20 Februari 2016

Clockwork Planet Jilid 2 Bab 2 LN Bahasa Indonesia

Clockwork Planet
Bab 2
Searcher (18:10)

…Ngantuk.
Si anak berpikir begitu ketika kabut tebal turun menyelimutinya.
Dia tidak bisa memastikan dimana dia berada dan apa yang sedang dia lakukan. Situasi ini tidak berubah dalam waktu yang lama, dan selalu seperti ini, terutama akhir-akhir ini ketika situasinya semakin parah.
Hatinya terasa dingin dan sedih, seperti musim dingin yang membekukan segalanya.
Teka-teki, main kartu, menggambar, semua hal yang menarik di masa lalu terasa tidak menarik lagi. Sejak awal benda-benda tersebut memang tidak ada di sekitar sini. Dan oleh karena itu, membereskan benda-benda tersebut pun tidak menyenangkan juga.
…Ahh, anak itu berpikir.
Benar. Karena itulah saya selalu tidur disini.
Tidak ada yang perlu saya lakukan. Saya tidak tahu apa yang mau saya lakukan. Karena itulah mau tidak mau, saya hanya ingin tidur dan bermimpi.
—Saya mau pulang.
Si anak mendadak sedikit berpikir begitu.
Setelah dia mengingat kembali ingatannya, kepala yang sedikit pusing itu menjadi jernih.
Kamar yang disinari cahaya matahari yang lembut itu dipenuhi dengan mainan.
Ada teka-teki silang dan teka-teki simbol, beruang dengan pegas, papan catur yang terlipat, cermin yang bengkok dengan aneh, pipa organ yang bersuara ketika diputar terbalik, dan tongkat terbang yang berjalan menggunakan energi pegas.
Dia pasti akan diomeli oleh kakaknya jika dia membiarkan mainannya berantakan dan ketiduran karena perasaan yang sangat nyaman tersebut, tapi tentunya hal itu akan terasa sangat melegakan.
…Tapi ketika dia memikirkan hal itu lagi, pikirannya akan berkabut. Dia tidak bisa mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
Dimana tepatnya rumah yang dia dambakan…?
Matahari mulai terbenam, hampir menghilang di ujung ufuk.
Langit di ujung laut lepas secara bertahap berwarna lembayung, mewarnai planet logam ini dengan warna merah.
—Clockwork Planet.
Di dunia ini, yang dibuat kembali sepenuhnya oleh gir, umat manusia tinggal di kota-kota yang dibangun di atas gir-gir raksasa dengan diameter beberapa kilometer, atau bahkan lusinan kilometer. Gir-gir tersebut berputar dengan lambat, dan gigi gir tersebut menghubungkan kota-kota, menyebabkan equator spring menghasilkan energi raksasa yang akan diedarkan ke seluruh dunia.
Diantara jutaan gir-gir kota, ada satu gir khusus.
Grid Kyoto di titik ini akan bertemu dengan gir kota tetangga, Grid Mie.
Girnya berukuran kolosal dimana ujung satunya tidak kelihatan.
Banyak lubang yang bertebaran di gir tersebut, setiap lubang tersebut memiliki diameter sekitar 10 meter, dan berjajar bersama dengan rapi seperti sarang lebah.
Tentu saja, gir yang saling bertautan lainnya juga memiliki lubang yang mirip.
Gir kota raksasa itu pelan-pelan bertautan dan ketika kedua lubang itu bertemu, kedua gir mengeluarkan suara dentuman.
Suara ledakan yang tajam dan melengking bergema, suara yang mirip dengan suara ribuan meriam yang ditembakkan secara serentak.
Suara dentuman ini terus bergema selama beberapa saat, seolah-olah ingin menghancurkan gir tersebut, dan menghilang seketika ketika gir tersebut berputar tanpa bertautan lagi.
—Inilah yang disebut kereta silinder, metode transportasi antar kotaPemandangan yang disebut ‘transit’.
Ketika gir kota saling bertautan, ‘stasiun yang terhubung’ akan menembakkan silinder besar berisi penumpang dan kargo, memungkinkan pertukaran serentak.
Silinder raksasa itu kemudian berhenti di ‘peron’, dimana mereka akan digolongkan berdasarkan berbagai macam fungsi kargo di dalam kota tersebut…
Di dalam sebuah kota, orang bisa melihat mobil dan bus bertenaga pegas dan taksi tak berawak yang berkeliaran, tapi kota itu akan terus berputar tanpa terkecuali, dan tidak ada jalan permanen yang menghubungkan satu kota dengan kota lainnya.
Oleh karena itu, diperlukan sebuah metode transportasi unik seperti itu. Namun,

“…Tunggu, Naoto. Kau kelihatan hampir mati. Kau baik-baik saja?”
Marie, yang baru turun dari silinder khusus penumpang di ‘peron’, kedengaran sangat heran ketika dia memanggil Naoto, yang berjalan seperti seorang zombie.
“Diam…aku mau tanya kenapa kalian baik-baik saja…kepalaku masih terasa berputar-putar.”
Naoto menjawab dengan pedas ketika dia merintih dan menekan headphone-nya.
Silinder khusus penumpang memiliki konstruksi kedap suara, dan headphone Naoto sendiri juga memiliki fungsi kedap suara, tapi sepertinya suara yang berasal dari ‘transit’ membuatnya sangat tidak nyaman.
“…Orang biasa sepertiku sungguh gak bisa membayangkan apa yang sebenarnya didengar oleh orang mesum yang bahkan bisa mendengar gelombang elektromagnetik tadi. Kayaknya telingamu itu membuat kehidupan sehari-harimu susah, ya?”
RyuZU terus merawat Naoto yang sedang pusing, dan biarpun kehadirannya biasa saja, dia bicara dengan nada mencekam.
“Tadi itu sungguh metode transportasi yang tidak ada seninya sama sekali. Biarpun metode itu tentunya cocok untuk memindahkan kargo dan organismtingkat rendah, kalian tidak tahu caranya menyiapkan kursi untuk orang elit, dan memaksa Master Naoto menderita seperti ini. Barangkali kalian tidak tahu istilah bebas hambatan?”
“Gimana bisa ada satu kursi khusus buat satu-satunya super mesum di dunia ini?”
Marie menggumam dingin, dan Halter kemudian meminta maaf dan melanjutkan,
“Maaf, tapi aku nggak memikirkan hal itu sebelumnya. Awalnya kupikir terbang ke kota sebelah itu konyol, dan nggak mengira kalau hal seperti ini akan terjadi.”
Naoto mengumpat, dan menggelengkan kepalanya dengan limbung dan berkata,
“…Ahh, yah, aku lupa. Guncangan mendadak tadi membuatku ingat kalau aku pernah sekali memakai benda ini saat aku masih kecil, dan saat itu, aku syok karena suara ini. kayaknya trauma yang kurasakan sangat hebat sampai-sampai aku menghapus kejadian itu dari ingatanku begitu saja…sial.”
“Aku sungguh minta maaf untuk hal itu. Aku akan siapkan transportasi udara ketika kita kembali.”
RyuZU terus membantu Naoto yang sempoyongan, dan kuartet itu berjalan pergi.
Metode transportasi ini berjalan beberapa kali sehari, dan dalam sekali jalan memindahkan penumpang dan kargo dalam jumlah besar, dan oleh karena itu, terminalnya dipenuhi aliran kerumunan yang bergerak pergi maupun datang.
Di depan mereka adalah Grid Mie.
Dari ‘stasiun yang terhubung’ di permukaan, orang bisa pergi menuju Link Rail yang merupakan tranportasi kunci kota ini, atau menggunakan taksi tak berawak yang mengantri menunggu penumpang.
Untuk saat ini mereka menghindari kerumunan, dan bergerak menuju ruang istirahat di samping pintu masuk. Marie sedang mengatupkan tangannya dengan santai di bawah dagunya.
“Pokoknya—bajingan masokis sialan yang menunggu cambukan dariku itu ada di kota ini, kan?”
Kukuku. Dan ketika Marie mengeluarkan suara gelak yang jahat, Halter menatap tuannya itu dengan sebelah mata sambil berkata,
“Ah, kurasa aku tidak perlu mengingatkan anda, Milady, tapi kita hanya punya perkiraan kasar mengenai tempat ini, kita belum memastikan lokasi tepatnya.”
“Apa kau menganggapku idiot, Halter? Menggunakan data cuaca ketika waktu perkiraan pesan tersebut dikirim, dan jumlah putaran gir kota ini, perhitungan berulangku telah mempersempit radiusnya menjadi 500 meter. Data aslinya kurang jelas, jadi aku tidak bisa mempersempitnya lagi, tapi jika aku membandingkannya dengan intel lokal, aku bisa mempersempitnya lagi. Kesenanganku hampir dimulai. Fufufu…”
Ketika melihat Marie yang sedang menyeringai jahat dengan angkuh begitu, Naoto, yang duduk di hadapannya, ternganga sambil berkata,
“…Gadis ini bisa senekat apa hanya demi satu pesan iseng?”
“Mengesampingkan kenyataan kalau dia tidak bisa membiarkan fitnah khayalan atau fitnah orang tolol, menurut hamba, lebih tepatnya, dia kurang percaya diri.Kecuali anda, Master Naoto, hamba rasa terganggu oleh kata-kata seperti itu adalah reaksi normal bagi seseorang seperti Master Marie karena dia sangat sadar diri. Zaman dahulu ada seorang Aesop[1] yang bijak kan? Pertengkaran itu hanya akan terjadi antara orang-orang degan tingkatan yang sama.”
RyuZu menyatakan begitu dengan dingin dan senyuman, tapi Marie hanya mendengus saja.
Marie menutup matanya seperti sedang menyindir, melipat lengannya, dan mengibaskan telunjuknya sambil berkata,
“Kelihatannya kau salah paham, RyuZU. Aku sudah terbiasa dengan rasa iri, cemburu dan fitnah rakyat jelata.”
“…Kalau begitu, apa yang membuatmu sangat marah?”
Naoto kelihatannya telah merasa baikan, dan dia duduk tegak dengan mata yang setengah tertutup
“Marah? Aku? Hahaha, lelucon yang bagus. Membuatku marah itu tidak semudah itu, tahu? Benar, sungguh. Aku tidak marah. Aku tidak marah.”
Marie mengarahkan pandangannya dengan seksama pada Naoto dan melengkungkan bibirnya.
“Aku hanya mengikuti apa yang dikatakan kakakku. Jika seorang gadis terhormat dilecehkan, kejar orang itu dengan senyuman di wajahmu, buru orang itu sampai ujung dunia dengan elegan, dan tampar orang itu sampai dia menangis.”
“…Aku sungguh tidak mau melihat kakak perempuan seperti itu selama aku hidup.”
Dengan matanya yang setengah tertutup, Naoto mengeluarkan kata-kata itu dari lubuk hatinya sambil menghela napas.
—Grid Mie.
Naoto lahir dan dibesarkan di kota sebelah, tapi, ini adalah kali pertama dia mengunjungi Mie.
Pada awalnya, pergi ke kota lain itu sendiri bukanlah sesuatu yang menyenangkan, dan banyak orang yang tidak pernah meninggalkan kota kelahiran mereka sejak mereka lahir.
Namun, mengesampingkan hal itu, Naoto menyatakan pikiran awalnya mengenai Grid Mie.
“…Panas…kenapa sangat panas?”
Saat ini matahari telah terbenam, dan hari menjelang malam.
Tapi biarpun begitu, cuacanya sangat panas sampai-sampai berdiri di bawah naungan sudah cukup untuk membuat keringat Naoto bercucuran.
“Itu karena Grid Shiga di dekat sini telah dihapus sejak lama.”
Marie menjawab dengan singkat sambil berjalan maju. Mereka pergi menuju kereta bertenagan pegas, yang mengelilingi kota, stasiun Link Rail yang terletak di salah satu ujung terminal.
Naoto mengikutinya dari belakang dan bertanya,
“Seperti yang terjadi di Kyoto…?”
“……Apa yang sebenarnya kau pelajari di sekolah? Gak aneh kau gagal terus dalam ujian.”
Marie menghela napasnya dalam-dalam, dan menggelengkan kepalanya.
“Memang benar kalau dalam jangka panjang…menghapus gir-gir kota pasti akan merusak planet ini. Namun, jika malfungsi kota sampai di titik yang tidak bisa diperbaiki lagi, malfungsi tersebut akan mempengaruhi seluruh planet jika kota tersebut dibiarkan saja. Hal pertama yang harus dilakukan adalah ‘Triage’ untuk mencegah kerusakannya menyebar, dan itulah penghapusan. Biasanya, ada prosedur formal yang harus diikuti untuk mengkalkulasi dan mengevaluasi dengan hati-hati. Orang-orang yang kehilangan rumahnya harus dibantu dengan baik.”
Marie mengoceh panjang lebar, dan akhirnya kelihatan tidak kuat lagi ketika dia mengipasi dirinya sendiri dengan tangan kanannya.
“…Panas banget. Mataharinya sudah terbenam, tapi udara panasnya masih terasa…”
“Tapi, cuaca disini masih lebih baik dari Siberia.”
Halter, yang telah diubah menjadi cyborg, bergumam sambil bertingkah seakan itu bukan urusannya.
Setelah mendengar perkataan Halter, RyuZU yang terkejut sedikit memiringkan kepalanya ketika ia bicara,
“Aneh sekali. Sejauh yang saya ingat, Siberia adalah daerah es.
“Selama fungsimu berhenti, 8 Juni, 42 tahun lalu, Grid Neryugri.
Marie menjawab singkat. Dan Halter, yang mengikuti di belakang mereka, menambahkan,
“Grid-grid di selatan Siberia mengalami malfungsi. Grid itu awalnya adalah daerah tak berpenghuni, dan tidak dihapus tepat waktu, sehingga, daerah sekitarnya menjadi daerah yang sangat panas. Daratan es mencair, dan danau Baikal meluap sampai-sampai membanjiri kawasan sekitarnya…hal itu mempengaruhi seluruh Asia Timur Laut. Sekarang daerah itu menjadi salah satu tempat wisata turis primer di dunia, dan bisa dibilang menjadi ramai.”
Manusia memang makhluk yang benar-benar bersemangat, Halter membuat lelucon sindiran.
Marie menyeka keringat di wajahnya dan melanjutkan kata-katanya,
“Yah, inilah sebuah contoh tentang apa yang terjadi jika kau ragu melakukan penghapusan dan membiarkannya saja. Karena itu penghapusan adalah sesuatu yang harus dilakukan, tapi hanya pada situasi dimana metode itu adalah ‘pilihan terakhir’…”
Tapi, Marie bertanya-tanya.
Inilah dasar dari teror sebenarnya mengenai Clockwork Planet, konstruksi yang benar-benar tidak masuk akal yang dibangun oleh ‘Y’.
Pada dasarnya, tidak ada satu mesin pun yang bisa bekerja jika kehilangan suku cadangnya.
Karena planet ini adalah sebuah struktur mesin jam yang rumit, berapapun ukuran suku cadang yang hilang, baik itu gir, silinder, pegas, maupun kabel, struktur ini akan hancur seketika.
Tapi planet ini melawan pemikiran logis itu.
Seakan-akan keadaan sulit itu telah diperkirakan sebelumnya, dan bahkan jika gir-gir yang rusak itu berukuran seluas sebuah kota, kota lainnya akan terus berjalan, seolah-olah menutupi kekurangan apapun yang timbul.
Konektivitas dan keterkaitannya sangat amat rumit. Sebuah penghapusan sendiri kadang-kadang mempengaruhi kota-kota yang berjarak 4.000 km.
Oleh karena itu, tentu saja sebuah ‘penghapusan’ membutuhkan izin pemerintah, dan juga persetujuan organisasi-organisasi internasional serta kota-kota di sekitarnya.
Karena seperti apa yang istilah itu implikasikan, metode itu adalah ‘pilihan terakhir’ yang berpotensi membahayakan dunia ini.
Tentu saja, ketika berpikir begini, Marie mengepalkan tinjunya, dan menggigit bibirnya.
“Menghentikan insiden seperti itu adalah misi kita sebagai teknisi mesin jam—ya?”
Marie mengeluarkan suara skeptis sambil memiringkan kepalanya.
Tanpa disadari olehnya, dua orang telah menghilang, dan ketika dia membalikkan badannya, dia melihat Halter sedang berdiri di sana dan menggaruk kepalanya.
Marie cemberut, dan bertanya pada Halter,
“…Dimana dua orang itu?”
“Ah, bagaimana aku mengatakannya…?”
Halter mengarahkan jarinya, dan Marie menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Halter.
Orang yang sedang berdiri disana adalah,
“Hmm!!? Pakaian renang yang cocok buat RyuZU—ugh, sulit juga!”
Orang tolol itu bergumam sambil tersenyum lebar ketika dia berdiri di depan manekin yang ada di etalase sebuah toko.
“Yang ini…bukan, yang ini—tapi desain pakaian renangnya kelihatan kalah kelas saat dibandingkan dengan kualitas RyuZU sendiri.”
“Hamba rasa begitu—pada awalnya pakaian renang didesain bagi mereka yang merasa kalau ukuran tubuhnya kurang sempurna, dan berfungsi untuk menghias mereka yang memiliki tubuh yang cukup menyedihkan. Mungkin akan sangat sulit untuk mendapat sesuatu yang cocok dengan makhluk sempurna seperti hamba.”



“Kau benar sekali! Kayaknya pergi ke toko pakaian khusus automata itu memang lebih baik, kanTidak, kurasa lebih baik untuk memesan pakaian yang cocok untukmu, RyuZU—!?”
“Kau kira kita punya waktu untuk itu, dasar idiot!?”
Marie mencengkeram kerah Naoto, suaranya terdengar dingin sampai titik di bawah 0°C .
“Besok hari minggu. Setelah urusanku selesai, silakan pergi dan berpegangan tangan dengan automata itu ke laut atau gunung semaumu. Sekarang ayo pergi.”
“Ahhh…RyuZU! Aku mau memikirkannya di kereta! Ambil pamfletnya!”
“Dimengerti, Master Naoto.”
Dengan suara deritan logam yang menyegarkan, kereta cincin itu melaju melalui perimeter kota ini dalam gelap malam.
Naoto bergumam ketika melihat keluar jendela di gerbong pertama,
“Tapi sungguh, kota ini merusak pemandangan…”
Kereta cincin itu melaju menggunakan kereta gir yang saling bertautan.
Dalam hal koordinat planet, kecepatan kereta itu hanya 80 km per jam.
Tapi karena kereta itu melaju berlawanan dengan putaran kota tersebut, kecepatan relatifnya menjadi 140 km.
Pemandangan yang terlihat di luar adalah gedung, gedung dan lebih banyak gedung dengan gir yang kelihatan. Ada sebuah taman yang kelihatan, tapi taman tersebut pun terkubur diantara jalanan kelabu yang diterangi gir cahaya.
“Yah, sudah kuduga kalau Mie akan kalah jika dibandingkan dengan Kyoto.”
Marie tidak kelihatan tergerak atau semacamnya saat dia menjawab,
“Kyoto adalah salah satu dari sedikit kota tamasya yang tersisa di dunia dengan banyak warisan dunia yang dilestarikan. Pada dasarnya Mie adalah kota industri, jadi pada dasarnya beginilah pemandangannya.”
Naoto mengejapkan matanya ketika dia menatap Marie.
“Marie, kau lebih familiar mengenai Jepang daripada aku, orang Jepang sendiri?”
“Kau lupa kalau aku ini eks Meister? Bagiku Geografi Dunia adalah pengetahuan dasar. Harusnya aku yang bertanya padamu mengenai kota tetanggamu ini…”
Marie menyalak keheranan sambil ganti mengangkat kaki satunya.
Dia melirik keluar jendela dan bergumam,
“Katanya dulu ada lebih banyak pelestarian alam. Juga ada ‘Empat Musim’.”
“Empat musim?”
“Musim semi, Musim panas, Musim gugur, Musim dingin—negara ini dulunya panas ketika Musim panas, dan dingin ketika Musim dingin.”
Halter menjawab.
Naoto terperangah dan memiringkan kepalanya dengan ragu. Ini kali pertama dia mendengar sesuatu seperti itu.
“Apa itu? Sesuatu yang terjadi 1000 tahun lalu?”
“—Bukan, Master Naoto. Pergantian musim tidak menghilang sekaligus saat hamba mengalami malfungsi 200 tahun lalu. Di masa lalu Clockwork Planet akan mengatur temperatur untuk ‘sepenuhnya meniru’ Bumi asli…tapi kelihatannya itu telah berubah seluruhnya.”
Jarang sekali bagi RyuZU untuk menjawab tanpa sindiran sedikitpun.
Matanya menatap keluar jendela, tapi kelihatan seolah-olah sedang melihat sesuatu yang lain.
“…Benar. Planet ini sudah hampir mencapai batasnya, dalam banyak cara, ya?”
Marie memejamkan mata melankolisnya sambil mengangguk.
Kesunyian menyelimuti mereka.
Naoto tidak paham apa maksudnya, tapi dia ragu untuk bertanya, dan pada akhirnya, hanya bisa menatap ke arah pamflet pakaian renang dengan tenang.
—Dan, beberapa menit berlalu saat kelompok itu menaiki kereta cincin.
Kemudian mereka turun di stasiun di ujung berlawanan dari ‘Stasiun yang Terhubung’ ketika mereka datang, kedua stasiun itu dipisahkan oleh Menara Inti.
Apa yang menggantung di atas kelompok yang turun dari kereta itu adalah langit berbintang, cahaya rembulan, dan siluet equatorial spring yang membelah langit malam.
“…”
Ketika Naoto mendongak ke langit, Marie menunjukkan senyuman jahat di sampingnya.
“Kalau begitu, melihat koordinatnya, kukira samsak tinjuku ada di sekitar sini.”
Milady, tamparan khas anda telah naik tingkat.”
Halter berkomentar pedas dengan wajah kosong, tapi Marie mengabaikannya.
“Sekarang, Tuan Navigator Berjalan, apa kau keberatan menyelidiki lokasi tepatnya makhluk ini—hei!?”
Tapi Naoto mengabaikan obrolan ini.
Naoto terus menatap ke arah ruang kosong tanpa bicara apapun sambil berjalan menuju pintu keluar peron.
Dan RyuZU mengikutinya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
“T-tunggu sebentar, Naoto! Aku tidak bisa mencari dimana model uji kecelakaan itu tanpa dirimu!?”
“Jadi apa yang anda rencanakan telah naik tingkat melebihi hanya membuatnya babak belur…?”
Marie dan Halter tertinggal, dan mereka juga mengejar dengan kalut.
Mereka melewati loket tiket, dan setelah mereka melewatinya, mereka akan sampai di distrik perdagangan yang terletak di depan kompleks industri.
Naoto, yang pertama keluar dari stasiun, mematung di tempat dan kelihatan seolah-olah sedang mememandang ke langit.
Dan Marie memanggilnya dari belakang.
“Tunggu, Naoto. Apa yang terjadi disini?”
“Diam.”
“Kau—”
Respons dingin Naoto menyebabkan Marie bicara keras tanpa berpikir lagi.
“Master Marie, apa anda keberatan untuk tetap diam selama beberapa saat?”
Setelah mendengar kata-kata tajam RyuZU dari samping, Marie sedikit mengangguk.
Dia kemudian menoleh ke arah Naoto.
Orang itu masih memunggunginya sambil menatap kosong ke langit.
Marie mengenali punggung ini.
Punggung itu adalah punggung orang yang memecahkan jumlah gir di Menara Inti yang praktis tidak terhingga dan membuat keajaiban.
Mata kelabu yang menatap ke langit itu dapat melihat ‘sesuatu tertentu’ yang tidak bisa dilihat Marie.
—Naoto membersihkan telinganya untuk mendengarkan dengan penuh perhatian.
Marie tidak paham kenapa dia melakukan hal itu.
Dia sudah tidak bisa memahami dunia yang dirasakan Naoto.
Tapi karena Naoto sengaja berbuat begitu, artinya ada sesuatu yang tidak pernah dia sadari.
…Keringat mengucur dari dahi Marie.
Pertautan gir-gir tidak terdengar sekeras sebelumnya, barangkali karena area ini area yang ramai. Jalanannya relatif bersih dan berbau udara yang panas dan lembab.
Mungkin ini yang bisa dirasakan Marie.
Barangkali Naoto dapat mendengar lebih banyak lagi, dan setelah diam sejenak, dia akhirnya bicara.
Dia berkata,
“—Aku tidak bisa dengar apapun.”
……
“A-apa yang kau bicarakan—?”
Marie hampir jatuh berguling-guling karena kejutan mendadak ini.
Tapi Naoto terus menatap ke kedalaman jalanan yang sibuk dan kompleks industri yang hampir tidak bisa ia lihat.
Dan Halter tiba-tiba bicara,
“—Sekarang jam berapa?”
“Eh?”
Seluruh kelompok itu berpaling pada Halter, termasuk Marie.
“Jam. Jam berapa sekarang? Kurasa sekitar jam 7 malam…”
“Meninjau Waktu Standar Kansai Jepang, sekarang jam 18:58:23—begitu ya, memang sangat aneh.
Setelah mendengar jawaban RyuZU “Apa maksudnya”, Marie hampir bertanya begitu, hanya untuk tutup mulut.
Dia kemudian menyadarinya.
Dia melihat ke sekeliling dengan kalut, dan sebelum dia mengatakan apa yang dia sadari, Halter bicara, 
“—Terlalu sepi, kan?”
Jam 7 malam, di depan stasiun.
Matahari telah terbenam penuh, dan cahaya dari gir cahaya menyinari sekeliling.
Jalan yang lebar itu tidak berangin, udara lembab dan panas banyak berkumpul, dan hanya panas dari jalanan yang bertiup dan terasa oleh kulit kuartet yang tetap diam itu.
Suasananya sangat panas, tapi Marie malah menggigil.
Tidak ada orang lewat yang kelihatan, dan toko-toko yang terbuka tidak berpenghuni.
Toko-toko yang beroperasi itu kelihatan sedikit tua, tetapi bagian luarnya kelihatan sedikit memiliki desain mewah. Biarpun shutter toko-toko tersebut dinaikkan, tidak kelihatan ada pembeli. Ada sebuah bangunan di perempatan jalan tersebut, barangkali sebuah pos polisi, tapi tidak kelihatan ada orang.
Jalanan sibuk yang kosong—bagaimana dia tidak menyadari paradoks ini?
Tidak ada yang lebih misterius selain tempat ini.
Pada dasarnya tempat ini adalah,
“Kota hantu…”
Marie tercengang sambil bergumam dengan erangan.
Di pinggiran kompleks industri berat Grid Mie, ada sebuah menara tinggi yang memberikan pemandangan seluruh Grid Mie.
Menara itu adalah sebuah menara pengawas yang dibangun di sebuah bukit, di tengah-tengah jalan setapak.
Matahari telah terbenam, dan tempat ini, yang bebas dari keberadaan manusia, hanya ditempati oleh 4 buah bayangan.
Salah satu dari mereka, Naoto, sedang menyandarkan tubuhnya di pagar, dan menyipitkan matanya sambil berkonsentrasi.
Pemandangan luas yang bisa dia lihat adalah kompleks industri ketika malam hari, yang terkubur oleh banyak sekali gir-gir cahaya.
Kumpulan logam yang kompleks ini mirip seperti sebuah organ yang dibuat menggunakan mesin yang tidak diketahui. Terasa sedikit menakutkan, tapi pemandangan ini menarik, elok, megah dan mendebarkan hati.
…Namun.
“Aku memang tidak bisa dengar apapun.”
Naoto berkata begitu dengan suara pelan tapi dapat didengar.
“Aku tidak bisa mendengar apapun. Menara jam ini telah berhenti—seakan-akan menara ini telah kosong seluruhnya.”
Udara di sekitar mereka mendadak terasa berat.
Suara Marie tersangkut di tenggorokannya, dan seolah-olah mau memastikan hal ini, dia berkata,
“…Apa kau tahu apa yang sedang kau katakan?”
Suara itu terdengar bergetar dan kering.
Menara Jam itu telah berhenti.
Kata-katanya tidak banyak dan tajam, tapi situasi ganjil macam apa ini tepatnya?
Itu bukan hanya kasus fungsionalitas yang menurun dan menyebabkan beban tambahan pada Menara Jam lainnya. Jika Menara Inti adalah otak sebuah kota, maka Menara Jam tentunya adalah organ vitalnya. Mereka adalah tali kehidupan bagi fungsi-fungsi kota, sampai di titik dimana tidak ada gunanya menukar satupun menara tersebut.
Sebagai contoh, tubuh manusia tidak bisa menjalankan fungsi vitalnya jika kehilangan satupun organ.
Sebagai eks Meister yang ikut andil dalam banyak perawatan kota, Marie pastinya dapat membayangkan apa yang akan terjadi.
Naoto menolehkan kepalanya ke belakang, dan melihat wajah Marie yang sangat amat ketakutan seolah-olah wajahnya tidak dialiri darah.
“Karena itulah, ini bukan lagi di tingkat ‘abnormal’. Seluruh jalan ini telah...
Marie terkesiap
“Mati, begitulah.”
“!!”
Setetes keringat mengucur dari pipi Naoto. Bukan karena panas yang mengepul, dan anggota tubuhnya, yang sedikit gemetar, jelas mengindikasikan begitu.
Di tengah-tengah keheningan ini, RyuZU menyipitkan matanya dengan tajam sambil berkata.
“Begitu ya. Jadi inilah alasan kenapa ’tidak ada angin’ di jalanan ini.”
Dengan ujaran ini, Marie dan Halter membelalakkan mata mereka.
Saat ini, kompleks industri di depan mata mereka harusnya sedang berhadapan dengan sesuatu yang disebut ‘laut’.
Oleh karena itu, tidak ada angin itu tidak mungkin. Namun meskipun begitu, tidak ada sedikitpun angin yang bertiup di menara pengawas ini.
“…Ini sungguh bukan sesuatu sesederhana itu.”
Halter bergumam seperti mengerang.
Firasat buruk muncul di dalam dirinya ketika dia menghela napas.
Dia memang merasa kalau ada yang tidak beres sebelum mereka berangkat, dan firasat ini berubah menjadi kenyataan yang mengerikan.
Dia memalingkan pandangannya ke arah Marie yang terdiam di sebelahnya, dan berkata,
Milady, kurasa akan lebih baik kalau kita menganalisis transmisi itu, tahu?”
“Eh?”
“Biasanya, aku tidak akan bicara apapun jika anda punya keluhan apapun, Milady, tapi karena situasinya telah memburuk, kurasa situasinya telah berubah, kan?”
“…Apa yang terjadi?”
Halter sedikit mengangguk, meletakkan tangannya di dahi, dan menghela napas.
“Pertama-tama…premisnya adalah lingkup transmisi gelombang mikro itu tidak luas.”
“Aku sudah tahu itu. Dengan kata lain, orang itu—”
Marie menghentikan kata-katanya.
Wajah Marie secara bertahap menjadi kelihatan memahami sesuatu, dan Halter sedikit mengangguk.
Dia mengingat kembali pesan ejekan yang dia terima.
Pesan kaleng yang sengaja dikirim menggunakan gelombang mikro, teknologi kuno di era ini.
Jika dia menenangkan diri dan memikirkan hal itu, ada terlalu banyak poin meragukan dalam pesan tersebut.
Marie mengerang, menjilat bibirnya dan berkata,
“Jika pesan itu memang dikirim untukku, orang yang dapat melakukannya—perlu beberapa syarat.”
“Begitulah. Salah satunya jelas tentang anda yang masih hidup dan tinggal di Kyoto, Milady. Yang satunya…”
“Orang yang dapat menerima pesan ini—dengan kata lain, orang yang tahu kalau kau sedang bersamaku, Halter.”
Marie melanjutkan kata-kata Halter, dan mengangguk.
Dan dengan percakapan dua orang tersebut, Naoto kelihatannya menyadari sesuatu dan bicara,
“Ah, aku mengerti, paman. Kau dulu bilang kalau orang-orang yang melakukan ‘tugas spesial’ itu juga menggunakan transmisi nirkabel kan?”
“Sebenarnya itu bukan perlengkapan standar, tapi…”
Halter tersenyum kecut sambil mengangguk.
“Memiliki fungsi seperti itu dalam organ prostetik cyborg yang berurusan dalam aktifitas ilegal—unik itu tidak jarang. Aku juga memiliki fungsi itu, dan banyak tentara atau agen penyusup yang memilikinya juga.”
Dan juga, Halter merenung.
Jika orang itu menggunakan organ prostetik seperti itu, tidak aneh bagi orang itu untuk memiliki informasi tentang mereka.
—Marie Bell Breguet tewas, dan teroris yang membocorkan informasi itu masih buron.
Tapi pernyataan itu hanyalah pernyataan ofisial di permukaan saja.
Bagi para sindikat informasi, contohnya biro informasi dari 5 Perusahaan, lokasi dan identitas Marie dan Halter saat ini pada dasarnya adalah rahasia yang terbuka.
Sehingga, tentu saja, Halter melanjutkan kata-katanya.
“Aku tidak bilang kalau peluang pesan itu cuma pesan kaleng itu nol. Mungkin pesan itu adalah transmisi yang dikirimkan ke semua arah berkali-kali, dan mungkin penerima pesan itu aslinya bukan Marie. Namun, melihat situasinya saat ini, kita lupakan saja masalah ini untuk saat ini dan kembali ke awal lagi.”
“Dengan kata lain, kenapa pengirim pesan ini memutuskan menggunakan gelombang elektromagnetik, ya?”
Marie mengangguk dan merenung.
Untuk saat ini, mereka akan menghapus semua petunjuk yang telah mereka ketahui, termasuk apakah Halter menerima pesan ini secara kebetulan.
Menggunakan gelombang elektromagnetik tanpa izin itu sendiri sudah menjadi dosa besar.
Terlalu beresiko untuk mengirimkan pesan kaleng yang mungkin tidak akan sampai tujuan.
Marie menyatukan tangannya, dan menyangga dagu kecilnya.
Dan, hal pertama yang dia pikirkan adalah—
“…‘Jebakan’?”
“Kalau itu benar, kondisinya kurang beberapa hal.”
Halter dengan segera menyangkal hal itu, dan menoleh pada Naoto.
“Peluang pesan ini cuma iseng belaka itu lebih tinggi, tapi birapun kita memang dipancing, kita tidak mungkin bisa melacaknya tanpa Naoto disini.”
“…Dengan kata lain, dia tidak punya cukup intel untuk memancing kita datang.”
“Sebelum itu, Anda sendiri yang mengamuk dan terpancing pesan itu, kanMilady—maafkan saya. Tolong lanjutkan.”
Halter bergumam, hanya untuk menghentikan kata-katanya ketika Marie memberinya pelototan kotor.
“Kalau itu benar…pesan itu barangkali sebuah ‘peringatan’. Atau malah.”
“Sebuah ‘pemberitahuan’? Itu tidak memberi alasan kenapa dia menggunakan transmisi gelombang mikro.”
Halter mengangkat bahunya.
Pesan macam apapun itu, akan tidak berguna jika pesan tersebut tidak sampai ke tujuan.
Sampai-sampai si pengirim mengambil resiko yang tidak perlu, pastinya ada alasan kenapa dia menggunakan transmisi elektromagnet.
Bagaimana kalau?, Marie mengangkat wajahnya.
“Mungkin ada peluang kalau transmisi elektromagnet itu sendiri adalah pesannya.”
“Itu terlalu tidak langsung, kan? Mengatakannya langsung akan lebih baik, atau mungkin mengubahnya menjadi kode.”
“Tapi bagaimana jika…dia terpaksa melakukan ini?”
“Menggunakan transmisi elektromagnetik daripada transmisi gir di era ini? Kira-kira dia dalam situasi macam apa…?”
Halter mengerang sambil menghela napas.
Dan, Naoto, yang tidak berbicara sampai titik ini, tiba-tiba mengangkat tangannya.
Dengan seulas senyum, dia bicara dalam sekali napas.
“Aku paham. Misterinya telah tepecahkan sekarang!”
“…”
Marie dan Halter memberi pandangan yang meragukan untuk merespons kata-kata Naoto.
Dan dengan ditatapi pandangan seperti itu, Naoto kelihatan sangat amat serius ketika dia bergumam,
“Apa-apaan reaksi dingin ini?”
“Tidak, itu karena…”
Halter mengalihkan pandangannya dengan ragu, dan Marie menghela napas dan berkata,
“Apa yang mau kau katakan? Bicaralah.”
Marie menyuruhnya untuk melanjutkan kata-katanya dengan suara tidak percaya.
Naoto mengangguk dan bicara dengan angkuh dan percaya diri,
“Dengan kata lain—ada peluang kalau sebuah seri Initial-Y ada disini, kan?”
……
Marie menutup matanya untuk merenungkan kata-kata Naoto, dia mengulang-ulang kata-kata tersebut.
“—Erm, yah.”
“Apa?”
Dengan senyuman lembut seorang anak TK, Marie bicara pada Naoto yang sedang percaya diri.
“Keduanya tidak berhubungan, tahu? Aku sudah mulai merasa begini ketika aku pertama bertemu denganmu, tapi sekarang aku benar-benar tidak percaya ini, tahu? Tidak masalah, kurasa kau akan baik-baik saja setelah minum beberapa obat…atau sedikit lebih baik, mungkin.”
“Bukan begitu, dengarkan dulu. Kau akan mengerti jika kau memikirkannya dengan biasa.”
Mata Naoto setengah tertutup ketika dia bergumam, dan Marie menghela napas,
“Benarkah? Aku sungguh tidak tahu darimana kau dapat menyimpulkan begitu.”
“—Hamba mengerti. Jadi memang begitu.”
RyuZU tiba-tiba memotong obrolan mereka.
“Si pengirim mencoba mengirim beberapa informasi, tetapi dia tidak bisa melakukannya dengan baik dalam situasi itu. Jika kita berasumsi kalau situasinya memang begitu—peluang seperti itu memang ada.”
Marie cemberut dengan skeptis.
Kenapa dia juga bilang begitu? Marie bertanya-tanya. Ocehan mendadak Naoto bukanlah sesuatu yang baru terjadi saat ini, tapi harusnya RyuZU sendiri setidaknya punya sedikit akal sehat dalam pikirannya, mengecualikan kenyataan kalau dia memiliki fungsi swear filter yang menggelikan itu.
Dan, Halter membuka mulutnya, seolah-olah menyatakan keraguan Marie,
“…Aku benar-benar minta maaf, Missy. Aku ini bodoh, jadi aku tidak paham apa yang baru kau katakan…”
“Ya, mungkin itu memang benar, tapi anda tidak perlu merasa putus asa mengenai hal itu. Kesadaran diri anda sendiri membuat anda mirip seperti Pak Logam Busuk yang peringkatnya lebih tinggi dari mitokondria.”
RyuZU menyimpulkan itu dengan serius dan menyipitkan matanya.

“Si pengirim ini mungkin telah bertemu dengan adik perempuan saya.”

—Eh? Dan semua yang ada disana memalingkan pandangannya pada RyuZU.
“Tadi anda sudah bilang kan? ‘Memiliki fungsi seperti itu di organ prostetik cyborg yang berurusan dalam aktifitas ilegal—unik itu tidak jarang’. Si pengirim mungkin terpaksa menggunakan transmisi gelombang mikro. Mengasumsikan kalau si pengirim telah ada dalam keadaan berbahaya, bisa disimpulkan kalau dia bukan dalam keadaan biasa, melainkan dalam sebuah misi.”
RyuZU melanjutkan kata-katanya dengan tenang.
“Andai si pengirim menemui masalah yang melebihi perkiraannya ketika sedang mengumpulkan informasi, dan tidak bisa meloloskan diri. Upaya terakhirnya adalah mengirim kode pada anda, Master Marie? Hal ini mengindikasikan kalau si pengirim terlibat dalam situasi seperti itu.”
“Ohh, seperti yang kuharapkan darimu, RyuZU! Benar benar benar, inilah yang mau kukatakan!”
Naoto mengangguk gembira.
Tapi Halter mengelus dagunya dengan ragu,
“Dengan kata lain…masalah itu adalah anggota dari seri Initial-Y?”
“Oh? Apa anda tidak sepakat dengan hal itu?”
“Hanya itu yang kupermasalahkan. Ada banyak situasi dalam misi dimana kami tidak bisa meloloskan diri, dan bertahan hidup. Disamping itu, alasan apa yang dimiliki seorang agen yang sedang menjalankan misi memberi intel pada Milady kita ini? Aku berani bilang kalau pengirimnya bukanlah dari Breguet.”
“Saya tidak tahu sebanyak itu, tapi saya berpikir kalau hal itu bukanlah hal yang penting.”
“Tidak, bukannya itulah misteri terbesarnya…?”
Ketika Halter bergumam, Marie hanya mengangguk kecil.
“Tapi jika seorang agen yang menjalankan misi adalah pengirim pesan ini—kondisi ini bisa menjelaskan kenapa ‘gir resonansi’ tidak digunakan, tapi gelombang mikro yang digunakan.”
“Yo, Milady.”
“Teori ini mungkin sedikit tidak masuk akal, tapi apapun bisa terjadi sampai titik ini. mengesampingkan kenapa akulah penerimanya, hanya ada satu keraguan yang tersisa, maksud sebenarnya dari pesan tersebut.”
Pesan itu. Transmisi itu adalah alasan kenapa Marie datang ke tempat ini.
Isinya adalah,
“—Hei Pelacur. Apa kau merasa terlalu gelisah di sana gadis hantu? Apa kau tidak puas karena lubang kecilmu belum menerima apa-apa? Apa kau menunggu burung yang sedikit besar bercinta dengan benda yang kau miliki itu? Goyangkan bokong kecilmu yang imut itu dan memohon padaku, dasar Nympho.”
Itulah isinya.
RyuZU menarasikan hal itu dengan lancar seperti pengumuman yang diulang-ulang.
Marie tersenyum liar dan urat wajahnya muncul di pelipisnya
“—Biarpun itu benar-benar berguna, aku pasti akan menggantung orang itu.”
Marie mendesiskan deklarasi seperti itu, tapi RyuZU mengabaikannya sambil terus melanjutkan kata-katanya dengan khidmat,
“Tapi maafkan keterusterangan hamba, Master Naoto, apa memang ada kode dalam pesan itu? Biarpun pengirimnya biadab, dia sungguh penuh wawasan, kan?Hamba hanya bisa melihat kebenaran dalam pesan itu berapa kalipun hamba memikirkannya.”
“Kau mau kuhancurkan!? Aku ini perawan!!”
“…Oh?”
“…!”
Marie baru saja mengaku kalau dia perawan di daerah tak berpenghuni.
Benar-benar merasa marah dan malu, wajah Marie memerah saat dia berpaling, kepalan tangannya bergetar hebat.
Halter menekan bahu gadis ini yang hampir meledak di titik ini, dan melanjutkan topik pembicaraan,
“…Ngomong-ngomong, dengan asumsi kalau hipotesis kita tepat, kita pikirkan dulu. pertama—yah, bagian burung yang sedikit besar untuk bercinta? Kata-kata ini memang kelihatan aneh untuk menggambarkannya.”
Naoto melipat tangannya, dan bicara,
“Kalau kita pikirkan dengan normal—yah, apa maksudnya? Benda out, kecil, besar?”
“Yah, kata ‘burung’ memang punya arti ‘unggas’ dan ‘penyumbat’.”
Halter tersenyum kecur dan melanjutkan kata-katanya,
“Selain itu, ada pula arti ‘omong kosong’ atau ‘baling-baling angin’—atau bisa juga diartikan ‘kehendak’. Dan, biarpun aku tidak suka mengatakan ini, tapi dulu saat aku masih di tentara…”
Di momen ini, Halter membeku. Marie yang masih kesal melirik ke arahnya, menyuruhnya untuk melanjutkan,
“Apa?”
Halter melenguh,
“…Itulah yang kami sebut ‘kokang’.”
Keheningan menghampiri mereka.
Marie menyipitkan matanya dengan tajam, menundukkan kepalanya, dan tangan kanannya menekan dadanya.
“…Dengan kata lain, artinya ada sebuah senjata kecil dengan kekuatan yang besar?”
“Ya. Tapi aku harus bilang ini, senapan yang membutuhkan kokang di zaman ini telah—”
“Aku paham apa yang kau katakan. Kokang, barang antik? Kecil tapi besar, senjata antik, senjata…”
Marie terus bergumam dengan irama tertentu, dan tiba-tiba menoleh pada RyuZU, yang berdiri di samingnya.
“…? Ada apa?”
RyuZU memiringkan kepalanya dengan skeptis, tapi Marie mengabaikannya sambil menggigit bibirnya sendiri.
—Model pertama dari seri Initial-Y.
Sebuah automata antik yang dapat dengan mudah menghacurkan semua senjata modern.
…Mungkin dia memang memberi petunjuk tentang hal ini. Marie berpikir begitu.
“Burung yang sedikit besar (senjata, kecil, yang kuat)…?”
Setelah mendengar gumaman kecil Marie, RyuZU hanya menunjukkan senyuman manisnya.
Dan kemudian, dia mengangkat roknya, keliman roknya melepaskan suara putaran gir yang menakutkan.
“Master Marie, anda berani memanggil saya dengan nama organ reproduksi pria. Maafkan saya, saya tidak pernah sadar kalau anda sudah sangat bosan hidup.Sekarang saya akan mengabulkan keinginan anda.”
Sabit hitam yang bisa menebas automata-automata berarmor berat dengan mudah menemani kata-kata RyuZU.
Marie mengangkat tangannya dan menjerit,
“Tunggu, woah!!! A-aku tidak bermaksud begitu!”
Kemudian, sebuah ide datang menyambar pikirannya.
Dia memalingkan kepalanya pada Naoto, dan yang berdiri di sana adalah seorang anak laki-laki yang kelihatan acuh tak acuh dan bodoh, tapi arogan dan kasar jika dilihat dari arah lain.
Orang ini menebak begitu dengan instingnya…?
Marie menyipitkan matanya.
Ada kelemahan dalam tebakan itu, dan bagaimanapun juga, ada banyak cara untuk menyanggah tebakan itu, dan logikanya sedikit tidak masuk akal. Biarpun begitu, Marie tidak bisa menyangkal pemikiran Naoto, hanya saja pemikirannya itu sangat tidak dapat dipercaya dan tidak masuk akal.
Dan dalam situasi apapun, peluang dia itu benar tidak nol persen.
Hal terpenting dari ini adalah cara berpikirnya yang hampir tidak wajar itu dapat menyimpulkan hal ini dengan cepat. Marie memang pernah melihat hal yang serupa sebelumnya.
Kakak Marie, atau beberapa Meister yang pernah bekerjasama dengannya, juga termasuk dalam kategori ini. Mereka adalah orang-orang dengan insting luar biasa, mereka dapat membuat kesimpulan berdasarkan insting, bukan mendapatkan jawaban melalui deduksi logika dan pemastian sesuatu, melainkan dengan melewatkan seluruh proses tersebut untuk mendapat jawaban yang tepat…
Ide-ide mereka biasanya sangat tidak wajar.
Tapi biarpun begitu, dengan beberapa pemastian aktual, ide-ide tersebut akan dianggap hampir sempurna seluruhnya.
Dengan anggapan kalau orang seperti Naoto Miura, yang memiliki abnormalitas seperti manusia super begitu, adalah orang semacam tadi, barangkali instingnya sangat amat dekat dengan kebenarannya…
Marie mengerang tanpa suara, dan pelan-pelan membuka mulutnya untuk mengakui hal itu.
“—Mungkin kedengaran bodoh, tapi disini mungkin ada model seri Initial-Y.”
“Anda serius, Milady?”
Dan Halter angkat bicara.
Marie menatap wajah terkejut Halter di matanya, dan melambaikan tangannya.
“Aku tidak punya intel apapun mengenai dimana seri Initial-Y berada. Aku tidak menyangkal kalau ada kemungkinan satu dari mereka ada disini.”
“Tidak, kita masih belum yakin jika pesan itu mengarah pada seri Initial-Y, dan kurasa masih ada penjelasan lain…bukannya pembahasan ini mulai terlalu tidak masuk akal?”
“Aku sangat tahu hal itu. Aku hanya tidak bisa menyangkal pemikiran Naoto sepenuhnya, dan kenyataannya—”
Marie melempar pandangannya ke jalanan di bawah.
Jika kota ini adalah kota hantu seperti yang dibilang Naoto, kota palsu yang girnya dipreteli,
“…Kita hanya bisa masuk ke dalam dan memeriksanya sendiri.”
“Ya! Dengan kata lain, kita akan menemukan seri Initial-Y lainnya, kan? Aku mau ikutan dalam masalah samsak tinju ini! bagaimana bisa aku tidak terlibat jika kalian menemukan adik RyuZU? Aku akan sangat iri! Ayo, RyuZU!”
“Kau benar-benar sama seperti biasanya…”
Setelah mendengar Naoto menyombongkan nafsunya, Marie menggelengkan kepalanya.
Dan Halter, yang berdiri di belakangnya, sedikit membungkukkan badanya dan berkata,
“…Aku sungguh tidak menyarankan kalian beraksi tanpa memastikan intel tersebut.”
Marie mengangguk untuk merespons nasihat Halter, tapi dia mengangkat bahunya.
“…Bagaimanapun juga, situasinya tidak akan berubah. Orang yang tahu tentang kita mengirim transmisi yang secara logika tidak bisa dilacak dari tempat misterius seperti ini.”
“Itu memang benar, tapi,”
“Mungkin pesan ini bukan tentang seri Initial-Y, tapi peluang kalau ini jebakan atau peringatan juga tidak terlalu tinggi. Kalau begitu, mungkin ini adalah ‘hadiah intel’ dari seseorang yang terdesak.”
“…Tidak biasanya anda setenang ini, tahu?”
Setelah mendengar Halter berkata begitu, Marie mengangkat sebelah matanya dengan luwes dan berkata,
“Apa kau pikir Tuan Putri ini akan menjadi kesetanan hanya karena ejekan kecil seperti itu?”
“Aku memang berpikir kalau itu benar. Apa aku salah?”
“Tentu saja—sudah sewajarnya, aku akan membantai pengirim pesan itu nanti.”
Halter terdiam sambil mengangkat matanya dengan wajah menyerah ke arah Marie.
Marie mendengus sambil mengangkat dagunya dan berkata,
“Aku berkata begini bukan karena aku dikuasai emosi. Faktanya, dengan pengalamanmu, keahlianku, indra Naoto, dan kekuatan serang RyuZU, menyusup ke dalam kompleks industri bagi kelompok ini mudah, kan? Jika kita tidak dapat apapun setelah sedikit melakukan penyelidikan, kita akan buru-buru mundur.”
…Hm. Halter mengangguk, lengannya terlipat ketika dia menyentuh dagunya sendiri.
Marie memang benar mengenai hal ini. mereka tidak sedang menyusup ke dalam pangkalan militer dan jika mereka memaksimalkan kemampuan orang-orang yang ada disini, masuk ke dalam pabrik ini adalah hal yang mudah.
Jika mereka berhasil mendapat intel, mereka tentunya akan dapat mencari tahu tujuan aksi mereka selanjutnya, dengan asumsi kalau mereka tidak akan kehilangan apapun biarpun perkiraan mereka memang meleset.
Dan memang benar kalau mereka tidak bisa membiarkan anomali ini begitu saja…
“…”
Namun, Halter bertanya-tanya.
Dia tidak bisa menyangkal logika tersebut, tapi dia juga tidak bisa setuju dengan hal itu.
Bukan karena ide tersebut tidak masuk akal; pastinya itu bukanlah masalahnya. Apapun yang Halter sendiri rasakan, dia bisa yakin kalau hal itu benar selama Marie merasa kalau kesempatannya memang ada.
Tapi biarpun begitu, bagian belakang lehernya terasa tersengat dengan menyakitkan biarpun dia tidak bisa menggambarkan perasaan itu secara detail.
—Dia punya firasat buruk mengenai hal ini.
Itu bukanlah insting yang telah diperlihatkan Naoto, dan bukan pula deduksi logis yang digunakan Marie.
Untuk sedikit menggambarkannya dalam kata-kata, firasat itu adalah pengalaman tak terhitung jumlahnya yang telah dia kumpulkan. Aroma samar bahaya yang hanya dimiliki oleh orang-orang biasa yang menembus hujan peluru, melalui situasi neraka dimana nyawa mereka terancam, orang-orang pengecut itu.
Untuk mengatakannya dengan cara lain, firasat itu hanyalah sebuah firasat.
Kenyataannya, penilaian Marie terhadap kemampuan serang mereka memang benar.
Dia adalah seorang eks Meister, seorang jenius. Mengesampingkan ketrampilan gulatnya, dia bisa dengan mudah bertahan melawan sebuah automata biasa dengan menggunakan Coil Spear miliknya. Halter sendiri adalah seorang cyborg yang memiliki teknologi mutakhir keluarga Breguet di dalam tubuhnya. Sebagian besar masalah dapat dipecahkan oleh mereka berdua saja, selain itu—
Ada Naoto, yang wawasannya bahkan dapat memahami senjata siluman terbaru keluarga Vachern, Goliath.
Lalu ada RyuZU, automata seri Initial-Y yang memiliki fungsi luar biasa seperti itu; mesin macam apapun yang berhadapan dengannya tidak akan berguna.
Seperti yang Marie katakan, seharusnya tidak akan ada masalah.
…Tapi berapa kalipun dia menegaskan hal ini, Halter tidak bisa membuang kekhawatirannya.
Pabrik itu adalah pabrik raksasa yang terletak di dekat pinggiran Kompleks Industri Berat.
Di tengah-tengah Kompleks Industri yang praktis telah berhenti bekerja, hanya pabrik tersebut yang terus beroperasi. Marie tidak bisa bilang pabrik macam apaitu dari bagian luarnya.
Keempat orang tersebut, yang datang ke tempat ini karena insting Naoto, mengamati menara logam yang sedikit ada di kejauhan.
Penjaga berpakaian seragam ‘Militer’ sedang berpatroli di sekitar pabrik.
Marie merundukkan posturnya sambil mengintip situasi,
“Kelihatannya…pabrik ini tidak sepenuhnya kosong.”
“Biar bagaimanapun mereka tidak bisa menyerahkan semua penjagaan pada automata.”
Halter menjawab sambil membalikkan kepalanya ke belakang.
Naoto, yang sedang menutup matanya sambil merundukkan kepalanya ada tepat di depan mata Halter. Dia sedang tidak mengenakan headphone khasnya kali ini.
Dia memiliki indra pendengaran abnormal untuk menguping obrolan meskipun menggunakan headphone dengan fungsi penolak suara 100%, dan kali ini, dia telah memiliki pemahaman penuh tentang seluruh fasilitas di bawah sana.
Matanya masih tertutup ketika dia berkata,
“…Fasilitas ini kelihatan cukup besar. Dari permukaan kelihatan sangat normal, tapi dinding di dalamnya sangat amat tebal, dan area kerjanya luas. Dari bawah tanah, kelihatannya 4 area bisa diakses. Di bagian paling bawah dari semuanya ada sebuah ruang yang sangat besar dengan tidak wajar, dan…apa ini? benda itu tidak bekerja dengan benar, tapi ada ‘sesuatu’.”
Marie cemberut, dan memalingkan kepalanya pada Naoto.
“Sesuatu apa?”
“Benda itu tidak diaktifkan saat ini, jadi aku tidak terlalu yakin mengenai hal itu…tapi ukurannya sungguh besar. Ukurannya sekitar sebuah kota dari seluruh kota—sebuah bangunan?”
“…Begitu ya. Itu mencurigakan. Jalan masuk mana saja yang kau tahu?”
“Bisakah aku bilang konstruksi, lokasi kamera pengawas dan dimana penjaganya saja?”
“Itu sudah cukup. Silakan.”
Marie mengangguk, dan membuka sebuah peta kosong dalam pikirannya.
Setelah mendengar laporan Naoto, dia menggambar sebuah rute penyusupan di peta kosong dalam pikirannya.
Setelah mendengar informasi penting yang diperlukan untuk penyusupan, Marie pelan-pelan berdiri. Halter, yang sedang bediri di sampingnya, mengangkat tubuh kecil Marie dengan satu tangan, tapi Marie tidak keberatan karena dia sedang menatap permukaan jam tangan di lengan yang sedang mengangkat tubuhnya—dan mengambil napas.
“Sekarang waktunya.”
Halter melompat.
Jarak antara atap ini dengan pabrik yang dituju adalah kurang lebih 100 meter.
Dan Halter menutup jarak itu dalam sekali lompatan.
Dia mengeluarkan suara gedebuk kecil ketika dia mendarat di atap beton.
Dan sesaat kemudian, RyuZU, yang membawa Naoto, mengikuti mereka tanpa bersuara.
Mereka ada di dalam pabrik dengan beton dan jeruji tebal.
Lorong di dalamnya luar biasa lebar, membuat pemindahan perlengkapan menjadi mudah. Gir cahaya yang dipasang dengan interval tertentu menyebabkan lorong tersebut terang benderang.
Seorang pemuda berpakaian jubah putih, barangkali seorang peneliti, sedang berjalan di lorong ini. dia ditemani oleh automata kecil berkaki 4.
Sambil berjalan, pria itu membaca tumpukan kertas di tangannya, mungkin beberapa dokumen, sebelum menghentikan langkahnya. Automata disampingnya juga mengeluarkan suara berderit ketika berhenti.
Dia menoleh ke belakang.
“…?”
Tidak ada.
Pria itu memiringkan kepalanya, dan menghela napas. Barangkali dia berpikir terlalu banyak saat dia merasakan suatu tatapan, mungkin.
Tersenyum simpul, dia menolehkan tatapannya ke depan lagi.
“—Bonsoir.”
Seorang gadis cantik berambut pirang yang tersenyum kepadanya sedang berdiri di depannya, gadis itu bicara dengan Bahasa Prancis yang fasih.
Pria itu terperangah, dan automata berpikiran sederhana, bereaksi terhadap situasi semacam itu, menodongkan senapan yang dia miliki sambil mengeluarkan peringatan monoton,
“Penyusup terlihat—”
Sesaat kemudian, pria itu roboh karena pukulan di tengkuknya, dan automata di dekat kakinya ditebas berkeping-keping tanpa suara di saat yang sama.
Bonne Nuit.”
Marie menyaksikan pria dan mesin itu jatuh ke lantai ketika dia menggumamkan hal itu.
Dan Halter, yang merobohkan pria tadi dari belakang, menggaruk kepalanya sambil berkata,
“—Hei, penyusupan ini menjadi terlalu mudah.”
10 menit, atau hanya 10 menit, yang telah berlalu sejak mereka memulai penyusupan karena mereka sampai ke elevator yang membawa mereka menuju lantai paling bawah pabrik tersebut dengan mudah.
Bukan karena pengamanan disini terlalu longgar. Bagi sebuah pabrik normal, pengamanan disini bisa dibilang terlalu ketat, tapi Marie hanya mengangkat bahunya dengan wajah berpuas diri.
“Naoto dapat mengetahui dimana para penjaga dan perlengkapan pengawas berada, dan bahkan tahu seluruh konstruksi bangunan ini. Praktis, disini tidak ada yang namanya pengamanan…telingamu sungguh berguna sekali disini. Jika kemampuan seperti ini diungkapkan pada dunia, kurasa kau akan dibedah hidup-hidup demi penelitian, tahu?”
Atau mungkin aku harus melakukan hal itu. Dengan implikasi tambahan seperti itu, dia menoleh pada Naoto, yang sedang gendong RyuZU.
Naoto tidak merespons. Kemampuan fisiknya di bawah rata-rata, dan setelah mempertimbangkan rasa lelah karena berjalan kesana kemari serta bahaya mendadak, RyuZU ditugasi untuk membawanya kemana-mana dan membiarkannya fokus pada pendengarannya. Namun…
“…”
Marie menyadari mata keranjang yang dimiliki Naoto ketika dia mengintip dari atas bahu RyuZU, dan apa yang tepatnya sedang dia fokuskan jelas kelihatan.
Marie memanggil Naoto, mencoba sebisanya untuk tersenyum dengan susah payah,
“Naotoooo—!?”
“—Heh? Oh, bukan, aku tidak sedang berpikir kalau aku tidak akan dimarahi jika aku menyentuh dua tetek itu di momen ini, sungguh, sumpah!”
Naoto mencoba membela dirinya dengan kebohongan yang jelas, dan RyuZU hanya bicara dengan wajah acuh tak acuh,
“—Master Naoto, jika anda sungguh berharap untuk melepaskan nafsu primitif anda, silakan mengusap tubuh hamba sesuai yang anda inginkan, karena hamba tidak punya hak untuk berkata tidak.”
“Eh? Benarkah? Tapi entah kenapa, hati rumit seorang pria ini baru saja layu setelah mendengarmu berkata begitu—”
“Bodoh amat, apa kalian tidak bisa menyimpannya untuk nanti!?”
Marie sedikit menutup matanya yang beku ketika dia mendesis, dan bergerak menuju pintu ganda yang ada di ujung lorong di depan mereka.
Pintu itu tertutup rapat, dan dinding di sampingnya memiliki panel tombol.
Di balik pintu ini adalah sebuah elevator unik yang membutuhkan kata sandi yang tepat untuk dapat digunakan.
“Apa kau bisa membobolnya?”
“—Sama seperti yang ada di lantai atas. Tinggal lepaskan kait ke-36 dari kanan di tingkat ke-4 untuk membukanya.”
“Dimengerti.”
Dengan jawaban singkat ini, Marie menggerakkan tangannya.
Panel di samping pintu itu bergeser terbuka, dan sekrupnya melayang seolah-olah gravitasinya nol. Di dalam dinding itu ada banyak kunci gigi.
Bahkan seorang teknisi mesin jam yang ahli membutuhkan beberapa jam untuk membuka kunci ini dengan hati-hati, namun Marie meraba-raba di dalamnya, dan menarik kait ke-36 dari kanan di baris ke-4,  sebuah suku cadang yang berukuran sekecil kuku kelingking, seperti sebuah trik sulap, sebelum menutup panel itu kembali seperti waktu telah berputar ulang.
Pintu di sebelahnya mengeluarkan suara embusan angin ketika pintu tersebut terbuka dengan mudah.
“Baik, ayo pergi. Ke bawah, kan?”
“Ya.”
Setelah mendengar Naoto mengangguk tanpa ragu sedikitpun, Marie melompat masuk ke dalam elevator dengan penuh semangat.
Dan Halter, yang menyaksikan Marie dari belakang, mau tidak mau menghela napasnya.
—Detektor yang dapat memecahkan pengamanan fasilitas lebih baik daripada sonar dengan spesifikasi tinggi manapun, Naoto.
—Teknisi yang dapat menggunakan informasi tersebut dan melumpuhkan sistem manapun dengan kecepatan luar biasa, Marie.
—Sesuatu yang bisa menghancurkan apapun, bahkan sebuah automata berarmor berat tanpa membiarkan serangan balasan apapun, RyuZU.
Dengan adanya orang-orang ini, berapapun jumlah penjaga maupun pengamanannya tidak akan berarti. Orang bahkan dapat mengira kalau mereka dapat menyusup seperti ini biarpun tujuannya adalah markas besar dari 5 Perusahaan.
Tidak peduli seberapa ampuh sistem pengamanan yang ada di dalamnya, tidak ada yang dapat bertahan melawan Naoto dan Marie.
Dan bagi rintangan fisik yang tidak bisa dinonaktifkan dengan kode, sabit RyuZU akan mencabik-cabik rintangan itu dalam kurang dari sedetik.
Baik itu jebakan terbaru maupun instalasi pengamanan, semuanya tidak berarti sama sekali.
Mereka akan dengan segera menemukan, menjinakkan dan menghancurkannya. Mereka dapat menemukan penjaga, peneliti bahkan automata sebelumnya, atau menetralisasi mereka.
Mereka sedang menyusup ke dalam sebuah fasilitas dengan jaringan pengamanan seketat itu, tapi ketiganya bertingkah seperti sedang mengikuti tamasya sekolah atau semacamnya.
…Jika ini tidak dibilang kecurangan, apa lagi yang bisa?
Jika aku melihat hal ini saat aku masih di militer, aku akan pensiun tanpa ragu sedikitpun. Halter berpikir begitu.
…Namun, firasat itu belum menghilang.
Rasa sakit menyengat kegelisahan yang masih tertinggal di lehernya semakin menguat saat ini.
Ketika ada di bawah tanah, di dalam elevator yang sedang menuju ke bagian paling dalam, Marie menatap Halter, dan berkata,
“Ada masalah apa, Halter? Kelihatannya kau terganggu sesuatu.”
“…Tidak, bukan apa-apa.”
Halter menggelengkan kepalanya untuk merespons kata-kata Marie, tapi dia tetap bermuka masam.
Penyusupan ini berjalan lancar, terlalu lancar, sampai titik dimana orang mau tidak mau menjadi lengah.
Tapi apa tepatnya firasat misterius yang dirasakan tubuhnya ini—bukan.
Halter menghela napasnya tanpa bersuara.
Dia mengenal perasaan ini dengan sangat baik. Dia pernah merasakan hal yang sama sebelumnya.
Ini, benar.
Momen ketika pasukan sekutunya bersenjata lengkap, dan musuh berjumlah sedikit, perasaan lengah ketika mereka bergerak maju.
—Saat momen seperti itu, mereka akan menemui sesuatu di luar dugaan mereka. Contohnya, mungkin itulah momen…dimana timnya telah melompat ke dalam zona membunuh milik musuh.
Perasaan ini adalah perasaan bahwa ada situasi luar biasa yang sedang menunggu mereka, atau lebih tepatya, keyakinan yang teguh.
“Ah, tunggu…aku mendengar sesuatu.”
Naoto tiba-tiba angkat bicara ketika dia meletakkan tangannya di telinga.
Marie bertanya,
“Ada apa?”
“Ada suara yang lirih, dan aku tidak bisa mendengarnya terlalu jelas, tapi suaranya seperti jumlah total ‘suku cadang yang menghilang’, bukan, sebenarnya jumlahnya jauh lebih banyak…”
“Dari mana?”
“Sekitar, 74,850 meter di bawah kita.”
“Sekitar 75 km di bawah…? Mustahil.”
Marie membantah dengan cepat, menyebabkan Naoto melengkungkan bibirnya dan cemberut,
“Kenapa”
Karena tidak ada apa-apa disana. Letaknya lebih jauh daripada bagian bawah Menara Inti. Ketika Clockwork Planet dibangun, gir-gir yang berjumlah sangat banyak itu dibuat dengan kerak dingin dan mantel planet ini. Karena itulah planet ini berongga, dan jika ada sesuatu di bawah sana, paling-paling inti planet yang telah membeku seluruhnya—”
Sampai titik ini, Marie kelihatan memikirkan sesuatu, dan bergumam,
“Atau mungkin saja ruang lain yang dibangun di bawah kota di kemudian hari. Hanya itu…”
Setelah satu setengah jam, elevator itu sampai di bagian terdalam pabrik tersebut.
Pintunya terbuka, dan mereka keluar. Dinding di sebelah dihiasi bingkai ‘lantai ke-25’. Sejauh yang Marie tahu, inilah lantai paling rendah dari Grid Mie ini.
Setelah mereka keluar dari elevator, mereka meloncat ke lantai, dan ruangan di sana luas dan lapang, membentuk sebuah kubah yang besar. Gir cahaya yang dipasang di dinding bercahaya, menerangi sekelilingnya secerah hari ketika siang.
Naoto pelan-pelan melangkah maju, berjalan menuju bagian tengah ruangan luas ini, dan memutar-mutar kepalanya sambil sedikit menendang lantai.
“Benda itu ada di bawah sini. Masih ada sebuah lubang disini…’sesuatu’.”
Marie menatap lantai tersebut tanpa mengatakan apapun. Lantai itu ditutupi dengan panel logam, dan ada lapisan pelindung, kerangka, dan ada sebuah ruang bawah tanah jauh di bawahnya, dengan kata lain, di luar daerah kota ini.
Naoto bilang kalau ada sesuatu di bawah sana.
“…Ayo pastikan hal itu. Masih ada sebuah lantai di bawah, kan?”
“Ya, kau benar. Tapi aku tidak tahu dimana jalan masuknya.”
Setelah melihat Naoto mengangguk, Marie menyipitkan matanya.
“Kurasa lantai itu perlu diakses dari Menara Inti. Lantai ini hanyalah bagian bawah kota ini, dan sejak awal, tidak ada pintu masuk disini.”
“Terus, apa yang kita lakukan?”
“Tinggal potong lantai ini dan turun ke bawah.”
Marie berkata begitu dengan enteng.
“Satu Coil Spear harusnya sudah cukup untuk memotong lantai ini. Mundur.”
“Tidak, tunggu, ruang di bawah…ini tinggi—sekitar 327.3 meter tingginya, tahu?”
“…Ruangan ini terlalu besar kanYah, dengan asumsi kalau Naoto digendong RyuZU…kurasa kaki Halter tidak bisa tahan dengan hal ini. Kita hanya perlu menggunakan kawat pengait.”
“…Dimengerti.”
Halter menjawab singkat, tapi dia menyipitkan matanya.
Ekspresinya tegang, seolah-olah siap beraksi karena dia tetap merasa khawatir.
“Jangan lengah, Milady. Dari tadi aku merasakan firasat buruk.”
“Aku tahu. Semua hal ini tidak normal berapakalipun kita memikirkannya.”
Marie mengangguk, dan mengayunkan Coil Spear.
Keempatnya melompat ke dalam lubang yang menganga.
Mereka jatuh bebas dari ketinggian 300 meter, tapi RyuZU tidak kelihatan khawatir sama sekali saat dia meraih Naoto sambil mengatur tubuhnya di udara dengan elegan.
Beberapa detik kemudian, Halter, yang bergelantung dari seutas kawat, mendarat bersama Marie.
Marie melepaskan diri dari pegangan Halter, dan mengedipkan matanya beberapa kali.
“…Gelap.”
Ruangannya gelap gulita, tanpa sedikitpun cahaya. Dia tidak bisa melihat anggota tubuhnya sendiri dengan jelas, apalagi wajah Halter yang sedang berdiri di sampingnya. Dia mendongak ke atap yang tadi mereka pijak, dan menyadari kalau ada sebuah lubang bercahaya mirip bulan purnama di tengah-tengah kegelapan tersebut.
Naoto terdengan sedikit ketakutan ketika dia berujar,
“—Dengarkan aku, Marie, benda ini…”
“Tunggu, aku bukan orang mesum sepertimu yang mengetahui segalanya hanya melalui suara. Biarkan aku sedikit menerangi ruangan ini sebelum kita bicara lebih lanjut.”
Setelah Marie berkata begitu, dia mengubah Coil Spear dengan sebuah ayunan.
Dia mengarahkan senapan itu ke atas, dan menembakkan sebuah flashbang.
Karena flashbang tersebut, ruangan luas itu diterangi oleh cahaya seperti saat siang hari dengan cepat, karena gir-gir cahaya yang berputar cepat.
Sehingga, benda itu muncul dari kegelapan.
“—Apa kau bercanda?”
Halter mengerang ketika dia melihat pemandangan itu.
Kenapa firasat burukku ini selalu terjadi tanpa terkecuali?
“…Apa, i…ni…?”
Dan Marie membelalakkan matanya, tak bisa berkata-kata. Halter menjentikkan lidahnya.
“Memangnya benda ini bisa jadi apa lagi?”
Dia terkesiap.
“—Gak mungkin benda ini cuma sesuatu, mata murung brengsek!”
Mata Halter menajam di balik kacamata hitam tebalnya.
—Di sebelah sana adalah bukit besi.
Tidak ada deskripsi lain tentang benda tersebut. Benda itu sangat raksasa, terlalu raksasa, sungguh raksasa. Siapapun yang melihat benda itu hanya bisa memahami benda itu dengan cara ini.
Berapa kalipun mereka mencoba melihat ke atas, mereka tidak bisa mengetahui seluruh bentuk benda itu.
Tapi biarpun begitu, Marie hanya bisa merasakan kompleksitas benda ini ketika dia mencoba mengamatinya, dan dia menemukan kalau benda ini mirip seperti laba-laba.
Benda ini adalah sesuatu berkaki banyak yang berukuran sangat besar, barangkali sebuah automata.
Sulit dipercaya kalau benda seperti ini sebenarnya dapat bergerak, dan orang akan mencurigai orang gila yang akan berkata demikian. Namun, bagi eks Meister Marie, itulah yang ditampakkan benda itu di permukaannya.
Tapi biarpun begitu—ukurannya sungguh sangat melebihi akal sehat.
Salah satu kakinya yang terlipat saja sudah sebesar gedung pencakar langit. Kaki-kaki itu ditutupi oleh plat armor hitam yang mirip seperti sisik, dan dilengkapi dengan meriam yang jumlahnya sangat banyak sampai-sampai hanya orang bodoh yang akan menghitung jumlahnya.
Kerangkanya sendiri sangat besar sampai sebuah kapal pesiar mewah atau kapal induk hanyalah sebuah kapal biasa jika dibandingkan dengan benda ini, armornya sendiri dipenuhi dengan moncong meriam yang jumlahnya tak terhitung seperti seekor landak.
Pendengaran Naoto tidak diperlukan untuk memahami hal ini.
Bahwa benda ini—adalah semacam senjata raksasa, dan pernyataan ini tidak perlu diragukan lagi.

Marie angkat bicara, mencoba bersuara,
“—Halter, apa kau ingat…apa pasal pertama dari ISS (Sistem Stabilitas Internasional) mengenai pembatasan kekuatan militer?”
“Semua senjata penghancur raksasa yang akan merusak secara fatal struktur kota—struktur planet, atau sangat mengancam biosfer manusia dinyatakan dilarang sepenuhnya untuk diteliti, dibuat dan dimiliki. Benar kan?”
“…Kalau begitu, kecuali jika aku sedang mabuk kafein saat ini, benda mirip lelucon di depan mataku ini kelihatan seperti senjata penghancur semacam super Dreadnought[2]…”
Apa ini imajinasiku? Marie mengulang-ulang perkataan ini, suaranya kering dan serak.
“Ya, benda ini tentunya sungguhan kecuali kalau benda ini adalah golok kertas atau semacamnya.”
Suara Halter juga tidak menunjukkan ketenangan sedikitpun.
Ketika dua orang tersebut masih tidak bergerak, Naoto melempar sesuatu ke arah benda besar di sebelah mereka. Serpihan logam sebesar telapak tangan mengenai dek senjata tersebut dan bersuara gemerincing.
Setelah gema lemah tersebut hilang sepenuhnya, Naoto berkata,
“…Mungkin ada sesuatu yang harusnya tidak kuberitahu Master Marie dan Pak Halter yang profesional disini, tapi boleh aku bicara?”
“…Apa?”
“Situasinya benar-benar buruk.”
“Ya, kami tahu.”
Marie menatap kosong ke arah atap dan melanjutkan kata-katanya,
“Sekarang, Naoto, orang dengan kekuatan super yang unik, apa kau keberatan memberikan pemahaman detail tentang—seberapa buruk situasinya sekarang?”
“…Pertama-tama, aku bisa menyimpulkan kalau inilah tempat dimana suku cadang menara-menara Jam itu dipindahkan.”
Kalimat itu sendiri membuat Marie terkesiap.
—Satu menara jam diubah menjadi senjata ini?
“Begitu ya…jadi inilah alasan kenapa ‘kota’ ini mati.”
“Bukannya Orang-orang Jepang yang menyukai robot raksasa itu hanya ada 1000 tahun yang lalu…?”
Halter mengerang sambil mengusap kepala botaknya.
Tapi Naoto menggelengkan kepalanya dan melanjutkan kata-katanya,
“Bukan itu saja. Benda ini belum aktif penuh saat ini, jadi aku tidak yakin, tapi—setidaknya benda ini menggunakan 6 kali lipat suku cadang yang digunakan untuk ‘suara yang tidak bisa didengar’.”
Marie mengangkat tangannya tanpa bersuara. Dia menyipitkan matanya, menghalangi cahaya dari flashbang, dan menatap senjata raksasa tersebut untuk memperkirakan ukurannya.
“Naoto, aku tidak bisa melihat seberapa besar ukuran benda ini. Apa kau tahu seberapa besar ukurannya?”
“Oi, apa kau memperlakukanku sebagai sebuah sensor atau semacamnya—?”
“Jawab saja!”
“Aku tidak bisa bilang dengan pasti karena benda ini belum beroperasi penuh saat ini, tapi aku bisa menebak dari putaran gir-gir tepat di depan dan suara tepat dari belakang kalau benda ini memiliki tinggi 320 meter dan lebar 932 meter, sialan!! Ditambah lagi, aku bisa merasakan kalau benda ini siap untuk diaktifkan!!Selain itu—!”
Naoto menunjuk ke arah kiri secara diagonal di depan, dan berkata,
“Aku mendengar 42 pasang langkah kaki yang mendekati kita disini, dan ada 18 benda berkaki banyak lainnya dengan langkah kaki berat yang tidak wajar, semuanya dipenuhi dengan nafsu membunuh! Sial, brengsek!”
—Penyusupan kami terbongkar? Marie menggertakkan giginya.
Namun, mereka tidak bisa membiarkan senjata ini begitu saja apapun benda ini sebenarnya.
“RyuZU.”
“Iya. Apa ada alasan kenapa anda bertingkah terlalu familiar dengan saya?”
“–Bisakah sabitmu menghancurkan armor ini?”
RyuZU memiringkan kepalanya tanpa bersuara ketika ditanya begini, dan saat matanya menoleh ke arah dek senjata raksasa ini.
Roknya sedikit berkibar, dan sabit yang keluar memiliki kecepatan yang tidak bisa dicerna oleh mata.
—Lalu, ada suara jernih dan tajam beserta bunga api yang memercik.
“!?”
Mata RyuZU terbelalak karena terkejut, sebuah ekspresi yang jarang dia tunjukkan. Dia melihat ke arah sabit hitamnya dan dek berarmor yang sedikit rusak secara bergantian dengan cermat, lalu melengkungkan bibirnya.
“…Ini sungguh mengejutkan. Saya melihat kalau meskipun otak manusia itu seperti nyamuk, dengan mengandalkan ‘kekeras kepalaan yang ekstrim’ dengan tolol, tidak disangka mereka dapat mencapai sesuatu di luar dugaaan saya—ini sebuah penemuan baru.”
Mata Marie setengah tertutup ketika dia bertanya
“—Dengan kata lain, kau bisa menghancurkannya? Atau tidak?”
“Jadi Master Marie, apa anda bertanya apakah saya bisa memotong alloy tungsten dengan pisau dapur? Pertanyaan seperti itu sungguh menunjukkan kapabilitas mental yang menyed—”
“Beritahu saja kesimpulannya!”
Marie memotong kata-kata RyuZU dan berlari.
“Cepat kumpulkan data, bukti atau semua hal yang bisa kita dapatkan. Setelah selesai, kita pergi!”
“Eh, tunggu, Begini saja gak apa-apa?”
Menjawab suara Naoto dari belakang, Marie meraung tanpa menoleh,
“Rongsokan Super Teknologi disana bukan benda yang bahkan bisa kita hancurkan dengan ‘sabit’. Apa yang mau kau suruh padaku!?”
“Tapi benda ini sangat berbahaya, kan!?”
“Aku ini teknisi mesin jam, bukan tentara bayaran!”
Ini bukan lelucon Marie berpikir begitu.
…Benar, situasi ini benar-benar bukan sebuah lelucon.
Di era saat ini, senjata terkuat untuk pertahanan kota adalah automata bersenjata berat. Menggunakan deretan teknologi saat ini, tidak ada benda yang bisa melampaui automata bersenjata berat, baik dalam hal kekuatan serang, maupun kemampuan bertahan.
Dan sabit RyuZU bahkan bisa mengiris armor dari automata-automata tersebut. Fakta itu sendiri sangat amat tidak masuk akal, tapi…
Serangannya tidak berguna melawan benda itu?
Dengan kata lain, itu berarti senjata yang saat ini ada praktis tidak berguna melawan armor benda tersebut.
—Atau lebih tepatnya, biarpun kesimpulannya sedikit tidak masuk akal, senjata yang diguanakan untuk ‘pertahanan kota’ setidaknya tidak akan bisa menghancurkan armor tersebut.
Kasusnya akan berbeda jika situasinya adalah ‘pertempuran di luar kota’—senjata yang ditempatkan di daerah tak berpenghuni.
Batasan kemampuan militer diterapkan oleh ISS, seperti penggunaan Meriam Resonansi, senjata berat yang menembakkan Peluru Berfrekuensi Super, atau hanya beberapa senjata edisi terbatas yang berkekuatan tinggi. Tidak peduli seampuh apa armor tersebut, barangkali senjata-senjata ini dapat menembus armor tersebut.
Masalahnya disini adalah ‘ukurannya’.
Ketika senjata-senjata yang digunakan untuk pertempuran di luar kota dengan jumlah banyak ini digunakan untuk melawan senjata raksasa semacam ini.
“Itu berarti tidak ada kota yang tetap aman lagi…!?
Marie mengepalkan tinjunya ketika dia memaki-maki.
Tapi, dia berpikir lagi.
—Ngomong-ngomong, apa tujuan dibangunnya benda ini?
Benda ini adalah sebuah senjata, dan pastinya akan digunakan untuk tujuan militer.
Tapi biarpun disebut senjata, senjata berbeda memiliki karakteristik yang berbeda pula. Senjata adalah alat yang memerlukan sejumlah besar uang untuk diperoleh, dengan demikian, harus ada sebuah ‘konsep’. Contohnya, konsep untuk menginvasi, untuk bertahan, atau hanya disimpan untuk dipertontonkan untuk menakut-nakuti pihak lain.
…Senjata raksasa ini tidak kelihatan termasuk ke dalam satupun kategori tadi.
Jika sebuah automata dengan ukuran seperti itu bergerak, hasilnya akan jelas terlihat.
Kota manapun akan hancur setelah benda itu bergerak, baik tujuannya untuk invasi maupun bertahan. Biarpun benda ini digunakan untuk menakut-nakuti, ukurannya terlalu luar biasa besar.
Dalam hal ini—
Marie merasa kegelapan telah menyelimuti matanya, dan dia mengerang.
Setelah benda ini bergerak, sebuah kota akan hancur.
Ada cara untuk menghancurkan senjata ini sebelum senjata ini menghancurkan sebuah kota.
Tapi tentunya hal itu akan mengorbankan sebuah kota bersama senjata ini.
—Dengan kata lain, senjata ini berarti senjata semacam itu.
“Kau pasti bercanda…!”
Sebuah senjata yang menghancurkan kota-kota?
Kalau begitu, benda ini adalah senjata yang menghancurkan dunia.
Idiot mana di dunia ini yang membuat benda seperti ini untuk tujuan seperti itu?
…Mereka harus mengumpulkan informasi untuk mengetahui hal ini.
Identitas musuh, tujuannya, struktur senjata ini, kapabilitas spesifik, kelemahan—ada banyak hal yang perlu mereka selidiki. Mereka harus menemukan sesuatu seperti cetak biru maupun rekaman transmisi, lalu,
“Hm…?”
“—Berhenti, Milady.”
Hanya dua orang yang dapat menyadari keberadaan itu.
Merespons perintah tajam Halter untuk berhenti, Marie membalikkan badannya.
Seorang anak perempuan yang sangat muda berdiri disana.
Marie, yang bereaksi sedikit telat, bergumam,
“—Anak, kecil?”
Bukan.
Itu adalah automata.
Sebuah gadis automata yang lebih kecil dan mungil biarpun dibandingkan dengan Marie yang bertubuh kecil.
Dia mengenakan gaun merah dan putih, lengan dan kaki kirinya ditutupi armor perak.
Dia memakai kalung kubus di dadanya, dan ada sebuah cincin gir di atas kepalanya, seperti sebuah lingkaran cahaya malaikat.
Gadis itu memiliki penampilan yang polos dan suci, namun ada topeng hitam yang kelihatan menyeramkan di wajahnya.
—Dan topeng hitam itu sendiri kelihatan sangat tidak biasa dan jahat.
Keringat mengucur dari dahi Marie, dan dia merasakan hawa dingin di punggungnya. Halter melangkah maju, membentangkan lengannya untuk melindungi Marie.
…Bagi pengamat manapun yang melihat hal ini, situasi ini pastinya merupakan pemandangan aneh untuk disaksikan.
Pria cyborg ini benar-benar meningkatkan kewaspadaannya setinggi mungkin melawan gadis automata ini.
Tapi Marie sendiri tidak melihat situasi ini sebagai aneh maupun tidak normal.
Karena dirinya sendiri…Kenapa automata yang kelihatan seperti anak yang imut di depanku ini membuatku sangat ketakutan sampai-sampai bernapas pun membuatku takut telah bertanya-tanya megenai hal ini juga.
RyuZU memasang senyuman di wajahnya, serta melangkah maju dan berkata,
“Oh—sepertinya kamu memang AnchoR ya? Lama tidak berjumpa.”
“Heh…? AnchoR? Anak ini?”
Naoto membelalakkan matanya, dia bertanya sambil memiringkan kepalanya,
“Kalau menurut Marie, kalau tidak salah AnchoR ada di Tokyo, kan.”
“Hamba juga mendengar hal yang sama, tapi sekarang hamba pikir karena informasi itu diperoleh dari Master Marie, menerima informasi itu begitu saja memang sebuah kesalahan…tapi AnchoR, topeng apa itu? Saya harus bilang kalau topeng itu setidaknya terlalu menjijikan.”
RyuZU bertanya, tapi AnchoR tetap diam.
AnchoR tidak menunjukkan reaksi apapun, hanya memberi pandangan kosong melalui topeng tersebut.
Naoto memiringkan kepalanya dengan ragu.
…Ini?
Mesin ke-4 dari seri Initial-Y, ‘Trishula’ AnchoR.
Karena RyuZU sendiri yang menyatakan hal ini, gadis ini pastinya adalah AnchoR. Tidak mungkin RyuZU salah mengidentifikasi automata lain yang merupakan anggota seri yang sama.
Namun, Naoto bertanya-tanya.
—Ada sesuatu yang salah.
Anak di depannya ini hanya berdiri disana.
Biarpun dia telah melepas headphonenya, Naoto tidak yakin apakah AnchoR sudah aktif, atau ada sebuah fungsi peredam yang menghasilkan ‘kesunyian’.
—Tidak ada gesekan, tidak ada konflik, tidak ada hal yang berlebih. Tidak ada noise, tidak ada distorsi, hanya aliran alami seperti air yang menetes.
Naoto belum pernah mendengar suara sistem setenang itu sebelumnya. Seperti RyuZU, tidak diragukan lagi kalau dia adalah automata yang sangat rumit serta di luar pemahaman manusia.
Tapi, Naoto bertanya-tanya.
—Memang ada sesuatu yang salah.
Dia mengambil satu langkah mundur, menggertakkan giginya ketika dia memelototi anak di depannya. Tidak diragukan lagi; dia sangat yakin.
Anak di depannya ini tidak bersuara, terlalu tenang.
Tapi topeng itu, noise tersebut terdengar dari topeng itu, mengubah dan merusak segalanya.
Sebagai contoh, situasinya seperti sebuah konser aria yang dilangsungkan menggunakan seutas benang, kemudian benang tersebut putus dengan kasar sampai titik dimana suaranya hampir menghancurkan arena dengan suara yang ganas, mengubah segalanya.
Sejumlah mengerikan ‘suara eksotis’ menyelimuti anak itu.
Sekali lagi, RyuZU memanggil namanya,
“AnchoR?”
“Tingkat ancaman, Kategori Dua’—meminta perubahan dalam ‘Power Reservoir’…disetujui.”
Anak itu tiba-tiba berbicara.
Itu bukanlah sebuah jawaban. Apa yang keluar dari mulutnya adalah sesuatu yang lebih menakutkan dan berbahaya.
“—Memulai putaran yang berbeda, Pergeseran ke-3.”
Penampilan anak itu berubah.
Rambutnya menjadi panjang, anggota tubuhnya membesar, matanya menjadi merah, dan pakaian putihnya menjadi hitam.
Cincin yang berputar di atas kepalanya dilipat, kalung kubus di dadanya berubah menjadi sebuah gir padat.
Anak polos yang mirip bidadari itu telah berubah menjadi anak polos yang mirip iblis.
“Chrono Hook—memulai Output Imajiner dari Perpetual Gear, muncul.”
Telinga Naoto menangkap perubahan yang sangat amat keras dan penggilingan noise yang aneh.
—Suaranya terdengar seperti ratapan.
Anak itu mengatakan kata-kata akhir ini,
“—Mobilitas Absolut (Bloody Murder)—”
Sesaat kemudian.

““—BERPENCAR!!””

Baik Halter maupun Naoto meneriakkan hal yang sama, Halter menggunakan firasatnya, dan Naoto menggunakan pemahamannya.
RyuZU segera melaksanakan ‘perintah’ ini tanpa menanyakan maksud di balik kata-kata tersebut, dan dia menyambar Naoto sebelum melompat jauh ke belakang dengan kecepatan luar biasa. Halter, yang menyambar Marie, berhasil melompat jauh sesaat kemudian.
Anak di depan mereka mengangkat tangannya, gir padat yang melayang di atas kepalanya berubah.
Dan sesaat kemudian—
—Ruang itu meledak
Tidak ada cara lain untuk menggambarkan hal ini selain hanya ‘sesuatu’ yang luar biasa. Sesuatu yang harusnya tidak hancur telah hancur, dan sesuatu yang harusnya mustahil dipotong telah terpotong-potong. Suara itu merangsang gendang telinga Naoto dengan tajam.
Lalu, Naoto melihat,
Ruang dimana RyuZU dan dirinya tadi berada telah ‘dimusnahkan’.
Lantai alloy yang tidak bisa dihancurkan dalam situasi normal apapun telah dihancurkan sepenuhnya tanpa jejak.
“—Wha”
Mustahil. Marie tidak bisa berkata-kata.
Di sisi lain, RyuZU menyipitkan matanya sambil menatap lubang berbentuk kawah di lantai tersebut.
Mata topas itu memudar.
“AnchoR?”
RyuZU memanggil namanya lagi.
Namun, matanya diisi dengan kehendak yang kokoh, dan mata tersebut bukan lagi mata seseorang yang melihat orang dekat, sangat berlawanan dari sebelumnya.
“—Saya akan memberimu satu kesempatan. Tolong jelaskan perbuatanmu ini dengan bijaksana. Bergantung pada niatmu untuk melukai Master Naoto, biarpun kamu adalah adik perempuanku yang manis—”

Emosi dalam suara itu terdengar dingin. RyuZU telah kehilangan seluruh kehangatan manusianya saat dia secara bertahap menjadi sebuah automata robot yang hanya fokus untuk mencapai tujuannya.
Dengan suara monoton, dia mendeklarasikan,
“—Saya akan menghancurkan kamu sepenuhnya sampai kamu tidak bisa diperbaiki.”
Dan saat dia berkata begitu, mata RyuZU berubah menjadi merah.
Itu adalah sinyal kalau dia mengaktifkan fungsi spesial yang hanya dipasang dalam dirinya.
Tapi Naoto menyelanya dan berseru,
“Tunggu sebentar, RyuZU! Anak ini—dia tidak berfungsi!”
RyuZU segera menjawab tanpa memalingkan pandangannya,
“Tapi kita baru saja diserang.”
“Bukan begitu, tubuhnya memang bergerak, tapi fungsinya tidak berjalan! Dia itu rusak—tidak, mengatakannya seperti itu kurang tepat. Pokoknya, dia tidak berfungsi dengan normal saat ini!”
—Lagi, ada sebuah suara.
Gir-girnya terdistorsi, berputar dan bergemeretak. Naoto kenal suara ini, suara ini adalah ‘jeritan’ dari gir-gir tersebut, mati-matian mencoba untuk melawan kekuatan yang luar biasa.
Bisa dibilang…dan Naoto berpaling ke arah AnchoR
“!!”
Matanya bertemu dengan mata dibalik topeng tersebut.
Ini bukan hanya sebuah firasat, Naoto berpikir begitu. Dia merasa seperti ini, dia percaya kalau itu memang benar; mata di balik topeng itu jelas memberitahunya hal ini.
—Saya benci, ini—
Sebuah jeritan yang serak dan tidak bisa keluar dari mulutnya, meratapi bahwa suaranya tidak bisa didengar, tapi anak itu terus mengeluarkan suara yang tidak bisa membentuk bunyi.
—Kakak, hancurkan AnchoR—
“Sial.”
Setelah mendengar anak itu betul-betul mengatakan hal seperti itu, Naoto menggertakkan giginya dan mengepalkan tinjunya,
“—Missy, jika aku boleh bertanya, apa kau bisa mengalahkannya?”
Halter berbisik.
Dia tidak pernah berpaling dari anak di depannya itu saat dia bertanya begitu, karena dia paham kalau perbuatan apapun yang anak itu lakukan akan membimbing mereka menuju kematian.
RyuZU juga tidak berpaling,
“…Dalam ‘Mute Scream’—peluang saya menang harusnya sekitar 20%, saya rasa.”
Jawaban ini membuat keheningan menyelimuti mereka.
RyuZU yang bisa memanipulasi waktu imajiner, telah mengiris-iris satu batalion raksasa automata bersenjata berat yang paling mutakhir sendirian saja dalam sekejap, namun dia mengisyaratkan ‘ bisa dibilang mustahil’.
Setelah mendengar fakta ini, wajah mereka semua memucat.
Kata-kata yang dikatakan RyuZU sebelumnya muncul di dalam pikiran mereka
—Unit ke-4 dari seri Initial-Y, ‘trishula’ AnchoR ada di dalam sana.
Dia memiliki mobilitas bertarung dan senjata paling kuat diantara semua automata
Namun, RyuZU melangkah maju, dan berkata,
“Tidak masalah. Dalam skenario terburuk, saya setidaknya bisa mengulur waktu untuk Master Naoto dapat meloloskan diri—”
“Aku menolak! Halter, ke kanan!”
Naoto berseru untuk memotong kata-kata RyuZU.
Di saat yang sama, kubus yang melayang di atas AnchoR berputar kembali.
Halter, yang sedang dalam mode bertarung, merespons suara Naoto dan bergerak dengan kecepatan yang meningkat sambil membawa Marie dan melompat ke kanan.
Dalam sekejap, sesuatu telah membelah ruang dimana Halter tadi berada.
Kubus itu terus berubah bentuk dan berputar.

“RyuZU, ke belakang! Halter, ke kiri!”
Halter mengikuti instruksi Naoto saat dia menghindari serangan tidak terlihat serta tidak bersuara yang datang ke arahnya, dia bergumam dalam hati.
(Dia bisa membaca serangan itu—!? Apa yang dia ‘dengar’ sampai dia bisa melakukan hal semacam ini?)
Halter tidak bisa mengerti, tapi hanya ini satu-satunya cara untuk selamat. Dia harus menggantungkan nyawanya kepada sesuatu yang tidak bisa dia pahami, dan hal itu sungguh mengerikan baginya. Di titik ini, Halter sedang mengalami momen sulit dan melelahkan seperti itu.

—Setelah beberapa serangan, kelihatannya AnchoR memutuskan kalau melakukan serangan seperti tadi itu sia-sia.
Kali ini, kubus itu sendiri yang berputar, dan berhenti.
Dalam sekejap itu, ‘sebuah pedang raksasa’ muncul di tangan AnchoR, dan Marie menjerit sesaat setelah dia melihat pedang itu.
Apa ini lelucon!? Dia bisa memanipulasi ruang—!?”
Pedang itu adalah pedang yang terlalu besar dan tidak cocok dengan tubuh mungilnya. Pedang itu tidak disimpan menggunakan teknologi gir, melainkan muncul begitu saja dari hal yang tidak ada sebelum dihunuskan oleh tangan AnchoR.
Itu adalah teknologi super yang tidak bisa ditiru oleh teknologi gir saat ini.
—Apa ini adalah ‘fungsi unik’ milik AnchoR?
Marie membelalakkan matanya.
Proses berpikir Marie yang tadi membeku telah mencair, dan berakselerasi
—RyuZU tidak bisa menggunakan ‘Mute Scream’ sekarang.
Mustahil musuh akan memberikan peluang bagi RyuZU untuk mengaktifkan fungsi uniknya. Tidak, biarpun RyuZU berhasil mengaktifkannya, biarpun dia bisa mengalahkan AnchoR di titik ini, RyuZU hanya akan menghabiskan seluruh kekuatan dalam pegasnya.
Dan mereka akan terpojok
Untuk memperumit situasinya, Marie sendiri bisa mendengar suara musuh yang mendekat, musuh yang telah dirasakan Naoto.
Ada 42 prajurit dan 18 automata militer. Mustahil bagi mereka untuk menang jika RyuZU tidak bisa bergerak.
Lalu—kalau begitu, apa yang harus mereka lakukan?
“RyuZU! Halter! Merunduk di lantai!”
“Halter! Lemparkan aku!”
AnchoR sedang menghunuskan pedang yang muncul dari kehampaan, dan memutar pedang itu seperti sebuah gasing ketika dia mendekati RyuZU dengan kecepatan sebuah bola meriam.
RyuZU menghindari serangan ini di momen terakhir, dan sabit hitamnya menggores lantai.
Selain itu, Marie, yang dilempar ke udara oleh Halter, mengayunkan Coil Spear,
Dan menembakkan sebuah granat.
Granat itu mendarat tepat di tubuh AnchoR yang sedang mengayunkan pedangnya.
Dentuman ledakan dan api bisa terasa.
—Tapi, Marie berpikir. Dia sangat yakin kalau AnchoR tidak terluka sedikitpun.
Dengan api dan asap yang menyelimuti AnchoR, dia tidak bisa melihat AnchoR, dan Anchor juga tidak bisa melihat sekelilingnya.
“!!”
Halter menyerang.
Gir ganda di seluruh tubuhnya, dari engkel sampai lutut, pinggang, dada, bahu, serta lengan berakselerasi dalam sekejap.
Tubuh prostetiknya mengeluarkan output maksimal ketika dia mengayunkan lengannya dengan kekuatan supersonik—namun,
Puff
Dengan suara yang sangat amat lembut, AnchoR mencengkram tinjunya dengan satu lengan.
Halter melengkungkan bibirnya seraya mengerang,
“…Oi oi, apa-apaan Penghilang Guncangan punyamu itu, Missy?”
Kau menyakitiku, Halter tersenyum. Dia membuka kepalan tangannya di dada, dan melempar peledak ke arah kaki AnchoR.
Targetnya adalah AnchoR. Bukan, targetnya adalah lantai.
Peledak itu meledak.
Sabit RyuZU, tembakan Marie, dan peledak direktif pancaran logam—
Lantai alloy dengan ketebalan lebih dari 20 cm tidak bisa menahan serangan-serangan tadi, dan sebuah retakan mulai terbentuk, menyebabkan AnchoR jatuh terguling dengan segera.
Ledakan itu mengangkat penutup lantai, dan pecahan alooy tersebut ambruk secara diagonal—

Setelah memastikan hal itu, Marie memegang erat pegangan senapannya.
Tanpa mengeluarkan suara, Marie bertanya saat dia bergelantungan dari kawat pengait yang ditembakkan ke atap,
(Jadi akhirnya begini, Naoto—!?)
Lantai ini adalah lantai terdalam kota ini—dan lebih dalam lagi adalah dok yang disamarkan.
Kalau itu benar, jika mereka menyebabkan lantainya ambruk, mereka akan jatuh kedalam inti planet yang kosong di dalam sana. Apa yang menunggu mereka di bawah adalah inti yang membeku sepenuhnya, luar angkasa sungguhan.
RyuZU berhasil meloloskan diri dengan Naoto, dan Halter lolos menggunakan kawat pengait lalu dia kembali untuk membantu Marie.
AnchoR, satu-satunya yang tersisa, harusnya telah jatuh ke kedalaman neraka itu sendiri bersama dengan lantai tersebut!
—Namun.
AnchoR menyeimbangkan dirinya sendiri ketika lantai itu ambruk.
Tatapan di balik topeng itu mengejar posisi Halter, yang sedang menggulung kawat dan pergi menuju Marie.
Kubus itu kembali berputar, dan pedang raksasa di tangan AnchoR menghilang.
Lalu, apa yang menggantikan pedang itu adalah sebuah pilar berbentuk aneh dan tajam dengan ujung berbentuk bor.
Bor rangkap tiga yang menempel pada pilar itu berputar dengan ganas, dan ketika mendengar bunyi itu, Naoto terengah-engah,
“Wah, bunyi yang sangat buruk!”
Dia tidak pernah mendengar bunyi seperti itu sebelumnya, tapi dia tahu gerakan apa yang menghasilkan bunyi tersebut. Jika dia ingat dari apa yang tertulis di buku teks, gerakan ini adalah—Naoto berseru ke atas,
“Marie!! Fenomena apa yang disebabkan oleh Pergerakan Resonansi Rangkap Tiga!?”
Kata-kata Naoto menyebabkan Marie terkesiap,
“—Sebuah Meriam Resonansi!? Dengan ukuran seperti itu!?”
Kau pasti bercanda Marie terengah-engah.
Biasanya, fenomena itu adalah sebuah senjata penghancur raksasa yang umunya dipasang di helikopter bersenjata berat, atau di Kapal Penghancur. Fenomena ini bukanlah sesuatu yang bisa ditangani oleh unit tunggal, baik dalam hal kekuatan maupun energi yang digunakan.
Namun, meriam itu punya kekuatan yang cukup untuk menghancurkan sebuah gedung pencakar langit dalam satu kali tembakan—
Dan meriam itu diarahkan pada Halter, dan juga pada Marie.
Tidak ada waktu lagi untuk menghindar.
Setelah AnchoR menarik pelatuknya, kedua orang itu akan menguap.
Tidak bisa menghindari pertanda kematian, hawa dingin yang mengocok perut menggelora di dalam diri mereka.
—Harus, harus memikirkan sesuatu!
Pikiran Marie berputar dengan kosong. Dia tidak bisa mengatur pikirannya. Dia tidak bisa mendapat sebuah jawaban. Kecerdasannya telah mengkhianatinya. Dia merasa tidak berdaya di hadapan batasannya.
Tidak ada waktu lagi.
Ahh, tapi aku bisa membuat RyuZU dan Naoto meloloskan diri di momen ini, kan?
Pemikiran seperti itu muncul di sudut pikiran Marie.
Di momen itu—

“—RyuZU! ‘Hentikan’ itu—!”

Naoto berseru.
““Apa!?””
Ketika mendengar seruan itu, Marie dan Halter meragukan pendengaran mereka.
Tapi RyuZU mematuhi kata-kata Naoto dan mengayunkan sabit hitamnya.
Sabit itu meluncur tajam ketika mengenai meriam yang telah diarahkan oleh AnchoR. Tubuh meriam itu sendiri mengeluarkan ledakan yang memekakkan telinga, dan sabit yang menusuk meriam itu terkena ledakan, membuatnya hancur berkeping-keping.
Di saat ini, Halter berhasil menyambar dan memeluk Marie dengan sukses.
AnchoR membuang meriam yang rusak itu, dan mengalihkan pandangannya kepada RyuZU dan Naoto.
Kubus itu kembali berputar.
Tapi sebelum kubus itu berputar, RyuZU berputar sekali di udara dan mengayunkan sabit yang tersisa. Sabit itu memanjang dengan hebat, kelihatan siap untuk mengenai AnchoR yang tidak bergerak, dan mengait kaki AnchoR dari titik buta, merusak pijakannya.
Tapi RyuZU, yang sedang menyerang di waktu yang sama, kehilangan keseimbangannya di udara.
“Naoto!? RyuZU!?”
Seruan Marie menembus reruntuhan disana.
RyuZU mencoba mengatur posisi tubuhnya sambil mendekap Naoto, tapi,
AnchoR kembali mengincar peluang ini.
Tubuhnya masih tidak seimbang, dia bergelantungan dari puing-puing, lalu menarik keluar senjata baru dari kehampaan, dan mengarahkan meriam itu kepada dua orang tersebut.
…Awas!
Marie hampir mau meneriakkan peringatan itu, tapi sebelum dia melakukannya, Naoto berseru.
“RyuZU— ‘bawah’!”
Merespons kata-kta tadi, RyuZU menyerah untuk menyeimbangkan dirinya.
Dia mengayunkan sabitnya, dan memukul puing-puing.
Pantulan serangan itu menyebabkan keduanya jatuh lebih cepat dari sebelumnya, dan serangan AnchoR menggores mereka. Mereka berhasil menghindari serangan langsung.
Tapi mereka tidak dapat meniadakan guncangan yang terjadi secara penuh, dan RyuZU berputar-putar ketika dia jatuh bersama dengan puing-puing tersebut.
Tepat di depan mereka adalah—
“Halter! Tembakkan kawat pengait ke arah mereka!”
“Tidak bisa, Milady! Aku tidak bisa menjangkau mereka!”
Marie segera berteriak, hanya untuk diikuti bantahan Halter.
RyuZU memeluk Naoto ketika dia terus terjatuh menuju ruang bawah tanah yang sangat jauh.
Dan tubuh mereka berdua menghilang dengan cepat di tengah-tengah reruntuhan tersebut.
Di sebelah sana—adalah bagian dasar planet dimana tidak ada orang yang pernah kembali setelah mereka terjatuh.
Itu adalah titik dimana seorang RyuZU pun tidak bisa berbuat apa-apa.
Bahkan automata legendaris ini, yang bisa memanipulasi waktu dan jauh melampaui teknologi saat ini setelah 1000 tahun, tidak memiliki fungsi untuk terbang.
AnchoR nyaris gagal berpegangan ke pinggir lubang yang ambruk tersebut ketika dia tetap diam disana.
Dan dia menyaksikan kedua orang tersebut jatuh ke dalam neraka yang dalam.
Wajahnya ditutupi oleh topeng, dan tidak ada ekspresi yang bisa terlihat.
Namun, kubus yang berputar di atas kepalanya,
…Perputaran kubus itu goyah, biarpun hanya sedikit.



[1] Tukang cerita di zaman Yunani Kuno
[2] Semacam kapal perang yang dikenalkan di awal abad 20

Clockwork Planet Jilid 2 Bab 2 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.