21 Maret 2016

My Dearest Jilid 2 Chapter XV




MY DEAREST JILID 2
TRUTH OF THE WORLD'S DESTINY
CHAPTER XV
PERMINTAAN MAAF

Bagian pertama:
Untuk sesaat suasana terasa hening ketika Haikal dan Asha bertemu. Keduanya terdiam kaku saling melihat satu sama lain. Wanita rupawan berambut putih kemerahmudaan itu mulai membuka mulutnya.
“Maaf –“ Tapi tidak hanya dirinya saja, tapi lelaki berambut coklat dihadapannya juga ikut membuka mulut terlihat ingin mengungkapkan sesuatu.
“Selamat –“ 
Jelasnya bersamaan, tapi keduanya langsung terdiam dengan wajah memerah. Mulai mengalihkan pandangan satu sama lain dengan perasaan gugup di masing-masing hati mereka. 
“Ka-kau duluan …,” 
“Kamu saja yang duluan …,” senyum Asha mulai melihat Haikal. 
“Baiklah, lama tidak bertemu, Asha,“ senyum Haikal kembali melihat gadis bernama Asha itu. Tatapan dari dirinya yang merindukan gadis itu amat dalam. 
“Ya, sudah lebih dari satu tahun, aku selalu mencarimu,” senyum sedih Asha dengan perasaan sakit hati amat dalam. 
“Benarkah?”
“Ya, kau pikir aku berbohong?” senyum ringan Asha memiringkan kepala, memejamkan matanya untuk sesaat.
“Tidak, kau bukan wanita yang seperti itu. Aku percaya perkataanmu,” senyum Haikal yang juga menutup matanya sesaat.
“Oh ya Asha, aku tau ini bukan hal penting tapi aku hanya ingin mengucapkan –“ 
“Tunggu aku saja yang duluan, ini lebih penting!” jelas Asha memotong perkataan Haikal, wajahnya terlihat khawatir. 
“Egois seperti biasanya yah ...,” senyum ringan Haikal memiringkan kepala. 
“Aku enggak egois, kamu aja yang cuek!” 
Eh, aku cuek? Sejak kapan …?” datar Haikal dalam hati. 
“Bukannya terbalik, bukankah kau yang sering mengabaikanku…,” senyum Haikal mengalihkan pandangan. Menatap tanah dibawahnya dengan perasaan sakit hati cukup dalam. 
“Aku, aku –“ Asha kebingungan menatap Haikal. Kedua tangannya yang bergemetar terlihat ia mainkan dibelakang punggungnya. 
“Bukankah ini sedikit aneh ..., waktu di ruang operasi itu kau masih saja mengabaikanku, menghiraukanku, dan tidak menanggapi semua perkataanku. Tapi sekarang kamu malah mencari  –“ 
“Aku tau itu!!MAAF!!” Asha terlihat menundukkan kepala. Menutup matanya sangat erat seolah ketakutan. Perasaan menyesal amat dalam benar-benar dimiliki wanita rupawan itu, 
“Maaf, kah? Untuk apa kamu meminta maaf–“ tanya Haikal menatap Asha yang masih menundukkan kepalanya. 
“Kenapa ketika kamu sedang sekarat, kamu malah tidak mengatakannya padaku!! Kenapa diam saja!?” teriak Asha mulai mengangkat kepala dan menatap tajam dirinya. Tetesan kecil air mata mulai mengucur dari kedua bola matanya yang indah. 
“Ah, soal itu –“ Haikal mencoba menjawab pertanyaan Asha tapi kembali terpotong oleh dia yang terlihat marah. 
“Kamu membuatku seolah-olah menjadi penjahat!! Ji-jika aku tau saat itu juga ..., hiks! Ta-tau kondisi kamu yang lebih parah darinya …, Aku pasti akan –“ 
“Baik, stop Asha! Biar aku jelaskan sekarang…..” 
“Emmm …,” Asha menganggukan kepala dan mulai mengusap air mata di wajahnya. Meski sudah dewasa, wanita itu terlihat manis ketika menganggukan kepalanya. Bagaikan gadis kecil yang menggemaskan. 
“Saat itu, saat istirahat kedua di dalam kantin, kau menghampiriku dan menanyakan alasanku tidak mendonorkan organku. Kau terlihat marah dan menatap rendah diriku. Apa kamu masih ingat jawabanku? Alasanku menolak permintaan itu?” 
“ ‘Sesungguhnya aku juga mendapatkan penyakit yang sama, bahkan lebih buruk dari Andi, aku akan mati satu tahun lagi. Jadi aku –‘ Lalu kamu menamparku, menampar pipiku sebelum aku menyelesaikan jawabanku. Setelah itu kamu berteriak padaku, teriakan kekesalan menatap tajam diriku yang kau tampar, ‘KAMU MASIH BERCANDA DENGANKU!! APA KAMU MASIH MARAH KARENA AKU MEMILIHNYA!! BERHENTILAH SEPERTI ANAK KECIL DAN HADAPI KENYATAAN!!!’” 
“Aku benar, kan …?” senyum sedih Haikal memejamkan mata, 
“Y-ya….” Asha menangis, dia menutup malu wajannya. Perasaan sakit hati karena rasa penyesalan yang hebat semakin dirasakannya. 
“Kamu tau bagaimana perasaanku ....? Seberapa besar hancur hatiku…? Wanita yang kuanggap berharga dalam hidupku, sudah tidak lagi melihatku dan mulai membenciku….” 
“Maaf ..., aku sungguh minta maaf hiks ....” 
“Tapi sungguh, ada apa denganmu sekarang!? Kenapa kau mencariku!? Kenapa sifatmu menjadi baik padaku!?” kesal Haikal mulai menyipitkan matanya dan menatap langit diatasnya, Dirinya sungguh mengepalkan kedua tangannya sangat erat. 
“Maafkan aku, maafkan aku hiks ….” 
“Apa masih belum cukup ...? Apa kau kurang puas jika aku masih belum mati –“ 
“BUKAN BEGITU!!!” teriak Asha menatap tajam Haikal. Tangisan penyesalan dari kedua matanya benar-benar terlihat. Tubuhnya bergemetar ketakutan melihat lelaki yang ia cintai terluka karenanya. 
“LALU APA!?” geram kesal Haikal membalas tatapan tajam Asha. 
Suasana berubah menjadi tegang diantara mereka. Alysha dan Fie yang berada disana terlihat ketakutan karena pembicaraan mereka. Tubuh mereka bergemetar, khususnya Alysha yang melihat kedua orang tua di masa yang akan datang terlihat seperti itu. 
“Aly-Alysha, kita pergi dari sini …,“ bisik khawatir Fie. 
“Ta-tapi ....“ 
“Ini masalah ayah dan ibumu, kita jangan ikut campur …,” senyum sedih Fie. 
“Ba-baiklah….” 
Keduanya akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua, mebiarkan mereka untuk menyelesaikan masalahnya. 
“Kenapa kamu begitu baik padaku!? Aku sudah membentakmu, mengabaikanmu, menjauhimu!! Kenapa kamu selalu selalu selalu seperti itu !? Kenapa?!! Kenapa kamu mengorbakan hidupmu untuk gadis egois sepertiku! AKU TANYA KENAPA?!!” teriak Asha yang ketakutan dan menundukkan kepala. Tubuhnya tak pernah berhenti bergemetar karena dosa di masa lalunya. 
“Apa boleh buat, kan!?” kesal Haikal memejamkan mata, dia terlihat hampir menitiskan air mata. 
“Hidupku saat itu hanya tinggal setengah tahun, kutukan itu sudah menjalar pada tubuhku. Jika kematianku dapat menyelamatkan seseorang, membuat orang yang kucintai bahagia …, aku tidak keberatan, meski kau terus melukaiku …,” lanjutnya mengalihkat pandangan. 
“Kamu bodoh…. Benar-benar bodoh …,” Asha menangis sambil duduk di tanah, dia menutup wajahnya yang berantakan karena air matanya.
“....” Haikal hanya tersenyum menatap Asha. 
“Sudahlah …. Itu hanya masa lalu, kau tidak perlu merasa bersalah.” 
“Tapi kenyataanya aku memang –“ 
“Hahahahaha ...! Jadi karena itukah kau terus mencariku dan merasa bersalah?” Haikal tertawa menatap langit. 
‘Ti-tidak, bukan hanya itu –“ khawatir Asha ketakutan menatap Haikal. 
“Kau tidak perlu meminta maaf seperti itu. Sudah kubilang itu hanya masa lalu, kenyataan disini kalau aku masih hidup adalah sebuah keajaiban. Yang terpenting aku dan kekasihmu masih hidup, jadi jangan menangis lagi …,” senyum Haikal sambil menutup matanya sesaat. 
“Tapi ....“ Asha kembali menundukkan kepala terlihat frustasi. 
“Ah iya, aku juga ingin mengucapkan selamat. Kata Alfa, kau dan Andi sebentar lagi akan menikah, ya? Jadi –“ 
“TUNGGU DULU!!” teriak kesal Asha mulai berdiri dan menatap tajam Haikal. 
“E-eh?” Haikal kebingungan akan amarah yang dikeluarkan Asha.
“Jangan bersikap egois terus seperti itu!” lanjut Asha terlihat kesal. 
“Ap-apa maksudmu egois?” Haikal mulai terlihat kesal. 
“Jangan menyimpulkan sendiri seperti itu! Siapa yang akan menikah? Aku dan Andi sudah tidak memiliki hubungan apapun!!” 
“Eh….? Tapi ke-kenapa? Bukankah kau mencintainya?” tanya gugup Haikal mengalihkan pandangan.
“Darimana kamu bisa menyimpulkan hal itu?!” Asha mengerutkan dahinya dan menatap tajam Haikal. 
“Darimana …? Kau ini, yah …,” senyum ringan Haikal dengan nada datar. 
“Sebelum aku mendonorkan sumsumku bukankah aku bertanya seperti ini, 'apa kau merasa prihatin atau benar-benar menyukainya?’ , lalu kamu menjawab apa? tanya Haikal sedikit menggoda Asha. 
“ ‘Ak-aku benar-benar menyukainya’,” jawab pelan Asha, wajahnya terlihat memerah malu. 
“Tuh kan? Makanya –“ 
“Tapi itu cuman alasanku agar kamu tidak mengejarku lagi! Aku tidak mau melihatmu terus sakit hati melihatku bersamanya!!” teriak Asha terdengar sangat yakin. 
“Be-begitu ...,” Haikal terlihat gugup, wajahnya ikut memerah seperti Asha. 
“Tapi jika aku tau kamu waktu itu juga dalam kondisi yang sama, bahkan lebih buruk, aku akan….” Asha kembali terlihat sedih dan merasa bersalah. 
“Sudah tak ap –“ 
“Ke-kenapa aku bodoh sekali waktu itu. Disaat itu, disaat kamu mendapatkan kutukan itu, aku malah membuangmu...!” Asha kembali menangis menutup wajahnya. 
Mau sampai kapan dia menyalahkan dirinya sendiri …,”  datar Haikal dalam hatinya sendiri. 
“Astaga .... Taukah kau, Asha? Kau yang sekarang lebih bodoh dari waktu itu …,” senyum Haikal terlihat menghina Asha. 
“Ap-apa maksudmu hiks ....,” khawatir Asha bertanya sambil mengusap air matanya. 
“Jangan terus melihat ke belakang dan hadapi masa kini dan yang akan datang. Jika kamu kesulitan, buat saja kisah baru dengan seseorang, aku akan mendukungmu…,” senyum Haikal sambil mengusap palan kepala Asha.
Sontak wajah Asha sangat terkejut karena tindakannya. Kedua pipinya memerah dengan senyuman sangat indah terlukis dari wajah rupawannnya. 
Setelah itu Haikal berbalik dan berjalan menjauhi dirinya dan mulai berbicara, 
“Aku kesini hanya mampir sebentar, senang melihatmu baik-baik saja…. Asha.” 
Emo ...,” senyum manis Asha. 
“Nama panggilan itu, benar-benar nostalgia SMA …,” senyum ringan Haikal berbalik melihat Asha sesaat. 
Setelah itu Haikal kembali berjalan dan membuka pintu. Tapi saat dia menyentuh pintu tersebut, Asha mulai memegang lengan bajunya.Wajahnya terlihat semakin memerah, tubuhnya, kedua tangannya bergemetar, 
“An-anu….” 
“…?” Haikal melirik kebingungan akan tindakan Asha. 
“In-ini tentang hubungan kita yang selanjutnya…” Asha menundukkan kepalanya, wajahnya semakin memerah. 
“Ma-maksudmu….?” Haikal cukup terkejut, wajahnya mulai terlihat memerah seperti Asha. 

***

Bagian Kedua: 
Di sebuah ruangan besar di hotel berbintang. Terlihat Anggela dan yang lainnya sedang berdiskusi tentang sesuatu yang cukup penting. 
“Sekarang bagaimana Master….? Ketua Guild Ignite sudah menawarkan perjanjian perdamaian,” tanya Shana melirik Silica yang terdiam berpikir. 
“Kita terima saja permintaan mereka –“ senyum ringan Asha tapi perkataanya itu terpotong oleh putri bungsunya. 
“Tapi Mah!! Mereka sudah melukaimu, kita tidak bisa melepaskan mereka begitu saja.” 
“Aku setuju dengan Alysha, kita tidak bisa melepaskan mereka begitu saja…,” Shana terlihat kesal. 
“Master…..?” Asha berwajah khawatir melihat Silica. 
“Alfa, Haikal bagaimana menurutmu?” tanya Silica melihat Alfa lalu Haikal. 
“Bagaimana menurutku…? Jika lebih memilih, aku lebih senang menerima permintaan itu,” senyum ringan Alfa. 
“Maksudmu, kau ingin menerima perjanjian perdamaian itu,” tanya kesal Shana menatap tajam Alfa. 
“Memangnya permintaan apa lagi yang mereka berikan,” senyum Alfa melirik Shana. 
“Tapi mereka telah meracuni istrimu! Apa kamu tidak merasa kesal!? Tidak ingin membalas dendam!?” kesal Shana menatap tajam Alfa. 
“Aku tidak peduli apa yang mereka lakukan, bagiku yang terpenting adalah Silica selamat dari kejadian itu,” senyum Alfa melirik Silica. Silica juga hanya tersenyum manis melirik lelaki yang dicintainya.
“Selain itu ...,” lanjutnya menutup matanya sesaat.
“...?” Shana kembali menatap Alfa. 
“Membalas dendam hanya akan melahirkan dendam yang lainnya, itu seperti rantai yang sulit untuk dihancurkan,” jelas Haikal memejamkan matanya dan melanjutkan perkataan Alfa. Dia berjalan pelan menuju pintu keluar.
“Ya, itu benar ...,” senyum Alfa. 
“Tunggu Haikal, kau masih belum memberikan pendapatmu….” Silica mulai berdiri dari tempat duduknya. 
“Aku tidak memiliki kewajiban untuk mengemukakan pendapatku disini. Aku bukan anggota guild ini, jadi –“ 
“Meski begitu kau sudah berhubungan dengan Guild ini, calon suami wakil ketua…” senyum Silca yang terlihat menghina Haikal. 
“Ap-apa maksudmu!?” Haikal terlihat gugup, wajahnya benar-benar memerah melirik sinis Asha. 
“Ma-master, kamu sudah janji untuk merahasiakannya, kan!?” Asha terlihat gugup, ekspresinya terlihat cukup ketakutan mendapatkan tatapan Haikal. 
“Apa apa!? Apa itu Master, apa maksudnya kalau Haikal calon ....“ Shana akan tetapi langsung terdiam dan tersenyum melirik kakaknya, Asha. 
“Wakil ketua, kah……? Hmmmmm,” lanjutnya tersenyum lebar. 
“Asha ....!” geram Haikal menutup matanya sangat terat. Tekanan nadanya terdengar amat dalam. 
“Ma-maaf habisnya aku terlalu senang dengan kebahagian ini. Aku hanya ingin membagi kabar ini dengan orang lain…” Asha sungguh ketakutan menatap khawatir Haikal. 
“Calon suami, kah? Kamu sudah bertunangan dengannya, yah?” senyum Alfa melirik Haikal. 
“Aku tak ingin mendengar itu dari orang yang telah membohongiku…,” senyum kesal Haikal menatap tajam Alfa. 
“Hahahahahaha! Ma-maksudmu tentang Asha yang akan menikah!? Aku terkejut kau benar-benar mempercayainya.” Alfa tertawa cukup keras.
“Sungguh Alfa, itu tidak lucu!!” kesal Haikal menatap sahabatnya itu.
“Dan Asha ...!!” lanjut menutup matanya sesaat. Perkataanya itu ditunjukan untuk wanita yang dicintainya.
“Hii ...!!” Asha menutup matanya sangat erat seolah ketakutan.
“....” Haikal hanya tersenyum melihat dirinya. Niat dirinya untuk memarahi wanita berambut putih itu seketika hilang ketika melihat wajah manisnya.
“Ya sudah lah,” senyumnya. 
“Silica ..., aku akan ke Kota Paris sekarang,” lanjutnya mulai membuka pintu keluar. 
“Eh, sekarang?!” Asha cukup terkejut menatap ketakutan Haikal.
“Apa tidak terlalu terburu-buru, Haikal?” tanya Silica penasaran.
“Tidak, waktuku tidak banyak. Ada masalah serius yang harus kuselesaikan,” senyum kesal Haikal.
“....” Alfa seketika berwajah sedih karena mengingat Evelyn yang diculik oleh Litias. 
“Lalu bagaimana denganmu, Anggela?” tanya Haikal melihat Anggela yang sedang duduk. 
“Aku ingin ikut, tapi kondisiku …,” senyum ringan Anggela melihat kakinya. 
“Baiklah, Alfa kau saja yang ikut denganku. Kita akan menyelamatkan Eve…” 
“Tunggu dulu Haikal, kamu belum mengemukakan pendapatmu tentang masalah sebelumnya..” Silica sambil berjalan cepat ke arah Alfa. 
“Keras kepalanya. Baiklah, menurutku kalian terima saja permintaan mereka, dengan begitu jumlah korban dalam peperangan tidak akan bertambah .… Untuk sekarang jangan berpikir akan balas dendam, lihat dampak perang yang kalian lakukan. Kineser kecil di guild kalian yang paling terasa terkena dampaknya,” 
“Kamu juga setuju kan, sayang…,” Asha tersenyum melihat Haikal. 
“Sejak kapan aku memperbolehkanmu memanggilku seperti itu…” datar Haikal menatap Asha. 
“Ehhh, tap-tapi ....“ Asha terlihat ingin menangis ketakutan.
“Aku hanya bercanda,” senyum ringan Haikal.
“...!!” Asha memasang wajah tak senang.

“Baiklah kita abaikan perbincangan pasangan bodoh itu dan kembali masalah ini,“
“EM!” Asha menganggukan kepala mulai memperhatikan Silica.
Pa-pasangan bodoh?! Dan kau tidak menyangkalnya ...?” batin Haikal mengeluh melihat Asha.
“Aku memutuskan untuk menerima permintaan damai Ignite, “ senyum Silica menutup matanya sebentar. 
“Tapi Master!! –“ Shana terlihat khawatir. 
“Ini keputusanku Shana, apa kamu berani menanyakannya lagi?” lirik Silica pada Shana. 
“Ba-baiklah…,” gugup Shana memalingkan wajah. 
“Aku juga setuju, jika itu memang yang diinginkan Mamah dan Pap –“ Alysha tapi langsung terdiam kesakitan karena kakinya diinjak oleh Fie. 
“Awww! Sakit!” kesal Alysha melirik Fie yang terlihat marah. 
“Ap-apa –“ Alysha terlihat kebingungan. 
“Apa maksudnya itu…?” Haikal terlihat curiga menatap Alysha dan Fie. 
“An-anu itu –“ Fie terlihat khawatir melirik Alysha. 
Alysha yang mulai paham akan perkataanya yang ceroboh mulai berkata kembali, 
“Itu hanya candaan –“ 
“Aku tidak tau apa yang kalian rencanakan, tapi jika kalian berani berbuat macam-macam –“ Haikal memotong perkataan Alysha, wajahnya terlihat sangat menaruh kewaspadaan pada Alysha. 
“Tung-tunggu Haikal, dia bukan musuh kita…. Alysha adalah…. “ Asha terlihat khawatir menatap Fie dan Alysha. 
“Alysha adalah…?” Haikal, Shana, Alfa, dan Haikal terlihat kebingungan melihat Asha. 
Krekkkk!!! 
Pintu tiba-tiba terbuka dan seorang gadis cantik berambut hitam memasuki ruangan tersebut, dia terlihat terburu-buru sambil berkata, 
“Anak kalian di masa depan,” lirik gadis tersebut melihat Haikal dan Asha. 
“Si-siapa kam –“ Silica terlihat terkejut tapi perkataanya terpotong oleh Anggela. 
“KAKAK!?” 
Ya gadis tersebut adalah Keisha, kakak tertua dari Anggela dan Anggelina. 
“Tunggu Kak Keisha, apa tidak apa-apa memberitahukan kebenaran ini pada mereka!?” 
“Tidak apa, cepat atau lambat mereka pasti akan menyadarinya juga. Yang lebih penting…. Kita dalam masalah besar sekarang Anggela…” Keisha terlihat sangat kesal melihat adiknya. 
“Apa kakak sudah tau alasan kenapa kita didatangkan ke dunia ini!?” Fie berjalan pelan ke arah Keisha. 
“Ya, aku sudah tau –“ 
“Hei, sebenarnya siapa kalian ini!?” tanya Shana kebingungan. 
“Kami berasal dari masa depan, lebih tepatnya kami berasal dari tahun 2055,” jelas Anggela. 
Meski sudah mendapatkan lampu hijau, penjelasannya terlalu frontal…,” batin khawatir Fie melihat Anggela. 
“It-itu menjelaskan semuanya …,” Silica terlihat lega memegang kepalanya. 
“Ma-master kamu sudah menyadarinya?” 
“Tidak, hanya sajauntuk beberapa kali Alysha sering memanggil Asha dengan panggilan Mamah,”senyum Silica melirik Asha. 
“Be-begitu. Tapi tunggu dulu, lalu apa maksudmu tadi kalau anak kalian, jangan katakan kalau Ayah Alysha berada diruangan –“ tanya Alfa mulai menggoda Haikal. 
“Kenapa Guru sebodoh itu!?....” senyum Alysha yang malah menanggapi candaan Alfa dengan serius. 
“Guru..?” Alfa terlihat kebingungan. 
“Sudah jelas kalau lelaki yang sekarang bertunangan dengan ibuku adalah Ayahku,” lanjutnya tersenyum melihat Haikal. 
“Eh?” Haikal cukup terkejut mendengar perkataan Alysha. 
“Tap-tapi apa tidak apa jika kalian memberitahukan masa depan seperti ini!?” Silica terlihat khawatir. 
“Entahlah, tapi cepat atau lambat kalian akan mengetahui tentang kami…,” senyum Keisha menatap Silica. 
“Jadi dimasa depan nanti aku memiliki seorang putri, yah?” senyum Haikal melihat Alysha. 
“Hebat, kan? Kita benar-benar akan menikah dimasa dep –“ Asha berjalan pelan lalu merangkul tangan Haikal. 
“Bukan hanya aku saja kok, kamu masih memiliki dua putri lainnya…” senyum Alysha memiringkan kepalanya. 
“Oh iya kalau tidak salah, Fie juga bilang kalau kamu ini putri bungsuku…” Asha terlihat berpikir melihat Alysha. 
“Yang diaktakan oleh Fie benar, kalian memang memiliki tiga putri. Heliasha, Halsy, dan Alysha…..” jelas Keisha terlihat khawatir. 
“Mungkin ini saat yang tepat, aku ingin bertanya padamu, Alysha.” Keisha terlihat serius menatap tajam Alsyha. 
“Apa Kak?” Alysha terlihat khawatir kebingungan. 
“Kamu yang sekarang ...., berada dipihak mana…!?” tanya Keisha serius, tatapan kemarahan seakan dari dirinya yang sudah siap bertempur. 
“Tunggu Kak, Apa maksudnya it –“ Anggela terlihat khawatir melihat Keisha. 
“Di pihak para kakak-kakakmu!? Atau sebaliknya, dipihak kami!?” tanya Keisha, suasana yang sebelumnya dipenuhi oleh kebahagian berubah menjadi suasana tegang yang diciptakan oleh Keisha. 
“Eh ...?” Alysha sungguh ketakutan dan kebingungan akan pertanyaan Keisha itu. Fie benar-benar terlihat khawatir melirik Alysha dan Keisha.

***

My Dearest Jilid 2 Chapter XV Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Marcellino Novaldo

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.