05 Februari 2016

Samayou Shinki no Duelist Jilid 1 - Bab 5





CHAPTER 5
HANYA UNTUK MELINDUNGI.

Pandangannya perlahan kembali jelas.
“—Whoa.”
Setelah beberapa langkah, Yuuki mendapatkan kembali keseimbangannya.
Dia menggapai salah satu batu cahaya di dinding lantai untuk menstabilkan dirinya. Tidak salah lagi itu adalah lantai ketiga.
Dari keadaan di sekitarnya, dia berada di depan tangga menuju lantai ke dua dan berada di dekat alat teleportasi.
Di depannya terdapat seorang anak yang menatap terkejut padanya.
“Em, eh? Yuuki-sensei...? kamu... datang ... dari... mana?”
“Cepat pergi dari sini!”
Yuuki segera merunduk sambil memegang anak itu di dadanya. Sebuah kepala ular raksasa mematuk ke arah kepala anak itu berada tadi.
Jika Yuuki terlambat sedikit saja, anak itu pasti sudah kehilangan semua bagian atas tubuhnya.
“A-ada apa ini...?” tanya anak itu sambil menatap ke lantai karena ketakutan.
Dia melihat seekor ular raksasa berkepala banyak, dengan tubuh sebesar pohon perlahan merayap mendekat. Tentu saja makhluk itu bukan penghuni asli lantai ke tiga.
“Edgar, kenapa kamu ada disini?” Yuuki bertanya pada anak sekolah pelatihan tingkat dasar itu dengan tenang, sambil memastikan dia tidak mengalihkan pandangannya dari ular itu.
“Um, yaah, hari ini kami datang untuk mengunjungi labirin, dan... um, aku melihat tangga menuju lantai ke tiga, dan aku berpikir untuk melihatnya... sendiri...”
“Jadi yang lainnya berada di lantai atas kan?”
“Ya.”
“Baiklah. Cepat kembali ke lantai ke dua, lalu kumpulkan semuanya dan segera keluar dari sini. Cari ksatria penjaga pintu masuk dan katakan pada mereka kalau disini muncul void beast yang sangat banyak. Sekarang, cepat lari secepat yang kamu bisa!”
Edgar berlari.
“...Baiklah, selanjutnya bagaimana ini?” Yuuki berkata pada dirinya sendiri sambil mengamati ular raksasa itu.
Menimbulkan keributan disini pasti akan memancing perhatian dari luar. Anggota oath legion atau bahkan duelist mungkin akan bertindak. Keadaan ini sudah sangat di luar kendali. Masalah utamanya adalah... berapa banyak korban jiwa yang muncul sebelum semua ini berakhir?
Kalau dia melakukan perhitungan sederhana untung-rugi, jawabannya jelas untuk segera keluar. Tapi, dia ragu.
“...Oh, itu dia! Master!”
Suara yang sudah tidak asing lagi baginya memanggilnya dari arah belakang, mengganggu rangkaian pemikirannya.
Yuuki berbalik dan segera menyesali apa yang dilakukannya. Tina sedang berlari dengan senangnya menuju dia, bersama dengan void beast yang dengan senangnya mengejar dia. Mereka terlihat seperti banteng raksasa, kecuali—
“Uwa! Hyaaa!”
Tina berteriak saat dia terpental ke udara.
--Banteng biasanya tidak menyemburkan api. Yaah, namanya juga void beast.
Saat tubuh mungil Tina terjatuh, dia diseruduk oleh tanduk dari salah satu void beast itu dan kembali melayang di udara.
Yuuki segera berlari menuju arah jatuh Tina dan menangkapnya.
“Oooh, tangkapan yang bagus!”
“...Kamu tahu kan, kalau kamu takkan bisa kabur dari mereka dengan berlari?”
“Aku tadi melihat kelompok petualang yang sedang diserang oleh mereka jadi aku mengalihkan perhatian mereka. Tina memiliki perisai suci jadi dia akan menjadi umpan yang sempurna!”
Memang benar kalau dia tidak sedikitpun terluka walaupun sudah berualang kali menerima serangan.
“...”
Umpan, yah?
Menolong orang yang membutuhkan adalah suatu kewajiban baginya. Jadi dia melakukannya tanpa keraguan sedikitpun. Tanpa sedikitpun berpikir tentang apa yang akan didapat dan apa yang harus dikorbankan.
--Sial. Perasaan ini, apa ini?
“Baiklah, karena sudah terlanjur seperti ini, saatnya shinki untuk bertindak... em, huh?”
Yuuki menggendong Tina di lengannya dan berlari lurus. Para banteng api itu, dengan mangsanya yang berlari tepat di hadapan mereka, meraung sambil mengejar mereka dengan marahnya.
“M-master! Ada lagi di depan! Aaaaaaaa---!”
Yuuki tidak memperdulikan teriakan gadis yang berada di dadanya dan meningkatkan kecepatan larinya.
Ular raksasa tadi mengincar mangsanya yang untuk suatu alasan berlari lurus ke arahnya dan perlahan mendekati mereka.
Mulut raksasanya yang dihiasi oleh dua taring yang sangat tajam, dengan sekejap mendekat. Tepat saat mulut itu hampir mencapainya, Yuuki melompat ke samping. Melompat di dinding, dia melewati celah sempit dari ular raksasa itu.
Banteng api yang sejak tadi mengejarnya dan juga ular yang raksasa itu tidak mampu menyadari gerakannya.
Bersamaan dengan suara benturan yang sangat keras, mereka mulai bertarung satu sama lain.
Bersamaan dengan suara dibelakangnya semakin melemah, Yuuki berlari mencari tempat aman.
“Teknik yang sangat luar biasa! Kamu terlalu keren, Master!”
“...Terima kasih. Bagaimanapun juga, ayo lihat keadaan di alat teleportasinya.”
Yuuki memastikan kalau dia sudah meninggalkan para void beast itu jauh di belakangnya sebelum memperlambat larinya.
Sebagian besar void beast tidak hanya menyerang manusia, saat void beast raksasa seperti itu berbenturan satu sama lain, pertarungan sengit akan terjadi.
Mereka berdua akhirnya sampai di tangga menuju lantai ke dua.
Ada banyak orang yang melihat void beast raksasa itu, dan berdesak-desakan di depan tangga. Sepertinya Edgar dan yang lainnya sudah melarikan diri.
“—Oh, aku baru ingat, saat kita dan para void beast itu berpindah, sepertinya kita terpisah?”
“Tentang itu, yaah, sepertinya itu salah satu bentuk sistem keamanan. Untuk memastikan kalau setiap benda tidak tumpang tindih, semua yang dipindahkan sepertinya dipisahkan satu sama lain. Dengan begitu, kamu takkan berpindah ke dalam dinding atau semacamnya. Walaupun begitu, aku juga tidak terlalu memahaminya.” Tina menjawabnya dari lokasinya di bahu Yuuki.
“Karena kali ini ada banyak sekali yang dipindahkan, jadi jarak perpisahannya juga cukup jauh.”
Dengan kata lain, Franka dan Stefan berada di suatu tempat di sekitar sana.
Berjalan mendekati tangga, mereka akhirnya sampai di tugu yang notabene adalah alat teleportasi, dan sekarang diselimuti oleh kain putih. Sepertinya untuk mencegah orang lain menyentuh alat itu. Anehnya, tidak ada void beast maupun penjaga di sekitar sana.
Tina turun dari bahu Yuuki, lalu mengangkat lembaran kain itu dan menyentuh tugu batu itu untuk memeriksanya.
“Bagaimana? Apa mungkin untuk memindahkan para void beast itu saja ke lantai enam puluh empat?”
“Maaf, tidak bisa. Walaupun alat ini masih aktif dan masih dialiri kekuatan suci, sepertinya alat ini  hanya bisa menerima dan tidak bisa mengirim.”
“Jadi itu benar-benar alat perjalanan satu arah, yah. Sepertinya mereka semua memang harus dihabisi secara langsung.”
“Prioritas utama kita adalah korban selamat. Aku khawatir pada Franka dan yang lainnya.”
“Benar.”
Yuuki mengeluh.
“—Baiklah, ayo kita bersiap dulu sebelum bertindak. Pertama, Tina, aku ingin kamu melahap alat ini.”
“Eh...?”

Mata Tina terbuka lebar, sepertinya terkejut dengan perintah Yuuki.
“Apa gunanya shinki tanpa kekuatan suci? Jika alat teleportasi ini masih dialiri kekuatan suci, berarti alat ini sama saja dengan reliquia, kan?”
“Ohhh... kamu benar! Kamu memang sangat cerdas, Master!”
Saat shinki itu meletakkan tangannya di tugu itu, tugu itu berubah menjadi partikel cahaya dan menghilang.
“Hmmm, benda ini menghabiskan banyak tenaga untuk memindahkan kita, tapi aku rasa dengan ini aku masih bisa melakukan sesuatu. Aku merasakan kekuatan mengalir dalam diriku! Terus, selanjutnya apa lagi, Master?”
“Apa kamu bisa melacak kekuatan suci di lantai ini?”
Yuuki mengambil kain yang tadinya menutupi alat teleportasi itu dan merobeknya menjadi dua.
“Kalau kamu bertanya bisa atau tidak, tentu saja aku bisa, tapi... apa yang harus aku cari? Petualang yang membawa reliquia, batu cahaya di dinding, Tina bisa merasakan sumber kekuatan suci yang tak terhitung jumlahnya. Jangan bilang kamu ingin menggunakan kesempatan ini untuk mencari uang—“
“Jangan mengatakan hal bodoh. Yaah, melihat keadaan, bukannya aku tidak mau--, bukan, yang kita cari adalah sumber kekuatan suci yang sangat besar. Seharusnya ada dua sumber dengan kekuatan suci yang sangat mencolok.”
“Hmm...”
Tina menutup matanya dan mulai berkonsentrasi.
“K-Kamu benar. Ah, yang satu adalah senjata dragon fang milik Stefan, dan yang satunya—“
“Snow-white void dragon. Karena memang seperti itulah ciri khas permata dragon fang.”
Yuuki memberikan salah satu sobekan kain pada Tina. Ukurannya cukup besar untuk menutupi tubuhnya.
“Pertama, cari Franka. Kemungkinan besar kekuatan snow-white void dragon berada di luar jangkauan anggota oath legion, jadi kita harus memikirkan cara untuk mengatasinya. Kita tidak bisa membairkannya naik lebih jauh lagi.”
Dia sudah lama tidak merasakan perasaan seperti itu, dia pikir dia sudah lama melupakan perasaan itu.
Dia merasa sangat tenang. Franka dan yang lainnya, murid-muridnya dan para korban, itu semua untuk melindungi mereka.
Maafkan aku, dia berbisik pada seseorang yang mengajarinya untuk hidup layaknya manusia biasa, dan yang pada akhirnya, membebaskannya. ‘dia’.
--Kali ini saja, aku harus kembali menjadi diriku yang dulu.

※※※

Bertolt menggertakkan giginya dan perlahan berjalan sambil bersandar pada dinding.
Walaupun dia bisa meghindari kematiannya, tangan dan kaki kanannya hancur terinjak oleh void beast. Dia belum menyerah pada permata dragon fang itu,tapi tidak hanya kehilangan senjatanya, dia juga sudah kehilangan lengan kanannya.
“Sialan! Sakitsakitsakitsakitsakitsakitasakitsekalicepatmatimatimatimati...”
Bertolt terus mengutuk sambil berjalan perlahan. Keadaannya tidak memberikannya kesempatan untuk berdiam diri sambil menunggu bantuan.
Void beast berbahaya berkeliaran dimana-mana.
Baru saja, dia berada di lantai ke enam puluh empat, dia yakin itu.
Tapi sekarang dia sudah berada di lantai atas. Dari keadaan disekitarnya menunjukkan kalau kemungkinan besar dia berada di lantai tiga. Dia tidak tahu kenapa, tapi sesuatu sudah memindahkan dirinya dan semua void beast itu kesana.
Tidak mungkin aku akan mati disini, sumpah Bertolt pada dirinya sendiri.
Masih ada banyak harta untuk di cari, makanan untuk dimakan, minuman untuk diminum, dan wanita untuk dipeluk.
Benar, dia adalah salah satu dari beberapa elit dari kota ini. Mana mungkin dia bisa mati di tempat seperti itu.
Menguatkan diri untuk terus melangkah, dia terus berjalan di tepian dinding sampai akhirnya bertatap muka dengan seekor kelabang raksasa.
Tentu saja, makhluk itu adalah void beast dari lantai ke enam puluh empat. Tingginya sekitar tiga meter.
“Ah—“
Bertolt mencoba lari, tapi langsung tersandung dan tersungkur.
Kelabang itu menemukan mangsanya. Mengangkat tubuh raksasanya ke udara, dia segera menukik ke bawah. Bertolt berusaha sekuat tenaga untuk lari, tapi kaki kuat kelabang itu menahannya.
“AHHHHHHHHHHHH!”
Saat mulut berbisa makhluk itu mendekat, Bertolt berteriak sangat keras—tiba-tiba, keadaan sekitarnya menjadi sangat dingin.
Tubuh kelabang itu membeku dan gerakannya terhenti. Kehilangan kekuatan untuk menggerakan kakinya.
“Cepat lari!” teriakan dengan suara perempuan.
Saat gadis itu selesai mengatakannya, Bertolt sudah merangkak menjauh.
Void beast itu tiba-tiba terbakar dan berubah menjadi arang.
“Apa kamu baik-baik saja?—“
Penyelamat jiwanya berjalan tiga langkah mendekatinya, lalu memotong perkataannya saat melihat Bertolt.
“Ya, terima kasih. Apa kau seorang cleric? Kalau bisa, tolong sembuhkan...”
Bertolt tiba-tiba menyadari sesuatu. Cahaya dari batu cahaya di dinding menyinari wajah gadis itu, itu adalah dia.
Jantung Bertolt berdetak sangat cepat.
Dia tidak memiliki senjata dan juga tidak memiliki pertahanan apapun, layaknya bebek duduk*. Terlebih, gadis itu hanya berjarak sepuluh langkah darinya, menatapnya.
[TL: idom inggris, ‘sitting duck’ (ane ga tau indonya gimana)]
Gadis itu bisa saja membakar Bertolt hidup-hidup, mematahkan lehernya, memotong perutnya... dengan jarak itu, membuat orison seperti itu sangatlah mudah.
“Ah, um, namamu Franka, kan?”
“...”
“B-Bagaimana kalau kau tenang dulu, lalu kita bicara baik-baik? L-lihat, a-aku terluka.”
“...Diam.”
“A-aku menyesali semua perbuatanku! Aku hanya sedikit terbawa suasana, itu saja! Kau ingin membawaku ke pengadilan, kan? A-aku janji, aku akan segera menyerahkan diri saat keluar—“
“AKU BILANG DIAM!”
Bertolt terdiam.
Franka menggertakkan giginya dan menatap tajam pada Bertolt sebelum akhirnya mengangkat wajahnya—
“AAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHH!”
Dia berteriak sambil meneteskan air mata, seakan untuk mencurahkan semua perasaan yang bergejolak di dalam hatinya.
Sesaat setelah itu, dia kembali berbicara.
“...Lukamu?”
“Eh, hah?”
“Aku bertanya dimana kamu terluka. Kamu bilang kamu terluka, kan?”
“T-tangan dan kakiku.”
Franka mengeluarkan sebuah mutiara suci dan berjalan kearah Bertolt. Bertolt merasa takut tapi Franka hanya menyembuhkan lukanya saja.
“...Aku sudah menghentikan pendarahan dan menghilangkan rasa sakitnya. Ini hanya tindakan pertolongan pertama, tapi seharusnya kamu bisa berjalan lagi sekarang. Tolong segera pergi ke tangga dan lari.”
“Uhhh, b-bisa tolong pinjamkan aku bahumu? Aku tidak merasakan kakiku. Aku tidak bisa berdiri. Aku juga tidak memiliki senjata jadi aku takkan bisa mempertahankan diri dari void beast, aku pasti akan mati. Kalau itu terjadi, semua yang kau lakukan akan sia-sia kan?”
“...”
“Sampai tangga saja. Tolong, aku mohon.”
Dia membungkukkan badannya dan menepukkan kedua tangannya, sangat memohon. Dia tahu kalau dia bisa mengalahkan Franka dengan mudahnya sekarang, tapi untuk berjalan menuju ke tangga seorang diri itu terlalu berbahaya. Tidak diragukan lagi.
Franka tidak mengatakan apapun. Sampai akhirnya dia mengeluh.
“...Baiklah. sini, pegangan yang erat.”
“Eh? Ah, maaf karena sudah merepotkanmu.”
Bahkan jika dia sendiri yang memintanya, Bertolt tidak percaya pada apa yang dia dengar, gadis itu bodoh apa gimana? Apa dia sudah lupa kalau Bertolt mencoba untuk membunuhnya di lantai bawah? Dengan keadaan mereka berdua sekarang, Bertolt bisa dengan mudah mematahkan leher gadis itu dengan lengan kirinya. Gadis itu sangat ceroboh.
--Tidak, lebih baik singkirkan dulu pikiran seperti itu. yang paling penting sekarang adalah keluar dari sini.
Lebih baik dia menunggu sampai dia bisa memastikan keselamatannya sebelum berurusan dengan gadis itu.
Kedua orang itu berjalan tanpa sepatah katapun.
Semua batu cahaya sudah rusak, jadi jalannya manjadi gelap. Berdasarkan kenyataan kalau mereka tidak melihat seorangpun di sekitar mereka, sepertinya petualang lainnya sudah terlebih dulu melarikan diri. Tidak lama kemudian, mereka sampai di sebuah persimpangan.
“...Berhenti.” kata Franka.
Bertolt juga menyadarinya. Ada sesuatu di ujung sana.
Dari suaranya, suara langkah kakinya, tekananya, semua itu menunjukkan kalau itu bukanlah manusia, tapi seekor void beast. Kemungkinan sesuatu bertubuh besar.
Apa orison gadis ini mampu mengatasi sesuatu seperti itu? Bertolt melirik pada gadis di sampingnya.
Gadis itu tidaklah lemah, tapi jika dia tidak bisa mengalahkan void beast itu dalam satu serangan, maka Bertolt lah yang akan menerima akibatnya. Mungkin lebih baik jika dia meninggalkan gadis itu disini sebagai umpan saat dia melarikan diri. Secara kebetulan, void beast itu juga sedang kelaparan, itu akan memberinya cukup waktu.
“...Aku akan menahannya. Kamu cepat pergi.”
Franka mengeluarkan pedang pendeknya.
Bertolt tidak bisa mempercayai telinganya. Dia pasti salah dengar? Bagaimana mungkin ada seseorang seperti itu?
“Kamu tidak bisa bertarung, kan? Jadi, tidak ada jalan lain.”
“A-apa kamu yakin?”
“Aku bilang tidak ada jalan lain!” Franka separuh menangis separuh berteriak.
“Aku takkan bisa memaafkanmu, tapi jika aku membiarkanmu mati disini, apa aku masih memiliki hak untuk bertemu dengan kakakku? Cepat pergi. Aku harap kamu memegang janjimu untuk menyerahkan diri ke pihak yang berwajib.”
Memegang janjinya? Apa dia memang sebodoh itu? Bertolt hampir saja mengejek kebodohan gadis itu, tapi dia ragu.
Seingatnya, selama ini Bertolt selalu seorang diri. Dia memakan kotoran di selokan untuk bertahan hidup. Di dunianya yang gelap itu, dirinya sendirilah yang paling penting. Untuk melidungi dirinya sendiri, dia akan melakukan apa saja. Seperti itulah kenyataan berjalan, dan sesuatu yang tidak pernah diragukannya.
Tapi gadis bernama Franka itu berbeda. Dia tumbuh di dunia yang penuh warna, dalam kasih sayang banyak orang. Dia sangat memahaminya. Dunia yang mereka lihat sangatlah berbeda.
Tiba-tiba dia merasakan suatu rasa sakit di dadanya, kegelisahan yang mendalam. Apa mungkin dia sudah melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan? Perasaan ragu dan takut itu mencengkram kuat hatinya.
“Apa yang kamu lakukan?! Cepat pergi!”
Saat Franka sekali lagi memerintahkan untuk pergi, Bertolt akhirnya mulai bergerak—
“Guaaaa!”
Teriakan kematian terdengar bersamaan dengan suara benda besar terjatuh.
Saat mereka berdua berdiri terpaku, gumpalan daging yang sudah kehilangan bentuknya beterbangan dan terjatuh ke lantai.
“Nii-san...”
Melihat sosok yang baru saja muncul, Franka akhirnya merasa tenang. Dia adalah Stefan, sambil menggenggam tombaknya.
Stefan menatap dingin kedua orang itu.
Tubuh Bertolt kaku seketika sebelum akhirnya dia menyadari kalau Stefan tidak mendekatinya karena merasa jijik padanya. Rasa malu dan terhina merasuk ke dalam tubuhnya.
“—Kalian hanya akan mengganggu saja. Cepat pergi.”
“B-bagaimana denganmu, Nii-san?”
“Aku akan membantu para petualang untuk melarikan diri, dan juga menahan amukan void beast. Itu adalah tugas anggota oath legion.”
“Tapi kamu terluka! Lalu seorang diri! Kamu terlalu memaksakan diri, aku akan ikut bersamamu!”
“Kamu hanya akan menghambatku.”
Jawaban Stefan sangat kasar.
“Kamu sudah menghabiskan semua mutiara sucimu, kan? Kantungmu terlihat kosong.”
Bertolt menatap terkejut pada Franka.
Memang, kantung di pinggangnya terlihat kosong, sepenuhnya mengkerut dan berayun ringan.
“Kau... apa kau benar-benar menggunakan muatiara suci terakhirmu untuk menyembuhkanku?”
Terlebih, dia berpikir untuk menahan void beast itu tanpa mutiara suci?
Hanya untuk memberi kesempatan bagi pembunuh ayahnya untuk melarikan diri?
Diamnya gadis itu adalah sudah menjadi jawaban yang jelas baginya.
--Seberapa jauh batas kenaifan seseorang? Bertolt bukanlah seseorang yang mengetahui rasa terima kasih. Tindakan gadis itu menunjukkan kalau suatu hari dia pasti hanya akan di manfaatkan oleh orang lain, apa dia tidak bisa memahami hal sederhana seperti itu?
Gadis itu takkan bertahan hidup lama. Tidak mungkin.
“Sebaiknya kamu segera mencari pemilik toko sampah itu. Bahkan jika kamu membebaninya, dia pasti bisa melindungimu.”
“Tapi, Nii-san—“
Franka mencoba untuk menolak perintahnya sebelum mata Stefan tiba-tiba terbelalak lebar terkejut.
“Di belakangmu! Merunduk!”
Mulut Franka terbuka tanpa kata dan terdiam membeku.
Bertolt sudah bergerak. Itu adalah gerakan reflek yang sudah tertanam dalam dirinya dari berbagai pengalaman pertarungan antara hidup dan mati yang sudah dialaminya, kemampuan yang hanya bisa dilatih dengan pengalaman.
--Aku tidak ingin mati.
Pikiran itu terlintas dalam benak Bertolt.
--Tidak peduli apa yang terjadi atau siapa yang harus ku korbankan, aku tidak ingin mati.
Itulah yang biasanya dia pikirkan, tapi kali ini...
Mengulurkan lengannya yang tersisa, dia mendorong gadis itu menjauh dari bahaya dengan segenap sisa kekuatannya.
Pada akhirnya, dia mengetahuinya. Jadi ini alasannya... jujur saja, aku cukup menyukai perasaan ini.
Pemandangan terakhir dalam hidupnya dipenuhi dengan gemerlap warna.

※※※

“—Ow!”
Franka terjatuh ke lantai setelah terdorong dengan sangat kuat.
Sesaat setelahnya, sekelebat angin bertiup di dekatnya bersamaan dengan suara yang mirip dengan kantung penuh air dipukul. Bertolt menghilang.
Tepatnya, dia sudah benar-benar tiada. Terlebih, diserang oleh ekor dari void beast raksasa, tubuhnya terpental ke udara. Tubuhnya membentuk garis lengkung panjang sebelum akhirnya terjatuh ke lantai dan terpantul tiga kali, bersamaan dengan suara sesuatu yang pecah, sebelum akhirnya berhenti dan tak bergerak sedikitpun.
Apakah dia berusaha mendorong Franka pada monster itu sebagai umpan? Atau apa mungkin dia berusaha untuk menyelamatkannya? Apapun alasannya, sudah terlambat untuk memikirkan hal itu.
“S-Semoga semua amal dan kebaikannya diterima di sisi-Nya—“
Franka mengangkat tubuhnya dan tanpa sadar membisikkan doa. Sebuah raungan penuh amarah mengguncang ruangan itu.
“Berdiri! Cepat bediri dan pergi dari sini!”
“Ah...”
Bersamaan dengan hembusan angin yang sangat kuat, sebuah cakar raksasa bergerak mendekat menghujam langsung menuju kepala Franka, sebelum akhirnya dipantulkan, tentu saja oleh tombak Stefan.
“—Kembali, Blue Water PikeAmnis.”
Tombak yang tertancap di dinding menghilang dan muncul di tangan Stefan.
Di hadapan mereka berdua berdiri seekor naga raksasa.
Tingginya setidaknya sepuluh meter dan dari aura yang terpancar dari tubuhnya! Makhluk itu bukanlah void beast biasa.
Tubuh raksasanya dilapisi oleh sisik putih yang sangat indah. Sepertinya dia berpikir kalau mangsanya berusaha untuk melawan. Tubuhnya gemetar marah dan perlahan mendekat.
Stefan menggenggam tombaknya jauh lebih erat lagi.

※※※

Akar dari sisi gelap Stefan sekarang telah menghilang.
Bertolt telah terbunuh oleh snow-white void dragon di depan matanya.
Walaupun dia tidak sempat mengamati monster yang di hadapannya itu saat di lantai bawah, berhadapan langsung dengannya, dia merasakan aura dan tekanan yang sangat kuat dari monster itu.
“Aku akan mencoba menahannya, cepat pergi dari sini!” Stefan berteriak pada seseorang di belakangnya.
Suara dari belakangnya menunjukkan ke tidak setujuannya.
“Tolong jangan sia-siakan tekadku ini.”
Kali ini sosok dibelakangnya terdiam. Stefan merasakan kalau sosok di belakangnya sudah mencapai jarak yang cukup jauh. Bagus.
Pikiran Stefan menjadi sangat tenang.
Dia sangat membenci Bertolt sampai ke akar jiwanya. Tapi, sepertinya rasa benci itu bukanlah sumber utama perasaan yang membelenggunya selama ini.
Bukan, itu adalah kebencian. Kebencian pada kelemahannya sendiri sehingga dia tidak mampu melindungi orang-orang yang disayanginya.
Akhirnya dia sudah terbebas dari perasaan yang dia hadapi selama ini.
--Dia berterima kasih pada Shinki atas kesempatan keduanya itu.
Stefan berjalan maju dan menghembuskan nafas panjang, mengayunkan Blue water PikeAmnis. Targetnya adalah kaki void dragon itu. Dia hanya perlu menahan lajunya.
Dia menusukkan tombaknya, tapi gagal menembus sisik monster itu. Dengan bunyi nyaring, tombaknya terpental tanpa meninggalkan goresan sedikitpun.
“Perisai suci, kah...”
Stefan memahami apa yang terjadi. Walaupun dia berhasil memberikan sedikit luka pada Bertolt, tapi serangannya tadi bahkan tidak meninggalkan bekas goresan sedikitpun. Apakah itu karena tombaknya yang tidak mampu melakukannya, atau karena dia yang tidak mampu menggunakan kekuatan tombak itu sepenuhnya?
Void dragon itu menurunkan kepalanya, matanya menunjukkan kecerdasan dan kesan sombong.
“...Kamu berpikir kalau kamu sudah menemukan mainan baru kan, dasar monster?!” teriak Stefan, kembali mempersiapkan senjatanya.
Tapi tepat saat dia melakukannya, tubuhnya langsung melayang di udara.
Saat itu dia baru menyadari kalau dia baru saja ditendang. Kecepatan gerakan monster itu tidak bisa diikuti oleh mata biasa.
“Guha....!”
Mengerang, Stefan berusaha untuk berdiri.
Mulut raksasa monster itu terbuka lebar. Di dalam rahangnya, dia bisa melihat kilauan cahaya mulai terkumpul.
“...Mungkin hanya sampai sini saja,” gumamnya.

※※※

Franka berlari, bukan untuk melarikan diri tapi untuk mencari bantuan.
(Tolong, Yuuki-san, tolong selamatkan Nii-san!)
Wajah yang terlintas dalam pikirannya adalah wajah Yuuki, yang, walaupun selalu terlihat tidak bersemagat, tapi selalu dapat di andalkan.
Dia belum berlari jauh, tapi, dia terpaksa menghentikan langkahnya saat dia mendengar suara ledakan yang sangat keras.
Pandangannya berubah putih saat dia terkena hembusan badai es.
Berulang kali membentur dinding dan terjatuh ke lantai karena hambusan itu, dia akhirnya terhenti.
Franka mengangkat kepalanya, terbatuk. Dengungan keras bergema di telinganya dan kesadarannya mulai memudar.
--tapi dia masih tetap harus berjalan.
Franka mengerahkan setiap sisa kekuatannya, dan berusaha berdiri.
Pandangannya yang dari tadi dipenuhi dengan embun perlahan kembali jelas.
Temboknya runtuh dan jalanannya sepenuhnya berubah.
‘Breath’, hembusan nafas dari void dragon adalah sebuah serangan yang jauh melampai segala jenis orison jenis serangan yang bisa dilakukan.
“Tidak... Nii-san...”
Efek samping dari serangan itu saja sampai mengakibatkan kerusakan seperti itu. Maka kakaknya, yang menerima langsung serangan itu—
Franka merasa lututnya melemah. Saat dia merasakan keputus asaan merasuk dirinya—
“...Fufufu. Mana mungkin semburan kadal besar sebatas itu mampu melukai shinki sepertiku.”
“Berhenti menyombongkan diri, tadi itu hampir saja tahu.”
Saat kabut putihnya menghilang, bayangan dari dua sosok yang tidak dia kenal berdiri diantara dirinya dan naga itu.
Kedua orang itu mengenakan sebuah jubah panjang, atau tepatnya sebuah kain panjang sehingga wajah dan identitas mereka tidak diketahui. Tapi dari tubuh mereka, salah satu terlihat seperti orang dewasa dan yang satunya seperti seorang anak kecil.
Berada di punggung sosok yang agak besar adalah... kakaknya?
“Terserah. Aku berhasil menyelamatkannya, kan? Aku sudah melakukan hal yang cukup hebat, jadi jangan sungkan untuk memujiku.”
“Tidak perlu repot-repot, mungkin aku akan memikirkannya saat semua ini berakhir,”
Apa mungkin mereka menahan serangan itu dengan semacam perisai?
Itu tidak mungkin. Tidak peduli seberapa hebat atau berbakatnya seorang cleric, dia takkan mampu menahan serangan yang tidak manusiawi seperti itu. Tapi jika dia benar-benar mampu melakukannya... maka yang membuat perisai itu pasti juga bukan manusia.
Tidak, tunggu—anak itu... apa yang tadi dia katakan? Seorang shinki? Tidak mungkin...
“...Seorang... shinki.... dan... duelistnya...”
Pada masa kecilnya.
Mendiang ibunya yang lebih sering manghabiskan waktunya berbaring di kasur, memiliki suatu kebiasaan. Sambil berbaring di kasur, dia akan memanggil Franka dan Stefan yang sering terkadang berkunjung, ke dekat kasurnya dan menceritakan sebuah kisah pada mereka.
Kakaknya sangat menyukai kisah menegangkan tentang kepahlawanan seorang duelist.
Pada awalnya, cerita itu tidak sedikitpun menarik perhatian Franka muda. Dia mengikuti waktu cerita itu agar dia bisa menghabiskan waktunya lebih lama dengan kakaknya yang jarang berkunjung.
Tapi perlahan, dia juga, menyukai kisah menegangkan seperti itu.
Saat seorang petualang mengalami masalah besar di dalam labirin, mereka pasti akan muncul, pahlawan masa lalu.
Ah... dengan ini semuanya akan baik-baik saja...
--Itu adalah pemikiran terakhir yang terlintas dalam benak Franka saat kesadarannya perlahan menghilang.

※※※

Denyut nadi Franka dan Stefan perlahan stabil. Mereka berdua hanya pingsan.
Yuuki menghela nafas lega. Akhirnya tiba waktu untuk mengakhir semua masalah itu.
“Sudah tidak ada waktu lagi, Master. Aku tidak memiliki banyak kekuatan suci yang tersisa. Aku hanya bisa menahan beberapa  serangan lagi.”
Dia kekurangan kekuatan suci untuk menghentikan maupun memindahkan void dragon itu.
Untuk itu, sudah diputuskan kalau dia akan lebih fokus dalam pertahanan. Dengan membuat perisai yang mampu menahan segala jenis serangan sebelum dia kehabisan seluruh kekuatan sucinya.
“Aku akan mengurus sisanya, oh ya—“
Yuuki menatap naga raksasa yang berdiri di hadapan mereka.
“Apa kamu bisa merasakan kekuatan suci dari makhluk itu?”
“Tentu saja. Dari jarak ini, aku bahkan bisa merasakan denyut kekuatan sucinya.”
“Dimana letak kekuatan sucinya terkumpul paling kuat?”
“Di lehernya. Kenapa kamu menanyakannya?”
“Sumber kekuatannya juga adalah kelemahannya. Baiklah, ayo mulai.” Teriak Yuuki, sambil berlari munju musuhnya. “Kamu sudah mengamuk secara berlebihan di lantai ini, snow-white void dragon. Kalau kamu menyadari semua kesalahanmu, maka biarkan aku mengalahkanmu.”
Void dragon itu menanggapinya dengan raungan ganas.
“Aku tahu kamu pasti akan berkata seperti itu. Walaupun aku tahu kalau kemampuanku sudah sedikit tumpul, tapi kebetulan disini ada senjata yang cukup bagus. Ijinkan aku meminjamnya sebentar—“ yuuki mengatakannya sambil mengambil sebuah tombak. Yang dia pegang adalah Blue water pikeAmnis milik Stefan.
“Ayo mulai.” Yuuki berkata pada tombak di tangannya, sedikit tersenyum. “Hey, jangan marah begitu. Tolong pinjamkan kekuatanmu sedikit saja, ok? Bentuk kedua saja sepertinya cukup. Jika kita tidak membereskan si putih itu, mungkin tuanmu juga akan mati bahkan sebelum dia mampu memaksimalkan kemampuanmu, tahu?”
Tombak itu bergetar enggan sebelum akhirnya mengubah bentuknya.
Saat itu, void dragon di hadapannya bergerak dan mengayunkan kaki depannya. Blue water pikeAmnis besinar dan darah bercucuran bersamaan dengan raungan kesakitan dari void dragon, kakinya terluka.
“Dari sini, kamu takkan mampu hanya mengandalkan perisai sucimu. Kita akan menyelesaikannya dengan kekuatan penuh kita.”
Tombak di tangannya sudah sepenuhnya berubah. Bentuknya menjadi sederhana dan tidak biasa setelah ukurannya berubah menjadi dua kali bentuk asalnya dan sedikit melengkung, hampir menyerupai makhluk hidup.
Senjata suci dragon fang memiliki berbagai bentuk dan ukuran, tapi mereka memiliki satu ciri khas, yaitu memiliki tiga tingkatan(bentuk/mode). Tingkat pertama sudah berada di tingkatan yang takkan mampu dicapai pandai besi manapun, pada tingkat kedua kekuatan suci mulai menyelimuti senjata itu sehingga mampu menembus perisai suci. Dan tentu saja meningkatkan kekuatannya.
Snow-white void dragon itu menatap penuh kebencian pada Yuuki. Dia mulai menanggapi pertarungan itu dengan serius.
“Baiklah, ayo mulai pertarungan yang sebenarnya.”
Senjata naga itu terdiri dari cakar, taring, ekor dan tentu saja hembusan nafasnya’Breath’.
Lokasi tempat itu cukup luas bagi naga itu bergerak dengan bebasnya, sedangkan bongkahan puing-puing yang berserakan akan mengganggu pergerakan Yuuki. Keadaannya memberikan naga itu keuntungan.
Walaupun begitu, Yuuki merasa kalau dia tidak perlu berusaha untuk mengalahkannya. Tujuannya hanyalah untuk membiarkan Tina dan yang lainnya waktu yang cukup untuk melarikan diri.
“Hey, di sini!”
Yuuki berlari menuju naga itu memberikan rentetan serangan pada kaki kiri belakang naga itu. Void dragon itu meraung marah, dan menyerang balik dengan taring dan cakarnya, naga itu sedikit mundur setiap kali melakukannya. Pola itu terus berlanjut beberapa kali, Yuuki berhasil untuk menahannya.
Menahan naga itu seorang diri sangatlah berbahaya, tapi itu layak dilakukan. Dibutuhkannya melakukan hal itu perlahan terjawab. Setelah beberapa saat, dia berhasil menahan naga itu cukup jauh dari kedua bersuadara yang terluka.
Disini seharusnya sudah cukup jauh.
Rencananya memasuki tahap selanjutnya, sekarang adalah saatnya untuk menyerang.
Yuuki melaju dan menusuk paha naga itu. Darah merah mewarnai sisik putihnya sambil naga itu meraung kesakitan.
Berdasarkan rencana sebelumnya, setelah dia melancarkan serangan itu, adalah saatnya untuk lari. Tapi, saat itu, dia malah kembali berlari menuju naga itu.
‘Serangan selanjutnya bergantung pada bagaimana dia menyerang—‘
Sebuah cakar raksasa terangkat keudara. Yuuki, saat melihat gerakan naga itu, mempersiapkan senjatanya.
Tiba-tiba, kaki depan naga itu menekuk dan berputar setengah lingkaran dengan sangat cepat.
Kibasan ekor yang sangat kuat.
“--!”
Dia dan musuhnya sepertinya menggunakan teknik yang sama, mereka berdua menggunakan tipuan dan menunggu celah untuk melakukan serangan.
Karena serangan yang sangat tidak terduga itu, Yuuki tidak sempat bertindak. Apakah dia akan mampu menghindarinya--?
Ekor naga itu membentur dinding yang tak terlihat dan terpantul ke arah sebaliknya. Mengalami hal yang tidak terduga, sekujur tubuh naga itu terguncang karena getarannya.
Yuuki menggunakan kesempatan itu untuk segera melesat memutar menuju arah sebaliknya.
“—Apa kamu baik-baik saja!?” teriak Tina.
Dia berada di posisi yang jauh lebih dekat dari kedua bersaudara yang pingsan, dan terus menyaksikan semua pertarungan itu.
“Dasar bodoh! Jangan mendekat!” teriak Yuuki.
Naga itu, memancarkan aura suci yang dia miliki, adalah sosok yang kekuatannya jauh berbeda dengan void beast lainnya. Serangannya mampu melukai seorang shinki. Tanpa perlindungan dari perisai suci, Tina hanyalah seorang gadis muda yang rapuh.
“Siapa yang kamu panggil bodoh! Kamu seharusnya berterima kasih, dasar Master bodoh!” shinki itu berteriak marah.
“Aku sangat berterima kasih! Kamu benar-benar menyelamatkanku tadi, tapi kamu tetap harus menjauh dari sini!”
Rahang naga itu bergerak ke arahnya, Yuuki melompat ke belakang menghindarinya.
“Tolong, ku mohon – jangan mendekat! Sekali ini... hanya kali ini saja... tolong biarkan aku melindungimu?!”
Sebelum dia menyadari apa yang dia katakan, kalimat itu sudah keluar dari mulutnya.
Kalimat yang tidak ingin dia katakan, perasaan asli dari dalam hatinya.
“...”
Sepertinya memahami arti dari perkataan Yuuki, Tina akhirnya menutup mulutnya. Tapi, tidak lama kemudian, dia kembali berkata.
“Tidak mau! Jangan menghinaku! Kamu harus mengetahui sesuatu, Master. Tina tidak mau hanya berdiam diri dan menonton saat dia dilindungi. Aku ingin bertarung bersamamu!”
Sebuah cakar kembali terbang ke arahnya, Yuuki menahannya dengan tombak yang di pegangnya dan segera berlari menuju Tina.
“Aku masih bisa membuat satu, tidak... dua perisai pelindung. Kalau kamu membiarkanku mengurus pertahananmu, maka aku akan dengan senang hati melakukannya. Tapi, jika kamu tetap bersikeras berkata ‘itu terlalu berbahaya’ atau semacamnya, maka aku akan melakukan apapun semauku. Baiklah, apa jawabamu? Jalan mana yang akan menuntun kita pada kemenangan?”
Tina terus menatap Yuuki sambil menarik nafas.
Saat matanya bertatapan dengan mata Tina, Yuuki berpikir pada dirinya sendiri kalau mungkin dia sudah terpesona oleh Tina.
“...Kamu ini benar-benar orang yang bodoh, kan?”
Saat dia dengan heran menanggapi Tina, alis mata Tina terangkat dan berteriak “Apa kamu bilang?!” tapi Yuuki tetap mengawasi keadaan di sekitarnya. Bongkahan reruntuhan dinding juga dapat digunakan sebagai pijakan.
Baiklah, ayo akhiri semua ini.
“...Tina, saat aku memberimu tanda, aku ingin kamu membuat dua buah perisai sekaligus. Gunakan yang satu untuk melindungiku, dan tidak peduli di mana pun aku berada, letakkan yang satunya satu metar dari wajah naga itu. Apa kamu bisa melakukannya?”
“Tentu saja.”
“Kalau begitu, aku serahkan padamu.”
Yuuki kembali melawan musuhnya.
Pertama dia harus mencari tempat yang cocok, lalu mengubah teknik bertarungnya untuk mengalahkan naga itu.
Seperti apa yang dia lakukan sebelumnya. Dia akan bertindak sebagai umpan. Dia akan sengaja menempatkan dirinya terpojok mendekati dinding, lalu dia akan langsung menyerang balik naga itu. Tapi, walaupun jika dia berhasil melakukannya, dia mungkin takkan memiliki tempat melarikan diri—
“SEKARANG!”
Perisai pertama muncul dan menahan serangan cakar naga itu. void dragon itu yang berpikir kalau serangan itu akan mengakhiri pertarungan itu meraung marah dan hilang kesabaran. Yuuki berlari di dinding sambil menjaga jarak dari naga itu.
Yuuki cukup bisa memperkiran pola serangan naga itu. Dalam jarak dekat naga itu akan menyerang dengan cakar dan taringnya, jarak menengah dengan ekornya, dan jarak jauh, makhluk itu akan menggunakan ‘Breath’. Setiap kali makhluk itu mengguakan Breath, dia akan menurunkan kepalanya mendekati tanah terlebih dahulu. Sepertinya itu akan menjadikannya lebih sulit dihindari daripada serangan dari sudut yang lebih tinggi.
Karena serangannya yang baru saja gagal, makhluk itu kembali menyerang, terus melancarkan serangan betubi-tubi tanpa memberikan waktu untuk berpikir.
Void dragon itu menurunkan kepalanya dan membuka mulutnya.
Sesuai rencana. Ada batu pijakan di depannya. Jika dia melompat dari situ dan memantul di dinding, dia akan mempu mencapai kepala naga itu.
Saatnya--!
Saat Yuuki berniat memerintahkan Tina untuk membuat perisai kedua, naga itu tiba-tiba mengangkat kepalanya dan berbalik.
Serangannya sekarang mengarah pada Tina dan kedua orang yang berbaring di tanah.
“--!”
Menyadari niat naga itu, Yuuki berlari secepat yang dia bisa. Tapi, dia sudah terlambat.
Kilauan cahayan menyilaukan melesat dengan cepatnya, membekukan udara. Di dalam pandangannya yang berkabut, dia melihat ketiga sosok itu terpental layaknya daun terkena hembusan angin, terpental menuju dinding dan lantai.
Saat dia hampir larut dalam keputusasaan, kakinya berhenti bergerak.
Kenyataan kalau dia bisa melihat mereka bertiga berarti kalau Tina menyadari gerakan naga itu dan berhasil membuat perisai tepat waktu. Kalau mereka menerima langsung serangan itu, maka takkan ada yang tersisa untuk dilihat olehnya.
Masalahnya adalah, karena sisa kekuatan sucinya yang sangat sedikit, dia takkan mampu bertahan lama. Apa yang harus dia lakukan?
Hanya ada satu hal yang terlintas di benaknya. Saat dia membalikan wajahnya lagi, dia menyadari sesuatu, naga itu juga sedang menatap padanya. Dia menggigil di sekujur tubuhnya, tapi bukan karena dingin.
“Ah, sial—“
Dari awal dia adalah targetnya.
Dari awal dia sudah menyadari kalau berdua menghadapi naga itu sambil melindungi mereka yang terluka sangat tidak menguntungkan. Jika naga itu berusaha menyerang mereka yang terluka, dia takkan bisa fokus pada musuh di hadapannya.
Bahkan saat dia menghindari taringnya yang setajam pedang, makhluk itu langsung menyerang lagi dengan mengayunkan cakarnya. Walaupun Yuuki berhasil menghindari cakar itu dari bawah mereka, gerakannya sangat terbatas. Punggungnya sekarang menyentuh dinding labirin yang dingin.
Void dragon itu menatap mengejek pada Yuuki.
Pada jarak nol itu, rahang naga itu terbuka lebar. Yuuki bisa melihat cahaya terkumpul di dalam kerongkongan naga itu.
--Sudah sangat terlambat bahkan untuk bermimpi menghindarinya.

※※※

“Ugh...”
Franka terbangun karena terpental ke lantai.
Untuk sesaat, dia berpikir kalau dia sudah di panggil kembali pada sisi raja surgawi, tapi lalu dia menyadari pemandangan sekitar yang tidak asing lagi baginya. Sepertinya dia masih hidup.
Sebuah mayat tergeletak sepuluh meter di hadapannya. Saat dia berpikir kalau mungkin itu adalah kakaknya, keringat dingin mengalir dari tubuhnya. Tapi dalam sekejap, dia menyadari kalau itu bukan kakaknya, bukan, itu adalah Bertolt, yang terbunuh oleh void dragon.
Melihat ke depan, dia melihat sosok asing yang menyelamatkan hidupnya.
Kemampuan orang itu dalam menggunakan tombak dan bela diri sangat luar biasa, tapi yang lebih mencengangkan adalah tidak hanya dia berhadapan langsung dengan void dragon itu, tapi dia berhasil memberikan luka yang sangat banyak pada naga itu. sayangnya, perlahan dia mulai terdesak. Menghadapi serangan bertubi-tubi dari taring dan cakar naga itu, dia mulai terdesak.
Dia butuh bantuan. Pemikiran itu sirna saat dia menyadari kalau dia sudah kehabisan mutiara sucinya.
Bagaimana ini?
Apakah tidak ada hal yang bisa dia lakukan? Apa tidak ada cara lain—
“Kantung di pinggang orang itu! cepat buka!”
Dari bawah reruntuhan batu di dekatnya, suara perempuan yang sangat tidak asing baginya terdengar.
‘orang itu’ apa mungkin maksudnya Bertolt? Pinggangnya... ada apa?
Franka berusaha berdiri dan memeriksanya. Disana terdapat sebuah kantung di pinggang Bertolt dan sudah berlubang. Dari lubang itu dia bisa melihat batu cahaya, pematik api, dan berbagai alat kecil lainnya. Tapi, ada sesuatu lagi di dalamnya—
“Sebuah mutiara suci?”
Terlebih, kelas yang sangat tinggi, bahkan mungkin mencapai kelas satu.
Dia adalah seorang petarung, jadi kenapa dia membawa sesuatu seperti itu? Franka meggelengkan kepalanya, tidak ada waktu untuk memikirkan hal seperti itu.
Dia berusaha berlari, tapi kakinya tidak bergerak sesuai keinginannya dan dia terjatuh. Tubuhnya sudah sangat kelelahan.
Tapi, saat dia hampir terjatuh, sebuah bayangan mendekat dan menangkap mutiara suci itu.
“Nii-san--!”
Stefan dengan diam melemparkan mutiara suci itu kembali pada Franka. Menangkapnya, Franka kembali berbalik menghadap tempat pertarungan.
Aku harus menolongnya! Orang yang sedang bertarung itu membutuhkan bantuannya.
Menggunakan semua kekuatan suci yang terdapat dalam mutiara suci itu sekaligus, Franka berteriak, “Perisai! Tolong selamatkan dia!”

※※※

Yuuki sedang cukup beruntung.
Pertama, mutiara suci yang dia sembunyikan di kantung Bertolt masih berada di sana.
Kedua, Franka yang menggunakannya, bukan Tina.
Tingkat efisiensi antara shinki yang memuat mukjizat dengan manusia yang membuat orison sangat jauh berbeda. Tapi, untuk mengisi kekuatannya Shinki harus memecah kekuatan suci dalam mutiara suci itu baru menyerapnya agar bisa digunakan. Berbeda dengan cleric manusia. Mutiara suci dapat secara langsung digunakan kekuatan sucinya sesuai keinginan mereka.
Jadi, dalam keadaan itu, Franka akan bisa menggunakannya jauh lebih cepat daripada Tina, atau bisa dibilang, cukup cepat.
Sebuah perisai muncul diantara Yuuki dan naga itu sejauh satu meter satu sama lain, bersamaan dengan saat dilancarkannya Breath naga itu.
Walaupun Franka menggunakan semua kekuatan suci yang terdapat dalam mutiara suci itu, itu masih hampir tidak cukup untuk sepenuhnya menahan Breath naga itu, dan hanya mampu bertahan beberapa detik. Dalam sekejap perisai itu pecah dan menghilang.
--Tapi, beberapa detik itu saja sudah cukup.
Karena jaraknya yang sangat dekat, breath naga itu terpantul kembali dan menjadikan badai salju yang mengarah langsung padanya. Tapi tentu saja serangan seperti itu takkan mampu melukai naga itu.
Walaupun begitu, hawa dingin yang dibawanya juga membekukan udara, menjadikan daerah di sekitarnya dikelilingi oleh kabut, menghalangi pandangan void dragon itu. dalam sekejap itu, dia kehilangan jejak Yuuki.
“Di sini!”
Yuuki menggunakan kesempatan itu untuk berlari di dinding di sekitarnya, dan mengarah langsung menuju leher naga itu.
Naga itu meraung marah dan mengangkat kepalanya. Yuuki, mengikuti gerakan itu dan melompat ke udara.
Dia memastikan targetnya, berada sekitar seperempat dari bawah dari lima meter panjang leher naga itu.
“Dengan ini, semuanya berakhir.”
Gaya gravitasi menambah kekuatan tusukannya, dia menusukkan Blue water pikeAmnis langsung di targetnya dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi.
Permata Dragon fang - sumber kekuata void dragon - terpental keluar dari tubuh raksasa naga itu, berdenting saat terjatuh di lantai.
“Blue water pike mengibaratkan air yang mengalir. Tentu saja benda ini mampu menembus salju.” Gumam Yuuki saat di melompat turun dan mengambil permata itu.
Guaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa---
Kepala snow-whtie void dragon bergerak dengan liarnya saat naga itu mengutarakan raungan kematiannya.
Tidak lama kemudian, tubuhnya berhenti sepenuhnya dan terjatuh ke lantai.

※※※

Franka dan Stefan duduk bersebelahan di lantai, menatap terpaku.
Sosok misterius yang baru saja mengalahkan seekor void dragon perlahan berbalik ke arah mereka sebelum melemparkan kembali benda yang dipegangnya. Saat tombak itu menembus dinding di atas kepala Stefan, tombak itu kehilangan bentuk melengkungnya yang aneh dan kembali ke bentuknya yang semula.
Siapa kalian...?”
Mengabaikan pertanyaan Franka, sosok asing itu menggapai sosok asing yang satunya, si anak kecil, dan pergi.
Saat itu, regu penyelamat akhirnya datang.

Samayou Shinki no Duelist Jilid 1 - Bab 5 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: h kim

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.