05 Februari 2016

Arifureta Bab 9 Bahasa Indonesia


ARIFURETA SHOKUGYOU DE SEKAI SAIKYOU
JILID 1 BAB 9
PERUBAHAN SEPENUHNYA

Tes…Tes…
Hajime merasa kesadarannya perlahan-lahan kembali saat tetesan air mengenai pipinya dan memasuki mulutnya. Bertanya-tanya apa yang menjadi penyebabnya, dia perlahan-lahan membuka matanya.
(…Aku hidup? … Aku selamat?....)
Mencoba untuk bangun, dia terhenti saat keningnya membentur langit-langit rendah lubang tersebut.
“Akh!?”
Dia sama sekali lupa tentang lubang buatannya yang hanya setinggi 50 cm. Hajime mengulurkan tangannya ke langit-langit untuk mentransmutasi langit-langit yang lebih tinggi. Hanya satu lengan yang muncul di penglihatannya. Dia ingat kehilangan lengan kirinya, dan merasakan rasa sakit bayangan kehilangan anggota tubuhnya. Pada saat itu dia membiarkan lengan kirinya turun, atau apa yang tersisa darinya. Terdapat bengkak di sekitar luka tapi telah tertutup.
“Ba-bagaimana?...Ada sangat banyak darah…”
Dia tidak dapat melihat dalam kegelapan, tapi jika dia memiliki penerangan, dia akan dapat melihat kolam darah. Jumlah darah yang dia hilangkan akan membunuh orang pada umumnya. Memeriksa sekitarnya, dia meraba-raba sekelilingnya dengan tangannya dan merasakan sesuatu yang licin. Darahnya masih berada di situ dan belum mengering. Bagaimanapun, sepertinya dia telah berdarah, dan sepertinya belum begitu lama waktu berlalu sejak dia pingsan.
Sementara dia bertanya-tanya tentang lukanya, tetesan air yang lain mengenai pipinya. Begitu tetesan tersebut memasuki mulutnya, dia merasakan tubuhnya kembali bertenaga.
“…Tidak mungkin… apa ini?”
Menggunakan tangannya, dia melakukan sebuah transmutasi pada area di mana tetesan tersebut berasal, sementara dia mengabaikan rasa sakit bayangannya. Melangkah maju dan semakin maju saat dia mentransmutasi dengan sedikit pusing. Anehnya saat dia meminum cairan ini, kekuatan sihirnya kembali dan tak peduli berapa banyak transmutasi yang dia lakukan, kekuatan sihirnya tidak habis. Hajime terus mengulang perubahannya untuk menemukan sumber air tersebut.
Pada akhirnya jumlah dari cairan misterius tersebut meningkat dan semakin banyak tetesan yang terdengar. Hajime akhirnya mencapai sumber tersebut.
“Ini… adalah…”
Sebuah bijih sebesar bola basket yang memancarkan cahaya berada di situ. Bijih ini terkubur dan melebur dengan bebatuan di sekitarnya, dan benda tersebut meneteskan cairan itu. Sebuah batu yang indah dan misterius. Bijih itu memancarkan cahaya biru yang lebih gelap daripada warna biru laut, setidaknya itulah gambaran terbaik yang bisa dia pikirkan. Rasa sakit bayangannya terlupakan.
Terpesona dengan batu tersebut, Hajime menjangkau untuk menyentuhnya dengan mulutnya. Rasa sakit samar dan kabur yang tubuh dan pikirannya rasakan menjadi hilang, dan rasa lelahnya lenyap. Sepertinya cairan dari batu ini telah menyelamatkannya.
Batu ini sepertinya memiliki kekuatan pemulihan. Rasa sakit bayangannya masih muncul, tapi luka-luka lainnya atau efek-efek negatif telah disembuhkan.
Hajime tidak tahu, tapi batu ini adalah harta tingkat tertinggi yang disebut “God’s Crystal”. Kristal ini adalah sebuah relik legendaris yang tadinya dipikir hanyalah sebuah cerita. Susunan kristal ini adalah sebuah keajaiban, karena ini adalah kristalisasi dari kolam magis yang terkumpul secara tak sengaja dan membutuhkan waktu 1000 tahun untuk terbentuk. Mengamatinya, kristal ini berdiameter sekitar 30-40 cm. Setelah mengkristal, benda ini membutuhkan waktu beberapa ratus tahun lagi untuk menjadi jenuh dan menyebabkannya meluap. Luapan cairan itu disebut “Sacred Water”, dan saat meminumnya dapat menyembuhkan berbagai macam luka atau penyakit. Sekalipun itu tidak memiliki kekuatan untuk menumbuhkan kembali bagian-bagian tubuh, dan benda ini dianggap sebagai air mancur awet muda jika terus menerus diminum. Sebuah cerita di mana Eht menyembuhkan orang-orang dengan air suci ini di masa kuno sering diceritakan.
Dia menyadari bahwa dia kembali dari ambang kematian. Hajime yang menyandar pada dinding terkulai turun. Mendekatkan kedua lututnya, dia menempatkan kepalanya di antaranya sambil gemetaran karena begitu dekatnya dia dengan kematian. Dia tidak memiliki energi bahkan untuk mencoba melarikan diri, hatinya hancur.
Hajime mungkin menghadapi rasa permusuhan dan kebencian. Penyelamatan apapun akan dihargai, dan dia mungkin akan dapat bangkit lagi. Akan tetapi, mata beruang itu membuatnya takut. Dia tidak ingin menemui tatapan predator yang ingin melahapnya. Tatapan yang tidak pernah dialaminya karena dia terbiasa berada di yang teratas dalam hukum alam. Tatapan tersebut bertanggung jawab atas mengapa lengannya dimakan dan ini menghancurkan hatinya.
“Seseorang… tolong aku…”
Di jurang ini, suaranya tidak mencapai siapa pun…
* * *
Apa yang dia lakukan?
Hajime sedang terbaring pada sisi tubuhnya, meringkuk dalam posisi seorang bayi.
Empat hari telah berlalu sejak dia pingsan. Selama ini dia tidak banyak bergerak dan air suci telah memperpanjang nyawanya. Air suci itu terus mempertahankan nyawa seseorang kecuali dalam kasus ekstrim, dan itu tidak mengurangi sedikit pun rasa lapar. Dia tidak akan mati, tapi dia menderita karena rasa sakit bayangan dan sensasi kelaparan.
(Bagaimana aku bisa berakhir seperti ini?)
Sebuah pertanyaan yang dia tanyakan pada dirinya sendiri terus menerus. Pikirannya pulih karena meminum air suci, sekalipun dia menderita rasa nyeri dan lapar. Sayangnya, karena pikirannya jernih, semua penderitaan tersebut terasa dengan jelas.
Suatu hari Hajime berhenti minum air suci itu.
(Jika penderitaan ini terus berlanjut…aku lebih baik…)
Setelah dia berbisik begitu, dia jatuh tak sadarkan diri.
Tiga hari berlalu. Rasa lapar yang mereda kembali muncul. Rasa sakit bayangannya tidak menghilang.
(Tetap saja… aku tidak mati… aku tidak ingin mati…)
Sekalipun dia berharap mati, sebagian dari dirinya masih ingin hidup. Pertentangan pikiran-pikirannya berubah dalam benaknya. Dia tidak lagi dapat berpikir dengan normal. Gumamannya menjadi tidak karuan dan liar.
Tiga hari berlalu. Air suci telah kehilangan kegunaannya, kalau begini dua hari lagi berlalu dan dia kemungkinan besar akan mati. Dia belum mendapat asupan cairan, apalagi makanan.
Keanehan mulai muncul dalam pikiran Hajime akhir-akhir ini.
(Kenapa aku harus menderita… Apa yang telah kulakukan…)
(Kenapa ini terjadi… Apa penyebabnya…)
(Dewa secara tak beralasan telah membawanya paksa…)
(Seorang teman sekelas mengkhianatiku…)
(Kelinci itu memandangku rendah…)
(Monster itu memakanku…)
Perlahan-lahan pikirannya menjadi semakin gelap. Siapa yang salah? Siapa yang memaksakan hal-hal tidak masuk akal ini padanya? Siapa yang mencelakakannya? Rasa sakit berangsur-angsur menjadi kemurkaan, kemurkaan menjadi kebencian, dia mencari seorang musuh. Segalanya telah berusaha mengotori jiwanya. Rasa sakit yang hebat dan kelaparan yang merusak tubuhnya, dan kejadian-kejadian yang membuatnya berada di sini, ke dalam kegelapan tanpa batas.
(Tidak ada seorang pun yang datang menolongku…)
(Kalau tidak ada seorang pun yang akan menolongku, apa yang harus kulakukan?)
(Bagaimana caranya menyingkirkan rasa sakit ini dariku?)
Hari kesembilan. Hajime berpikir telah membuat terobosan dalam situasinya saat ini. Dengan hati yang ingin lepas dari siksaannya, dia pertama-tama perlu membuang rasa benci dan kemarahan yang tak dibutuhkan. Karena penderitaan tidak berakhir saat hatinya berubah menjadi hitam…
(Apakah…yang kuharapkan?)
(Aku berharap untuk “hidup”)
(Jenis orang apakah yang menghalangiku?)
(Musuh-musuhku)
(Kalau begitu apa yang harus kulakukan?)
(Aku—aku…)
Hari kesepuluh. Hatinya kini bebas dari rasa benci da marah. Dewa yang keterlaluan, teman sekelas yang menusuk dari belakang, monster-monster yang mengancam, orang yang tersenyum dan berharap untuk melindunginya, semua itu sia-sia. Untuk hidup, untuk mendapatkan hak untuk selamat, segala sesuatu adalah hal yang remeh. Hajime telah tiba pada jawaban atas pertanyaannya.
Itu adalah…
BUNUH
Bukan karena kebencian, permusuhan, ataupun kebencian. Untuk dapat hidup, dia akan membunuh dengan niat yang murni.
Semua yang mengancam keselamatannya adalah musuhnya, dan bagi musuhnya adalah …
(BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH)
Untuk meloloskan diri dari rasa kelaparan ini,
(Bunuh dan Lahap!)
Pada saat ini, sifatnya yang halus dan lembut, pemaaf dengan seulas senyum pahit pada setiap tanda-tanda konflik, Hajime yang Kaori anggap kuat, sama sekali gugur dari karakter baiknya tersebut.
Nagumo Hajime yang baru muncul. Seorang Nagumo Hajime yang dengan tanpa ampun melenyapkan siapapun yang berdiri menghalangi kelangsungan hidupnya. Hatinya yang hancur kembali hancur. Hati yang baru ini bukanlah hati lemah yang ditambal dengan kasar. Tidak, hati barunya yang keras dibentuk ulang dengan api penderitaan, putus asa dan kegelapan.
Hajime mulai menggerakkan tubuhnya yang sepenuhnya lemah. Selama beberapa hari ini dia menenggak banyak air suci seperti seekor anjing yang diberikan mangkuk air minumnya. Rasa lapar atau sakit bayangannya tidak menghilang, tapi air tersebut memulihkan tubuhnya.
Matanya menyorot tajam, mulutnya yang berair perlu diseka dan wajahnya tiba-tiba menjadi menyeringai tanpa takut. Taring-taring di mulutnya yang melengkung mengeluarkan kilatan cahaya. Tentunya ekspresinya mengalami perubahan mendadak tepat seperti pikirannya. Hajime bangkit untuk menyatakan transmutasinya, dan dia bergumam lagi…
“BUNUH”
* * *
Di dalam labirin terdapat sekawanan serigala berekor dua. Sekawanan serigala biasanya terdiri dari 4-6 anggota. Karena mereka adalah monster terlemah di tingkat ini, mereka mengimbanginya dengan bekerja sama dalam grup. Grup yang hajime lihat bukanlah pengecualian, mereka total berjumlah empat.
Dengan waspada, dia mengamati sekitarnya dari tempatnya bersembunyi di dekat dinding dan menunggu tempat yang terbaik untuk berburu. Metode paling mendasar adalah merencanakan penyergapan. Dia membiarkan serigala-serigala itu berkeliaran untuk sementara sampai ke tempat penyergapan sempurna yang ditemukannya, tempat ini memiliki empat batu yang menutupi keempat sudut. Sekarang dia menunggu mangsanya datang. Begitu salah satu dari mereka muncul, monster tersebut akan dibantai dengan digencet oleh sebuah batu dan dinding. Hajime hampir berliur saat memikirkan mangsanya, sampai dia merasakan sesuatu dimulai.
Karena kelangsungan hidup mereka yang terpenting adalah kerja sama mereka, mereka hampir memiliki hubungan telepatis antara satu dengan yang lainnya. Sesama anggota kawanan tidak akan dapat berkomunikasi secara langsung dengan sesamanya, tapi mereka akan entah bagaimana tahu di mana mereka masing-masing berada dan apa yang sedang mereka lakukan. Akan tetapi, ada sesuatu yang salah. Mereka berkumpul menjadi sebuah grup yang terdiri dari empat anggota tapi entah kenapa pemimpinnya hanya dapat merasakan tiga di antara mereka. Tanda dari salah satu serigala tersebut yang berada di sisi seberang dinding telah menghilang.
Monster tesebut merasa ragu. Saat dia berusaha untuk bangkit dari posisi meniarapnya, monster tersebut mendengar satu pekikan dari kawanannya. Kegelisahan terlihat dari satu serigala yang berada dekat dengan rekannya yang menghilang. Rekan tersebut tertangkap dan terjepit di antara sesuatu dan tidak dapat keluar. Dua serigala dari sisi seberang bergegas untuk menyelamatkannya. Akan tetapi, tanda dari hewan yang meronta-ronta itu menghilang.
Bingung, monster tersebut dengan cepat pergi menuju dinding dan memeriksa daerah tersebut, tapi tidak ada apapun di sana. Dua serigala kebingungan yang tersisa menggunakan hidung mereka untuk mengendus-endus tempat di mana kedua serigala lainnya menghilang untuk mendapatkan petunjuk.
Pada saat itu, tanahnya tertekan dan dinding-dinding menonjol keluar menutupi mereka. Saat mereka akan melompat ke samping, lantai yang tertekan tiba-tiba kembali ke posisinya semula. Ini akan membuat tindakan meloloskan diri dari perangkap bukanlah hal yang mudah bagi para serigala itu. Jika monster tersebut tidak kebingungan menemui pengalaman baru semacam itu, mereka tidak akan tertangkap dengan begitu mudahnya. Penyerangan itu telah direncanakan untuk membingungkan mereka dan keraguan yang sekejap saja. Itu adalah kesempatan yang cukup bagus untuk menangkap mereka.
“Graa—aa!?”
Kedua serigala itu memekik saat dinding-dinding menelan mereka… kemudian tidak ada yang tersisa.
Hajimelah yang menangkap keempat serigala itu. Berjuang dengan kebulatan tekad, dia dapat menahan rasa lapar dan sakit bayangan kehilangan anggota tubuhnya. Air suci telah menopangnya sejauh ini. Untungnya dia telah berlatih sungguh-sungguh berulang kali mentransmutasi dan meningkatkan kapasitas kekuatan sihirnya.
Transmutasinya lebih cepat, lebih akurat dan lebih luas sekarang. Kalau dia pergi keluar sekarang, dia mungkin mati. Dia telah terus-menerus latihan saat dia berada di ruangan dengan God’s Crystal. Hajime ingin mengasah senjatanya meskipun sedikit, dan tentunya senjatanya adalah transmutasi.
Sekalipun itu adalah hal yang mungkin baginya untuk menahan rasa sakit, tetap saja perasaan itu menyerangnya. Rasa sakit inilah yang mungkin membuat Hajime berkonsentrasi sampai seekstrim itu. Ini membuatnya melakukan transmutasi beberapa kali lebih cepat dari biasanya, dan jangkauan transmutasinya tiga meter sekarang. Tentu saja dia tidak punya sihir tipe tanah yang dapat digunakan untuk menyerang.
Dia memiliki sebuah penyimpanan kecil berisi air suci dan mulai mencari musuhnya. Mengunakan transmutasinya, dia dapat menemukan keempat serigala itu. Hajime memutuskan untuk membuntuti mereka. Beberapa kali dia hampir ketahuan, tapi dia dapat lolos dari kejaran mereka dengan bersembunyi di tempat yang dia bentuk dengan transmutasinya. Saat itulah dia melancarkan perangkapnya dan menggunakan transmutasi untuk menyeret mereka ke dinding.
“Sekarang apa? Transmutasiku tidak memiliki kekuatan membunuh. Baik kecepatan dan kekuatan transmutasiku tidak kelihatan cukup untuk membunuh monster-monster ini.
Hajime melihat melalui lubang kecil pengintip dengan matanya yang berkilat. Monster yang tak bergerak itu menggeram saat mereka berada di dalam dinding.
Sepertinya dia benar, serigala-serigala itu tidak mati. Sebelumnya, dia telah menyerang mereka dengan serpihan batu, tapi kelihatannya itu tidak memiliki cukup kekuatan dan kecepatan untuk melukai mereka. Ini mungkin karena tanah di sini. Sihirnya hanya dapat digunakan untuk mengolah mineral, jadi menggunakan kekuatan untuk membunuh sepertinya masih di luar kemungkinan. Karena itu, menahan mereka adalah hal terbaik yang bisa dia lakukan.
“Aku penasaran apakah aku sebaiknya membuat mereka kehabisan napas… tapi aku tidak bisa menunggu selama itu.”
Mata Hajime mulai terlihat menyengir saat berkilat bagaikan predator. Dia menekankan lengan kanannya ke dinding dan melancarkan sihirnya. Sepotong batu terpotong dan perlahan-lahan dia mengubahnya sementara dia berkonsentrasi membayangkan sesuatu. Saat itu selesai, batu tersebut telah berubah menjadi tombak spiral ramping. Terlebih lagi, benda tersebut memiliki bagian lain yang ditambahkan padanya, seperti sebuah pegangan.
“Nah sekarang, menggali!”
Tombak tersebut ditancapkan ke tanah di mana para serigala berada. Kulit dan bulu yang keras bersentuhan dengan ujung dari tombak itu.
“Bagaimanapun aku tidak bisa menusuk kalian. Itu memastikan pendapatku.”
Kenapa dia tidak menggunakan pedang atau pisau? Karena sudah diketahui secara luas bahwa semakin kuat monsternya maka semakin keras pula. Ada beberapa pengecualian untuk itu. Hajime telah banyak belajar untuk mengimbangi ketidakbergunaannya dan dari apa yang telah dia pelajari, sebilah pedang biasa atau pisau akan sia-sia menghadapi monster-monster ini.
Karena itu, Hajime mulai memutar pegangan di tombak tersebut. Tombak itu berputar menyamai gerakan Hajime. Dia sedang menggunakan tombak ini sebagai sebuah bor untuk menembus kulit monster yang keras.
Menambahkan berat tubuhnya untuk memutarnya, dan pada akhirnya perlahan-lahan menembus kulit monster tersebut.
“Graaa—aa‼’
Serigala itu meraung.
“Apakah itu sakit? Aku tidak akan minta maaf. Aku melakukan ini untuk bertahan hidup. Bukankah kalian akan memakanku juga? Kita merasakan hal yang sama.”
Sambil berbicara, dia terus menerus memutarkan bor tersebut. Serigala itu mencoba berjuang mati-matian, tapi itu mustahil karena tidak terdapat celah untuk menghindarinya.
Akhirnya, bor tersebut menembus lapisan kulitnya yang keras. Bor tersebut tanpa ampun menghancurkan organ bagian dalam serigala tersebut. Sebuah jeritan kematian keluar dari mulutnya. Monster itu menjerit sedikit tapi segera dia mengejang sedikit dan akhirnya berhenti bergerak.
“Baiklah, ayo dapatkan makanan dulu.”
Tertawa dengan riang, dia membantai tiga yang lainnya dengan cara yang sama. Saat dia selesai, bangkai-bangkai itu diambilnya menggunakan transmutasi. Bulu-bulunya dilepaskan dengan cukup kerepotan, karena dia hanya punya satu tangan.

Rasa laparnya merangsang keinginannya untuk makan.

Arifureta Bab 9 Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.