30 Januari 2016

Rokujouma no Shinryakusha Jilid 1 Bab 6 LN Bahasa Indonesia



ROKUJOUMA NO SHINRYAKUSHA
JILID 1 BAB 6
MEMULAI INVASI



Burung-burung sedang bernyanyi di luar tirai motif bunga yang terbuka.

Tirai itu milik Shizuka. Bersama dengan futonnya, dia sudah menyiapkan berbagai hal sebelum Koutarou datang ke kamar itu.

“Uwa, Sudah pagi, Koutarou.”

Sanae, yang bangun duluan, sudah membuka tirai jendela, dan di luar jendela ada langit biru yang cerah. Sinar matahari bersinar, menerangi area pemukiman.

Di atas sebuah pilar ada beberapa burung kecil yang berkicau.

Itu adalah pagi yang benar-benar normal.

“Sudah jam 7 lebih...”

Koutarou mengucek matanya yang kelahan dan melihat ke arah jendela, dan langit biru serta cahaya putih memasuki matanya.

Cahaya matahari menembus Sanae dan menerangi tikar tatami dibelakangnya.

Bagi Koutarou, Sanae kelihatan memiliki tubuh padat, tapi pada waktu seperti ini dia diingatkan kalau Sanae benar-benar seorang hantu.

“Begadang lagi...”

Hari ini adalah Rabu, tanggal 8 April. Dan Koutarou sudah begadang tiga malam berturut-turut.

“Maaf, Koutarou; dengan ini kartu saya habis.”

“Uwa, Yang benar!?”

Kiriha menarik sebuah kartu dari tangan Koutarou, dan kemudian meletakkan 2 kartu di meja teh, menghabiskan kartu di tangannya.

Permainan yang mereka mainkan sekarang adalah permainan yang dikuasai oleh Sanae, Old Maid.

“Aw~ Koutarou, usahakan jangan jadi posisi terakhir oke?”

“Aku mengerti.”

Sambil menjawab Sanae, Koutarou mengulurkan tangannya ke arah kartu Yurika.

“A, Auuu...”

Yurika, yang memiliki poker face yang buruk, menutup matanya. Jika tidak, Koutarou bisa dengan mudah membaca ekspresinya.

Jika bukan karena Kiriha, Yurika sudah kehabisan poin sejak lama.

“Urya!”

“...Uhm..”

Mendengar suara Koutarou dan perasaan sebuah kartu yang ditarik dari tangannya, Yurika membuka matanya.

“Hauuuuuuu!”

Namun, kartu yang tersisa di tangannya adalah Joker yang tertawa ke arah wajahnya.

“Bagus! Kartuku habis!”

Koutarou menyelesaikan kartunya dan melemparnya ke meja.

“Aku kalah!”

Koutarou yang merasa senang dan Yurika yang merasa depresi; penampilan mereka sangat berlawanan.

“Artinya aku posisi pertama, Kiriha kedua, Koutarou ketiga, dan Yurika terakhir.”

“Benar. Dengan begini, poinnya kembali seperti pertama kita mulai.”

Sambil berkata begitu, Kiriha menambahkan poin di dalam lembar skor yang tergantung di dinding. Seperti yang dia bilang, semua poin itu berjumlah 20.

Menurut peraturannya, posisi pertama mendapat tiga poin dan posisi kedua mendapat 1 poin.

Posisi ketiga kehilangan satu poin, dan posisi keempat kehilangan tiga poin.

Yang berarti ada perbedaan 2 poin antara tiap posisi.

Dan semuanya memulai dengan 20 poin.

Mereka yang kehilangan 20 poin mereka akan dinyatakan kalah dan dipaksa meninggalkan kamar ini.

“Kita gagal mendapatkan poin lebih banyak...”

“Sepertinya kita cukup seimbang.”

Kiriha menjatuhkan bahunya di samping Koutarou yang sedang menguap.

Permainan kartu itu sudah berlangsung semalaman, tapi akhir permainan itu tidak kelihatan sama sekali.

Mereka bisa menghentikan kemenangan masing-masing, dan hasilnya tidak ada seorangpun yang berakhir dengan 0 poin.

Di satu kesempatan, Yurika hampir kehilangan semua poinnya, tapi dia bisa masih bertahan karena suatu keberuntungan.

Setelah itu, poinnya hanya bergerak kesana kemari.

“Apa yang akan kau lakukan, Koutarou? Sudah waktunya pergi ke sekolah.”

Sanae menunjuk ke arah jam yang tergantung di dinding.

Jarumnya menunjuk pukul 7:30 pagi, yang berarti Kenji akan datang sebentar lagi.

“...Semuanya, apa kalian keberatan kalau kita melanjutkan permainannya setelah aku kembali?”

Koutarou menarik tasnya sambil menguap.

“Kenyataanya, kita tidak boleh membuang waktu, tapi... saya pikir tidak akan ada bahaya saat siang hari.”

“Aku tidak keberatan. Aku ingin beristirahat selama beberapa saat.”

Saat Kiriha dan Yurika setuju, bel pintunya berdering.

“Hei, Kou, Apa kau sudah bangun!?”

Kenji sudah datang.

“Ya, aku datang!”

Koutarou berteriak ke arah pintu depan, kemudian berbisik.

“...Semuanya, tolong pastikan kalau Mackenzie tidak melihat kalian saat aku pergi.”

“Karena itu akan menyusahkan? Aku sudah tahu.”

Sanae mematikan lampu di ruangan itu sambil menjawab.

Ini supaya tidak ada yang sadar kalau di dalam kamar masih ada orang.

“Yurika, pindah kesini sedikit. Pintu depan bisa dilihat jelas dari sebelah sana.”

“Ah, i-iya, Kiriha-san.”

Dan ketiganya memastikan kalau mereka tidak bisa kelihatan dari pintu masuk.

Koutarou memiliki firasat kalau sesuatu yang buruk akan terjadi jika mereka ketahuan.

2 hari yang lalu Sanae muncul, kemarin ada Sanae dan Yurika, dan hari itu ada Sanae, Yurika dan Kiriha.

''Pastinya... Besok tidak ada yang keempat, kan?...''

“...Tidak mungkin.”

Koutarou menggelengkan kepalanya dengan ringan dan tersenyum kecut, dan dia memunggungi mereka bertiga sambil menahan kuapan.

Dia tidak bisa bersantai-santai saat Kenji menunggu di balik pintu.

“Kurang tidur, Koutarou?”

“Bisa dibilang begitu. Aku akan tidur di sekolah.”

“Bagus. Tubuhmu akan sakit kalau kau memaksakan diri.”

“Selamat tinggal, Koutarou-san."

“Sampai jumpa, Koutarou. Pulang secepatnya, oke? Kami menunggumu.”

“Ya... aku pergi.”

“Aku harap aku bisa pergi ke sekolah... Di rumah terus-terusan itu membosankan.”



Dipeluk oleh suasana tenang awal musim semi dan cahaya matahari yang hangat, waktu berlalu di ruang klub setelah sekolah selesai.

Saat ini, satu-satunya waktu yang bisa membuat Koutarou merasa tentram adalah waktu di sekolah.

Di rumah ada tiga gadis yang mencoba mengambil alih kamarnya. Dibandingkan dengan itu, waktu yang dihabiskan di ruang klub seperti surga.

“Kuharap waktunya akan tetap seperti ini... Fuaaaaa.”

Sambil bersantai, Koutarou menguap.

Sudah begadang beberapa kali, Koutarou sangat kelelahan.

Walaupun dia sudah tidur saat pelajaran, staminanya masih jauh dari pulih.

“Tidak bagus, harus terus merajut...”

“Apa kamu tidak apa-apa, Satomi-kun?”

Harumi, yang duduk di sampingnya, tidak mengabaikan kuapan itu.

Dia menatap Koutarou dengan wajah khawatir.

“Aku baik-baik saja, Sakuraba-senpai.”

“Tapi, kamu tidak keliahtan... Apa kamu cukup tidur?”

Koutarou mencoba mengelabuinya, tapi itu tidak berhasil. Malahan, wajah khawatiir Harumi menjadi lebih serius, dan dia sedikit menyondongkan badannya ke depan.

Karena tubuh Harumi yang lemah, dia menganggap serius masalah kesehatannya sendiri dan orang lain.

“Hahaha, aku baru saja pindah dan aku belum terbiasa dengan suasana yang baru. Aku akan kembali normal secepatnya, Sakuraba-senpai.”

“...Aku harap begitu...”

“Ngomong-ngomong, Senpai, tunjukkan teknik merajut yang itu sekali lagi.”

Menggunakan metode merajut yang dia pelajari kemarin, Koutarou mulai mengerjakan sebuah proyek betulan, dengan bimbingan Harumi.

“...Aku mengerti. Aku akan melakukannya sekali lagi dengan pelan-pelan, jadi pastikan kamu perhatikan.”

“Ya, baik.”

Harumi masih merasa khawatir, tapi dia menggerakkan tangannya mendengar permintaan Koutarou.

''Satomi-kun, antusias itu tidak masalah, tapi apa kamu benar-benar tidak apa-apa?''

Masih merasa khawatir mengenai Koutarou, Harumi memikirkan cara untuk membiarkan Koutarou beristirahat sambil menggerakkan tangannya.

Dan setelah menunjukkan metode merajutnya, dia mendapat ide.

''Benar, mungkin jika aku meninggalkannya sendiri...''

Harumi dengan segera menjalankan rencananya.

“...Dan seperti ini. Apa kamu mengerti, Satomi-kun?”

“Ya. Kau sungguh membantu; aku akan mencobanya saat ini juga.”

Koutarou mulai menggerakkan jarum rajutnya.

Walaupun kikuk, dia menunjukkan niat dan motivasinya.

''Itu karena kamu bekerja sekeras itu...''

Harumi meletakkan jarum rajut dan benangnya di meja dan berdiri.

“Satomi-kun, apa tidak apa-apa jika aku memintamu menjaga ruang klub sebentar?”

“I-Iya... aku tidak keberatan, tapi kenapa mendadak begini?”

Koutarou berhenti menggerakkan tangannya dan mendongak ke arah Harumi.

“Aku lupa kalau komite memanggilku. Aku akan kembali secepatnya.”

“Oke, aku mengerti. Aku akan menjaganya saat kau pergi.”

“Maaf, terimakasih.”

Harumi membungkuk ringan dan berjalan menuju pintu keluar.

“...Satomi-kun, dengan ini aku harap kamu bisa tidur sedikit...”

“Senpai, apa kau mengatakan sesuatu?”

“Bukan apa-apa. Aku akan segera kembali.”

“Oke, sampai jumpa.”

Harumi memasang senyum kecil saat dia keluar dari ruangan.

''Hm?... Itu...''



Saat Koutarou sadar, dia lihat ruangan itu bermandikan warna merah oleh matahari senja.

“Aw sial, aku ketiduran...”

Jarum rajut di tangannya sudah diletakkan di meja, dan tubuhnya diselimuti sebuah mantel seragam cewek.

“Apa tidurmu nyenyak?”

Koutarou mengangkat kepalanya, dan didepannya ada Harumi yang tersenyum lembut.

Harumi yang mengenakan blus setelah melepaskan mantelnya sedang merajut.

“Senpai, aku...”

“Aku hampir mau membangunkanmu. Sekarang sudah hampir jam 6 sore.”

Harumi menghentikan rajutannya dan menunjukkan jamnya pada Koutarou.

Waktunya sekarang adalah jam 5:45 sore, hampir waktunya sekolah ditutup hari ini.

“Maaf aku ketiduran pas aktivitas klub, Senpai!”

Bagi Koutarou, yang dididik keras untuk menghormati orang yang lebih tua, ini adalah masalah yang besar.

Dia meminta maaf dan membungkuk dalam-dalam.

“Tidak apa-apa, Satomi-kun. Ini kan... Um... perkumpulan ki-kita.”

Saat Harumi berkata begitu, pipinya berubah merah karena malu, tapi Koutarou, yang sedang membungkuk, tidak melihat hal itu.

“Karena itulah, Senpai!”

“Tidak, itu salah. Ini adalah perkumpulan kita, jadi selama kita sepakat, tidak masalah untuk melakukan apa yang kita inginkan.”

“Sakuraba-senpai...”

“Satomi-kun, tolong jaga kondisi tubuhmu ya.”

''Oh begitu ya, Senpai...''

Melihat wajah serius harumi, Koutarou akhirnya ingat tubuh Harumi yang lemah.

''Karena itulah dia merasa sangat khawatir...''

Koutarou merasa senang dan juga menyesal telah membuatnya merasa cemas.

“Baiklah, aku akan menjaga kondisi tubuhku lebih baik lagi.”

“Ya... Terima kasih, Satomi-kun.”

Mendengar jawaban Koutarou, Harumi merespons dengan riang.

Aku ''yang harusnya merasa khawatir mengenai'' dirinya. ''Aku harus mengubah sikapku...''

Tiga hari ini adalah masalah tanpa henti karena 3 orang aneh itu.

Tapi berkat kelembutan Harumi, Koutarou merasa sedikit bersemangat lagi.



“Aku pulang.”

Saat Koutarou membuka pintu, di dalam kamar masih gelap, dan Sanae, yang menyambutnya kemarin, tidak kelihatan sama sekali.

“Hm?”

Saat Koutarou berpikir, wajah Sanae menyembul keluar dari ruangan dalam.

“Koutarou, kesini, cepat!”

“Ada apa?”

“Akan lebih cepat jika kamu melihatnya sendiri. Ayo, Koutarou!”

“Ada yang aneh!”

Setelah Sanae, baik Kiriha dan Yurika sama-sama memanggilnya.

Ketiga suara itu anehnya terdengar serius, jadi dia buruburu meninggalkan sepatunya di pintu masuk dan masuk ke dalam ruangan.

“Ada apa dengan kalian bertiga, kalian bahkan masih belum menyalakan... Ehhhh!?”

Melompat masuk ke dalam ruangan, Koutaru membelalakkan matanya dengan terkejut.

“A-Apa itu!?”

Sebuah kelainan terjadi di dalam ruangan dalam.

Di ruang gelap itu, dinding yang paling jauh bersinar redup.

Kelainan yang bersinar itu berukuran tinggi sekitar dua meter dan lebar sekitar 1 meter.

“Ini cuma dinding, kan!? Apa yang terjadi!?”

“...Itu yang ingin kami ketahui.”

Kiriha menyalakan lampu di ruangan itu, dan cahaya di dinding menjadi sedikit tidak kelihatan.

“Sanae, apa kau menyebabkan hal ini?”

“Enak saja! Itu bukan salahku! Jangan coba menyalahkan semuanya padaku! Di samping itu, apa untungnya membuat dinding bercahaya!?”

“Benar juga...”

Koutarou menuduh Sanae setelah menyaksikan fenomena paranormal yang jumlahnya tak terhitung dan disebabkan oleh Sanae, tapi setelah mendengar argumennya, Koutarou menyimpulkan kalau Sanae memang tidak terlibat dengan hal itu.

Seperti yang Sanae bilang, dia tidak mendapat manfaat apapun dari dinding yang bercahaya itu.

“Jangan langsung menyalahkanku, dasar!”

Merasa tidak puas, Sanae menggembungkan pipinya dan melayang di udara.

“Mau bagaimana lagi. Kau ini kan hantu.”

“Hmph! Memangnya siapa yang peduli mengenai apa yang kau pikirkan!”

Dan Sanae berpaling dari Koutarou.

“Ayolah, jangan merajuk hanya karena aku meragukanmu sebentar...”

Saat Koutarou mencoba menenangkan Sanae, seseorang menarik lengan baju seragamnya.

“Permisi, Satomi-san.”

“Hm? Ada apa, Yurika?”

Orang yang menarik lengan bajunya adalah Yurika. Dia melepaskan lengan bajunya dan melengkungkan mulutnya menjadi senyum malu-malu.

“Dindingnya: bercahaya, kan?”

“Ya, dindingnya bercahaya.”

“Sesuatu yang aneh sedang terjadi, kan?”

“Ya, sesuatu yang aneh sedang terjadi...”

“Apa kau tidak mengira kalau itu mungkin adalah sihir?”

“...Mungkin saja bukan.”

Saat Koutarou mengangguk untuk yang ketiga kalinya, dia berpaling ke arah Kiriha.

“Kiriha-san, sudah berapa lama dindingnya seperti ini?”

Koutarou sudah tidak tertarik lagi pada Yurika.

“Kenapa!? Setidaknya kau kan bisa meragukanku sedikit!! Ini fenomena supernatural, tahu!? Ini benar-benar misterius! Mungkin saja ini adalah sihir!”

“Barusan, sekitar 10 menit sebelum kamu pulang.”

“10 menit...”

“Tidak adil! Tidak adil kalau kau percaya pada hantu tapi tidak percaya pada sihir! Aku menuntut koreksi dan permintaan maaf!”

“Karama, Korama, tolong beritahukan hasil pengukurannya pada Koutarou juga.”

“Ya-ho!”

“Serahkan pada kami, Ane-san-ho!”

Kedua haniwa terbang ke arah Koutarou.

“Tidak ada indikasi radiasi, gelombang elektromagnetik, panas, vibrasi, atau energi spiritual-ho. Satu-satunya data yang kami terima adalah dari beberapa pancaran foton-ho!”

“Tapi kami tidak bisa mengukur sisi lain cahaya itu-ho. Seakan-akan ada sebuah dinding tak terlihat disana-ho! Asal foton itu bahkan belum jelas-ho.”

Kedua haniwa itu menjelaskan dengan detail menggunakan isyarat, tapi itu tidak bisa dimengerti oleh Koutarou.

“Aku tidak paham; apa maksudnya?”

“Itu berarti dinding ini benar-benar normal kecuali kita tidak bisa melihat sisi lain cahaya itu... Namun, jika teknologi yang tidak kuketahui terlibat, asumsi itu mungkin tidak benar.”

“Dengan kata lain, dinding ini hanyalah dinding bercahaya yang tidak kita ketahui.”

Koutarou pelan-pelan mendekati dinding itu.

“Aaaaa, kalau saja kau bisa memberiku sebagian keraguan itu...”

Yurika mulai terisak di belakang Koutarou.

“Jika saja kau bisa percaya kalau ada gadis-gadis dengan kekuatan misterius...! Kenapa!? Aku juga sudah berusaha keras membuatmu percaya!”

Namun, Koutarou sangat fokus pada dinding itu, dan keluhan Yurika tidak digubris sama sekali.

“Koutarou, jangan asal menyentuh hal itu, oke?”

“...Terdengar sangat persuasif saat kau mengatakan hal itu.”

Apa yang sampai di telinga Koutarou malah suara Sanae.

Sanae melayang disamping Koutarou saat mereka mendekati dinding bercahya itu bersama-sama.

“Jangan perlakukan aku seperti aku ini semacam bahaya yang bisa melayang!”

“Kau kan memang begitu!”

Apa maksudnya!? Sudah cukup! aku hanya berpikir untuk melindungimu jika sesuatu terjadi juga! Dan kau menginjak-injak perasaanku begitu saja! Kau ini benar-benar jahat!”

Sanae mulai merajuk dan kembali ke tempat dimana Kiriha dan Yurika berdiri.

“...Kau tidak akan mati dengan tenang, Koutarou, aku yakin!”

“Dia bahkan tidak mau percaya pada sihir!”

“Ini hal yang biasa terjadi bagi orang seumuran kita. Wanita yang baik akan mengabaikan hal seperti ini.”

“Aku ini hanya anak kecil. Aku tidak peduli!”

''Mereka tidak merasa tegang sama sekali...''

Itulah yang Koutarou pikirkan sambil mendengarkan gadis-gadis itu.

Berhenti 30 sentimeter di depan dinding itu, Koutarou mengamati dinding itu.

“Selain bercahaya, dinding ini kelihatan seperti dinding pada umumnya.”

Cahayanya redup dan dia bisa melihat dinding di belakang cahaya itu. Bahkan gambar yang baru-baru ini diganti kelihatan jelas.

“Ada apa dengan hal ini...”

Koutarou mengulurkan tangannya menuju cahaya itu, tapi cahaya itu tidak terasa panas, seperti yang Kiriha bilang.

Namun, tidak jelas apakah menyentuh dinding itu berbahaya atau tidak.

“Baiklah, apa yang harus kulakukan...”

Saat Koutarou mempertimbangkan apakah dia akan menyentuh dinding itu atau tidak, sebuah perubahan terjadi.

“Oh?”

Di pusat dinding bercahaya itu, kira-kira satu meter dari lantai, sebuah cakram biru dengan diameter sekitar 30 sentimeter muncul.


Dari tengah cakram itu, sorotan cahaya mulai membentuk sebuah gambar.

Itu terlihat seperti seorang pria yang mengenakan baju besi dan bertarung dengan sebuah reptil besar.

“Seorang ksatria dan seekor naga... Apa itu semacam lencana?”

Koutarou mendekatkan wajahnya untuk memeriksa gambar misterius itu.

Dan dia menyadari kalau itu bukan hanya sebuah gambar, melainkan sebuah patung tiga dimensi.

Hal itu memperkuat kesannya kalau itu memang sebuah lencana.

“Tapi kenapa ada sebuah lencana di dinding bercahaya?”

Koutarou mendekatkan wajahnya ke arah lencana itu, tapi mendadak pandangannya terhalangi.

“Eh? Apa!?

Pandangannya mendadak gelap, dan wajahnya menekan sesuatu yang lembut dan hangat.

Terperanjat, tubuh Koutarou menjadi kaku.

“Hanya!?”

Suara seorang gadis terdengar tepat di dekat Koutarou.

Semuanya di ruangan ini merasa terkejut, tapi yang paling terkejut adalah orang yang telah mengejutkan Koutarou dan yang lainnya.

“Ka-Kasar sekali!! Kau harusnya tidak langsung membenamkan wajahmu ke dada seorang tuan putri! Tidak bisa dimaafkan, bahkan bagi orang Primitif yang tidak mengerti apapun!”

“Eh? Apa!? Apa yang sedang terjadi!?”

Mendengar seseorang berteriak di dekat telinganya membuat Koutarou mencoba menjauhkan wajahnya dari benda yang ditekan oleh wajahnya dengan cara meletakkan tangannya di benda itu dan mendorong benda itu menjauh dari wajahnya dengan lembut.

“Waaa!? Kau menyentuh dada seorang tuan putri!? Menggenggamnya!? Meremasnya!?”

“Ehhh!?”

Di depan Koutarou yang sempoyongan, ada seorang gadis yang berdiri dengan dinding bermasalah itu di belakangnya.

Tubuhnya pendek, tapi sedikit lebih tinggi dari Sanae.

Dengan rambut pirang dan mata biru, kemungkinan besar dia adalah orang asing.

Dia mengenakan gaun bercahaya putih yang indah. Ujung rok melebarnya menutupi sebagian besar ruangan ini.

Dan di atas rambut keemasannya ada sebuah tiara perak yang dihiasi dengan permata.

“...Siapa?”

“Bukan siapa! Pindahkan tanganmu dariku saat ini juga, Primitif!”

“Tangan?”

Saat tangannya disebut, Koutarou memberikan sedikit kekuatan pada ujung jarinya.

“Waaaa, ja-jangan meremasnya, dasar tolol!!”

Wa, Waaaaa!?”

Koutarou akhirnya menyadari kalau tangannya diletakkan dengan kokoh di dada gadis itu.

“Ma-maaf!”

“Permintaan maaf saja belum cukup! Tiba-tiba saja kau membenamkan wajahmu di dadaku, dan kemudian kau bahkan meremasnya berulang-ulang!”

Wajah gadis itu memerah karena marah dan malu. Dia berteriak kepada Koutarou sambil menutupi dadanya dengan lengannya.

“Dada bangsawan yang kau permainkan dengan penuh nafsu ini bukan hal yang bisa disentuh oleh orang sepertimu! Kau harusnya merasa beruntung kau tidak langsung dibunuh!”

“Nafsu!? Tidak, bukan maksudku begitu, ini semua hanya kesalahpahaman belaka! Ini hanya sebuah kecelakaan!”

Koutarou menggelengkan kepalanya dengan panik.

“Semua kriminal berkata hal yang sama!”



“Itu tidak benar! Memangnya siapa yang mau meremas dada rata seperti itu! Bahkan akupun punya hak untuk memilih payudara yang kuremas!”

“Ra-rata?”

Ekspresi gadis itu membeku.

Apa kau pikir aku akan mengambil resiko seperti itu demi dada papan cucian itu!? Jangan membuatku tertawa!”

“Papan cucian...?”

Gadis itu tertegun dan mendongak ke arah Koutarou. Matanya terbuka lebar dan wajahnya merengut.

“Itu benar ~ kemarin Koutarou menghabiskan seharian untuk meremas-remas payudara Kiriha, jadi dia tidak perlu meremas dadamu.”

Sanae menyela; dia masih menyimpan dendam pada Koutarou karena hal tadi.

“Jangan bicara seolah-olah aku ini orang mesum!”


“Tidak perlu menyangkal. Kau tahu kau ingin meremas mereka, dasar mesum~”

“Koutarou, apa kamu mau meremas payudara?”

Kiriha menyodorkan dadanya dengan enteng ke arah Koutarou, dan payudara besarnya berguncang.

“Tidak mau! Aku tidak akan meremas payudara ''siapapuuuun''!”

“Kamu tidak perlu menahan diri, lho?”

“Aku tidak akan meninggalkan kamar ini sebagai balasannya!”

Yurika yang dari tadi menonton sambil diam, menyemangati dirinya sendiri dengan mengangkat tinjunya ke arah surga.

“Kau mendapat pringkat yang tinggi! Kerja bagus Yurika! Berjuang!”

Dengan peringkat ukuran dada para gadis di kamar ini, urutannya dimulai dari yang terbesar sampai yang terkecil adalah: Kiriha, Yurika, Sanae, dan terakhir si gadis misterius. Yurika merasa senang dia di posisi kedua.

“...Pokoknya, kau tidak mau meremas dada seperti itu...”

Yurika memberikan pandangan iba kepada gadis dengan dada di peringkat terendah.

“Aku bilang itu hanya kecelakaan! Siapa yang mau repot-repot menyentuh dada seperti itu!?”

“Da-dada seperti itu... Kau menyebut mereka dada seperti itu... Rata, papan cucian... dada seperti itu...”

Gadis itu menunduk.

“Kamu tidak perlu mengatakannya seperti itu. Dia ini masih muda, jadi dia masih punya banyak waktu untuk tumbuh.”

“Uwa~ Itu cara yang kejam untuk mengatakannya ~ Orang elit bisa mendapatkannya dengan mudah.”

“Aku tidak bermaksud begitu!”

“Tapi, dia bahkan kalah oleh Sanae-chan... Mereka tidak akan tumbuh banyak...”

Saat Yurika berkata begitu dengan rasa iba yang mendalam di suaranya, bahu gadis itu mulai bergetar.

Koutarou menafsirkan kalau dia hampir menangis, tapi suaranya malah jauh dari suara menangis.

“Fu, fufufu, fufufufu, ahahahaha...”

Itu adalah tawa kering dan hampir memilukan.

“Kalian merasa iba padaku. Begitu ya, kalian merasa iba pada''ku'', seorang tuan putri!”

Di saat itu, Koutarou mengira kalau dia bisa mendengar suara kesabaran gadis itu yang patah.

“Kubunuh kalian! Akan kubunuh kalian semua saat ini juga! Akan kupastikan kalian semua tidak akan bisa membuka mulut kalian!”

Gadis itu berteriak, mengayunkan kedua tangannya ke sekeliling dan menghentakkan kakinya ke lantai.

Gadis itu sudah kehilangan kesabarannya.

“...Sepertinya kau membuatnya marah, Koutarou. Kau harus cepat-cepat minta maaf.”

“Itu benar, Koutarou. Kamu harus melakukannya saat lukanya masih tidak terlalu dalam.”

“Itu karena kau mengejeknya, Satomi-san. Tidak banyak orang yang bisa tahan diejek sebaik diriku.”

“Jangan mencoba menyalahkan semua ini padaku! ''Kalianlah'' yang menghabisi gadis itu! Disamping itu, lihat saja dia, dia sudah jauh melewati titik dimana dia bisa dibujuk!”

“Fuhahahaha, dasar Primitif! Kalian tidak akan punya cukup waktu untuk menyadari dosa kalian! Setelah tubuh kalian menguap, kalian akan menyesal telah melawanku!”

Gadis yang sudah kehilangan kesabarannya itu tertawa keras ke arah Koutarou dan lainnya.

Tidak mungkin bagi siapapun untuk membujuk orang semarah ini.

“Ksatria Biru! Aktifkan sistem senjata anti personil!”

Sambil terus tertawa keras, dia berseru ke arah gelang di tangan kanannya.

“SESUAI YANG ANDA INGINKAN, TUAN PUTRI.”

Dan gelang di tangannya menyala dan merespons gadis itu.

“Apa yang dilakukan gadis itu?”

“Siapa yang tahu... Dia sangat marah sampai-sampai dia bicara dengan gelangnya; dia sedikit menakutkan.”

Dua cakram hitam dengan diameter sekitar 20 sentimeter muncul berurutan di atas bahu kanan dan kiri gadis itu.

Anehnya, dua cakram itu tidak memiliki ketebalan.

“PILIH SENJATA.”

“Pulse Cannon anti personil, Sonic Impact Cannon! Lubangi mereka semua, hancurkan mereka, dan buat mereka terlempar!”

“SESUAI YANG ANDA INGINKAN, TUAN PUTRI.”

Dengan segera setelah perintah gadis itu diteriakkan, benda logam terlihat keluar dari cakram hitam itu.

Walaupun cakram itu tidak tebal, anehnya logam itu berbentuk tiga dimensi.

Seakan cakram-cakram hitam itu adalah semacam jendela.

“Benda apa itu?”

Logam yang mirip dengan laras itu berputar dan mengarah kepada Koutarou.

Dan dari lubang sebelah kiri, cahaya putih kebiruan mulai bersinar.

Di saat yang sama, sebuah suara bernada rendah yang membuat ruangan ini berguncang datang dari kanan.

“Aku mendapat firasat buruk mengenai hal ini...”

Koutarou, yang merasakan bahaya dari cakram-cakram itu, tidak tahu apa yang harus dilakukan, jadi dia merendahkan tubuhnya dan menyiapkan kuda-kuda untuk saat ini.

“Peringatan darurat-ho! Benda yang bisa kalian lihat dari lubang hitam itu sepertinya adalah senjata-ho!”

“Reaksi energi-ho! Dugaan sementara bagian sisi kiri adalah senjata energi, dan bagian sisi kanan adalah meriam gelombang kejut-ho! Senjata itu akan siap menyerang dalam beberapa detik-ho!!”

“Merunduk, Koutarou!! Dia akan menembak!”

Suara gawat Kiriha memasuki telinga Koutarou dan memberitahunya apa yang harus dia lakukan.

Apa!?”

“Sudah terlambat! Lenyapkan mereka, Ksatria Biru!”

“SESUAI YANG ANDA INGINKAN, TUAN PUTRI.”

Koutarou yang panik melirik ke arah gadis yang menyerukan perintah kepada gelangnya.

“Koutarou!!”

“Owaaa!?”

Di momen itu Koutarou jatuh ke tikar tatami. Sanae sudah menubruknya dan menariknya jatuh dengan paksa.

Di saat yang sama, beberapa sinar biru melewati tempat dimana Koutarou tadi berdiri.

Tepat setelahnya, peluru putih melaju, seakan mengejar sinar biru itu.

“Kyaaaa!?”

Sinar biru itu berlalu di dekat telinga Yurika dan membakar beberapa helai rambutnya, dan saat dia membungkuk terkejut saat peluru putih itu tiba.

Peluru putih itu mengenai sapu Yurika dan meledak, mengeluarkan suara keras.

Tepat setelahnya, sebuah guncangan besar timbul, mendorong Yurika terjatuh.

“Kenapa selalu akuuuu!!”

Yurika, yang kehilangan keseimbangannya, berguling di atas tikar tatami.

“Gyafu!”

Yurika berguling ke arah dinding dan berhenti. Dia tidak lagi bergerak; dia pingsan.

“Hampir saja! benda itu senjata!?”

Melihat Yurika, Koutarou akhirnya memahami bahaya yang dia alami, dan keringat dingin mengalir di punggungnya.

Koutarou tidak tahu senjata macam apa yang gadis itu gunakan, tapi sekali lihat ke arah Yurika memberitahunya apa yang akan terjadi jika dia terkena serangannya.

Apa kamu baik-baik saja, Koutarou!? Bangun! Yang selanjutnya akan datang!!”

“Ah, iya!”

“Tsk, sepertinya salah satu dari mereka adalah orang yang cerdik.”

Gadis itu mengeluarkan kata-kata pajit tersebut sambil melotot ke arah Koutarou.

Dan laras yang keluar dari lubang di atas bahu gadis itu mengarah kepada Koutarou.

“Tapi di ruang sempit ini, serangan selanjutnya tidak akan meleset!! Ksatria Biru, terus menembak dalam mode sinkron!”

“SESUAI YANG ANDA INGINKAN, TUAN PUTRI.”

“Jangan bertingkah seperti itu, pendek!”

“Kau tidak hanya mengolok-olok dadaku tapi juga tinggi badanku, Primitif!?"

“Dasar orang bodoh dan idiot!”

“Argh, kau bahkan memanggilku bodoh!?”

“Memang aku memanggilmu seperti itu! Dasar orang yang sadar kalau dadanya tumbuh ke dalam!”

Saat Koutarou berkata begitu, tanda-tanda gadis itu menyerang muncul kembali.

Cahaya putih kebiruan dan suara keras.

“Koutarou, jangan bertengkar dengannya! Berdiri saja, cepatlah!”

“Waaaaaaa!! Oh sialan!!”

Koutarou masih mencoba berdiri, dan bahkan dengan bantuan Sanae, sepertinya mereka tidak akan berhasil tepat waktu sebelum serangan selanjutnya dimulai.

“Ahahaha! Kau terlalu lambat! Sudah berakhir! Kau bisa menyesali kejahatanmu telah mempermalukanku setelah kalian menjadi abu!”

“Karama, Korama, Medan Energi Spiritual output maksimum!”

“Dimengerti-ho!”

Bersama dengan suara tajam, kedua haniwa itu terbang diantara Koutarou dan gadis itu.

“Tapi kami akan kalah dalam hal kekuatan-ho! Kami tidak bagus melawan serangan fisik-ho!”

“Saya hanya perlu kalian untuk menahan satu serangan! Kalian harus menahannya apapun yang terjadi!”

“Baiklah-ho!”

Sinar biru dan peluru putih ditembakkan.

Di momen itu, sebuah cahaya kuning bulat menyelimuti Koutarou dan yang lainnya.

Itu adalah perisai yang dibuat oleh kedua haniwa.

Saat sinar biru itu meledak setelah menyentuh perisai yang terbuat dari cahaya itu, perisai itu pecah seperti kaca dan hancur.

Perisai haniwa itu hanya bisa nyaris menahan sinar biru – serangan Pulse Laser.

Jadi peluru putih yang sedikit terlambat – Shock Wave Cannonball – melaju dengan mudah dan mengarah kepada Koutarou dan yang lainnya.

“Waaaa, Kali ini semuanya sudah berakhir!!”

“Jurus Pamungkas! Sanae-chan Bomber!”

Namun, sebelum peluru itu bisa mengenai Koutarou, Sanae mencegah hal itu dengan melemparkan sebuah bantal dengan Poltergeistnya.

Peluru dan bantal itu bertabrakan di udara, dan sebuah ledakan terdengar, bersama dengan kapas yang bertebaran ke seluruh ruangan.

“Tsk!”

“Ho~”

“Hoho~”

Selain Sanae, semua orang terlempar ke dinding karena gelombang kejutnya.

Itu sudah cukup untuk membuat Rumah Corona mulai berguncang dan berderit.

Apa semuanya baik-baik saja!? Kalian belum tewas, kan!?”

“Bukan keduanya! Walaupun aku baik-baik saja sekarang, mungkin aku tidak akan begitu cepat atau lambat!”

Koutarou berdiri sambil menggelengkan kepalanya, dan dia mengambil tongkat pemukul yang bersandar di dinding di sebelahnya.

Apa yang akan kau lakukan!?”

“Satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah menyerang sebelum gadis itu pulih!”

Gadis yang bersangkutan telah kehilangan keseimbangannya akibat gelombang kejut tadi.

Karena bantal tadi sudah bertubrukan dengan peluru di dekatnya, gelombang kejut itu terasa olehnya juga.

“Tsk, oleh hal seperti ini... Ksatria Biru, ganti menjadi Sonic Impact Cannon dan Ion Blaster! Ruangan ini terlalu kecil!”

Menyadari Koutarou yang mendekat, gadis itu memerintah gelangnya untuk mengganti senjata.

“SESUAI YANG ANDA INGINKAN, TUAN PUTRI.”

“Lambat!”

Tapi sebelum senjatanya dapat berubah, Koutarou mengayunkan tongkat pemukulnya.

Dia mengincar pulse laser yang keluar dari lubang di atas bahu kanan gadis itu.

“Tidak ada gunanya, Primitif!”

Namun, tongkat pemukul itu tidak mencapai pulse laser tersebut.

Sesaat sebelum tongkat itu mengenai laras senjata itu, tongkat itu bertabrakan dengan sesuatu yang setengah transparan dan terpental.

Apa!?”

“Kau pikir hanya kalian yang memiliki penghalang!? Ceroboh sekali!”

Gadis itu berdiri, wajahnya dihiasi seringai penuh percaya diri.

Gadis itu dikelilingi dengan segi enam berwarna putih.

Seperti perisai cahaya milik dua haniwa, segi enam itu adalah perisai untuk mencegah serangan.

“Ini buruk-ho! Kekuatan penghalangnya ada di tingkat yang berbeda-ho!”

“Itu adalah penghalang repulsi-ho! Itu jauh lebih superior dari perisai kami untuk melawan segala serangan kecuali energi spiritual-ho!”

“Memangnya siapa gadis itu!?”

Kiriha terperanjat melihat perbedaan kekuatan yang luar biasa ini.

Serangan Kiriha dan yang lain nyaris tidak berefek, tapi mereka tidak bisa menahan serangan lawan mereka.

“Sialan, apa-apaan dengan penghalang keras itu? Kita tidak akan bisa melakukan apapun kecuali kita melakukan sesuatu terhadap penghalang itu!”

“Berhenti, Koutarou! Kita tidak punya cara untuk menghancurkan pernghalang itu!”

“Apa? Benarkah!?”

“Benar, Primitif! Perbedaan kekuatan kita itu seperti langit dan bumi! Kalian tidak akan bisa melakukan apapun walaupun hanya menyentuhku dengan jarimu!”

Gadis itu menghentikan serangannya dan membanggakan dirinya dengan penuh kemenangan.

“...Aku tidak terlalu yakin mengenai hal itu.”

Sanae melayang di depan gadis yang sombong itu dan menyentuh gadis itu dengan jarinya.

“A-apa!? A-apa yang baru saja kau lakukan!?”

Setelah Sanae tiba-tiba muncul di depannya, wajah gadis itu tersentak.

“Apa? Aku hanya menyentuhmu dengan jariku.”

Sanae sudah menembus penghalang yang baru saja dibanggakan gadis itu dengan mudah.

Walaupun penghalang itu bisa melindungi dari serangan apapun, sepertinya penghalang itu tidak bisa menghalangi hantu.

“Kerja bagus, Sanae! Sekarang tahan dia!”

“Baik, baik. Kau ini memang suka memerintah...”

Sanae mulai mengurangi kebebasan gadis itu saat si gadis masih terkejut.

Dia menangkap ujung rok gaun gadis itu dengan Poltergeistnya.

Apa yang kau lakukan!?”

“Siapa yang tahu apa yang akan dilakukan oleh seseorang sepertimu jika aku membiarkanmu begitu saja! Dengan kata lain, Jurus Pamungkas Sanae-chan Tulip!”

Sanae mengangkat ujung rok gadis itu.

“Uwawa, a-apa!?”

“Santai saja!”

Sanae mengangkat rok itu ke atas kepala gadis itu dan membungkusnya seperti sebuah serut tas.

Dengan celana dalamnya terekspos, gadis itu kelihatan mirip dengan bunga tulip, seperti yang Sanae katakan.

“Hentikan, dasar penjahat! Aku tidak bisa melihat apapun!”

“Tidak mungkin~ Jika aku berhenti, kau hanya akan menyerangku.”

Gaid itu memberontak, tapi kekuatan Sanae terlalu kuat, dan dia tidak bisa membebaskan dirinya.

“Kiriha-san.”

“Ada apa, Koutarou?”

“Aku tahu nyawaku sedang dipertaruhkan, tapi saat ini dia kelihatan seperti seorang idiot...”

“...Setuju. Tak kusangka saya akan melihat beruang disini...”

Si tulip berjuang tapi tidak membuat kemajuan.

Sebuah pemandangan yang mengundang tawa.

Selain itu, seekor beruang yang menawan tercetak di celana dalam gadis itu. Mau tak mau, orang akan tertawa melihat situasi itu.

“Jika kau menyerah, aku akan melepaskanmu.”

“Tidak mungkin seorang tuan putri dari Kekaisaran Suci Galaktik Forthorthe akan merendahkan kepalanya kepada orang-orang barbar primitif!”



“Kalau begitu kami hanya akan meninggalkanmu seperti ini.”

“Grrr, kau ini hanya seorang Primitif!”

Sanae dan gadis itu sedang bertengkar, dan Sanae saat ini dalam posisi menang.

Sementara itu, Koutarou sedikit menghela nafas lega.

“Sepertinya setidaknya kita bisa beristirahat sejenak.”

"Sudah waktunya begitu.”

Kiriha tersenyum ringan dan bicara pada Koutarou.

Namun, kegaduhan itu tidak berhenti seperti yang keduanya perkirakan.

“Baiklah! Jika kau ingin melakukannya seperti itu, aku punya rencana sendiri!”

“Apa? Apa kau masih merencanakan sesuatu?”

“Ksatria Biru! Ganti mode bertarung menjadi mode serangan akhir! Tembakkan Genesis Buster terbatas! Ubah area di sekelilingku menjadi atom-atom belaka!”

"OTENTIFIKASI DIBUTUHKAN UNTUK AKTIVASI MODE SERANGAN AKHIR DAN PENGGUNAAN GENESIS BUSTER."

“Namaku adalah Theiamillis Gre Masteil Sagurada von Forthorthe!!” 


"OTENTIFIKASI SELESAI. MENGKONFIRMASI IDENTITAS TUAN PUTRI THEIAMILLIS. PERINTAH SUDAH DITERIMA. SESUAI YANG ANDA INGINKAN, TUAN PUTRI.

Gadis itu memberikan perintah yang rumit, berbeda dari sebelumnya.

Melihat hal itu, Koutarou sekali lagi merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya.

“Apa yang kau rencanakan?”

“Jangan menanyakan hal tolol begitu, Primitif. Tentu saja seranganku.”

Si tulip merespons dengan penuh percaya diri.

Gadis itu mungkin tertawa, tapi outarou tidak bisa melihat wajahnya.

“Serangan?”

Namun, tidak ada yang terjadi di ruangan itu. Lubang hitam yang melayang di atas bahu gadis itu tetap tidak bergerak.

“Tidak ada yang terjadi...”

“Fufufu! Wahahahaha, karena itulah kau ini Primitif! Jangan langsung berasumsi kalau apa yang kau lihat itu adalah apa yang sedang terjadi!”

Si tulip menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan senang.

“Peringatan bahaya! Sebuah emisi energi super tinggi kira-kira 50 meter di langit-ho!”

Apa!?”

Mendengar peringatan Karama, Kiriha melompat menuju jendela.

Dia kemudian buru-buru membukanya dan menyondongkan badannya keluar.

Koutarou mengikutinya.

“Itu dia!”

Apa itu!?”

Di langit di atas Rumah Corona , sebuah lubang hitam mirip dengan lubang hitam yang melayang di atas bahu gadis itu bisa terlihat.

Walaupun langit malam penuh bintang, bagian langit itu benar-benar tidak berbintang sama sekali.

Sebuah benda silinder besar mengintip dari lubang tersebut.

“Mengkonfirmasi pembentukan antimateri-ho! Massanya juga meningkat dengan cepat-ho!”

“Antimateri!? Berapa ukurannya!?”

“Saat ini 58 gram-ho! Dan masih terus meningkat-ho!”

Apa itu meriam antimateri!? Tidak mungkin! Apa kamu tahu apa yang bisa benda semacam itu lakukan!?”

Kiriha berbalik ke arah Tulip dan berteriak padanya.

Koutarou bisa memahami keseriusan situasi ini dengan melihat Kiriha yang biasanya tenang sedang bertingkah seperti ini.

“Tentu saja! Benda itu akan mengubah kalian para Primitif menjadi foton!”

Tulip tertawa keras kepada Kiriha yang panik.

“Koutarou, apa itu antimateri?”

“Jangan tanya aku. Mackenzie yang ahli dalam bidang ini.”

Koutarou dan Sanae tidak dapat mengerti istilah itu.

Jadi keduanya hanya memiringkan leher mereka tanpa beban.

“Sederhananya, antimateri adalah sebuah senjata nuklir yang mengerikan.”

Tegasnya, reaksi fisi nuklir yang digunakan pada senjata nuklir benar-benar berbeda dari antimateri.

Namun, keduanya melepaskan energi dalam tingkatan atom, jadi itu adalah penjelasan yang memadai bagi kedua orang yang tidak mengerti sama sekali.

“Nu-Nuklir!?”

“Yang kau maksud nuklir itu adalah benda-benda itu yang selalu muncul di film-film dan anime, dimana sesuatu yang mengerikan terjadi jika benda itu meledak dan meninggalkan jamur!?”

Karena itu, Koutarou dan Sanae bisa dengan mudah memahami situasinya dan mulai merasa panik.

“A-Ayo lari, Koutarou!”

“I-Iya!”

“Sia-sia saja! Antimaterinya sudah melebihi 100 gram! Tidak peduli seberapa jauh kalian berlari, kalian tidak akan pernah dapat keluar dari jangkauannya! Sayang sekali!”

“...Jadi semuanya sekarang sudah berakhir...”

Kiriha menghela nafas dan menurunkan bahunya.

Dia sangat memahami dengan jelas kekuatan antimatter dengan massa diatas 100 gram.

“Jangan menyerah! Lakukan sesuatu, Kiriha!”

Apa yang akan kita lakukan!? Apa yang harus kulakukan!?”

Hanya menyadari kalau itu adalah senjata yang kuat, Koutarou dan Sanae merasa panik dan berlari di sekitar Kiriha.

“Trik kecil tidak akan mampu untuk menghentikan senjata ini! Aku menang!”

Di sisi lain Tulip merasa luar biasa gembira. Dapat melepaskan semua kebenciannya, dia tertawa keras.

Bahkan sang beruang di celana dalamnya yang terekspos terlihat seperti sedang tersenyum pada Koutarou.

“Tidak ada yang bisa kita lakukan. Tolong menyerah saja, Koutarou, Sanae.”

“Tidaaaaaaaak! Aku tidak mau matiiiiiiii!”

“Kau ini sudah mati! Senjata nuklir atau antimateri tidak akan berpengaruh padamu!”

“Oh iya.”

Menyadari kalau senjata biasa tidak akan berpengaruh pada hantu, Sanae menjadi tenang kembali.

“Aku turut berduka atas kematianmu~”

“Anehnya mendengar kau berkata begitu membuatku kesal!”

“Ini adalah hak istimewa menjadi seorang hantu!”

Sanae berbalik ke arah Koutarou dan membuat simbol V kemenangan.

“Kamu tidak bisa terlalu yakin jika itu mengenai antimateri. Dengan massa sebanyak ini, mungkin saja kekuatannya sangat banyak sampai-sampai struktur ruang itu sendiri akan terdistorsi. Bahkan seorang hantu pun mungkin tidak bisa selamat.”

Apa kau dengar itu, Sanae!? Bahkan hantu pun bisa mati!”

“Jangan bersuka cita, idiot!”

Saat Koutarou dan yang lainnya mulai jatuh dalam kepanikan dan kebingungan, gelang Tulip melapor dengan dingin.

"PEMBENTUKAN ANTIMATERI SUDAH SELESAI."

“Bagus sekali! Mulai prosedur penembakan! Dan jangan lupa untuk menyelamatkanku saat kau menembak!”

“SESUAI YANG ANDA INGINKAN. MENGINISIALISASI PROSEDUR PENEMBAKAN.”

“Waaaa, dia menembak! Dia menembak!”

“Tidaaaaaaaak! Aku tidak mau mati muda!”

“Sebuah akhir yang tidak teduga bagi invasi permukaan... Walaupun dengan ini, tidak ada yang tersisa dari Jepang untuk diinvasi...”

Gadis yang tertawa, Koutarou yang gelisah, Sanae yang menempel pada Koutarou, Kiriha yang murung, dan Yurika yang masih pingsan, yang belum memahami situasi ini.

Kelima orang itu menunjukkan lima reaksi berbeda saat waktunya akhirnya tiba.

"ANTIMATERI SUDAH SELESAI DIBENTUK. PENGAMAN DILEPASKAN. MENUNGGU PERINTAH UNTUK MENEMBAK, TUAN PUTRI."

“Kukuku, dan dengan ini semuanya berakhir! Genesis Buster, TE-”



Namun, saat gadis itu hampir memberikan perintah untuk menembak, suara lain mengisi ruangan, menginterupsi gadis itu.

“Mohong tunggu, Tuan Putri Theiamillis!”

“Ruth!?”

Saat gadis itu menaikkan suaranya karena terkejut, orang lain datang melompat dari dinding bercahaya itu.

Perbuatannya itu terlihat sangat mirip dengan Sanae yang menembus dinding.

Orang yang datang dari dinding itu adalah seorang gadis yang mengenakan seragam militer dengan rok pendek.

Dia lebih tinggi dari Tulip, tingginya hampir sama dengan Yurika.

“H-hei, seseorang baru saja datang dari dinding itu!”

“Kenapa kamu terkejut? Tulip muncul dengan cara yang sama.”

“Benarkah, Kiriha-san?”

Koutarou tidak melihat Tulip muncul keluar.

Saat dia sibuk memeriksa lencana itu, pandangannya mendadak terhalang.

“Ya. Gadis pertama keluar dari dinding dengan cara yang sama dan bertubrukan denganmu.”

Kiriha sudah menyerah, tapi dengan kemunculan gadis lain itu, dia mulai pulih.

“Yang Mulia! Apa maksudnya menembakkan Genesis Buster pada planet ini!?”

Gadis baru itu dengan segera mulai berteriak pada Tulip.

“Ta-tapi, mereka mempermalukanku!”

Tulip menyatakan keberatannya, tapi suaranya benar-benar berbeda.

“Sepertinya gadis itu datang untuk menghentikan Tulip.”

“Benarkah?”

Koutarou dan Sanae melihat keduanya yang sedang bertengkar.

Koutarou dan yang lainnya tidak mampu untuk memahami perkembangan tidak terduga ini.

“Itu bukan berarti anda bisa menghancurkan seluruh planet ini! Pertama-tama, itu melanggar perjanjian galaktik!”

“Sanae, sepertinya senjata diatas kita ini memiliki cukup kekuatan untuk menghancurkan planet.”

“Jadi ini akan menjadi akhir kebetulan planet Bumi.”

“Amit-amit...”

“Tapi mereka bilang kalau aku ini dada rata, pendek dan bodoh! Tidak mungkin aku bisa memaafkan mereka!”

“Tidak ada orang yang akan mengeluarkan senjata penghancur dengan jangkauan lebar yang digunakan di pertempuran luar angkasa untuk alasan kekanak-kanakan seperti itu!”

“Ta-tapi Ruth!”

“Tidak ada 'tapi-tapian'!”

Argumennya mulai dimenangi oleh gadis baru itu.

Jumlah kata yang Tulip katakan secara bertahap berkurang, dan sekarang dia lebih banyak diam.

“Fuuuuu. Sepertinya semuanya akan menjadi tenang... Ya ampun.”

Kiriha menghela nafas panjang dan melemaskan bahunya.

“Tuan Putri Theia, mohon tenanglah. Jika anda membunuh penghuni kamar ini anda tidak akan bisa menyelesaikan ujian yang diberikan pada Yang Mulia. Apa anda mau menjadi orang gagal tercepat dalam sejarah Forthorthe dan mempermalukan ibu anda sendiri?”

“...”

Sesaat setelah ibunya disebutkan, Tulip berhenti membantah.

“Yang Mulia, mohon buka pikiran anda. Pengaruh Forthorthe tidak mencapai planet ini. Kitalah yang memaksakan kehendak kita pada mereka.”

''Gadis ini sudah mengatakan hal-hal yang masuk akal beberapa waktu ini...''

Beberapa hari ini ada kekacauan oleh orang-orang tidak masuk akal yang memaksakan diri mereka ke dalam kamar ini.

Jadi perkataan masuk akal gadis baru ini terdengara seperti musik di telinga Koutarou.

“Aku mengerti... Ksatria Biru, Keluar dari mode menyerang dan kembali ke mode bertahan. Batalkan Genesis Buster.”

“SESUAI YANG ANDA INGINKAN, TUAN PUTRI.”

“Terimakasih, Yang Mulia.”

Gadis itu memasang senyum lega, dan keributan di kamar itu kelihatannya sudah selesai.

Ada banyak lubang di dinding akibat serangan laser, dan gambar dinding sudah sobek sebagian karena gelombang kejut.

Tikar tatami yang dulu indah sekarang memiliki bekas terbakar. Kamar itu berantakan.

“Jika ibu kos melihat ini dia mungkin akan menangis...”

Koutarou melihat ke sekeliling ruangan.

Rumah Corona adalah harta karun ibu kos Shizuka.

Rumah Corona adalah peninggalan mendiang orang tuanya.

Dan melihatnya dalam keadaan ini hampir pasti akan membuatnya sangat bersedih.

Koutarou sangat menyadari hal itu.

“Koutarou, tolong duduklah, kalau tidak, kita tidak bisa memulai.”

“Oh, maaf, segera kulakukan.”

Saat Kiriha memanggilnya, dia berbalik dan melihat 5 gadis yang sedang duduk di sekeliling meja teh.

Urutan tempat duduk mereka searah jarum jam adalah Sanae, Kiriha, Yurika, Tulip, dan gadis yang datang bersamanya.

Dan ada ruang kosong diantara Sanae dan Kiriha untuk Koutarou.

“...Jadi aku duduk disini.”

Koutarou duduk di ruang kosong itu.

“Rasanya sedikit sempit...”

“Itu karena sekarang kita berjumlah enam orang.”

Kiriha mengangkat bahunya mendengar kata-kata Sanae. Baik meja teh tersebut maupun ruangannya tidak didesain untuk enam orang.

Karena itu, ruangan itu terasa sangat kecil dengan enam orang di dalamnya.

“Masalah yang harus kita pecahkan sepertinya semakin membesar, aku tidak bilang kalau kita harus memperdalam pertemanan kita...”

“Yah itu benar, tapi...”

Sanae memasang wajah sedih.

“Jadi untuk lebih dapat dipahami, siapa kalian ini?”

“Hmph!”

Tulip – gadis bergaun yang pertama kali keluar dari dinding – menolak menjawab.

Dan dia memalingkan wajahnya dari Koutarou dengan provokatif.

“Saya minta maaf. Sepertinya suasana hati tuan saya sedang buruk, jadi sebagai gantinya saya saja yang akan menjelaskan.”

Sebagai gantinya, gadis berseragam yang keluar belakangan mulai berbicara.

Dibandingkan dengan gadis bergaun itu, dia memiliki aura lembut dan kooperatif di sekelilingnya.

Dia menundukkan kepalanya dengan sopan dan tenang ke arah Koutarou dan memberikan kesan kuat padanya.

Namun, dia mungkin saja seperti Kiriha, jadi alih-alih bersikap santai, Koutarou memutuskan untuk mendengarkannya bicara sebelum dia lengah.

“Tolong izinkan saya untuk memperkenalkan diri kami. Pertama-tama, tuan saya, Yang Mulia Theiamillis.”

Dan gadis berseragam itu menunjuk kepada gadis yang duduk di sampingnya.

“Yang Mulia?”

Itu adalah frase yang sudah dia gunakan beberapa kali.

Koutarou tahu kalau itu adalah gelar kehormatan untuk seorang bangsawan, tapi dia tidak berpikir kalau gelar itu cocok bagi gadis di depannya.

“Ya, nama Yang Mulia adalah Theiamillis Gre Forthorthe. Beliau adalah tuan putri dari Kekaisaran Suci Galaktik Forthorthe.”

“Tuan Putri!? Orang ini adalah anak kalangan atas!?”

Mendengar kata-kata Koutarou, gadis bergaun itu, Theia, memelototinya.

Namun, kali ini dia, barangkali menunjukkan sedikit kebijaksanaan, tidak berkata apapun.

“Ya. Beliau adalah putri ketujuh, tapi saat ini beliau adalah anak tunggal kaisar yang sedang berkuasa.”

“Jadi dia ini seorang tuan putri? Benarkah?”

Gadis yang menjelaskan itu mengangguk ke arah Sanae yang merasa kagum.

“Akan sulit untuk menunjukkan bukti identitas beliau saat ini kepada kalian, tapi tidak ada kesalahan.”

“Itu tidak perlu. Aku mengerti kalau setidaknya kalian memegang posisi yang tinggi.”

“Eh!? Kalian akan mempercayai kami!?”

“Ya, sampai batas tertentu.”

Tidak disangka, orang yang mendukung kata-kata gadis itu adalah Kiriha.

“Apa yang kau maksud, Kiriha-san?”

“Koutarou, pikirkan lagi kekuatan senjata mereka.”

“Ada apa dengan senjatanya? Yah, senjata itu berbahaya tapi...”

“Apa kamu pikir orang biasa bisa berkeliaran dengan senjata semacam itu? Apalagi menggunakan antimateri?”

“Oh, maksudmu begitu.”

Dengan itu, Koutarou memahami pa yang Kiriha maksud.

“Sanae, yang mana yang kelihatan lebih normal bagimu? Orang yang memiliki senjata tadi adalah orang biasa atau orang dengan posisi tinggi?”

“Yah, tentu orang itu adalah orang yang sangat penting, kan? Bagaimanapun juga mereka memiliki bom jamur itu.”

“Benar, kan? Dengan kata lain, begitulah. Aneh jika kedua orang itu adalah orang biasa.”

“Begitu ya. Setelah kau mengatakannya, itu masuk akal.”

Sanae merasa puas dan mengangguk dan dia mulai mengolok-olok Yurika.

“Yurika, tidak sepertimu yang mengaku-ngaku sebagai seorang putri, dia adalah tuan putri sungguhan.”

“Aku juga sungguhan!”

“Aku tahu. Seorang cosplayer garis keras sungguhan, kan?”

“Kau salah! Kenapa semua orang tidak percaya!?”

Yurika menggertakkan giginya dengan frustasi, tapi tidak ada yang mendengarkannya.

“Untuk menunjukkan posisi, tunjukkanlah kekuatan. Sebuah metode yang kuno, tapi sangat efektif.”

“Mengenai penggunaan kekuatan itu secarra mendadak, saya ingin meminta maaf.”

Gadis itu membungkuk dengan nada menyesal.

“Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu; kita sama-sama berbuat salah.”

“Terima kasih.”

“Koutarou, kau sungguh memaafkan mereka dengan cepat, ya?”

“Kenapa kau tidak mengingat apa yang kau katakan tadi.”

Sanae tersentak oleh tatapan dingin Koutarou.

Dia juga merasa kalau dia terlalu banyak bicara.

Selain dari menyentuh payudaranya di awal, setelah itu Koutarou juga sedikit terlalu banyak bicara.

Hal yang sama juga berlaku bagi dua orang lainnya.

“Dan bagaimana denganmu? Apa kau juga memegang posisi yang tinggi?”

“Tidak, saya hanya bagian dari militer. Saya adalah pengawal yang bertugas untuk menjaga Yang Mulia Theia dan mengurusi sekeliling beliau. Nama saya adalah Ruthkania Nye Pardomshiha.”

“...Ruth adalah temanku sejak kecil.”

Theia, yang selalu diam, membuka mulutnya untuk waktu sebentar.

“Dia adalah pengawal yang berbakat dan bisa diandalkan.”

“Kata-kata anda itu terbuang sia-sia bila ditujukan pada hamba, Yang Mulia.”

Ruth tersenyum ke arah Theia, dan Theia sedikit memerah sebelum mulai merajuk kembali.

“Hmm... jadi orang ini adalah seorang tentara.”

“Ruth-san... Oh iya, aku lupa. Namaku Koutarou, Satomi Koutarou, penghuni kamar ini.”

“Aku Higashihongan Sanae. Dan orang mencolok ini adalah Yurika. Tapi satu-satunya hal yang mencolok darinya adalah penampilannya, jadi tidak perlu menghiraukannya”

“Aku Nijino Yurika, seorang penyihir –”

Yurika mencoba memperkenalkan dirinya, tapi...

“Kurano Kiriha. Tolong panggil aku Kiriha.”

Sayangnya, kata-katanya dipotong oleh Kiriha.

“Apa kalian benar-benar benci penyihir... Tidak, diriku sejauh itu?”

Yurika berkata begitu sambil menangis. Dia menjatuhkan bahunya dan air matanya jatuh ke sapu tangannya.

Ruth merasa terkejut melihat tangisan mendadak Yurika.

“Apa sesuatu terjadi pada Yurika-sama?”

“Tidak apa-apa. Tolong biarkan saja dia, Ruth-san.”

“Oke, Satomi-sama.”

Yurika terus menangis.

“.......?”

Ruth tidak bisa memahami situasi ini, tapi dia memutuskan untuk membiarkannya untuk saat ini.

“Ngomong-ngomong, Ruth. Kau menyebut sebuah kekaisaran galaktik tadi. Apa yang kau maksud dengan hal itu?”

“Apa dia berkata hal seperti itu, Koutarou?”

Sanae, yang tidak memperhatikan sama sekali, menarik lengan baju Koutarou dan bertanya.

“Dia bilang begitu. Hal yang terdengar seperti Kekaisaran Suci Galaktik anu. Si Theia sepertinya adalah tuan putri negara itu.”

“Aku tahu mengenai suatu kekaisaran di Ginza[1]!”

Ada sebuah hotel yang terkenal di Ginza yang disebut Hotel Kekaisaran.

“Keduanya tidak berhubungan...”

“Aku tahu itu juga!”

“Seperti yang semuanya bilang.”

Ruth menganggukkan kepalanya.

“Kami datang dari Kekaisaran Suci Galaktik Forthorthe.”

“Kekaisaran Suci Galaktik Forthorthe... Aku belum pernah mendengar sebuah negara dengan nama itu.”

“Apa kau sudah pernah mendengarnya, Yurika?”

“Kenapa kau berpikir kalau aku tahu segalanya?”

Yurika memasang wajah bingung setelah Sanae menanyainya.

“Itu terdengar seperti nama yang muncul dari sebuah anime.”

Yurika mulai terisak.

“Jangan membuatnya menangis tanpa alasan, Sanae.”

“Maaf, tadi itu hanya refleks.”

“Jadi Ruth-san, dimana negara itu? Timur Tengah? Atau mungkin Eropa?

“Tidak.”

Ruth menggelengkan kepalanya.

“Letaknya sekitar 10 juta tahun cahaya dari sini, di galaksi yang berbeda.”

“Jadi memang benar begitu!?”

Kiriha secara naluri berdiri.

Senjata antimateri yang sudah digunakan oleh Theia dan Ruth membuat Kiriha merasa sedikit curiga, tapi dia masih merasa sangat terkejut.

“Koutarou, Ginza yang berbeda? Apa ada Ginza lain di luar Tokyo?”

“Bukan, galaksi lain!”

Koutarou merasa bingung. Dia memahami apa yang Ruth katakan, tapi itu lebih mirip dengan alur sebuah film yang akan dia tonton bersama Kenji.

“Itu tidak mungkin. Jika mereka datang dari galaksi yang berbeda, itu membuat mereka –”

“Ya, anda benar. Kami datang dari planet yang berbeda; dengan kata lain, kami ini alien.”

Theia dan Ruth, kedua gadis ini adalah pengunjung paling mewah sampai saat ini.

“A-alien...”

Rahang Koutarou menganga.

“Setelah hantu, cosplayer dan orang bawah tanah, aku tidak akan terkejut bilamelihat hal aneh lainnya, tapi tidak kusangka ada alien...”

“Aku bukan cosplayer! Aku ini gadis penyihir!”

“Saya percaya kalau merasa terkejut itu cukup normal. Toh, berkontak dengan peradaban lain itu jarang terjadi.”

Ruth memasang senyuman iba.

“Tapi, setelah kau mengatakannya, itu memang sedikit jelas.”

Laser, penghalang, meriam antimateri. Sulit membayangkan senjata-senjata sci-fi ini bisa ditemukan di Bumi.

Jika kita memiliki kemajuan sains itu di Bumi, kita sudah jauh lebih maju dari sekarang.

Dua haniwa milik Kiriha cukup mengejutkan, tapi teknologi ini cukup mengejutkan bahkan bagi Kiriha.

“Tidak diragukan lagi.”

Kiriha menyeka keringat di alisnya. Dia tidak bisa berhenti berkeringat dingin.

“...Karama, Korama, siapkan itu.”

“Baiklah-ho!”

“Kami akan membawanya secepatnya-ho!”

Setelah kedua haniwa itu mendengar perintah Kiriha, mereka langsung beraksi.

Mereka mebalikkan tikar tatami terdekat dari pintu depan dan masuk ke dalam lubang di bawahnya.

“Apa yang mau kau lakukan, Koutarou?”

“Pertama, aku akan melanjutkan dengan anggapan apa yang mereka katakan itu benar.”

“Kau mempercayai mereka saat mereka bilang kalau mereka itu adalah alien?”

“Ya, mereka tidak kelihatan sedang berbohong.”

Koutarou mendekatkan mulutnya ke telinga Sanae dan berbisik.

“...Di samping itu, bahkan jika mereka berbohong, senjata-senajta itu sungguhan.”

“...Ada benarnya juga. Mereka pastinya berbeda dari orang seperti Yurika.”

Sanae balas berbisik dan menoleh kepada Theia dan Ruth. Dan alasan lain melintas di pikirannya.

“Hei, Koutarou.”

“Hm?”

“Apa kau mempercayai mereka karena si gadis Ruth itu adalah tipemu?”

“Tentu saja bukan!”

“Benarkah?”

“Tentu saja! ...Yah, dia itu manis, setelah kau mengatakannya.”

“...Saya merasa terhormat... Sampai-sampai anda menyebutku m-manis...”

Gadis yang terus memasang wajah serius itu memerah setelah mendengar Koutarou menyebutnya manis.

Ruth terlihat seperti gadis seumurannya ketika wajahnya seperti itu.

“Dia punya sikap yang sopan dan dia tidak mengatakan hal-hal yang aneh. Tidak ada alasan untuk meragukannya, kan?”

“Kau terdengar mencurigakan ~ Apa kau yakin kalau itu bukan karena tipemu itu gadis penurut? Dasar anak laki-laki pada umumnya~  Hanya karena dia itu cantik dan penurut dia diberi posisi istimewa~”

“Yah, dibandingkan dengan kalian, siapapun dianggap penurut!”

“...Benar juga.”

Sanae, Yurika, Kiriha, dan Theia. Keempatnya jauh dari kata ‘penurut'.

“Saya benar-benar berterimakasih anda mempercayai kami, Satomi-sama. Saya sebenarnya selalu khawatir mengenai cara untuk membuat anda percaya bagian ini.”

“Selalu? Jadi kalian tidak datang kesini hari ini, Ruth-san?”

“Ya.”

Ruth mengangguk.

“Sebenarnya, kami datang ke planet ini kemarin malam.”

“Jadi, apa yang kalian lakukan selama itu?”

“Kami mengumpulkan data untuk membuat alat penerjemahan dari percakapan di kamar Satomi-sama."

Saat Ruth sedang menjelaskan, dia menarik keluar sebuah kotak kecil dan menunjukkan kotak itu pada semuanya.

Itu adalah alat penerjemahan yang mereka berdua gunakan.

“Setelah kau mengatakannya, kalian berdua memang bicara dalam Bahasa Jepang."

“Tak kusangka kotak kecil ini bisa...”

Koutarou dan Sanae menatap kotak itu. Ruth memberikan kotak itu pada mereka untuk mempermudah mereka melihat kotak itu.

“Karena itu, kami hampir mengerti situasi semuanya. Sebagai hasilnya, kami terpaksa menguping pembicaraan kalian, dan untuk itu saya meminta maaf yang paling dalam.”

“Jika kita tidak bisa saling memahami perkataan masing-masing, kita tidak akan mendapat kemajuan, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan itu, Ruth-san.”

“Terima kasih banyak, Satomi-sama.”

Ruth sudah siap untuk disalahkan, jadi dia meraas lega.

“Jadi kenapa kalian berdua datang kemari?”

“Itulah masalah kami...”

Ruth menjadi serius; tidak ada waktu untuk merasa lega. Sekarang adalah waktunya mulai bekerja.

“Yang Mulia Theia datang kemari karena suatu ritual tertentu yang diturunkan dalam keluarga kaisar.”

“Ritual?”

Kiriha mengangkat kepalanya. Ruth mengangguk dan terus menjelaskan.

“Ya. Sebuah ujian diturunkan pada pewaris kekaisaran saat mereka berumur 16 tahun.”

“Sebuah ujian? Ujian macam apa?”

“Bisa segala jenis ujian tergantung pada orangnya. Bisa saja ujiannya berupa mencari benda, menjelajahi daerah yang belum pernah dijelajahi, bertarung dengan musuh yang telah ditakdirkan, dan semacamnya. Setelah mereka menyelesaikan ujian tersebut, mereka dipandang mampu untuk mewarisi tahta.”

“Jadi semacam ritual untuk menjadi dewasa?”

“Itu benar, Kiriha-sama. Jika seorang anggota keluarga kerajaan tidak menunjukkan kemampuan mereka, mereka tidak akan diizinkan untuk mewarisi tahta, walaupun mereka adalah anak kandung kaisar sendiri.”

“Jadi apa itu berarti saat dia menyelesaikan ujiannya, dia akan menjadi kaisar?”

“Tidak, tidak seperti itu. Mereka yang menyelesaikan ujiannya akan dicatat dengan urutan waktu penyelesaian dalam daftar kandidat yang berhak mewarisi tahta. Orang yang ada di posisi teratas dalam daftar itu adalah kaisar yang bertahta.”

“Dalam urutan saat mereka menyelesaikan ujian tersebut... Begitulah cara kalian menunjukkan kemampuan kalian, ya.”

“Ya, itu benar, Satomi-sama.”

Ruth mengangguk.

“Yang berarti kalian berdua, atau lebih tepatnya, tuan putri disana datang kemari untuk menyelesaikan ujian tersebut?”

“Itu benar.”

Theia membuka mulutnya.

“Aku harus menunjukkan kemampuanku. Karena itu, aku datang kemari bersama Ruth.”

“Hanya kalian berdua saja?”

Koutarou sedikit terkejut. Di dalam kepalanya, keluarga raja biasanya bepergian dengan banyak orang.

Namun, menurut kata-katanya, hanya Ruth yang menemaninya.

“Ya. Aku sedang menunjukkan kemampuanku dengan ujian ini. Itu tidak mungkin dilakukan dengan kelompok besar.”

“Begitu ya. Tidak ada manfaatnya kalau kau tidak melakukannya dengan kemampuanmu sendiri.”

“Tepat sekali.”

“Jadi apa ujiannya? Kalian datang dari antah berantah, jadi apa kalian menjelajah?”

“Bukan. Ujian yang diberikan pada yang mulia adalah invasi.”

“Invasi!?”

“Yang Mulia Theia harus menginvasi kamar ini dan menguasainya baik secara de facto maupun de jure.”

“Tu-tunggu sebentar! kenapa harus kamar“ku”!?”

Koutarou merasa kaget, dan Ruth terus menjelaskan.

“Karena saya percaya kalau kalian sudah menyadarinya, ujian ini bertujuan untuk menunjukkan kemampuan pewaris tahta. Oleh karena itu, invasi sungguhan tidak akan terjadi. Yang Mulia telah diberi koordinat suatu ruang yang dipilih secara acak untuk dikuasai dan dijadikan wilayah kekuasaannya. Ini hanya sebuah upacara belaka.”

“Jadi koordinat itu seara kebetulan adalah kamarku!?”

“Saya tahu kalau itu sulit dipercaya, tapi koordinat yang dipilih oleh komputer memang cocok dengan kamar ini.”

“Kebetulan macam apa itu!?”

“Kami juga merasa bingung oleh hal ini. biasanya, koordinat untuk ujian ini adalah ruang kosong. Yang biasanya orang lakukan hanyalah menempatkan bendera mereka di ruang tersebut dan selesai. Ujian ini membutuhkan keberanian yang ekstrim; orang harus menghadapi ketidakpastian tentang pergi ke lokasi yang tidak diketahui di ruang angkasa yang luas ini.”

Ruth memasang wajah serius.

Koordinat yang diberikan komputer memiliki hampir 100% peluang adalah koordinat ruang kosong. Alam semesta ini kan sebagian besar kosong.

Itulah sebabnya ini adalah kali pertama koordinatnya menunjuk kepada sebuah planet yang bisa dihuni dan dengan makhluk cerdas di dalamnya.

“Jadi apa yang terjadi dalam hal ini?”

“Jika makhluk cerdas ditemukan di titik invasi, orang yang diuji tidak hanya harus menginvasi tapi juga membuat makhluk tersebut bersumpah setia padanya. Toh, ini adalah ujian untuk menunjukkan kalau orang tersebut bisa berdiri di atas orang lain. Dan tentu saja, mengambil nyawa mereka itu buka salah satu pilihannya.”

“...Artinya...”

Setelah dijelaskan panjang lebar, bahkan Koutarou sekalipun dapat memahami apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Dengan begini, bahkan orang dengan tingkat kecerdasan sepertimu bisa mengerti! Bersumpah setia padaku saat ini juga dan serahkan kekuasaan atas kamar ini padaku! Jika kau melakukannya, kau akan menjadi warga negara kekaisaran agung kami dan dapat menikmati kehidupan yang panjang dan makmur.”

Putri ketujuh dari Kekaisaran Suci Galaktik Forthorthe, Theiamillis Gre Forthorthe.

Dia bukan hanya mencoba untuk menginvasi kamar ini, tapi juga menginvasi hati Koutarou.

“Aku menolaaak!”

Respons Koutarou pada Theia, yang menuntut kamar ini dan loyalitasnya, tetap sama seperti biasanya.

“Siapa yang mau bersumpah setia padamu!? Jangan membuatku tertawa!”

Setelah kamarnya hampir hancur, Koutarou tidak memiliki kesan yang baik terhadap Theia.

Koutarou bahkan tidak bisa membayangkan dirinya dapat bersumpah setia pda gadis itu.

“Sialan kau, Primitif! Aku perlakukan kau dengan lembut dan ini balasanmu!?”

“Kapan kau memperlakukanku dengan lembut!? Satu-satunya yang menurunkan kepalanya hanyalah Ruth!”

''Aw...''

Kepala Koutarou terasa sakit setelah berteriak pada Theia.

''Mungkin aku terlalu bersemangat.''

Koutarou menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan sakit kepala itu, tapi rasa sakitnya tetap bertahan bersama dengan perasaan berat di pusat kepalanya.

Koutarou mengira kalau itu karena di terlalu bersemangat, tapi kenyataanya itu karena tubuhnya sudah berusaha keras beberapa hari ini.

“Aku tidak keberatan untuk membuatmu menjadi abu saat ini juga!”

“Aku sudah tahu kalau kau tidak bisa menyelesaikan ujianmu seperti itu! Ancaman kosongmu tidak berarti apa-apa!”

Namun, Koutarou dengan cepat melupakan rasa sakit kepalanya. Theia, yang ada di depannya, adalah maasalah yang jauh lebih besar.

“Grrrr, si Primitif ini mendapat sedikit pengetahuan yang tidak perlu...”

“Jika kau tidak bersama dengan Ruth. Aku sudah mengusirmu sejak lama!”

Apa!? Jaga mulutmu saat kau bicara dengan tuanmu!”

“Siapa yang menjadi tuan!?”

“''Aku'', rakyat jelata! Apa aku harus terus mengingatkanmu!?”

“Memangnya aku mau mengingat hal itu, Tulip!”

Baik Koutarou maupun Theia tidak mau mengalah, dan mereka saling melotot dengan intens.

Keduanya sailing mendekatkan wajah mereka dan semakin mendekat, sampai-sampai jika mereka mendekat sedikit lagi mereka akan cukup dekat untuk berciuman.

“Yang Mulia, Satomi-sama, mohon tenanglah. Berkelahi tidak akan menguntungkan siapapun.”

“Walaupun Ruth-san meminta, aku pasti tidak akan menuruti si pendek ini!”

“Kau dengar dia, Ruth! Rakyat jelata ini tidak akan mengerti kalau kita tidak menggunakan kekerasan! Si Primitif ini tidak akan mengerti kenikmatan menjadi seorang warga negara Forthorthe!”

Bujukan Ruth tidak bekerja pada Koutarou dan Theia, yang terlalu emosi. Namun Ruth tidak menyerah.

“Tolong! Kumohon, kumohon dengarkan keegoisan saya ini! Tidak peduli hasilnya, kalian berdua tidak boleh berkelahi!”

Ruth benar-benar mengkhawatirkan keduanya dan kata-katanya menjadi lebih kuat.

“...Aku mengerti Ruth. Maaf.”

“Kali ini saja. Hanya karena Ruth-san.”

Untungnya, usahanya yang kedua didengarkan oleh keduanya.

Mereka saling menatap dengan tidak puas saat mereka duduk kembali.

“Terima kasih, kalian berdua. Terima kasih banyak sudah mendengarkan perkataan saya.”

Dan Ruth menyeka sudut matanya dan diam-diam merasa lega.

Catatan kaki
[1] Sanae salah paham antara Ginza dan Ginga, kata Bahasa Jepang untuk galaksi.

Rokujouma no Shinryakusha Jilid 1 Bab 6 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.