21 Januari 2016

Overlord Jilid 4 Bab 1 LN Bahasa Indonesia



OVERLORD
JILID 4 BAB 1
KEBERANGKATAN


Bagian 1
Pegunungan Azellerisia — rangkaian pegunungan yang memisahkan Kekaisaran Baharuth dan Kerajaan Re-Estize, yang juga bertindak sebagai perbatasan nasional. Great Forest Tove menutupi bagian selatan kaki bukit rangkaian pegunungan tersebut dan di bagian utara hutan terdapat sebuah danau yang sangat besar.
Danau besar ini memiliki radius sekitar dua puluh kilometer, dan berbentuk seperti buah pohon calabash1, terbagi menjadi danau bagian atas dan danau bagian bawah. Danau bagian atas cenderung dalam, karena itulah makhluk-makhluk besar berkumpul di sana sementara di bagian bawah ditinggali oleh makhluk-makhluk yang lebih kecil.
Pada ujung selatan danau terdapat sebuah daerah luas di mana danau dan lahan basah berpadu satu sama lainnya. Banyak struktur yang dibangun di sana, dengan lusinan tonggak kayu yang berfungsi sebagai fondasi untuk satu sama lainnya. Sebuah pintu terbuka pada salah satu sisi rumah ini, dan pemiliknya memasuki sorotan cahaya matahari.
Ras demi-humannya dikenal sebagai lizardmen.
Lizardmen adalah sosok yang memiliki karakteristik manusia sekaligus reptil. Lebih rincinya, selain dari kepala mereka yang tidak memiliki ciri-ciri dasar manusia, mereka adalah kadal yang berdiri dengan dua kaki, dengan tangan dan kaki yang tangkas.
Mereka dianggap sebagai demi-human bersama dengan para goblin dan orc, dan tidak seberadab manusia, dengan gaya hidup yang dianggap kejam bagi makhluk lain. Akan tetapi, juga tidak dapat dipungkiri bahwa mereka memiliki kebudayaan mereka sendiri.
Lizardmen pria dewasa memiliki rata-rata tinggi badan sekitar 190 cm dan bangga dengan otot-otot kuat mereka, yang beratnya lebih dari 100 kg dengan sedikit lemak tubuh. Ekor reptil yang digunakan untuk mengatur keseimbangan tumbuh dari pinggang mereka.
Evolusi menyebabkan mereka memiliki kaki berselaput untuk kemudahan bergerak di lahan basah. Karena hal inilah aktivitas di darat jadi sedikit tidak nyaman, tapi ini tidak menjadi masalah untuk gaya hidup mereka secara umumnya.
Sisik-sisik mereka yang berwarna hijau gelap dan kelabu mirip dengan seekor buaya daripada seekor kadal, dan sisik-sisik tersebut lebih kuat daripada peralatan pertahanan kelas rendah yang digunakan oleh manusia.
Tangan mereka memiliki lima jari seperti manusia, tapi dengan cakar pendek tumbuh pada ujung-ujungnya.
Senjata dipegang dengan kedua tangan pada dasarnya adalah benda yang sangat primitif. Karena mustahil bagi mereka untuk menemukan bijih logam di lahan basah, senjata mereka sebagian besar dibuat dari cakar makhluk buas magis, atau semacam senjata tumpul dengan batu yang terikat.
Langit berwarna biru cerah, matahari sudah naik ke pertengahan udara, dan sejumlah kecil awan-awan putih dalam pola seperti disisir di langit. Cuacanya bagus, dengan rangkaian pegunungan yang terlihat jelas.
Jarak pandang lizardmen termasuk luas, dan tatapan membutakan matahari dapat terlihat tanpa menggerakkan kepala. Dia, Zaryusu Shasha, menyipitkan mata dan menuruni tangga dengan berirama.
Dia, Zaryusu Shasha, menyipitkan mata dan menuruni tangga dengan berirama, sambil menggaruki tanda sisik hitam pada dadanya.
Lizardmen memiliki kelas sosial yang tegas, dengan kepala suku sebagai pemimpinnya. Posisi ini tidak ditentukan oleh keturunan, tapi dipilih oleh suku sebagai individu yang terkuat. Pemilihan kepala suku ini dilaksanan setiap tahun.
Yang membantu kepala adalah dewan para tetua yang dibentuk dari para sesepuh lizardmen yang terpilih. Di bawah mereka terdapat kelas warrior, diikuti lizardmen jantan biasa, lizardmen wanita biasa, dan lizardmen muda. Kelompok sosial mereka terbentuk seperti ini.
Tentu saja, juga terdapat mereka yang tidak termasuk dalam kategori ini.
Yang pertama adalah druid, yang dipimpin oleh para tetua druid. Mereka membantu suku lewat penggunaan penyembuhan magis dan ramalan cuaca untuk memprediksi bahaya.
Yang berikutnya adalah para pemburu, yang tingkatannya terdiri dari para ranger, yang bertanggung jawab untuk memancing dan berburu, tapi karena lizardmen biasa juga akan membantu dalam hal ini, pekerjaan terpenting mereka adalah kegiatan di hutan.
Lizardmen adalah omnivora, tapi makanan pokok mereka adalah semacam ikan dengan panjang sekitar delapan puluh sentimeter dan mereka tidak memakan banyak tumbuhan atau buah.
Walau begitu, para pemburu memasuki hutan pada dasarnya untuk mendapatkan kayu. Bagi lizardmen, daratan tidaklah aman, dan bahkan hanya untuk mengumpulkan kayu dari hutan membutuhkan anggota yang terampil.
Karena itu, mereka diijinkan untuk membuat keputusan mereka sendiri, tapi masih tetap dalam yuridiksi kepala suku dan harus mematuhi perintah kepala. Lizardmen dengan demikian memiliki hubungan sosial paternal secara eksplisit dengan pembagian tugas berdasarkan pekerjaan. Akan tetapi, ada juga mereka yang berada di luar yuridiksi kepala suku.
Mereka adalah para traveller.
Mendengar tentang traveller akan memunculkan kesan orang-orang luar, tapi itu adalah hal yang mustahil dalam masyarakat lizardmen. Lizardmen memiliki lingkungan sosial yang tertutup, dan sebuah situasi di mana orang luar dapat diterima ke dalam suku adalah hal yang amat sangat langka.
Jadi, siapa para traveller ini?
Mereka adalah lizardmen yang berharap untuk melihat dunia luar.
Pada dasarnya, kecuali sesuatu yang drastis seperti terjadi kekurangan pangan, lizardmen tidak akan meninggalkan kampung halaman mereka. Akan tetapi, ada sebuah kemungkinan kecil bahwa seorang lizardmen yang ingin melihat dunia luar akan muncul.
Saat traveller memutuskan untuk meninggalkan suku, mereka akan mendapat tanda khusus yang diberikan pada dada mereka. Ini adalah tanda bahwa mereka telah meninggalkan yuridiksi kendali suku dengan meninggalkannya.
Kebanyakan dari mereka yang meninggalkan suku tidak pernah kembali, mati dalam perjalanan mereka, menemukan sebuah tempat baru untuk disebut rumah, atau menemui takdir yang berbeda… tapi dalam kesempatan langka, mereka akan kembali ke kampung halaman mereka setelah melihat dunia.
Para traveller yang kembali dinilai tinggi karena tingkat pengetahuan yang telah mereka kumpulkan. Meskipun mereka adalah individu yang dikeluarkan dari kekuatan hierarki, mereka masih menonjol dalam suku.
Ada beberapa yang menjaga jaraknya dari Zaryusu karena rasa hormat,  tapi ketenarannya lebih besar daripada itu. Bukan hanya karena dia adalah seorang traveller. Alasannya adalah….
Saat turun dari tangga terendah ke permukaan lahan basah, senjata kesukaannya yang tergantung pada pinggang bertubrukan dengan sisik-sisiknya, membuat suara ceklikan.
Itu adalah sebilah pedang berwarna biru dan putih dengan cahaya yang redup. Bentuknya sedikit aneh, bilahnya dan pegangannya bersambungan, mirip dengan garpu bergigi tiga. Mulai dari bagian pegangannya bagian tubuhnya menjadi semakin tipis, sampai menjadi setipis kertas pada ujung pedangnya.
Tidak ada lizardmen yang tidak tahu senjata ini. Seluruh suku lizardmen menyebutnya sebagai salah satu dari empat benda pusaka magis: Frost Pain.
Inilah alasah di balik ketenaran besar Zaryusu.
Zaryusu mulai bergerak.
Dia memiliki dua tujuan yang berbeda. Hadiah yang dia ingin bawa ke salah satu tujuan tersebut saat ini berada di punggungnya.
Itu adalah salah satu ikan besar yang merupakan makanan pokok lizardmen. Berjalan sambil membawa empat ekor ikan ini pada punggungnya, bau amis yang memasuki hidungnya tidak menimbulkan rasa tidak nyaman bagi Zaryusu. Sebaliknya, itu adalah bau yang membuatnya merasa sangat lapar.
Keinginan kuat untuk makan. Setelah mendenguskan keluar beberapa kali dari hidungnya, dia menyingkirkan keinginan ini. Sambil seperti ini, Zaryusu berderap saat dia berjalan tanpa henti melewati desa suku Green Claw. Anak-anak, yang masih memiliki sisik-sisik hijau cerahnya, berlarian dan mengeluarkan suara tawa 'sha sha', tapi berhenti saat mereka menyadari objek yang berada di punggung Zaryusu. Anak-anak yang tumbuh sehat menatap tajam pada Zaryusu dari bawah bayangan rumah-rumah—tidak, itu karena ikan yang mereka kumpulkan bersama. Mulut-mulut mereka sedikit terbuka, bahkan berliur. Mereka tetap menjauh sedikit, tapi tatapan mereka masih terkunci, dengan pandangan seperti anak-anak yang menginginkan cemilan.
Zaryusu tersenyum miris dan berpura-pura tidak menyadarinya saat dia terus berjalan. Dia sudah memutuskan kepada siapa ikan-ikan ini diberikan. Itu hal yang disayangkan, tapi ikan ini tidak diperuntukkan bagi anak-anak itu.
Tatapan-tatapan anak itu tidak disebabkan oleh rasa lapar—sesuatu yang akan menjadi hal yang mustahil beberapa tahun lalu. Ini memberi Zaryusu rasa bahagia.
Dengan punggung yang menghadap tatapan-tatapan enggan, dia melewati area pemukiman dan tiba pada pondok yang menjadi tujuannya.
Area ini tidak berhubungan dengan desa. Pergi jauh sedikit, dan ini menjadi tidak sama dengan lahan basah yang merupakan kedalaman umum danau. Pondok ini, yang lebih kokoh daripada yang terlihat, dibangun pada perbatasan yang jelas dan lebih besar daripada rumah Zaryusu.
Bentuk teranehnya adalah pondok tersebut miring. Karena alasan inilah, sekitar setengah dari rumah tersebut terbenam di dalam air. Ini bukanlah karena rusak, tapi sengaja dibuat seperti itu.
Dengan bunyi berdesir, Zaryusu mendekati pondok tersebut sambil membuat suara keributan air yang dapat terdengar.
Suara terbujuk dapat terdengar dari dalam pondok, dia mungkin dapat mencium aroma dari ikan-ikan itu. Dengan sebuah cicitan, kepala seekor ular dengan sisik-sisik berwarna coklat gelap dan pupil mata sewarna amber muncul dari jendela. Setelah memastikan bahwa itu Zaryusu, lehernya memanjang dan dengan genit memutarinya.
"Bagus, bagus.
Dengan tangan yang terbiasa, Zaryusu mengelus tubuh ular tersebut. Ular itu dengan nyaman memicingkan mata dengan menggunakan membran pelindungnya. Zaryusu juga berpikir bahwa kulit ular yang bersisik terasa nyaman.
Makhluk ini adalah hewan peliharaan Zaryusu, dipanggil Rororo.
Karena Rororo dibesarkan sejak masih keci, dia seakan dapat mengerti bahasa.
"Rororo, aku membawa makanan. Jadi anak baik dan makanlah, ya?"
Zaryusu melepaskan ikan yang dibawanya lewat jendela. Suara 'Dang' dan 'Pluk' terdengar dari dalam.
"Aku benar-benar ingin tinggal dan bermain, tapi saat ini aku benar-benar harus memberikan ikan ini. Sampai nanti."
Dia mungkin mengerti isi dari perkataan tersebut, dan mengeluarkan suara enggan lalu perlahan-lahan melepaskan Zaryusu sebelum kembali ke dalam rumah. Setelah itu, suara mengunyah dapat terdengar dari dalam.
Setelah memastikan bahwa Rororo sehat, menilai dari cara makannya yang bersemangat, Zaryusu meninggalkan pondok itu.
Tujuan Zaryusu setelah meninggalkan pondok itu adalah danau, yang cukup jauh jaraknya dari desa.
Zaryusu dalam diam berderap di sepanjang hutan. Berenang di air akan lebih cepat, tapi perhatiannya tentang 'apakah ada masalah apapun yang terjadi di daratan' telah memupuk kebiasaanya untuk mengawasi jalur daratan. Hanya saja pepohonan akan menghalangi jarak pandangnya saat berjalan, karena itulah bagi Zaryusu hal tersebut dapat diperhitungkan sebagai sesuatu yang menghabiskan sedikit konsentrasinya.
Akhirnya dia dapat melihat tujuannya dari sebuah celah di antara pepohonan. Zaryusu menghela napas lega karena tidak ada hambatan yang muncul sepanjang jalan. Hanya dengan sedikit jarak yang tersisa untuk berjalan melewati hutan, Zaryusu mempercepat langkahnya.
Menyibakkan dahan-dahan pohon seperti seorang penyelam yang sedang berenang di dalam air, Zaryusu membelalakkan matanya dengan terkejut. Itu karena dia melihat punggung sosok seseorang yang tidak dia kira akan temui.
Orang itu mirip dengan Zaryusu: seorang lizardman dengan sisik-sisik hitam.
"Kakak…"
"Oh, itu kau…"
Lizardman dengan sisik-sisik hitam tersebut menolehkan kepalaya dan terlihat menyambut Zaryusu. Lizardman ini adalah kepala suku saat ini dari suku 'Green Claw'; kakak laki-laki Zaryusu, Shasuryu.
Dia memenangkan kompetisi menjadi kepala suku dua kali berturut-turut, dan mempertahankan posisinya tanpa perlu bertarung tahun ini. Tubuhnya luar biasa besar. Saat dia berdiri di sebelah Zaryusu, yang berukuran rata-rata, dia membuatnya terlihat kecil jika dibandingkan.
Ada sebuah bekas luka lama yang panjang dan berwarna putih pada sisik putihnya. Itu terlihat seperti sebuah halilintar yang menembus awan gelap.
Orang ini yang membawa sebilah pedang besar di punggungnya, panjangnya hampir dua meter dan begitu besar ukurannya. Pedang baja ini —— bukti sebagai kepala suku ——memiliki sihir yang meningkatkan ketajaman dan mencegahnya berkarat.
Zaryusu dan kakaknya berdiri bersebelahan di tepi danau.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?"
"……Kakak, itu seharusnya bukan kalimatmu, tapi kalimatku. Ini bukanlah tempat yang perlu dikunjungi kepala suku seorang diri."
"Muu—"
Kehilangan kata-kata, Shasuryu hanya menggerutu seperti biasa, kemudian menoleh menatap danau yang ada di hadapannya.
Beberapa tongkat memanjang dari luar ke dalam dalam danau, mengelilingi daerah tersebut. Ditempatkan dengan hati-hati, ada beberapa mata jala yang sangat bagus di antara tongkat. Tujuannya sudah jelas dengan sekali lihat.
Itu adalah menjala ikan.
"Mungkinkah itu……mencuri makanan?"
Mendengar perkataan Zaryusu, ekor Sharyusu melompat dan berkibas-kibas ke tanah dengan suara berat.
"Muu, tidak mungkin itu terjadi. Aku hanya di sini untuk memeriksa kondisi perikanan."
"…"
"Adik, apakah kau menganggap kakakmu seperti itu?!"
Menyelesaikan pernyataannya dengan intonasi yang kuat, Shasuryu menggeser satu kakinya maju. Tekanan yang dia berikan seperti sebuah dinding yang mendesak Zaryusu. Bahkan Zaryusu, yang adalah seorang traveller berpengalaman dan veteran dalam banyak pertempuran, merasakan dorongan untuk mengambil beberapa langkah mundur.
Akan tetapi, dia memiliki jawaban sempurna.
"Kalau hanya memeriksa kondisi perikanan, maka itu juga bisa berarti kalau kau tidak menginginkan ikan-ikan itu. Sangat disayangkan, Kakakku. Kalau mereka dikembangbiakkan dengan baik, aku tadinya berpikir untuk memberikan beberapa dari mereka untukmu."
"Muu—"
Suara berat itu berhenti, dan ekor itu terlihat kesal.
"Juga sangat beraroma. Mereka telah menjadi gemuk dengan bagusnya karena nutrisi yang dengan rajin diberikan sebagai makanan mereka, lebih berisi daripada ikan buruan."
"Oh-"
"Kalau kau menaruhnya di dalam mulutmu, sari-sarinya yang enak akan mengalir keluar. Menggigit satu potongnya akan membuatnya terasa seperti lumer di dalam mulut."
"Muuu-"
Sekali lagi ekor yang menegang tersebut mengeluarkan suara keras, dan itu bahkan lebih hebat daripada sebelumnya.
Setengah dari perhatian Zaryusu tertuju pada ekor tersebut, dan setengahnya lagi terpusat untuk berbicara dengan kakaknya untuk  menggodanya.
"Kakak ipar juga pernah mengatakan hal ini sebelumnya. Ekor Kakak terlalu jujur."
"Apa? Orang mengerikan itu, meledek suaminya sendiri. Katakan lagi, bagian mana yang jujur?"
Pada saat itu kakaknya membalas sambil melihat melewati pundaknya pada ekor yang terdiam, Zaryusu untuk sesaat kehilangan kata-kata dan tidak tahu harus bereaksi apa, sebelum samar-samar menyahuti 'benar'.
"Huh. Orang mengerikan itu… Kalau memiliki seorang wanita… maka kau akan mengerti apa yang kurasakan saat ini."
"Aku tidak akan bisa menikah."
"Huh, omong kosong. Apakah karena tanda itu? Kau sebaiknya tidak mengacuhkan apapun yang dikatakan para tetua. Mengatakan bahwa tidak wanita di desa ini yang tertarik padamu itu adalah hal menyebalkan… bahkan orang dengan ekor tercantik akan menerimamu."
Lizardmen mengumpulkan nutrisi di ekor mereka, karena itu ekor yang tebal adalah faktor kunci penting bagi lawan jenis. Di masa lalu, Zaryusu akan memilih wanita berekor tebal. Akan tetapi, Zaryusu yang tumbuh dewasa, yang sekarang sudah memahami dunia, tidak akan memilih dengan cara itu.
"Mempertimbangkan situasi desa saat ini, aku tidak ada menginginkan wanita dengan ekor gemuk. Kalau aku harus menggunakan ekor sebagai kriterianya, aku akan memilih wanita dengan ekor lebih ramping sebagai gantinya. Menurutku pribadi, kurasa ekor seperti kakak ipar juga tidak masalah."
"Tentu saja itu tidak masalah untuk seseorang dengan kepribadianmu… hanya saja, kau jangan berani membuat masalah. Aku tidak ingin membantai siapapun hanya karena masalah sepele. Ngomong-ngomong, kau juga seharusnya menyadari repotnya menikah. Tidak adil kalau hanya aku yang merasakannya."
"Hei, hei, Kakak… Aku akan bilang ke kakak ipar."
"Ugh… ini salah satu repotnya menikah. Bahkan aku, kakakmu dan kepala suku, bisa diancam."
Tawa bergemuruh terdengar di tepi danau yang tenang.
Setelah tawa terhenti, Shasuryu melihat ikan danau saat dia mengutarakan rasa frustrasinya.
"Tapi yang benar saja? Ini terlalu hebat; kau…"
Zaryusu menolong kakaknya yang terdiam.
"Maksudmu perikanan?"
"Benar, benar, itu salah satunya. Di masa lalu suku kita, tidak pernah ada seseorang yang dapat melakukan hal semacam itu. Terlebih lagi, banyak orang yang sudah tahu keberhasilannya. Di masa yang akan datang, akan ada lebih banyak orang yang merasa iri pada ikanmu dan meniru caramu."
"Ini semua berkat Kakak. Aku tahu Kakak telah mengatakan banyak hal tentang aku pada semuanya."
"Adik, berbicara pada banyak orang tentang kenyataan tidaklah terlalu berpengaruh banyak. Hal semacam itu hanyalah mengulang kembali anekdot. Kalau bukan karena kau bekerja keras membesarkan ikan lezat seperti ini dari perikanan ini, perkataan tersebut akan menjadi sia-sia."
Perikanan awal tadinya terus-menerus gagal. Ini sudah diperkirakan, karena dibangun hanya berdasarkan kesan dari pembicaraan selama perjalanannya. Hanya konstruksi pagarnya yang menemui kemunduran konstan. Setelah percobaan selama setahun, meskipun danau ikannya terbentuk, masih ada banyak hal yang harus dikerjakan.
Ikan tidak dapat ditinggalkan tanpa dipelihara. Adalah hal yang penting untuk mendapatkan pakan ikan.
Ikan di dalam danau ikan beberapa kali mati dengan uji coba pakan dengan variasi yang beragam demi menemukan jenis pakan yang terbaik. Ada juga kejadian di mana jaringnya dirusak oleh monster, membebaskan semua ikan.
Ada juga beberapa orang yang mengkritik di belakang punggungnya karena 'memperlakukan ikan tangkapan untuk makanan sebagai mainan'. Ada juga yang mengatakan bahwa dia tidak lebih daripada orang bodoh. Akan tetapi, usahanya akhirnya membuahkan hasil.
Bayangan dari ikan-ikan besar yang berenang terpantul pada permukaan danau. Membandingkan ukurannya dengan ikan buruan, itu akan berada dalam kategori sangat besar, dan tidak ada lizardmen yang akan percaya bahwa ini adalah ikan yang sama sekali dibesarkan sejak lahir, selain kakak dan kakak ipar Zaryusu.
"…Benar-benar mengagumkan, adik."
Melihat pemandangan yang sama, kakak Zaryusu mengatakan ini dalam nada rendah pada saat yang sama. Kata-katanya dipenuhi dengan emosi.
"Ini juga berkat Kakak."
Si adik yang menyahuti juga menyampaikan emosi semacam itu dalam nada suaranya.
"Hah, apa yang telah kulakukan?"
Sejujurnya, si kakak — Shasuryu tidak melakukan apapun. Akan tetapi, itu hanyalah sebuah sikap resmi.
Ketika kesehatan ikan-ikan memburuk, priest akan tiba-tiba muncul di sini. Saat mengumpulkan bahan-bahan untuk membangun pagar, akan ada banyak orang yang datang membantu. Saat ikan yang tertangkap berpisah dan terbagi, akan ada ikan yang hidup. Sebagai tambahan, ada juga buah-buahan yang dibawa pulang oleh para hunter untuk digunakan sebagai pakan ikan.
Mereka yang datang berkunjung untuk membantu semuanya menolak untuk menunjukkan demi siapa mereka melakukan ini. Akan tetapi, bahkan orang yang paling bodoh pun akan menyadari siapa yang mengatur ini semua, bahkan sekalipun orang tersebut berkeras untuk tidak memberitahukan namanya.
Karena bukanlah hal yang pantas bagi kepala suku untuk memperhatikan traveller, yang telah melepaskan diri dari hierarki suku.
"Kakak, tunggulah mereka tumbuh besar sedikit lagi, lalu aku akan membawakan beberapa ke tempatmu pertama kali."
"Hum. Kalau begitu aku akan menunggunya."
Berbalik, Shasuryu mengambil satu langkah menjauh dari tempat itu, kemudian berkata dengan suara rendah.
"Maafkan aku."
"… Apa yang kau katakan, Kakak. Kakak sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun."
Kata-kata itu mungkin terdengar atau tidak terdengar. Zaryusu hanya menatap dalam diam bagian belakang sosok Shasuryu yang menjauh dari tepi danau.
Setelah memastikan kondisi dari danau ikannya dan kembali ke desa, Zaryusu tiba-tiba merasakan sebuah perasaan yang aneh, dan melihat ke langit, tetapi di sana tidak ada sesuatu pun yang tidak biasanya. Seluruh langit berwarna biru, dengan sebuah lapisan tipis awan pada pegunungan yang menghadap utara. Itu adalah bentang alam yang biasanya.
Tidak ada yang berubah. Untuk sesaat dia menganggapnya sebagai sebuah kesalahpahaman, sebuah lapisan awan aneh muncul di tengah-tengah langit.
Hampir pada waktu yang bersamaan, awan-awan hitam yang menghalangi cahaya matahari tiba-tiba muncul di tengah desa. Itu adalah awan hujan tebal yang memunculkan bayangan di seluruh desa.
Semuanya terkejut dan melihat ke langit.
Para druid telah mengatakan bahwa langit akan cerah sepanjang hari. Para priest melakukan perkiraan cuaca mereka menggunakan sihir dan pengetahuan bertahun-tahun yang mereka kumpulkan lewat pengalaman, karena itulah tingkat akurasi mereka sangat tinggi. Dengan begitu, segala sesuatu yang tidak diprediksi akan menjadi sebuah kejutan untuk siapapun.
Akan tetapi, hal teraneh adalah tidak ada awan hujan selain dari awan gelap yang menutupi desa. Sederhananya, itu seakan ada seseorang yang memanggil awan tersebut dan menempatkannya di atas desa.
Kemudian hal lain yang aneh muncul.
Sementara awan-awan tersebut berpusar dengan desa sebagai titik pusatnya, awan tersebut juga semakin meluas secara konstan. Itu seakan langit yang diapit sedang diserang oleh momentum awan gelap yang mengerikan.
Para pejuang di sekitar menjadi tak beraturan karena waspada. Anak-anak melarikan diri dengan bergegas kembali ke rumah mereka. Zaryusu membungkuk, memeriksa sekitar sambil menuju ke Frost Pain.
Awan-awan gelap sepenuhnya menutupi langit, dan langit biru masih dapat terlihat di kejauhan. Itu seakan awan-awan hitam menargetkan desa ini.
Dari sana, suara ribut muncul di pusat desa. Angin membawa serta sebuah suara melengking tinggi yang dikeluarkan oleh nada vokal lizardmen.
Suara tersebut adalah sebuah alarm, yang memberi sinyal bahwa ada musuh hebat dan menyarankan yang lainnya untuk evakuasi menurut situasinya.
Zaryusu yang mendengar suara ini melesat di sepanjang lahan basah dengan kecepatan yang tinggi bagi lizardmen.
Lari. Lari. Terus lari.
Bergerak di lahan basah itu sangatlah sulit, harus memanfaatkan ekor sebagai penyeimbang. Dengan kecepatan yang tidak bisa dicapai manusia —— sekalipun kaki-kaki lizardmen lebih cocok untuk lingkungan semacam ini ——Zaryusu sampai pada sumber alarm.
Di tempat itu, Shasuryu dan para pejuang suku telah membentuk sebuah formasi sihir, menatap pusat desa.
Mengikuti objek lewat garis pandangan mereka, Zaryusu juga memelototi tempat yang sama.
Semua mata terfokus pada seekor monster yang terlihat seakan terbentuk dari kabut gelap.
Di dalam kabut gelap itu, banyak wajah menakutkan muncul dan menghilang dengan cepat. Sekalipun wajah-wajah dari beragam ras muncul, satu hal yang menjadi kesamaan adalah ekspresi menderita.
Terbawa oleh angin adalah suara isak tangis, kebencian, jeritan kesakitan, dan tarikan nafas sekarat yang berbaur membentuk sebuah paduan suara.
Dengan punggung yang membeku karena kumpulan kebencian Zaryusu gemetar ketakutan.
…Gawat… kita sebaiknya membiarkan semua orang di sekitar sini untuk melarikan diri, meninggalkan Kakak dan aku untuk menghadapi ini, tapi kalau begitu…
Lizardmen di sekitarnya semuanya adalah pejuang elit dari suku tersebut, tapi lawan adalah sesuatu yang bahkan membuat Zaryusu ngeri: sesosok undead kuat. Dalam situasi ini, dua orang yang dapat melakukan pertempuran yang seharusnya adalah Zaryusu dan kakaknya. Yang lebih penting lagi, Zaryusu tahu bahwa undead ini memiliki kemampuan khusus.
Mengalihkan perhatiannya sedikit, dia menyadari bahwa kebanyakan dari lizardmen yang ada semuanya sedang menarik napas pendek dan tajam, seakan mereka ketakutan seperti anak-anak kecil — meskipun mereka semua dari kelas warrior.
Monster tersebut berdiri di tengah desa dan tidak bergerak.
Setelah beberapa saat berlalu, selagi mempertahankan suasana tegang dan waspada bahwa hanya dengan sedikit gangguan kecil akan memicu meningkatnya keadaan ini menjadi sebuah pertempuran sengit, para warrior perlahan-lahan memperkecil jarak. Mereka menolak tekanan mental dan memutuskan bertindak.
Melihat dengan sudut matanya untuk memastikan bahwa Shasuryu telah menghunus senjatanya, Zaryusu juga dengan cepat dan tenang mengeluarkan pedangnya. Jika ini menjadi sebuah pertempuran, dia bermaksud untuk melakukan serangan kejutan yang lebih cepat dari siapapun.
Adalah hal yang penting untuk memberitahukan kepada yang lain mengenai kemampuan khusus lawan kali ini, karena itu, aku tidak bisa bertindak gegabah.
Ketegangan di udara semakin menebal. Tiba-tiba, suara kebencian tersebut berhenti.
Bunyi-bunyi yang muncul dari monster tersebut bercampur-baur, membentuk satu suara yang berbeda daripada kata-kata kutukan yang jelas terdengar sebelumnya. Ini memiliki makna yang pasti sekarang.
"Dengar baik-baik. Aku bertindak sebagai pembawa pesan dari Great Being dan aku datang kemarin untuk mengumumkan pernyataan ini…"
Semuanya saling melihat satu sama lain. Hanya Zaryusu dan Shasuryu yang mengalihkan perhatian.
"Mengumumkan hukuman mati kalian, sang Great One telah mengirimkan pasukannya untuk memusnahkan kalian. Sebagai bentuk kemurahan hatinya, ia memberikan kalian makhluk-makhluk fana waktu untuk memberikan perlawanan tak berguna. Delapan hari dari sekarang, suku lizardmen dari danau ini akan menjadi kurban kedua."
Zaryusu menyeringai, menampakkan gigi-gigi tajam dan mengeluarkan suara yang mengintimidasi.
"Sia-sia melawan, makhluk fana. Biarkan sang Great One menikmati kebinasaanmu."
Seperti asap yang terus menerus berubah bentuk, monster tersebut juga perlahan-lahan mengerut dan melayang ke langit.
"Jangan lupa. Delapan hari."
Seakan tidak terdapat hambatan, monster itu terbang di langit menuju ke hutan, dengan bagian belakang sosoknya yang sedang pergi diawasi oleh banyak lizardmen. Zaryusu dan Shasuryu dalam diam melihat ke langit yang jauh.

Bagian 2

Pondok terbesar di desa — aula pertemuan — sangat jarang digunakan. Para pemimpin klan memiliki otoritas penuh pada semua hal dan berkumpul hanya pada saat bulan biru. Tidak ada nilai tertentu memiliki pondok ini, tapi pada hari ini di dalam pondok dipenuhi dengan keramaian yang menegangkan.
Banyak lizardmen telah berkumpul, menyebabkan pondok yang luas terasa sempit dan mencekik dengan para warior, para druid, para hunter, dewan tetua, dan Zaryusu, yang adalah seorang traveller. Semua orang duduk bersilang kaki, menghadap Shasuryu.
Bertindak dalam posisinya sebagai seorang ketua klan, yang menyatakan dimulainya pertemuan dan pertama kali berbicara adalah tetua druid.
Tubuh wanita tua lizardman yang tertutup dalam cat putih itu, menampilkan gambar-gambar yang menawan. Sekalipun semua simbol tersebut memiliki banyak makna, arti dari semua tidak diketahui Zaryusu.
"Kalian semua ingat awan hitam yang menutupi langit? Itu adalah sihir. Dari yang kutahu, ada dua mantera untuk memanipulasi cuaca. Yang satu disebut Control Weather, sebuah sihir tingkat 6. Kita dapat dengan aman mengatur hal tersebut karena sihir level tersebut berada pada tingkatan legenda. Yang lainnya adalah sihir tingkat 4 yang disebut Control Cloud. Ini juga adalah sebuah mantera yang hanya dapat dilakukan oleh perapal sihir yang sangat kuat. Kita akan menjadi orang tolol dengan menghadapi musuh semacam itu."
Di belakang Tetua Druid, para druid yang berjubah mirip dengannya mengangguk setuju.
Meskipun Zaryusu mengerti seberapa kuat sihir tingkat 4, lizardmen yang lain tidak mengerti dan suara-suara keraguan mereka memenuhi sekitar.
Tidak yakin bagaimana cara menjelaskannya, Tetua Druid tersebut menunjukkan ekspresi kebingungan sebelum menunjuk seorang lizardmen. Yang ditunjuk memperlihatkan ekspresi bingung, menunjuk dirinya sendiri juga.
"Ya, kau. Bisakah kau mengalahkanku?"
Lizardman tersebut perlahan menggelengkan kepalanya.
Dia mungkin memiliki sebuah kesempatan kalau kedua pihak menggunakan senjata, tapi kalau kau menyertakan sihir, kemungkinan untuk menang sangatlah rendah. Atau lebih tepatnya, itu hampir mustahil bagi seorang warrior biasa untuk menang.
"Walau begitu, bahkan aku hanya dapat menggunakan mantera tingkat 2."
"Jadi kalau begitu, dia dua kali lebih kuat darimu?"
Menghadapi pertanyaan bodoh macam ini, Tetua Druid menghela nafas dan menggelengkan kepala.
"Tidak sesederhana itu. Menghadapi sihir dari tingkat 4, bahkan Pemimpin Klan kita akan dengan mudah terbunuh."
"Meskipun itu tidaklah absolut," Tetua Druid menambahkan secara spekulatif kemudian menutup mulutnya.
"Pada akhirnya, apa yang Tetua Druid maksudkan adalah…"
"Melarikan diri adalah hal tindakan terbaik. Sekalipun kita bertempur, tidak akan mungkin untuk menang."
"Apa yang anda katakan!"
Diikuti suara raungan berat dan rendah, seorang lizardman tinggi bangkit berdiri. Dia memiliki bangun tubuh yang mirip dengan Shasuryu dan merupakan Kepala Warrior.
"Melarikan diri bahkan sebelum melakukan perlawanan! Melarikan diri saat menghadapi bahaya yang hanya selevel ini adalah hal yang tidak dapat diterima!"
"—Apa yang ada di kepalamu!? Akan sangat terlambat kalau kita mulai bertempur!"
Tetua Druid memelototi dan berdiri secara tiba-tiba, berhadapan langsung dengan Kepala Warrior. Mereka berdua hampir kehilangan kesabaran mereka dan membuat suara mengancam. Tepat saat semua orang takut bahwa situasinya akan memanas, sebuah suara dingin terdengar.
"…Cukup."
Dengan wajah-wajah yang seperti disadarkan oleh air dingin, mereka berdua menoleh pada Shasuryu dan kembali duduk seakan meminta maaf.
"Kepala Hunter, katakan pendapatmu."
"……Pendapat Tetua Druid dan Kepala Warrior sama-sama dapat dimengerti, mereka berdua masuk akal."
Untuk menjawab pertanyaan Shasuryu si lizardman kurus membuka mulutnya. Sekalipun dia terlihat berukuran kecil, dia tidak kekurangan otot, tapi yang ada otot-ototnya menjadi padat.
"Karena itulah mumpung ada waktu. Kita sebaiknya memastikan situasinya. Anggaplah, mereka mengirimkan satu pasukan. Seharusnya ada tanda-tanda pembangunan pangkalan garis depan dan semacamnya, karena itu kita sebaiknya memeriksanya dulu dan memutuskan setelah itu."
Tanpa informsi apapun, mengatakan ini atau itu akan menjadi sepenuhnya sia-sia. Sejumlah orang mengekspresikan persetujuan mereka.
"—Tetua."
"Tidak ada banyak yang bisa dikatakan, semua pendapat itu benar. Yang tersisa adalah menyerahkan keputusan tersebut pada Kepala Klan."
"Muu…"
Membiarkan pandangannya ke mana-mana, mata Shasuryu bertemu dengan mata Zaryusu, yang sedang duduk di antara keramaian, dan memberinya sebuah anggukan. Zaryusu merasa seakan dia mendapat sebuah dorongan lembut dari belakang—apakah jalan di depannya bahaya atau tidak—tetap saja, dia menaikkan tangannya untuk menunjukkan dia memiliki sebuah ide.
"Kepala Klan, izinkn aku untuk berbicara."
Pada saat ini, fokus dari semua lizardmen berkumpul pada Zaryusu. Kebanyakan dari mereka memperlihatkan ekspresi harapan, tapi yang lainnya menunjukkan rasa tidak senang.
"Ini bukanlah tempat untuk seorang 'Traveller' berbicara. Kau seharusnya merasa berterima kasih karena kami telah membiarkanmu untuk hadir," seorang anggota dari Dewan Tetua menyatakan. "Mundurlah seka…"
Bam! Suara ekor yang membentur lantai, itu menyela perkataan Tetua seperti sebuah pisau tajam.
"Diam."
Memberikan getaran berbahaya, suara Shasuryu terdengar parau yang lizardman buat saat terganggu. Ketegangan di ruangan ini meningkat tajam saat suasana memanas sebelumnya mendingin.
Dalam suasana seperti ini, seorang Tetua membuka mulutnya tanpa memperhatikan tatapan-tatapan di sekitarnya yang memperingatkan "Jangan lakukan apapun yang tidak diperlukan".
"Tapi Kepala Klan, untuk menerima perlakukan istimewa hanya karena dia adalah adik laki-lakimu bukanlah hal yang bagus. Selain itu, para Traveler—"
"Kubilang diam. Apa kau tidak mendengarku?"
"Ugh."
"Saat ini, semua yang duduk di sini memiliki kebijaksanaan. Kenapa tidak mendengarkan ide dari Traveler."
"Traveler itu—"
"Kepala Klan telah berbicara dan kau masih menolak untuk patuh?"
Mengalihkan pandangannya dari Elder yang terdiam, Zaryusu melihat kepada para Kepala yang lain.
"Tetua Druid, Kepala Warrior, Kepala Hunter, apakah kalian juga merasa tidak ada gunanya mendengarkan?"
"Perkataan Zaryusu pantas untuk didengar."
Kepala Warrior berbicara pertama kali.
"Warrior mana yang akan mengacuhkan perkatan dari seorang pemilik Frost Pain."
"Aku setuju, pastilah pantas untuk didengarkan."
Kemudian Kepala Hunter turut berbicara diikuti oleh Tetua Druid yang mengangkat bahu.
"Tentu saja kita harus mendengarnya. Menolak untuk mendengarkan seorang bijak adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh orang bodoh."
Menerima ejekan-ejekan itu, beberapa anggot dewan tetua mengeryitkan alis. Shasuryu menganggukkan kepala kepada ketiga Kepala tersebut dan membiarka Zaryusu melanjutkan pembicaraannya. Zaryusu tetap duduk dan membuka mulutnya.
"Melarikan diri atau bertempur, kalau kita harus memutuskan, kita harus memilih yang terakhir."
"Apa alasannya?"
"Karena hanya itulah pilihannya."
Biasanya, bila Kepala Suku meminta alasan, seseorang harus menjelaskan dengan jelas. Tapi Zaryusu tidak melanjutkan dan menutup mulutnya seakan ia telah selesai.
Shasuryu menangkupkan dagu dan berpikir keras.
Apakah kau bisa menangkap apa yang kupikirkan? ...Kakak.
Zaryusu tidak berusaha keras untuk menyatakan pemikirannya. Pada saat ini, Tetua Druid menunjukkan ekspresi terluka sambil mengarahkan pertanyaan yang tidak tertuju pada siapapun.
"Apakah mungkin untuk menang?"
"Tentu saja kita bisa menang!"
Kepala Warrior berteriak seakan mengenyahkan perasaan gelisah, tapi Tetua Druid hanya menyipitkan matanya.
"…Tidak, dalam situasi saat ini kemungkinan menangnya sangat rendah."
Yang secara langsung menolak pendapat tersebut adalah Zaryusu.
"…Apa sebenarnya yang kau coba ingin katakan?"
"Kepala Warrior, lawan semacam itu seharusnya sudah tahu mengenai kekuatan tempur kita, kalau tidak mereka tidak akan mendekati kita dengan sikap yang meremehkan seperti itu. Kalau seperti itu, maka akan jadi mustahil meraih kemenangan dengan kekuatan bertarung kita sekarang."
Kalau begitu apa yang harus kita lakukan? Tepat saat semua orang akan menyuarakan keraguannya, Zaryusu berbicara lebih dulu daripada siapapun untuk membagikan pikiran terdalamnya.
"Karena itulah kita harus mengacaukan rencana musuh kita… Apakah semuanya masih mengingat perang sebelumnya?"
"Tentu saja."
Bahkan mereka yang mengalami demensia tidak akan dapat melupakan perang terakhir yang terjadi beberapa tahun lalu.
Di masa lalu lahan basah ini dihuni oleh tujuh suku lizardmen : Green Claw, Small Fang, Razor Tail, Dragon Tusk, Yellow Speckle, Sharp Edge, dan Red Eye.
Akan tetapi, sekarang hanya ada lima yang tersisa.
Itu adalah sebuah perang yang merampas banyak nyawa, dan menyapu habis dua suku.
Alasan dari konflik ini adalah panen buruk makanan pokok, ikan. Dipimpin oleh class hunter, area perburuan ikan diperluas lebih jauh di sekitar danau. Tentu saja suku lainnya mengikuti.
Dan kemudian konflik atas perburuan dan tempat memancing di antara class hunter muncul. Karena ini berkaitan dengan sumber makanan yang diperlukan untuk bertahan hidup suku-suku, adalah hal yang mustahil untuk menemukan kesepakatan.
Pertengkaran segera berubah menjadi pertarungan, dan hanya soal waktu sampai pertarungan ini meningkat menjadi pembantaian…
Berikutnya, untuk mendukung class hunter, class warrior juga mengambil tindakan. Sebuah pertempuran sengit muncul karena kekurangan makanan.
Lima dari tujuh suku yang ada terlibat dalam pertempuran dan berakhir dengan tiga lawan dua :Green Claw, Small Fang dan Razor Tail melawan Yellow Speckle dan Sharp Edge. Selain class warrior, lizardmen pria dan bahkan lizardmen wanita dikerahkan untuk bertempur demi suku mereka.
Setelah beberapa pertempuran besar, pihak yang terdiri dari tiga suku termasuk Green Claw muncul sebagai pemenang, meninggalkan dua suku yang kalah menjadi begitu melarat sampai mereka tidak dapat menyokong diri mereka sendiri dan terpaksa berpencar. Yang tersisa kemudian tergabung dalam suku Dragon Tusk yang tidak berpatisipasi dalam perang.
Ironisnya, karena jumlah lizardmen berkurang sangat banyak, kekurangan makanan yang mulanya memicu konflik pun terselesaikan. Ikan yang menjadi makanan pokok kini dapat disalurkan kepada semua orang.
"Ada apa dengan itu?"
"Pikirkan tentang kata-kata yang orang tersebut katakan sebelumnya. Dia mengatakan bahwa desa ini adalah yang kedua, yang juga berarti dia telah meninggalkan pesan yang sama pada desa lainnya."
"Ah."
Banyak suara yang setuju dengan perkataan Zaryusu bermunculan.
"Itu berarti kita perlu untuk membentuk aliansi lainnya!"
"Mungkinkah itu…"
"Ya, kita harus membentuk sebuah aliansi."
"Sama seperti perang yang sebelumnya."
"Kalau begitu, mungkinkah kita menang?"
Gumaman-gumaman kecil di antara lizardmen segera berubah menjadi keributan besar. Seisi pondok mendiskusikan pendapat Zaryusu, namun Kepala Klan Shasuryu tetap diam. Mata sang kepala suku terlihat seakan dia sedang menatap ke dalam lubuk hatinya, menahan Zaryusu tidak dapat menolehkan wajah padanya.
Setelah membiarkan beberapa saat untuk berdiskusi, Zaryusu berbicara lagi.
"Jangan salah. Aliansi yang kubicarakan termasuk semua suku."
"Apa?"
Terhadap saran tersebut, orang kedua yang mengerti artinya adalah Kepala Hunter, yang mengeluarkan suara terkejut. Mata Zaryusu terkunci pada Shasuryu dan Lizardmen dalam jangkauan pandangannya yang tanpa sadar teralih ke kedua sisi.
"Kepala Klan, aku juga menyarankan untuk membentuk sebuah aliansi dengan Dragon Tusk dan Red Eye."
Sekelilingnya meledak menjadi keributan yang hebat, seakan sebuah granat masuk ke dalam ruangan. Mereka tidak memiliki komunikasi dengan Dragon Tusk dan Red Eye yang tidak berpatisipasi dalam perang. Terlebih lagi, Dragon Tusk menerima sisa-sisa dari Yellow Speckle dan Sharp Edge, pengungsi dari suku lawan.
Membentuk sebuah aliansi dengan kedua suku itu, membuat aliansi yang terdiri dari lima suku.
Jika itu mungkin maka mungkinlah untuk menang. Saat semuanya berpegang pada harapan samar ini, Shasuryu tiba-tiba berbicara:
"Siapa yang akan menjadi perwakilan?"
"Aku akan pergi."
Shasuryu tidak terkejut dengan jawaban langsung Zaryusu. Lizardmen di sekitar menganggap bahwa itu karena dia memahami karakter adiknya dan telah mengantisipasi tanggapan ini. Mengeluarkan suara tanda empati, mereka juga berpikir bahwa tidak ada kandidat lain yang lebih cocok untuk dipilih. Akan tetapi ada seseorang yang melawan pendapat ini.
"—Mengirimkan seorang Traveler?"
Itu adalah Shasuryu. Tatapannya yang seperti es menembus langsung Zaryusu.
"Itu benar, Kepala Klan. Akan tetapi kita sedang dalam masa percobaan. Jika pihak lain tidak ingin mendengarkan perkataanku hanya karena aku adalah seoran traveller, maka mereka tidak pantas menjadi rekan."
Zaryusu dengan mudah menepis tatapan dingin itu. Setelah mereka berdua bertatapan satu sama lain untuk sesaat, Shasuryu menyunggingkan seulas senyum sepi. Itu bukanlah karena dia menyerah, atau karena dia tidak berdaya menghentikan saudaranya. Itu adalah seulas senyuman tanpa kemurungan.
"Bawa serta segel dari Kepala Klan."
Itu memiliki makna sebagai perwakilan dari Kepala Klan. Beberapa yang ingin mengekpsresikan pendapat bahwa 'ini bukanlah sesuatu yang seharusnya dimiliki seorang traveller', terdiam di bawah tatapan kuat Shasuryu.
"Aku sangat berterima kasih."
Zaryusu membungkuk. Menerima rasa terima kasihnya, Shasuryu melanjutkan berbicara…"
"…Aku akan memilih perwakilan-perwakilan yang akan menuju suku lainnya. Pertama-tama adalah…"
Angin dingin bertiup di malam hari. Karena ini adalah lahan basah, kelembapan tinggi dan panasnya musim panas berbaur untuk memberikan orang-orang rasa sakit yang menyiksa, akan tetapi malam ini hawa panas mereda dan hembusan angin bahkan dapat dikatakan membekukan. Tentu saja bagi lizardmen yang berkulit keras,  ini sulit untuk dikatakan sebagai perubahan mencolok.
Zaryusu berderap di sepanjang lahan basah, tujuannya adalah pondok peliharaannya, Rororo.
Meskipun masih ada beberapa waktu, tidak dapat dipastikan bahwa tidak ada hal yang tak terduga yang dapat tiba-tiba terjadi, dan terlebih lagi tidak diketahui apakah musuh akan tetap diam dengan jadwal yang mereka umumkan, atau mungkin menghalangi pergerakan Zaryusu. Dengan semua pertimbangan ini, berkendara melintasi lahan basah dengan Rororo tetaplah hal yang paling sesuai.
Derap langkah tersebut menjadi pelan dan berhenti. Tas yang ada di punggungnya yang diisi dengan berbagai benda juga berguncang. Alasannya berhenti adalah cahaya bulan menyinari sesosok lizardman yang tidak asing meninggalkan pondok Rororo.
Kedua individu tersebut terpana saat melihat satu sama lain, dan Zaryusu yang kebingungan membengkokkan lehernya untuk menunduk. Lizardman bersisik hitam itu mendekatkan dirinya dan menutupi jarak.
"…Aku berpendapat bahwa kaulah yang lebih cocok untuk mengambil mantel Kepala Klan."
Hanya itulah kata-kata Shasuryu yang telah mendekat dalam jarak dua meter.
"…Apa yang sedang kau katakan Kakak."
"Masih ingat perang besar yang lalu?"
"Tentu saja."
Karena Zaryusulah yang memberikan pertanyaan ini saat pertemua, tidak mungkin dia tidak mengingatnya. Tentu saja ini bukanlah inti pertanyaan Shasuryu.
"…Setelah perang tersebut kau menjadi seorang Traveller. Pada saat itu ketika kau mendapat tanda yang dibakar di dadamu, kau tidak tahu betapa aku menyesalinya. Sekalipun aku harus menggunakan kekerasan, aku seharusnya menghentikanmu."
Zaryusu menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ekspresi Kakaknya pada saat itu masih menjadi duri dalam hatinya.
"…Itu semua berkat izin Kakak sehinggga aku dapat belajar caranya membesarkan ikan."
"Jika itu kau, bahkan sekalipun kau tetap tinggal di desa kau akan dapat memikirkan metode tersebut. Orang sepandai dirimu seharusnya dapat menjadi pilar penyangga desa ini."
"Kakak."
Masa lalu adalah masa lalu, karena itu diskusi hipotetis apapun yang dimulai dengan kata "seandainya…" adalah sia-sia. Masa lalu sudah terukir di batu, tapi membayangkan kejadian semacam itu adalah kelemahan kedua orang ini.
Tidak, bukan itu juga tepatnya.
"…Bukan sebagai Kepala Klan, tapi sebagai kakakmu, aku tidak bisa mengatakan bahwa semuanya akan berjalan lancar kalau kau pergi sendirian. Kembalilah dengan selamat, jangan mencoba untuk berani."
Menanggapi ucapan tersebut, Zaryusu membalas dengan senyum congkak:
"Tentu saja aku akan menyelesaikan misi ini dengan sempurna untuk kau lihat. Tugas ini bukanlah apa-apa untukku."
"Huh," wajah Shasuryu menyunggingkan senyuman masam.
"Kalau begitu, bila misimu gagal, ikan tergemuk yang kau besarkan akan menjadi milikku."
"Kakak, hal semacam itu tidaklah hebat, dan bukan sesuatu yang seharusnya kau katakan pada saat ini."
"…Muu."
Kedua pria itu tertawa diam.
Dan kemudian bertukar pandang serius.
"Jadi apakah tujuanmu benar-benar hanya itu?"
"…Apa yang kau katkan? Apa maksudmu?"
Untuk sesaat Zaryusu menyipitkan matanya… dan kemudian di berpikir sendiri "Sial!". Dengan pengetahuan dari wawasan kakaknya, reaksinya barusan adalah sebuah kesalahan.
"…Pidatomu di pondok seakan menghasut pendapat semua orang, namun caramu mengatakannya sudah jelas menyembunyikan sesuatu."
Zaryusu terdiam dan Shasuryu melanjutkan:
"…Penyebab perang sebelumnya bukan hanya karena perselisihan antar suku. Peningkatan besar populasi lizardmen juga adalah salah satu alasannya."
"Kakak… Mari jangan membicarakan ini lebih jauh."
Nada murung Zaryusu kelihatannya memastikan pernyataan Shasuryu.
"Jadi… begitulah."
"…Hanya itu pastinya, untuk mencegah terulang kembali perang sebelumnya."
Kata-kata yang Zaryusu lontarkan secara implisit terdapat pemikiran dan rencana yang sangat dibencinya. Hal tersebut jelas sangat curang, dan kalau mungkin dia tidak berharap kakaknya tahu tentang itu.
"Jadi kalau suku-suku lainnya menolak untuk membentuk aliansi, bagaimana nantinya? Karena mereka yang hanya ingin untuk memberikan dukungan dan mereka yang berharap untuk melarikan diri sejak awal pastinya akan menolak."
"Kalau begitu kejadiannya… Satu-satunya pilihan adalah memusnahkan mereka."
"Dimulai dengan menyapu habis sukumu sendiri?"
"Kakak…"
Mendengar nada membujuk dalam suara Zaryusu, Shasuryu tersenyum hampir tidak pantas.
"Aku mengerti kalau keprihatinanmu itu benar, dan aku juga setuju. Sebagai sosok pemandu suku, karena ini menyangkut keselamatan suku kita, tentu saja aku akan mempertimbangkan ini. Karena itulah kau tidak perlu sungkan, adik."
"Aku menghargai kata-kata tersebut. Kalau begitu akankah mereka dibawa ke desa ini?"
"Tidak. Menurut orang tersebut desa adalah yang kedua, jadi pertempuran utama seharusnya akan berlangsung di desa pertama. Umumnya akan menjadi strategi yang terbaik dengan berkumpul di desa terakhir atau yang memiliki pertahanan tertinggi, tapi jika itu hanur maka akan berdampak serius pada pertempuran-pertempuran berikutnya, karena itu biarlah kita membangun posisi bertahan kita pada desa pertama. Untuk bertukar laporan penyelidikan denganmu, kita akan berkomunikasi lewat sihir tetua druid sehingga kau dapat secara langsung menyampaikannya dari sana."
"Mengerti."
Sihir yang kakaknya sebutkan adalah sihir sulit yang tidak dapat mengirimkan terlalu banyak muatan atau jika jaraknya terlalu jauh, tapi Zaryusu menilai bahwa tidak akan masalah untuk saat ini.
"Kalau begitu kusimpulkan bahwa tidak masalah jika kita mengambil ransum makanan untuk para prajurit dari perikananmu?"
"Tentu saja, tapi biarkan yang masih kecil. Tidaklah mudah untuk mendapatkan mereka seperti saat ini, dan sekalipun kita meninggalkan desa maka itu nantinya akan berguna."
"Baiklah. Lalu berapa banyak yang bisa disediakannya?"
"…Kalau kita membicarakan makanan kering, sekitar seribu ton seharusnya bukanlah sebuah masalah."
"Kalau begitu… maka untuk jangka pendek tidak akan ada masalah."
"Ah, kupercayakan padamu kalau begitu. Jadi, Kakak, biar aku pergi lebih dulu… Rororo."
Bereaksi terhadap suara Zaryusu, sebuah kepala ular muncul di jendela. Cahaya bulan yang biru pucat terpantul pada sisik-sisiknya, memberinya kecantika seperti dalam fantasi.
"Kita harus pergi. Bisakah kau kemari?"
Rororo melihat sesaat pada Zaryusu dan Shasuryu, dan memundurkan kepalanya ke dalam. Kemudian muncul sebuah suara seperti seekor hewan berat yang bergerak melintasi air.
"Kakak, masih ada beberapa hal yang ingin kudengar, bisakah kau menjawabnya? Berapa jumlahnya? Tergantung dari situasinya, kita memerlukan perlengkapan untuk digunakan dalam negoisasi."
Shasuryu berhenti sejenak, kemudian membalas:
"…Sepuluh warrior, dua puluh hunter, tiga druid, tujuh puluh wanita, seratus pria, anak-anak… itu saja."
"…Ah, aku mengerti."
Shasuryu memberikan seulas senyuman lelah dan Zaryusu tetap diam. Suara ribut air yang tiba-tiba muncul memecahkan keheningan. Kedua pria itu mengawasi arah darimana suara air itu berasal, dan tersenyum penuh nostalgia.
"Ah, Kakak, aku juga. Aku tidak mengira dia tumbuh begitu besar. Saat aku memungutnya, dia masih sangat kecil."
"Aku juga merasa sulit untuk percaya, dia sudah sangat besar saat kau membawanya kembali."
Kedua pria tersebut mengenang kembali Rororo yang dulu. Kemudian empat kepala ular muncul di air dalam jarak dekat dari pondok, keempat kepala itu bertindak sama membelah air dan menuju ke arah Zaryusu.
Tiba-tiba ular itu mengangkat kepala-kepalanya dan sosok dari tubuh yang sangat besar dapat terlihat di dalam air. Makhluk itu memiliki empat kepala reptil yang tersambung dengan leher-leher yang panjang ke tubuh berkaki empat yang sangat besar.
Itu adalah seekor monster, seekor hydra.
Inilah nama dari spesies Rororo.
Bukan hanya itu satu-satunya bukti dari elemen ularnya, tapi juga dapat dikenali dari suara kunyahannya saat diberi makan ikan.
Dengan gerakan cepat yang tak terduga yang tidak sesuai dengan tubuh besarnya yang terentang sepanjang lima meter, dia tiba di sebelah Zaryusu.
Zaryusu memanjat ke punggung Rororo setangkas seekor monyet.
"Kau harus kembali dengan selamat. Sebagai tambahan, lebih cocok dengan gayamu untuk tidak menggunakan otak seperti yang kau lakukan di masa lalu saat kau berteriak "bahkan tidak seorang pun yang akan dikorbankan"."
"…Aku juga sudah menjadi dewasa, itulah yang terjadi."
Terhadap perkataan Zaryusu, Shasuryu mendengus.
"Bocah itu sudah menjadi seorang pria sekarang… Yah, baiklah. Jangan terlibat dalam masalah. Kalau kau tidak kembali, target pertama untuk diserang akan ditentukan."
"Aku akan kembali dengan selamat. Tunggulah saja aku, Kakak."
Setelah beberapa waktu berlalu, mereka bertukar tatap penuh dengan emosi dan tanpa peringatan, mereka berdua menjauh.

Bagian 3

Lantai kesembilan dari Great Tomb of Nazarick. Lantai ini memiliki banyak ruangan  yang beragam tipenya. Tidak perlu dikatakan lagi bahwa ini termasuk ruangan Guild Member dan NPC; tapi juga termasuk imitasi dari pemandian umum besar, cafetaria, salon kecantikan, toko pakaian, toko bahan makanan, salon fitness, salon kuku, dan berbagai ruang fasilitas tipe lainnya.
Penciptaan ruangan-ruangan ini tidak memiliki arti sebenarnya untuk jalannya game. Itu karena para player di sini memiliki ikatan dengan hal-hal ini, atau mungkin karena pengejaran player terhadap kota yang ideal, atau mungkin keinginan untuk fitur-fitur ini diakibatkan kondisi kerja yang menyedihkan di dunia nyata.
Di dalam ruangan-ruangan ini, ada satu ruangan tertentu di mana manajernya adalah wakil koki Great Tomb of Nazarick. Meskipun kemampuannya umumnya akan digunakan di cafetaria, pada hari-hari tertentu dari satu minggu dan waktu di hari itu dia akan datang ke ruangan ini dan membuat persiapan untuk mereka yang akan datang mampir.
Ruangan ini didesain dengan konsep sebuah bar dengan beberapa pelanggan dan diterangi dengan cahaya yang lembut.
Ada sebuah lemari dengan barisan minuman alkohol di belakang konter dan delapan kursi. Meskipun hanya ada beberapa kelengkapan ini, itu sudah cukup untuk perasaan tenang. Wakil koki berpikir bahwa tempat ini adalah istananya sendiri, dan hal tersebut memberinya kepuasan dan kepenuhan diri yang bukan main.
Akan tetapi suasana dari tempat ini juga bergantung pada pelanggan yang memiliki selera tinggi. Dia menyadari hal ini setelah menyambut pelanggan yang pertama.
Glug, glug, glug, phew—
Membuat suara seperti itu, orang tersebut menenggak minumannya.
Sambil mengelap gelas, dia berpikir pada dirinya sendiri: untuk orang yang minumnya seperti itu, ada banyak tempat yang lebih cocok.
Kenyataannya, lantai kesembilan juga memiliki ruangan biasa dan fasilitas kedai minum, jadi tidak ada perlunya untuk mereka yang minum seperti itu untuk datang ke bar ini.
Wakil koki berjuang untuk menahan wajahnya mengerut karena melihat orang ini yang menenggak berisik sekitar 500ml mug berisi bir dan kemudian menghantamkannya ke atas konter.
"Lagi!"
Menanggapi permintaan pelanggan tersebut, wakil koki tersebut menyuntikkan sebuah aliran vodka suling Polandia, dan kemudian menyuntikkan sesloki pewarna makanan biru.
Dia kemudian dengan hati-hati menyajikan gelas tersebut.
"Minuman ini disebut 'Lady's Tears'."
Si pelanggan melihat minuman tersebut dengan curiga. Setelah dengan santainya menginformasikan namanya, dan karena dia tidak melihat proses mencampur koktail tersebut, pelanggan itu kemudian memperlihatkan ekspresi berterima kasih.
"Ah, apakah warna biru yang menyebar menyimbolkan air mata?"
"Ya, seperti yang kau katakan."
Dia berbohong dengan mudahnya.
Wanita itu meraih gelas tersebut, menempatkannya di sisi mulutnya dan mengeringkannya dengan sekali teguk seperti segelas susu setelah mandi.
Tanpa ragu-ragu, dia menghantamkan gelas kosong itu ke konter bersama dengan minumannya yang sebelumnya.
"Huu, aku merasa sedikit mabuk~"
"Kau minum terlalu cepat, jadi mau bagaimana lagi. Bagaimana kalau kembali sedikit lebih awal malam ini?"
"…Tidak, aku tidak ingin pulang."
"Begitukah…"
Sambil mengelapi gelas, dia merasa kesal dengan tatapan wanita itu.
Ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ingin  mengungkapkannya, karena itulah wanita ini begitu merepotkan. Pria baik-baik lebih cocok dengan lingkungan semacam ii, bukannya wanita yang merepotkan. Menghalangi wanita untuk masuk… adalah mustahil, akan jadi sangat tidak menghargai Supreme Being. Aku benar-benar mengacaukannya kali ini.
Yang mengundang wanita ini tidak lain adalah dirinya sendiri. Ini adalah hasil dari dirinya yang menyapanya karena khawatir di lantai sembilan melihat penampilannya yang kebingungan. Dia sekarang menyesali tindakannya, tapi karena dia menawarkan diri menjadi seorang tuan rumah, adalah hal yang juga dibutuhkan baginya memperlihatkan etika sebagai seorang pemilik bar pada pelanggannya.
Sekalipun aku menyajikan minuman yang dibuat dengan payah, aku harus menangani ini dengan benar!
Setelah memantapkan dirinya, dia bertanya :
"Apa masalahnya, Shalltear-sama?"
Pada saat itu si wanita, Shalltear, bersiap untuk menjawab seakan dia sudah menunggu selama ini untuk pertanyaan ini ditanyakan, membuktikan bahwa dugaannya itu tepat.
"Maaf, tapi aku tidak ingin menceritakannya."
Berhenti mempermainkanku. Wajahnya tanpa sengaja mengerut, tapi karena dia adalah seorang manusia jamur, wanita itu tidak dapat mengerti gerakan wajahnya. Dia tidak juga mengatakan apapun, hanya melanjutkan bermain gelas minuman di konter.
"Sedikit mabuk?"
"…Ya, itu benar."
…Itu tidak mungkin.
Shalltear terlihat seperti dia sudah mabuk, tapi dia yakin bahwa itu mustahil.
Mabuk dan racun dianggap sama, jadi orang yang memiliki kekebalan sepenuhnya terhadap racun tidak mungkin dapat mabuk. Tentu saja, Shalltear, sebagai undead, kebal terhadap toksin dan tidak akan menjadi mabuk. Pada dasarnya, mereka yang datang ke toko ini entah melepaskan item penetral racun, atau tahu bahwa mereka tidak akan mabuk dan hanya ingin menikmati suasana tempat ini.
Kecuali, Shalltear benar-benar merasa mabuk, mabuk karena suasana.
Baiklah, apa yang harus kulakukan? Pikirnya. Untungnya pada saat ini dia mendengar suara denting keselamatan. Dia menurunkan kepalanya untuk menyambut pelanggannya.
"Selamat datang."
"Senang melihatmu, Piki."
Orang yang menyerukan nama julukan yang diberikan padanya karena penampilannya yang seperti jamur. Dia adalah pelanggan setia di sini, seorang asisten butler bernama Eckleya, ditemani dengan seorang pelayan pria yang menggendongnya.
Seperti biasa, Eckleya dalam diam ditempatkan di atas kursi. Bagi Eckleya yang setinggi satu meter, duduk di kursi tak bersandaran di bar yang tinggi adalah hal yang sulit.
Piki merasa aneh bahwa Shalltear tidak menyapa sama sekali. Dia menolehkan wajah padanya, dan menemukan dia dengan kepala yang menghadap ke bawah sambil menggumamkan sesuatu. mendengarnya baik-baik, sepertinya dia sedang meminta maaf kepada Supreme Being.
Eckleya meminta anggur dengan keanggunan palsu:
"Yang itu."
"Baiklah."
Mendengar itu, satu-satunya minuman spesifik yang muncul di pikiran, yang melibatkan sintesis dari sepuluh minuman alkohol kuat yang berbeda untuk membuat sebuah minuman dengan sepuluh warna : Nazarick.
Penampilan luarnya amat sangat indah, dan rasanya memuaskan secara mendalam, dengan pelanggan biasa yang sering berkomentar bahwa itu layak untuk dinamai Nazarick. Akan tetapi itu bukanlah sesuatu yang akan dia rekomendasikan pada orang lain.
Untuk dapat membuat lebih enak lagi, dia harus menjalani percobaan, dan itu masih belum selesai.
Dengan gerakan yang terlatih dia membuat minuman sepuluh warna itu, dan menempatkannya di depan Eckleya.
"Wanita yang di sana, silakan mencoba ini."
Setelah ini, suara 'plik…plok…bam' dapat terdengar.
Eckleya ingin meluncurkan gelas tersebut kepadanya di atas konter. Tetapi gerakan itu adalah sesuatu yang ditemukan di manga atau dilakukan oleh orang dengan kemampuan tinggi, dan sudah jelas bukan sesuatu yang seekor penguin bisa lakukan.
Piki memungut gelas yang jatuh, memastikan bahwa tidak ada kerusakan dan menghela nafas lega. Dia kemudian mengambil sehelai kain lap dan menyeka minuman yang tumpah di konter. Dengan tatapan tidak senang, dia berbicara perlahan:
"Bisakah kau menahan dirimu untuk mengibas-ngibaskan siripmu? Kalau kau masih berkeras melakukannya, aku akan menempatkanmu dalam baskom dan mendorongmu keluar."
"…Aku benar-benar minta maaf."
Menyadari Eckleya untuk pertama kalinya, Shalltear mengangkat kepala dan menyapa.
"Ah, bukankah ini Eckleya. Lama tidak bertemu."
"Lama… Tapi kita melihat satu sama lain setiap kali aku datang ke lantai sembilan."
"Begitukah?"
"Ya benar, tapi… Aku tidak pernah melihatmu di sini. Kupikir hanya para Guardian seperti Demiurge yang datang kemari. Terakhir kali, dia dan Cocytus datang bersama untuk menikmati minuman mereka dalam diam."
"Oh, benarkah?"
Mendengar perkataan rekannya, mata Shalltear melebar.
"Ada apa? Kenapa kau bertingkah seperti ini?"
"Bukan masalah besar… Tidak… Aku telah melakukan kesalahan besar, karena itulah aku menemukan kenyamanan dalam alkohol, sebagaimana seseorang yang gagal seharusnya lakukan."
Eckleya membuat sebuah gerakan wajah yang lembut pada PIki, diam-diam bertanya "Ada apa dengan gadis ini?" tapi Piki tidak menjawabnya, dan hanya menggelengkan kepalanya.
Karena dia ingin memberikan pengalaman minum yang lebih bisa dinikmati, dia bertanya:
"Untuk mencerahkan suasana, bagaimana dengan sedikit jus apel?"
Mereka berdua terkejut dengan penawaran ini.
"Dibuat dari buah apel yang diambil dari lantai keenam."
Rasa penasaran mereka tergelitik dan mereka berdua mengangguk pada saat yang bersamaan. Reaksi mereka yang apa adanya memberi Piki rasa puas yang kuat.
Apa yang ditempatkan di atas meja adalah dua porsi dari jus apel biasa-biasa saja. Matanya beralih ke pelayan pria, tapi seperti biasa, tawarannya ditolak.
Tentu saja, Eckleya memiliki paruh seekor penguin, jadi dia tidak lupa untuk menambahkan sebatag sedotan.
"Rasa yang menyegarkan."
"Walaupun ini tidak buruk, itu kurang berdampak… Mungkin tidak cukup manis?"
Itu adalah pendapat dari kedua orang tersebut setelah menghabiskannya dalam sekali teguk.
"Yah, mau bagaimana lagi. Aku mencicipi sebuah sampel saat aku membawanya, dan dibandingkan dengan yang tersimpan di dalam Nazarick, rasanya tidaklah pas."
"Ada pohon apel di lantai keenam? Aku tidak ingat ada itu."
Kapanpun Shalltear pernah mendengar kesan ini sebelumnya, dia memberikan jawaban tepat sebelum Piki membalas:
"Mungkinkah ini adalah yang dibawa kembali Ainz-sama? Kudengar dari Albedo bahwa dia bereksperimen untuk melihat apakah buah dari luar dapat dikembang biakkan di dalam Nazarick, berperan sebagai barang konsumsi yang dapat diperbaharui."
Piki juga mendengar ini.
Terlepas dari hal ini, dia juga menerima berbagai macam makanan dari luar karena adalah tugasnya untuk memastikan bahwa itu adalah hal yang mungkin untuk memproduksi kemampuan meningkatkan masakan.
"Itu benar, aku mendengar itu juga. Kalau rencananya berjalan lancar, berikutnya akan mengolah perkebunan buah, tapi sepertinya rasa manisnya masih kurang sejauh ini."
"Tidak, ini bukannya tidak dapat diminum. Aku lebih memilih ini kalau aku mencari rasa manis yang menyegarkan."
"…Lalu siapa yang sedang melakukan penanaman saat ini? Aura dan Mare tidak termasuk, mungkinkah tanggung jawab ini… telah dberikan kepada monster?"
"Tidak, tidak. Ini dipercayakan kepada roh hutan yang Ainz-sama bawa dari luar."
Penasaran siapakah itu, Eckleya membuat ekspresi kebingungan, sementara Shalltear mengeluarkan ekspresi menyadari.
"Apa yang terjadi? Apakah ada orang baru yang bergabung dengan Nazarick?"
Shalltear menjawab pertanyaan Eckleya. Meskipun Piki telah melihat roh hutan, dia tidak tahu bagaimana perkembangan situasinya dan demikian dia memusatkan telinganya untuk mendengar.
Kelihatannya roh hutan dibawa setelah perang untuk memastikan kerja tim para Guardian. Sebagai hasil dari kesepatakan, dia datang ke Nazarick dan menjadi seorang petani apel.
"Nazarick juga berevolusi, menjadi semakin kuat."
Baik Piki dan Shalltear setuju dengan perkataan Eckleya.
Sebagai wakil koki, Piki tidak tahu mengenai rencana masa depan dari Great Tomb of Nazarick. Tapi sekarang dia mengerti bahwa Ainz Ooal Gown, Supreme Being terakhir yang tersisa, telah menempatkan semua usahanya untuk mendapatkan kekuatan di dunia ini dan menjadi semakin kuat.
"Aku paham. Maka di masa depan akan ada lebih banyak entitas seperti roh hutan yang bergabung dengan Narick."
Shalltear menggmbungkan pipinya dan melampiaskan rasa tidak puasnya pada Eckleya.
"Aku benci ini. Karena tempat ini diciptakan oleh para Supreme Being… Kenapa harus makhluk menjijikkan itu dibiarkan untuk menjelajahi tanah ini?"
Dia juga berbagi rasa sentimen yang sama. Tempat ini dianugerahi dengan keberadaan Supreme Being. Bagi mereka yang lahir di tempat ini, sekedar berpikiran orang luar dibiarkan masuk dapat membuat mereka mengeryit, tapi ada sebuah poin yang lebih penting daripada pikiran pribadinya.
"Kita harus menahan ini. Ini adalah keputusan Ainz-sama bagaimanapun juga."
Supreme Being tertinggi, keputusan Ainz Ooal Gown adalah absolut. Jika dia mengatakan sesuatu yang berwarna putih adalah hitam, maka itu haruslah berwarna hitam.
"Aku tidak bermaksud untuk mempertanyakan keputusan Ainz-sama!"
Menghadapi Shalltear yang panik, kedua orang lainnya juga mengangguk setuju.
"Maka di masa depan kita juga perlu menjadi teladan, menampilkan lebih banyak kesetiaan pada Ainz-sama. Aku tidak berpikir siapapun selain kau akan memberontak melawan Ainz-sama."
Itu benar. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Shalltear? Kalau kau bergabung denganku sekarang, aku akan memberikanmu status yang bahkan lebih tinggi nantinya—"
Eckleya memulai pembicaraan merekrutnya seperti biasa—yang tidak pernah sukses, tapi terputus oleh sebuah jeritan aneh.
"Hyaaaaa~~"
Tatapan kedua pria tersebut diarahkan kepada Shalltear yang sedang menutupi kepalanya dan tanpa henti menyatakan kesetiannya.
"…Apa yang terjadi? Nadanya berbedar dari yang biasanya juga."
Sebagai tanggap pada Eckleya yang keheranan, Piki menggelengkan kepalanya dan mengangkat bahu.
"Siapa yang tahu?"

Overlord Jilid 4 Bab 1 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.