19 Februari 2016

Date A Live Jilid 10 Bab 1 LN Bahasa Indonesia




Date A Live Jilid 10
Bab 1
 Shidou yang Ditargetkan

Bagian 1
Baunya adalah hal aneh yang pertama dia rasakan di kegelapan.
Baunya manis seperti bunga atau sabun. Jelas bukan miliknya tapi, tiba-tiba menggelitik hidung Shidou.
“Hn……..”
Dia berguling sebentar selagi sedikit mengerang sebelum meregangkan tubuhnya selagi berbaring.
Saat ini setelah dia melakukannya, dia merasakan perasaan yang hangat dan lembut di punggung tangannya dan suara lembut [Kyaa] dapat terdengar secara bersamaan.
“Heh………..?”
Setelah Shidou terpaksa bangun dalam kesadarannya yang berawan, dia menggaruk matanya selagi perlahan mengangkat tubuhnya.
Kasurnya adalah hal pertama yang dia lihat. Di atas seprei putih, ada selimut kusut dan selimut mandi menutupi atasnya. Tapi, dia jelas merasa perasaan yang dirasakan tangannya bukan itu dan lebih penting lagi, pakaian tidak mengeluarkan suara. Shidou perlahan mengangkat penglihatannya.
Saat dia melakukannya,
“Fufu……..Selamat pagi, Shidou-kun”
Seorang perempuan dengan pakaian dalamnya merapat di dekat Shidou selagi menyantaikan mulutnya dan mengangkat rambutnya dengan erotis.
Dia seharusnya berusia pertengahan 20; Dia memiliki badan yang ramping dan payudara yang menggairahkan. Dia adalah kecantikan dengan ukuran yang membanggakan yang bahkan bisa membuat model merasa malu.
“……….Hnn, aah, Pergi-------“
Shidou membalasnya dengan setengah sadar sebelum-----menghentikan perkataannya di tengah jalan.
“U-uwaahhhhhhhh!?”
Di saat bersamaan otaknya mengerti situasi yang aneh ini, Shidou mengambil langkah ke belakang untuk membuat jarak. Tapi, ini di atas kasur. Kehilangan pijakkan untuk pantatnya, Shidou jatuh ke belakang dan kepalanya menghantam lantai.
“Guwahh!”
“A-ra a-ra. Mou, kau harusnya menyadari ini kau tahu, Shidou-kun”
Suara perempuan itu cengingisan dapat terdengar. Setelah Shidou mengangkat kepalanya dengan postur kepala di atas, dia melihat ke arah kasurnya dengan rasa aneh dan kaget bercampur.
“Na……Natsumi……..!? Kenapa kau----“
Dia kemudian memanggil nama perempuan itu dengan suara penuh kepanikan.
Ya. Shidou mengenal perempuan itu. Natsumi. Dia adalah Roh yang Reiryokunya disegel oleh Shidou beberapa hari yang lalu.
“Apa maksudmu kenapa, ini salam. Aku ke sini untuk membangunkan si kepala tidur kau tahu”
Setelah Natsumi perlahan mengangkat tubuhnya, dia [hmm] meregangkan tubuhnya. Walaupun hanya seperti itu, ini terlihat seperti satu adegan yang terjadi di film.
Shidou sudah dekat dengan ketertarikan pada gestur Natsumi untuk sesaat tapi, dia langsung mendapatkan kembali kesadarannya dan mengayunkan kepalanya.
“Bukan itu…………..! Tidak, aku juga penasaran kenapa kau tidur disini tapi, lebih penting lagi----“
Shidou menggaruk matanya sekali lagi; dia juga mencubit pipinya dan memastikan dia tidak sedang bermimpi sebelum melanjutkan perkataannya.
“Natsumi, kenapa kau jadi dewasa!?”
Ya. Sebenarnya, perempuan cantik itu bukanlah penampilan asli Natsumi.
Natsumi adalah roh dengan kemampuan transformasi dan ini adalah penampilannya setelah dia berubah tubuhnya untuk menyamai tubuh wanita ideal.
Tapi, Reiryoku Natsumi saat ini seharusnya disegel oleh Shidou. Dipikir dengan normal, tidak mungkin dia bisa menggunakan kemampuannya. Walaupun dia menggunakan kekuatan terbatasnya, itu mungkin hanya terjadi saat status mentalnya sedang kacau.
Itu artinya, tubuh Natsumi mungkin sudah termakan beberapa tekanan berat. Tidak, dari yang dapat dia lihat dari Natsumi, sepertinya status mentalnya tidak kacau sama sekali-------
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, saat Shidou sedang memikirkan sesuatu.
“Apa yang terjadi, dengan keributan tadi”
Perempuan SMP dengan rambutnya diikat dua (twintails) dengan pita hitam memasuki ruangan. Itu adalah adik Shidou, Itsuka Kotori. Sepertinya, dia merasa curiga dan kemari untuk mengecek situasi karena aku mengeluarkan suara yang keras saat aku jatuh ke lantai tadi.
“…………………..tunggu”
Setelah Kotori melihat sekitar kamar setelah membuka pintu, dia melihat Natsumi yang setengah telanjang, dan Shidou yang berada di lantai sebelum *twitch* alis matanya tersentak.
Tidak peduli celana dalamnya dapat terlihat dari sudut Shidou, dia mengangkat kakinya sebelum menjatuhkan tumitnya ke perut Shidou selagi dia menghadap ke atas.
“Apa yang kau lakukan pagi-pagi beginiiiiiiiiiiiii!”
“Gyaann…………..”
Setelah Shidou membengkokkan tubuhnya seperti huruf dia memegangi perutnya selagi mengerang kesakitan. Mempertahankan momentumnya saat dia menjatuhkan tumitnya pada Shidou, Kotori memalingkan punggungnya ke Shidou dan setelah kedua kakinya menyentuh lantai, dia membantingkan telapak kirinya ke dalam kepalan tangan kanannya. Jika ini game fighting maka, tidak salah akan muncul tulisan [KO!] menari di antara mereka.
“Fuun, gyaan huh. Bagaimana kalau mengubah pekerjaanmu menjadi pemilik toko antik?”
“Ke-kenapa kau…………..”
Walaupun dia mengeluarkan suaranya dengan kesakitan, sepertinya Kotori tidak mendengarkan.
“Jadi, apa yang kau pikirkan saat akan melakukan tindakan cabul di rumah yang ditinggali adikmu? Aku pikir kau orangnya lebih berhati-hati dan bijaksana”
“Itu fitnah!”
“Uwah, fitnah huh……..dasar cabul”
“Jangan menilainya dari perkataan! Lagipula, Natsumi sedang tidur di sebelahku saat aku bangun untuk beberapa alasan”
“………..begitu?’
Kotori melihat ke arah Natsumi dengan tatapan keraguan.
Pipi Natsumi memerah saat Kotori melakukannya, dan dia membuka mulutnya dengan malu selagi menutupi payudaranya.
“Shidou-kun…………Mesum”
“…………….!”
Setelah pandangan Kotori menjadi tajam, dia sekali lagi mengangkat kakinya dan akan menjatuhkan tumitnya pada Shidou. Tapi, Shidou berhasil menghindarinya dengan waktu yang sedikit dan berteriak seolah dia mencoba untuk menenangkannya.
“Te-tenang! Aku tidak melakukan apapun disini, aku serius!”
“………Lebih baik kau benar, kan?”
“I-itu benar! Lagipula, kenapa Natsumi berubah menjadi versi dewasanya!? Apa yang terjadi!?”
“Aah…………”
Kotori perlahan mengangkat kakinya dari Shidou saat dia bertanya.
“Sekarang aku memikirkannya, aku tidak memberitahukanmu------tentang kondisi Natsumi”
“Kondisi? Apa maksudmu? Jangan bilang segelnya belum cukup……..?”
Shidou mengatakannya dengan nada yang gugup. Tapi, Kotori menurunkan pandangannya dan mengayunkan kepalanya.
“Tidak. Segelnya sudah sempurna. Seperit Roh yang lain, reiryoku Natsumi sudah disegel dengan baik oleh Shidou”
“Lalu……….apa sesuatu terjadi sampai membuat status mental Natsumi menjadi kacau!?”
Setelah dia mengatakannya, wajah Kotori menjadi ruwet selagi mengerang.
“Uuuun……….itu mungkin…………jika kau bilang begitu”
“? Apa maksudmu………?”
Dia tidak mengerti sama sekali. Shidou memutar lehernya. Saat dia melakukannya, Kotori membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke telinga Shidou untuk mencegah Natsumi mendengarnya; dia mungkin jadi penuh perhatian.
“…..kau tahu, mental Natsumi sangat lemak, kan?”
“……….ahh……..”
Shidou menggaruk pipinya selagi mempertahankan pose anehnya. Sekarang dia memikirkannya, Natsumi yang tidak berubah adalah gugsan yang kompleks dan moodnya akan hancur bahkan oleh hal yang kecil.
“Jadi begitu. Kemampuan Natsumi lebih mudah dibanding yang lain”
“Bu-bukankah itu berbahaya……?”
“Uuuuunn…….namun, kemampuannya hanya muncul untuk mengubah tubuhnya jadi aku pikir itu akan berhasil entah bagaimana caranya. Sepertinya, dia akan menyembunyikan penampilan aslinya saat dia merasa malu dan ingin lari dari mata orang-orang. Kita tidak punya pilihan selain mengambil waktu dan membiarkannya terbiasa”
“Be-begitu……”
“Hei, apa yang kalian berdua bisikkan? Jangan biarkan onee-san ini keluar dari kelompok”
Dengan pose erotis yang tidak penting, Natsumi mengatakannya selagi memperbaiki rambutnya yang berantakan. Tidak sedikitpun mental yang lemah dapat terasa dan dia memberikan penampilan yang percaya diri. Sekarang dia memikirkannya, kepribadian Natsumi akan berubah menjadi sesuatu yang dipenuhi rasa percaya diri seperti perkataan seolah orangnya berubah.
“Natsumi, kau…………”
Kotori berdiri dan menghela nafas selagi membuka setengah matanya.
“Tak apa untuk membangunkan Shidou tapi, lakukan sesuatu tentang kebiasaan berubah kapanpun kau mau. Jika begitu terus, kau tidak akan bisa berbaur dengan masyarakat berapa lama pun kau mencoba”
“Aaan, kau marah karena aku mengambil peran membangunkan Shidou-kun huh. Wajah imutmu akan terbuang, kau tahu?”
“A-Aku tidak mengatakannya!”
“Fufu, itu tertulis di wajahmu walau kau tidak mengatakannya. Tapi lihat, Shidou-kun tidak akan menyadari Kotori-chan bahkan jika kau merapat di sebelahnya dengan tubuh itu”
“A-Apa yang kau katakan!?”
Setelah Natsumi mengatakannya dengan melipat tangannya dan mengangkat dada besarnya, Kotori berteriak dengan tak tertahankan.
“Itu benar, kan? Mungkin terlihat menjanjikan dalam beberapa aspek tapi, bagaiman mengatakannya, ini kekurangan daya tembak atau ini sebuah karya seni dengan penahan angin yang dekat dengan nol”
“Ja-jangan memandang rendahku! Aku masih pubertas!”
“Eeeh……tapi dada berhenti tumbuh sekitar usia 15 kau tahu?”
“A-Aku masih 14! Lupakan itu, kenapa kau berlaga seperti itu! Mungkin kau memiliki tubuh yang indah dalam perubahanmu tapi, tubuh aslimu lebih rendah dariku!”
“……………………….!”
Saat Kotori berteriak, ekspresi Natsumi yang penuh dengan percaya diri berubah menjadi kaget. Ada halusinasi seolah sekitar berubah menjadi gelap. Jika ini di dalam manga maka, mungkin akan ada efek suara [Gaaaaan] atau [Zuuuuun] muncul di atas kepala Natsumi.
“Se-seperti yang kukira………Kotori berpikir begitu padaku. U-uuuuu………Aku seperti orang bodoh. Berubah menjadi periang sendirian setelah memiliki teman…………memang tidak mungkin untuk orang-orang menerima seseorang sepertiku…………”
Natsumi menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan bahunya terus bergemetar. Begitu, mentalnya lemah seperti tahu. Wajah Kotori menjadi [Oh sial] sebelum berjalan ke Natsumi dengan panik.
“A-Aku tidak berpikir begitu. Bagaimana aku mengatakannya, itu tadi hanya mendadak atau, itu hanya kejahatan dibalas dengan kejahatan errr……..”
“Uu…….uu……..tak apa Kotori-chan, jangan paksakan dirimu. Maaf membuatmu harus menemani seseorang sepertiku………lagipula aku lebih cebol daripada Kotori-chan………..”
“Tidak, aku serius! Aku tidak berpikir seperti itu!”
“……….Jadi, Kotori-chan lebih cebol dariku……..?”
“U, i-itu………..”
Kotori ragu selagi keringat bercucuran dari keningnya. Saat dia melakukannya, air mata yang besar mulai berbentuk di mata Natsumi dan dia mulai menangis.
“Itu memang bohonggggggg! Itu semacam kebohongan yang menyakiti seseorang tepat di hatinyaaaaaaaa!”
“Ah………aaaah, mouuu! Itu benar! Aku lebih cebol dari Natsumi!”
Kotori menyerah dan mengatakannya. Natsumi kemudian berhenti menangis seperti tadi itu hanya kebohongan dan *pan**pan* mulai tertawa di kasur.
“Aha-hahahahaha! Dia cebol! Kotori-chan cebol!”
“A………….”
Tak dapat memahami apa yang terjadi, Kotori bengong untuk sesaat tapi tatapannya langsung menjadi tajam dan menatap Natsumi.
“K-kau……..kau membohongiku!?”
“Kyaa! Si cebol menyerang!”
Natsumi tersenyum polos selagi loncat-loncat di atas kasur dan keluar dari ruangan sebelum menuju lantai pertama.
“Sialan kau, tunggu disana……..!”
Kotori mengejar Natsumi dan *batabata* lari menuruni tangga.
---dan akhirnya, kedamaian mengunjungi kamar Shidou.
“………Sepertinya aku akan mencuci mukaku”
Shidou *ya-re ya-re* menghela kelelahan sebelum perlahan berdiri dari lantai.

Walaupun hari pagi membangunkannya dengan kejutan, pagi hari itu secara mengejutkan [Normal] jika kejadian itu jadi pengecualian.
Dia mencuci mukanya, mengganti bajunya, menyelesaikan sarapannya dengan Kotori, yang akhirnya membiarkan Natsumi pergi, dan meninggalkan rumah.
Saat dia melakukannya, suara yang riang bergema dari mansion di sebelah.
“Shidou!”
Saat matanya mengarah kesana, dia melihat perempuan dengan seragam SMA Raizen melambaikan tangan padanya.
Dia memiliki rambut hitam malam yang panjang dan mata bersinar seperti kristal; Dia perempuan yang kecantikannya seperti buatan. Hidungnya berukuran ideal, dan bibir seperti kelopak sakura. Siapapun yang melihatnya akan merasa suatu aura mistik yang datang darinya.
Tapi, ekspresi indah pada wajahnya sudah cukup untuk membalikkan impresi itu di sekitarnya; itu adalah senyum yang ceria dan riang.
Yatogami Tohka. Dia adalah tetangga rumah keluarga Itsuka dan sekaligus teman sekelas Shidou.
“Ou, Tohka. Selamat pagi”
“Umu, Selamat pagi!”
Setelah Shidou melambaikan tangannya, Tohka tersenyum puas selagi mengangguk. Semua kelakuannya pernuh dengan keceriaan. Seperti biasa, dia hidupnya dengan sepenuhnya.
“Cuaca hari ini bagus juga! Ini terasa hangat dan nyaman!”
“Aah, ini tidak terasa seperti November sama sekali.-----tunggu, sekarang aku memikirkannya, dimana Kaguya dan Yuzuru? Jangan bilang mereka masih tidur?”
Shidou memiringkan kepalanya dan melihat ke belakang Tohka. Yamai Kaguya dan Yuzuru yang tinggal di mansion yang sama dengan Tohka tidak terlihat di manapun.
“Tidak, mereka berdua sudah berangkat. Sepertinya mereka berkompetisi siapa yang sampai di sekolah pertama”
“Aah, begitu”
Dari alasan [normal] itu, Shidou tidak sengaja tersenyum kecut. Kaguya dan Yuzuru adalah saudara yang sangat dekat tapi, mereka suka bersaing lebih dari nasi kedua (AKu tadinya ingin mengatakan nasi ketiga tapi, sepertinya mereka bersaing bukan hanya pada nasi ketiga dan itu bukanlah kompetisi lagi) dan akan datang dengan sesuatu untuk berkompetisi.
“Yah kalau begitu, ayo pergi”
“Umu!”
Tohka mengangguk dengan riang saat Shidou mengatakannya. Mereka kemudian berjalan ke sekolah melewati jalur yang selalu mereka gunakan.
Ini juga adegan dari hari-hari normal mereka.
Ini adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang mereka lakukan beberapa kali selama beberapa bulan ini. Pemandangan aneh dari keberadaan spesial-Roh yang melintasi kategori logika yang menjai sesuatu yang normal untuk Shidou sebelum dia sadari.
“……………ouch ouch”
Dan tiba-tiba, leher Shidou tiba-tiba sakit saat dia melihat ke atas dan dia mengerutkan wajahnya.
“Nu? Ada apa, Shidou”
“Aah………aku jatuh dari kasur pagi ini”
“Muu, kau harus hati-hati”
Tohka mengatakannya dengan cemas. Shidou mengatakan [Aku tak apa] dan tersenyum kecut.
“Aku tidak akan jatuh secara normal. Hari ini, Natsumi-------“
“Natsumi? Apa yang terjadi pada Natsumi?”
“Ah, tidak, bukan apa-apa”
Shidou mengayunkan tangannya untuk mengelabuinya. Wajah Tohka menjadi ragu tapi, dia langsung mengingat sesuatu dan membuka lebar matanya.
“Oh ya Shidou, bicara soal Natsumi, ada sesuatu yang membuatku penasaran”
“Hn? Ada apa?”
“Natsumi dipanggil natsumi1 karena dia dicintai semua orang?”
“…………Ah—“
Walaupun dia lega karena topiknya berubah, itu hanyalah untuk sesaat. Keringat bercucuran dari pipi Shidou.
Kata [Natsumi] yang diajari pada Tohka oleh Shidou beberapa hari yang lalu. Artinya [Aku suka padamu]………..yah sebenarnya, itu adalah sesuatu yang Shidou buat untuk mengelabui Tohka saat dia memanggil Natsumi.
“I-Itu benar. Kata-kata seperti [Cinta] dan [Suka] adalah kata-kata yang baik. Itu sering digunakan sebagai nama. Kau lihat, Yamabuki dari kelas kita bernama [Ai] juga jika aku tidak salah, bukan?”
“Ooo! Begitu!”
Shidou mengatakan sesuatu yang acak dan Tohka memukul tangannya seolah dia kagum dari lubuh hatinya yang terdalam………..dadanya terasa sakit. Secara tak sengaja, Yamabuki dari kelasnya [Ai2] bukan [Ai3].
Setelah mengatakannya selagi berjalan, mereka berdua sampai di sekolah.
Dia mengganti sepatunya seperti biasa, menaiki tangga seperti biasa, memasuki ruangan kelas seperti biasa dan sampai di kursinya seperti biasa. Kursi Shidou adalah kursi kedua dari jendela, kursi Tohka ada di sebelahnya………untuk beberapa alasan, saat Shidou memasuki ruangan kelas, teman sekelasnya memperhatikannya dengan hati-hati tapi, yah dia putuskan untuk tidak mengkhawatirkannya.
Yang tersisa adalah bersiap untuk kelas dan dia harusnya berbicara dengan Tohka seperti biasa sampai pelajaran dimulai. Itu juga sama seperti biasa.
--Tapi.
“…………………”
Dia melihat ke kursi sebelah kiri secara diam-diam.
Kursinya masih kosong. Teman sekelas Shidou----------kursi Tobiichi Origami.
Ya. Ada sesuatu yang menghilang dari harinya yang biasa.
“Origami……………”
Shidou memanggil namanya dengan suara lembut.
“Mu………..”
Saat dia melakukannya, Tohka melihat ke arah kursi Origami saat dia menyadari dia melakukannya.
Origami ada di dalam AST-----anggota dari tim yang bertugas untuk memusnahkan Roh. Dan tentu saja, Origami tidak dekat dengan Tohka yang merupakan Roh. Tidak, hubungan mereka sangatlah buruk bahkan tepat untuk mengatakannya sebagai relasi anjing dan monyet.
Tapi, apa yang sedang terjadi, dia dapat merasakan mata Tohka memiliki emosi yang rumit di dalamnya saat dia melihat ke kursi yang kosong.
Namun, itu sesuatu yang normal. Shidou sedikit mengangguk untuk menjawab perkataan Tohka sebelum menghela nafas dan mengingat kembali saat dia terakhri kali melihat Origami.
---itu terjadi beberapa hari yang lalu. Kota Tenguu dalam bahaya.
Industri DEM menjatuhkan satelit buatan dengan ledakan terpasang padanya di kota dari orbit satelit.
Berkat kerja keras Shidou, Roh dan <Ratatoskr>, mereka berhasil menghentikannya di menit terakhir tapi, industri DEM memiliki satu rahasia lagi yang sudah disiapkan.
Bom dengan kekuatan yang sama terpasang pada satelit buatan yang dijatuhkan ke arah kota Tenguu dari sebuah pesawat.
Benar-benar kehabisan energi, Shidou dan yang lainnya berada dalam keadaan sulit. Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan.
Saat itu-----sebuah Wizard muncul dari langit dan menghancurkannya dengan satu pukulan. Itu adalah Origami.
“Apa…….itu”
Setelah Shidou bergumam pada dirinya sendiri, dia meletakkan tangannya pada keningnya dan tenggelam dalam pikirannya.
Dipikir baik-baik, kejadian itu hanyalah Origami yang datang untuk menyelamatkan Shidou dan lainnya dari keadaan darurat. Yang harus dia lakukan adalah mengangkat kedua tangannya dengan senang dan berterima kasih pada Origami.
Tapi, situasinya tidak akan selesai semudah itu.
CR-unit yang Origami kenakan------bukannya perlengkapan yang biasa dia pakai dari JGSDF; unitnya adalah sesuatu dari industri DEM.
Apa maksudnya itu? Pada akhirnya, Origami tidak turun ke arah mereka dan meninggalkan tempat itu setelah meninggalkan pemandangan yang berarti pada mereka. Dia pikir dia akan menanyakan detilnya saat mereka bertemu lagi tapi………..
Dan saat itu, dia dapat mendengar suara bel yang familiar dari pengeras suara yang dipasang di kelas.
“………….Oh, wali kelas”
Para murid yang berada di kelas cepat-cepat kembali ke kursi mereka masng-masing. Saat dia melihat keluar jendela, dia dapat melihat para murid lelaki dan perempuan melewati gerbang sekolah selagi akan ditutup.
Tapi------Origami tidak ada di antara mereka.
“………..Dia hari ini absen huh”
Shidou sedikit menghela nafas. Kekecewaan dan------rasa lega tercampur dalam helaan nafasnya.
Namun, tidak ada masalah menyelesaikan ini. Walaupun dia akan kembali hari ini, lebih baik mengunjungi rumah Origami dengan alasan seperti kunjungan.
Saat Shidou sedang memikirkannya, bu guru Okamine Tamae alias Tama-chan memasuki ruang kelas.
Berdiri, hormat, duduk. Setelah memberikan salam seperti biasa, Tama-chan-sensei membuka buku kehadiran.
“………..Baiklah, selamat pagi semuanya. Semoga hari ini kita juga bersemangat tinggi”
Tama-chan-sensei mengatakannya dengan suara yang kelam dibandingkan dengan semangat tinggi yang dia katakan, dan menjatuhkan pandangannya pada buku kehadirannya.
Seisi kelas khawatir saat mereka melihat Tama-chan-sensei dalam mood yang putus asa dibanding dari dirinya sendiri.
“Eh………Apa, apa yang terjadi Tama-chan?”
“Bukankah dia terlihat tidak bersemangat?”
“Ah, mungkin wawancara pernikahannya gagal lagi?”
“Ah--…………….”
Spekulasi yang bermacam-macam muncul dari kiri dan kanan.
Mungkin Tama-chan tidak mendengarnya, *Haa* dia menghela nafasnya.
“Sebelum kita mengabsen, ada berita sedih yang ingin aku beritahukan pada semuanya………”
Setelah mengatakannya, Tama-chan mengerutkan keningnya. Melihat perilaku anehnya, semua yang ada di kelas mengatakan […….Seperti yang kuduga].
“Itu kenapa aku terus memberitahukannya agar tidak mengeluarkan semuanya pada foto untuk wawancara pernikahan……..”
“Memang benar mereka tidak akan membiarkanmu bertemu jika kesan pertamanya jelek tapi, itu jelek jika perbedaannya terlalu besar”
“I-yaa, tapi dia akan mendapatkan banyak masalah jika memberitahukan itu saat waktu pelajaran”
“Ehh, kalau begitu apa”
“Dia melalui pernikahan tipuan dan kehilangan hak warisnya?”
“Uwaaaaah, sekarang itu menyedihkan”
Dan seterusnya, banyak rumor mulai terbentuk. Tama-chan memberikan peringatan dengan *cough**cough* batuk dengan sengaja sebelum melanjutkan perkataannya.
“Sebenarnya………..Tobiichi-san akan pindah sekolah satu dan lain hal……..”
“Huh………..!?”
Shidou berdiri secara refleks saat dia mendengar perkataan Tama-chan-sensei. Disebelahnya, Tohka juga membuka lebar matanya karena terkejut.
Semua yang ada di kelas terkejut juga tapi, reaksi Shidou terlalu besar. Pandangan semua orang tertuju pada Shidou.
Biasanya, ini situasi yang tidak nyaman. Tapi saat ini, Shidou tidak bisa bersantai mengkhawatirkannya. Dia menghantamkan tangannya ke meja dan melemparkan pertanyaan pada Tama-chan.
“Tu-tunggu sebentar. Origami pergi!? Apa yang terjadi!?”
“Wa-walaupun kau bilang begitu…….aku tidak tahu detilnya. Tobiichi-san tiba-tiba meneleponku dan memberitahukan bahwa dia akan pindah dan akan mengirimkan dokumen-dokumen pengurusannya nanti……..”
“Tidak mungkin…………”
Shidou tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya dan memukul keningnya dengan tangannya. Teman sekelas di sekitarnya mulai berbisik. Semuanya mungkin mengira kepanikan Shidou itu tidak terduga-----Tidak, bicara dengan cara yang lebih benar, mereka mungkin terkejut bahwa Shidou tidak mendengar apapun dari Origami.
“Ja-jadi……….Dia akan pindah ke sekolah mana?”
Shidou melanjutkan perkataannya seolah dia sedang memohon. Selama dia mengetahui nama sekolahnya, masih mungkin untuk <Ratatoskr> tuk menyelidikinya.
Sepertinya keadaan putus asa Shidou tersampaikan pada Tama-chan. Dia cepat-cepat melihat ke arah kertas yang terselip dalam buku kehadirannya dan mengangkat wajahnya.
“I-Itu………..”
Tapi, ekspresinya penuh dengan kebingungan.
“Se-sekolah di Inggris…….”
“……………..uh”
Shidou mendengar perkataannya dan menelan ludahnya.
Bagian 2
“U……..u-ugaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!”
Ini adalah ruangan di mansion roh yang berada di sebelah rumah Itsuka.
Natsumi menanamkan wajahnya ke bantal selagi berteriak.
Secara tak sengaja, walaupun dia tidak menyukai debu yang berada di sekitar, dia terus mengayunkan tubuhnya dan *poof**poof* menghantam kasur. Dia terkadang akan menutupi wajahnya mengingat ingatannya selagi menggeliat kesakitan. Seolah dia kesurupan atau sakit, atau mungkin anak SMA yang menyembunyikan rahasinya di bawah kasurnya dan diketahui oleh ibunya.
“U-uguuuu……….”
Setelah terus melakukannya untuk beberapa menit, Natsumi berbaring di atas kasur dan benar-benar kelelahan.
Namun, bukan berarti dia puas. Itu hanya karena dia lelah menjadi liar.
Natsumi menunggu untuk mengembalikan staminanya sebelum dengan berat mengangkat tubuhnya dan melihat ke cermin yang ada di dinding.
Perempuan kecil, kurus, dan berwajah kelam diperlihatkan. Setidaknya, tidak bekas onee-san yang memberikan aroma yang menarik dan indah saat dia berada di sebelah Shidou.
Itu adalah penampilan asli Natsumi.
“Ahhh………mou, kenapa aku seperti ini”
Dia mengacak rambutnya dan sekali lagi melemparkan dirinya ke kasurnya.
Namun, bukan berarti Natsumi membenci dirinya sendiri seperti sebelumnya.
………tidak, bohong jika dia bilang dia tidak ada ketidakpuasan pada tubuhnya sendiri. Dia ingin lebih tinggi atau, dadanya lebih besar; bagian yang tidak cukup yang ingin dia tingkatkan itu tak terhingga.
Tapi, kerumitan itu sudah cukup bertambah dibandingkan dengan Natsumi yang sebelumnya. Natsumi datang untuk menerima dirinya apa adanya yang dia benci sampai tak tertahankan.
Ini dan itu berkat Shidou dan roh yang lain. Mereka [Merubah] Natsumi----dan lebih penting lagi, mereka [menerima] Natsumi.
Dia berterima kasih pada mereka. Itu kenapa, Natsumi memikirkan cara untuk membalasnya. Dan hasilnya, dia membangunkan semuanya di pagi hari untuk saat ini.
Namun, itu tidaklah mudah.
Untuk awalnya, semua berjalan baik saat dia menyelinap ke kamar Shidou tapi, perasaan gugup yang aneh dirasakan Natsumi saat dia memikirkan untuk membangunkan Shidou.
Saat dia membangunkan Shidou, jawaban seperti apa yang harus dia berikan jika dia bertanya kenapa Natsumi disini. Tidak, jawabannya sudah jelas dia kesana untuk membangunkan Shidou tapi, ada kemungkinan dia membalasnya dengan [Kenapa?]. Tidak tidak, itu masih lebih baik. Jika Shidou adalah orang yang langsung bad mood saat dia bangun maka ada kemungkinan dia akan menegurnya………..? Tidak tidak tidak, lebih penting dari itu, jika-----
Dan seterusnya, setelah memikirkan semuanya, Shidou tiba-tiba [u………..nn……….] mengerang selagi membalik.
Langsung saja kegugupan Natsumi sampai pada puncaknya………dan sebelum dia mengetahuinya, tubuh Natsumi berubah menjadi versi Onee-san yang seharusnya sudah disegel.
Cukup aneh, hal yang seharusnya berubah hanyalah penampilan luarnya tapi, dia akan aneh jika menjadi besar hati saat dia merubah penampilannya, dan penuh dengan percaya diri…………Semua hal yang tidak bisa Natsumi lakukan sebelumnya dapat mudah selesai sekarang.
Bicara lebih spesifik lagi, dia akan kesulitan berada di sebelah Shidou dengan pakaian dalam, membuat jantungnya mulai berdetak kencang saat dia membangunkannya, atau bahkan mengelabui Kotori dengan tangisan palsunya……….contoh seperti itu.
Natsumi kemudian lari dari Kotori dan sampai ke ruangannya dan tertawa untuk beberapa saat sebelum kembali menjadi normal dan---
“Ugooooo………”
Dan, dia jatuh pada kebencian pada dirinya sendiri.
Dia membenci hati lemahnya. Dia benar-benar lembut dan lemah. Jika ini terus berlanjut, tofu yang lembut malah lebih kuat dari dirinya.
Saat itu. Bel berbunyi tanpa peringatan apapun, dan Natsumi menghentakkan bahunya. Dan dinilai dari suaranya, itu bukan berasal dari pintu masuk melainkan itu adalah bel yang dipasang di depan kamarnya.
Dia hampir saja berubah menjadi versi dewasanya karena terkejut tapi, dia meletakkan tangannya pada dadanya dan entah bagaimana berhasil menekan detakan jantungnya. Setelah memperbaiki nafasnya, Natsumi berjalan ke arah pintu selagi berjalan dengan diam-diam untuk beberapa alasan.
Untuk sesaat, dia pikir Shidou dan Kotori mengejarnya sampai mansion tapi, mereka berdua seharusnya masih di sekolah. Kalau begitu siapa…..
“Si-siapa…….?”
Berdiri di depan pintu, Natsumi dengan ragu bertanya (Dia ketakutan untuk mengintip dari lubang pintu untuk beberapa alasan) sebelum, suara yang lembut menjawabnya. Pintunya dibuat kuat berjaga-jaga untuk keadaan darurat tapi, karena ada mik dan speaker terpasang di interkom, percakapan mungkin saja terjadi melalui pintu.
“E-err……..ini Yoshino”
“Yoshinon disini juga~”
“…………!?”
Alis Natsumi mendekat karena jawaban yang tak terduga itu.
Namun, bukan berarti dia tidak mengenal pemilik suara tersebut. Itu adalah Yoshino. Dia adalah salah satu roh yang tinggal di mansion seperti Natsumi.
Apa yang dia inginkan dengannya? Natsumi memijat lehernya selagi meletakkan tangannya pada gagang pintu.
Tapi, dia kemudian menyadari penampilannya saat dia melihat pantulannya di cermin di rak sepatu (kloset?) pintu dan langsung tersentak. Karena dia terus bergulingan di kasurnya, rambut yang dia rapihkan dengan hati-hati saat pagi tadi berubah total tanpa ada bekas sama sekali. Mungkin karena jumlah rambut yang dia miliki; benar-benar meledak karena dia lengah.
“Tu……tunggu sebentar!”
“Eh? Ba………baiklah”
Setelah Yoshino membalasnya, Natsumi berlari melalui koridor ke kamar kecil dan menggunakan kuas besar untuk memperbaiki rambutnya.
“Ba………baiklah”
Sekitar 3 menit kemudian. Natsumi meletakkan kuasnya dan kembali ke pintu. Tentu saja, jauh dari kepuasan tapi, itu tidak bisa ditolong. Minimal, dia mungkin berhasil menghilangkan kesan rambut yang baru bangun.
Natsumi mengambil nafas dalam-dalam sebelum memakai sendalnya dan membuka pintunya.
Saat dia melakukannya, perempuan kecil berdiri menundukkan kepalanya.
“Err…………Selamat pagi Natsumi-san”
Dia adalah perempuan lucu topi peti dengan desain yang lucu di kepalanya dan boneka di tangan kirinya. Rambut lembutnya yang bergelombang berwarna biru seperti lautan dan matanya seperti batu permata yang berkilauan.
“Selaaaaaamat Paaagiiii Natsumi-chan. Apa kabarmu~?”
Berikutnya, boneka yang dipakai di tangan kiri Yoshino menyalaminya dengan gerak tangannya terampil. Itu adalah teman Yoshino [Yoshinon].
“A………..Se-lamat……….pagi”
Natsumi menghindari pandangannya jauh-jauh sebelum kembali menyapanya………….Jika dia dalam tampilan dewasanya, dia mungkin akan mengatakan [Selamat pagi Yoshino dan Yoshinon. Apa yang membawa kalian kesini? Mungkin kalian datang mengunjungiku? Yaaan, Natsumi tersentuh--] dan memeluknya tapi……….level itu terlalu besar untuk Natsumi saat ini. Kesunyian berlanjut untuk beberapa saat.
---Apa yang harus kulakukan dalam situasi ini? Dia sudah datang kesini jadi, [Berbicara selagi berdiri itu melelahkan jadi, masuklah. Aku punya teh] secara alami mendesaknya seperti itu akan menjadi pilihan yang baik untuk wanita yang baik? Namun jika itu sesuatu yang bisa dia selesaikan disini maka, malah Yoshino yang akan penuh pertimbangan. Dia berjalan ke kamar, dan menyelesaikan urusannya dengan satu atau dua kata setelah minum teh. Dengan begitu, mungkin akan ada beberapa orang yang berpikir itu adalah ide bagus untuk bersenang-selagi selagi berbincang tapi, itu akan menjadi alasan tak berperasaan untuk monster dengan kemampuan komunikasi untuk dapat berbincang dengan alamiah. Jika dia melakukan itu maka, Natsumi tidak akan berdiam diri membeku di depan pintu. Tak sengaja, Natsumi tidak tahu teh apa yang bagus walaupun di ruangannya ada teh.
“Nee nee Natsumi-chan. Berapa lama kita harus melakukan ini? Bisakah kita masuk ke kamarmu?”
[Yoshinon] menggerakkan mulutnya saat Natsumi kesakitan dengan keringat bercucuran dari jidatnya. Sekoci datang pada waktu yang tepat. Dia adalah wanita yang baik dibandingkan dengan Natsumi.
“un, Yoshinon………….!”
Yoshino memperingatkan [Yoshinon] tapi, Natsumi cepat-cepat mengayunkan kepalanya.
“Ta-tak apa. Masuklah. Walau tidak ada apapun…….”
“Maaf, Natsumi-san……..”
“Ti-tidak apa-apa. Lagipula, aku baru saja akan mengatakannya…..”
Natsumi mendesak Yoshino dan [Yoshinon] masuk ke kamarnya setelah mengatakannya dengan suara melengking. Yoshino membungkuk dan mengatakan aku akan mengganggu sebelum melepaskan sepatunya, merapikannya dan masuk ke kamar. Tak sengaja, sepatu Natsumi terlempat ke samping membentuk bentuk …… Natsumi entah kenapa merasa malu dan diam-diam merapihkan sepatunya.
“Du-duduk dimanapun kau suka. Aku akan menyiapkan teh……….”
Setelah memaksa Yoshino ke ruang tamu, dia mengambil kantong teh di rak terpasang di ruangannya dan memasukkannya ke cangkir sebelum menuangkan air panas ke dalamnya. Ada daun teh yang sengaja ditinggalkan disana tapi, dia tidak tahu bagaimana menyiapkan teh dengan itu.
Natsumi menyiapkan tehnya dan berbagai cemilan di meja sebelum duduk berlawanan dengan Yoshino.
“Si-silahkan………..”
“Maaf……….Terima kasih banyak”
Yoshino perlahan menundukkan kepalanya dan meneguk tehnya. Natsumi melakukan hal yang sama dan meletakkan cangkirnya ke mulutnya.
“………………………”
“………………………”
Tapi karena Natsumi dan Yoshino tidak memili hal yang bisa dibicarakan, kesunyian muncul lagi. Natsumi memberikan perasaan [Aku sedang minum teh jadi tidak bisa bicara] tapi, dia sempat mengintip Yoshino.
Walaupun dia mengajaknya ke kamarnya mengikuti arus, urusan seperti apa yang membuatnya mengunjungi Natsumi. Tidak ada yang terlintas dalam pikiran Natsumi.
“………………..uh”
Tapi saat itu, Natsumi mencapai satu kemungkinan.
Pertama, sebelum Shidou menyegel Reiryoku Natsumi, dia menyebabkan kecelakaan dan menyeret Shidou dan roh yang lain. Semuanya sudah memaafkannya tapi………tidak aneh jika ada satu orang yang hanya menunjukkan persetujuannya karena semuanya dan masih merasa kebencian padanya.
Lebih lagi, Natsumi berubah menjadi [Yoshinon]………..itu adalah teman Yoshino yang tak tergantikan. Dia menunggu saat Shidou dan roh yang lain pergi ke sekolah dan tidak aneh jika dia minta balasannya.
“Errr, Natsumi-san….?”
“Hiii!”
Dia tiba-tiba dipanggil. Natsumi menghentakkan bahunya dan bersembunyi di bawah meja.
“Ma-maaf, aku………….!”
Natsumi mengatakannya selagi menggoyangkan mejanya menyebabkan Yoshino dan [Yoshinon] memiringkan kepalanya dengan kebingungan.
“Kenapa kau meminta maaf? Haa, jangan bilang kau memasukkan semacam obat di dalam teh Yoshino!?”
“E-eeeh……..?”
“Aah, Yoshino akan pingsan setelah kantuk yang tiba-tiba menyerangnya. Di dalam kesadaran yang samar, hal terakhir yang Yoshino lihat adalah Natsumi-chan menjilati bibirnya selagi tersenyum penuh hasrat…….Selamat datang di dunia Yuri-yuri4!”
“A-Aku tidak, tidak mungkin…..!”
Dia tidak menahannya dan mengangkat wajahnya. Tapi, karena dia bersembunyi di bawah meja, Natsumi membenturkan kepalanya di bawah meja beberapa kali.
“Ouch!”
“Ka-kau tak apa, Natsumi-san….!”
“Ah……A-Aku tak apa…..”
Setelah Natsumi membalasnya pada Yoshino yang mengatakannya dengan khawatir, dia perlahan keluar dari bawah meja.
Tapi lagi, berkat [Yoshinon] rasa gugupnya pun menghilang, walau hanya sedikit. Natsumi diam-diam mengambil nafas dalam-dalam sebelum menanyai Yoshino.
“Jadi………..jadi………apa yang kau inginkan denganku….?”
Saat Natsumi mengatakannya, Yoshino [Err………..] mengatakan sesuatu dengan samar sebelum pipinya memerah selagi memalingkan pandangannya. Tapi, dia langsung memutuskan untuk mencobanya lagi dan melihat lurus ke arah mata Natsumi sebelum membuka bibir kecilnya.
“Err………..Na-Natsumi-san baru tinggal disini jadi, aku pikir kau tidak tahu……….tentang kota ini…….”
Yoshio *kokun* menelan kegugupannya sebelum melanjutkan perkataannya.
“Apa tak apa……….denganku, aku pikir………..memberikan tur kota…….”
“Eh……….?”
Natsumi membuka lebar matanya mendengar kalimat yang tak terduga itu.
Apa yang dia lakukan melihat reaksi Natsumi, Yoshino mengayunkan tangannya dengan panik.
“E-err…………Aku tidak terlalu tahu dengan kota ini juga dan aku mungkin tidak berguna untukmu tapi………..aku pikir aku bisa melakukan hal yang simpel seperti memberikan tur. Errr, benar, jika ini bukan masalah untukmu………”
“………….uh-aah”
Selagi mendengar perkataan Yoshino, Natsumi menutup matanya dengan kedua tangannya. Alasannya mudah. Yoshino membuatnya kagum sampai dia tidak bisa langsung matanya.
Walau hanya untuk sesaat, dia membenci dirinya sendiri karena memikirkan sesuatu yang menjijikkan seperti Yoshino mungkin disini untuk membalas dendam. Dia bahkan berpikir bahwa itu hujatan yang tak termaafkan untuk melihat Yoshino dengan pandangannya yang rusak.
“u-errr, maaf, aku tidak tahu kau akan segitu membencinya……..”
“……….kau salah. Bukan begitu………hanya saja, maaf aku sudah lahir…..”
“Na-Natsumi-san………?”
Yoshino memiringkan kepalanya dengan panik. Natsumi perlahan membuka matanya sebelum kembali melihat Yoshino setelah dia dapat melihat langsung ke matanya.
Dia kemudian menggerakkan pandangannya selagi mengeluarkan suara lembutnya.
“……………..err, baiklah………aku mengandalkanmu”
“Y-ya!”
Suara Yoshino melompat bahagia saat Natsumi membalasnya dan tersenyum bak malaikat. Natsumi hampir saja menutupi wajahnya lagi saat dia melihatnya.
“Tapi………..kenapa kau bertindak sejauh ini untuk melakukan hal seperti ini untukku?”
Selagi setengahnya murni pertanyaan dan sisanya untuk menyembunyikan rasa malunya, saat Natsumi bertanya seperti itu selagi menggaruk pipinya, Yoshino mengangkat bahunya sebelum menjawab.
“Aku…..agak bahagia. Saat seperti ini, Shidou-san dan yang lain pergi ke sekolah jadi……..aku bisa banyak berbicara dengan Natsumi karena kau sudah datang kesini……..itu yang aku pikirkan. Juga, err…………”
Pipi Yoshino memerah sebelum melanjutkan perkataannya.
“Ki-kita………adalah teman jadi……..”
Setelah mengatakannya, Yoshino menutup matanya karena malu. Wajah Natsumi benar-benar menjadi merah saat dia melihatnya.
“Uwahh…….apa-apaan perempuan ini, aku ingin menikahinya…..”
“…………Fueee!?”
“Oooooyaaaa!?”
“………..!”
Dia secara tidak sengaja mengatakannya karena keimutan Yoshino. Yoshino menghentakkan bahunya mendengar perkataan Natsumi yang secara tidak sadar mengeluarkan perkataan dari mulutnya, dan [Yoshinon] mengelus dagunya. Natsumi kemudian *buun**buuun* mengayunkan kepalanya.
“Bu-bukan apa-apa! Le-lebih penting lagi, kau akan memberikan tur kota padaku, kan? Kalau begitu, ayo cepat, sekarang!”
“Errrrr……..Ba-baiklah”
Natsumi mendorong Yoshino yang kebingungan dan keluar dari kamar.
Bagian 3
“--------Nomor yang anda tuju sedang sibuk atau tidak ada sinyal. Cobalah beberapa saat lagi-------“
“Kuh…………….”
Di depan gerbang SMA Raizen. Shidou menggertakkan giginya setelah mendengar pengumuman dari ponselnya.
Sekarang jam 9:30 pagi. Tentu ini masih jam pelajaran tapi, setelah diberitahu Origami akan pindah sekolah, Shidou tidak bisa berdiam diri dan meninggalkan sekolah lebih awal dengan pura-pura sakit.
Tohka terlihat khawatir tapi……………dia memutuskan untuk tinggal di sekolah sampai selesai. Dia pikir itu bukan ide bagus untuk membiarkan roh bertemu Origami dengan niatnya yang masih belum diketahui.
Dia mengingat kembali terakhir kali dia melihat Origami-----saat dia memakai unit DEM-CR. Dia menggenggam ponselnya yang berkali-kali memberikan hal yang sama.
Setelah diberitahu Origami akan pindah sekolah oleh wali kelas, dia mencoba menghubunginya beberapa kali tapi, tidak ada satupun yang tersambung.
Shidou memotong panggilannya dan memasukkan ponselnya ke kantongnya sebelum sedikit menghela nafas.
Penyesalan dan tak berdaya mengisi hatinya. Origami mengenakan perlengkapan DEM. Bahkan setelah melihatnya, suatu tempat di hati Shidou, dia pikir Origami masih akan sekolah seperti biasa. Dia tidak pernah berpikir harinya bersama Origami akan berakhir.
“Kuh---------“
Shidou mengangkat wajahnya dan mulai berlari.
Hanya ada satu tujuan, itu adalah mansion Origami. Dia tidak tahu apakah Origami masih ada di sana tapi………..bahkan jika dia tidak ada disana, dia mungkin sudah meninggalkan semacam petunjuk disana. Apapun alasannya, dia harus bergegas kesana.
“……………..*huff*…………..*huff*……….”
Shidou terus berlari tanpa memedulikan rasa sakit pada perut dan kakinya. Jika dia menyia-nyiakan waktunya maka, dia merasa Origami akan pergi ke tempat dimana tangannya tak dapat meraihnya.
Setelah berlari entah berapa lama, Shidou sampai ke mansion dimana Origami tinggal.
“Haaa…………haaa…………..”
Semua debaran jantung dan rasa lelah yang Shidou tahan sampai sekarang, menyerangnya tepat setelah dia menghentikan kakinya. Dia meletakkan tangannya pada lututnya untuk sesaat dan mengatur pernapasannya.
“Tolong ada disini……….Origami”
Setelah Shidou memasuki ruangan dengan perasaan seolah dia sedang berdoa, dia mengetik nomor kamar Origami di interkom.
Tapi----------tidak ada balasan berapa lamapun dia tunggu. Dia mengulanginya untuk kedua dan ketiga kalinya tapi, hasilnya tetap sama. Mungkin ruangannya sudah kosong……….atau dia mungkin mengabaikannya.
Selagi Shidou memikirkannya, perempuan yang sepertinya penghun mansion memasuki mansion lewat pintu masuk dengan tas belanja di tangannya.
“……………..*hmf*”
Setelah Shidou meninggalkan interkom, dia bertingkah seperti penghuni yang mengecek kotak suratnya dan menunjukkan pungunggnya pada wanita tersebut.
Perempuan itu kemudian mengetikkan kata sandinya dengan biasa dan memasuki mansion lewat pintu otomatis.
“………………….”
Melihatnya melakukan hal tersebut dengan sebelah matanya, Shidou menelan ludahnya sebelum menunggu perempuan itu pergi dan menyelinap melewati pintu otomatis saat pintu itu akan tertutup.
“Maaf, hanya untuk kali ini……….”
Selagi meminta maaf dengan suara lembut, Shidou berjalan ke koridor.
Dia kemudian naik ke lantai selanjutnya menggunakan eskalator dan sampai di kamar Origami.
“………….baiklah”
Setelah sedikit mengangguk, Shidou menekan interkom yang terpasang di sebelah pintu.
*pin pon* Dia dapat mendengar suara bergema dari dalam ruangan.
Tapi seperti yang diduga, tidak ada respon sama sekali. Selagi berpikir itu hal yang sia-sia, Shidou meletakkan tangannya pada gagang pintu.
“Hnn………..?”
Shidou mengangkat alisnya. Alasannya mudah. Dia tidak dapat merasakan perlawanan dari gagang pintu yang dia pikirkan saat memutar gagang pintunya.
“Pintunya…………..tidak terkunci?”
Kesadaran melewati pikirannya, Shidou merasa secercah harapan menyinari kepalanya. Setelah Shidou membulatkan tekadnya, dia memasukkan kekuatannya ke tangannya dan membuka pintu.
“Origami!”
Tapi.
Shidou langsung kehilangan secercah harapannya.
---oleh pemandangan ruangan kosong.
“A…..”
Setelah Shidou membuka lebar matanya, dia langsung melepas sepatunya dan memasuki ruangan. Walaupun dia ingin mencari di koridor, ruang utama dan kamar tidur……..sama saja. Lupakan perabotan, bukan saja pencegah maling ditinggal di sana walau sesuatu diletakkan dengan hati-hati disana. Dia bahkan mengira dia masuk ke kamar kosong yang salah.
“Apa-apaan ini……..”
Shidou meletakkan tangannya di kepalanya dan jatuh ke lantai.
Bukan berarti hasilnya tidak seperti yang dikiranya. Malahan, kemungkinan terburuk yang keluar terus melayang di kepalanya saat dia berlari ke sini setelah meninggalkan sekolah. Tapi, saat itu terjadi padanya, ini menyebabkan hal yang besar dan meremas dada Shidou.
“Kemana……kau pergi, Origami……..”
Tapi diam disini tidak ada gunanya. Shidou menggaruk kepalanya sebelum memberikan kekuatan pada kakinya dan berdiri dari lantai.
Dia kemudian menuju lokasi berikutnya.
Dia menuju ke tempat yang mungkin memiliki petunjuk tentang Origami------garisun JGSDF kota Tenguu.
Tentu saja, tempat itu jelas berbeda dengan mansion Origami. Itu adalah garison JGSDF yang vital untuk pertahanan negara; lebih lagi keberadaan AST itu rahasia. 8 atau 9 dari 10 kali, dia mungkin akan diseret pergi dari gerbang tanpa mereka mendengar apapun yang dia katakan.
Tapi, tidak ada lagi tempat yang melintas dalam pikirannya. Dia mulai bergerak ke depan seolah bergantung pada kemungkinan kecil tersebut.
Namun, walaupun dia sudah menentukan tempat yang akan dia tuju, Shidou menghentikan kakinya saat dia meninggalkan pintu masuk mansion.
Alasannya mudah. Satu perempuan ada di jalan yang mengarah ke pintu masuk mansion.
Dia adalah perempuan dengan rambut menyentuh bahunya, berkulit putih, dan tak berekspresi seperti boneka.
Ya.-------Itu adalah perempuan yang Shidou cari-cari, Tobiichi Origami.
“Origami!?”
Setelah Shidou memanggil namanya dengan suara yang keras, dia cepat-cepat lari ke arah Origami. Dia kemudian memegang kedua bahunya. Terlalu antusias………..itu juga alasan tapi dia merasa dia akan menghilang ke suatu tempat lagi jika dia tidak mengejarnya dengan benar.
“Dari mana saja kau!? Apa-apaan dengan pindah sekolah yang tiba-tiba! Ruanganmu juga kosong---“
“…………….”
Saat Shidou terus berbicara, Origami diam-diam mengangkat satu jarinya. Dia kemudian meletakkan jarinya pada bibir Shidou untuk menyela perkataannya dan kembali menatapnya.
Kemudian,
“-------Aku ingin berbicara berdua denganmu. Ikuti aku”
Setelah mengatakannya dengan nada tenang, Origami tidak menghentikan kakinya. Dia tidak berbalik dan terus berjalan.
“Kuh………..”
Setelah Shidou mendekatkan alisnya, dia sedikit memukul pipinya sebelum mengikuti Origami. Dia mencari Origami hanya untuk berbicara. Tidak apapun yang hilang.
Tapi, tidak peduli berapa lama mereka berjalan, Origami tidak berhenti. Dia terus berjalan ke gang kecil dan sekitarnya mulai kurang populasi.
“Hei……….Origami, kemana kita akan pergi?”
“Hampir sampai”
Origami mengatakannya tanpa melihat Shidou dan terus berjalan dengan diam.
“……………….”
Walaupun dia merasa ini aneh, dia hanya terus mengikutinya.
Dan saat itu----- dia terus berbelok entah berapa kali, selagi dia terus mengikuti Origami.
“Ah-re……….?”
Shidou membuka matanya dengan terkejut. Origami yang harus berbelok di sana beberapa saat yang lalu sudah tidak ada di sana.
“Origami? Dimana kita……….---------!?”
Langsung saja-----Shidou tersentak.
Tepat saat dia berpikir ada seseorang yang memegangnya erat dari belakang, sebuah sapu tangan menutupi mulut dan hidungnya.
“Apa-ini……….!”
Dia mengambil nafas dalam-dalam karena kejadian yang mendadak. Dan langsung saja, bau yang kuat menusuk hidungnya dan di saat yang bersamaan, perasaan seolah tanahnya berguncang menyerangnya.
“Uaa-------“
Pandangannya menjadi kacau dan kesadarannya menjadi samar. Berdiri pun menjadi tugas yang sulit dan-------Shidou pingsan ke tanah.



TL Note :
1 = referensi pada Jilid 8
2 = nama Ai terdengar seperti kata Ai (Cinta)
3 = Cinta
4 = Lesbian

Date A Live Jilid 10 Bab 1 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ilham Rizki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.