01 Februari 2016

My Dearest Jilid 2 Chapter VIII


MY DEAREST
TRUTH OF WORLD DESTINY
JILID 2 CHAPTER VIII
GUILD WAR

Bagian Pertama 
“Tung-tunggu apa maksudmu ini!?“ Anggela bertanya kebingungan sambil terus menatap Shalsa.

“Maaf, kamu pasti kaget mendengar permintaan mendadak seperti ini dariku, tapi –“

“Apa alasannya!? Kenapa kamu harus meminta bantuanku!?” khawatir Anggela menatap wajah Shalsa yang terlihat sedih.

“Sebelumnya,aku ingin minta maaf dulu padamu karena mendengar perbincanganmu tadi dengan Ai dan Arisa.”

“Lalu –“

Half-elf ..., kamu pasti tau tentang mereka, kan?” senyum sedih Salsha menutup matanya sesaat. Kedua tangannya bergemetar cukup ketakutan.

“Ya aku tau mereka ..., tapi sebelum itu, ada yang harus kutanyakan padamu, Shalsabilla.”

“Panggil Shalsa saja,” senyum Shalsa.

“Kamu yang menyelamatkanku waktu itu kan!?”

“Ya itu aku.”

“Apa kamu melihat seorang gadis berambut putih sepertiku? Wajahnya mungkin tidak mirip denganku, tapi dia adalah adikku.”

“Tidak, saat itu hanya kamu saja yang terlihat olehku. Nyawamu benar-benar terancam saat itu, jadi aku tidak mempunyai waktu untuk mencari orang lain.”

“Begitu ...,” Anggela berwajah sedih dan mengepalkan erat kedua tangannya.

“Tapi setelah aku membawamu ke rumah sakit, aku kembali ke tempat tersebut. Berniat mencari korban yang lainnya ..., tapi hasilku nihil, aku tidak menemukan korban lainnya.”

“Jadi begitu ...,” senyum sedih Anggela mulai menundukkan kepala.

“Tapi ini sebuah kebetulan untukmu. Untung saja aku melewati lapangan itu. Saat itu aku merasakan suasana dari lapangan itu yang mengerikan, jadi aku memeriksanya.  Pada akhirnya aku menemukanmu yang sedang terluka parah,” senyum Shalsa memejamkan matanya.

“Terima kasih atas bantuannya ..., sebagai imbalannya aku akan membantu Guildmu ....” Anggela membungkukkan badannya pada Shalsa.

“Tung-tunggu kamu langsung menerima tawaran dari orang yang baru kamu kenal satu hari!?”

“Bukankah kamu juga sama saja? Kamu rela mengeluarkan waktu bahkan harta untuk menolong orang yang belum kamu kenal?” Anggela mulai memejamkan matanya dan kembali mengangkat tubuhnya. Dia tersenyum dihadapan yang mirip dengan Halsy Aeldra itu.

“...!!” Shalsa hanya terdiam terkejut, tersenyum ramah melihat Anggela.

“Kamu lelaki baik yah, Anggela ...,” senyum manis Shalsa memiringkan kepalanya.

“Y-ya terima kasih,” Anggela tersipu malu karena wajah Shalsa yang sangat mirip dengan Halsy.

“Baiklah aku akan menjelaskan alasanku meminta bantuanmu.” Wanita berambut apple hair itu mulai berwajah serius.

“Seperti yang kamu ketahui dari Ai, guild kami sedang berperang dengan guild Lonelybird..” lanjutnya membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan.

“Ya, aku tau itu,” angguk Anggela mulai berjalan mengikuti Shalsa.

“Alasanku meminta bantuanmu adalah ..., kamu kuat, mungkin sangat kuat ....” lirik Shalsa pada Anggela.

“....”

“Begitu ..., jadi kamu ingin memenangkan Guild War ini secepat mungkin –“

“Tidak ..., aku tidak terlalu berambisi untuk menang.”

“Lalu kenapa kamu malah melakukan Guild War in –“

“Mungkin daripada disebut Guild War, perang ini hampir mirip seperti penjajah yang sedang menjajah wilayah pribumi ...,” Shalsa hanya tersenyum sedih menutup matanya sesaat.

“Jadi kamu hanya mempertahankan wilayahmu?”

“Ya ..., kami tidak pernah sekalipun menyerang wilayah Lonelybird.”

“Jika begitu, kenapa kamu membutuhkanku hanya untuk menjaga –“

“Tapi jika terus seperti ini, kita akan tersapu habis ..., Kamu tau Dreamheart? –“

“Aku tau!! Amat sangat tau!!” geram kesal Anggela, tatapan menjadi sangat tajam. Aura kemarahan mulai datang disekitarnya.

Shalsa terlihat terkejut melihat Anggela, dia sedikit ketakutan melihat Anggela yang terbakar amarah.

“Ji-jika kamu mengetahuinya, maka sudah dipastikan kalau kamu tau tentang rahasia ras selain manus –“

“Jangan katakan kalau keluarga itu sedang membantu Guild Lonelybird?” tanya Anggela tersenyum mengerikan.

“Iya, sepertinya salah satu dari anggota keluarga mereka membantu Guild tersebut. Sang Elementer api, tingkat enam ...,” Shalsa terlihat sangat khawatir, tangannya terlihat begemetar.

“SEMPURNA!! Meski aku tidak memiliki balas budi padamu, aku akan tetap membantu guildmu!! Akan kubuat dia merasakan akibatnya karena telah berurusan dengan ras kami!” geram sangat kesal Anggela, dia mengepalkan kedua tangannya, tatapannya benar-benar tajam.

“Ra-ras kami!? “Shalsa terlihat terkejut dan mundur beberapa langkah.

“Hmmm, kenapa?”

“Ka-kamu seorang Arcdemons?”

“Ya, itu yang katakan oleh kakakku. Tapi tenang saja, aku sekarang berada di pihakmu ....” senyum Anggela memejamkan matanya.

“Y-ya,” Shalsa masih terlihat gugup ketakutan.

“Sekarang bagaimana?” tanya Anggela melirik Shalsa.

“Untuk sementara kamu ikut saja denganku, kita akan melakukan rencana penyelamatan terhadap suamiku ....”

“Su-suami ...!?”

“Ya, dia diculik oleh Eisha, padahal tingkat kineser kami tidak terlalu jauh. Kenapa lelaki bodoh itu mudah tertangkap merek –“ Shalsa terlihat bergerutu kesal menutup matanya.

“Tu-tunggu Shalsa!!” Anggela terlihat benar-benar terkejut melihat Shalsa.

“Kenapa?”

“Ka-kau sudah menikah!?”

“Haaah!? Apa yang kamu katakan? Aku sudah memiliki dua anak, kedua anakku mungkin sudah seumuran denganmu ....”

“Se-serius ...!?” pelan Anggela, wajahnya sungguh terlihat tidak mempercayai akan perkataan Shalsa.

“Ya ..., aku serius,” senyum manis Shalsa.

“Sh-Shalsa, boleh aku tau berapa umurmu ...?” tanya Anggela pelan, kedua tangannya bergemetar.

“Heee .... Bukankah kurang sopan menanyakan umur pada seorang wanita?” senyum Shalsa yang menggoda.

“Bu-bukan maksudku untuk menghina, tapi –“

“Aku 42 tahun ....,” senyum manis Shalsa memiringkan kepalanya.

“Mu-mustahil!! Wajahmu benar-benar terlihat muda, terlihat 20 sampai 25 tahunan!!”

“Benarkah!? Terima kasih sudah memujiku ...,” senyum Shalsa terlihat senang.

Ak-aku tidak berniat memujinya, kenyataannya memang seperti itu. Aku tidak percaya kalau wanita ini berumur 40 tahunan ....” Anggela masih memasang wajah terkejut melihat Shalsa.

“Baiklah Anggela, lupakan masalah umur .... Ayo kita pergi ke pertemuan untuk menyusun rencana kita.”

“Ok-oke, kemana kita akan pergi sekarang?”

“Markas Guild Blizzard, Adeolos di Jakarta..”

Ad-adeolos? Jakarta?”

“Adeolos hanya sebuah villa sederhana milik keluargaku, dan Jakarta adalah ibu kota negara ini, Indonesia.” Shalsa sambil berjalan menuju pintu keluar, dia melirik Anggela.

“Be-begitu ..., ngomong-ngomong, kita masih di Bandung kan?” tanya Anggela berjalan mengikuti Shalsa.

“Ya ..., memangnya kenapa?”

“Ti-tidak bukan apa-apa ...,” senyum Anggela sedikit gugup.

Aku tidak bisa melibatkan Kak Hana lebih jauh lagi ....”

Mereka sampai menuju parkiran mobil rumah sakit. Sebelum memasuki mobil mewahnya, Shalsa terlihat mengeluarkan handphonenya dan mulai berbicara pada seseorang.

“Katakan pada yang lainnya, rapat Deliverance Operation akan diadakan di Adeolos .... diharapkan kepada semua petinggi berkumpul.”

Setelah menyampaikan pesan tersebut, dia menyimpan teleponnya dan masuk ke dalam mobil, dia tersenyum pada Anggela dan berkata.

“Masuklah ....”

“Ya ...,” senyum Anggela mulai memasuki mobil milik Shalsa, mobil sport berwarna putih yang terlihat sangat mewah.

Mereka pun pergi menuju Kota Jakarta dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sedangkan kembali ke rumah sakit, terlihat Arisa yang sedang bergumam kesal sambil bersiap-siap berangkat.

“Kak Arisa ..., wajahmu sangat menakutkan,” Ai terlihat khawatir menatap wanita yang sudah ia anggap seperti kakaknya..

“Habisnya Sha-chan sangat menyebalkan!! Kenapa dia harus repot-repot melakukan rapat mendadak seperti ini!?” geram kesal Arisa sambil memakai jas kulitnya.

“Sha-chan, kah? Kenapa kamu tidak memanggil master seperti itu didepannya. Kenapa harus –“

“Bukankah itu tidak sopan!? Dia itu istri kepala keluarga Anatasha loh! Dia juga salah satu kineser terkuat saat ini, mana mungkin aku memanggilnya seperti itu!”

“Ya, terserah Kakak deh, aku mau tidur ....” Ai  mulai membaringkan badannya, dan menyelimuti tubuhnya dengan selimbut.

“Kamu harus banyak istirahat yah, Ai-chan!” Arisa berjalan cepat menuju pintu keluar.

“Tutup lagi pintunya Kak!”

“Iyaa ...,” senyum Arisa sambil menutup pelan pintunya.

~~

Beberapa jam kemudian, di sebuah gedung mewah ..., terlihat beberapa orang yang sudah berkumpul di meja yang berbentuk lingkaran panjang. Shalsabilla, Arisa, dan Anggela terlihat juga dalam kumpulan orang tersebut.

Ap-apanya yang villa sederhana ...?” Anggela mengeluh dalam hati sambil melirik sekitarnya.

Kenapa anak itu duduk di samping kanan Sha-chan!?” Arisa terlihat sedikit kesal dalam hati, dia menatap tajam Anggela.

Bagus, semua orang menatapku sekarang ...,” keluh kembali Anggela dalam hati.

“Baiklah!! Sebelum memulai rapat, saya akan memperkenalkan tamu khusus yang berada disamping kanan saya .... Namanya Anggela Dwiputra ....” Shalsa terlihat tegas layaknya seorang pemimpin.

“Anggela Dwiputra, mohon bantuannya.” Anggela berdiri lalu sedikit membungkukkan badannya.

“Apa urusannya dengan kita? Dan apa maksud Master kalau dia adalah Tamu khusus ...?”

Shalsa seketika tersenyum, dia ikut berdiri sambil tangan yang masih memegang meja.

Dia tersenyum lebar dan berkata.

“Dia kineser yang sangat kuat! Aku bahkan kalah telak saat melawannya ...!”

“Se-serius Master!??” Arisa terlihat terkejut, benar-benar terkejut.

Tidak hanya Arisa saja yang terkejut, seluruh penghuni ruangan juga dibuat terkejut olehnya, termasuk Anggela sendiri.

Se-sejak kapan kita pernah bertarung!??” gumam Anggela terkejut dalam hati.

“Berisik ...!!” Shalsa sedikit kesal, dia berteriak menghentikan kekacauan yang dibuat olehnya sendiri.

“Maka dari itu hormati dia, kita harus bersyukur karena orang ini akan membantu kita dalam operasi penyelamatan Kei!”

“Ba-baik Master!!” teriak seisi ruangan kecuali Anggela dan Shalsa.

“Baik ..., sekarang biar aku jelaskan bagaimana rencana penyelamatannya ...!”

Perancangan rencana pun dimulai, rencana untuk menghentikan perang dan menyelamatkan Kei, suami dari sang guild master, Shalsa.

Shalsa mulai duduk kembali di kursinya, meletakkan tangannya diatas meja, dan menahan dagunya dengan jemari manisnya yang dilipat.

Shalsa memejamkan matanya, wajahnya yang serius seketika membuat seisi ruangan menjadi cukup tegang.

“Seperti yang kalian tahu, saat ini Guild kita sedang melakukan Guild War dengan Guild Lonelybird.”

Wajah sedih telihat jelas dari para petinggi, mereka menundukkan kepalanya dan sama sekali tidak berani melihat Shalsa.

“Kalian pasti sangat tahu dampak dari Guild war ini, kita harus segera menghentikan perang konyol ini ...!!” Shalsa membuka matanya yang terlihat sangat kesal, nadanya cukup pelan dengan tekanan nada yang dalam.

“Ja-jadi kita akan melakukan penyerangan Master? Penyerangan pertama kita pada guild mereka?” tanya Arisa terlihat gugup.

“Ya .... Penyerangan pertama dan terakhir yang akan kita lakukan, penyerangan yang akan mengakhiri peperangan ini.”

“Lalu bagaimana dengan rencana penyelamatan Tuan –“ tanya seorang petinggi mengangkat tangannya.

“Kei ...? Sejujurnya aku sudah tau apa yang akan ia katakan jika dia ikut rapat ini ....”

“Ap-apa itu?” tanya Anggela melirik gugup Shalsa.

“Mungkin dia akan berkata’ Lupakan misi penyelamatanku, lakukan saja misi utama penyerangan ini!’ Jadi aku tidak akan mengutamakan penyelamatan  –“

“Tu-tunggu, Sha-chan!! Kei itu orang paling berharga bagimu, kan? Kenapa kamu merelakannya –“ Arisa sangat terkejut dan mulai berdiri sambil menggebrak pelan meja didepannya.

“Sh-sha Chan?” Anggela terlihat sangat terkejut keheranan mendengar perkataan Arisa.

“Tunggu Hahanaru Shizen, kenapa kamu bersikap tidak sopan seperti itu pada Master!!” geram kesal salah satu petinggi melihat Arisa.

“Tapi –“ Arisa terlihat khawatir melihat Shalsa. Kedua tangannya bergemetar karena merasakan aura kesedihan di sekitar Shalsa.

“Tak apa Risa, aku tidak apa-apa,” senyum sedih Shalsa mengepalkan kedua tangannya cukup erat.

“Tunggu Shalsa .... Bukankah beberapa jam yang lalu, kamu sendiri yang meminta bantuanku untuk menyelamatkan suam –“ Anggela terlihat kesal melirik Shalsa.

“Aku sudah berubah pikiran,” senyum sedih Shalsa.

“Sial ...!! Kenapa Eisha mendeklarasikan perang ini, kenapa dia menculik kepala keluarga Anatasha!?” geram sangat kesal Arisa.

Disaat Arisa bergumam kesal tersebut, Shalsa terlihat memejamkan matanya, wajah sedih yang hebat benar-benar terlihat dari wajahnya, wajah sedih yang hampir mengeluarkan air mata.

Anggela secara tidak sengaja melihat wajah Shalsa tersebut, dia terlihat keheranan melihat wajah Shalsa yang terlihat dipenuhi oleh penyesalan.

“Shalsa ..., apa kamu memiliki masalah masa lalu dengan gadis bernama Eisha itu?” tanya pelan Anggela.

“Tidak,” senyum Shalsa menghapus air mata yang hampir menetes, lalu dia  mengangkat  kepalanya dan kembali menjelaskan rencana penyelamatan.

“Baik ..., begini rencananya! Kita akan langsung menyerang markas utama musuh. Para petinggi hancurkan pintu depan dan membiarkan kita masuk ...!!”

“Kita!?” Arisa terlihat kebingungan.

“Aku, Anggela, dan kamu,” jelas Shalsa menatap Arisa.

“Tapi Master, pintu masuk dijaga ketat oleh beberapa kineser tingkat 2 dan 3. Kita akan cukup kesulitan untuk menerobos pintu masu –“

“Aku akan membantu!” senyum Anggela mengangkat tangannya.

“Tapi jika begitu, kamu menjadi memiliki dua beban –“ Arisa dan Shalsa terlihat khawatir.

“Memangnya kenapa?”

“Kenapa dengkulmu, bukankah kamu akan kerepotan –“ Arisa memasang wajah sedkit kesal.

“Jika misi ini berhasil, aku tidak peduli jika nanti aku merasa kerepotan. Lagipula aku juga harus memastikan sesuatu di markas itu,” Anggela memejamkan matanya, dia terlihat sangat serius.

“Begitu .... Baiklah, misi ini akan dilaksanakan besok jam satu pagi.”

“Ya, master ...,” jawab serentak seisi ruangan kecuali Anggela dan Shalsa. Dia hanya tersenyum memejamkan matanya.



***

Bagian Kedua 
JLEGARARRRRR!!!

Terdengar suara ledakan sangat keras, puluhan orang terlihat tergeletak di tanah dan sudah tidak bernyawa.

Anggela saat ini sedang berusaha menerobos pintu masuk yang sangat besar. Kineser terkuat kedua dari guild lonelybird lah yang menjaga pintu gerbang tersebut, sehingga Anggela cukup kesulitan menerobosnya.

Anggela dengan empat orang petinggi yang tersisa terlihat sedang mendiskusikan rencana, mereka bersembunyi dibalik tembok yang cukup jauh.

Tinggal satu orang lagi penjaga, tapi mereka tetap kesulitan karena penjaga tersebut kineser tingkat 3.

“Baiklah anak muda, sekarang bagaimana?”

“Tipe Hydrokinesis ..., tipe yang paling aku benci, mereka juga sangat baik dalam menghantarkan listrik ...,” Anggela bergumam kesal.

“Ya tidak heran, semua seranganmu selalu ia hadang. Kekuatanmu saat ini tidak akan cukup membantu ....”

“Ya, untung saja dia cuman tingkat tiga. Di duniaku tipe tersebut sangat jarang, bahkan mungkin tidak ada.” Anggela terlihat bernafas lega.

“Duniaku?”

“Ah tidak, hanya berbicara sendiri,” Anggela melirik musuhnya yang mulai datang.

“Hei, para pengecut!! Keluarlah!!! Bukankah kalian sendiri yang menginginkan perang ini!? Jangan terus bersembunyi seperti tikus!!” teriak gadis Hydrokinesis tersebut. Rambutnya cukup panjang bergelombang dengan warna hitam.

“Baiklah ..., begini rencananya, aku akan bertarung dengannya secara sengit, menahan pergerakkannya. Lalu saat dia lengah, saat itulah tugas kalian, lumpuhkan dia dengan kemampuan racunmu!” lirik Anggela pada salah satu petinggi.

“Lalu bagaimana dengan kami!?” tanya petinggi lainnya.

“Setelah dia pingsan oleh racun. Kau! Tolong ikat dia dengan kemampuan talimu!!” jelas Anggela menunjuk petinggi lainnya.

“Lalu untuk yang lain ..., bantu mereka saja, cover tiap orang,” lanjut Anggela sambil melirik gadis Hydrokinesis tersebut.

“Jadi kita bagi 3 tim? Tapi bagaimana denganmu!? Kamu hanya sendirian –“

“Tak apa, aku ini tingkat empat ...,” senyum Anggela bersemangat.

“Be-begitu, baiklah aku mengandalkanmu, anak muda.”

“Baik .... Kita mulai rencananya!!” teriak Anggela, lalu berlari menghampiri gadis Hydrokinesis itu.

“Akhirya kau keluar juga ...!” geram sangat kesal Hydrokinesis tersebut. Dia secara perlahan mengangkat tangan kanannya, dan berteriak.

Air deras!!

ZWUSHHHHH!!!!! Air sungai yang cukup jauh dari tempat tersebut, seketika datang mendekat sangat cepat, air sungai tersebut sudah siap menyapu bersih Anggela.

Anggela melompat dan menggunakan Els tepat diatas gadis tersebut. Dia mengangkat tangan kanannya ke belakang hingga terlihat ingin melemparkan sesuatu.

Terdengar percikan listrik kecil ditangan kanan Anggela, semakin lama percikan petir tersebut semakin besar dan membentuk sebuah panah. Lelaki bermata tajam itu terlihat berkonsentrasi dan berteriak.

Lightning Arrow!!”

“....”
  
“Terima ini, gadis Hydrokinesis!!” lanjut Anggela melemparkan panah listriknya tersebut ke arah lawannya.

WUSHHHHH!! ZZZTTT!!!

Kembali serangan Anggela ditahan oleh gadis tersebut, dia mengangkat sebagian kecil air sungai dan menghantarkan petir tersebut ke arah lain.

“Aku memiliki nama!! Diana, ingatlah nama yang akan mengambil nyawamu itu, bocah petir!!” geram sangat kesal Diana, dia menyatukan kedua tangannya. Air sungai yang berada di daratan seketika melayang ke arah Anggela yang sedang bergerak bebas.

Anggela hanya tersenyum memejamkan matanya dan hal tersebut membuat Diana kebingungan.

“Kenapa kamu terlihat gembira –“

“Sekarang!!!” teriak Anggela sangat keras, dia kembali membuka matanya.

“Apanya yang sekarang!?” Diana terlihat kesal dan panik.

Poisoning Amble!!” teriak petinggi, dia muncul dari tembok yang cukup dekat dengan Diana. Dia mengeluarkan asap berwarna merah darah, asap yang terlihat seperti racun tidur.

“Ja-jangan katak –“ Diana terlihat lemas, air derasnya seketika jatuh kembali ke daratan. Dia akhirnya tidak sadarkan diri.

Rope tails!” Diana terikat oleh tali yang cukup kuat, terikat tali yang dibuat oleh petinggi lainnya

Anggela jatuh dari ketinggian, sebelum dia mencapai tanah, dia menggunakan Els ke arah para petinggi.

“Berhasil?”

“Ya dengan sempurna ...,” senyum petinggi yang mengikat Diana.

“Rencana kita sangat sempurna, sekarang kita tinggal menghubungi Master dan –“

GREGKKKKK!!!

Pintu gerbang besar tersebut terbuka secara mudah, lalu muncul lah dua orang gadis yang salah satunya sangat dikenali oleh Anggela.

“Kenapa tidak kalian saja yang langsung datang padaku?” senyum seorang gadis berambut putih kebiruan. Gadis itu sungguh menatap tajam Anggela dan yang lainnya.

“Cepat selesaikan ini Eisha, aku harus berangkat ke Negara Jerman sore nanti,” jelas Savila dengan nada malas.

“Jadi kau yah orang yang membantu Shalsa?” lirik Eisha pada Anggela, dia benar-benar mengabaikan perkataan Savila.

“Savila ...!!” geram Anggela menatap tajam Savila, dia juga benar-benar mengabaikan perkataan Eisha.

“Ka-kamu masih hidup!?” tanya kaget Savila melihat Anggela.

“Ya, aku masih hidup!! Katakan dimana Anggelina sekarang!?” teriak sangat kesal Anggela, aura kemarahan sungguh keluar dari dirinya. Membuat para petinggi disekitarnya berwajah cukup khawatir.

“Kamu mengenalnya ...,” bisik Eisha pada Savila.

“Dia seorang Arcdemons ...,” bisik pelan Savila yang terlihat khawatir.

“Be-begitu ....” Eisha terlihat cukup terkejut.

“Tapi dia cukup lemah untuk seorang Arcdemons, hanya tingkat empat ....”

“Aku tarik kata-kataku Savila, kamu bisa pergi sekarang,” jelas Eisha tersenyum.

“Terima kasih..” senyum Savila lalu berjalan pergi menuju pintu keluar.

Anggela menggunakan kemampuan Els ke arah Savila, dia berniat menghentikan Savila. Tapi ....

BOAMMMM!!!!! Sebuah lasser biru yang sangat besar bergerak cepat kearahnya, Anggela mengurungkan niatnya untuk menghentikan Savila, dia mundur dan menghindari lasser biru tersebut.

“Tak akan kubiarkan, pangeran manis ...,” senyum manis Eisha memejamkan matanya pada Anggela.

“Sial ...!!” geram sangat kesal Anggela.

“Bye Anggela,” senyum Savila lalu bertransformasi menjadi api. Sontak, para petinggi terlihat sangat terkejut dengan apa yang Savila lakukan.

“Hey jawab pertanyaanku –“

BOOOMMMMM!!!!

Kembali sebuah lasser biru bergerak cepat ke arah Anggela. Anggela kembali menggunakan Els nya untuk menghindari serangan Eisha. Dia sekarang tepat berada di atas Eisha.

Railgun!!!!” teriak Anggela mengeluarkan skill meriam petir ke arah Eisha.

Eisha hanya tersenyum memejamkan matanya, dia perlahan mengangkat tangan kanannya ke arah meriam petir yang datang padanya.

JJJJWWWUUUUBBBB!! Meriam petir tesebut menghilang tak berbekas, Anggela dan para petinggi hanya terdiam terkejut melihat kejadian singkat tersebut.

Tu-tunggu!? Ap-apa itu tadi!?” Anggela terlihat sangat terkejut dan masih melayang di udara.

“Kenapa kamu malah melamun di pertarungan kita?” senyum Eisha, dia menyentuh tanah lalu muncullah sebuah tombak es dari dalam tanah.

SHUUSHHHHh!!!! BUAKKKKk!!!! Anggela terkena tombak es tersebut dan terpental hingga dia jatuh menabrak tanah.

“AAGRHHH!!!”

Para petinggi berniat menyerang Eisha, tapi Eisha dengan cukup cepat menembakkan sebuah lasser biru ke arah para petinggi itu, lasser besar yang sangat cepat dan kuat.

BOAMMMMMMMM!!!!!!

WUINGGGG!!!!!

Akan tetapi, para petinggi terselamatkan oleh sebuah tarikan yang cukup cepat, tarikan dari medan magnet yang dilakukan oleh seseorang.

Terlihat Shalsa dan Arisa yang sudah sampai di tempat, Shalsa memasang wajah sedih melihat Eisha yang menatap tajam dirinya. Sedangkan Arisa segera berlari membantu Anggela yang terluka cukup parah.

“Bi-bisa aku bicara dengan Shalsa?” tanya Anggela melihat Arisa.

“Ya, tentu saja. Master!” teriak Arisa pada Shalsa sambil melambaikan tangannya.

Shalsa berjalan pelan sambil menundukkan kepalanya, sedangan Eisha terus menatap tajam Shalsa, tatapan kemarahan yang amat dalam.

“Dia bisa menggunakan tiga kemampuan sekaligus –“ Anggela terlihat khawatir, tapi perkataaanya terpotong oleh Shalsa yang terlihat sedih.

“Aku tau ....”

“Aku sudah menduganya, tapi dia pasti berasal dari ras Half-elf, karena bisa –“

“Bukan Anggela, dia manusia seperti kami.”

“Lalu kenapa dia bisa menggunakan tiga kemampuan sekaligus ...?!” kesal Anggela pada Shalsa.

“Itu karena –“

“Aku tidak tau apa yang kalian bicarakan, tapi sepertinya ..., dia terlihat sangat marah pada kita ...,” Arisa menatap tajam Eisha yang sudah siap menembakkan kembali lasser besarnya.

BOAMMMM!!!!

Shalsa, Anggela, dan Arisa lekas menghindari serangan tersebut dengan kemampuan magnet milik Shalsa.

“Kenapa kamu begitu yakin kalau dia adalah manusia seperti kalian?! Kemampuannya benar-benar tidak masuk akal!!” Anggela terlihat kesal menatap tajam Shalsa.

“Karena aku tau semua tentang dirinya,” senyum sedih Shalsa menundukkan kepalanya.

“Apa maksudnya itu!?” tanya Anggela kebingungan.

“Ya, apa masudnya itu Master –“

“Sampai kapan kalian ingin berlari-lari seperti itu!?” teriak Eisha menatap tajam Anggela dan yang lainnya. Dia sungguh mengepalkan erat kedua tangannya. Aura kemarahan benar-benar keluar dari dalam dirinya.

“....” Shalsa hanya menatap khawatir Eisha.

“Ah, aku tidak melihatmu ..., maaf telah menyerangmu,” lanjutnya tersenyum kesal melihat Shalsa. Senyuman yang dipenuhi oleh kemarahan amat dalam.

“Apa maksudnya ini!?” tanya Arisa terkejut melirik Shalsa.

Shalsa hanya terdiam menundukkan kepalanya. Tubuhnya bergemetar, tangannya bergemetar ketakutan. Wanita cantik itu terlihat seperti ingin menangis.

“Ma-master?” Arisa bertanya kembali semakin khawatir.

“Oh begitu ..., jadi kau belum menceritakan pada mereka yah .... Ya tak mengherankan, itu sudah jelas. Karena bagaimanapun aku hanyalah buangan untukmu,” Eisha tersenyum melihat Shalsa yang menangis menundukkan kepala..

“Bu-buangan?” Arisa dan Anggela semakin terlihat kebingungan menatap Eisha. Tidak hanya mereka, tapi para petinggi guild mereka pun terlihat menatap penasaran Eisha.

“Baiklah, mungkin ini terdengar sedikit aneh tapi ..., senang bertemu denganmu kembali, Mama,” senyum sedih Eisha menatap Shalsa.

“Eisha ...,” Shalsa terlihat sedih menatap Eisha.



***

My Dearest Jilid 2 Chapter VIII Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.