03 April 2016

Kamigoroshi no Eiyuu to Nanatsu no Seiyaku Bab 2 LN Bahasa Indonesia



PAHLAWAN DAN PETUALANG PEMULA (2)

Saat kamu berpikir tentang monster, kamu pasti akan terpikir tentang hutan.
Aku tidak tahu siapa yang memulainya, tapi hal itu sepertinya adalah bagian dari pola pikir yang keliru dari dunia ini.
Ngomong-omong, kami juga berpikir seperti itu saat pertama kali datang ke dunia ini. Sedikit jauh dari jalan raya terdapat sebuah padang rumput dan lebih jauh lagi terdapat hutan lebat.
Di sana, kemungkinan bertemu dengan monster sangat tinggi, adalah apa yang salah satu rekan kami yang merupakan jagoan gamer katakan.
Tapi itu tidaklah benar.
Memang, di hutang memang terdapat monster. Tapi sebenarnya, padang rumput dan tanah lapang itu jauh lebih merepotkan.
Khususnya, goblin yang gadis dengan rambut berwarna madu itu cari.
Mereka hidup berkelompok. Mereka pasti takkan berkeliaran sendirian. Setidaknya mereka akan bergerak dalam kelompok beranggotakan tiga ekor tapi terkadang mereka juga bergerak dalam kelompok beranggotakan sepuluh ekor.
Kalau di dalam gua, mereka dapat di atasi tanpa risiko terkepung oleh mereka.
Tapi di tanah lapang dan padang rumput, mereka akan mengepungmu secara berkelompok dan menyerangmu dari titik buta.
Apa gadis itu menyadari hal itu?
[Sifatmu tak pernah berubah.]
“Benar sekali... walaupun hal ini takkan memberi keuntungan apapun bagiku.”
Karena aku tidak dapat membantahnya, aku menyetujuinya.
Sudah berapa kali aku bekerja cuma-cuma seperti ini.
Walaupun aku sedang mengalami masalah keuangan, aku masih melakukan hal yang tidak menghasilkan apapun untukku.
Dan juga, rasanya agak berat saat semua orang di sekitarmu menempatkan kepercayaan mereka padamu.
Tidak peduli apa yang orang katakan, memburu monster adalah pekerjaan yang paling menguntungkan bagi seorang petualang.
Petualang yang tidak bertarung akan ditatap dengan tatapan rendah.
Khususnya diriku, yang tidak pernah mengambil pekerjaan lain selain mengumpulkan tanaman herbal yang jauh dari kata berbahaya.
Tapi itu karena aku tetap dapat memenuhi kebutuhanku hanya dengan itu.
Aku takkan berjalan mendekati bahaya.
Kalau tidak, aku takkan mampu bertahan hidup. Khususnya diriku, yang merupakan orang terlemah dari kami bertiga belas.
[Haah]
Jangan mengeluh, aku juga akan menjadi sedih.
Peri penyelamat takkan datang, dan aku juga tidak meminta tolong pada siapapun.
Jadi, aku takkan mendapatkan imbalan. Ini hanya akan menjadi pekerjaan untukku.
Aku mengerti kalau kamu ingin mengeluh. Aku mengerti tapi tolong maafkan aku.
Bukankah menyelamatkan orang lain adalah hal yang mulia? Tapi aku tetap berharap agar aku dapat mendapatkan imbalan.
Kalau aku dapat menyelamatkan gadis cantik itu, aku pikir aku akan mencoba memintanya.
Aku bukanlah seorang petapa suciSaint. Dan aku juga tidak dapat hidup hanya dengan menghirup udara.
Aku membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hariku. Untuk makan, menyewa kamar di penginapan, dan juga untuk membeli perlengkapan, aku membutuhkan uang.
...yang benar saja, kami sepenuhnya bekerja secara cuma-cuma saat kami menjadi pahlawan.
Semua itu memang demi semua orang, tapi tidak termasuk kami.
Itu adalah kenyataan yang membuatku sangat sedih.
[Oi, Renji, di dekat kakimu.]
Tumben sekali. Si medali terkutuk Ermenhilde berkata dengan nada ceria.
Seperti yang suara itu katakan, saat aku melihat ke sekitar kakiku, aku melihat sebuah koin tembaga.
Di dunia ini, urutan nilai mata uangnya adalah koin tembaga -> emas -> perak.
Biasanya kamu pasti akan berpikir kalau emas lebih berharga, tapi emas tidak dapat dialiri dengan sihir dan juga cukup berat.
Yaah, perak juga berat tapi perak dapat dialiri dengan sihir dan juga ampuh untuk melawan hantu dan undead, dan dapat menghilangkan kekuatan regenerasi mereka atau mengubah mereka menjadi abu.
Karena itu, di dunia ini, berbeda dari dunia fantasi pada umumnya, nilai perak dan emas tertukar.
Hal itu membuatku berpikir kalau zirah emas yang muncul di dunia fantasi pasti sangat berat.
Aku ingin mencoba memakainya sekali saja. Walaupun aku pikir aku takkan mampu bergerak setelahnya.
Yaah, bagaimanapun juga, kesampingkan hal itu, aku memungut koin tembaga itu dari tanah.
“Kerja bagus.”
[Dengan ini kamu akan dapat membeli dua potong roti.]
Untuk sementara, masalah makan malamku teratasi.
Ngomong-omong, satu keping koin tembaga dapat membeli dua potong roti atau satu potong asinan.
Untuk makan siang di restoran yang sedikit bagus, setidaknya kamu memerlukan dua puluh keping koin tembaga.
Fufun, sambil bersenandung, aku berjalan melewat dataran dengan langkah ringan.
[...Ah, rasanya aku ingin menangis.]
“Memangnya kamu bisa menangis dengan tubuh seperti itu?”
[Diam... hidup miskin seperti ini, sangat menusuk hatiku.]
Sepertinya, dia merasa sedih.
Mungkin, karena kebanggaan diri yang sangat tinggi, dia tidak dapat menerima kenyataan kalau dia merasa bahagia hanya karena menemukan uang recehan di jalan.
Hal itu sudah sering terjadi jadi aku hanya perlu mengabaikannya.
Bahkan setelah merasa sedih seperti itu, jika dia merasa senang karena menemukan uang recehan, maka dia sudah tidak tertolong lagi.
Dan juga, kenyataannya Ermenhilde menemukannya lebih cepat dariku, jadi apa boleh buat.
Saat aku berjalan sambil menjentikkan koin tembaga itu dengan ibu jariku, aku mendengar suara pelan benturan pedang.
“Sudah ku duga...”
Aku mengeluh.
Kenapa anak muda sangat suka melakukan hal gila.
Saat aku menolehkan kepalaku, aku tidak dapat melihat gadis itu. Yang terlihat adalah batu besar berukuran tidak meter yang telah di beri tanda oleh penduduk desa.
Aku pikir dia akan pergi ke tempat yang terkenal, dan sepertinya aku benar.
Mungkin, gadis itu berada di balik batu besar itu.
Untuk memastikan kalau aku masih belum terlalu terlambat, aku berjalan mendekati batu itu dan memutuskan untuk mengintip dan melihat keadaan.
Hal pertama yang terlihat di pandanganku adalah gadis dengan rambut berwarna madu yang baru saja aku temui tadi.
Beberapa bagian dari pakaiannya sobek, tapi setidaknya dia masih baik-baik saja. Aku menghembuskan nafas lega.
Dan yang sedang di lawannya adalah monster setinggi anak SD dengan kulit berwarna abu-abu, itu adalah sekelompok goblin.
Makhluk itu memegang pedang panjang, kapak dan palu yang kemungkinan adalah hasil rampasan dari para petualang.
Makhluk itu memiliki hidung besar nan mancung yang tidak sesuai dengan wajahnya dan juga telinga yang besar. Kalau kamu menyatukan kedua telinga itu mungkin ukurannya akan setara dengan muka makhluk itu, mungkin.
Menurutku goblin terlihat seperti makhluk yang memiliki kebanggaan diri yang tinggi.
Tapi itu hanyalah pendapat pribadi yang ku dapatkan setelah berulang kali bertarung melawang mereka.
Para goblin itu mengayunkan senjata mereka dan perlahan mulai memojokkan gadis itu.
[Fumu. Jadi dia masih hidup.]
“Oh, kamu sudah kembali seperti biasanya?”
[Diam, akan ku bunuh kau.]
“Baik, baik.”
Sambil mengabaikan ancaman dan ejekan medali itu, aku mengamati gadis itu yang sedang bertarung melawan sekelompok goblin.
Belum banyak waktu yang terlewat sejak pertarungan itu dimulai.
Tadi gadis itu tidak memiliki senjata apapun tapi saat ini dia memegang senjata yang kelihatannya cukup bagus.
Dia pasti pergi ke toko senjata setelah berpisah denganku dan setelah itu langsung pergi berburu.
Mungkin, pertarungan itu sudah berlangsung sekitar sepuluh menitan.
Tapi, gadis itu sudah mulai bernafas dengan berat dan memegang pedang pendeknya dengan kedua tangannya.
Ada lima ekor goblin dan mereka semua terlihat cukup tenang.
Itu karena mereka unggul dalam jumlah dan juga kemampuan.
Jika mereka menyerang sambil mengepung seseorang, bahkan seorang petualang kelas menengah dapat di kalahkan.
Mereka dapat dengan mudah mengalahkan petualang pemula dalam sekejap. Tapi tanpa terburu-buru, mereka menunggu sampai musuh mereka kehabisan tenaga dan berhenti bergerak.
Itu adalah bagian yang paling merepotkan dari monster. Mereka memiliki kecerdasan untuk mengungguli musuh mereka.
Kali ini, mereka menggunakan perbedaan jumlah mereka untuk melemahkan musuh mereka.
Karena berada di padang rumput terbuka, jika mereka mengepung musuh mereka, mereka dapat menyerang dari titik buta dan bahkan jika musuhnya mampu untuk menahannya, dia akan cepat kehabisan konsentrasi dan juga daya tahannya.
Saat di dalam gua, terkadang mereka juga memasang jebakan. Sergapan maupun lubang jatuh, dan lain sebagainya. Itu menunjukkan seberapa cerdas mereka.
Khususnya monster berbentuk manusia memang pasti seperti itu.
[Kelihatannya dia takkan mampu bertahan lebih lama lagi.]
“Aku tahu.”
Dalam area pandangku, gadis itu terus tertekan.
Satu-satunya alasan kenapa mereka belum membunuhnya adalah karena mereka sedang mempermainkannya.
Saat musuhnya hanyalah seorang diri dan hanya seorang petualang pemula, tidak aneh kalau mereka menunjukkan sisi sadis mereka.
Yaah, tapi berkat itu aku masih sempat untuk mencapai tempat ini.
Aku tahu kalau itu adalah sebuah keajaiban baginya untuk mampu bertahan melawan lima ekor goblin selama sepuluh menit.
Sambil memikirkan hal itu, aku mengeluarkan medaliku dari dalam saku dan menggenggamnya dengan tangan kiriku.
“Pinjamkan aku kekuatanmu, Ermenhilde.”
[Baik, tuanku.]
Suasana muram tadi sudah sepenuhnya menghilang.
Saat bertarung, dia selalu serius. Musuhnya hanyalah kerocoan tapi hasilnya akan jauh berbeda antara saat melakukannya dengan tenang dan dengan ceroboh.
Aku tahu kalau nyawa seseorang dapat lenyap begitu saja hanya karena kesalahan kecil.
Di tangan kiriku, aku mulai merasakan rasa hangat. Kekuatan sihir sumber dari kekuatan cheat milikku, Ermenhilde, menunjukkan bentuknya.
Sebuah pisau, dan lima buah dagger( pisau lempar).
Tidak terdapat hiasan apapun. Ini hanyalah senjata sederhana yang hanya ditujukan untuk bertarung.
Memastikan senjataku, aku memasukkan kembali medali itu ke dalam sakuku.
Memegang pisau itu dengan tangan kiriku, aku meletakkan kelima dagger di sabukku.
“Seriusan, selama aku memilikimu, aku tidak perlu membeli senjata apapun.”
[Jangan lupakan kegunaanku, jangan pernah.]
“Aku tahu.”
Aku adalah seorang [Pembunuh Dewa] dan kamu adalah [Senjata Pembunuh Dewa].
Aku takkan melupakan hal itu seumur hidupku.
Saat aku mengatakan hal itu, aku melompat keluar dari bayangan batu dan melemparkan sebuah dagger.
Tanpa mampu menyadariku, dagger itu menembus kepala salah satu goblin dan mati. Darah merah mewarnai rerumputan.
Mengeluarkan sebuah dagger lagi, aku sekali lagi melemparkannya. Dagger itu membunuh goblin satunya. Dua ekor mati.
Satelah itu mereka akhirnya menyadari keberadaan penyusup di mana dia adalah diriku dan segara meningkatkan kewaspadaan mereka.
Aku melemparkan sebuah dagger lagi tapi di tahan dengan pedang panjang goblin itu.
Aku ingin menghabisi semua goblin itu hanya dengan dagger tapi... aku pikir itu lah.
Dunia tidak semudah itu.
“Ah.”
Aku mengabaikan gadis yang sedang menghembuskan nafas lega.
Tiga ekor tersisa. Aku berada di posisi yang kurang menguntungkan jika kita memperhitungkan jumlahnya.
Aku cukup percaya diri dengan kemampuanku, tapi jika aku terkepung, aku pasti akan kalah.
Memindahkan pisau ke tangan kananku, aku memegang sebuah dagger di tangan kiriku.
Gaya dua pedang. Tapi, sayangnya, aku pengguna tangan kanan.
“Shaa!!”
Aku menghentikan serangan pedang panjang goblin itu dengan daggerku.
Berhasil membelokkan serangan itu, tangan kiriku mati rasa tapi aku mengayunkan pisau di tangan kananku dan memotong leher goblin itu.
Ketajaman senjata yang dibuat oleh Ermenhilde sangat luar biasa. Aku sama sekali tidak merasakan tahanan.
Cipratan darah menodai pakaianku dan juga mukaku. Aku mengerutkan keningku karena hal yang tidak menyenangkan itu.
Saat aku menghabisi goblin itu, kedua goblin lainnya menyerangku dari dua arah secara bersamaan.
Aku melemparkan dagger di tangan kiriku pada salah satu dari mereka.
Karena tanganku sedang mati rasa, jangankan mengenai sasaranku, mata pisaunya saja tidak berada di depan.
Tapi, itu berhasil menghentikan pergerakan goblin itu untuk menahan dagger itu dengan senjatanya.
Dan serangan kerjasama mereka juga terganggu.
Dalam sesaat, aku menghadapi goblin lainnya yang datang menyerangku.
Goblin itu mengangkat palunya ke atas tapi sebelum makhluk itu dapat mengayunkannya, aku memotong gagangnya.
Goblin itu, yang memegang palu itu dengan kedua tangannya, kehilangan keseimbangannya dan palu miliknya juga kehilangan kegunaannya.
Mungkin makhluk itu tidak pernah membayangkan kalau gagang besinya akan terpotong, goblin itu terlihat panik dan berhenti bergerak di hadapanku.
Dalam sekejap, aku memotong lehernya.
Tinggal satu yang tersisa—saat aku berbalik, goblin yang tersisa melarikan diri sekuat tenaga.
“Fuu.”
Aku menghembuskan nafas lega.
Entah bagaimana aku berhasil.
Aku membersihkan darah yang menempel di pipi dan pakaianku.
Ini, apa nodanya akan hilang jika di aku mencucinya?
Jika aku harus membeli pakaian baru, itu berarti biaya tambahan.
[Bagus, bagus. Sepertinya kemampuanmu masih belum berkarat.]
“Apanya.”
Aku hanya sedang beruntung.
Aku tidak tahu kenapa tapi medali ini selalu salah sangka dan menganggapku sebagai seseorang yang sangat kuat.
Tolong jangan menganggapku seperti itu.
Hanya karena sama-sama mengemban julukan Pembunuh Dewa seperti kedua belas orang lainnya tidak berarti kalau aku juga sama kuatnya dengan mereka.
Tidak seperti mereka, aku tidak terlalu kuat.
Kekuatan fisikku hanya sedikit lebih kuat dari penduduk dunia ini berkat kompensasi perpindahan dunia, tapi aku yakin kalau aku pasti akan kalah melawan ahli pedang maupun penyihir kelas satu.
Bahkan untuk bertarung melawan goblin, mereka dapat melakukannya jauh lebih baik dari ku.
Menghabisi dengan satu pukulan. Itu yang akan mereka lakukan.
Jika dia adalah penyihir, maka dia hanya membutuhkan satu serangan dari jarak jauh.
Orang-orang seperti merekalah para [Pembunuh Dewa].
“Aku tidak terlalu hebat dalam bertarung.”
Saat aku mengatakan hal itu, aku berjalan menuju gadis itu, yang merupakan tujuan utamaku kali ini.
Karena kejadian yang sangat tiba-tiba, dia duduk di rerumputan sambil mengangkat wajahnya menatap terkejut padaku.
Sikap itu sangat manis.
[Kamu menyeringai lagi.]
“.....”
Aku ingin percaya kalau itu tidaklah benar.
Aku menyembunyikan mulutku dengan lengan bajuku dan *Ahem* membersihkan tenggorokanku.
“Aku tidak tahu kenapa kamu sangat terpaku dengan pembasmian monster tapi jika kamu terus memaksakan diri seperti ini kamu pasti akan mati, tahu?”
Mati. Gadis itu terlihat takut saat mendengar kata itu.
Mungkin, saat berada di guild, dia tidak sedikitpun berpikir kemungkinan kalau dia akan mati.
Hal itu cukup umum bagi para pemula. Dan juga, kenyataan kalau dia masih hidup membuatnya cukup beruntung.
Biasanya, tanpa pertolongan dari siapapun, dia pasti akan dianiaya sampai mati oleh para goblin itu.
Aku memotong taring dari para goblin dengan pisauku. Jika kamu menyerahkannya pada pihak guild, kamu akan mendapatkan imbalan karena telah menghabisinya.
Bukan cuma goblin, setiap monster juga sama seperti itu.
Biasanya kamu akan mengambil setiap bagian yang berguna sebagai bahan maupun bagian yang takkan membusuk.
Untuk sesuatu sebesar naga, bahkan jika kamu tidak menghabisinya, kamu dapat mendapatkan banyak uang hanya dengan menjual sisiknya.
Yaah, imbalan untuk satu ekor goblin adalah sekitar sepuluh keping koin tembaga, aku pikir.
Tapi, karena aku tidak menerima permintaan secara resmi, mungkin imbalannya akan sedikit lebih rendah.
Ngomong-omong, membunuh monster memang menghasilkan banyak uang tapi tidak baik untuk kesehatan jantung.
Aku tidak menyukainya.
“Jika kamu sudah mempelajari sesuatu, maka pertama tingkatkan dulu kemampuan dan pengalamanmu dengan melakukan pekerjaan yang diberikan oleh guild—mengerti?”
Sambil menaruh taring goblin itu ke dalam kantungku dan berbalik... gadis itu sedang menangis.
Dia menangis sangat keras dan air mata dan berbagai cairan lainnya bercucuran.
Aku terkejut dan segera memalingkan wajahku karena gadis itu menunjukkan ekspresi yang tidak sesuai untuk orang dewasa.
[Kamu membuatnya menangis, kamu membuatnya menangis.]
“Memangnya kamu ini bocah apa?”
Aku mengatakannya dengan pelan, aku memukul medali di dalam sakuku.
Aku menggeledah perlengkapan para goblin untuk mencari sesuatu yang berharga sambil menunggu gadis itu berhenti menangis.
[...Itu namanya perampokan.]
Benar sekali, kalau musuhnya bukanlah monster ini pasti disebut sebagai perampokan.
“Karena ini akan memberiku sedikit uang.”
[Hal ini membuatku ragu apakah kamu benar-benar seorang pahlawan atau bukan.]
Pedang panjangnya patah, gagang palunya terpotong, jadi kedua itu takkan terlalu berharga.
Tapi itu masih akan tetap memberiku sedikit uang jadi aku memutuskan untuk tetap membawanya.
Kapaknya masih cukup bagus jadi seharusnya harganya masih lumayan. Penemuan yang cukup bagus.
Ada peralatan seperti kain kulit dan pelindung dada tapi... itu sangat bau jadi aku bingung apa yang harus ku lakukan.
Apakah benda itu akan berguna jika aku membawanya?
Bahkan jika aku meninggalkannya di sini, bangkai goblin itu pasti akan dimangsa oleh monster lain dan peralatannya akan digunakan oleh goblin lain atau kobold yang memiliki kecerdasan.
Umm, saat aku sedang memikirkannya, aku merasakan keberadaan di belakangku.
Saat aku berbalik, gadis itu sudah berdiri.
“Apa kamu sudah merasa baikan?” (Renji)
Pada pertanyaanku, gadis itu mengangguk.
Sepertinya dia masih merasa sedih. Yaah, hal itu memang wajar jadi apa boleh buat.
Justru yang aneh adalah jika ada seseorang yang dapat cepat pulih setelah mengalami hal seperti itu.
“Kalau begitu, ayo segera kembali ke desa. Aku akan mengantarmu.”
Memanggul kapak itu, aku memegang pedang dan palu dengan tanganku yang satunya.
Aku memutuskan untuk meninggalkan perlengkapannya. Seharusnya aku dapat mendapatkan cukup uang hanya dari senjatanya saja.
Aku juga tidak dapat membiarkan gadis ini mencium bau busuk seperti itu.
Senjata, dan empat buah taring goblin di dalam kantungku.
Aku akan dapat hidup tenang untuk dua hari dengan semua itu. Langkah kakiku menjadi jauh lebih ringan saat aku menyadari hal itu.
Walaupun tujuanku seharusnya adalah untuk menyelamatkan gadis ini tapi aku juga tidak berpikir kalau tujuanku berubah.
[...Menyedihkan.]
“Itu menjadi kalimat kesukaanmu dalam satu tahun belakangan kan, kata itu?”
“?”
Saat gadis itu menatapku dengan tatapan bingung karena aku berbicara sendiri, aku menjawabnya dengan berkata tidak ada apa-apa.
Tanpa disengaja aku mengatakannya dengan keras.
Aku sama sekali tidak dapat menahannya.
Aku pikir, adalah sesuatu yang normal untuk menjawab saat seseorang berbicara padamu.

 
 --------------------------------------------------------
Prev - TOC - Next
--------------------------------------------------------

Kamigoroshi no Eiyuu to Nanatsu no Seiyaku Bab 2 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: h kim

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.