25 April 2016

My Dearest Jilid 2 Chapter XIX



MY DEAREST
JILID 2 CHAPTER XIX
BERITA MENGEJUTKAN UNTUK DUNIA


Bagian Pertama

Beberapa bulan telah berlalu sejak pertemuan Serraph dengan Litias.

Anggela, Haikal dan yang lainnya mulai berbaur dan menetap tinggal di kota Bandung. Mereka menjadi mahasiswa dan memasuki sebuah universitas yang cukup ternama.

Mereka mulai bersabar membaur dengan sekitarnya sambil mencari informasi tentang Heliasha dan Charles.

Berpindah ke kota Berlin, Jerman.

Terlihat juga lelaki yang telah ditugaskan pertama kalinya untuk mengintai para Kineser, Simon.

Dia berjalan di kota yang cukup terkenal itu, berbaur dengan masyarakat biasa untuk mengikuti seorang gadis berambut merah bergelombang.

Ya, gadis yang sebelumnya sudah diperlihatkan. Adik perempuan dari kekasih Haikal Aeldra, Shana Anatasha.

Dia terlihat kesal sambil mebawa keresek besar yang berisi bahan-bahan untuk memasak.

Kenapa aku yang harus pergi belanja!? Aku ini petinggi guild! Petinggi! Seharusnya pekerjaan ini dilakukan oleh pekerja atau anggota yang lebih rendah dariku!”

Berlainan dengan isi hati dari Shana yang terlihat kesal, Simon mulai bergumam sambil terus berjalan mengikuti Shana.

Aku telah mengamati tempat yang diduga menjadi markas para esper, tapi apa dia juga termasuk? Esper yang dimaksud oleh orang-orang tua itu….”

Sekian lama Shana terus berjalan dan melangkah, instingnya dan kepekaannya yang sudah meningkat mulai menyadari kalau dirinya sedang dibuntuti.

Keinginan untuk kembali pulang ke markasnya dia urungkan. Dia merubah lokasi tujuannya menjadi ke lapangan yang terkenal sangat sepi. Dia berniat mengakhiri orang yang membuntutinya itu.

Maaf kamu kurang beruntung …, suasana hatiku sedang kesal saat ini…,” batinnya terus berjalan cepat menuju lapangan kosong.

Tempo langkahnya berubah!? Kenapa? Apa dia menyadari kehadiranku?” Simon cukup terkejut berjalan cepat mengikutinya.

~~

Setelah sampai di tengah lapangan yang dia tuju, Shana menghentikan langkah, mulai berbalik dan berteriak.

“Keluarlah! Aku tau kau mengikutiku…!!”Gadis berambut merah itu meletakkan keresek belajaannya di atas tanah.

“Ba-bagaimana kau menyadariku? Kau orang pertama yang bisa menemukanku….” Simon terlihat khawatir dan keluar dari balik pohon yang berada di lapangan tersebut.

“Kau …, dari serikat mana?” tanya Shana dengan tekanan yang dalam.Menyembunyikan tangan kanannya dan bersiap menembakkan bola api yang cukup panas.

“Se-serikat? Ap-apa maksudmu? Aku tidak mengerti?” Simon terlihat khawatir karena mulai merasakan aura membunuh yang dikeluarkan Shana.

“Apa kau sedang bercanda denganku?!”

“Sungguh, aku tidak mengerti apa maksud perkat –“

“Lalu kenapa kau mengikutiku?!”

“Ak-aku tidak bisa mengatakannya,”

“Kau hanya membuat dirimu semakin dicurigai, Tuan,” senyum meremehkan Shana, mulai berjalan menghampiri Simon.

“Ak-aku bukan orang yg mencurigakan, aku hanya ingin menayakan jalan, itu saj –“ Simon berniat berbalik dan pergi. Tapi langsung terdiam karena sebuah bola api meledak di tanah yang hampir dia injak.

BUAARR!!

“Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi dengan mudah?” Shana tersenyum mengerikan, dia terlihat mengangkat tangan kananya seolah telah menembakkan bola api miliknya.

Serius…..? Mereka benar-benar ada… para Esper,” Simon berwajah semakin khawatir. Berbalik melihat dia secara perlahan.

“Baik baik baik! Aku akan mengatakan semuanya!” Simon mengangkat kedua tangannya yang bergemetar.

Mustahil bagiku untuk mengelak. Dia benar-benar serius ingin membunuhku!”

“Baik, JELASKAN!”

“Ap-apa kamu seseorang yang dipanggil Esper oleh orang-orang?”

Esper?” Shana terlihat kebingungan menatap lelaki dihadaannya.

“Mak-maksudku esper yang sering muncul di film fiksi atau Sci-fi.”

“Ahh, Ak-aku mulai mengerti maksud perkataanmu, tapi ijinkan aku bertanya beberapa hal padamu…” Shana mulai berwajah khawatir.

“Ka-kamu seorang Kineser?” lanjutnya bertanya.

“Tidak…. dan apa itu Kin –“

“Ap-apa kamu tau apa itu Kineser?”

“It-itu yang ingin aku tanyakan sebelum kau memotong perkataanku. Apa itu Kineser?”

“…..” Shana hanya terdiam memasang wajah sangat khawatir.

“Kamu manusia biasa, bukan seorang  Kineser?”

“Bukan, aku hanya manusia biasa ….”

“……” Untuk sesaat suasana terasa hening, terlihat dari mereka berdua yang saling menatap satu sama lain. Simon tidak merubah raut wajahnya yang khawatir, begitu pula dengan Shana yang wajahnya semakin terlihat khawatir.

GAWAT!!! Aku benar-benar membuat kesalahan yang besar!!” Shana terlihat sangat khawatir, dia jongkok membalikkan badannya dari Simon.

“An-anu –“

“LUPAKAN!!!”

“Lu-lupakan untuk apa?” Simon terlihat ketakutan.

“Kamu harus lupakan apa yang tadi kamu lihat, yaaa!?” teriak Shana memaksa Simon.

Memangnya bisa…?” Simon memasang wajah datar dan bergumam dalam hati.

“Ba-baiklah, jika tidak bisa aku akan membawamu ke markas…”

“Maaf sebaiknya aku tidak iku –“

“HARUS IKUT!!! “

“Ke-kenapa –“ Simonsemakin terlihat ketakutan.

“Karena kau sudah mengetahui tentang kami! Aku benar-benar tidak bisa membiarkanmu pergi!”

“Jangan katakan kalau keberadaan kalian ini –“

“Sudah jelas!! Memangnya kamu pernah mendengar seseorang seperti kami menggunakan kemampuannya di depan umum,” kesal Shana mengambil keresek belanjaanya.Mulai berjalan cepat menghampiri Simon.

“Ya, ak-aku belum mendengarnya.”

“Kami para esper yang kamu maksud tidak akan pernah menggunakan kemampuan kami, jadi ikut aku sekarang!” teriaknya menarik tangan lelaki muda itu.


“Ikut kemana…?”

“Tentu saja ke markas guildku!”

“Jika aku ikut denganmu… apa yang akan terjadi padaku?” Simon terlihat khawatir sambil terus berjalan di tarik oleh Shana.

“Ka-kami tidak akan melakukan apa-apa padamu …, mu-mungkin….” khawatir Shana mengalihkan pandangan.

“Mu-mungkin katamu…? Aku semakin tidak mau ikut denganm –“

“Harus ikut!! Kumohon, aku tidak mau mati di usia muda…!”

“Ba-baiklah aku ikut, sepertinya kau benar-benar dalam masalah…”

“Bagus, kalau begit –“

Trininggg!!

Nada panggilan handphone Shana seketika berbunyi, Shana melepaskan genggamannya dari Simon, dia membuka Handphone dan melihat siapa yang menghubungi dirinya.

“Siapa…?”

“Geh ..., ka-kakakkam“ Shanamulai berwajah ketakutan. Berpikir jika sang kakak sudah mengetahui perbuatan cerobohnya.

Shana hanya terus terdiam ketakutan, seolah sedang kebingungan mencari alasan.

“Kenapa kau tidak mengankat –“

“Berisik! Jangan memberitahuku juga aku sudah tau!” teriak kesal Shana yang terlihat ingin menangis.

“Ba-baiklah….” Simon merasa bersalah membuang wajah.

“Ha-ha-halo Kak –“

“SHANA!!!!” teriak seseorang dari dalam panggilan telepon itu. Suaranya terdengar sangat keras dan khawatir.

“Ma-ma-maafkan aku, Kak!!Aku memang cerboh –“

“Dimana kau!!?”

“Hah, memangnya kenap –“

“Cepat pulang ke markas, cepat!!”

“Ada apa Kak, kenapa Kak Asha terlihat khawatir….”

“Kamu cepat pulang dan lihat berita di televisi!”

“Ba-baiklah….” Shana menutup teleponnya dan melihat Simon.

“Ka-kau, siapa namamu?” tanya Shana menunjuk Simon.

“Simon Shilvana.”

“Shilvana? Seperti nama perempuan –“

“Sudahlah jangan membahas namaku, apa katanya!?”

“Katanya lihat berita di televisi…”

“Ya kenapa kita tidak melihatnya,”

“Tapi disini tidak ada telev –“

“Gunakan smartphone-mu, gunakan layanan televisi internet….” Datar Simon melihat Shana.

“Tapi bagaimana dengan kuota –“

“Bagaimana jika kakakmu memarahimu lagi karna –“

“Aku mengerti!” teriak Shana terlihat ketakutan kembali.

Seberapa takutnya dirimu pada kakakmu itu….”

Shana mulai mengakses internet dan membuka halaman web yang menyediakan berita dari televisi.

Mereka berdua hanya terdiam, terkejut tidak percaya akan isi berita yang disampaikan oleh pembawa acara tersebut.

“He-hey, bukankah kamu bilang kalau pertarungan antar esper itu tidak akan pernah terjadi….. ?” Simon terlihat sangat khawatir sambil terus melihat berita.

“Y-ya, aku tadi berkata seperti itu….” Jawab Shana memasang wajah yang sama. Menelan ludah dengan keringat mulai bercucuran.

“Lalu bagaimana kau menjelaskan ini….?”

Di selatan Negara Jerman, alun-alun kota yang cukup ramai menjadi sorotan kamera berita. Suasana tegang bersatu dengan ketakutanlah yang terlihat dari masyarakat yang melihat ke atas langit.

Telah terjadi pertarungan yang seharusnya tidak dilakukan, pertarungan yang sangat tabu untuk dipertontonkan di depan masyarakat normal.

Heliasha Aeldra bersama dengan Charles terlihat berdiri di atas gedung tersebut, puluhan pedang tajam yang terbuat dari darahnya terlihat melayang di sekitarnya.

Sedangkan di arah berlawanan darinya terlihat Keisha Putri, Kakak tertua Anggela. Dia melayang dengan menggunakan gravitasi buatannya. Disampingnya juga terlihat Gramior, Lily, Ai, dan Alcot yang ikut melayang dengan bantuan kemampuan Keisha.

Sebagian bangunan dan beberapa tempat terlihat sudah ada yang rusak atau bahkan hancur. Beberapa orang juga sudah ada yang berlari ketakutan karena pertarungan yang tidak normal itu terjadi.

Lalu di Cafeteria tempat Anggela dan yang lainnya berkuliah. Mereka juga terlihat sangat terkejut melihat isi berita tersebut, beberapa mahasiswa juga terlihat ada yang ketakutan, penasaran, dan tidak percaya dengan munculnya pertarungan itu.

Anggela hanya terdiam sambil bergumam kesal melihat televisi di hadapannya, “Kak Keisha, Kak Heliasha…. Apa yang sebenarnya kalian pikirkan sampai harus membuat kehebohan sebesar ini…”


***

Bagian Kedua

Beberapa jam sebelum pertemuan Simon dengan Shana.

Terlihat Heliasha dan Charles sedang mencoba melakukan ritual pembangkitan di gedung lama yang kosong.

Heliasha sudah sampai pada tahap membelahkan perut dari boneka, Pada saat dia berniat menancapkan tiang besi pada boneka tersebut, tiba-tiba.

BUARRRRR!!!!

Terdengar ledakan yang sangat hebat dibelakang Heliasha dan Charles. Ledakan tersebut ditimbulkan oleh serangan bola api.

Bola api tersebut menghancurkan dinding dan datang sangat cepat ke arah Heliasha dan Charles.

Mereka berdua berhasil menghindar, tapi sayang boneka ritualnya terbakar hangus dan ritual pun gagal sepenuhnya.

“Sial…..!” Heliasha berlari keluar bangunan sambil membawa buku itu.

“Bagaimana ini, Heliasha?” tanya Charles yang berlari di sampingnya.

“Kita pergi ke tempat yang ramai, gadis itu tidak akan berani menyerang kita di keramaian,” jawab Heliasha yang terlihat berpikir.

“Kau benar.”

Mereka berdua berlari menuju alun-alun kota yang cukup ramai, mulai berbaur dengan masyarakat normal.

“Tapi kenapa kita tidak melawannya saja? Atau membunuh –“

“Ingat perjanjian kita, tidak ada satupun nyawa melayang dalam menyelesaikan tugas ini…” jelas Heliasha sambil memberikan buku pembangkitan tersebut pada Charles

“Baik-baik aku mengerti…”

“Selama kita masih memiliki cara lain, kita hindari pertarungan yang tidak ada gunanya…”

“Tapi bagaimana jika dia nekat menyerang kita di tempat seperti ini?” senyum Charles bertanya.

“Jika itu yang terjadi, tidak ada pilihan lain bagi kita selain –“

“HELIASHA!!! DIMANA KAU!” teriak gadis tersebut, gadis yang baru saja menyerang Heliasha dan Charles, Alcot.

Dia terlihat marah berteriak di tengah keramaian yang membuat semua orang sontak terkejut.

Beberapa orang terlihat terkejut karena teriakan Alcot, mereka benar-benar terlihat ketakutan.

Alcoty Dinafust….. kenapa kau selalu mengejar kami…..” Heliasha mulai berjalan cepat yang diikuti oleh Charles.

Karena kericuhan yang Alcot buat, petugas keamanan menghampiri dirinya dan berniat untuk menegurnya, tapi…

“Ke-te-mu…” senyum mengerikan dari Alcot, untuk sesaat dia melihat keberadaan Heliasha yang berjalan cepat menjauhinya.

“Ketemu? Maksudmu ap –“ tanyakesal petugas tapi langsung tersungkur jatuh karena ditabrak Alcot.

“Minggir!!!” teriak Alcot berlari mengejar Heliasha dan Charles.

Gawat….!!” Charles dan Heliasha dalam hati.

Fire ball….” Jelas pelan dari Alcot sambil berlari mengejar berdua, dalam sekejap muncul dua bola api kecil di masing-masing tangan Alcot.

Semua orang yang melihat hal tersebut seketika hanya terdiam terkejut, mereka seakan tidak mempercayai dengan apa yang mereka lihat.

Di-dia menggunakan kemampuannya!? Tapi ini di depan umum…” Heliasha terlihat sangat terkejut melirik Alcot.

Saat jarak antara mereka dekat, Alcot melompat dan menembakkan kedua bola apinya,

“Mati kalian!!” teriaknya amat keras.

Heliasha lekas menggit pergelangan tangannya hingga berdarah.Mengendalikan darah tersebut dan membuat benteng keras yang melindungi dirinya dan orang dibelakangnya.

“Kau serius!? Ada orang tak bersalah di sini!!” teriak kesal Heliasha menguraikan kembali darahnya.

Terlihat ibu dan Anak yang terlihat ketakutan dibelakang Heliasha. Saat serangan Alcot dilancarkan, ibu dan anaknya tersebut sedang berada di dekat Heliasha.

“Kau…. apa tidak apa menggunakan kemampuanmu di depan umum seperti ini?” tanya Charles terlihat khawatir.

“Nyawa? Kekhawatiran akan dunia? Aku tidak peduli…..”

“Kau –“

“Lebih baik Keberadaan Kineser terbongkar dari pada calon raja iblis itu bangkit!” jelasnya berteriak sambil berlari menghampiri Heliasha.

Meski masih belum memahami apa yang terjadi, semua orang di alun-alun termasuk ibu dan anaknya yang diselamatkan oleh Heliasha seketika panik karena kejadian tersebut, mereka berlari menjauhi mereka.

Sungguh hal yang normal bagi seorang manusia biasa jika melihat kejadian yang tidak biasa seperti itu.

“Charless….. kita bertarung…” jelas Heliasha menundukkan kepalanya.

“Ya…!” jelas Charles terlihat bersemangat.

Heliasha mengubah darahnya hingga berbentuk seperti tombak besar berwarna merah, setelah itu dia bersiaga yang terlihat seperti kuda-kuda terlatih.

Red Spear Dance….”

Heliasha mulai berjalan cepat dan mengayunkan tombaknya ke arah Alcot yang berlari ke arahnya.

Alcot hanya tersenyum dan berniat menyerang Heliasha secara langsung dengan kemampuan kinesisnya, tapi.

Tiba-tiba tubuh Alcot tertarik kebelakang dan menjauhi Heliasha, gravitasinya dimanipulasi oleh seseorang.

Keisha…?” Heliasha bergumam dalam hati sambil melihat ke atas langit.

“Sabar sedikit Alcot, dia –“ terlihat Heliasha yang turun melayang dari atas langit.

“Kenapa kau mengganguku!! Aku hampir mengenain –“

“Apa maksudmu? Lihatlah siapa yang kena dan siapa yang mengenai…..” Keisha terlihat khawatir menatap tajam Heliasha.

“Hah,apa maksud –“

“Arkkghh…” Alcot terlihat kesakitan, perutnya terkena goresan kecil dari serangan Heliasha.

“Jika aku tidak menarikmu tadi, saat ini kamu pasti sudah sekarat….” Keisha melirik Alcot.

Sang Bintang, Keisha….” Senyum Charles terlihat bersemangat.

“Kau yakin tentang ini Heli, dikelabui oleh adikmu –“

“Diamlah!! “ teriak Heliasha mengangkat tangan kanannya ke atas, dia berniat mengeluarkan skill selanjutnya.

Darah merah yang sebelumnya berubah menjadi tombak besar, seketika melayang di atas Heliasha, terurai berubah menjadi tombak kecil yang cukup banyak.

Tombak tersebut sudah siap menghantam Keisha dan Alcot yang berada dibawahnya.

Sambil menurunkan tangannya secara perlahan, Heliasha mulai bergumam pelan menatap tajam Keisha, “Scarlet Lance Fall…..”

WUINGGG!!!!!

Puluhan tombak merah yang tajam tersebut jatuh sangat cepat ke arah Keisha dan Alcot, tapi selang beberapa meter sebelum tombak tersebut mengenai Keisha, tombak tersebut dibelokkan ke arah Heliasha dan Charles.

Heliasha lekas menghentikan serangan yang menjadi boomerang bagi dirinya tersebut,

Replacement Directions?” Charles terlihat cukup terkejut,

“Charles lindungi buku pembangkitan it–“ Heliasha berteriak khawatir seakan mulai mengerti apa yang sedang direncanakan sahabatnya.

“Terlambat…” senyum Keisha mulai melayang cepat meninggalkan mereka berdua, Alcot juga ikut melayang bersama dirinya.

WUZZZ!!!

Seketika muncul gerbang dimensi di dekat Charles, dan dari gerbang dimensi tersebut muncul Ai yang terlihat mengangkat tangan kanannya ke arah Charles, dia berteriak, “Deceleration!!”

Dalam sekejap pergerakan Charles berubah menjadi sangat lambat, dia terlalu lambat untuk menggunakan kemampuannya.

Setelah itu Ai lekas memegang dadanya sambil bergumam pelan pada dirinya, “Acceleration…”

Berbanding terbalik dengan Charles yang menjadi lambat, pergerakan Ai berubah menjadi sangat cepat.

Dalam sekejap buku pembangkitan itu berpindah tangan pada Ai, dia pun lekas memasuki kembali gerbang dimensi yang hampir menutup.

Sebelum dia memasuki gerbang tersebut, terlihat Heliasha yang sudah menembakkan pedang berwarha merah  darah ke arahnya. Tapi karena kecepatan Ai yang dipercepat, serangan Heliasha tersebut tidak mengenainya.

“Memang tidak sesuai rencana, tapi buku terkutuk ini sudah kami dapatkan…” senyum Keisha melayang jauh meninggalkan Heliasha dan Charles.

“Keisha…..” geram sangat kesal Heliasha menatap tajam Keisha.

~~~

Bersamaan dengan kericuhan yang terjadi di kota berlin tersebut, terlihat di Negara yang berbeda, kota New York, Amerika Serikat.

Dijalanan yang cukup sepi terlihat sebuah gerbang dimensi baru yang muncul, gerbang dimensi berwarna biru yang sangat indah.

Dari dimensi tersebut, muncul dua orang yang menggunakan jubah berwarna biru dan memiliki lambang hati berwarna putih bersih di belakangnya.

Seluruh permukaan tubuh mereka tertutupi oleh jubah yang terlihat sangat besar.

Salah satu dari mereka dipastikan perempuan karena mulai bertanya pada rekan yang lainnya, suaranya sangat indah seperti perempuan yang masih menginjak masa puubertas.

“Kamu yakin tentang ini?”

Rekan yang lainnya tidak menjawab pertanyaan dari rekan yang bertanya, dia hanya menganggukkan kepalanya secara perlahan.

***


My Dearest Jilid 2 Chapter XIX Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Marcellino Novaldo

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.