12 Februari 2016

Fate/Apocrypha Jilid 2 Prolog LN Bahasa Indonesia



FATE/APOCRYPHA
JILID 2

PROLOG
Pada zaman dahulu, ada seorang pahlawan besar yang membunuh seekor naga.
Dia adalah seorang pangeran dari Belanda yang berani dan mulia. Semua orang memuji penampilannya yang penuh keagungan dan kemuliaan.
Semua pria ingin menjadi bawahannya dan semua wanita memujanya.
Pahlawan tersebut juga hidup sesuai dengan harapan mereka.
Dengan waktu yang sedikit untuk beristirahat, yang dia lakukan hanya terus bertarung. Tidak, dia tidak mencari suatu pertarungan, tapi lebih kepada pertarungan itulah yang tidak membiarkan dirinya dan kekuatannya yang luar biasa kabur.
Pedangnya yang tersohor, Balmung, diterimanya dari suku kabut bernama Nibelung. Tubuh bajanya, dia dapat dari mandi dengan darah sang naga iblis Fafnir yang dibunuhnya.
Dia memiliki tubuh dan pedang yang tak terkalahkan. Jadi, akan sangat logis baginya jika memenangkan banyak pertempuran. Tidak terkalahkan hingga akhir hayatnya, hidupnya benar-benar memesona.
Tetapi dia adalah seorang pahlawan―atau setidaknya seperti itu. Ketika seseorang meminta padanya, dia akan mengabulkan permintaan itu. Ketika seseorang bersujud dan memohon padanya, dia akan menggenggam uluran tangan mereka dengan kuat.
Ketika dia diminta untuk membunuh seekor naga, dia melakukannya. Ketika dia diminta untuk tidur bersama seorang wanita molek yang tidak dapat dipuaskan oleh siapa pun, dia memutar otak untuk melakukannya. Tindakan-tindakannya tidak dapat disebut baik ataupun buruk, karena caranya hidup hampir mirip seperti sebuah alat pengabul-keinginan. Dia pikir yang dilakukannya itu sudah benar, karena kebaikan dan kejahatan itu tergantung apa yang kau percayai.
Ketika para pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan mengeluh karena keluarga mereka terbunuh, dia akan membalaskan dendam mereka.
Karena para penduduk miskin yang menderita tidak meminta apapun padanya, dia akan mengabaikan mereka.
Sebab, jika dia tidak melakukan hal tersebut, semuanya tidak akan pernah berakhir. Merupakan hal yang tidak mungkin untuk menyerahkan seluruh beban dunia hanya pada satu pundak manusia. Jadi, dia memutuskan untuk hanya mengabulkan permintaan yang disampaikan padanya.
Dia tidak bertindak berdasarkan keinginannya sendiri. Dia tidak berperang karena dia menyukainya. Saat dia memikirkannya, pahlawan itu tiba-tiba tersadar kalau dia tidak tahu apa yang diinginkannya. Dia tidak memiliki keinginan maupun mimpi, dia bahkan tidak bisa membayangkan seperti apa masa depannya. Meskipun banyak yang menyebut pahlawan itu sebagai manusia teladan, pahlawan yang ragu-ragu itu telah kehilangan cita-citanya.

―Sungguh suatu kepalsuan. Tidak ada yang saling terhubung. Jika dia mengabulkan semua permohonan yang ada, wajar saja dia tidak mengetahui apa yang dirinya sendiri inginkan.
Dia tersesat di jalannya dan mengembara tanpa tujuan, tapi meskipun begitu―dia percaya bahwa akan ada yang terjadi pada akhirnya. Dia percaya ada yang menunggunya diakhir perjalanan hidupnya. Karena itu, yang bisa dilakukan pahlawan tersebut hanyalah terus berperang.
Dia tidak pernah dikalahkan, karena hal itu tidak mungkin terjadi. Selama ada yang meminta kemenangan padanya, dia akan memperoleh kemenangan tersebut tidak peduli sebesar apa penderitaan dan keputusasaan yang harus dialaminya.
Kemenangan, kemenangan, dia hanya mengenal kemenangan. “Tolong bunuh monster itu”, “Tolong selamatkan desa kami”, “Tolong dapatkan wanita cantik itu untukku”, “Tolong rebutkan negeri itu”―jumlah permintaan yang ada setara dengan jumlah pemohon, dan jumlah permohonan yang dia kabulkan sama dengan jumlah permohonan yang diajukan padanya.
Dia hanyalah sebuah [Sistem] belaka―sebuah [Holy Grail] yang mendapat gelar ‘pahlawan’.
Meski seperti itu pun, tidak apa-apa, pikir sang pahlawan.
Mengesampingkan hal tersebut, diberi ucapan terima kasih oleh seseorang bukanlah hal yang buruk.
Suatu hal yang wajar jika hatinya tergerak saat melihat orang-orang meminta pertolongan dengan ekspresi yang menyedihkan.
Dia terus maju tanpa ragu―pada akhirnya, dia bahkan bisa membunuh seekor naga. Tapi, ada sebuah lubang yang muncul di hatinya. Tidak ada apapun di dasar lubang itu, yang ada hanyalah ruang gelap di dalam dirinya.
Meskipun dia mencintai manusia.
Walaupun dia mencintai dunia.
Dia tidak pernah bisa mengisi kekosongan di hatinya, tidak peduli apapun yang dilakukannya.

Nama pahlawan itu adalah―
AKHIR PROLOG


Fate/Apocrypha Jilid 2 Prolog LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.