29 Maret 2016

My Dearest Jilid 2 Chapter XVI



MY DEAREST JILID 2
TRUTH OF THE WORLD'S DESTINY
CHAPTER XVI
KEMBALI BERTEMU

Bagian pertama: 
Suasana masih terasa tegang di sekitar Anggela dan yang lainnya. Semua memberikan tatapan khawatir pada Heliasha dan Alysha.
“Tung-tunggu apa maksudnya itu, Kak!?” Alysha terlihat khawatir ketakutan melihat Keisha. 
“Anggela …, kamu juga harus mengetahui ini,” Keisha lekas menatap adik laki-lakinya. 
“Me-mengetahui apa, Kak?” senyum khawatir Anggela. 
“Selama ini, kita hanya dijadikan pion olehnya, dijadikan bidak untuk tujuannya.” 
“Dia? Maksudnya Charle –“ tanya Anggela  mulai berjalan menghampiri Keisha, tapi. 
“Tidak! Sepertinya dia juga hanya dijadikan bidak.” 
“Ol-oleh siapa?” tanya Alysha terlihat khawatir. 
“Apa kamu benar-benar tidak tau atau hanya berpura-pura tidak tau, Alysha?!” kesal Keisha menatap Alysha. 
“Sungguh aku tidak mengerti apa yang Kak Keisha katakan…,” Alysha terlihat kebingungan dan ingin menangis. 
“Tunggu, sepertinya kalian sedang membicarakan sesuatu yang serius disini…, apa tidak apa kami mendengarkan pembicaraan kalian?” tanya khawatir Silica. 
“Iya, apa tidak apa-apa kami –“ Haikal terlihat khawatir melihat Keisha dan yang lainnya. 
“Tak apa, lagipula masalah ini juga menyangkut dengan keluarga anda,” senyum Keisha menatap Haikal. 
“Be-begitu…. Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya sesuatu tentangmu.” Haikal terlihat khawatir melihat Keisha. 
“Ya, apa itu?” 
“Di-diantara ketiga putri kami, siapa yang menjadi anak kedua kami…?” 
“Apa maksud ayah itu Kak Halsy? Memangnya kenapa –“ Alysha terlihat kebingungan. 
“Bagaimana keadaanya!? Ap-apa dia baik-baik saja –“ tanya Haikal amat sangat cemas. 
“Jika bicara tentang realitas yang kita ketahui, dia sudah meninggal,” jelas Keisha memejamkan mata. 
Anggela dan Alysha hanya tertunduk sedih karena perkataan Keisha. 
“Be-begitu …? Su-sudah pasti yah….” Senyum sedih Haikal memejamkan mata. 
Haikal …,”  Alfa pun memberikan tatapan sedihmelirik Haikal. 
“Dia dibunuh oleh Charles dan kelompoknya .…” Alysha tertunduk memejamkan mata. 
“Tung-tunggu dia dibunuh!? Bukan karena penyakit?!!” 
“Tidak, Kak Halsy dibunuh oleh –“ 
“Dimana aku saat kejadian itu terjadi!? Kenapa aku tidak menolongnya!?” kesal Haikal menatap putrinya. 
Alysha hanya terdiam sedih melihat Anggela dan Keisha. 
“Di ma-masa depan, Ayah dan Ibu sudah meninggal…,” senyum sedih Alysha terlihat menundukan kepalanya. 
“Aku …? Mati ....? Ka-karena apa?” Haikal terlihat sangat terkejut kebingungan. 
“Tidak tahu ….. Sejak aku kecil, kalian berdua sudah tidak ada..” Alsyha menangis pelan. 
“Ma-maaf….” Haikal terlihat kesal, dia benar-benar mengepalkan kedua tangannya. 
“Itu jika kita berbicara realitas yang kami ketahui, tapi kami masih belum tau apa Halsy masih hidup atau sudah mati…” Keisha terlihat kesal. 
“Dia masih hidup Kak! Aku yakin…” Anggela terlihat yakin memejamkan mata. 
“Jika iya, kemungkinan besar kita akan melawannya. Kamu sendiri yang harus menghentikannya….” Keisha tersenyum sedih melihat adiknya. 
“Ke-kenapa!? Kenapa aku harus melawannya–“ 
“Karena orang yang mengendalikan kita selama ini adalah dirinya, dalang sebenarnya dari pemberontakan Kineser dimasa depan adalah dia, dan orang yang bertanggung jawab membawa kita ke dunia ini untuk dijadikan bidak olehnya adalah tunanganmu itu, Anggela.” 
Seketika semua orang yang berada didalam ruangan tersebut hanya terdiam terkejut tidak percaya. 
“Ka-Kak Keisha pasti bohong, kan?” Alysha bertanya gugup. Alysha mengeluarkan sedikit air matanya. Tubuhnya bergemetar ketakutan. 
“Aku serius …. Aku tidak tau apa tujuannya hingga dia berani mengorbankan segalanya. Tetapi yang jelas kalau dialah orang yang akan kita hadapi terakhir nanti.” 
“Mu-mustahil….. aku tidak percaya kalau Kak Halsy adalah orang yang berada dibelakang semua in –“ Alysha terlihat shock. 
“Aku juga tidak percaya Kak, tidak mungkin dia melakukan semua ini!” kesal Anggela. 
“Aku tau kamu akan berbicara seperti itu, tapi hadapilah kenyataan. Kenyataan kalau kekasihmu lah yang menyebabkan bencana in –“ 
“Atas dasar apa Kakak menuduhnya seperti itu, apa karena dia sudah menyerangku dan sudah membantu Charles –“ kesal Anggela menatap tajam kakaknya. 
“Sangat sulit untuk meyakinkanmu dengan perkataan, Anggela. Saat waktunya tiba, kamu akan mengetahui kebenaran tentang kekasihmu itu,” Keisha terlihat sedikit kesal menatap adiknya. 
“Aku yakin kalau kebenaran seperti itu tidak akan pernah datang padaku….” Anggela masih terlihat kesal menatap kakak perempuannya. 
“Anggela….. Kakak mengatakan ini karena Kakak menyayangimu, berhentilah mengejarnya. Halsy yang sekarang bukan Halsy yang seperti dulu.” 
“Tap-tapi bagaimana dengan Kak Heliasha!?” teriak Alysha memotong pembicaraan Anggela dan kakaknya. 
“Dia sudah berpihak pada Halsy, saat ini kami sedang mengejar dirinya bersama Charles.” 
“Kami?” 
“Ya aku, Gramior, dan Lily.” 
“Tu-tunggu, apa Kak Keisha sedang bekerja sama dengan anggota pemberontakan!?” Fie terlihat cukup terkkejut. 
“Ya, tapi mereka sudah sadar. Tujuan Charles sudah melenceng jauh dari tujuan awalnya, saat ini dia hanya menjadi boneka oleh dirinya…” 
“Maksud Kakak oleh Halsy…?” tanya Anggela memejamkan mata. 
Keisha tidak menjawab pertanyaan Anggela, dia hanya tersenyum lalu berjalan membalikkan badan. 
“Hanya itu yang ingin aku sampaikan padamu, Anggela. Saat ini aku sedang mengejar Heliasha, jadi aku sedikit terburu-buru,” dia berjalan menuju pintu keluar. 
“Tunggu Kak, aku masih belum percaya dengan apa yang kamu katakan, biar aku yang memutuskan siapa yang sebenarnya salah.” 
“Ya terserah kau saja …” Keisha berjalan meninggalkan ruangan tersebut, bersamaan dengan kepergiannya untuk sesaat suasana terasa hening. 
Lalu beberapa detik setelah suasana hening tersebut datang. 
“Aku juga harus berangkat, aku juga harus segera menyusul dan menyelamatkan Eve…” Haikal mengambil jaketnya dan bergegas menuju pintu keluar, tapi langkahnya terhenti oleh kekasihnya yang berteriak memanggilnya. 
“Tung-tunggu!” 
“Hmmm?” Haikal menolehkan kepalanya melihat kekasihnya. 
“Kamu tidak lupa janjimu kan?” 
“Ya, aku tidak lupa,” senyum Haikal lalu berjalan cepat menuju pintu keluar. 
“Tunggu aku ikut!” kesal Anggela berjalan mengikuti Haikal. 
“Lukamu?” 
“Ini belum seberapa, aku masih bisa berjalan..” 
“Begitu….. yahtapi terserahlah –“ senyum Haikal tapi langsung terdiam dan mulai bertanya kembali pada Anggela. 
“Aku lupa bertanya … apa hubunganmu dengan putriku?” lanjut Haikal bertanya kebingungan. 
“Maksudmu Aku, Pah?” tanya Alysha mengacungkan tangannya. 
“Bukan… maksudku –“ 
“Halsy…?” tanya Anggela memejamkan matanya. 
“Ya….” 
“Kak Halsy adalah –“ Alysha terlihat sedih, tapi perkataanya terpotong oleh Anggela 
“Biar aku yang menceritakannya Alysha…..” senyum Anggela melihat Alysha. 
“Tapi apa tak apa –“ 
“Baiklah, perjalanan kita cukup lama. Jadi kita memiliki cukup waktu untuk menceritakan tentang hubunganmu dengan putri keduaku,” jelas Haikal mulai berjalan meninggalkan ruangan. 
“Ya,” senyum Anggela berjalan mengikuti Haikal. 
Kembali ke ruangan sebelumnya, Asha terlihat berjalan menghampiri putri bungsunya, Alysha. 
Dia tersenyum dan mulai bertanya pada putrinya. 
“Apa kamu juga mau?” 
“Mau apa, Mah?” 
“Menceritakan kepadaku tentang hubungan kakak dengan Anggela.” 
“Iya…” senyum Alysha melihat ibunya.

*** 
Bagian Kedua: 
Negara Britania Raya, Inggris. Ibu kota London saat itu terlihat cukup sepi saat Anggela dan Haikal melangkahkan kakinya di Negara yang cukup terkenal tersebut. 
Mereka berjalan lurus ke depan tanpa mempedulikan orang-orang disekitarnya yang memperhatikan mereka. 
“Dimana anda bisa tau jika markas keluarga Deviluck berada disini?” tanya Anggela sambil terus berjalan. 
“Beberapa saat setelah melawan guild Ignite, ada seorang gadis muda yang tiba-tba muncul dihadapanku. Dia tersenyum memberitahukan informasi ini.” 
“Gadis muda….? Bagaimana parasnya?” Anggela terlihat terkejut, wajahnya mulai terlihat cemas sambil menghentikan langkahnya. 
“Umurnya sekitar 13-15 tahun, rambut twintail berwarna merah muda seperti sakura, dia juga memakai pakaian –“ Haikal ikut menghentikan langkah dan berbalik melihat Anggela. 
“Sudah cukup……. Aku tau siapa dia…” Anggela terlihat sedikit kesal memejamkan mata, dia kembali berjalan melewati Haikal. 
“Kamu tau? Mungkikah dia berasal dari masa depan juga!?” tanya Haikal sambil kembali berjalan dan sejajar dengan Anggela. 
“Ya, dia adalah orang yang kita bicarakan daritadi dalam pesawat….” Senyum sedih Anggela melirik Haikal. 
“Halsy…..? Putri keduaku?” Haikal terlihat sangat terkejut, wajahnya benar-benar terlihat tidak percaya. Tubuhnya bergemetar. 
“Sebenarnya apa yang dia inginkan…? Aku benar-benar tidak mengerti. Terkadang dia berada dipihak kami, dan terkadang juga dia berada di pihak lawan,“ senyum Anggela. 
“Anggela bisa aku bertanya sesuatu padamu….?” Haikal terlihat serius melirik Anggela. 
“Apa kamu benar-benar tunangan putriku?” 
“Ya….” 
“Apa kamu benar-benar menyayanginya…?” 
“Jika aku tidak menyayanginya, aku tidak akan mengejarnya sampai 3 tahun terakhir ini. Dia sangat berharga bagiku…” Anggela memalingkan wajahnya, wajahnya terlihat sedikit memerah. 
“Begitu…..” senyum Haikal memejamkan mata. 
“Apa sebelum kematiannya, Halsy mengatakan sesuatu? Sesuatu yang tidak dapat kau atau bahkan duniamu mengerti.” 
“Ya dia mengatakannya! Mengapa kau bisa tau!?” Anggela terlihat antusias melihat Haikal. 
“Aku akan menceritakan masalah ini padamu karena mungkin kamu sangat berharga bagi putriku.” 
“Apa maksudnya itu!?” 
“Kamu mungkin tidak menyadarinya, tapi kemungkinan besar Halsy melakukan semua ini untukmu…. Untuk dunia ini.” 
“Maka dari itu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya?! Apa yang sedang dia lakukan sekarang ini !?Apa tujuannya!?” 
“Kita sampai…..” Haikal terlihat menarik Anggela, mereka berdua terlihat bersembunyi di balik tembok. 
“Tunggu! Anda masih belum menceritakan apapu –“ 
“Aku akan menceritakan padamu, masa lalu Aeldra yang kelam, perselisihan keluarga kami dengan keluarga Gehenica yang berlangsung lebih dari ribuan tahun.” 
Gehenica….?” 
“Ya, yang lebih penting kita harus bersembunyi dulu….” 
“Ap-apa itu markasnya…?” tanya Anggela sambil melihat bangunan besar. 
“Ya, kemungkinan besar itu mark –“ 
“Markas apa…..?” tanya datar seorang lelaki, dia melihat Haikal dan Anggela yang sedang jongkok bersembunyi. 
“Siapa!?” kesal Anggela mundur beberapa langkah, tatapan matanya yang tajam seakan-akan menyatakan kalau dia telah bersiaga. 
Haikal juga terlihat mundur dan bersiaga. 
“Heeee, anak muda….. aku menyukai tatapan matamu…” senyum lelaki tersebut melihat Anggela. 
Terlihat rupa lelaki tersebut, rambut hitam lurus, dengan mata yang sangat mirip dengan Anggela. 
“Apa yang kalian lakukan disini?! Siapa kalian?” 
“Hey hey…. Bukankah itu pertanyaan milik kami?!” tanya seorang lelaki lainnya. Dia tiba-tiba muncul dari arah berlwanan, lebih tepatnya muncul di belakang Anggela dan Haikal. 
Berbeda dengan rupa lelaki sebelumnya, lelaki tersebut memiliki rambut yang lebih cerah, yakni berwarna kuning keemasan. 
“Dua orang, kah….? Arcdemons…..?” 
“Ya kami dari ras Arcdemons, untuk apa kalian datang ke tempat terlarang ini…?” tanya lelaki berambut hitam. 
“Apa kalian penjaga yang menjaga markas ini!?” tanya Anggela melirik mereka. 
“Bukan kami hanya –“ 
“Jangan mengatakan hal yang tidak perlu, Jeremy…” lelaki berambut hitam menatap tajam rekannya. 
“Tapi Seraph –“ Jeremy terlihat khawatir melihat melihat lelaki berambut hitam. 
Seraph…?” Anggela terlihat cukup terkejut. 
“Aku tidak tau tujuan kalian, tapi markas ini milik kami! Aku sendiri yang akan menghancurkannya….” 
Jadi tujuan kita tidak berbeda jauuh…..” datar Anggela dan Haikal dalam hati. 
“Seraph, bisa aku bertanya padamu,” tanya Anggela 
“Darimana kau tau nama asliku….!?” Geram kesal Seraph, dia bertanya pada Anggela 
“Bukankah dia baru saja menyebutkan namamu tadi…” tanya Haikal datar menunjuk Jeremy. 
“Jeremy…. Sudah kubilang jangan memanggilku dengan nama palsuku…!!” geram Seraph terlihat sangat kesal. 
“Ma-maaf, aku tidak senga –“ 
“Apa kamu mengenal seseorang bernama Keina…?” 
Seketika Seraph langsug terdiam menundukkan kepalanya, Jeremy juga terlihat terkejut melihat Anggela. 
Kenapa membahas kau Keina… ?” Haikal terlihat kebingungan dalam hati, 
“Tu-tunggu darimana kamu tau nama itu, bocah…” Jeremy terlihat khawatir melihat Anggela. 
“Siapa kamu…?” tanya Seraph dengan tekanan yang dalam, dia tetap menundukkan kepalanya menatap tajam Anggela. 
“Anggela Dwiputra…” 
“Anggela? Baru pertama kali dengar, jadi apa hubunganmu dengan Keina…?” 
“Jika aku mengatakan kalau aku anaknya, bagaimana…?!” senyum khawatir Anggela melihat Seraph. 
“Anak Keina…..? Hahahaha, kamu mengatakan hal yang lucu anak muda,” senyum Seraph bersemangat, seketika percikan listrik berwarna hitam mulai keluar dari tubuhnya, dia terlihat bersiap menyerang. 
“Sudah di mulai, kah?” Haikal terlihat khawatir sambil ikut mengeluarkan percikan listrik berwarna emas. 
“Sepertinya sudah, dia benar-benar terpancing mudah oleh perkataanku…” senyum Anggela, dia juga ikut mengeluarkan percikan listrik berwarna biru. 
Oi oi, tiga pengguna Electrokinesis mengeluarkan kemampuannya bersamaan…? Momen yang sangat langka…..” 
WUINGG!!!! 
Ketiganya menghilang menggunakan percepatan yang berada di luar nalar, percepatan listrik yang menggunakan udara sebagai hambatannya. Tapi….. 
DUMMMMMM!!!! BUMMMMMMM!!!! 
Ketiga tiba-tiba terpelungkup, tertidur menatap tanah. 
Wajah shock terlihat dari mereka bertiga yang seakan tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Jeremy juga benar-benar terlihat terkejut melihat kejadian yang sangat cepat tersebut. 
“Ap-apa itu…..?” tanya Haikal terlihat masih tidak percaya, dia perlahan mulai berdiri dari tanah. 
“Apa kamu yang melakukannya…?” tanya kesal Seraph melihat Anggela, dia juga mulai ikut berdiri. 
“Jangan bertanya padaku, bukankah aku juga tertidur disini…” jawab Anggela memejamkan mata. 
“Kalau begitu….” Haikal melirik Jeremy yang tidak terlibat pertarungan. 
“Tidak, bukan. Dia terlalu lemah untuk melakukan hal tersebut,” Seraph melirik Jeremy. 
“Apa maksudnya itu…” datar Jeremy terlihat kesal. 
“Lalu –“ Haikal terlihat khawatir tapi perkataanya terpotong oleh Anggela. 
“Lihat keatas gedung, dia yang melakukannya….” Jelas Anggela, dia mulai berdiri sambil membersihkan badannya. 
Semua orang yang berada disana seketika melihat ke atas gedung, melihat seseorang yang menggangu pertarungan mereka. 
Gadis berambut twintail merah muda seperti Bunga sakura, tatapan sedih yang melihat dunia benar-benar tidak berubah dari wajahnya. 
“Siapa….?” Seraph dan Jeremy terlihat kebingungan 
“Sungguh, jika kalian bertarung disini…. itu akan sangat merepotkan untukku. Tolong jangan merusak rencanaku…” jelas gadis tersebut memejamkan mata. 
“Dia…..?” Haikal terlihat sangat terkejut melihat orang tersebut. 
“Ya….. Halsy Aeldra…. Orang yang selama ini aku kejar…” senyum sedih Anggela melihat tunangannya. 
“Tidak kusangka kalau kita akan bertemu lagi, Anggela….” Senyum sedih Halsy membalas senyuman Anggela. 

***

My Dearest Jilid 2 Chapter XVI Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Marcellino Novaldo

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.