24 Maret 2016

Rokujouma no Shinryakusha!? Jilid 7 Bab 2 LN Bahasa Indonesia



Rokujouma no Shinryakusha!?
Jilid 7 Bab 2
Kondisi Natal Semua Orang

Bagian 1
Selasa, 22 Desember
Koutarou menunjukkan dua buah kartu pada Yurika.
“Yurika, pilih satu.”
“Hmmmmm...”
Yurika melihat dua kartu di depannya. Karena dia hanya bisa melihat bagian belakang kartu tersebut, dia tidak tahu kartu apa saja itu. Yurika memandangi dua kartu itu dengan intens seolah mencoba membaca kartu tersebut.
Hari ini, perebutan kepemilikan kamar 106 ditentukan menggunakan permainan kartu untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu. Masing-masing dari mereka mengusulkan permainan yang dikuasai mereka dan bisa diikuti oleh semuanya. Saat ini mereka sedang memainkan permainan mereka yang kelima, Old Maid, yang merupakan usulan Yurika.
Permainannya sudah berjalan ke tahap akhir. Meskipun belum ada yang kalah, semuanya memiliki 1 sampai 3 kartu lagi, dan pertandingannya hampir selesai.
Kartu Koutarou terdiri dari joker dan as sekop, sedangkan Yurika punya satu kartu lagi. Koutarou ingin Yurika mengambil joker dari tangannya.
“Kartunya tidak akan tembus pandang berapa lamapun kau melihatnya tahu, jadi cepat ambil satu.”
“Tapi jika aku dapat perawan tuanya, bisa gawat.”
“Bagiku malah bagus.”
“J-jahat sekali, Sanae-chan.”
Tangan Yurika bergerak-gerak antara dua kartu tersebut. Situasi ini menyebabkan Yurika yang biasanya tidak tegas menjadi semakin ragu. Jadi bisa dimengerti apabila Sanae menyuruhnya untuk lebih cepat. Bahkan setelah ragu-ragu sebentar, dia masih belum memilih kartu. Sampai sekarang, situasi itu selalu terjadi.
“Berjuang! Yurika!”
Yurika menyemangati dirinya sendiri dan memasang wajah tajam. Dia kemudian mengambil keputusan dan mengambil salah satu kartu di tangan Koutarou.
“Eeeii!!”
Dia mengambil kartu sambil berseru. Karena dia takut mengambil perawan tua, dia menutup kedua matanya. Kemudian dia mendekatkan kartu tersebut ke wajahnya dan membuka salah satu matanya dengan ketakutan.


“Ah!?”
Saat dia membuka matanya, wajahnya menjadi cerah. Kartu yang dia ambil adalah kartu bertuliskan as sekop.
“Berhasil! Aku selesai!!”
Yurika memasangkan kartu di tangannya dengan kartu yang baru dia ambil dan melemparkannya ke meja teh. Dia kemudian mengangkat tangannya dan bersorak.
“Hoo...”
Melihat itu, Kiriha kelihatan terkesan. Setelah kalah melulu, kemenangan Yurika hanya akan memperpanjang perebutan kamar 106. Karena Kiriha menginginkan situasi seperti itu, dia menyambut kemenangan Yurika.
“Eeeh!? Yurika menang lagi!?”
Sementara itu, Sanae kelihatan tidak puas. Dia cemberut sambil melihat kartu yang dilemparkan Yurika ke meja. Sanae hanya benci kalah, jadi dia tidak bisa menerima kemenangan Yurika.
“Kau curang ya!?”
“T-tentu saja tidak!”
Yurika buru-buru menggelengkan kepalanya ketika Sanae menuduhnya. Sebenarnya ada satu hal lagi yang tidak bisa dia terima, dan hal itu adalah kemenangan beruntun Yurika.
Yurika masih tetap kalah seperti biasanya saat bermain permainan yang mengandalkan otak daripada otot, tapi entah kenapa, dia sangat beruntung ketika bermain permainan yang bergantung pada keberuntungan. Berkat hal itu, Yurika berangsur-angsur mengumpulkan poin dan lolos dari situasi bahaya yang dia alami.
“Tenanglah, Sanae. Setidaknya, dia tidak curang.”
“Tidak mungkin! Dipikirkan berapa kalipun, Yurika menang sebanyak ini itu terlalu aneh!”
Meskipun Koutarou mencoba membujuknya, Sanae tidak bisa menerima hal itu. Kemenangan beruntun Yurika terlalu luar biasa untuk bisa dimengerti Sanae.
“Terimakasih, Satomi-saaa~n! Aku tahu kamu memang orang baik sejak kita pertama kali bertemu!”
Air mata syukur mengalir di pipi Yurika ketika dia mendapat dukungan tak terduga dari Koutarou. Seperti biasanya, dia menggenggam tangan Koutarou dan menjabat tangannya dengan intens.
Fufufu, Satomi-san benar-benar sekutuku. Dia sungguh mengerti diriku.
Yurika senang karena Koutarou percaya padanya.
“Tenanglah, Sanae. Percayalah sedikit pada Yurika, oke?”
Ketika tangannya masih dijabat oleh Yurika, Koutarou mencoba membujuk Sanae dengan tenang.
“Benar. Aku tidak curang.”
Yurika tersenyum dan mengikuti jejak Koutarou. Karena Koutarou ada di pihaknya kali ini, Yurika semakin keras kepala.
“Tapi-”
“Pikirkan saja. Dia ini Yurika, kan? Dia tidak mungkin curang.”
“Hah?”
Tetapi, sesaat kemudian, senyuman Yurika membeku. Kata-kata Koutarou selanjutnya berubah menjadi hal yang tidak diduga.
“Mengesampingkan Kiriha-san, bagaimana bisa Yurika berbuat curang tanpa kita ketahui? Dia ini kikuk dan tidak bisa memasang poker face dengan benar.”
Koutarou sama sekali tidak mempertimbangkan kemunginan Yurika berlaku curang.
Lebih tepatnya, Yurika tidak curang. Malah...
Koutarou menoleh ke arah Kiriha. Kiriha sedang menonton Sanae dan Yurika dengan senang.
Dalam pikiran Koutarou, lebih masuk akal jika Kiriha memberikan kartu-kartu yang membuat Yurika lebih mudah menang.
Kiriha barangkali juga tidak berlaku curang.
Baik Yurika maupun Kiriha tidak berlaku curang. Itulah kesimpulan Koutarou.
“...Benar juga. Maaf sudah menuduhmu, Yurika. Aku salah. Tidak masuk akal jika orang kikuk sepertimu bisa berlaku curang.”
“Ya, percaya saja padanya, Sanae. Dia tidak mungkin curang.”
“Jadi itu maksudnya pas bilang kau percaya padaku!?”
Namun, pada akhirnya, Yurika masih meneteskan air mata kesedihan.
Bagian 2
“Aku pasti akan main curang; kecurangan hebat yang tidak akan diketahui siapapun...”
Ketika Yurika, yang sedang bicara sendiri dan menghadap tembok, menoleh ke belakang, dia bisa melihat penghuni lainnya sedang minum teh dengan tenang. Ada enam cangkir di meja; enam buah karena Shizuka datang untuk bermain, tanpa menghitung Sanae, yang tidak bisa minum sendiri.
Pada akhirnya, permainan kartu hari ini berakhir dengan kemenangan Yurika. Keberuntungannya berperan besar dalam hal ini. Yurika mendapat banyak poin dari Theia, yang tadinya memimpin perolehan poin.
“Koutarou, setelah istirahatnya selesai, kita akan sedikit latihan.”
“Memangnya sedikit latihan bisa dihitung latihan?”
“Jika kau tidak suka, aku tidak keberatan jika kita menggantinya jadi banyak latihan.”
“Tidak, aku tidak terganggu sedikitpun, tuan putri Theiamillis.”
“Sepertinya kau sudah sadar betul siapa tuanmu sekarang, Satomi Koutarou.”
“Siapa yang kau bilang tuan!?”
Tetapi, suasana hati Theia sedang bagus meskipun dia sudah kalah telak. Tingkahnya seolah-olah dia tidak perduli lagi soal poin tersebut.
“Sudah terlambat ketika Satomi-san menyadari kecuranganku. Akan kugunakan teknik elegan, teknik elegan, dan... dan...”
Air mata terus mengalir di pipi Yurika.
Melihat Theia yangsedang gembira dan Yurika yang sedih, sulit dilihat siapa yang sebenarnya menang.
“Satomi-kun.”
Di momen itu, Shizuka yang sudah selesai minum teh memanggil Koutarou.
“Tidak usah malu-malu, aku sudah paham.”
“Brengsek, cuma karena dramanya tinggal sebentar lagi, kau jadi― Huh? Apa?”
Koutarou yang sedang bicara dengan Theia, menolehkan kepalanya ke arah Shizuka.
“Hei Koutarou, kita belum selesai bicara.”
“Ah, awawawaw.”
Theia lalu mencengkram kepala Koutarou dengan kedua tangannya dan menolehkan kepalanya kembali dengan paksa. Koutarou pun berteriak.
“K-kau mau leherku patah!?”
“Ah, maaf.”
Namun, setelah Koutarou berteriak kesakitan, Theia segera melepaskan kepala Koutarou. Theia tidak mau melukainya. Karena tanggal main dramanya tidak lama lagi, dia tidak boleh membiarkan actor Ksatria Biru terluka.
“...Kamu kelihatan sedang bersenang-senang, Satomi-kun.”
“Aw... Ini tidak meyenangkan sama sekali. Jadi ada apa, ibu kos-san?”
“Benar, tentang itu.”
Shizuka menyatukan kedua tangannya dengan senang, sebelum memutar-mutar jari jemarinya dan mulai bicara.
“Satomi-kun, kudengar kamu kerja paruh waktu lagi.”
“Eh? Kenapa kamu tahu?”
“Aku dengar dari Mackenzie.”
“Si Brengsek itu, bicara hal yang tidak perlu...”
Koutarou mengingat kembali pertemuannya dengan Kenji dan sedikit menjentikkan lidahnya. Seperti yang Kenji kira, Koutarou merahasiakan kerja paruh waktunya.
“Oh, kerja paruh waktu baru, ya.”
“Jadi itu alasan kau pulang telat, akhir-akhir ini?”
“Tak kusangka kau bisa bekerja dalam keadaan sedingin ini...”
“Aku akan main curang, aku paasti akan main curang...”
Setelah mengetahui kerja paruh waktu Koutarou yang baru, keempat penjajah menunjukkan reaksi yang berbeda-beda. Kiriha kelihatan senang sambil menyeruput tehnya, Theia menganggukkan kepalanya, Sanae merasa khawatir kalau Koutarou bisa terkena demam di cuaca dingin ini dan Yurika masih bicara sendiri sembari menghadap tembok.
Keempat penjajah menunjukkan respons positif, tapi ada satu orang di kamar 106 yang menunjukkan reaksi berlawanan.
“...”
“Ada apa, Ruth-san?”
“Tidak, bukan apa-apa.”
Kerutan yang dalam muncul di dahi Ruth ketika dia melirik tajam ke arah Koutarou. Saat Koutarou bertanya apa ada yang salah, Ruth menjawab bukan apa-apa dan memalingkan wajahnya, tapi Koutarou tahu kalau Ruth tidak berkata jujur.
“Jadi kenapa kamu mulai kerja lagi, Satomi-kun?”
Saat Shizuka bertanya begitu, keruan di dahi Ruth semakin dalam.
“Kenapa, yah―”
“Apa demi mendapat uang buat kencan Natal!?”
Berbeda dari Shizuka, yang matanya berkilau dan penuh rasa ingin tahu, wajah Ruth semakin gelap dan gelap.
Apa?
Koutarou melihat ke arah keduanya dengan bingung.
“Karena sudah ketahuan, tidak perlu disembunyikan lagi.”
Kiriha, yang dari tadi mendengarkan, tersenyum lebar ke arah Koutarou. Senyumannya segera berubah menjadi senyuman yang anggun dan dia mulai bicara pada Shizuka. Koutarou memiliki firasat buruk tentang apa yang akan terjadi, tapi karena dia terlalu mencemaskan Ruth, dia tidak punya kesempatan untuk menghentikan Kiriha.
“Sebenarnya Shizuka, saya dan Koutarou berencana kencan di hari Natal.”
“Sudah kuduga!! Jadi kamu berkencan dengan Kiriha!!”
Di waktu yang sama dengan Shizuka berseru, suasana di kamar 106 membeku. Pandangan yang terfokus pad Koutarou meningkat dari satu menjadi empat. Tiga tatapan tambahan datang dari Sanae, Yurika and Theia. Ketiganya memberi tekanan pada Koutarou dengan mengkritiknya di saat yang sama.
“Koutarou! Sudah kubilang menjauh dari Kiriha! Kau tahu kan dia akan menjajah kamar kita!”
Sanae mengira kalau Kiriha telah merayu Koutarou dalam usahanya menjajah kamar 106. Dia tidak berharap kalau Kiriha jatuh cinta sungguhan pada Koutarou. Dengan kata lain, Sanae sangat ingin menyelamatkan Koutarou dari genggaman Kiriha.
“Kotor! Selingkuh itu dosa yang tidak bisa dimaafkan!”
Yurika menggembungkan pipinya seperti balon. Dia mengira kalau Koutarou telah berselingkuh dengan Kiriha. Koutarou sudah punya Harumi, jadi Koutarou yang pergi kencan dengan Kiriha adalah pengkhianatan yang tidak bisa dimaafkan. Dan karena dia sendiri membayangkan Koutarou, Harumi dan dirinya berkencan bersama, pengkhianatan itu bukan hanya terhadap Harumi, tapi juga terhadap Yurika sendiri.
“Tolol! Kau terlibat urusan macam apa lagi kali ini!? Katakan saja, Koutarou!! Siapa yang kau lawan tanpa memberitahuku!?”
Berbeda dari Sanae dan Yurika, Theia mengkhawatirkan hal yang berbeda. Dia khawatir kalau seseorang selain Kiriha akan melukai Koutarou.
Theia sudah mengetahui masalah politik bawah tanah di sekitar Kiriha. Pertarungan belum lama ini telah memastikan kecurigaannya. Meskipun masalah di hari itu telah diselesaikan melalui pertarungan tersebut, akar masalahnya sendiri masih belum diselesaikan.
Theia percaya kalau Koutarou lebih mungkin terlibat lebih jauh ke dalam masalah Kiriha.
Kenapa kau selalu begitu!? Kau hanya perlu melindungiku!
Itulah sikap seperti ksatria yang diinginkan Theia: keberanian untuk melawan musuh manapun, enggan membiarkan kejahatan apapun dan menyukai semua orang tanpa alasan. Itulah tiga kebajikan yang dimiliki oleh sang pahlawan legendaris, Ksatria Biru.
Theia berharap kalau tiga kebajikan tersebut muncul di dalam diri Koutarou. Meskipun begitu, karena sadar kalau Koutarou mungkin terancam bahaya, Theia tidak bisa gembira sepenuhnya. Kebahagiaan dan kekhawatiran bercampur aduk di dalam dirinya, menghasilkan suatu perasaan yang kompleks.
“Kiriha-san, kau ini bicara apa!?”
Sementara itu, Koutarou sendiri protes keras pada Kiriha. Dia tidak pernah berencana kencan dengan Kiriha.
“Tidak perlu sedingin itu, Koutarou. Hari itu kamu bilang kamu cinta pada saya.”
Kiriha menatap Koutarou dengan wajah sedih. Selama sekejap, ketika mata mereka berdua bertemu, ujung bibir Kiriha naik, membentuk senyuman nakal. Kiriha sedang menyudutkan Koutarou untuk bersenang-senang.
“Oooh, bagus sekali, Satomi-kun!”
“Satomi-san!? Apa itu benar!?”
“Kau sedang ditipu Koutarou! Sadarlah!”
“Argh, masalah ini tidak selesai-selesai! Beritahu aku semuanya, tanpa terkecuali!”
Rencana Kiriha berjalan sempurna, dan semua perempuan di kamar 106 telah percaya perkataannya. Lalu Kiriha terus memanas-manasi situasi.
“Koutarou berjanji kalau kami akan menikmati Natal di permukaan berdua saja.”
“Apa yang kau bicarakan!? Selain itu, kau kan punya orang yang―”
“Eii♪
Koutarou yang sedang berusaha untuk mengatasi situasi yang semakin membingungkan ini membuka mulutnya dan protes, lalu di momen itu, Kiriha menyodorkan Manjū sisa yang sedang dia pegang ke dalam mulut Koutarou.
“Hmhmh, Mhmmm.”
“Enak, Koutarou?”

Setelah sukses menutup mulut Koutarou, Kiriha tersenyum riang.
Akting Kiriha berjalan sempurna, dan  berkat  serangkaian peristiwa, mereka akan kelihatan seperti sepasang kekasih di mata orang-orang yang melihat mereka.
“...Saya akan meminta penjelasan yang detail dari anda, Satomi-sama.”
Ruth bicara dengan suara rendah dan dingin, suaranya itu jelas sekali bukan sebuah akting.
“Maaf, tadi itu memang bercanda. Sebenarnya, saya juga tidak tahu kenapa Koutarou mengambi kerja paruh waktu lain.”
Suasana di kamar 106 menjadi normal kembali berkat penjelasan dan permintaan maaf Kiriha. Pandangan tajam yang diarahkan kepada Koutarou mulai mengendur dan para gadis menghela napas mereka.
“Ya ampun... kasihanilah diriku ini...”
“Fufufu.”
Koutarou juga menghela napas lega setelah situasinya kembali tenang. Tapi Kiriha kembali tersenyum saat dia melihat Koutarou melakukan hal itu.
“Membosankan.”
Satu-satunya orang yang tidak menyukai situasi ini adalah Shizuka, yang menikmati keributan tadi.
Setelah akhirnya menjadi tenang, Ruth sedikit memerah karena kesalahpahamannya sendiri sebelum berdehem. Dia menenangkan diri dan kembali menatap Koutarou.
“Jadi kenapa ana mulai kerja paruh waktu lagi, Satomi-sama?”
“Benar, aku juga mau tahu.”
“Ah, itu karena aku butuh lebih banyak uang di akhir tahun ini.”
Koutarou segera menjawab; itulah jawaban yang akan dia ucapkan pada awalnya.
“Pekerjaan penggalian yang biasanya diliburkan selama akhir tahun, jadi aku butuh kerjaan lain selama liburan itu.”
“Biaya hidup, ya? Jawaban paling membosankan.”
Shizuka menghela napas dengan kesal. Melihat itu, Koutarou tersenyum kecut ke arahnya.
“Aku tidak peduli kalau itu membosankan. Gaya hidupku yang jadi taruhannya.”
“Satomi-kun, apa kamu tidak mau lebih menikmati masa mudamu?”
“Entahlah, bagiku...”
“Koutarou, jika kamu mau, saya akan berusaha memenuhi harapanmu.”
“Kiriha-san, kau diam saja!”
“Oh, seram.”
Koutarou memberi tatapan marah ke arah Kiriha, tapi Kiriha tidak menunjukkan tanda-tanda menyesal.
Really, becoming friends with her is a lot more troublesome...
Sambil melihat senyuman Kiriha yang anehnya manis, Koutarou menghela napas di dalam pikirannya.
“Hmm...”
melihat Koutarou dan Kiriha bersikap seperti itu, Sanae menarik suatu kesimpulan.
Kiriha memang tidak berencana melakukan sesuatu pada Koutarou...
Gelombang spiritual yang dipancarkan ketika Koutarou dan Kiriha mengobrol sangat mirip dengan gelombang spiritual saat Koutarou bicara dengan Kenji. Bukan hanya gelombang spiritualnya saja, tapi juga makna di balik kata-kata yang diucapkan. Jadi Sanae menarik kesimpulan kalau hubungan antara keduanya telah berubah menjadi lebih baik.
Kalau begitu membiarkan mereka berdua kayaknya tidak apa-apa. Malahan...
Sanae mulai tersenyum seperti biasanya dan melompat ke punggung Koutarou.
“Koutarou, kau harus menikmati masa mudamu denganku.”
“Jangan bercanda, apa maksudnya itu?”
“Jangan pikirkan hal-hal sepele♪
Ketika Sanae menempel di punggung Koutarou, dia merasa ingin meniru Kiriha.
“Ngomong-ngomong, apa kegiatan kalian semua di hari Natal, atau malahan, selama liburan musim dingin?”
Dengan Sanae yang masih ada di punggungnya, Koutarou menatap setiap gadis yang ada di kamar 106.
“Latihan buat drama, pastinya. Tentu saja, kau juga ikut.”
“Membantu yang mulia, dan latihan bela diri.”
“Ikut aktivitas klub cosplay dari tanggal 29 sampai malam tahun baru.”
“Sama seperti biasanya. Ah, tapi aku mungkin pergi main dengan Yurika!”
“Aku diundang ke pesta akhir tahun persatuan kos-kosan di malam tahun baru, dan mengunjungi kuil di hari tahun baru bersama gadis-gadis sekelas.”
“Saya harus mengadakan ritual pada malam tahun baru dan keesokan harinya.”
“...Begitu ya.”
Koutarou mengangguk setelah mendengar rencana semuanya.
Jadi semuanya kosong pas Natal ya... Kalau begitu sebaiknya aku merahasiakannya dengan baik atau semuanya akan berantakan...
Jika itu ketahuan, hanya masalah yang akan muncul, jadi Koutarou memutuskan untuk menyembunyikan rahasianya.
Sanae berbisik ke telinga Koutarou dengan wajah bingung setelah merasakan perasaan aneh Koutarou bercampur ke gelombang spiritualnya.
“Memangnya kenapa?”
“Tidak, bukan apa. Semuanya kelihatan sangat tertarik dengan hari Natalku, jadi aku penasaran apa yang telah kalian rencanakan di hari yang sama.”
“Hmm...”
Sanae tidak bertanya lebih lanjut. Dia hanya penasaran apa yang sedang terjadi, jadi dia tidak mengganggu Koutarou soal masalah itu.
“Jadi, Koutarou-”
“Ya?”
Untungnya, tidak ada lagi yang merasa keberatan dan topik pembicaraannya berubah dengan alami.
Pedang tradisional Ksatria Forthorthe lebih kecil dari pedang dua tangan tapi lebih besar dari pedang satu tangan. Pedang-pedang tersebut dibuat supaya ketika pengguna pedang memakai perisai, maka pedangnya bisa dipegang dengan satu tangan, dan ketika tanpa perisai, maka bisa dipegang dengan dua tangan.
Ketika mereka mengembangkan senjata api dan memasuki zaman modern, pedang dua tangan tidak lagi digunakan, serta pisau dan pedang satu tangan menjadi populer dan paling banyak diproduksi. Karena hal itu, orang hanya bisa melihat sebuah pedang tradisional di tangan bangsawan yang menghargai tradisi, atau perwira berpangkat tinggi yang mengenakan seragam formal.
Pedang berharga Saguratin di tangan Koutarou saat ini adalah salah satu pedang tradisional tersebut.
“Theia, pedang ini sedikit terlalu besar buat digunakan dengan satu tangan, kan?”
“Hal yang bisa kukatakan adalah kau akan terbiasa. Di drama selanjutnya, kau harus menggunakan pedang dan perisai secara bersamaan.”
“Aku akan mencobanya, tapi jangan berharap banyak.”
Saat ini, Koutarou sedang memegang Saguratin di tangan kanannya dan perisai besar di tangan kirinya sambil mengenakan replika baju besi Ksatria Biru. Penampilannya saat ini didasarkan pada penampilan Ksatria Biru selama perang berlangsung.
Dia kesulitan mengayunkan pedangnya saat mengenakan kostum itu. Sampai saat ini, dia selalu menggunakan pedang tersebut dengan dua tangan, jadi ini adalah kali pertama dia menggunakannya hanya dengan satu tangan. Karena itu, postur Koutarou ambruk setiap kali dia mengayunkan pedang berat itu. Bagi Koutarou, rasanya seperti mengayunkan tongkat bisbol dengan satu tangan. Tetapi, perisai itu dibutuhkan dalam adegan perang, jadi Theia tidak punya pilihan selain mengandalkan kerja keras Koutarou.
“Yang Mulia, apakah perisai itu harus benar-benar dipakai?”
Koutarou sedang kesulitan menggunakan perisai dan pedang di saat bersamaan, jadi Ruth merasa kalau memaksa Koutarou menggunakan perisai itu tidak diperlukan.
Pada kenyataannya, pergerakan Koutarou ketika memegang pedang dengan kedua tangannya sudah sangat bagus. Selain Koutarou yang terbiasa menggunakan pedang tersebut, fungsi pembantu tenaga dalam baju besi itu mulai menghafal pergerakan Koutarou sehingga dia bergerak jauh lebih tajam daripada ketika drama sebelumnya.
Dengan kata lain, membuang perisainya akan membuat Koutarou tampil lebih baik.
“...”
Theia melihat kembali penampilan Koutarou ketika dia mengayun-ayunkan pedangnya setelah Ruth berkata begitu.
Kata-kata Ruth memang ada benarnya...
Tidak ada orang di Bumi yang tahu betul tentang fakta sejarah Forthorthe. Hanya Theia dan Ruth yang tahu kalau sang Ksatria Biru menggunakan pedang dan perisai selama perang berlangsung, jadi tidak ada gunanya mengkhawatirkan hal itu. Menyuruh Ksatria Biru, bukan, Koutarou menggunakan perisai sebagian besar demi kepuasan Theia sendiri.
Tapi-
Meskipun begitu, Theia ingin Koutarou menggunakan perisai. Theia ingin dia mampu melakukan hal yang sama seperti Ksatria Biru.
“Bagaimanapun juga, aku punya harapan tinggi pada Koutarou.”
“Dalam hal apa?”
Merespons kata-kata Theia, Ruth berpose dengan pedang dan perisainya sendiri. Bila dibandingkan dengan tinggi badan Ruth, ukuran pedang dan perisai yang digunakannya cukup besar, tapi dia tidak kelihatan kesulitan dalam menggunakan kedua benda tersebut.
Pedang dan perisai yang Ruth gunakan adalah senjata modern otomatis yang diciptakan melalui sains yang canggih, berbeda dari pedang dan perisai Koutarou. Karena hal itu, Ruth sendiri yang tidak begitu kuat bisa bertarung di level yang sama dengan prajurit biasa. Ruth akan menjadi lawan latihan Koutarou.
“Dalam keksatriaannya yang patut dicontoh.”
“Demi menjadi Ksatria Biru?”
Ketika Ruth menanyakan pertanyaan itu, Theia tidak bisa langsung menjawab.
Apa jangan-jangan...
Di momen itu, Theia merasa sangat terguncang. Dia selalu melatih Koutarou untuk menjadi Ksatria Biru, tapi setelah Ruth mengatakannya keras-keras, Theia menyadari kalau dia sebenarnya tidak merasa begitu, yang membuatnya merasa terguncang.
Aku tidak mau Koutarou menjadi Ksatria Biru...?
Dia ingin Koutarou menjadi ksatria teladan. Tapi dia tidak mau dia Koutarou menjadi Ksatria Biru.
Dengan kata lain...
“Tidak. Aku mau dia melebihi Ksatria Biru.”
“Fufu.”
Mendengar kata-kata Theia, Ruth tersenyum.
Ketika anda berkata begitu, Satomi-sama telah menjadi keberadaan yang lebih penting dari Ksatria Biru bagi kita, yang mulia...
Ruth bisa memahami Theia karena dia telah menghabiskan bertahun-bertahun bersama dengan Theia seperti seorang kakak.
Theia tidak mau Ksatria Biru melebihi dirinya sendiri. Tapi, dia mau Koutarou melebihi Ksatria Biru. Tidak, yang lebih penting, apakah Theia pernah berharap sebesar ini pada siapa saja di sebelumnya?
“Jika itu Satomi-sama, saya yakin dia dapat melakukannya.”
“Ruth... kenapa kau berpikir begitu?”
Ruth tersenyum ketika Theia menoleh padanya dengan penuh tanda tanya. Theia ingin tahu alasan dibalik kepercayaannya kalau Koutarou dapat melebihi Ksatria Biru.
“Itu karena gelarnya bukanlah 'Ksatria Biru'.”
“Eh...?”
“Mustahil kalau Satomi-sama inferior dari Ksatria Biru. Orang itu kan ‘Ksatria Biru Theiamillis.”
Melihat Ruth menyatakan hal itu sambil tersenyum, Theia menurunkan bahunya. Dam seolah telah menyerah, ujung bibirnya naik dan dia juga tersenyum.
“...Itu tidak masuk akal, Ksatria Pardomshiha.”
“Hamba sadar itu. Tetapi, kebajikan seorang ksatria tidak diatur oleh logika.”
Theia dan Ruth saling tertawa setelah bicara formal satu sama lain. Tetapi, perasaan dalam kata-kata tersebut sama seperti perasaan yang dimiliki saudara kandung.
“Hei, Theia!”
Di momen itu, Koutarou yang sedang berlatih sendiri memanggil Theia.
“Aku tidak tahu kenapa, tapi baju besinya bersuara bip dan semacamnya! Sesuatu tentang keseimbangan berat!”
“...Bagaimanapun, kita masih punya jalan yang panjang.”
“Fufufu.”
Melihat Koutarou seperti itu, Theia dan Ruth kembali tertawa. Ketika mereka tertawa, Koutarou menjadi tidak sabar dan memanggil Theia lagi.
“Apa kau dengar? Hei, Theia!”
“Kalau begitu ayo.”
“Sesuai yang anda inginkan, tuan putri.”
Keduanya mulai berjalan ke arah Koutarou. Latihan hari ini baru saja dimulai.
Bagian 3
Latihan berpedang Koutarou selesai ketika tengah malam mulai menghampiri.
“Ruth, sudah cukup untuk malam ini.”
“Tapi sekarang masih belum terlalu malam.”
“Aku tidak keberatan. Biarkan dia tidur.”
Alasannya adalah karena Koutarou sudah jatuh tertidur.
Ketika mereka beristirahat sebentar, Koutarou duduk lalu ketiduran. Dulu, Theia pasti akan membangunkan Koutarou dan melanjutkan latihan, tapi hari ini, dia malah menyudahi latihan untuk hari ini.
“Apa tidak apa-apa?”
“Koutarou itu keras kepala. Jika kita membangunkannya dan bertanya, dia akan bilang kalau dia baik-baik saja.”
Theia tertawa kecil seraya jongkok di samping Koutarou dan menekan suatu tombol untuk melepas perlengkapan baju besi Koutarou.
Ketika Theia menekan tombol tersebut, suara udara tertekan yang dilepaskan terdengar saat baju besi Koutarou mengendur. Theia percaya kalau memakai baju besi begini akan membuat tidur Koutarou lebih nyaman.
Setelah memastikan kalau Koutarou benar-benar tertidur, dia pelan-pelan berdiri dan menoleh pada Ruth.
“...Tapi karena dia ketiduran seperti ini, dia pasti sangat kelelahan. Dia pasti kelelahan karena kerja paruh waktunya yang baru itu.”
“Iya. Saya juga berpikir begitu.”
Theia dan Ruth menatap Koutarou yang sedang tidur.
“Keberadaan kita pasti memberi tekanan pada gaya hidup Koutarou. Aku tidak mampu membangunkannya dan menyuruhnya terus berlatih.”
“Saya mengerti...”
Ketika mereka menatap Koutarou, keduanya mengingat kembali berbagai macam kenangan yang mereka buat sejak mereka tinggal di Bumi.
Bagi remaja biasa seperti Koutarou, kehidupannya tidak bisa dibilang mudah. Setelah direpotkan oleh keinginan para penjajah, dia masih bisa menjaga gaya hidupnya sendiri. Meskipun begitu, Koutarou dapat memenuhi harapan Theia dan yang lain.
“...Kau tidak perlu selalu memenuhi harapan semua orang, Koutarou...”
Theia menatap Koutarou dengan wajah menyesal, tapi di saat yang sama juga merasa berterimakasih.
Istirahatlah yang baik, ksatriaku...
Theia tersenyum ke arah Koutarou yang sedang tidur. Senyuman lembut yang sangat cocok dengan kata bangsawan.
“Yang mulia... anda sudah menjadi semakin dewasa.”
“Eh?”
Terkejut oleh kata-kata tadi, Thei langsung menoleh ke arah Ruth. Ketika dia menoleh, Ruth tersenyum lembut ke arahnya.
“Saya tidak percaya kalau yang mulia punya waktu untuk hal begini saat anda pertama kali datang ke planet ini.”
“...Benar juga.”
Saat itu, perasaan Theia untuk menjadi kaisar dan melindungi ibunya begitu kuat sampai-sampai dia percaya kalau dia tidak punya waktu untuk mencemaskan situasi maupun perasaan orang lain. Namun, setelah dia datang ke Bumi dan bertemu Koutarou dan yang lainnya, secara bertahap dia mulai berubah.
“Sekarang aku tahu. Seperti yang Koutarou bilang, aku ini tuan putri tidak berguna. Sudah jelas kalau Koutarou tidak akan bersumpah setia padaku.”
Tetapi, Theia yang sekarang berbeda dari Theia yang sebelumnya.
Perasaannya ingin melindungi ibunya masih belum berubah dari sebelumnya; namun, metode terbaik untuk melakukannya tidak hanya dengan menjadi kaisar.
Saat ini, daripada menjadi kaisar, Theia merasa kalau hal yang lebih penting adalah mendapat kesetiaan penduduknya. Menjadi kaisar hanyalah bonus tambahan saja.
Ruth bilang kalau aku sudah berubah, tapi... apakah Koutarou akan bersumpah setia padaku yang sekarang...?
Dia bisa bilang kalau itu adalah lelucon sesering yang dia mau, itu bisa terjadi dari waktu ke waktu ketika mereka menghabiskan waktu bersama. Tapi apa yang akan terjadi jika dia serius bertanya?
Jika dia bertanya, Koutarou mungkin akan menjawab. Tetapi, saat ini Theia tidak cukup berani untuk melakukannya. Dia menatap Koutarou yang sedang tidur. Dia akan bertanya ketika dia sudah tumbuh lebih dewasa, itulah yang dia putuskan di dalam hatinya.
“Aku benar-benar bersyukur kita datang ke planet ini.”
Bertemu Koutarou dan para penjajah lain, pertumbuhan Theia; kebetulan-kebetulan aneh itu telah melahirkan keajaiban.
“...Iya...”

Theia dan Ruth mensyukuri kebetulan-kebetulan tersebut; sebagai alternatif, orang bisa juga menyebut itu takdir.Top of FormBottom of Form

Rokujouma no Shinryakusha!? Jilid 7 Bab 2 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Marcellino Novaldo

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.