29 Februari 2016

My Dearest Jilid 2 Chapter XII

MY DEAREST JILID 2
TRUTH OF THE WORLD'S DESTINY
CHAPTER XII
ANGGELA VS HAIKAL

Bagian Pertama: 
Asap yang berasal dari tanah akhirnya telah menghilang sepenuhnya.Pada akhirnya terlihat jelas Litias yang sudah berdiri dihadapan lelaki berambut coklat dan Savila. 
Terlihat juga Eve yang sudah tidak sadarkan diri. Dia pingsan dipangkuan Litias. 
“Se-sejak kapan!?” lelaki berambut coklat terlihat sangat terkejut menatap Litias. Aura kemarahan mulai muncul di sekitarnya. 
“Saat benturan tadi, aku tidak seratus persen menggunakan kemampuanku. Itu hanyalah pengalih perhatian untuk menangkap targetku,” senyum Litias, nadanya terdengar meremehkan. 
“Kembalikan! Kembalikan dia!!” 
“Maaf, tidak bisa ....Tapi bila aku boleh jujur, aku tidak menginginkannya juga –“ 
“Lalu kenapa –“ 
“Tapi ini perintah Kak Keina! Perintahnya adalah mutlak!!” 
Ke-Keina!? Ba-bagaimana mungkin!? Seharusnya dia sudah mati oleh ras kami!! Kenapa dia masih bisa hidup!? Apa dia berhasil selamat dari pertarungan itu?“ Savila sangat terkejut dalam hatinya. Wajahnya terlihat khawatir sambil terus memperhatikan Litias. 
Sialan! Cepat kembalikan dia!!’ teriak lelaki berambut coklat sangat kesal.Seketika dia menggunakan kemampuannya yang hampir mirip seperti Els, akan tetapi ini lebih cepat dari skill Els dengan warna kuning keemasan. 
Lelaki tersebut berniat menyerang Litias secara langsung. 
Litias tidak bergerak sedikitpun dan malah meleparkan Eve ke atas langit. 
Setelah itu dia mulai bergumam pelan, “Weisse Krone ...!!” 
SRIINKKK!!! 
Dalam sekejap muncul puluhan tulang tajam dari tubuhnya, tulang tersebut sudah siap melindungi Litias dari lelaki berambut coklat yang menghampirinya. 
Lelaki berambut coklat mengurungkan niatnya untuk menyerang Litias. Dia berhenti 1m dihadapan Litias, tapi. 
WUNGGGG!!! 
Puluhan tulang yang sebelumnya muncul dari tubuh Litias seketika melayang sangat cepat dari tubuhnya. Terus melesat ke arah lelaki berambut coklat itu. 
Haikal!!” teriak Savila khawatir. 
Lelaki bernama Haikal itu melompat ke belakang dan mulai memukul keras tanah sambil meneriakan.
Pukulan Halilintar!!” 
JELEGARR!!! 
Tanah bergoncang akibat benturan petir dari tangan kanannya. Sebuah bongkahan tanah yang cukup besar melayang dihadapan Haikal karena pukulan tersebut. 
Alhasil serangan Litias tertahan oleh tanah tersebut. 
Tapi saat tanah tersebut disingkirkan oleh Haikal, Litias telah menghilang cukup cepat dari hadapannya. Dia membawa lari Eve. 
Ya, serangan Litias tadi hanyalah sebuah pengalih perhatian agar dia bisa melarikan diri.Karena bongkahan tanah yang cukup besar tersebut, jarak pandang Haikal dan Savila terhalang. 
“Ayo kita kejar Savila!!” teriak kesal Haikal, wajahnya benar-benar terlihat sangat marah. 
“Ya –“ 
“Tunggu dulu!! Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan mudah, Savila!!” teriak kesal Anggela yang tiba-tiba muncul dibelakang Savila. 
“Anggela….” Geram kesal Savila berbalik menghadapnya. Dia berjalan mundur mendekati Haikal. 
“Cepat katakan dimana Anggelin –“ 
“Siapa kau?!!” teriak kesal Haikal menatap tajam Anggela. 
“Aku tidak mempunyai urusan denganmu!!” Anggela membalas teriakan Haikal. 
“Sialan –“ kesal Haikal, wajahnya terlihat benar-benar marah sampai Savila mulai berbisik kepadanya. 
“Dia bodyguard Keina yang sebelumnya aku bicarakan …, Anggela. 
“Hooo, jadi bala bantuan musuh sudah datang, kah?” senyum kesal Haikal terlihat bersemangat. Dia berjalan beberapa langkah dan terlihat sedang melindungi Savila. 
Suasana tegang mulai muncul.

Anggela dan Haikal sama-sama memberikan tatapan tajam pada masing-masing lawannya. 
“Savila! Cepat katakan dimana Anggelina –“ 
“DIAM!! Jadi kalian yah orang-orang yang membantai keluarga Skyline!?” teriak kesal Haikal. 
“Hah? Apa maksudmu!?” kesal Anggela terus menatap tajam lawan bicaranya. 
“Hati-hati Haikal, Anggela itu cukup kuat .... Tipe kinesisnya sama persis denganmu,” bisik Savila cukup khawatir. 
“Hoooo ...,” Haikal perlahan memejamkan mata. Dia berniat menggunakan skill sebelumnya, skill yang sangat mirip dengan Els. 
BOMMMM!!!!!! 
Sebuah ledakan cukup besar muncul dari arah Anggela dan Haikal, tidak dapat dipungkiri kalau ledakan tersebut berasal dari keduanya yang menggunakan skill mereka. 
Lalu beberapa detik kemudian setelah ledakan tersebut memudar, terlihat Anggela yang cukup cepat melayang kebelakang. 
Wajahnya terlihat kesakitan karena serangan Haikal. 
DUARKGHHH!!! 
Dia menabrak pohon besar yang berada di taman tersebut. Wajahnya semakin kesakitan karena hal tersebut.
“Arghh…” 
“Savila, cepat kejar gadis itu!!” teriak Haikal melirik Savila. Tubuhnya masih tetap bersiaga. 
“Tap-tapi bagaimana denganm –“ khawatir Savila menatap Haikal. 
“Aku bilang, KEJAR DIA!!!” teriak Haikal sangat kesal. Dia sungguh terlihat marah karena gadis yang sudah dia anggap adiknya itu diculik. 
“Ba-baiklah ...!” Savila cukup panik, secara perlahan tubuhnya terurai menjadi api biru, api tersebut terbang cepat ke arah Litias pergi. 
“Baiklah bocah …. Bagaimana kita menyelesaikan ini?” senyum kesal Haikal berjalan menghampiri Anggela. 
“Bocah?! Itu juga masih berlaku untukmu, bocah sialan ...!!” geram Anggela mulai berdiri. Dia juga masih terlihat marah mengingat nasib adik kecilnya yang belum ia ketahui. 
Sebelum pertarungan itu dimulai, Ai yang sebelumnya bersama Anggela terlihat pingsan di tempat persembunyiannya. 
Siapa lagi pelakunya kalau bukan Anggela? Dia membuat Ai pingsan agar tidak terlibat lebih jauh lagi dengan masalahnya. Nyawanya bisa terancam jika dia terus mengikuti Anggela. 
BOAMMM! 
Tembakan Railgun yang cukup keras mulai terdengar. 
Meriam petir tersebut bergerak sangat cepat kearah Haikal yang sedang berjalan ke arah Anggela, wajahnya sungguh terlihat tenang.
Tapi sayang …, arah meriam tersebut dibelokkan oleh Haikal. 
Bukan hal yang sulit bagi seorang Kineser tipe Electrokinesis untuk membelokkan arah jalur meriam bertegangan listrik tersebut. 
“Apa kau sudah mengerti?” senyum Haikal terus berjalan menghampiri Anggela. 
“Ya aku mengerti!!” teriak kesal Anggela berlari menghampiri Haikal. 
Sepertinya percuma saja jika menggunakan ilmu kinesis secara jarak jauh…,”gumam Anggela terus berlari. 
Pasir besi yang berada didalam tanah mulai bergerak terangkat ke atas. Terus bergerak cukup cepat dan berkumpul di telapak tangan Anggela. 
Pasir besi tersebut secara perlahan berubah menjadi pedang besi yang sangat tajam, pedang berwarna hitam dengan kerusakan seperti gergaji mesin yang tidak bersuara. 
SWINGG!!! 
Electromagnetic Sword!!!” teriak Anggela mula menebas Haikal secara horizontal, dari atas ke bawah. 
“Cukup pintar,” senyum Haikal memiringkan tubuhnya kesamping kiri sehingga dia bisa menghindari serangan Anggela. 
Setelah itu, dia memegang pergelangan tangan Anggela yang memegang pedang tersebut. Dia menarik kerah Anggela dengan tangan kanannya. 
WINGG BUAKKKK!!!! 
Anggela dibantingkan ke tanah oleh Haikal dengan teknik judo, wajah Anggela terlihat sedikit kebingungan saat itu. 
“Aku ingin tau bagaimana jika serangan ini langsung mengenai lawan….” Senyum kesal Haikal, dia mengepalkan tangan kirinya. 
WUZZZTTTTT!!!! 
Percikan listrik berwarna emas seketika berkumpul di tangan kirinya. Dengan sangat cepat dia melayangkan pukulan tersebut ke arah Anggela. 
BOAMMMMMM!!!! 
Ledakan cukup besar kembali terjadi, ledakan berwarna kuning keemasan karena skill Haikal. 
ZWIBT ZWIBT!!
Jika terkena tersebut secara langsung, sudah dipastikan kalau nyawa Anggela akan langsung melayang. Tapi, untung saja sebelum pukulan itu mengenai dirinya, Anggela berhasil menahan serangan tersebut dengan skill Divider. 
Pukulan Haikal tertahan oleh tangan Anggela, sedangkan aliran listrik yang harusnya membakar Anggela sudah teruraikan dan dia selamat dari ledakan tersebut. 
Dia menggunakan Els, bergerak cepat beberapa meter menjauhi Haikal. 
Wajah Anggela cukup terkejut sambil melihat tangan kanannya. 
Ke-kembali!? Sebagian kemampuanku sudah kembali!?” 
Beberapa meter diatas gedung dekat lapangan itu. Halsy dan El terlihat sedang berdiri melihat pertarungan Anggela dan Haikal. 
Divider? Skill itu seharusnya hanya dapat digunakan ditingkat master ke atas. Apa kamu mengembalikkan sebagian kemampuannya, Empress?” lirik El pada Halsy. 
Halsy hanya terdiam, dia mengacuhkan pertanyaan dari El. 
“Bukankah kau sudah tidak peduli lagi dengannya?” 
“Ya, tidak peduli,” jawab singkat Halsy sambil terus menatap pertarungan Anggela dan Haikal. 
“Lalu kenapa? Apa kau merasa bersalah karena sudah menggunakan adiknya demi tujuanmu.“ 
“Aku sudah mengatakannya padamu. Aku tidak akan meminta maaf pada siapapun karena sudah menggunakan Anggelina sebagai pionku. Selain itu, jika aku tidak mengembalikan sebagian kekuatannya tadi, Anggela hanya akan mati sia-sia. Aku masih bisa memanfaatkannya, senyum arogan dari Halsy melirik El. 
“Begitu …,” El hanya tersenyum sedih sambil memejamkan matanya sesaat. 
“Kita pergi!” kesal Halsy membalikkan badan, dia berjalan cepat ke arah dimensi baru yang muncul. 
Untuk sesaat Halsy menggigit bibir bagian bawahnya. Dia sedikit mengepalkan kedua tangannya sambil terus berjalan menuju gerbang yang baru saja muncul. 
***

Bagian Kedua:
Kembali ke tempat pertarungan yang cukup menegangkan.
“Woah kamu berhasil selamat, yah? Cukup mengagumkan …,” senyum kesal Haikal berjalan menghampiri Anggela. 
Asha…,” pelan Anggela sambil terus melihat Haikal. 
Haikal seketika menghentikan langkahnya, wajahnya terlihat sangat terkejut melihat Anggela. Raut wajahnya berubah menjadi kesal, wajah yang dipenuhi oleh kemarahan. 
“Bocah, apa maksudnya itu!?” 
“Sudah kuduga kau tau tentang dirinya.“ 
“Apa hubunganmu dengannya!?” kesal Haikal sambil mengepalkan kedua tangannya. 
Me-mengejutkan …, aku tidak menyangka kalau nama itu benar-benar terkenal didaerah ini…,” gumam Anggela terkejut dalam hati. 
“HEI BOCAH!! AKU BERTANYA PADAMU!” teriak murka dari Haikal. 
“Me-memangnya apa masalahmu? Aku tidak berkewajiban menjawab pertanyaanmu!!” senyum kesal Anggela cukup gugup. 
“Bocah sialan …!” geram Haikal pelan, tekanan nadanya sangat dalam. 
“Kemarilah …. Kita selesaikan ini, peniru,” senyum Anggela bersiaga. 
“Peniru ...? Ahaha– aku akan membuatmu bicara, bajingan.” Kesal Haikal menutup matanya sesaat. 
“Benarkah? Tapi aku ragu kau bisa melakukannya,” senyum Anggela, dia kembali menggunakan kemampuan percepatan listriknya, Els. 
Dia bergerak sangat cepat mendekati Haikal dengan kemampuan tersebut. Lelaki berambut putih itu berniat menendang dada Haikal dengan kaki kanannya. 
Haikal cukup terkejut dan tidak memiliki cukup waktu untuk menghindari serangan Anggela. Alhasil dia menahan serangan Anggela tersebut dengan menyilangkan kedua tangan. 
DUUUAAKKKK!!! 
Setelah hantaman keras dari Anggela, Haikal terlempar kebelakang sejauh beberapa meter. Saat Haikal masih melayang di udara, Anggela mulai bergumam sedkit sombong. 
“Bodoh sekali kau menahan langsung serangan seperti itu.” 
Sa-sakit…!” kesal Haikal dalam hati, dia terus melayang cepat mendekati tiang lampu jalan di taman tersebut, tapi saat beberapa meter sebelum dia menabrak tiang. 
Dia terhentikan oleh pukulan keras Anggela. 
DUAKKK!! DUMMMM!!! 
Ya, Anggela kembali menggunakan kemampuan sebelumnya untuk mengejar Haikal yang sedang melayang. 
Dia memukul keras perut Haikal hingga ia terbentur ke tanah. 
Saat ini Haikal terlentang kesakitan, Anggela mengangkat tangannya dan berniat memberikan pukulan terakhir untuk mengakhiri pertarungan.
Meski tidak sepenuhnya, kekuatanku sudah kembali. Ini lebih dari cukup untuk mengalahkannya.” 
Sebelum melayangkan pukulan terakhirnya, Anggela terlihat kecewa menatap Haikal yang terus merapat dengan tanah.
“Aku pikir kau sangat kuat, tapi sepertinya aku terlalu berlebihan menilaimu….” 
HYUNGGG!!! JLEGAARRRR!!! 
Ledakan petir berwarna biru tua seketika muncul ketika Anggela melayangkan pukulannya pada Haikal. Siapapun yang melihat hal itu pasti akan berpikir kalau itu adalah akhir dari pertarungan.
Akan tetapi .... 
Setelah beberapa detik dari ledakan itu, terlihat Haikal yang sudah menghilang dari tempat terakhirnya. 
Anggela hanya memukul tanah yang kosong hingga tanah tersebut menjadi cekung tidak karuan. 
“Menganggumkan,” senyum Haikal sangat dekat dengan Anggela. Dia berbisik pada telinga Anggela. 
Anggela cukup terkejut dan menjauhi Haikal dengan kemampuan Els-nya. 
Ad-ada apa orang ini? Ap-apa dia dari tadi hanya mempermainkanku saja?” 
“Kemampuanmu cukup luar biasa…, mungkin Tingkat Enam yah,” senyum Haikal memejamkan matanya sesaat. Dia benar-benar terlihat sangat santai.

“Si-siapa kau sebenarnya?” Anggela terlihat segan menatap Haikal. Kedua tangannya bergemetar. 
“Haikal Aeldra, ingatlah nama orang yang akan mengalahkan –“ 
“Aeldra!?” teriak kesal Anggela menatap tajam Haikal. 
“Ya itu nama keluargaku, memangnya kenap –“ 
“Kau…. Apa hubunganmu dengan Halsy?!” 
“Halsy?” Haikal terlihat kebingungan. 
Ah sial, aku lupa!! Ini di masa lalu, mustahil bagi dirinya untuk mengetahui Halsy!” 
“Baiklah kalau begitu. Izinkan aku merubah pertanyaanku,” senyum Anggela memejamkan matanya sesaat. 
“Ap-apa kau mengenal Hana Aeldra?” lanjut Anggela. 
Kembali wajah Haikal terlihat sangat serius, wajah yang benar-benar terlihat marah. 
“Bagaimana kau tau tentang nama itu!?” 
“Kau mengenalnya yah .…” Anggela terlihat arogan. 
“Dia kakak perempuanku, apa yang sudah kau lakukan padanya!?” 
“Bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu..” 
“Sialan…. Sekarang aku memiliki alasan yang lebih kuat untuk membuatmu bicara. Siapkan dirimu, aku akan mulai meladenimu sekarang,” 
“Meladeni? Jadi kau masih belum mau serius, yah?” 
Haikal mengabaikan pernyataan Anggela dan mulai mengangkat tangan kirinya hingga sejajar dengan bahunya. 
Percikan listrik berwarna keemasan seketika muncul dari pergelangan tangannya. 
Semakin lama, semakin membesar percikan listrik tersebut. Tanah pun sedikit bergoncang karena skill Haikal tersebut. 
Anggela terlihat semakin waspada karena melihat tindakan Haikal. Dia terlihat sudah sangat siap bertempur dengannya, tapi. 
BUAZZZTTTTTT!!!! 
Haikal menempelkan tangan kirinya tersebut pada dadanya, dia tersenyum bersemangat dan mulai berkata.
“Kau akan menjadi orang kedua yang melihatku dalam bentuk ini.” 
Dalam sekejap tubuh Haikal meledak karena jumlah electron yang berlebihan dalam tubuhnya. 
Untuk beberapa saat, jarak pandang Anggela sedikit terhalang oleh ledakan petir kuning yang Haikal ciptakan. 
Lalu setelah ledakan tersebut berakhir, terlihat Haikal dengan seluruh tubuhnya terbungkus oleh pelindung listrik berwarna kuning keemasan, dia menutup matanya dan masih terlihat fokus . 
Sudah dipastikan kalau udara disekitarnya benar-benar dialiri oleh listrik yang cukup tinggi. 
Helaian rambut, baju, dan bebatuan kecil di tanah melayang karena tekanan aura yang diciptakan oleh skill tersebut. 
Anggela hanya terdiam terkejut karena melihat peristiwa itu, Dia mulai bergumam sedikit ketakutan dalam hatinya.
Ke-kemampuan apa itu? Da-dan yang lebih penting, tekanan macam apa ini? Tubuhku benar-benar tidak bisa berhenti bergemetar.” 
Cahaya kedua ...,” jelas Haikal membuka matanya, warna bola matanya terlihat memudar dari warna sebelumnya. 
“Aku tidak tau apa yang kau lakukan, tapi aku akan tetap menghajarmu!” khawatir Anggela menggunakan kemampuan Els ke arah Haikal, tapi. 
Beberapa detik setelah dia melakukan skill tersebut, terlihat Haikal yang sudah berhadapan dengannya. 
Dalam hitungan yang sangat cepat tersebut, wajah Anggela dan Haikal benar-benar sangat dekat. 
Anggela benar-benar terkejut melihat Haikal yang berada di depannya. Belum 1m Anggela begerak menjauhi tempat sebelumnya, tapi Haikal sudah berada didepannya. 
Haikal menendang keras perut Anggela dengan lutut kanannya. Sontak Anggela memasang wajah yang sangat kesakitan. 
Satu per-sekian detik sebelum Anggela melayang, Haikal mulai berbisik pelan pada telinga Anggela,
Lambat ....” 
BUAK!!!!! HYUNGGGG!!!!!! 
Anggela melayang sangat cepat ke belakang karena serangan Haikal, terus melayang jauh mengarah tembok bangunan yang berada di luar taman. 
Sebelum dia melewati batas taman, seketika Haikal sudah berada di atasnya. 
Dia memukul keras perut Anggela seperti yang dilakukan oleh Anggela padanya. 
Pukulannya lebih keras dari Anggela hingga membuat tubuh Anggela terbentur dan kembali melayang di hadapannya.
DUARKGGHH!! 
“Aku berikan combo tambahan!” 
BUAKKK!!!!! HYUNGGGGGG!!!! 
Anggela dilemparkan ke atas dengan tendangan keras yang Haikal berikan. Wajahnya terlihat kesakitan sambil bergumam kesal dalam hatinya.
Ke-kecepatan macam apa itu!? Aku bahkan tidak memiliki waktu untuk bernafas….” 
Haikal merentangkan kedua tangannya, tekanan disekitarnya menjadi lebih dalam dan mulai bergoncang hebat. 
Bersamaan dengan goncangan hebat tersebut, percikan petir berwarna kuning keemasan seketika muncul dari masing-masing tangannya. 
Lalu dirasa sudah cukup, Haikal menggabungkan percikan listrik tersebut dengan menyatukan kedua tangannya, dia menyatukan tangannya tepat ke arah Anggela. 
BEMM!!!!! 
Saat percikan itu disatukan, tekanan dan goncangan disekitarnya menjadi lebih hebat dari sebelumnya. 
Sebelum skill itu aktif, Haikal mulai tersenyum sambil menyebut pelan nama skill yang ia gunakan. 
Pembelah Horizon….” 
Cesss .…
BOAMMMM!!!!! WUAMMMM!! WUAMMMM!!! 
Tembakan laser emas yang dialiri listrik tinggi melesat sangat cepat mendekati Anggela. Saat skill itu aktif, goncangan disekitarnya menjadi lebih hebat dari sebelumnya. 
Diameter, kecepatan, dan daya rusak skill ini benar-benar lebih parah dari skill Giga Streammilik Anggela. 
Sudah dipastikan Anggela akan mati atau bahkan hancur lebur jika terkena serangan seperti itu. 
Anggela berniat menahan serangan tersebut dengan skill Divider, tapi sayang kecepatan tembakan lasser tersebut cukup cepat, jadi ….
Inikah akhirnya?” gumam sedih Anggela memejamkan mata, tapi… 
“Bo …, doh! Aku tidak akan membiarkanmu mati semudah itu…,” jelas Haikal yang tiba-tiba berada di depan Anggela, setelah itu dia menarik kerah baju Anggela dan melemparkannya ke bawah. 
DUAKKKK!!! KRAAKK!! 
Anggela membentur tanah dengan sangat keras, kedua kakinya patah karena benturan tersebut. 
Ya, itu masih lebih baik daripada dia harus menghadapi ajalnya. 
Kini Anggela hanya terus terpelungkup menghadap tanah, tidak dapat bergerak. 
Wajah frustasilah yang ia perlihatkan saat itu. Dia merasa frustasi karena kelemahan dan ketidakberdayaanya melawan lelaki bernama Haikal. 
Dia dilecehkan, dipermalukan, bahkan diberikan belas kasihan oleh lawannya. 
Bahkan di detik-detik terakhirnya pun, dia diselamatkan oleh lelaki tersebut, lelaki yang menjadi lawannya. 
Haikal dalam sekejap sudah berdiri di dekat Anggela, seluruh skill sudah tidak aktif. 
Haikal terlihat sedih sambil menatap langit. Dia bergumam pelan sambil terus menatap langit. 
“Bukankah sudah cukup? Bisa kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi? Apa hubunganmu dengan Kak Hana, Asha, dan Savila.” 
***

My Dearest Jilid 2 Chapter XII Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.