14 Maret 2016

My Dearest Jilid 2 Chapter XIV



MY DEAREST JILID 2
TRUTH OF THE WORLD'S DESTINY
CHAPTER XIV
PERTEMUAN HAIKAL DAN ASHA


Bagian Pertama: 
Di waktu yang sama, di taman tempat pertarungan Haikal dan Anggela sebelumnya. 
Terlihat Keisha yang tertutupi oleh jubah berwarna coklat. Dibelakangnya juga terlihat dua orang yang sama-sama memakai jubah coklat. 
Keisha menghentikan langkahnya dan mulai mengamati sekitar. 
“Untuk apa kita datang kesini, Kei?” tanya lelaki yang memakai jubah, dia berjalan pelan mendekati Keisha. 
“Beberapa menit yang lalu Anggela ada disini.” 
“Memang benar tembakan besar lasser itu terbentuk dari arus listrik, tapi aku ragu kalau Anggela yang melakukan hal itu,” 
“Ya kau benar, Gram. Tapi –“ lirik Keisha pada Gramior yang sebelumnya menjadi sekutu Charles, tapi tiba-tiba perkataanya terpotong oleh orang memakai jubah yang lainnya. 
Nada suaranya seperti perempuan, dia berkata cukup keras sambil melambaikan tangannya karena jarak antara dirinya dengan Keisha cukup jauh. 
“Keisha, Gramior ..., aku menemukan seorang gadis disini!” 
“Apa dia tidak sadarkan diri?” tanya Keisha melihat gadis yang memakai jubah tersebut. 
“Ya…. Dia pingsan.” 
“Sekarang bagaimana Keisha?” tanya khawatir Gramior. 
“Bawa dia, “ jelas Keisha mulai berjalan kembali. 
“Jadi, sekarang tujuan kita apa? Mengejar Heliasha atau mencari Anggela?” senyum Gram memejamkan mata. 
“Kita akan mencari Anggela terlebih dahulu, cukup sulit jika hanya kita saja yang melawan Charles dan Heliasha,” kesal Keisha memejamkan mata. 
“ Lalu bagaimana dengan gadis berambut merah muda itu…?” tanya gadis berjubah lainnya, dia berjalan menghampiri Keisha sambil menggendong gadis yang tidak sadarkan diri, yaitu Ai. 
“Gadis itu, kah!?” Gram terlihat sangat kesal memejamkan mata. 
“Kalau tidak salah namanya Halsy, kan?” senyum gadis yang mengangkat Ai. 
“Ya, tapi aku tidak pernah mengingat jika dia memiliki sifat seperti itu .…” jawab Keisha memejamkan matanya sesaat. 
“Sifat arogan, kah? Tapi cepat atau lambat….. kita akan melawannya Keisha.” 
“Aku tahu itu, Anggela juga harus tahu tetang apa yang sudah dilakukan oleh kekasihnya.” 
“Sungguh, aku juga tidak menyangka ini. Ternyata selama ini kita dijadikan pion untuk mencapai tujuannya,” senyum Lily sambil terus mengangkat Ai. 
“Sang bloodtaker juga sudah  ikut dalam permainannya,” jelas Gram menghampiri Keisha. 
Keisha mulai memejamkan matanya, wajahnya benar-benar terlihat marah.
Dia mulai bergumam cukup kesal dalam hatinya. 
Aku tidak tahu apa yang Halsy katakan padamu Heliasha, tapi aku tidak menyangka kau akan menghianatiku dan malah berpihak pada Charles.
Bahkan Gram dan Lily juga sudah sadar jika tujuan Charles sudah melenceng jauh dari tujuan awalnnya. Jika kamu memang benar berniat menjadi musuhku, aku tidak akan segan lagi meski kau sahabatku. Aku akan menghentikan tujuan kalian.” 
Sedangkan di tempat yang sama, di dekat pantai tempat peperangan antara guild Blizzard dengan Ignite. 
Terlihat pertarungan yang cukup tidak seimbang. 
Ya, meski hanya Alsyha yang terjun ke medan pertarungan. Guild Ignite  benar-benar terlihat kesulitan mengatasinya. 
BUARRRR!!!! 
Sebuah bola api yang terlihat besar bergerak cepat ke arah Alysha yang mengapung di udara. Bola apiyang terasa sangat panas dan berbahaya. 
Alysha tidak bergeming ketakutan sedikitpun, dia melirik sinis sambil mengangkat tangan kirinya ke arah bola api itu. 
Ice Barricade!” jelasnya dengan tatapan tajam. 
WUASHHHH!!! 
Bola api tersebut menguap karena perbedaan suhu yang tinggi, benteng es milik Alysha benar-benar tebal dan sangat kuat. 
“Mu-mustahil ...., bahkan serangan Master tidak bisa menyentuhnya….” Gumam beberapa orang dari guild Ignite melihat kejadian tersebut. 
“Bocah!! Siapa kamu sebenarnya…?” geram kesal gadis yang melemparkan bola api ke arah Alysha. 
Alysha menghiraukan pertanyaan gadis tersebut, tatapannya terlihat siap membunuh melihat lawannya.
Alysha mulai merentangkan kedua tangannya dan bersiap menyerang mereka kembali. 
Dia tidak bercanda…. Dia benar-benar berencana menghabisi mereka…” Haikal terlihat khawatir melihat Alysha yang sudah termakan amarah. 
“Kita harus menghentikannya, dia bisa membunuh semua anggota Ignite.” 
“Kamu benar, Kak Alfa. Menurutku juga dia sudah terlalu berlebihan…,” khawatir Fie. 
“Kenapa? Biarkan saja dia seperti itu, orang-orang dari guild Ignite harus membayar apa yang telah mereka lakukan,” Anggela terlihat kesal. 
“Tapi mengambil nyawa orang lain itu terlalu berlebihan,” Fie melirik Anggela. 
“Ya ya aku mengerti. Tapi jika kita ingin mengehntikannya, sepertinya sekarang sudah terlambat,” jelas Anggela kembali melirik Alysha. 
“Apa maksudmu sudah terlambat?” tanya Alfa terlihat cemas. 
“Lihat di atas langitnya….” Jelas Anggela memejamkan mata. 
“Memangnya kenap ....“ Alfa seketika terdiam ketika melhat langit di atas Alysha. Dia melihat awan berwarna putih kebiruan. 
Awan tersebut cukup besar dan siap menjatuhkan beban yang dia bawa. 
“Ap-apa itu?” tanya Fie ketakutan. 
Ice Rain …, tapi ini mungkin lebih mengerikan dari waktu itu, radiusnya juga terlihat lebih besar dari sebelumnya,” jelas Anggela khawatir. 
Alysha perlahan menurunkan kedua tangannya ke bawah, lebih tepatnya ke arah musuhnya. 
Saat hujan es yang sangat tajam itu turun dari langit, tiba-tiba muncul sebuah pelindung besar yang melindungi musuh Alysha. 
Pelindung tersebut terbuat dari medan electromagnetic yang sangat kuat, 
Electromagnetic Area ...!!” Jelas Haikal yang tiba-tiba sudah berpindah ke area musuh. 
CRANK! CRANK!! CRANGK!!!! 
Hujan es milik Alysha yang sangat cepat akhirnya dipantulkan dengan mudah oleh skil pelindung yang Haikal keluarkan. 
Sedikitpun Alysha tidak mengundurkan penyerangannya, hujan es yang jatuh dari atas langit semakin lebat turun ke bawah. Alysha benar-benar sudah termakan amarahnya untuk melakukan balas dendam. 
Tapi sayang, pelindung yang Haikal buat tidak menyusut sedikitpun dan malah semakin membesar, Haikal seolah mendesak Alysha untuk membatalkan skillnya. 
“Kau….!!” teriak Alysha kesal menatap tajam Haikal. 
“Aku mengerti kau sangat marah, tapi ini sudah terlalu berlebihan gadis muda…,” senyum Haikal memejamkan mata. 
Sang Guild Master pihak musuh hanya terdiam tidak percaya melihat Haikal yang sudah berada di sampingnya. Bukan karena kemampuan atau yang lainnya. Dia hanya tidak percaya kalau dirinya dan seluruh anggota guildnya telah diselamatkan oleh lelaki yang menjadi musuhnya. 
Benar-benar sesuatu yang sangat memalukan bagi dirinya sebagai Master Guild. Harga dirinya seakan-akan dipermainkan oleh Haikal dan yang lainnya. 
Sang master yang cukp cantik tersebut mulai menundukan kepala, dia mengepalkan kedua tangannya hingga bergemetar. 
“Kami menyerah!!” 
“Eh?!” Alysha terkejut. 
Semua orang yang berada disana termasuk anggota guild musuh sangat terkejut dengan pernyataan Masternya. 
“Master kenapa kita menyera –“tanya salah satu anggota guild Ignite. 
“Kita tidak bisa terus melanjutkan pertarungan yang sia-sia ini, kemampuan gadis itu bukan main-main,”sinis Sang master melihat Alysha. 
“Tapi bagaimana dengan janji putri anda –“ 
“Tak apa, nyawa kalian lebih berharga dari janji itu!” jelas Sang Master lalu berjalan pergi melewati anak buahnya. 
“Ma-master….” Teriak bersamaan dari mereka, mereka ikut berjalan mengikuti orang yang mereka kagumi. 
Lalu setelah peristiwa yang singkat tersebut, Alysha mulai turun dan menonaktifkan skill transformasinya. 
“Kenapa…?!” tanya kesal Alysha menatap tajam Haikal. 
“Kamu terlalu berlebihan gadis muda, dengan kamampuanmu itu seharusnya kamu sudah cukup membuat mereka pingsan.” 
“Tapi jika seperti itu mereka tidak akan merasakan penderitaan ibuku!” teriak kesal Alysha menangis. 
“Ibuku?“ 
“Ya ibuku, As –“ 
“Alysha!!! Ahahaha,” teriak Fie yang berlari ke arah mereka, dia tertawa yang dipaksakan dan sesekali menatap tajam Alysha. 
“Apa kamu terluka!?” 
“Terluka? Tentu saja tid –“ 
“Ahh kamu terluka rupanya, ayo sini aku rawat!” kesal Fie sambil menarik Alysha. 
“Tu-tunggu Fie, kenapa kamu ini!?” Alysha terlihat semakin kebingungan. 
Setelah Alysha dan Fie cukup jauh berjalan, Haikal hanya terdiam menatap serius mereka berdua. Dia terlihat curiga melihat Alysha dan Fie. 
“Apa kamu merasakannya juga…?” tanya Alfa sambil terus berjalan menghampiri Haikal. 
"Kamu juga, Alfa?” 
“Ya…. Aku merasa kalau mereka berdua sudah menyembunyikan sesuatu.” 
“Baik atau buruk, kah? Kawan atau lawan, kah? Aku cukup sulit untuk menentukannya,” Haikal mulai memejamkan matanya. 
“Untuk sekarang kita amati saja mereka,” senyum Alfa mulai berjalan ke pondok. 
“Ya…” jawab Haikal sambil mengikuti Alfa. 
***
 Bagian Kedua: 
Di belakang pondok, terlihat Alysha yang sedikit kesal karena tangannya terus ditarik oleh Fie. 
“Ada apa denganmu Fie!? Berhenti menarikku seperti ini!” kesal Alysha melepaskan tangannya. 
“Alysha, apa kamu tidak bisa menjaga mulutmu itu!?” kesal Fie memejamkan mata. 
“Hah? Kenapa –“ 
“Kamu tidak sadar, yah…?” keluh Fie sambil memegang kepalanya. 
“Kamu hampir membeberkan kalau Asha itu ibumu,” lanjutnya mengeluh kesal. 
“Ah astaga aku lupa….!” Alysha terlihat khawatir. 
“Kamu ini, ingat yah….. jangan memberitahukan kepada siapapun kalau kita ini berasal dari masa depan.” 
“Tapi kenapa? Apa akan terjadi sesuatu yang buruk jika mereka mengetahui tentang kita?” 
“Itu yang aku takutkan, sampai kita tahu untuk apa kita didatangkan ke dunia ini, kita harus mengunci mulut kita. Dan juga….” 
“Dan juga?” Alysha  terlihat penasaran. 
“Apa kamu tidak sadar siapa sebenarnya lelaki yang bernama Haikal itu…” 
“Haikal…? Ah orang yang mengehentikan seranganku –“ Alysha terlihat kesal, tapi perkataanya kembali terhenti. 
“Tunggu, namanya Ha-Haikal….?” Tanya Alysha terlihat sangat terkejut. 
“Kamu baru menyadarinya sekarang….?” Tanya datar Fie melihat Alysha. 
“Apa namanya benar Haikal?” 
“Iya itu namanya… ! Jadi kemungkinan besar dia adalah….” Senyum Fie memejamkan mata. 
“Pa-papah….?” Alysha terlihat terkejut menatap Fie. 
Krekkk! 
“Siapa!?” teriak Fie khawatir melihat ke belakang, dia akhirnya sadar kalau pembicaraanya selama ini telah didengar oleh seseorang. 
“Ap-apa itu benar?” tanya Asha dengan beberapa perban di tubuhnya.  Tubuhnya terlihat bergemetar seolah tak percaya melihat Alysha dan Fie. 
“Kak Asha!? A-ah Kakak sudah sadar –“ Fiesungguh terlihat khawatir sambil sesekali melirik Alysha. 
“Apa semua yang kalian bicarakan itu bena –“ Asha mulai berjalan menghampiri Alysha dan Fie. 
“Mam –, maksudku Kak Asha, seharusnya Kakak beristirahat saja dulu biar luka kakak cepat puli –“ Alysha ikut memasang wajah khawatir sambil berjalan pelan menghampiri Asha. 
“Jawab aku!!!” teriak kesal Asha menatap tajam Alysha, Alysha seketika terdiam menundukkan kepala. 
“Sa-sampai mana Kakak mendengarnya…?” Fie mulai bertanya sambil memalingkan wajahnya. 
“Semuanya, aku mendengarnya tentang kalian yang berasal dari masa depan dan yang lainnya.” 
“Be-begitu…..” Fie tersenyum sedih. 
“Apa itu benar –“ Asha tapi langsung terdiam kembali karena Alysha yang langsung memeluk dirinya. 
“Eh?” 
“Fie….” Alysha menganggukan kepalanya sambil terus memeluk ibunya. 
“Apa boleh buat…… seperti yang anda dengar tadi.” 
“Jadi –“ 
“Kami memang berasal dari masa depan, dan gadis yang bernama Alysha itu adalah….. putri bungsumu, Nyonya Asha.” 
“Ak-aku masih belum mempercayai ini, “ Asha terlihat terkejut perlahan melihat Alysha. 
“Tak apa jika kamu masih belum percaya….” Senyum Alysha melepaskan pelukannya, wajahnya dipenuhi oleh air mata. 
“Maaf bukan berarti aku tidak mempercayainya, aku hanya cukup terkejut –“ Asha terlihat khawatir karena melihat Alysha menangis. 
“Tidak, bukan! Aku menangis hanya terlalu senang saja karena bisa bertemu denganmu, semenjak aku lahir aku sudah menantikan pertemuan ini…. Aku akhirnya bertemu dengan Mamah…” 
“Tunggu!! Di masa depan kamu tidak hidup bersamaku!? Lalu dimana ak –“ 
“Alysha sudah ditinggal pergi kedua orang tuanya sejak ia lahir, “ Fie terlihat sedih menatap Alysha. 
“Tunggu, maksudmu aku mati!? Kenapa!? Karena apa!?” 
“Aku tidak tahu lebih jelasnya, tapi kamu memang sudah tiada di masa depan.“ 
“Ma-maaf….” Asha terlihat sedih menatap Alysha, wajahnya benar-benar terlihat menyesal. 
“Tak apa…. Lagipula aku sudah bertemu denganmu,” senyum Alysha memejamkan mata, tetesan air mata kecil masih terlihat dari wajahnya. 
“Alysha….” Fie terlihat sedih menatap Alysha. 
“Ta-tapi ada yang masih kuinginkan darimu,” Alysha terlihat malu menatap Asha. 
"Apa itu?" 
“Ji-jika kamu tidak keb-keberatan, bo-bolehkah aku memanggilmu Mamah? Ak-aku ingin merasakan bagaimana rasanya mempunyai ibu seperti teman-temanku,” gugup Alysha yang sesekali melirik Asha. 
Asha hanya terdiam dan mulai menangis, dia mulai berjalan menghampiri Alysha, memeluk erat Alysha sambil berkata, “Tentu saja!”
Mereka berdua menangis, bukan tangisan kesedihan yang perih, tapi tangisan kebahagiaan yang hangat, Fie hanya bisa tersenyum memejamkan mata melihat pertemuan orang tua dengan anaknya. 
Lalu beberapa  menit kemudian, Asha mulai tersadar akan pembicaraan terakhir dari Alysha dan Fie. 
“Ah aku hampir melupakannya, Alysha.” 
“Ada apa Mah?” 
“Apa kamu tadi bertemu dengan Haikal?” 
“Iya aku bertemu dengannya…” 
“Dimana?!” 
“Dia ada di depan pondok ini, tapi mungkin sekarang dia sudah berada di dalam pond –“ 
Asha lekas berlari kembali menuju pondok, dia berniat membuka pintu belakang pondok tersebut dan menemui seseorang yang telah lama ia cari. 
Tapi saat dia berniat menyentuh gagang pintunya, tiba-tiba pintu tersebut terbuka bersamaan dengan suara lelaki yang terlihat sangat khawatir. 
“Hey gadis muda! Dimana Asha –“ Haikal terdiam karena seseorang yang sedang ia cari sedang berdiri dihadapannya. 
“Asha,,,,” “Haikal….” 
Jelas mereka berdua bersamaan, wajah keduanya sama-sama menunjukan ekspresi yang sangat terkejut. Perasaan berdebar dalam dada mereka mulai berpacu lebih cepat. 
Sedangkan di belahan benua lain, lebih tepatnya Negara Indonesia. 
Terlihat Herliana yang sedang duduk berdoa di sebuah lapangan tempat kematian Anggelina.
Wajahnya sungguh terlihat sangat sedih menundukkan kepalanya. Kedua tangan dan tubuhnya sungguh bergemetar seolah berduka cita amat dalam atas kematian adik Anggela. 
Lalu beberapa detik kemudian dia berdiri dan mulai berbicara dengan tekanan nada amat dalam. 
“Halsy, apa kamu tahu hal ini akan terjadi ....!?” 
“Terkadang pengorbanan diperlukan untuk mencapai kedamaian,” senyum ringan Halsy.
Dirinya dan El tiba-tiba muncul beberapa meter dari tempat Herliana. 
“Aku tidak pernah mengingat dirimu yang memiliki sifat arogan ini, HALSY!!!” teriak Herliana menatap tajam Halsy. 
Halsy hanya terdiam menundukkan kepalanya, kedua tangannya sesekali bergemetar. Tapi pada akhirnya dia mengangkat wajahnya, tersenyum puas menatap Herliana. 
“Empress … Apa kau benar-benar tidak peduli dengannya?!”
“....” Halsy mengalihkan pandangan.
“ANGGELINA TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN KELUARGA KITA –“ teriak kembali Herliana sangat kesal. 
“Dia sudah menjadi pionku, aku tidak memaksanya untuk datang ke dunia ini. Dia datang atas kemamuan dirinya sendiri.” 
“Kau sudah berubah ...!!” kesal Herliana menutup matanya rapat. 
“Aku tahu itu …,” senyum Halsy menundukkan kepala, menutup matanya sesaat. 
“Empress….” El terlihat sedih menatap Halsy, mengepalkan kedua tangannya sangat erat. 
“Apa Anggela sudah mengetahuinya?” 
“Belum ..., dia masih belum mengetahuinya,” senyum ringan Halsy memiringkan kepala. 
“Begitu ...,kamu akan mendapatkan balasan akan perbuatanmu yang menjijikanmu ini. Cepat atau lambat, Anggela akan mengetahui apa tujuanmu yang sebenarnya.” 
“Ya aku akan menantikan hal itu…” jelas Halsy dengan nada meremehkan. Dia kembali berjalan menjauhi Herliana. 
“Jika Anggela menjadi musuhmu dan berniat menghentikan tujuanmu, apa yang akan kamu lakukan?” 
Halsy seketika menghentikan langkahnya, dari gerak tubuhnya terlihat kalau dia cukup terkejut dengan pertanyaan yang diajukan sahabatnya. 
Tapi setelah itu dia kembali berjalan dan menjawab pertanyaan Herliana dengan jelas, 
“Bu-bukankah sudah jelas? Aku akan menghabisinya ...,” kedua tangannya ia kepal amat sangat erat. 
Aku sudah menduganya kalau kau akan menjawab seperti itu. Apanya yang Empress Of The Holy Souls? Apanya yang permiisuri dari seluruh roh suci?
Hatimu sudah termakan oleh tujuanmu untuk membangkitkan putri raja iblis, kamu mengabaikan sekitarmu dan berambisi untuk menghilangkan kutukan keluarga kita,” kesal Herliana menatap tajam Halsy yang terus berjalan 
“Anggela, cepatlah sadar. Siapa kawan dan siapa lawanmu yang sebenarnya!! Kamu harus sadar jika orang yang sedang kamu kejar ini kemungkinan besar akan menjadi musuh terakhirmu nanti,” lanjut Herliana sambil menatap langit yang mulai gelap. 
***


My Dearest Jilid 2 Chapter XIV Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.