28 Januari 2016

Samayou Shinki no Duelist Jilid 1 - Bab 4



CHAPTER 4
PERMATA SNOW-WHITE DRAGON FANG.

Dini hari, sebelum matahari terbit, seorang gadis berjalan menyusuri jalan menuju labirin.
Stefan berkata kalau kelompoknya akan berangkat di pagi hari. Jika dia(pr) berangkat sekarang, dia akan bisa bertemu dengan mereka.
Franka ingin meminta kakaknya untuk membawanya bersama mereka.
Dia ingin menunjukkan kemampuannya agar diakui oleh mereka.
Stefan dan Bertolt adalah tipe petualang yang hanya mengakui orang yang kuat. Oleh karena itu, menurut mereka, dia sama sekali tidak berguna.
‘Aku berada di tempat yang bahkan kamu takkan mampu bermimpi untuk mencapainya’ kakaknya berkata padanya.
Oleh karen itu, dia ingin menunjukkan padanya. Suatu saat nanti, saat dia berdiri di tempat yang setara dengannya, mereka akan bisa benar-benar berbicara satu-sama lain.
--Franka tiba-tiba menyadari beberapa sosok yang menghadang jalannya tidak jauh di depannya.
Secara reflek dia waspada pada mereka sampai salah seorang dari sosok itu memanggilnya dengan suara yang tidak asing baginya.
“Lihat kan? Dia beneran datang. Aku bilang juga apa?”
Dia adalah Alfred, bersama dengan Yuuki dan Tina yang berdiri di sampingnya.
“Apa? Kalian...? Kenapa?”
“Gurumu mengetahui apa yang kamu rencanakan,” kata Yuuki sambil mengangkat bahunya.
“Kamu tidak berpikir untuk melakukan hal gila, kan, Franka?” Kata Tina, dengan ekspresi cemas dan simpati.
“Um, yaah... aku...”
Terkejut karena sesuatu yang diluar dugaannya, tatapan Franka berkeliaran kesana kemari.
“...Maafkan aku.”
“Jadi apa rencanamu? Memohon pada Stefan  untuk membawamu? Atau mungkin kamu berencana untuk membuntutinya? Itu yang paman pikirkan.”
“Yaah, mungkin, keduanya. Jika aku tidak bisa memohon padanya, maka aku akan membuntutinya—“
“Dengarkan baik-baik, kamu tidak boleh pergi. Kamu masih belum memiliki apa-apa saja yang dibutuhkan.” Kata Alfred sambil mengeluh. “Kamu ingin berbicara dengannya tentang ayahmu kan? Masih ada banyak kesempatan selain hari ini. Jika dia tidak ingin berbicara denganmu sebelum kamu setara dengannya, maka tunggu sampai kamu menjadi lebih kuat. Aku tahu kalau kamu memiliki potensi itu.”
“Aku menghargai pendapatmu guru... tapi aku sudah cukup lama menunggu.”
Franka tersenyum sedih.
“Ayahku adalah hal yang paling berharga bagiku. Dia sangat kuat dan baik. Kami sudah berbagi banyak kenangan berharga bersama. Meskipun sebagai seorang petualang,  dia menghabiskan waktu lebih banyak di dalam labirin daripada di rumah, tapi setiap kali dia pulang, hal pertama yang dilakukannya adalah memelukku. Dia membuatku sangat, sangat bahagia. Jadi—“
Bagaiamana ekspresi mukanya yang muram saat dia berbicara, dia sendirilah yang paling menyadarinya.
“Aku tidak bisa membiarkan mereka yang mencuri kebahagiaan itu dariku, maupun siapapun yang menodai kenangan itu. Aku tahu apa yang ingin kamu katakan, tapi, bagaimanapun juga, aku harus—“
“Kamu bertanya pada Shinki, kan?” kata Yuuki.
Franka mengangkat mukanya dan menatap Yuuki.
“Kemarin, kamu sangat agresif... caramu betanya padanya, seakan-akan kamu sudah mengetahui semuanya. Kamu adalah tipe orang yang memendam rasa sedihmu sendiri, orang yang takkan membiarkan orang lain mengetahi apa yang mengganggumu. Apa aku salah?”
--Dia tidak salah.
“...”
“Walaupun mempersembahkan reliquia pada Shinki adalah tugas anggota oath legion, itu bukan berarti orang lain tidak boleh melakukannya. Siapa saja boleh memberikan persembahan, dan siapa saja dapat menerima hadiah jika melakukannya, entah itu hadiah harta maupun mukjizat. –kamu meminta pada Shinki untuk menguak identitas pelakunya, kan?”
“...Tepatnya, apa yang aku minta adalah untuk ‘melihat akhir khayat ayahku’. Aku melakukannya kemarin lusa. Aku kesana setelah berpisah dengan Tina saat pertunjukannya dibatalkan.”
Ayah Franka juga adalah guru Stefan dalam menggunakan tombak.
Bahkan jika hubungannya dengan kakaknya sudah agak renggang, jauh di lubuk hatinya dia masih berharap kalau kakaknya akan mau mendekatinya, lalu secara terbuka dan terus terang menceritakan tentang detil kematian ayahnya.
Tapi saat Stefan menganggap Bertolt sebagai rekannya dan menghina kematian ayahnya, harapan itu sirna.
Setelah itu, dia mengunjungi kuil suci ‘Shinki yang menyangga langit’ dan mempersembahkan salah satu reliquia peniggalan ayahnya, dan menerima mukjizat sebagai gantinya.
Sejujurnya, tindakannya itu sudah lebih dari sekedar terburu-buru, tapi dia tidak bisa mengabaikan apa yang dilihatnya. Dan karena sekarang dia telah mengetahui kebenarannya, dia tidak bisa berdiam diri saja.
“Apa yang kamu lihat?”
“...Sesuatu yang tidak ingin ku lihat, tapi bukan sesuatu yang mengejutkan lagi bagiku.”
“Tidak peduli apa yang kamu lakukan sekarang, kamu sudah sangat terlambat untuk mengubah apa yang kamu lihat. Kamu takkan mendapatkan apapun dengan mengambil tindakan beresiko ini sekarang.”
“—Setidaknya, aku bisa menenangkan perasaanku. Yuuki-san, apa kamu bisa membayangkan bagaimana perasaan ayahku saat dia dibunuh?”
“...”
“Maaf, tolong menyingkir.”
Mengeluh menyerah, Yuuki menyerah pada permintaannya.
Franka merasa jika dia pergi sekarang, itu akan menajdi akhir dari hubungan mereka.
Dia takkan pernah mendekatinya lagi. Dia merasa yakin dengan hal itu.
Mengeluh, dia merasakah kesepian yang mendalam. Tapi, dia tetap melangkah maju.

※※※

“Aku sudah melakukan apa yang kubisa. Tapi akhirnya hal ini tetap berjalan seperti apa yang ku perkirakan,” kata Yuuki pelan.
Dari awal, hal itu memang sesuatu yang  mustahil. Tidak ada gunannya mencoba untuk membujuk seseorang untuk tidak mengambil tindakan berbahaya mereka saat dia sendiri memutuskan untuk melakukannya walaupun sudah mengetahui semuanya.
Setelah berkata dengan singkat ‘maaf karena sudah merepotkanmu’, Alfred segera pergi mengikuti Franka. Dia berniat untuk mengikutinya dan mencoba untuk membujuknya sekali lagi.
“Baiklah, Tina, ayo pu—“
“Dasar bodoh akuuuuuuuuuuuttt!!”
Bersamaan dengan teriakannya, Tina menendang kaki Yuuki.
“Ow!”
“Padahal ku pikir kamu punya semacam rencana lain. Apa-apaan ‘hal ini terjadi seperti apa yang ku perkirakan’! apa kamu sama sekali tidak berperasaan, Master?! Seberapa dingin darahmu itu?!”
“Yaah, aku ini tidak bedarah dingin, kan? Aku sudah berusaha. Kamu sendiri melihatnya kan kalau dia tidak ingin berhenti. Apa lagi yang bisa ku lakukan?”
“...Lupakan saja. Kamu tidak seperti apa yang ku pikirkan.”
Tina menatap tajam padanya lalu berbalik.
--Menuju labirin.
“Kamu mau pergi kemana?”
“Tentu saja untuk menghentikan Franka. Dan jika aku tidak bisa menghentikannya, maka aku akan membantunya.”
“Apa kamu berenacana untuk memberitahunya kalau kamu seorang Shinki?”
“Kalau tidak ada cara lain. Aku hanya perlu meminta mutiara suci darinya, dan setelah aku membuat mikjizat, dia pasti akan percaya. Setidaknya, aku bisa bertindak sebagai perisai. Bukan seperti Void Beast bisa melukaiku.”
“Kamu akan melanggar perjanjian kita. Kamu sudah berjanji untuk tidak membocorkan identitasmu, kan?”
“Perjanjian?”
Tina berhenti dan berbalik.
“Peduli setan dengan perjanjianmu itu?! –Kamu harus memahami sesuatu, Master. Tina adalah seorang Shinki, dan hanya untuk tujuan itulah Tina ada disini. Aku adalah orang yang bertugas untuk melindungi kota dan segenap penduduknya. Jika aku bahkan tidak bisa menyelamatkan seseorang yang membutuhkan bantuan di depan mataku, bagaiama mungkin aku bisa menyebut diriku seorang Shinki? Jika tempat tinggal dan makanan adalah bayaran untuk mengabaikan jati diriku, lupakan saja perjanjian itu!”
Setelah meneriakkan semuanya dalam satu tarikan nafas, dia terengah-engah.
“Tapi itu akan menjadi masalah bagiku.”
“...Tidak perlu khawatir... aku takkan menimbulkan masalah bagimu.”
Nafas Tina kembali normal, dan dia melanjutkan.
“Terima kasih atas semua yang telah kamu berikan selama ini. Baiklah, kalau begitu—“
“Bukan itu yang ku maksud. Bisnis berlaku dengan sistem investasi, kamu menggunakan uang dengan harapan untuk mendapatkan lebih banyak uang. Aku masih belum mendapatkan apapun darimu. Apakah Shinki adalah sosok yang tidak mau melunasi hutang mereka?”
“J-jadi apa yang kamu inginkan? Aku tidak punya uang...”
“Itulah kenapa kamu tidak bisa membatalkan perjanjian kita sekarang. Bagaimaan kalau kita ambil jalan tengah saja? Sepertinya memang apa boleh buat.”
“Eh? Eh?”
Tina berkedip kosong, kebingungan.
“Maksudmu... kamu akan membantu?”
“Anggap saja sebagai rangkaian peningkatan jumlah investasiku. Bagaimanapun juga, aku pikir aku tahu cara untuk menolong Franka.”
“Apa-apaan itu, jadi kamu memang punya rencana!”
Tina tersenyum bahagia.
“Itu baru namanya Master! Maaf karena sudah memanggilmu berdarah dingin.”
Kamu benar tentang hal itu, pikir Yuuki. Aku bukan berdarah dingin... aku hanya seorang pengecut.
Menghadap Tina yang mencondongkan diri dengan semangatnya, Yuuki tersenyum kecut dan menajawab.
“Tujuan Franka adalah agar Stefan mengakui kekuatannya, tapi orang itu adalah petualang kelas satu, sedangkan Franka hanyalah petualang kelas empat. Bahkan jika kita mencoba untuk membantunya, paman Alfred hanyalah petualang kelas tiga dan aku kelas sembilan. Mencoba untuk mengalahkan kelompok itu secara langsung sangat tidak masuk akal. Jadi kita akan mengandalkan hak dari pihak yang lemah, yaitu dengan trik.”
“Trik apa yang kamu maksud itu?”
“Kita akan mengirimkan pada Franka sebuah keajaiban atas kekuatanmu, wahai Shinki-sama yang agung.”
Menaggapinya, Tina hanya bisa menatap kosong padanya.

※※※

Stefan kembali memeriksa kesiapan anggota kelompoknya sebelum mengangguk.
“Ayo jalan.”
Kelompoknya sudah sampai di labirin. Pasukan garis depan berisikan Stefan, Bertolt dan Jahar, mereka bertiga. Dua orang cleric berada di belakang sehingga total menjadi lima orang.
Perjalanan mereka kali ini memiliki beberapa tujuan.
1.     Lantai 62 adalah lantai terdalam yang pernah dicapai sejauh ini. Mereka berniat untuk melampauinya.
2.     Memastikan keberadaan sosok Void Beast humanoid yang di temui Bertolt, dan mengalahkannya, kalau memungkinkan.
3.     Yang paling utama, untuk menemukan dan mendaptkan permata Snow-white Dragon Fang.
4.     Terkahir, tujuan yang baru ditambahkan, untuk menemukan pasangan dari batu yang mereka temukan satu hari sebelumnya.
Penelitian dari Sky Oath Legion telah memastikan kalau batu itu kemungkinan besar adalah semacam alat teleportasi. Sepertinya itu adalah bagian dari sepasang batu yang bisa digunakan untuk berpindah tempat dari satu batu menuju yang satunya.
Jika alat teleportasi itu mampu untuk berpindah antar lantai, itu akan menjadi penemuan yang sangat berharga. Jika petualang dapat dengan mudah berpindah antara lantai atas dan bawah, maka keefisienan penjelajahan akan meningkat drastis. Oleh karena itu, penyelidikan lebih lanjut adalah sesuatu yang sangat penting.
Tiba-tiba, Stefan memberikan isyarat pada anggota kelompoknya dan mereka semua berhenti.
Di lantai yang menghubungkan antara lantai pertama dan kedua, beberapa sosok yang tidak asing lagi berdiri menghadang jalan mereka.
“Pagi, Stefan.”
“...Kamu pikir apa yang kamu lakukan, Alfred? Apa kamu berniat untuk menghalangi kami?”
Dari keadaan yang ada, mereka berada disini untuk menunggu mereka. Walaupun labirin memiliki beberapa pintu masuk, hanya ada satu tangga yang menghubungkan lantai pertama menuju lantai kedua. Semua petualang harus melewatinya.
“Tentu saja tidak. Aku tidak cukup gila untuk mengganggu penjelajahan Oath Legion. Gadis ini memiliki sesuatu yang ingin dia katakan. Apa kamu mau mendengarnya?”
“Kau bercanda kan?! Cepat kalian menyingkir dari—“
Stefan mengangkat tangan kanannya, menghentikan Bertolt.
“Tolong, bawa aku bersamamu.”
“Alasannya?”
“Aku... ingin menunjukkan kalau aku memiliki kemampuan untuk berdiri setara denganmu.”
“Kemampuanmu bahkan tidak layak untuk diperhitungkan.” Jawab Stefan dengan dingin.
“Tujuan dari oath legion adalah untuk melayani Shinki dan menjelajahi labirin untuk mencari jalan keluar dari dunia yang mulai runtuh ini. Itulah prinsip kami. Kamu hanyalah seorang petualang lepas, seberapa sombong darimu sampai ingin menunjukkan kemampuanmu?”
“--! I-Itulah kenapa, biarkan aku ikut—“
“Baiklah, baiklah, maaf mengganggu sebentar.”
Sebuah suara dengan santainya menyela.
“—Negosiasi gagal, kan?”
Dua sosok berjalan mendekat, menyingkirkan Bertolt.
Itu adalah pemilik toko yang menjual sampah dari labirin dan gadis muda yang membantunya.
“Y-Yuuki-san? Dan Tina-chan...”
“Apa kamu ada perlu sesuatu?” tanya Stefan.
Yuuki tertawa kecil.
“Yaah, kemarin kamu sudah merebut semua penghargaan hasil kerja keras kami. Aku tidak terlalu bisa menerimanya, jadi aku datang untuk melihat, melihat Franka menemukan pasangan batu teleport itu sebelum kamu bisa menemukannya, itu saja.”
Stefan mengerutkan keningnya. Hal gila macam apa yang orang itu tiba-tiba katakan?
“Kalian anggota oath legion sudah memeriksanya, kan? Alat teleportasi di lantai ketiga memiliki pasangan di suatu tempat. Menemukannya akan menjadi penemuan terbesar sepanjang sejarah, tindakan yang penuh dengan penghormatan.”
“...”
“Baiklah, tuan Stefan, tadi kamu berkata kalau kekuatan oath legion adalah untuk melayani shinki dan untuk menjelajahi labirin, kan? Kalau begitu, jika Franka dapat terlebih dahulu menemukan penemuan sebesar ini... apakah itu berarti kalau ‘kekuatan’mu lebih rendah darinya?”
“Hal itu sangatlah tidak mungkin. Dia tidak memiliki kekuatan untuk mencapai kedalaman labirin. Keberadaan seorang petualang kelas sembilan takkan mengubah apapun.”
“Ya ampun, kamu mengetahui kelasku?”
“...Sebagai satu-satunya produk gagal dari murid di kelas lanjutan, kamu, tentu saja sangat terkenal.”
“Kalau begitu tidak ada yang perlu kamu takutkan, kan? Bagaimana kalau kita bertaruh sedikit?”
“Tidak ada yang perlu dipertaruhkan. Aku tidak punya hak untuk menahan pergerakan petualang lain, dan aku juga tidak punya hak untuk menolak hasil kerja mereka. Jika kalian entah bagaimana caranya mampu untuk menemukannya sebelumku, maka aku akan mengakuinya.”
“Itu yang ingin ku dengar. Baiklah, maaf karena sudah mengganggu.”
Telah mengatakan semua yang ingin dikatakan, Yuuki melangkah menyingkir.
“Apaan lu bilang ‘maaf’!? Huh, dasar sampah idiot!”
Bertolt melangkah maju dengan penuh amarah dan menggenggam bahu Yuuki.
“Kamu sudah sangat kelewatan. Dengan tidak tahu diri menghalangi jalan kami seperti ini. Kamu sudah sangat kelewatan, sebagai seorang pembuat masalah.”
“Bertolt, Biarkan saja dia.”
Stefan memerintahkannya untuk berhenti sebelum bertindak terlalu jauh.
“Tapi—“
“Itu adalah perintah.”
“...”
Bertolt mencetikkan lidahnya kesal dan melepaskan Yuuki.
Kelompok mereka mulai menuruni tangga. Di ujung penglihatannya, Stefan menyadari keberadaan Franka, yang dia tau kalau dia sebenarnya memiliki sesuatu yang ingin dikatakan, tapi dia mengabaikannya.
Penjelajahan mereka kali ini membutuhkan seluruh anggota kelompok itu. Dia tidak bisa membiarkan dirinya terganggu dengan hal sepele seperti itu.
“...Hey Stefan.”
Saat mereka menuruni tangga, Bertolt berbisik padanya.
“Aku akui aku cukup berterimakasih padamu. Karena aku bisa bergabung dengan kelompokmu, lenganku disembuhkan dan aku juga mendapatkan kesempatan untuk membersihkan namaku. Sejujurnya, kelompokmu ini jauh lebih kuat dari kelompok sampah tak berguna yang dulu biasa menjelajah bersamaku, tapi—“
Dia sengaja menurunkan suaranya lagi.
“Untuk memberiku ‘perintah’, memangnya kau pikir kau ini siapa? Percayalah, sebaiknya kamu jangan membangkitkan sisi burukku. Aku yakin kau pasti mengerti, demi kebaikan bersama kau sebaiknya tetap berada di sisi baikku, kan?”
“...Aku mengerti.”
Adalah satu-satunya jawaban Stefan.

※※※

Saat bayangan Stefan dan kelompoknya sudah sepenuhnya menghilang, Yuuki menghela nafas.
“Kita sudah mendapatkan janjinya. Sekarang giliran kita untuk bergerak.”
“U-Untuk bergerak... Yuuki-san, kenapa...?”
“Dan apa aku boleh bertanya tentang alasanmu berubah pikiran?”
“Itu cukup rumit.”
Yuuki menjawabnya dengan sangat santai dan mulai berjalan.
“Aku cukup yakin pada peluang keberhasilan kita, bahkan jika hanya aku sendiri yang pergi. Aku akan menjelaskannya sambil jalan.”
“Tapi... ini terlalu berbahaya, untuk Yuuki-san dan Tina-chan”
“Rasanya sesuatu banget saat aku mendengarnya dari seseorang yang berniat untuk mengikuti mereka seorang diri.”
“Benar sekali.”
Franka tidak bisa menjawabnya.
“Apa kamu bisa menjelaskan darimana asal kepercayaan dirimu itu?”
“Aku sudah mengetahui dimana letak pasangan batu itu.”
Franka dan Alfred menatapnya kaget.
“...Apa itu benar? Em, bukannya aku tidak mempercayaimu, tapi...”
“Kakek meninggalkan semacam catatan tentang benda itu. Tidak mungkin dia akan repot-repot mencatat informasi yang tidak jelas, jadi kupikir itu cukup bisa dipercayai. Sayangnya, perjalannya akan cukup sulit untuk mencapai tempat itu. Kami akan bisa mengurus alat teleportasinya, tapi kami membutuhkan bantuan kalian berdua untuk melindungi kami selama perjalanan.”
“T-Tapi...”
Franka menatap Alfred untuk meminta bantuan.
“Bagaimana menurutmu, paman? Menurutku layak untuk dicoba.”
“Yaah... Baiklah.”
“Guru?!” teriak Franka.
Masalahnya adalah apakah Franka akan mampu bertahan atau tidak.
Sejujurnya, abaikan apakah dia punya kemungkinan untuk mengalahkan stefan atau tidak, yang paling penting adalah memberikan Franka kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.
Jika nantinya Franka harus fokus untuk ‘melindungi Yuuki dan Tina’ dan bukan pada apa yang selama ini mengganggunya, maka itu sudah lebih dari cukup. Yang paling penting sekarang adalah untuk menekan kegilaan Franka.
--Kemungkinan itu yang Alfred pikirkan tentang rencana mereka. Yuuki juga berpikir seperti itu.
“Berarti kita sudah sepakat. Walaupun begitu, karena Tina juga ikut bersama kita, jadi kita harus menyesuaikan kecepatan kita. Aku akan memberitahu kalian saat kita berjalan, jadi ayo berjalan santai saja.”
-Ayo kita mundurkan waktu sejenak.-
Sebelum matahari terbit, Yuuki dan Tina berjalan kembali ke toko.
“Terus Master, keajaiban seperti apa yang kamu rencanakan?” Tanya Tina pada Yuuki, matanya berbinar.
“Menurutmu apa?”
“Hmm? Oh... aku tahu, para oath legion itu berpikir Tina adalah Void Beast, kan? Yaah, aku bisa mengenakan jubah, dan saat Franka mengalahku di hadapan mereka...”
“Itu terlalu mencurigakan. Tubuhmu saja tidak bisa dilukai, mana mungkin kamu bisa dikalahkan semudah itu.”
“Hmm... Bagaimana kalau aku, umm, pura-pura mati?”
“Terus kalau mereka memaksa untuk memeriksa mayatmu? Bagaimanapun juga, memalsukan hal seperti itu terlalu sulit. Entah kemampuan berpedang maupun sebagai seorang cleric, kemampuan mereka bisa diukur saat latihan. Saat suatu serangan yang tidak terlalu kuat mampu mengelahkan seekor Void Beast yang sangat kuat, siapa saja pasti berpikir ada sesuatu yang janggal.”
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita menjelajahi labirin? Kita bisa turun menjelajahi labirin melampaui catatan terdalam yang pernah ada. Tentu saja, dengan bantuanku.”
“Bahkan jika kita bisa melakukannya, bagaimana kita akan membuktikannya? Mungkin jika kita adalah petualang garis depan, seseorang mungkin akan percaya pada kita, tapi kelompok kita terdiri dari petualang kelas tiga, empat, sembilan dan bocah. Jika kita berkata telah melampaui rekor penjelajahan terdalam, siapa yang mau mempercayainya?”
“Hmm...”
Tina terdiam.
Saat mereka mencapai toko, Yuuki segera pergi ke gudang. Lalu dia mengambil beberapa reliquia dan mulai dengan cermat memilahnya.
“...Jadi apa yang akan kita lakukan?” si Shinki bertanya dengan putus asa, setelah mengikutinya ke dalam ruangan.
“—Sebelum kita membahasnya, ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu. Kenapa kamu sangat bersikeras untuk menolongnya?” Yuuki bertanya tanpa mengehentikan apa yang sedang dilakukannya.
“Aku sudah bilang, kan? Karena Tina adalah seorang Shinki. Itulah kenapa aku ingin setiap penduduk kota ini, tepatnya para petualang, mendapatkan penghargaan atas usaha mereka. Hal itu sudah jel—sebenarnya, bukan itu.”
Memotong perkataannya sendiri, Tina berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Mungkin itu kurang tepat... mungkin karena aku tidak ingin melihat kegelapan dan kesedihan menghiasi wajah seseorang yang ku kenal. Aku tidak ingin melihat mereka terluka. Franka adalah... teman... ku.”
“Kalau begitu, apa kamu bersedia bekerja keras menggantikannya?”
Tian mengangguk dengan semangat.
“Baiklah, akan ku jelaskan. Kita hanya perlu menemukan lokasi alat teleportasi itu.”
“Yang berada di lantai tiga? Tapi itu sudah—“
“Itu sudah berada di bawah kekuasaan mereka, tepat sekali. Tapi, keduanya hanya bekerja berpasangan. Hanya jika keduanya bekerja maka benda bisa menunjukkan kegunaannya. Itulah kenapa menemukan pasangannya adalah hal yang sangat penting. Aku takut itu juga termasuk dalam tujuan kelompok Stefan. –Itulah dimana kamu beraksi, kamu tidak perlu repot-repot mencarinya dan bisa langsung menemukannya.”
“Ohh...”
“Kita hanya perlu membuat Franka ‘kebetulan menemukannya’. Aku akan mengarang sesuatu seperti mengetahuinya dari catatan kakek tentang lokasinya. Bahkan Stefan takkan mampu mengabaikannya begitu saja setelah itu.”
“Jadi begitu! Itu luar biasa, Master! –Oh, tapi...”
Wajah Tina terlihat cemas. Memang, masih ada banyak masalah.
“Tina tidak ingat di lantai berada Tina dilahirkan...”
“Benar, kita tidak bisa melakukannya dengan cara yang biasanya dilakukan oleh petualang. Tidak mungkin untuk menemukannya begitu saja. Tapi, masih ada cara lain. Saat kamu terbangun, kamu mendengar doa, dan dengan menggunakan kekuatan shinki-mu, kamu berpidah ke lokasi pendoa itu. Apa aku benar?”
“Mm.”
“Baiklah, saat kamu menjelaskan tentang teleportasi kemarin, kamu berkata kalau untuk berpindah kamu harus mengetahui jarak dan arah lokasinya. Dengan kata lain, menggunakan kekuatan doa itu sebagai pemandumu, kamu bisa mengetahui kedua hal itu.”
“Benar.”
“Apa kamu masih ingat jaraknya?”
“Hmm, yaah...”
Tina mengacungkan jarinya ke atas.
“Sekitar enam puluh sampai tujuh puluh meter diatas.”
“Lantai atas sudah sepenuhnya diperiksa. Dan berdasarkan penelitian, jarak dari lantai ke atap sekitar lima belas meter. Berdasarkan nilai itu, kita bisa memperkirakan kalau tempat kamu lahir berada sekitar empat atau lima lantai dari tempat kelompok Bertolt diserang.”
“Ohh.” Tina terkejut dan matanya terbuka lebar.
“Lalu, berdasarkan apa yang paman Alfred katakan, tempat dimana Void beast humanoid, dalam hal ini adalah kamu, terlihat adalah di lantai enam puluh. Berdasarkan itu, kita bisa memperkirakan kalau kamu lahir di lantai enam puluh empat atau enam puluh lima. Tentu saja, itu semua jika lantainya tidaklah pendek maupun memiliki kejanggalan tertentu.”
“L-Luar biasa, Master.”
“Itu hanya sedikit perhitungan matematis. Bagaimanapun juga, kamu masih terlalu dini untuk memuji. Masih ada banyak masalah yang harus diatasi terlabih dahulu.”
“Ah, benar, bahkah jika kita sudah mengetahui tujuannya—“
“—Kita tidak bisa kesana. Tepat sekali. Kita masih harus memikirkan tentang hal itu.”
Ruangan tempat Tina dilahirkan berada di lantai yang lebih dalam dari lantai tempat petualang elit itu dimusnahkan. Sederhananya, mustahil bagi mereka untuk mencapai tempat itu.
“Oh, aku baru ingat. Aku ingin memastikan sesuatu. Jika kamu memiliki cukup kekuatan suci, apa kamu mampu berpindah langsung kesana?”
“...Um, tanpa tujuan yang jelas, aku tidak bisa.”
Teleport harus mengetahui jarak dan arah tujuannya. Saat dia menyelamatkan Bertolt sebelumnya, doanya bertindak sebagai tujuannya. Saat dia menujukkan kekuatannya untuk berpindah di toko tempo hari, dia bertujuan pada kekuatan suci yang tersimpan dalam reliquia yang tersembunyi di cabang pohon.
“Karena doa itu ditujukan langsung pada Shinki, Tina bisa mendengarnya. Dan juga, karena aku sudah melihat mutiara suci itu sebelumnya, aku bisa mengetahui ciri khas kekuatan sucinya. Itulah kenapa, walaupun aku tidak mengatahui letak pastinya, aku masih bisa menemukannya.”
Itu berarti jika mereka ingin berpindah ke ruang tempat Tina dilahirkan, mereka membutuhkan seseorang mencapai ruang itu terlebih dahulu, lalu berharap atau meletakkan sendiri reliquia yang pernah di lihat Tina di ruangan itu.
“Jika alat dalam ruangan itu diaktifkan, mungkin aku bisa merasakan ciri khas kekuatan sucinya, tapi sayangnya, alat itu belum aktif. Jadi aku tidak bisa menggunakannya sebagai tujuan.”
“Aku tahu. –Aku pikir memang apa boleh buat, kan?”
“Ahh! Jangan bilang kamu menyerah, Master?!”
“Tentu saja tidak. Itu berarti kita harus bergantung pada... cara yang tidak biasa. Lihat ini.”
Dari beberapa reliquia yang dia bawa dari gudang, dia mengeluarkan sebuah kotak dan membukanya.
“Apa itu mutiara yang tempo hari? Yang kamu gunakan untuk menguji kekuatan Tina.”
“Benar. Salah satu reliquia kelas atas. Satu-satunya reliquia kelas satu yang dimiliki toko ini. Sebenarnya, ini adalah salah satu dari reliquia peninggalan ayah Franka.”
Itu adalah salah satu benda yang digunakan Franka sebagai jaminan, jadi benda itu selalu disimpan dan tidak pernah dipajang di toko. Karena itu adalah benda yang sangat berharga, Franka masih belum mampu membelinya lagi.
Yuuki mengangkatnya dari kotak itu. Bentuknya bulat memanjang, ukurannya sebesar ibu jarinya.
“Apa benda itu yang akan digunakan sebagai pemandu?”
“Benda ini memiliki cukup kekuatan suci, jadi Ya. Kamu seharusnya bisa merasakannya tidak peduli seberapa jauh jarak membentang.”
“Itu memang benar, tapi... siapa yang akan membawanya kesana?”
“Siapa, tentu saja Stefan lah.”
Baru saja, saat berada di depan tangga lantai pertama, saat Stefan sedang berbicara dengan Franka, Yuuki diam-diam menempatkn mutiara suci itu di kantung pinggang Bertolt. Dia tidak secara sengaja mengincar Bertolt, dia hanya kebetulan muncul sebagai target yang sesuai.
Dengan begitu, Tina akan bisa melacak mereka.
Bahkan jika dia nanti menyadarinya, hal itu takkan mengubah apapun. Takkan ada satu orang pun yang akan membuang begitu saja mutiara suci yang tidak digunakan hanya karena mereka tidak menyadarinya. Kenyataan bahwa benda itu adalah reliquia kelas atas membuat hal itu semakin pasti. Kemungkinan dia akan menggunakannya sebagai senjata rahasia dalam keadaan terdesak maupun menyimpannya untuk dijual. Bagaimanapun juga, tidak diragukan lagi kalau orang itu pasti akan tetap membawanya.
Sisanya mereka hanya perlu menunggu mereka mencapai kedalaman yang dibutuhkan, dengan kata lain, lantai enam puluh empat atau enam puluh lima.
Saat menemukan ruangan yang luas dengan pohon besar tumbuh di dalamnya, mereka pasti akan berhenti disana untuk memerikasanya. Entah mereka berjalan melewati jalan sempit maupun memasuki ruangan yang luas, mereka akan tetap mampu mengetahuinya dengan melacak mutiara suci itu.
Pada saat itu, mereka akan menggunakan kekuatan Tina untuk berpindah menuju tujuan mereka.
Alat teleportasi di lantai ketiga belum pernah aktif sebelum Tina menyentuhnya.
Kemungkinan tidak ada salahnya memperkirakan kalau bagian yang satunya di bawah sana juga begitu. Tidak mungkin bagi Stefan dan kelompoknya memastikan entah sesuatu yang mereka temukan itu benar-benar alat teleportasi atau hanyalah sebuah batu besar biasa.
Saat Tina mengaktifkan alat itu, mereka akan berpindah ke lantai ketiga, dan mengakhiri pertandingan ini.
Dari apa yang Tina pahami dari alat yang berada di lantai ketiga, sepertinya mungkin untuk menentukan jumlah dan tujuan teleportasi. Singkatnya, mereka dapat meniggalkan kelompok Stefan dan kembali lebih dulu.
Terlebih, karena alat di lantai ketiga kemungkinan besar dijaga oleh anggota Sky Oath Legion, saat mereka berpindah, baik penjaga maupun kelompok Stefan akan menjadi saksi keberhasilan mereka.
Walaupun begitu, itu bukan berarti tidak ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan.
Pertama, apakah kelompok Stefan mampu mencapai ruangan itu atau tidak. Sepertinya mereka sudah melakukan semua persiapan yang dibutuhkan, tapi mereka hanya bisa berharap agar mereka bisa mencapai kesana.
Faktor lainnya adalah Tina. Bahkan jika dia sudah melahap sejumlah kekuatan suci yang ada di tokonya, dia masih belum mengumpulkan kekuatan suci yang dirasa cukup. Berpindah ke tempat yang jauh membutuhkan kekuatan suci yang sangat besar, dan mengumpulkan kekuatan suci yang cukup untuk memindahkan empat orang sekaligus pulang pergi – pada kemungkinan terburuk – adalah sesuatu yang mustahil.
Oleh karena itu, mereka memutuskan kalau hanya Tina dan Yuuki yang akan pergi. Dia memang lebih menginginkan kalau Franka sendiri yang melakukan penemuan, tapi karena pencapaian anggota kelompok dicatat sebagai pencapai kelompok, jadi tidak ada masalah.
Pada saat mereka menghilang, Alfred pasti akan menyadarinya dan segera kembali ke permukaan untuk mencari bantuan. Mereka akan menunggu regu penolong di lantai ketiga, berkata kalau mereka berpindah ke lantai enam puluhan dimana mereka menemukan alat teleportasi yang mereka gunakan untuk kembali.
Rencana ini sengaja tidak diceritakan pada Franka dan Alfred. Karena tidak ada cara untuk menjelaskan rencana ini tanpa menjelaskan kekuatan Tina dan hubungannya dengan ruangan itu, dua hal yang Yuuki tidak ingin orang lain mengetahuinya.
“Berlindung!” teriak Franka.
Pada saat bersamaan, seekor Void Beast berbentuk kelinci dengan taring panjang membara terbakar api.
Alfred berdiri di depan, mencegah laju Void Beast itu dan Franka mencari waktu yang tepat untuk menggunakan orison untuk menghabisinya. Itu adalah taktik yang sangat umum. Kerja sama mereka berdua sangat apik, kerja sama yang sangat sempurna.
Yuuki, yang tidak pernah bekerja sama dengan orang lain, merasa kagum dengan hal itu.
Yuuki maupun Tina tidak ikut bertarung, dan bertindak sebagai orang yang dilindungi. Tugas mereka adalah mengawasi garis belakang mereka.
Saat ini mereka berada di lantai ke lima belas labirin.
Saat mencapai lantai ke sepuluh, agak mulai jarang untuk bertemu dengan petualang lain. Terlebih, ancaman dari Void Beast perlahan tapi pasti terus meningkat. Walaupun begitu, perjalanan mereka masih lancar.
Kelompok mereka dengan mudah menghabisi setiap Void Beast yang mereka temui sepanjang perjalanan mereka.
“...Kamu ingat kalau bagaimanapun juga kamu tidak boleh pergi ke garis depan, kan?” Yuuki berbisik pada orang di sampingnya.
“Saat ini aku sedang berusaha untuk menghemat kekuatan suci, dan tidak menggunakannya sedikitpun. Malahan, karena berada dalam larangan yang diberlakukan pada Shinki, aku tidak bisa menyerang, tapi setidaknya aku bisa membantu untuk menahan pergerakan Void Beast.” Tina mengatakannya dengan sedikit enggan.
Walaupun nafasnya sedikit lebih cepat dari biasanya, tapi dia sepertinya masih mampu menahannya. Karena ketiga anggota lainnya menyesuaikan laju mereka dengannya, dia masih mampu bertahan.
“Yang paling penting adalah kesan. Jika mereka mengetahui kalau dia tidak bisa terluka, itu pasti akan agak merepotkan. Bagaimana kalau anggap saja seperti ini, setiap kekuatan suci yang kamu sia-siakan disini, maka sebanyak itu juga kamu menjauh dari memanggil duelistmu.”
“Aku sudah bilang, kan? Shinki macam apa yang tidak bisa menolong orang yang kesulitan di depan matanya? Franka dan Alfred adalah orang yang baik. Aku menyukai mereka. Saat kekuatan suciku kembali dan aku mampu memanggil duelistku, aku berencana untuk membiarkan mereka bekerja untukku. Oh, kamu juga, kalau kamu mau, Master.”
“Jadi aku cuma tambahan, yah. Bagaimanapun juga, biarkan aku untuk meminta bayaran yang sepantasnya. Dan, sebaiknya kamu menyerah dalam menjadikanku sebagai bawahanmu.”
Agar semuanya berjalan mulus, penghargaan dari gereja lima kudus sebaiknya cukup berharga. Jumlah biaya dari semua yang dilahap Tina sudah sangat besar.
Setelah mereka berjalan cukup jauh, Alfred berbalik menghadap mereka.
“Apa kamu baik-baik saja kalau kita terus berjalan seperti ini?”
“Aku baik-baik saja sampai lantai ke dua puluh lima. Tapi—“
Yuuki sedikit melirik Tina. Kemungkinan sekarang sudah hampir saatnya waktu untuk istirahat sejenak.
Sejujurnya, masalah utamanya adalah apakah kelompok Stefan sampai kesana atau tidak, jadi mereka tidak sedang terlalu terburu-buru.
“Ah, baiklah. Ayo kita istirahat sebentar.”
Mendengarnya, Tina duduk di lantai, mengambil semacam manisan buah dari Alfred yang tersenyum kecut. Rasa asam-manis akan membantu menghilangkan rasa lelahnya.
“—Apa kamu baik-baik saja, Tina-chan.”
Franka berjalan mendekati Tina. Dia, apalagi Alfred, tidak sedikitpun terlihat kelelahan.
“Dia sendiri yang berkata ingin ikut, jadi kamu tidak perlu khawatir.”
“Oh, jadi begitu?”
Franka menghela nafas.
“Aku terlalu memaksakan diri. Semuanya terhambat karena salahku...”
“Kamu benar-benar memaksakan diri.” Yuuki dengan cepat mengakuinya. “Kalau bertindak seenaknya seperti ini bukan memaksakan diri, terus apa namanya? Jika kamu akan menyesalinya seperti itu, seharusnya kamu tidak usah ikut sekalian.”
“Aku pikir itu benar, hah...”
“Tapi—kami mengikutimu karena kemauan kami sendiri. Jangan salah paham. Oh, tentu saja, aku juga begitu.”
Franka mengangkat wajahnya terkejut. Setelah sejenak terdiam, dia berkata pelan, “...Terima kasih.”
Yuuki mengeluh. Dari tadi dia berpikir kalau dia(Yuuki) sudah bertindak tidak seperti dirinya yang biasanya. Mungkin sifat Tina berpengaruh padanya.
--Yaah, jika dia memang berniat untuk ikut campur dalam urusan orang lain, maka ini adalah kesempatan yang bagus. Atau bisa dibilang ini adalah sesuatu yang diperlukan.
“Jadi, pada akhirnya, siapa yang membunuh ayahmu? Stefan?”
Mata Franka terbelalak lebar mendengar pertanyaan Yuuki, lalu dia menjawabnya, jawabannya sedikit agak lama.
“...Tidak lama setelah aku menjadi seorang petualang, aku mendengar rumor dari seseorang yang baru-baru itu aku kenal. ‘Diantara anggota Sky oath legion ada seorang bajingan yang sangat sombong dan mengaku telah membunuh seorang pengguna senjata suci dragon fang’. Karena tidak ada bukti yang ditemukan, pengakuannya hanya dianggap sebagai kicauan pemabuk.”
Ayah Franka adalah pemilik sebelumnya Blue Water PikeAmnis. Hal ini, Yuuki sudah pernah mendengarnya.
“Ayahku meninggal di lantai ke lima puluh dua. Pada saat itu, dia adalah ketua kelompok dari lima atau enam orang. Diantaranya, orang yang menjadi saksi akhir khayatnya adalah Bertolt dan Stefan, mereka berdua. Oh, apa kamu sudah tahu kalau Stefan adalah kakakku?”
“Paman sudah mengatakannya. Satu ibu tapi lain ayah, kan?”
“Benar. Ibuku adalah mantan pelayan di kediaman Klose, selir dari kepala keluarga sebelumnya. Bahkan sebelum kakakku dilahrikan, ayahnya sudah cukup berumur. Tidak lama kemudian, dia meninggal dunia. Nii-san diijinkan untuk tetap berada di kediaman Klose, tapi ibuku diusir. Ayahku, yang menjadi pelatih di kediaman Klose, menyelamatkannya. Banyak hal yang terjadi, dan pada akhirnya aku terlahir.”
“Aku dengar hubunganmu dengan Stefan cukup baik saat kalian masih kecil?”
Franka mengangguk.
“Sesekali, ayah akan diam-diam membawa kakak menemui ibu. Kami sering bermain bersama. Bahkan jika dia sedikit jauh, dia sangat baik. Ya, dulu, dia sangat baik.”
Pemandangan orang itu bermain dengan riangnya bersama adiknya sangat sulit untuk dibayangkan. Setiap kali dia bertemu Stefan, wajah orang itu selalu terlihat seperti terbuat dari besi.
“Tapi, sekarang dia menjadi seperti ini. Kamu takkan bisa mengetahui apa yang sedang dipikirkannya. Jika berkaitan dengan ekspresinya dan beberapa hal lainnya, dia adalah orang yang sangat aneh.”
Untuk sesaat, pemandangan penuh kenangan memenuhi wajahnya,lalu seketika menghilang.
“Tentang orang yang mengaku telah ‘membunuh ayahku’, yaah, siapa dia sudah sangat jelas. Rumor itu mulai beredar karena dia sendiri yang mengatakannya saat sedang mabuk. Nii-san bukanlah orang yang akan menyombongkan hal semacam itu, jadi hanya satu orang tersisa.”
Yuuki menatap keatas. Tina dan Alfred mendengarkan dengan serius cerita Franka, tapi tidak ada yang mengutarakan suaranya. Mereka menempatkan diri mereka sebagai silent listener(Bentuk lain dari silent reader).
“...Jadi kamu meminta bukti pasti dengan mukjizat dari shinki?”
Franka menggelengkan kepalanya pada pertanyaan Yuuki.
“Tidak. Aku sudah mendengar rumor itu dua tahun yang lalu. Itu lho, di pertunjukkan ada kata-kata seperti ini ‘balas dendam takkan memberimu apapun’ atau ‘orang yang meninggal juga tidak menginginkanmu untuk melakukan hal seperti itu’, kan?”
Yuuki mengerutkan dahinya. Perkataan seperti itu terdengar sangat bijak, tapi itu hanyalah omong kosong, mudah dikatakan tapi sulit dilakukan.
Melihat ekspresi Yuuki, Franka tertawa kecil.
“Yuuki-san, sepertinya kalimat itu menyinggungmu. Aku mengerti perasaanmu. Perasaan adalah, pada dasarnya, bukan sesuatu yang bisa dengan mudah dikendalikan. Tapi—“
Suaranya berubah menjadi bisikan.
“Aku ingin mencobanya.”
“...”
“Hal itu sangat menyakitkan. Aku tidak bisa menahan gejolak amarahku dan tidak bisa menerimanya begitu saja untuk melangkah maju, tapi aku ingin mencobanya. Untuk melupakan masa lalu dan sepenuhnya menikmati kebahagiaanku saat ini.”
Yuuki tetap diam dan Franka kembali melanjutkan.
“kamu tahu, aku pikir kehidupanku sekarang ini cukup menyenangkan. Diselamatkan oleh Yuuki-san, perhatian dari Boris-san, dan bimbingan dari guru Alfred, bahkan jika kesedihanku takkan menghilang... aku tetap merasa sangat bahagia, tahu?”
Dia tersenyum tipis.
“Dan dengan begitu hubunganku dan Nii-san mulai menjauh. Sesekali kami bertemu di akademi pelatihan, aku selalu merasa sedikit canggung. Aku tidak tahu bagaimana aku harus bersikap di dekatnya. Dan suatu hari, saat aku melihatnya di tokomu... Bertolt sudah menjadi anggota kelompoknya, rekannya.”
--Ah, sekarang semuanya masuk akal.
Bajingan yang membunuh ayahnya dan kakak tercintanya berada dalam satu kelompok. Hal seperti itu pasti akan mengguncang jiwa siapapun.
“Aku tahu kalau profesionalitas harus memisahkan antara urusan pribadi dan pekerjaan, tapi saat aku mendengar kalau dia bergabung dengan kelompok itu karena permintaan Nii-san! Aku tidak bisa memahami apa yang dia pikirkan. Aku menemuinya untuk menentangnya, tapi apa kamu tahu apa yang dia katakan? Ayahku meninggal karena dia lemah. –itulah saat aku pergi menemui Shinki, dan meminta untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.”
“...Jadi apa yang kamu lihat?”
Franka meghirup nafas panjang sebelum perlahan menghembuskannya. Dia menatap langsung mata Yuuki dan menjawabnya.
“Di lantai ke lima puluh dua. Kelompok mereka terpecah, dan ayahku menjelajahi labirin bersama mereka berdua sebagai kelompok tiga orang. Mereka disergap oleh Void Beast, dan ayahku terluka saat melindungi mereka. Walaupun dia terluka, tapi dia tetap mampu mengalahkan Void Beast itu. Hanya untuk mendapatkan tikaman pedang dari orang yang dilindunginya.”
Suaranya gemetar.
“Dia menghinanya saat membunuhnya, menghinanya sambil terus menusukanya berulang kali. Dan akhirnya, dia tertawa keras penuh kebahagiaan. Seberapa besar kebenciannya pada ayahku. Walaupun aku tidak bisa mencium, mendengar maupun merasakan dan hanya mampu melihatnya, aku merasa mual.”
“Dan pelakunya adalah...?”
“Bertolt. Seperti apa yang sudah ku duga. Hal itu tidak sedikitpun mengejutkanku.”
Suaranya sudah kembali seperti biasanya.
“Tapi itu bukan seperti aku ingin mengetahui siapa yang membunuhnya. Aku sudah lama mengetahuinya. Apa yang ingin ku ketahui adalah apa yang Nii-san lakukan saat kejadian itu terjadi. Nii-san, dia—“
Franka tersenyum tipis, terlihat seperti hatinya sudah remuk berkeping-keping.
“Dia tidak melakukan apapun. Walaupun dia berada disana, sambil memegang senjata, dia sama sekali tidak mencoba untuk menghentikannya. Dia hanya berdiri di sana, melihat. Menyaksikan saat-saat ayahku terbunuh.”

※※※

“Ha.”
Bersamaan dengan teriakan acuhnya, empat kepala menyerupai anjing beterbangan. Menyemburkan darah, mayat mereka terjatuh.
“—Apaan ini, mereka sangat lemah.” Kata Jahar, bosan, sambil meletakkan pedangnya di bahunya.
Void beast di lantai empat puluh, walaupun jumlahnya tidak terlalu banyak, tapi semuanya telah dihabisi oleh orang tersebut seorang diri. Karena mereka memang tercatat sebagai petualang peringkat atas dalam oath legion dengan kekuatan mereka yang luar biasa.
“...Jangan terlalu sombong kau, bocah.”
Bertolt mencetikkan lidahnya. Karena kelompoknya yang sebelumnya sepenuhnya dimusnahkan, Jahar terus menerus menghinanya, menyebutnya sebagai pecundang. Hubungan mereka berdua sangatlah buruk.
Meskipun pada kenyataannya, Bertolt bukanlah orang yang bisa dianggap remeh. Walaupun kekuatan dan jangkauannya memang kalah dari jahar, tapi kemampuan berpedangnya yang sulit ditebak dalam mengayunkan scimitarnya selalu menjadi ancaman mengerikan bagi mangsanya.
Masalahnya adalah sikapnya yang selalu meggunakan orang lain sebagai batu pijakannya, sikap yang tidak cocok sebagai seorang pemimpin. Dimusnahkannya kelompoknya yang sebelumnya adalah sepenuhnya tanggung jawab Bertolt, Stefan sangat mamahaminya.
“Apa kita hanya perlu mencari batu berbentuk tugu sambil terus menjelajah?”
“Tidak, itu urusan belakangan, yang paling penting sekarang adalah turun sejauh yang kita bisa.”
Mereka tidak perlu berhenti sekalipun sampai mencapai lantai ke lima puluh, karena semua lantai itu telah sepenuhnya dipetakan oleh oath legion. Dia sudah memeriksa catatan pada peta, tapi tidak menemukan catatan tentang kebaradaan benda yang mirip dengan apa yang mereka temukan di lantai ke tiga.
Oleh karena itu, menghabiskan lebih banyak waktu di lantai tersebut hanyalah membuang-buang waktu. Bukan, mereka harus memaksimalkan waktu mereka pada lantai bawah yang masih belum dipetakan. Terlebih, jika mereka ingin fokus untuk menjelajahi lantai yang lebih dalam, mereka harus menghemat tenaga dan perbekalan mereka. Sederhananya, tujuan mereka adalah untuk terus melangkah maju.
Terus melangkah maju adalah prinsip dalam keluarga klose. Semenjak mereka dilahirkan, setiap pria dari keluarga Klose akan terus menjelajahi labirin sedalam yang mereka bisa, dan prinsip itu ditanamkan pada mereka semua. Tentu saja prinsip itu juga berlaku untuk Stefan, walaupun dia adalah anak termuda dan juga hanyalah anak dari selir di kediaman tersebut.
Benar, hilangkan rasa takut, kejar kekuatan, dan terus melangkah maju.
“Tolong, bawa aku bersamamu.”
Saat itu, ingatan tentang setengah adiknya terlintas di pikirannya.
--Bodoh sekali, tindakan itu bukanlah tindakan penuh keberanian, tapi itu hanyalah tindakan penuh kenekatan.
Pemilik toko sampah itu mengatakan sesuatu tentang mengalahkan mereka dalam menemukan alat teleportasi itu, tapi mereka tidak benar-benar percaya kalau mereka mampu melakukannya, kan? Untuk kelompok seperti mereka untuk mencapai lantai ke tiga puluh saja bukanlah sesuatu yang mudah. Itu bukanlah sesuatu yang perlu dia khawatirkan.
“Tch. Mereka muncul lagi.” Keluh bertolt.
Void beast kali ini berbentuk menyerupai ular dengan dua kepala, dan enam kaki ramping seperti serangga. Terlebih makhluk itu tidak sendirian, tapi mereka sudah berkali-kali berhadapan sekelompok void beast yang berburu bersama.
Stefan sedikit menghembuskan nafas, dan Blue Water PikeAmnis muncul di tangan kanannya.
Saat dia merasakan senjata itu di tangannya, dia bisa merasakan keberadaanya jauh di dalam, hatinya. Gunakan aku, katanya. Habisi semua musuh kita.
Dengan sekali tarikan nafas, dia terus mengayunkan senjata itu. Dalam sekejap, enam ekor monster tumbang.
Blue Water PikeAmnis menembus sisik void beast itu layaknya pisau panas memotong keju. Dalam sekejap, void beast berbentuk kalajengking itu berubah menjadi sesuatu yang sulit dikenali.
Void beast yang muncul di lantai empat puluh dan lima puluahan tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menjadi lawannya.
Malahan, dia cukup yakin kalau sudah tidak ada lagi seorangpun atau apapun yang mampu menandinginya.
Rekannya dengan cepat menghabisi void beast yang mereka hadapi, menyelesaikannya sedikit lebih lama dari Stefan.
“Bagus. Ayo maju, tapi kita harus meningkatkan laju kita.” Stefan memanggil mereka sambil kembali berjalan.
--Aku sudah menjadi kuat.
Benar, jika dibadingkan dengan saat itu—dibandingkan dengan saat itu, aku sudah menjadi jauh, jauh lebih kuat.
--
Struktur lantai tiga puluh satu sampai tiga puluh lima sedikit berbeda.
Lantai tersebut tersusun oleh tangga melingkar raksasa setinggi lima lantai.
Petualang yang mencapai lantai ke tiga puluh satu harus menuruni lereng vertikal setinggi 75 meter.
“...Apa kamu baik-baik saja?” Franka bertanya dengan cemas pada Tina.
“T-tidak masalah. Aku masih bisa. L-lereng seperti ini saja t-tidak ada apa-apanya!”
Tina silih berganti menghirup nafas dalam dan mencoba untuk bersikap berani. Walaupun mereka sudah berulang kali mengambil jeda, dia sudah hampir mencapai batasnya.
“Jika dia sudah tidak mampu lagi, aku bisa menggendongnya, paman.”
“Apa kamu baik-baik saja, Yuuki-san? Apa kamu tidak lelah...?”
“Kalian salalu melindungi kami. Aku tidak terluka sedikitpun, jadi aku sangat baik-baik saja. Aku sudah terbiasa mendaki gunung untuk mencari tanaman obat. Jadi kalau Cuma seperti ini, aku pikir aku takkan kalah dengan seorang petualang. Terlebih, jalannya tidak terlalu sulit.”
Karena penjelajahan telah berulang kali dilakukan, jalan menuruni tangga melingkar menuju lantai ke tiga puluh enam ini, sudah cukup bagus. Kamu hanya perlu mengikuti rantai pegangan yang ada, menjadikan menuruni tangga ini sesuatu yang cukup mudah.
Walaupun sekilas jalannya terlihat sangat berbahaya dan tidak bisa dilewati, tapi sebenarnya terdapat batu datar yang mencuat dari dinging yang dapat digunakan sebagai pijakan. Jadi ini bukan lantai yang membutuhkan kekuatan super untuk melewatinya.
“...Aku pikir menyadari kapan untuk menyerah juga salah satu bentuk keberanian.”
“Kita sudah hampir sampai. Ayo terus maju.” Jawab Yuuki menanggapi perkataan Alfred.
Dia tidak berbohong. Dia mendengar dari Tina kalau baru saja kelompok Stefan mempercepat penjelajahan mereka menuju paruh kedua lantai lima puluhan. Sekarang hanya tinggal menunggu waktu.
“Apa benar begitu? Yaah, kalau begitu aku akan menyerahkannya pada kalian berdua. Walaupun jarang, tapi void beast juga muncul di sini, jadi berhati-hatilah.”
Saat Alfred selesai mengatakannya, kelompok itu kembali berjalan.
“...Bukahkah kamu berkata akan menggendong Tina, Master?”
“Aku bilang kalau itu memang dibutuhkan. Kamu masih terlihat cukup sehat dimataku.”
“Sangat tidak perhatian. –Oh, yaah.”
Wajah tina menunjukkan rasa kecewanya, dia menuruni tangga melingkar itu.
Dari ke lima lantai itu, lantai pertama bisa dikatakan cukup mudah. Yang paling sulit adalah di lantai ke tiga. Kemiringan di lantai ketiga nyaris benar-benar berdiri tegak, jadi mereka harus berjalan sambil mepet menghadap dinding. Bahkan petualang berpengalaman sering mengalami kecelakaan disana.
Hal itu sangat mustahil bagi Tina untuk melewati bagian itu. Yuuki berpikir untuk menggendongnya pada bagian itu, tapi—
“M-m-mustahil! Mustahilmustahilmustahilmustahil!”
Tina menggelengkan kepalanya, matanya berlinang air mata.
“Belum juga lantai ke tiga, kita baru berjalan tiga langkah. Ayolah, berjuanglah.”
“T-T-Tapi... I-I-Ini t-terlalu t-tinggi!”
“Yaah, kita berada di ketinggian lima lantai, tentu saja tinggi. Hanya saja, tidak seperti mendaki gunung, lerengnya agak vertikal jadi terlihat agak mengerikan.”
“M-M-melihat ke bawah, l-l-lantainya sangat j-j-jauh!”
“Akan terasa menakutkan hanya jika kamu melihat ke bawah. Jadi hentikan itu.”
“...Aku sangat memahaminya.” Kata Franka terkesan.
Pada akhirnya, Yuuki meminjam tali dari Alfred dan mengikat Tina di punggungnya.
“S-saat kita sampai di dasar, beritahu aku, ok, Master?”
“Baiklah, baiklah. Tapi jangan gerak-gerak, mengerti?”
“Tidak masalah. Aku akan menutup mataku dengan sangat erat. –Benar, asalkan Tina tidak melihatnya, tidak peduli seberapa mengerikannya sesuatu yang berada di depan kita, Tina takkan takut. Fufufu, sisanya Tina hanya perlu membohongi dirinya sendiri. Baiklah, Tina, ayo bayangkan ini. Disini datar dan indah, datar dan indah. Datardatardatardatardatar...”
Hah... Jika dia merasa bahagia dengan membohongi dirinya seperti itu, maka tidak masalah.
Yuuki tiba-tiba menyadari tatapan iri Franka tertuju padaTina yang terikat pada punggung Yuuki.
“Apa kamu tidak takut ketingian, Franka?”
“Ah, tidak, aku tidak takut. Sayang sekali.”
“Sayang sekali?”
“Emm, tidak apa-apa. *Ahem* B-bagaimanapun juga, aku sudah berulang kali kesini, jadi aku tidak takut.”
Langkahnya memang tegap. Meskipun ketahanan tidak terlalu penting untuk seorang cleric, tapi dia sepertinya memiliki fisik yang cukup kuat.
Aura gelap yang menyelimutinya saat membahas tentang kematian ayahnya sudah menghilang. Dia sudah kembali menjadi dirinya yang biasanya, gadis yang serius dan tegar.
Tapi itu tidak berarti masalahnya sudah teratasi.
Bahkan jika dia akhirnya mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan Stefan dan Bertolt dalam posisi setara, apa yang terjadi padanya? Apa itu akan mampu membuatnya tenang?
Tidak, lebih baik aku tidak terlibat lebih jauh lagi, Yuuki mengingatkan dirinya sendiri.
Bahkan semua yang telah dia lakukan selama ini sudah melibatkannya sejauh ini.
Lupakan saja, jangan terlalu dipikirkan. Kamu tidak punya hak untuk ikut campur.
--Tiba-tiba, rambutnya ditarik.
“Ada apa? Kita masih jauh.”
“Master... kelompok oath legoin itu berheti bergerak.” Tina berbisik pada telinganya.
Wajahnya langsung menjadi serius.
“Berapa jauh mereka?”
“Sekitar 500 meter ke bawah, sekitar lantai ke enam puluh empat.”

※※※

Ukuran dan keganasan void beast berbanding lurus dengan kedalaman labirin.
Di ujung lantai tiga puluh, void beast mulai berukuran setara dengan manusia. Di lantai empat puluh dan lima puluhan, biasanya kamu harus menatap keatas pada mereka.
Pada saat itu, biasanya dibutuhkan sedikit usaha bahkan bagi anggota oath legion, tapi—
“Ha!”
Tombaknya bersinar dan sebuah lubang muncul di kepala void beast berbentuk kadal. Kehilangan pusat kendalinya, tubuh besar itu terjatuh ke tanah.
“Haha, greget kali kau, Stefan, menghabisinya sendirian, hah?” Jahar memujinya dengan bahagia.
Kekuatan dari senjata Dragon sangat tidak tertandingi. Saat menghadapi void beast dengan pertahanan kuat seperti yang baru saja dikalahkannya, formasi paling efektif adalah dengan menempatkan Stefan sebagai pasukan garis depan tunggal dengan suport dari kedua cleric.
Berkebalikan dengan Jahar, Bertolt menggerutu, menyadari perbedaan kekuatannya dengan Stefan. Kelompok mereka baru saja mencapai lantai enam puluhan, tapi mereka sudah berada di depan tangga menurun dari lantai enam puluh tiga, yang berada satu lantai di bawah catatan terdalam yang pernah ada.
Tapi Stefan tidak terlalu memperdulikannya. Membandingkan dirinya dengan orang lain hanyalah membuang-buang waktu. Yang paling penting baginya adalah bagaimana caranya untuk menekan batasnya sejauh mungkin.
--Pola pikir seperti itu di ajarkan padanya oleh pemilik sebelumnya tombak yang sekarang dia gunakan.
“Ada tanda dari keberadaan permata Dragon Fang?” tanya Stefan pada Bertolt.
“...Tidak ada. Tapi aku yakin benda itu tidak berada di lantai atas.”
“Saksi yang tidak berguna. Oh ya, ngomong-omong, apa kau yakin tahu apa yang kau lihat?” Jahar menyela.
“Kalau kau ingin tahu kemana benda itu pergi, tanya saja pada benda itu. Mana mungkin aku tahu kemana perginya benda itu”
“Hentikan. –Ayo maju,” Stefan berkata pada keempat anggotanya dan berjalan menuju tangga.
Tiba-tiba, saat dia mencapai lantai berikutnya, dia berhenti dengan ekspresi wajah aneh.
“Apa ini...?” Bertolt berbisik dari belakangnya.
Sesuatu yang luar biasa terbentang di hadapan mereka.
Berada di ujung tangga adalah sebuah ruangan yang sangat luas. Lantai itu jauh berbeda dengan lantai yang pernah mereka temui, dimana semuanya sangat membingungkan dan berbahaya. Hal ini benar-benar pemandangan yang tidak masuk akal.
Lantai dan dindingnya diselimuti oleh lumut yang memancarkan cahaya sehingga mereka dapat melihat bahkan tanpa bantuan dari batu cahaya. Semak-semak lainnya juga tumbuh di lantai dan dindingnya. Dan juga tidak ada pertanda keberadaan void beast di sekitar sana.
“...Berhati-hatilah,” Stefan mengingatkan rekannya sambil memasuki ruangan itu.
Di dalamnya tumbuh sebuah pohon yang sangat besar. Sangat memenuhi ruangan itu, berada di ujung ruang labirin itu, batang serta dahan pohon yang besar, ranting yang banyak, serta dedaunan yang hijau segar seakan pohon itu terus bermandikan cahaya matahari.
Di batang pohon tersebut terlihat sebuah lubang setinggi pinggang. Memeriksanya, Stefan melihat ke dalamnya, tidak ada apapun.
“Hey, Stefan. Lihat, itu.”
Salah seorang cleric menunjuk pada dinding.
Disana berdiri sebuah batu besar vertikal. Bentuknya mirip dengan sebuah tugu, benar, mirip seperti alat teleportasi di lantai ke tiga.
Stefan mendekatinya dan menyentuhnya.
--Rasa dingin batu biasa merambat ke jarinya. Dia tidak merasakan kehangatan seperti pada alat di lantai tiga.
“Apa bukan itu?” tanya Jahar.
“Sepertinya, bukan. –tapi, mungkin lebih baik kita memeriksanya lebih jauh lagi. Ayo bangun tandai di dekat dinding lalu melanjutkan penjelajahan kita,” perintah Stefan.

※※※

“—Sudah mencapai ruangan itu? Mereka lebih cepat dari yang kubayangkan.” Bisik Yuuki sambil berhati-hati menuruni tangga.
Dia memperkirakan kalau mereka akan mencapai ruangan itu saat dia selesai menuruni tangga melingkar itu. Ternyata mereka lebih hebat dari apa yang dia bayangkan.
“Bagaimana ini, Master?”
“Yaah, yang paling penting sekarang adalah berhati-hati menuruni tangga ini. Saat kita berhasil menuruninya,seharusnya ada tempat peristirahatan. Saat sampai di sana kita bisa segera berpindah menuju lantai enam puluh empat. Mungkin kita harus berkata pada paman untuk jalan duluan—“
Yuuki tiba-tiba berhenti saat dia menyadari tatapan aneh Tina padanya.
“Ada apa?”
“Kamu sudah pernah kesini kan, Master? Kamu terlihat sangat memahami tempat ini.”
“...”
“Kamu tahu, mempertimbangkan kemampuan mereka, bukannya petualang kelas sembilan biasanya hanya menjelajah di lantai atas?”
“Aku mendengarnya dari seseorang.”
Hmm, Tina bergumam, terdengar sangat tidak percaya. Lalu berkata “Kamu tahu, aku sudah lama berpikir tentang labirin ini, dan ada sesuatu yang menurutku sangat aneh. –Awalnya, Tina terus berlari sampai akhirnya pingsan kehabisan tenaga. Lalu, kamu memungutku kan, Master?”
“Benar.”
“Aku akui kalau aku tidak ingat berapa jauh aku naik, tapi... terakhir kali kita kesini, bukankah aku kehabisan tenaga di lantai tiga? Bahkan jika dulu aku sangat terdesak, dan sampai menghabiskan segenap kekuatanku, paling jauh mungkin aku hanya mampu naik enam sampai tujuh lantai. Terlebih lantai tempat si Bertolt itu diserang adalah di lantai enam puluh. Jika kita menghitung tujuh lantai diatasnya, --Master, kamu selalu menjelajah seorang diri, di lantai berapa kamu menemukan Tina?”
“...Umm, yaah—“
Saat dia akan menjawabnya, sebuah suara terdengar oleh telinganya.
“Bahaya di sisi kiri! Tiga ekor void beast mendekat!”
Alfred menghunuskan dan mengayunkan pedangnya sambil memperingatkan mereka. Salah satu void beast itu terpotong dan terjatuh ke jurang.
Bentuknya menyerupai burung, dengan rentang sayap tiga meter. Makhluk itu memiliki cakar setajam pisau dan rahangnya dipenuhi dengan gigi tajam.
Walaupun jalannya berbahaya, pergerakan Alfred tetap cepat seperti biasanya.
“Tidak ada waktu untuk menghindar, serang mereka, Franka!”
“Baik!”
Dengan salah satu tangannya memegang rantai pegangan dengan erat, Franka mengambil dua buah mutiara suci dengan tangan yang satunya.
Secara berurutan dua buah bola api berawarna oranye terbang menuju void beast itu.
Bola pertama menghantam langsung void beast dan seketika itu membunuhnya.
Bola yang satunya meleset dari tubuhnya dan mengenai sayap void beast yang satunya. Kehilangan keseimbangan, void beast itu berubah arah dan bergerak lurus menuju Yuuki.
“—Ha!”
Yuuki menendang dinding dan menggenggam erat batu yang menonjol di atasnya. Mengabaikan teriakan ketakutan Tina yang berguncang liar di punggungnya, Yuuki melompat jauh dan mendarat di batu pijakan lainnya.
Void beast itu menggores kakinya dan menubruk dinding tebing. Nyaris sekali memang.
“S-syukurlah! Maaf, itu salahku karena melewatkannya!” kata Franka.
Wajah Alfred terlihat lega.
--Pada saat itu, dua hal mengejutkan terjadi.
Pertama, rantai pegangan yang tertanam di dinding tiba-tiba terputus, rusak oleh void beast itu.
Yang kedua, sayap void beast itu terbakar dan mulai menggila, membenturkan kepalanya ke dinding tebing.
Bersamaan dengan suara gemuruh,permukaan batunya berguncang dan menempatkan Franka berdiri di udara kosong.
Yuuki segera mengulurkan tangannya. Walaupun reaksinya jauh melebihi orang biasa, tapi dia tetap terlambat. Terlebih, tidak Cuma gagal mencapai Franka, dia juga kehilangan keseimbangannya.
--Jika mereka terjatuh, maka itu akan menjadi akhir bagi mereka.
Dia segera mengambil keputusan. Dia segera melompat ke udara dan memberi perintah pada Tina.
“Tina, cepat pindahkan kita bertiga sekarang.”
Pemandangan di hadapan mereka bertiga tiba-tiba berubah.

※※※

Ada dua cara untuk hidup bahagia.
Pertama adalah dengan sepenuhnya menikmati hidup itu seperti apa yang kamu inginkan. Yang satunya adalah dengan melenyapakan semua hal yang tidak kamu suka.
--Itu adalah prinsip hidup Bertolt, seorang petualang kelas satu dan anggota oath legion.
Apa yang dia sukai adalah pemandangan tubuh manusia tercabik bersimba darah.
Apa yang dia benci adalah mereka yang bekerja keras atau mereka yang berbakat.
Itulah kenapa, menurutnya, membunuh rekannya itu cukup utuk memenuhi kedua prinsip itu.
Targetnya berada tiga puluh meter di depannya. Dia berjalan tanpa rasa takut, seakan dia sedang berada di kota, perlahan mendekati targetnya. Sepertinya dia belum disadari olehnya.
Ini adalah kesempatan sekali seumur hidupku, pikir Bertolt.
--Benar, targetnya adalah ketua kelompoknya yang baik, Stefan Klose.
Saat Stefan bergabung dengan oath legion saat berumur lima belas tahun, Bertolt pertama kali bertemu dengannya. Walaupun dia muda dan berbakat, tapi dia tetap hanyalah bocah tak berpengalaman.
Tapi tiba-tiba dia sudah menjadi petualang kelas satu dan ketua kelompoknya.
Dan dia bahkan sekarang berani memerintah Bertolt, seakan dia anak buahnya.
Apa dia mampu menerima perlakuan seperti itu? Jawabannya sangat jelas, di takkan mampu menerimanya.
Tapi bagaimanapun juga, berhadapan langsung dengan bocah dari kediaman Klose yang memiliki kekuatan dan kekuasaan itu sangat berbahaya.
Walaupun dia bersifat kasar, tapi dia cukup berbakat dalam menyusun rencana. Dia takkan pernah lupa untuk mengutamakan keselamatannya. Bahkan jika sudah waktunya bertindak, dia akan sangat berhati-hati. Jika dia tidak bisa mengendalikan dirinya, tidak bisa menyembunyikan kebencinya, kemungkinan dia akan ketahuan oleh Jahar. Itulah apa yang dia peringatkan pada dirinya sendiri terus menerus—
Tapi kesempatan ini terlalu baik untuk di sia-siakan.
Jauh di dalam hatinya, dia tertawa.
Mereka baru saja selesai menyelidiki ruangan itu, tidak menemukan sesuatu yang penting, dan memutuskan untuk beristirahat. Tapi, Stefan, untuk suatu alasan pergi meninggalkan perkemahan dan berkeliaran seorang diri.
Entah kenapa, di lantai enam puluh empat ini tidak terdapat void beast. Ruangan besar itu memenuhi dua per tiga dari keseluruhan lantai ini, dengan sisa sepertiganya adalah lorong yang mengitari ruangan itu. Desain lantainya memang sangat sederhana. Karena banyaknya tanaman di tempat itu, ada banyak tempat untuk bersembunyi, membuatnya mudah untuk mengikuti Stefan tanpa ketahuan.
Dia akan diam-diam mendekatinya dan saat dia mencapai jarak dan tempat yang tepat dia akan langsung menebas tubuhnya. Lalu dia akan membungkam mulutnya dengan tangannya atau sesuatu, dan bersenang-senang dengan terus-menerus menusuknya.
Saat dia membayangkan wajah Stefan menjelang kematiannya, dia dipenuhi dengan rasa bahagia. Satu-satunya hal yang memenuhi pikirannya malam itu adalah membunuh.
Tapi, dia tiba-tiba menyadari kalau ada sesuatu yang aneh.
Sepertinya targetnya tidak sedang mencari tempat untuk memenuhi panggilan alamnya, jadi sebenarnya mau kemana dia?
--Tapi, siapa peduli?
Lagian dia juga sudah mau mati. Itu adalah hal kecil untuk meningkatkan semangatnya.
Mereka akhirnya berjalan cukup jauh dari perkemanahan. Takkan ada yang mendengar keributan yang mereka buat sekarang.
Bertolt menjilat lidahnya dengan semangat sambil mengambil senjatanya. Sekarang dia sudah berada di jarak yang cukup untuk menebas targetnya.
Pada saat itu—
“Nii-san! Awas!”
Sebuah suara terdengar dari belakang mereka.

※※※

Franka teringat jelas terjatuh dari dinding tebing, dan ancaman kematian yang menunggunya.
Tapi dalam sekejap, pemangan di hadapannya berubah. Dan dia berdiri tegak di sana, kakinya menapak ke tanah.
Pemandangan lain terpampang jelas di hadapannya, Bertolt dengan pedangnya yang terhunus mencoba untuk menebas Stefan dari belakang.
Saat dia mendapatkan kembali kesadarannya, dia sudah berteriak.
Stefan dan Bertolt keduanya berbalik ke arahnya.
“...Apa kamu Franka? Adik Stefan?”
Bertolt mengerutkan keningnya, tidak mempercayai apa yang dia lihat.
“Sejak kapan kamu berada di sana?”
Dia pasti baru saja berpindah tempat. Walaupun dia tidak memiliki bukti, tidak ada penjelasan lain yang mempu menjelaskan kemunculan tiba-tibanya disini setelah dia jatuh ke jurang?
--Tidak, hal itu tidak penting sekarang.
“Kamu, berani-beraninya kamu menyerang Nii-san dari belakang?”
“Ngomong apa kau, bocah?” jawab Bertolt dengan ekspresi marah terpancar di wajahnya.
“Tidak usah pura-pura! Pedangmu—“
“Ketua kelompok kami berkeliaran seorang diri, aku hanya memastikan keselamatannya. Saat kamu berada di dalam labirin, kamu tidak boleh lengah sedikit pun, tahu? Aku tidak seperti Stefan yang bisa memunculkan senajatanya kapanpun.”
“—“
Franka tidak bisa mengatakan apapun, menatap kakaknya meminta bantuan.
“...Apa yang kamu lakukan?” tanya Stefan dengan dingin.
--Bukan bertanya pada Bertolt, tapi pada Franka.
“Aku tidak tahu kalau aku menyentuh semacam alat teleportasi atau semacamnya... tapi yang paling penting sekarang adalah dia menghunuskan pedangnya dan berniat menyerang—“
“Dia bilang itu untuk berjaga-jaga.”
Perkataan dingin Stefan membuat Franka naik pitam.
“Kenapa? Kenapa kamu selalu membela orang itu?! Dialah yang membunuh ayah...”
Franka sangat marah sampai tidak bisa menyelesaikan perkataannya. Bertolt menatap Franka sambil memikirkan sesuatu sebelum akhirnya tersenyum.
“Ahhhhhh. Aku ingat sekarang. Kamu anak orang itu.”
“...Ingatan membunuh ayahku membuatmu tersenyum seperti itu?”
“Terus kau mau apa? Bagaiamanpun juga, biar ku beri tahu sesuatu yang penting. Yang penting bukanlah yang ‘mati’ tapi yang ‘hidup’. Aku, yang bertahan hidup bisa mempersembahkan reliquia pada shinki. Ayahmu, yang sudah mati, tidak berguna. Lebih baik kau juga mencoba untuk melupakannya, tahu?”
“--!”
Melewati batas kesadarannya, franka lupa diri dalam sekejap. Tanpa sadar dia mengambil sebuah mutiara suci untuk menyerang.
Tapi pergerakannya terpotong.
--Water Blue PikeAmnis milik Stefan terhunus ke lehernya.
“Nii...san?”
Dia terkejut.
Dibandingkan dengan terganggunya gerakannya, kenyataan kalau kakaknya menghunuskan senjata padanya memberinya rasa tekejut yang jauh lebih besar.
Jauh di dalam hatinya, Franka selalu berpikir kalau kakaknya yang baik masih terus menyayanginya, dia hanya merasa canggung untuk mengungkapkannya. Ilusi itu baru saja hancur berkeping-keping.
“Aku tidak peduli apa yang kamu inginkan. Seperti yang sudah ku bilang, kekuatan adalah segalanya di dalam labirin. Apa kamu memiliki kekuatan untuk membuktikan apa yang kamu percayai itu benar?”
“...”
“Aku sudah tidak ingin berbicara denganmu. Pergi sana.”
“...Tidak mau.”
Mata Franka dipenuhi oleh air mata, tapi dia terus menatap Stefan.
“Apa kamu tidak menghormati ayahku, Nii-san? Kenapa kamu—“
Seakan untuk menolak haknya untuk berbicara, tombaknya melayang ke depan. Franka, tidak sanggup melihatnya dan menutup matanya erat.
Mungkin dia menunjukkan kemurahan hatinya atau mungkin dia memang tidak berniat untuk menusuknya dan hanya berniat untuk menakutinya.
Apapun alasannya, ujung tombaknya tidak menyentuh kulit Franka.
“—sudah cukup, Stefan.”
Yuuki, berdiri di sampingnya, menggenggam tombak itu dengan satu tangan.

※※※

Saat mereka terjatuh dari dinding tebing, Tina memindahkan mereka bertiga ke lantai ke enam puluh empat.
Pada keadaan terjepit itu, Tina tidak dapat melakukan perpindahan sebaik biasanya. Dan akhirnya, Tina dan Yuuki terpisah agak jauh dari Franka. Mereka membutuhkan waktu untuk mencapai lokasi Franka.
“Kenapa kamu semarah itu? Dia tidak berbahaya, jadi kamu tidak perlu sesemangat itu. Jangan bilang kalau itu memang hobi para petualang garis depan untuk menganiaya yang lemah?”
Yuuki berpikir kalau Stefan pasti hanya akan mengabaikannya. Dia tidak pernah membayangkan si muka besi itu akan menanggapinya.
“Dan dirimu, tuan pemilik toko sampah? Apa kamu cukup percaya diri untuk ikut campur, dan tidak Cuma omong besar?”
Yuuki mengerutkan dahinya. Ada yang aneh. Tingkat keras kepalanya jauh berbeda dari dirinya yang biasanya.
“—Tentu saja, mau mencobanya?”
“...”
Menaggapi perkataan Yuuki. Amarah lawannya meningkat drastis. Pada saat itu—
“Kamu tidak perlu khawatir... Um, Stefan, kan?”
Suara yang tidak terduga terdengar. Tina berjalan dari belakang Yuuki, dan melanjutkan dengan wajah polosnya. “Master dan Tina adalah teman Franka. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Apapun yang terjadi kami pasti akan melindunginya. Tidak perlu waspada seperti itu.”
Suasana terkejut menyelimuti area tersebut.
“...Oi, apa maksudmu?”
“Aku yang seharusnya bertanya itu padamu, Master?” Jawab Tina sambil tersenyum. “Jangan bilang kalau kamu tidak menyadarinya? Dari awal tidak ada alasan untuk bertarung. Alasan kenapa si Stefan itu tidak melawan petualang hina itu, dan alasan kenapa ayah Franka yang sangat kuat tidak menahan serangannya... jika kamu memutar otak sedikit, kamu pasti akan menyadarinya. Jawabannya berada tepat di depan matamu.”
Di depan matamu...? Yuuki merengut.
Tina mengeluh.
“Yang tadi itu, apa kamu pikir dia berniat melukai Franka? Kalau kamu bertanya padaku, menurutku justru sebaliknya, dia sedang melindunginya.”
“Melindungi... melindungi dari apa?”
“Orang itu.”
Tina berbalik dan melirik pada Bertolt.
“Hah? Ngomong apa lagi kau, bocah.”
“...Hoh, jadi begitu.”
Yuuki akhirnya memahami apa yang Tina maksud.
Tidak peduli siapa yang memancing masalah itu, pada saat Franka menyerang Bertolt, atau bahkan sedikit saja menunjukkan ancaman, dia akan segera menebasnya dengan alasan ‘mempertahankan diri’. Untuk menghindarinya, Stefan menghentikan Franka.
“Saat kamu memahaminya, semuanya masuk akal, kan? Kenapa orang itu bisa bertindak seenaknya.”
Jika kamu tidak bisa mengalahkan seseorang secara langsung, kamu hanya perlu mengambil jalan lain. Sederhananya, kamu hanya perlu mengincar kelemahan lawanmu.
“—Contohnya, mungkin dia mengatakan sesuatu seperti ini. ‘Jika terjadi sesuatu padaku, maka orang yang kamu sayangi akan mati. Bahkan jika aku dipenjara, akan kupastikan kalau anak buahku akan membunuhnya. Tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan, cepat atau lambat, dia pasti akan ku bunuh.”
Saat Yuuki selesai mengatakannya, Bertolt mencetikkan lidahnya.
Sejujurnya, mungkin dia tidak mengatakan hal itu secara langsung. Untuk orang sepertinya, hal seperti itu tidak perlu dikatakan. Saat hal itu terbersit dalam pikiran musuhnya, saat itu pula dia kalah. Bahkan jika kamu 99% yakin kalau dia hanya membual atau menggertak, tapi tidak peduli sekecil apapun kemungkinan keselamatan orang yang kamu sayangi berada di tangannya, kamu takkan mampu melawannya.
“Benar. Kamu tahu kan organisasi bawahannya ‘rat’ itu cukup besar, kan? Untuk mengawasi pergerakan mereka semua adalah sesuatu yang mustahil. Karena tidak mampu menghentikan mereka, membiarkan targetnya mengetahui kalau setiap pergerakannya selalu diawasi pasti akan membuatnya sangat ketakutan.”
Hanya ada satu orang yang Stefan dan ayahnya(Franka) anggap sebagai ‘orang yang paling berharga’.
Tatapan semua orang tertuju pada orang itu.
“Eh...?” gumam Franka tanpa menyadarinya. “Jangan-jangan... itu... aku?”
“...”
Stefan tidak menjawab.
Ayah Franka terbunuh tiga tahun yang lalu. Pada saat itu, Stefan baru berumur empat belas atau lima belas tahun.
Walaupun saat itu dia sudah menjadi anggota oath legion, tapi setelah menyaksikan sesutu yang sangat mengejutkan, apakah dia akan benar-benar mampu menghadapi anggota senior oath legion itu, terutama saat dia harus melindungi adiknya?
“Hey hey, beraninya kau berkata seperti itu tanpa memiliki bukti? Hubungan antara diriku dan Stefan terbentuk atas dasar kepercayaan. Ngomong-omong, aku harap kamu masih ingat ganjaran untuk melawanku, Stefan?”
Bertolt meletakkan scimitarnya di bahunya sambil tersenyum mengejek.
Stefan sedikit menghembuskan nafas, sebelum berbicara.
“...Kamu tidak memiliki bukti apapun. Bagaimanapun juga, hal ini juga tidak ada hubungannya denganmu.”
“Nii-san!”
“Sebaiknya kamu berhenti berbicara seperti itu. Abaikan Master dan diriku, kamu tahu kalau kamu akan melukai perasaan Franka jika kamu terus bersikap seperti itu, kan?”
Tina sepenuhnya mengabaikan ekspresi terkejut Stefan dan melanjutkan.
“Walaupun begitu, berhubung aku ini orang yang suka ikut campur, ada sesuatu yang ingin ku katakan. Stefan, aku mengerti alasan kenapa kamu sangat terfokus pada kekuatan dan hanya mementingkan hasil. Sejak awal, kamu tahu kalau jika kamu memberikan persembahan pada shinki, kamu bisa mendapatkan mukjizat dari mereka. Kamu ingin meminjam kekuatan shinki untuk mengetahui sesuatu.”
Franka ingin mengetahui saat-saat kematian ayahnya.
Jadi apa yang ingin Stefan ketahui adalah—
“—Hubungan antara Bertolt dan rat, kan?” kata Yuuki.
Tina mengangguk.
“Benar. Terus, alasan kedua dari tindakannya. Jika posisinya dalam oath legion naik sampai puncak, dia akan memiliki banyak orang sebagai bawahannya. Menggabungkan kedua hal itu, kita bisa mengetahui kalau tujuannya adalah untuk memahami pergerakan anak buah Bertolt, para rat, dan menghabisi mereka semua sekaligus.”
Ekspresi sombong di wajah Bertolt menghilang.
“Jika kita gabungkan semuanya, maka alasan Stefan sangat berusaha keras untuk megumpulkan kekuatan adalah, --untuk membawa orang itu ke dalam labirin, dan melenyapkan ancamannya dengan tangannya sendiri.”

※※※

--Bahkan sekarang, ingatan kejadian itu masih teringat sebening kristal.
Gurunya(guru Stefan) terluka karena melindungi dirinya dan Bertolt dari sergapan void beast. Saat pertarungan itu selesai, Bertolt segera bergerak menuju gurunya, pada awalnya, Stefan berpikir kalau dia berniat untuk membantunya, tapi—
“Keberadaanmu itu sangat menjengkelkan.”
Bertolt memegang scimitar kesayangannya dan berlari menuju gurunya.
“Kau terlalu suka ikut campur. Selalu ikut campur di tempat yang tidak semestinya. Dan juga kamu terlalu baik.”
Lagi dan lagi gurunya ditusuk.
“Oh, kau berniat untuk melawan? Tidak masalah. Tapi kamu harus tahu kalau aku tidak kembali, aku sudah memerintahkan anak buahku untuk membunuh anak kesayanganmu itu. namanya Franka, kan? Dia berumur, dua belas tahun? Dia sangat cantik untuk anak seusianya. Kau tahu, dari awal, aku sudah berencana untuk menghabisimu dalam penjelajahan kali ini, jadi aku sudah memastikan untuk membuat... persiapan.”
Tangan gurunya terjatuh ke tanah kehabisan tenaga. Hati Stefan dipenuhi dengan rasa putus asa.
Dia baru berumur lima belas tahun. Selain gurunya, tidak ada yang mampu melawan Bertolt.
Walaupun begitu, kalau gurunya memintanya bantuan, pada saat itu juga dia akan ikut bertarung. Bukannya dia tidak takut mati di tangan Bertolt, tapi dia tetap akan melawannya.
Tapi, gurunya tidak pernah meminta bantuannya. Dia hanya berbaring pasrah disana sambil Bertolt berulang kali menusuknya, tatapannya terpaku pada Stefan dan bibirnya mengisyaratkan sesuatu, ‘Ja-ngan me-nolong-ku’.
Bertolt melancarkan serangan terakhirnya sebelum akhirnya tertawa pada Stefan, wajahnya berlumuran darah.
“Dia mati karena dia terlalu lemah, kan? Setuju?”
Jika dia membunuh anak dari kediaman Klose, keadaan akan berada di luar kendali. Tujuan Bertolt adalah untuk mengancamnya agar tidak mengatakan kejadian itu pada orang lain. Stefan muda memahaminya. Mungkin Bertolt juga berpikir untuk mengikatnya dengan menjadikannya sebagai rekan tersangka.
Sejujurnya, Stefan sangat ketakutan. Dia takut pada seseorang yang mampu dengan mudah merenggut nyawa orang lain.
Kembali ke permukaan, dia menceritakan kematian sang ayah pada anaknya, adiknya.
Dia hanya terdiam, tanpa mengutarakan sepatah katapun, sebelum akhirnya, dia bertanya, “...Kenapa?”
Kenapa... ayah harus meninggal?
Kenapa... kamu tidak menyelamatkannya?
Kenapa... kamu hanya berdiri dan menyaksikannya?
Kenapa... kenapa... kenapa...
Lalu, perasaan bersalah dengan suara Franka bergema dalam kepalanya. Tapi, suara itu bergema dalam kepalanya lagi dan lagi.
Sejak saat itu, setengah adiknya itu menjadi simbol kelemahan dan dosanya. Setiap kali dia melihatnya, dia teringat kejadian itu. karena tidak mampu berada di dekatnya, dia mulai membuat jarak dengannya.
Stefan ingin membalas dendam. Dia membutuhkannya.
“Dia mati karena dia terlalu lemah.” –Kalimat itu memang ada benarnya.
Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi. Dia bersumpah.
Hingga akhirnya, dia beratih sekuat tenaga. Dia tidak pernah melepaskan tombaknya sedetikpun, bahkan sampai dia berkeringan darah. Bahkan jika kulit di tangannya kembali tumbuh, menjadi semakin kasar dan tebal, dia terus mengayunkan tombaknya sampai tangannya berdarah lagi.
 Hanya ada satu hal yang terlintas di pikirannya, untuk membalas apa yang dilakukan Bertolt pada gurunya. Dengan tangannya sendiri, dia akan menghina dan menganiaya Bertolt sebelum menghabisinya.
Dia sangat memahami seberapa besar keinginannya untuk membalas dendam. Mungkin dia bisa membiarkan Bertolt di tahan dan membayar kesalahannya, memang ada saat dimana penjahat direhabilitasi.
Tidak mampu menahannya, dia hanya ingin melihat Bertolt mati di tangannya.
Stefan memantulkan kilatan perak dengan tombaknya.
“Jadi begitu. Aku sudah meremehkanmu. Tadinya aku penasaran kenapa kau berkeliaran seorang diri... tidak kusangka kau sedang berusaha untuk memancingku.”
Bertolt sudah kembali menghunuskan scimitarnya. Stefan mempersiapkan diri untuk menghadapi musuhnya.
“Nii-san... apa itu benar? Kamu ingin membunuhnya?”
Suara Franka gemetar.
“Tidak boleh! Kalau kamu melakukannya, kamu akan sama saja dengannya!”
“Terus kenapa?” jawab Stefan, tatapannya tetap tertuju pada Bertolt.
“Aku sudah bertekad sejak dulu. Bahkan jika aku harus mengotori tanganku, aku akan menghabisi orang itu. Bagaimana denganmu? Apa yang ingin kamu lakukan pada orang itu?”
“Aku... aku ingin dia dihakimi...”
“Pengadilan mana yang mampu menghakiminya? Terlebih bagaimana caramu akan membuatnya mengakui kesalahannya?”
“...”
Franka tidak bisa menjawabnya.
“Kamu tidak bisa memaafkan pembunuh ayahmu tapi kamu tidak ingin mengotori tanganmu. Kamu bahkan tidak memikirkan cara untuk membuat orang ini mengakui kesalahannya. Kamu tidak memiliki tekad dan keberanian. Kamu hanya bisa merengek layaknya anak kecil. Jika hanya itu yang bisa kamu lakukan, diam dan lihat saja!”
Stefan berlari menuju musuh gurunya dan mengayunkan tombaknya.

※※※

(--Sial)
Bertolt kesal.
Dia hampir tidak bisa menahan serangan pertamanya. Melawan serangan bertubi-tubi Stefan, perlahan dia mulai terdesak.
Dia sudah meremehkan orang itu. dia sudah meremehkan tekad dan kemampuan Stefan.
Pemilik toko sampah dan yang lainnya bukanlah ancaman baginya. Saat dia menghabisi Stefan, dia hanya perlu menghabisi mereka semua dan semuanya akan baik-baik saja. Itu adalah rencananya saat memulai pertarungan, tapi--- Stefan jauh, jauh lebih kuat dari apa yang dia bayangkan. Bertolt mulai tertekan oleh musuhnya.
(Andai saja aku juga memiliki senjata Dragon Fang--)
Bertolt menggertakkan giginya dan fokus untuk bertahan. Benar, itu terjadi bukan karena perbedaan kemampuan, tapi hanya karena perbedaan senjata. Hanya itu.
Sayangnya, apapun alasannya, kenyataannya dia terus tertekan. Dia harus mencari kesempatan untuk melarikan diri—
“—Berhenti! Nii-san!” teriak Franka.
“Diam! Jangan menggangguku! Apakah etika dan hukum sangat berharga bagimu?!”
Pergerakan Stefan tidak melambat sedikitpun. Bertolt berpikir untuk bergerak memutar tapi ujung tombak Stefan menutup jalan keluarnya.
“Sampah seperti dia tidak berhak untuk dihakimi secara adil—“
“Bukan seperti itu!” jawab Franka. “Aku tidak ingin kamu menjadi pembunuh karena seseorang sepertinya, Nii-san!”
“...”
Stefan ragu sesaat.
Bertolt tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Bukannya melesat menuju musuhnya, tapi dia berlari ke arah—
“!”
Dimana Franka berdiri, terkejut.
Tujuannya bukan selunak untuk menjadikannya sandera. Bukan itu, dia berniat untuk membuat lubang di perutnya, dan menahan gerakan Stefan dengan mengancam keselamatannya. Itu akan memberikan kesempatan baginya untuk menyerang balik, atau setidaknya, melarikan diri.
(Kau memang tidak lebih dari bocah naif yang hanya berpikir tentang adiknya!)
Kakak beradik yang sangat bodoh, Bertolt menghina mereka di dalam hatinya sambil mempersiapkan senjatanya. Di pikirannya, dia suda bisa membayangkan perasaan senjatanya mengoyak tubuh langsing Franka, dan Stefan terkejut ketakutan. Tapi—
Bersamaan dengan suara benturan logam, scimitarnya terhenti sebelum menyentuh tubuh Franka.
“...Pola pikirmu itu sangat menjijikan.”
Kalimat itu berasal dari si pemilik toko sampah.
“Tapi, aku yang memahami pola pikirmu, mungkin tidak patas mengatakannya.”
Dalam sekejap, Yuuki sudah menarik pedang pendek di pinggang Franka dan menghalang laju scimitar itu. Franka, akhirnya menyadari apa yang terjadi, terjatuh ke tanah dengan wajah pucat.
Tapi bertolt adalah petualang berpengalaman dalam bertarung. Sebelum rasa terkejutnya menghilang, tubuhnya sudah bergerak.
Dia sedikit menarik scmitarnya dan mengubah arahnya menuju Yuuki, mengayunkannya pada Yuuki dengan sangat cepat.
Tapi itu hanyalah tebasan tipuan. Dalam sekejap, arah ayunannya kembali berubah.
Dengan lentur menggerakkan bahu, siku dan pergelangan tangannya, arah serangannya menjadi tidak menentu. Itu adalah keahliah Bertolt. Bahkan diantara para petualang, tidak ada yang mampu menghindari serangannya saat pertama kali mereka melihatnya.
Yuuki terlambat menyadarinya. Ujung scimitarnya bergerak menuju tenggorokannya seperti ular.
Saat Bertolt berhasil membunuhnya, maka dia akan bisa melarikan diri.
Bertolt sangat senang saat melihat cucuran darah di lantai, yakin darah itu berasal dari targetnya.
--tapi, sebersit angin berhembus ke arahnya, membawa tangannya bersamanya. Tangannya, yang masih menggenggam scimitar miliknya, berputar di udara sebelum akhirnya membentur dinding dan terjatuh ke lantai.

※※※

“...Hah?”
Ekspresi Bertolt menunjukkan rasa tidak percayanya sambil menatap potongan tangannya.
Franka dan Stefan terkejut tak mampu berkata apapun.
“Aaaaa.... aaaaaaah! T-tanganku... TANGANKU! A-apa yang kau lakukan--?!”
“Ya ampun, berisik sekali.”
Yuuki dengan kesal menggenggam leher bertolt dan membenturkan kepalanya ke dinding. Tubuh Bertolt tersungkur ke lantai mengenaskan.
“Apa yang ku lakukan? Tentu saja aku memotongnya, itu saja. Itu hanya satu lengan. Dibandingkan dengan apa yang sudah kamu lakukan, ini tidak ada apa-apanya.”
Yuuki berbalik pada Stefan.
“Aku tidak tertarik dengan pertikaian kalian. Tolong jangan libatkan kelompok kami dalam pembunuhan kalian, itu akan sangat merepotkan.”
“...Minggir, dasar pemilik toko sampah.”
“Begitu?”
Yuuki menatap Franka.
“Ah.. um...”
Cleric muda itu akhirnya mengumpulkan keberaniannya dan berdiri.
“Terima kasih, Yuuki-san. –Nii-san, maafkan aku, tapi aku tidak akan menyingkir.”
“...”
“Bukannya aku merasa kasian pada orang itu atau aku tidak ingin membunuhnya... aku hanya tidak ingin kamu menjadi sepertinya, Nii-san. Kalau kamu melakukannya, aku merasa kita akan semakin menjauh.”
“Jadi kamu ingin aku melepaskan bajingan itu?”
“Yaah...”
“Kamu hanya ingin melupakan segalanya. Berpura-pura tidak ada yang terjadi. –Aku takkan menyalahkanmu, tapi kamu juga tidak memiliki hak untuk menghentikanku. Minggir.”
“—Tidak mau. Ini adalah salahku semua ini terjadi. Sebelum kita menjauh, seharunya aku menanyakan apa yang kamu pikirkan.”
“Sudah terlambat. Dengan ini semuanya akan berakhir. –Cepat menyingkir, Franka.”
“Aku—!”
“Um, aku ingin bertanya sesuatu.”
Saat itu, Tina berbicara tanpa sedikitpun memperdulikan suasana.
“Stefan, tidak heran jika kamu dipenuhi dengan amarah dan kesedihan, hanya saja, kenapa kamu tidak pernah berpikir untuk mengatakan pada Franka apa yang kamu rasakan?”
“...”
“Kalian bisa marah dan menangis bersama. Jika pemikiran itu menguasai hatimu karena kematian gurumu, kenapa kalian tidak memikirkan bersama apa arti dari kekuatan? Balas dendam? Kenapa kamu menjauh darinya?”
Perkataan Tina tidak sedikitpun menyalahkannya. Malahan, suaranya dipenuhi dengan rasa kebijaksanaan seakan sedang menyampaikan pencerahan padanya.
Terkejut pada Tina, Stefan menjawab.
“Aku tidak pernah berniat untuk... menolaknya...”
“Tapi tidak salah lagi kalau kamu menjaga jarak dengannya. Jujur saja, kalian berdua itu sama saja. Kalian berdua menanggung semuanya seorang diri dan bertekad untuk menyelesaikannya dengan tanganmu sendiri. Dalam hal ini Tina hanyalah orang asing, dan dia tidak punya niat untuk menyalahkanmu. Tapi, jika kamu merasa bersalah atas kematian ayahnya, bukankah itu adalah alasan yang tepat untuk mendekat padanya?”
“...”
“Kamu tahu, Tina pikir masih ada waktu.”
Franka tidak mengatakan apapun, dan dia hanya dengan sabar menunggu kakaknya untuk mengatakannya terlebih dahulu.
“Aku, aku—“
Stefan menyuarakan pendapatnya, gemetar karena keraguan untuk mengatakannya. Tapi, pada saat itu—
Yuuki menyadari sesuatu.

※※※

Dia sudah tidak memiliki kekuatan untuk berdiri.
(Sial, sial, sialan--!)
Kesadarannya kabur, Bertolt merasa sangat marah.
Bagaimana mungkin hal ini terjadi? Pasti ada yang salah. Jika dia kalah dari Stefan yang menggunakan senjata suci Dragon Fang, maka itu wajar. Tapi baginya untuk kalah secara menyedihkan dari pemilik toko sampah itu, bahkan sampai kehilangan satu lengan! Bagaimana mungkin dia bisa menerimanaya?
Aku harus memperbaiki kesalahan ini. Aku ingin membalas dendam. Aku butuh kekuatan.
Benar, andai saja aku memiliki sesuatu seperti senjata suci dragon fang milik Stefan—
Tiba-tiba, Bertolt menyadari makhluk kecil menatap padanya.
Bentuknya sangat menyerupai seekor tupai. Tapi pastinya, makhluk itu bukan binatang biasa.
--Diatas kepalanya tertanam sebuah permata putih yang sangat besar.
“Ohhh...!” tanpa sadar Bertolt berteriak.
Dia tahu apa itu. itu adalah apa yang kelompoknya lihat di lantai enam puluh saat kelompoknya dimusnahkan.
Terlebih, dia pernah melihat permata putih itu, di sebuah buku.
Tupai atau apapun itu yang menatap penasaran padanya, menatapnya bingung.
“Beri aku—“ kata Bertolt. “Beri aku kekuatan! Permata Snow-white Dragon Fang!”

※※※

“—Hentikan dia!” teriak Yuuki.
Tapi itu sudah sangat terlambat. Binatang kecil itu sudah menghilang masuk ke dada bertolt seakan melebur kedalamnya.
Bertolt mulai berubah.
Stefan, merasakan kajanggalan itu, langsung menusukkan tombaknya pada Bertolt.
Serangat secepat kilatnya, dengan mudah dihentikan.
Lengan kanan Bertolt yang seharusnya terpotong oleh Yuuki menghentikan serangan Stefan.
“Hahahahahahaha. Rasanya sangat luar biasa.”
Dia teratawa dengan keras sambil berbicara dengan suara samar dan aneh, dia dengan mudahnya mengayunkan lengannya yang menggenggam tombak milik Stefan.
“--!”
Tubuh Stefan tidaklah kecil, tapi dia terlempar jauh sampai akhirnya membentur dinding.
Dalam keadaannya yang sekarang, dia adalah manusia dengan kekuatan seekor naga.
Dilihat baik-baik, tubuhnya dilapisi oleh lapisan jirah tulang.
“Kau sangat ringan. Kau harus makan lebih banyak Stefan.” Ejek manusia naga itu, mengangkat Blue Water PikeAmnis yang dipegangnya.
“Master, itu—“
“Void dragon,” jawab Yuuki.
“Void dragon, maksudmu void beast yang menjaga permata dragon fang?”
“Tepatnya, wujud void beast dari permata dragon fang. Permata dragon fang bukanlah sesuatu yang tergeletak begitu saja. Makhluk itu tidak memiliki perasaan, dan berkeliaran kemanapun sesuai keinginannya, menguji manusia dan memilih tuan yang sesuai untuknya.”
“A-apa itu berarti dia sudah diakui sebagai tuannya?”
“Tidak, mereka tidak mempercayai manusia begitu saja. Benda itu hanya sedang meminjamkan kekuatan untuk mengujinya.”
Hanya saat mereka menyerah pada keinginan orang lain mereka akan berubah menjadi senjata suci dragon fang. Sepertinya Blue Water PikeAmnis milik Stefan dulunya dikalahkan oleh Duelist dari “Shinki yang menyangga langit.”
Sebaliknya, jika permata dragon fang itu tidak mengakui orang yang diujinya sebagai orang yang layak untuknya, dia takkan menunjukkan bentuk reliquianya yang sesungguhnya.
Melihat keadaan saat ini, saat benda itu memasuki tubuh Bertolt bukannya berubah menjadi reliquia, sepertinya dia hanya kebetulan memutuskan untuk mengabulkan permintaan Bertolt yang menginginkan kekuatan, dan akhirnya menjadikan keadaan seperti saat ini. Kalau memang benar seperti itu, keadaan akan menjadi semakin buruk.
“...Kembali, Blue Water PikeAmnis.”
Stefan batuk memuntahkan darah saat mengatakannya. Mendengar perintahnya, tombaknya menghilang dari tangan Bertolt dan muncul di tangannya.
“Oh. Senjata suci dragon fang memang hebat, tapi dengan kekuatan ini aku pikir aku tak terkalahkan.”
Saat dia selesai mengatakannya, dia mulai mengambil ancang-ancang, saat itu—
“Huh? Ada apa ini?”
Bersamaan dengan suara langkah kaki, tiga orang muncul. Jahar yang berteriak terkejut dan kedua cleric.
Kejanggalan itu berbalik pada mereka dan berkata.
“Yo, Jahar.”
Jahar sedikit mengerutkan keningnya.
“...Apa kau si pecundang, Bertolt? Panampilanmu agak berbeda, kan?”
“Kau tahu, aku sudah sangat membencimu sejak dulu. Walaupun kalian semua akan mati, aku akan menjadikanmu sebagai pembukanya.”
“...”
Secara refleks Jahar menyadari ancaman Bertolt kali adalah serius. Tanpa berkata apapun, dia mengambil pedang besarnya dan menyerang Bertolt. Tapi—
“Yang benar saja--?”
Ukuran dan ketajaman pedangnya itu lebih dari cukup untuk memotong seseorang. Tapi, pedangnya itu dengan mudahnya terhenti di leher Bertolt dan hanya menimbulkan tekanan dan suara benturan yang keras. Targetnya tidak terluka sedikitpun.
“Heh,” Bertolt menyeringai. “Mati kau!”
Tiba-tiba dia menerikkan sesuatu yang mengerikan. Jahar terpental dan melesat dengan sangat cepat sampai membentur dinding dan menimbulkan kawah di dinding itu sebelum terjatuh ke lantai. Tubuhnya yang tetap utuh adalah suatu keajaiban. Tapi mungkin agak berlebihan untuk berharap dia kembali bergerak.
Bertolt hanya memukulnya dengan tangan kanannya. Kecepatan serta kekuatannya jauh melampaui manusia biasa.
“Siapa selanjutnya—“
“Uwaaaaaaaaaaaa!”
Cleric yang bertubuh kecil karena merasa ketakutan membuat rangkaian serangan orison. Bola bola api melayang di sekitarnya.
“Hentikan itu, bodoh!” teriak Yuuki.
Tapi, dia sudah terlambat. Tangan Bertolt sudah menembus tubuh orang itu di tempat jantungnya berada.
Cleric yang satunya mencoba melarikan diri.
“Lambat.”
 Dengan kecepatan yang melampai kemampuan manusia biasa, Bertolt sudah mencapai orang itu dan membuat lubang di tubuh orang itu dari belakang.
Berlumuran darah dari korbannya, manusia naga itu perlahan berbalik.
“Seperti yang kalian lihat. Apa kalian pikir kalian bisa kabur? Maju, hibur aku.”
“...Lebih baik kalian segera pergi dari sini. Targetnya adalah diriku.”
Stefan mengangkat tombaknya dan melangkah maju sempoyongan.
“Nii-san!” teriak Franka.
Semua yang melihatnya tahu kalau dia tidak bisa menggerakkan tubunya sesuai keinginannya. Dia berjalan menuju ajalnya.
“Master...”
Tina mengangkat kepalanya menatap Yuuki dengan tatapan penuh harapan.
Yuuki tahu apa yang Tina katakan, Franka takkan mau meninggalkan kakaknya.
Kalau memang seperti itu, dia tidak punya jalan lain. Dia mengeluh.
“...Oh, dia bisa dikalahkan.” Kata Yuuki.
Permasalahannya berada setelah itu.

※※※

Bertolt menjadi tak terkalahkan berkat kekuatan yang didapatkannya.
Hanya dengan mengayunkan lengannya cukup untuk menghancurkan seseorang. Terlebih, dia kebal terhadap reliquia dan orison.
Tidak diragukan lagi, dia adalah makhluk terkuat di dunia.
Hanya ada empat orang tersisa; Stefan, Franka, Yuuki dan Tina.
Mereka sedang berdiskusi dengan serius, Bertolt dengan sengaja membiarkan mereka, untuk saat ini.
Stefan dan Yuuki adalah menu utamanya. Akan sia-sia melahap mereka terlalu dini.
Apakah mereka lari, atau apakah mereka melawan.
--Saat dia melihat wajah mereka, dia berpikir sepertinya kemungkinan kedua.
“Ayo maju!”
Dengan teriakan Yuuki sebagai tanda permulaan, Franka mulai membuat orisonnya.
Penggunaan kekuatan suci yang sia-sia, pikir Bertolt, tersenyum. Tapi, di luar dugaan, target Franka bukanlah dia, tapi dinding dan tanah di sekitarnya. Asap, kabut dan serpihan kayu mengganggu penglihatannya.
“Jadi begitu, kalian berusaha mengganggu penglihatanku.”
Bertolt tidak mempermasalahkannya.
Jika mereka menggunakan kesempatan ini untuk lari, maka dia hanya perlu mengejar mereka. Hanya perlu sedikit waktu sampai kabut asap itu menghilang. Tapi jika mereka menggunakan kesempatan ini untuk menyerang—
“Maju sini.”
Tepat saat dia selesai mengatakannya, sebuah pedang pendek menusuk kearahnya dari luar kabut. Bertolt menahan serangan itu dengan tangannya.
Reliquia itu hanyalah reliquia kelas empat. Pasti si pemilik toko sampah itu.
Karena kabut orison masih belum menghilang, masih agak sulit untuk melihat. Sepertinya taktik bertarungnya bergantung pada taktik gerilya.
Membuang-buang tenaga saja. Kalau senjata milik Stefan mungkin mampu untuk menembus jirah tebalnya. Serangan bertubi-tubi dari pedang pendek itu sama menjengkelkannya dengan gigitan nyamuk.
Lagi, Yuuki muncul di depannya. Bertolt mengayunkan pukulannya, tapi dihindari. Kali ini dia ditusuk di bagian dadanya dengan pedang pendek itu, lagi-lagi, dia tidak terluka.
“Perlawanan yang sia-sia—“
Saat dia mengatakannya dia, dia kembali menerima serangan, kali ini dia tertusuk dua kali.
Bertolt, mencetikkan lidahnya. Dia tidak mengetahui dimana orang itu mempelajari teknik itu, tapi secara mengejutkan gerakan pemilik toko itu sangat lincah.
Walaupun begitu, bukan berarti dia bisa menembus pertahanan jirah permata dragon fang. Staminanya akan terkuras terlebih dahulu.
Sekali lagi Yuuki muncul. Bertolt mencoba memukulnya tapi berhasil dihindari, dia tertusuk dua kali. Pukulan tangan kirinya juga berhasil dihindari, dia tertusuk tiga kali. Setiap serangan hanya mempu menyentuh jirahnya tanpa memberikan luka sedikitpun, tapi setiap serangan itu juga meningkatkan kemarahannya. Bertolt mengulurkan tangannya untuk menangkap mangsanya tapi lagi-lagi dia hanya bisa menyaksikan mangsanya kabur dari cengkramannya. Dalam sekejap itu, dia menerima lima serangan sekaligus.
“Bajingan itu--!”
Tidak mampu menahan amarahnya, bertolt melesat maju—tepat saat Stefan menusukkan tombaknya.
Pemilik toko sampah itu memancingnya menuju jebakan. Sejak awal itu adalah rencana mereka. Tapi—
“Bahahahaha” Bertolt tertawa.
Blue Water PikeAmnis memang mampu menembus dadanya, tapi hanya sedikit sekali. Kelihatannya tidak ada yang perlu ditakutkan dari senjata suci dragon fang itu.
Hujan orison sudah berhenti dan kabutnya menghilang, menunjukkan empat bayangan yang sepertinya tidak memiliki niat melarikan diri.
“Apa kalian sudah selesai? Kalian tahu kan kalau itu berarti aku yang menang?”
“Ya, kami sudah selesai. Tapi sayangnya—yaah, anggap saja karena kami sudah selesai melakukannya maka kamilah pemenangnya.”
Bertolt mengerutkan dahinya mendengar kalimat itu. Tiba-tiba, dia merasakan ada sesuatu yang aneh.

※※※

“Apa-apaan ini...?”
Dengan mata terbelalak sangat terkejut, Bertolt terjatuh ke tanah, kembali ke wujud aslinya.
Jirah tulang yang diberikan padanya oleh permata dragon fang telah sepenuhnya lenyap. Yang tersisa hanyalah sosok mengenaskan yang kehilangan salah satu tangannya, yang bahkan tidak mampu berdiri.
“Aku pikir kamu tidak layak,” kata Yuuki sambil dia mengembalikan pedang pendeknya pada Franka.
Permata dragon fang selalu memilih tuan yang sesuai dengannya. Keinginan dan nafsu membunuhnya yang kuat menarik perhatian permata dragon fang itu.
Apakah orang ini layak menerima kekuatanku?
Pada akhirnya, hasilnya adalah tidak. Dia sangat mengecewakan. Dia tidak menggunakan senjata itu dengan baik, jauh dari mengeluarkan kekuatan aslinya, dia malah hanya bergantung pada kekuatan senjatanya. Tidak hanya dia tidak mampu melukai Yuuki dan yang lainnya, dia bahkan sampai menerima luka. Orang itu jauh dari kata layak.
Memicu kejadian ini adalah rencana awal Yuuki. Mereka tidak perlu mengalahkan Bertolt secara langsung, yang diperlukan hanyalah memisahkan mereka. Mereka bisa menyelesaikan masalah itu dengan cara yang tidak biasa. Tapi sayangnya itu bukan berarti mereka sudah terbebas dari masalah.
“Baiklah. Tinggal menuju ruangan besar itu, ayo pergi!”
Yuuki mengingatkan mereka rencana yang sudah mereka buat sebelumnya. Franka membantu kakaknya saat mereka berlari.
Setelah berpisah, permata dragon fang itu kembali ke wujud aslinya.
Hanya dalam waktu tiga detik, dia sudah kembali ke wujud aslinya, seekor naga seputih salju yang sangat besar.
“Ah.....AHHHH!”
Bertolt merangkak di lantai untuk melarikan diri. Tapi teriakannya segera lenyap, bersamaan dengan suara gemuruh gempa bumi.
“...Uwa, besar sekali.”
“Itulah wujud asli Snow-white void dragon. Berhenti membuang waktu untuk mengaguminya dan cepat lari. Atau apa kamu ingin menjadi korban selanjutnya?”
“Serahkan saja padaku! –Jatuh!”
Bersamaan dengan teriakannya, kaki void dragon itu perlahan tenggelam. Walaupun hanya beberapa meter, tapi itu sudah cukup untuk menahan lajunya. Itu sama sekali tidak cukup untuk menghentikannya, tapi mereka mendapatkan sedikit waktu yang berharga.
Void dragon itu meraung marah. Bersamaan dengan raungan itu, void beast lain dia daerah itu yang bersembunyi ketakutan, perlahan muncul satu per satu.
“—Gawat. Lebih cepat lagi.”
Yuuki dan Tina berlari secepat yang mereka bisa, diikuti oleh Franka dan kakaknya.
Tina tidak memiliki cukup kekuatan suci untuk memindahkan mereka semua. Tapi, dia menggunakan sisa kekuatan sucinya untuk memperlambat monster itu saat mereka berusaha melarikan diri.
Memang, di lantai ini terdapat cara untuk kembali ke lantai atas. Mereka bisa mengabaikan semua void beast dan void dragon itu dan kembali.
“Aku bisa merasakan kekuatan suci dari alat teleportasinya. Disana!”
Tina berlari memasuki ruangan besar itu dan segera menuju salah satu sudut ruangan.
“Apa... *hah* ... ada sesuatu ... *hah* ... disana?” tanya Franka terengah-engah.
“Itu adalah pasangan dari alat teleportasinya. Lihat, tugu batu itu.”
“Menggunakannya membutuhkan beberapa persyaratan. Tina, aku mohon.”
“Baiklah. Pertama benda ini harus dinyalakan terlebih dahulu, lalu aku akan mengaturnya agar memindahkan kita semua ke lantai tiga.”
Saat Tina selesai mengatakannya, Yuuki merasakan suatu firasat buruk.
Ada apa? Apa yang mengganggunya?
Jawabannya didapatkan saat itu juga. Alat teleport ini seharusnya dalam keadaan mati, tapi tadi Tina berkata kalau dia merasakan ‘kekuatan suci dari benda itu’. dengan kata lain—
“...Bagaimana mungkin ini terjadi?” gumam Tina.
“Ada apa? Jangan-jangan alat ini tidak bisa digunakan?”
Wajah Franka terlihat cemas.
“Bukan itu. alat ini masih bisa memindahkan kita, hanya saja—prosesnya sudah dimulai, terlebih, pengaturannya sudah ditentukan.”
Seperti apa yang Yuuki takutkan. Dia berusaha untuk menjaga ketenangannya saat berbicara.
“Tidak ada gunanya bertanya kenapa hal ini bisa terjadi, jadi, yang ingin ku tahu, apa yang akan terjadi?”
“Pengaturannya sudah di tentukan. Tujuannya adalah lantai ke tiga. Targetnya adalah, semua yang berada di lantai ini... termasuk semua void beast.”
“...”
Saat arti dari kalimat itu terlintas di kepalanya, rasa gelisah menyelimutinya.
Kelompok mereka bersama dengan gerombolan void beast kelas atas dan juga seekor void dragon akan kembali menuju ke lantai ke tiga. Dengan kata lain. Tujuan mereka akan berada di dekat kota dan dipenuhi oleh petualang muda dan tidak berpengalaman.
“...Akan jatuh sangat banyak korban jiwa,” kata Franka, ketakutan.
Saat dia mengatakannya, para void beast mencapai ruangan itu. terlebih, suara langkah kaki void dragon yang setiap langkahnya menimbulkan gempa, perlahan mendekat.
“Tina, apa kamu bisa mematikan alat ini atau mengatur ulangnya?”
“Sudah tidak ada wa—“
Saat itu, pemandangan di sekitar mereka mulai berubah, dan ruangan itu dipenuhi dengan kilauan cahaya.

Samayou Shinki no Duelist Jilid 1 - Bab 4 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: h kim

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.