15 Februari 2016

My Dearest Jilid 2 Chapter X


MY DEAREST JILID 2
CHAPTER X
PENGEJARAN
Bagian Pertama:
Anggela kembali berpijak di tanah dengan emosi yang mulai terkendali.Dirinya terus menatap Keina yang masih melayang di udara. Kemarahan yang sebelumnya terlukiskan diwajahnya mulai berubah menjadi wajah khawatir yang penasaran.
 Lelaki berambut putih itu mulai bergumam penasaran dalam hatinya.
 “Anggelina? Tidak, bukan ..., kemampuan Kinesisnya berbeda.”
Di sisi lain, gadis berambut putih mirip Anggelina juga terus menatap Anggela. Dia memasang wajah penasaran, memasang wajah berpikir seolah mencari tahu akansiapa identitas Anggela.
Siapa anak ini!? Kemampuan dan tatapan matanya  ..., benar-benar mirip dengan bajingan itu!” 
Gadis dengan rambut hijau bernama Litas mulai memasang wajah khawatir melihat Anggela. Kedua tangannya terlihat bergemetar sambil melirik gadis bernama Keina.Pada akhirnya, dia mulai berbisik pada Keina yang melayang terbang mendekatinya, 
“Apa Kakak mengenal lelaki itu?” 
“....” 
Tak ada jawaban dari Keina yang berwajah khawatir. Dia mengkerutkan dahinya menatap Anggela seolah berpikir keras akan keberadaan Anggela.
“Siapa kau?!!” Anggela mulai berteriak pada mereka. Teriakannya cukup keras hingga membuat semua orang terkejut. 
Mendengar teriakan Anggela itu, Keina mulai melayang turun ke bawah mendekati Anggela. Wajahnya terlihat tak senang sambil mengajukan pernyataan. 
“Hei anak muda, seharusnya itu adalah pertanyaanku.” 
Anggela hanya menggeram cukup kesal. Mengkerutkan dahinya seakan jika amarah dalam hatinya kembali muncul karena sikap arogan gadis yang melayang dihadapannya. 
“Aku tidak berhak memberitahukan namaku pada seorang pembunuh ....” 
“Tapi sayangnya bukan aku yang membunuh gadis itu,” Keina tersenyum dan melirik tubuh Eisha yang sudah kaku. Setelah itu dia menutup matanya sesaat dan kembali menatap Anggela. 
“Litias yang membunuhnya, jadi bisa kamu katakan namamu, anak muda? Aku sedikit tertarik denganmu.” 
“Apa kau sedang mengejekku!? Sudah jelas jika kau juga bekerja samadengan gadis hijau it –“ 
“Siapa yang kau panggil gadis hijau!? Asal kau tahu saja yah, rambut dan mataku saja yang berwarna hijau!! Jangan menghinaku!!” teriak sangat kesal Litias menatap tajam Anggela. Aura kemarahan darinya sungguh terasa oleh sekitarnya 
“Sudahlah Litias, dia tidak bermaksud –“ senyum Keina melirik temannya itu, akan tetapi. 
WUUUINGGGGGG!! 
Keina tiba-tiba terlempar ke kanan dan hampir menabrak tembok amat keras. Tapi dengan gravitasi miliknya, dia dapat mengontrol tubuhnya. Alhasil dia bisa melayang kembali secara stabil sambil melirik musuhnya. 
“Mengejutkan ...,” Keina terlihat sedikit terkejut. 
“Tak akan kumaafkan!!” teriak kesal Shalsa, tatapannya sangat tajam melihat Keina. Tatapan kemarahan dari seorang ibu yang kehilangan putrinya. 
Keina yang mendapatkan tatapan kemarahan itu hanya tersenyum sambil menatap rendah Shalsa. Senyuman yang seolah menganggap musuhnya tak berharga. 
“Ingin coba melawanku...?”  
“....” Sontak Litias terlihat sangat khawatir ketika melihat ekspresi Keina itu. Tubuhnya terlihat cukup bergemetar sambil mengajukan pertanyaan pada gadis yang dihormatinya itu. 
“Ka-Kakak...? Jangan katakan kalau Kakak ingin serius membunuhnya...?”  
Kini tidak hanya Litias saja yang berwajah khawatir. Tapi semua orang yang berada disana juga ikut berwajah khawatir ketika mendengarkan perkataan gadis yang terlihat kuat seperti Litias.  
“Eh ...?” termasuk Anggela sendiri yang menatap penasaran Keina. 
Magnetic Impact!!” teriak sangat kesal Shalsa. Tatapannya sungguh tajam pada gadis yang melayang dihadapannya.Gadis berambut hijau tua itu melemparkan sebuah gelombang magnet pada Keina dengan sangat cepat. 
Gelombang magnet itu dapat memantulkan apa saja dengan sangat cepat ke atas, tentu saja mahluk hidup juga termasuk. 
Keina hanya tersenyum, mengangkat pelan tangan kanannya. Lalu dengan cukup cepat, dia menundukkan jemari manisnya ke bawah. 
DUUNGGGGG!!!!! 
Kemampuan Shalsa seketika dihancurkan. Tubuh Shalsa pun seketika menjadi sangat berat dan akhirnya membentur ke tanah amat karas. Membuat cekungan tak karuan karena hasil tubrukan tubuhnya dengan tanah. 
DUARGHHH!!! 
Ya, gravitasi bumi disekitar Shalsa telah dirubah oleh Keina menjadi lebih kuat.Shalsa hanya memperlihatkan wajah kesakitan. Tubuhnya tidak dapat bergerak karena gravitasi kuat Keina. Tubuhnya benar-benar terlihat menempel dengan tanah. 
Semua orang semakin berwajah khawatir, tidak terkecuali bagi temannya, Litias. Dia mulai berteriak khawatir padanya. 
“Tu-tunggu Kak ..., jika seperti itu terus, tubuhnya akan hancur!!” 
“Itu tujuanku ...,” senyum manis Keina menutup matanya sesaat. 
Mendengar hal itu, sang suami yakni Kei mulai berkonsentrasi mengeluarkan dua bola api di masing-masing tangannya. Wajahnya terlihat sangat marah dengan tatapan tajam mengarah Keina. 
Twin Fire Blast ...!!” Kei mulai melemparkandua bola api yang cukup panas itu ke arah Keina. 
Bola api tersebut bergerak sangat cepat ke arah Keina. 
BWUUUAARRR!!!  
Seperti sebelumnya, Keina kembali tersenyum melihat serangan lawannya. Tanpa menggerakkan satupun anggota tubuhnya, tiba-tiba sebuah benteng es yang sangat tebal muncul disekitar Keina. 
WUUUZZZ!!!  
Bola api milik Kei seketika hancur lebur tak berbekas. Semua orang seketika terkejut akan hal itu. Anggela hanya terdiam menatap Keina semakin penasaran. Kei hanya menyipitkan matanya seakan frustasi, tubuhnya bergemetar kahawatir melihat istrinya sedang dalam kondisi yang mengkhawatirkan. 
Ti-tingkat berapa gadis ini!? Tanpa memerlukan konsentrasi, dia sudah bisa membuat skill seperti ini. Selain itu, kenapa dia juga bisa menggunakan dua tipe kinesis yang berbeda sekaligus!?” batin Anggela. 
ZWISHHHHH!!  
Tidak sampai disitu. Benteng es milik Keina lekas berubah menjadi ribuan tombak es yang melayang di udara. Tombak yang terlihat tajam itu sudah siap menerjang targetnya yang berada dibawah. 
“Bajingan!!” teriak kesal Anggela dan menggunakan percepatan listriknya ke arah Keina. Anggela berniat menghentikan gadis yang terlihat sangat kuat itu. 
DUAAANGG!!!!  
Belum sampailima meter mendekati Keina.Anggela langsung terpental oleh gravitasi disekitar Keina, terpental oleh pelindung gravitasi transparan yang sangat kuat miliknya. Anggela melayang terbang dan menabrak tembok gebang cukup keras.  
BUARKGHHH!!! 
Anggela terjatuh setelah menabrak tembok tersebut, ekpresi kesakitan terlihat jelas dari wajahnya. Saat dia hampir membentur tanah karena gravitasi bumi, tiba-tiba muncul sebuah akar pohon dari dalam tanah. 
Akar pohon itu cukup besar dan terus tumbuh hingga membentuk.... 
Himawari Blossom...!!” Arisa terlihat berkonsentrasi kerasmenutup matanya. Dia menempelkan tangannya di atas tanah. 
Ya, akar tersebut pada akhirnya membentuk bunga matahari yang sangat besar. Bunga matahari yang terlihat empuk dan nyaman. 
BUMPP!!!  
Anggela mendarat di atas bunga matahari yang sangat empuk.Lelaki berambut putih itu cukup terkejut melihat Arisa. 
Keina seketika tersenyum kagum meliha Arisa yang terlihat kelelahan. Dia mulai memiringkan kepalanya sambil terus menatap Arisa. 
“Chlorokinesis...? Jadi dia yah manusia ketiga yang bisa mengendalikan tumbuhan, Hahanaru Shizen Ke–III ....” 
Arisa membuka matanya. Kedua tangannya yang masih menyentuh tangan terlihat bergemetar. Tatapannya dipenuhi kekhawatiran mendalam pada Keina dan Litias.  
Ap-apa yang sebenarnya sudah terjadi disini!? Dan sebenarnya siapa kedua gadis ini!? Mereka sangat kuat, aku belum pernah melihat Shalsa dan Tuan Kei dipermalukan seperti ini....”  
Karena pelindung otomatis itu, gravitasi yang ditunjukan untuk Shalsa menghilang. Beberapa petinggi guild lekas menghampiri dirinya, termasuk suaminya. Mereka membantu dan melindungi master guild yang terlihat berharga itu. 
“Hooo ...,” senyum Keina pada Shalsa yang masih menatap tajam dirinya. 
Litias mulai memegang leher belakangnya. Dirinya berniat menarik tulang rusuknya keluar dari tubuhnya. 
“Izinkan aku ikut membantumu, Kak,” tapi tindakannya itu terhenti ketika Keina berkata. 
“Tolong jangan ganggu kesenanganku Litias ...,” senyum Keina mengerikan pada Litias, nadanya sangat pelan dan lembut. Tapi saat dia berbicara seperti itu, aura mengerikan seketika muncul disekitarnya. 
Litias terlihat ketakutan dan mulai mengurungkan niatnya untuk ikut bergabung dalam pertempuran. Tubuhnya bergemetar ketakutan. Diantara semua orang disana, hanya dia yang paling tau akan seberapa kuatnya Keina. 
Keina perlahan mengangkat tangannya, lalu ratusan es yang sebelumnya masih melayang seketika berjatuhan ke arah Anggela dan yang lainnya. 
WUZZZZHHHH!!! WUZZZZHHH!!!! 
Huge Ices Rain....” jelas Keina sambil terus mengangkat tangannya. 
Hogo Rutsu ...!!” teriak Arisa sambil menyatukan kedua tangan di depan dadanya. 
Dalam kurun waktu yang cukup cepat, sebuah akar raksasa bermunculan dari bawah tanah. Semua akar tersebut muncul di tempat berbeda dan masing-masing melindungi Anggela dan yang lainnya. 
SRATT!!! SRATTT!! SRATTT!!! 
Hujan es besar yang diturunkan oleh Keina tidak melemah sedikitpun, akar besar milik Arisa benar-benar bukan tandingan bagi ratusan atau bahkan ribuan hujan es tajam milik Keina. 
Dengan rentang waktu yang singkat, akar pohon milik Arisa secara perlahan mulai dihancurkan. Dan ketika akar pohon tersebut akanhancur, seketika muncul sebuah pelindung magnet yang cukup besar. 
DUANG! DUANG! DUANG! 
Semua hujan es yang jatuh ke arah Anggela dan yang lainnya dikembalikan kepada pemiliknya, yakni Keina. 
Keina cukup terkejut akan hal itu meski semua serangan yang datang berubah arah karena pelindung gravitasinya. 
“Hmm ...,” senyum Keina kembali memiringkan kepalanya. 
Lalu dari dalam pelindung magnet tersebut terlihat Shalsa yang memasang wajah berantakan.Tubuhnya bergemetar mengangkat kedua tangannya, pandangannya terlihat buram dan kelelahan. Dalam kondisi itu dia bergumam pelan sambil terus menatap tajam Keina 
Ma-Magnetic World ...,  hah hah hah ....” 
Seketika lelaki yang berada disampingnya yakni suaminya terkejut menatap Shalsa. Wajahnya mulai terlihat khawatir ketakutan karena melihat istrinya yang berantakan. 
“Shalsa,apa yang kau lakukan?!! Hentikan sekarang, wajahmu sudah terlihat sangat pucat!”  
Sama halnya dengan Kei. Arisa juga terlihat terkejut ketika melirik sekitarnya yang dilindungi oleh sebuah pelindung semi transparan. 
“Ke-kemampuan ini?! Master!?” dirinya mulai melirik Shalsa cukup khawatir. 
Ketika melihat wajah Shalsa yang terlihat pucat, Arisa langsung memasang wajah sangat sedih ketakutan. Dia mulai berteriak khawatir pada Shalsa. 
“Hentikan Sha-chan!!Apa kau ingin tubuhmu hancur karena kelelahan!!?” 
“Ce-cepat! Se-serang dia ...,” pelan Shalsa yang berantakan. 
“Tapi –“ Arisa hanya menyipitkan matanya seakan ingin menangis. 
“Arisa!!”teriak Anggela berjalan menghampiri Arisa, wajahnya benar-benar terlihat kesal. 
“Kita habisi dia dalam sekali serang ...,” lanjut pelannya menatap tajam Keina. 
“Tapi bagaimana caranya –“ 
“Apa kau punya skill serangan yang cukup besar?” 
“Cukup besar? Maksudnya?” 
“Skill yang membuat lawan tidak bisa melihat kita....” 
“Tidak, aku hanya memiliki serangan pada satu titik dengan kerusakan yang sangat besar.” 
“Bagus! Aku berniat menanyakan itu setelahnya ..., sekarang tinggal –“ 
“Aku bisa ...,” Kei berjalan pincang menghampiri Anggela dan Arisa. 
“Bisa.... maksudmu? –“ Anggela cukup terkejut berbalik melihat Kei. 
“Serangan yang menutupi jarak pandang musuh....” 
“Keren ....” senyum Anggela terlihat bersemangat. 
“Kau memiliki rencana,kan!?” tanya Kei sedikit kesal. 
“Ya, aku memilikinya.” 
“Cepatlah!! Shalsa tidak bisa menahan serangan wanita itu lebih lama lagi!” 
“Aku mengerti,biar aku jelaskan rencananya...,” jelas Anggela mulai berunding dengan Kei dan Arisa. 
Beberapa menit kemudian telah berlalu, mereka akhirnya menyelesaikan diskusinya, mereka terlihat sangat siap bertarung melawan Keina. 
“Kita lakukan secepatnya! Shalsa tidak bisa bertahan lebih lama lagi,” Kei sambil berkonsentrasi mengeluarkan skillnya. 
“Aku mengerti. Kita akan bunuh nenek tua itu!” jelas Anggela sangat kesal. 
“Em ....” Arisa menganggukan kepala sambil berkonsentrasi mengeluarkan skillnya. 
Keina tersenyum kebingungan melihat tingkah Anggela dan yang lainnya, sambil memasang ekspresi tersebut dia berkata. 
“Apa yang kalian sedang rencanakan? Rencana apapun tidak akan mempan melawan –“ 
“Sekarang Arisa!!” teriak Anggela sangat keras. Teriakannya itu seketika membuat suasang tegang pertarungan meningkat. 
Arisa lekas duduk jongkok menyentuh tanah sambil berteriak. “Haiperion No Ki!!” 
DRUGGGGGGG!!!! BWARRRRR!!!!!!!  
Pohon besar ramping dengan ujung yang sangat tajam bergerak sangat cepat ke arah Keina, pohon tersebut melewati pembatas Magnetic world milik Shalsa. 
Ya, pada dasarnya Magnetic World milik Shlasa hanya sebuah penghalang yang menghalau semua ganguan dari serangan luar. Semua serangan luar akan dipantulkan oleh dinding penghalang skill ini, tapi itu tidak berlaku jika gangguan tersebut berasal dari dalam, mereka akan sangat dengan mudah melewati dinding penghalangnya. 
Melihat hal itu, Keina terlihat cukup terkejut dan lekas berteriak. “Ice Baricades!!!” 
WUSH!! CRANK!!!! 
Sebuah benteng es besar seketika muncul dihadapan Keina, benteng es tersebut terlihat kokoh  dan siap melindungi Keina, benteng tersebut juga terlihat sudah dipastikan akan menahan serangan Arisa, tapi.... 
“Ja-jangan remehkan kemampuan terkuatku!!” teriak Arisa yang terlihat kelelahan, dia terjatuh ke depan dan terlihat ingin pingsan. 
DUMB!!!!!!! BREEEEEEEEEEEETTTT!!!!!!!! 
AP-APA!!” Keina terkejut dalam hati. Dirinya terkejut karena benteng esnya dipukul mundur oleh skill Arisa. Gadis berambut putih itu benar-benar terdorong pohon runcing raksasa itu. 
Setelah cukup lama Keina terdorong oleh skill Arisa, pohon yang tinggi tersebut berhenti dan akhirnya hancur karena bertabrakan dengan benteng es kokoh milik Keina. Tidak hanya pohon Hyperion Arisa saja yang hancur, benteng es Keina juga ikut hancur karena benturan tersebut. 
Mengejutkan .... Aku tidak percaya jika dia bisa memukul mundur dirik –“ Keina terlihat cukup terkejut melihat Arisa yang tersungkur jatuh. 
“Tuan Kei!!” teriak Anggela menghancurkan pikiran Keina. 
Flame Vortex!!” teriak Kei menembakkan sebuah putaran api besar ke arah Keina. 
BWWUARRRR!!!!! 
Keina tersenyum bersemangat dan mulai bergumam dalam hatinya. 
Aku akan membelokkan arah serangannya, maaf bocah.... kejadian yang sebelumnya tidak akan terulang lagi ....” 
SWINGGG!!! 
Serangan Kei dibelokkan ke kanan oleh gravitasi Keina, tapi setelah skill flame vortex Kei berbelok. Tiba-tiba sebuah meriam petir bergerak sangat cepat ke arah kepala Keina, Keina tidak punya waktu untuk menggunakan kemampuan gravitasinya. 
Manusia normal, bahkan untuk Arcdemons sekalipun mustahil untuk menghindari serangan meriam petir tersebut. Tapi tidak bagi Keina, karena kemampuan refleksnya yang mengerikan. Dia lekas memiringkan kepalanya untuk menghindari serangan tersebut. 
WUINGGGG!!! BOOMM!!! Shhhhhh....... 
Wajah Keina terlihat sangat terkejut, tatapannya benar-benar terlihat kosong melihat Anggela yang menembakkan sebuah Railgun ke arah kepalanya. 
Mustahil bagi Keina untuk menghindari serangan tersebut secara sempurna, tetesan darah merah seketika mengalir pelan dari pipinya yang manis. 
Wajahnya terlihat terkejut menatap musuhnya. Satu-satunya yang ada dalam pikirannya saat itu adalah .... 
Dia menggunakan .... Railgun?” 
Begitu juga dengan Anggela yang terkejut menatap Keina. Itu semua karena gadis berparas cantik  mirip Anggelina itu bisa menghindari serangan mendadaknya. 
Di-dia menghindarinya!? Mu-mustahil!! Monster macam apa dia sebenarnya?!”   
Tak hanya Keina saja. Litias, gadis berambut hijau itu juga menatap Anggela dengan penuh penasaran. 
Ra-railgun? Meski itu skill yang cukup lemah, tapi tidak sembarang orang bisa menggunakan skill itu! Itu skill original milik Serraph ...! Siapa sebenarnya anak ini!?” 
“....”  
“Bo-bocah ...!! Aku bertanya siapa dirimu ?!!” teriak Keina sangat kesal, kemarahannya sungguh luar biasa. Semua orang jatuh dalam ketakutan yang hebat karena aura kemarahan gadis itu. 
Langit seketika berubah menjadi gelap dengan suara gemuruh petir yang keras.Dewa bagaikan membenarkan kemarahannya. 
Te-tekanan macam apa ini!!” Anggela, Arisa, Shalsa, dan Kei dalam hati. Mereka terlihat khawatir ketakutan memegang dadanya yang mulai terasa sesak. 
Tubuh Litias bergemetar, tatapannya terlihat cukup kosong pada Keina yang mulai murka. 
In-Intimidation Overrun? Pe-perasaan ini sangat mirip ketika kami berhadapan dengan Serraph. Mungkinkah Kak Keina akan berubah disini?!!”  
“Aku tanya sekali lagi –“ 
“KA-KAKAK!! Berhenti! Ap-apa Kakak ingin meng-menghancurkan dataran ini?!” teriak Litias sangat khawatir melihat Keina. Nada bicaranya terbata-bata seolah jika dirinya merasa ketakutan. 
Dalam sekejap Keina tersadar dan mulai bisa mengontrol emosinya. Langit kembali terlihat normal, aura ancaman disekitarnya mulai memudar. Wajahnya yang terlihat mengeluh menyesal sambil berkata. 
“Aku berhenti .... Kalian terlalu tidak pantas untuk kubunuh....” 

***

Bagian kedua: 
Keina menonaktifkan semua skillnya, termasuk gravitasinya. Dia perlahan turun dan akhirnya berpijak pada tanah. Semua pandangan masih tertuju pada gadis yang menarik banyak perhatian itu. 
“Kenapa?!” tanya kesal Anggela yang masih terlihat kesakitan, dia menatap tajam Keina. Nada suaranya terdengar cukup dalam. 
“Kenapa?” Keina dengan tatapan meremehkan Anggela. 
“Kenapa kalian membunuhnya!?” kesal Anggela terus menatap tajam Keina dan Litias. 
“Sebutkan namamu, maka kami akan berikan alasan kenapa kami membunuhnya ...,” jelas Keina mulai menutup matanya. 
“Perkenalkan dirimu terlebih dahulu.Maka aku juga akan memperkenalkan diriku,” senyum kesal Anggela. 
“Keras kepalanya dirimu....” Keina mengeluh lalu perlahan membuka matanya. 
Keina Abstieg Deviluck..., itu namaku.“ lanjut Keina tersenyum kecil pada Anggela. 
“De-deviluck!? Jadi memang benar yah, jika salah satu keluarga besar Arcdemons memburu Eisha!?” tanya Anggela mengkerutkan dahinya. 
“Hooo hooo, kamu tau tentang keluarga kami!? Jadi apa kamu juga seorang Arcdemons!? Hahahaha, hanya bercanda ...,tentu saja itu mustahil –“ Litias sambil melompat turun dari pintu besar. Tapi kembali perkataanya terpotong oleh Anggela. 
“Ya, aku juga seorang Arcdemons ...,” senyum kesal Anggela. 
Litias, Keina, Kei, dan Arisa terlihat terkejut mendangar pernyataan Anggela. Untuk sesaat suasana terasa hening karena perkataan terakhir Anggela itu. 
“Kau pasti bercanda –“ Litias menatap tajam Anggela, tapi perkataanya terpotong oleh Keina. 
“Keluarga!?” pelannya tapi memiliki tekanan nada yang amat dalam, dia juga menundukan kepalanya saat bertanya seperti itu.
“Keluarga?” Anggela terlihat kebingungan. 
“Aku tanya kamu dari keluarga mana kau ?!! ApaSkullwalker?!!” teriak sangat kesal Keina, aura disekelilingnya sangat menyakitkan seolah sudah siap untuk membunuh seseorang. 
Anggela Dwiputra, itu namaku! Ak-aku bukan dari keluarga manapun!” khawatir Anggela. 
“Begitu ..., maaf, tatapanmu sangat mirip dengan seseorang yang kukenal.” 
“Kakak....” Litias berwajah muram melihat Keina. 
“Apa itu Serraph?” Anggela terlihat khawatir sambil bergumam dalam hatinya. 
Guru Alfa juga mengatakan hal yang sama, jika tatapanku sangat mirip dengan lelaki bernama Serraph.” 
“Kamu mengenalnya...?” senyum sedih Keina lalu membalikkan badannya. 
“Tidak, tapi tunggu!!” 
“Kenapa?” 
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi, sebelum kamu mempertanggung jawabkan perbuatanmu!!” Anggela terlihat kesal melihat Keina. 
“Apa kamu masih menunggu alasan kami karena telah membunuh gadis itu?” tanya Litias polos menunjuk tubuh Eisha. 
“Tentu saja!!” teriak kesal Anggela. 
Sejujurnya aku juga ingin tahu, kenapa gadis lemah ini bisa menjadi ancaman yang sangat serius bagi keluarga kami. Bahkan para dewan juga bisa sampai segan terhadap gadis ini,” gumam Litias dalam hati, dia melirik Keina yang terus membalikkan badannya. 
“Suatu saat nanti kau akan berterima kasih pada kami, berterima kasih karena sudah menghabisi gadis it –“ 
“Jelaskan saja alasannya!!” teriak Anggela memotong perkataan Keina. 
“Baiklah ..., coba kau pikir jika kemampuan gadis ini terus berkembang!?” 
“Apa maksudmu?“ 
“Dia tingkat empat dan dia sudah memanipulasi berbagai energi. Coba kau pikir, apa yang akan terjadi jika dia sudah mencapai tingkat atas!? Apa yang akan terjadi jika dia sudah mencapai tingkat akhir!?” 
“Selama sepanjang sejarah kehidupan Manusia, Half-elf, dan ras kita, Arcdemons.... tidak ada satupun seorang kineser yang memiliki kemampuan ini, kemampuan yang sangat mengerikan .... Ergokinesis!” lanjut Keina memejamkan matanya. 
“Apa maksudmu? Apa yang mengerikan dari kemampuan itu –“ Anggela mencoba membantah perkataanya, tapi. 
“Kau ..., dan kalian semua terlalu meremehkan kemampuannya. Di masa depan ..., dimasa yang akan datang, dia akan menjadi musuh besar bagi salah satu pihak.” 
“Mu-musuh bagi salah satu pihak?” Arisa terlihat kebingungan. 
“Jika gadis bernama Eisha itu memiliki hati yang bersih dan terbawa arus oleh kebaikan, dia akan menjadi mahluk yang sering disembah oleh manusia, yakni Dewa. Tapi jika dia terbawa oleh sebaliknya seperti keburukan dan kebencian, dia akan menjadi sumber kehancuran, menjadi sumber yang paling ditakuti ..., atau sering manusia sebut sebagai .... Raja Iblis.” 
“...!!” semua orang seketika melebarkan kedua matanya karena terkejut bukan main.Kedua tangan mereka bergemetar seolah ketakutan karena mendengar perkataan Keina. 
“Tu-tunggu dulu!? Tidak mungkin hanya dengan ilmu kinesis bisa membuatnya menjadi –“ khawatir Anggela yang juga cukup ketakutan. 
“Hei Anggela ...,apa menurutmu manusia yang bisa mengontrol energi kehidupan itu tidak berharga dan tak perlu diwaspadai!?” 
“En-energi kehidupan?” Anggela terlihat terkejut menatap Keina. 
“Puncak dari kemampuan Ergokinesis adalah mengontrol energi kehidupan ..., bukan hanya itu saja, dia juga sudah dipastikan dapat mengontrol energi alam dan energi lainnya!” 
“Tapi jika memang benar seperti itu, kami pasti bisa membuatnya menjadi lebih baik! Bukankah Jika dia menjadi Dewa, dia akan membawa kedamaian pada dunia in –“ 
“Seperti dugaanku, pemikiranmu terlalu dangkal, Anggela.” 
“Eh,apa maksudmu?” 
“Jika dunia ini tidak seimbang? Kebaikan dan keburukan benar-benar tidak seimbang ..., menurutmu apa yang akan terjadi pada dunia ini?” tanya Keina membalikkan badannya dan menatap Anggela dengan penuh keseriusan. 
“Ap-apa yang akan terjadi?” 
Keina menepukkan kedua tangannya cukup keras. Dia tersenyum manis memiringkan kepala dan berkata,  
“Hancur .... Dunia ini akan dihancurkan.” 
“...!!” suasana hening seketika muncul. Semua orang terdiam terkejut bukan main melihat Keina, termasuk Litias. 
“Ap-apa maksudmu dunia ini akan dihancurkan!?” kesal Anggela berjalan selangkah mendekatinya. 
“Ki-a-mat! Beberapa orang menyebut akhir dunia seperti itu,” senyum sedih Keina. 
“Kenapa bisa seperti itu!? Mustahil dunia ini akan hancur hanya karena kedamaian. Bukankah dunia ini akan lebih indah jika dipenuhi dengan kedamaian!” teriak kesal Anggela, dia berjalan satu langkah kembali mendekati Keina. 
“Tidak ..., dunia ini hanya akan lebih membosankan jika tidak ada permusuhan atau perselisihan. Dunia ini tidak pantas untuk dilanjutkan, karena tujuannya sudah tercapai, yakni salah satu dari dua pihak itu sudah menang.” 
“Aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiranmu....” Anggela terlihat masih menatap tajam Keina. 
Keina hanya tersenyum dan mulai berkata. 
“Aku menyukaimu anak muda .... Anggela, kah? Aku akan mengingat namamu.” 
Keina mulai berjalan pelan menjauhi Anggela dan yang lainnya. Dibelakangnya terlihat juga Litias yang sedang mengikuti dirinya. 
"Kita ke Eropa dulu Litias, aku ingin memburu seseorang disana...," lanjutnya sambil terus berjalan. 
"Ap-apa itu Serraph?" tanya gugup Litias. 
"Tidak, bukan ..., hanya seorang gadis yang memiliki darah terakhir dari keluarganya." 
“Tunggu !! –“ teriak kesal Anggela. 
“Ah, sepertinya aku lupa memberitahumu.” Keina berbalik dan melihat Shalsa yang masih terlihat kelelahan. 
“Kak?” Litias memasang wajah penasaran pada Keina. 
“Bukan keluarga kami saja yang mengincar gadis itu, tapi keluarga Skyline juga mengincarnya. Lalu yang membuat matamu buta sebelah itu adalah ....Seseorang yang berasal dari keluarga Skyline.” 
Semua orang terkejut mendengar pernyataan Keina, termasuk temannya sendiri Litias. 
“Be-benarkah itu!??” tanya kaget Litias. 
“Ya ..., sekarang kita pergi,” 
“Aku bilang tunggu!!” teriak kesal Anggela lalu berpindah tempat ke arah Keina dengan percepatan listriknya,akantetapi. 
DUANGGGGGG!!!  
Belum sampai setengah meter mencapai Keina. Dia sudah terpental jauh ke belakang. Dia kembali menabrak dinding tembok dengan cukup keras.  
DUARKGHH!!! 
“Terlalu disayangkan jika aku membunuhmu sekarang, jadilah kuat dan datanglah padaku nanti...,” senyum Keina lalu melayang bersama dengan Litias.Mereka berdua pergi cukup cepat dengan kemampuan gravitasi miliknya. 
Anggela lekas berdiri dan berniat mengejar Keina dan Litias. Tapi tindakannya terhentikan oleh perkataan pelan Shalsa. 
“Sudah cukup Anggela....” Shalsa menangis sambil menundukkan kepalanya. 
“Terima kasih...,” senyum Kei melihat Anggela. 
“Tapi mereka berdua!! –“ 
“Sesungguhnya kami juga sudah tau jika hari yang mengerikan ini akan datang. Tidak dapat kami bantah lagijika kemampuan putri kami akan membawa kehancuran dunia ini,” senyum Kei menutup  matanya penuh kesedihan. 
“Tapi kita harus mengejarnya. Mereka harus membayar akan apa yang telah mereka lakukan –“ 
“Itu salah Anggela...,” senyum Shalsa sambil terus menangis.Gadis berambut hijau tua itu mulai berdiri secara perlahan. 
“Apa maksudmu?” 
“Bukankah seseorang yang harus kau kejar bukanlah dia?” tanya Arisa terlihat sedih, seluruh tubuhnya terlihat masih bergemetar karena kelelahan. 
“Ya ...,” Anggela menundukan kepalanya, dia terlihat kesal dan frustasi. 
“Kamu sudah tau akan pergi kemana, kan?” senyum Kei. 
“Aku akan pergi ke Jerman, mengejar Savila.” 
“Begitu ..., pertemuan kita tidak lama, tapi aku senang mengenalmu.” senyum sedih Shalsa melihat Anggela. 
“Sekali-kali kunjungi kami disini,” senyum Arisa melihat Anggela. 
“Ya, terima kasih....” 
“Kamu tau kan cara pergi kesana?” tanya Shalsa. 
“Iya, naik bandara?” 
“Bukan –bukan, naik pesawat! Bandara hanya landasan untuk terbang atau mendarat pesawat,” Arisa tertawa pelan karena mendengar pernyataan Anggela. 
“Baiklah, aku akan mengingatnya.” 
“Dan juga Anggela ...,” Kei berjalan pelan menghampiri Anggela. 
“Yaa?” 
“Ketika di Jerman nanti, jika kamu bertemu dengan seorang Kineser ..., katakan saja jika kamu mengenal Asha Anatasha.” 
“Lalu bagaimana aku harus meresponnya jika Kineser itu menanyakan hubunganku dengan Asha Anatasha?” tanya balik Anggela. 
“Katakan saja kalau kamu tunanganny –“ 
“Tunggu Kei, bagaimana bisa kau –“ Shalsa terlihat panik menatap suaminya. 
“Tenang saja ini hanya pura-pura, selain membuat semua orang percaya kalau kamu beruhubungan dengan keluarga Anatasha. Rencana ini juga akan membuat lelaki itu muncul keluar.” 
“Lelaki itu?” Anggela terlihat kebingungan. 
“Ohhh, dia yah,” Shalsa terlihat sedih. 
“Sejujurnya aku sudah tidak tahan melihat Asha yang tersiksa ditinggal pergi olehnya,” Kei terlihat sedikit kesal. 
“Tapi kita tidak bisa menyalahkan lelaki itu, Asha sendiri yang sudah meninggalkannya terlebih dahulu..” 
“Tunggu, aku tidak bisa mengikuti pembicaraan kalian.” 
“Tidak apa-apa, ini hanya masalah keluarga, kamu bisa pergi sekarang kok.” 
“Ba-baiklah .... Terima kasih atas bantuann –“ 
“Salah lagi,” Shalsa tersenyum melihat Anggela. 
“Eh...?” 
“Seharusnya kami yang berterima kasih....” Kei tersenyum melihat Anggela. 
“Iya Anggela, meski aku sempat meragukan kamampuannmu, aku sangat berterima kasih padamu.” Arisa berjalan pelan menghampiri Kei dan Shalsa. 
“Arisa ....” 
“Terima kasih Anggela....!” Kei, Shalsa, dan Arisa menundukkan kepalanya pada Anggela. Bersamaan dengan mereka, para petinggi yang tersisa juga ikut menundukkan kepalanya, 
Wajah Anggela memerah karena hal tersebut, dia mulai berjalan cepat sambil berkata. 
“Y-ya, sa-sama-sama.” 
Anggela pun berjalan cukup cepat menuju bandara meski tubuhnya sedang berantakan, dia berniat mengejar Savila ke Benua Eropa. 
Sedangkan setelah Anggela pergi, tubuh Shalsa terlihat lemas. 
Dia tidak kuasa berdiri dan kembali terjatuh yang dipegang oleh suaminya. Kesedihannya karena ditinggal putrinya masih tetap ada. 
Dia kembali menangis sambil berkata dengan cukup pelan, perkataan pelan dengan nada yang sangat dalam, “Eisha...!” 
“Kita harus membuat dirinya beristirahat dengan tenang, mari kita urus pemakamannya,” senyum sedih Kei Shalsa yang menangis dipelukannya. 
“Ehahhhaaa!!!!” Shalsa hanya bisa menangis, terus menangis layaknya seperti anak kecil yang kehilangan hal amat berharga baginya. 
Arisa juga sedikit menitiskan air mata, kesedihan benar-benar terlihat jelas di wajahnya. Dia sesekali melirik tubuh salah satu dari vierKineser yang terlihat kaku, tubuh yang sudah ditinggal pergi oleh arwahnya. 
Lalu beberapa waktu setelahnya, di bandara lokal di negara Indonesia, terlihat Anggela yang sudah sampai dengan menggunakan kendaraan yang bertuliskan TAXI. Dia berjalan memasuki bandara sambil melirik sekitarnya. 
Dia benar-benar tidak tau bagaimana caranya agar dia dapat menggunakan jasa transportasi udara tersebut. Tapi, kekhawatiran Anggela lenyap ketika seorang gadis berambut hitam berteriak memanggil dirinya. 
“Anggela, sebelah sini!!” dia berteriak merentangkan kedua tangannya, disamping kanan kakinya, terlihat sebuah koper yang cukup besar. 
“Ai?” tanya Anggela cukup terkejut, dia berjalan menghampiri gadis yang ia kenal tersebut. 
“Ya ini aku..., hehe,” Ai tertawa pelan memiringkan kepalanya. 
“Kenapa kau disini?” 
“Kak Arisa menghubungiku kalau aku harus mendampingi perjalananmu ke Jerman.” 
“Begitu .... Tapi bagaimana dengan lukamu –“ 
“Aku sudah cukup sembuh!” 
“Baiklah, jadi sekarang kita harus kemana? Bagaimana caranya  agar kita –“ 
“Tenang saja, aku sudah mengurus semuanya.” 
“Be-benarkah!? Lalu apa yang harus aku lakukan, aku merasa bersalah karena tidak membantu apapu –“
“Kita lari!” jelas Ai mulai memegang tangan Anggela. Mereka berdua berlari menuju sebuah kapal besar yang menunggu mereka berdua. 
“Tungg –“ 
“Cepatlah Anggela atau kita akan tertinggal!” 
“Kamu seharusnya bilang dari awal kalau jadwal terbang kita sudah sangat dekat!” 
“Hehehehe.” 
“Kenapa kamu malah tertawa.” Anggela kembali memasang wajah datarnya. 
“Maaf,” senyum Ai memejamkan matanya sambil terus berlari. 
“Ya sudahlah ...,” keluh Anggela ikut memejamkan matanya. Lalu ketika dia membuka matanya kembali, dia hanya tersenyum melihat punggung kecil Ai yang berada di depannya 
Akhirnya mereka berdua sampai di dalam pesawat dengan tepat waktu. Mereka duduk bersebelahan dekat dengan jendela. Sambil memandangi pemandangan luar, Anggela mulai bergumam dalam hatinya. 
Sial ...! Siapa sebenarnya gadis bernama Keina itu!? Wajahnya sangat mirip dengan Anggelina! Jika aku bertemu dengannya lagi, akan kuberi dia pelajaran!! Akan kubunuh dia karena sudah menghancurkan –“ 
Seketika pikirannya terhentikan, dan mulai mengingat sesuatu yang sangat penting bagi dirinya. 
Tu-tu-tunggu dulu? Wajahnya sangat mirip dengan Anggelina?! Mungkinkah gadis yang bernama Keina itu adalah .... Ahaha – haha tidak-tidak! Itu tidak mungkin, ilmu kinesisnya berbed – Sama!! Dia menggunakan kemampuan gravitasi dan Crycokinesis!! Sama persis seperti Anggelina dan Kak Keisha!”   kedua tangan Anggela seketika bergemetar ketakutan. 
“Anggela!” teriak Ai cukup keras. 
Suara pesawat yang siap terbang mulai terdengar, pemberitahuan untuk mengencangkan sabuk pengaman pun sudah terlewat. Tapi Anggela masih belum membetulkan sabuk pengamannya karena tertelan oleh pikirannya sendiri. 
Apa yang harus kulakukan sekarang...? Apa yang harus kulakukan nanti, ketika aku bertemu dengannya nanti!?”Anggela menundukkan kepalanya frustasi, mengepalkan kedua tangannya yang bergemetar dengan erat. 
CREKK!!!  
Ai memasangkan sabuk pengaman Anggela, dia menjentikkan jemarinya yang manis pada kening Anggela. Hal itu sontak menghancurkan pikiran Anggela. 
“Ap-apa?” 
“Sadarlah dari khayalanmu! Aku sudah tiga kali memanggil namamu!” keluh Ai tak senang, wajah cemberutnya yang lucu terlihat ia alihkan dari Anggela. 
“Baiklah maaf, jadi ada apa?” 
“Koperku tertinggal ...,” sinis Ai masih tak senang. Tapi pandangan sinisnya terlihat candaan dan tak berisikan kebencian. 
“Be-benarkah!? Haruskah kita kembal –“ 
“Kita sudah lepas landas!!” teriak sangat kesal Ai. Seketika semua pandangan dalam pesawat itu tertuju pada mereka. Seorang pramugari muda terlihat menghampiri mereka dengan wajah khawatir. 
“Maaf Tuan dan Nyonya, aku tidak bermaksud ikut campur dalam rumah tangga kalian tapi ..., bisakah kalian lebih tenang.” 
Ru-rumah tangga?” Anggela dan Ai dalam hatinya. Wajah mereka terlihat datar menatap pramugari yang menegur mereka itu. 
“Kami bukan sepasang suami istri...,” senyum sedikit kesal Anggela memiringkan kepalanya. 
“Iya, kami belum mencapai tahap itu, kami masih dalam status pertunangan.” 
“Sejak kapan.....?” Anggela dengan nada datar melirik Ai. 
“Woah enaknya anak muda ...,” senyum kagum pramugari tersebut melihat Ai. 
“Hahahaha makasih, tapi dia yang terus memaksaku untuk berkencan dengannya, jadi aku merasa kasihan padanya –“ 
“Aku bilang sejak kapan hubungan kita seperti itu!!” teriak sangat kesal Anggela menutup matanya. 
“Wah benar, kah? Kamu pasti gadis beruntung karena dikejar lelaki tampan seperti kekasihmu ini.“ 
“Iya mungkin saja hahahahaha.” 
Anggela hanya terdiam memalingkan wajahnya, dia terlihat kesal karena perkataanya diabaikan beberapa kali oleh Ai. Sambil terus melihat pemandangan udara, dia kembali bergumam dalam hati dengan nada yang amat sedih. 
Yang lebih penting, apa yang harus kulakukan jika aku bertemu lagi dengan gadis bernama Keina itu? Haruskah aku menjadi anak durhaka dan melawannya? Atau membiarkannya dan melupakan kejadian tentang kematian Eisha ...?” 
 ***



My Dearest Jilid 2 Chapter X Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.