18 April 2016

My Dearest Jilid 2 Chapter XVIII


MY DEAREST
JILID 2 CHAPTER XVIII
TRUTH OF THE WORLD'S DESTINY
PERTANYAAN SANG ELEMENTOTER


Bagian Pertama 
Bandung, Jawa Barat, Negara Indonesia. 
Anggela dan Haikal terlihat berdiri di depan pintu masuk bandara nasional. 
Haikal tersenyum melihat pemandangan kota dan bergumam pelan. “Aku kembali lagi kesini.” 
Sedangkan berbanding terbalik dengan wajah Haikal, Anggela terlihat sedikit kesal memejamkan matanya, terlihat tidak senang akan suatu hal. 
Beberapa saat kemudian, muncul Seraph dan Jeremy dari dalam bangunan itu. Mereka berdua berjalan keluar, lebih tepatnya ke arah Anggela dan Haikal. 
“Jadi seperti ini yah Indonesia….?” Seraph sambil melihat keadaan kota sekitar. 
“Jadi….?” Anggela melirik Seraph. 
“Jadi..?” Jeremy terlihat kebingungan. 
“Kenapa kalian mengikuti kami, bukankah Haikal bilang kalau kalian memiliki urusan.” 
“Eh apa kita mengatakan seperti itu, Seraph?” 
“Entahlah,” senyum Seraph melihat Anggela. 
Entahlah, katamu…” Anggela memejamkan mata, wajahnya terlihat sedikit kesal. 
“Sudah sudah, Anggela. Bukankah hal bagus jika aliansi kita berada di tempat yang sama?” Haikal tersenyum melihat Anggela. 
“Sejak kapan mereka ini jadi aliansi kita,” 
“Sejak kemarin,” jawab Seraph memotong pembicaraan Anggela dengan Haikal. 
“Aku belum pernah mendengarnya,” Anggela dengan nada datar melihat Seraph. 
“Sudah jelas kamu belum mendengarnya. Kami mulai beraliansi ketika kamu masih diculik oleh Pangeran El.” 
“Tapi Haikal –“ 
“Sudah-sudah, ayo kita pergi ke rumah Kakakku. Kalian pasti cape karena perjalanan ini,” jelas Haikal mulai berjalan. 
Seraph dan Jeremy mulai berjalan mengikuti Haikal, sedangkan Anggela hanya terdiam menatap mereka bertiga, “apa yang sudah terjadi saat aku berpindah dengan El, apa yang sudah Halsy katakan pada mereka.” 
“Anggela cepatlah!” teriak Haikal. 
“Baik-baik!” teriak Anggela sambil berlari mengikuti Haikal dan Seraph. 
Beberapa menit kemudian mereka akhirnya sampai di kediaman Hana Aeldra, kediamannya yang terlihat besar tidak berubah sedikitpun. 
Haikal mulai mengetuk pintu rumah Kakaknya tersebut, 
Tok tok! 
“Kakak?” 
“Apa ini rumah Kakakmu, Haikal?” tanya Seraph sambil melihat lingkungan rumah. 
“Aku tidak menyangka kalau kamu orang kaya…” senyum Jeremy ikut melihat-lihat. 
“Ini rumah Kakakku, bukan rumah orang tuaku…”jelas Haikal sambil kembali mengetuk pintu. 
Tok tok! 
“Mungkin dia sedang keluar..?” tanya Anggela. 
“Untuk bekerja..?” 
“Tidak Seraph, Kak Hana seorang koki. Dan jadwal dia bekerja adalah malam hari.” 
“Aku pikir kamu salah juga Haikal, Kak Hana bekerja juga sebagai pembisnis. Jadi bukan hal aneh jika dia berpergian untuk suatu hal.” 
“Jangan lupakan kemungkinan lain, seperti dia pergi berbelanja atau yang lainnya…” Jeremy terlihat berpikir. 
“…..” 
“Jadi bagaimana sekarang…?” 
“Kita berkeliling kota saja dulu, apa ada hal yang ingin kalian lakukan..?” tanya Haikal melihat Anggela dan yang lainnya. 
“Aku ada keperluan sebentar di kota ini,” jelas Seraph sambil melirik Jeremy. 
“Iy-iya, kami ada keperluan yang sangat penting.” 
“Begitu, kalau kamu Anggela…?” lirik Haikal pada Anggela. 
“Aku juga ada keperluan, aku ingin mengunjungi sekolah lamaku disini, mungkin tidak terlalu lama,” senyum Anggela. 
“Baiklah….. dua jam lagi kita bertemu disini, aku juga ingin menemui seseorang di kota ini.” 
Mereka akhirnya pergi saling berlawan arah, berniat menyelesaikan urusan atau sekedar berjalan-jalan di kota Bandung tersebut. 
~~
Kini Anggela sampai di depan gerbang sekolah lamanya, sekolah yang pernah ia gunakan bersama mendiang adik kecilnya. 
Dia tersenyum dari kejauhan melihat suasana damai di sekolah tersebut. 
Lebih baik aku tidak berjalan lebih jauh lagi…” senyum Anggela memejamkan mata, dia berniat berbalik dan pergi meninggalkan sekolah lamanya. 
Tapi tiba-tiba terdengar suara gadis yang memanggil namanya, dia berjalan cepat menghampiri Anggela, 
“Anggela?!” 
“Eh?” Anggela berbalik berniat melihat gadis tersebut. 
Terlihatlah wajah yang sudah lama tidak Anggela lihat, wajah cantik seperti wanita yang terlihat anggun dan dewasa. 
“Kak Hana….?” 
“Oahh ternyata itu benar kamu! Syukurlah aku bisa menemukanmu!” peluk Hana pada Anggela. 
Dan untuk beberapa saat mereka menjadi pusat perhatian orang-orang disekitar. 
“Ahahaha ma-maafkan aku karena pergi tidak berpamitan pergi Kak, tapi saat itu ak –“ 
“Mana adikmu…. Mana Anggelina?” senyum Hana sambil melepas pelukannya. 
“Soal itu….” Anggela terlihat sedih sambil memalingkan wajahnya. 
“Ceritakan pada Kakak, apa yang terjadi?” wajah Hana terlihat serius menatap Anggela. 
“Di-dia diculik…” 
“DICULIK –“ 
“Stop Kak! Kamu membuat semua orang memandangi kita!” Anggela terlihat khawatir sambil menutup mulut Hana. Pandangan semua orang masih terlihat terkejut melihat mereka berdua. 
“Ki-kita harus lapor polis –“ 
“Tidak, bukan orang normal seperti Kakak yang menculik Anggelina…” 
“Maksudmu oleh Kineser…?” tanya khawatir Hana melihat Anggela. 
“Bahkan lebih buruk dari itu, Kak…” khawatir Anggela. 
“Begitu….” Hana terlihat sedih dan hampir menangis. 
“Sudah Kak, aku pasti menyelamatkannya. Yang lebih penting ada seseorang yang ingin menemuimu.” 
“Siapa?” 
“Haikal, adikmu. Tadi kami dan beberapa orang datang ke rumah –“ 
“Dimana dia!?” tanya Hana terlihat terkejut senang melihat Anggela. 
“Mungkin saat ini dia sedang menemui seseorang, tapi dua jam lagi dia akan pulang ke rumahmu bersama teman-temannya.” 
“Kalau begitu ayo kita cepat pulang dan menunggu kedatangannya!!” Kak Hana terlihat cukup panik bahagia sambil menarik Anggela. 
“Baik baik Kak,” senyum Anggela melihat Hana yang terlihat sangat senang seperti anak kecil. 
~~ 
Sedangkan di tempat lain, di taman yang cukup luas terlihat Haikal yang sedang duduk sambil meminum minuman dinginnya. 
Dia sedang menunggu seseorang. 
Lalu beberapa menit kemudian, muncul seorang gadis yang berjalan pelan menghampirinya. 
Gadis tersebut adalah teman masa kecil Anggela dan tunangannya.
Ya, dia adalah Herliana Aeldra. 
“Kak Herli, sudah 2 tahun lebih dan fisikmu masih belum berubah yah, hahaha.” Haikal tertawa melihat Herliana. 
“…..” Herliana hanya tersenyum melihat Haikal yang tidak mengetahui tentang dirinya. 
“Bagaimana kabar Aglian, Sylvia, Lisa, dan yang lainnya?” 
“Mereka sudah berkuliah di kota ini, cepat atau lambat kamu akan bertemu dengan mereka,” Herliana kambali tersenyum dan duduk di samping Haikal. 
“Lalu bagaimana dengan Kakak sendiri? Apa Kakak masih bekerja di café itu?” 
“Ya, Café itu sudah pindah ke kota ini, “ 
“Itu tidak menjawab pertanyaanku Kak, aku kan hanya bertanya –“ Haikal dengan nada datar melirik Herliana. 
“Iya iya, aku masih bekerja.” 
“Kalau begitu, boleh kan kapan-kapan aku mengunjungi cafemu itu seperti masa SMA-ku dul –“ 
“Haikal Aeldra…” Herliana terlihat sangat serius sambil memandang langit yang cerah. 
“Ap-apa? Ke-kenapa tiba-tiba serius seperti ini, kak?” tanya Haikal gugup. 
“Haikal…..  apa kamu sudah menjadi seorang Kineser?” 
“Ki-Kineser, ap-apa maksudmu!?” Haikal terlihat terkejut melihat Herliana yang mengetahui tentang hal tersebut. 
“Jawab saja, jangan menyembunyikannya dariku…” 
“Ba-bagaimana Kakak tahu tentang hal it –“ 
“Sudah yah… biar aku bertanya satu hal lagi padamu…” 
“Ap-apa itu?” tanya Haikal melirik khawatir Herliana. 
“Apa kamu sudah bertemu dengan Anggela?” 
“Ba-bagaimana kakak tau tentang dirinya juga !?” 
“Tentu saja, karena aku teman masa kecil Anggela dan Halsy…” 
“Teman masa kecil Anggela dan Halsy!?” Haikal terlihat sangat terkejut lalu berdiri menatap penasaran Herliana. 
“Ya, mungkin sudah saatnya kamu berhenti memanggilku ‘Kakak’ seperti itu, Paman…” senyum Herliana sambil ikut berdiri dari tempat duduknya. 
Pa-paman!?” 
“Perkenalkan nama asliku Herliana Aeldra, putri tunggal dari Hana Aeldra, Kakak perempuanmu.” 
“La-lalu jangan katakan kamu juga –“ 
“Ya…. aku juga berasal dari masa depan,” senyum manis Herliana.

***

Bagian Kedua 
Di tempat lain dan masih di kota yang sama. 
Terlihat Seraph dan Jeremy sedang berdiri di lapangan bola basket yang sangat sepi. 
Wajah mereka berdua terlihat khawatir bersiaga seakan-akan sedang menunggu kedatangan seseorang. 
“Seraph, kamu yakin kalau panggilan itu berasal dari sini?” 
“Kamu juga pasti merasakannya, kan? Panggilan itu, Devilish link.” 
“Ya, sebuah bentuk komunikasi yang hampir setera dengan telepati. Ini kemampuan khusus dari keluarga kelas S Arcdemons untuk berkomunikasi dengan sesama rasnya.” 
“….” 
“Tapi sebenarnya siapa yang memanggil kita ke tempat seperti ini?” lanjut Jeremy sambil melihat keadaan sekitar. 
“Jika dia berasal dari keluarga Deviluck, hanya satu orang yang terpikirkan olehku…” 
“Keina…?” 
“Tidak, bukan… tapi dialah orangnya…” Seraph berbalik kebelakang, melihat samping kanan lapangan basket. 
Terlihat gadis berambut hijau yang sering bersama Keina, dia tersenyum melihat Seraph dan Jeremy. 
“Aku tidak menyangka kalau kalian akan benar-benar datang….” Jelasnya sambil berjalan menghampiri Seraph dan Jeremy. 
“Litias Smaragd Deviluck….” Jeremy terlihat bersiaga menatap Litias. 
“……” 
Sesaat suasana terasa tegang saat Litias berjalan mendekati Seraph dan Jeremy. 
Litias tetap tersenyum melihat keduanya, berbanding terbalik dengan Jeremy dan Seraph yang terlihat bersiaga. 
“Aku memanggilmu hanya untuk bertanya beberapa hal padamu,” Litias menghentikan langkahnya, raut wajahnya seketika berubah menjadi serius. 
“Apa yang ingin kau tanyakan, Elementorter?” 
“Bukan hal yang penting, hanya tentang hubunganmu dengan Kak Keina di masa lal –“ 
“Aku tidak berniat menjawabnya!!” teriak Seraph sangat kesal. 
“Itu sudah kelewatan Litias, membahas hubungan Seraph dengan sang hati dingin itu….” Kesal Jeremy berjalan satu langkah. 
“Kamu pikir siapa yang membuatnya menjadi seperti itu…” geram kesal Litias menatap sinis Seraph. 
“Apa maksudmu…?” Seraph berpura-pura kebingungan menatap Litias. 
“Tchh… kamu bahkan berpura-pura tidak tau,” Litias terlihat sangat kesal memejamkan mata. 
“Berpura-pura tidak tau… ?” Jeremy terlihat kesal karena tidak mengerti perkatan Litias. 
“Ahh, lupakan, aku ingin betanya hal lain pada kalian berdua….” 
“….” 
“Kenapa kalian menyerang keluarga kami? Apa yang  membuat –“ lanjut Litias. 
“Kau masih bertanya setelah apa yang keluarga kalian lakukan!?” kesal Seraph menatap tajam Litias. 
“…” 
“Kalian membantai keluarga Skyline tanpa ampun, membunuh adik angkatku, Serena –“ lanjutnya terlihat sangat kesal. Amarah darinya sungguh keluar dari dirinya. 
“Sudah kubilang berapa kali pada kalian, Keluarga kami tidak pernah menyuruh Kak Keina untuk melakukan pembantaian itu! Dia sendiri –“ 
“Apa maksudmu kalau perbuatannya itu adalah keinginannya sendiri!? Jangan bercanda!! Aku tau betul sifat Keina seperti apa! Dia sangat baik sampai kalian merubahnya menjadi iblis seperti it –“ 
“Bukan kami yang merubahnya! Tapi kau yang merubah Kekasihmu jadi seperti itu, Seraph Skullwalker!” Litias terlihat kesal menatap  Seraph. 
“Aku!? Apa yang sudah kulakukan!? Apa kesalahanku?!” 
“Bukankah kau yang membunuh adik kesayanganya!? Kau yang membunuh Corona –“ 
“Bukan aku yang membunuhnya! Tapi –“ 
“Sudah hentikan, sampai kapanpun penjahat tidak akan mengakui kejahatannya….” Litias terlihat sangat kesal memejamkan mata. 
“Itu juga berlaku untuk keluarga kalian….” Jeremy terlihat kesal membela Seraph 
“Tchhh, lain kali kita akan bertemu dalam situasi berbeda…. Siapkan dirimu Malaikat jatuh,Seraph. Cepat atau lambat kami akan memburumu….” Litias terlihat kesal dan berjalan pergi meninggalkan berdua. 
“Hoo, aku sangat menantikan hal itu….” Senyum Seraph terlihat kesal. 
"....." 
“Akhirnya, sebentar lagi pertarungan itu datang, kah?” Jeremy terlihat sedih melirik Seraph. 
“Ya pertemuan kita selanjutnya dengan mereka…. merupakan pertemuan terakhir…” 
Pertarungan habis-habisan, kah?” Jeremy tersenyum sedih. 
~~
Di waktu yang bersamaan di pusat pemerintahan dunia saat itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa. 
Mereka mulai menyadari fenomena ganjil yang sering terjadi, mereka mulai sadar akan adanya keberadaan manusia yang seringkali disebut Esper
Pada waktu yang bersamaan, mereka terlihat membahas masalah tersebut, mengadakan rapat sangat rahasia dimana tidak ada seorangpun yang boleh mengetahui hal ini. 
Pada akhirnya, hasil keputusan telah dibuat. Mereka berencana memata-matai salah satu kelompok yang diduga menjadi sarang Esper tersebut. 
Dibangunan kosong yang gelap, salah satu dari anggota PBB terlihat sedang berbicara dengan seorang lelaki berambur kuning keemasan. 
Sang bayangan perang dari generasi baru, bukankah itu julukanmu?” 
“Aku tidak memintanya, mereka semua yang memberiku julukan itu….” 
“Ya aku tidak peduli, tapi aku mempunyai tugas yang amat sangat penting untukmu….” 
“Selidiki tempat ini dan orang-orang didalamnya dan pastikan tidak ada satu orang pun yang mengetahui tentang misimu, dirimu, dan mereka yang kamu selidiki…” 
“Apa sebegitu berbahayanya misi ini, mereka ini…. Sampai aku harus menutup mulutku serapat itu.” 
“Jika prediksi kami tentang mereka benar, dunia ini tidak diragukan lagi akan gempar, sistem pemerintahan dan kekuasaan juga mungkin akan berubah karena mereka….” 
“……” lelaki yang mendapatkan misi tersebut terlihat sangat terkejut melihat petinggi dunia berbicara khawatir seperti itu. 
“Jaga rahasia ini dengan nyawamu, lalu selidiki mereka dan dapatkan jawabannya tentang fenomena ganjil ini…” 
“Ya….” jelas lelaki tersebut sambil menerima sebuah dokumen berwarna coklat. 
Dia mulai membuka, dan membaca isi dari dokumen tersebut. 
Berlin,,,? Jerman, kah? Nama organisasi ini di dunia bawah adalah….. Blizzard,” jelas lelaki tersebut sambil terus membaca tentang informasi mereka yang sangat sedikit. 
Ini masih belum cukup….” Senyum lelaki tersebut lalu membakar dokumen berwarna coklat tersebut. 
“Lalu apa bayarannya?” tanya lelaki tersebut melihat Sang petinggi. 
“Uang, kejayaan, wanita? Apapun akan kami berikan jika kau membuat kami puas akan infromasi tentang mereka…..” 
“Baiklah…. Aku terima tawaran berbahaya ini….” 
“Bagus, aku mengandalkanmu Simon Shilvana….”

***

My Dearest Jilid 2 Chapter XVIII Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.