12 Maret 2016

Only Sense Online Jilid 2 Bab 6



ONLY SENSE ONLINE
JILID 2 BAB 6
PEMBALASAN DENDAM DAN SANG MAGE

Aku membuka mataku, sepertinya aku terbangun pada waktu yang sama seperti yang kulakukan kemarin. Aku melihat cahaya temaran memasuki rumah kayu lewat celah di pintu.
"…pagi, ya. Aku harus bangun."
Aku harus menyiapkan sarapan. Menjadi satu-satunya orang yang memiliki Sense Cooking, aku berdiri dengan cepat dan merenggangkan punggungku.
"…pagi, Cloude."
"Oh, pagi, dan selamat tidur."
Setelah berkata sebanyak itu, sebuah suara tumpul terdengar dan Cloude mulai tertidur dengan bernafas keras. Hei, tidakkah dia takut tercekik jika terus seperti itu, pikirku.
"Kalau dia mengalami saat bermasalah dengan berjaga, kita seharusnya bergiliran. Yah, berkat itu kita dapat tidur dengan tenangnya."
Aku berkata demikian dan meninggalkan rumah kayu. Toutobi sudah bangun, dengan sebuah belati di tangannya dia sedang bertarung dengan musuh imajinasinya.
Ke kanan, ke kiri, dia menusukkan belatinya ke ketiadaan sambil meninggalkan bayangan di belakangnya.
"Kau begitu bersemangat sejak pagi, ya."
"…selamat pagi, Yun-san."
"Bagaimana dengan yang lain?"
"…semuanya sedang tidur. Karena aku sudah bangun, aku bertukar jaga dengan Cloude-san."
"Aku mengerti. Aku akan mempersiapkan sarapan kalau begitu."
Sebagai armorku, aku mengenakan sehelai apron di atas gaun one-piece kemarin.
"Secepat ini?"
"Yah, menyiapkan makanan olahan itu menyita waktu."
Sambil berkata demikian, aku mengguncangkan tanganku dan menyiapkan beragam alat.
Aku mengeluarkan sebuah kompor dan sebuah oven yang Magi-san dan yang lainnya dapatkan kemarin dengan memburu seekor monster unik, lalu menyiapkan makanan.
Sambil membuat roti dengan skill Preparing Cooking untuk mempersingkat waktunya, aku menyiapkan hidangan pendamping secara bersamaan.
Meskipun aku tidak menyadarinya karena fokus pada masakan, Magi-san dan Lucato telah terbangun. Lucato sedang berlatih mengayun dengan pedang barunya, dan Magi-san sedang mengawasinya sambil memeluk Rickle di lengannya.
Pedang Lucato lebih panjang dan lebar daripada one-handed sword. Sementara pedang itu dipegang dengan kedua tangannya, sepertinya beratnya tidaklah cukup—benda itu bisa diklasifikasikan sebagai bastard sword.
Bahkan dengan jumlah dekorasi yang sesedikit mungkin, benda tersebut memiliki kesan barang kelas satu dan dipasangkan dengan penampilan Lucato, itu tidak memunculkan rasa tidak nyaman. Dia mengayunkannya ringan dengan tangannya mengejar sebuah sasaran, kadang-kadang dia mencengkeramnya dengan kedua tangannya. Hanya dengan tekanan dari pedang tersebut sudah cukup untuk menghamburkan rerumputan di sekitarnya.
"Selamat pagi. Kelihatannya sudah selesai, pedang Lucato maksudnya."
"Pagi, Yun-kun. Yah, aku menyelesaikannya semalam, tapi karena kami lelah, kami memeriksanya sekarang. Jadi bagaimana pedangnya, Luka-chan?"
"Ya, seperti yang kubayangkan. Aku lebih ke tipe yang menekankan pada kekuatan serangan daripada kecepatan, pedang yang selama ini kugunakan terlalu ringan."
Sambil bergumam demikian, Lucato menyimpan pedang tersebut dengan kelelahan.
"Jadi aku bisa menyimpulkan bahwa pedangnya diterima? Yun-kuuun, apa menu sarapannya?"
"Hmm, roti yang baru dipanggang dan telur orak-arik, salad, tumis sayuran dan daging, potongan buah. Karena ada Sweets Factory, aku bisa membuat hotcake juga. Kalau aku dapat mempersiapkan adonannya, hanya tinggal menggorengnya. Ada jeli yang kubuat kemarin juga."
"Ohh!? Kalau aku bisa memilih, aku ingin makan hotcake."
"Kalau begitu pilihlah apa yang ingin kau makan dari apa yang sudah kubuat nanti."
Sambil berkata demikian, aku menempatkan wajan di atas kompor.
Menggunakan adonannya, aku melanjutkan mempersiapkan hotcake yang semakin menumpuk di piring saji. Terlebih lagi, aku menaruh roti yang baru dipanggang pada keranjang terbuka yang dibuat oleh Lyly.
Semuanya dapat memakan apapun yang mereka inginkan dari apa yang telah kubuat, tapi karena ini tidak memuaskan, Lyly dan Hino pergi berburu dan membawakanku sebotol madu yang didapatkan dari monster tipe lebah. Kurasa sebaiknya aku tidak repot-repot memikirkan darimana botolnya muncul.
Setelah beberapa saat, semua persiapannya selesai dan aku dapat beristirahat.
"Sekarang masih pagi, dan aku sudah merasa lelah. Sepuluh orang dan lima hewan jelas banyak. Apakah kita cukup dengan apa yang sudah dimasak hari ini?"
Sambil berkata demikian, aku duduk di kursi kayu.
Melihatku seperti itu, Magi-san memberikan segelas air padaku.
"Kerja bagus. Apa kau baik-baik saja?"
"Ini sulit. Untuk hari ini dan besok, kita dapat menyimpan makanan di inventory, tapi kita mungkin harus mencari bahan-bahan untuk hari-hari yang tersisa."
Saat aku mengatakan apa yang kupikirkan, Magi-san menganggukkan kepalanya berkali-kali menyetujuiku. Dengan dua orang di sebelahku, aku melahap sarapan. Setelah meletakkan sepotong hotcake di mulutku, aku merasakan rasa manis madu yang mengagumkan dan tekstur dari adonannya. Aku merasakan sejumlah energiku kembali setelah makan.
Lalu, mungkin tertarik dengan aroma sarapan, para monster kecil terbangun. Mereka dengan rakus melahap makanan mereka. Di antara mereka, hanya si rubah muda hitam yang masih merasa cemas. Saat berkaitan dengan jarak, daripada dengan kami para player, dia cenderung untuk merapatkan diri pada monster muda yang sepantaran dengannya. Dia terutama menempel pada Ryui yang bertubuh besar seperti lem super lengket, tapi Ryui tidak merasa keberatan sama sekali.
"Ayo adakan rapat singkat sambil kita sarapan."
Orang yang berkata demikian, adalah Cloude. Meskipun dia ambruk dan tidur, setelah tidur sebentar, dia bergabung dengan kami untuk sarapan sebagai orang yang terakhir datang. Pria ini, dia hanya tidur sebentar dan dia terlihat baik-baik saja. Itu mungkin karena kami berada di dalam game, pikirku, tapi aku khawatir bahwa dia mungkin melakukan hal yang sama di dunia nyata.
"Sekarang, mari bicarakan jadwal untuk hari ini. Aku berpikir supaya Magi dan aku berkeliling ke perkemahan-perkemahan di sekitar."
"Kenapa begitu?"
"Sebut saja pengembangan infrastruktur. Semalam, ada banyak topik di information board yang menyatakan bahwa tidak ada cukup dukungan dari para crafter. Hari ini, bersama kenalan crafterku, kami memutuskan untuk mendukung para petarung."
"Para crafter dapat dengan mudah menaikkan Sense mereka, dan para petarung akan mendapatkan bantuan yang seharusnya. Itu akan membuat semua orang senang."
Kelihatannya sudah ada orang-orang yang memiliki permintaan seperti itu. Aku penasaran apakah aku akan menunjukkan wajahku di sana. Kemudian, Cloude lanjut bicara.
"Baiklah, awalnya kita tidak berniat untuk mengambil tindakan, tapi sepertinya negoisasinya tidak terlalu seimbang dan itu menjadi topik panas. Seperti yang diperkirakan, kita tidak bisa membiarkan ini. Nama kami cukup terkenal, jadi kami akan pergi ke sana sebentar."
"Hmm, begitukah. Yah, pasti sulit untukmu. Apakah ada yang bisa kubantu?"
"Tidak, tidak secara khusus. Yun-kun, kau berniat untuk mengurusi permintaan membuat potion lewat board, bukan? Tinggalah saja dengan tenang."
Meskipun aku sudah dikatakan untuk tenang saja, aku menempatkan tanganku di dagu dan berpikir. Aku penasaran apakah ada untungnya melakukan itu? Kalau aku menanganinya, aku bisa melakukan semacam mempromosikan Atelierku. Juga, aku dapat memperoleh barang-barang yang kuinginkan tanpa menghabiskan waktuku sendiri.
Akan tetapi…itu hanya kalau aku mendapatkan hasil yang memuaskan kedua belah pihak.
Jika negoisasi dengan pihak yang lainnya tidak bagus, aku dapat mencari ke sekitar benua liar ini untuk menemati party Taku atau Myu, terutama menangani peran penyembuh.
Aku melihat ke langit, berpikir. Haruskah aku mengambil keuntungan dengan aman tanpa berpergian, atau menyiapkan diriku sendiri mengambil resiko dan berpetualang. Kebingungan, aku mengalihkan pandanganku ke samping. Di sisiku, ada si rubah muda yang berada di atas punggung Ryui.
Itu benar. Kalau aku mengambil resiko, aku harus berpisah dari mereka berdua untuk memastikan keselamatan mereka.
"Baiklah, aku akan mencobanya kalau begitu. Kalau tidak berhasil, aku hanya harus berhenti, 'kan?"
Mendengar perkataan tersebut, entah kenapa, ekspresi lega terlihat pada wajah Magi-san.
"Ohh~, itu sangat menolong kami. Ada orang-orang yang memiliki Mixing, tapi tidak banyak yang sebaik Yun-kun."
"Bukankah secara halus mengatakan bahwa aku tidak normal? Hei."
Saat aku berkata demikian, "ahahaha", dia menanggapi dengan tawa kering. Yah, aku tidak begitu peduli.
"Juga, maaf, armormu belum selesai diperbaiki. Itu dijadwalkan selesai hari ini. Dan itu akan selesai dengan ini."
Dengan perkataan tersebut, diskusi kami berakhir.
Setelah itu, aku menyerahkan potion yang kubuat pada Lucato dan yang lainnya. Dengan equipment mereka yang seperti baru, mereka pergi untuk menaklukkan reruntuhan di sebelah timur. Aku menerima batu permata dan stone dari Magi-san dan kemudian menyiapkan bekal makan siang sederhana untuk Magi-san dan Cloude. Aku menyerahkannya pada mereka dan mengantar mereka pergi.
Kemudian, Lyly dan aku mengawasi perkemahan kami, dan mengerjakan crafting kami. Aku yakin bahwa niat sebenarnya Magi-san adalah membiarkanku beristirahat setelah masalah kemarin. Mungkin saja Lyly diberikan tugas untuk mengawasiku.
Aku mengasah permata yang kudapat dari Magi-san untuk mengisi kembali Magic Gem yang kugunakan kemarin dan mengenchant semuanya dengan sihir.
Lyly juga sedang mengerjakan craftingnya. Ukurannya lebih besar daripada pengerjaan kayu yang biasanya.
Dia membuat papan kayu dan batang kayu, membentuk atap dan membangun sebuah pondok kayu.
"Hei, Lyly, apa yang sedang kau buat?"
"Tempat tidur Ryucchi. Karena tempat tidurnya tidak kecil seperti Shiacchi atau si rubah muda, dia perlu tempat tidur yang seharusnya. Lihat, hampir selesai."
Saat dia berkata demikian, dia mengangkat sepotong kayu besar yang lebih tinggi darinya, dan menuju ke bangunan di sebelah rumah kayu.
"Yang tersisa tinggal menyiapkan jerami. Ayo, Ryucchi."
Ryui yang sedang berbaring jauh sambil menutup mata, memeriksa kandang tersebut.
Setelah mendekatinya sambil mengamatinya dengan cermat, Ryui duduk di atas tumpukan jerami yang disebarkan untuk memastikan tempat tersebut nyaman. Kandang kuda tersebut disiapkan di bawah keteduhan, sepertinya tempat yang sangat sejuk. Si rubah muda tidak ingin meninggalkan sisi Ryui dan menuju ke sebelahnya dengan cepat-cepat. Rickle dan Socks yang tinggal di belakang kami, begitu pula Neshias yang tertarik dengan tempat baru. Lima anak hewan berkumpul di satu tempat. Mereka merapatkan mata mereka, dan dengan segera jatuh tertidur.
"Bagaikaman kalau kita beristirahat sebentar?"
"Kenapa tidak. Oh, apa masih ada cemilan yang tersisa?"
"Masih ada hotcake yang tersisa. Apakah itu tidak masalah?"
Aku berkata demikian, dan sambil melihat pada hewan-hewan kecil itu, aku menyiapkan cemilan untuk istirahat kami.
"Apakah kalian ingin aku untuk menghindari bahaya seperti kemarin, dan membuatku menghabiskan waktuku dengan tenang dengan melakukan crafting?"
"Yuncchi benar-benar tidak memiliki banyak waktu senggang karena memiliki Dosing Cooking dan Craftmanship."
"Juga ada Synthesis dan Alchemy. Yah, kurasa memiliki skill yang menyebar seperti ini rasanya menyenangkan."
"Yuncchi, bukankah kau secara tidak terduga adalah orang mudah berubah-ubah?"
"Itu keterlaluan. Katakan bahwa aku memiliki semangat seorang penantang sebagai gantinya. Tentu saja, aku mengambil terlalu banyak, tapi…"
Lyly mulai terkekeh, dan setelah itu kami mengobrol dengan senangnya.
Setelah beberapa saat, mungkin tergoda oleh aroma teh dan hotcake, para monster muda yang sedang meringkuk di tempat tidur Ryui terbangun.
Si rubah muda berada satu langkah di belakang yang lainnya yang menjerit-jerit padaku tepat di kakiku.
"Apa, kalian mau ini?"
Arah pandangan mereka melekat ke arah piring yang terdapat hotcake di atasnya. Kanan, kiri, kanan.
Dan saat aku menggerakkan piring tersebut, seluruh tubuh mereka berayun maju dan mundur, sekali lagi. Socks terjatuh.
Aku mengeluarkan sepotong hotcake dari inventoryku dan menaruhnya di depan mereka, tapi mereka tidak akan makan hotcake tersebut begitu saja. Kali ini, tatapan mereka terarah lekat-lekat pada botol madu yang ada di tanganku. Ya ampun, sambil mendesah, aku menuangkan madu tersebut di atas hotcake.
Hotcake berlumur madu itu dibelah dari berbagai sudut, kemudian para hewan muda itu mulai makan. Hotcake yang berbentuk lingkran berkurang ukurannya dalam sekejap, dan setelah mengubah bentuknya, pada akhirnya berdiam di dalam mereka semua.
Tapi itu tidak berakhir di situ. Tiga hewan muda itu menempel pada kaki-kakiku. 'Lagi', Rickle dan yang lainnya menjerit 'lagi'. Si rubah muda menatapi botol madu di tanganku. Juga, Ryui melingkarkan dirinya di sekitarku dan menempel padaku dengan kepalanya.
"H-hei, kalian. Tenang, tenang!"
Didorong oleh Ryui, aku terjatuh di tempat. Seperti biasa, aku tadinya berpikir untuk berhenti bersikap lemah yang membuatku terdorong jatuh, tapi sebelum aku dapat melakukan itu, madu tumpah dari botol yang ada di tanganku dan mulai menempel pada gaun one piece putih dan pipiku.
"Uwaa…gawat. Sekarang aku melakukannya. Nodanya akan jelas terlihat karena warnanya putih… Hei, ini adalah game, meskipun bajunya kotor atau basah, nantinya akan menghilang seiring waktu. Kira-kira apakah itu juga terjadi untuk ini?"
Sementara berpikir begitu, aku menyeka madu tersebut dari pipi dengan jariku. Aku merasakan arah tatapan yang menggelitik kuat pada ujung jari tersebut.
Botol di tanganku masih berisi madu sekitar sepertiganya. Sementara sisanya tumpah di pakaianku, menetes dari pipiku ke tengkuk dan tulang selangka, begitu juga di pipi dekat mataku dan ujung jari.
*slurp*… bersamaan dengan suara seperti seseorang yang sedang menelan liurnya, para monster cilik itu melompat padaku.
"Hei, ke mana kalian masuk! Lagipula, kalian tidak bisa mendapatkan madunya!"
Kawanan monster muda itu mengerumuniku, membuatku tidak dapat bergerak. Tidak, aku dapat bergerak, tapi aku khawatir bahwa aku mungkin saja akan menggencet Socks dan Neshias yang kecil, jadi aku tidak bergerak. Terlebih lagi, aku menjatuhkan botol berisi madu tersebut.
Si rubah muda menempatkan kepalanya pada botol tersebut dan menjilati madu yang tersisa di dalam botol tersebut dengan mati-matian. Kadang-kadang, dia berhenti menjilat untuk melirik ke arahku.
Neshias dengan manis mengunyah tangan kananku yang berlumur madu dengan paruh kecilnya. Perasaan yang ditimbulkannya mengirimkan hawa dingin ke punggungku.
Socks melompat ke arah madu yang tumpah pada gaun one piece dekat perutku dan mulai menjilatinya mati-matian.
Kedua tangan dan perutku terkunci. Di tempat dimana madunya menetes ke tulang selangkaku, Rickle memasuki pakaianku dan mulai menjilatinya. Ryui menjulurkan lehernya ke arah pipiku yang terdapat madu dan mulai menjilatiku. Fisik Ryui jauh lebih besar daripada monster kecil-kecil, dan tekanannya lebih kuat. Belum lagi, karena leher Ryui berada di bahuku, aku tidak dapat bergerak.
"H-hei, kalian, berhenti menjilat! Jangan hisap kainnya! Kenapa kau memasukkan kepala kalian ke dalam bajuku! Berhenti menjilati tempat yang sama sekali tidak ada kaitannya! Ngh?‼ Lyly, help!"
"Hmm, Yuncchi, berjuanglah!"
"DASAR PENGKHIANAAAATTT!"
Sementara jerit penderitaanku menggema, Lyly terus tersenyum dengan senangnya. Orang ini, yang dia inginkan hanyalah menonton dari pinggir. Yakin dengan hal itu, aku bertahan selama beberapa menit atas penyiksaan tersebut. Selama waktu itu, aku telah menunjukkan penampilan yang tidak ingin siapapun melihatnya. Selamanya. Aku bahkan tidak ingin mengingatnya.


"Selamat atas usahamu yang bagus, Yuncchi."
"…haah, haah. Bantu aku, bukannya hanya melihat."
"Hmm, tidak mungkin, mustahil. Aku menyerah."
Sambil berkata demikian, Lyly mengangkat bahu dengan ringan. Seiring waktu, madunya menghilang dari pakaianku dan para hewan muda yang menjilatiku, dengan enggan berpisah dariku.
"Haa~, aku merasa sepertinya aku terlalu lembut pada mereka."
"Itu benar, Yunchi. Itu kekalahan totalmu, ya 'kan?"
"Tepat."
Aku mengangkat bahu dan mengelus leher Ryui.
Untuk sesaat, ada ketenangan yang nyaman, tapi aku memecahkannya dengan segera.
"Lyly, ganti Sense-mu untuk yang bertarung."
"Hm? Tentu."
Aku merasa bersyukur atas tanggapan cepat tersebut tanpa sedikit pun keraguan. Apakah mereka berada di sana bahkan sejak aku bermain-main dengan para monster kecil? Aku juga mengganti Sense yang kupasang.


Possessed SP18
Bow Lv24】【Hawk Eyes Lv34 Speed Increase Lv20
Discovery Lv18 Magic Talent Lv36】【Magic Power Lv35
Enchant Arts Lv11 Alchemy Lv27 Dosing Lv11 
Cooking Lv12

Unequipped:
Taming Lv1 Synthesis Lv24 Earth Element Talent Lv7
Craftsmanship Lv26 Swimming Lv13】【Crafting Knowledge Lv25


Aku menyesuaikan susunan Sense-ku pada kebutuhan saat ini dan mengeluarkan busurku. Tatapanku berkeliling seperti biasa.
Ada tiga reaksi. Meskipun mereka tersembunyi di luar safety area, hal tersebut jelas terlihat untukku. Kalau mereka ingin bersembunyi, mereka seharusnya pertama-tama memiliki kemampuan selevel Ryui setidaknya. Aku menghela nafas.
"Jadi, Yuncchi, berapa banyak? Equipment mereka?"
"Tiga orang. Seorang warrior dan dua mage."
"Keseimbangan yang sangat bagus. Apakah mereka pelanggan?"
"Kalau mereka adalah pelanggan, mereka tidak akan menghunus pedang mereka, bukan? Jadi, apa yang kita lakukan?"
Aku menanggapi candaan Lyly yang tidak lucu, dan mempertimbangkan situasi saat ini.
Di safety area, pertempuran tidak akan terjadi dan player tidak dapat melukai satu sama lain. Tapi tidak bisa dikatakan ini aman sepenuhnya. Ada kasus si rubah muda kemarin. Kita tidak tahu kartu apa yang lawan mainkan.
"Aku telah menghubungi Magicchi dan Kurocchi, tapi mereka berada di perkemahan terjauh."
"Itu berarti mereka tidak bisa segera datang. Bagus kalau mereka menyerah untuk menyerang secara mendadak. Tapi misalkan mereka menyerang…"
Kami memikirkan berbagai jalan keluar.
Kalau mereka adalah player yang tidak memiliki tenda mereka sendiri dan ingin merampas rumah kayu kami——kalau begitu, mereka mungkin berniat untuk menyerang orang yang menyiapkan fasilitas-fasilitas ini.
Sebuah penyerangan dengan tujuan untuk mendapatkan item penyembuh dan item langka——itu mungkin berlebihan, tapi aku merasa bisa saja itu.
"Lyly, seperti apa kemampuan bertempur kita sepertinya?"
"Hmm? Cukup kuat? Kalau itu adalah strategi yang tidak rumit dan bukan yang tidak biasa, maka aku bisa melakukannya. Aku dapat menangani perburuan biasa. Sejak awal, para crafter tidak biasanya bertarung."
"Kalau begitu, apakah kau pikir dua crafter dapat menangani tiga petarung dalam pertempuran tidak seimbang?"
"Mustahil. Malahan, entah itu mereka bertiga atau cuma satu orang, aku akan lari."
"Benarrr~."
Biasanya, kami para crafter memiliki skill yang kurang menguntungkan. Sementara status yang berkaitan dengan crafting termasuk tinggi, namun status yang berhubungan dengan bertarung termasuk rendah. Ada perbedaan spesifikasi meskipun level kami sama.
"Haruskah kita segera melarikan diri?"
"Yah. Setelah mendengar cerita yang kemarin, sekalipun mustahil untuk mencuri objek tipe instalasi, sepertinya mungkin untuk merusakkannya."
"Yah, tendanya, 'kan. Tapi daripada kerusakan, sepertinya lebih ke arah 'hancurkan sepenuhnya'. Kalau begitu, ayo lari… cih."
Tanpa sadar, aku mendecakkan lidahku. Saat keadaan menjadi semakin waspada, para monster muda bersembunyi di belakang Lyly.
Tepat saat aku berpikir untuk melarikan diri, kami didekati dari sisi lain.
Mereka bertiga bergerak menuju jarak di mana bahkan Lyly dapat melihatnya. Mereka memegang senjata mereka, tapi sepertinya mereka tidak akan menyerang kami dengan segera.
"Apakah kau pemilik anak rubah hitam itu?"
Swordsman tersebut adalah seorang pemuda dengan rambut pirang sehalus sutera dan bermata biru. Entah kenapa, matanya sangat suram. Dia berbeda dengan penyerang yang kubayangkan. Tatapannya daripada dikatakan memancarkan dendam tanpa makna, memiliki rasa permusuhan murni di dalamnya, membuatku semakin waspada.
"Ada apa dengan kalian? Kalian membuat para monster kecil ini ketakutan. Sembunyikan senjata kalian."
Saat aku dengan kuat mengerutkan keningku dan membalas, para mage di sebelah kanan dan kiri swordsman itu memelototiku dalam diam, apapun itu. Si warrior membalas tidak lama kemudian.
Si swordsman yang menjadi pembicaraan, mengabaikan perkataanku dan melirik para monster muda yang sedang bersembunyi di belakang Lyly.
"Aku mengerti, jadi begitu ternyata. Kau adalah si pemilik anak rubah hitam. Aku akhirnya menemukanmu."
"Tidak, tidak. Aku tidak mengerti."
"Apakah kau lupa tentang kejadian kemarin?! Kau telah menjadi masalah besar bagi kami dan banyak player lainnya. Player yang membuat seekor anak rubah hitam untuk menyerang kami, adalah musuh kami!"
Pria yang ada di kiri dan kanan berbicara setelah mendengar tanggapanku.
"Yuncchi, ayo lari!"
Aku mematung karena tuduhan tak terduga tersebut, dan mendapatkan kembali kesadaranku hanya setelah mendengar perkataan Lyly. Kami mulai lari sesegera mungkin.
Berpikir bahwa merekalah yang benar, mereka mencapku jahat. Aku sama sekali tidak memikirkannya, tapi saat aku berbicara, mereka langsung membuat kesimpulan yang salah. Perkataanku sama sekali tidak sampai pada mereka.
Lyly menempatkan Neshias di bahunya dan dua monster kecil lainnya di tangannya. Kami meloloskan diri ke arah timur. Ryui juga berlari sejajar dengan kami, dengan si rubah muda di atasnya. Setelah itu, orang-orang tersebut juga mengejar kami. Mereka ternyata cepat.
"Ayo menjauh dari mereka secepatnya. «Enchant» ——Speed!"
Sambil meninggalkan kilasan cahaya kuning saat kami berlari, kecepatan kami meningkat.
"Serahkan padaku. «Wind Armour»."
Si mage melancarkan sebuah mantera, dan kemudian sebuah tabir magis berwarna hijau menyelimuti para pengejar.
Dan kecepatan lari mereka jelas meningkat.
"Sihir apa itu!"
"Itu level lebih tinggi dari Sense Wind Element, sihir Storm Element. Kalau dia menaikkannya sebanyak itu, maka kita akan tamat setelah mendapat tiga serangan dari dia."
"Kenapa kau malah begitu santai! Kalau kita tidak meningkatkan pertahanan kita, kita akan mati. «Enchant» ——Mind!"
Kali ini, aku memasangkan sebuah enchant pelindung pada kami.
Terintimidasi oleh para pengejar yang menyerbu kami dari belakang, aku merasa takut. Meskipun Lyly bertingkah seenaknya, aku dapat melihat ketidaksabaran pada ekspresinya.
Aku mencoba memikirkan sebuah solusi entah bagaimana, tapi karena aku merasa tidak sabar dan takut, aku tidak bisa menemukan sedikit pun.
Dan aku menggunakan satu-satunya solusi yang kutahu. Itu benar——sebuah mail SOS pada semua kenalanku.
——TOLONG. SAAT INI, LYLY DAN AKU SEDANG DALAM PELARIAN. TIDAK AKAN BERTAHAN.
Isinya sederhana. Kalau aku membacanya ulang nanti, aku dapat dengan mudah mengatakan betapa paniknya aku saat mengirimnya.
Segera sesudah itu, ledakan badai dan api mendekat dari belakang dan menyerempet kami. Terbungkus dalam cahaya dan gemuruh yang memekakkan telinga, Lyly dan aku berteriak.
"AHHHhhhh! Ada cooldown untuk penggunaan sihir, ya 'kan? Kenapa dia bisa melepaskan rentetan serangan semacam itu?!"
"Itu sangat pendek, dia pasti memiliki level tinggi Chanting untuk memperpendeknya!"
"Aku tidak mendengar itu! Sial, cepatlah kehabisan MP!"
Aku mengeluarkan kata umpatan dengan keras, dan lari menuju ke timur mati-matian.
Sihir yang dilepaskan membakar pepohonan dan mencungkil tanah keluar. Sihir tersebut mendekati kami kadang-kadang, kami mempertahankan diri kami dengan Magic Gem Clay Shield­-ku dan perisai air Ryui. Akan tetapi, sihir lawan sangat kuat, kulit dan rambut kami terpanggang karenanya dan angin tanpa ampun menyerang punggung kami. Kami entah bagaimana berhasil selamat, tapi persediaan Magic Gem yang kupunya sudah terkuras, dan perisai Ryui juga bukannya tak terbatas.
Akan tetapi, bukannya kami tidak membuat serangan balik sama sekali.
Mengingat soal itu, aku berbalik menghadap mereka dan menembakkan panah pada para mage, tapi panah-panah tersebut dihalangi oleh si swordsman. Frustrasi, dia mendecakkan lidahnya saat menanggapi serangan tersebut sambil berlari. Sebagai yang diserang, mereka tidak dapat terus menerus melancarkan mantera mereka.
Sedangkan Lyly, dia sedang memegangi si kecil dan berlari sambil melindungi mereka. Sudah jelas, dia tidak dapat berkonsentrasi saat sedang diserang.
Dengan kata lain, kami terjebak dalam pengulangan.
Apakah musuh akan kehabisan MP-nya duluan, atau apakah kami yang akan dihajar lebih dulu? Kami terus bermain kejar-kejaran seperti itu.
"Yuncchi, apakah ada jalan keluar?"
"Aku telah mengirim pesan pada semua orang yang kutahu!"
"Itu memberi kita sedikit harapan."
"Hei, apa maksudnya itu!"
Aku tidak bisa mengabaikan kata-kata yang Lyly ucapkan dengan tenang di sampingku. Apa, kau mengatakan bahwa aku tidak memiliki banyak kenalan? Umm…Taku, Myu, Sei-nee…eh? Hanya teman-teman mereka, Magi-san dan Cloude?
"Ada apa? Yuncchi?"
"Tidak, ternyata aku mungkin tidak punya terlalu banyak teman…"
"Sudahlah!"
"Ya ampun, itu aneh… wha?!"
Sambil berbicara, aku memutar dan menembakkan sebatang panah. Sambil melakukan serangan kejutan itu, aku memastikan apa yang sedang terjadi di belakang.
Sihir yang dilepaskan pada dasarnya adalah versi lebih kuat dari sihir api dan angin, yang sekarang setahap demi setahap berganti dengan versi yang lebih rendah dan lebih tidak menyusahkan. Sepertinya menekankan pada sihir api juga.
Terlebih lagi, aku telah melihat musuh mengeluarkan MP Potion sambil mengambil jeda waktu menyerang.  Sepertinya mereka merasa kalut.
Melancarkan sihir secara acak, sesekali menghalangi jalur atau menyerempet kaki kami. Begitu hal tersebut berhenti, itu terlihat tenang.
Walau begitu, adalah hal yang pantas untuk tetap melanjutkan tanpa berhenti. Sebuah tubuh virtual dapat berlari tanpa memperhatikan kelelahan fisik. Setelah bertahan berlari cepat untuk waktu yang cukup lama, sihir lawan akhirnya berhenti.
"Apakah mereka akhirnya kehabisan MP?"
"Fuu… baguslah kalau memang seperti itu. Dengan demikian, mereka tidak akan mengejar kita lebih jauh lagi."
"Ayo melarikan diri kalau begitu."
Kami mencoba untuk melarikan diri sekali lagi, dan saat kami menurunkan pinggul kami, aku merasakan sebuah reaksi baru dari Discovery. Sihir baru yang dilancarkan lawan tidaklah kuat. Sebuah hempasan tembok misterius tak terlihat mengenai Lyly.
"Lyly!"
Saat aku berteriak, Lyly perlahan-lahan ambruk. Karena terjatuh ke depan, dia akan menggencet si kecil di tangannya, jadi dia memutar tubuhnya dan terjatuh pada bahunya kanannya.
Aku bergegas mendekatinya dengan cepat, tapi tidak ada dampak pada HP-nya, dia hanya terjatuh. Dilihat dari gerakan matanya, dia masih sadar. Tapi dia tidak dapat mengucapkan kata-kata dengan jelas, sebuah suara serak terdengar.
"Yun…cchi…ini…para…lysis."
"…mengerti, Paralysis Potion kalau begitu, 'kan!"
Begitu aku mengeluarkan potion tersebut dari inventory-ku, sebuah serangan tak terlihat dilepaskan lagi. Potion tersebut menggelincir dari tanganku dan aku berlutut.
Tubuhku menjadi kebas. Satu-satunya yang dapat kugerakkan dengan bebas adalah mataku. Monster-monster kecil di sekeliling kami melihat dengan risau. Larilah, aku ingin berkata begitu tapi aku tidak dapat berbicara.
Kami mendapat status abnormal Paralysis 3 dan tidak dapat bergerak. Kami paham bahwa penyebabnya adalah mage yang ada di depan kami.
Matanya panjang dan vertikal, ada sebuah rasa dingin yang mengingatkan pada bangsa reptil pada kedua mata tersebut. Alasan mengapa pupil matanya berubah menjadi seperti seekor reptil bisa disimpulkan dari efek paralysisnya——
".. Snake Eyes…ya… 'kan."
Aku berusaha keras menggerakkan mulut yang tak bergerak, dan menggumamkan sebuah erangan.
"Tepat. Cukup memakan waktu, tapi akhirnya berhasil."
Dengan acuh tak acuh, mereka bertiga mendekati kami. Salah satu dari para mage menekan Lyly ke bawah, seseorang yang lain mengunci lengan di belakangku. Aku dibuat berlutut di depan orang-orang brengsek yang salah paham ini.
"Kau telah bertahan cukup lama. Gara-gara itu, kami kehabisan MP Potion. Yah, itu tidak masalah selama kami dapat menyingkirkan si jahat."
Aku memelototi si swordsman yang berkata begitu. Aku ditekan dari belakang dan busur yang kupegang terjatuh ke tanah. Aku tidak dapat mengeluarkan senjata apapun dari inventory ataupun menggerakkan mulutku. Para monster muda yang sedang melihat kami dalam keadaan itu, merasa sangat ketakutan.
"…jangan…sentuh…si kecil."
Aku menakuti mereka dengan sebuah tatapan tajam. Kalau kau berani menyentuh seujung jari sekalipun, aku akan membuat kalian menyesalinya seumur hidup. Setelah menyampaikan niatku, si penyihir di belakangku menekan lenganku lebih jauh. Aku menggertakkan gigi, menahan rasa sakitnya.
"Ayo lanjutkan sebelum efek Snake Eyes habis. Tujuan kita adalah si anak rubah hitam dan player yang memanfaatkannya."
"Katakan…alasannya."
"Anggota party kami tertelan dalam api yang dilepaskan oleh anak rubah hitam tersebut."
"…kalau begitu…tidak ada…kaitannya…dengan kami."
Setelah aku menggumamkan apa yang kupikirkan, dan lenganku semakin dipelintir. Tidak ada kesempatan lagi untuk berdiskusi. Memutuskan secara sepihak, si warrior menaikkan pedangnya.
Begitu pedang tersebut akan diayunkan,  mau tidak mau aku menutup mataku. Aku mengira akan diriku akan ditebas, tapi tidak peduli berapa lama aku menunggu, serangan tersebut tidak datang. Aku merasakan deja-vu dalam situasi seperti ini. Dengan takut-takut, aku membuka mataku. Ada sebuah sosok yang memisahkan aku dengan si swordsman.
"Saat aku melihat panggilan minta tolong Yun-chan, aku penasaran apa yang terjadi. Tapi ini sepertinya sangat merepotkan."
"…Shizu…ka-nee."


"Yun-chan, di dalam game seharusnya Sei-nee, 'kan?"
Jangan gunakan nama asli di dalam game! Sei-nee mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan situasi ini. Akan tetapi, pedang yang diayunkan padaku dipantulkan secara diagonal dengan sebuah tongkat.
"Kenapa kau menghalangi kami? Itu adalah si pemilik anak rubah hitam!"
"Tidak mungkin Yun-chan akan melakukan sesuatu yang buruk. Juga, Yun-chan meminta pertolonganku, itu cukup bagiku untuk melindunginya."
"Kalau begitu kami akan menghabisinya dengan paksa!"
"…Sei-nee?!"
Sambil berkata demikian, si warrior mengayunkan pedangnya ke arah Sei-nee. Kemampuan bertarung jarak dekat Sei-nee yang seorang pengguna sihir itu… pikirku, tapi perkiraanku keliru.
Dia menarik mundur tongkatnya, dan setelah mengimbangi pedang tersebut, dia menangkisnya. Serangan yang dari atas kembali lagi. Meskipun Sei-nee diserang lagi, dia sekali lagi mempertemukan pedang tersebut dengan tongkatnya dan memukulnya sementara itu berada di atas. Sambil mempertahanka momentumnya, pedang tersebut melayang menjauh dan menancap tanah.
"Caramu menggenggam pedang terlalu lemah. Aku penasaran apakah itu karena biasanya kau bertarung menghadapi monster-monster…"
Lawan terperangah sesaat, tapi segera setelah itu ia bekerja sama dengan partynya.
Kedua mage melepaskanku untuk menanggapi Sei-nee, sedangkan si swordsman, dia menghunuskan pedang cadangan dari inventory.
"——«Quake Blast»!"
"——«Fire Shot»!"
Sihir api dan angin dilepaskan pada saat yang bersamaan. Menghadapi sihir yang muncul dari dua arah, Sei-nee menanganinya dengan tenang.
"——«Water Round»."
Setelah sebuah gumaman tenang, yang muncul adalah sebuah perisai air berbentuk melingkar, sama dengan Ryui. Ini sama dengan yang diciptakan Ryui tapi ukurannya dua kali lebih besar. Meskipun rasanya tidak dapat diandalkan, dengan mengagumkannya perisai itu melindungi kami dari serangan.
"Kalian tidak memanfaatkan titik kelebihan sihir kalian. Kalian perlu untuk bekerja sama dengan lebih baik lagi."
Dia menggunakan satu tangan untuk menciptakan sebuah perisai air untuk mengimbangi mereka. Perisai itu dengan sempurna menahan sihir angin dan api yang mendatangi kami. Gerakannya sendiri adalah sesuatu yang terlihat lambat di mataku. Dia menahan serangan tersebut dengan gerakan yang paling sedikit.
"Angin memiliki kecepatan proyektil dan tembakan yang tinggi. Api, memiliki daya tembak sekejap yang hebat. Kerjasama yang bagus adalah menggunakan temperatur tinggi untuk menembus pertahananku dan membidikkan peluru angin dalam waktu yang bersamaan. Tidak perlu menggunakan kekuatan tingkat tinggi untuk mengalahkanku."
Sambil berkata begitu, Sei-nee menghalangi serangan tersebut satu demi satu seakan seperti sedang menari. Dia menguliahi orang-orang yang terkejut yang menyerangnya. Mereka terguncang, dilampaui olehnya.
"Jangan lupakan aku!"
Si swordsman melompat ke arah Sei-nee dari belakang rentetan serangan angin dan api sementara Sei-nee teralih.
"——«Wind Armour»!"
Si pengguna sihir angin memasang sihir peningkat kecepatan pada si swordsman  yang sama dengan yang dia gunakan saat mereka sedang mengejar kami, dan si swordsman memperpendek jarak dalam sekejap. Sementara mempertahankan perisai air tersebut yang dia ciptakan, Sei-nee bersiap untuk menahannya.
Akan tetapi, lawan mengangkat pedangnya sebelum Sei-nee dapat melancarkan sihir dan mengayunkannya ke bawah.
"——«Gram Sword»."
Pada saat yang bersamaan, Sei-nee mengangkat tongkatnya untuk menahan pedang yang diayunkan tersebut. Ujung dari pedang tersebut ditutupi air dan berubah bentuk menjadi sebilah pedang. Benda tersebut berbenturan dengan pedang musuh.
Sebuah pedang yang ditambahkan pada sebuah tongkat panjang, daripada mengatakannya sebagai sebuah pedang, itu lebih mirip sebuah tombak. Benda tersebut berguncang ringan dan menangkis pedang musuh seperti sebelumnya. Dengan gerakan setengah melingkar, dia membalas mengayun pada pedang musuh, dan membenturnya dengan kuat, dia mengirimnya mundur dengan tongkatnya.
"Kau?! Bukankah kau seorang mage?!"
"Memang benar. Akan tetapi, hanya dapat menggunakan sihir adalah hal yang merepotkan, jadi aku belajar sedikit tentang bertempur menggunakan tongkat juga."
Sambil berkata demikian, saat musuh menebas sekali lagi, dia menusuknya dengan tongkatnya.
Sekalipun dia sedang diserang oleh si swordsman, Sei-nee terus mempertahankan perisai air di tengah udara dan mengimbangi serangan-serangan tersebut dengan sebuah tongkat. Sekalipun gerakannya lamban, dia menghindari serangan-serangan itu dengan ringan dan fleksibel seperti sebatang pohon willow dan menikamkannya kapan pun dia memiliki kesempatan tersebut. Ada sebuah perbedaan tekhnik yang dapat dilihat bahkan oleh seseorang dengan mata yang tidak terlatih.
"Kenapa! Kenapa seranganku tidak kena?!"
Menanggapi pertanyaannya tersebut, Sei-nee dengan kuat menghujam bagian ulu hati musuh. Untuk mengurangi dampak serangan tersebut, si swordsman melompat kuat ke belakang. Dan di belakangnya adalah——


"Sei-nee! Serangan besar!"
"Tidak apa-apa. Onee-chan benar-benar kuat."
Sebelum aku menyadarinya, efek Paralysis telah memudar dan aku menaikkan suara. Sei-nee memiliki sebuah kesempatan jeda waktu dan tersenyum. Mereka bertiga membuat si swordsman untuk mengulur waktu dan si duo mage mempersiapkan sebuah serangan sihir kuat.
Sei-nee pastinya sudah mempersiapkan sesuatu yang besar untuk menghilangkannya.
"——«Flame Burn»!"
"——«Mirage Mist»!"
Sei-nee. Meskipun aku memanggilnya, suaraku tenggelam dalam raungan api. Aku menatap api yang menelan Sei-nee. Aku mengawasi saat sosoknya menghilang.
Itu hal yang mustahil bagaimanapun juga. Kupikir Sei-nee mungkin menang pertarungan 1 VS 3, tapi…
"Kekuatan serangan sihir api memang mengagumkan. Kalau aku menghadapi secara langsung, itu akan berbahaya."
Dia melipat lengan di bawah dadanya dan melihat ke bawah ke tempat yang terbakar.
Mereka bertiga melihat ke arahnya dan pada saat yang sama mereka terbelalak terkejut. Tongkatnya diarahkan pada si mage angin dan berhenti bergerak.

"—— «Aqua Bullet» "
Pada saat itu juga, lusinan peluru air muncul di belakang Sei-nee. Itu adalah mantera elemen air tingkat pemula. Tapi dengan sebanyak itu, menjadi sebuah ancaman meskipun itu adalah sebuah sihir pemula. Tertegun oleh pemandangan itu, tidak ada seorang pun yang bergerak. Tidak, kalau mereka menyerang, lusinan peluru air itu akan menghujani mereka.
"Tentunya, kalau ini untuk menghadapi monster-monster, yang terbaik adalah dengan menembakkannya segera setelah merapalkannya, tapi saat menghadapi player, tidak perlu untuk menggunakan sihir berkekuatan tinggi."
"Apa?! Apa-apaan jumlah sihir itu?! Ada apa denganmu! Kenapa seorang maget dapat bertarung dalam jarak dekat! Apa-apaan dengan sikapmu itu? Menahan diri, memandang rendah kami!"
Setelah si swordsman menjadi histeris dan meninggikan suaranya, Sei-nee merespon dengan acuh tak acuh.
"Aku tidak menahan diri, dan aku tidak ada niat untuk menganggap remeh kalian. Seperti inilah caraku bertarung."
Saat dia berbicara, jumlah dari peluru-peluru air di belakangnya bertambah semakin banyak.
"Ini adalah magic-user's build dasar, Delaymembuatku dapat mengumpulkan sihir yang kuciptakan untuk sementara waktu. Sedangkan untuk pertarungan jarak dekat, seperti yang kukatakan tadi, aku hanya mempelajari bagaimana caranya bertarung dengan sebatang tongkat. Waktunya sudah menipis. Nah sekarang——"
Berjuanglah dan tahanlah. Dan saat dia menggumamkan kata-kata ini, lusinan peluru air dilepaskan pada saat yang bersamaan dengan suara keras.
Mereka bertiga berusaha keras menghindari bola-bola yang menembaki mereka. Sekalipun mati-matian mereka mencari kesempatan untuk menyerang, mereka tidak dapat meloloskan diri dari rentetan peluru-peluru air.
Mencungkil tanah, menembus pepohonan, serangan air tersebut menyebar dalam jangkauan luas yang tak perlu. Meskipun sebagian peluru airnya tidak mengenai sasaran, kemanapun mereka mencoba untuk menghindar, musuh terkena peluru air tersebut.
Kedua pengguna sihir tersebut mundur lebih awal, sementara si pemuda dengan sebilah pedang itu maju sambil bersiap menerima serangan tersebut, tapi Sei-nee sudah mengganti peluru air yang telah terpakai.
Semakin dekat dia dengan Sei-nee, semakin rapat serangannya dan juga tingkat tembakkannya. Tidak dapat bertahan dengan serangan sihir berturut-turut, dia terhempas menjauh.
"Apakah kau sudah berminat untuk berbicara sekarang?"
"Kenapa…kenapa kau melindungi dia?! Dia juga bertanggung jawab menghancurkan party kami! Dia adalah si pemilik anak rubah hitam itu!"
"Kubilang, itu bukan aku! Ada orang idiot mengambil seekor monster kecil dan memasang paksa sebuah cursed equipment padanya, yang kemudian berakhir seperti itu. Memang, ini adalah si anak rubah hitam tersebut, tapi itu adalah kecelakaan malang yang disebabkan oleh faktor yang saling tumpang tindih."
"Lalu, ke mana orang itu pergi!"
"Sepertinya dia adalah orang pertama yang terbakar."
Sei-nee dengan tenang mengatakan yang sebenarnya.
"Sehari sebelum kejadian itu, sepertinya ada peristiwa yang mirip dengan seekor anak rubah yang mengamuk dan membuat perkemahan terbakar. Party yang menyebabkan hal tersebut terlalu lambat untuk melarikan diri."
"Kalau begitu siapa! Pada siapa aku harus membalas dendam kawan-kawanku Mereka bertiga menanti-nantikan event ini! Apakah tidak masalah memberikan alasan dan akhir yang payah seperti itu?!"
HP mereka bertiga telah berkurang begitu banyak. Mereka menjatuhkan senjata mereka dan mencengkeram tanah.
Saat Sei-nee mulai berjalan ke arah mereka bertiga tanpa ragu-ragu, aku ingin memanggilnya, tapi dia menempatkan telunjuknya di bibir untuk menghentikanku. Sepertinya dia memikirkan sesuatu. Kurasa sebaiknya aku menyerahkan saja semua padanya.
 "Kelihatannya kalian masih tidak yakin, tapi kalian tahu bahwa menimpakan kesalahan pada Yun-chan dan teman-temannya adalah hal yang tidak beralasan, bukan?"
"…ya."
Mereka menatap ke bawah tanpa daya, dan membalas dengan samar. Walau begitu, Sei-nee tersenyum puas dan melancarkan sebuah sihir penyembuhan pada mereka bertiga.
Sekalipun Sei-nee memulihkan luka yang dia timbulkan pada mereka, namun sepertinya luka mental tidak akan segera pulih. Sei-nee dengan lembut sekaligus tegas berbicara kepada mereka bertiga.
"Masih ada beberapa hari yang tersisa. Kenapa kalian tidak memikirkan apa yang bisa kalian lakukan sebagai gantinya? Sesuatu yang tidak akan mengganggu orang lain tentunya."
"Sesuatu yang dapat kami lakukan? Itu…"
Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, ketiganya menatap satu sama lain dan Sei-nee melanjutkan bicara lebih jauh.
"Saat event ini selesai, kalian harus membusungkan dada kalian dengan rasa bangga dan mengatakan pada mereka bahwa ini menyenangkan. Bisakah kalian menaikkan level kalian? Atau mungkin kalian akan mendapatkan item langka untuk diberikan sebagai hadiah? Atau bisakah kalian menyombongkan diri saat melihat ekspresi iri mereka?"
Sei-nee, yang terakhir adalah hal yang keterlaluan untuk dilakukan. Aku bergumam dalam hati, tapi kata-katanya pastilah telah melepaskan ketegangan ketiga orang itu dan ekspresi mereka melembut.
"Juga, sekalipun orang yang mundur itu pastinya tidak puas, apa yang akan mereka pikirkan kalau mengetahui kalian mem-PK seseorang? Kurasa teman-teman kalian tidak akan membuat ekspresi bagus mendengar kalian melakukan PK."
"…ya. Kurasa juga begitu."
Ketiganya mengangguk malu-malu menanggapi Sei-nee. Lyly terlepas dari paralysis juga, dia berbaris di sebelahku bersama-sama dengan para monster kecil.
"Aku…"
Si swordsman ingin mengatakan sesuatu, tapi Sei-nee menghentikan dia untuk berbicara dengan cara yang sama yang dia lakukan padaku.
"Aku bukanlah orang yang seharusnya kalian ajak bicara mengenai PK. Apakah kalian akan dengan bangga bertemu kembali dengan rekanmu atau tidak, itu terserah kalian."
Serangan itu sendiri adalah sebuah kesalahpahaman yang disebabkan kurangnya informasi. Tapi haruskah itu dimaafkan? Itu bukanlah sesuatu yang seharusnya aku katakan… korban kali ini bukan hanya aku, ada orang lain di sini juga.
Aku melirik ke arah Lyly yang menanggapiku dengan sebuah anggukan. Terserah padamu, katanya. Karena itulah, aku menempatkan perasaanku dalam kata-kata——
"——Sekalipun ini adalah sebuah kesalahpahaman, kenyataan bahwa kalian menyerang Lyly yang serekan denganku tidaklah berubah."
"…apa yang seharusnya kami lakukan supaya kau memaafkan kami."
Ketiganya mengerut lebih jauh mendengar perkataanku. Aku membalas.
"Setelah kalian melakukan sesuatu yang buruk, kalian harus meminta maaf 'kan?"
"Kami mengerti. Maaf."
Dan mereka menundukkan kepala mereka.
"Bukan padaku. Minta maaflah pada Lyly dan si kecil."
Aku menunjuk pada Lyly dan Ryui dengan jariku. Mata mereka bertiga membulat dan mereka membungkuk dalam pada mereka. Setelah itu, setelah yakin bahwa ketiga orang itu pergi, Lyly menarik bajuku dan bertanya.
"Yuncchi, itu tidak masalah?"
"Yang membuatku marah, adalah mereka menakut-nakuti si kecil. Aku tidak peduli hal lainnya."
"Yun-chan tidak pernah berpikir tentang dirinya sendiri."
Sei-nee mengerutkan alisnya merasa cemas. Kurasa itu tidak ada kaitannya dengan ini seharusnya.
"Aku berpikir bahwa Yuncchi akan memaafkan mereka, tapi aku tidak mengira dia tidak melakukan apapun."
Yuncchi baik meskipun dia sedang marah. Dia berbicara kepada partnernya, Neshias yang sedang menaiki bahunya.
Dan, Sei-nee mengamati kami dengan seulas senyuman sebelum berbicara dengan tenang dan menimbulkan rasa cemasku.
"Ngomong-ngomong…karena menanggapi pesan Yun-chan, Taku-kun dan Myu-chan bersama teman-temannya sedang memulai pencarian berskala besar."
"…entah kenapa, aku merasa itu akan menjadi sebuah masalah yang serius."
"Yuncchi, kau harus menyelesaikannya. Berjuanglah!"
"Tidak apa-apa. Kau masih bisa melewatinya. Yah, kau tidak boleh membiarkan mereka mencarimu semalaman."
"Sial! Ketiga party itu! Mereka pasti tidak akan memaafkanku!"

Aku meninggikan suaraku, kesal dengan kesulitan yang ada di hadapanku. Melihat hal itu, sebuah cengiran muncul di wajah Lyly dan Sei-nee.

Only Sense Online Jilid 2 Bab 6 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.