09 Februari 2016

My Dearest Jilid 2 Chapter IX


MY DEAREST JILID 2
TRUTH OF WORLD DESTINY
CHAPTER IX
ANCAMAN DEVILUCK
Bagian Pertama
“....” Suasana terasa sangat hening. Semua orang terdiam dengan mulut terbuka ketika sudah mendengarkan perkataan terakhir dari gadis bernama Eisha

“ Ma-mamah!? Sebenarnya apa hubungan kalian ini?!“ tanya Arisa sangat terkejut penasaran. Anggela juga cukup terkejut melihat Shalsa dan Eisha. Dia juga akhirnya sadar jika berapa bagian dalam wajah Eisha ada yang mirip dengan Shalsa.

“Sepertinya, orang tuaku belum menceritakan hal ini. Aku adalah putri sulung dari Shalsabilla Anatasha dan Kei Anatasha, putri tertua dari keluarga Anatasha, dan satu-satunya anak yang mereka buang demi kepentingan mereka sendiri!” Eisha tersenyum bahagia melihat Shalsa yang mulai menangis menundukkan kepala.

“Tunggu, bukankah kamu hanya memiliki dua anak!? Lalu –“ Anggela bertanya penasaran.

“Se-semua yang dia katakan adalah kebenaran. Dia memang putriku.”

“Mari kita selesaikan ini, mamah .... Bukankah kamu sudah lama menantikan ini, menantikan untuk membunuhku –“

“Tunggu Eisha!! Memang benar kami meninggalkanmu! Tapi ini semua demi kebaikanmu! Kami tidak pernah berniat membunuhmu!? Kami berdua sangat menyayangi –“

“DIAMLAH!!” teriak Eisha sangat kesal. Teriakan yang dipenuhi oleh kemurkaan dari dirinya yang tak diinginkan. Wajahnya terlihat amat murka kepada ibunya sendiri.

“Eisha ...,” Shalsa hanya berwajah sedih menatap putrinya.

“Kenapa perkataanmu sama persis sekali dengan lelaki itu!? Apa kalian sudah merencakan ini sejak lama!? Kalian pasti tertawa bahagia melihat aku yang seperti ini!!”

“Tidak Eisha!! Kumohon jangan libatkan orang lain dalam masalah kita, kita akhiri perang konyol in –“

“Aku memasuki guild ini untuk hari ini, Mah. Kita akhiri sekarang, jika kamu berhasil membunuhku maka perang ini akan berakhir ..., hanya itu jalan satu-satunya.”

“Mana mungkin aku bisa membunuhmu!!“ teriak Shalsa amat keras dengan air mata diwajahnya. Itu bukanlah hal yang aneh, dia hanyalah seorang ibu yang menyangi putrinya.

Tapi teriakan Shalsa itu dibalas oleh teriakan Eisha yang semakin keras darinya. Teriakan yang dipenuhi kekecewaan dan perasaan sakit hati yang amat dalam.

“Tapi kalian MEMBUANGKU!!”

“Kalian tidak menginginkanku ...,” pelan Eisha mulai menangis menundukkan kepala.

“Sudah kubilang itu demi kebaikanmu, kumohon mengertil –“

BOAMMMMMM!!!!!

Sebuah lasser besar memotong perkataan Shalsa, Shalsa lekas mengangkat kedua tangannya dan berteriak, “Magnetic Impact!!!”

WUIINGGGGGG!!!!! DUMMMMM!!!

Lasser besar Eisha dipantulkan ke atas dengan kemampuan magnet milik Shalsa.

“DIAMLAH!! –“ teriak Eisha menangis dengan aura kemurkaan semakin kuat. Tapi teriakannya terpotong oleh teriakan Shalsa yang semakin keras dan terdengar dipenuhi penyesalan.

“KAMI SANGAT MENYAYANGIMU!!”

“....” Eisha mulai berwajah khawatir, kedua tangannya bergemetar. Hatinya sedikit tergerak karena teriakan ibunya.

“Sungguh, kami hanya ingin melindungimu, kami hanya ...,“ lanjut pelan Shalsa mengusap air matanya.

“Ingin tetap kamu hidup, Eisha!!” teriak seorang lelaki melanjutkan pernyataan Shalsa. Lelaki itu berambut hitam dengan kondisi tubuh yang berantakan. Dia berjalan pincang dari arah gerbang besar.

“Ke-kenapa kau disini!? Seharusnya kau tidak mungkin bisa melarikan diri dari penjara itu?!” tanya Eisha sangat terkejut, dia melirik khawatir lelaki tersebut.

“Kei!” teriak Shalsa gembira melihat lelaki tersebut.

Jadi itukah suami Shalsa? Dia juga terlihat muda ....” Anggela bergumam sambil memasang wajah kesakitan.

“Eisha hentikan ini sekarang!! Kelakukanmu ini sudah kelewatan!” teriak Kei sangat kesal.

Eisha hanya terdiam kesal, wajahnya yang terlihat sangat menakutkan berubah seperti wajah anak kecil yang terlihat cemberut karena dimarahi oleh orang tuanya.

“Lalu kenapa?!! Kenapa aku tidak bisa bersama kalian!? Kenapa aku tidak bisa seperti Asha dan Shana ...!!”

“Karena kamu sudah dianggap ancaman, Eisha .... Sudah dianggap ancaman oleh keluarga Deviluck, sejak kecil kamu sudah diburu oleh keluarga tersebut,” sedih Shalsa memalingkan wajah.

“Eh, apa maksudnya itu!?” Eisha terlihat terkejut.

“Apa karena kemampuannya yang unik?” Anggela berdiri dengan bantuan Arisa.

“Ya, bukan berarti dia bisa mengendalikan 3 tipe kinesis sekaligus. Tapi kemampuannya adalah ...,” Kei menatap sedih putrinya.

Ergokinesis ..., memanipuasi atau bahkan penguraian dan penggabungan berbagai macam energi ...,” lanjut Shalsa sangat sedih.

“Ja-jadi itu sebabnya yah ....” Anggela tersenyum gugup melihat Shalsa.

“Kamu pasti mengingatnya kan, ibumu selalu berusaha melindungimu dari orang-orang itu. Dia bahkan kehilangan penglihatan mata kanannya karena melindungimu!!” geram kesal Kei melihat Eisha.

Eisha hanya terdiam, mulai menitiskan air matanya. Gadis berambut putih itu sepertinya mulai mengingat tentang masa lalunya. Kebersamaannya dengan orang yang paling ia sayang, ibunya. Kehangatan pelukan ibunya yang senantiasa melindunginya mulai diingat olehnya.

“Kami membuat nama baru dan meninggalkamu bukan berarti membuangmu. Kami membuat skenario kematianmu itu hanya untuk melindungimu, melindungi putri tercinta kami dari ancaman ras iblis yang mengerikan itu!! Aku mohon percayalah Eisha ....” Shalsa terlihat menangis mengangkat kedua tangannya pada putrinya. Sungguh terlihat ingin memeluk dirinya yang menangis menatapnya.

Aku juga termasuk dalam iblis mengerikan itu, kah?” batin Anggela mengeluh menutup matanya sesaat.

“Tu-tunggu, mata Shalsa itu buta sebelah?” lanjutnya terkejut dan berbisik pada Arisa.

“Iya, apa kami belum memberitahumu?” Arisa dengan nada datar.

“Belum sama sekali!” geram Anggela cukup kesal.

“Tapi aku sudah melalkukan semua ini ....“ Eisha menangis menyesal menutup matanya. Dia menundukkan kepalanya seakan merasa bersalah.

“Sekarang aku tidak peduli dengan apa yang kau lakuakn selama ini!! Aku datang kesini hanya ingin mengatakan, tinggalah bersama kami!! Aku ingin membuat aliansi dengan guildmu, putriku,” senyum Shalsa mulai berjalan menghampiri putrinya.

“....”  Kei dan Anggela hanya tersenyum melihat ibu dan anaknya yang kini bisa saling memahami. Arisa dan beberapa petinggi terlihat menangis bahagia melihat mereka yang kembali bersama.

“Ma-mamah ...,” Eisha sungguh menangis behagia, mulai berjalan berniat memeluk ibunya, akan tetapi.

JLEBBBBB!!!

“Eh ...?” Perkataan Eisha terhentikan, darah merah mulai keluar dari mulutnya. Dia mendapatkan tusukan pedang dipunggungnya.

Pedang, atau mungkin tulang putih yang sangat tajam itu menusuk jantung Eisha. Tulang tersebut melesat sangat cepat bahkan Anggela tidak dapat melihat terbangnya pedang tersebut.

“Eh!?” Eisha memasang tatapan kosong melihat ibunya.

Suka cita seketika berubah menjadi duka cita. Semua orang menatap kosong kejadian yang terjadi amat singkat itu. Mulut mereka terbuka seolah tak mempercayai apa yang sudah menimpa master guild Lonelybird itu.

“Eisha!!!” teriak Shalsa menangis ketakutan. Dia berlari sangat cepat menghampiri putri sulungnya.

“Eisha!!!” teriak Kei ikut berlari menghampiri Eisha yang terjatuh. Dirinya yang terlihat tenang seakan hancur, dia juga menangis frustasi melihat putrinya.

Pandangan Eisha terlihat lemah menatap kedua orang tuanya. Dia menangis bahagia sambil berkata.

“Ma-maafkan aku, hah hah ...., Pah, Mah ....”

“Tunggu Eisha!! Kit-kita akan memberikanmu pertolongan medis, te-tenanglah sayang! Kita akan menyelamatkanmu ....,” khawatir Shalsa yang frustasi. Dia mengusap lembut kepala putrinya, mencium keninganya, memeluk dirinya yang sudah diambang batas.

“KEI!!” lanjut Shalsa berteriak melihat suaminya. Dia sungguh menangis frustasi menatap suaminya

“Ha-Hallo!! Medis, rumah sakit!! Cepat datang –“ Kei terlihat sangat panik tapi terpotong oleh suara putrinya yang cukup keras.

“Tak apa ...!! Uhuk – hah hah ..., in-ini kar-karma dari Tuhan untukku .... aku ber-beryukur bisa mengetahui kebenaran itu. Terima kasih Mamah, Papah ....” Eisha tersenyum bahagia, senyuman dengan air mata yang cukup banyak, senyuman terakhir yang dia berikan pada orang tuanya.

Secara perlahan dia menutup matanya, denyut nadinya menghilang, tubuhnya berubah menjadi dingin yang menyayat hati ibu tercintanya.

“Tung-tunggu sayang, kita baru bertemu, kan!? Apa kamu ingin meninggalkan mamah lagi!?” tanya Shalsa ketakutan. Air mata sungguh mengalir deras dari kedua matanya.

“....” Kei hanya menutup matanya frustasi. Air mata terus keluar dari kedua matanya itu. Dia hanya bisa mengepalkan erat kedua tangannya karena ketidakberdayaannya untuk melindungi putrinya.

Semua orang disana hanya menatap sedih apa yang terjadi pada mereka. Beberapa ada yang menangis seakan ikut merasakan perasaan mereka yang kehilangan putrinya..

Anggela yang sebelumnya menatap sedih Shalsa dan yang lainnya segera merubah raut wajahnya.

Wajah yang penuh dengan kemarahan dan kemurkaan.

Dia melirik sekelilingnya sambil bergumam kesal dalam hatinya.

Dimana!? Dimana bajingan yang sudah menghancurkan keharmonisan keluarga ini!?”

Pencarian Anggela terhentikan ketika dia mendengar sebuah kalimat yang cukup keras, kalimat dari seorang gadis yang berada di atas mereka.

Mission Complete ..., kan Kak?

Di atas!?”  geram kesal Anggela dalam hati, dia mengangkat kepalanya dan melihat dua gadis yang berdiri di atas gerbang besar milik Eisha. Gadis yang satu berambut hijau, dan yang satunya lagi berambut putih bersih dengan kulitnya yang seputih salju.

“Ya ...,” jawab gadis berambut putih itu. Dia menatap datar duka cita dibawahnya, hatinnya sungguh terasa dingin.

“Tapi sungguh, kenapa para petinggi memberikan misi mendadak seperti ini!? Untung saja kita mendarat di negara ini, jika tidak kita harus bolak-balik naik pesawat,” keluh gadis berambut hitaju menutup matanya sesaat.

“Sudahlah Litias, kita harus pergi sekarang ....”

“Tapi apa gadis itu benar-benar sangat berbahaya bagi kita, Kak Keina?” senyum khawatir Litias. Dia sungguh menatap penasaran Eisha yang tak bernyawa.

“Ya, dia sangat berbaha –“

DUAARRRRRRR!!!!

Ledakan seketika terjadi di tempat kedua orang yang membunuh Eisha. Pintu tersebut hampir dihancurkan oleh pukulan Anggela.

Anggela menggunakan Els dan memukul kedua orang tersebut dengan Lightning Blow.

Siapa?” gumam dalam hati Keina sambil melayang di udara, dia menggunakan kemampuan gravitasinya. Sementara itu serangan Anggela di tahan oleh puluhan tulang yang muncul dari dada Litias, gadis berambut hijau panjang.

“Siapa kau?! Berani sekali menyerang kam –“ geram Litias menatap tajam Anggela. Dirinya terlihat tenang, pukulan Anggela terasa sungguh tidak berarti baginya.

“Bajingan, kau masih bisa mengatakan itu setelah apa yang kau lakukan!!” teriak kesal Anggela mengangkat wajahnya, dan ketika saat itu juga Keina dan Litias terkejut melihat pandangan tajam yang Anggela berikan.

Ta-tatapannya ...,” batin terkejut Litias cukup ketakutan.

Seperti Serraph....! Si-siapa dia!?”  batin Keina melanjutkan perkataan hati Litias, dia mengkerutkan dahinya menatap penasaran Anggela.

Seperti halnya Keina, Anggela juga cukup terkejut melihat wajah Keina.

Wajah Keina sangat mirip dengan adiknya, mungkin tidak hanya wajah, tapi bentuk dan warna rambutnya pun sangat mirip dengan adiknya. Dia bergumam sangat terkejut sambil melihat Keina.

Anggelina?”

***

Bagian Kedua 
Di sebuah villa mewah di tanah Kota Berlin, Jerman. Seorang gadis berambut coklat mulai membuka matanya. Tubuhnya dipenuhi oleh banyak perban.

Dia menggerakkan kelopak matanya secara perlahan dan melihat langit-langit villa tersebut.

Dimana?” pikirnya saat itu.

Dia mulai mengangkat tubuhnya dan berniat bangun dari tempat tidur tapi,

“Tunggu gadis muda ..., kamu masih harus istirahat,” senyum khawatir seorang gadis lainnya, gadis berambut putih kemerah mudaan, dia memegang pelan kedua pundak gadis yang terluka itu.

“Aly-sha, kan? Aku tau namamu dari temanmu ...,” lanjutnya lalu membantu membaringkan Alysha yang terlihat lemas.

“Dan kamu, siapa?” tanya pelan Alysha, tatapannya juga terlihat lemah seolah dia masih setengah sadar.

“Namaku Asha Anatasha ..., salah satu penghuni bangunan ini.”

“As-ha, ahhh ..., dimana aku per-pernah mendengar nama itu,” Alysha kembali memejamkan matanya dan mulai tertidur kembali.

Asha hanya tersenyum sambil bergumam dalam hatinya.

Warna rambutnya dan nama belakangnya benar-benar mirip seperti Haikal .... Siapa sebenarnya anak ini?”

Krekkkkk!

Pintu yang cukup besar terbuka pelan, terlihat Fie yang membawa minuman hangat dengan kedua tangannya.

Dia tersenyum melihat Asha dan berkata. “Terima kasih sudah menjaga temanku.”

“Tak apa,” senyum Asha berdiri dari tempat duduknya.

“Entah kenapa ketika aku bersamannya, hatiku terasa lebih damai,” lanjutnya berjalan pelan menuju pintu keluar.

Mungkin karena dia itu putrimu, bukan hal yang aneh jika kamu merasa nyaman dengan Alysha ...,” pikir Fie sambil menyimpan minuman hangat untuk Alysha.

“Oh iya, jika dia benar-benar terbangun sepenuhnya, tolong kasih tau aku yah,” senyum Asha berbalik sebelum melangkahkan kakinya melewati pintu keluar.

“Ya aku pasti memberitahumu,” senyum Fie sambil duduk di atas kursi yang diduduki oleh Asha sebelumnya.

Sambil melihat Alysha yang tidak sadarkan diri, Fie bergumam dalam hatinya.

“Sudah lebih dari satu bulan kita sampai ke dunia ini, sudah lebih dari satu bulan juga kamu masih belum sadarkan diri, Alysha. Sesungguhnya kenapa kita bisa sampai ke dunia ini, dimana Anggela dan yang lainnya? Apa yang sebenarnya sudah terjadi?”

“Fie?” lirik Alysha, dia terlihat sudah sadar sepenuhnya. Wajahnya benar-benar menggambarkan kalau dia sedang kebingungan.

“Alysha, kamu sudah sadar –“

“Dimana? Dimana ini? Ka-kakak dimana...?” tanya Alysha, dia mulai mengeluarkan air mata layaknya seorang anak kecil.

“Alysha, tenanglah ..., Kak Heliasha mungkin masih hidup ..., kita hanya terpencar –“

“Tidak, aku ingin bertemu dengan Kakak!!” teriak Alysha menangis, merengek seperti anak kecil.

Sung-sungguh tidak terduga aku bisa melihat sisi lemah dari Frost Queen...!” Fie terlihat sangat terkejut melihat Alysha.

Suara Alysha yang cukup keras mulai terdengar oleh Asha yang masih berjalan di lorong ruangan. Perasaan khawatir yang berlebihan seketika menempel pada dadanya, dia berlari kembali menuju ruangan Alysha.

“Ada apa!?” tanya khawatir Asha sangat cemas.

“Hikss ... hikss ...!” Alysha mengusap air matanya, sedangkan Fie terlihat berusaha menghibur Alysha yang dipenuhi oleh perban.

“Ke-kenapa!?  Apa lukamu sakit? Atau kamu lapar?  Atau –“ Asha terlihat sangat khawatir.

“Dia hanya merindukan kakaknya,” senyum Fie yang melihat tingkah lucu Asha yang berlebihan. Alysha mulai menurunkan tangannya, melihat seorang gadis yang tak ia kenali di dekatnya.

“Si-siapa?”

“Hhahahaha, sepertinya kamu lupa yah ...,” senyum khawatir Asha menutup matanya sesaat.

“Lupa?” Alysha terlihat kebingungan memiringkan kepala.

“Iya, padahal kita sudah saling berkenalan tadi.”

“Ma-maaf aku tidak ingat.”

“Ahhh tidak apa, biar kuperkenalkan namaku lagi ..., aku Asha Anatasha.”

“Aku Alysha Aeldra, senang berkenalan denganmu.”

“Baiklah Alysha, jika kamu memiliki waktu, bolehkan aku berbincang denganmu?” senyum Asha bertanya

“Tentu saja, aku sangat merasa senang jika bisa berbincang denganmu!”

“Waah kamu juga merasakan hal seperti itu!? Sesungguhnya aku juga merasa sangat bahagia karena bisa berbincang denganmu!” senyum Asha sambil berjalan mengambil kursi yang berada di sudut ruangan.

“Alysha ..., apa kamu benar-benar tidak mengenal Asha?” bisik pelan Fie pada Alysha.

“Belum, ini pertama kalinya aku bertemu.”

“Be-begitu, cukup mengejutkan yah,” Fie terlihat terkejut.

“Baiklah Alysha, bagaimana perasaanmu sekarang?” senyum Asha sambil duduk di atas kursi, kursi yang sebelumnya dia ambil.

“Sangat baik, tubuhku juga sudah merasa enak .... Terima kasih sudah merawatku ....”

“Sebenarnya aku hanya sedikit membantu saja .... Hahahahaha.” Asha tertawa pelan memejamkan mata.

“Meski hanya sedikit hal tersebut tetap membantuku kok,” senyum manis Alysha.

“An-anu, Alysha ...?”

“Ya, kenapa?”

“Ma-maaf jika aku bertanya lancang .... ap-apa kamu mengenal Haikal Aeldra?” tanya gugup Asha.

“Haikal ..., Aeldra? Dia adalah ayahku, memangnya kenap –“

“Ay-ay-ayaah!???” Asha sangat terkejut dan terlihat hampir pingsan.

“Alysha!” Fie terlihat sedikit kesal menatap tajam Alysha.

“Apa yang kamu katak –“ Fie tapi terpotong perkataaanya.

“Tu-tunggu itu mustahil kan! Ha-haikal seumuran denganku, dan kamu dua tahun lebih muda dariku! Ap-apa dia sudah punya anak pada umur dua tahun!? La-la-lalu siapa is-istri –“ Asha terlihat sangat panik, kedua tangannya benar-benar bergemetar ketakutan.

“Asha tenang lah aku ingin berbicara dengan Alysha sebentar ...,” Fie memaksakan diri untuk tersenyum.

“Kenapa?” Alysha terlihat kebingungan.

“Kita ini sudah kembali ke masa lalu! Jadi wajar kalau semua orang akan shock jika kamu bebicara langsung seperti itu!” bisik pelan Fie dengan nada yang amat dalam.

“Se-serius!? Jadi kemungkinan papah dan mamahku masih hidup!?”

“Iya kemungkinan besar seperti itu!”

“Tunggu, jangan katakan gadis yang bernama Asha Anatasha ini!?”

“Ya, nama keluarganya masih belum berubah, kemungkinan besar dia adalah .... “ Fie terlihat cemas menatap Asha yang masih terlihat shock.

“Ma-mamah?” Alysha melirik Asha secara perlahan. Kedua tangannya bergemetar.

“Itu masih kemungkinan, kita masih belum tau –“

“Aku tau jika itu masih kemungkinan, biar aku yang akan memeriksanya sendiri!”

“Eh serius? Tapi Alysha –“ Fie terlihat sangat cemas.

“An-anu Asha?” gugup Alysha bertanya pada Asha.

“Iy-iya ada apa!?” Asha terlihat masih gugup, dia terlihat masih shock karena pernyataan Alysha sebelumnya.

“Asha Anatasha, kan? Apa tipe kinesismu seperti ini?” Alysha sambil membuat sebuah berlian es ditangan kanannya, berlian es dengan wana biru muda yang sangat indah.

Crycokinesis? Ka-kamu juga seorang Kineser?” Asha terlihat sangat terkejut melihat Alysha.

“Tolong jawab saja pertanyaanku!!!” teriak Alysha menundukkan kepala, nadanya terdengar kesal.

“Iy-iya, aku memang tipe yang sama denganmu, memangnya –“

“Kamu sangat benci dengan udang, kan!?”

“Ba-bagaimana kamu mengetahuinya!?” teriak Asha dengan wajah memerah, wajah yang sangat lucu.

“Kamu memiliki tubuh yang lemah, kamu memiliki seorang adik perempuan, lalu kamu memiliki –“

“Stop!! Tung-tunggu!! Kenapa kamu tau semua tentangku!? Apa kamu seseorang yang memiliki semacam kekuatan supernatural!?” teriak Asha dengan wajah semakin memerah.

“Sudah kuduga ..., hiks ...,” Alysha mencoba menahan tangis, tapi air matanya tetap keluar, air mata yang sangat banyak benar-benar keluar dari matanya.

“Ke-kenapa kamu menangis!? Apa kamu sakit? Lapar?” Asha sungguh terlihat sangat khawatir.

“Bo-bolehkah aku me-memelukmu?” gugup Alysha tetap menahan tangis yang lucu, dia berkata cukup pelan menundukkan kepalanya.

“Ya tentu saja ...” Asha terlihat keheranan, dia sedikit memiringkan kepalanya.

Dengan sangat cepat Alysha lekas keluar dari ranjangnya, dan melompat memeluk Asha, dia memeluk Asha sangat erat seolah tak ingin kehilangannya.

Asha terjatuh dari kursinya dengan Alysha yang terus memeluk dirinya.

“Tu-tunggu!? Ada apa dengan dia!?” Asha terlihat panik keheranan melihat Fie, sedangkan Fie hanya tersenyum memejamkan matanya sambil berkata.

“Hanya untuk sebentar .... Tolong biarkan dia seperti itu.”

***


My Dearest Jilid 2 Chapter IX Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.