23 Februari 2016

My Dearest Jilid 2 Chapter XI




MY DEAREST JILID 2
TRUTH OF WORLD DESTINY
CHAPTER XI
SANG PUTRI MAHKOTA

Bagian Pertama 
Berlin, Jerman 2024.

Di malam hari yang sepi dari orang-orang, terlihat seorang lelaki berambut coklat yang berhadapan dengan Anggela dan Ai. Lelaki itu memasang wajah kesal sambil melindungi Savila yang berada dibelakangnya.

Suasana saat itu sangat tegang. Dari kedua belah pihak sama-sama memberikan tatapan tajam pada pihak lawannya.

Anggela mulai berjalan selangkah dan berteriak kesal hingga menggema di daerah sekitar.

“Savila!! Cepat katakan dimana Anggelina –“

“DIAM ...!! Jadi kalian yah orang-orang yang membantai keluarga Skyline!?” teriak kesal lelaki berambut coklat itu. Aura kemarahan lekas keluar disekitarnya.

“Hah? Apa maksudmu!?”

“Hati-hati Haikal, lelaki yang menjadi bodyguard Keina itu cukup kuat. Tipe kinesisnya sama persis denganmu,” bisik Savila khawatir.

“Hoooo ....” Lelaki bernama Haikal mulai memejamkan matanya sesaat. Lalu ketika dia kembali membuka matanya, dalam sekejap dia telah berada di hadapan Anggela. Dirinya menggunakan percepatan listrik seperti Anggela. Akan tetapi warna listriknya terlihat berbeda, yakni warna kuning keemasan yang indah.

BOMMMM!!!!!!

Sebuah ledakan cukup besar muncul dari arah Anggela dan Haikal, tidak dapat dipungkiri kalau ledakan itu berasal dari Haikal dan Anggela yang menggunakan skill mereka.

Beberapa jam sebelum pertemuan itu, pertarungan itu, dan ledakan itu. Anggela akhirnya sampai di Jerman dengan teman yang baru ia kenalnya, Ai. Dia mulai melangkahkan kakinya tanpa tau harus kemana dia mencari Savila.

“Tunggu!!” jelas Ai menarik tangan Anggela.

“Kenapa?” Anggela melirik Ai yang berada dibelakangnya.

“Apa kamu ingin meninggalkan kekasihmu sendir –“ Ai dengan wajah malu yang dibuat-buat.

“Mau sampai kapan kau berakting seperti itu?” tanya Anggela datar melihat tingkah Ai.

“Booo, tidak seru ah ....” Ai mengeluh kesal memalingkan wajahnya.


“Ai, terima kasih sudah mengantarku sampai sini. Kamu bisa pulang sekarang.”

“Memangnya kau mau pergi kemana? Kau yang sekarang hanyalah orang asing di kota ini. Kau hanya akan tersesat.”

“Bukankah itu berlaku untukmu juga –“

“Tidak, sayang sekali tapi aku cukup mengenal kota ini. Kak Arisa dan Master sudah beberapa kali mengajakku kesini saat ada rapat aliansi guild.”

“Ohhhh guild kalian memiliki Aliansi?”

“Tentu saja! Sudah hal yang wajib bagi guild besar seperti kami memiliki Aliansi.”

“Jadi kita kemana, ke gedung aliansi itu?“

“Tidak ..., gedung itu hanya dipakai untuk pertemuan saja. Jika kita kesana, gedung itu hanya akan kosong..”

“Jadi kesimpulannya?” tanya Anggela pelan, nadanya mulai terdengar sedikit kesal.

“Aku juga tidak tau kita mau kemana, hahahaha –“

“Jangan tertawa!! Bukankah itu tidak ada bedanya denganku!”

“Tentu saja berbeda –“

“Ya ya ya, kita cari makan dulu saja,” lanjut Anggela sambil melirik sekitarnya. Dia mulai berjalan kembali sambil mencari sebuah restoran atau tempat untuk mereka makan.

“Ah tunggu, Anggela!” Ai dengan wajah cemberut, dia berjalan cepat mengikuti Anggela.

Lalu beberapa menit kemudian akhirnya mereka menemukan sebuah restoran. Restoran tersebut tidak terlalu berkelas ataupun sebaliknya. Keduanya terlihat makan saling berhadapan layaknya seperti sepasang kekasih.

“Hei –“ saut Ai yang masih memakan makananya.

“Jangan mengajakku berbicara ...,” datar Anggela sambil kembali memakan makanannya.

“Kenapa? –“

“Apa kau tidak tau tatak rama ...!?”

“Ya ya ya, sayang,” senyum manis Ai kembali menggoda Anggela.

“Aku akan meninggalkanmu –“

“Aku hanya bercanda loh! Kenapa kau begitu kaku?”

“Bukan kaku, tapi itu tidak lucu–“

“Aahhh aku mengerti ...,” senyum Ai kembali melihat Anggela.

“Mengerti apanya?”

“Halsy, kah? Apa itu nama kekasihm –“

Anggela yang mendengar hal itu lekas sangat terkejut. Dia berdiri dari tempat duduknya dan mengajukan pertanyaan dengan nada dtinggi..

“Darimana kau mendengar nama itu!!?” Semua pandangan mulai tertuju pada mereka berdua.

“He-heei ...,” khawatir Ai melirik sekitarnya.

“Ma-maaf ...,” senyum sedih Anggela kembali duduk.

“Kenapa wajahmu mengerikan seperti it –“

“Itu tidak penting, aku hanya ingin bertanya .... Dimana kau mendengar nama itu?!” tanya kembali Anggela menutup matanya. Nadanya terdengar cukup berbeda hingga membuat wajah Ai khawatir..

“Te-tenanglah Anggela ..., untuk sekarang kita keluar sebentar,” Ai mulai berdiri dan menarik lengan Anggela.

Satu-satunya kalimat yang terpikirkan oleh semua orang dalam restoran itu ketika melihat mereka adalah.

“Pertengkaran antar kekasih ...?”

Sesampainya diluar, Ai lekas berbalik dan memandang Anggela dengan wajah yang sangat serius. Kedua tangannya bergemetar sambil mengajukan pertanyaan dengan nada khawatir.

“Ap-apa yang terjadi?”

“Hah? Apanya apa yang terjadi?” Anggela memalingkan wajah sesaat.

“Kenapa kau malah membalikkan pertanyaanku?” Ai memasang wajah datar.

“....”

“Aku mendengar nama itu saat di rumah sakit, saat pertama kali kamu bertemu dengan master,” lanjut Ai dengan wajah mengeluh.

“Ah iya, benar juga,” senyum sedih Anggela.

“Jadi?”

“Jadi apanya?”

“Si-siapa dia?” Ai terlihat gugup, wajahnya pun terlihat memerah.

“Halsy?”

“Iya!”

“Dia teman masa kecilku,” senyum Anggela.

“Ohh –“

“Kekasihku.”

“Tu-tunggu –“ Ai terlihat cukup terkejut, tapi kembali terpotong oleh Anggela.

“Dan juga tunanganku ...,” Anggela terlihat sedih memejamkan mata.

Ai terdiam menatap Anggela, wajahnya terlihat kesal karena perkataan terakhir Anggela.

“Kenapa?”

“Kenapa tidak bilang langsung saja, kalau dia itu tunanganmu!” teriak kesal Ai, dalam sekejap mereka kembali menarik perhatian di luar restoran.

“Eh baiklah, maaf –“

“Kenapa kau malah meminta maaf?! Hal itu semakin membuatku kesal!” jelasnya sambil berjalan masuk kembali ke restoran.

“Kenapa kau harus marah? Aku tidak mengerti,” Anggela mengeluh sambil berjalan mengikuti Ai.

Saat mereka kembali masuk, para pengunjung lainnya mulai memperhatikan mereka kembali. Mereka cukup terkejut sambil bergumam dalam hatinya yang cukup sama,

Keadaan berbalik, sekarang sang wanita yang terlihat marah.”

“Ak-aku tidak marah!” Ai terlihat memerah menutup matanya.

Aaah ya ampun, kenapa aku jadi sangat kesal!” kesal Ai dalam hati.

“Ya sudahlah ..., sekarang kita bayar makanan kita dan pergi dari sini. Oh iya, tolong lupakan masalah tadi ..., Halsy sudah meninggal, jadi jangan ungkit lagi masalah itu,” senyum sedih Anggela sambil berjalan melewati Ai yang terdiam terkejut.

Setelah menyelesaikan urusan pembayaran dalam restoran tersebut, mereka berdua berjalan-jalan mengelilingi kota, berjalan dengan suasana yang sangat canggung.

Se-sekarang bagaimana, aku jadi merasa bersalah karena mengungkit masa lalunya yang tidak ingin ia ingat ...,” Ai terlihat khawatir mulai melirik Anggela.

“Tidak biasanya dia menjadi pendiam seperti ini, biasanya dia akan terus berbicara sampai aku ingin menutup mulutnya. Apa dia masih marah karena masalah tadi?” Anggela terlihat sedih melirik Ai.

Pandangan mereka akhirnya bertemu, dengan cukup cepat keduanya lekas mengalihkan pandangannya. Suasana semakin canggung karena hal tersebut.

Tapi untung saja, beberapa detik setelah kejadian tersebut, terdengar suara ledakan yang cukup keras, ledakan yang cukup jauh dari tempat Anggela.

JELEGARRRR

Anggela terlihat terkejut dan mulai berbalik ke belakang, tempat ledakan tersebut. Dia berlari ke arah ledakan tersebut. Ai juga terlihat ikut berlari dibelakangnya.

“Ang-Anggela?”

Cukup lama Anggela sampai di tempat ledakan itu karena jaraknya yang cukup jauh. Kepanikan benar-benar terasa saat itu. Bagaikan serangan ledakan yang dilakukan oleh teroris pada umumnya.

Ketika keduanya sampai, terlihat kobaran api yang tidak wajar fokus membakar lima orang yang sedang merampok Bank.

Kobaran api tersebut tidak membakar bangunan atau orang yang lainnya. Satu-satunya yang terpikirkan oleh Anggela saat itu adalah.

Kineser tipe Pyrokinesis ..., Savila?!”

Anggela lekas mencari seseorang di kerumunan tersebut. Siapa lagi kalau bukan Savila, orang yang mengetahui keberadaan adiknya.
  
Beberapa menit mencari, akhirnya dia berhasil menemukannya. Terlihat Savila yang berjalan cepat meninggalkan lokasi kejadian. Gadis berambut merah itu terlihat menarik lelaki berambut coklat itu untuk menjauhi kerumunan yang mengelilingi bank.

Anggela berniat berteriak kembali, berteriak amat kesal memanggil namanya, akan tetapi

“SAVI –“

“Tunggu Anggela!” jelas Ai sangat kesal. Dia menarik tangan kanan Anggela.

“Apa yang kau lakukan!?” tanya kesal Anggela menatap tajam Ai.

“Setelah itu apa yang akan kamu lakukan?! Apa yang akan kamu lakukan setelah berteriak memanggil namanya!?”

“It-itu –” Anggela terlihat kebingungan.

“Dia hanya akan lari lagi darimu, dan juga mustahil bagi kita untuk mengeluarkan kemampuan Kinesis kita disini! Hal itu hanya akan membuat kericuhan bertambah, pada akhirnya orang yang sedang kamu kejar akan memanfaatkan kericuhan itu untuk –“

“Baiklah-baiklah, aku paham! Jadi sekarang bagaimana?”

“Kita awasi dia, saat sedang tidak ada orang normal, kita akan menyergapnya. Itu satu-satunya pilihan jika kamu ingin memaksanya bicara dengan kemampuanmu.”

“Ya baiklah.”

***

Bagian Kedua 
Anggela dan Ai mulai mengikuti Savila yang sedang berjalan bersama lelaki berambut coklat.

Savila dan lelaki tersebut berjalan memasuki restoran yang cukup mewah, mereka berjalan menghampiri gadis manis berambut kuning yang sedang memakan ice cream yang sangat besar. Gadis tersebut terlihat berumur tujuh tahunan.

“Lama sekali Kak ...,” keluh gadis kecil tersebut, dia mengembungkan pipinya hingga wajahnya terlihat lucu.

“Maaf Eve ...,” senyum lelaki berambut coklat sambil duduk disamping gadis bernama Eve.

“Jadi itu siapa? Kekasih barumu?” tanya Eve melirik Savila.

“Kenapa kau berpikir seperti itu? Dia pelaku yang membuat kericuhan tadi.”

“Lalu kenapa Kakak malah membawanya kemari?” tanya datar gadis berambut kuning itu.

“Karena dia berniat membunuhku tadi,” lelaki berambut coklat tersebut terlihat mengeluh menutup matanya sesaat.

“Owang noarmal sheharu –“ Eve sambil kembali memakan ice cream-nya.

“Jika kamu ingin mengatakan sesuatu, telan dulu makananmu, Eve ...,”senyum lelaki tersebut mengusap pelan kepala Eve.

“....” Savila hanya tersenyum gembira melihat tingkah mereka.

“Ohhh iya, kamu mau ini?” tanya Eve sambil memberikan sisa ice cream-nya yang cukup banyak.

“Ti-tidak, terima kasih ...,” senyum heran Savila memiringkan kepala.

“Oh, baiklah,” Eve sambil kembali melirik lelaki berambut coklat.

“Ap-apa?”

“Habiskan Kak ...,” tunjuknya pada sisa Ice cream.

“Kenapa harus aku? Kau sendiri yang merengek minta dibelikan itu, kan?”

“Tapi perutku tidak muat menampung semuanya.”

“Makanya tadi aku bilang, yang ukuran biasa saja sudah lebih dari cukup untukmu! Kenapa kamu selalu –“

“Tapi kan ukuran yang ini terlihat lebih menarik!!”

“Kau lihat dari penampilannya?” datar lelaki itu pada Eve.

“Sudah-sudah ...,” senyum Savila melerai mereka.

“Ummm an-anu ..., bi-bisa aku tau namamu?” tanya Eve kebingungan melihat Savila.

“Aku? Namaku Savila Dreamheart ....”

“­Dreamheart, Half-elf ...?” tanya Eve sambil memegang kepalanya, wajahnya terlihat berusaha keras mengingat sesuatu.

“Ka-kau tau tentang ras kami?!” Savila sontak terkejut menatap penasaran Eve.

“Eve, apa ingatanmu sudah kembali?!” tanya lelaki berambut coklat khawatir.

“Entah ..., tapi secara perlahan aku mulai mengingat sesuat –“

“Eve ..., kau memanggilnya dengan nama itu, kan?” Savila terlihat khawatir menatap lelaki berambut coklat itu.

“Ya, memangnya kenapa? Itu nama yang aku berikan padanya.“

Rambut panjang berwarna kuning emas, warna mata berwarna ungu layaknya permata Amethyst. Ke-kenapa aku baru menyadarinya sekarang ...!” Savila terlihat sangat terkejut, seluruh tubuhnya mulai bergemetar.

“An-Anu Savila .... mungkinkah kamu mengenal tentangku –“

“Sa-sangat mengenal!! Aku sungguh tidak percaya bisa melihat anda kembali, Tuan Putri ....” Savila sedikit menitiskan air mata, kemudian dia mengusap matanya dengan kedua tangannya.

“Tu-tuan Putri?” tanya khawatir lelaki berambut coklat.

“Bisa kau jelaskan sedikit tentangku?” senyum Eve.

“Ya,” Savila menganggukan kepalanya.

“Jadi ...?” lelaki berambut coklat mulai terlihat gugup.

“Anda adalah putri mahkota dari ras kami, putri dari salah satu keluarga bangsawan kelas S dunia .... Putri Selinia Elica Eve Jewelry Althemys Skyline. Rambut dan warna mata anda yang sangat mencolok adalah bukti jelasnya.”

“Tu-tunggu, ras kami? Dan yang lebih penting, apa itu benar namanya!? Bukankah itu terlalu panjang ....” lelaki berambut coklat tersebut terlihat cukup terkejut.

“Aku tidak menyangka anda bisa selamat dari malam malapetaka itu, tuan putri.” Savila tersenyum melihat Eve, dia mengabaikan pertanyaan lelaki berambut coklat.

“Ma-malam petaka?” Eve terlihat kesakitan memegang kepalanya. Kedua tangannya bergemetar cukup ketakutan.

“Malam petaka?” tanya sang lelaki kembali.

“Ya .... Malam pembantaian yang dilakukan oleh Sang Frigidty. Dia membunuh semua anggota keluarga Skyline dalam satu malam.

“Malam pembantaian,” Eve terlihat sedih. Dirinya terlihat mulai mengingat tentang malam tersebut.

“Putri Selenia –“ perkataan Savila terpotong oleh lelaki disampingnya yang berwajah khawatir. Karena pembicaraan mereka yang aneh, sontak mereka menjadi pusat perhatian disana.

“Savila, Eve ..., sebaiknya kita lanjutkan pembicaraan ini diluar. Kita sudah cukup menarik perhatian disini, “

Sedangkan Anggela dan Ai yang tidak cukup jauh dari tempat Savila, mulai mengikuti kembali mereka yang bergerak keluar restoran.

“Sampai kapan kita melakukan ini?” bisik Anggela cukup kesal.

“Sampai kita mendapatkan kesempatan.”

“Tapi kapan kesempatan itu datang?!”

“Mana aku tau! Aku ini bukan Tuhan yang mengatur kehidupan ...,” Ai terlihat sangat kesal melirik Anggela.

Kembali ke tempat Savila dan yang lainnya. Sambil terus berjalan, mereka mulai melanjutkan kembali pembahasan sebelumnya.

“Jadi dugaanku benar yah ..., jika Eve dalam kondisi yang mengkhawatirkan .... Jadi apa motif sang Frigidity itu sampai harus membantai keluarganya,” sedih lelaki berambut coklat pada Eve yang berwajah muram.

“Aku juga kurang tau. Tapi dugaanku ..., dia dan keluarganya berniat menguasai bumi ini. Aku takut kalau setelah dia membantai Skyline, tujuan dia sekarang adalah membantai keluarga Liviandra.”

“Liviandra ..? Dimana aku pernah mendengar nama itu?” lelaki berambut coklat terlihat berpikir.

“Bagaimana ini Kak? Setelah dia membantai keluargaku, dia juga akan membantai keluarga kekasihnya Kak Alfa? Bagaimana ini? Ak-aku sangat khawatir ...,” Eve terlihat cemas menatap lelaki berambut coklat.

Ah sial ..., aku mengingatnya sekarang!! Silca de Liviandra, gadis yang sangat tidak rapih itu juga memiliki nama belakang yang sama dengan nama yang tadi disebutkan Savila. Gawat ..., guild Blizzard sekarang dalam bahaya ...,” batin lelaki berambut coklat tersebut terlihat khawatir.

Karena pembicaraan mereka yang serius, tanpa disadari mereka terus berjalan ke tempat yang sangat sepi. Tidak ada satu orang normal pun yang terlihat di tempat tersebut.

Sebuah lapangan luas yang sudah tidak terpakai, ditambah suasana malam yang sangat mencekam mulai merangkul tubuh mereka.

“Ai, ini kesempatan kita! Ayo serang merek –“ Anggela terlihat bersemangat dan bersiaga untuk menyerang.

“Tu-tunggu Anggela!! Ada yang aneh ....” Ai terlihat sangat cemas melihat sekitar. Dia mulai memperhatikan sekitarnya yang terasa ganjil.

“Apanya yang aneh!? –“

“Ada yang aneh dengan tempat ini. Mustahil di kota besar seperti ini ada lapangan kosong tanpa seorang pun di dalamnya.”

“Jika dipikir-pikir, kamu benar .... Apa mungkin ini ulah seseorang?”

“Ya, ini pasti ulah seseorang ...,” wajah Ai masih dupenuhi kecemasan sambil mengamati sekitar.

“Ta-tapi dimana orang it –“

“Di atas!!” Ai terlihat cukup kesal melihat langit, tatapan tajam mulai diperlihatkan dari wajah manisnya.

Seorang gadis berambut hijau melayang jatuh ke tempat Savila dan yang lainnya. Dirinya tersenyum lebar menatap beberapa orang dibawahnya.

“Gadis itu!!” Anggela cukup kesal menatap tajam gadis tersebut.

Di sisi lain, di tempat Savila dan yang lainnya. Bersamaan dengan waktu Anggela dan Ai, gadis berambut hijau itu terus jatuh ke arah Savila sambil merentangkan kedua tangannya.

Sebuah pedang tajam yang terbuat dari tulang seketika muncul dari lapisan kulitnya. Dia memegang kedua pedang tersebut dengan masing-masing tanganya.

Holy Bone!!” gadis tersebut menebaskan kedua pedangnya secara vertikal ke arah savila dan yang lainnya, tapi.

CRANK!!!!! BWUASHHHHH!!!!!

Asap tebal seketika menyelimuti mereka, Anggela dan Ai tidak bisa melihat dengan jelas karena jarak pandangnya tertutupi oleh debu yang berasal dari tanah.

Beberapa waktu kemudian, asap tersebut menghilang dan gadis berambut hijau tersebut melompat ke belakang. Dia tersenyum melihat lelaki berambut coklat,

“Mengagumkan ....”

“Apa-apaan dengan gadis ini?!” lelaki berambut coklat terlihat masih memasang kuda-kudanya, pedang dari aliran listrik berwarna keemasan masih terlihat dia pegang di tangan kanannya.

“Ad-adahh ..., pe-peruntungan kita hari ini sangat buruk yah,” Savila terlihat sedikit ketakutan melihat gadis berambut hijau itu. Mulai melangkah mundur dengan kedua tangan yang bergemetar

“Tidak salah lagi orang itu adalah ....” Anggela terlihat sangat kesal menatap gadis tersebut dari jauh.

“Kau mengenalnya!?” tanya lelaki berambut coklat dan Ai bersamaan.

“Aku tidak menyangka dia akan muncul .... Sang Elementartoter,”  Savila terlihat bergemetar melihat gadis tersebut yang masih tertutupi oleh asap.

“Kenapa bajingan itu ada disini ....? Gadis yang telah membunuh Eisha, “ Anggela semakin kesal dan murka setelah melihat wajahnya yang jelas.

“Litias ..,” lanjutnya tersenyum mengerikan.

Litias Smaragd Deviluck ...,”  Savila tersenyum ketakutan dengan tubuh bergemetar.

***

My Dearest Jilid 2 Chapter XI Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.