28 Maret 2016

Owari No Seraph : Ichinose Guren, Jyuurokusai no Catastrophe Jilid 2 Bab 7 LN Bahasa Indonesia



OWARI NO SERAPH ICHINOSE GUREN 16-SAI NO CATASTROPHE
JILID 2 BAB 7
PERTEMPURAN HIDUP MATI DI KEBUN BINATANG

Ueno.
Biasanya, pintu yang berfungsi sebagai Pintu Masuk Utara, Tokyo akan dipenuhi oleh kepadatan ribuan orang yang keluar masuk melalui pintu ini.
Kota di stasiun sebelah barat, adalah sebuah kota penuh kesibukan.
Di bagian barat itu, terdapat lapangan luas berdirikan museum, museum seni, dan juga kebun binatang di atasnya.
Namun, saat ini tidak ada siapa pun di situ.
Benar-benar sangat sunyi.

Guren memandang pepohonan dalam taman yang memberikan rona kehijauan kepada pusat kota. Pemandangan yang jarang bisa disaksikannya. Seraya mendengarkan suara dedaunan yang tertiup angin, dia bergumam.
“... Bahkan tidak ada suara burung. Apa mereka sudah kabur? Atau mereka sudah mati?”
Guren teringat kata-kata ‘racun’ yang didengarnya dari berita. Karena racun itulah, maka sekarang, kota ini diblokade. Dikabarkan juga, bahwa karena alasan itu juga, maka kereta hanya berlalu melintasi Ueno, tanpa berhenti di Stasiun Ueno.
Pada saat itulah, terdengar suara.
“Kalian, kuperingatkan, ya! Kalau kalian sampai mengintip kemari, aku akan membunuh kalian, tahu!”
Suara Mito.
Guren menoleh. Seharusnya Mito, Shigure, dan Sayuri, kini tengah berganti pakaian, mengenakan seragam tempur yang diberikan oleh Hiiragi. Mereka berganti pakaian, bersembunyi dibalik pohon besar yang ada di dalam taman.
“Ya, ampun. Mereka itu benar-benar lama sekali, ya.”
Guren berguman, seraya memastikan kembali seragam tempur yang kini telah digunakannya.
Seragam itu adalah seragam militer berwarna hitam, menyerupai seragam dari tentara Jepang zaman dahulu.
Kainnya, kemungkinan dibuat dari benang khusus yang dapat mencegah sihir menembusnya. Pada bahan pelapisnya, terdapat segala macam tanda sihir. Di belakang sabuk, telah disiapkan jarum tulup.
Guren mencoba menarik keluar masuk jarum itu, lantas bergumam.
“... Yah, persiapan Hiiragi tidak buruk juga.”
Pada saat itulah, dari belakang Guren, Goshi berkata.
“Tetapi, rasanya sedikit menakutkan, ya ..., tidak ada seorang pun di sini”
Guren menoleh ke arah suara. Di sana, Goshi dan Shinya telah berdiri. Keduanya pun telah mengenakan seragam tempur.
Shinya berkata kepada Goshi.
“Apa kamu pernah datang ke sini?”
Goshi menjawab dengan rasa terkejut.
“Ya, saya pernah. Tuan Shinya juga tinggal di Tokyo, bukan? Apakah Tuan Shinya belum pernah datang kemari?”
“Jadi, masalahnya karena itu? Tetapi, di sini juga terdapat singa, kok.”
“Ahaha. Kalau begitu, jika kita bisa selamat hari ini, mungkin aku akan coba main kemari.”
Shinya dan Goshi saling membicarakan hal yang menurut Guren konyol, sehingga dia mengacuhkannya. Guren lantas melihat-lihat kondisi sekitar.
Setidaknya, sebelum mereka berganti pakaian, mereka telah memastikan ada tidaknya kamera pengawas, atau penghalang sihir di daerah sekitar. Tetapi ....
“Cih, kalau aku tahu cewek-cewek itu akan ganti selama ini, lebih baik kubiarkan saja mereka menyusup dengan pakaian biasa—“
Namun perkataan Guren disela oleh Mito yang keluar dari balik pohon.
“Sudah selesai! Hanya kelamaan beberapa menit saja, kau terus menerus protes?  Kalau sifatmu begitu, kau tidak akan bisa populer di kalangan anak perempuan, kau tahu?”
Mito yang telah selesai mengenakan seragam tempur, berkata panjang lebar.
Sayuri dan Shigure pun keluar dengan mengenakan seragam tempur Hiiragi.

Shigure berkata.
“Maaf, telah membuat Anda menunggu, Tuan Gu—“
Guren memotong perkataan Shigure, dan berkata.
“Shigure, sih, tidak jadi masalah. Karena kau pengguna senjata rahasia, maka perlu waktu untuk persiapan. Yang jadi masalah itu dua orang bodoh sisanya.”
Guren pun melihat Mito dan Sayuri.
Sayuri melihat ke arah Guren, dengan wajah terlihat berdebar-debar seakan bertanya-tanya bagaimana sosoknya saat mengenakan seragam tempur ini?
“Em, em .... Seragam tempur Hiiragi manis juga, ya. Anu, apa saya cocok mengenakannya?”
“Suram.”
“Eh---! Tetapi, sosok Tuan Guren dalam seragam tempur sangat keren sekali! Membuat saya berdebar-debar melihatnya! Iya kan, Yuki-chan?”
Shigure mengangguk tanpa ragu mendengar itu.
Dari samping mereka,
“Apa maksud perkataan ‘bodoh’ tadi, hah? Apa maksudnya?”
Mito mulai gaduh.
Apa mereka benar-benar punya niat untuk pergi ke daerah misi? Padahal ada kemungkinan mereka akan mati di sana? Guren mulai meragukan itu di dalam hatinya.
“Yah, kalau menurut informasi, pasukan sebelum kita, yang dihabisi semua ...,  juga bisa maju sampai sini, tetapi ....”
Saat Guren mengatakan itu, dengan wajah serius Mito mengamati sekitar.
“Tetapi aneh sekali, ya. Bukan hanya orang, bahkan hawa keberadaan makhluk hidup pun tidak ada.”
Shinya lantas berkata.
“Kalau tidak salah, lubang seperti pusat ledakan  di foto  dari pesawat itu ke ....”
“... ke arah timur laut. Tetapi, menurut prediksiku, untuk melindungi lubang menyerupai pusat ledakan itu, mereka akan memasang beberapa lapis pelindung sihir, kan? Kemungkinan besar, begitu kita melewati tempat itu, maka serangan musuh, akan di mulai.”
Sayuri ikut berkata.
“Apakah dengan kekuatan yang kita miliki, kita akan bisa menyadari penghalang sihir yang ada?”
Seraya mengeluarkan benda yang menyerupai korek gas bertuliskan kutukan dari sakunya, Goshi berkata.
“Selain ilusi, aku juga ahli dalam sihir deteksi, sih—“
Namun, Guren mengangkat tangannya.
“Tidak perlu. Lagi pula, begitu kita maju, akan segera ketahuan. Tetapi, sebelum kita mencari tahu secara tuntas apa yang disembunyikan oleh Gereja Hyakuya, kita tidak akan kembali. Kalau begitu, pilihan kita hanya langsung maju saja.”
No plan?” (“Tanpa rencana?”)
Shinya bertanya, tampak terkejut.
Guren menjawab.
“Semakin banyak kita berpikir, kita akan semakin berada dalam permainan musuh. Dengan kecepatan gerak melebihi kecepatan reaksi musuh, kita akan memastikan apa yang ada di pusat target operasi, kemudian kita akan mundur.”
Mito lantas berkata setelah mendengar penyataan Guren.
“Benar-benar strategi yang terdengar sangat bodoh, ya.”
“Benar, kah?”
“Ya.”
“Kalau begitu, kita harus bagaimana? Membuat rencana saat tidak banyak informasi yang kita dapat, hanya akan mengganggu saja. Daripada kita terperangkap dalam pikiran, ‘seharusnya, mungkin seperti ini’ atau ‘ah, seharusnya tidak seperti ini’, dan membuat strategi bodoh dengan pemikiran yang hanya berdasarkan sebuah harapan, lebih baik langsung bunuh saja musuh di depan mata. Jika tidak terbunuh, maka kita akan kembali dengan selamat.”
Seraya mengatakannya, Guren kembali melihat pepohonan yang tumbuh di dalam taman.
Pepohonan yang berada di dalam kebun binatang.
Mito berkata dengan wajah khawatir dari belakang Guren.
“Guren.”
“....”
“Apa kau memiliki pengalaman menghadapi misi seperti ini sebelumnya? Kau terlihat sudah sangat terbiasa dengan hal ini ....”
Guren menggulirkan tawa di wajahnya. Mendengar pertanyaan itu, membuatnya ingin berkata, ya, tentu sajalah.
Saat dia menyusup masuk ke sekolah akademi Hiiragi, setiap hari dia sadar akan kematiannya. Dia selalu saja bertarung dalam kondisi di mana dia tidak tahu lagi apa yang sebenarnya telah terjadi.
Tetapi, tidak ada gunanya membicarakan hal itu saat ini.
Guren pun hanya mengacuhkannya. Dia lantas meletakkan tangan pada pangkal katana di pinggangnya. Dia keluarkan jam saku anti peluru, anti serangan, anti medan magnetik, dan juga anti kutukan dari saku, lalu membukanya.
Sebelum meninggalkan sekolah, semua orang telah mencocokkan waktu di jam itu.
Detik jarum jam bergulir.
Jam sebelas, lebih dua puluh sembilan menit, dua puluh detik.
Tiga puluh detik.
Empat puluh detik.
“Sudah waktunya. Strategi pengalihan pasukan Hiiragi di timur laut sedang dimulai. Kita langsung maju bersamaan dimulainya strategi itu.”
Ekspresi tegang terlihat di wajah semua orang.
Guren melanjutkan.
“Perintahku sebagai komandan pasukan hanya satu. Dengarkan. Ingatlah ini baik-baik. Jangan pikirkan yang lain. Meskipun kalian memikirkannya, akan percuma.”
Lima puluh detik.
“Akan kukatakan perintahku---------jangan sampai kalian mati.”
Lima puluh lima detik.
“Nah, ayo mulai ....”
Pada saat itu, bergema suara ledakan.
Dari langit di sisi timur laut.
Terdengar suara seperti helikopter ditembak jatuh.
Namun, mereka tidak melihat ke arah itu.
Meskipun dengan suara kecil, namun memastikan semua orang mendengarnya, Guren berkata,
“Misi kita dimulai”
Lalu mereka mulai berlari.
¨

Kebun binatang ada tepat di depan mereka.
Di tengah perjalanan, mereka tidak tahu apakah pelindung sihir terpasang atau tidak. Dan lagi, kemungkinan keberadaan mereka pun sudah diketahui.
Namun, Guren dan kawan-kawannya terus berlari.
Mereka lompat, melewati dinding yang mengelilingi kebun binatang.
Sesuai perkiraan mereka, di dalam kebun binatang pun tidak terasa hawa kehidupan.
Hanya kesunyian mencekam yang terasa, disertai bau menyengat hidung.
“... Bau apa ini?”
Mito bertanya.
Shinya menjawab dengan suara kecil.
“Ini bau darah.”
Seharusnya di depan mereka terdapat beberapa kandang monyet. Tetapi, tidak ada satu pun monyet di sana. Hanya kandang berlumuran darah merah pekat yang terlihat. Bahkan lantainya pun berwarna merah pekat. Kandang terlihat berusaha dibengkokkan dari luar oleh orang yang entah siapa itu, sehingga tidak lagi  bisa menahan monyet-monyet di dalam kandang.
Walau kini sudah tidak ada seekor monyet pun yang harus dikandangkan.
Goshi mengangkat suara.
“Apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini?”
Mana mungkin ada yang tahu jawaban dari pertanyaan Goshi. Karena untuk mencari tahu jawaban itulah, mereka datang ke sini.
Seraya terdiam, Guren memikirkan rute menuju lokasi lubang menyerupai pusat ledakan, yang tergambar di foto udara. Pusat ledakkan itu berada di pusat taman sebelah barat, di dalam kebun binatang.
Setelah ini, mereka akan sampai di depan kandang hewan-hewan yang dijadikan tontonan. Lalu, apakah mereka harus mengitari kandang itu dari sisi utara? Atau dari sisi selatan?
Atau lebih baik, mereka langsung saja melompat melewati kandang, dan langsung menerjang maju?
“....”
Guren tidak sempat memikirkannya.
Cukup maju menempuh rute yang tersingkat.
“Ayo!”
Guren mulai berlari.
Mereka mengitari kandang monyet yang berlumuran darah dari samping,  dan tiba di area kandang gajah. Jika berhasil melewati area kandang beruang, seharusnya mereka akan tiba di lokasi tujuan.
Namun, tidak ada satu pun hewan di kandang manapun.
Hanya lumuran darah yang terlihat.
Darah berjumlah luar biasa.
Bahkan jasad pun tidak ada.
Juga hawa keberadaan makhluk hidup.
Benar-benar sebuah kesunyian yang tidak akan membuat orang mengira, ini adalah kebun binatang di siang hari.
Suara pertempuran pun sama sekali tidak terdengar. Setelah suara ledakan pertama di timur laut, seharusnya strategi pengalihan dilancarkan.
Apakah mereka semua telah dihabisi? Ataukah ada semacam penghalang sihir yang menghalangi suara dari luar dan dalam kebun binatang?
Apapun yang terjadi, Guren dan pasukannya sudah tidak memiliki banyak waktu.
Begitu melewati lapangan luas yang menjadi kadang beruang, Guren dan pasukannya tiba di target lokasi.
Lokasinya berada di antara area kandang burung bangau dan area bersama kandang singa - harimau.
Di sana terdapat lubang besar. Besarnya lubang, bahkan membuat orang bisa memahami betapa besar dan dalamnya lubang galian tersebut, hanya dengan foto udara. Namun, mereka tidak bisa memahami, kekuatan macam apa yang menghasilkan lubang seperti itu.
Guren melihat ke dalam pusat lubang galian itu.
Pada saat itulah, untuk pertama kalinya dia melihat sosok makhluk hidup.
Ada seekor harimau.
Dari belakang Guren, Sayuri bersuara terkejut.
“Ah! Itu harimau!”
Tubuh harimau itu besar. Jika harimau sebesar itu berada di luar kandang, orang biasa pasti akan menangis dan menjerit ketakutan----------tetapi, di sini tidak ada satu pun orang biasa tersebut.
Harimau itu mendongak ke arah mereka. Terdapat bercak darah di sekitar taring besar yang tumbuh di mulutnya.
Goshi bersuara.
“Apa dia yang memakan hewan-hewan lainnya?”
Itu tidak mungkin. Pikir Guren. Sampai mereka tiba di tempat itu, tidak ada satu pun hewan terlihat. Dalam perjalanan ke tempat itu, seharusnya mereka melewati beberapa puluh ekor monyet, beberapa ekor gajah, burung bangau, beruang, dan juga singa. Tidak mungkin seekor harimau, menghadapi mereka semua.
Lagi pula, ukuran tubuhnya bukan tandingan hewan-hewan itu.
Dengan nada bersuara sangat tenang, Shinya berkata.
“Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”
Pada saat itulah sang harimau mengaum. Suara auman keras yang bisa membuat tubuh bergetar mendengarnya. Namun, tidak ada seorang pun di antara Guren dan kawan-kawannya yang mengkhawatirkan hal itu.
Shigure berkata.
“Kalau di sini adalah lokasi percobaan Gereja Hyakuya, seharusnya ada bangunan untuk itu. Bagaimana kalau kita mencari bangunan itu?”
Harimau itu kembali mengaum. Dia mengaum keras dengan suara yang terdengar sangat ketakutan. Sepertinya, dia merasa ketakutan oleh sosok Guren dan kawan-kawannya.
Guren menatap mata harimau itu.
Shinya berujar.
“Oi, Guren. Beri perintah, dong. Yang jadi komandannya kamu, bukan?”
Namun Guren tidak menjawab.
Dia hanya membalas tatapan tajam harimau kepadanya, dan ....
“Apa ..., harimau itu hidup?”
Ujarnya tiba-tiba.
“Eh?”
Shinya berjalan ke sampingnya, lantas melihat si harimau.
Guren pun kembali melihatnya. Bola mata harimau itu berwarna putih kering dan terlihat keruh.
Kembali, pada saat itu.
“Goarrrrhh”
Si harimau mengaum. Dari mulutnya, lidah menjulur keluar. Bukan! Dalam sekejap Guren dan Shinya langsung menyadari bahwa itu adalah ujung dari semacam benda tajam berwarna putih.
Namun, saat Guren dan Shinya menyadarinya, benda tajam itu sudah melesat mengincar tengkuk leher Mito, dan ....
“Takkan kubiarkan!”
Guren langsung menarik katananya.
Dia tebas benda tajam itu dengan katananya.  Terdengar suara melengking, akibat dua benda logam berbenturan. Meskipun Guren tidak bisa menghentikannya secara penuh, dan hanya bisa menghindari serangan itu dengan mengarahkannya ke samping, namun lengannya bergetar hebat karena serangan yang diterimanya.
Serangan itu membuat Guren sadar, bahwa sesuatu yang ada di dalam harimau itu adalah----------musuh yang sangat berbahaya. Kemungkinan besar, orang yang bisa menandingi serangan itu adalah-----
“Shinya, kau bisa melihat serangannya?”
“Mungkin.”
“Kalau begitu, kau dan aku yang akan maju di depan.”
Mito berkata.
“Hei, bagaimana dengan kami?”
“Lindungi bagian belakang! Sayuri, Shigure!”
Kedua pelayan Guren itu, lantas,
“”Baik!””
Guren sudah mulai berlari saat kedua pelayannya menjawab demikian. Seraya berlari, Guren berniat untuk memotong dari samping, benda tajam yang terjulur keluar mulut harimau itu. Namun, saat Guren hendak melakukannya, benda itu kembali masuk ke dalam mulut harimau.
Harimau itu melihat ke arah Guren, dengan bola mata berwarna putih keruh. Tidak terasa hawa kehidupan dalam bola mata itu. Sebuah kunai kemudian melesat dari belakang Guren, mengincar bola mata itu.
Itu adalah senjata rahasia yang digunakan Shigure.
Jika harimau itu bergerak ke arah Guren karena menghindari serangan itu, maka Guren berniat akan segera memenggal kepala harimau itu.
Namun, harimau itu tidak menghindari serangan kunai yang datang. Dia biarkan saja, bola mata putih keruhnya, tertancap kunai. Tetapi, tidak ada darah yang mengalir keluar. Sepertinya, dia juga tidak merasa kesakitan. Guren pun sudah memikirkan kemungkinan harimau itu akan bereaksi demikian.
“Akan kupenggal kepalamu, tidak peduli makhluk apa kau ini!”
Harimau itu pun lantas melihat ke arah Guren, dan menghentakkan kaki depannya.
Namun, Guren tidak menghindari hentakan kaki harimau itu.
Karena tanpa disadari, Shinya telah melempar kertas mantra yang langsung menempel ke kaki depan harimau.
“Meledaklah ....”
Dari belakang Guren, terdengar suara Shinya merapalkan mantra. Kertas mantra pun meledak. Kaki depan harimau itu menghilang.
Bersamaan dengan Shinya melakukan itu, Guren melompat. Ia ayunkan katananya, lalu dia hunuskan, menembus daging leher si harimau. Saat tengah terus menurus menekankan katananya menembus daging harimau, Guren merasa ada semacam benda keras di dalamnya. Tetapi, ia acuhkan, dan terus memotong leher harimau itu. Pedang iblis pemberian Kureto itu benar-benar sangat tajam.
Kepala harimau itu pun terpotong.
Namun, tidak ada setetes darah pun yang keluar.
Bukan hanya itu. Dari tubuh harimau tanpa kepala itu, muncul semacam makhluk aneh.
Monster berbentuk manusia buatan berkulit putih, terbuat dari plastik. Ada beberapa buah kaki, tergantung tidak karuan, dengan ujung menyerupai benda tajam.
Monster ini jauh lebih besar daripada harimau tadi. Bukan hanya itu. Yang mengherankan entah bagaimana, monster ini bisa berada di dalam tubuh harimau tadi. Karena besarnya makhluk ini, lebih dari lima kali besar harimau tadi.
Salah satu kaki monster itu menghalau kepala harimau, dan langsung menyerang Guren yang ada di belakangnya.
“Urgh!”
Guren segera menahan serangan itu dengan katananya. Benturan membuat kaki monster itu terhentak jatuh ke lantai.
Namun, serangan monster itu tidak berhenti. Dengan kaki lainnya, monster itu kembali menyerang Guren yang kehilangan keseimbangan tubuh, akibat benturan tadi. Agar serangan itu tidak mengenai jantungnya, Guren menyingkir selangkah ke samping. Namun ternyata, gerakan itu belum cukup untuk menghindari serangan sepenuhnya. Bahu Guren terkena serangan kaki monster itu.
“Urgh!”
Monster itu kembali mengangkat kakinya. Serangan ini tidak akan bisa dihindari oleh Guren.
Guren mendongak melihat kaki moster yang akan menyerangnya.
“Sial. Bisa-bisa aku mati—“
Namun, pada saat itu,
“Sebelah sini!”
Terdengar suara Mito. Dengan kekuatan luar biasa, dia tarik Guren dari belakang punggungnya. Tubuh mereka pun terlontar, sempat berputar dua kali di udara, sebelum akhirnya mendarat ke tanah.
Guren lalu melangkah mundur bersama dengan Shinya dan Mito. Mereka lantas melihat monster aneh itu, dengan wajah terkejut seakan melihat hal yang tidak bisa mereka percaya.  
Mito berujar.
“Mo-monster macam apa itu ....”
Shinya menanggapi.
“Entahlah. Tapi, sudah pasti itu adalah monster yang tidak bisa dihadapi dengan kekuatan kita. Kalau aku terkena serangan terakhir yang tadi mengenai bahu Guren ..., sudah pasti aku akan mati.”
Bahu Guren terasa sangat nyeri. Darah pun mengalir deras. Akan mustahil melanjutkan pertarungan, jika Guren tidak mendapatkan perawatan. Namun di saat kondisi seperti ini, mereka tidak punya waktu untuk merawat luka yang ada.
“Tuan Guren!”
Terdengar teriakan Sayuri memanggilnya, diiringi dengan lemparan beberapa kertas mantra di antara Guren, Shinya, Mito dan monster itu. Sejurus kemudian, kertas mantra itu meledak. Asap pun membumbung, menghalangi jarak pandang.
Pada saat bersamaan, Goshi menggunakan ilusinya. Dia menyalakan beberapa korek api, mencampurkannya dengan asap yang ada, sehingga menghasilkan asap yang membuat lawan terperangkap dalam ilusi. Goshi lantas berlari mendekat ke tempat Guren dan yang lainnya.
“Oi! Apa menurut kalian ilusi akan efektif untuk melawannya?!”
Mito berteriak membalas.
“Mana kutahu! Apa pun tidak masalah. Lakukan saja!”
“Sudah kulakukan!”
Goshi menjentikkan jarinya beberapa kali. Kombinasi beberapa suara. Sangat sederhana, namun itu adalah ilusi dengan kekuatan mempengaruhi luar biasa.
Sepertinya ilusi itu efektif. Di seberang asap, monster itu mulai bertarung melawan sesuatu yang tidak terlihat. Meskipun monster itu tidak menyerang ke arah Guren dan pasukannya, namun dengan kecepatan serangan monster itu, sangat tidak mungkin untuk didekati.
Pada saat itu, Shigure mendekat ke arah Guren. Dilihatnya bahu Guren yang terluka. Wajah Shigure memucat. Dia pun lantas berkata.
“Tu-Tuan Guren .... Luka Anda harus di rawat—“
“Bakar saja. Jika dibakar, maka bisa menghentikan pendarahannya. Kita tidak punya waktu untuk merawatnya.”
Seraya mengatakan itu, Guren tidak peduli lukanya. Dikeluarkannya beberapa kertas mantra dari saku di bagian dadanya. Lalu, disobeknya kertas mantra itu dengan katananya. Kemudian, seluruh kertas mantra itu dibasahi dengan menggunakan darah yang keluar dari bahunya.
Melihat itu, Shinya berkata.
“ ... Wah, itu kan ...,  mantra shiketsutou? Mantra pedang darah kematian. Mantra itu ..., bukannya mustahil dipakai dalam kondisi sekarang, ya?”
Apa yang Shinya katakan memang benar.
MantraShiketsu. Itu adalah mantra terlarang yang jika gagal dalam melakukannya, maka tubuh Guren juga akan hancur. Kemungkinan kegagalan dalam melakukannya, juga sangat tinggi.
Mantra itu akan mengubah darah pengguna mantra menjadi racun. Kemudian, jika dalam waktu lima menit pengguna mantra bisa merapalkan mantra dan bisa menebas target pedang berdarah kematian itu sebanyak sembilan kali, maka racun akan mengelilingi musuh, dan secara pasti akan membunuhnya. Itulah cara kerja mantra tersebut.
Namun, jika dalam lima menit sang pengguna mantra tidak dapat membunuhnya, mantra itu akan berbalik kepada penggunanya. Membuat darah penggunanya menyembur keluar dari seluruh tubuh, dan dia akan mati.
Mantra yang bagaikan pisau bermata dua---------Jarang sekali ada orang yang menggunakannya. Itu karena biasanya, jika lawan berhasil ditebas sebanyak sembilan kali dengan pedang, maka lawan pasti akan mati. Lalu, untuk apa, penggunanya sampai mau menanggung resiko sebesar itu demi bisa memberikan kutukan kepada lawan?
Itu karena, mantra kutukan ini ada, dengan alasan untuk membunuh lawan yang tidak akan mati jika hanya ditebas dengan pedang. Begitulah penjelasan yang ada.
Shinya berkata.
“Lagi pula itu mustahil, kan. Kalau tidak salah, mantra ini dibuat untuk membunuh vampir, kan? Tapi, tidak pernah digunakan. Karena bukan hal logis jika kita bisa menebas vampir yang beberapa kali jauh lebih kuat secara fisik dan kemampuan dibandingkan manusia, sebanyak sembilan kali tebasan.”
“....”
“Dan, kali ini pun sama, Guren. Ayo kita mundur. Kalau kita terus menerus ada di sini, kita akan terbunuh.”
Guren menatap Shinya.
Apa yang Shinya pikirkan memang benar.
Mereka harus melarikan diri dari sini. Jika mereka menghargai nyawa mereka. Jika mereka tidak ingin kehilangan nyawa mereka di tempat ini, mereka harus melarikan diri.
Namun, Guren justru berkata.
“... Kalian semua, larilah. Pada saat itu aku akan—“
Bersamaan dengan perkataan Guren yang terpotong, Shigure menempelkan kertas mantra ke bahu Guren. Sekejap kemudian, kertas mantra itu terbakar. Membakar luka di bahu Guren, dan menghentikan pendarahan yang ada. Rasa sakit yang terasa, spontan membuat Guren ingin memekik kesakitan, namun ditahannya.
Sayuri mendekat kepadanya.
“Tuan Guren, mari kita pergi. Sosok musuh sudah mulai terlihat. Jika kita kembali dengan informasi ini, orang-orang Hiiragi juga pasti akan memahaminya.”
Mungkin memang benar begitu. Apalagi, pasukan selain mereka, tidak berhasil kembali hidup-hidup. Jika mereka bisa kembali dengan membawa setidaknya, satu informasi saja, mungkin mereka akan mendapatkan sebuah kehormatan.
“....”
Tetapi, apa gunanya hal itu?
Untuk menambah informasi bagi Hiiragi.
Mengakhiri misi ini, tanpa mengganggu penelitian Gereja Hyakuya
Lalu, bagaimana dengan Ichinose?
Jika di sini mereka melepaskan monster itu dan tidak berhasil mendapatkan informasi mengenai penelitian yang dilakukan oleh Gereja Hyakuya, apakah ke depan, akan ada situasi yang menguntungkan Ichinose.
Guren memikirkan hal semacam itu, seraya memandang kepulan asap di depan matanya, yang semakin menghilang.
Di sinilah batasnya.
Apakah keinginannya terhadap kekuatan, yang ada jauh di dalam lubuk hatinya semenjak kecil itu sungguhan? Ataukah itu hanya sekedar pemainan anak kecil semata?
“....”
Guren mengangkat katananya.
“Oi, Guren. Hentikan bercandamu, dong.”
Shinya memperingatinya, namun Guren mengacuhkannya.
Akan kubunuh monster itu.
Akan kubawa pulang ke Ichinose.
Lalu akan kudapatkan informasi yang disembunyikan mati-matian oleh Gereja Hyakuya.
Jika serius ....
“Jika aku serius ....”
Aku pasti akan bisa.
Akan kubunuh monster ini. Lalu akan kubunuh Mito dan Goshi yang menjadi saksi kejadian ini. Kemudian aku akan berpura-pura semuanya telah mati, dan menghilang.
Itu tidak akan mencurigakan, bukan?
Lagi pula, pasukan lain juga tidak dapat kembali. Kalau begitu, seandainya kami tidak kembali hidup-hidup pun, tidak jadi masalah, bukan?
Karena itu,
“....”
Kalau mau kulakukan, sekarang saatnya.
Bunuh monsternya.
Bunuh Mito.
Bunuh Goshi.
Lalu, aku akan mendapatkan kekuatan.
“Oi, Guren. Perbuatan bodoh macam apa yang mau kau lakukan, dengan luka semacam itu?! Sudahlah, ayo kita lari bersama-sama!”
Ujar Mito.
“Benar sekali. Ilusiku juga sudah mulai dipatahkan. Posisi kita pun, mungkin sudah ketahuan. Kita harus segera kabur.”
Goshi turut berkata.
Guren melihat ke arah mereka berdua.
Mito tersenyum, menunjukkan ekspresi senang, mengira akhirnya Guren mau mendengarkan mereka.
“Nah, Ayo pergi. Kali ini aku yang akan menyelamatkan nyawamu. Nah, ayo ....”
Mito lantas mengulurkan tangan ke arah Guren.
Melihat uluran tangan itu, Guren,
“....”
Guren menggenggam pangkal katananya.
Mudah sekali membunuh mereka. Aku hanya perlu menebas lebar katanaku sekali saja. Mereka tidak akan bisa menghindar atau bereaksi, kan? Bodohnya mereka, mau percaya kepada orang dari Ichinose.
Shinya seakan menyadari sesuatu. Dia menatap ke arah Guren. Dengan tatapan dingin bola matanya, dia menatap tangan Guren yang menggenggam katana. Kemudian, dengan terlihat bosan ....
“Ah, begitu, ya. Jadi ada perkembangan ke arah itu, ya ....”
Sepertinya, apa yang dipikirkan oleh Guren dapat dimengerti oleh Shinya.
Namun, Shinya tidak menghentikan Guren. Bukan. Shinya tidak harus menghentikan Guren.
Jika kesempatan ini kubiarkan lolos, maka hari di mana aku bisa membalas Hiiragi yang sangat berkuasa, tidak akan datang, bukan?
Kalau aku serius.
Jika aku benar-benar menginginkan kekuatan yang besar, maka ....
“Aku akan ....”
Namun, Mito mengulurkan tangannya, menyentuh lengan Guren yang mengenggam katana.
“Nah, singkirkanlah senjatamu ....”
Guren justru menghalau tangan Mito, dan ...
“... jangan sentuh aku! Aku tahu. Kita mundur dari sini.”
Saat Guren berkata demikian, mantra Shiketsupun terhenti di tengah-tengah, tanpa terselesaikan.
Senyum tipis pun tersungging di bibir Shinya.
Mito tersenyum penuh rasa bahagia.
“Syukurlah, kau mau mengerti. Nah, ayo kita segera pergi.”
Pada saat Guren mengangguk setuju dengan hal itu ....
“Wah, wah .... Apa-apaan itu? Jangan-jangan, kalian benar-benar mau mundur dari sini?”
Terdengar suara seorang anak perempuan.
Saat memikirkan suara itu, Mito tiba-tiba dipukul dari belakang, lantas jatuh kehilangan kesadaran. Tidak hanya itu. Goshi, Sayuri dan Shigure pun tiba-tiba juga diserang, dan terjatuh tidak sadarkan diri.
Hanya Shinya yang dapat mengimbangi serangan yang ada.
“Sial, kena—“
Tapi, kata-katanya terhenti.
Tangan ramping seorang anak perempuan mencekik leher Shinya. Seraya berusaha mati-matian melepas cekikkan di lehernya dengan kedua tangannya, Shinya berkata.
“... Mahiru, kenapa ..., kamu melakukan ..., ini? Apa ..., yang sebenarnya ingin kamu lakukan?”

Mahiru lah yang berada di sana.
Sosok dengan rambut abu-abu panjang yang sangat jarang ditemui. Bola mata yang lebar. Wajah yang menawan, dan senyum penuh rasa percaya diri.
Hingga saat ini, Mahiru masih mengenakan seragam sailor  SMA Shibuya. Meskipun seharusnya dia telah membuang Hiiragi, namun dia masih mengenakan seragam sailor, dengan membawa pedang Jepang yang tergantung di pinggangnya.
Mahiru berkata.
“Jangan melawan, Shinya. Kalau aku salah, dan sampai membunuhmu, bagaimana?”
“Urgh .... Ceritakanlah kondisimu. A-aku akan jadi kekuatanmu—“
Namun, dengan tersenyum Mahiru berkata.
“Sayang sekali. Kau itu, tidak cukup. Nah, tidurlah.”
Mahiru lantas memberikan kekuatan pada cengkeraman tangannya. Shinya pun kehilangan kesadaran. Kekuatan menghilang dari seluruh tubuhnya, dan dia lantas terjatuh ke tanah.
Guren melihat Shinya yang terjatuh, lantas berkata kepada Mahiru.
“Hah ... Bukankah, katamu kita tidak akan bertemu sampai dunia ini hancur nanti?”
Mahiru tersenyum mendengar itu, kemudian melihat ke arah Guren.
“Apa kau senang bertemu denganku?”
“Tidak.”
“Oh, ya? Aku, sih, senang sekali bisa bertemu denganmu .... Tetapi, aku datang bukan untuk ..., menemuimu”
“Apa maksudnya itu?”
Mahiru kemudian berkata.
“Maksudnya, aku hanya kebetulan bertemu denganmu. Aku ada keperluan di sini.”
Guren lantas mengamati sekelilingnya. Kelihatannya, meskipun Goshi kehilangan kesadaran, ilusi miliknya masih terus berlanjut. Dan di seberang kepulan asap yang diciptakan oleh Sayuri, monster itu masih terus bertarung melawan musuh yang tidak terlihat. Tetapi, sebentar lagi efek dari ilusinya pasti akan memudar. Jika kesadaran dari pengguna mantranya menghilang, efek ilusi pun akan semakin cepat memudar.
Guren menatap ke arah monster itu, dan berkata.
“Yah, itu wajar, sih. Kau ini, kan, komplotan Gereja Hyakuya. Lalu, kau datang untuk menghapus percobaan Gereja Hyakuya yang gagal?”
Mendengar itu, Mahiru menatap Guren dengan wajah kebingungan, lantas berkata.
“Aku komplotan Gereja Hyakuya? Aneh sekali. Bukankah lewat pesan sudah kukatakan—“
“Lewat Shinoa, kan?”
Guren menyebut nama gadis kecil yang merupakan adik Mahiru.
Mahiru mengangguk.
“Yap. Seharusnya, Shinoa sudah menyampaikannya.”
“Tentang ..., kau yang akan mengkhianati Gereja Hyakuya?”
“Ya.”
“Lalu, kau ini ada di pihak mana?”
“Ahaha.”
“Dengan tujuan apa kau bertindak?”
Mahiru tertawa mendengar pertanyaan itu. Tertawa yang nampak bahagia. Tawa yang sangat manis, dan sangat mempesona. Tangannya yang ramping, dengan lembut meraih lengan Guren. Ia lantas menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian, seraya menunjukkan rasa simpati, disentuhnya luka di bahu Guren yang tadi telah dibakar untuk menghentikan pendarahan.
“Pihak di mana aku berada ..., adalah pihak yang sama denganmu, Guren. Siapa pun tidak akan mengganggu lagi. Mengganggu saat-saat bersama dengan orang yang kita sukai. Mengganggu kebebasan kita. Tempat di mana aku bisa mendapatkan kekuatan, agar tidak ada yang mengganggu kita lagi.”
Guren menatap wajah Mahiru, lantas berkata.
“Di mana tempat itu?”
“Di sini.”
“Di sini itu di mana?”
Mahiru lantas mencengkeram kuat-kuat luka di bahu Guren. Rasa nyeri sangat kuat menyebar, namun Guren tidak peduli. Kemudian, dengan tangan lain, Mahiru menyentuh dan menekan dadanya.
“Aku ada di tempat, di mana kegilaan dan iblis bersemayam di lubuk hati. Dan kau juga sama, bukan, Guren?”
“....”
“Tetapi itu masih belum cukup. Hingga kau jatuh di kedalaman yang sama denganku, itu masih dan masih belumlah cukup.”
Jari jemari Mahiru yang mencengkeram luka di bahu Guren semakin bertambah kuat.
“Mengapa tadi ..., kau tidak membunuh anak gadis Jujou, dan Goshi yang hobi main-main itu? Bukankah tadinya kau mau melakukannya?”
Kuku jari jemari Mahiru menancap ke dalam luka Guren.
“Kau harus lebih tergila-gila karena rasa sesak. Kau harus segera merasa tergila-gila. Iblis suka dengan hasrat manusia, kau tahu? Agar bisa terpilih oleh  Iblis....”
Pada saat itu, Guren memegang tangan Mahiru.
“Ah ....”
Saat Guren menyentuhnya, wajah Mahiru nampak bahagia.
Namun, Guren mengacuhkan wajah itu dan berkata.
“Jalanku dan jalanmu itu ...”
“... sama, Guren.”
Mahiru menyela perkataan Guren.
“Semua juga sama. Karena pada akhirnya, kita akan mati. Manusia bisa mati dengan mudahnya. Apakah ada artinya dia hidup? Atau justru tidak memiliki arti?  Seraya memikirkan pertanyaan bodoh semacam itu, waktu dengan cepat telah berlalu. Lalu pada saat itu, bagaimana kita harus hidup? Jalan apa yang harus kita tempuh? Ahahahaha. Padahal, pada akhirnya kita akan mati. Apa kau ingin berbicara tentang apa arti mengambil jalan memutar menuju kematian?”
Pada saat itu, Mahiru menarik pedang di pinggangnya.
Pedang berbentuk katana  yang keseluruhan berwarna hitam. Langit di sekitar berubah menjadi hitam pekat, memberikan hawa yang seakan membawa malapetaka.
Itu adalah senjata yang terlahir dari hasil perkembangan penelitian tentang ilmu kutukan Kiju. Kijubisa digunakan untuk menyegel dewa iblis yang disebut Shinki di dalam senjata. Mahiru berkata, apapun yang terjadi dia pasti akan menyempurnakan penelitian itu.
Mahiru menancapkan katananya pada tanah di depan mata Guren.
Dalam sekejap, beberapa meter tanah di sekitar tempat Mahiru menancapkan katananya berubah warna menjadi hitam pekat. Kutukan yang ada menyebar. Kutukan itu bahkan menyentuh kaki Guren, yang lantas dalam sekejap hendak menyebar ke seluruh tubuh dan pikiran Guren.
“....”
Guren merapalkan beberapa kalimat mantra di dalam benaknya, mencoba menangkal kutukan yang menyebar.
Melihat itu, Mahiru berkata.
“Ah, biar kuberitahu. Kalau hanya dengan mantra Penolak Kutukan, itu tidak akan bisa menghilangkan kutukan saat kau menyentuh katana ini, lo.”
Guren menatap tajam Mahiru, mendengar hal itu.
“Kenapa aku harus menyentuh katana itu?”
“Itu karena, kau menginginkan kekuatan, bukan?”
“Aku tidak akan melakukan apa yang kau mau. Aku tidak suka menari di atas tangan orang la—“
“Kau salah, Guren. Bukan di atas telapak tanganku. Kaulah yang memutuskannya. Dan kau tidak menolak hal itu. Menolak hasratmu terhadap kekuatan. Keinginanmu terhadap kekuatan. Karena kau itu ..., sama denganku. Kita sama-sama tinggal di dalam lubang yang sangat dalam.”
Pada saat itu.
“Gooooaaarrg!”
Suara mengaum menggema.
Monster itu berhasil meloloskan diri. Ilusi yang ada telah leyap.
Mahiru mendongak melihat monster itu, lantas tertawa.
“Ahaha. Tuh, kan. Pada akhirnya, kau tidak punya pilihan. Jika kau tidak mencabut katana ini, kau tidak akan menang melawan Chimera yang diciptakan dari gabungan genetik Empat Penunggang Kuda. Kalau kau kalah, kau akan mati. Lalu, orang-orang yang sepertinya merupakan pasukanmu dan tidak sadarkan diri di sekelilingmu, juga akan di bunuh.”
Tap. Tap. Tap.
Dengan langkah yang ringan, Mahiru melangkah mundur ke belakang. Seraya tersenyum santai, dia berkata.
“Lalu, aku akan melihatmu, Guren. Pilihan apa yang akan kau ambil? Apa kau benar-benar menginginkan kekuatan? Ataukah selama ini, hasratmu itu hanya sebuah permainan anak-anak saja?”
“....”
“Yah, aku tahu, sih, hasilnya akan bagaimana. Kau akan terjatuh. Terjatuh menginginkan kekuatan. Karena kau sama denganku. Karena itu, aku suka padamu, Guren. Aku sangat menyukaimu. Ahaha.”
Ujar Mahiru.
Di depan matanya, terlihat  Chimera yang terlahir dari hasil gabungan genetik Empat Penunggang Kuda.  Itu adalah kata-kata yang asing bagi Guren. Chimera itu kini menyadari keberadaannya.
Kemungkinan besar, akan mustahil bagi dirinya saat ini untuk menang melawan monster itu. Seperti apa struktur tubuh musuhnya? Mantra apa yang mempan terhadapnya? Apa kelemahannya? Dengan melihat kemampuan fisik luar biasa milik si monster tanpa mengetahui hal-hal seperti itu, sudah mustahil Guren akan menang melawan monster itu.
Jika Guren mati di tempat ini, maka dia tidak akan bisa menyelamatkan teman-temannya.
Sayuri, Shigure, Goshi, Mito, Shinya.
Mereka semua yang kehilangan kesadaran dengan wajah bodohnya, akan mati semua.
“Saat ini aku ..., harus mendapatkan ..., kekuatan—“
Guren menatap katana hitam yang tertancap di tanah.  Dia bermaksud menyentuh ujung pedangnya.
Dari belakang Mahiru berkata.
“Benar. Cepat dapatkan kekuatanmu, dan berhentilah jadi manusi---ah, jangan, Guren! Jangan mendekat .... Kalau kamu melakukan hal itu, kamu tidak akan bisa kembali menjadi ma—diam! Diam! Sekarang lagi seru-serunya! Diamlah, aku!”
Mahiru lantas memukul-mukul dadanya.
Lalu kata-katanya terhenti.
Di dalam tubuh Mahiru, seakan ada dua kepribadian yang sangat bertolak belakang. Kejadian ini, sama dengan yang terjadi di serangan pada bulan April.
“Sebenarnya, mana Mahiru yang asli?”
Mahiru tertawa mendengar itu, dan membalas.
“... apa hubungannya hal itu dengan pilihanmu?”
Guren menyunggingkan tawa kecil dan menjawab.
“Tidak ada, sih.”
Kemudian, diambilnya pedang yang tertancap di tanah dengan tangannya.
Dalam sekejap.
Guren merasakan kekuatan luar biasa yang tidak terbayangkan memasuki seluruh tubuhnya. Kekuatan itu, terasa bagaikan kekuatan yang seharusnya tidak merasuki dirinya.
Bunuh.
Mengamuklah.
Rusaklah.
Hancurkan semuanya.
Pikiran Guren dipenuhi oleh keinginan kuat untuk merusak.
Kemarahan dan keputusasaan.
Kebahagiaan dan kesedian.
Semua hal itu bercampur menjadi satu. Hitam dan semakin hitam pekat. Segala sesuatunya kemudian bercampur.
Apa yang dikatakan Mahiru ternyata benar. Bahkan tidak ada waktu untuk merapalkan mantra penguat spiritual, yang berfungsi sebagai mantra penangkal kutukan.
Di bagian paling penting dalam tubuh-------di dalam jiwa yang sangat dalam, dipenuhi rasa benci. Kemudian di tengah-tengah semua itu, munculah sosok Iblis.
Meskipun disebut Iblis, namun penampilan mereka tidak berbeda dengan manusia. Sangat cantik. Menyerupai sosok manusia dengan tubuh androgini.
Tidak bisa dibedakan apakah ia perempuan ataukah laki-laki.
Guren hanya memahami bahwa sosok itu adalah Iblis. Iblisyang berada dalam tingkatan disebut Shiki.
Sang Iblis berkata.
Berkata seraya memberikan tawa yang menyedihkan.
Manusia itu sangat menyedihkan. Mereka langsung saja menginginkan kekuatan.
“....”
Tapi, pilihanmu itu salah, Guren. Ini adalah tempat yang tidak boleh kau datangi.
“....”
Yah, tapi hasratmu, serta rasa dahagamu terhadap kekuatan yang membuatmu gila, lalu kau jadikan itu sebagai umpan untukku ..., aku merasa senang dengan hal itu, sih ....
“....”
Apa kau ingin kekuatan?
Guren menjawab pertanyaan itu.
“Ingin.”
Meskipun kau harus kehilangan sesuatu untuk itu?
“Ya.”
Kau tidak perlu memiliki teman. Ini adalah jalan pertarungan. Siapa namanya? Sayuri? Shigure? Pertama, bunuh mereka dulu. Dari situlah kau bisa memulainya. Pertama-tama, lakukanlah hal itu.
“... Baiklah.”
Kalau begitu, lepaskanlah. Lepaskanlah kegilaan iblis <Kyogi> dari jiwamu, Ichinose Guren. Aku akan memberimu kekuatan!
Sekejap kemudian, semuanya menjadi hening.
Kesadaran Guren kembali kepadanya kondisi yang ada.
Di depan matanya terdapat Chimera dengan tiga buah kaki. Menghentak-hentakkan kakinya, berusaha membunuh Guren. Diri Guren yang sebelumnya, pasti tidak akan bisa menghindari serangan itu.
Tetapi ....
“Berisik.”
Guren menebaskan katana yang terdapat iblisdi dalamnya.
Kemudian, hanya dengan serangan itu saja, tubuh Chimera itu terpotong menjadi dua. Tidak hanya itu. Pemandangan di belakang tubuh Chimera juga, sekilas terlihat seakan terpotong sebagian.
“A~ha. Tuh, kan, ternyata kau memang hebat.”
Dari belakang Guren, Mahiru mengatakan hal itu dengan nada yang terdengar kesenangan.
Guren berbalik, menatap Mahiru.
Seperti yang diduga oleh Guren, Mahiru tertawa gembira.
“Fufufu~ Kau ingin membunuhku, kan? Kau tidak bisa mengontrol keinginanmu untuk menghancurkan, bukan?”
“....”
“Kau juga ingin membunuh semua teman-temanmu yang ada di sini, kan? Kau ingin mencabik-cabik organ dalam teman laki-lakimu. Ingin menyakiti teman perempuanmu. Ingin memenggal leher mereka. Inilah yang jadi permasalahan senjata ini, lo .... Penggunanya akan dirasuki oleh iblisdan kejiwaannya akan semakin dan semakin bertambah buruk—“
Guren mengayuhkan katananya ke atas. Lalu menebaskannya ke bawah. Pandangan matanya mengarah ke Sayuri dan Shigure. Guren hendak berusaha membunuh kedua pelayannya.
Mahiru melanjutkan perkataannya.
“Tapi, tidak apa-apa, kok, Guren. Jika kau membunuh kelima orang itu, maka hasratmu akan terpenuhi sesaat. Setelah itu, mari kita melangkah dan mencari lebih jauh cara menggunakan senjata iblis yang disebut Kiju ini. Jika berdua bersamamu, maka kekuatannya pasti akan sempurna. Dengan begitu, maka tidak akan ada lagi musuh. Tidak akan ada lagi yang mengganggu kita.”
Pada saat itu, kata-kata Mahiru terhenti sejenak, sebelum akhirnya dilanjutkannya kembali.
“Tapi, yah .... Intinya sekarang, bunuhlah mereka dahulu. Mari kita melangkah maju bersama-sama.”
Kata-kata Mahiru membuat kekuatan Guren yang menggenggam katana semakin bertambah.
Membunuh Shigure.
Membunuh Sayuri.
Membunuh Mito.
Membunuh Goshi.
Membunuh Shinya.
Guren bisa merasakan bagaimana kepuasan yang akan dia dapatkan saat berhasil melakukannya. Rasa kepuasan yang bisa merubah dunia. Rasa kepuasan di mana dia terlepas dan merusak semua hal yang selama ini menghentikannya. Seperti perasaan dan rasa cinta. Juga pemikiran nalar yang selama ini mengganggunya. Guren bisa mengerti betapa puasnya, jika hanya hasrat terhadap kekuatan, yang tertinggal di dalam dirinya.
Karena itu,
“Ah, begitu, ya. Jadi inilah kekuatan.”
Guren bergumam.
“Benar sekali, Guren. Itu adalah hal yang diinginkan olehku dan juga dirimu.”
Mahiru berkata demikian.
Guren berbalik, menatap Mahiru. Dia ingin menyiksanya lalu membunuhnya--------keinginan seperti itu bertambah kuat dalam diri Guren. Tetapi, yang paling mudah untuk dibunuh adalah dua orang itu. Yaitu, kedua orang pelayannya. Dua orang yang selalu menemaninya.
Iblisyang ada di dalam jiwanya berkata.
Lewatilah garis itu.
Garis.
Garis apa yang dimaksud? Pikir Guren sekilas dengan tidak sadarkan diri.  Garis sebagai manusia? Ataukah berhenti sebagai manusia dan menjadi Dewa Asura?
Tetapi, mungkin itu adalah hal yang diperlukan.
Untuk menghancurkan Hiiragi.
Untuk mendapatkan kekuatan dan juga kebebasan.
Tetapi, yang terpenting saat ini,
Hancurkan semuanya!
SangIblismemberi perintah. Guren menebaskan katananya. Pertama,  dia berusaha mengarahkan tebasan itu ke leher Sayuri.
Tetapi, pada saat bersamaan, tangan kiri Guren mengayuhkan pedang iblis Hakushipemberian Kureto. Meskipun saat ini, Hakushisudah tidak bisa disebut sebagai pedang iblis lagi, jika dibandingkan dengan pedang Iblisyang dibawa oleh Mahiru.
Guren mengayuhkan pedang itu.
Ditebaskan pedang Hakushi mengenai persendian tangan kanan Guren yang mengayuhkan katana, berusaha membunuh Sayuri. Tebasan Hakushisangat indah. Tanpa suara, dan juga tanpa rasa sakit. Tetapi, bisa terlihat dengan jelas, lengan Guren terpotong karena Hakushi.
“Apa!?”
Dari belakang Guren, terdengar suara teriakan terkejut Mahiru.
“Tunggu! Apa yang kau lakukan?”
 Tetapi pada saat itu, lengan kanan Guren sudah melayang putus di udara, seraya masih menggenggam katana  dengan Kijudi dalamnya. Dari lengan yang terpotong, darah mengalir dengan derasnya. Guren menahan aliran darah itu dengan tangan kiri seraya ....
“ ... huft .... Urg .... Ah, sial. Akhirnya pikiranku jernih juga.”
Guren berujar demikian, seraya sedikit memekik kesakitan. Dia jatuh bertopang lutut. Guren kekurangan darah. Guren benar-benar kehilangan dan kekurangan banyak darah.
“Shigure, Sayuri, cepat buka mata kalian, bodoh! Kita mundur!”
Guren berteriak kepada kedua pelayannya.
Namun, kedua pelayannya tidak membuka mata mereka.
Tergesa-gesa, Mahiru datang mendekat ke arah Guren. Dia mengambil lengan Guren yang terputus. Entah apa tujuannya, dia berusaha menekan potongan lengan itu, ke lengan kanan Guren yang terus menerus mengeluarkan darah.
“Ki-kita harus segera .... Mungkin jika dengan kekuatan regenerasi milik Iblisyang masih tersisa di tubuhmu ..., kita bisa menyambungkannya—“
Memang benar. Dengan berusaha menekan-nekan potongan lengan Guren ke lengan yang terputus, Guren bisa melihat lengannya mulai berusaha beregenerasi dan bersatu kembali dengan sangat menjijikkan. Kemampuan itu sudah tidak lagi, terlihat bagaikan kemampuan milik manusia.
“Bohong, bohong! Tidak mau tersambung ...? Kumohon! Kumohon tolonglah! Meskipun hanya urat syarafnya saja ....”

Wajah Mahiru seakan hendak menangis. Dia pun mulai berteriak-teriak.
“Kenapa kamu melakukan ini!”
Dari mata Mahiru, air mata mulai mengalir. Mahiru yang terlihat seakan sudah tidak lagi memiliki jiwa manusia di dalam dirinya, mulai meneteskan air mata.
Guren menatap wajah Mahiru yang berada tepat di dekatnya, dan berkata.
“Kau tahu, Mahiru ....”
“....”
“Hentikan saja penelitian Kiju,  ya. Ini tidak akan berhasil.”
“....”
“Kalau begini terus, kita hanya akan bagaikan orang bodoh yang menari-nari di atas kekuatan.”
“... Kamu salah!”
“Itu tidak salah! Ayo, kita pikirkan cara lain. Pasti ada jalan lain untuk—“
“Tidak ada!”
Mahiru berteriak. Dia berteriak seraya menangis terisak-isak.
Mahiru menolak jalan yang disarankan Guren. Tetapi, Mahiru sendiri menyadari kebenaran perkataan itu secara samar-samar.
Guren menatap Mahiru yang menangis, lantas berkata.
“Ada. Aku akan menemukannya.”
“Bohong! Kamu tidak bisa berbuat apapun!”
“Setelah ini, akan berbeda.”
“Bohong! Bohong! Kamu selalu bohong! Jangan hanya berkata hal-hal untuk menenangkan—“
Namun, Guren mengulurkan tangan kirinya, meraih dan memeluk bahu Mahiru yang gemetaran.
“Kali ini aku yang akan melindungimu. Karena itu, ikutlah bersamaku, Mahiru.”
Mahiru lantas mengangkat wajahnya. Dia menangis. Bola matanya berkaca-kaca karena rasa takut dan juga harapan.
Mahiru berkata.
“Jika kau ingin melindungiku .... Jika kau benar-benar punya keinginan untuk melindungiku ..., ikutlah bersamaku, Guren. Bunuhlah pelayanmu, bunuhlah teman-temanmu, lalu .... Bersamaku—“
Guren menyela perkataan Mahiru dan berkata.
“Sudah, diamlah! Kaulah yang ikut bersamaku.”
Mahiru tertawa kebingungan mendengar itu. Air matanya sudah berhenti.
“Ahaha. Guren itu selalu keren, ya.”
“....”
“Alangkah senangnya .... Jika aku tipe perempuan yang bisa dengan bahagianya, ikut bersamamu setelah mendengar kata-kata itu. Pasti, kalau aku ikut denganmu, aku akan bahagia.”
“Kalau memang begitu, ya, lakukanlah, Mahiru.”
Mahiru lantas berdiri.
“Tidak bisa, Guren. Kau sudah mengerti bukan? Itu hanyalah impian, dunia ideal, dan juga omong kosong anak-anak. Itu bukanlah sebuah kenyataan.”
Mahiru menjauh dari Guren selangkah. Di tangannya tergenggam katana dengan kutukkan Kijuyang tadi digenggam Guren di tangan kanan yang dipotongnya.
Guren berkata.
“Aku akan berjuang keras, untuk mewujudkan omong kosong itu.”
“Karena itulah ..., langkahmu lamban, Guren. Apa yang kau lakukan hanyalah impian anak-anak.”
“Hah? Apa kau tidak tahu dongeng tentang kura-kura dan kelinci? Kalau kau maju dengan kondisi seperti ini, kau akan hancur, tahu?”
Mahiru lantas tersenyum, seakan berkata bahwa dia mengerti hal itu.
“Maka, tolonglah aku sebelum aku hancur, Guren.”
“Kalau begitu, aku akan menolongmu sekarang. Buanglah katanamu, dan datanglah ke tempatku.”
“Aha~ Selalu saja menggodaku dengan kata-kata. Bisa tidak kau mengungguliku dalam hal kekuatan? Cobalah~ Rebut katanaku dan katakan ‘dengarkan perkataanku!’ bagaimana?”
“....”
“Tetapi, mustahil untuk dirimu saat ini, kan? Walau ini menyedihkan, aku lebih kuat. Karena aku adalah sang kelinci. Kelinci yang berlari menuju kehancuran dengan sangat cepat. Karena itu, aku menanti sang pangeran kura-kura. Cobalah selamatkan aku, sebelum aku hancur, Guren.”
Mahiru berkata demikian lantas tertawa seraya mencengkeram erat lengan kanan Guren. Ada sensasi sentuhan terasa, di lengan yang seharusnya sudah terputus.
“Ap—“
Guren terkejut melihat lengannya telah bersatu kembali. Ada semacam aura berwarna hitam yang menggeliat-geliat,  menyambungkan kembali kulit Guren yang terpotong.
Mahiru berkata.
“Tersambung, deh. Tapi, jangan berbuat berlebihan, lo. Lenganmu bisa tersambung lagi, karena masih ada sisa-sisa Iblisdalam dirimu. Tapi, tidak akan terjadi untuk kedua kalinya. Tentu saja, kalau kau membawa katana ini, kau akan—“
“Itu kekuatan yang tidak seharusnya dipakai oleh manusia.”
Ujar Guren.
Tetapi, Mahiru justru tertawa dengan senang dan gembira.
“Benar. Benar sekali. Tapi, kau sudah bukan manusia lagi. Tangan manusia yang terputus, tidak mungkin akan bisa bersatu kembali. Jiwamu, sudah sedikit bercampur dengan iblis.”
“....”
“Karena itu, pada akhirnya, kau akan hancur. Sama denganku, hatimu akan dipenuhi kegelapan. Ah~ Guren. Ternyata, kita memang tidak bisa berpisah. Mari kita mengakrabkan diri, dan menjadi iblis.”
Seraya berkata demikian, Mahiru justru menjauh dari Guren. Dengan wajah gembira dan penuh rasa kasih sayang, dia memandang Guren yang terduduk.
“Tetapi hari ini cukup sampai sini. Aku ingin dicium olehmu, sih .... Tetapi, ada hal yang harus aku lakukan.”
Mahiru lantas berlari.
Dia mengambil sebagian tubuh Chimera yang berhasil dipotong menjadi dua bagian sama besar oleh Guren.
Di saat bersamaan, Guren kemudian menyadari keberadaan orang lain yang mengambil bagian tubuh lain Chimera yang berhasil dipotongnya itu.
“....”
Bukan. Dia bukan manusia.
Perawakannya memang menyerupai manusia. Tetapi, dia bukan makhluk yang disebut ‘manusia’.
Kulitnya benar-benar sangat putih. Paras wajah sangat rupawan. Mengenakan pakaian dengan ornamen yang memberikan nuansa kuat seorang bangsawan.
Sosok dengan bola mata merah, dan rambut perak yang panjang.
“Vampir!?”
Suara Guren meninggi.
Mahiru segera menarik katana di pinggangnya.
Melihat reaksi Mahiru, vampir dengan rambut perak itu pun juga menarik pedang di pinggangnya. Sekilas dilihat, badan pedang itu bagaikan sebuah pedang yang terbuat dari kaca.
Pedang kaca itu pun berbenturan dengan katana.
 Katana Mahiru yang berselimuti hawa ledakkan luar biasa, yang memberikan hawa sangat tidak menyenangkan, menerjang menyerang vampir. Tetapi ....
“Ho~ teknik manusia mengendalikan iblis, bahkan bisa sampai sejauh ini? Boleh juga, ya, kamu.”
Seraya tertawa cengengesan dengan santainya, vampir itu menerima serangan Mahiru dengan mudahnya.
Mahiru menatap tajam vampir itu dan berkata.
“Pakaianmu itu .... Kau ini vampir bangsawan, ya?”
“Wah, kamu tahu banyak juga, ya ..., soal vampir. Ya, ya, benar. Aku adalah Ferid Bathory. Aku adalah leluhur ketujuh. Yah, tapi apa gunanya juga mengenalkan diriku kepada manusia, ya ....”
Vampir yang memperkenalkan diri sebagai Ferid itu berkata demikian, seraya menarik pedangnya ...
... lalu ditebaskannya kembali.
“Urg!”
Mahiru segera menanggapinya. Guren bisa melihat mereka saling menghunuskan pedang satu sama lain hingga lima kali----------namun, setelah itu, Guren tidak lagi mampu melihat gerakan mereka.
“Wah, kamu sudah mau melarikan diri?”
Seraya berkata demikian, Ferid melepaskan tendangan sangat cepat. Mengenai bagian samping kepala Mahiru. Mahiru terkena serangan yang sekilas terlihat seakan dapat membuat lehernya putus. Dia lantas jatuh berguling sekali di atas tanah.
“Nah, selesai sudah~
Ujar Ferid.
Dia hunuskan pedangnya.
Pada saat itu, Guren bangkit dan berlari dengan cepat. Tangan kanannya masih belum bisa digerakkan dengan baik. Karena itu, dengan menggenggam katana yang mendapat julukan pedang iblis pemberian Kureto di tangan kirinya, dia berdiri di depan Mahiru. Dengan bantuan tangan kanan yang berusaha menopang tangan kirinya, dia menyiapkan kuda-kuda katananya.
Ferid tertawa melihat itu.
“Selamat tinggal, manusia.”
Ferid mulai mengayuhkan pedangnya.
Katana Guren menerima serangan luar biasa kuatnya. Meskipun saat menerima serangan itu, Guren sudah mundur lima langkah untuk mengurangi beban serangan, namun dia tidak berhasil menerima serangan itu dengan baik.
Bersamaan dengan serangan diterima katana Guren, beberapa tulang lengan dan jari Guren yang memegang katana patah. Benturan keras juga menyebabkan beberapa tulang di badan Guren patah. Badannya terpental. Menabrak Mahiru yang terjatuh di belakangnya. Keduanya lantas terpelanting bersama-sama sejauh sepuluh meter.
“Urg, arrgh ....”
Keduanya terjatuh membentur tanah. Tidak sanggup untuk bangkit, ataupun bergerak. Serangan yang diterima tubuh mereka terlalu berakibat fatal.
“... Guren .... Kau ..., masih hidup?”
Dari belakang punggungnya, Mahiru bertanya. Dia angkat wajahnya, menatap ke arah Guren penuh rasa khawatir.
Guren membalas pertanyaan Mahiru.
“Jangan khawatirkan aku. Lihatlah ke depan. Aku sudah tidak akan bisa menerima serangannya, untuk kedua kalinya.”
Mahiru justru tersenyum kecut mendengar perkataan Guren.
“Yah, tetapi dia tidak peduli dengan kita, tuh ....”
Guren lantas melihat ke arah Ferid. Memang benar. Saat itu, Ferid tidak melihat ke arah mereka.
Lagi pula, pada dasarnya, makhluk bernama vampir adalah tipe yang seperti itu. Mereka hanya menganggap manusia tidak lebih dari hewan ternak, dan jarang sekali keluar ke atas permukaan bumi. Mereka bahkan terlihat tidak tertarik sama sekali, terhadap perang perebutan kekuasaan antar manusia, yang terjadi di atas pemukaan bumi. Mereka hanya terus menerus menjalani kehidupan abadi mereka di bawah tanah.
Tetapi ....
“Kau .... Untuk apa kau datang kemari?”
Tanya Mahiru.
Ferid lantas mendongak, dan menjawab.
“Hm? Wah, kalian masih hidup? Luar biasa sekali. Apa benar kalian ini ..., manusia?”
“Jawablah! Buat apa kau datang kemari.”
Ferid pun menjawab.
“Ah, itu .... Aku dengar manusia ‘sedikit’ melakukan penelitian di wilayah yang tidak seharusnya mereka sentuh. Jadi, aku hanya ‘sedikit’ mencari tahu hal itu ....”
Ferid lantas menatap tanah di dekat kakinya. Di sana, tergeletak badan Chimera yang telah mati. Ditendangnya badan Chimera itu. Badan Chimera itu lantas melambung tinggi beberapa saat di udara, kemudian jatuh tepat di bahu Ferid.
“Ini ..., mengerikan sekali, ya. Manusia sampai bisa membuat seperti ini. Kalau kalian sampai menyentuh kutukan terlarang semacam ini, dunia akan segera kiamat, lo.”

Dia lantas menatap Mahiru.
Katanamu itu juga ..., kurasa adalah pedang yang luar biasa gilanya. Manusia itu benar-benar serakah hingga membuatku mual melihatnya.”
Mahiru segera bersiaga dengan katananya. Dengan mengembangkan senyum diwarnai rasa takut, Mahiru berkata.
“Lalu .... Apa kau datang untuk menghukum manusia serakah itu?”
Ferid tertawa mendengar itu.
“Tidak, tidak. Aku tidak tertarik dengan manusia seperti itu. Kalian bebas, kok, bertarung sesama kalian dengan sangat menjijikkan. Aku tidak tertarik dengan aksi kanibalisme antar hewan ternak. Yah, tapi kalian masih bisa bertahan hidup setelah menerima serangan pedangku, sih. Jadi aku tidak terlalu yakin kalian ini manusia atau bukan. Tapi, yah .... Terserah saja. Aku tidak peduli.”
“....”
Kemudian Ferid membalikkan punggung tanpa pertahanan, lantas pergi meninggalkan mereka. Itu tidak jadi masalah baginya. Karena besarnya perbedaan kekuatan antara mereka, membuat Ferid tidak khawatir, walau harus membalikkan punggung ke arah Guren dan Mahiru.
Mahiru tidak bergerak. Meskipun dia mencoba menyerang Ferid saat memunggungi mereka, kemungkinan menang melawannya ..., sangat tipis. Mahiru tahu benar hal itu.
“Sial .... Seandainya kekuatan Kiju sudah sempurna pasti ....”
Mahiru bergumam penuh rasa kesal. Dia lantas menyarungkan katana kembali, ke pinggangnya.
Guren memandang katana yang disarungkan itu. Sepertinya, katana itu masih belum sempurna. Tentu saja, itu bisa dipahami dengan mudah. Mereka tidak bisa mengontrol kekuatan yang ada. Itu sudah jelas-jelas menjadi bukti, kekuatan itu masih belum sempurna.
“Kau ..., masih mau memperbesar kekuatanmu?”
Saat Guren menanyakan hal itu, Mahiru tertawa kecil.
“Sudah tidak banyak waktu tersisa, jadi aku tidak akan memberi penjelasan. Tetapi, sebelum ini ..., aku juga sudah mengatakannya. Pada akhirnya, kau akan memilih jalan yang sama denganku. Karena Iblistelah masuk ke dalam dirimu.”
Mahiru bangkit dan berlari, memungut sebagian tubuh Chimera yang tergeletak.
Pada saat bersamaan, terdengar suara helikopter di udara.
Mahiru mendongak melihatnya.
“Padahal mereka tahu kalau Chimera sudah mati, dan mereka tetap saja datang kemari. Guren .... Kau juga harus segera melarikan di—“
Namun, kata-kata Mahiru terhenti. Dia menatap tanah di sekitar telapak kakinya. Entah sejak kapan, di saat terdapat beberapa kertas mantra, mengelilingnya, dan membuat semacam pelindung sihir. Saat Mahiru menyadarinya ....
“Wah .... Sejak kapan kau tersadar ...? Shinya.”
Mahiru bertanya.
Pada saat itu, Guren merasakan hawa keberadaan seseorang dibalik punggungnya. Meskipun Guren tidak melihatnya, dia bisa mengetahuinya. Itu adalah Shinya.
Shinya menjawab seraya tertawa dengan santainya.
“Ah, bagaimana, ya .... Mana mungkin aku bisa tertidur saat tunanganku sedang mesra-mesraan dengan mantan pacarnya, kan?”
“Itu artinya .... Sejak awal kau dalam kondisi sadar?”
“Yup.”
“Kau berpura-pura pingsan?”
“Kalau tidak begitu, kamu tidak akan mungkin berbicara hal yang sebenarnya, bukan?”
“Karena kekuatanmu tidak cukup.”
“Ahaha. Padahal ..., aku mau berusaha keras, lo.”
Seraya tertawa dan berkata demikian, Shinya berjalan mendekat ke samping Guren, yang masih terduduk di tanah. Lantas, dengan suara kecil berbisik kepada Guren.
“Guren.”
“Apa?”
“Ayo kita bekerja sama untuk menangkap Mahiru.”
“....”
“Kalau kita biarkan dia pergi begitu saja, dia akan hancur. Kamu juga paham itu, kan?”
Guren memang mengerti hal itu. Apa yang dilakukan Mahiru benar-benar sangat berbahaya. Itu adalah jalan lurus langsung menuju kehancuran. Tidak. Bahkan ada kemungkinan, mereka telah terlambat.
Guren lantas menyentuh lengan kanannya yang berhasil bersatu kembali.
Lengannya beregenerasi. Itu bukanlah kemampuan yang dimiliki oleh manusia.
Guren melihat Mahiru. Kemudian, dia berkata kepada Shinya di sebelahnya.
“Hei, Shinya.”
“Hm?”
“Apa kau ..., sebegitu sukanya dengan Mahiru?”
Shinya tertawa mendengar pertanyaan itu.
“Entahlah. Bagaimana, yah .... Aku, kan, hanya boneka yang dibesarkan dengan tujuan itu .... Kamu sendiri?”
“Dia hanya masa laluku.”
“Ahaha. Tapi kelihatannya tidak seperti itu, tuh.”
“Tapi, yah .... Aku tertarik dengan katana miliknya. Juga soal informasi mengenai percobaan Chimera yang dia miliki. Karena itu ....”
Guren lantas bangkit berdiri. Tangan kanannya menggenggam katana. Kemampuannya untuk menggenggam sudah pulih sepenuhnya. Mungkin itu karena kekuatan kutukan dari Iblis atau hal lainnya, Guren tidak dapat menjelaskannya secara pasti.
Di sisi lain, jari kiri dan tulang dadanya yang patah karena serangan vampir tidak bisa memulihkan diri. Sepertinya, itu karena kekuatan Kiju telah terpisah dari dirinya.
Guren pun bersiaga, menggenggam katana hanya dengan tangan kanannya.
“Mahiru. Kami akan menghentikanmu.”
Ujarnya.
Mahiru lantas melihat ke arah mereka, dan tertawa dengan wajah bahagia.
“Padahal, kau tahu itu mustahil.”
“....”
“Sekarang, perbedaan kekuatan kita terlalu be—“
Pada saat itu Guren langsung berlari cepat, mengayuhkan katana di tangan kanannya.
“Kau ini banyak omong! Cerewet sekali!”
Guren berusaha menebas Mahiru dengan sekali tebasan.
Pada saat bersamaan, kertas mantra Shinya yang tersebar di sekitar Mahiru mulai terangkat dari atas tanah, dan menerjang kaki Mahiru. Gerakan Mahiru menjadi melambat.
Tetapi, hanya melambat sedikit saja. Tidak bisa memperpendek perbedaan kekuatan yang ada di antara Mahiru dan Guren.
Mahiru pun tertawa, seakan menyayangkan hal itu.
“Alangkah menyenangkan, jika nanti kita bertemu lagi ..., kalian sudah bertambah lebih kuat dari ini, ya ....”
Mahiru pun mundur selangkah ke belakang. Dia lantas memandang kertas mantra milik Shinya, dan dengan mudahnya terlepas dari jeratannya.
Tetapi, yang diincar oleh Guren sejak awal bukanlah Mahiru. Guren sadar sepenuhnya, dia tidak akan menang jika saling adu tebasan dengan Mahiru.
Katananya mengincar benda lain.
Sebagian badan Chimera yang digenggam oleh tangan Mahiru. Sebagian tubuh Chimera itu tertusuk ke dalam katananya, lantas ditariknya. Guren berhasil memotong sebagian dari bagian tubuh Chimera yang Mahiru bawa, dan langsung melompat mundur ke belakang.
“Ah!”
Mahiru bersuara terkejut, menyadari kecerobohannya. Dia lantas melihat Guren.
“Ah .... Kau menginginkan itu, ya. Tapi, kau akan menyerahkan itu ke Hiiragi—“
“Tenang saja. Tidak akan kuserahkan.”
“Oh, begitu. Kalau begitu, sih, tidak masalah .... Yah, tapi .... Bagiku yang pada akhirnya akan mengkhianati Hiiragi juga Gereja Hyakuya, aku tidak peduli apa yang akan terjadi sekarang, sih.”
“Oi, Mahiru.”
“Ada apa?”
“Saat ini kau memang bebas merasa di atas angin. Tapi, aku akan segera mengejarmu, lo.”
Ujar Guren. Mendengar itu, entah mengapa Mahiru justru terlihat sangat senang. Mahiru lantas menjawab.
“Baiklah. Aku akan menunggumu.”
Kemudian, Mahiru segera berbalik arah. Dengan membawa sebagian tubuh Chimera di tangannya, dia berlari pergi dengan kencang.
Guren melirik ke belakang, lantas berbalik. Dia menatap tajam Shinya yang memungut potongan tubuh Chimera yang berhasil didapatkan olehnya. Guren lalu berkata.
“Serahkan itu. Jika tidak ....”
Guren kembali menyiapkan katananya.
Jika Shinya ternyata berada di pihak Hiiragi, dan berniat menyerahkan potongan tubuh Chimera itu kepada Hiiragi, maka------sekali lagi, akan terjadi peperangan di sini.
Aku harus membunuh Shinya-----
“Oi, oi .... Apa kamu berniat melawanku dengan seluruh luka di tubuhmu itu?”
“Untung yang bagus buatmu, kan?”
“Kamu juga meremehkanku, ya ....”
Pada saat itu, sosok Shinya menghilang. Dia menggunakan ilusi. Shinya tidak memiliki kekuatan fisik yang tinggi. Tetapi, tidak bisa dipungkiri, bahwa Shinya adalah pengguna semua teknik sihir yang sangat lihai dan sangat pintar.
Guren memejamkan matanya. Berusaha mencari tahu keberadaan Shinya.
Sosok Shinya berada di belakangnya. Sebelum Shinya menyadari bahwa Guren telah mengetahui keberadaannya, Guren bermaksud untuk segera menebas katana ke arah Shinya ..., namun Guren berhenti melakukannya.
Sosok yang muncul di belakang Guren adalah potongan tubuh Chimera yang dilempar Shinya ke arahnya.
Ilusi milik Shinya pun menghilang. Shinya lantas berlari menjauhi Guren. Mulai berusaha membangunkan kawan-kawan lainnya yang masih tergeletak tidak sadarkan diri di tanah.
Guren segera mencengkeram bagian tubuh Chimera yang hampir terjatuh ke tanah dengan kukunya, bagaikan benda tajam.
Jadi inilah arti tindakan Shinya.
Shinya menyerahkan bagian tubuh Chimera kepada Guren. Itu artinya, dia menyerahkan kekuasaan untuk meneliti lebih jauh mengenai hal ini, kepada Keluarga Ichinose.
Guren kemudian melihat Goshi, Mito, Sayuri dan Shigure mulai tersadar. Kedua pelayannya, melihat ke arah sosoknya, dan segera berlari dengan tergesa-gesa ke arahnya. Mereka kemudian kebingungan dan merasa khawatir, menyadari tulang tangan kiri Guren patah. Tubuh tuan mereka juga penuh dengan luka.
Mito dan Goshi lantas mendekat ke arah mereka. Berkata bahwa mereka harus segera melarikan diri.
Kemudian, selama proses melarikan diri itu, Guren terus menerus berpikir.
“....”
Apakah dia harus membunuh Mito dan Goshi.
Jika dia membunuh mereka berdua dan kemudian menghilang, maka untuk sementara, Hiiragi tidak akan bisa mengejarnya. Dengan begitu, waktu untuk meneliti tubuh Chimera, mungkin akan bertambah.
Itu berarti, dia harus membunuh mereka, bukan?
Dia harus mengalami kemajuan, bukan?
Guren mengerahkan kekuatan pada tangan kanan yang menggenggam katana.
Pada saat itu, Mito menyetuh tubuh Guren yang penuh dengan luka, lalu berkata.
“Lagi-lagi .... Lagi-lagi aku diselamatkan olehmu, ya?”
Bukan. Aku justru bermaksud membunuhmu.
Namun, kali ini Goshi ikut berkata.
“Sial. Kau selalu saja menyelamatkan kami.”
Apa mereka ini bodoh, ya? Kenyataannya bukan begitu.
Tetapi, Mito melanjutkan perkataannya.
“Lain kali, kalau terjadi sesuatu, pada saat itulah aku yang akan menyelamatkan nyawamu. Aku akan melindungimu.”
Yang terakhir, seraya berbisik di telinganya, Shinya berkata seperti ini kepadanya.
“Kamu tahu, Guren .... Kamu tidak akan menjadi seperti Mahiru, kok.”
“....”
“Tetapi menurutku, itu bukanlah suatu kelemahan. Lagi pula, jika kamu memilih jalan yang sama dengannya, kurasa kita tidak perlu menyelamatkan Mahiru, bukan?”
“....”
“Bagaimana menurutmu, Guren?”
Guren menjawab pertanyaan itu.
Dengan nada suara terdengar kesal.
“Aku sedikit kelelahan.”
Genggaman katana di tangan kanannya melonggar. Katana nya pun terjatuh dan menancap di tanah.
Kemudian, terasa seakan seluruh kekuatan terlepas dari tubuhnya. Sepertinya, tubuhnya menerima luka fatal yang jauh lebih parah dari perkiraannya. Mungkin itu karena Guren kehilangan banyak darah, saat dia memotong tangan kanannya. Atau mungkin, itu karena beban luka di tubuhnya saat menerima serangan vampir itu dengan seluruh tubuhnya.
Tiba-tiba tangan kanannya yang tersambung kembali, terasa sangat sakit.
Benar-benar terasa sangat sakit.
Saat Guren melihat tangan kanannya, Guren merasa lengannya diselimuti oleh aura hitam, bagaikan sebuah kutukan. Guren merasa aura hitam itu kemudian masuk ke dalam peredaran darahnya, dan mulai menjalar, menyebar ke seluruh tubuhnya.
Guren terduduk di tanah.
Kedua pelayannya yang terkejut, spontan berteriak.
“”Tuan Guren!””
Teriakan itu terdengar samar-samar di telinga Guren.
Guren lantas kehilangan kesadaran, dan jatuh pingsan di atas permukaan tanah.
¨
¨
¨

Aku bermimpi.
Mimpi yang sangat aneh.
Mimpi di mana aku melihat sesuatu berdiri di tengah-tengah kegelapan.
Sesuatu itu berkata.
Hei, Guren. Sebenarnya, kau ingin membunuh mereka, bukan?
Berkata dengan nada kegirangan karena sesuatu.
Berkata kepadaku, dengan penuh semangat.
Sebenarnya, kau ingin membunuh Goshi, Mito, Shinya, Sayuri, juga Shigure, bukan?
Sesuatu itu berkata padaku. Dia seakan tengah berlari dan melompat ke sana kemari di dalam kegelapan, dengan penuh kegirangan.
Tetapi, kau akan segera melakukannya. Jadi, tenang saja. Kau akan bisa membunuh manusia tanpa rasa khawatir. Kau juga akan bisa membunuh kawan-kawanmu tanpa merasa khawatir. Jadi, tenang saja.
Aku lantas bertanya kepadanya.
Pertanyaan yang mengarah kepada tengah-tengah kegelapan.
“Siapa kau?”
Sesuatu itu menjawab.
Aku adalah kau.
“Siapa kau?”
Kau adalah aku.
“Siapa—“
Cerewet sekali, sih. Aku ini iblis! Aku adalah iblisyang sama denganmu. Mengejar ambisi dan juga balas dendam.
“....”
Aku sudah menyatu denganmu. Nah, nah, kau dengar, kan? Detak jantung kita yang menyatu. Aku dan kau, telah menyatu.
“....”
Nah, nah, kau dengar, kan? Kau telah melangkahkan kakimu, ke dunia yang sama dengan Mahiru. Selamat datang, Guren. Di dunia iblis hitam. Aku sudah lama menunggu manusia serakah yang kuat sepertimu.
“....”
Nah, bukalah matamu. Kau sudah bukan manusia lagi. Kau bukan lagi seorang manusia. Hasrat dan kebencian. Cinta dan kesedihan. Kekuatan dan ambisi. Ayo, bersamaku, gunakan itu semua. Lalu kita hancurkan dunia manusia yang menjijikkan!

Iblis-----------ah, bukan. Aku berteriak seperti itu.

Owari No Seraph : Ichinose Guren, Jyuurokusai no Catastrophe Jilid 2 Bab 7 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Marcellino Novaldo

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.