20 Februari 2016

Hataraku Maou-sama! Jilid 3 Bab 1 LN Bahasa Indonesia



HATARAKU MAOU-SAMA
JILID 3 BAB 1
SI RAJA IBLIS DAN PAHLAWAN TIDAK SENGAJA MENJADI ORANG TUA

Di sebuah tempat yang dipenuhi dengan bau minyak juga besi, terdengar sebuah suara mesin yang sedang berputar.
Dengan hanya menggunakan sedikit kekuatan maka dia akan bergerak sangat cepat, semua ini karena sistem gigi yang baru.
Tapi sepertinya bukan hanya itu alasannya, kerangka sepedanya juga dibuat dengan ringan dan aman.
Keamanan juga sudah terjamin, dengan menggunakan sensor optik, kita bisa dengan otomatis membunyikan suara keamanan ke depan, penanda bahaya juga dengan sekali sentuh saja maka dengan otomatis akan memberitahu keberadaannya, reflektor yang ada disegala arah juga dipasang dengan teliti.
Tidak peduli walaupun alat terpasang dengan lengkap, tetap tidak mengganggu juga tempat duduk yang sangat nyaman.
Tempat duduknya dilapisi bahan kulit, di depan juga ditambahkan keranjang yang besar, dan melihat kegunaannya, kita bisa memasangkan keranjang lain di tempat yang lain.
“Bagaimana, semuanya sudah dibuat sesuai dengan keinginanmu.”
Seorang pria yang menggunakan pakaian pekerja yang bau minyak menunjuknya, dan dengan bangga menjelaskan.
“…….Sepertinya masih belum cukup, kita tidak akan tahu kalau tidak mencoba.”
Tapi, pemuda yang satu lagi dengan wajah bingung dan ragu sedang berpikir, jadi, pria dengan bau minyak itu berkata.
“Sudah kuduga kau akan bicara seperti itu, aku sudah mempersiapkannya, inilah skill yang kubanggakan, menurut caramu berkendara, sepuluh tahun pun bisa.”
Dan dengan menantang menyilangkan kedua tangannya.
“Kalau begitu aku akan berharap.”
Pria muda itu naik ke tempat duduk tersebut dan tertawa dengan diam-diam.
“Hoo…….ini………”
Karena suara yang dengan alami terdengar, pria dengan bau minyak itu mulai menunjukkan senyumnya.
Sebuah bayangan kecil yang melihat kedua pria itu dengan tidak senang sedang berbisik-bisik.
“………Drama apaan ini?”
Pria muda itu sama sekali tidak peduli dengan ucapannya itu, dan dengan semangat mulai mengetes sepedanya.
Dan saat ini, dia mengeluarkan suara terkejut.
“Uwoooooooo! Hebat sekali! Ringan! Setelah mengubah giginya malah menjadi lebih ringan lagi rasanya!”
Dengan cepat dia keluar dari gudang, pria muda itu tertawa dengan bahagia sambil menaiki sepedanya dan dengan semangat berteriak.
“Sudah diputuskan! Ini dia!”
“Terima kasih, dilihat dari hubunganku denganmu Maou, aku hitung lebih murah sedikit, dua puluh sembilan ribu delapan ratus yen gimana?”
“Hirose-san memang yang terbaik! Ah, orang yang disana itu yang akan bayar, Suzuno, tolong.”
Pria muda yang bernama Maou itu memanggil gadis yang menggunakan yukata yang ada di kursi berwarna kuning yang berada disamping gudang itu.
Pria dengan bau minyak itu melihat gadis itu dengan mengangkat alisnya.
Gadis bernama Suzuno yang dipanggil Maou itu dari dalam hatinya dia menunjukkan ekspresi kesal, mengambil dompet dengan gambar bunga dari tas tangannya yang bergambar ikan mas warna emas.
“Maaf bertanya, apa percakapan yang tadi berarti?”
Sebuah tempat yang dekat dengan jalur Keio Shibuya, tidak jauh dengan daerah Shibuya yang ada di Sasazuka dan tidak begitu jauh dengan Tokyo yang membutuhkan waktu sekitar 5 menit untuk berjalan sampai ke sana, ‘Toko Sepeda-Hirose’ yang ada di distrik perbelanjaan Budha, Hirose melepaskan handuk yang ada diatas kepalanya, sambil mengelap keringatnya dan tertawa.
“Dia hanya menikmati dirinya sendiri, tapi, apa benar membiarkan nona ini yang membayar? Apa kamu adalah pacarnya Maou?”
Karena masalah ini, kerut gadis itu mulai terlihat.
“Tolong anda tidak bercanda dengan lelucon yang tidak lucu ini, aku membayarnya karena terpaksa, Sadao-kun, kau ingin bermain sampai kapan, masih perlu biaya register keamanan, cepat kembali.”
“Hehe……”
Maou Sadao yang kembali dengan sepeda baru dan mahal itu menunjukkan senyumannya.
Reflektor yang terpasang dimana-mana, juga lampu yang akan hidup sendiri jika gelap, juga sepeda britgeston (bridgestone) dengan alat pengubah kecepatan 6 tingkat yang dipikirkan Maou setiap saat.
“Biaya sepeda dua puluh sembilan ribu delapan ratus, biaya register keamanan tiga ratus yen……seratus yen tidak apa-apa, jadi totalnya tiga puluh ribu yen.”
“Terima kasih atas bimbingannya.”
Suzuno melipat 3 lembar uang sepuluh ribu yen itu dan memberinya pada Hirose.
“Baik, terima kasih, kalau lain kali ada kesempatan, bagaimana nona juga membeli satu?”
Walau Hirose sudah menawarkan, tapi Suzuno mengangguk-angguk kepala.
“Karena tidak terima latihan yang diperlukan, hari ini biarkan saja.”
“Latihan yang diperlukan?”
Karena keraguan Hirose, Suzuno dengan serius mengatakan.
“Menurut rumor, sebagai gantinya tidak perlu SIM, kita harus menggunakan alat yang bernama ‘pembantu roda’ untuk latihan.”
Karena kalimat tadi, Maou terpikir sosok Suzuno yang berlatih sepeda dengan tubuhnya yang kecil itu menggunakan sepeda anak-anak yang ada pembantu rodanya, dan hampir tertawa.
“Tidak disangka tapi ternyata lucu.”
“Kau tidak sedang memikirkan hal-hal yang membosankan’kan?”
Setelah melihat reaksi Maou, Suzuno melirik tajam ke Maou.
“Memanglah…….oh ya, beri aku fakturnya.”
“Ou? O, oh, tapi hanya bisa tulis tangan ya, boleh? Kalau tiga puluh ribu perlu cap sertifikat.”
“Namanya tulis aja ‘kantor perusahaan Ente Isla’.”
Maou terkejut setelah mendengar itu.
“Hoi, hoi, ini……”
Tapi, sepertinya Hirose sama sekali tidak peduli dan setelah selesai menulis, langsung memberikan fakturnya.
“Ini, terima kasih, Maou, dia sudah susah payah membelikannya, harus dirawat ya.”
“Ah, hn…….”
Dua orang yang diantar Hirose sampai keluar dari toko sepedanya berjalan bersama-sama di distrik perbelanjaan, dan berjalan menuju ke asrama yang mereka tinggali.
Maou membawa sepedanya yang baru dibeli itu dengan senyum yang lebar, dan Suzuno menggunakan payung menutupi wajahnya karena hari yang sangat panas ini.
“Tapi, fakturnya mau kau buat apa si?”
“Kalau dengan baik mengontrol pengeluaran, untuk kelak nanti setelah membunuh Raja Iblis, kurasa setelah pulang ke ‘sana’ aku bisa meminta hadiah yang setimpal.”
“Bilang ‘dipaksa Raja Iblis untuk membelikannya sepeda baru’ ?”
Suzuno melirik tajam Maou dari celah payung.
“Apa kau ingin aku bilang kepada petinggi yang ada di gereja kalau Raja Iblis Satan itu sebenarnya adalah Iblis yang pelit sampai mengemis untuk dibelikan sepeda?”
“Orang yang berdiri ‘semakin tinggi’ pada zaman sekarang, apa salahnya hidup dengan sederhana dan damai? Juga aku terpaksa karena keadaan sekarang ini.”
‘Raja Iblis’ sederhana  yang hemat dan membanggakan diri sendiri itu melihat ke toko yang baru ia lewati.
“Suzuno, tunggu bentar, aku ke toko aksesoris bentar.”
Maou memarkirkan sepeda barunya dekat jalan, dengan teliti mengunci dan setelah itu masuk ke toko, itu adalah sebuah toko yang tidak mirip dengan toko aksesoris yang terlihat menjual cemilan dan mainan pada anak kecil, dan Suzuno bingung terhadap Maou yang keluar setelah membeli barang tersebut.
“Lem foxnya untuk apa?”
“Hnhnhn, lihatlah dengan jelas, lihat ini!”
Maou tertawa mencurigakan, mengambil sebuah model plastik berwarna merah dari koceknya.
“Ini adalah reflektor Dullahan yang kau hancurkan, saat dipanggil polisi untuk diceramahi, aku hanya mendapatkan ini kembali, walaupun begitu, bentuknya masih bagus.”
Sambil ngomong begitu, Maou menggunakan lem fox nya menempelkan reflektor ke keranjang warna biru.
“Jadi dia menerima warisan jiwa Dullahan yang setia melindungi tuannya ! Mulai sekarang, namamu Dullahan no.2!”
“…….Tidak buruk.”
Mempunyai perasaan pada sebuah alat tidaklah buruk, tapi sekarang memberikan nama pada sepeda yang akan dipakai tiap hari, pria muda itu jadi terlihat sedikit menyedihkan.
“Sudah puas, ayo berjalan , Raja Iblis.”
Apalagi, lawan adalah musuh umat manusia, sang Raja Iblis------Satan.
Gadis yang bernama Kamazuki Suzuno di Jepang itu menghela napas , tidak mendengar balasan Maou dan berjalan.
Suzuno yang galau berjalan dengan jepit rambut berwarna kaca, dan cahaya matahari yang berwarna putih polos itu bersinar di atas payung Suzuno.
*
Raja Iblis Satan, itu adalah nama Raja Iblis yang ingin menguasai dunia Ente Isla yang sangat jauh dari dunia ini.
Maou Sadao, ini adalah nama seorang pemuda yang bekerja di dekat pusat Tokyo untuk bertahan hidup.
Tidak hanya manusia, bahkan dewa sekalipun tidak akan terpikir kalau Raja Iblis yang ingin menguasai dunia ini sekarang tersesat di dunia manusia, di Sasazuka yang dekat dengan Shibuya, dan harus bertahan hidup dengan bekerja keras.
Dan setelah kalah dari Pahlawan Emilia, dan tersesat di ‘Jepang’ ini sudah hampir setahun lebih.
Di asrama kayu yang sudah 60 tahun berdiri ini, Villa-Rose Sasazuka kamar no.2-1, kamar berukuran 6 tatami yang dijadikan sebagai benteng Raja Iblis sementara, Raja Iblis Satan yang menjadikan pekerja sambilan sebagai tujuan saat ini-----yang juga adalah Maou Sadao, beberapa bulan ini tiba-tiba jadi tegang.
Walau tahun pertama sangat kerepotan dan miskin, tapi sekarang dia tetap rajin bekerja.
Lalu, sekitar tengah bulan Agustus, dia bekerja di MgRonald yang dekat dengan Sasazuka itu, dan menerima banyak bantuan dari atasan, Maou akhirnya bisa hidup dengan lebih mudah di Jepang.
Tapi, di saat Pahlawan Emilia yang sedang mengejar Raja Iblis yang kabur yang bernama ‘Yusa Emi’ muncul, kehidupaan tenang yang normal mulai runtuh.
Dengan bekerja keras dan hidup dengan sederhana dan hemat bagi Raja Iblis apakah sebuah hidup yang tenang atau tidak , itu masih pantas untuk dibahas.
Biarpun begitu, juga dikhianati oleh bawahan yang mengincar nyawanya, dan pada kenyataannya Pahlawan juga dikhianati oleh masyarakat manusia, sudah cukup untuk dijadikan alasan untuk ‘pecah’ dalam kehidupan.
Setelah menyelesaikan masalah satu per satu, dan kembali ke kehidupan tenang yang seperti biasa tetapi tetap harus bekerja keras untuk bisa mendapatkan hidup dengan sarapan tiga kali sehari, tapi untuk melindungi kehidupan yang seperti ini, Raja Iblis berusaha mati-matian.
Biarpun pahlawan selalu datang dengan menggunakan kereta bawah tanah untuk mencari masalah, seorang pemburu yang diutuskan oleh gereja untuk membawa pahlawan kembali juga untuk mengawasi Raja Iblis dengan memberi bahan makanan yang akan merusak kesehatan Iblis, tapi untuk mengejar tujuannya yaitu menguasai dunia, Raja Iblis hari ini juga hidup dengan gaya yang sederhana.
Dia tetap percaya kerja kerasnya tiap hari di MgRonald akan membuat dia naik pangkat dan  membimbing dia ke jalan menguasai dunia……
*
Seorang tetangga yang tiap hari memberi bahan makanan pengrusak kesehatan Iblis pada Maou, Bell yang diutuskan gereja------atau juga kamazuki Suzuno yang merusakkan sepedanya.
Mungkin karena semua ini, membuat Suzuno selalu tampak tidak senang.
“……..Apa sedikit mahal?”
Walaupun hidupnya dibahayakan, dan dia adalah orang yang menghancurkan sepedanya, Maou tetap bertanya dari dalam hatinya pada Suzuno, Suzuno tidak melihat wajah Maou, dan menghela napas dengan muka yang ditutupi oleh payung.
“Rasanya akhirnya aku bisa mengerti kenapa Emilia bisa dengan lega melepaskan kau.”
“Huh?”
“Apa hubunganmu dengan penjaga toko sepeda tadi baik?”
“Ah, itu cuma karena dapat tanggung jawab untuk bantu membersihkan daerahnya, juga hubungannya tidak begitu dekat kok, mungkin karena akhir-akhir ini dia membawa istri dan anaknya ke toko kami untuk makan, jadi hubungan kami bisa menjadi sebaik ini.”
Maou sedang membicarakan hubungannya dengan orang orang, Suzuno berjalan melewati sudut dan masuk ke tempat yang lebih sejuk, dan di saat yang bersamaan dia merasa sedikti lega dan sedikit bingung, dan menghela napas.
“Saat hari ini kau bilang ke aku untuk pergi ke toko sepeda aku sudah mempersiapkan diri.”
“Memangnya persiapan seperti apa?”
Suzuno mengeluarkan sebuah buku tipis dari tas tangannya itu ke Maou.
“Ini adalah bayaran yang diminta Raja Iblis brengsek, jujur si awalnya takut karena akan diminta membelikan yang harganya paling mahal, tapi biarpun begitu, aku juga mengerti kalau berhutang sangat banyak padamu.”
Maou menggunakan satu tangan untuk membuka buku tipis itu, itu adalah daftar toko sepeda.
“Moutain bike? Juga, jenis sepeda lain? Juga BM yang bisa dipakai di padang gurun, aku pikir biasanya orang-orang menginginkan yang seperti itu’kan?”
“…….Biarpun kau dengan keras ngomong bahasa asing yang tidak kumengerti—“
“Belajar bahasa itu tantangan loh! Po-pokoknya ditambah biaya registrsi keamanan totalnya tiga puluh ribu yen, rasanya sedikit kecewa, padahal hari ini aku sudah mengambil dua ratus ribu yen.”
“Kau ya, tak kusangka kau berpikir kami akan meminta model yang begitu mahal dengan kehidupan kami yang sederhana dan hemat, Dullahan yang kau hancurkan itu malah kubeli dengan harga enam ribu sembilan ratus delapan puluh yen.”
Kepada Maou yang ngomong sambil membanggakan barang yang murah, Suzuno merasa menyedihkan.
“Raja Iblis yang serakah membeli barang manusia dengan menggunakan uang, jadi kalau terjadi sesuatu mungkin wajar-wajar saja.”
“Tidak dapat dipercaya, kah? Kalau dilihat dari posisi Raja Iblis, apa jadi orang jahat akan dapat dipercaya? Pokoknya bagaimanapun ya sudahlah. Walau ini terdengar kurang baik, tapi ditempat Hirose-san pasti tak ada yang mahal.”
Suzuno dengan marah mengangkat kepala dan melihat ke Maou yang mengatakan semuanya seperti tidak terjadi apapun.
Tapi juga dengan segera tersadar akan sesuatu, dan di saat pandangan mata Suzuno dan Maou akan bertemu dengan segera ia memindahkan pandanganya.
“Tapi, kau bilang kau sudah mengeluarkan dua ratus ribu yen, darimana uangnya padahal saat kau baru datang ke sini tidak terlihat seperti mempunyai pekerjaan. Aku juga sudah bekerja dengan begitu keras, tapi tabunganku belum pernah melebihi dua ratus ribu yen.”
“Aku berbeda dengan kau juga Emilia, aku ini sudah membuat persiapan.”
Suzuno mengangguk-angguk, dan hanya mengatakan ini.
Itu adalah saat dimana dia pergi dengan si Pahlawan Emilia yaitu Yusa Emi pergi ke Harajuku, hari itu dia mengambil sebuah perhiasan ke toko pergadangan, mungkin harganya bisa membuat bola mata Maou sampai keluar karena saking terkejutnya.
Dan tentu saja Suzuno tidak sepenuhnya memberitahu Raja Iblis semua harga barang ini, jadi bagi Suzuno, kalau hidup dengan bersenang-senang beberapa bulan tanpa mencari pekerjaan sepertinya bukan tidak mungkin.
“Hehe, kamu sepertinya adalah orang kaya ya.”
Maou seperti sedang berkata dengan sedikit takut, tapi dengan cepat kembali menjadi seperti anak-anak yang mendapat mainan baru, mengayuh sepedanya yang baru itu dengan senyuman yang polos.
“Mah, pokoknya makasih banyak ya, aku akan menjaganya dengan baik.”
“………….”
Karena kalimat yang sama sekali tidak terpikirkan ini, Suzuno dengan terkejut melihat ke arah Maou, dibanding saat yang tadi, pandangan mata mereka jelas jelas saling bertemu satu sama lain, Suzuno dengan segera menutupi pandangannya dengan menggunakan payung.
Walau pernah menjadi Raja Iblis yang kejam dan serakah, namun tidak masuk akal sekali apabila berterima kasih dengan menggunakan senyuman yang benar-benar tulus dari dalam hati. Kira-kira pernah diucapkan terima kasih seperti ini oleh siapa ya? sepertinya itu sudah lama sekali.
“A-aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, itu sudah menjadi barangmu, terserah kau mau apakan.”
“Oh.”
Dan dengan begitu, mereka berjalan dengan suasana yang tenang selama beberapa saat.
“Ra-raja Iblis!”
“Hah?”
Kerena kekhawatiran yang datang entah darimana, Suzuno yang tidak tahan diam terus menghentikan langkahnya dan menunjuk ke suatu arah.
“I-itu apaan? Beberapa hari ini, di toko yang mengurus bunga dan market tiba-tiba muncul.”
Yang Suzuno tunjuk itu adalah bos pemilik toko bunga itu.
Bunga yang diikat dengan tongkat kayu berwarna putih yang alami terlihat berwarna warni, ditaruh di tengah toko.
“A-ah, itu magan.”
Maou menjawab seolah tidak ada apa-apa, tapi Suzuno malah dengan terkejut mengangguk kepala.
“Ternyata begitu, itu adalah bentuknya setelah lewat dari toko tahu’kan.”
“………Tahu?”
Maou sesaat tidak mengerti apa yang sudah dipahami oleh Suzuno, tapi setelah dia memutar kepala melihat ke toko tahu yang ada dibelakang, akhirnya dia mengerti.
“A----hoi, Suzuno, bukan tahu, itu ma-gan, magan.”
(perhatikan : dalam bahasa jepang tahu dan magan itu terdengar mirip.)
Karena di dalam gereja mempunyai banyak buku kuno, jadi walau Suzuno adalah manusia yang berasal dari Ente Isla tapi dia mengerti tentang budaya Jepang dan lain-lain.
Tapi, ini malah tidak membantu banyak, di kehidupan sehari-hari dalam mengucapkan kosakata ataupun mencari barang yang hilang bakalan seperti tadi ‘roda pembantu’, berbicara hal-hal yang aneh.
“Begitu ya, kalau gitu makan malam hari ini aku putuskan membuat kroket tahu.”
“Dengarlah dengan jelas saat orang sedang berbicara, memangnya kau ibu-ibu?”
“Kroket tahu juga merupakan masakan yang hebat, tapi kalau menggunakan tahu yang sudah mau dibuang untuk menggantikannya, menjadi sebuah masakan yang rendah kalorinya, sungguh hebat koki di negara ini.”
Suzuno dengan tenang memikirkan menu makan malam, dan pas, ada seorang ibu-ibu yang sepertinya datang membeli barang membeli satu tangkai magan.
“Sebentar lagi festival Obon ya. Itu untuk upacara Ogara nanti.”
Maou ngomong sambil menunjuk magan.
“Festival Obon……itu maksudnya festival di mana setiap keluarga mempersembahkan sesuatu pada leluhurnya. Tapi, bukannya itu saat bulan Agustus?”
Sudah diduga, hanya kegiatan yang terkait dengan kepercayaan baru akan dia selidiki dengan teliti.
“A-ah, karena bulan Juli kalender yang lama itu sama dengan bulan Agustus yang sekarang, hanya Tokyo yang menggunakan bulan Juli kalender baru untuk mengadakan upacara Ogara, itulah bahan untuk Ogara nanti.”
“Ou, awalnya kukira ini negara yang kepercayaannya lemah, tapi ternyata upacara seperti ini dilakukan dengan teliti sekali.”
“Tapi, kenapa hanya Tokyo yang duluan?”
“A-ah, itu sepertinya ada metodenya masing masing, karena disaat para pejabat mengubah kalender, semua upacara juga dipakai menurut kalender baru, dan yang kena dampaknya hanya Tokyo? Kalau ditempat lain yang sudah menggunakan kalender lama ratusan tahun, tidak akan bisa dengan mudah mengganti kalender hanya karena diubah.”
“Ternyata begitu.”
“Huft~”
 “Walaupun sekarang ngomongnya festival Obon, itu juga bukannya tengah bulan Agustus? Sepertinya waktu itu cuma Tokyo dan Kanagawa yang terkena dampak dari pemikiran pemerintah, selain itu bulan Juli kalender lama itu adalah bulan Agustus festival Obon.”
“…….Teliti sekali menyelidikinya.”
“Maou-san walau sebagai Raja Iblis tapi tahu banyak sekali hal seperti ini ya!”
“Tahun lalu aku cari tahu kemana-mana, pengetahuan dasar juga kupelajari……ah?”
“Hn?”
“Huh?”
Maou dan Suzuno seperti tersadar sesuatu, dan dengan bersama membalikkan kepala mereka.
“Uwa!! C-Chi-chan, sejak kapan!!”
“Chiho-san!! Sejak kapan kau berada disini?”
Dia merupakan junior tempat Maou bekerja, sebenarnya sejak kapan dia berada disini. Juga dia adalah satu-satunya orang Jepang yang tahu tentang dunia Ente Isla juga identitas sebenarnya dari Maou dan Suzuno, Sasaki Chiho yang merupakan seorang siswi SMA sedang berdiri di depan dengan menggunakan seragam SMA.
Dia tidak menggunakan tas yang ditentukan untuk sekolah, tetapi dia membawa sebuah barang berwarna perak yang seperti kulkas.
“Apa seterkejut itu?”
Chicho dengan mengeluarkan tangannya dan tertawa.
“Walau rasanya ingin membalas semuanya dengan Suzuno-san……..tapi tenang, aku hanya dengar dari saat Suzuno-san mengatakan hari ini dia mau membuat kroket tahu untuk makan malam nanti kok.”
“Oh, oh, begitu, sudah pulang sekolah? Awal juga.”
“Ulangan tengah semester sudah selesai, sekarang tinggal pelajaran yang belum dipelajari saja.”
Chiho dengan senang menjawab, kalau ingin bilang, dia berbicara tentang ulangan itu sejak bulan Juli lalu, tapi Chicho yang waktu itu tidak protes dengan nilainya, juga tidak mengurangi shift kerjanya, bahkan saat terjerumus dengan masalah tentang Ente Isla juga tidak terpegaruh, rasanya dia sudah menahan terlalu banyak.
Disaat Maou dengan melamun memikirkan hal-hal itu, Chiho melihat sepeda baru Maou.
“Heh, sepeda baru ya.”
“Ahaha, karena sepeda yang sebelumnya dihancurkan Suzuno.”
Maou mengetok-ketok tempat duduk Dullahan nomor 2.
”Karena Raja Iblsi bilang sudah ketemu sepeda yang diinginkan, jadi ini dijadikan sebagai permintaan maaf.”
Untuk mengelabui dirinya sendiri yang terkejut, Suzuno dengan semakin marah menghela napas.
“Omong-omong, kenapa Chiho-san bisa ada di sini?”
“Untuk membeli barang yang Maou-san suruh tadi.”
Chiho menunjuk toko bunga yang ada ditengah kedua orang itu.
“Magan?”
“Ya, untuk dipakai mama nanti, lalu juga untuk bersiap siap ke tempat Maou-san.”
Chiho menggoyang-goyangkan tubuhnya, dan dengan sulit membawa tas yang berat itu.
“Keluarga dekat papa mengirim banyak es krim, tapi orang tua ku tidak menyukai yang manis-manis, jadi aku berpikir untuk memberi ke Maou-san.”
“Es krim!? Serius!? Apa boleh!?”
Karena makanan ini yang seperti turun dari langit, kedua mata Maou berbinar-binar.
“Kyaa—senang sekali rasanya! Aku mau aku mau! Terima kasih!”
“Syukurlah, tunggu bentar, aku beli Magan sebentar.”
Chiho dengan senang melihat ke Maou yang senang sampai loncat-loncat, dan berjalan ke toko bunga.
Suzuno dengan miring melihat ke bayangan Raja Iblis dan siswi SMA yang begini, dan dengan heran dia bertanya-tanya.
“……..Apa dibiarkan terus begini tidak apa apa?”
Dilanda panas musim panas, benteng Raja Iblis yang hanya terdengar suara kipas terus diayunkan terdengar suara yang berteriak kesenangan.
“Es krim!?”
“Es krim!!”
Penghuni dalam benteng Raja Iblis, Alsiel dan Lucifer yang sekejap mengubah pandangan mereka ketika melihat barang yang dibawa Maou dan Chiho saat pulang.
“Ju-juga, ini es krim yang memiliki level tingkat tinggi, sudah bisa dipastikan mahal!? A-apa benar-benar boleh?”
Namanya Ashiya Shirou, dia yang memegang keuangan dan urusan rumah tangga dalam benteng Raja Iblis ini, Alsiel seperti merasa ada cahaya suci yang berada dibelakang Chicho, dan bersujud di lantai.

“Ini….bagaimana caraku berterima kasih pada nona Sasaki juga keluarga nona Sasaki…..”
“Tidak usah sampai segitu, biasa aja haha.”
Karena Ashiya yang tinggi sampai tersujud dan menundukkan kepala, bahkan Chiho juga tekejut seketika.
“Uwa, hebat sekali ada banyak rasa! Ayo cepat makan Ashiya! Cepat ambil sendok, sendok!”
“Urushihara……sebelum ini bukannya kau harus mengatakan beberapa hal pada Chi-chan dulu?”
Maou berkata kepada Urushihara yang kedua matanya sekarang hanya terfokus pada es krim itu.
Namanya Urushihara Hanzou, Lucifer yang tinggal di benteng Raja Iblis yang seenaknya menganggap semua keluhan itu hanya sebatas angin lewat.
“Tidak apalah Maou-san, karena diriku sangat mengerti orang seperti apa Hanzou-san itu.”
Chiho tertawa , tapi dalam kalimatnya terbawa duri.
Karena kejadian yang membaut Chicho tahu identitas Maou yang sebenarnya, dia pernah dilirik tajam oleh Lucifer yang menganggapnya musuh.
Selanjutnya dia diterima Maou dan tiap hari dari pagi sampai malam terus berada  di depan komputer, ya itu hiraukan saja, tapi dia bahkan tidak membantu urusan di rumah sedikitpun, hidup bagaikan seorang neet, terhadap Urushihara yang begitu, Chiho hanya bisa memandangnya dengan dingin.
Maou tertawa pahit, dan menepuk tepuk pundak Chiho dengan maksud menangkan dirinya.
“Mah, itu, benar-benar terima kasih.”
“…….Eh…….ah, ah, ya, tidak perlu terima kasih.”
Saat ini, pipi Chiho berubah menjadi merah tidak kalah dengan panas musim panas sekarang ini.
Walau Chiho sudah pernah memberitahu perasaannya pada Maou, tapi karena bukan dengan maksud memaksa maou memberitahu jawabannya, jadi kasus ini sebenarnya belum selesai.
Juga bisa dipahami Maou bukan seseorang yang bisa menjawab dengan asal-asal, jadi bisa mengatur suasana sendiri dengan hal ini.
Tapi karena gerakan Maou yang selalu tiba-tiba ini, Chiho selalu terkejut, dan detakan jantungnya bertambah cepat.
“Ah, ah, ya, Suzuno-san, Suzuno-san juga……….heh?”
Chiho ingin menyembunyikan dirinya sendiri yang sedang malu-malu, ingin berbicara dengan Suzuno yang baru pulang juga, tapi setelah dia melihat keluar tidak terlihat bayangan Suzuno sedikitpun.
“Sepertinya dia itu setelah pulang, langsung pergi lagi?”
“A-apa begitu?”
“Stroberi, the hijau, juga daun the……apa ini, labu? Begus sekali!”
“Ah, Urushihara-san! Tolong sisakan bagian untuk Suzuno-san nanti!”
Mendengar Urushihara yang berisik, Chiho dengan segera balik ke dalam runganan.
“Huh—Bell juga ada bagiannya--?”
Urushihara jelas terlihat tidak senang, dan Chiho dengan mamaksa diri merebut beberapa es krim dari tempat Urushihara.
“Kalau tidak disisakan berarti kau tidak boleh makan! Memangnya kau mau makan berapa! Nanti sakit perut loh!”
“Jangan memperlakukan aku seperti anak kecil! Walau penampilan luarku seperti ini tapi kenyataannya aku lebih tua dari kau ratusan tahun lebih!”
“Biarpun sudah hidup sangat lama, Urushihara-san tetap anak kecil! Malah anak SD lebih mengerti ketimbang dirimu!’
“Hoi—panas sekali, jangan bertengkar lagi—“
Maou dengan malas menenangkan mereka dan mengambil kulkas kecil ke Ashiya.
“Setiap kali cuma boleh mengambil satu, yang sisa biarkan begitu saja dulu, kira-kira kasih Suzuno yang rasa stroberi sudah cukup.”
“Dimengerti.”
Ashiya dengan hormat mengambilnya, dan sekali lagi dengan hormat membungkukkan badannya terhadap Chiho, dan dengan berhati-hati menyimpan es krim ke dalam kulkas.
“Heh—Cuma satu?”
Urushihara sambil memegang es krim rasa stroberi, dan dengan kasihan melihat es krim yang disimpan ke dalam kulkas.
“Lu-ci-fer-sa-n!?”
“Ke-kenapa Sasaki Chiho! Bagimu dia juga musuh bukan! Dalam berbagai artian!”
Karena kalimat Urushihara yang begitu, sekal ilagi Chiho bangkit dalam kepanasan.
“Mu-musuh!? Tapi, kalaupun musuh juga teman!”
Chiho menjelaskan.
“Huh? Apaan itu—“
“Ini ya ini, itu ya itu! Apa hal seperti ini juga kau tidak tau, pantas saja Urushihara-san seperti anak kecil.”
“Sialan, ya benar—karena aku adalah anak kecil jadi aku tidak tahu—wanita yang pelit terhadap musuh itu sama sekali aku tidak mengerti!”
Urushihara yang protes kepada Chiho, karena sebuah pukulan yang kuat jatuh diatas kepalanya, dia berteriak kesakitan.
“Sudah cukup Urushihara, kalau kau bicara kasar lagi pada nona Sasaki, jangankan harap dapat es krim lagi, internet juga akan ku potong nanti!”      
Urushihara yang protes sambil menangis mengangakat kepalanya, disaat yang pas Ashiya menatapnya dengan ekspresi yang bagaikan iblis.
“Sudah makan nasi gratis juga menghabiskan tabungan, urusan rumah juga tidak dibantu, kau bahkan lebih buruk dari iblis! Apalagi berbicara kasar pada nona Sasaki yang sudah banyak membantu kita, biarpun langit setuju aku pokoknya tidak setuju.”
Pemegang kekuasaan utama benteng Raja Iblis melindungi Chiho, dan menjatuhkan serangan balik pada Urushihara.
Walaupun awalnya Ashiya agak tidak senang dengan Chiho yang dekat-dekat dengan Maou, tapi pada akhirnya dia digoda oleh masakan Chiho dan mama Chiho, dan menganggap keluarga Sasaki adalah penyelamat ekonomi mereka.
Melihat ekspresi Ashiya, wajah Urushihara langsung pucat, dan mundur ke belakang satu langkah.
“Ta-tahulah……yang benar saja, Maou dan Ashiya sampai dijinakkan oleh sisiwi SMA.”
Urushihara sambil mengomel sambil memegang bagian kepalanya yang dipukuli itu, biarpun begitu dia tetap memegang es krim rasa stroberi, dan dengan tidak semangat kembali ke depan komputer.
“Kalau begitu, nona Sasaki, sampai disini aja, bersantailah disini, ini saya memberikan kamu teh.”
Ashiya mengantarkan Chiho untuk duduk, dan mengeluarkan es krim dan teh, dan supaya anginnya terasa lebih nyaman lagi, dia mengatur tempat kipas berada.
Benteng Raja Iblis yang di Vila-Rose tidak ada fasilitas yang mendukung untuk memasang AC.
Disituasi seperti ini, kalau penyewa mendapat izin dari pemilik Shiba Miki maka mereka akan dapat memasangnya, tapi yang terpenting, pemiliknya sudah pergi berlibur sangat lama dan bahkan sampai sekarangpun belum kembali.
Sekarang sudah berbeda dengan tahun lalu, walaupun Maou sudah mempunyai pemasukan yang tetap dan stabil, tapi sepertinya untuk menguba fasilitas masih akan susah tanpa persetujuan dari pemiliknya.
Jadi, kalau ingin mengganti lampu yang berada disekitar koridor, kalau tidak ada pemilik yang setuju terhadap ini semuanya akan sia-sia saja.
Sebenarnya, pengerjaan untuk memperkuat pertahanan antisipasi gempa, Miki sudah pernah datang untuk menjelaskan.
Kalau ingin memasang AC, untuk menghubungkan bagian luar dan ruangan dalam, perlu membelah dinding, jadi itu sama saja dengan ‘proyek merusak bangunan’.
Walau pemilik asrama berlibur ke luar negeri, juga bukannya tidak ada kabar sama sekali, terkadang dia akan mengirim surat yang terkandung alamat dan situasi seperti apa disana.
Tapi kebanyakan dikirim beberapa minggu yang lalu, tunggu surat selanjutnya datang alamat juga otomatis berubah, jadi tidak bisa dihubungi.
Juga, sekarang masalahnya, Maou, Ashiya, Urushihara tidak membuka surat lagi, karena disaat Urushihara datang, surat ‘sosok bikini pemilik asrama’ meninggalkan bekas luka yang sangat dalam pada mereka bertiga.
Juga, sampai Suzuno tinggal disini Maou dan mereka sama sekali tidak peduli, tapi karena dinasehati Suzuno bagaimana kalau ada surat yang penting, jadi beberapa hari yang lalu dengan terpaksa mereka membuka surat yang terbaru.
Kirim berwarna emas, tetapi seperti biasa adalah kirim yang berkualitas, sepertinya ditulis dengan pen bulu ayam.
Sepertinya, sekarang pemilik asrama ini ada di Indonesia, foto waktu itu yang dia kirim sepertinya ada di Hawai, jadi kira dia bakalan sekalian ke pulau Bali, tapi ternyata tidak, sekarang dia entah ada dimana yang ada disebuah pulau yang ada penduduk aslinya yang sedang mengadakan sebuah ritual.
Dengan menguatkan hati melihat foto yang juga ada bersama dengan surat, itu sepertinya adalah sebuah foto pemilik asrama yang sedang bersama dengan para penduduk asli yang ada disana, topinya dipasang banyak bulu burung dan tetap tersenyum seperti biasanya.
Saat ini, Maou dengan sendirinya memutuskan untuk berhubungan dengan pemilik asrama lagi, dan membiarkan semua ini berlalu begitu.
Walau musim panas tahun lalu mereka berhasil bertahan, tapi yang paling penting tahun ini mereka dibebani oleh manusia yang bernama Urushihara.
Walau sudah selesai masalahnya dan memiliki sediki tabungan, tetap saja harus tahan, Maou merasa ini seperti petunjuk dari Tuhan, tapi Raja Iblis menggunakan petunjuk dewa untuk memutuskan sesuatu yang baik dan jahat, apa ini serius?
“Tapi, awalnya aku kira bakalan akan lebih panas, ternyata asrama ini dingin juga.”
“Ya, jadi merasa sedikit lega, karena merupakan kamar yang dekat dengan sudut, jadi jendela pun banyak.”
Untuk mencegah matahari memasuki rungan, jadi memasang sebuah tirai yang dibeli dari distrik perbelanjaan, berkat itu saat membuka kaca jendela, angin akan mengalir denga bebas, semua ini berkat asrama Vila-Rose yang disekitarnya hanya ada taman tanah yang kosong.
“Hoi—Maou—apa benar tidak mau memasang AC?”
Sama sekali berbeda dengan Chiho yang menikmati angin musim panas, Urushihara menghela napas dengan penuh kecewa.
“Aku sudah bilang kan, kita tidak bisa menghubungi pemilik asrama, juga sejak awal kita sudah tidak bisa membayar biaya pemasangan, biarpun dengan paksa membeli AC yang murah, aku tidak ingin mati di bayaran listrik bulan kedua setelah AC dipasangkan.”
“Uh---………”
“Aku juga tidak begitu terbiasa dengan AC.”
Chiho berkata sambil menikmati es krimnya yang rasa anggur.
“Walaupun kelas yang ada di sekolah ada AC, tapi setelah pelajaran olahraga pasti akan ada yang mengatur ke suhu paling rendah, dingin sekali.”
“Mungkin ini yang namanya peralatan pintar dapat membunuh diri sendiri. Setiap membayangkan bayaran listrik sekolah rasanya tiba-tiba menjadi dingin dibelakangku.”
Ashiya sambil menikmati es krim rasa tehnya sambil menyetujuinya disudut ruangan.
“Pada dasarnya hanya anak yang nakal juga berisik yang akan melakukan hal seperti itu’kan—jadi kalau naikkan suhu sedikit saja akan berteriak panas-panas dan meminta untuk mengatur kembali suhunya’kan?”
Maou sambil mengomel sambil menikmati es krimnya yang rasa biskuit.
“Benar sekali!”
Chiho mengangguk angguk kepala menandakan dia setuju.
“Bisa dibilang mereka bodoh, atau mereka hanya ingin diri mereka puas dan tidak memikirkan orang lain. Orang seperti itu, sudah buruk begitu, suaranya besar lagi.”
“Benar-benar……..hmm……huh?”
“Hn?”
“Maou-san, kenapa bisa tahu semua ini?”
Chiho yang setuju sambil tertawa pahit sepertinya tersadar akan sesuatu dan langsung bertanya.
“Maou-san tidak mungkin pernah bersekolah di sekolah Jepang’kan?”
“Ouou……….”
“Setelah mendengar kata-kata Maou-san, rasanya seperti sering, dan kalau dipikir terus rasanya ajaib.”
“Ahah, mah, benar.”
Maou menghabiskan es krimnya dan berdiri membuang sampah pada tong sampah yang menandakan sampah dapat dibakar, setelah membuangnya, dia berjalan ke keran air dan menghela napas.
“Cara Iblis menyelesaikan hal yang tidak diinginkan sangat egois, tapi dibandingkan dengan manusia, sebenarnya tidak begitu berbeda jauh.”
“……….”
“……Ah----ah…… satu belum cukup…….”
Ashiya hanya bisa terdiam mendengar kata-kata Maou, Urushihara enah ada mendengar atau tidak, setelah selesai makan es krim rasa stroberinya dia menaruh sampahnya diatas meja komputer, dan melihat ke kulkas dengan pandangan belum cukup.
Dan saat ini.
“Ou? Suzuno, tadi kemana, Chi-chan juga sudah siapakan es krim untukmu.”
Maou melihat Suzuno yang membawa barang besar dari kaca jendela yang ada didapur.
“Ahah, terima ksih banyak, setelah selesai urusanku nanti aku akan ambil es krimnya.”
Percakapan yang dilakukan antara kaca jendela yang ada didapur, Suzuno seperti sedang mengangkat sebuah barang yang terbuat dari kayu.
“…….Wei, itu untuk apa sebenarnya.”
“Hn? Maksudnya kayu?”
“Bukan itu, ini aku tahu, Cuma aku ingin tahu kau ingin berbuat apa dengan menggunakan itu.”
Maou merasa sensitif terhadap barang yang dibawa tetangganya itu, alasanya karena ditangannya yang satu lagi dia membawa Magan yang jelas-jelas jumlahnya tidak masuk akal.
“Sebagai anggota gereja, aku tertarik dengan upacara festival Obon, jadi ingin melakukannya sendirian.”
“……..Pakai ini?”
“Bukannya mau Ogara? Aku dengar leluhur akan kembali bersama dengan asap yang dihasilkan oleh api dari Ogara.”
Maou yang merasakan firasat buruk melambai-lambaikan tangannya pada Suzuno.
Tapi Suzuno malah mengangkat alisnya dan dengan santai membuka pintu benteng Raja Iblis.
“Kenapa, aku dengar lakukan disaat matahari masih ada sepertinya lebih bagus, jadi aku ingin lebih awal-aih sakit.”
Untuk mengunci mulutnya, Maou menggunakan tangannya memukul kepala Suzuno.
“Ke-kenapa si!?”
“Apa kau ingin membakar seluruh asrama!! Bahan bakarnya jelas kebanyakan!”
“Ka-kau ini! Jangan remehkan aku, aku ini manusia dari Ente-Isla!?”
Suzuno yang kesakitan karena Maou menahan tangis sambil menciptakan kata-kata omelan yang baru, dan menggigit bibirnya.
“Mana mungkin terbakar semua! Kayu untuk membangun taman dibagian belakang asrama! Yang dibakar hanya magan……sakit sekali! Ta-tanganku tidak bisa balas jadi hentikan omong kosong ini!”
Pukulan kedua dari Maou terpukul tepat dikepala Suzuno.
“Rasanya tak enak sekalI! Kau sudah lihat Chi-chan hanya beli 1 buah’kan! Yang namanya taman belakang, membangun sebuah alat pembakaran, kau ingin menghasilkan kebakaran seperti apa!”
Tanah kosong asrama Bila-Rose dikelilingi dinding, ada sebuah ruang kosong yang sangat besar.
Tumbuh sebuah pohon beringin yang sangt besar, menghindari kota dan jalanan yang ramai, tahun lalu dan tahun ini juga ada suara jangkrik yang berisik.
“Mah-mah, tenangkan dirimu, Suzuno-san, ada es krim rasa vanila loh-“
“Aku mau makan!”
Karena benteng Raja Iblis tidak mempunyai AC, jadi tentu saja kamar Suzuno juga tidak punya AC, juga tidak hanya itu, Suzuno yang menerima godaan es krim, langsung mengambil caramel untuk ditaruh diatas es krimnya, dan dengan pelan menikmati sambil bertengkar dengan Maou.
“Kalau begitu cara bakarnya gimana sih! Menurut penelitianku, orang-orang biasa menyusunnya dengan rapi setelah itu baru dibakar dengan skala besar, dan menghasilkan api yang sangat besar!”
Entah waktu dariman dia bisa melakukan penelitian dalam waktu yang sangat sedikit saat baru habis beli sepeda, tapi yang dia bilang juga tidak ada salahnya.
“Ashiya.”
“Ya, ini.”
Maou memberi sebuah tanda, Ashiya segera bergerak, dan memberikan alat penyala api pada Maou.
“Setidaknya semua alat ini bisa dibeli dengan lengkap.ditempat yang jual perlatannya kupikir koran bekas mungkin gratis.”
Sambil ngomong Maou mengambil Magan dalam jumlah yang banyak dan berjalan keluar kamar.
“Lalu, kalau magan ini beli ditempat yang Chi-chan beli juga, satu buah 90 yen, jadi paling mahal ya 200 yen.”
Chiho dan Suzuno yang memasang wajah kesal berjalan keluar bersama dengan Maou, Maou turun lewat tannga, dan menaruh wadah pembakar didepan jalan raya.
Lalu memotong magan menjadi ukuran yang pas.
karena magan yang ukurannya 3 per 2, jadi wadah itu menjadi penuh, Maou memberi sisanya pada Suzuno, menggunakan penyala api mulai membakar koran bekas.
Menaruh koran yang mulai terbakar ke dalam magan, dengan sekejap magan mulai terbakar, dan asap dengan pelan keluar.
“Jadi! Ini adalah cara bakar termudah!”
“……..Apa maksudmu?”
“Sekalian, tempat umum yang kita tinggali itu ada alat antisipasi kebakaran, jadi harus bakar di luar rumah, apa ada masalah?”
Suzuno menggunakan pandangan yang mencurigakan melihat ke Maou dan magan yang terbakar.
“………Jangan bicara bodoh, Ogara itu merupakan upacara penting yang dipakai untuk menghormati leluhur setahun sekali. Bukan upacara yang sembarangan.”
“Biarpun kau omong begitu, kalau sudah selsai, kau juga tidak ada cara lagi’kan?”
Maou bukan memohon pada Suzuno, tapi memohon setuju dengan Chiho, Suzuno mengharapkan jawaban yang berbeda dan memutar kepalanya menuju ke Chiho, tetapi.
“Sepertinya menjadi sedikit lebih mudah, tapi tidak salah. Walau api lebih baik dapat dari kuil , tapi kalau di Tokyo agak sedikit susah, jadi, hanya bisa begitu.”
Chiho mulai jongkok dekat wadah itu.
“Menyatukan dua tangan, dan berdoa pada leluhur semoga mereka bisa kembali dengan lancar.”
”Ha-hanya begitu?
“Selanjutnya, tinggal orang yang beragam Budha memotong timun jadi kuda.”
“Ah, iya, keluarga kami setiap tahun ada buat itu.”
“Ku-kuda yang dibuat dari timun? I-itu apaan coba?”
Suzuno panik sampai sedikit pusing, Maou dan Chiho saling menatap dan tertawa sambil berkata.
“Setelah festival Obon selesai, untuk membuat para leluhur bisa kembali ke tempat mereka berada, kita perlu melakukan upacara lagi, dan saat sedang membakar menjadikan timun itu sebagai kuda biar leluhur kita bisa kembali ke tempat mereka berada dengan lancar. Dan selanjutnya kita perlu adakan upacara yang baru lagi, dengan menjadikan terong sebagai sapi untuk dipakai leluhur kembali ke tempat mereka berada.”
“…….Sudah pernah lihat banyak sekali upacara dan ritual yang beda-beda, tapi ini pertama kalinya aku melihat yang seribet ini.”
“Mah, di tempat yang resmi akan menaruh lilin pada jalanan, dan melakukan upacara sesuai yang kau harapkan, tapi kita tidak dapat melakukannya dipusat perumahan seperti ini, biarpun sama-sama agama Budha, juga ada agama yang tidak lakukan seperti ini, juga tempat untuk melakukan Ogara terbatas. Kalau ingin lihat yang resmi, tunggu sampai bulan Agustus nanti mau pergi lihat tidak?”
“Maou-san tahu banyak ya.”
Chiho dengan terkejut membuka matanya lebar-lebar.
“Karena, saat tahun lalu untuk mencari cara memulihkan sihir, aku sudah meneliti semua hal yang kira-kira akan berkaitan dengan sihir—bisa jadi nanti ada Iblis yang datang menjembutku lewat upacara Ogara.”
Maou mengambil upacara suci yang dipakai untuk menghormati leluhur untuk berkata beberapa hal yang berbahaya.
“Tapi, leluhurku juga tidak mungkin ada di bumi, jadi bakarpun sebenarnya percuma saja.”
“Omongkan hal yang macam saat pulang bakalan punya leluhur aja.”
Karena sebuah kalimat yang dikatakan Suzuno, Maou mengangkat alisnya.
“Orang tua……..Maou-san……….?”
Walau Chicho tahu identitas sebenarnya dari Maou, tapi tetap saja sulit dibayangkan bahwa Raja Iblis mempunyai orang tua.
“Mah tak peduli dia itu leluhur ataupun orang tua pokoknya mereka sudah tidak ada di dunia ini lagi, biarpun kau bertanya apa aku ingin menarik mereka pulang dengan upacara Ogara, aku semuanya terserahlah.”
“Jangan………omongkan hal yang agak sedih ini.”
“Biarpun ditanya, juga tidak akan ada perasaan seperti rindu dengan leluhur, dan kesampingkan soal itu, juga sama sekali tidak ada kenangan tentang orangtua.”
“Be-begitu ya……….maaf, rasanya sudah bertanya hal yang kurang enak.”
“Tidak-tidak, aku hanya sembarangan bicara, pokoknya sekarang begitulah.”
Chiho yang sedikit kurang semangat melihat ke tangannya, dan Maou dengan pelan menyiram air ke kayu yang terbakar.
“Setelah membakar jangan lupa untuk membereskannya, sebenarnya biasa selesai itu dibereskan dengan air dari daun, tapi untuk jaga-jaga, tetap harus menyiapkan 1 tong air, karena batang kayu itu termasuk sampah organik.”
“Sungguh orang yang membosankan.”
“Terserah mah. Hoi Suzuno, ambil air.”
Disaat Maou sedang memberi perintah seperti ini.
“Hoi—Maou--!”
Urushihara memanggil Maou dari istana Raja Iblis, dan berteriak ke Maou.
“Sebuah barang yang merepotkan mendekat--!”
“Barang yang merepotkan?”
Maou mengangkat kepala melihat ke lantai 2, dan sangat kebingungan.
Bayangan yang berada dibelakang Maou membuat Maou sedikit terkejut.
Itu adalah,
“Ah, Yusa-san.”
“Ouou, Emilia, ah, sudah jam ini ya?”
Si Pahlawan Emilia yang menolong Ente-Isla---juga yang merupakan Yusa Emi.
Tangan kanan Emi sedang menggunkan payung, dan terlihat tangan kirinya sedang membawa sesuatu yang penting.
Emi mengangkat payungnya menunjuk ke Maou, membuat dia mundur, dan melihat Urushihara dari bawah.
“Lucifer! Kenapa tahu aku datang! Jangan-jangan kau memasang alat yang aneh lagi!”
“Ma-mana ada---hanya CCTV yang berada diluar kamar kebetulan melihatmu—te-tenang sedikit—ada es krim loh, ada es krim—“
“Aku sebenarnya kapanpun selalu tenang dan siap membasmi kalian semua loh?”
“Ma-makanya aku tidak bohong--! Kau lihat kau lihat!”
Urushihara kembali ke kamar, dan mengambil es krim juga CCTV yang terpasang diluar kamar itu, dan menunjukkannya.
“………..”
Dibandingkan dengan CCTV, pandangan Emi langsung terfokus pada es krim, dan segera melihat ke Chiho dan Suzuno.
“Ah Chiho, apa es krim itu punyamu?”
“Ah, iya, itu merupakan sebuah hadiah yang diberi keluargaku, tapi karena papa dan mama kurang suka makanan manis……”
“………Sudah kuduga, mereka mana punya uang yang lebih untuk beli es krim mahal ini.”
“Kau ya, melihat pria dari harga barang, seremeh apapun kau melihat kami juga ada batasnya.”
Maou yang diperlakukan sikap dingin oleh Emi sedang protes, tapi Emi malah mengeluarkan kipas, dan mengipas dirinya sendiri.
“Es krim yang diberikan Chiho itu sangat susah didapatkan. Juga sosok kalian yang kesenangan karena menerima es krim dari Chiho juga sudah dapat kubayangkan, kalau dilihat iblis dari Ente-Isla entah apa yang akan mereka katakan, tidak berguna sama sekali Raja Iblis dan bawahannya.”
“……..Maaf Maou-san, sama sekali tidak bisa bantu membantah.”
Chiho dengan meminta maaf merendahkan kepalanya ke Maou.
“………Apa kau datang untuk menertawakan kami yang miskin ini lagi, dasar pahlawan yang tiap harinya bisa menikmati AC ditempat kerja maupun dirumah.”
“Kalau begitu maaf ya, tapi apartemen sejak awal memang sudah punya AC, kalau tidak pakai rasanya terlalu boros, juga merupakan model yang terbaru, tidak peduli seberapa panas, derajat 28 sudah bisa membuatmu tidak protes terhadap cuaca yang panas ini.”
“Sial! Jelas-jelas pamer cara hidup yang beda jauh dengan kami.”
Tidak peduli dengan Maou yang sedang kesal, Emi melihat ke Suzuno.
“Aku datang ke sini lebih awal dari jam yang dijanjikan, sudah tidak apa-apa kan?”
“Ah-ah, maaf, aku segera bersiap, tunggu sebentar.”
Sambil omong, Suzuno berlari ke tangga.
“Sebentar, sebelum itu aku berikan ini.”
Emi menghentkan Suzuno, memberi sebuah plastik yang terlihat berat yang dibawanya tadi kepada Suzuno.
Dilihat dari celah plastiknya bisa dilihat sebuah kotak yang berisi obat dengan gambar elang, walau Maou dan Chiho tidak tahu itu untuk apa, tapi tentu saja itu pasti minuman energi yang diberikan teman Emi yang ada di Ente Isla.
“Ah, ah ah……..ini yang sebelumnya kau bilang?”
“Ya, satu hari dua botol, ini barang yang berharga loh, tolong hati-hati dalam menggunakannya.”
”Apa-apaan itu, transaksi gelap seperti ini.”
Maou mengolok-olok terhadap kedua orang itu, lalu kedua orang itu dengan bersama melihat ke Maou.
“Dan hati-hati sama orang ini.”
“Tidak perlu diingatkan.”
“Hoi!”
Maou berteriak.
“Aku tidak akan melakukan hal tidak panas seperti mencuri barang orang lain kali!”
“Pemimpin orang tidak pantas, apa yang kau katakan tadi?”
Reaksi Emi sangat dingin.
“Terhadap aku yang setahun bekerja keras tanpa protes apa-apa bicara aku adalah orang yang tidak pantas, apa maksudnya itu!”
Maou semakin marah.
“Maou-san, sebenarnya bukan seperti itu maksudnya kali.”
Chiho dengan tenang meloncat ke dalam percakapan.
“Yusa-san dan Suzuno-san mau ke mana?”
“Hn, pergi bantu dia melihat-lihat barang seperti hp dan barang elektronik rumahan.”
“Barang-barang elektronik rumahan dan hp ya?”
“Hn, kalau dilihat-lihat aku sepertinya juga akan tinggal di sini dalam waktu yang panjang, jadi dasar-dasar untuk hidup harus disiapkan dulu, tapi sepertinya barang yang ku cari sebelumnya sangat ketinggalan jaman. Jadi aku meminta bantuan Emilia.”
“Ah ah, begitu ya.”
Terhadap Chiho yang bisa berhubungan dengan teman yang akan tinggal disini dalam waktu yang panjang tentu saja sebuah hal yang senang, tapi sebaliknya juga itu berarti sampingnya Maou juga akan ada seorang perempuan yang juga merupakan musuhnya, jadi Chiho merasa sedikti ragu untuk merasa senang.
“Mah, kalau aku bisa membunuh Raja Iblis miskin dengan menggunakan satu tebasan, tidak begini juga tidak apa—“
Walaupun tidak terlalu mengerti dengan yang Chiho pikirkan dalam hati, tapi Emi sambil omong begitu sambil tertawa melihat ke Maou.
Maou berkeringat banyak sambil menangani situasi ini, Chiho yang melihat semua ini juga sekejap tidak tahu apakah itu merupakan sebuah candaan atau serius.
“………..Mah, sebelumnya juga sudah kubilang sementara aku tidak akan melakukannya, kalau ingin lakukan seperti itu, lebih baik penyelesaian yang lebih baik, jadi sebelum mendapatkan penyelesaian itu membiarkan dia tinggal di sini bukannya akan lebih baik?”
“Be-benar.”
Serasa yang tadi itu serius, dengan tidak sengaja menjawab dengan kaku.
“Ahaha, maaf-maaf, tidak apa. Tidak akan melakukan hal seperti itu didepan Chiho.”
“…….Aku masih sedikit penasaran dengan hal-hal selain didepanku……..”
Sampai sekarang. Chiho masih tersenyum pahit.
“Kalau begitu perlu melihat rencana Raja Iblis.”
“Hnm, tidak ada Raja Iblis yang lebih hemat dariku! Juga aku tidak tertarik dengan transaksi gelap kalian! Jadi tenang saja! Cepat menghilang sana!”
Maou yang berbicara seperti anak kecil ingin mengusir Emi secepatnya.
“Ingin aku yang sebagai musuh abadimu mengakui bahwa kau adalah Raja Iblis yang paling hemat, apa kau tidak merasa malu?”
“Tujuanku adalah menjadi Raja Iblis yang tidak tahu malu dimanapun!”
“Benar. Melihat dirimu yang sekarang ini, lebih memalukan membiarkan pasukanmu bersusah sendiri di Ente Isla bukan?”
Emi dengan pasrah menggerakkan pundaknya.
“……….Biarpun begitu apa ini? Kenapa sudah sepanas ini masih buat api?”
Emi heran dengan magan yang terbakar ini.
“Di jalan kemari saja sudah bisa melihat asapnya, malah berpikir ada kebakaran.”
“Ah—“
“Itu…………”
“Emilia tidak tahu ini?”
Kali ini Maou, Chiho dan Suzuno saling menatap.
“Kau ya…..kau tidak boleh begitu. Biasanya omongnya gimana ya, dasar anak muda jaman sekarang.”
“………Maaf, Yusa-san……aku tidak bisa membantah.”
“Sudah, lain kali aku beritahu.”
“Are?…..are-are?”
Maou biarkan saja. Tapi bahkan Chiho dan Suzuno juga begitu, jadi Emi yang tiba-tiba jatuh ke dalam situasi ini panik.
“Mah, pokoknya Emilia, terima kasih sudah membawakan ini, tunggu sebentar dan aku akan segera bersiap.”
Suzuno mengambil pemberian Emi, baru ingin mengambilnya dan naik ke atas.
Emi tetap saja tidak mengerti apa yang salah yang sudah dia lakukan, saling melihat Suzuno dan magan yang terbakar, Chiho juga tersenyum paksa. Dan akhirnya magan semuanya terbakar selesai, asap menghilang.
Saat ini.
“Ou?”
“Are?”
“Apa!?”
“Ah!”
“Uwaaa!”
Maou, Chiho, Emi dan Urushihara yang melihat sinar ini semuanya berteriak.
Ini bukan sinar matahari yang tajam itu, itu merupakan sebuah sinar yang meledak diatas magan yang sudah terbakar.
“Sial.”
Yang paling pertama beraksi adalah Maou.
“Kya!”
Untuk melindungin Chiho yang paling dekat dengan itu, jadinya memeluknya dan meloncat jatuh.
Karena sinar ini yang membuat orang tidak bisa membuka mata, Maou sambil menahan sambil berteriak.
“Cepat memeluk sesuatu! Itu gerbang!”
“!!”
“Apa yang terjadi!?”
Reaksi Emi dan Suzuno sangat cepat, barang yang diambil hampir semuanya jatuh, dan dua tangannya menggenggam erat pegangan tangga.
Plastik Suzuno yang jatuh dari atas tangga mengeluarkan suara yang keras.
Pintu menuju dunia lain, arah gerbang yang dibuka itu berbeda dari masing-masing tujuan orang.
Tapi persamaan gerbang adalah, kalau ada kemungkinan terhisap, maka akan langsung terlempar ke dunia lain.
Juga, di situasi yang tidak terpikirkan sama sekali ini, terhadap Chiho yang sama sekali tidak mempunyai sihir atau aura suci paling bahaya.
“Woi, yang mana! Masuk atau keluar?!”
Karena memeluk Chiho, Maou dengan sekuat tenaga berteriak.
“Sepertinya ada sesuatu keluar!”
Walau tidak bisa memastikan apa itu, suara Suzuno menjawab.
Itu merupakan gerbang yang menuju keluar, dengan kata lain ada seseorang dari suatu mengirim barang ke Jepang lewat gerbang.
Pokoknya, sudah mengerti bahwa kekuatan gerbang itu tidak menarik orang, Maou melepaskan Chiho dan melihat ke sinar yang silau itu.
“……..Apaan si?”
Terlihat sebuah bayangan bola yang besar dari sinar itu.
“Se-sepertinya bukan manusia juga bukan iblis!”
Emi juga sepertinya sudah melihat bayangan yang berbetuk bola itu.
Disaat bayangan ini muncul, sinar juga dengan segera menghilang dengan pelan-pelan.
Walaupun begitu, panasnya sinar matahari tetap tidak kalah dengan sinar yang tiba-tiba muncul ini, tapi akhirnya menghilang dengan pelan-pelan, dan dengan perlahan, bayangan yang berbetuk bola itu mulai menunjukkan sebuah bentuk dan warna.
“Jangan-jangan…….tidak, kalau ingin bilang………….”
“Terlalu besar………….”
Emi dan Suzuno yang lebih dekat dengan gerbang dari Maou perlahan mendekati sinar itu.
Seperti keran air ditutup, sinar itu menghilang dalam sejekap.
Saat ini, dunia kembali ke warna yang benar, sinarnya musim panas kembali normal di asrama Villa-rose yang ada di Sasazuka.
Benda yang muncul dengan tidak masuk akal ini jatuh di tempat magan yang sudah terbakar habis.
“Hoi hoi hoi hoi.”
“Bentar bentar bentar bentar bentar.”
“Ah--!.........ah--………..ah--……….”
Dibandingkan dengan benda yang tidak diketahui identitasnya, jatuh di magan yang baru habis terbakar ini membuat tiga penduduk biasa itu mulai panik.
Maou menolong benda itu, supaya tidak ditendang Emi dan menyebabkan banyak abu, Suzuno segera mengelap bagian yang kotor.
Syukurlah, magan sepertinya sudah terbakar hingga habis, tidak ada bekas-bekas seperti dibakar dengan suhu yang sangat tinggi.
Disaat yang bersamaan, tiga orang menghela napas.
“Mata--!mata--!”
Sepertinya karena melihat langsung ke sinar yang sangat menyilaukan itu, Urushihara berteriak dalam kamar, Maou, Emi dan Suzuno saling menatap.
Tiga orang itu terdiam, dan meliaht ke benda yang diambil Maou dan Suzuno yang sedang mengelap benda itu.
”Ribut apaan si Urushihara!”
“Mataku--!uwaa!”
“Woi, jangan hilang kendali ditempat seperti itu, kubunuh nanti.”
“Ja-jangan bunuh dulu baru omonglah!”
“Itu adalah salahmu sendiri yang paring dekat pintu masuk!........Maou-sama, apa yang terjadi, buah-buahan yang besar itu!”
Tapi, Ashiya yang berada ditangga bertanya dengan santai, tiga orang yang ada dibawah semuanya tidak bisa menjelaskan situasi dengan tenang.
Itu ada sebuah buah yang sangat besar yang hanya bisa diangkat seorang pria dewasa.
Itu merupakan buah besar warna emas yang berbentuk seperti apel.
Melihat bentuk yang besar ini, sama sekali tidak punya nafsu untuk memakannya.
“Jadi…….itu adalah apel? Ini?”
“Kalau tidak mirip apel bisa juga dikatakan mirip nanas sih…….tapi…….”
“Biarpun di dunia sana, disana tidak punya apel sebesar ini, jangan-jangan itu adalah iblis yang bentuk apel, ah, jangan omong hal yang tidak-tidak seperti ini.”
Di dunia sana memang memiliki iblis yang berbentuk seperti tumbuhan. Tapi, itupun iblis yang berbentuk seperti pohon, jadi tidak pernah mendengar ada iblis yang berbentuk seperti buah-buahan yang sangat besar ini.
“Setidaknya tulis siapa pengirimnya dengan alamat lah………..”
Maou yang tidak bisa mengurus situasi ini mulai protes.
Gerbang itu tidak mungkin terjadi secara alami, jadi seharusnya ada pengirim yang mengirimkan benda ini.
Identitas sebenarnya ini sampai sekarang tetap belum diketahui. Tapi , dikirim secara sengaja ke tempat ini atau kebetulan ke tempat ini kita sama sekali tidak tahu.
“Tolong lepaskan aku dari kekacauan ini.”
Emi mengubah pikirannya yang pertama.
“ ‘keanehan yang terjadi saat Raja Iblis bersama dengan Pahlawan’ sudah terjadi beberapa kali dalam jangka waktu yang pendek ini! Ini belum seminggu sejak kejadian Sariel kan!? Benar-benar tidak ada hal bagus yang terjadi saat dekat denganmu.”
“Aku kembalikan kalimat itu.”
Terhadap Emi yang mulai protes habis-habisan, Maou juga tidak bisa bertahan diam terus.
“Itu mah, kalau ingin bilang penyebab utama semua kekacauan yang terjadi kemarin, bukannya semua penyebabnya adalah kalian manusia!”
“Uh………”
“Tidak, mah, memalukan sekali.”
Disaat Emi sedang kehabisan kata-kata, Suzuno juga dengan sikap meminta maaf berbisik-bisik dari kejauhan.
“Kali ini juga, tidak mungkin Iblis bisa membuka gerbang dengan memancarkan sinar seperti itu! Pasti ada lagi hal yang merepotkan datang dari atas! I-ini, biarkan kau urus! Gimana taruh dikulkas tunggu sampai dingin dan memakannya!”
Sambil omong, Maou memberi apel pada Emi, Emi sampai panik dan mundur beberapa langkah.
“Jangan bercanda! Sekarang kami akan beli barang ke pusat kota! Tidak mungkin kami membawa benda sebesar ini!”
“Mana aku tahu urusanmu! Padahal selalu tidak mempedulikan aku dan selalu menguntitku! Dasar si Pahlawan penguntit!”
“Si……..siapa yang menguntitmu! Kalau kau bukan Raja Iblis untuk apa aku terus mengawasimu! Dasar Raja Iblis miskin.”
“Ah berisik, sudah panas begini masih berpakaian seperti itu, dasar si Pahlawan OL!”
“Puh, setidaknya lebih baik dari pada kau yang selalu memakai baju UNISLO yang sudah dicuci sampai warna putih, dasar Raja Iblis yang menggunakan T-shirt yang sudah usang!”
Dengan menggunakan mulut yang bagaikan pistol dan lidah yang bagaikan pedang mereka saling mengolok, tidak tahu apakah memang berniat berkata buruk atau hanya marah dengan tidak ada artinya, Maou dengan tidak sengaja mengatakan hal yang seharusnya tidak dikatakan.
“Dasar kau Pahlawan ‘papan cuci’ yang cukup menggunakan BH UNISLO olahraga!”
Emi yang marah karena lelahnya bertengkar dan panasnya cuaca ini kedua matanya mulai terlihat niar jahat yang ingin menghabiskan sesuatu.
“Sudah kuputuskan! Sekarang disini aku akan menghabisimu!”
“heh, ah, oh, mah, tunggu bentar Emi! Nanti dilihat orang loh! Lihat, juga tidak ada pedang suci! Ayo kita berbaikan dengan tenang!”
“Jangan banyak bicara!! Alasan kenapa aku menjadi pahlawan, adalah untuk menghabisi Iblis yang jahat!”
Bisa dibilang sebuah aura suci berwarna emas keluar dari tangan kanan Emi, dan mulai muncul ‘evolusi pedang suci-sayap”(Better Half).
Ini adalah pedang suci yang dijaga gereja dan diberikan ke Emilia, sebuah pedang suci penghancur yang hanya bisa digunakan oleh Pahlawan Emilia.
“Uwaaaaaaaaa! Se-seriuskah Emi!”
“Maou-sama!”
Karena Emi dengan serius mulai menarik keluar pedang sucinya, jadi Ashiya yang mengira ini hanya pertengkaran biasa segera turun dari tangga.
“Uwooooooooooooo!?”
Dengan tidak sadar keluar dengan menggunakan sandal, jadi terjatuh dengan parah ditangga, dan terjatuh dengan suara yang menyedihkan.
“Uwa, Ashiya, dasar bodoh.”
Ditempat yang lain, Urusihara yang matanya akhirnya kembali normal karena sinar tadi masih terbaring dekat pintu masuk, dan dengan melamun menatap ke depan.
“Heh? Dimana Sasaki Chiho?”
Urishihara mulai sadar kalau Chiho sama sekali tidak ikut campur dengan kekacauan ini, dan mulai melihat ke sekeliling.
Lalu, terlihat Chiho yang sedang melamun dibawah pohon, Urushihara masih terbaring, dan masih pusing.
“Hn, aku izinkan, tebaslah.”
Entah kenapa dengan aneh Suzuno juga ikut marah dan melirik ke Maou.
“Kau jangan membuat situasi ini menjadi lebih parah lagi! Berhenti! Bukankah sudah kubilang berhenti, apa kau dipihak Emi! Sialan!”
“Raja Iblis! Terimalah!”
Apakah dengan hanya mengolok ‘papan rata’ sudah bisa menghancurkan keinginan untuk menguasai dunia.
Dibandingkan dengan lampu merah dalam hidup, saat ini didalam pikiran Maou hanya ada penyesalan yang tidak berarti lagi.
Tidak ada cara untuk menghindari tebasan Emi yang cepat, Maou yang tidak tahu harus apa lagi juga tahu ini bukan lawan yang bisa dia terima serangannya dengan biasa-biasa, dan dia hanya bisa melindungi dirinya dengan memeluk apel aneh itu.
“Huh?”
Tapi, tebasan dari pedang suci tidak terasa walau sudah lama rasanya.
Maou dengan hati-hati menatap wajah yang dibelakangi itu.
“………..”
Itu adalah wajah Emi yang terdiam melihat apel dari celah antara pedang suci dan Maou.
“……….?”
Tidak tahu apa yang terjadi, tapi ini berbeda dengan Maou yang sama sekali tidak bisa bergerak.
“Ma-Maou-sama……uhuk uhuk……..”
Ashiya yang akhirnya berdiri karena terjatuh tadi melihat ke depan.
Raja Iblis yang menggunakan apel untuk melindungi kepala. Bell yang seperti takut dengan sesuatu dan menutupi wajahnya dengan menggunakan tangan. Emilia yang memegang pedan suci, dan,
“……..Tangan?”
Yang Ashiya lihat adalah tangan manusia yang tumbuh dari dalam apel.
Didalam apel yang besar juga bulat itu, menumbuhkan bayi manusia dengan dua tangan dan dua kaki kecilnya.
“A—“
“A……”
“Apa itu!?”
Ashiya dan Suzuno sama sekali tidak bisa omong, dan yang terakhir terdengar teriakan dari Emi.
Hanya, tumbuh sebuah tangan dari dalam apel, dan walau sendiri sangat terkejut, tapi bisa dianggap ini adalah Iblis yang berwujud tumbuhan.
Dan pertanyaan terbesar sekarang, dua tangan itu yang dengan kuat menangkis pedang suci milik Emi itu dilihat darimanapun itu adalah tangan seorang bayi manusia.
Tebasan Emi sudah tidak dapat diragukan lagi.
Benar-benar ingin membelah kepala Maou dan apel itu menjadi dua, ini merupakan tindakan yang sama sekali tidak terpikirkan, jadi dia sendiri juga tidak tahu kenapa, tapi setidaknya tebasan itu dapat membelah apel aneh itu menjadi dua.
Emi dengan panik mundur beberapa langkah, terhadap itu, Suzuno juga menarik keluar jepit rambutnya yang terpakai dirambutnya itu.
“Bersiap mode tempur!”
Bersamaan dengan suara Suzuno, ditambah jepit rambut yang berbetuk salib itu sekejap berubah menjadi palu raksasa yang dikelilingi aura suci.
Suzuno dan Emi dengan bersamaan mulai berhati-hati dengan lawan yang tidak jelas identitasnya itu.
Urushihara juga dengan samar-samar berdiri berpikir sebaiknya bertindak seperti apa.
Tapi biarpun Ashiya yang merupakan jendral yang strateginya hebatpun tidak dapat menangani situasi aneh seperti ini.
Suzuno mengeluarkan senjata, ya biarkan saja, tapi dia malah seperti ragu untuk bertindak, berdiri sambil memegang palunya yang besar itu dan tidak bergerak.
“……..A-ada apa, apa yang terjadi?”
Hanya Maou yang tidak bisa melihat ke apel bagian atas dan dengan bingung menatap sekelilingnya.
“Ma-maou?”
Yang akhirnya pertama mengeluarkan suara adalah Urushihara yang akhirnya berdiri dan berjalan keluar ditangga.
“Po-pokoknya, taruh saja apel itu kebawah dulu.”
“Apel…….?uwa!? apa ini!?”
Dibilang Urushihara, Maou yang akhirnya menaruh apel itu melihat tangan yang tumbuh dari dalam apel itu sedang bergetar, jadinya dengan terkejut membuangnya ke lantai.
“Ah!”
Karena terhadap benda yang tidak diketahui, semuanya keluarkan suara yang tidak disangka, dan menatap ke apel yang berguling diatas lantai itu.
“Uwa, uwa!”
Emi berada diarah Maou melempar apel itu, dan dengan terkejut mundur beberapa langkah lagi.
Tapi apel itu seperti berusaha berguling ke arah Emi.
“Tidakkkkk!? Tunggu bentar, apa ini!?”
Tangan kecil itu seperti sedang bergerak mencari sesuatu, dan sedang berguling mengejar Emi.
Maou dan Suzuno juga tidak bisa berbuat apapun, tidak tahu apa yang harus diperbuat, dan dengan begitu melihat pemandangan yang ada di depan.
Tidak lama, kecepatan apel itu mulai menurun, berhenti di tengah taman, Emi seperti tikus yang dikejar kucing sedang setengah mati menarik napas dekat dinding.
Tapi, tangan kecil yang tidak menyerah itu tetap mengeluarkan tangannya dan seperti sedang meminta sesuatu pada Emi, melambai-lambaikan tangan.
“Woi, woi, gimana, Emi, dia ini, beritahu namanya, hoi.”
“Huft……huh--…….a-apaan, sial, kenapa bisa begini.”
Walaupun niat membunuh terhadap Maou sudah menghilang, Emi hanya bisa menghadapi ini dengan memalukan, melihat pedang suci yang ada ditangan kanan dan tangan yang menghadap ke sini dengan tidak berarti.
Sepertinya tebasan pedang suci Emi benar-benar ditangkis tangan yang tumbuh dari dalam apel ini.
Tidak, kalau bilang ditankis kurang tepat, lebih tepat dibilang tebasan milik Emi dihentikan oleh sebuah kekuatan yang besar.
Emi merasa makin banyak musuh yang tidak bisa dihadapi dengan pedang suci, kalau apel ini juga sama, berarti kemungkinan besar dia berhubungan dengan Sariel yang datang merebut pedang suci.
Emi yang berpikir begitu dengan berhati-hati meyimpan kembali pedang sucinya.
“Kyaa! Sudah cukup sudah cukup kali ini!”
Saat ini, terjadi sebuah perubahan yang bagaikan kulit apel dikupas.
Kuliat luar yang berwarna emas mulai terbelah.
Untuk melindungi bagian dalam, kuliat bagian bawah yang keras tidak berisi apapun, ditatapan semua orang selain Chiho, tertumbuh tangan dan kaki dari apel raksasa itu—
“……..Puh!”
Menjadi seorang anak perempuan, suara yang bodoh terdengar diseluruh Vila-rose yang ada di Sasazuka.
“……….”
“……….”
“……….”
“………..”
“………….”
Semua orang hanya bisa terdiam melihat perubahan yang tidak terduga ini.
Sampai tidak bisa saling menatap, hanya terdiam mati-matian melihat bayi yang keluar dari dalam apel.
“…….Puh!”
Seperti membalas suara kedua, di kulit luar yang berwarna emas sekali lagi terlihat sosok anak perempuan, dengan santai mengubah bentuk. Dan sambil berubah menjadi gaun yang berwarna kuning.
“Hn?”
Disaat menjadi gaun, Maou sadar kening gadis itu muncul sebuah gambar, mengeluarkan sinar berwarna ungu, sebuah gambar berbentuk bulan.
“Hn—“
Tapi, juga hilang sekejap.
Gadis itu menyentuh keningnya yang gambarnya baru hilang itu, lalu dengan pelan mengepalkan tangan kecilnya yang tadi berhasil menghentikan pedang suci, dan melihat ke sekeliling dengan malas, mengangkat alisnya dan mengerjap-ngerjapkan matanya.
“…….Heisho…….”
Lalu , tertidur.
“Ah, woi!?”
Haruskah bilang memang Raja Iblis? Yang pertama sadar adalah Maou.
“A-a-a-a-a-apa. Ini………….apa…………”
Tapi sepertinya masih belum bisa pulih dari keterkejutannya itu, mulut masih tidak mendengar perintah.
“Ti-tidak mungkin, ta-tahu, ’kan.”
Emi juga sama.
“Ma-Maou!”

Yang mengeluarkan suara yang panik dan terkejut itu adalah Urushihara yang berada diatas.
Seperti disambar petir, Suzuno dan Ashiya juga terkejut sampai seluruh tubuh gemetar, dan mengangkat kepala melihat ke Urushihara.
“Sial, ada orang datang!”
Kalimat ini mebuat semua orang yang ada disini segera sadar diri.
Dengan kata lain, tidak peduli identitas sebenarnya gadis apel itu, juga tidak peduli sinar yang terpancar dari gerbang yang terbuka tadi sudah dilihat berapa orang, yang pasti perlu menghindari kekacauan yang tidak perlu.
“Hoi, hoi Emi.”
“A-apaan si!”
“Ini, ini, ini anak’kan? Ini anak’kan? Pokoknya, gendong dulu.”
“Ke-kenapa aku!?”
“Ka-karena perempuan jadi harus digendong oleh perempuan! Atau dengan kata lain , karena sama sekali belum pernah gendong bayi manusia lah!”
“Aku juga tidak pernah gendong! Tidak, gendong sih pernah gendong, tapi kalau anak yang tertidur di atas tanah—“
“Sudah cukup, dasar Raja Iblis dan Pahlawan yang tidak berbelas kasihan!”
Suzuno mulai bertindak.
Supaya tidak membiarkan gadis apel yang tertidur itu tidak bangun, Suzuno dengan hati-hati menggendongnya.
“Ou, ternyata pandai juga.”
“Itu karena aku pernah belajar cara membawa bayi! Woi, Alsiel! Pokoknya bawa ke benteng Raja Iblis dulu! Keluarkan selimut, selimut!”
“Ka-jangan memeritahku Kristen! Sa-sakittt!”
Biarpun melawan, Ashiya tetap bertahan dengan pelan karena luka yang dia alami tadi jatuh dari tangga, dan dengan perlahan dia mulai naik ke atas.
Suzuno juga ikut dibelakang, dan dengan tidak ragu melepaskan sandal jepitnya, kaos kaki berwarna putih langsung menginjak ditangga yang penuh dengan debu itu.
“Woi, Emi, pokoknya kau juga naik! Suzuno, kenapa lepaskan sadalmu! Pergilah ambil itu!”
“Tentu saja supaya tidak terjatuh! Oh ya, Bell! Plastik ini!”
Dua tangan memeluk barang yang terjatuh saat gerbang terbuka, Emi juga dengan hati-hati naik lewat tangga.
“Lalu, hoi, Chi-chan, Chi-chan, kau kenapa, dari tadi seperti itu……ahah?”
Sampai sekarang, Maou baru sadar disekelilignya sama sekali tidak ada sosok dan suara Chiho.
Tapi, dengan tidak sengaja saling menatap, disaat Maou melindunginya tadi dekat pohon, dia sedang menatap dengan kosong kedepan.
“Hoi,ho, Chi-chan?”
Chiho yang sampai sekarang belum pernah terkejut seperti itu bersama Maou harusnya tidak akan shock seperti itu.
Jangan-jangan karena sinar yang terpancar dari gerbang itu membawa sebuah pengaruh yang buruk pada Chiho yang tidak dilindungi aura suci juga sihir? Firasat yang buruk terlintas dalam pikiran Maou.
Tapi kalau dilihat dengan teliti, pipinya terlihat merah sekali, wajahnya menunjukkan senyuman yang amat berbahagia, itu merupakan ekspresi yang menunjukkan bagaikan sedang didalam mimpi.
“Hoi, hoi--, Chi-chan?”
“……..”
“Hn?”
Karena mendenagr suara yang kecil Maou mulai mendekatkan telinganya.
“……..Dengan erat-erat, dengan erat-erat dipeluk Maou-san, ehehe, dengan erat-erat…….”
Sambil berbisik, Chiho menunjukkan senyuman itu dari dalam hatinya, dan menaruh tangannya dekat bibirnya.
“………Ah----…………..”
Maou dengan tidak sadar mulai bersenandung, lalu,
“Hei!”
“Kyaa!”
Disaat Maou mengeluarkan suara, dia bertepuk tangan di depan Chiho.
Chiho tersadar kembali karena suara itu, dan mulai melihat ke sekeliling.
“Pulanglah Chi-chan!”
“Ehhh! Ma-Maou  san! Ah, a-a-aku itu!”
“Tidak apa, maaf, sekarang bukan saatnya untuk melakukan itu, pokoknya kembali dulu ke benteng Raja Iblis, benteng Raja Iblis!”
“Heh? Uwaaa! Ma-Maou san, tangan, tangan!”
Disaat masih belum tersadar dari kekacauan, Maou dengan segera menarik Chiho dan naik ke tangga.
Termasuk gadis apel itu semuanya kembali ke benteng Raja Iblis, saat ini semuanya menjadi sangat lelah karena berbagai alasan.
*
Disamping gadis apel yang tertidur lelap diatas kasur yang disediakan Ashiya, Manusia dan Iblis yang berasal dari dunia lain juga gadis SMA sedang makan es krim dengan terdiam.
Tidak, lebih tepatnya, hanya Chiho yang masih belum makan sedikitpun, tapi 5 orang yang lain itu untuk lari dari kenyataan sedang memakan es krimnya seolah tidak terjadi apapun.
Lalu, yang pertama menghabiskannya adalah Emi.
“……..Kalau begitu sekarang aku…….”
“Hoi, tunggu!”
Maou menarik kaki orang yang ingin kabur itu.
“Tunggu, jangan menarik kakiku!”
Suzuno dengan menggunakan jempolnya membuat kaki yang tergerak-gerak itu terdiam.
“Shhh--! Nanti bangun, Emilia!”
Emi dengan terpaksa mulai duduk kembali.
“……..Tidak ada hubungannya dengan Bell dan aku kan! Kau pikir sendiri bagaimana solusinya!”
“………Bilang tidak ada hubunganya akan menyelesaikan maslahnya huh! Dilihat bagaimanapun tujuan bayi ini adalah kau!”
Pada akhirnya hanya bisa bertengkar dengan menggunakan suara kecil.
Apel yang sebelumnya berubah menjadi seorang gadis memang mengeluarkan tangannya dan mengejar Emi, entah apakah karena bereaksi terhadap aura suci yang kuat atau apa kebetulan arahnya menghadap ke Emi, tapi kalau memikirkan hubungan gadis ini dengan pedang suci, seharusnya alasannya ini.
“Apa kau ingin membawanya pulang, setidaknya jelaskan dulu situasinya bari pulang!”
“tak mau! kalau sampai aku ikut terseret, dipikir bagaimanapun yang ada hanya repot kan! Jadi biarkan aku pergi dari sini secepatnya.”
“Tangan…….dengan erat-erat…….”
Disamping Maou dan Emi yang betengkar, Chiho tetap dengan tatapan yang kosong melihat ke depan.
“Kalau begitu lebih baik, tapi jangan seret aku ke dalam masalah ini!”
“Apaan itu! Kalau begitu maksudmu kau akan membantuku menyelesaikan masalah ini huh?”
“Mana mungkin! Tanggung jawab sendiri tanggung sendiri!”
“Dasar tidak tahu malu! Kau tidak bilangpun aku akan melakukannya! Tidak akan memberikan ke orang dengan sembarangan, jadi ini bukan tanggung jawabku!”
“Kau ya!”
“Kalian berdua tenang! Nanti bangun loh!”
Ashiya dengan suara kecil menghentikan mereka, tapi dua orang yang saling mendorong tanggung jawab itu suaranya semakin besar.
“Dengan erat-erat, Maou-san, tangannya besar……..”
“…….Chiho sebenarnya dari tadi kenapa…….”
“Daritadi terus seperti ini.”
“Tutup mulutmu Lucifer, kau ini sama sekali tidak mendengar.”
Suzuno melihat ke orang selain Ashiya yang sedang berusaha menghentikan mereka yang bertengkar, dia berkata.
“Pada dasarnya karena kau yang membakar api yang aneh jadinya dating kan!? Seperti dipanggil saat tengah bulan Juli!”
“Mana aku tahu! Tengan bulan Juli itu kapan! Sama sekali tidak ingin diprotes sama kau yang tidak tahu apa itu upacara Ogara--! Itu adalah ritual Jepang, jadi dengan kami sama sekali tidak ada hubungannya!”
“Lihatlah! Kaulah yang memanggilnya kemari kan! Pokoknya mah paling karena sembarangan jadinya sihir yang bocor tercampur dengan ritual Jepang jadinya bereaksi! Benda yang dipanggil sendiri bertanggungjawablah sendiri sana!”
“Apanya sembarangan! Harusnya kau bilang ini strategi! Jangan bilang hal-hal yang sembarangan lagi, kau juga bantu menyelesaikan masalah lah.”
“Apaan itu! Bicara seperti sampai sekarang ini aku sama sekali tidak melakukan apa-apa!”
“Pada dasarnya sebenarnya tidak melakukan apa-apa kan!’
“Apa maksudmu!”
“Ho, mau kelahi huh!”
“Aku sudah bilang kalau kalian terlalu ribut’kan!”
Fokus pada tempat dimana kedua orang itu tidak dapat melihatnya, Suzuno dengan tidak berbelas kasihan memukul bagian kepala dengan menggunakan palu.
Ashiya dan Urushihara tidak bisa mencegah itu.
“Tunggu, ah, maaf.”
“Tunggu, ini sama sekali tidak lucu loh!”
Palu itu terkena Maou yang lebih tinggi dari Emi.
Walau sudah mengendalikan kekuatannya agak tidak terlalu kuat, tapi biarpun menggunakan palu yang biasa mengetok kepala, kalau tidak hati-hati tetap saja akan terluka, Maou karena sakit mulai nangis dan melihat ke Suzuno.
“Uh….auh~”
Karena suara menguap yang kecil, waktu semua orang serasa terhenti.
Gadis apel itu bangun, sambil menguap sambil meremas-remas matanya, setelah meremas-remas matanya, dia melihat ke sekeliling dan kebetulan saling bertatap dengan Maou.
“Yo…..yo~”
Terhadap mata yang setengah terbuka dan setengah tertutup, Maou menyapa.
“Uh--?”
Walau tidak tahu apakah bahasanya sama, tapi nada menyapa tetap sama.
“…….Celahmah paghi.”
Tapi terbalik dengan kekhawatiran, walau bahasa yang gadis ini gunakan terdengar sedikit bodoh, tapi bukan penghubung ide(idea link) yang dipakai saat pertama kali Maou dan Emi datang ke Jepang, ini benar-benar bahasa Jepang.
“Bi-bisa bahasa Jepang.”
Maou yang tidak mengerti kenapa gadis apel yang keluar dari gerbang bisa bahasa Jepang, supaya tataminya tidak bergetar dia perlahan mendekati.
“Hn, sedikit.”
“Sedikit, mah, hn, begitu ya.”
Maou dengan pelan menarik kembali kepalanya, seperti ingin meminta bantuan terhadap Emi, Suzuno, Ashiya dan Urushihara.
Biarpun tidak bisa tenang, Maou tetap mengumpulkan keberanian dan bertanya pada si gadis apel itu.
“Itu, kau ini, apa?”
“Huh?”
Seperti belum mengerti dengan tujuan pertanyaan ini, gadis apel itu melamun, meliaht Maou dengan mata yang terbuka lebar-lebar, walau Maou sedikit takut untuk melihatnya, tapi karena teringat bayangan saat kerja, jadi menggunakan nada bertanya pada anak pelanggan.
“Ah ah bukan, itu, nama, ya, na-namau siapa?”
Kali ini, dari mata gadis itu terlihat dia mengerti, dan setelah menguap kecil dia menjawab.
“Alas-Ramus.”
“Alas-Ramus?”
“Hn, Alas-Ramus……puh!”
Kali ini pilek, sepertinya karena pilek kali ini dia terbangun, matanya yang selalu terbuka setengah akhirnya terbuka sepenuhnya, dan tiba-tiba dengan semangat melihat ke sekeliling.
“Uwa!”
Urushihara dan yang lain terkejut kerena perubahan yang tiba-tiba ini, tapi Maou yang sudah mulai terbiasa dengan anak-anak pada suatu tahap berhasil mempertahankan ketenangannya.
Berkat ini, akhirnya ada waktu bisa memperhatikan penampilan gadis yang bernama Alas-Ramus ini.
Kalau dilihat dari umur manusia sepertinya baru berumur 1 tahun hampit 2 tahun, walau punya rambutnya berwarna perak tapi ada bagian yang seperti dicat menjadi warna ungu, juga warna matanya warna ungu.
Maou yang seperti teringat sesuatu dengan sekejap melihat ke kening gadis itu, tapi sekarang dibagian itu sama sekali tidak ada gambar lagi, jadi sementara kesampingkan dulu pertanyaan ini.
“Kalau begiut Alas-Ramus berasal darimana?”
“Hn, bangunan……gitu?”
Mulai berpikir sedikir, lalu menyimpulkan sebuah kosakata yang tidak lengkap dan malah bertanya balik.
“Bangunan……..? Ah, rumah? Mau bilang dari tadi kalau dari rumah……rumah……ah, rumahnya dimana?”
“Rumah……..rumah? Rumah, tak tahu.”
“Be-begitu ya……..”
Maou mulai bertanya-tanya dalam pikirannya.
“……Ada ayah dan ibu tidak?”
“Ayah, ibu?”
Apa tidak mengerti, atau tak tahu? Alas-Ramus dengan bingung menggeleng gelengkan kepalanya.
“Maksudnya itu, tolong beritahu aku papa dan mama Alas-Ramus.”
Anak yang identitasnya sementara adalah manusia, terhadap pertanyaan orangtua tidak terlalu tiba-tiba kan, dan dia menjawab,
“Papa adalah…….Satan.”
Semoga saja bukan begitu.
Semua pandangan orang terfokus pada punggung Maou.
“Begitu ya…..papa adalah Satan……huh?”
Maou yang terlambat menyadari itu dengan perlahan mulai melihat ke mereka.
“………Are, aku?”
“Tadi…….”
“Benar-benar……”
“Bilang……..”
“Papa adalah Satan…….”
“Ma-Maou san!?”
Chiho yang daritadi seperti sedang bermimpi tiba-tiba tersadar, dan langsung bertanya ke Maou.
“Ma-maou-san punya anak!?”
‘Tu-tunggu bentar, Chi-chan!”
“Apakah itu, disaat masih menjadi Raja Iblis mempunyai istri dan anak!?”
“Tidak! Tidak ada jadi tenang sedikit! Sama sekali tidak ada!”
“A-apa itu benar Maou-sama!”
“Hoi! Ashiya juga begitu!”
“Kalau Maou-sama mempunyai anak bagi dunia Iblis ini merupakan sebuah hal besar! Dari awalnya harusnya memberikan pendididkan yang paling tinggi kepada raja yang selanjutnya, tapi sudah sebesar ini, masih merahasiakannya, ada apa sebenarnya!”
“Tunggu sebentar! Kenapa sudah pasti dia adalah anakku huh!”
“I-iya, sebenarnya lawannya itu iblis yang datang darimana! Dimarkas Raja Iblis semuanya Iblis jantan, jangan-jangan itu terjadi sebelum menyerang ke Ente-Isla.”
“Makanya sudah kubilang bukan!!.......”
Karena ditanya Chiho dan Ashiya dengan begitu, gadis yang bernama Alas-Ramus itu mulai keluar dari selimutnya.
“Heisho, sho-“
Dua tangan yang kecil menggenggam erat tatami, langkahnya masih belum terlalu tegak, wajahnya yang lucu dan sedang berusaha itu perlahan berdiri.
Pokoknya, wajar saja karena umurnya sudah bisa beridir, jadinya menjelaskan hal yang tidak penting.
Alas-Ramus dengan berusaha melambaikan kedua tangan dan kakinya, berjalan sekitar setengah tatami dan akhirnya sampai di depan Maou.
Karena sosoknya yang lucu ini, semuanya jadi lebih santai, tapi di suasana yang begini Alas-Ramus menarik tangan Maou.
“……..Papa.”
Lalu dengan senyum yang penuh bahagis memeluk Maou.
Sebenarnya bagaimana si mendeskripsikan kepanikan yang sesaat ini.
Chiho dan Ashiya sama-sama membuka mulutnya dengan lebar karena terkejut, dan Urushihara takut terseret masalah ini lari ke sudut ruangan, Emi dan Suzuno tidak tahu harus melakukan apa jadi hanya terdiam.
Lalu yang pikirannya paling kacau , pastilah Maou yang dianggap sebagai papa.
“Tu-tunggu sebentar! Dengan apa kau menyatakan aku papamu!?”
“Papa—“
“Tolonglah, jangan menjawab dengan jawaban yang bisa memperparah keadaan!!”
Apa ada cara untuk menenangkan wajah Chiho dan Ashiya sudah pucat wajahnya, Maou berpikir mati-matian, lalu tiba-tiba terpikir sebuah pertanyaan yang bisa membaut situasi ini kembali tenang.
Dia tidak tahu apakah pertanyaan ini akan menyelamatkan dia atau malah menyeret dia menuju nereka dan kehancuran yang lebih besar.
“Be-benar! Mama, mamamu siapa!”
Mata Alas-Ramus terbuka lebar-lebar dan melihat ke Maou.
Maou berpikir dengan kehadiran mama yang belum pernah dia temui untuk memutarbalikkan fakta.
Kalau penampilan Alas-Ramus dilihat dari penampilan manusia sekarang umurnya baru 1 tahun hampir 2 tahun, 1 tahun hampir 2 tahun lalu kebetulan sedang berperang melawan Pahlawan Emilia, Maou yang saat itu sama sekali tidak ada waktu buat wanita, Ashiya dan Emi juga sangat tahu akan hal ini.
“Mama.”
Alas-ramus tidak mengulang pertanyaan Maou, dan menjawab dalam sekejap.
Bersamaan dengan kata mama, tangan kecilnya yang bagaikan daun dengan tidak ragu sedikitpun menunjuk ke seseorang dengan menggunakan jarinya.
Apa tangan dan jarinya sudah bisa digerakan dengan bebas, sambil berpikir pertanyaan yang tidak penting ini, semua orang melihat ke arah dimana jari Alas-Ramus menunjuk.
“…….Are?”
Ditempat yang ditunjuk jari itu Emi sedang berdiri.
“……Aku…..aku aku aku aku……aku?”
Sekejap, Emi langsung menjadi pucat, lebih pucat dari orang lain yang ada di sini.
Walaupun cuaca sedang panas-panasnya, tapi udara benteng Raja Iblis serasa membeku.
“Papa, mama.”
Lalu dengan pukulan critical, jari Alas-Ramus menunjuk ke Maou dan Emi.
Maou dan Emi sesaat tidak tahu apa yang terjadi, lalu,
“…………………Uhukh—“
“Uwa-----! Ashiya! Bertahanlah! Tidak apa-apa kan!”
Saat ini, Ashiya terjatuh pingsan, Urushihara dengan panik langsung mengangkatnya.
“Sa-sa-sa-sa-sa-sa, Sasaki-san?”
Es krim yang belum dihabiskan Chiho sekejap dihancurkan oleh Chiho.
“Jadi ayah adalah Raja Iblis, dan Ibu adalah Pahlawan? Sama sekali tidak masuk akal, seperti sebuah drama saja……….”
Kalimat Suzuno menandakan hal-hal yang akan terjadi berikutnya.
Lalu, tidak tahu harus melakukan apa ditengah kekacauan ini, Alas-Ramus berlari mengelilingi ‘papa’ dan ‘mama’.

Hataraku Maou-sama! Jilid 3 Bab 1 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.