25 Februari 2016

Fate/Apocrypha Jilid 2 Bab 1 LN Bahasa Indonesia


FATE/APOCRYPHA JILID 2
BAB I
(BAGIAN 1-5)

BAGIAN I
Mengejutkan, dia masih berusaha untuk berdiri dan tangannya menyentuh permukaan batu yang keras dan dingin. Sebelum dia dapat bertanya pada dirinya sendiri di manakah dia berada, dia merasakah kehadiran sesuatu di depannya dan merasa ketakutan.
Sesuatu sedang bernapas di dekatnya. Tapi, kenapa napas itu dapat menghembus seluruh tubuhnya?
...Hal itu dikarenakan [sesuatu] yang muncul di depannya adalah sesuatu yang sangat besar. Dipenuhi dengan kemarahan dan kejahatan, sesuatu itu sedang menunggu untuk memakannya.
Napasmya sendiri menjadi tak teratur. Dia ingin kabur, ingin buru-buru kabur dengan kecepatan penuh; dia harus kabur, kabur, dan kabur. Walaupun demikian, tubuhnya tidak dapat bergerak, seperti tubuh itu sudah dikekang oleh bayangannya sendiri. Keringat dingin yang tak menyenangkan menetes dari seluruh tubuhnya bagai hujan.
―Dingin.
Jantungnya membeku karena ketakutan. Namun, getaran panas terasa di seluruh tubuhnya. Apakah itu artinya sesuatu yang sedang berada di depannya adalah sesuatu yang lebih panas dibandingkan bara api?
Udara yang dihirupnya bagaikan racun, dan menghembuskan napas pun terasa sangat menyakitkan. Meskipun begitu, sesuatu yang berada di depannya tidak mencoba untuk menyakitinya.
Tanpa memunculkan diri ataupun memanggil, makhluk itu berbalik menuju ke arah yang lain. Dia tidak kabur ataupun pergi, dia hanya menarik tubuh besarnya kembali.
Hanya ada satu kalimat yang disampaikan oleh makhluk itu padanya.
Jangan lupakan. Kata-kata itu terukir di kulitnya bagaikan tato.
Hal ini bukanlah sebuah mimpi maupun kenyataan. Hal ini adalah dunia yang berada di ambang perbatasan antara mimpi dan kenyataan.
Jangan pernah lupakan makhluk ini, karena kau akan segera bertemu dengannya lagi.

Demikianlah, dengan rasa sakit seperti ditusuk jarum yang terasa di dadanya, dan dengan semangat yang membara―dia terbangun.

BAGIAN DUA
Udara dan kesunyian sedang membeku, serta hutan tersebut sangat gelap dan sunyi. Sang Rider Hitam, Astolfo yang menangis tersedu-sedu, akhirnya berdiri.
Dia menyokong homunculus yang terjatuh. Tinggi badannya yang kira-kira lebih pendek atau sama dengan Rider, tumbuh dengan sangat cepat. Sepertinya, karena mengambil jantung Saber Hitam―Siegfried, tubuhnya berubah secara drastis.
Masih belum mampu untuk memercayainya, homunculus itu mengepalkan tangan lalu melepaskan kepalannya secara berulang-ulang. Rasa sakit yang dia rasakan ketika jantungnya pecah masih terasa, namun level rasa sakitnya sudah turun ke tingkat di mana dia tidak akan merasa terganggu.
“Kelihatannya jantung Saber berfungsi dengan baik.”
Rider mengangguk terkesan. Homunculus itu meletakkan tangan di atas jantungnya, dan dia merasakan suatu denyut yang kencang. Darahnya terasa sangat panas hingga membuat seluruh tubuhnya berkeringat.
“Yeah―”
Homunculus itu merasa terharu saat dia bisa berbicara tanpa merasa kesakitan. Dia merasa senang saat mengetahui ternyata bernapas itu menyenangkan!
Merasa senang, dia memeriksa sekitarnya hingga perhatiannya tersita oleh sebuah pohon.
Homunculus itu mengatur napas dan mengaktifkan Magic Circuitnya. Dengan pelan, dia mengarahkan tangannya ke arah pohon, mengonfirmasi material-material pembentuk pohon, lalu melepaskan prana untuk menghancurkannya.
Pohon itu dengan mudah roboh layaknya sebuah ranting, tapi tubuh homunculus itu dengan sempurna mampu menahan tekanan dari penggunaan Magic Circuitnya.
Melihat si homunculus, Rider mengangguk dalam diam.
“...Yeah. kalau begini, mulai sekarang kau akan baik-baik saja meski sendirian. Karena Saber sudah gugur, seseorang harus kembali dan menjelaskan apa yang terjadi atau semuanya akan semakin rumit.”
Rider benar. Para Master di Benteng Millennia mungkin sedang mengonfirmasi status seluruh Servant satu per satu. Saber sudah diperintahkan untuk menangkap Rider dan homunculus, jadi kemungkinan besar pengejar lainnya akan segera dikirimkan.
“Aku juga harus membawa pria ini kembali ke benteng.”
Dengan santai, Rider menepuk kepala Master dari Saber... Gordes Musik Yggdmillennia yang sedang pingsan karena dipukul oleh Saber. Kekuatan fisik seorang pria umumnya tidak akan mampu membawa tubuh pria itu dengan mudah, namun Rider adalah seorang Heroic Spirit. Menggendong seorang pria besar bukanlah masalah baginya.
“Oh, benar juga. Kita tidak akan tahu apa yang sedang menunggumu di tengah perjalanan, jadi aku akan memberimu pedang ini.”
Rider dengan santai memberikan pedang kecil yang ada di pinggangnya.
“Tapi pedang ini adalah milikmu―”
“Benar, tapi aku masih memiliki tombak milikku, dan itu masih belum termasuk Hippogriffku. Sejujurnya, aku tidak sering menggunakan pedang.”
Rider memberikan sebuah senyum riang seraya membentuk sebuah tanda peace dengan jari-jarinya―karena tidak memiliki alasan untuk menolak, homunculus itu menaruh pedang Rider di pinggangnya.
Dia sedikit khawatir dengan keseimbangannya saat menaruh suatu berat tambahan di salah satu sisi tubuhnya, tapi dia yakin tidak lama lagi dia akan segera terbiasa dengan hal itu.
“...Aku harap kau akan berhati-hati menggunakannya. Sepertinya, aku sudah salah sangka pada Saber. Umm, bagaimana aku menjelaskannya, ya...? Aku kira dia itu pria yang pemarah, kaku dan membosankan.”
“Aku paham, terima kasih. Aku benar-benar telah diselamatkan olehmu.”
“Santai saja. Ujung-ujungnya aku tidak terlalu berguna juga.”
Itu tidak benar, pikir si homunculus. Rider telah sendirian menjawab tangisannya. Rider mengulurkan tangan padanya dan berkata dia akan membantunya. Homunculus itu tidak memiliki apa-apa untuk membalas semua kebaikannya, namun tanpa ragu Rider melakukan sesuatu tanpa mengharapkan imbalan... Mungkin karena itulah dia mampu meyakinkan Saber untuk menyelamatkan si homunculus hanya dengan kata-kata.
“Ngomong-ngomong, ada yang ingin kutanyakan padamu. ―Siapa namamu?”
“...Namaku?”
Pertanyaan yang sulit, pikir si homunculus seraya melipat kedua tangannya. Umumnya, jika dia diciptakan untuk menjadi pelayan atau untuk bertarung, dia pasti akan diberi nama untuk membedakannya dengan homunculus lain. Tapi, karena dia hanyalah sebuah produk industri masal, tidak ada gunanya dia diberikan nama.
Itulah mengapa dia harus memikirkan sebuah nama sekarang, karena tidak mungkin dia akan dipanggil ‘homunculus’ sepanjang sisa hidupnya.
Tiba-tiba, dia meletakkan tangannya di atas jantungnya. Jantung itu adalah sebuah berkah yang diberikan oleh seorang Heroic Spirit, jadi paling tidak―
“Bagaimana dengan ‘Sieg’?”
“Bukan Siegfried?”
“...Akan kurangajar jika aku meniru nama lengkapnya. Tapi, akan sangat disayangkan jika namanya terlupakan. Jadi kupikir Sieg adalah nama yang sesuai.”
Rider mengangguk antusias.
“Itu benar... Yeah, Sieg adalah nama yang bagus, ‘kan?”
“Terima kasih. Kalau begitu, sekarang namaku adalah Sieg.”
“Ahaha. Senang berkenalan denganmu, Sieg!”
Rider mengulurkan tangannya, dan dengan sedikit ragu, Sieg membalas uluran tangan itu. Mereka berdua tahu bahwa mereka akan segera berpisah.
“Apakah ada yang bisa kulakukan untukmu?”
Rider menunjukkan suatu ekspresi yang sedih lalu menggelengkan kepalanya dengan pelan.
“―Sama sekali tidak ada. Kau sudah bebas dari perang ini, dan kau adalah laki-laki yang merdeka sekarang. Kemungkinan, lama hidupmu juga telah bertambah seperti layaknya manusia normal. Jadi, kau harus hidup dan mati dengan normal. Jika kau melakukan hal itu, Saber yang menyelamatkanmu pasti akan merasa senang.”
Dengan gerakan lembut yang menyerupai seorang gadis muda, Rider meletakkan tangannya di pipi Sieg dan tersenyum. Lalu, seperti dipenuhi dengan emosi, dia menarik kepala Sieg mendekat dan mengacak-acak rambutnya.
Setelah melakukan hal itu sejenak, akhirnya Rider melepaskan Sieg.
“Oke, pergilah sekarang. Aku akan mengurus sisanya.”
Mengangguk mendengar kata-kata Rider yang penuh kepercayaan kepadanya, Sieg berbalik dan maju selangkah, lalu dua langkah. Gerakannya memang masih pelan, tapi kecepatannya terus meningkat. Rider melambaikan tangannya saat mereka berpisah, tapi kemudian dia mengangguk seperti sedang memutuskan sesuatu. Lalu, tiba-tiba dia memapah Gordes di bahunya dan membelakangi Sieg.
“Rider! Apa yang harus kulakukan?”
Sieg memanggilnya saat dia mulai melangkah pergi. Rider menolehkan kepalanya dan berteriak balik padanya dengan senyum riang.
“Lakukan apa saja! Kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan sekarang! Pergilah ke kota, temuilah orang-orang, sukai dan bencilah orang lain, dan hiduplah dengan bahagia!”
Aku paham. Mungkin itulah yang dimaksud dengan kebahagiaan, Sieg menyetujui dalam hati... Di suatu tempat di hatinya, dia merasa resah akan sesuatu, tapi dia melakukan yang terbaik untuk mengabaikan hal itu.
Rider menghembuskan napas lega.
Ya, homunculus itu bukanlah seseorang yang perlu dilindungi lagi. Dengan tubuh yang kuat dan Magic Circuit tingkat-satu miliknya, bukanlah hal yang tidak mungkin baginya untuk berada di dunia ini dan melanjutkan hidup.
Tentu saja, kerugian yang dialami Yggdmillennia cukup besar. Kehilangan Saber, orang yang mengaku ahli pedang terkuat dalam Perang Great Holy Grail ini, merupakan sesuatu yang fatal.
Fraksi Hitam juga sudah bisa mengalahkan Berseker Merah, Spartacus, dan mengendalikannya. Tetapi perbedaan nilai antara Saber dan Berseker sama sekali tidak seimbang.
“...Yah, tidak apa-apa. Apa yang sudah berlalu biarlah berlalu.”
Mengatakan hal itu, Rider berhenti berpikir mengenai Perang Great Holy Grail. Saat ini, dia ingin menari di langit dan bertarung. Tentu saja, dia harus memutar otak untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Saber―tapi dia tidak pandai berbohong, dan dia juga merasa tidak melakukan sesuatu yang salah.
Benar, Saber Hitam, Siegfried telah memberikan jantungnya pada si homunculus dan sebagai akibatnya, dia mati.  Hal ini mungkin telah menjadi sesuatu yang fatal bagi mereka di Perang Great Holy Grail. Memangnya, kenapa? Pada akhirnya, Saber yang telah diberi kesempatan kedua untuk hidup, melakukan sesuatu yang ingin dia lakukan. Hal itu bukanlah sesuatu yang dipaksakan padanya, tapi lebih pada tindakan yang dilakukan berdasarkan ego―dari sebuah keadilan.
Dia akan secara jujur dan bangga mengatakan kalau Saber telah melakukan hal yang benar.
Itulah yang telah Rider putuskan.

Demikianlah, Sieg mulai berjalan. Kakinya melangkah ke depan dengan kuat dan membuat jejak di tanah yang membeku. Meskipun begitu, kemajuannya sangat lambat. Dengan setiap langkah yang diambilnya, dia akan menoleh ke belakang dan melihat sosok Rider yang semakin menjauh.
Rider masih belum membunuh Gordes. Dia adalah seorang Master dan masih memiliki Mantra Perintah yang tersisa, jadi masih mungkin baginya untuk membuat kontrak dengan Servant baru.
Masalahnya adalah bahwa Rider mungkin saja akan dihukum. Sieg tidak mengetahui apapun kecuali pengetahuan yang dimilikinya sejak lahir tentang Perang Great Holy Grail, tapi dia cukup paham bahwa kelas Saber adalah kelas yang terkuat di antara kelas-kelas Servant lainnya.
Saber itu telah mati. Terlebih lagi, hal itu karena dia memberikan jantungnya pada Sieg. Hal itu adalah sebuah tindakan yang sepadan untuk sebuah nyawa, dan itu adalah sebuah kenyataan yang juga akan berlaku bahkan untuk Servant sekalipun. Meskipun dia telah diberikan kehidupan kedua, kenapa dia melakukan hal seperti itu?
...Sieg tidak tahu apa yang Saber inginkan. Sieg bukanlah teman maupun lawannya, bahkan mereka tidak saling mengenal. Meskipun mungkin mereka memiliki kesamaan, yaitu sesuatu yang memiliki kehidupan hanya untuk dikonsumsi layaknya serpihan-serpihan pohon.
Meski demikian, Sieg telah diselamatkan olehnya. Dipenuhi dengan rasa terima kasih, dia tidak tahu bagaimana caranya untuk membalas hutang ini.
Mulai sekarang, seiring dengan berjalannya waktu, dia akan pergi ke kota seperti yang Rider katakan. Itulah hal yang tepat untuk dilakukan, karena tidak ada cara untuk menyelinap ke Trifas sekarang. Kota itu adalah wilayah Yggdmillennia, jadi dia akan berjalan lurus melalui tempat ini dan pergi ke desa terdekat.
...Dia harus pergi, tapi.
Cukup aneh, mengesampingkan fakta bahwa Rider telah menghilang dari pandangannya, kemajuannya sangat lambat sebagaimana kakinya cenderung berhenti.
“Hmm, kenapa ya?”
Untuk beberapa alasan, dia berbisik pada dirinya sendiri―dan tenggorokannya tidak terasa sakit saat melakukannya, jadi dia merasa sedikit senang. Sebagai seorang homunculus, tidak ada apapun yang tidak diketahuinya tentang dirinya sendiri. Paling tidak, dia harus tahu kesalahan-kesalahan1 yang ada pada tubuhnya.
Hal ini bukan berarti dia terluka. Kondisi fisiknya ada pada tingkat paling baik selama masa hidupnya yang pendek. Ada rasa panas di tubuhnya dan detak jantungnya terasa sangat kuat, serta sama sekali tidak ada keanehan pada kakinya. Otaknya―tidak ada kesalahan. Otot-ototnya―tidak mengalami kerusakan. Penyakit karena virus―tidak ditemukan.
Semuanya masih normal, dan tujuan pertamanya adalah [pergi ke kota] karena dia perlu sebuah pangkalan di dekat Trifas. Dia memerkirakan kemungkinan kesuksesannya adalah lebih dari 80%. Jika dia tidak beruntung, dia mungkin secara tidak sengaja tertangkap oleh Yggdmillennia dan akan kembali menjalani takdir yang tragis.
Dia memiliki tujuan dan kondisi fisiknya normal, jadi tidak ada alasan mengapa kakinya tidak bergerak. Namun, kaki-kaki itu tidak mau bergerak sama sekali.
“Seharusnya aku bertanya pada Rider tentang bagaimana caranya membuat kakiku bergerak...”
Dan tiba-tiba, pada saat itu.
Homunculus itu menyadari bahwa sekali lagi dia sendirian. Dan bahwa dia tidak akan pernah bertemu dengan Rider lagi.
“...Hmmm.”
Ini menyakitkan, pikirnya saat dadanya menjadi agak sesak. Mencoba sekuat mungkin untuk mengabaikan perasaan itu, entah bagaimana dia mampu untuk berjalan. 

BAGIAN TIGA
Jika dijelaskan mulai dari kesimpulannya, Rider Hitam, Astolfo, sekarang sedang ditahan dengan tombak yang ditusukkan ke kedua kaki dan tangannya. Pergerakannya juga dibatasi oleh golem berwujud-cair dan dia dipenjarakan di dekat Berseker Merah.
Dia telah berbicara terlalu jujur, dan situasinya menjadi semakin buruk saat dia menambahkan pendapatnya (“Hal ini benar-benar cukup menyegarkan!”) ke dalam laporannya. Lancer Hitam―Vlad III―akan menjadi sangat marah, sama seperti yang telah diperkirakan.
Seluruh Master yang telah mengetahui nama sejati Saber Hitam, juga melihat Rider Hitam dengan tatapan mencemooh. Hal ini karena, dia adalah Siegfried, sang ‘pembunuh-naga’ dari Netherland. Bagi Fraksi Hitam, Siegfried akan menjadi seorang Servant yang berperan sebagai kartu as mereka.
Lancer telah memerintahkan agar Rider dipenjarakan dan kemudian segera lenyap ke dalam bentuk spiritualnya. Masternya, Darnic sedang menenangkannya, tapi hal itu tidak berguna karena suasana hatinya sedang buruk. Jika saja dia masih hidup, nyawa seseorang akan menjadi hal yang sepadan untuk meningkatkan suasana hatinya.
Setelah mengusir semua orang dari sel bawah tanah, Masternya Rider, Celenike, menampar wajahnya. Sangat menjengkelkan baginya karena suara tamparan itu terdengar pelan sekali. Meskipun Rider memasang ekspresi yang serius, dia sama sekali tidak terlihat kesakitan―dan melebihi semua itu, sama sekali tidak ada ekspresi putus asa yang terlihat.
“Apa kau paham apa yang baru saja kau lakukan?”
“Aku paham, tahu? Aku menyelamatkan seorang homunculus... Itulah yang kulakukan.”
“Jangan bercanda! Saber telah lenyap, tidakkah kau mengerti? Saber, yang terkuat di antara semua Servant! Pertempuran bahkan belum dimulai. Dia bahkan tidak mati dalam pertempuran! Dia lenyap karena masalah dengan orang dalam, menggelikan sekali! Terlebih lagi, ini semua kesalahanmu!”
Rider memikirkan hal itu sebentar, dan karena tahu bahwa kaka-kata yang akan dikeluarkannya akan membuat Celenike marah, dia bergumam.
“Tidak. Itu bukan kesalahanku. Saber bertindak atas kemauannya sendiri, seperti yang seharusnya dilakukan oleh seorang pahlawan.”
Celenike menampar wajah Rider sekali lagi. Meski begitu, Rider tetap tenang dan santai. Hal itu membuat Celenike semakin kesal, jadi dia menggenggam tombak-tombak yang tertancap di kaki dan tangan Rider, lalu mengguncang mereka.
“Ow, oooooww! Tidak, a-ayolah, hentikan!”
Celenike merasa puas ketika Rider akhirnya menunjukkan wajah yang menderita. Itu adalah ekspresi yang tidak pernah dilihatnya, apapun yang dilakukannya pada Rider di atas ranjang.
Celenike benar-benar merasa seperti itu dari lubuk hatinya. Sungguh sangat mengecewakan bahwa para Servant tidak memilik tubuh fisik yang terbuat dari daging.
“Jika saja kau tetap mematuhiku seperti yang seharusnya seorang Servant lakukan, kau tidak akan mengalami hal seperti ini.”
“Ah, jika aku melakukan hal itu mulai dari sekarang, maukah kau mencabut tombak-tombak ini?”
Celenike, seperti yang telah diperkirakan, menggelengkan kepalanya saat mendengar permintaan itu. Terlebih lagi, Lancer Hitam tidak akan mengizinkannya. Dia sama sekali tidak berniat untuk ikut campur dalam masalah ini.
“―Tombak-tombak ini hanya akan dicabut ketika kau bertarung. Sudah diputuskan bahwa kau akan benar-benar diperlakukan sebagai bidak di Perang Great Holy Grail ini.”
Celenike memberikan sebuah senyum bengis dan menempatkan bibirnya di telinga Rider seraya berbicara.
“Jika kau ingin menyalahkan seseorang, salahkan homunculus itu.”

[[ILLUSTRATION]]

Melihat Celenike yang pergi setelah mengatakan hal itu, Rider memiringkan kepalanya dengan ekspresi tidak mengerti.
“...Kenapa?”
Celenike terlalu menganggap bahwa Servant itu sama dengan manusia normal. Mengesampingkan hal itu, Rider tidak dapat mengerti kata-kata Rider tentang membenci si homunculus. Dia kurang lebih mengerti alasan kenapa Lancer Hitam menusuk kedua kaki dan tangannya dengan tombak serta siksaan yang diterimanya dari Celenike.

Berpapasan dengan Celenike yang berjalan pergi, Archer Hitam―Chiron―juga pergi ke sel untuk menjenguk Rider. Dia belum mengatakan sepatah kata pun ketika Rider dicaci maki oleh Servant dan Master lainnya.
“―Jika paling tidak kau membiarkanku ikut campur, semua ini tidak akan terjadi.”
Itu benar. Lancer benar-benar menghargai pengalaman Archer dalam membuat strategi, dan dia benar-benar dipercaya karena sifatnya yang jujur dan tulus. Jika dia berbicara dan membela Rider, ada kesempatan besar bahwa masalah ini akan dapat diselesaikan hanya dengan sebuah omelan.
Tapi, sejak awal Rider sudah memelototinya agar tidak melakukan hal tersebut.
“Tidak, tidak. Tidak ada alasan untuk memecah-belah kelompok kita hanya karena hal sepele seperti ini. Dalam kejadian ini, aku dimarahi dan mendapat hukuman. Jika hal itu sudah cukup untuk mengakhiri masalah ini, maka aku sama sekali tidak keberatan.”
Rider mengerti alasan kenapa dia dihukum. Mengesampingkan apakah yang dia lakukan itu benar atau salah, hal itu tidak mengubah fakta bahwa Saber pada akhirnya mati. Jadi, sang raja, Lancer, berpikir bahwa seseorang perlu dihukum. Dan karena Saber sudah mati, maka satu-satunya orang yang bisa dihukum adalah Rider.
Meskipun Rider tahu bahwa hal ini sama sekali tidak beralasan dan tindakannya bukanlah sesuatu yang salah, dia tidak menolak diberi hukuman. Dia telah memutuskan hal tersebut sebelum hal ini terjadi.
―Lagipula, ini bukanlah pertama kalinya dia dipenjara. Dia memiliki pengalaman yang serupa ketika dia terjebak dalam wujud pohon karena mantra seorang penyihir.
“Meski begitu...”
Satu-satunya hal yang Rider khawatirkan adalah, jika Archer ketahuan ikut membantu membebaskan si homunculus, Lancer mungkin saja akan mengasingkan Archer.
Akan menjadi sebuah masalah jika raja dan ahli strategi mereka saling berselisih, sementara mereka sedang berperang sekarang. Jika masalahnya dapat selesai dengan menghukum seorang kesatria ceroboh, maka tidak akan terjadi perpecahan.
“Aku baik-baik saja meski seperti ini. Lagipula, kehilangan Saber tidak berarti bahwa kita telah kalah, ‘kan?”
Rider menyeringai tanpa rasa takut.
“―Ya, itu benar.”
Memang benar bahwa mereka telah kehilangan Saber. Tapi, selama Archer bisa merencanakan sebuah strategi, bukan berarti kelompok mereka telah benar-benar melemah. Jika mereka mengirim Berseker Merah, Spartacus ke dalam medan perang, pasti dia akan bisa memberikan kerusakan yang besar pada musuh. Mungkin hal itu memang sebuah kebetulan, tapi strategi mereka untuk menangkap Berseker Merah memang menjadi rencana terbaik pada saat itu.
Jika mereka mencoba untuk membunuhnya tanpa rencana yang matang, mereka mungkin akan mengalami kerugian berskala-besar.
Bagaimanapun, sudah dipastikan bahwa mereka harus sangat berhati-hati saat mengurusi Berseker Merah.
“...Meskipun begitu, aku tidak menyangka Saber akan melakukan hal itu.”
“Ya, aku juga. Yeah, mungkin seharusnya aku berbicara padanya lebih sering. Sekarang aku menyesal karena tidak melakukan hal itu.”
“Kau akan sulit melakukannya karena Master Gordes melarangnya berbicara.”
“Ah...”
Mungkin kemalangan terbesar Saber adalah dia harus memiliki pria itu sebagai Master di antara para magi di Yggdmillennia. Benar-benar hal yang tidak menguntungkan bagi seorang pahlawan langka untuk melayani seorang pengecut... err, Master yang sangat berhati-hati, pikir Rider seraya menghela napas.
“Ngomong-ngomong, apakah dia berhasil dan selamat?”
“Ya. Mungkinkah hal itu karena dia memiliki jantung Saber? Tinggi badan dan ciri-cirinya juga cukup mengagumkan dan heroik. Jika dia seperti itu, maka dia akan baik-baik saja. Menurutku, dia akan hidup selama seratus tahun.”
“Hoh,” kata Archer seraya menunjukkan ekspresi terkejut yang langka.
“Aku dengar bahwa Saber itu... Siegfried memiliki tubuh seperti baja karena mandi dengan darah naga, dan darah itu mengalir di tubuhnya karena dia meminumnya. Jantung adalah organ dalam yang berfungsi untuk mengirimkan darah ke seluruh tubuh, jadi mungkin darah naga sudah tercampur sebagai akibatnya.”
“Sepertinya menjadi seorang pembunuh naga itu menyenangkan. Aku juga ingin memiliki gelar sebagai pembunuh naga!”
“―Lalu, jika itu dia, seharusnya dia bisa berkompromi dengan dunia dan hidup sukses.”
Archer dan Rider merasa tidak khawatir jika melihat pada hal itu. Di antara banyak homunculus yang ada di benteng ini, dialah satu-satunya yang dengan gigih menunjukkan keinginan untuk ‘hidup’.
Tidak peduli kesulitan apa yang akan dia hadapi, dia pasti akan hidup dengan berani.
“Begitulah. Kenapa kau mau membantunya sampai sejauh ini, Archer?”
“Kita hanyalah hantu sementara yang tidak memiliki daging. Akan sangat bagus jika―ada paling tidak satu makhluk yang kita bantu di dunia ini. Bagaimana menurutmu?”
Hanya ada ketulusan pada suara Archer.
“Kupikir seharusnya kaulah yang menjadi raja kami.”
Rider menggumamkan sesuatu yang sangat berbahaya jika didengar oleh Lancer. Archer menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut.
“Aku buruk dalam hal memikul tanggungjawab yang besar.”
Rider menghela napas mendengar itu, lalu meratap, “Ini tidak akan bagus.” 

BAGIAN EMPAT
Merupakan hal yang bagus jika dia memiliki waktu luang, pikir Sieg seraya berjalan. Cukup sulit untuk berpikir dengan samar mengenai sesuatu sambil berjalan dengan tubuh yang sebelumnya akan kelelahan dan kesakitan hanya dengan mengambil satu langkah saja.
Karena Bounded Field sedang bekerja, hutan ini tetap hening seperti biasanya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, dan dia sudah berjalan cukup jauh dari benteng. Meski jika Yggdmillennia samar-samar mengetahui di mana dia berada di antara Boundary Field, mereka tidak akan mengejarnya.
Saat dia sudah hampir mendaki setengah gunung, suara kicauan burung mulai terdengar. Itu artinya, Bounded Field yang berfungsi untuk mengenyahkan makhluk hidup sudah tidak berfungsi di sini. Keadaan di sekitar mungkin masih gelap dikarenakan pohon-pohon besar yang tumbuh, tapi sepertinya fajar akan segera tiba. Memikirkan hal itu, dia memerkirakan bahwa dia telah berjalan selama beberapa jam, namun tubuhnya masih belum menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Meskipun bajunya terlalu tipis dan tidak cocok untuk mendaki gunung di penghujung musim gugur, dia tetap tidak merasa kedinginan.
Meskipun dia sudah menjadi lebih sehat sekarang, dia masih sedikit tidak normal. Sieg menduga bahwa semua ini dikarenakan kemampuan yang dimiliki jantung Siegfried, sang Saber Hitam.
...Dia ingin memikirkannya lebih serius, jadi dia bisa menyerah pada pola pikirnya yang rumit dan misterius. Jika dia melakukannya, dia bisa kabur. Bahkan meski hanya sebentar, kabut yang ada di pikirannya mungkin akan hilang.
Kemajuannya masih lambat, tapi meski seperti itu―kalau dia tetap maju, sebuah jalan akan terlihat bahkan sebelum dia menyadarinya.
Melewati gunung, Sieg melihat sebuah desa yang terlalu kecil untuk disebut kota di lereng gunung. Tidak seperti Trifas, pengaruh dari para magi Yggdmillennia tidak sampai ke sini.
Mungkin tidak akan sampai membutuhkan waktu sehari baginya untuk megontrol pikiran para penduduk menggunakan sugesti. Dengan kata lain, dia bisa memiliki hidup yang normal dan damai di desa itu. Atau dia juga bisa menggunakannya sebagai batu sandungan untuk pergi ke kota maupun negara lainnya.
Jadi jika dia mengambil satu langkah maju, hidup yang diinginkannya akan terwujud saat itu juga. Dia akan bisa hidup, memiliki sesuatu, atau menemukan impiannya sendiri.
Dia akan bisa menjalani kehidupan yang disebut―kebebasan.
Itu akan luar biasa dan dipenuhi dengan hal-hal yang baik. Apapun yang terjadi, tidak akan ada hal buruk yang akan dialaminya seperti kehidupannya yang dulu. Lalu, dia hanya perlu melangkah maju untuk mengubah semuanya menjadi lebih baik.
Demi tujuan itu, seorang pahlawan rela mati demi dirinya. Pahlawan yang lain juga telah menyembuhkannya, dan pahlawan yang lainnya masih ada di pihaknya.
Semuanya hanya untuk hal ini.
Tapi kenapa? Kenapa kakinya tidak mau melangkah maju?

Dia menghela napas, terlihat tidak bisa menghilangkan kabut yang ada di pikirannya. Apakah menjalani hidup sebagai manusia berarti dia harus merasakan hal seperti ini sepanjang hidupnya?
Mengabaikan hal itu, entah bagaimana dia bisa mengangkat kakinya ke depan dan―
‘Berhenti!’
Dia menoleh kebingungan mendengar suara yang menghentikannya, yaitu sebuah suara yang diikuti dengan bunyi gaduh. Suara yang didengarnya benar-benar tidak wajar, seperti suara sesuatu yang sedang terjatuh.
Apakah itu suara pengejar? Tapi tidak ada tanda-tanda penggunaan sihir dan dia tidak merasakan prana besar seorang Servant. Meskipun untuk sesaat dia merasa ragu, Sieg memutuskan untuk mencari sumber suara dan berbalik.
Dia keluar dari jalan yang ada di gunung dan memasuki hutan. Kupikir suaranya datang dari sekitar sini, pikirnya sambil melihat ke sekeliling―dan dia menemukannya.
Dalam sekejap, jiwanya melayang.
“――”
Dia bahkan tidak bisa memikirkan apa-apa. Dia hanya melihat ke arah gadis yang tengah menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon sambil meringkuk kelelahan.
Disinari oleh cahaya matahari yang menyusup melalui celah pepohonan, rambutnya yang berkilau sedikit berayun layaknya benang sutera berwarna emas. Matanya yang berwarna amethyst benar-benar terlihat polos saat melihatnya, menimbulkan semacam perasaan bersalah pada diri Sieg.
Gadis itu tidak memiliki kecantikan seorang homunculus ataupun wajah manis seperti milik Rider yang mampu melelehkan hati siapa pun yang berada di dekatnya. Tapi, dia memiliki kecantikan yang menakjubkan, kencantikan yang tidak terasa nyata.
Tubuh gadis itu dilapisi zirah―jadi pasti dia adalah seorang Servant. Tidak peduli apakah dia berada di fraksi Hitam atau Merah, dia pastilah seseorang yang seharusnya tidak Sieg urusi.
Jika ditanya apakah gadis itu adalah kawan atau musuhnya, dia pasti akan menyimpulkan bahwa gadis itu adalah musuhnya. Namun, sama sekali tidak ada pikiran untuk menjauh di benak Sieg.
Mungkinkah matanya sedang terpesona oleh sebuah karya seni? Tanpa Sieg sadari, dia sudah berada di samping gadis itu.  Secepat tangannya ingin meraih pipi gadis itu, secepat itu pula pedang yang berada di pinggangnya berdenting seperti sedang memperingatkannya.
Mereka berdua terdiam. Saat mata mereka bertatapan, pikiran Sieg menjadi kacau. Sekarang jika Sieg memikirkannya dengan seksama, apa yang telah akan dia lakukan?
Mengulurkan tangan untuk menyentuh seorang gadis yang sedang meringkuk merupakan sesuatu yang sangat tidak sopan jika dilakukan. Saat dia buru-buru ingin menarik kembali tangannya, tangan si gadis tiba-tiba menggenggam tangannya.
“Syukurlah... Aku bisa bertemu denganmu!”
Saat si gadis tersenyum dan mengatakah hal itu, Sieg memikirkan sesuatu: Bahkan jiga gadis ini adalah musuhnya―atau bahkan jika gadis itu memenggal kepalanya di sini, dia tidak akan menyesal jika mati setelah melihat senyum itu. 

BAGIAN LIMA
Gadis suci yang telah dipanggil dalam Perang Great Holy Grail ini sebagai Ruler: adalah Jeanne d’Arc. Saat ini, dia sedang memeriksa bagian-bagian hutan yang baru saja menjadi medan dua pertarungan, yaitu pertarungan antara Berseker Merah melawan Lancer dan Rider Hitam, juga pertempuran antara Rider dan Archer Merah melawan Saber, Berseker dan Archer Hitam. Dia meletakkan tangannya di dada merasa lega.
Kehancurannyanya hanya meliputi pepohonan yang terbakar habis di tengah pertarungan. Lagi pula, tingkat kehancuran yang terjadi di hutan tidaklah luas. Jika Lancer Merah―sang pahlawan besar Karna yang telah dilingkupi oleh matahari itu sendiri―ikut bertarung, hutan ini mungkin saja sudah hangus terbakar.
Mengesampingkan para Master Hitam yang bersembunyi di Benteng Millennia, Ruler sama sekali tidak merasakan kehadiran para Master dari fraksi Merah yang sudah menyerang.  Tapi, akan menjadi hal yang aneh baginya untuk menyimpulkan bahwa perang sudah dimulai. Para Master dalam perang Holy Grail umumnya adalah para penyihir, jadi mereka sendiri mungkin tidak berpengalaman dengan perang.
“...Dalam hal ini, pertarungan mereka masih normal.”
Ya. Meskipun jumlah Servant yang dipanggil besar, pertarungannya sendiri terjadi secara normal. Archer yang memanah dari jarak jauh, Berseker yang menyerang langsung, Caster yang mengendalikan golem menggunakan sihir, Lancer yang menggunakan tombak dan menusuk lawan―termasuk Rider dan Saber, tidak ada satu pun dari mereka Servant ceroboh yang mau melewati batasan seorang Heroic Spirit. Hal ini berlaku bagi kedua Servant Hitam dan Merah.
...Tentu saja, kekuatan mereka sangatlah dahsyat. Khususnya, yang terkuat adalah Rider Merah. Menurut dugaan Ruler, dia memiliki kemampuan dan kekuatan yang setara dengan Lancer Merah.
Hal ini benar-benar bisa dipahami, karena dia adalah pahlawan yang hebat dan terkenal. Perkembangan pertempuran benar-benar berubah hanya karena kebaradaannya. Jika saja Rider dan Lancer ada dalam pertempuran, kelompok Merah pasti akan lebih unggul dalam hal [kualitas] Servant.
Umumnya, hanya ada satu perbandingan dalam kekuatan sederhana yang mereka miliki. Persamaan yang ada di antara para Servant, kemampuan Noble Phantasm mereka, magecraft, lokasi; ada sangat banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Tergantung seperti apa Servant-Servant yang belum terlihat seperti Assassin Merah Saber Merah, Caster Merah dan Assassin Merah, situasinya masih dapat berubah lebih jauh...
Saat ini, situasinya dapat diatasi dengan batasan-batasan perang Holy Grail normal. Bahkan jika perangnya pecah menjadi pertempuran keempat belas Servant, kota Trifas sudah diisolasi dari dunia luar dengan populasi yang berjumlah dua ribu jiwa. Jika dia menggunakan haknya sebagai Ruler, dia juga bisa membatasi kehancuran yang terjadi ke jumlah minimal.
Tidak ada faktor-faktor yang mencurigakan. Tidak ada, tapi―
Namun, suatu keraguan yang asalnya entah dari apa terasa di hatinya. Dia sudah menahannya sepanjang malam seperti ini dan menginvestigasi sisa pertempuran, tapi dia tidak mendapatkan satu pun petunjuk. Satu-satunya petunjuk yang dimilikinya adalah fakta bahwa Lancer Merah berusaha membunuhnya. Ruler juga mengerti jika Lancer Merah memiliki karakter yang lurus dan mulia. Sepertinya, karena perintah Masternyalah dia berusaha membunuhnya.
...Seperti yang sudah diduga, dia harus bertemu dengan para Master dari Fraksi Merah.
Lagipula, pertempuran malam ini sudah berakhir sekarang... Saat dia memikirkan hal itu, tubuhnya sedikit kelelahan... Sepertinya dia ‘mengantuk’. Jika dijelaskan lebih akurat, bukan Jeanne atau Ruler yang mengantuk.
Satu-satunya yang butuh tidur adalah, hanya tubuh Laetecia. Meski begitu, para Servant kurang memiliki kemampuan untuk tidur. Mungkin juga karena hal itu, tidur menjadi suatu kebutuhan yang menyegarkan baginya.
“Ugh, tidak... masih belum...”
Rasa kantuk bukanlah sesuatu yang dapat Jeanne hilangkan hanya dengan tekad semata. Dia herus kembali ke kota dan harus pergi ke gereja dan kasur yang berada di loteng. Tapi tubuhnya sudah sangat menginginkan tidur.
Dia menyandarkan tangannya pada sebuah batang pohon besar, dan ketika hal itu belum dirasa cukup, dia meninju pipinya sendiri. Rasa sakit membantunya untuk menjernihkan pikiran... Sebuah tubuh fisik benar-benar merepotkan. Karena pemanggilannya yang tidak sempurna, dia bisa menahannya untuk beberapa lama. Tapi jika dia melewati batas kemampuannya, dia mungkin akan hilang kesadaran layaknya sebuah ranting yang dipotong.
Mengabaikan cara mengatasi masalah ini untuk dipikirkan nanti, sekarang dia menggunakan air suci yang dibawanya untuk mulai mengidentifikasi lokasi dari masing-masing Servant. Jika dia tidak menemukan masalah, dia akan mengakhiri tugasnya saat ini.
Lima orang Servant Hitam dan seorang Servant Merah sedang berada di benteng. Servant Merah itu pastilah Berseker. Baru saja terjadi operasi penangkapan besar, tapi akhirnya dia telah sukses berganti Master. Hal ini tidak melanggar peraturan, seperti halnya berganti Master atau Servant yang berbeda merupakan sebuah kejadian yang umum―tidak, tunggu.
“Ada satu yang hilang...?”
Seharusnya ada enam Servant Hitam di benteng. Apa yang terjadi dengan yang terakhir? Dia memperluas area pencariannya lebih jauh lagi, tapi dia tetap tidak bisa menemukan Servant yang keenam.
...Dia mendapat firasat buruk. Servant itu telah mati―bukanlah sesuatu yang terjadi. Jika salah satu dari keempat Servant kalah, Ruler pasti bisa mengetahuinya secara tidak sengaja. Saat ini, tidak ada satu Servant pun yang telah kalah.
Tapi ada sesuatu yang aneh. Hal ini bukan berdasarkan intuisinya sebagai Servant Ruler, tapi instingnya sebagai Jeanne D’Arc-lah yang berbisik padanya bahwa sesuatu sudah terjadi tanpa sepengetahuannya.
Dia harus mencari keberadaan Servant terakhir ini secepat mungkin. Tapi, bagaimana mencarinya? Haruskah dia pergi dan mencarinya tanpa tujuan?
Dia tidak akan menemukan apapun jika begitu. Ruler percaya hal itu. Tuhan membantu siapa pun yang berusaha, jadi mencari dengan membabi buta hanyalah suatu perbuatan yang tidak dipikirkan terlebih dahulu.
Lagipula―dia melihat ke arah benteng di mana kelima Servant lainnya sedang berkumpul. Bertanya pada mereka adalah suatu hal yang lebih konstruktif.
Selain itu, fraksi Hitam berusaha membujuknya agar berpihak pada mereka, jadi mereka tidak mungkin akan langsung berusaha membunuhnya tanpa bicara dulu seperti yang dilakukan fraksi Merah.
Hal itu mungkin sebuah pikiran yang penuh harap, tapi tidak akan ada yang dimulai tika dia tidak bertindak. Ruler memutuskan untuk berjalan menuju benteng hingga ke depan pintu.
Benteng itu dibangun di puncak bukit yang tingginya sedikit lebih tinggi dibanding seluruh Trifas. Siluet benteng itu mempesona melawan hitamya langit malam, mengingatkan pada ceret besar di neraka yang memindahkan jiwa-jiwa yang telah tiada. Keangungannya sangat tidak sesuai dengan kota kecil dengan populasi yang hanya sebanyak dua ribu jiwa, tapi warga kota bahkan tidak mempertimbangkan untuk menggunakannya sebagai tempat wisata.
Salah satu alasannya adalah karena benteng ini bukanlah bangunan milik umum, namun merupakan sebuah bangunan yang dibangun di atas tanah milik pribadi... tapi mengesampingkan hal itu, alasan yang sebenarnya adalah karena para warga kota takut pada benteng ini.
Hal itu bukanlah karena mereka berpikir benteng ini dikutuk, tapi karena seseorang yang memimpin Trifas hidup di kastil itu. Para warga kota umumnya berpikir begitu, dan kenyataannya, asumsi mereka benar.
Berdiri di depan gerbang kastil, Ruler menolehkan kepalanya untuk melihat-lihat. Benteng itu sama sekali tidak memiliki sisi artistik, dan strukturnya yang kuat membuatnya sulit diserang serta mudah dilindungi. Meski begitu, bukan hal itulah yang menjadi karakteristik khusus benteng ini.
Dengan lembut, Ruler menyentuh dinding benteng. Dalam sekejap, tangannya mati rasa. Hal itu mungkin dikarenakan mantera yang mengandung sihir dan deteksi yang kuat. Karena perlindungan sihir yang banyak melingkupi permukaan dindingnya, bahkan seorang Servant mungkin membutuhkan kekuatan pengahncur yang cocok untuk menjatuhkan benteng ini.
Ketika Ruler sedang berdiri di depan gerbang kastil, gerbang itu secara otomatis mulai terbuka bahkan sebelum dia menyebutkan namanya. Pintu gerbang tersebut terbuka dengan getaran, dan di sana, berdiri seorang ‘orang tua’ yang sedang memegang tongkat.
“Kau adalah seorang magus dari Yggdmillennia, benar? Aku―”
“Mediator dari Perang Great Holy Grail ini, Jeanne D’Arc-sama. Merupakan sebuah penghormatan yang besar bagi saya untuk bisa bertemu wanita suci terkenal seperti Anda. Nama saya adalah Darnic Prestone Yggdmillennia. Saya adalah pemimpin dari para magi yang ada di Benteng Millennia.”
Mengganggu pengenalan diri Ruler, Darnic membungkuk berlebihan. Disebutkannya namanya mungkin lebih pada memberi peringatan daripada menunjukkan keakraban. Tapi, fakta bahwa namanya telah diketahui orang lain bukanlah hal yang penting bagi Ruler.
Malahan, jika dia tidak memberikan nama aslinya, pasti akan sulit bagi setiap Master dan Servant untuk memercayainya. Itulah alasannya kenapa dia menggunakan nama Jeanne di gereja.
“Aku akan mengatakan ini untuk berjaga-jaga, tapi aku tidak berkeinginan untuk mendukung salah satu dari Fraksi Merah ataupun Fraksi Hitam di Perang Great Holy Grail kali ini. Aku datang ke sini karena ada satu atau dua hal yang perlu kutanyakan padamu.”
Darnic menanggapi kata-kata Jeanne tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.
“Pada dasarnya, saya menyadari hal ini. Meski demikian, silakan bertemu dengan raja kami terlebih dahulu. Suasana hati beliau sedang baik karena kami mendengar kabar bahwa Anda datang.”
“Raja...?”
Darnic mengangguk tersenyum, dan hal itu membuat Ruler menjadi waspada.
“Dia adalah raja Wallacia, Vlad III dan merupakan Servant saya, sang Lancer Hitam.”
Ketika Ruler berjalan melewati dinding-dinding batu dengan dituntun Darnic, para pelayan datang dan pergi menuju arah lain serta membungkuk saat bertemu mereka. Ruler menyadari bahwa mereka adalah homunculus dari seragam mereka yang terlihat berlebihan, tingkah laku dan Magic Circuit yang ada di tubuh mereka.
“Kami berpikir bahwa akan lebih baik jika kami membatasi jumlah manusia yang terlibat hingga ke jumlah minimal.”
Darnic menggumamkan kata-kata itu selagi mereka berjalan. Hal ini sesuai dengan aturan dasar Perang Holy Grail, yaitu untuk menghindari keterlibatan manusia yang tidak ada hubungannya dengan perang sebanyak mungkin. Tapi―
“Homunculus juga kehidupan yang tidak ada hubungannya dengan perang, sama dengan manusia lain.”
Ruler membalas dengan kasar.
Pada dasarnya, Perang Holy Grail merupakan perang terbesar namun juga perang terkecil yang ada di dunia. Tujuh Master dan tujuh Servant harusnya cukup untuk melaksanakannya... Meskipun sekarang, situasinya sangat berbeda dengan perang yang biasa.
“Hoh, jadi sebagai orang suci, Anda juga berusaha keras demi suatu bentuk kehidupan buatan. Jadi, apakah kami telah melanggar peraturan Anda?”
Darnic menunjukkan sebuah senyum sarkastik, dan ekspresi Ruler menjadi kaku saat dia menjawab.
“―Aku tidak akan memutuskan hingga sejauh itu.”
...Tapi, mempertimbangkan skala pertempuran saat ini, dapat dikatakan bahwa memperkerjakan homunculus adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Memang benar bahwa Ruler tidak berhak menghakimi hal ini sebagai sebuah pelanggaran. Dia tidak dapat memaksa mereka, dan sulit untuk menyebut homunculus-homunculus ini sebagai anak-anak. Mereka memang diciptakan seperti itu.
“Tidak seperti lawan kami, Asosiasi Penyihir, keberadaan klan kami sedang dipertaruhkan. Saya akan sangat senang jika Anda mau memperhitungkan hal tersebut.”
Pintu yang menghubungkan ke ruang tahta terbuka.
“Guh.”
Meskipun Ruler menggumamkan guaman pelannya, dia tetap masuk ke dalam ruang tahta tanpa keraguan sedikit pun. Seseorang yang sedang duduk di singgasana adalah Lancer Hitam―Vlad III. Dan dari Servant-Servant yang melayaninya, ada Archer, Berseker dan Caster yang berdiri di dekatnya.
Terlebih lagi, para golem dan homunculus yang membawa tombak juga berbaris di ruangan itu bersama mereka.
...Kehadiran mereka merupakan ancaman yang sepele, tapi meski begitu, kombinasi serangan mereka sebagai kelompok menciptakan aura yang mengintimidasi. Bagaimanapun, Ruler sudah berpengalaman dikepung oleh musuhnya saat masih hidup.
Tidak terganggu oleh apa yang ada di sekitarnya, dengan tenang Ruler berjalan menuju ke arah raja. Berhubung dia bukan pelayannya, maka dia tidak membungkukkan badannya, tapi sang raja tidak memedulikannya.
“Aku adalah Servant Ruler yang dipanggil sebagai mediator di Perang Great Holy Grail ini, Jeanne D’Arc.”
“―Hmm. Melegakan rasanya memiliki mediator yang menyembah Tuhan yang sama sepertiku.”
“...Karena aku percaya pada Tuhan, aku berdoa semoga aku bisa memberitahumu bahwa aku bertujuan untuk bersifat adil dan tidak memihak.”
Garis senyuman Lancer Hitam hilang ketika mendengar pandangan ke depan Ruler. Dia mungkin berpikir bahwa kata-kata Ruler hanyalah gurauan gadis kota yang bodoh.
“Lalu, sebentar lagi fajar tiba. Pertama-tama, apakah urusanmu di sini, mediator?”
“Sebelumnya kau bertarung melawan para Servant Merah, ‘kan? Lawanmu adalah Rider, Archer dan Berseker Merah.”
“Ya, memangnya kenapa?”
“Hasilnya, pertempuran itu berakhir dengan Rider dan Archer yang mundur dan Berseker yang tertangkap―tapi apa yang terjadi setelah itu?”
“...”
Archer Hitam sedikit bereaksi mendengar pertanyaan Ruler. Tidak, bukan hanya dia. Sebuah pergolakan kecil juga terlihat di antara para homunculus yang bersenjatakan tombak.
“...Tidak sopan sekali.”
Hanya dengan perkataan Lancer itu, ruang tahta langsung dipenuhi dengan niat membunuh. Hal itu tidak beralasan layaknya kemarahan anak kecil, tapi kekuatan kemarahan itu setara dengan sebuah senjata api berskala luas. Ruler acuh tak acuh menerima niat membunuh yang dikeluarkan oleh senjata itu.
Rasanya tidak seburuk niat jahat yang diterimanya ketika mencari seorang penduduk dengan Pangeran Mahkota Charles di Ch√Ęteau de Chinon,  mengesampingkan bahwa dia hanyalah gadis desa biasa, atau ketika dia dipenjara dan diuji demi klenik. Jika bahkan ada ketidakyakinan yang dirasakannya, rasanya tidak lebih besar dari yang dirasakannya ketika dia harus dieksekusi.
“Jika kau tidak bisa memberikan sebuah jawaban, mau bagaimana lagi. Percakapan kita berakhir di sini. Aku akan pergi dan mencaritahu sendiri.”
Secepat Ruler akan berbalik, niat membunuh Lancer segera melembut.
“―Maafkan aku. Sepertinya aku menggodamu terlalu jauh.”
Bahkan Ruler tidak bisa memikirkan hal lain selain kebingungan saat Lancer menyebut niat membunuhnya hanyalah ‘main-main’. Tidak, mungkin dia memang memberitahu kenyataannya. Bagi seorang raja, seluruh emosi manusia adalah kekuasaannya. Seperti contoh, dia menangis untuk pelayannya meskipun dia sama sekali tidak merasa sedih, dan dia menerima penghargaan meskipun tidak merasakan kebahagiaan karena hal itu. Mungkin kemarahan juga merupakan hal yang biasa baginya.
“Saber bunuh diri.”
“Apa..”
Bahkan Ruler tidak bisa berkata apa-apa mendengar kata-kata itu. Lancer Hitam menggelengkan kepalanya dan menghela napas seolah merasa sedih.
Dia segera menutup mulutnya saat mulai mengatakan, “Itu tidak mung―”. ...Sepertinya Lancer memberitahu hal yang sebenarnya ketika mengatakan bahwa Saber Hitam, Siegfried, sudah tewas. Saber Hitam sedang diambang kematian, tapi dia masih hidup.
...Tidak mungkin seorang Master tidak bisa merasakan keadaan Servantnya. Jika situasi seperti ini terjadi, hal itu mungkin dikarenakan garis1 milik Servant itu telah terputus.
Tapi salah satu kemampuan Ruler adalah [Spirit Board]2. Memang, kemampuan itu lemah, tapi Ruler dapat memastikan bahwa Saber Hitam belum benar-benar menghilang dari dunia ini. Memang tidak jelas di mana dia berada sekarang, tapi―dia masih hidup.
“Siapa yang bisa menjelaskan situasinya dengan lebih nyata?”
“Orang yang melaporkan hal itu adalah Rider Hitam, Astolfo... Walaupun sepertinya dialah penyebabnya, jadi sekarang dia sedang dikurung di dungeon sebagai hukuman.”
“...Begitukah?”
“―Sekarang, Ruler, aku akan berkata jujur. Ahli peang yang bisa disebut sebagai batu pijakan utama bagi kami telah kalah tanpa arti. Karena itu, aku ingin melengkapi kelompokku dengan seorang petarung yang setara dengan Saber. Apakah itu tidak wajar?”
Dahi Ruler berkerut saat menyadari bahwa percakapan itu mulai mencurigakan.
“Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku adalah Ruler. Aku adalah mediator mutlak yang dipanggil oleh Holy Grail... Aku memiliki tujuanku sendiri, dan itu bukanlah tentang bergabung dengan kalian.
“Apa kau tidak memiliki keinginan? Karena kau dipanggil oleh Holy Grail, kau pasti memiliki keinginan sendiri.
“―Kelas Ruler juga memiliki pengecualian ini. Karena Ruler dipanggil sebagai mediator, salah satu kualifikasi untuk ke;as ini adalah tidak memiliki keinginan yang ingin dikabulkan di masa depan.”
Kata-kata itu menyebabkan rasa ketidaknyamanan di antara para Servant yang lain.
“...Ruler, kau tidak memiliki keinginan?”
“Ya, aku sama sekali tidak memiliki keinginan.”
Lancer memukul lengan kursinya karena merasa jengkel. Berdiri, kemarahannya sama sekali tidak disembunyikan ketika dia berteriak murka.
“Jeanne D’Arc, aku tahu bagaimana akhir hidupmu! Tidak mungkin jika kau, yang telah dikhianati oleh semua orang, dan semua yang kau miliki diambil serta mengalami kematian yang kejam, tidak memiliki keinginan! Jawab aku! Aku tidak menerima jawaban bohong!”
Jika niat membunuhnya yang tadi seperti senjata api berskala besar, kali ini kata-katanya setajam tombak. Ruler bisa tahu dengan cepat jika dia memberikan jawaban bohong yang tidak bisa diterima Lancer, maka dia akan dibunuh.
Ruler memandang Lancer sesaat, lalu berbicara dengan sangat lembut.
“Aku tidak memiliki keinginan. Semua orang selalu mengatakan bahwa aku seharusnya menyesali akhir hidupku. Bahwa mungkin aku menginginkan balas dendam, atau berharap diselamatkan. Bagaimanapun―bagiku sudah cukup jika akau sendiri tahu hidup seperti apa yang aku jalani. Ini tidak seperti aku tidak memiliki simpati pada orang lain, tapi pada akhirnya, aku tidak memiliki satu penyesalan pun mengenai hidupku, dan aku tidak memiliki keinginan yang ingin kuminta pada Holy Grail. Jika memang aku memiliki keinginan, keinginanku adalah supaya Perang Holy Grail ini bisa berjalan dengan sewajarnya.”
“Kau mengatakan hal itu bahkan setelah dikutuk oleh Tuhan?”
“―Itu konyol. Tuhan tidak akan mengutuk kita. Tidak, Tuhan tidak pernah mengutuk satu orang pun. Semuanya karena tidak ada yang bisa dia lakukan.”
“Apa...?”
“Berdoa, memberi dan meminta, semua itu dilakukan bukanlah demi seseorang, tapi demi Tuhan. Kita berdoa untuk menyembuhkan ratapan dan dukacita Tuhan. Ya, aku pasti―”
Aku pasti mendengar ratapan Tuhan.
Dia menjerit. Dia meratap. Dia menangis, dan dia merasakan dukacita.
Dunia berubah menjadi neraka, tidak ada yang bisa menghentikan hal itu. Tidak ada, mungkin bahwa dunia itu sendiri―adalah neraka.
Tuhan meratap dalam dukacita. Orang-orang bahkan tidak diizinkan hidup dengan mudah, dan dipaksa menjadi binatang buas atau makanan.
Konflik tidak pernah berakhir, dan darah terus menetes dan membanjiri daratan.
Itulah mengapa Tuhan meratap―aku mendengar suara-Nya. Aku mendengar bisikan-Nya yang kecil dan lemah, yang tidak bisa didengar oleh orang lain.
Itu adalah hal yang jelas. Untuk membuat telingaku mendengar suara-Nya dan meresponnya berarti aku harus membuang apapun yang kumiliki hingga sekarang.
Aku harus membuang hidupku sebagai orang desa sederhana dan kesenangan mencintai seseorang, serta kebahagiaan dicintai. Lagipula, tidak akan ada kompensasi yang diberikan. Aku pasti akan dicaci banyak orang―oleh musuh maupun rekanku.
Hal itu adalah sesuatu yang menyakitkan untuk direnungkan. Merupakan sebuah kegilaan bagi gadis desa biasa untuk memasuki medan peperangan yang dipenuhi niat membunuh orang-orang.
―Tapi Tuhan menangis.
Ya, aku pasti... tidak dapat menghadapinya. Aku tidak bisa mengabaikan tangisan-Nya.
Untuk menghentikan airmata Tuhan dan menenangkan-Nya, aku akan melawan neraka yang ada di dunia ini. Aku akan menutupi tubuhku dengan zirah, menggantungkan sebuah pedang di pinggangku, membawa bendera―dan mencurahkan hidupku untuk hal itu.
Ya, suara yang kudengar dari Tuhan tidak mengandung kemenangan ataupun keagungan, tidak mengandung kewajiban ataupun tujuan. Tuhan hanya sedang meratap dan berduka.
―Itulah mengapa. Sampai akhir pun, mendengar suara itu, kupikir aku harus menghentikan ratapan Tuhan.


Lancer Hitam memelototi Ruler untuk sesaat, tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya dan kembali duduk.
“―Sepertinya, meskipun kita memercayai Tuhan yang sama, kita sama sekali tidak bisa cocok.”
“Ada otang-orang yang membakarku di tombak meskipun mereka memercayai Tuhan yang sama denganku. Jadi, ini merupakan hal yang wajar.”
Ruler berbicara dengan ekspresi yang tenang. Lancer Hitam tersenyum senang mendengar kata-kata gurauan yang yang berlebihan itu.
“...Mau bagaimana lagi. Tapi Servant Merah yang berusaha membunuhmu adalah sebuah fakta. Kami berkeinginan untuk mendapatkan dukunganmu, tapi sepertinya tidak dnegan mereka.”
“Kelihatannya memang seperti itu. Aku juga harus mencaritahu apa yang dipikirkan oleh kelompok Merah. Aku tidak berkeinginan untuk melawan mereka tapi―”
“Akan jadi lain cerita jika mereka menyerangmu.”
“...Itu benar.”
“Maka, aku akan berdoa semoga kelompok Merah dipenuhi dengan orang-orang bodoh yang ingin membunuhmu.”
Lancer mengatakan itu seraya tersenyum sekali lagi.

Ruler keluar dari ruang tahta dan langsung menuju ke dungeon. Ada Berseker Merah yang tertangkap sewaktu pertarungan dan salah satu Servant Hitam di sini. Berdasarkan informasi yang dikatakan Lancer, Rider Hitam mengetahui semuanya.
Hawa yang terasa di dungeon dengan jelas menunjukkan bahwa tempat itu sudah tidak digunakan untuk waktu yang lama. Delapan sel terdekat bahkan hanya terisi jerami, kayu-kayu yang membusuk dan jaring laba-laba.
Di salah satu sel, Berseker Merah sedang ditahan dengan cairan yang mirip lilin di sekujur tubuhnya. Meskipun dia telah berganti Master, tidak berarti bahwa kelompok Hitam akan membiarkannya bebas... Meskipun dalam situasi seperti ini, senyumnya yang tidak berubah itu terasa sangat mengerikan.
Sekarang, masalahnya ada pada Servant yang ditahan di sel terakhir.
“―Oh, kau siapa?”
Anak laki-laki itu memiringkan kepalanya seraya menunjukkan ekspresi bingung. Itu adalah tindakan yang sederhana, tapi saat ini dia sedang dibelenggu dengan kuat, melebihi belenggu yang digunakan untuk Berseker Merah. Pemandangan di mana dirinya yang ditahan dengan tombak-tombak ditancapkan ke kedua tangan dan kakinya cukup menyakitkan untuk dilihat.
“Kau Rider Hitam, ‘kan? Aku adalah Servant Ruler, Jeanne D’Arc. Aku dipanggil oleh Holy Grail untuk mengawasi jalannya Perang Great Holy Grail.”
Ketika Ruler mengatakan itu, Rider menangguk dan berkata “Yeah” karena mengerti.
“Kau mengingatkanku, aku dengar Servant seperti itu memang dipanggil. Tapi benarkah? Kau bukan Servant Merah?”
Ketika Rider memberinya sebuah tatapan ragu dan senyum yang mengatakan, Semuanya menjadi lebih menarik, Ruler langsung menggelengkan kepalanya. Lalu, ia melepaskan sarung tangan dan melipat lengan bajunya ke atas, menunjukkan hal ‘itu’ pada Rider.
“Woah...”
“Apa ini sudah bisa menjadi bukti?”
“...Tentu saja. Yeah, kau benar-benar Ruler. Aku paham, jadi itulah ‘hak khusus’ yang dimiliki Ruler. Enaknya, aku juga ingin punya!”
Rider mengangguk-angguk mengerti.
“Senang kau mengerti. Sekarang, Rider. Sebelumnya aku minta maaf, tapi ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu.”
“Boleh, boleh. Aku akan menjawab apapun selama aku bisa, jadi tanyakan saja.”
Rider menbalas dengan sikap yang teguh.
“...Apakah Saber Hitam, Siegfried, benar-benar bunuh diri?”
“Ya, itu benar.”
...Tapi itu tidak mungkin. Apakah Saber atau orang lain, masih ada empat belas Servant yang ada di dunia ini. Instingnya tahu kalau Saber masih ‘hidup’, dan Ruler yakin akan hal ini,bahwa Saber masih ada di dunia ini.
“Maaf, bisakah kau menjelaskannya lebih detail?”
“Tentu. Kau datang tepat waktu, aku sangat bosan.”
Tersenyum, Rider mulai berbicara mengenai Saber. Ceritanya tidak seperti kisah kepahlawanan, tapi lebih mirip dengan kisah seorang yang suci. Lalu, dia berbicara mengenai seorang homunculus, anak laki-laki tak bernama yang diselamatkan Saber. Dia menjelaskan bagaimana anak laki-laki itu mencari kebebasan dan mulai pergi.
“Kemudian, setelah kejadian ini dan itu, aku berakhir kesepian karena dipenjara di tempat ini. Yah, aku punya Berseker Merah sebagai tetangga, tapi tidak ada gunanya berbicara dengan pria itu... Apa kau baik-baik saja?”
Ketika Rider Hitam memanggil, ada balasan yang terdengar dari sel di sebelah.
“Aku tidak berniat menjilat anjing pemerintah. Meski begitu, aku akan menjawab pertanyaanmu. Aku baik-baik saja. Sekarang, akan sempurna jika kau bisa melepaskan belenggu-belenggu ini―”
“Lain kali.”
Hal itu hanyalah awal mula kejadian yang ada, tapi diwaktu yang sama Ruler akhirnya memahami sesuatu.
“...Saber benar-benar sudah menghilang. Tapi, dia memberikan [hatinya] pada homunculus itu.”
Hal yang diberikannya bukanlah pedang atau zirah yang dipenuhi prana, juga bukan potongan rambut. Yang diberikannya adalah jantung, organ dalam yang sama pentingnya dengan otak manusia. Inti spiritual Servant juga ada di dalam otak dan jantung, jadi mencongkel jantungmu sendiri dan memberikannya pada orang lain merupakan tindakan yang tidak bisa dibiarkan di Perang Holy Grail yang lampau.
Terlebih lagi, orang yang memberikan jantung itu adalah Saber Hitam... dengan kata lain, pahlawan abadi Siegfried yang telah bermandikan darah naga dan memiliki tubuh menyerupai Naga itu sendiri. Jadi, tidak akan aneh jika ada efek yang muncul pada tubuh homunculus itu.
“Ya, aku berpisah dengannya di sana. Setelah itu, dia pergi menuju jalan pegunungan. Aku melihat sebuah desa di sana saat mengetes hippofriffku, jadi kupikir dia ada di sana sekarang?”
“Jadi begitu, aku paham sekarang. Terima kasih.”
Setelah Ruler berterima kasih, Rider Hitam menunjukkan sebuah ekspresi rumit dan menanyakan sebuah pertanyaan.
“...Apa kau akan menemuinya?”
“Ya. Jika yang kau katakan itu benar, hanya dialah yang memancarkan kehadiran seorang Servant.”
“Aku tahu, tapi kuharap kau tidak melibatkannya dalam perang ini.”
Rider, yang sebelumnya memberikan sebuah senyum optimis, tiba-tiba memelototi Ruler dengan penuh permusuhan dan tekad yang bulat.
Sepintas Ruler bisa menangkap sebuah tekad yang sangat kuat dari mata itu.
“...Aku mengerti. Jika yang kau katakan memang benar, maka di sini dia adalah korban. Selama dia tidak berharap ikut campur dalam perang, aku sama sekali tidak berniat mengganggunya.”
Rider menghembuskan napas lega, dan sifat permusuhannya langsung lenyap begitu saja.
“Aku lega mendengarnya. Jika dia bisa selamat dan hidup, berakhir seperti ini pun aku tidak menyesal.”
Saat Rider menggumamkan hal itu, Ruler bertanya pada Rider tentang satu hal yang masih belum jelas.
“Rider, kenapa Saber menyelamatkan homunculus itu? Jika kaulah yang berada di posisi Saber, aku pasti bisa mengerti. Karena kau adalah Astolfo, salah satu dari Kedua Belas Paladin Charlemagne―”
Jika orang yang menyelamatkan homunculus itu adalah Astolfo, yang telah mengorbankan hidupnya di jalan kekesatriaan dan memiliki kelembutan hati yang tak terbatas, semua ini akan lebih mudah dipahami. Tapi Saber Hitam adalah Siegfried, dan dia adalah seorang bangsawan, seorang pangeran dari Netherland. Melindungi ratapan si lemah dan melawan si kuat yang hidup dalam kemewahan merupakah tindakan yang sesuai untuk dilakukan seorang Heroic Spirit. Meski demikian, hal itu pun masih memiliki batasan. Karena dia adalah Servant yang dipanggil dalam Perang Holy Grail, seharusnya dia memiliki keingainan yang ingin dikabulkan oleh Holy Grail. Jika tidak begitu, hanya hal ceroboh saja jika dia mengorbankan hidupnya untuk menyelamatkan satu orang yang bahkan bukan Masternya.
Bagi seorang Servant, berpartisipasi dalam Perang Holy Grail berarti mendapat kehidupan kedua, yaitu suatu satu-per-sejuta keajaiban yang mungkin terjadi. Jadi, tidak wajar untuk semudah itu mengorbankan hidup mereka―dan demi seorang homunculus yang bahkan tidak tahu hal itu.
“Bahkan meskipun kami adalah Servant, bukan berarti kami mengulangi hal yang sama dengan yang kamu lakukan di kehidupan kami dulu. Malahan, banyak orang yang mencoba melakukan sesuatu yang berbeda demi melenyapkan penyesalan yang dimiliki ketika mereka masih hidup... Meskipun, banyak yang berakhir gagal.”
Pahlawan adalah pahlawan berdasar apa yang mereka capai dalam hidup. Tidak ada satu pun yang berharap untuk memiliki sesuatu yang tidak bisa mereka capai dalam hidup.
“...Terima kasih banyak. Aku berdoa semoga kau memenangkan perang ini.”
“Eh? Apa kau menyukaiku?”
Ruler tertawa kecil dan menggelengkan kepala mendengar pertanyaan itu.
“Tidak. Aku berdoa agar semua peserta bisa sukses.”
“Hei, hei, jangan bicara omong kosong, Ruler. Sudah merupakan aturan Perang Holy Grail jika nantinya hanya ada satu pemenang, kau tahu?”
“Itu benar. ―Aku tetap berharap agar semua orang menang.”
Ruler meninggalkan dungeon dengan tanpa suara. Ditinggal sendiri sekali lagi, Rider Hitam tiba-tiba teringat saat-saat terakhir Saber.
Apakah pria itu, yang telah mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan homunculus tanpa keraguan dan tersenyum puas di akhir hidupnya mendapat ‘kemenangan’?
Akan sangat baik jika hal itu benar―tidak, itu haruslah benar. Rider memikirkan hal itu dari lubuk hatinya yang paling dalam.


Orang yang mengantarkan Ruler keluar bukanlah Darnic, tapi seorang pelayan homunculus wanita. Berjalan dalam diam dan langkah yang mantap, homunculus itu benar-benar terlihat seperti boneka.
“Apakah kau keberatan jika aku menanyakan sesuatu padamu?”
Homunculus itu menjawab tanpa menghentikan langkah ataupun menganggukkan kepalanya saat mendengar pertanyaan Ruler.
“Aku tidak keberatan, silakan.”
“Apakah kalian homunculus berpartisipasi dalam Perang Great Holy Grail karena kalian menginginkannya?”
“Tentu saja. Itulah keinginan master yang telah menciptakan kami.”
Itu adalah jawaban yang acuh dan pelan. “Aku mengerti,” timpal Ruler. ...Paling tidak hal itu tidak melanggar aturan Perang Holy Grail. Karena, merupakan keinginan para homunculus dan golem itu sendirilah kenapa mereka bersikap patuh pada tuan mereka. Bahkan jika mereka dibuat patuh―hal itu masihlah keinginan mereka.
“Mulai dari sini, aku bisa pergi sendiri. Terima kasih banyak.”
Saat mereka akhirnya tiba di gerbang kastil, Ruler berterima kasih dengan sopan. Menatapnya dengan warna mata yang transparan, homunculus itu membungkuk dalam. Dan secepat Ruler berbalik untuk pergi, homunculus itu akhirnya mampu menghilangkan keraguannya dan memanggil Ruler.
“Apakah dia melakukan hal yang salah?”
Berbalik, Ruler memiringkan kepalanya saat mendengar pertanyaan tak terduga itu.
“Dia?”
“Yang kumaksud adalah ‘dia’. Homunculus yang membuat Servant milik masterku, Saber, tewas.”
Tidak ada kepanikan maupun emosi di matanya... atau setidaknya itulah yang Ruler pikirkan, tapi ketika Ruler mengamati dengan lebih teliti lagi, sekilas Ruler bisa melihat rasa prihatin yang ditunjukkan mata itu pada’nya’.
“Tidak. Dari apa yang aku dengar, Saber hanya menjawab keinginannya untuk ‘hidup’. Berharap untuk hidup bukanlah sebuah dosa.”
Dia mengatakan hal itu bukan sebagai Ruler, tapi sebagai seorang manusia. Tidak peduli sejahat apakah seseorang, keinginannnya untuk hidup bukanlah sesuatu yang salah. Meskipun, kejahatan demi hidup dan berbuat kejam adalah hal yang berbeda.
“...Terima kasih banyak.”
Ekspres homunculus itu terlihat sedikit lebih lega. Ya, homunculus-homunculus ini memang benar-benar ‘hidup’―keluh Ruler. Takdir mereka hampir benar-benar diputuskan. Kompensasi yang mereka dapatkan sebagai bentuk kehidupan yang diciptakan tergesa-gesa adalah sebuah kehidupan yang singkat.
Tapi, mungkin karena dia adalah Ruler, dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk mereka. Dia tidak berhak menyelamatkan mereka yang tidak ingin diselamatkan.
Mengembalikan kesadaran dirinya, Ruler mulai berjalan ke arah gunung yang telah disebutkan Rider sebelumnya.
Meskipun Rider Hitam telah mengatakan semua yang dia ketahui, keraguan yang ada dalam hati Ruler masih belum hilang. Sangat langka sekali bagi seorang Servant untuk bunuh diri di Perang Holy Grail. Situasinya berubah, tapi untuk kelas Berseker, ada banyak kasus di mana Servant yang mengamuk itu mati karena kehabisan pasokan prana.
Ada juga Servant yang menggunakan Noble Phantasm kuat dan secara tidak sengaja membunuh Master mereka setelah itu.
Meskipun hal itu jarang terjadi, ada juga Servant-Servant yang memilih berkorban demi Master mereka, dan Servant yang baik hati akan menggunakan Noble Phantasm mereka untuk melindungi penduduk yang tidak bersalah.
Tapi, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Saber telah mencongkel sendiri jantungnya, dan tidak ada sejarah di mana dia melakukan hal itu selama hidup―tapi bukan hal itu yang menjadi alasan mengapa Ruler merasa seperti ini. Sesuatu pada dasarnta ada yang berbeda. Itu wajar; lagipula, seharusnya hanya ada tiga belas Servant yang tersisa sekarang.
Kenapa dia merasa bahwa masih ada empat belas Servant yang tersisa? Kenapa dia berpikir bahwa Saber Hitam masih [hidup]? Sepertinya memang benar-benar ada yang berbeda dalam Perang Great Holy Grail kali ini. Ada sesuatu yang salah. Apakah hal itu disebabkan oleh si homunculus?
Tidak, hal itu hanyalah dugaan belaka. Dia tidak benar-benar tahu kenyataannya. Dia tidak tahu, jadi untuk sekarang, dia akan mengejar homunculus itu dan bertanya padanya.
“Rider bilang dia menuju gunung ini, tapi...”
Hutan itu, yang dipenuhi dengan Boundary Field, terasa sangat sunyi namun membuat telinga merasa sakit. Karena homunculus itu tidak memiliki kehadiran seorang Servant, dengan kata lain, Ruler harus mencari [seseorang] yang terus berjalan untuk keluar dari hutan.
Meski demikian... mungkin saja hal itu akan sulit, dia mulai berpikir. Lagipula, homunculus itu kabur dari Yggdmillennia. Jadi, mungkin saja dia akan lebih sensitif dengan kehadiran magi ataupun Servant.
Meskipun jika Ruler memanggilnya, dia tidak mungkin akan keluar. Ada kemungkinan bahwa homunculus itu malah akan lari ketakutan.
Pikiran haruskah aku menghentikannya? memenuhi kepala Ruler. Lagipula, homunculus itu lari karena tidak ingin terlibat dengan perang ini. Baginya, mungkin saja Ruler adalah sebuah mimpi buruk yang ingin menyeretnya kembali ke perang.
Tapi―
Ruler mengumpulkan prananya hingga cukup untuk meniadakan efek Boundary Field. Dengan begini, dia tidak akan terdeteksi sebagai seorang Servant dan mungkin saja bisa mengejar homunculus itu sedekat mungkin hingga bisa melihatnya langsung.
Tapi dalam keadaan seperti ini, kemampuan fisiknya sama sekali tidak berbeda dengan kemampuan fisik manusia biasa. Bahkan saat malam hari di mana bulan keluar, menyusuri jalan pegunungan dan bergantung pada cahaya remang yang ada adalah tindakan yang akan membuat tubuhnya kelelahan.
Seraya mengatur napasnya yang tak beraturan, dia berdoa semoga bisa mengejar homunculus itu dan kemudian menaiki jalan pegunungan tanpa ragu.
Matanya mengabur―tapi dia tidak memiliki waktu untuk mengkhawatirkan hal itu.
Setiap langkah yang diambilnya benar-benar menguras tenaga―tahanlah sebentar lagi, ucap Ruler pada tubuhnya.
Kenapa dia harus mengalami semua masalah ini? ―Karena Ruler ingin bertemu dengannya, seorang homunculus yang diselamatkan Rider, serta seorang homunculus yang membuat Seber tanpa ragu mengorbankan nyawanya.
Hanya itu saja? ...Itu, hal itu pastinya sudah cukup sebagai alasan. Lalu, tujuan dan rasa kewajiban apa yang sedari tadi mengganggunya?
Tidak, akan lebih baik jika dia tidak memikirkannya. Untuk saat ini, pilihan terbaik adalah menyimpulkan bahwa dia berusaha untuk bertemu homunculus itu atas keinginannya sendiri.
...Namun, kabalikan dari pikirannya, tubuhnya mulai hilang kendali.
Mungkin hal itu disebabkan tubuh manusia milik Laeticia. Tubuh itu sudah mencapai batas kemampuannya untuk bisa terus bergerak, dan sekarang bisa bergerak hanya dikarenakan tekad kuat Ruler. Menyadari hal ini, dia menghilangkan rasa tidak sabar yang muncul di hatinya. Melintasi gunung semalaman tidak berarti dia boleh menjadi ceroboh.
Melawan godaan untuk tidur, dia terus mendaki gunung. Mungkin karena hilangnya dukungan yang diberikan oleh prananya, berat armor yang dia pakai terasnya menyakitkan.
Dia terus mendaki jalan yang terlihat tanpa ujung―dan kemudian dia melihat figur kabur seseorang yang sedang berdiri di dekat puncak gunung di mana hutan berakhir.
“Ah―”
Dia menghela napas lega... tapi, hal itu merupakan tindakan yang fatal baginya. Pandangannya langsung gelap dan dunia terguncang.
Tidak, aku masih―aku masih harus bertahan.
“Berhenti!”
Refleks, Ruler memanggil homunculus itu. Pikiran tentang aku melakukan kesalahan menyeruak di kepalanya. Meskipun dia sudah berusaha sekuat mungkin untuk tidak menakuti si homunculus, dia tetap memanggilnya di saat-saat terakhir.
Staminanya benar-benar sudah habis. Sebelum dia bisa membuat sebuah rencana, dia jatuh tak sadarkan diri. Dia meringkuk dan menyandarkan tubuhnya di batang pohon terdekat.
Dia tidak bisa bergerak. Meskipun dia tidak akan mati, sekarang dia sama sekali tidak bisa bergerak lagi. Tubuhnya menjerit minta tidur. Tapi―teriakannya barusan mungkin saja membuat homunculus itu berpikir dia sedang dikejar. Jika dia tidak mengejar homunculus itu sekarang, dia tidak akan punya kesempatan lagi.
Dia mungkin telah melakukan sebuah kesalahan yang fatal. Selagi Ruler menyesali hal ini, suara pelan langkah kaki yang menapak rumput mencapai telinganya.
Tidak mungkin, katanya seraya mendongakkan kepala. Kesadarannya sedikit menjernih. Seorang pemuda dengan ciri yang elegan dan menyenangkan, dengan takut mengulurkan tangan padanya.
Ruler langsung menggenggam tangan itu, lalu berbisik lega.

“Syukurlah... aku bisa bertemu denganmu!”


―Begitulah, keduanya bertemu.
Seorang gadis yang merupakan seorang Servant tanpa Master, yang mengaku sebagi pengawas Perang Great Holy Grail ini. Pemuda yang bukan manusia maupun Servant, dan bahkan mungkin bukan seorang homunculus. Keduanya adalah orang luar dalam ritual yang dikenal dengan Perang Holy Grail.
“Ah, anu, err. Aku bukan musuhmu.”
Dengan menyesal, si gadis menggumamkan hal tersebut, dan si pemuda mengangguk tanpa merasa ragu.
“...Entah bagaimana, aku mengerti.”
Bukannya terkejut, gadis itu berusaha bangkit dan setelah membenarkan posisi duduknya, dia memperkenalkan diri.
“Aku adalah Jeanne D’Arc, dipanggil sebagai Servant dari kelas mediator―Ruler―untuk Perang Great Holy Grail kali ini. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu, seorang mantan homunculus Benteng Millennia, apa kau keberatan?”
“Aku sama sekali tidak keberatan.”
“Berdasarkan karakteristik khusus yang dimilike kelas Ruler, aku bisa thu ketika Servant yang berpartisipasi dalam perang telah dikalahkan. Saat ini, aku bisa memastikan bahwa semua Servant masih ada, meski begitu―”
“...Tidak. Kau salah. Saber Hitam gugur belum lama ini.”
“Rider juga mengatakan hal yang sama. Meski begitu, bukan itu yang terjadi. Berdasarkan inderaku, masih ada empat belas Servant yang ada di dunia ini. Dan kau memiliki kehadiran seorang Servant. Tapi, sekarang aku mengerti setelah bertemu denganmu seperti ini. Kau benar-benar bukan seorang Servant.
Ruler mencopot sarung tangannya dan tiba-tiba meletakkan tangan di dada si homunculus. Mengabaikan kekaguman dan rasa malu homunculus itu, dia mengonfirmasi suara detak jantung yang ada.
“―Jantungnya berdetak cepat. Sepertinya fungsinya sama saja dengan jantung biasa. Syukurlah, dia tidak memilih kematian yang sia-sia.”
Gadis itu menghembuskan napas lega, kemudian terlihat seperti menyadari apa yang sedang dilakukannya dan buru-buru menarik tangannya serta meminta maaf.
“Maaf, aku hanya―”
“Tidak apa-apa, aku tidak keberatan... Apakah tidak ada yang salah denganku?”
Pemuda itu bertanya dan terlihat khawatir, tapi Ruler menggelengkan kepala dan meyakinkannya. “Kau baik-baik saja.” Jujur, [jantung]nya berfungsi sangat sempurna hingga rasanya tidak bisa dipercaya.
Jika Magic Circuit dan kemampuannya untuk melakukan sihir tidak dihitung, maka dia sama sekali tidak berbeda dengan manusia biasa.
“Seperti yang dikatakan Rider Hitam, kau bebas.”
Katika Ruler mengatakan hal itu, ekspresi homunculus menggelap. Melihat hal tersebut, Ruler bertanya padanya.
“Apa ada yang salah?”
“Tidak. Pada dasarnya aku mengerti apa maksud dari kata [bebas]. Tapi... aku tidak tahu harus melakukan apa.”
Sieg mengungkapkan kekhawatirannya secara jujur, dan Ruler memiringkan kepalanya penasaran. Ruler tahu bahwa Rider Hitam berbicara dengan gembira ketika mengatakan tentang masa depan pemuda itu, saat dia berada di kastil.

‘Dia pasti akan pergi ke desa dan menggunakannya sebagai batu pijakan untuk pergi ke kota. Dia akan berhubungan dengan banyak orang, terus berusaha ketika sehat maupun terluka, dan kemudian dia akan jatuh cinta pada seseorang. Yeah, pasti sangat luar biasa!’

Ketika Ruler menceritakan pada Sieg kata-kata Rider, Sieg menggelengkan kepalanya dan menolak masa depan itu.
“Ya, pasti, aku sudah [bebas] sekarang―hal itu juga mungkin sebuah kemungkinan bagiku. Tapi untuk beberapa alasan, aku tidak berkeinginan untuk melakukan semua itu.”
Sieg menundukkan kepalanya, menunjukkan ekspresi muram yang memperlihatkan permintaan maafnya pada Rider. Ruler berbicara untuk menenangkannya.
“Banyak hal yang telah terjadi padamu, aku tidak berpikir perasaanmu akan segera berubah... Tapi mungkinkah kau memiliki keinginan yang berbeda?”
“Keinginan, yang berbeda...”
Tanpa diragukan lagi masa depan yang diberikan oleh Rider Hitam itu sangatlah indah. Tapi untuk beberapa alasan, Sieg sama sekali tidak tertarik pada hal itu. Jadi mungkin dia memiliki keinginan lain... sebuah masa depan yang berbeda.
“Jika kau bilang kau tidak memiliki mimpi, maka hal pertama yang harus kau lakukan adalah merasakan kebebasan dan mencari sebuah mimpi. Tapi, jika kau sudah memiliki sebuah mimpi―maka kau harus menunjukkannya dengan jujur. Itulah pendapatku.”
Sebuah mimpi, miliknya sendiri. Mimpi apakah itu? Menutup matanya―Sieg mengingat kembali hidupnya. Dia telah berharap untuk hidup dan melarikan diri, meminta bantuan, mencoba kabur untuk hidup kemudian gagal, dan meskipun dia telah mati sekali, dia kembali hidup dan mendapatkan kebebasannya.
Benar-benar hidup yang singkat, tapi dia telah diberkahi oleh banyak keberuntungan. Meskipun dia sama sekali tidak berbeda dengan homunculus lainnya... Tidak, dia sudah menjadi berbeda dengan homunculus lainya. Homunculus lain mati tanpa terkecuali, tapi dia hidup.
Mungkin sederhana untuk mengatakan, ‘Mau bagaimana lagi’, dan menyudahi semua masalah di sana. Dengan kata-kata itu, dia mampu melupakan mereka. Tapi, dia benar-benar tidak bisa mengatakan, ‘Mau bagaimana lagi’. Sebelumnya, daripada menuruti perintah untuk menangkapnya, homunculus lain malah mengabaikannya dengan sengaja.
Kebahagiaan apa yang dirasakannya ketika mendengar kata-kata Rider? Apakah itu bukan karena hubungannya dengan sesama homunculus, yang bahkan menuruti perintah master mereka?
Maka.
Maka, untuk mengerti apa keinginanku itu merupakan hal yang sederhana.
Aku menjadi bebas, itulah kenapa aku juga ingin membebaskan semuanya sebagaimana Rider, Saber dan Archer yang telah membebaskanku.
Harapan, keinginanku, mimpiku... adalah untuk menyelamatkan mereka. Aku ingin menyelamatkan diriku yang dulu... teman-teman homunculusku yang akan mati pada situasi seperti ini.
Mereka tenggelam dalam jus yang membusuk dan hanya bisa merasa ketakutan. Wajar bagi semua makhluk hidup mengalami kematian sebagai bagian dari masa depan mereka, tapi jika kematian itu telah diputuskan dan mereka tidak bisa melakukan apa-apa sampai kapan pun, hal tersebut hanyalah sesuatu yang sangat menyedihkan dan tidak beralasan.
Sebagaimana Rider telah menyelamatkanku, aku juga akan menyelamatkan mereka. Jika aku melakukan hal itu, aku akan merasa bangga jika bertemu dengan Rider lagi nanti. Aku bisa mengatakan bahwa aku menyelamatkan orang lain yang juga menginginkan kebebasan―
Mereka mengatakan ‘tolong selamatkan kami’. Aku mendengar ratapan mereka, dan aku tidak bisa bertindak seolah-olah tidak mendengarnya lalu kabur begitu saja. Ketika seorang pahlawan memberikan kebanggaan3 ini padaku, hal itulah satu-satunya tindakan yang tidak bisa kulakukan.

“...Aku ingin menyelamatkan mereka.”
“Siapa yang ingin kau selamatkan?”
“Kawan-kawanku, makhluk yang sama sepertiku, mereka yang bahkan tidak bisa menjerit meski mereka memohon diselamatkan. Mereka yang hidup hanya untuk mati tanpa mampu meminta pertolongan.”
“...Maksudmu kau akan menyelamatkan homunculus-homunculus yang ada di kastil?”
Sieg mengangguk atas pertanyaan Ruler.
“Tapi... bukan itu ‘kan yang diinginkan Rider?”
Tepat sekali, Servant itu hanya menginginkan kebahagiaan si homunculus. Baginya, kebahagiaan yang dimaksud adalah hidup yang damai tanpa perang.
“Aku tahu... Tapi kehidupan biasa yang damai itu, mimpi itu... bukanlah mimpiku.”
Perasaan Rider benar-benar membuatnya merasa bahagia. Namun demikian, dia tetap ingin melakukan ini.
“Aku mendengarnya. Aku mendengar mereka meminta pertolongan ‘seseorang’. Tentu saja aku tidak bisa hidup dengan mengabaikan mereka.”
Ini seperti rantai baginya. Homunculus yang diselamatkan oleh banyak keberuntungan itu, sangat memahami kebahagiaan tersebut. ...Kebahagiaan karena ada orang yang mau menggenggam tangan yang kau ulurkan. Itu adalah emosi yang mungkin tidak akan pernah homunculus lain rasakan dalam hidup mereka.
...Sebuah perasaan bersalah timbul dalam dirinya. Itu adalah perasaan yang tidak bisa dicegah kemunculannya, tapi hatinya ingin melakukan sesuatu mengenai hal itu.
Ruler menahan napas ketika mendengar kata-kata Sieg.
Meskipun sumber suara yang mereka dengar berbeda, pemuda itu menyembunyikan tekad yang sama dengan miliknya. Ruler berusaha untuk menjawab ratapan Tuhan, dan Sieg sedang berusaha menjawab ratapan sesama homunculus. Meskipun Ruler tidak mendengar suara mereka yang meminta pertolongan, Sieg bisa mendengarnya.
Oleh karena itu―
“...Aku tidak bisa menghentikanmu.”
“Hmm? ...Jika itu adalah kau, kupikir kau mempunyai banyak cara untuk menghentikanku.
“Tidak, aku sedang berbicara pada diriku sendiri. Dengan kata lain, sekarang kau ingin kembali ke kastil dan membujuk para homunculus untuk kabur?”
“...Aku memikirkan banyak cara untuk melakukan hal itu, tapi pada dasarnya itu sama dengan yng kau katakan.”
“Apa kau pikir kau memiliki kesempatan untuk sukses?”
“Sekarang, kesempatanku adalah nol. Tapi itu tidak berarti aku ingin lari.”
“Tolong berhentilah berpikir ceroboh, itu sama saja dengan menginjak-injak niat baik Rider.”
Tentu saja, Sieg tidak bermaksud untuk melakukan hal itu. Tapi... saat ini, tetap saja Sieg tidak bisa membuat sebuah rencana.
“Aku punya pertanyaan untukmu yang tidak lain adalah mediator dari Perang Great Holy Grail. Kelompok Hitam menggunakan homunculus sepertiku sebagai penyedia prana, bukankah itu sama saja dengan melanggar peraturan Perang Holy Grail?”
Ekspresi Ruler menggelap. Ya, menyelamatkan homunculus adalah tujuan Sieg. Tapi jalan yang akan ditempuhnya dipenuhi dengan banyak kesulitan. Masalah terbesar saat ini adalah apakah hal ini bisa disebut melanggar peraturan jika kelompok lain menaati peraturan dengan benar.
“...Dari apa yang sudah kulihat, para homunculus berpartisipasi dalam Perang Holy Grail karena keinginan mereka sendiri. Paling tidak, itulah jawaban yang diberikan oleh seorang homunculus ketika kau bertanya padanya.”
Karena itu merupakan perintah tuannya, mereka setuju untuk bertarung.
Hal itu bukan hanya tindakan yang hanya akan dilakukan homunculus saja, tapi juga banyak manusia pada umumnya. Sejak awal, para Servant berpartisipasi dalam perang karena didasarkan hal itu.
“Keinginan kami sangatlah lemah. Kami adalah makhluk yang hanya akan menuruti perintah yang diberikan pada kami.”
“Tapi kau sendiri memiliki kesadaran diri dan bertingkah laku berdasarkan hal itu.”
“Itu memang benar, tapi―”
“Jika mereka berpartisipasi dalam Perang Holy Grail atas keinginan mereka sendiri, maka aku tidak memiliki hak untuk bicara. Kau bisa bertanya sendiri pada para homunculus apakah mereka berpartisipasi atas keinginan sendiri dan mendapat jawaban mereka, ‘kan?”
Homunculus itu kehabisan kata-kata. Tidak diragukan lagi jika dia tidak akan mendapatkan jawaban ideal jika bertanya. Bahkan sejak lahir, memenuhi perintah yang diberikan adaah segalanya bagi mereka.
“Tapi memang benar jika hal ini bukanlah sesuatu yang bisa kubiarkan begitu saja, karena peraturan umumnya adalah pasokan prana harus dilakukan antara Master dan Servant itu sendiri. Untuk mengabaikan peraturan itu secara gamblang dan terbuka... mungkin akan menjadi masalah. Tapi, meskipun aku memerintahkan mereka untuk membenarkan situasi yang ada, mereka tidak memiliki kewajiban untuk patuh.”
“Bukankah kau memiliki sebuah wewenang, kau ‘kan mediator?”
“Aku memang punya wewenang, tapi... aku hanya bisa menggunakannya dalam jumlah yang terbatas. Lebih spesifiknya, aku telah diberkati hak untuk memaksasetiap Servant dengan dua perintah.”
“Itu―”
Ruler mengangguk saat melihat ekspresi terkejut Sieg. Ya, ini merupakan wewenang terbesarnya sebagai Ruler, yaitu hak untuk memaksakan perintah absolut pada setiap Servant yang juga dimiliki oleh setiap Master sebanyak tiga buah―dengan kata lain, adalah [Mantera Perintah].
“Meski demikian, aku tidak bisa menggunakan Mantera Perintah sebagai mediator saat menghadapi masalah kecil... Tidak, pada dasarnya, hal ini hanya berdasarkan kriteria pribadiku.”
Tentu saja, jika dia menggunakan Mantera Perintah, dia bahkan akan bisa mengontrol siapakah yang akan mendapatkan Holy Grail. Sebagai contoh, dia bisa saja memerintahkan Servant yang tidak disukainya untuk bunuh diri.
Bagaimanapun, itulah sebabnya mengapa dia perlu membuat aturan untuk dirinya sendiri. Jika Ruler sampai melakukan hal buruk seperti itu, maka dia tidak akan menjadi Ruler, tapi hanya seorang tiran.
Ketika bahu homunculus itu melemah karena kalah, Ruler merasa jantungnya seperti diremas. Persis seperti yang dikatakan Sieg, terlalu kejam untuk meminta para homunculus itu menunjukkan [keinginan] mereka.
“...Aku punya saran. Apa menurutmu para homunculus itu akan membuka hati mereka jika kau yang bertanya? Kenapa kau tidak menunjukkan pada mereka hal-hal yang tidak diberikan oleh tuan mereka?”
“Itu...”
Pemuda itu mulai berpikir keras. Sebagai seorang homunculus yang sama dengan mereka, dia mungkin bisa membujuk mereka agar lari dari keadaan yang menyedihkan. Maka, setelah itu Ruler bisa mengambil tindakan. Jika saja hal itu cukup untuk membebaskan homunculus yang meminta pertolongan memilih untuk pergi dari kastil―
“Jika dengan cara itu aku bisa menyelamatkan temanku, maka aku akan melakukannya.”
“Aku paham... jika seperti itu.
Ruler terlalu mendukung homunculus ini.
Tetapi... bahkan jika saat ini Ruler berkata tidak akan membantunya, pemuda itu mungkin tetap tidak akan menyerah.
Selama Rider Hitam masih ada, dia pasti akan menyebabkan kekacaun di Fraksi Hitam. Lalu, dengan masalah rumit seperti Fraksi Merah yang ingin membunuhnya, Ruler tidak bisa membiarkan keadaan perang menjadi semakin memburuk.
Sedikit terbatuk sebelum membusungkan dadanya, Ruler berbicara dengan nada jengkel.
“―Mau bagaimana lagi. Situasi saat ini tidak dapat dihindari, jadi mulai sekarang aku akan mengawasi dan mengatur tindakanmu. Tidak perlu khawatir, sebisa mungkin aku akan memikirkan keinginanmu. Meski begitu, tolong jangan melakukan tindakan yang ceroboh dan tak masuk akal.”
“Mgh...”
“Sekarang kau berada dalam situasi di mana tidak bisa bergerak sendiri.”
“Itu memang benar... tapi.”
“Yang paling penting! Jika kau pergi sendiri ke kastil itu sekarang, kita tidak akan tahu apa yang akan Rider Hitam... Astolfo lakukan. Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku sangat merasa takut jika memikirkan hal itu...”
Ruler bergumam seolah merasa benar-benar ketakutan.
“...Itu benar.”
Sejak awal, dia adalah Heroic Spirit yang tidak akan mendengarkan penjelasan apapun.
Jika homunculus itu bertindak ceroboh, Rider pasti akan mengamuk murka di dalam kastil.
“Oleh karena itu, tolong ikuti perintahku. Apa kau tidak keberatan? Kau tidak keberatan, ‘kan? Jawab aku!”
Dikalahkan oleh Ruler saat gadis itu tiba-tiba memaksanya menjawab, homunculus tersebut mengangguk kebingungan.
“B-baik... aku akan menurutimu.”
Ruler baru saja akan melepaskan sarung tangan untuk berjabat tangan, namun tiba-tiba dia menyadari sesuatu. Ruler belum tahu nama si pemuda.
“Maaf, tapi mengenai namamu―”
“Panggil saja aku ‘Sieg’, meskipun nama itu adalah miliknya, bukan milikku.”
Si pemuda menjawab seraya meletakkan tangan di atas dada seolah-olah merasa bangga.
“Karena sekarang dia telah tiada, aku harus hidup. Ketika aku menyadari hal itu, nama ini sepertinya cocok... itulah yang kupikirkan. Bagaimana menurutmu?”
“Aku mengerti. Jadi sekarang namamu adalah Siegfried.”
“Bukan, namaku bukan Siegfried. Namaku hanyalah Sieg. Aku berpikir jika nama seorang pahlawan terlalu hebat untuk kupakai. Aku mungkin tidak akan bisa menjalani hidup seperti yang dia lakukan.”
Sieg mungkin tidak akan bisa mengorbankan hidupnya tanpa ragu seperti yang pahlawan itu lakukan―
Dia menggumamkan kata-kata itu dengan nada menyesal dan frustasi.
“Itu hal yang wajar. Kau berada dalam posisi di mana kau hanya bisa melakukan hal yang kecil, dan kau bukanlah pahlawan yang sudah memenuhi banyak hal yang diperlukan untuk menjadi sepertinya.”
Sangat buruk jika memaksa seorang pemuda yang masa depanya terbentang di depan mata untuk mengorbankan nyawa. Tidak peduli dia terlihat sedewasa apapun, dia―masih sangat muda.
“Aku paham... Yeah, aku mengerti.”
Sieg mengangguk patuh. Anak baik, pikir Ruler. Kemudian, Ruler mengulurkan tangannya lagi, dan si pemuda menjabat uluran tangan itu.
“Kalau begitu, ayo pergi ke kastil sekarang juga... Jika kita bertemu Rider, tolong biarkan aku yang menjelaskan semua padanya supaya tidak terjadi pertengkaran.”
“Baiklah. Kalau begitu, ayo pergi.”
“Ya, ayo pergi!”
Ruler berbalik memunggungi desa yang ada di lereng gunung, dan setelah mengambil beberapa langkah maju, dia tiba-tiba saja jatuh berlutut.
“A-apa ada yang salah?”
Sieg langsung menghampirinya, dan Ruler menjawab dengan ekspresi yang sangat menyesal.
“Umm... maafkan aku, tapi ayo pergi ke desa yang ada di lereng gunung itu.”
“Kenapa?”
Pertanyaannya terjawab oleh suara yang lebih jelas dibandingkan kata-kata.
Itu adalah bunyi perut Ruler; dengan kata lain, itu adalah suara perutnya yang kelaparan.
“Tidak mungkin, tapi apa kau―”
“Maafkan aku, tapi bisakah kau menggendongku ke sana? Perutku kosong dan aku tidak bisa bergerak...”
Tidak mungkin jika Ruler kehabisan tenaga. Jika memikirkannya lagi, sejak memakan makan malamnya, Ruler sudah berlari kesana kemari tanpa makan atau minum hingga fajar hampir tiba. Ditambah lagi, dia kurang istirahat setelah menggunakan air suci miliknya untuk mencari. Dalam sekejap, kesadarannya menghilang.
Hal ini tidak akan menjadi masalah bagi seorang Servant, tapi dia telah menghabiskan terlalu banyak energi sebagai seorang manusia. Jika dia menggunakan prana besar-besaran, dia bisa bergerak, tapi―dia tidak mungkin bisa menahan rasa lapar itu selamanya.
“...Aku khawatir mengenai kesuksesan masa depan kita.”
Ruler hanya diam saja.
  
Catatan Kaki
1.    Di sini, tertulis kata dalam bahasa Inggris “line” dalam furigana, sementara kanji di bawahnya bertuliskan “karmic line”
2.    Spirit board: Sebuah benda yang dimiliki pengawas Gereja dalam Perang Holy Grail, yang juga disebutkan dalam light novel Fate/Zero. Alat itu memungkinkan pengawas untuk mendeteksi setiap kali ada Servant yang dipanggil dan dari kelas apakah mereka, serta mengindikasikan Servant mana yang masih bertahan dan sudah kalah.
3.    Di sini, tertulis “pride” dalam furigana, sementara kanjinya bertuliskan kata “heart”.

Fate/Apocrypha Jilid 2 Bab 1 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.