25 Februari 2016

Only Sense Online Jilid 2 Bab 5 LN Bahasa Indonesia


ONLY SENSE ONLINE
JILID 2 BAB 5
CURSED EQUIPMENT DAN ANAK RUBAH

Seseorang dapat menyebut perkemahan Myu sebagai 'neraka', dan mereka tidak akan berlebihan berkata demikian.
Sebuah pilar api muncul di pusatnya, para player yang mencoba meloloskan diri dari pilar itu tertelan dalam lautan api. Kenapa sesuatu seperti ini terjadi, baik aku maupun tiga orang yang bersamaku mengetahuinya, kami semua terpana.
"Ayolah…tidak peduli seberapa inginnya mereka melakukan api unggun, bukankah hari masih terang?"
"Ini bukan waktunya bercanda! Ini sudah jelas sebuah situasi abnormal… ayo bergabung dengan Lucato dan yang lainnya. Hubungi mereka dulu."
Aku tahu Myu tidak sedang bercanda. Tapi tidak seperti biasanya dia bercanda, wajahnya begitu tegang, terlihat genting. Pastilah ini sangat membuatnya terkejut.
Biasanya, untuk tidak membuat adikku lebih kesal lagi, hatiku sebagai gantinya menjadi tenang. Aku memeriksa sekitar.
Api menyebar ke perabotan seperti tenda-tenda yang tersebar ke sekitar. Sarana prasarana perkemahan hancur.
Keberuntungan di balik kemalangan adalah kenyataan bahwa tenda-tenda tersebut sangat berjauhan antara satu dengan yang lainnya dan mereka tidak menghalangi jalan di hadapan kami.
"Aku sudah menghubungi Luka-chan! Saat ini, dia sedang memimpin orang-orang!"
"Baiklah! Kita akan bertindak bersama-sama sekarang. Ayo temukan tempat di mana kita dapat berbagi map party kita. Toutobi, kuserahkan navigasinya padamu."
Mereka berdua mengangguk dengan ekpresi tegang. Kenyataannya adalah kalau mereka melarikan diri, mereka akan selamat dari pembasmian, tapi karena mereka memiliki tekad kuat untuk bergegas membantu rekan mereka yang dalam krisis, aku tidak bisa berkata tidak.
Aku mengingat-ingat skill yang kupunya, itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Aku memasangkan enchant MIND dan DEF pada semua orang saat kami pergi melawan balik arus orang-orang.
"Apakah ada tanda-tanda apapun ini terjadi?"
"…tidak sama sekali! Kalau begini kita bahkan tidak bisa memastikan apakah ini serangan sihir atau monster! Pertama-tama, adalah hal yang mustahil bagi para monster untuk menyerang safety area!"
Bahkan Toutobi yang biasanya berbicara dengan tenang sekarang terguncang.
"Kurasa unique item dapat menjadi penyebabnya. Mungkin seseorang memiliki cheat weapon atau semacamnya."
"Hino-chan, kau terlalu banyak membaca webnovel! Di game yang sebenarnya, tidak ada hal seperti cheat, kalau ada maka orang-orang akan berhenti bermain!"
Aku tidak ingin mendengar itu darimu, cheater yang sebenarnya, suara dari tiga hati selain Myu berbunyi serempak. Tapi detik berikutnya, kami sama sekali tidak dapat melakukan percakapan semacam itu.
"Serangan api! Bertahan!"
Aku menaikkan suara, semuanya membeku di tempat. Aku mengeluarkan sebuah Magic Gem Clay Shield dari inventory dan melemparkannya ke tanah.
"— «Clay Shield»!"
Serangan api yang datang bertubrukan dengan dinding tanah. Apinya menyebar di dinding lumpur dan kami terkena hawa panas.
Aku melihat sedikit dari balik dinding. Meskipun aku melihat api dari sisi lain, itu tetap berkobar dan sama sekali tidak mereda.
"…kalau begini kita tidak akan maju."
Kami tidak jauh dari lokasi yang ingin kami tuju, tapi melewati api ini akan menjadi sulit.
"Onee-chan, Luka-chan dan yang lainnya tidak akan datang pada kita. 'Saat ini, kami memusatkan diri kami untuk melindungi para player yang tertinggal di belakang', katanya!"
"Baik, baik, itu berarti kita harus menyelamatkan mereka. Kita tidak tahu penyebabnya… Kira-kira apa yang bisa kita lakukan?"
Kata Hino, sedang kami bertiga kebingungan. Defence-nya tidak akan dapat bertahan terhadap gelombang serangan api seperti ini bahkan sekalipun mereka memusatkan diri mereka sendiri untuk bertahan. Semuanya menyimpulkan bahwa yang terburuk muncul.
Sial, tepat saat aku akan mengeluarkan sumpah serapah, sesuatu menyentuh tangan kananku.
"…Ryui…maaf, kau juga cemas, 'kan."
Ryui menyundul tangan kananku dan menatapku.
"Apinya telah melemah sedikit. Sedikit lagi dan kita akan dapat pergi."
Ada tanda-tanda apinya melemah, sepertinya itu berputar dengan sebuah interval. Kami sepertinya akan dapat bergerak maju. Dan kemudian bahuku dicolek, Myu membuatku berbalik menghadapnya.
"Luka-chan ingin berbicara denganmu. Segera akan ada sebuah friend call."
"Oh, baiklah."
Segera setelah itu, komunikasi datang dari Lucato. Saat ini, dia ingin tahu apa yang bisa kulakukan tentang situasi di lapangan.
"Halo, Yun-san."
"Ayo kesampingkan salamnya untuk nanti, kami akan mencoba mengeluarkanmu. Aku akan menanyakan beberapa pertanyaan, cobalah untuk menjawabnya. Apa penyebabnya?"
"…seekor young beast."
Aku teringat pada si kamaitachi muda yang menyerang kami kemarin dan mengernyit. Apakah para monster dibuat seperti itu?
"Apakah ada hal lain? Sesuatu yang menjadi penyebabnya?"
"Hewan muda itu dibawa oleh seorang player… tidak, lebih tepatnya diculik dan dipaksa datang, itu akan lebih cocok untuk menggambarkannya."
Diculik, sama sekali bukan cara yang lembut untuk melakukannya. Dengan kata lain, dia dibawa secara paksa. Begitulah ceritanya.
"Pada hari pertama ada banyak player yang menculik mereka dengan cara yang sama dan membawa para young beast ke perkemahan, itu terjadi juga kemarin. Sebagai hasilnya, para young beast berada di luar kendali, merobek-robek tenda dan tempat-tempat lain, menghancurkan barang-barang dan melarikan diri. Sekalipun kami menunggu untuk melihat apakah yang satu ini akan mengamuk dengan cara yang sama, tapi tidak lama kemudian api mulai muncul dan menyebar."
"…penyebabnya? Kenapa itu terjadi?"
"Dari kejauhan aku tidak bisa mengetahuinya. Tapi dia sepertinya memiliki sesuatu yang bercahaya. Bentuknya terlihat seperti gelang yang aneh."
Mendengar itu, aku menemukan sebuah hubungan aneh antara kejadian ini dengan Kamaitachi yang kemarin.
Meskipun tidak ada bukti pasti, kasus young beast  ini dan Kamaitachi ini sangat mirip.
Daripada memeriksa sebuah item pada seorang player, benda tersebut diujicobakan pada seekor young beast dan mengakibatkan dia kehilangan kendali. Sebuah item merugikan seperti aksesoris yang kupungut kemarin, ada kemungkinan bahwa young beast tersebut memakainya.
Ya ampun, aku ingin menendang bokong si tolol yang menyebabkan begitu masalah untuk orang lain itu.
"Terima kasih. Aku memahami situasinya. Kami akan ke sana segera. Jangan bertindak gegabah."
"Ya. Terima kasih banyak."
Dengan waktu yang tepat, api tersebut melemah bersamaan dengan waktu friend call dengan Lucato selesai. Kami maju lebih dalam.
Saat kami maju  menuju pusat dari api, kulitku mulai terasa tersengat seperti terpanggang.
Pusatnya tidak begitu jauh, tapi jalannya tertutup oleh udara panas dan kadang-kadang peluru-peluru api. Uap panas bergantung pada jangkauan pandangan, bahkan dengan Hawk Eye sekalipun aku tidak dapat melihat jauh.
Bagaimana caranya aku menemukan kelemahan pada sesuatu yang seperti itu? Saat aku tersenyum miris, ada sebuah respon di sudut pandanganku.
"Luka-chan!"
"Kelihatannya mereka selamat! Kita juga sebaiknya pergi!"
Kami mendekati mereka dan memastikan mereka bertahan dalam serangan lemah tersebut.
Di dalam pilar api terdapat sebuah bayangan kecil yang muncul. Dia menghadap ke arah gadis-gadis tersebut dan dengan jelas mengetahui di mana mereka meskipun apinya berkobar hebat dan mulai memancarkan gelombang-gelombang api dan menembakkan api. Di antara mereka ada dua mage, Kohaku dan Rirei yang melindungi player yang tersisa. Mereka berdiri dengan melancarkan sihir pertahanan secara bergantian.
Akan tetapi, kerapatan serangannya berada pada level yang berbeda dengan yang kami hindari. Hanya berdua saja, mereka akan kewalahan. Itulah yang kurasakan.
"Gawat! Aku kehabisan MP!"
"Meskipun kau bilang begitu, kita tidak punya MP Potion…ah."
Sihir pertahanan yang dilancarkan Kohaku dan Rirei diruntuhkan. Sihir pertahanan Rirei telah dipadamkan sebelumnya, dan semua beban berada pada sihir pertahanan Kohaku dan sihir tersebut mulai retak seperti kaca, tinggal menunggu hitungan mundur sebelum hancur.
"Tepat waktu! —— «Clay Shield»."
Aku mengeluarkan segenggam penuh Clay Shield's Magic Gem dan melemparkannya ke antara Lucato dan si young beast.
Api tersebut menabrak dinding tanah yang terbuat dari empat magic gem yang muncul di antara mereka berdua. Setelah itu, sihir pertahanan tersebut menghilang saat Kohaku kehabisan MP.
"Apa yang terjadi?"
"Kami datang untuk membantu! Luka-chan, semuanya."
Lucato, Kohaku dan Rirei, begitu pula lima anggota party lainnya yang dipimpin mereka. Total ada dua belas dari kami yang melakukan pertahanan di sini.
Orang-orang yang sepertinya kehabisan MP tidak kelihatan mereka akan pulih tepat waktu. Aku dengan diam menggunakan MP Potion.
"Terima kasih banyak, Yun-san."
"Kesampingkan terima kasih tersebut untuk nanti. Sebelum itu, bisakah kau meloloskan diri secepatnya?"
Aku memastikan dengan sesedikit mungkin kata-kata. Ekspresi kebingungannya tidak membuatku senang sayangnya.
Sementara itu, aku tidak tahu berapa lama lagi dinding tanah ini akan menahan serangannya.
"Apakah itu mustahil?"
"Ya, karena kita adalah targetnya, begitu kita membalikkan badan, kita akan diserang. Saat kita melarikan diri, seserang harus mengulur waktu… Tidak, jangan berbicara yang tidak pasti. Kita perlu mengorbankan seseorang."
Mendengar perkataan itu, aku memiliki kesan bahwa aku telah melibatkan diriku pada sesuatu yang sangat merepotkan. Jadi begitulah. Mundur tanpa membuat makan malam hari ini tidak akan dimaafkan, ya 'kan. Tidak, aku sama sekali tidak bisa mati.
"Ada satu jalan lagi, untuk mengalahkan hewan itu."
Itu masuk akal. Dia bukanlah monster dewasa. Statusnya secara keseluruhan seharusnya rendah. Adalah hal yang mungkin untuk menang dengan dua belas orang yang ada di sini.
"Semuanya, apakah kalian keberatan untuk mengalahkan young beast itu?"
Mendengar perkataan itu, semuanya mengangguk. Baiklah, kalau begitu kami harus memikirkan sebuah strategi. Tepat saat aku berpikir demikian, aku dipukul dari belakang.
Saat aku terhuyung-huyung dan melihat ke belakang, aku melihat Ryui menyundulku. Dan itu berkali-kali juga.
"Hei, sekarang bukan waktunya untuk bermain. Kau tahu itu 'kan."
Walau begitu, dia terus menubrukku lagi dan lagi. Aku merasa curiga dan membungkuk untuk melihat matanya.
"Ada apa?"
"………"
Tanpa kata-kata sedikit pun, tidak semuanya dapat tersampaikan padaku. Akan tetapi, emosi yang ada di mata Ryui yang sedang menatapku, itu adalah ——sebuah permohonan.
Aku memikirkan alasan kenapa partner yang baru saja kutemui itu berekspresi seperti itu.
Itu sama dengan peristiwa Kamaitachi kemarin. Ryui tidak ingin sesamanya mati di hadapannya, dia ingin membantu mereka. Ya ampun, ini hanya spekulasi, tapi aku yakin itulah masalahnya dan berpikir untuk melakukan apapun demi memenuhi keinginan tersebut.
Terlebih lagi, aku akan mendapatkan kesulitan menghadapi diriku sendiri setelah ini kalau tidak melakukannya. Memenuhi keinginan dari partner mereka, adalah tugas seorang pria.
"Maaf, aku menyita waktu sedikit."
"Tidak masalah, apa yang terjadi?"
Lucato bertanya padaku dengan gelisah, aku mencoba menjawabnya dengan jelas.
"Maaf! Aku menolak untuk melawannya!"
Sementara melihat semua orang yang berekspresi kebingungan, aku melompat keluar dari balik dindin tanah liat bersama dengan Ryui.
"Sekarang, bisakah kita melakukan yang harus kita lakukan hanya berdua? Partner?"
Satu orang dan satu hewan menghadapi api besar. Aku sama sekali bukan pemain kelas atas, tapi aku memiliki prospek untuk menang.


Ryui dan aku memantau dengan tenang sambil menghindari api yang muncul dari pilar api tersebut.
"«Enchant» ——Speed!"
Aku meningkatkan kecepatanku lebih jauh dengan menggunakan sebuah enchant.
Sementara Ryui menghindari api dengan memanfaatkan sepenuhnya ilusi yang menjadi spesialisasinya, aku memastikan dengan nekad bahwa aku tidak terlihat lebih payah.
"«Cursed» ——Intelligence!"
Aku melancarkan sebuah kutukan pada young beast dalam api tersebut, dan momentum dari apinya pun melemah.
Api ini adalah sihir. Diperkirakan bahwa hal tersebut akan bergantung pada status INT. Kalau tidak berhasil, aku akan menurunkan ATK-nya.
Aku memasangkan enchant pada kami setelah beberapa saat. Tipe yang kupilih adalah enchant yang menambahkan pertahanan sihir. Alasan mengapa menunggu melancarkan enchant lainnya adalah untuk menghilangkan jarak lebar yang diakibatkan efek yang habis masa berlakunya dan di saat yang bersamaan supaya tidak menghabiskan MP.
Meskipun ini adalah tekhnik yang mudah, tingkat keselamatannya meningkat dengan hal ini.
"«Enchant» ——Mind!"
Sebagai tambahan cahaya kuning, cahaya hijau memancar dari tubuh kami. Meskipun kami memperkuat pertahanan dengan cara seperti ini, bukan berarti kami sudah memiliki keuntungan lebih.
Selama dua menit aku terus menghindari serangan dari badai api tersebut. Api dari pilar itu terganggu.
Sekali lagi, aku mulai mengukur waktunya sejak awal dan terus menghitungnya di dalam kepalaku.
1, 2, 3, 4, ….
Aku mendengar suara Myu dan yang lainnya di kejauhan, tapi aku berkonsentrasi pada pilar api yang ada di depanku. Saat ini, aku telah menyelesaikan pengaturan ulang Sense pertarunganku. Di antaranya, aku memasukkan Sense Craftmanship.
11, 12, 13, 14…
Menggunakan suara dari detak jantungku, aku mengukirkan jumlah detik yang telah berlalu. Aku fokus untuk tidak kehilangan gerakan awalnya saat dia memulai kembali.
21, 22, 23, 24…
Saat ini mustahil untuk melihat keadaan dari si young beast dari balik gemuruh dan kilauan api tersebut. Pertama-tama aku perlu mengatasi api itu, kalau tidak aku tidak akan dapat memeriksanya secara langsung.
31, 32, … dia bergerak.
Aku menghindari api yang dimuntahkan dan menjilati permukaan tanah. Tes dua menit ketahanan tubuh dimulai sekali lagi.
Meskipun aku mengabaikan apa yang tubuhku rasakan karena aku bahkan tidak berkeringat, sangat tegang, aku mendengar diriku sendiri terengah-engah dari mulutku dengan suara parau.
"Haha, aku mendapat banyak pertarungan panjang hari ini. Pertama-tama ikan tuna, sekarang pilar api. Benar-benar hari yang sial!"
Aku mendengus dan terus menghindar.
Karena waktu di antara bombardir serangan adalah sama dan monoton, timing untuk menghindarinya menjadi mudah.
Aku bertahan selama dua menit untuk kedua kalinya. Di sudut penglihatanku, aku melihat Myu keluar dari balik dinding tanah, tapi aku memelototinya dengan tajam dan membuatnya mundur.
Kalau kau keluar sekarang, kau hanya akan mengganggu, itulah yang kusampaikan padanya dengan tatapanku.
Aku tidak punya kemampuan kerena yang dapat membuatku menyelamatkan semuanya dengan cara yang keren. Aku hanya dapat berusaha sebaik mungkin. Sementara berpikir begitu, dua menit telah berlalu dan apinya berhenti. Menunggu untuk saat ini, aku mengeluarkan sebuah Magic Gem dari dalam inventory-ku.
"—— «Bomb»‼"
Aku melemparkan dua Magic Gem secara menyamping ke sisi kiri dan kanan dari pilar tersebut, menghamburkan api dengan ledakan.
Dampak dari sihir tanah dan api menciptakan area kosong di sekitar pusatnya.
Si young beast itu tersingkap dari pilar api itu. Terbungkus dalam api, dia menyerang balik setelah apa yang telah terjadi, menunjukkan rasa marahnya.
Akan tetapi, aku tidak merespon pada garis pandangannya. Aku sedang memeriksa benda yang membuatku tertarik dan terlihat saat apinya menyebar.
Sense yang berhubungan dengan aksesoris, Craftmanshipdigunakan bersamaan dengan kapasitas kemampuan Hawk Eyes untuk melihat status equipment tersebut.

Dead Soldier's Bracelet [Ornament] Weight : 5
ATK+50 INT+50 DEF-50 MIND-50 Additional Effect : Ultra HP MP Recovery Release at Death Berserk Curse 3 Resistance to Dispel Curse
Aku terpaku oleh performa yang benar-benar parah dari aksesoris tersebut.
Kenaikan status dan penurunan statusnya bukan main, tapi efek tambahannya sendiri juga abnormal.
Itu adalah aksesoris spesialisasi serangan super yang membuang semua pertahanan. Dan walau begitu, adalah hal yang mustahil untuk mengendalikan item tersebut yang memiliki curse yang tidak mengijinkan benda tersebut dilepas.
Ultra HP MP Recovery. Dengan kata lain, tiga puluh detik saat serangan berhenti adalah saat di mana status-status ini pulih.
Release at Death, itu pasti berarti equipment terebut baru terlepas saat mati. Item semacam itulah. Kalau tidak, status berserk ini akan terus berlanjut tanpa henti.
Juga, Berserk dan Curse 3. Aku mencoba mengetahui maksudnya.
Yang terakhir, Resistance to Dispel Curse——hanya dengan namanya saja, itu berarti benda tersebut memiliki peningkatan kesempatan kebal terhadap pelepasan curse
Aku sudah menduga ini, tapi benar-benar melihatnya adalah hal yang terburuk. Pengaturan untuk membunuh player.
Sementara itu, jumlah api yang membungkus young beast itu meningkat, dan pilar apinya pulih kembali.
Interval setelahnya adalah lima detik.
Aku memutuskan sebuah strategi. Menghindari selama dua menit, membuyarkan apinya dengan Bomb Magic Gem saat dia berhenti selama 30 detik dan selama 5 detik interval aku ingin melepaskan sebuah curse dengan sebuah Curse Dispel Potion.
"Aku hanya punya delapan Bomb's Magic Gem yang tersisa. Kesempatannya tidak tinggi."
Sekali lagi, aku mencurahkan perhatianku untuk menghindarinya. Kelihatannya tidak ada masalah dengan stamina Ryui juga.
Selama ronde ketiga daya tahan, Ryui-lah yang mendominasi. Aku telah menghindari api yang secara berbahaya nyaris mengenaiku. Kadang-kadang api menjilati ujung-ujung pakaianku. Meskipun berdampak pada HP-ku, hal tersebut tidak berada pada tingkatan luka yang membahayakan.
Aku memasang kembali enchant dan memulihkan HP dan MP yang menurun tanpa menyisakan potion. Aku entah bagaimana bertahan selama ronde ketiga ini.
Apinya berhenti, itu adalah waktunya untuk serangan balik. Aku melemparkan dua Magic Gem dengan tanganku pada waktu yang bersamaan dan kemudian lari menuju pilar api.
"—— «Bomb»‼"
Aku terlalu mendekat dan mendapatkan sedikit cedera dari ledakan Bomb, tapi dibandingkan dengan banyaknya ledakan pada jarak yang amat sangat dekat, ini sama sekali bukanlah apa-apa.
Aku bergerak mendekati hewan kecil itu dalam jarak seuluran tangan, dengan cepat mengeluarkan sebuah Curse Dispel Potion dan memukulnya dengan lenganku.
Botol berisi cairan tersebut pecah dan isinya tumpah. Begitu aku memastikannya, aku memutar tubuhku dan meloloskan diri dari pilar api.
Api tersebut membayang mendekatiku dari belakang. Untuk sesaat, aku merasakan perih dan panas di punggungku saat aku terlalu terlambat untuk meloloskan diri, tapi aku tidak punya waktu untuk mengerang, aku melarikan diri.
"Itu tadi… sebuah serangan langsung di punggung."
Aku hanya dapat melihat pinggiran dari pakaian luar dekat dengan bagian leherku, tapi itu sedikit hangus. Rasa sakit menuruni punggungku, aku mengernyit. Sebidang luas punggungku telah terpanggang, kulit punggungku yang terbuka menghitam.
Selama saat interval, aku mengeluarkan sebuah potion dan mencoba untuk memulihkannya, tapi itu tidak menyembuhkanku sepenuhnya. Efek dari penyembuhannya lebih sedikit dan MP-ku berkurang perlahan-lahan. Saat aku memeriksa statusku, ada sebuah Curseyang tertulis.
"Aduhh… jangan-jangan, ini adalah ras ayam dengan status abnormal. Tidak ada cukup potion."
Aku tidak dapat menggunakan Curse Dispel Potion padaku sendiri. Apa penyebab Curse ini awalnya? Apakah itu adalah perambatan curse dari aksesoris itu, atau mungkin ini adalah ciri khas dari hewan tersebut?
Saat aku termenung, Ryui segera berlari padaku dan setelah menghasilkan air dan mengubahnya menjadi sebuah bola air, Ryui dengan lembut membungkus punggungku dengan air tersebut.
Rasa sakitnya menghilang seakan larut dalam air. Yang tersisa setelah airnya menghilang, adalah punggung mulus tanpa goresan. Status abnormalnya juga menghilang.
"Sebagai tambahan ilusi, kau juga dapat melakukan Healing Arts. Thanks! Kau telah menolongku."
Ada 20 detik tersisa sebelum saat interval. Bersama Ryui, kami memandangi pilar api itu.
Di dalam api tersebut, sebuah tengkorak yang terbentuk dari api hitam, menunjukkan angka 2. Dengan kata lain, saat angka itu menghilang, equipmentnya akan lepas.

Pilar api itu berwarna merah awalnya. Temperaturnya kini meningkat dan berubah menjadi berwarna biru.
"Ya ampun, selain status abnormal, benda itu memiliki kekebalan terhadap cure dispel… Aku mengerti, kemampuan efek tambahannya meningkat setiap kali dispelnya sukses. Liciknya."
Api hewan itu menguat setiap tingkatnya. Kalau seperti ini, aku sebaiknya membuat Myu dan yang lainnya meloloskan diri. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
"Kalian semua! Gunakan kesempatan ini untuk pergi! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya!"
"Apa yang kau katakan! Kami tidak bisa meninggalkan Yun-san!"
Begitu aku menaikkan suaraku, serangan dari young beast tersebut berlanjut. Aku terus menghindar dari api yang telah meningkat kekuatannya dan mencoba menyakinkan Lucato dan yang lainnya.
"Pergilah segera saat dia kehabisan MP! Kalau aku sibuk melindungi di sini, situasinya akan memburuk!"
"Kalau Yun-san bisa bertarung sendirian, maka kami juga bisa bertarung!"
"Kalau begitu dengar! Curse Dispel harus digunakan pada equipment hewan ini! Kalau kau tidak bisa melakukannya, maka mundurlah!"
Aku telah melihat ekspresi frustrasi Lucato. Akan tetapi, maaf. Kalau hanya mengalahkannya, maka menggunakan sihir atau rangkaian serangan akan mengakhirinya. Tapi pertempuran kali ini adalah karena keegoisanku dan Ryui.
"Aku bisa menggunakannya! Di dalam Recovery Magic ada sihir «Dispel»!"
Yang menaikkan suaranya adalah Myu. Selain dia, Lucato muncul untuk memancing serangan api tersebut dan melindungi kami.
"Ya ampun… kalian ini, kita bukannya menghabisinya tapi melepaskan equipmentnya. Itu perkelahian besar."
"Tidak masalah. Kami hanya ingin membantu Yun-san."
Lucato membalas dengan senyum manis di wajahnya. Saat aku melihat ke sekitar, aku menemukan Toutobi di dalam api. Dia mungkin menggunakan Sense tipe movement dan bergerak di sekitarnya hanya dengan meninggalkan kelebatan bayangan saat dia bermain-main dengan si young beast.
Sebagai tambahan, Hino dan Lucato berpasangan dengan mage, Kohaku dan Rirei ikut serta dalam pertahanan dan bermain-main dengan monster tersebut.
Ryui menempelkan dirinya sendiri pada Myu yang pusatnya, Ryui menghasilkan sebuah pelindung dari air dan memadamkan api, melindunginya.
Momentum dari api itu meningkat, tapi begitu pula dengan jumlah orang yang memancing perhatiannya. Bebanku jelas berkurang. Ayo gunakan jangkauan terakhir mulai sekarang.
"Toutobi! Kiri!"
"Aku tahu. ——«Sidestep»!"
Toutobi dan aku menggunakan Sense yang memungkinkan kami bergerak dengan kecepatan tinggi dan Sense yang memampukan kami untuk memperkirakan krisi mengelakkan api.
Myu hanya menunggu dengan tenang saat perannya muncul. Di sebelahnya Ryui menciptakan pelindung dari air yang memiliki kecocokan sempurna untuk menerima serangan api itu.
"Aku tidak dapat menahan dinding sihirnya lebih lama lagi sendirian!"
"Tidak apa-apa. Waktunya pas, tolong batalkan sihirnya!"
Kombinasi Rirei dan Lucato, Kohaku dan Hino tidak bergerak untuk menghindari serangan. Sebagai gantinya mereka menghalaunya. Akan tetapi, terbuka terhadap api yang kekuatannya meningkat, mereka tidak dapat melewatinya tanpa terluka.
"Ayo! … 3, 2, 1——"
Bersamaan dengan hitungan mundur Lucato, retakan muncul pada permukaan dinding sihir. Hal tersebut menghilang saat hitungan mundurnya berakhir dan peluru-peluru api mendekati mereka.
"—— «Shock Impact»!"

Lucato menjumpai api yang datang dan menghantamnya dengan pedang yag dia pegang dengan kedua tangannya. Art-nya ditandai dengan cahaya kuning dan menerima api tersebut. *Gkinn*, sebuah suara logam tumpul terdengar dan dengan demikian, api itu mengarah ke langit.
"Akan kulakukan sekarang! —— «Magic Strike»!"
Dengan cara yang sama, Hino mengayunkan sledgehammernya dan mengibas menjauh api tersebut.
Mereka bertahan dengan menggunakan pertahanan sihir, dan saat daya tahan dinding itu menghilang, mereka menggunakan Art untuk mengirim balik sihir itu. Dan setelah itu, mereka bersembunyi di belakang dinding sihir untuk menunggu sampai mereka dapat menggunakan kembali Art sekali lagi.
Meskipun mereka kelihatannya berganti giliran dengan mudah, untuk menyerang dengan sihir dan mengirimnya kembali dengan Art memerlukan skill tingkat tinggi dari seorang player dan waktu yang tepat.
Terlebih lagi, untuk tidak membebani senjata terlalu banyak, itu tidak bisa dilakukan terlalu sering. Itulah yang mungkin menjadi tindakan bodoh 'bertahan hidup selama seminggu' dalam lingkungan semacam ini. Adalah hal yang sulit untuk memperbaiki senjata yang masih baru.
Dan walau begitu, semuanya membantu keegoisanku. Aku harus merespon usaha terbaik gadis-gadis ini.
"Belum, ini belum."
Sambil menghindari api yang bermunculan, aku kehabisan kesabaran saat menunggu.
" «Shock Impact» ——wha!"
Begitu pedang dan api berbenturan sekali lagi, pedang Lucato pecah. Pada saat itu, Lucato kehilangan cara apapun untuk melindungi dirinya sendiri. Kupikir, 'datanglah lebih cepat' dan menunggu kesempatan untuk menyerang balik dan mengakhiri ini.
"Myu! Bersiaplah!"
"Baik!"
Aku tidak tahu berapa banyak Magic Gem yang kubutuhkan untuk menembus api biru yang telah meningkat ketebalannya, jadi aku meningkatkan jumlahnya menjadi empat dan melemparkan semuanya pada saat yang sama dan berlari menuju api tersebut.
Tubuh bagian atasku bergetar karena ledakan yang lebih kuat daripada sebelumnya. Aku hampir terjatuh tapi aku menaikkan pinggulku dan bergegas menuju area kosong di mana ledakan terjadi.
Di belakangku, Myu sedang melancarkan sebuah sihir suci berwarna putih sambil dilindungi oleh Ryui.
"—— «Dispel»!"
Saat aku memasuki area di mana api berada, Curse Dispel Myu mengenai gelang young beast tersebut dan hitungan pada tengkorak tersebut turun menjadi 1. Bersamaan dengan itu, api birunya meningkat lebih jauh dan berubah menjadi api merah gelap.
Seakan menutup luka, api hitam itu bergegas menuju tempat kosong tempatku berada.
Di kejauhan aku mendengar sebuah jeritan, tapi aku tidak lagi dapat melarikan diri. Sejak awal, kalau aku berniat melarikan diri, aku tidak akan terjun masuk.
Dengan pedang Lucato yang rusak, memperpanjang pertarungan bukan lagi pilihan tepat.
Hal yang akan dapat sangat membantu dalam menghadapi api yang diperkuat ini sampai aku membatalkan cursenya, dan juga yang akan menjadi resiko terbesar adalah otot-ototku sendiri.
"——«Bomb»!"
Aku memicu manteraku sendiri - «Bomb». Tidak seperti Magic Gem yang memerlukan beberapa waktu sebelum benda tersebut aktif, aku dapat meledakkan skill tersebut tepat setelah diaktifkan dalam jarak dekat.
Ledakan dan getaran menyelimuti tubuhku. Banyak sekali HP-ku yang terpangkas. Api hitam itu terhempas menjauh, untuk sesaat memberiku jalan ke bayi hewan tersebut.
Di bawah efek ledakan dan api, sekujur tubuhku terluka. Aku tidak punya waktu untuk menyembuhkan dengan potion, aku menangkap young beast tersebut.
"Akhiri ini!"
Aku menaikkan suaraku dan menyiramkan potion untuk cairan dispel. Api hitamnya untuk sesaat melebar. Dan pada saat itu aku ——mati. Aku melihat situasi di sekitar dan menyadari.
Apinya berubah menjadi bewarna putih dan membengkak keluar. Aku tidak tahu kenapa aku bergerak seperti itu, tapi mendekap bayi hewan itu meskipun sebenarnya dia masih terbungkus dalam api.
Aku menutup mataku rapat-rapat, dan di tengah raungan yang menggetarkan gendang telingaku dengan kasar, aku menunggu akhirnya. Sudah pasti, saat aku membuka mataku kali berikutnya, aku akan berada di alun-alun kota dari Kota Pertama.


Kupikir begitu dan menunggu selama sepuluh, dua puluh detik. Tapi tidak hanya tidak ada suara keriuhan dan keributan kota, aku tidak mendengar apa-apa sama sekali.
Saat aku dengan takut-takut membuka mataku, aku masih berada di tempat yang sama.
"…Aku…hidup. Syukurlah~"
Semua ketegangan terlepas dan kekuatan ekstra yang ada meninggalkan tubuhku. Api yang menyebar telah menghilang, keadaannya tenang seakan api tersebut hanyalah sebuah ilusi. Akan tetapi, tentunya ada sesuatu yang terbakar dan kecoklatan di permukaan tanah, itu adalah bukti dari tragedi yang terjadi sebelumnya.
Itu sama halnya denganku, aku bukanlah sebuah pengecualian. Aku telah dilahap api beberapa kali, terkena ledakanku sendiri, dan bahkan meskipun aku dapat memulihkan HP, cloth armor yang melindungiku kini sepenuhnya usang.
Di pakaian bagian dalam dan luar terdapat sebuah lubang besar di punggung, sabuknya penuh jelaga, dan pada celananya terdapat robekan terbuka.
Meskipun sebagian darinya akan memperbaiki sendiri secara otomatis dengan menyerap MP-ku, tapi meminta yang satu ini diperbaiki adalah sesuatu yang terlalu cepat mengingat aku baru saja mendapatkannya.
"Haa~, setidaknya adalah sebuah anugerah karena ternyata kerusakannya tidak kritis."
Aku menghela nafas lelah seperti itu… untuk dapat memperbaiki item, aku perlu melepaskannya dulu. Saat berbicara mengenai itu, aku tidak punya pakaian ganti.
"Onee-chan! Kau baik-baik saja?!"
Myu dan yang lainnya berlari mendekat secepatnya. Ahh, aku pasti telah membuat mereka khawatir dengan terjun ke dalam api sendirian.
"Aku tidak apa-apa… tidak juga. Aku acak-acakan. Terutama armorku, begitulah."
"Y-yah… Aku kesulitan memfokuskan mataku."
Lucato memalingkan wajah dengan kurang baik. Tidak, jangan berpaling atau aku akan merasa malu malahan.
"Kalian semua benar-benar nekad. Maaf. Jadi bagaimana dengan orang-orang lainnya?"
"Mereka pergi lebih dulu, kelihatannya mereka akan bergabung dengan yang lainnya."
"Aku mengerti… nah sekarang, apa yang akan kita lakukan? Tentang si kecil ini."
Kami tidak lagi memiliki masalah apapun. Dan semuanya melihat ke arah yang menjadi pusat dari masalah sebelumnya.
Hewan ini berambut hitam yang terlihat sangat lembut, rambut merah yang memanjang dari kepala sampai ke bawah. Anak rubah tersebut mengeluarkan suara berisik yang menjadi ciri khasnya dari hidungnya.
"Apa yang akan kita lakukan dengan anak hewan ini yang menjadi pelaku utamanya?"
"Apa… maksudmu dengan itu?"
"Tidak, kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja seperti ini. Malahan, sejujurnya, aku ingin membawanya pulang denganku, tapi… sebagai tambahan dengan Ryui, ada tiga hewan lagi di sana, para young beast."
"Ti-tiga lagi?! Yun-san, memangnya seberapa sayangnya para young beast padamu?"
Anggota lainnya mengatakan hal yang mirip. Yah, tiga yang lainnya telah meninggalkanku…
"Sekarang, ayo coba menghubungi mereka."
Aku menghubungkan chat dengan Magi-san.
"Apa kau punya waktu sekarang?"
"Yup, ada. Ada apa?"
"Aku menemui sedikit masalah di perjalanan. Armorku rusak dan aku membawa pulang lebih banyak anak hewan."
"EH?! Yun-kun, kau melibatkan dirimu dengan masalah lagi?! Kau seharusnya ikut dengan kami ternyata… Aku mengerti. Bawa mereka. Juga, aku akan meminta Cloude untuk menyiapkan pakaian ganti."
"Ah, satu hal lagi. Bisakah aku membawa party adikku denganku? Untuk makan malam bersama kita."
"Mengerti. Kalau begitu, cepatlah kembali. Kami punya banyak perolehan untuk dibagikan juga"
Itu hanyalah sebuah percakapan pendek dengan Magi-san. Akan tetapi, aku mulai mendengar sedikit suara-suara menggerutu.
"Ada izin untuk semuanya datang. Ayo bicara di perjalanan pulang."
Aku melihat semua orang untuk meminta izin dan memeluk anak rubah itu dengan hati-hati. Ryui berpindah ke sebelahku.
Ada sesuatu yang perlu kukatakan pada Lucato dan yang lainnya.
"Um, maafkan aku. Kalian turut serta dalam keegoisanku. Juga, alasan mengapa pedang Lucato rusak adalah karena aku."
"Itu benar. Itu adalah senjataku satu-satunya, itu merepotkan. Tolong ganti kerugianku."
"Luka, biasanya kamu nggak mempedulikannya. Kamu lagi ngambek, ya?"
Kohaku menatapnya, tapi aku juga ingin mengganti kerugiannya. Hanya dengan niat baik, seseorang tidak akan selamat dalam event ini.
"Kohaku dan Rirei memiliki senjata mereka karena mereka tidak menggunakannya untuk menyerang musuh secara langsung, tapi Luka dan aku menyingkirkan api tersebut. Durability dari senjatanya berkurang sangat banyak. Aku masih punya sebuah tombak jadi aku masih punya peluang, tapi…"
"…yang terburuk, aku mungkin menggunakan pedang tumpul yang kami temukan di dalam sebuah dungeon, tapi ada kemungkinan akan ada sebuah curse pada pedang itu."
Hino dan Toutobi berbicara setelahnya. Aku benar-benar minta maaf.
"Oh, sudahlah. Mau bagaimana lagi sampai terjadi seperti ini. Ngomong-ngomong, apa yang terjadi dengan aksesoris yang membuatnya di luar kendali?"
"Ahh, ini."
Sebelum aku menyadarinya, aku menemukan sebuah aksesoris di dalam inventoryku dan kemudian membuatnya terlihat. Benda tersebut menggelinding di tanganku.
"Itu berlebihan. Kalau bukan karena efeknya yang merugikan, benda ini akan sepenuhnya menjadi bagian equipment yang rusak."
Aku mendapatkan sebuah gelang yang terbuat dari logam hitam. Di permukaannya terdapat ukiran rumit malaikat maut dan seorang pria yang kelihatannya sedang menderita. Sejujurnya, aku tidak akan dapat membuat diriku mengenakan equipment jelek semacam ini.
"Uwaa, itu equipment yang indah. Onee-chan, ini mengagumkan."
"Benar. Sebuah karya seni yang indah."
Hoo, semua gadis ini menghela nafas kagum bersamaan. Eh, maksud mereka aksesoris ini?
"Bukannya ini jelek, sama sekali buruk rupa?"
" " " " "Eh?? " " " " "
"Ehh?"
Tidak mungkin adikku dan yang lainnya memiliki selera keindahan separah itu… tidak, pasti bukan begitu.
"Hei, seperti apa benda ini kelihatannya menurutmu?"
"Umm… sebuah gelang berwarna putih dengan seorang malaikat wanita yang sedang berdoa… bukankan ini gelang yang seperti itu?"
"…haa~, berlebihan sekaliii…"
Tanpa sebuah pemeriksaan, seseorang akan salah mengenalinya dalam sekali lihat. Benda ini memiliki desain yang indah, tapi kenyataannya——itulah pola yang diikutinya.
Akan tetapi, ini pasti telah berkeliling sebagai bahan percobaan orang-orang idiot itu dengan menggunakannya dan pada akhirnya mereka mulai mencobanya pada young beast tersebut. Yah, mungkin potensi monster lebih tinggi, atau mereka lebih cocok dengan equipment tersebut, menyebabkan bencana semacam itu.
"Setelah dinilai, aksesoris ini sebenarnya memiliki desain dengan selera yang buruk. Semuanya, kalau kalian mendapatkan item yang belum diperiksa, kurasa hal yang terbaik adalah kau memeriksanya terlebih dulu."
"Umm… terima kasih kasih banyak untuk sarannya?"
Lucato berbicara dengan terlihat sedikit tidak mengerti dan kebingungan. Yah, kami lelah dan ada ketegangan di sini, aku akan mengabaikannya.
Dan kemudian kami menuju ke perkemahan di mana Magi-san dan yang lainnya berada. Di sepanjang jalan, aku memberikan sebuah pelajaran tentang herb dan makanan dan kami mengumpulkannya saat perjalanan, jadi itu memakan waktu sedikit lebih lama.
Dan meskipun Rirei lebih dia daripada yang diperkirakan, aku merasakan tatapan panas di punggungku.
Haa, haaa, punggung yang indah, tengkuk yang mengagumkan, paha yang putih terlihat dari bawah celana yang robek. Setiap kali aku mendengar pernyataan yang berbahaya tersebut, Kohaku menyelanya. Aku merasa menanggapinya akan berarti kalah, jadi aku mencoba untuk mengabaikannya.
Kami tiba di perkemahan kami saat hari mulai gelap. Saat kami sampai, aku bereaksi dengan 'akhirnya sampai' dan kekuatan meninggalkan tubuhku. Rubah kecil itu masih tertidur dengan tenang di lenganku.
"Aku pulang, Magi-san."
"Selamat datang kembali, Yun-kun. Masalah telah menghantuimu sejak kemarin, jangan membuatku begitu khawatir."
"M-Magi-san?!"
Saat aku disambut Magi-san dengan sikap yang sedikit letih, dia dengan lembut memelukku dan aku tidak dapat memisahkan diri dengan segera. Myu dan yang lainnya melihat kejadian itu sambil nyengir karena beberapa alasan.
"Serahkan saja pada Magi. Walau begitu, kau dapat merusakkan armor sampai begini dalam waktu yang singkat. Bagaimana caramu menggunakannya sampai bisa seperti itu? Aku akan menaikkan tingkatnya supaya ini tidak berakhir seperti ini lagi dan memperbaikinya. Ini, pakaian gantinya."
Cloude menarik Magi-san yang menempelkan dirinya sendiri padaku dengan memeluk dan menyerahkan padaku equipment baru di trade screen. Aku menerimanya.
Sepertinya baik aku dan Magi-san perlu sedikit waktu untuk menenangkan diri. Dalam diam, aku memasuki rumah kayu.
Lyly tidak ada di sini, aku penasaran kenapa begitu. Sementara memikirkan itu, aku mengganti equipment
"… baiklah, aku sudah ganti baju. Hei, apa-apaan iniiii‼"

Itu adalah sehelai gaun one-piece yang menutupi hanya sekitar setengah dari punggungku. Pada akhirnya, ada sebuah celana pendek karena memikirkanku yang membenci rok, tapi keliman gaunnya begitu panjang jadi itu tertutup seluruhnya.
"Hei, Cloude! Apa maksudnya ini!"
"Uwaa! Penampilan baru Yun-kun!"
Semangat kembali pada ekspresi khawatir Magi-san, pupil mata Myu dan yang lainnya berbinar-binar.
"Hm, itu terlihat cocok untukmu, Yun."
Sama sekali nggak! Aku tidak melihat pakaian tersebut karena diserahkan padaku di trade screen, dan begitu aku berpakaian adalah sama seperti transformasi seorang pahlawan. Tapi, yang benar saja!
"Aku tidak mau mengenakan pakaian berkibar-kibar semacam ini!"
"Apa yang kau katakan! Tubuhmu yang ramping. Rambut hitam yang indah, mata yang hitam. Aku tidak bisa membiarkan permata mentah seperti itu tak terasah!"
Entah kenapa, Cloude semakin jauh menekankan dalam tanggapannya! Aku menutup telingaku untuk tidak mendengarnya lebih jauh dan meringkuk.
"Sehelai gaun one-piece memiliki sebuah keindahan yang mengingatkan pada para perawan lugu yang berlarian melewati taman-taman musim panas. Kau memiliki rambut yang berwarna hitam. Meskipun warna hitam dan putih adalah hal yang kontras, keduanya mewakili kemurnian. Tidak ada banyak hal yang begitu melengkapi. Aku tahu kau membenci rok, karena itu ada celana pendek. Bahkan sekalipun rokmu terangkat, tidak akan ada yang vulgar sama sekali. Cobalah membayangkannya, gaunmu tersingkap oleh angin, dan sementara melindungi kemurnianmu, kau dapat menunjukkan daya tarik seksualmu saat gaunnya terangkat. Itu tidak akan menunjukkan erotisme berlebihan! Pengejaran keindahan bukan hanya ero!"
Orang ini, apa yang sedang dia tekankan di depan para gadis ini?! Adik perempuanku di sini!
Terlebih lagi, untuk beberapa alasan dia memiliki ekspresi seseorang yang sedang berada di tengah-tengah pekerjaan. Apa yang ingin lakukan dengan suasana ini?
Jeritan dalam hatiku menghasilkan satu suara berkelanjutan.
Itu adalah suara tepuk tangan. Rirei sendirian melihat Cloude dengan tatapan hormat yang misterius.
"Tepat. Wanita cantik seharusnya seperti itu. Sementara di depan mereka seharusnya melindungi kemurnian mereka, tapi di saat yang sama mereka pastinya ingin bertindak sedikit kotor. Ide yang mengagumkan, dan sikap mental itu, kau layak untuk disebut sebagai rekanku."
"Melihat di sini ada seseorang yang memahaminya, aku juga merasa senang. Bagaimana kalau kita bertukar pandangan sepuasnya?"
"Fufufu. Ya, dengan senang hati. Bagaimana dengan gothic lolita untuk tema berikutnya?"
"Menarik."
Tidak, mereka berdua, kenapa mereka jadi bersemangat? Kohaku-san, ini gawat tanpa peran yang menyahuti. Tolong berfungsilah dengan benar.
"Oops, aku lupa."
"Apa?"
Muak dengan ini, aku memelototi Cloude.
"Serahkan armornya. Aku akan menaikkan gradenya sambil memperbaikinya. Juga, ini."
Aku mengirimkan armornya lewat trade screen. Di sisi lain, aku diberikan item yang bermaterialisasi.
"Saat kau memasak, bagaimanapun juga, kenakan ini."
Itu adalah sebuah apron sederhana. Dan pada pinggirannya ada anak-anak ayam imut yang terbuat dari kain felt yang dijahitkan di situ.
"Hentikan ini sekarang juga!"
Pada saat yang sama aku berteriak, tinjuku menghantam perut Cloude.
Sebagai respon terhadap hantaman tubuhku, dengan terpuntir Cloude terjatuh di tempat. Partnernya mulai memberikannya pukulan kucing ke kepalanya, menyembuhkan hatinya. Tentu saja, aku menyimpan sosok agung tersebut dalam sebuah screenshot.
Kemudian, aku memperkenalkan anggota partyku pada party adikku.
"Umm, wanita ini adalah Magi-san. Dia adalah seorang blacksmith. Aku selalu mengirimkan potion padanya. Hei, apakah kau membeli Bluepot di toko Magi-san?"
"Aku adalah Magi si blacksmith. Senang bertemu denganmu. Ini adalah partnerku, Rickle si anak anjing. Sekalipun aku berkata demikian, ada beberapa wajah akrab di sini."
Para gadis terpaku tatapannya pada Rickle yang imut yang dinaikkan di depan wajah mereka. Magi-san tersenyum simpul.
"Berikutnya… yah, aku tidak ingin memperkenalkannya, tapi… Cloude. Si penjahit yang mengkhususkan diri pada armor kain dan kulit. Juga, partnernya Socks."
"Perkenalanku buruk."
Cloude bangkit seakan tidak ada yang terjadi. Aku seharusnya menaruh sejumlah besar strength di dalamnya. Untuk memastikan dia tidak akan bangun, aku perlu menambah kekuatan di dalam tinjuku untuk kali berikutnya.
"Tentu saja. Seorang pria yang lepas kendali di depan adik perempuanku tidak pantas untuk diperhatikan."
Dengan menancapkan cakarnya pada jubah Cloude, Socks mencapai pundaknya dengan memanjat secara vertikal. Semuanya memperhatikan kucing manis berwarna hitam putih yang diperkenalkan pada mereka.
"Juga, ada Lyly si woodcrafter. Magi-san, di mana Lyly?"
"Saat kami mendapat laporan dari Yun-kun, aku meminta Lyly untuk menemukan beberapa bahan… tapi sepertinya dia sudah kembali."
Lyly meninggalkan kayu-kayu di sisi berseberangan dari tempat kami muncul. Seekor anak burung bulat kemerahan menaiki bahunya dengan mahirnya.
Lucato mengeluarkan suara.
"Magi, Cloude, Lyly… para crafter kelas atas. Ini pertama kalinya aku melihat mereka mereka bertiga berkumpul di satu tempat."
"Yah, bukan berarti kami selalu bersama, kami punya toko kami sendiri. Lucato-chan."
"…?! Kenapa kau tahu namaku?"
Lucato terkejut, dan Magi-san tersenyum seperti anak kecil yang keisengannya berhasil.
"Yah, aku mengingat pelangganku yang biasa datang ke tokoku. Terutama, aku mendengar banyak hal tentangmu dari Myu-chan."
Saat Magi-san berbicara tentang hal-yang-sudah-jelas, Lucato memelototi ringan Myu. Kelihatannya dia sedikit tidak sabar.
"T-tapi, gadis-gadis suka bercakap-cakap dengan sesamanya, 'kan? Kalau itu Luka-chan, maka kau akan mengerti 'kan?"
"Kau ingin pesanan khusus terbaik, tapi kau tidak punya cukup uang. Aku tahu semua itu."
Sesuatu yang memalukan terbuka dan sambil bersemu merah, Lucato sangat memprotes Myu. Melihat itu, Magi-san mengubah topik pembicaraan secepatnya.
"Jadi… bagaimana kalau Yun-kun  yang 'terlibat-dalam-masalah' memperkenalkan para young beast yang dia bawa."
Magi-san tersenyum di wajahnya, tapi entah kenapa nada bicaranya terdengar marah. Saat wajahku terasa kram, unicorn muda di sebelahku mengambil satu langkah maju.
"Umm, ini adalah seekor Unicorn muda. Namanya Ryui. Sebenarya, sekalipun dia bergabung denganku sejak kemarin… dia tadinya tidak muncul di depan orang banyak dan aku tadinya belum memutuskan namanya. Dan anak rubah hitam ini sedang dilindungi untuk berjaga-jaga kalau ada masalah. Maaf untuk semuanya."
Aku menunjukkan pada mereka si anak rubah itu. Dia tertidur pulas dan tidak ada tanda-tanda terbangun.
"Baiklah sekarang, ayo beristirahat sedikit dan mengobrol sedikit dengan satu sama lain."
Kami duduk pada sebuah meja sederhana, dan akhirnya aku dapat menghela nafas.
Myu dan yang lainnya yang belum turut serta menjelaskan apa yang telah terjadi, berjuang untuk menemukan tempat untuk tidur bagi mereka sendiri. Tenda mereka terbakar api hari ini. Ada sebuah tenda cadangan yang dijatuhkan monster unik. Kudengar Lucato akan menggunakannya.
Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, jadi aku pelan-pelan berbicara dengan suara rendah.
Dari kemarin hingga hari ini. Aku mengatakan pada mereka segala sesuatu yang terjadi kemarin dan yang belum kubicarakan. Sudut pandangku bercampur dengan cerita tersebut. Aku mengatakan tentang hal-hal yang terjadi meskipun belum mengaturnya di dalam kepalaku.
Cloude dan Lyly yang sedang mendengarkan cerita, menyiapkan tempat tidur untuk si anak rubah sementara itu. Saat ceritaku berakhir, ada sedikit keheningan panjang. Magi-san mendesah dengan tampang suram di wajahnya dan akhirnya berbicara.
"Dalam waktu sesingkat itu, kau telah benar-benar mendapatkan banyak pengalaman, Yun-kun. Aku tertarik dengan aksesoris terkutuk itu, tapi biar kukatakan sebelumnya ——berhenti bertindak nekad."
"Ya, maafkan aku."
"Oh, ya. Di board, Fire Outbreak (Kebakaran)diperlakukan sebagai sebuah candaan, memikirkan bahwa kau melibatkan dirimu dalam kejadian tersebut. 'Kenekadan' Yuncchi muncul sebagai kelas satu. Tapi… aku benar-benar senang."
Magi-san dan Lyly melepaskan kekuatan yang terkumpul, mereka senang karena aku selamat. Ekspresiku jadi berkaca-kaca. Sekalipun aku memiliki party yang mengkhawatirkanku, aku telah begitu sembrono. Maafkan aku.
"Yun. Anak rubah yang jadi masalah itu sepertinya sudah bangun."
Mungkin menanggapi suara kami, tapi Cloude menyadari reaksi sama dari hewan itu dan memberi tanda pada kami. Anak rubah hitam yang telah tertidur sampai sekarang, kini terbangun.
Mungkin karena perbedaan antara tempat dia ambruk dan dengan tempat ini, atau mungkin karena takut terhadap tempat yang dia tidak kenal, tapi si anak rubah itu mengumpulkan kekuatan pada tubuh kecilnya dan semakin cemas saat bangun.
Dia berdiri dengan kaki-kaki gemetar dan sambil menaikkan ekor dan rambutnya, dia mencoba untuk mengancam.
Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, sosok menyedihkan itu hanya bisa disebut tipuan.
"Eh? Anak itu bangun. Hei, Onee-chan. Entah kenapa, kecemasannya berada pada titik maksimal."
"Aku tahu. Semuanya, jangan terlalu menganggunya. Kalian akan menakutinya."
Saat Myu memanggilku setelah selesai menyiapkan tendanya, si anak rubah terkejut dan mengambil jarak.
Si kecil ini pastilah mulai sungguh-sungguh tidak memperayai orang karena bagaimana orang-orang tersebut memperlakukannya… Hei, AI terbaru ini terlalu mengagumkan. Menjadi waspada terhadap manusia karena fungsi belajar-sendiri. Game ini mengejar kenyataan terlalu jauh.
Kalau seseorang mencoba mendekatinya, si anak rubah itu terlihat ketakutan. Pada saat yang sama, aku berpikir dia sangat tertekan. Aku mengelus kepala Ryui saat dia merapatkan diri ke pinggangku dan mengingatkan diriku sendiri.
"Awasi saja untuk saat ini. Itu seharusnya cukup."
Kami menemui Rickle dan yang lainnya dalam keadaan yang sama sekali berbeda. Mari mengamatinya saja dan lihat apakah kondisinya membaik. Seperti yang diperkirakan, bahkan Myu tidak akan memaksa menyentuh seorang anak rubah yang perasaannya merupakan campuran antara rasa takut dan terintimidasi. Yang ada, Myu-lah yang paling kebingungan melihat penampilan seperti itu.
"Nah sekarang, kita tidak bisa melakukan apapun meskipun kita mengawasi si anak rubah. Bukankah sekarang waktunya kita memutuskan sebuah hadiah untuk party yang menyelamatkan Yun?"
Dengan apa yang Cloude katakan sebagai pemicu, arah pandangan dari semua orang berpindah dari si anak rubah. Dengan tatapan yang tadinya tertuju padanya kini menghilang, rasa tegangnya terasa menghilang dan si anak rubah jatuh di tempat tidurnya. Setelah memastikannya, aku memfokuskan diri pada diskusi itu lagi.
"Nah sekarang, apa yang mungkin kalian perlukan adalah memulihkan durability dari senjata dan armor, mengganti senjata Lucato-chan yang hancur, item tipe potion, dan makanan, apa itu tidak masalah dengan kalian?"
Aku memanggil Luato yang sedang bersantai setelah menempatkan tendanya.
"Ya, aku tidak keberatan. Atau tepatnya, aku merasa terlalu banyak diberi…"
"Jangan terlalu memikirkannya, kami haya melakukan apa yang ingin kami lakukan."
"Akan tetapi…"
Lucato tidak merasa dia dapat menerimanya. Kupikir itu sudah sepantasnya. Ini bisa saja berakhir dengan semua orang terbakar dalam api dan mengundurkan diri, ini sepertinya sangat murah jika memikirkan itu. Akan tetapi, Lucato sama sekali tidak yakin.
"Hmm. Kalau begitu, bagaimana dengan ini. Alih-alih mengganti senjata Luka-chan, aku akan membuatkan pesananmu. Aku akan membuatnya sempurna untukmu nanti. Apa yang bisa kubuatkan untukmu sekarang adalah pedang baja, bagaimana dengan itu?"
"Ehh?! Sudah kubilang, itu terlalu banyak!"
"Sebagai gantinya… bagaimana kalau kita bertukar item. Bagaimana kalau begitu? Ini adalah give-and-take."
"…Hmm. Apakah semuanya tidak masalah dengan itu?"
Lucato menanyai anggota party lainnya termasuk Myu. Semuanya memberi jawaban positif.
"Kalau begitu, silakan."
"Baiklah, haruskah aku segera membuatnya?"
"Magi. Masih ada sesuatu yang belum kita lakukan. Kita perlu memeriksa senjata langka yang Yun temukan."
"Itu benar, melupakannya bukanlah hal yang bagus."
Dari inventory aku mengeluarkan kapak perang, sepasang belati, tongkat sihir dan sebuah long bow. Myu dan yang lainnya tertarik dengan senjata-senjata ini dan mendekat untuk mengintip. Mereka tidak memiliki Sense yang berhubungan jadi mereka tidak dapat memeriksa benda-benda ini sayangnya.
"Hohoo, mereka memiliki penampilan yang membahayakan. Sebuah kapak yang bercahaya merah cocok dengan seleraku."
"Aku penasaran apakah belati-belati ini milikku? Magicchi, tolong periksa. Aku akan memeriksa tongkat dan busurnya."
Sambil berkata begitu, kedua wajah tersebut berubah saat mereka memeriksa senjata-senjata tersebut dan tidak lagi santai, mereka menegang. Tapi itu adalah sebuah ketegangan yang diwarnai dengan kesenangan daripada ketegangan yang suram.
"Hei… Magicchi, bagaimana dengan bagianmu?"
"Hmm. Semuanya memiliki performa yang sama. Ya ampun, bagian manajemennya memiliki hobi yang bagus."
Sambil berkata begitu, mereka menyerahkan senjata yang berkaitan dengan pemegangnya.

Wolf Commander's Longbow Weapon
Sebuah longbow yang digunakan oleh pemanah jitu berpengalaman dari beastmen, Commander Wolf
ATK+25

Hanya ini? Pikirku. Karena untuk beberapa alasan, benda itu memiliki kemampuan yang sama dengan pisau yang Magi-san buat. Itu adalah sebuah senjata yang lebih rendah dari yang dibuat Lyly.
Tapi aku terkejut dengan sebuah pesan yang mulai bermunculan berikutnya.
Efek tambahan dari senjata ini adalah kau dapat menambahkan 15 efek tambahan ke dalamnya. Juga, karena ini adalah equipment unik, ini tidak dapat dicuri, tidak dapat dihancurkan. Meskipun kau dapat menghapus efek tambahan dengan bebas, kalau kau ingin memberikannya sekali lagi, kau perlu menjalani proses yang sama untuk kedua kalinya.
"Fufufu… memberikan crafter wadah dasar yang bisa diatur sendiri oleh crafter. Mereka memiliki selera yang bagus. Bagian manajemennya."
Cloude merasa senang, dan dia mengeluarkan suara tawa yang mengerikan. Tidak, aku mengerti apa yang ingin kau katakan, tapi suasananya jadi menakutkan.
Berikutnya adalah Magi-san yang berkata, "Seperti yang diduga dari OSO. Memberikan kesempatan untuk membuat satu-satunya senjata milikku sendiri," dan dia mengelus kapak tersebut dengan ekspresi senang.
Giliran Lyly, "Kalau senjata cheat semacam ini diberikan, itu akan menyangkal keberadaan para crafter," katanya.
Tentunya, jika orang-orang yang dapat memakai senjata ini diberikan item yang melampaui apa dapat mereka buat dengan cara yang setengah-setengah, maka itu akan benar-benar menyia-nyiakan kesenangan. Dengan pemikiran seperti itu, maka dia benar.
Tapi tetap saja…
"…saat ini aku sama sekali tidak tahu bagaimana cara mengatur ini. Apa yang harus dilakukan soal itu?"
Aku melihat busur yang kupegang sekali lagi.
Aku melirik ke sekitar. Myu menatapi dengan binar-binar kekaguman di matanya. Yah, aku tahu ini adalah sesuatu yang mengagumkan, tapi kalau Myu melihatnya dengan begitu serakah pada benda ini, aku mulai merasa risau untuk alasan yang berbeda.
"Dengar. Benda itu adalah benda super langka! Sebuah senjata magis yang dapat kau gonta-ganti model seperti yang kau harapkan. Jika mungkin, aku akan menyerangmu demi item itu. Sebesar itulah aku menginginkannya."
"Itu berbahaya. Oi, aku tidak ingin di-PK."
"Ahh, ada kemungkinan untuk di-PK. Yah, walaupun itu tidak dapat dirampas, sepertinya orang-orang akan melakukannya karena cemburu."
"Magi-san, apa yang sedang kau katakan dengan santai begitu?"
Saat aku menatap matanya, dia menanggapi dengan 'ahahaha, bercanda' dan mengibas-kibaskan tangannya. Akan tetapi, aku tidak merasa itu adalah sebuah candaan sayangnya.
"Yuncchi, terima kasih untuk senjata terbaiknya."
"Yah, motivasi tertinggi di dalam game adalah untuk meningkatkan equipment. Itu membuatku sangat senang."
Lyly dan Cloude berkata dan terlihat begitu senang. Aku merasa gatal di punggungku.
"Jangan khawatir soal itu. Dengan begitu, ceritanya sudah selesai. Juga, aku akan mengirimkan Cloude screenshot dari dasar danau dengan e-mail nanti. Lalu, Lucato dan yang lainnya, potion 'kan. Katakan padaku tipe yang kau butuhkan dan jumlahnya. Aku akan mempersiapkannya sebelum besok."
"Aku akan membuatkan Luka-chan pedang. Aku telah mencari-cari ore sepanjang hari, jadi aku memiliki cukup bahan. Yun-kun, kau akan menggunakan batu permatanya 'kan?"
Kami mulai bergerak untuk mulai melakukan apa yang seharusnya kami lakukan.
Magi-san menyerahkan batu permata yang dia temukan hari ini dan mulai membuat pedang untuk Lucato. Cloude mulai berbicara mengenai situasi saat ini sambil memperbaiki armorku dan armor yang lainnya, tatapannya ke mana-mana dan dia sepertinya sedang memperhatikan information board. Itu sangat terampil.
Hal yang sama untuk Lyly, sambil melakukan pemulihan durability pada tongkat, dia berbicara dengan Kohaku dan Rirei. Aku menyimpulkan itu mungkin memeriksa barang-barang sebagian besarnya.
Dan aku——
"Yun-san, ada satu item sebagai hadiah untuk hari ini."
"Ini adalah… Sweets Factory?"
"Ya. Itu adalah drop item dari Sweets Tree. Juga, buku yang di-drop dari Timewasting Scissors. Kami tidak bisa membacanya."
"Kalau begitu, aku tidak akan bisa membacanya juga… Aku ingin membacanya padahal. Jadi, di mana buku itu?"
"Umm, Cloude memilikinya sekarang. sepertinya dia akan membacanya nanti."
Mungkin mendengarkan perkataan ini, Cloude melambai-lambaikan tangannya ke arah sini.
Aku iri bahwa Cloude dapat membaca buku itu dengan mudah. Melihat buku yang berbaris membentuk sebuah koleksi, itu mungkin adalah mahakarya. Aku ingin membaca buku yang tidak bisa kubaca.
Kemudian, aku ditarik kembali ke kenyataan oleh Lucato saat aku menenggelamkan diriku sendiri dalam lamunan.
"…jadi, Yun-san?"
"Ya?"
"Aku memiliki harapan tinggi. Untuk kue maksudnya."
Dengan riang, senang, gadis-gadis manis ini tersenyum padaku. Ya, demi kue, demi camilan.
Karena mustahil untuk bekerja di malam hari, aku memasak dan membuat cemilan. Aku dengan tekun membuat potion dari bahan-bahan yang kukumpulkan. Jeli buah yang berhasil kubuat akan dibiarkan untuk sarapan besok.
Setelah menyelesaikan pekerjaanku, aku mengalihkan tatapanku ke anak rubah yang sedang tertidur untuk sejenak.
"Hm? Ada apa Onee-chan?"
"Tidak, tidak ada apa-apa. Aku capek hari ini, jadi aku akan tidur lebih dulu."
"Ah, nn. Selamat malam."
"Selamat malam."
Aku memberitahukan pada semua orang di tempat itu dan setelah mengangkat sebuah kotak berisi si anak rubah, aku menuju ke rumah kayu. Meskipun kemarin Lyly-lah yang pertama kali pergi tidur, hari ini aku telah diserang rasa kantuk begitu aku memutuskan untuk tidur.
Sambil berhati-hati untuk tidak menyingkapkan gaun one-piece yang asing bagiku, aku berbaring di tempat tidur.
Dengan lembut, supaya tidak membangunkannya, aku menaruh anak rubah itu di sebelah Rickle, Socks dan Neshias yang  telah tertidur.
Saat aku menutup mataku yang lelah, kesadaranku jatuh ke dalam kegelapan dengan segera.
Pikiran terakhirku adalah, yah, aku sangat lelah. Kesan semacam itu. Kami dapat bertahan hidup dengan selamat untuk hari ketiga.



Only Sense Online Jilid 2 Bab 5 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.