12 Februari 2016

Rokujouma no Shinryakusha Jilid 1 Bab 7 LN Bahasa Indonesia



ROKUJOUMA NO SHINRYAKUSHA
JILID 1 BAB 7
TIDAK ADA SEMANGAT KERJASAMA!


“Fiuh...”
Koutarou dapat menenangkan dirinya setelah banyak minum teh yang dituangkan oleh Kiriha.
“Masalahnya terus saja menumpuk, dan aku mulai merasa gila...”
“Waktu seperti ini adalah wajtu yang tepat untuk minum teh lagi. Sayangnyam aku tidak dapat menemukan daun teh yang bagus...”
Sanae sedang berpegangan ke punggung Koutarou dan bermain-main dengan cangkir kosong tersebut menggunakan Poltergeistnya.
Setelah kupikir-pikir, aku sering bertengkar dengan Sanae ketika kami pertama kali bertemu.
Koutarou menoleh ke arah Theia, yang sedang duduk tepat di depannya, sambil berpikir begitu.
Namun, Theia yang keras kepala itu, mengalihkan pandangannya dari Koutarou, dia memutuskan untuk tidak bertatap muka dengan Koutarou.
Koutarou merasa situasinya saat ini cukup mirip dengan situasi ketika dia pertama kali bertemu dengan Sanae.
“Hei, Tulip.”
“...Jangan panggil aku dengan nama aneh begitu! Aku punya nama yang sangat bagus - Theia!”
Theia melotot ke arah Koutarou.
Biarpun Theia lebih agresif dan egois dari Sanae, pipinya yang menggembung masih dipenuhi masa muda.
Aku tidak sedikitpun berniat untuk menyerahkan kamar ini, tapi kurasa aku sedikit kekanak-kanakan. Dia hanya anak kecil.
“Baiklah, Theia.”
“Panggil aku Theia-sama atau Yang Mulia Theia!”
“Aku bukan penduduk negerimu, dan aku juga tidak berniat menjadi salah satu dari mereka.Pikirkan sedikit; saat ini kita adalah musuh.”
“...Baiklah. apa yang kau mau?”
“Biarpun kita ini musuh, sebaiknya kita berhenti melakukan hal yang tidak menguntungkan bagi kita berdua.”
“Apa yang kau maksud, jelaskan lebih spesifik?”
“Memukul, menendang, menembakkan sinar, dan semacamnya. Jika aku mati, kau juga akan kalah. Kaisar tidak akan mengakuimu jika kau menggunakan kekerasan untuk menunjukkan kemampuanmu, kan?”
“...”
Theia terdiam.Dia mengerti kalau Koutarou memang benar, tapi dia tidak bisa memaksa dirinya sendiri untuk setuju.
“Aku akan menahan diri dan berhenti menyerangmu.Kurasa kita berdua setidaknya harus saling menahan diri seperti itu.”
“...”
“Yang Mulia, negosiasi itu diperlukan dari waktu ke waktu.”
“...Aku mengerti. Memang benar kalau bertarung denganmu itu tidak ada untungnya.”
Ruth berhasil membujuk Theia.
“Jika kau mau bernegosiasi, aku akan berhenti menggunakan kekerasan.”
Theia bertingkah seolah-olah dia mau tidak mau menerima usulan Koutarou, tapi sebenarnya dia berpikiran hal yang sama dengan Koutarou.
“Bagiku itu tidak masalah.”
Hmm...Selama dia tidak terlalu emosi, sepertinya dia bisa diajak bicara.
Theia bisa menggunakan senjatanya untuk menyandera seluruh planet dan mengancam Koutarou.
Tapi dia tidak melakukan hal itu.Saat dia menggunakan akal sehatnya, kelihatannya dia sadar kalau hal seperti itu adalah hal yang tidak masuk akal.
“Yah, dengan begini, saya mau kita menenangkan diri dan menjelaskan situasi kita semua sekali lagi.”
Dengan Koutarou dan Theia yang menjadi tenang, Kiriha menarik napas lega.
“Tidak masalah.”
“Dimengerti.”
Sanae dan Yurika langsung setuju.
“Mari kita melakukannya.Aku mulai lupa tentang apa yang sedang terjadi.”
Hanya dalam empat hari, penghuni kamar itu telah naik dari hanya Koutarou saja menjadi enam orang.
“Aku tidak keberatan.Aku mau mendengarkan semua rencana kalian sekali lagi.”
Theia juga setuju dengna patuh.
Namun, orang terakhir, Ruth tidak mengatakan apa-apa.
Dia hanyalah rekan Theia.
“Kalau begitu kita mulai dengan Koutarou.Saat ini dialah pemilik sah kamar ini.”
“Tapi, aku sudah tinggal disini sebelum Koutarou sih...”
“Koutarou sudah menandatangani kontrak dengan pemilik rumah.Kami tidak akan mengabaikan alasanmu, Sanae, tapi kita dengarkan dulu apa yang mau Koutarou katakan.”
“...Kurasa tidak ada pilihan lain...”
Sanae merasa tidak puas, tapi dia menahan perasaan itu untuk saat ini.
Perasaan Sanae pada Koutarou telah berubah, biarpun Sanae sendiri tidak sadar akan hal itu.
Sejak dia baru brtemu dengan Koutarou, Sanae tidak pernah menahan diri.
“Silakan, Koutarou.”
“Baiklah... Alasanku sederhana. Selama aku sekolah di SMA, aku akan tinggal disini. Karena itu aku menolak untuk pergi.Biaya sewa 5.000 yen sebulan juga cukup membantu.
“Orang kampong, berapa lama seeorang sekolah di SMA?”
“...Tiga tahun.”
Biarpun dia sedikit kesal dipanggil orang kampong, Koutarou menjawab dengan patuh.
“Aku tidak bisa menunggu selama itu!”
“Tapi aku tidak akan pergi.Aku berteman dengan ibu kos-san, dan menyerahkan kamar ini padamu hanya akan menimbulkan masalah baginya.”
Koutarou punya dua alasan untuk tidak pergi.
Yang pertama tentu saja mengenai biaya hidup.
Yang kedua adalah Shizuka.
Biarpun mereka baru berkenalan selama beberapa hari, Koutarou merasa berhutang budi serta ikatan dengan Shizuka.
Karena itulah dia tidak bisa langsung meninggalkan  kamar ini begitu saja dan menyakiti Shizuka.
Koutarou sadar betul seberapa besar arti bangunan ini bagi Shizuka.
Itulah alasan kenapa dia tidak bisa pergi begitu saja.
“Sekian dariku.”
“...Jika masalahnya hanya tentang tempat tinggal, kau bisa dengan mudah mundur, kan?”
“Tapi, akan menyusahkan jika kau tidak pergi!...”
“Yurika, saya minta kamu simpan cerita itu untuk giliranmu.Selanjutnya adalah Sanae.”
“Aku?”
“Kita melakukan ini berdasarkan urutan waktu datang di kamar ini.”
“Aku mengerti.Tapi alasanku juga sederhana.Aku sudah tinggal disini sejak lama, jadi aku tidak mau diusir, itu saja.”
Sanae mendeklarasikan hal itu dan tertawa acuh tak acuh.
“Saat ini aku sedang berdamai dengan Koutarou, tapi aku berencana untuk mengusir siapapun yang menghalangi.”
“De-dengan merasuki tubuh... Dengan merasuki tubuh dan membunuh?”
“Jika perlu... Fufufu.Aku mungkin memberi kutukan padamu
“Hiii!”
Sanae tertawa suram, menyebabkan Yurika membeku karena takut.
Sanae pelan-pelan mendekati Yurika.
“Ti-Tidaaaaaak!”
“Tunggu, berhenti, jangan kabur Yurika!”
Yurika mencoba melarikan diri ke dalam lemari seperti biasanya, tapi Koutarou memegangi kakinya.
“L-Lepaskan, kumphon!Satu-satunya orang yang perlu dirasuki adalah Satomi-san!”
“Berhenti menendangiku! Jangan kabur! Setidaknya beritahu ceritamu pada kami dulu!”
“Tapi, si hantu!Si hantu mendekat!”
“Aku mungkin akan memakanmu
“Kyaaaa!!Tidaaaaaaak!!”
“Sanae!Bisa berhenti tidak! Jika kau terus melakukan ini, kita tidak akan bisa melanjutkan diskusi ini!”
“Tehehe, maaf~”
Sanae menjulurkan lidahnya dan kembali ke tempat duduknya.
“Tidaaaaaak!”
“Yurika, tenanglah!Sanae sudah tidak mengejarmu lagi!”
“Lepaskaaaan!”
Tapi, Yurika terlalu panik dan terus memberontak.
Koutarou ditendang beberapa kali, dan rasa marah mulai mendidih di dalam dirinya.
“Gah!Karena inilah aku benci cosplayer yang tidak punya otak!”
“Jika kita tidak menghentikan tingkah semacam ini, status sosial para cosplayer hanya akan terus jatuh.Padahal, mereka semua adalah orang baik.”
“Pakaianku bukan cosplay!”
Berteriak secara refleks, Yurika akhirnya bisa mengingat kembali situasinya saat ini.
Dan wajahnya menjadi pucat saat dia menyadari tatapan dingin semuanya.
“Ehh...”
“...Sudah waktunya...”
Koutarou menghela napas sambil melepaskan kaki Yurika dan kembali ke tempat duduknya.
“Kerja bagus, Koutarou.”
“Aku tidak mau mendengar hal itu darimu, Sanae!”
“Yah, rileks saja.”
“Dasar...”
“Tehehe~”
Sanae kelihatan tidak tersentak sedikitpun setelah membuat Koutarou marah.
“Maaf sudah membuat keributan seperti itu...”
Yurika memasang ekspresi bersalah sambil kembali ke tempat duduknya.
“Kalau begitu, Yurika, sekrang giliranmu.Apa alasan kamu datang kesini?”
“Yurika datang kesini untuk mengadakan pesta cosplay dengan teman-temanny, kan?”
“Iya, itu alasannya.Biaya sewa yang murah membuatnya tertarik.”
“Kalian salah!Orang-orang akan datang untuk mengambil kekuatan sihir berlebih di dalam kamar ini. dan sebelum hal itu terjadi, aku minta semuanya untuk keluar!”
“Apa itu cerita latar untuk pesta cosplaynya?”
“Aku salut padamu karena mempersiapkan acaranya dengan cermat, tapi aku tidak akan membiarkanmu memakai kamar ini untuk hal-hal semacam itu.”
“Sejujurnya, aku sendiri pun kesulitan untuk menangani Yurika...”
“Kalian salah! Kenapa kalian tidak pernah mendengarkan apa yang perlu kukatakan!?”
Yurika mati-matian mencoba meyakinkan mereka, tapi mereka tidak percaya padanya sama sekali.
“Biarpun kau bertanya kenapa... kan?”
“Ya, tidak ada orang yang akan percaya pada sihir di zaman modern ini.Sihir itu mustahil.”
“Dan setelah menjuluki dirimu sendiri sebagai pahlawan cinta dan keadilan, kau terus saja melarikan diri serta meninggalkan Koutarou.Kau hanya tidak cocok menjadi gadis sihir.”
Akal sehat, realita dan pengecut.Ada terlalu banyak hal yang membuat siapapun tidak bisa percaya kalau Yurika adalah seorang gadis sihir.
“Auuu, aku tidak berbohong...”
“Jangan khawatir, Yurika.”
Theia menepuk bahu Yurika.
“Aku percaya ceritamu.”
“Sungguh!?”
Dan ekspresi suram Yurika berubah menjadi cerah dengan segera.
“Kau percaya pada sihir!?”
“Tentu saja!”
“Dan kalau aku ini gadis sihir!? Dan kalau para musuh akan datang!?”
“Ya, tentu.”
“Terimakasiiih!Aku selalu berharap ada seseorang yang percaya padaku akan muncul!!”
Yurika memegang tangan Theia dan menjabat tangannya dengan bersemangat sambil menangis kegirangan.
“Tidak perlu berterimakasih, selama kau mau pergi dari sini.”
Namun, kata-kata Theia selanjutnya membuat ekspresi Yurika membeku.
“Eh?”
“A-apa maksud kata-kata itu?”
“Bukan apa-apa, aku percaya padamu. Karena itu kau bisa pergi tanpa penyesalan apapun. Aku akan menangani musuhmu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“T-tunggu sebentar!Maksudmu –”
“Anda mau mencoba untuk menyingkirkan Yurika menggunakan politik. Biarpun kau tidak percaya padanya selama beberapa detik, kau akan mempercayai ceritanya demi bernegosiasi dengannya... Anda orang yang cerdik, putri alien!”
Kiriha memotong perkataan Yurika.
“Kukuku, keluarga raja punya kuasa lain selain kekerasan.”
“Ini terlalu kejam! Kalian semua terus mengejekku! Kenapa!? Biarun kalian percaya dengan hantu, orang-orang bawah tanah dan alien!!”
Yurika mulai menangis.
“Ini diskriminasi! Tidak adil! Aku menuntut keadilan dalam hal ini!!”
Yurika melompat ke dalam lemari dan membanting pintu geser dengan sekuat tenaga, dan suara tangisannya mulai terdengar keluar dari lemar terebut.
“Benar, selanjutnya giliran saya.”
“Kiriha, kenapa kau datang kesini?”
Semuanya dengna cepat tidak peduli dengan suara tangisan dalam lemari.
hik, aku disini, ada disini, hik
Dan tangisan Yurika semakin nyaring.
“Tujuan saya datang kemari adalah untuk membangun kembali altar dimana leluhur kami bersemayam.”
“Begitu ya, jadi kamar ini adalah tanah suci bagimu?”
“Tapi kau juga akan menggunakan altar ini untuk menjajah permukaan, kan?”
“Tepat.Setelah altarnya dibangun kembali, kami dapat mengumpulkan energi spiritual dengan efisien.Lalu kami dapat memproduksi masal senjata spiritual untuk meraih kembali kejayaan kami yang hilang."
“Dalam istilah politik, tujuanmu mirip dengan tujuanku.”
Senyum  bahagia muncul di wajah Theia.
Jadi orang ini adalah musuh sejatiku. Dia juga pemikir yang cepat... Menarik.
Theia diam-diam merasa senang karena seorang rival yang kuat telah muncul.
“Dan terakhir, Theia-dono, giliran anda.”
“Iya, tujuanku seperti yang telah kuberitahukan sebelumnya.Aku datang kesini untuk membuktikan diriku pantas sebagai kaisar Forthorthe dalam rangka ritual.Aku menginginkan kekuasaan atas kamar ini dan kesetiaan dari orang kampung ini.”
Sambil berkata begitu, Theia menunjuk ke arah Koutarou.
Koutarou punya banyak hal yang ingin dia katakan, tapi dia menahan dirinya.
“Yang berarti kita semua menginginkan kamar ini.”
“Benar.”
Koutarou dan Sanae ingin tinggal disini.
Yurika mau mengadakan pesta cosplay.
Kiriha ingin membangun sebuah altar.
Dan Theia mau menguasai kamar ini.
“Dengan kata lain, kalian semua datang kemari untuk menjajah kamarku?”
“Sederhananya, iya, memang begitu.”
Ruth menyela, setelah diam saja selama diskusi.
Lima orang gadis menginginkan kamar Koutarou.
Masing-masing memiliki tujuannya sendiri, dan bermaksud untuk mengusir Koutarou dari kamarnya.
“Tapia pa yang harus kita lakukan?Tidak ada yang mau bertarung maupun pergi.Apa kita akan bermain permainan lagi?”
Dan mereka semua sepakat untuk tidak bertarung dengan Koutarou.
Karena hal itu, semuanya kecuali Theia, telah memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini dengan permainan.
“Fufufu, permainan bukan usulan yang buruk. Perang zaman duu bisa dibilang hal yang sama.”
“Jadi, Theia-dono, artinya anda setuju menggunakan permainan?”
“Dengan satu syarat.”
Theia mengangguk dalam-dalam dan menunjukkan ketenangannya.
“Syarat?Syarat apa?”
“Fufufu, aku hanya mau bermain dengan orang ini.”
Theia menunjuk ke arah Kiriha.
“Apa maksud anda, Theia-dono?”
Ekspresi Kiriha menjadi kaku.
“Sederhana. Jika aku bermain sekarang, peluangku menang adalah satu banding lima. Namun, setelah aku menghabisimu, peluangku naik menjadi satu banding dua.Disamping itu, selain si orang kampung, aku tidak perlu bermain dengan yang lainnya!”
“Jadi itu rencana anda!...”
“Anda pikir anda bisa menang!?”
Tensi di kamar tersebut naik saat Theia berdiri dengan senyum tanpa rasa takut.
“Tentu saja aku akan menang!Aku hampir saja menang tadi!”
“Kita lihat saja.Saya telah menyiapka senjata yang ampuh melawan anda. Karama, Korama!”
“Ho!”
“Iya-ho!”
Merespons suara Kiriha, kedua haniwa itu melayang di depannya.
Desain mereka sedikit berubah dari sebelumnya.
Satu haniwa mengenakan pedang yang tergantung di pinggangnya, sedangkan yang satunya memiliki benda semacam janggut di sekitar mulutnya.
“Spiritual Energy Katana dan Spiritual Wave Cannon sudah siap-ho!”
“Ane-san, serahkan pada kami-ho!”
“Ini berarti kita berdua sama-sama tidak bisa menahan serangan masing-masing.”
Kiriha mendeklarasikan hal itu dan berdiri sambil tersenyum seperti Theia.
"Sederhananya, Spiritual Energy Katana dan Spiritual Wave Cannon itu mirip dengan kekuatan Sanae. Seperti Sanae, senjata-senjata ini akan mampu menmbus penghalangmu."
“Kurang ajar...!”
“Yang berarti kemenangan jatuh ke dalam genggamanku dan Kiriha.Kau tidak bisa melukaiku karena aku ini hantu!”
Sanae juga berdiri sambil tersenyum serta mulai membentuk will-o'-wisp.
Dengan pelepasan energi listrik yang berulang-ulang, will-o'-wisp itu semakin membesar.
“Ksatria Biru, aktifkan sistem senjata anti personil.Senjata yang kuinginkan adalah Mind Pulse dan Motor Cannon!”
Mengikuti perintah Theia, kedua cakram hitam muncul kembali di atas bahunya.
“Benda-benda itu tidak akan melukaiku!”
“Kita lihat saja!”
Namun, kepercayaa diri Theia tidak goyah.
“Biarpun kau ini hantu, kau masih punya pikiran.Jadi, jika aku melukai pikiranmu, aku bisa mengalahkanmu!”
“Sial, apa tidak ada hal yang tidak bisa dilakukan alien!?”
Sanae menginjak-injak lantai dengan frustasi.
Koutarou dan Ruth,yang tidak bisa diam saja, angkat bicara.
“T-Tunggu sebentar kalian!Aapa kalian berencana bertarung disini!?”
“Tolong berhenti, Yang Mulia!”
“Berhenti, Koutarou! Sepertinya bagaimanapun juga, kita perlu menghabisi putri alien ini!”
“Jika kau tidak menyingkir, kau akan terluka!”
“Diam dan tonton saja, orang kampung!Aku akan menunjukkan seberapa kuat tuanmu ini!”
“H-Hentikan!Jika kalian sungguh-sungguh bertarung, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi!”
“Yang Mulia!Tolong berhenti, Yang Mulia!”
Tapi, mereka menolak mendengarkan bujukan mati-matian Koutarou dan Ruth.
Saat ketiganya saling memandang remeh, tensi di ruangan itu semakin meningkat.
“A-Apa yang sedang terjadi!?”
Yurika, yang tidak mengerti situasinya, membuka pintu geser lemari, yang berfungis sebagai gong tanda dimulai.Pertarungannya dimulai.
“Kemenangan datang pada mereka yang menyerang pertama kali!”
“Seraaaang!”
“Korama, Spiritual Wave Cannon!”
Apa yang terjadi selanjutnya adalah bencana.
“Awas, Ruth-san!”
“E-eh!?”
Sebuah peluru meluncur keluar dari cakram di atas bahu Theia dan mengarah kepada Ruth, yang sedang bengong.
Koutarou bereaksi dengan instingnya dan menubruk Ruth sampai ke lorong menuju pintu depan.
“Kyaaa!”
Meskipun ada sedikit rasa sakit karena terlempar ke lantai, untungnya peluru itu lewat di atas keduanya.
“T-Terimakasih, Satomi-sama.”
“Jangan bengong, Ruth-san!”
“Maaf. Biarpun aku ini petugas perlindungan, aku tidak ahli dalam hal bertarung...”
Ketika Koutarou sedang membantu Ruth berdiri, Yurika juga datang untuk bersembunyi di lorong.
“A-A-Apa yang terjadi!?Futon di dalam lemari terbakar hangus!”
“Tulip berencana untuk mengurangi jumlah orang di kamar ini sebelum dia menyelesaikan masalahnya denganku!”
“Eh? Kita tidak bermain permainan lagi!?”
“Peluangnya menang lebih tinggi jika dia cuma bermain melawanku.”
“Apa dia seirus!? Artinya aku juga akan diincar!”
“Jangan khawatir, toh aku yakin dia tidak memperhitungkanmu.”
“Fueeeeee, aku juga tidak mau begitu~!”
Beberapa menit telah berlalu sejak ketiga orang tersebut mulai bertarung.
“Fuhahaha!Ada apa, kalian berdua!? Apa kau pikir kalian bisa mengalahkanku hanya begitu saja!?”
“Apa yang harus kita lakukan, Kiriha!? Kekuatannya tidak masuk akal!”
“Kita masih belum kalah!Tenangkan diri dan cari peluang!”
Meskipun Sanae dan Kiriha hanya melawan Theia sendiri, Theia memiliki kekuatan tempur yang luar biasa, jadi pertarungannya berjalan seimbang.
“Tapi apa yang harus kita lakukan?Kalau terus begini, kamar ini akan hancur!”
Koutarou, yang sedang menontong, mulai panik.
Tanpa satupun yang menang, kamat itu telah mengalami keruasakan yang parah selama pertarungan yang panjang ini.
Ada banyak benda gosong dan lubang dari peluru nyasar di seluruh bagian kamar, dan sebuah misteri kenapa masih belum ada benda yang terbakar.
“Awas, Satomi-sama!”
“Eh!?”
Ketika Koutarou mengitip untuk melihat situasinya, sebuah bola api yang ditembakkan salah satu haniwa mengarah padanya.
“Waaa!Aku akan mati!”
“Quick Cast – Fireball!Pilihan Target – Pelacak Otomatis!”
Ketika Koutarou menutupi kepalanya untuk melindungi diri dari bola api yang mengarah padanya, seruan keras Yurika bisa didengar.
“Apa!?”
Sapu di tangan Yurika mulai bersinar merah, dan bola apikedua muncul dari pusat cahaya tersebut.
“Wah!”
Kedua bola apiitu bertabrakan di udara dan meledak.
Meskipun mereka berhasil menghindari terkena langsung, api dari ledakan itu menyerang Koutarou.
“Aku akan mati!Aku akan diselimuti api dan mati!”
“Flame Protect!”
Tapi, api itu tidak melukai Koutarou.
“Eh? Apinya gak panas?”
Anehnya, api itu menghilang saat berjarak 10 cm dari tubuhnya.
Cahaya kuning mengelilingi tubuh Koutarou, dan ketika api itu menyentuh cahaya tersebut, api itu menghilang.
“Apa ini...?”
“Satomi-sama!”
“Apa aku baik-baik saja, Satomi-san!?”
Ruth dan Yurika menyeret Koutarou kembali menuju pintu depan.
“Tadi itu bahaya, Satomi-san!Jangan menyembulkan wajahmu begitu saja saat ada pertarungan! Jika sihirku terlambat, siapa yang tahu apa yang akan terjadi tadi!”
“Tadi itu apa!? Yurika, apa tadi itu perbuatanmu!?”
Koutarou menatap Yurika dengan ekspresi terkejut.
“Iya!Bola api dan cahaya yang melindungi Satomi-san saat ini adalah sihirku!”
Yurika menatap wajah Koutarou dan tersenyum.
“Kau, apa kau benar-benar...!”
“Iya, aku ini gadis sihir sungguhan!”
Yurika sedang dipenuhi ekspektasi, dia tidak bisa menunggu kata-kata Koutarou selanjutnya, dan menyelesaikan kalimatnya.
“Apa kau benar-benar idiot!?”
“...Eh?”
Ekspresi Yurika membeku. Kata-kata yang keluar dari mulut Koutarou sangat bertolak belakang dengan apa yang dia harapkan.
“Ada banyak benda yang dapat terbakar di kamar ini!idiot macam apa yang melawan api dengan api!?”
“Eeeeeeeeeh!?Itu yang kau masalahkan!?”
Yurika kecewa berat.
Tadinya dia dipenuhi harapan, tapi dalam sekejap ekspresinya menjadi suram dan matanya dihiasi air mata.
hikKenapa selalu saja...”
Yurika telah berharap kalau kali ini Koutarou akan mengakui kalau Yurika adalah seorang gadis sihir dan Koutarou akan merasa terkejut karena hal itu.
Kali ini, kali ini pastinya... Namun, kenyataan adalah hal yang kejam.
“Sekarang apa!Dasar idiot!”
“Auu, tolong terkejutlah karena aku ini gadis sihir sungguhan~~!”
“Bodoh amat!?Nyawaku sedang dipertaruhkan! Apa kau mencoba membakarku sampai mati!?”
“Aku menggunakan sihir untuk melindungimu dari api supaya hal itu tidak terjadi, kan!?”
“Benar, aku tidak punya waktu untuk ini!”
Koutarou berhenti stopped berdebat dengan Yurika dan berlari ke arah pintu depan.
“... Aaaa... Aku mulai benci semuanya~~!”
Saat Yurika melihat punggung Koutarou, Yurika mulai merasa takut dan berjongkok di lantai.
“Boneka berhargaku juga terbakar... Mungkin harusnya aku berhenti melindungi kamar ini dan semua orang di dalamnya~~”
Satu-satunya alasan kenapa tidak ada satupun dari ketiga gadis yang sedang bertarung itu mengalami luka adalah karena sihir pertahanan milik Yurika.
Jika tidak, ketiganya akan mendapat luka parah di ruangan yang kecil dan sempit ini.
Ditambah lagi, kebakaran yang hebat akan membara saat ini.
“Menyakitkan~~ Kupikir menjadi gadis sihir itu akan lebih menyenangkan dari ini~!!”
Namun, upayanya tidak diakui, dan dia ditinggalkan.
Dan contributor terbesar demi solusi yang damai sedang menggerutu.
“Ruth-san, aku serahkan Yurika padamu!”
Koutarou mengambil tongkatnya dari tempat payung di samping Yurika yang sedang menggerutu dan berlari menuju medan pertempuran di ruangan dalam.
“Satomi-sama, apa yang mau anda lakukan!?”
“Aku mau menghentikan Theia!”
“Tolong berhenti, Satomi-sama!Nyawa anda akan dipertaruhkan jika anda terlibat dalam pertarungan itu!”
“Jika aku tidak melakukannya sekarang, maka akan terlalu terlambat!Aku bahkan tidak mau membayangkan apa yang akan terjadi jika pertarungan itu terus berlanjut di luar kamar ini!”
Koutarou sadar betul mengenai bahaya terlibat dalam pertarungan tersebut, tapi jika dia tidak menghentikannya sekarang, pertarungan itu akan semakin tidak terkendali, dan mereka akan berakhir di luar kamar ini.
Jika itu terjadi, tidak ada satu hal pun yang bisa dia lakukan.
Saat ini, ketiganya sedang menahan diri supaya mereka tidak melukai diri mereka sendiri, tapi setelah mereka berhasil keluar, mereka tidak perlu menahan diri lagi.
Mereka dapat mengeluarkan seluruh kemampuan mereka.
“Jika kita mau menghentikan mereka, inilah kesempatan kita!Tidak ada waktu lagi!”
Koutarou tidak yakin kalau dia dapat menghentikan mereka jika mereka berhasil keluar.
“Satomi-sama...”
“Tidak perlu khawatir; dia tidak akan bisa menyerangku, kan?”
“Itu benar, tapi...”
Ruth menengok ke arah ruangan dalam dengan cemas.Dari ruangan itu, dia mendengar tiga suara dan kilauan cahaya yang berkedip satu demi satu.
“Selama aku bisa menahan Theia, dua orang lainnya akan berhenti bertarung. Ruth-san, cara ini harusnya adalah cara terbaik untuk melindungi tuan putrimu.”
“Satomi-sama... Anda...”
Ruth menoleh pada Koutarou dengan wajah terkejut dan pada akhirnya Ruth mengangguk.
“Saya mengerti.Saya akan membantu anda.”
“Kau yakin?”
“Ya, ini adalah cara yang terbaik bagi Yang Mulia.”
Ruth tersenyum misterius, menunjukkan komitmennya sendiri.
“Aku akan berlari ke dalam dan memeganginya!”
“Kalau begitu, saya akan mengganggu sistem utama Ksatria Biru dan menurunkan penghalang Yang Mulia.Tolong serang saat penghalangnya menghilang.”
“Aku mengandalkanmu.Kita harus cepat; tidak ada waktu lagi!”
Mereka dengan cepat memutuskan sesuatu, dan Koutarou berlari menuju ruangan dalam.
“Iya!”
Ruth mengikuti Koutarou.
“Aku pergi, Ruth-san!”
“Saya serahkan pada anda, Satomi-sama!”
Koutarou melompat ke dalam ruangan dalam.
Saat Koutarou memasuki ruangan itu, ketiganya sedang terlibat baku tembak.

Namun, karena Theia punya kekuatan serang yang lebih tinggi, dua orang lainnya sedang terdesak.
“Sia-sia saja!Aku bisa membaca semua serangan kalian!”
“Kalau begitu bagaimana denganku!?”
Koutarou berlari menuju gadis yang sedang tertawa keras.
“Apa!?”
“Koutarou!?Kenapa!?”
“Mundur, Koutarou! Kau bisa mati!”
“Kalian semua!Hentikan perkelahian bodoh ini sekarang juga!”
Koutarou memegangi pergelangan tangan kanan Theia sambil berseru.
“Kena!”
“Apa!? Penghalangnya tidak berfungsi!?”
Penghalang yang berfungsi untuk melindungi gadis itu gagal aktif dan membiarkan Koutarou mendekat.
Itulah yang disepakati oleh Koutarou dan Ruth, tapi Theia, yang tidak mengerti situasinya, merasa terkejut.
“Aku tidak akan membiarkanmu berbuat sesuka hati!”
Koutarou menarik lengan Theia dan memelototinya.
“Dasar tolol!Aku sudah bilang aku tidak akan menyerangmu!”
“Jika aku membiarkan kalian berkelahi seperti ini, kalian hanya akan menimbulkan masalah besar!”
“Terus!?Ksatria Biru, gunakan senjata yang tidak mematikan! Aku tidak bisa membunuh orang kampung ini secara tidak sengaja!”
"SESUAI YANG ANDA INGINKAN, TUAN PUTRI."
Saat Theia berkata begitu, senjata di atas bahunya berubah.
Theia tidak boleh membunuh Koutarou, jadi dia mengubah senjatanya menjadi senjata yang tidak mematikan biarpun targetnya terkena serangan langsung.
“Tidak baguuus!”
Namun, itu menunjukkan kalau Theia masih berniat untuk bertarung.
Koutarou menyadari hal itu dan melempar tongkatnya, dan menggunakan kedua tangannya untuk memeluk erat Theia.
“L-Lepaskan, dasar tolol!Jangan seenanknya menyentuh tubuhku!”
“Kenapa aku harus menurutimu!?Jika aku lepaskan, kau hanya akan terus menyerang, kan!?”
“Tentu saja!”
Theia memberontak untuk membebaskan dirinya, tapi Koutarou tidak membuat hal itu menjadi mudah.
“Bagus, Koutarou! Terus pegangi dia!”
“Sanae!?”
Koutarou memalingkan kepalanya ke arah Sanae dan dia melihatnya sedang mengangkat TV ke udara.
“Berhenti, Sanae!”
Sanae berniat untuk melempar TV tersebut ke arah Theia, dan Koutarou mati-matian berusaha untuk menghentikannya.
TV itu sudah digunakan oleh keluarga Satomi sebelum dia pindah, jadi ukurannya sendiri cukup besar.
Tv tersebut tidak hanya akan mengenai Theia, tapi Koutarou juga akan kena.
“Eiiiii!Jurus mematikan Lemparan Sanae-chan!”
Namun, Sanae tidak menghiraukan Koutarou dan tetap melempar TV tersebut.
“Ahhhh!”
“Uwawawa!?”
Koutarou melompat ke arah tikar tatami sambil masih memegangi Theia.
The TV melayang ke arah dimana Koutarou dan Theia tadi berdiri sebelumnya dan menggelinding di atas lantai.
TVnya menubruk dinding dan berhenti.
TV tersebut hancur berserakan karena tumbukan tadi.
“Dasarbodoh!Apa kau mencoba menyingkirkanku bersama dengan orang ini!?”
”Maaf, aku terbawa suasana.”
“Aku berterima kasih, hantu!Berkat dirimu, situasinya telah berbalik!”
Jatuh ke tikar tatami, Theia berhasil meloloskan diri, lalu dia mengarahkan senjatanya pada Koutarou.
Bagian utama senjata itu terlihat bersinar mengerikan melalui cakram hitam disana.
“Oh tidak!”
“Karama, Korama, halangi lubang itu!”
“Serahkan padaku-ho!”
“Dimengerti-ho!”
“Tembaaaak!”
Saat senjata itu ditembakkan, kedua haniwa menghalangi lubang senjata tersebut.
Serangannya langsung mengenai kedua haniwa tersebut.
Namun, senjata tersebut telah diubah menjadi senjata yang tidak mematikan dan tidak bisa melukai mereka.
“Kalian lagi!Dasar gerombolan menyebalkan!”
Theia menyentuh kepalan tangan kirinya saat kemarahannya mendidih.
Sarung tangan logam di tangannya itu memiliki kekuatan untuk menghajar musuhnya.Namun, kedua haniwa menghindari serangannya dan kembali pada Kiriha.
“Terimakasih, Kiriha-san!”
Koutarou berterimakasih pada Kiriha sambil menjaga jarak dari Theia.
“Tidak perlu berterimakasih.”
“Eh?”
Kiriha tersenyum dan memeluk Koutarou, dada besarnya menyentuh punggung Koutarou.
“Dengan begini, saya tidak akan kalah!”
“A-apa yang kau lakukan!?”
Koutarou berteriak pada Kiriha sebelum dia punya waktu untuk mensyukuri dada Kiriha yang menyentuh tubuhnya.
“Koutarou, selama saya punya kamu, gadis itu tidak akan bisa menyerang saya, tapi saya bisa menyerangnya.”
“Ho!”
“Hoho!”
Kedua haniwa melayang di depan Koutarou dan Kiriha.
“Kiriha-san, lepaskan!Tidak ada alasan untuk terus berkelahi!”
“Dengan ini, aku menang, putri alien.”
“Ide yang lumayan, Orang Bumi!”
Theia menggertakkan giginya dan berhenti bergerak.
Dalam situasi saat ini, Theia tidak bisa menyerang Koutarou.
Kiriha memanfaatkan Koutarou sebagai tameng, jadi dia tidak bisa menggunakan senjata kuat apapun.
Namun, senjata yang tidak mematikan tidak bisa menghentikan kedua haniwa tersebut.
“Hei Kiriha, menjauh dari Koutarou!”
“Sanae!?”
Tapi, situasinya tidak berjalan sesuai yang diinginkan Kiriha.
“Kau sedang mencoba menggoda Koutarou dengan tubuh dewasamu lagi!”
“Kamu salah! Berhenti Sanae! Kamu salah pa –”
“Apa maksudmu aku salah!?”
Sayangnya, Kiriha gagal membujuk Sanae, dan Sanae yang murka melompat ke arahnya untuk menjauhkan Kiriha dari Koutarou.
“Kesempatan!”
Dan tentu saja, Theia tidak membiarkan peluang ini begitu saja.
“Ksatria Biru, musnahkan semuanya kecuali orang kampung itu!”
"SESUAI YANG ANDA INGINKAN, TUAN PUTRI."
“Waaa, stop!Kamarnya bisa hancur!”
Koutarou telah mencoba menghentikan ketiganya; namun, situasinya malah semakin memburuk.

“...Eh?”
Ketika Yurika sadar, dia sedang sendirian di dekat pintu depan.
Keributan di ruangan dalam masih membara.
Bau terbakar dan suara bising memenuhi kamar tersebut.
“Oh tidak, efek sihirnya hampir hilang!”
Yurika buru-buru berdiri dan mengangkat sapunya ke atas kepalanya.
“Aku perlu menggunakan sihir yang lebih kuat, kalau nggak kamar ini bisa hancur!Kembali ke bentuk asalmu, Angel Halo!”
Sapu itu diselimuti asap putih.
Dan saat asap itu hilang, sapu yang dipegang Yurika tidak lagi kelihatan. Sebagai gantinya, dia memegang sebuah tongkat besar di tangannya.
Seperti sapu tadi, tongkat tersebut ditutupi dengan hiasan-hiasan.Bagaimanapun orang melihatnya, tongkat tersebut bukanlah tongkat yang digunakan untuk membantu orang berjalan.
“Dan dengan ini, sekali lagi!”
Yurika menggenggam tongkat itu dengan kedua tangannya dan menutu mata untuk berkonsentrasi.
“Force Field – Mode: Efek Api – Berakhir – Waktu Efektif Dua Kali!”
Bersama dengan suaranya, sinar kuning memancar dari tongkat tersebut.
Sinar itu membesar secara bertahap, pelan-pelan melebar menuju lantai dan dinding kamar tersebut.
Sinar itu adalah sihir pertahanan untuk melindungi Koutarou dan yang lainnya, bersama dengan kamar tersebut.
Yurika menghela napas lega.
“Bailah... Dengan ini, kita akan baik-baik saja selama beberapa waktu.”
Saat sinar tersebut melebar ke seluruh ruangan, Yurika menyeka matanya.
“Apa aku harus memasang Perisai Elemen juga ya...?”
Yurika mengintip ke ruangan dalam dimana pertarungan masih berlangsung dan dia sedikit memiringkan kepalanya.
“Eh!?”
Di saat itu, pintu depan di belakangnya terbuka tanpa peringatan apapun.
“Keributan apa ini, Satomi-kuuun!?”
Orang yang membuka pintu tersebut tidak lain adalah ibu kos Rumah Corona – Kasagi Shizuka.
Keributan itu terus terdengar setelah tengah malam, dan dia datang untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di Kamar 106.
“K-Kamarnya berantakan sekali!Apa yang terjadi!?”
Siapapun bisa menyadari keadaan ruangan dalam yang mengerikan dari pintu depan.
Sesaat setelah Shizuka melihat hal itu, dia merasa terkejut.
“Apa yang sedang kamu lakukan, Satomi-kun!?”
Shizuka melepas sandalnya dan berlari menuju ruangan dalam.
“Jangan, stop, masuk ke dalam itu bahaya!”
“Orang luar diam saja!”
“Kyaa!?”
Shizuka menghempaskan Yurika, yang mencoba untuk menghentikannya, dan melompat masuk ruangan dalam.
“Kyan!”
Karena didorong, Yurika berguling-guling dan menubruk dinding, lalu berhenti bergerak.
Namun, Shizuka tidak punya waktu untuk peduli dengan hal itu.
“Apa yang sebenarnya kalian lakukan!?”
Kamar itu sedikit terbakar dan dipenuhi lubang.
Di dalamnya ada Koutarou dan yang lainnya sedang berkelahi.
Bagi Shizuka, sudah sangat jelas kalau merekalah yang bertanggungjawab terhadap apa yang terjadi di kamar ini.
“Bahaya, Ibu kos-san, jangan datang kesini!”
“T-Tempat ini adalah Rumah Corona berhargaku, warisan ayah dan ibuku!”
Namun, kata-kata Koutarou tidak didengarkan oleh Shizuka yang ssedang murka.
Mungkin tidak ada orang yang bisa melihat serangan Shizuka.
“Haaaaaaaaa!”
Sesaat etelah dia masuk ked lama ruangan itu, Shizuka melihat Sanae dan dia memukul Sanae dengan sekuat tenaga.
“Kyaaa!Kenapaaa!?”
Pukulan secepat kilat itu menerbangkan Sanae, biarpun serangan biasa harusnya tidak berefek pada hantu.
Sanae, yang sedang lengah, tidak punya waktu untuk mempertahankan dirinya.
“Hya!”
Tapi, Shizuka tidak berhenti disitu saja.
Dia memanfaatkan momentum dari pukulan tadi dan menggunakan gaya sentrifugal untuk melepaskan sebuah tendangan tajam.
“Gua!”
“Daaaa!”
Serangannya mengenai Kiriha dan menerbangkannya.
Koutarou, yang kebetulan ada di samping Kiriha, juga terkena serangan tersebut.
Kekuatan serangan itu tidak cukup untuk membunuh mereka, sebagai gantinya mereka berdua ambruk bersamaan di dekat dinding.
“S-Siapa kau!?”
Shizuka, yang telah menghabisi Sanae dan Kiriha dalam sekejap, membuat Theia membeku.
“Aku ini ibu kos rumah ini.aku tidak akan membiarkan kalian trus mengganggu tetangga lagi!”
Suara dingin dan postur penuh tekadnya tidak menunjukkan kebaikannya yang biasanya muncul.
Hal itu menunjukkan seberapa marah dirinya saat ini.
“Aku tidak akan menuruti perintah siapapun! Serang dia Ksatria Bi-”
“Lamban!”
Shizuka, merasakan niat Theia untuk menyerang, tanpa belas kasihan, memukul Theia dengan telapak tangannya.
“Gyah!?”
Theia tidak bisa menyelesaikan perintah serangnya karena serangan yang cepat dan berat ini, dan dia bergabung dengan Koutarou, Sanae, dan Kiriha di lantai.
“I-Ibu kos-san...?”
Koutarou tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dia saksikan.
Shizuka mampu mengalahkan para gadis penjajah yang sulit dikalahkan oleh Koutarou hanya dalam beberapa detik.
Dan tanpa senjata apapun.
“Tidak bisa dipercaya...”
“Dia ini apa!? Apa dia benar-benar manusia!?”
“Dia memukulku!?Dia bukan Koutarou, tapi dia bisa menyentuhku!”
Tentu saja, para gadis itu merasakan hal yang sama; tidak ada yang bisa percaya tentang apa yang baru saja terjadi.
Tapi, baik mereka percaya maupun tidak, itu tidak ada gunanya; mereka semua telah menerima serangan yang cukup untuk membuat mereka tidak bisa bergerak.
Shizuka berhenti bergerak dan menghembuskan napasnya, lalu dia menoleh ke arah Koutarou dan yang lainnya seolah-olah tidak ada hal apapun yang terjadi.
Menerima pelototan tajam dari Shizuka, keempat orang itu membeku.
Semuanya yakin kalau dia akan menghabisi mereka.
“Satomi-kun.”

“I-Iya!”
Shizuka menatap Koutarou.
Aku punya kehidupan yang baik...
Tiga orang lainnya merasa lega karena yang menarik perhatian Shizuka bukanlah mereka.
“A-Apa yang bisa saya bantu, Ibu kos-san?”
Koutarou, di sisi lain, menjadi gugup.
Keringatnya mengucur tiada henti sejak dia menyaksikan kemampuan luar biasa Shizuka.
“Jika sesuatu seperti ini terjadi lagi, saya akan mengusirmu keluar.”
“I-Iya, saya mengerti!”
Lirikan Shizuka terasa tajam dan suaranya terdengar dingin.
Shizuka saat ini mengeluarkan aura luar biasa yang tidak pernah kelihatan saat dirinya yang biasa.
Koutarou bisa merasakan kalau nyawanya terkuras dari tubuhnya, saat merasakan aura tersebut.
“Selain itu kalian bertiga!”
“Waa!”
Dengan pandangan Shizuka yang beralih kepada tiga gadis tersebut, mereka semua mulai gemetar sambil saling berpelukan.
“Maaf!”
”Maaf!”
”Maaf!”
Ketiga gadis itu meminta maaf secara bersamaan.Tidak tampak adanya kehormatan dan reputasi disana.
“Kalau kalian membuat keribuatn seperti ini lagi... Kalian tahu apa yang akan terjadi, kan?”
“Iya!”
“Jika kalian melukai bangunan ini atau mengganggu penghuni lainnya...”
Shizuka menghentikan kata-katanya dan menggertakkan tinjunya.
“...Akan saya pastikan kalau kalian akan menyesali hal itu. Menyesal kalau kalian pernah hidup, tentunya.”
Dan Shizuka tertawa sambil tersenyum.
Ketiga gadis itu menjerit saat mereka melihat senyuman itu.
Shizuka hanya tertawa dan tersenyum saja, tapi dia memenuhi ruangan itu dengan aura luar biasa dan niat membunuh miliknya.
Dibandingkan dengan hal itu, ekspresi yang dia tunjukkan pada Koutraou itu jauh lebih baik.
Dia adalah iblis. Iblis yang berwujud manusia... Aku tidak boleh melawan kata-katanya...!
Itulah yang diserukan oleh insting ketiga gadis tersebut.
Dan di saat inilah ketiga gadis itu akhirnya ingat tentang Yurika, yang sedang pingsan di dekat mereka.
Kenapa cuma kamu yang pingsan!
Para gadis itu merasa iri pada Yurika, yang sedang tidak sadarkan diri.
“Apa jawaban kalian?”
Senyuman Shizuka semakin melebar saat ketiga gadis itu lupa menjawab pertanyaannya.
Banyak pria akan merasa kalau senyuman itu sangat memikat, tapi ketiga gadis itu hanya merasakan ketakutan.
“Aku mengerti!Aku tidak akan mengulanginya lagi!”
“Sejak awa, saya memang berencana untuk menyelesaikan hal ini dengan d-damai.Saya tidak k-keberatan.Tidak keberatan sama sekali!”
“Saya ini keturunan bangsawan.Saya sangat tidak menyukai metode barbar semacam berkelahi.T-tenang saja!”
Respons mereka semua berbeda-beda.
Tapi makna kata-kata mereka serupa; menyerah total pada Shizuka.
“Bagus sekali.”
Dengan begini, Kamar 106 Rumah Corona menjadi tenang untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini.
Diantara furniture yang terbakar dan hangus, hanya meja teh saja yang masih tersisa.
Shizuka bergabung bersama mereka sehingga tujuh orang duduk mengelilingi meja teh tersebut.Ruangan yang kecil dan sempit ini telah mencapai batasnya; namun, tidak ada orang yang mengeluh.
Selain Shizuka, semuanya duduk tegak dengan ekspresi serius.
“...Sekarang saya paham situasinya.”
Setelah mendengar situasi keempat gadis tersebut, Shizuka pelan-pelan mengangguk.
“Hantu, cosplayer, orang bawah tanah, dan alien.Sulit untuk dipercaya, tapi tidak bisa diragukan lagi.”
Shizuka bicara dengan nada bicara yang sangat profesional; namun tidak ada kelembutan seperti ketika Koutarou baru saja pindah.
“Permisi... Saya ini bukan cosplayer, saya ini benar-benar...”
Yurika mencoba mengajukan keberatan.
“...Ada apa?”
“T-Tidak, bukan apa-apa.Saya ini memang cosplayer, iya.”
Tetapi, ketika Shizuka memelototinya, Yurika gemetar dan tidak jadi mengajukan keberatan.
“...Tapi, sebagai ibu kos, saya tidak bisa membiarkan keributan apapun. Kalian semua harus menyelesaikan masalah ini secara damai.”
Sebagai ibu kos, itulah batasan yang telah ditetapkan Shizuka sendiri.
“Kami tidak berniat untuk berkelahi dengan Koutarou.Tapi...”
“Kami tidak akan pernah mencapai kesepakatan!Biarpun anda bilang untuk menyelesaikan masalah ini secara damai, itu tidak akan mudah!”
“Dia benar! Mengesampingkan Koutarou, saya tidak akan pernah bisa rukun dengan wanita ini!”
Namun, para gadis yang selalu saja bertengkar ini tidak bisa menerima usulan Shizuka begitu saja.
“Kalau begitu, apa kalian lebih memilih kedamaian abadi saat ini juga?Yang mana saja bukan masalah bagi saya.”
“Meskipun begiut, bertengkar terus menerus tidak akan menyelesaikan apapun!”
“K-Kau benar.Saatnya telah tiba untuk kita bekerjasama.”
“Aku lebih memilih menjadi orang pasif saja!”
Tetapi, ketika Shizuka menggertakkan tinjunya sambil tersenyum, tingkah para gadis itu berubah 180 derajat.
Ketiga gadis itu berkeringat dingin dan setuju dengan usulan Shizuka.
“Saya senang kita telah sepakat.Jadi, bagaimana denganmu, Nijino Yurika-san?”
“...”
Yurika tidak menjawab.
“Nijino-san?”
“...”
“Pastinya, kamu tidak akan bilang kalau kamu lebih memilih untuk terus bertengkar?”
“Hei, ada apa?”
Merasakan bahaya dari Shizuka, Koutarou angkat bicara dan menoleh pada Yurika.
“...Yurika, bilang saja kalau kau tidak mau bertengkar. Tidak perlu mempertaruhkan nyawamu hanya untuk cosplay.”
Koutarou membisikkan hal itu pada Yurika sambil menggoyang-goyangkan bahunya.
“...”
Biarpun begitu, Yurika tetap diam saja.
“Waa~~, Yurika!?”
Sebaliknya, setelah digoyang-goyang oleh Koutarou, Yurika malah jatuh ke lantai.
“Dia pingsan...?”
“Anak yang malang, dia pasti ketakutan setengah mati...”

Dengan tuntunan SHizuka, Koutarou dan yang lainnya menyepakati sebuah traktat.
Dan traktat itu segera ditulis dalam sebuah dokumen.
Dokumen tersebut umumnya berisi tentang menentukan pemilik kamar tersebut secara damai.
Selain itu, ada juga tentang tidak menghancurkan Rumah Corona, tidak mengganggu tetangga, mengatasi argument di luar ruangan, dan tetap menjaga ketenangan di malam hari.
Dan akhirnya, traktat itu diberi nama Konvensi Corona.
“Selesai.Selanjutnya giliranmu, Theia.”
“Memalukan... Tak kusangka kalau aku akan menandatangani dokumen ini... Tidak ada hal yang lebih memalukan dari ini...”
Theia menerima dokumen tersebut dari Sanae dan membuka tutup pena dengan terpaksa.
“Tolong jangan mengeluh, Yang Mulia.”
Ruth tersenyum kecut di sebelahnya.
“Kamu tidak perlu tandatangan.”
“Sungguh!?”
Ekspresi Theia menjadi cerah setelah mendengar tawaran tak terduga Shizuka.
“Jika kau tidak tandatangan, saya akan memberimu pengalaman damai yang abadi saat ini juga.”
“T-Tidak... Terimakasih, tapi aku lebih memilih menandatangani dokumen ini!”
Theia buru-buru menggerakkan pena di tangannya.
Ngomong-ngomong, Tehia menulis dengan bahasanya sendiri, jadi orang yang bisa membaca tulisan tersebut hanyalah Ruth dan dirinya sendiri.
“Sebagai keluarga raja, sudah menjadi tugasku untuk membawa kedamaian!Demi hal itu, aku akan membuang harga diriku!”
Meskipun ada beberapa yang mengeluh, pada akhirnya, semuanya menandatangani dokumen tersebut.
“Ibu kos-san, apa aku juga perlu tandatangan?”
“Tentu saja, Satomi-kun.Saat ini kamu adalah penyewa kamar ini.jika kau tidak tandatangan, bagaimana kami bisa melanjutkan hal ini?”
“Padahal aku sudah punya kontrak dengan Ibu kos-san, sih...”
Koutarou menandatangani dokumen tersebut dengan namanya setelah Theia selesai.
“Satomi-san, setelah kamu selesai, berikan padaku.”
Yurika menunggu sampai waktunya tepat dan mengangkat tangannya ketika Koutarou selesai menulis.
“...”
Namun, Koutarou hanya memandangi Yurika saja dan tidak memberikan pena serta dokumen tersebut.
“A-Ada apa?”
“Ibu kos-san, apa Yurika juga harus ikut tandatangan?”
“Yurika tidak perlu, kan?”
Sanae membuka mulutnya.
“Yah, setelah saya pikir-pikir, Nijino-san mungkin tidak perlu tandatangan... Benar, dia tidak perlu tandatangan.”
“Kalau begitu, terakhir –”
“Aku akan melakukannya!Aku akan tandatangan! Tolong biarkan aku tandatangan!”
Yurika meramas dokumen dan pena dari Koutarou saat dia memberikannya pada Kiriha.
Dia kemudian menuliskan namanya saat air mata mulai keluar dari matanya.
Nijino Yurika.
Itu adalah nama aslinya.
“Tidak perlu menangis, Yurika.”
“T-Tapi... aku ini serius!”
Kiriha menerima dokumen dan pena daari Yurika yang hampir menangis dan menandatanganinya dengan namanya.
“Selesai.”
Setelah semuanya selesai tandatangan, dokumen tersebut sekarang ada di tangan Shizuka.
Ada lima nama yang tertulis disana:
Koutarou, Sanae, Yurika, Kiriha, dan Theia.
“...Sempurna. dengan ini, kesepakatannya sudah berlaku secara formal. Jika kalian melanggarnya... Kalian tahu apa yang akan terjadi, kan?”
Shizuka mengamati dokumen tersebut dan mengalihkan pandangannya ke seluruh ruangan.Enam orang lainnya mulai gemetar.
Rasa takut yang sebelumnya telah mereka alami sudah tertanam kokoh di dalam ikiran mereka.
“Kalau begitu, semuanya, saya harap kalian bisa menemukan metode yang bisa disepakati semuanya, dan metode itu bisa menyelesaikan masalah ini secara damai.”
Eh?
Senyuman Shizuka kelihatan aneh bagi Koutarou.
Tapi sesaat kemudian, bukan hanya Shizuka, tapi sekelilingnya juga.
Pada akhirnya dia mulai merasa pusing dan kehilangan keseimbangan.
Tidak bagus...
Dan Koutarou mulai kehilangan kesadarannya.
“Satomi-kun!?”
“Waaa!?Koutarou ambruk!?”
“Hei, ini bukan waktunya tidur!Bangun!”
“Jangan memindahkannya! Demamnya sangat tinggi! Ambilkan futon dan es!”
“Aku akan mengambil peralatan P3K!”
“Aku akan menggunakan s-sihir penyembuhan!”
“Kau tidak perlu melakukan hal yang tidak perlu, ambil saja futon!”
“Auuuu!”
Dan kesadaran Koutarou pelan-pelan tenggelam dalam kegelapan.

Koutarou membuka matanya saat dia mendengar suara air yang mengalir.
“A-Apa...?”
Pada awalnya, Koutarou terkejut melihat dirinya ada di dalam futon, tapi dia dengan cepat mengingat apa yang telah terjadi.
Benar, setelah aku tandatangan, aku mulai merasa pusing, dan...
Jam di dinding mengindikasikan kalau waktu saat ini adalah jam 5 tepat, yang berarti Koutarou telah tidur selama beberapa jam.
“Anda sudah bangun, Satomi-sama.”
Sebuah bayangan sedang mengamati Koutarou.
“...Ruth-san?”
“Selamat pagi, Satomi-sama.”
Dia tersenyum ringan sambil mengganti handuk basah di kepala Koutarou.
Suara air mengalir yang tadi Koutarou dengar adalah suara Ruth yang sedang memeras handuk tersebut.
“Terimakasih, Ruth-san.”
Handuk yang baru mendinginkan tubuhnya dan membuatnya merasa nyaman.
“Tidak perlu berterimakasih untuk hal semacam ini.Di samping itu, jika anda mau berterimakasih, berterimakasihlah pada semuanya.Saat anda jatuh pingsan, semuanya merasa sangat khawatir.”
“Iya...”
Koutarou mengangguk ke arah Ruth dan melihat ke sekelilingnya, dan dia bisa melihat para gadis itu di sekitar tubuhnya.
Mereka duduk di sekeliling futonnya, dan wajah semuanya kelihatan sangat kelelahan saat mereka tertidur.
“Apa semuanya merawatku sampai saat ini...?”
“Benar. Kasagi-sama tadi ada disini, tapi...”
“Bahkan Ibu kos-san?”
“Iya.Dia bilang kalau dia harus pergi ke sekolah dan pergi dengan wajah menyesal.”
“Begitu ya. Aku menyesal karena telah membuat banyak masalah untuknya...”
Koutarou kembali melihat ke sekelilingnya lagi.
Sanae sedang tertidur pulas di dekat bantalnya.
Kiriha tidur di sebelah Sanae.
Yurika sedang tidur sambil memegangi bantal untuk tempat duduk.
Theia kelihatan sedang tidur dengan tidak nyaman karena dia sedang mengenakan gaun.
Koutarou telah menganggap mereka sebagai pembuat masalah sejak lama, tapi ketika melihat mereka seperti ini sekarang, pikiran itu tidak terlintas sama sekali.
Barangkali mereka tidak seburuk itu...
Dia merasa berterimakasih karena kebaikan mereka.
“Satomi-sama, tolong tutup mata anda lagi.”
Ruth tersenyum lembut.
“Satomi-sama, andalah yang paling merasa lelah, kan.Anda sudah memaksakan diri selama beberapa hari ini, kan?”
“...Kau benar, kurasa aku akan beristirahat.”
Koutarou menutup matanya dengan patuh.
“Selamat malam, Satomi-sama.”
Ketika Koutarou menutup matanya, dia sekali lagi berbicara.
“...Terima kasih.”
Kata-kata itu bukan hanya ditujukan untuk Ruth saja.

Rokujouma no Shinryakusha Jilid 1 Bab 7 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.