kamu akan hidup, kan?!”
“Itu memang benar, tapi sumsum tulangku sangat langka, hanya satu berbanding sejuta yang mempunyai sumsum –“
“Tapi masih ada harapan, kan?! Masih ada kesempatan!!” teriak kesalku sambil memeluk Arthur.
Aku spontan melakukan hal itu, saat itu aku benar-benar takut kehilangannya.
“Sudah Lisa, lupakan aku. Kamu hanya akan menderita jika bersamaku –“
“Aku tidak peduli!! Akan aku terima semua penderitaan itu! Aku akan menerimamu apa adanya!!”
Arthur hanya terdiam terkejut mendengar teriakanku. Dia menundukkan kepala, sedikit menitiskan air matanya.
Aku tahu itu, aku tau kalau dia hanya mencoba terlihat setegar mungkin menghadapi penyakitnya. Padahal aku tau kalau hatinya sangat sakit, dia pasti ingin sembuh dari penyakitnya itu.
“Terima kasih, jika kamu tidak keberatan denganku. Aku mau jadi kekasihmu,”senyum tulus dari Arthur ke arahku. Dia mulai membalas pelukanku, memeluk erat tubuhku. Tubuhnya benar-benar besar, jadi tubuh lelaki itu sangat besar yah, benar-benar berbeda denganku.
Sejak saat itu, kami berdua resmi berpacaran. Seluruh sekolah mengetahuinya, termasuk Ivan teman masa kecilku dan Karin rivalku.
Ivan terlihat setuju dengan hubungan ini, benar-benar bukan seperti dia yang biasanya. Biasanya dia akan tidak setuju dengan hal ini. Dia pasti akan marah karena merasa waktunya akan berkurang denganku, waktu yang berharga baginya untuk mengusiliku.
Berbeda dengan Ivan yang setuju, Karin malah semakin terlihat marah saat dia mengetahui hubungan kami. Sepertinya dia benar-benar tidak setuju dengan hubunganku dengan Arhur. Kenapa dia tidak ingin mengalah? Apa dia sebegitu mencintainya?
***
Hari libur, hari minggu datang, hari terindah bagi pelajar sepertiku. Aku tinggal bersama ayahku di rumah sederhana.
Aku pasti belum mengatakan ini, tapi ibuku sudah meninggal 3 tahun yang lalu, saat aku masih duduk di kelas 3 SMP.
Rencanaku hari ini adalah ..., bersantai sambil menonton TV. Sesekali aku juga saling mengirim pesan dengan kekasihku, Arthur. Benar-benar hari yang menyenangkan!!
Tapi aku harus mencari pendonor untuknya, aku harus mendapatkan pendonor dengan batas waktu 5 tahun ini.
Aku berjalan menghampiri kursi sofaku sambil membawa perlengkapan hari mingguku. Snack sudah siap, minuman soda sudah siap, nyalakan TV sudah siap.
Saat aku ingin duduk di sofa dan bersiap melakukan pekerjaan santaiku, tiba-tiba.
Ting Teng !!!
Suara bel dari pintu rumahku berdering cukup keras. Benar-benar menganggu, orang bodoh macam apa yang berkunjung di hari minggu, hari orang-orang untukbersantai dalam seminggu?
Aku berjalan pelan menghampiri pintu depan rumahku. Jika ayahku ada di rumah, sudah jelas pasti ayahlah yang akan membukakan pintunya.
Krekkk!

Terlihat lelaki berambut coklat dengan warna bola mata yang sama dengan rambutnya. Dia adalah Ivan, teman masa kecilku.
“Lama sekali kamu membuka pintunya ...,datarnya sambil memasang wajah kecewa.
“Berisik, ada perlu apa? Penting atau tidak?”
“Hey hey, itukah caramu menyambut tamu?”
“Baiklah ..., ada keperluan apa yah?” tanyaku sopan.
“Kamu mendapatkan oleh-oleh dari ibuku, nih!!” geramnya lalu memberikan sebuah keresek berwarna hitam.
“Apa ini?”
“Entahlah! Ib-ibuku sendiri yang membelikan ini untukmu!”
“Woah, ayah dan ibumu sudah pulang?! Boleh aku menemui mereka?!”
Aku benar-benar menyukai kedua orang tua Ivan. Mereka berdua benar-benar baik tidak seperti anaknya. Sudah dua tahun ini aku tidak pernah bertemu dengan mereka karena urusan pekerjaan mereka.
“Sayang sekali, mereka baru saja berangkat lagi tadi.” Ivan memasang wajah cukup sedih.
“Pasti berat yah sering ditinggal pergi orang tua? Tapi kamu masih beruntung karena masih memiliki keduanya, sedangkan aku –“
“Sudahlah, jangan membahas itu! Boleh aku masuk?! D iluar dingin tahu!”
“Eehhh, kamu mau datang berkunjung?!”
“Iya, memangnya tidak boleh?!”
Ivan bergegas berjalan masuk ke rumahku. Seolah-olah rumahku sudah menjadi rumahnya sendiri.
“Hey, paling tidak katakan permisi ketika kamu memasuki rumah orang lain!” teriak kesalku sambil berjalan mengikuti Ivan.
Ivan berjalan kearah ruang keluarga, mungkin dia berniat menonton TV?
“Lisa ...., kebiasaanmu belum berubah? Dasar pemalas...,” Ivan mengeluh melihat Snack dan minuman sodaku.
“Apa salahnya! Aku tidak setiap hari melakukan hal ini kok!”
“Tapi tetap saja, kamu ini seorang gadis! Jika kamu begini terus, kamu tidak akan mempunyai seorang kekasi –“ Ivan terdiam dan sepertinya mulai mengingatnya. Dia mulai mengingat kalau aku sudah menjadi milik orang lain.
“Ahh...., aku lupa dengannya. Maaf, kamu sudah berpacaran dengan Arthur, kan?” senyum sedih Ivan ke arahku, lalu dia duduk di sofaku dan menonton Tv.
Mungkin ini saatnya! Mungkin ini saat yang tepat mengetahui perasaan Ivan padaku! Aku ingin mengetahui alasan sikap Ivan waktu itu.
“Iv-ivan, boleh aku menanyakan sesuatu?”
“Hmmm,” sahutnya sambil terus melihat Tv.
“Bagaiaman pendapatmu?”
“Tentang?”
“Tentang hubunganku dengan Arthur.”
“Ohh itu... Baguslah, akhirnya kamu bisa berpacaran dengan lelaki yang kamu suka,” senyum Ivan melirikku.
“Tapi kenapa kamu tidak mengganguku kali ini? Biasanya kamu selalu menggangu jalan cintaku.”
“Itu hanya keisenganku, tapi sekarang kamu sudah dewasa. Aku tidak punya hak lagi mengganggu jalan cintamu.”
Wajahnya kembali melihat televisi. Memang benar wajahnya menghadap televisi tapi pandangannya terlihat kosong, Ivan seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
“Lalu bagaimana kamu menjelaskan sikapmu waktu itu? Itu tidak seperti kamu yang biasanya! Apa kamu cemburu?!”
“Cemburu? Hahahahaha –“
“Apa kamu menyukaiku?!”
“Eh?” tertawaannya seketika terhenti dan menatapku penuh penasaran.
“Apa kamu menyukaiku?” kata tersebut secara spontan keluar dari mulutku. Wajahku menjadi memerah seperti tomat yang sudah masak. Suasana menjadi hening dan canggung karena perkataanku tadi.
Kulihat untuk sesaat, hanya sesaat, Ivan mengepalkan tangan kanannya, dia sedang menahan amarahnya. Dia juga mengigit pelan bibir bawahnya untuk sesaat.
“Ma-mana mungkin aku menyukai gadis sepertimu!” senyum meledek darinya, dia menolehkan kepalanya kembali melihat televisi.
“Apa kamu serius mengatakan itu?!” tanyaku memasang wajah sangat serius.
“Iyalah, kenapa aku harus menyukaimu? Masih banyak gadis diluar sana yang lebih baik darimu,”senyum sombong Ivan melirikku.
Ternyata aku salah, mustahil lelaki super menyebalkan ini mencintaiku! Dia hanyalah penganggu dalam hidupku, dia hanya suka menjahiliku saja. Aku sempat bodoh karena berpikir kalau Ivan menyukaiku, benar-benar bodohnya diriku!
“Maaf kalau aku tidak sempurna,” geram kesalku sambil duduk disamping Ivan.
Eh tunggu dulu! Jika dipikir-pikir kalau Ivan itu mempunyai teman yang cukup banyak. Siapa tahu saja dia bisa membantuku untuk mencari pendonor untuk Arthur.
Tidak apa kah? Apa tidak apa-apa jika aku menceritakan rahasia Arhur padanya? Tetapi ini demi kebaikannya juga.
“Hey, Ivan.”
“Apa lagi?” lirik sinis Ivan.
“Arthur terkena penyakit leukimia stadium dua..., waktunya tinggal 5 tahun lagi jika dia tidak mendapatkan pendonor.”
 “Be-begitu,” Ivan sedikit terkejut lalu tersenyum sedih memejamkan matanya.
“Kamu terlihat sudah mengetahuinya, apa Arthur sendiri yang mengatakannya padamu?”
“Tidak, ini pertama kali aku mendengarnya,”senyum Ivan melirikku.
“Jadi dia menderita penyakit serius yah,” lanjutnya sambil menatap sedih langit-langit rumahku.
“Sudah kuduga kalau kamu sudah mengetahuinya! Apa ini alasanmu membiarkanku berpacaran dengan –“
“Berisiknya, sudah kubilang aku baru tahu sekarang! Aku –“ Ivan sambil berdiri dari tempat duduknya tapi dia hampir terjatuh, dia hampir tersungkur kedepan jika aku tidak memegang tangan kananya.
“Ap-apa kamu baik-baik saja?” aku bertanya cukup khawatir.
“Sial, aku belum makan dari kemarin! Tidak kusangka tubuhku selemah ini!” geram kesal Ivan sambil melepaskan tangannya dari tanganku.
“Eh? Bukannya ayah dan ibumu kemarin pulang?”
“Aaah, iy-iya benar. Sepertinya mereka sangat sibuk jadi tidak sempat menyiapkan makanan untukku!”
“Begitu.”
Aku tahu dia berbohong, mustahil ayah dan ibunya menelantarkan dirinya. Aku sangat tau kalau kedua orang tua Ivan itu adalah orang yang sangat baik. Mereka sangat peduli pada orang lain, apalagi pada anaknya!
“Ivan, apa orang tuamu benar-benar datang?”
“Iya datang! Sudah kubilang jangan membahas itu!” Ivan terlihat kesal sambil berjalan ke arah dapur.
Kenapa dia menjawab kesal seperti itu? Padahal aku cuman bertanya dengan baik-baik. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya. Sangat jarang baginya untuk berbuat baik padaku, jika dia berbuat baik pasti itu karena orang lain. Contohnya tadi, dia memberiku beberapa sayuran dalam keresek hitam karena orang tuanya.
“Jadi kenapa dengan itu?” tanya Ivan memecahkan pikiranku, dia berjalan pelan menghampiriku sambil membawa segelas air.
“Ka-kamu mau minum? Kenapa tidak bilang saja? Padahal biar aku yang ambil –“
“Memang mengesalkan, kenapa tamu sepertiku harus mengambil minuman sendiri! Tapi tak apa lah, jadi bagaimana?” tanya kesal Ivan memejamkan matanya.
“Bagaimana? Tentang apa?”
“Alasanmu memberitahuku! Memberitahu tentang penyakit lelaki itu!”geram Ivan memejamkan mata dan terlihat menahan amarah.
“Ohhh iya ..., kamu kan banyak teman, aku pikir kamu dapat membantuku?”
“Begitu ..., tapi bukankah dengan melakukan hal itu, rahasianya akan terbongkar?”
“Ak-aku melupakan itu ....”
“Bodohnya...,” Ivan mengeluh melihatku.
“Berisik!”
Aku baru tersadar dengan perkataan Ivan, aku lupa kalau rahasia Arthur akan terbongkar jika aku meminta bantuan pada teman-teman Ivan.
“Ba-bagaimana dong?!” aku bertanya khawatir.
“Coba kamu tanyakan padanya, “senyum Ivan lalu duduk disampingku.
Aku mengambil saran dari Ivan. Bergegas menelepon dan menanyakannya. Aku bertanya langsung ke intinya, langsung bertanya tentang meminta persetujuan darinya. Aku meminta persetujuan untuk membeberkan penyakitnya.
Aku pikir dia akan menolak keras, tapi dia malah setuju dan berkata, “Tak apa, kamu bisa melakukannya. Aku sudah terlalu lama menyembunyikan penyakitku ini. Mungkin sekarang saat untuk membeberkannya.”
Tersenyum, aku spontan tersenyum saat mendengar perkataanya. Akhirnya aku bisa mencari pendonor lebih leluasa.
Aku tidak langsung mematikan telepon dari Arthur, kami langsung berbicara hal yang lainnya. Hobi, makanan favorit, golongan darah, dan yang lainnya. Semua kami bahas, hingga waktu sudah menunjukkan siang saat aku menutup telepon.
“Jam 2? Berapa lama aku berteleponan dengan Arhur?”
Kulihat Ivan telah pergi dari sampingku. Tentu saja, mungkin dia marah karena telah aku abaikan selama beberapa jam. Tapi aku tidak peduli.
Aku berdiri berniat merapikan meja yang berserakan, berserakan karena snack dan yang lainnya. Saat aku merapikan meja tersebut terlihat sepucuk surat dengan tulisan tangan yang masih baru, tulisannya sedikit tidak rapih menandakan bahwa aku tau siapa yang menulisnya.
Aku pulang, ada yang harus kukerjakan. Lagipula jika aku terus disini, aku merasa seperti kacang polong yang baru terjatuh ke lantai.”
Kacang polong? Apa maksudnya itu? Aku benar-benar tidak mengerti dengan maksud surat ini. Tapi satu hal yang aku tau pasti, kalau maksud suratnya ini adalah dia menghinaku.
***
Sekolah menjadi ramai, menjadi cukup ricuh ketika penyakit Arthur terbongkar. Telihat beberapa slogan yang berisikan ucapan semangat pada Arthur, mereka benar-benar sedih karena mendengar kabar ini.
Hampir seluruh siswa mencoba mendonorkan sumsumnya, tapi sayang tidak ada satupun yang cocok. Kami juga sudah mencari pendonor ke sekolah lain bahkan sampai masuk ke masyarakat. Tapi benar-benar sayang, tidak ada yang cocok satupun.
Saat istirahat aku hanya berdiam diri dibelakang sekolah, merenung dekat lapangan basket. Aku berpikir bagaimana kalau usahaku gagal? Bagaimana kalau Arthur benar-benar pergi meninggalkanku?
Tanpa aku sadari, aku kembali menangis, menangis cukup pelan.
Hembusan angin lembut seolah-olah sedang menghiburku saat itu. Hangatnya sinar matahari seolah-olah sedang memelukku saat itu. Tapi itu tidak membuatku merasa baikan, satu-satunya yang kuinginkan saat ini adalah kesembuhan Arthur, aku rela mengorbankan apapun meski itu nyawaku sendiri.
Seandainya susumku cocok dengannya, aku tidak akan sungkan menyumbangkannya, meski hal tersebut bisa merenggut nyawaku, bisa menghancurkan tubuh lemahku.
Disaat aku sedang terus menangis, terdengar suara langkah kaki yang berjalan ke arahku. Aku mengacuhkan langkah kaki tersebut dan terus menangis memejamkan mata.
Tiba-tiba pipiku menjadi sangat dingin, aku terkejut membuka mataku. Kulihat Ivan sedang menempelkan sebuah minuman dingin padaku. Dia tersenyum yang mengesalkan dan berkata.
“Nih..., kamu pasti haus, kan?”
Suasana hatiku saat itu sedang buruk, aku membuang tangan kanan Ivan yang memberikan minuman dingin. Aku bergeram kesal dan berkata.
“Apa maumu?! Aku sedang malas bercanda denganmu!”
“Eehh .... aku kan hanya mau memberi minuman ini?” Ivan terlihat cukup sedih.
“Benarkah? Sangat aneh jika kamu berbuat baik padaku. Apa maumu?!” tanyaku kembali sambil mengambil cepat minuman dingin yang Ivan pegang.
“Aku hanya mau mengatakan ...., berhentilah menangis. Kamu benar-benar terlihat jelek jika kamu melakukan itu.” Ivan melirikku dengan pandangan meremehkan.
“Apa maksudmu itu?” aku menaikan nadaku dan mulai kesal.
Bukankah mengesalkan? Di kondisi seperti ini, kenapa dia malah menghinaku? Lelaki normal lainnya pasti akan menghiburku hingga aku baikan, tapi dia tidak, kan? Dia benar-benar membuatku kesal.
“Maksudku adalah....,lupakanlah Arthur, kamu masih bisa mencari lelaki lainnya. Kamu harus melihat sekitarmu. Banyak kok lelaki yang menyukaimu, kamu itu cukup baik dan –“
PLAKK!!
Aku menamparnya, Aku menampar Ivan dengan tangan kananku sendiri. Beberapa hinaan sebelumnya bisa aku maafkan, tapi yang satu ini tidak. Dia benar-benar membuatku muak! Apa maksudnya melupakan Arthur?
Saat ini dia pasti senang karena melihatku menderita! Saat ini dia pasti germbira karena melihatku tersiksa oleh cobaan yang kuhadapi! Dia benar-benar lelaki bajingan! Aku tau dia senang bercanda, mengeluarkan perkataan yang menghinaku...., tapi ini sudah di luar batas!
Aku berjalan cepat menjauhinya, berjalan cepat ke kelas tanpa menucapkan sepatah katapun padanya yang menundukkan kepala.
Saat aku berjalan, aku melihat rivalku, aku melihat Karin yang menatap kami berdua. Dari tempat Karin berdiri, sudah dipastikan kalau dia melihat bahkan mendengar pembicaraan kami.
Aku hanya menghiraukannya, menghiraukan Karin. Sedangkan Karin hanya menundukan kepalanya ke bawah, mengepalkan kedua tangannya.
Lalu saat aku berpapasan dengannya, terdengar perkataan yang cukup pelan darinya, perkataan pelan yang memiliki tekanan nada yang amat dalam.
Suatu saat nanti, kamu akan menyesalinya!
Untuk sesaat aku berhenti melangkahkan kakiku dan berbalik melihat Karin. Tapi Karin hanya terus berdiam diri tidak memalingkan wajanya padaku, seakan-akan dia tidak ingin berniat melihatku lagi, seakan-akan dia sudah muak denganku.
Apa maksudnya itu? Aku akan menyesalinya? Menyesali apa?
Aku tidak mau mengambil pusing perkataan Karin, dan terus melangkahkan kakiku ke kelas. Bel istirahat pun sudah berbunyi, dan pelajaran terakhir punakan segera dimulai.
Keinginan belajarku benar-benar hilang karenanya, karena perkataan Ivan tadi. Selama pelajaran terakhir aku hanya melamun memperhatikan guru. Wajahku memang seperti memperhatikan Pak Andi, tapi pikiranku benar-benar berbeda dengan apa yang kulihat.
Aku membayangkan kemungkinan terburuk yang aku dapatkan nanti, kemungkinan kalau aku ditinggalkan olehnya, oleh kekasihku, Arthur. Tanpa aku sadari, aku kembali mengeluarkan air mata.
Semua siswa di kelasku segera melihatku yang mengeluarkan air mata, tentu saja termasuk teman masa kecilku, Ivan.Lalu Pak Andi segera menghampiriku dan bertanya khawatir.
“Ada apa Lisa? Apa kamu tidak enak badan?”
“Emm.” Aku menutup wajahku sambil menggelengkan kepala.
Aku tidak kuat menahan air mata ini, air mataku terus mengalir tanpa henti ketika aku membayangkan kemungkinan terburuk yang aku hadapi nanti.
“Aku ke toilet sebentar,” jelasku sambil berdiri dari tempat dudukku, lalu berjalan cepat menuju pintu keluar.
Aku terus menangis di dalam toilet, terus menangis layaknya seperti anak kecil. Jika kalian berpikir aku terlaluberlebihan? Aku tidak peduli. Aku hanya terus menangis hingga bel pulang berbunyi.
Aku mulai berhenti menangis saat Arthur menghampiriku yang berada dalam toilet wanita, lalu secara perlahan dia memelukku. Dia juga sedikit menitiskan air mata, bukan air mata kesedihan, tapi air mata kebahagiaan.
Aku hanya kebingungan melihat sikapnya. Kenapa dia malah tersenyum sambil menangis?
“Aku sungguh bersyukur kamu menjadi kekasihku, kamu bahkan menangis untuk kepergianku nanti.”
“Jangan berbicara seperti itu!! Kamu pasti akan sembuh, aku janji, aku akan menemukan pendonor –“
“Aku sudah menemukannya.”
“Eh? Apa maksudmu?” tanyaku terkejut sambil melepaskan pelukannya.
“Aku menemukan seseorang yang memiliki sumsum sepertiku, tapi aku tidak yakin dia akan mendonorkann –“
“Siapa! Cepat katakan siapa orangnya!!” teriakku gembira. Aku benar-benar gembira saat Arthur berkata seperti itu.
“Teman masa kecilmu, Ivan.” Arthur memalingkan wajahnya.
“I-Ivan? Benarkah itu?”
“Yang dikatakan Arthur benar, sumsumku cocok seperti dirinya,” kesal Ivan yang baru saja memasuki toilet wanita.
“Bu-bukankah itu bagus?! Akhirnya kamu –“ aku sangat gembira mendengar berita tersebut, aku tersenyum lebar pada Arthur. Tapi, hatiku yang gembira ini dihancurkan kembali oleh perkataan Ivan yang amat sangat menyakitkan.
“Tapi aku tidak akan mendonorkannya,” geram kesal Ivan lalu keluar dari toilet perempuan.
“Eh?” Aku terkejut, benar-benar terkejut mendengar pernyataanya. Kulihat Arthur hanya tersenyum sedih memejamkan matanya.
Aku bergegas keluar toilet mengejar Ivan, aku mengejarnya sambil memikirkan alasan Ivan tidak mau mendonorkan sumsumnya. Kenapa dia sangat senang melihatku menderita?! Apa dia membenciku?! Apa aku pernah berbuat salah padanya, pada lelaki yang menjijikan ini?!
“Tunggu Ivan! Kenapa kamu tega sekali?!” teriakkesalku menarik baju Ivan.
“Tega? Ini tubuhku! Terserah aku mau melakukan apapun pada tubuhku!” Ivan merasa kesal sambil menatap tajam diriku.
Apa dia masih marah soal aku yang menamparnya? Tentu saja dia pasti marah.
Jadi ini maksudnya, maksud Karin kalau aku akan menyesali perbuatanku tadi. Ternyata orang yang selalu menganggu hidupku ini akan menjadi kunci kebahagiaanku nanti di masa depan.
“Aku minta maaf..., hiks.” Aku menangis sambil memegang erat baju Ivan. Aku tidak mempunyai pilihan lain selain menangis membujuknya, dia satu-satunya harapan agar Arthur bisa hidup, lelaki yang kubenci ini satu-satunya harapan agar aku bisa terus hidup bersama dengan Arthur.
“Untuk apa kamu menangis? Untuk apa kamu meminta maaf?!” tanya kesal Ivan yang kebingungan.
“Aku tau kamu pasti marah padaku! Aku tau kamu pasti membenciku sekarang! Tapi tolonglah ...., sekali ini saja! Aku memohon padamu!! Aku rela melakukan apapun jika kamu mau melakukan pendonoran itu untuk Arthur!!” teriakku saat itu, dan tentu saja para siswa jadi berdatangan mengelilingi kami.
Ivan hanya terdiam malu karena mendapat tatapan tajam dari semua siswa.
“Eh, dia memiliki sumsum yang sama dengan Arthur?”
“Tapi kenapa dia tidak mau mendonorkannya?”
“Jahatnya....,
“Mengerikan, ternyata aku salah menilai Ivan.”
Dan beberapa bisikan lainnya yang masih terdengar oleh Ivan dan olehku.
Ivan hanya terdiam kesal sambil mengepalkan kedua tangannya, lalu dia berteriak sambil menunjuk Arthur yang baru keluar dari toilet.
“Apa kamu sangat menyukai lelaki penyakitan itu, Hah?!”
“Apa maksudmu lelaki penyakitan?!! Aku yakin dia pasti sembuh!! Lagipula aku benar-benar sangat mencintainya!!”
“Lisaaa!!” geram sangat kesal Ivan memejamkan matanya.
Pandangan para siswa yang mengelilingi kami menjadi lebih tajam pada Ivan, mereka seakan-akan sudah marah dan muak pada teman masa kecilku ini.
“Ivan...., aku mohon –“ aku memasang wajah memohon pada Ivan. Ya, ini merupakan pertama kalinya aku memohon pada orang yang selalu mengganguku, orang yang selalu mengusiliku.
“Berisiknya!! Aku tau!!! Aku akan mendonorkannya, jadi berhentilah menangis!!!” teriak kesal Ivan sambil melepaskan paksa tanganku dari bajunya.
“Kasarnya, jika saja dia bukan pendonor untuk Arthur. Aku akan memberinya pelajaran.”
“Menjijikan..., dia tidak memiliki sopan santun!”
Geram kesal beberapa siswa melirik sinis Ivan yang berjalan cukup cepat pergi meninggalkanku. Sementara itu Arthur mulai berjalan pelan ke arahku dan memelukku dari belakang. Dia menangis bahagia sambil berkata.
“Terima kasih!”
***
Delapan hari sebelum operasi pendonoran, kami menjalani Ujian Nasional. Aku dan Arthur memilih universitas yang sama,universitas ternama yaitu Harvard. Entah kebetulan atau takdir, kami sepakat untuk menentukan pilihan universitas kami disana.
Sedangkan Karin dan Arthur akan tetap tinggal dikota ini, kota Jakarta. Mereka berdua tidak mengatakan pada kami tentang pilihan universitasnya.
Hingga hari penentuan pun akhirnya datang, operasi pendonoran sumsum tulang untuk Arthur pun dilakukan. Mereka berdua, Ivan dan Arthur memasuki ruang operasi. Terlihat seluruh keluarga besar Arthur berkumpul di lorong, mereka terlihat mendoakan anggota keluarganya.
Berbanding terbalik dengan keluarga Arthur yang dikunjungi keluarganya. Tidak terlihat satu pun anggota keluarga dari Ivan yang datang.
Kemana mereka? Kemana orang tua Ivan? Apa mereka terlalu sibuk karena urusan pekerjaan, hingga tidak sempat melihat aksi heroik anaknya?
~~

Akhirnya selesai, Operasi pendonoran pun selesai. Terlihat isak tangis bahagia dari keluarga Arthur yang memeluknya. Aku juga langsung spontan memeluknya, aku langsung memeluk Arthur setelah diperbolehkan oleh perawat yang bersangkutan.
Aku benar-benar bahagia saat itu, aku sungguh bersyukur karena akhirnya Arthur sembuh total dari penyakitnya.
Semua orang menangis bahagia, tertawa bahagia mendengar kabar ini. Keluarga Arthur, teman-teman Arthur, dan seluruh siswa di sekolah kami benar-benar bahagia mendengar kabar tentang kesembuhan Arthur.
Tapi hanya satu orang yang tidak tersenyum, tidak terharu dengan kabar gembira ini. Dia datang terlambat dan hanya terus menundukan kepalanya. Dia bahkan belum masuk ke ruangan Arthur dirawat.
Karin, dia terlihat tidak bahagia atas kesembuhan Arthur. Aku mencoba menyapanya, memberi tahu kambar gembira ini. Mungkin dia masih belum tau tentang kabar gembira ini.
“Ka-Karin, kata dokter operasinya sukses! Sekarang Arthur –“
“Sudah tau ..., aku sudah tau itu,” jelasnya pelan sambil berdiri dari tempat duduknya. Lalu dia berjalan melewatiku, pandangannya benar-benar tidak mau melihatku. Dia seolah-olah tidak ingin melihatku saat itu. Aku sempat berpikir, ada apa dengannya? Apa dia sebegitu membenciku?
Karin berjalan memasuki tempat dimana Arthur sedang berbaring, dia memasuki ruangansecara paksa, meski perawat sudah mencegahnya.
“Nyonya, kamu harus menunggu giliranmu! Pasien tidak bisa dikunjungi oleh banyak orang –“
“Aku hanya sebentar!! Aku hanya mau mengucapkan kata selamat saja padanya,”lirik sinis Karin pada suster.
“Ba-Baiklah!” perawat tersebut terlihat ketakutan.
Setelah dia mengucapkan selamat pada Arthur, dia bergegas keluar dari ruangan tersebut. Dia kembali berpapasan denganku, dan berkata.
Apa balasanmu? Kamu bahkan tidak mengucapakan terima kasih padanya..”
“Eh?”
Aku tersadar, orang yang menyelamatkan Arthur adalah Ivan! Aku harus mengucapkan terima kasih padanya. Aku bergegas berlari menanyakan lokasi Ivan pada suster yang mengurus Arthur. Setelah mendapatkan informasi, aku lekas berlari menuju ruangan tempat Ivan dirawat.
Sesampainya disana, aku hanya terdiam terkejut. Benar-benar terkejut melihat suasana dingin disekitar ruangan tempat Ivan beristirahat. Jika lorong ruangan Arthur penuh dengan kehangatan orang-orang, penuh dengan orang-orang yang mengucapkan selamat atas kesembuhannya.
Sedangkan lorong ruangan Ivan terlihat sepi, tidak ada satupun yang memberi penghargaan padanya, tidak ada satu orang pun yang peduli dengan aksi heroiknya. Teman-temannya, keluarganya, bahkan aku sendiri melupakannya. Jika tidak diingatkan oleh Karin, aku mungkin akan larut dalam kebahagian dan melupakan Ivan.
Apa keterlambatan Karin saat itu karena ini? Karena dia mengucapkan terima kasih pada Ivan? Karin bukan kekasih Arthur, tapi dia bersikap layaknya seperti kekasihnya. Sedangkan aku kekasih Arthur, tapi belum mengucapkan terima kasih pada orang yang telah menyelamatkan Arthur. Benar-benar menyedihkannya diriku.
Aku perlahan membuka pintu ruangan tersebut dan kulihat dirinya terbaring tidak sadarkan diri. Dia tidak bergerak sedikitpun, lalu kulihat suster yang memasang wajah sedih sambil membereskan peralatannya.
“Suster, apa dia baik-baik saja?”
“Ohhh kamu mengenal anak ini? Syukurlah ....,” senyum sedih suster tersebut.
“Iya aku mengenalnya, memangnya kenapa?”
“Tidak apa-apa, bukankah dia pendonor yang menyelamatkan anak itu?”
“Iya dia orangnya.”
“Begitu...., sungguh menyedihkan yah?” suster tersebut kembali tersenyum sedih sambil melihat Ivan yang tidak bergerak sedikitpun.
“Menyedihkan? Kenapa bisa menyedihkan?”
“Semua orang mengucapkan selamat, mengunjunginya, berbondong-bondong datang ke ruangan yang mendapatkan donor darinya. Tapi dia yang menyelamatkan anak itu, hanya mendapatkan dua tamu yang mengunjunginya, sungguh kasian...,senyum sedih suster tersebut melihat Ivan.
“Ma-maaf, ak-aku terlalu larut dalam kebahagian hingga melupakannya.” Aku mejawab sedih penjelasan suster tersebut.
“Tak apa, paling tidak kamu datang, kan?” senyum Suster tersebut.
“Ah iya...., apa boleh aku tetap disini, aku ingin menunggunya bangun dan mengucapkan terima kasih,” senyumku melihat suster tersebut.
“Iya, itu lebih baik daripada dia sendirian disini,” jelas suster tersebut lalu berjalan keluar ruangan.
Beberapa menit kemudian, dia terbangun, dia melirik sinis diriku dan berkata.
“Kamu disini? Kenapa? Seharusnya kamu bersamanya, kan? Seharusnya kamu merayakan kesembuhan kekasihmu itu, kan?”
“Aku ingin berterima kasih padamu. Terima kasih karena telah menyelamatkan hidup kekasihku.” Aku menangis bahagia sambil menundukkan kepalaku.
“Memang harus seperti itu!! Benar-benar mengesalkan, kenapa aku tidak mendapatkan kunjungan disini? Padahal aku yang sudah menyelamatkannya,” senyum kesal Ivanmemejamkan matanya.
“Kalau begitu, biar aku yang kasih tau mereka –“
“Tak apa, aku tidak ingin mereka menjengukku karena terpaksa, aku tidak ingin mereka mengunjungiku karena diingatkan oleh orang lain.”
“Ma-maaf, sebenarnya aku juga. Aku di ingatkan oleh Karin.”
“Haah?! Jadi kamu diingatkan oleh Karin?! Sialan –“ Aku hanya menutup mata, aku ketakutan karena akan mendapatkan amarah darinya lagi. Tapi tiba-tibaIvan langsung menghentikan perkataanya. Dia tersenyum melihatku, senyuman tulus yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
“Lupakan ...., wajar jika kamu lupa ....., kamu sudah punya seseorang yang berharga bagimu. Aku bisa mengerti perasaan itu.”
“Ka-kamu tersenyum? Lagipula apa kamu sudah menyukai seseorang?”
“Iya, tapi sayangnya cuman bertepuk sebelah tangan ....,hahaha,” dia tertawa pelan sambil memejamkan matanya sesaat.
“Siapa?! Biar aku bantu –“
“Tidak perlu, aku tidak punya harapan untuk mendapatkannya. Dia sudah bahagia dengan orang lain,” senyum Ivan sambil terus memejamkan matanya.
“Tapi –“
“Berisiknya!! Jika aku bilang tidak perlu, ya tidak perlu!” geram kesal Ivan melihatku.
“Bi-biasa ajah..., aku kan cuman mau membantumu.”
Memang seperti Ivan yang biasanya, dia cepat marah untuk alasan yang sepele seperti ini. Kenapa dia cepat marah? Pantas saja orang yang menjenguknya hanya aku dan Karin.
“Pergilah...., temui lelaki itu,” Ivan memalingkan wajahnya.
“Tapi –“
“Pergilah!”
“Ba-baiklah, aku pergi.” Aku lekas berdiri, dan berjalan cepat menuju pintu keluar karena tidak ingin mendapatkan amarah darinya. Tapi.
“Aahhhh ..., tunggu Lisa, aku melupakan sesuatu yang penting.”
“Ap-apa?” aku menghentikan langkahku dan berbalik melihatnya.
“Bukankah kamu bilang akan melakukan apapun jika aku mendonorkan sumsumku?” senyum licik Ivan melihatku.
“Ak-aku memang mengatakan itu, tapi pelecehan seksual dilarang!” Aku sambil menutupi tubuhku yang ketakutan.
“Oi oi, memangnya aku ini lelaki seperti apa dipikiranmu itu?” tanya Ivan mengeluh.
“Lelaki mesum, penggangu, perusak hubungan orang lain! Lelaki yang hanya mencari kesenangan duniawi!”
“Jahatnya ...., tapi tenang saja, aku tidak akan melakukan hal itu kok.”
“Lalu maumu apa? Cepat katakan, supaya hutang kita impas!”
“Baiklah, dengarkan aku baik-baik.”
“Em.”
“Aku ingin ..., setelah kami, maksudku aku dan Arthur keluar rumah sakit, kamu harus melakukan sesuatu untukku!”
“Iya, apa itu?”
“Menghilanglah dari kehidupanku, jangan ganggu kehidupanku lagi, dan jangan pernah temui aku lagi. Hapus semua tentangku dalam ingatanmu, maka aku juga akan menghapus tentangmu dan ingatanku.”
“Eh?” Aku hanya terdiam terkejut mendengar permintaan Ivan. Apa dia serius dengan apa yang dia katakan? Apa dia serius ingin memutuskan ikatan pertemanan, mungkin persahabatan kami?
“Ka-kamu pasti bercan –“
“Aku serius, keputusanku sudah bulat. Aku –“
“Kenapa?! Apa kamu membenciku?!”
“Coba kamu pilih, aku atau Arthur?”
“Kenapa kamu menanyakan hal it –“
“Kamu tidak bisa memilih, kan? Jika aku masih berhubungan denganmu, aku hanya akan menghancurkanmu, merusak hubungan kalian berdua. Kamu pasti orang yang paling mengerti disini, Lisa. Kamu tau betul sifatku ini, kan?”
“Tapi kan –“
“Itu permintaanku, setelah aku dan Arthur keluar dari rumah sakit. Kita hanya orang asing, kita tidak mengenal satu sama lain, kamu mengerti?”
“Ba-baiklah, jika itu maumu.” Jawabku menundukan kepala.
“Satu hal lagi.”
“Ap-apa?”
“Sampai kapanpun, jangan pernah mencariku, bahkan menemuiku ....! Kamu harus menepati janji ini.”
“Baik aku mengerti! Jika kamu ingin mengakhiri hubungan persahabatan kita, aku akan melakukannya!” geramku sangat kesal, aku benar-benar kesal karena mendengar permintaan bodohnya itu.
“Baguslah...,” senyum tulus kembali dari Ivan, lalu tertidur memejamkan matanya.
Aku tidak peduli lagi dengannya, jika dia tidak ingin bertemu denganku lagi, aku tidak apa! Lagipula dia hanya penggangu dalam hidupku.
~~
Beberapa minggu setelah mereka keluar dari rumah sakit, aku dan Arthur akan segera pergi meninggalkan Indonesia, dan akan menuntut ilmu di negara asing. Dia saat-saat terakhir kepergian kami, dia tidak datang. Ivan tidak datang melepas kepergian kami, bahkan Karin juga tidak terlihat dalam rombongan yang mengantar kepergian kami.
Sejak Arthur dan Ivan keluar dari rumah sakit, aku dan Ivan benar-benar sudah tidak saling bicara, kami seolah-olah tidak mengenal satu sama lain.
Sampai saat ini aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya. Aku kira dia hanya bergurau soal keinginannya waktu itu, keinginan untuk memutuskan persahabatan kami, tapi ternyata dia serius, dia benar-benar serius melakukan hal tersebut.
***
Empat tahun berlalu sejak operasi pendonoran Arthur sukses. Aku dan kekasihku juga akhirnya telah menyelesaikan pendidikanku di Harvard. Kami pulang kembali ke Indonesia membawa kabar gembira, aku dan Arthur telah resmi bertunangan, dan beberapa bulan lagi kami akan segera menikah.
Sebelum hari penting itu datang, sebelum hari terindah dalam hidupku itu tiba. Aku dan Arthur mulai mengunjungi teman-teman lama kami untuk memberikan undangan pernikahan secara langsung.
Semua undangan sudah aku berikan, hingga tersisa dua undangan. Ya, kedua undangan tersebut aku ingin berikan pada Ivan teman masa kecilku, dan Karin rivalku.
Aku sempat takut bertemu dengan Karin, mungkin dia masih belum menerima hubungan kami? Mungkin dia masih membenciku?
Aku juga sempat takut bertemu dengan teman masa kecilku, Ivan. Mungkin dia benar-benar sudah melupakanku, mungkin dia akan marah ketika aku menemuinya nanti.
Tapi perasaan takut itu hilang karena dukungan dari kekasihku, kami berdua memberanikan diri datang ke rumah Ivan terlebih dahulu.
Aku mulai menekan bel rumahnya, tapi tidak ada jawaban.
Lebih dari tiga kali aku melakukan itu, tapi tidak ada jawaban sama sekali dari penghuni rumah. Kemana Ivan? Kemana orang tuanya? Kenapa rumah ini terlihat sepi sekali?
Di saat aku berpikir tentang tempat Ivan berada, tiba-tiba terdengar suara gadis yang cukup familiar bagiku.
“Arthur, Lisa?”
Aku menolehkan kepalaku ke samping, dan kulihat seorang gadis cantik yang terlihat dewasa sedang menyapaku dengan senyuman indahnya. Dia sangat cantik dengan warna rambut coklat terurai panjang.
“Karin, lama tidak bertemu,” senyum Arthur melihat gadis tersebut.
Ehhh..., Karin? Tapi dia terlihat sangat berbeda. Aku benar-benar terkejut kalau gadis cantik ini adalah rivalku. Saat masih sekolah dulu, dia benar-benar tidak terlihat seperti ini, saat itu dia benar-benar jarang tersenyum seperti ini.
“Ka-karin? Waah aku benar-benar tidak mengenalmu sekarang, kamu terlihat cantik dan berbeda.”
“Terima kasih Lisa. Ngomong-ngomong ada perlu apa kamu datang ke rumah ini?” senyum Karin melihat rumah Ivan yang terlihat sudah tua.
“Ak-aku hanya ingin menemuinya, aku ingin memberikan undangan pernikahanku dengan Arthur.”
“O-oh, kalian sudah mau menikah yah? Syukurlah, aku senang mendengarnya,” senyum Karin bahagia.
Aku hanya terdiam dengan sikapnya. Karin yang biasanya memusuhiku seketika menjadi baik padaku. Apa yang sebenarnya sudah terjadi selama empat tahun ini?
Tiba-tiba Karin membuka gerbang dan berjalan pelan memasuki rumah Ivan, dia barbalik tersenyum melihatku dan Arthur. Lalu dengan nada cukup pelan dia berkata.
“Ingin masuk?”
“Eehhh?! Tapi bagaimana dengan Ivan –“
“Tenang, aku yang akan bertanggung jawab.”
“Tapi –“
“Masuklah,”senyum kembali Karin lalu membuka pintu rumah Ivan yang tidak terkunci.
Aku dan Arthur mengikutinya, kami masuk ke dalam rumah Ivan. Sesampainya di dalam rumah, aku terkejut melihat kondisi dalam rumahnya. Seluruh perabotan rumahnya tertutupi oleh kain putih, seakan-akan rumah ini sudah tidak berpenghuni.
“Ka-Karin, apa Ivan sudah pindah? Sejak kap –“
“Ikutlah, kita akan mengunjungi kamarnya,”jelas Karin yang terus berjalan menuju kamar Ivan.
Dia membuka pintu kamar tersebut, dan menyuruh kami memasukinya. Berbeda dengan di luar ruangan yang terlihat sudah ditinggalkan, di dalam kamar Ivan terlihat berantakan, seolah-olah masih ada yang tinggal di ruangan tersebut.
Saat aku melihat dinding kamarnya, aku melihat foto beberapa lelaki yang hampir berpacaran denganku. Aku melihat semua lelaki tersebut sedang difoto mesra bersama gadis lain.
“Dimas, Alex, Agrian?” aku terkejut melihat seluruh foto yang ditempelkan di dinding kamar Ivan.
“Mereka orang-orang yang hampir berpacaran denganmu, tapi untung saja itu tidak terjadi.”
“Ya, aku tidak menyangka kalau mereka semua playboy.”
“Tapi kenapa Ivan –“ lanjutku bertanya kembali tapi perkataanku terpotong oleh kekasihku.
“Apa ini? Obat apa ini?” tanya penasaran Arthur sambil membawa obat berwarna merah darah yang tergeletak di lantai.
“Entahlah, dia memang banyak misterinya.”
“Lalu dimana Ivan? Aku hanya ingin memberikan undangan ini.”
“Dia sudah tidak tinggal disini lagi, dia sudah pindah dan tinggal bersama orang tuanya.”
“Kalau begitu aku ingin menitipkan undangan in –“
“Tunggu, aku ingin bertemu dengannya,” jelas Arthur memasang wajah serius.
“Kalau begitu aku tidak ikut, aku takut dimarahi dia lagi –“
“Kamu juga ikut saja, Lisa.”
“Tapi bagaimana kalau dia –“
“Aku yang akan bertanggung jawab, aku yang akan membujuknya,” senyum Karin sambil berjalan keluar rumah Ivan.
Kami berdua mengikuti Karin, dia hanya terus berjalan tidak menaiki kendaraan. Kenapa kita harus berjalan kaki? Apa rumah Ivan yang baru sangat dekat?
Aku masih merasa gugup bertemu dengannya. Apa yang dia katakan jika dia melihatku lagi? “Hey, sudah kubilang jangan menemuiku lagi, jelek” atau “Kampret, sudah kubilang jangan ganggu kehidupanku lagi, kan?” mungkin seperti itu perkataannya saat kami bertemu nanti.
“Kita sampai.”
Pikiranku dihancurkan oleh perkataan Karin, tanpa aku sadari aku telah sampai di tempat Ivan berada. Aku melihat kesana-kemari berniat mencari rumah Ivan. Tapi tidak terlihat satupun bangunan disana.
“Ka-karin ap-apa maksudnya ini?” tanya Arthur sangat terkejut melihat Karin.
“Apa maksudnya? Kalian ingin bertemu dengan Ivan, kan? Kalian ingin memberikan undangan pernikahan kalian padanya secara langsung, kan?”
Karin mulai duduk jongkok, dan berbicara pada sebuah ukiran batu didepannya. Ya, aku tersadar kalau Karin membawa kami ke sebuah pemakaman umum. Hanya kuburan tempat peristirahatan orang mati yang terlihat. Aku hanya terdiam terkejut melihat ekspresi sedih Karin melihat ukiran batu.
“Karin?” aku bertanya dengan tatapan kosong.
“Hey, Lisa ...., ingin mendengarkan ceritaku?”
“Cerita?! Bukan saatnya melakukan itu, kan?! Kamu harus menjelaskan, kenapa kamu membawa kami kesini –“
“Justru karena itu....., lihatlah.” Karin berdiri lalu memperlihatkan ukiran batu yang tertutupi oleh tubuhnya.
Disana tertulis, Ivan Aeldra, 1987-2002.
Ivan? Aku hanya terdiam, lututku benar-benar lemas saat itu. Tanpa aku sadari aku terjatuh dan duduk menatap makamnya, makam teman masa kecilku, Ivan.
“In-ini bohong, kan?”
“Ini kenyataan, maka maukah kamu mendengarkan ceritaku?” tanya Karin tersenyum sedih.
2002? Dia meninggal empat tahun yang lalu? Saat aku masih di Indonesia? Kenapa aku tidak menyadarinya!!
“Dia meninggal saat keberangkatan kalian berdua. Kalian pasti tidak melihat kami di rombongan, tapi tolong maafkanlah kami, khususnya aku. Alasanku tidak mengantarkan kepergian kalian adalah ..., aku ingin bersama dengan orang kuncintai untuk terakhir kalinya. Aku tidak tega meninggalkannya sendirian di saat-saat terakhirnya. Paling tidak ada satu orang yang mengunjungi pemakamannya, yaitu aku.” Karin tersenyum tapi benar-benar mengeluarkan air mata yang cukup banyak.
“Tunggu! Kenapa kamu tidak mengatakannya kepadaku?!!” aku berteriak kesal pada Karin.
“Aku tidak bisa, Ivan sendiri yang melarangku. Kamu pasti sudah tau sekarang, alasan Ivan menyuruhmu untuk melupakannya.”
“Lalu kemana orang tuanya?! Apa mereka tidak tahu kabar –“
“Mereka sudah meninggal, lihat makam yang berada di belakangmu Lisa. Itu mereka, mereka sudah meninggal enam tahun yang lalu.”
“Pa-paman? Tan-tante?” aku hanya terdiam terkejut sambil terus mengeluarkan air mata. Terdiam menangis melihat mereka yang sudah tidak ada di dunia ini.
“Tap-tapi saat itu Ivan sendiri yang mengatakan kalau mereka hanya sibuk bekerja!” Arthur terlihat kesal.
“Apa kamu pernah melihat sendiri mereka, Arthur? Apa kamu pernah melihat orang tua Ivan sejak enam tahun yang lalu, Lisa?” lirik Karin melihat Arthur lalu melihatku.
“Ak-aku tidak pernah melihatnya.”
“Dengarkan aku...., Lisa. Aku akan menceritakan padamu kebenaran tentang Ivan Aeldra, teman masa kecilmu yang kamu anggap sebagai penggangu dalam hidupmu, teman masa kecilmu yang kamu anggap sebagai pembuat masalah untukmu.”
Aku tidak bisa mereseponnya dan hanya terdiam menangis terus mendengarkan perkataan Karin.
“Satu tahun setelah ibumu meninggal, kedua orang tua Ivan pun ikut pergi meninggalkan dunia ini. Dia menutup mulutnya, mengunci bibirnya, menjaga rahasia tersebut sekuat mungkin darimu. Dia menerima cobaan tersebut hanya sendirian, tidak ada seorangpun yang menghiburnya, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, kecuali diriku.
Dia benar-benar mengunci mulutku tentang semua rahasianya, dia melakukan hal tersebut demi dirimu! Dia tidak mau kamu bertambah sedih setelah mendengar kepergian orang tuanya. Dia hanya tidak ingin melihatmu bersedih!”
“Ivann.....” Aku menangis lebih dalam, hatiku saat itu benar-benar sakit.
“Semua gangguan yang dia berikan padamu, semua kelakuan buruknya padamu, bukan semata-mata kalau dia itu membencimu. Tetapi, dia melakukan hal tersebut karena dia menyayangimu ..... Coba kamu ingat, ketika Ivan menggangumu apa ada hal aneh yang terjadi menimpanya? Pasti ada kan? Kamu pasti berpikir kalau itu hanya kebetulan! Tapi orang bodoh macam apa yang menganggap semua itu kebetulan!!” geram kesal Karin menutup matanya yang menangis.
Dia benar, Karin benar. Saat Ivan mengganguku, hal aneh selalu terjadi padanya. Saat itu, saat Ivan mendorongku dan aku terjatuh, tiba-tiba datang sebuah vas bunga yang menimpanya.
Saat aku sedang berjalan pelan menuju toilet, tiba-tiba datang Ivan berlari dan menyenggol pelan diriku sambil berkata “Minggir!” dan dia terjatuh karena lantai yang basah. Apa dia melakukan semua itu untukku?! Kenapa aku tidak pernah menyadarinya, dan menganggap kalau itu hanya karma Tuhan yang diberikan pada Ivan.
“Kamu lihat lelaki yang hampir berpacaran denganmu? Mereka semua playboy. Ivan sengaja menggagalkanmu berpacaran dengan lelaki bajingan seperti mereka. Dia tidak ingin melihatmu menangis karena akan dikhianati oleh mereka. Tapi coba lihat, jika lelaki yang akan berpacaran denganmu adalah lelaki baik-baik seperti Arthur, apa dia menggagalkannya? Apa dia menggangu jalan cintamu dengan Arthur?! Dia tidak melakukannya!!! Dia malah menyetujuinya, membiarkannya, merelakannya meski itu membuat hatinya sangat sakit!! Dia rela menerima rasa sakit itu demi kebahagiaanmu!!” geram semakin kesal Karin.
“Iv-Ivan..... “ Aku menangis semakin dalam, menutup mulutku dengan tangan kananku. Aku hanya menatapnya, menatap sebuah batu yang bertuliskan namanya. Hatiku saat itu benar-benar hancur karena mendengar pernyataan dari Karin.
“Tunggu Karin, kamu terlalu berlebihan –“
“Tidak.....!! Ini kenyataan, Arthur....,. mungkin cerita yang sebenarnya lebih buruk dari apa yang aku ceritakan sekarang!”
“Tapi kenapa dia harus terlihat jahat jika ingin berbuat baik pada Lisa?! Bukankah –“
“Kamu melihatnya kan, Arthur?”
“Me-melihat apa?”
“Obat untuk penyakit Ivan..”
“Ap-apa dia sedang sakit?!”
“Ivan ..., dia terkena penyakit yang masih belum diketahui, para dokter juga mengatakan kalau penyakitnya itu bagaikan sebuah kutukan. Umurnya hanya tinggal setahun, tidak ada bantuan pendonoran sepertimu, waktu hidupnya benar-benar sudah terbatas.
Jika dia terlihat berbuat baik pada Lisa, apa yang akan terjadi jika Lisa menjadi lebih nyaman bersamanya? Apa yang terjadi jika Lisa mencintainya? Dia bersikap jahat demi kebaikan Lisa juga! Dia takut kalau Lisa bersedih saat kepergiaanya nanti, dia memutuskan untuk meninggalkan dunia ini sendirian, tanpa ada yang peduli padanya, tanpa ada yang mengingatnya. Maka dari itulah dia memutuskan hubungannya dengan semua orang!!”
“Tapi –“ Arthur memasang wajah sedih.
“Dan satu hal yang membuatku sangat kesal padanya waktu itu....,” geram sangat kesal Karin melirikku, tatapannya sangat tajam seperti empat tahun yang lalu. Nadanya terdengar amat dalam.
“Kamu menampar orang yang mengkhawatirkanmu, menganggapnya sebagai lelaki bajingan, menganggapnya sebagi penggangu dalam hidupmu. Tapi pada akhirnya kamu malah memohon padanya, memasang wajah polos yang menjijikan dan memohon dia untuk mendonorkan sumsumnya di depan banyak orang!"
Tentu saja orang yang tidak tau tentang kondisi Ivan, akan menganggap dia sebagai lelaki bajingan, dia semakin dibenci oleh orang-orang karena menolak permintaanmu. Tapi alasan dia tidak mau mendonorkan sumsumnya karena dia ingin hidup lebih lama bersamamu, hanya sebentar saja ...,. hanya untuk sesaat saja dia ingin bersamamu!! Tapi kamu hanya bisa terusmemaksanya, kamu seakan-akan memintanya untuk segera meninggalkan dunia ini!!”
“Ma-maaf karenaku –“ Arthur menangis melihat Karin, tapi Karin mengabaikannya, dia memotong perkataan Arthur.
Emosinya sudah benar-benar memuncak saat itu.
“Sisa waktunya menjadi diperpendek menjadi dua kali lebih cepat setelah mendonorkan sumsumnya. Jika tidak ada aku yang mendatangimu, jika tidak ada aku yang memberitahumu saat itu, kamu pasti akan melupakannya, kamu hanya akan terus larut dalam kebahagiaan atas kesembuhan kekasihmu, dan melupakan orang yang telah membuatmu bahagia selama ini......” senyum Karin yang terus mengeluarkan air mata.
“Di saat kamu bersuka cita atas kesembuhan kekasihmu, bersuka cita atas masa depan yang cerah menantimu, kamu malah melupakannya. Jalan cintamu sukses, pendidikanmu sukses diterima di universitas ternama, masa depanmu benar-benar cerah, Lisa! Tapi bagaimana dengannya? Dengan dia yang selalu membantumu, mendukungmu, menjagamu, dan selalu mengkhawatirkanmu......?Apa yang dia dapatkan? Apa yang dia terima......?
Hanya ucapan terimakasih yang diingatkan, anggapan yang buruk dari semua orang dan kamu untuknya,di cap sebagai lelaki bajingan yang ragu mendonorkan sumsumnya, kematian yang menyedihkan tanpa seorang teman, kerabat, sahabat, dan kamu yang berharga baginya!!” Karin menangis sambil menatap tajam diriku, dia mengepalkan kedua tangannya seakan-akan sedang menahan amarahnya.
“PALING TIDAK BERIKAN DIA PENGHORMATAN TERAKHIR, BODOH!!” lanjutnya berteriak kencang sambil meleparkan tasnya ke arahku.
DUAKKK!
“IV-IVANN UAHAHAHA!!” Aku menangis keras, menangis hebat untuk pertama kalinya, hatiku benar-benar hancur saat itu. Aku tidak menyangka hal ini, aku tidak pernah tau penderitaanya selama ini. Aku tersadar kalau aku benar-benar gadis yang menjijikan.
“Berikan dia kebahagiaan, meski hanya sedikit, meski hanya sebentar. Berikanlah balasan pada orang yang selalu melindungimu selama ini, meski hanya ucapan terima kasih, ucapan terima kasih yang tulus dari hatimu...,”  Karin terjatuh dan menundukkan kepalanya, dia menangis hebat sambil duduk disamping makam Ivan.
Aku hanya bisa menangis, dunia seakan hancur bagiku setelah mengetahui kebenaran ini. Ternyata orang yang kuanggap sebagai penggangu dalam hidupku adalah orang yang paling mengerti tentang diriku, orang yang sangat mengkhawatirkanku.
Tapi kini dia sudah tidak ada, dia sudah meninggalkan dunia ini karena keegoisanku, kebodohanku. Aku benar-benar menyesalinya, menyesali perbuatanku di masa lalu yang tidak pernah memperhatikannya dan terus menganggap dia sebagai penggangu.
“Arthur ...,” Karin berdiri lalu berjalan pelan melewati kami berdua.
“Ada pesan untukmu dari Ivan, pesan terakhir yang dia katakan padamu.”
Arthur hanya terdiam memejamkan matanya, dia hanya menangis mendengarkan perkataan Karin.
’Jaga Lisa, jangan pernah membuatnya kecewa, marah, apalagi menangis. Jangan pernah bersikap kasar padanya sepertiku .....,itulah katanya.”
“Ivan aku janji!” Arthur menangis menutup wajahnya dengan telapak tangan kanannya.
“Maaf Lisa, seharusnya aku tidak mengatakan kenyataan ini padamu. Tapi inilah satu-satunya cara agar aku bisa melampiaskan emosiku, agar aku bisa menerimamu, dan memaafkan tindakanmu di masa lalu.” Jelas Karin lalu berjalan pelan meninggalkan kami berdua.
Sementara itu aku hanya terus berdiam diri menangis dihadapannya, dihadapan teman masa kecilku Ivan. Seandainya waktu dapat terulang, aku ingin kembali bercanda gurau bersamanya. Aku menyesal karena menganggapnya sebagai penganggu, menyesal selalu mengacuhkan atau mengabaikan kehadirannya.
Aku tersadar akan perkataan Karin waktu itu, ”suatu saat nanti, kamu akan menyesalinya!” jadi ini maksudnya, jadi ini arti dari perkataanya. Kenyataan pahit tentang Ivan, merupakan penyesalan terberat dalam hidupku. Satu-satunya yang kubisa lakukan hanyalah bisa menerima kebahagiaan yang dia berikan padaku, berterimakasih dari lubuk hatiku padanya, pada dia, lelaki yang selalu melindungiku.
*****
Beberapa bulan, setelah Lisa dan yang lainnya mengunjungi makam Ivan.
Terlihat seorang lelaki paruh baya yang sangat mirip dengan Ivan, dia memakai sebuah jas rapih dan berdiri tepat di hadapan kuburan Ivan. Disampingnya terlihat gadis manis yang berumur empat tahun, wajahnya sangat lucu dengan rambut coklat sangat panjang yang mencapai lutut kakinya.
“Papah, kenapa kita ke sini? Kemana mamah dan Haikal?” tanya gadis mungil tersebut sambil menarik pelan celana lelaki di sampingnya.
Hana...., mamamu dan adikmu sudah pergi duluan ke pernikahan teman pamanmu.”
“Kalau begitu, paman dimana? Kenapa dia tidak datang ke pernikahan temannya?”
“Dia sekarang tepat didepanmu, dia sudah beristirahat dengan tenang, sayang,” senyum sang ayah memejamkan matanya.
“Emmmm.” Gadis kecil tersebut bergumam lucu seakan paham apa yang dikatakan oleh ayahnya.
Sang ayah mulai membuka matanya dan menatap tajam kuburan Ivan. Dia bergumam khawatir dalam hatinya.
Jadi kutukan keluarga Aeldra itu benar adanya? Aku tidak menyangka kalau adikku sendiri akan terkena kutukan ini.”
“Apa salah satu anakku juga akan mengalami takdir seperti ini, takdir seperti adikku. Menerima takdir yang menyedihkan dari masa lalu keluarga Aeldra yang kelam,” lanjut lelaki tersebut berpikir sambil melirik khawatir anak perempuannya yang lucu.

***

My Dearest Jilid 1 Special Chapter: Annoying Childhood Friend Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.