20 Februari 2016

Strike The Blood Jilid 1 Intro LN Bahasa Indonesia

STRIKE THE BLOOD
JILID 1 INTRO


Kota di pertengahan musim panas-------------
Kota itu bernama Pulau Itogami. Pulau kecil yang mengapung di atas Samudra Pasifik. Pulau buatan yang terbuat dari serat karbon, sekresi pohon Meranti, logam, dan juga sihir.  
Bulan putih yang bersinar di atas kepala, dengan acuhnya menyinari lautan yang mengelilingi kota.
Waktu sudah hampir menunjukkan pertengahan malam, dan hanya dalam waktu yang singkat hari akan berubah.
Di jendela kaca yang mana sinar bulan menghilang di sana, terpantul sinar lampu jalanan, yang bagaikan sosok sebuah retakkan sihir. Distrik perbelanjaan di depan stasiun, dan lautan dengan lampu neon yang indah gemerlap. Restoran keluarga yang tetap beroperasi hingga tengah malam. Tempat karaoke. Minimarket. Jalanan masih dipenuhi oleh para remaja.
Dengan kebisingan dan tawa mereka yang polos, terkadang mereka, membicarakan gosip yang tidaklah penting.
Obrolan tanpa arti yang hanya untuk menutupi rasa bosan mereka. Tentang legenda yang ada di penjuru kota. Leluhur Keempat. Gosip mengenai vampir yang ada di Kota ini, entah di mana dia berada.


Dengan nada serius laki-laki itu berkata. Leluhur Keempat itu abadi dan tidak akan dapat dilukai. Tanpa memiliki satu pun saudara sedarah, tidak berkeinginan menguasai, hanya dilayani oleh 12 iblis pengikut berwujud hewan buas yang merupakan inkarnasi mara bahaya yang disebut Kenjuupenghisap darah, membunuh dengan keji, dan menghancurkan. Vampir berhati sangat dingin yang terusir dari dunia sana. Katanya, dulu kala dia adalah monster yang banyak menghancurkan kota-kota.
Dengan wajah yang terlihat bosan remaja perempuan berkata.
-----hhmm, terus?
Pulau Itogami ・Daerah Istimewa Bangsa Iblis. Di kota ini, yang namanya monster bukanlah hal yang mengherankan.


Pada saat itu, leluhur keempat yang sedang digosipkan, tengah berjalan menyusuri jalan pulang ke rumahnya. Dia memiliki sosok seorang pemuda yang  mengenakan tudung jaket putihnya, yang terbuat dari bahan wol, menggantungkan kantong plastik dari mini Market di lengan tangannya.
Usianya mungkin sekitar 15 atau 16 tahun. Dia terlihat bagaikan sosok seorang pemuda siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) biasa, namun sebenarnya, duludia memang lah seorang siswa SMA biasa.
Rambut bagian depannya berwarna tipis, bagaikan warna dari bulu serigala. Namun, meskipun memperhitungkan hal itu sekalipun, tidak ada hal yang mencolok darinya. Dia hanyalah seorang pemuda biasa, yang bisa ditemui di mana saja.
Langkah kakinya terlihat tidak bersemangat, namun hal itu bukanlah karena dia kelelahan. Yang ada di dalam kantong belanjaan mini market-nya adalah dua buah es krim edisi terbatas. Dia memberikan hawa yang menggambarkan seorang pemuda siswa SMA yang membela-belakan diri pergi membeli es krim ke mini market terdekat, karena tiba-tiba, di tengah malam, adik perempuannya berkata bahwa dia ingin memakan es krim, dan meminta tolong padanya.
Di jalanan, selain pemuda itu, ada juga pejalan kaki lainnya.
Dari arah berlawanan, dia akan berselisih jalan dengan dua gadis muda, yang mengenakan pakaian tradisional yukata berwarna cerah.
Kedua gadis itu, mungkin berusia lebih muda daripada pemuda itu. Gadis itu masih menyisakan hawa-hawa seorang pelajar, tetapi ada semacam nuansa yang tidaklah ada pada siswi SMA. Dari wajahnya, terlihat riasan yang tebal, namun mereka adalah gadis yang cantik.
Pemuda itu berjalan menjauh dari kedua gadis itu. Tetapi, mungkin karena tidak terbiasa menggunakan sendal tradisional Jepang yang terbuat dari kayu yang disebut geta, langkah kedua gadis itu lambat. Jarak antara mereka pun berangsur-angsur memendek. Parfum yang dikenakan oleh kedua gadis itu, terhembus oleh aliran angin malam.
Di hadapan pemuda itu, melengkinglah suara teriakan yang nyaring.
Salah satu di antara dua gadis itu tersandung jalanan yang tidak rata, lalu kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Hiasan kepala yukata tersingkap hingga memperlihatkan tengkuk leher. Bahkan paha dari gadis yang jatuh terduduk itu pun terlihat jelas.
Pemuda itu tanpa sadar berhenti dan melihat hal itu.
Tetapi, apa yang tertangkap dalam pandangannya bukanlah hiasan kepala yukata yang tersingkap, melainkan tengkuk leher gadis itu. Tengkuk leher ramping yang putih sehat, berada di antara kerah yukata dan rambut yang diikat ke atas.
Bahkan di bawah temaram lampu jalanan, dia bisa melihat dengan jelas letak aliran darah yang terlihat berwarna biru transparan.
Pemuda itu menghentikan nafasnya, dan melihatnya.
Bagaikan diserang kehausan yang teramat sangat, kerongkongannya pun berbunyi sekali, karena dia berusaha menelan ludah. Dia menarik tudung jaketnya hingga ke bawah mata dengan tangan kanannya untuk menyembunyikan iris matanya yang berubah berwarna merah.
Nuansa yang aneh seperti suasana mencekam, keluar dari seluruh tubuhnya dengan tenangnya. Dua gadis itu yang tertawa dengan suara keras, masih belum menyadari hal itu.
“.......... cih!”
Lalu, sekejap kemudian, pemuda itu menekan hidungnya sendiri, dan menghela napas pendek.
Dia lantas lanjut berjalan begitu saja, seakan tidak terjadi apa-apa.
Dari celah ujung jarinya, cairan berwarna merah pekat menetes. Di dalam rongga mulutnya, menyebar sensasi hangat suam-suam. Dia mimisan.
Bau anyir darah yang samar-samar.
Seraya mengusap dengan kasar darah hidung yang mengalir, pemuda itu melangkahkan kakinya dengan cepat, berlalu dari tempat itu. Di belakang punggungnya, suara tawa dari kedua gadis itu masih lanjut terdengar.
Bulan musim panas tergantung di atas kepala mereka. Embun hangat suam-suam angin laut, bertiup di tengah kota.
“...... ah, tolonglah. Yang benar saja”
Pemuda itu bergumam, tanpa ditujukan pada siapapun. Darah yang mengalir dari hidungnya, masih belum berhenti.

Hutan di pertengahan Musim Panas -------------
Sinar obor menyala terang benderang pada halaman kuil Shinto di larut malam. Sinar pucat bulan masuk ke dalam serambi kuil. Hawa dingin yang berhembus di sekitar kuil dan seakan lupa pada musim yang ada, mungkin diakibatkan dari pelindung yang menyelimuti kuil.
Suara bising dari serangga-serangga yang menjadi khas musim panas pun, rata-rata kini tidak lagi bisa terdengar.
Gadis itu terdiam dan terduduk di tengah-tengah serambi kuil yang luas.
Meskipun masih menyisakan hawa anak-anak, gadis itu memiliki paras yang cantik.
Dia memiliki perawakan kecil nan ramping, namun tidak memberikan kesan sosok yang rapuh. Justru sosok gadis itu terasa bagaikan pedang yang telah ditempa, dengan kekuatan yang gemulai. Mungkin yang memberikan kesan tersebut adalah garis bibirnya yang terlihat serius, dan cahaya kuat yang bersemayam di bola matanya.
Yang dikenakan oleh gadis itu adalah seragam Sekolah Menengah Pertama (SMP) Swasta yang berada di daerah Kansai.
Sekolah aliran Shinto yang bergengsi, dan tidak banyak orang yang tahu bahwa sekolah itu adalah bawahan dari organisasi kepercayaan yang bernama Organisasi Raja Singa.
Di serambi kuil sudah ada tiga orang tamu yang datang terlebih dahulu.
Sosok mereka yang tersembunyi oleh tirai bambu yang disebut mizu tidak bisa dilihat. Namun, sosok sebenarnya mereka, telah diketahui oleh sang gadis dari pertemuan sebelumnya.
Mereka adalah para sesepuh dari Organisasi Raja Singa yang disebut “Tiga Orang Suci (Sansei)”
Mereka adalah orang berkekuatan dan berkemampuan spiritual yang berkedudukan tertinggi. Mereka juga penyihir dengan hawa tenang menyelimuti mereka, yang seakan tidak memiliki hawa kekerasan sama sekali. Dan hal itu, justru sangat menyeramkan.
Gadis itu secara tidak sadar mencengkeram ujung lengan bajunya. Kemudian-------
“Sebutkanlah namamu”
Terdengar suara dari balik tirai bambu. Nada bicaranya penuh dengan keanggunan, namun tidak terasa dingin. Suara juga terdengar lebih muda daripada yang dibayangkan dari sosok sesepuh. Itu adalah suara wanita yang mengandung tawa di suatu tempat di dalamnya.
“Himeragi. Nama saya Himeragi Yukina”
Gadis itu menjawab sedikit terlambat. Suara sedikit bergetar karena rasa gugup. Tetapi, wanita yang berada di balik tirai bambu tidak memperdulikannya, dan melanjutkan pertanyaannya.
“Umurmu?”
“Empat bulan lagi, saya akan berumur 15 tahun”
“Begitu, ya .... Himeragi Yukina. Kamu memulai latihanmu enam tahun yang lalu, ya. Begitu kamu menginjak ulang tahumu yang keenam, kamu langsung ... dibawa ke organisasi ini seorang diri, di malam dingin saat salju turun. Apa kamu ingat hari itu?”
Wanita yang berada di seberang tirai bambu itu, tiba-tiba bertanya seakan berkata pada dirinya sendiri. Otot punggung Yukina menjadi dingin. Bukan berarti wanita itu telah mencari tahu masa lalu Yukina. Dia membaca ingatan Yukina. Tembok penghalang jiwa Yukina seakan tidak ada. Itu adalah indera yang sangat luar biasa.
“Tidak .... Saya hanya memiliki ingatan yang tidak begitu jelas”
Yukina sedikit menggelengkan kepalanya. Kata-kata itu tidaklah sungguhan, tetapi lawan bicaranya pun pasti menyadari hal itu. Namun wanita itu tidak mengatakan apapun. Sebagai gantinya, dia melanjutkan pertanyaannya pada gadis itu.  
“Hasilmu sepertinya bagus, ya. Aku puji Endou”
“Terima kasih banyak”
“Aku pernah beberapa kali bekerja bersama dengan Endou. Dia benar-benar seorang Koumashi –pembasmi iblis- yang hebat. Metode pelindung jiwa milikmu mempunyai kecenderungan yang sama dengannya, ya. Apa ada hal lain yang kamu pelajari dari Endou?
“Semua ilmu gaib dan ilmu syamanisme. Kemudian ilmu sulap dan ilmu ilusi”
“Bagaimana dengan ilmu sihir? Seharusnya keahlian Endou adalah itu, kan?”
“Jika gaya Timur, saya pelajari yang umum-umum. Jika sihir gaya Barat saya pelajari teori dasarnya saja”
“Pengalaman bertarung melawan Bangsa Iblis?”
“Jika pertarungan uji coba di Sekolah Pelatihan, maka lebih intensif dua kali lipat. Namun, saya tidak punya pengalaman pertarungan sungguhan”
“Seni bela diri?”
“Saya gunakan untuk berjaga-jaga”
“Oh?  Semoga saja demikian”
Di seberang tirai bambu terasa hawa wanita tertawa cekikikan.
Sekejap Yukina merasakan ledakan dengan hawa membunuh dirinya, sehingga ia pun melompat.
Dia menendang lantai kayu, dan langsung melompat ke belakang sekali, dan mendarat ke tanah. Itu adalah gerakkan yang tak mungkin terpikir langsung oleh pikiran.
Tubuh yang bisa merasakan bahaya, bergerak dengan sendirinya.
Jika saja gerakkan Yukina terlambat walau hanya sedetik, sudah pasti nyawanya akan melayang. Itu adalah niat serius untuk mencincangnya.
Dua orang prajurit berbaju zirah besi yang besar, kemudian muncul seakan-akan mereka terjatuh dari dalam kegelapan.
Salah seorangnya adalah samurai tanpa kepala, yang menggenggam pedang panjang yang lusuh. Dan seorang lagi, samurai berlengan empat yang bersiap dengan busurnya di tangan kanan dan kirinya.
Sosok mereka bukanlah nyata. Mereka adalah shikigami –roh manusia atau hewan yang meninggal dengan membawa rasa dendam-- yang dilahirkan dari ilmu gaib. Kemungkinan besar, ini adalah perbuatan salah satu dari ketiga orang yang ada dibalik tirai bambu itu. Tetapi, sebelum mengetahui siapakah itu, Yukina harus terlebih dahulu mengalihkan pandangannya kepada serangan yang datang.
“Bergemalah!”
Dia merapalkan mantra sihir singkat di mulutnya, dan memfokuskan kekuatan sihir di telapak tangannya. Sihir itu menembus shikigami berbaju zirah, dan langsung menyerang bagian dalamnya.
Sosok prajurit samurai berbaju zirah yang terkena sihir itu pun langsung lenyap dalam sesaat. Yang tersisa hanyalah samurai yang menggenggam pedang panjang.
Pedang panjang yang digunakan sebagai katalisator untuk melahirkan shikigami, ditangkap oleh Yukina, saat diayunkan ke arahnya. Serangan dari prajurit samurai berbaju zirah dielaknya, dengan menggunakan pedang panjang yang direbutnya sebagai alat pertahanan. Lalu prajurit samurai itu segera melepaskan anak panah. Yukina menghindar ke samping, dan dengan pedang panjang yang direbut olehnya, dia belah samurai itu menjadi dua. Dan prajurit samurai yang kedua pun hancur.
“Apa maksud ... perbuatan Anda ini?”
Seraya mengambil nafas ringan, diarahkannya pedang panjang itu menghunus ke arah tirai bambu.
Dia sudah tidak lagi berniat melawan shikigami lebih dari ini. Jika pertarungan ini berlangsung dalam waktu lama, maka tidak akan ada kesempatan menang bagi Yukina yang kalah dalam hal kekuatan. Jika lawannya adalah para sesepuh dari Organisasi Raja Singa, dan mereka bermaksud untuk melanjutkan permainan ini, maka dia harus menyerang pengguna sihirnya secara langsung. Itulah yang dipikirkannya.
Seakan menunggu reaksi itu, dari balik tirai bambu, terdengar suara tipis tepukkan tangan.
“Fuhahahaha. Pemikiran yang bagus, ya, Himeragi Yukina. Kau bisa melewatinya”
Terdengar suara tertawa lantang seorang laki-laki yang seakan merasa puas.
Kemudian, dilanjutkan dengan suara yang tidak bisa ketahui usia maupun jenis kelaminnya.
“Sebagai kelemahan dari kutukkan Bokuzei -ilmu meramal tradisional yang berasal dari China-, berdasarkan dari kekuatan spiritual dan ilmu pedang, bakat yang dihasilkan bisa jadi luar biasa .... Seperti yang tertulis di laporan, itulah ciri khas cenayang kuil pengguna pedang. Tapi, pertama-tama akan kunyatakan kau lulus”
“Lulus ...?”
Mendengar penyataan para sesepuh dari seberang tirai bambu, Yukina pun mengerutkan keningnya.
“Benar. Untuk memenuhi kualifikasi sebagai cenayang pengguna pedang, pada dasarnya kau harus menerima pelatihan secara terus menerus selama empat bulan lagi. Tetapi, situasinya kini berubah-------duduklah, Himeragi Yukina”
Wanita yang bersuara pertama kali, berbicara. Dengan rasa malas, Yukina mengikuti perkataan wanita itu, dan kembali duduk dengan posisi yang baik dan benar. Dia menghela nafas, dan meletakkan pedang panjang.
“Nah, mari kita masuk ke masalah yang sebenarnya”
“Baik”
“Jawaban yang bagus, ya. Pertama-tama, lihatlah ini”
Setelah mengatakan itu, sesuatu muncul dari celah bawah tirai bambu. Itu adalah seekor kupu-kupu.
Dengan mengepakkan sayap yang tak mengeluarkan suara, dia mendarat di hadapan Yukina, dan kemudian berubah menjadi selembar foto.
Yang terdapat dalam foto itu adalah sosok seorang siswa laki-laki yang mengenakan seragam SMA. Dia sedang tertawa karena bercakap-cakap dengan temannya, dan sepertinya foto ini diambil diam-diam oleh seseorang. Ekspresinya begitu tanpa pertahanan dan penuh dengan celah.
“Foto siapa ini?”
“Nama pemuda itu adalah Akatsuki Kojou. Apa kau tahu?”
“Tidak”
Yukina menggelengkan lehernya dengan rasa jujur. Karena memang, ini adalah kali pertama dia melihat wajah di foto itu. Mungkin jawaban Yukina itu, sudah bisa diduga sejak awal. Sang wanita, tanpa memikirkan jawaban Yukina, kembali membuka mulutnya untuk bertanya.
“Bagaimana pemuda ini menurutmu?”
“Eh?”
Ditanya tiba-tiba, Yukina pun menjadi bingung.
“Kalau hanya dari foto saja, saya tidak tahu apakah ini tepat. Tetapi, dalam bidang seni bela diri, saya rasa dia adalah seorang yang benar-benar amatir, mungkin ada di tingkat pemula. Terlebih lagi, dia bukan sosok yang memberikan aura bahaya, dan juga tidak ada tanda-tanda dia mengetahui keberadaan si pengambil foto”
“Tidak, bukan hal-hal seperti itu. Aku tadi bertanya, bagaimana pemuda ini menurutmu. Itu artinya, aku bertanya apakah pemuda ini adalah tipe kesukaanmu?”
“A-apa? Anda bertanya apa?”
“Contohnya, tentang wajahnya tampan atau tidak, begitu kamu lihat, suka atau tidak suka. Bagaimana?”
“Anu ... apa Anda mengejek saya?”
Yukina kembali bertanya dengan nada tidak senang. Dia tidak memahami tujuan sebenarnya dari para sesepuh, tetapi dia merasakan adanya tujuan jelek. Tanpa sadar, Yukina pun mengulurkan tangannya, hendak meraih pedang panjang yang diletakkannya di lantai
Melihat reaksi Yukina itu, wanita yang berada di balik tirai bambu menghela nafas tidak bersemangat.
“Kalau begitu, apa kau pernah mendengar kata Leluhur Keempat, Himeragi Yukina?”
Lagi-lagi, diberi pertanyaan spontan seperti itu oleh wanita di balik tirai bambu, Yukina pun menarik napas. Seorang Koumashi yang sesungguhnya, siapapun juga pasti akan pernah mendengar nama itu. Yukina terdiam untuk beberapa saat.
“Apakah itu tentang Kaleid Blood? Sang Leluhur Keempat, yang dilayani oleh dua belas budak berbentuk hewan buas yang disebut Kenjuu------“
“Ya, benar sekali. Tanpa memiliki satu pun keluarga. Dia adalah vampir terkuat dan penyendiri”
Suara tenang dari wanita itu menggema di serambi kuil.
Leluhur keempat, “Kaleid Blood” -----------
Orang yang berhubungan dengan Bangsa Iblis, tidak mungkin tidak mengetahui nama itu.
Hal itu karena dia dijuluki  “vampir terkuat”
Dia tidak memberi julukkan itu sendiri kepada dirinya, tetapi dunia mengakuinya demikian. Bahkan, orang-orang yang seharusnya bermusuhan dengannya, tidak berani untuk menyangkal hal itu. Itu lah hawa keberadaan dari Leluhur keempat.
“Tetapi, saya dengar Leluhur keempat tidak benar-benar ada. Dia hanya semacam legenda kota”
Mendengar pernyataan Yukina, terasa hawa Sang Wanita menggelengkan lehernya.
Leluhur adalah kaisar yang mengontrol keluarga kegelapan. Dia memiliki kekuatan sihir yang tertua dan yang terkuat. “Permulaan dari Vampir”
Para leluhur adalah sosok yang mendirikan Dominion -sebuah negara khusus yang otonom- yang masing-masing berada di tiga benua, dengan diikuti oleh ribuan dan puluhan ribu pasukan yang serumpun dengan mereka.
“Memang, hanya tiga nama leluhur saja yang keberadaannya diakui oleh publik. Yang menguasai Eropa, Lost Warlord, Sang Raja Peperangan yang Terlupakan. Yang memimpin Asia Barat, Foregazer, Sang Mata Kehancuran. Lalu, yang mengontrol Amerika adalah Chaos Bride, Sang Putri Kekacauan. Kemudian, dibandingkan dengan mereka, Leluhur keempat tidak memiliki saudara serumpun maupun sedarah, dan tidaklah pula memiliki daerah Dominion”
“Benar. Tapi, itu tidak menjadi bukti untuk menyatakan bahwa keberadaan Leluhur keempat itu tidak ada”
Mengambil alih perkataan Sang Wanita, Sang Pria dengan nada kasar lanjut memberi informasi. Kemudian, sesepuh yang seorang lagi pun berbicara.
“Kau .... Apa kau ingat kasus ledakan yang terjadi di Kyoto pada musim Semi tahun ini?”
“ ... ya?”
“Kecelakaan kereta yang terjadi di Roma empat tahun lalu. Kemudian, kasus hilangnya kota di China. Juga adanya kasus bom di terowongan bawah laut di Manhattan. Dan di kasus yang terdahulu, kebakaran besar di Sydney”
“Jangan-jangan .... Anda ingin mengatakan bahwa itu adalah perbuatan dari Leluhur Keempat?”
Ekspresi Yukina menegang pucat. Apa yang dikatakan oleh sang sesepuh dengan santainya adalah kasus terorisme skala besar yang kejam, yang telah memakan banyak korban jiwa dan korban luka. Setiap kasus diberitakan bahwa pelakunya tidak diketahui. Tetapi, jika itu adalah kasus yang melibatkan sang Leluhur, kasus itu menunjukkan kebenaran adanya keberadaan Leluhur keempat.
Sang sesepuh Wanita lah yang kemudian melanjutkan pembicaraan kepada Yukina yang memucat.
“Para Leluhur selalu muncul dalam titik perubahan sejarah, menyebabkan pembantaian dan kehancuran besar di dunia. Tetapi, masalahnya bukan hanya itu saja. Keberadaan Leluhur Keempat akan merusak keseimbangan dan ketertiban dunia. Kamu mengerti apa alasannya, kan?”
“Mengerti”
Yukina mengangguk dengan kaku.
Karakteristik ras penghisap darah adalah, mereka merupakan vampir dengan tingkat kecerdasan tinggi yang tidak selalu akan memusuhi ras manusia. Banyak di antara mereka yang suka untuk tinggal berbaur dengan masyarakat ras manusia, dan sejauh ini telah berusaha dengan sangat hati-hati untuk tidak menyebabkan timbulnya permusuhan dengan seluruh ras manusia.
Ditambah lagi, di antara para Leluhur dan pemerintah di masing-masing negara terdapat perjanjian mengikat yang melarang tindakan penghisapan darah secara sembarangan, dan dari luar nampak terlihat seakan hidup berdampingan secara damai bisa diwujudkan. Tetapi, semua itu bisa terbangun karena adanya keseimbangan yang sangat halus di antara hubungan kekuatan Dominion ketiga Leluhur.
"Para leluhur mau memenuhi penutupan perjanjian daerah suci adalah karena sesama leluhur saling pancing memancing sehingga kondisi trilemma terus berlanjut. Mereka selalu ketakutan dengan kehadiran leluhur selain diri mereka, sehingga mereka tidak sempat menjadikan ras manusia sebagai musuh mereka"
“Saya mengerti”
“Tetapi, jika Leluhur keempat dengan kekuatan yang sama dengan mereka bertiga muncul, tidak akan mengherankan jika keseimbangan itu hancur. Dan kemungkinan terburuk, bisa terjadi perang skala besar yang bisa melibatkan ras manusia”
“Apakah Anda mengetahui tempat keberadaan Leluhur Keempat?”
Yukina bertanya dengan nada tegang. Entah mengapa, dia merasakan perasaan yang sangat tidak enak.
“Ya. Meskipun belum dapat dipastikan kebenarannya, tetapi kemungkinan besar tidaklah akan salah”
“Di manakah dia berada?”
“Daerah Metropolitan Tokyo, Kota yang disebut Pulau Itogami--------- Daerah Istimewa Bangsa Iblis Giga Float, pulau buatan manusia.”
Mendengar perkataan Sang Wanita, Yukina kehilangan kata-kata beberapa saat.
“Leluhur Keempat ... ada di Jepang ...!?”
“Itulah alasan kami memanggilmu kemari pada hari ini, Himeragi Yukina. Atas nama Tiga Orang Suci dari Organisasi Raja Singa, kami memberi perintah kepadamu, untuk menjalankan peran sebagai pengawas dari Leluhur Keempat”
Walaupun dengan nada tenang, Sang Wanita berbicara dengan nada suara yang tidak lagi bisa ditawar menawar.
“Saya ... menjadi pengawas Leluhur Keempat?”
“Ya. Kemudian saat kamu menilai bahwa keberadaan sosok target yang kamu awasi itu berbahaya, maka habisi dia dengan segenap kekuatanmu”
“Ha-habisi ...?!”
Yukina gemetar hingga kehilangan kata-kata.
Ada rasa ketakutan terhadap Leluhur Keempat. Juga ada rasa khawatir, apakah pantas misi sepenting itu ditugaskan kepadanya.
Selama ini Yukina memang tidak pernah lepas tangan dalam hal latihan. Tetapi, tetap saja dia masihlah dalam tahap belajar. Dia tidak punya rasa percaya diri akan bisa benar-benar mengalahkan Leluhur Keempat. Apalagi, Leluhur Keempat adalah monster sejati yang memiliki kekuatan sebanding dengan tentara satu negara.
Tetapi, jika tidak ada seorang pun yang melakukannya, maka suatu saat pasti akan banyak orang yang berada di atas panggung malapetaka.
“Terimalah, Himeragi Yukina”
Sang Wanita mengeluarkan sesuatu dari celah tirai bambu yang digulung ke atas. Yang diterangi oleh pendar cahaya api obor yang terbakar leyap di udara adalah sebuah tombak berwarna perak. Yukina mengetahui nama tombak itu.
“Ini adalah ....”
“Tombak pembunuh tujuh iblis, Schneewalzer. Namanya adalah Sekkarou. Nama yang ditulis dari kanji salju, embun, dan serigala.”
Saat ditanya apakah dia mengetahui hal itu oleh Sang Wanita, Yukina mengangguk tanpa rasa percaya diri.
Tombak itu adalah senjata yang dikembangkan oleh Organisasi Raja Singa, dengan kemampuan khusus untuk melawan Bangsa Iblis. Dengan ujung tombak yang dibuat dari teknologi pemurnian logam tingkat tinggi, memiliki siluet yang elegan menyerupai pesawat tempur negara adidaya, sangat layak jika disebut menyerupai pistol mesin.
Tetapi, karena inti dari senjata itu menggunakan tombak berharga pada zaman kuno, maka produksi tombak itu tidak bisa dilakukan secara massal. Dikatakan bahwa tombak itu hanya ada tiga saja di seluruh dunia. Dapat dikatakan bahwa jika digunakan maka tidak salah lagi, individu pengguna itu akan menjadi sangat kuat. Itu adalah senjata rahasia milik Organisasi Raja Singa.
 “Tombak ini ... untuk saya?”
Seraya menerima tombak yang dikeluarkan, Yukina bertanya dengan ekspresi tidak percaya.
Tetapi Sang Wanita, membuang nafas seakan menderita.
“Jika melawan Leluhur, sebenarnya kami ingin memberikan perlengkapan yang lebih kuat, tetapi, dalam kondisi saat ini, inilah senjata suci Dewa Perang terkuat yang bisa kami siapkan. Kamu akan menerimanya, kan?”
“Baik. Tentu saja saya akan menerimanya ... tetapi ....”
Berkata demikian, terlihat ekspresi kebingungan tergambar di wajah Yukina.
Yang dikeluarkan dari celah tirai bambu, ternyata bukan hanya tombak itu saja. Ada seragam baru yang terlipat rapi dalam bungkusan plastik vinil yang diserahkan kepadanya. Seragam dengan blus kerah sailor dan rok pilin yang memiliki warna putih dan biru air sebagai dasarnya. Sepertinya, itu adalah seragam musim panas anak perempuan, siswa SMP.
“Anu, ini apa?”
“Itu seragam. Aku meminta untuk disiapkan sesuai dengan ukuran tubuhmu”
“Anu, em ... maksud saya, kenapa ada seragam?”
“Karena target yang kamu awasi adalah siswa dari sekolah pemakai seragam itu”
“Apa?”
Yukina tidak mengerti apa yang dikatakan kepadanya, sehingga dia merasa sedikit kebingungan.
“Eh? Target yang saya awasi .... Leluhur Keempat itu ... seorang pelajar? Eh?”
“Akademi Sekolah Swasta Saikai, bagian Sekolah Menengah Atas, kelas 1-B. Nomor absen satu. Itulah sosok Leluhur Keempat, yang bernama Akatsuki Kojou. Tetapi, kami tidak memiliki sumber daya manusia yang dapat mendekatinya secara damai. Terkecuali satu orang, yaitu kamu, Himeragi Yukina”
“Akatsuki Kojou .... Orang yang ada di foto ini adalah Leluhur Keempat ...? Eh?!”
Yukina melihat foto yang tergeletak di atas lantai dengan mata terbelalak.
Di seberang tirai bambu, terasa hawa tertawa kecut mengalir dari Ketiga Orang Suci. Pada saat itulah, akhirnya Yukina bisa memahaminya. Mengapa untuk tugas sepenting ini, mereka memilih cenayang kuil pengguna pedang yang tidak berpengalaman seperti Yukina.
“Sekali lagi, kami perintahkan kepadamu, Himeragi Yukina. Dengan ini, mulai sekarang dekatilah dan awasilah tingkah lakunya dengan segenap kemampuanmu. Dokumen dan persyaratan untuk mutasi siswa ke Akademi Saikai telah selesai diurus-------Cukup sekian”
Diakhiri dengan perkataan sepihak seperti itu, keberadaan dari para Sesepuh di seberang tirai bambu pun kemudian menghilang.
Yukina, yang kini ditinggalkan seorang diri di serambi kuil, seraya lupa untuk mengambil nafas, hanya terdiam terkejut memandang tombak yang terus menerus digenggamnya.
Leluhur Keempat. Mutasi sekolah. Mengadakan kontak. Mengawasi. Menghabisi. Jangan-jangan, dirinya telah terlibat ke dalam malapetaka yang luar biasa. Seraya merasa demikian, tanpa sadar Yukina menghela nafas kecil.

  
Gadis yang lemah dalam hal meramal itu, jika akhirnya, dia mengetahui bahwa perasaannya itu benar, seandainya dia mengetahui hal itu sedikit lebih awal-----------

Strike The Blood Jilid 1 Intro LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.