25 Januari 2016

My Dearest Jilid 2 Chapter VII



MY DEAREST
JILID 2 CHAPTER VII
BALAS BUDI


Bagian Pertama:

Anggela berjalan satu langkah ke depan dengan kedua matanya yang tertutup. Dirinya terlihat tenang meski seluruh tatapan tertuju padanya. Setelah dirasa cukup melangkah, lelaki berambut putih itu mulai berteriak sambil membuka kembali kedua matanya.

“Menyerahlah ...!! Aku tidak tau masalah kalian dengan gadis ini, tapi aku tidak akan membiarkan kalian melukai orang yang telah menolongku!!”

“....”

“Ho-hoo, jadi sekarang kalian bermain pahlawan-pahlawanan –“ jelas salah satu dari mereka, dia tersenyum meremehkan Anggela. Tapi, perkataanya terhentikan oleh sebuah tendangan yang sangat keras mengenai kepalanya.

BUAKKK!!!!

Anggela menggunakan kemampuan percepatan listriknya untuk bergerak cepat ke arah kelompok tersebut. Dia menendang keras kepala lelaki yang meremehkannya.

WUINGGGG!! DUARKGGHHH!!

Dia melayang jauh ke belakang dengan sangat cepat, membentur sebuah tembok dengan amat keras. Lelaki itu seketika tak sadarkan diri karena serangan Anggela yang tiba-tiba itu.

“Kalian tidak perlu menjawab pernyataanku ..., mundur saja jika kalian masih menghargai nyawa kalian,"tegas Anggela menutup matanya.

Dua orang lainnya hanya terdiam bergemetar, wajah mereka terlihat ketakutan melirik Anggela yang sudah berada di dekatnya.

Si-siapa anak ini!? Ke-kecepatannya benar-benar tidak normal!”

“Tingkat 3? Tidak ..., mungkin tingkat 4, dia hampir setara dengan Master kami ...!”

“Apa jawaban kalian –“

“Kami mengerti ...! Ka-kami akan mundur,” jelas salah seorang dari mereka. Mereka mulai berjalan pergi sambil membawa temannya yang pingsan oleh Anggela.

Untuk sesaat suasana menjadi sangat hening, gadis berambut hitam itu hanya terus terdiam terkejut melihat Anggela.

“Aneh ...,” pelan gadis tersebut sambil terus memasang wajah terkejutnya menatap Anggela.

“Aneh? Apanya yang aneh?“

“Sungguh aneh!! Benar-benar aneh!!” jelasnya mulai mengkerutkan dahinya.

“Aneh aneh, dari tadi kau terus berkata seperti itu. Sebenarnya apa maksud perkataanmu itu!?” geram kesal Anggela, dia berjalan menghampiri gadis yang terluka tersebut.

“Jika kamu sekuat itu ..., kenapa kamu bisa babak belur dan tergeletak di lapangan itu?!”

“Lapangan ...? Ahh iya, aku habis bertarung dengan gadis itu ...,” Anggela mulai mengingat kembali pertarungannya dengan Savila, wajahnya terlihat mengeluh karena dia sadar kalau dirinya telah dikalahkan oleh Savila secara telak.

“Gadis itu?!”

“Ahtidak, bukan apa-apa. Kamu yang menyelamatkanku, kan? Bisa aku bertanya padamu?”

“Bukan, bukan aku! Masterlah yang menyelamatkanmu!”

“Master!?”

“Iya master guild kami, kamu pasti terkejut karena orang yang telah menyelamatkanmu adalah .... Shalsabilla Anatasha! Satu dari empat kineser terku –“

“Siapa?” tanya Anggela dengan nada datar, dia memiringkan kepalanya seakan kebingungan.

“Eehhh ...!! Ka-kamu pasti bercanda, kan!? Kamu tidak mengenal Princesse Aimants!? Apa kamu sedang bergurau –“

“Ap-apa lagi itu, princeese apa?”

Gadis tersebut kembali terdiam terkejut melihat reaksi Anggela. Dirinya tidak percaya jika Anggela tidak mengenali orang yang paling ia hormati tersebut.

“Baiklah aku paham, dia sangat hebat, kan? Tapi yang lebih penting ..., bisa aku tau namamu?”

“Namaku? Aku Ai An, kamu bisa memanggil Ai.”

“Ai ...,An?”

“Iya, kenapa? Memangnya aneh!? Aku orang Vietnam, ngomong-ngomong aku juga belum tau namamu?”

“Aku Anggela Dwiputra ....”

“Anggela ...? Apa cuman perasaanku saja, tapi kenapa namamu terdengar aneh?”

“Aku tidak ingin mendengarnya darimu, bukankah namamu juga sama anehnya.”

“Enak saja! Namaku sangat cantik tau! Ai berasal dari kata mencintai, dan An berasal dari kata damai! Jadi dengan kata lain namaku memiliki arti mencintai kedamaian.”

“Hooo begitu...,” Anggela sambil memalingkan wajahnya, dia memasang wajah malas.

“Justru namamu lah yang aneh! Kamu laki-laki, kan!? Kenapa namamu Anggela, dan juga pengucapannya juga terasa aneh, jangan bilang kalau penulisan namamu itu, G nya ada dua hur –“

“Memang ada dua huruf....”

“Haah!? Yang benar kan Angela! Namamu semakin terasa aneh saj –“

“Sudahlah bisa hentikan pembahasan ini!? Kenapa kita harus repot-repot membahas nama kita sendiri!? Bukankah ada yang lebih penting dari membahas nama kita!?” Anggela terlihat kesal sambil melihat Ai yang terluka cukup parah.

“Ka-kamu benar!”

“Nah, akhirnya kamu sadar jug –“

“Siapa sebenarnya kamu ini!? Kamampuannmu benar-benar mengagumkan!!” Ai memasang pandangan yang berbinar-binar pada Anggela.

“An-anu yah Ai ....” Anggela terlihat kesal memejamkan matanya.

“Emmmm ..., ke-kenapa?” Ai sambil duduk di atas kasur yang sebelumnya Anggela tiduri. Darah merah mulai menetes membasahi kain kasur itu.

“Lukamu! Kamu harus merawat lukamu itu!?” teriak kesal Anggela sambil menunjuk Ai.

“Ahhh kamu benar ..., tapi tak apa, aku hanya perlu istirahat dan menunggu darahku ini mengering.”

“Mana bisa seperti itu, kan!? Bagaimana jika darahmu itu terus keluar dan membuat nyawamu terancam!?”

“Paling parah aku akan mati...,” senyum Ai lalu mulai membaringkan badannya di atas kasur.

“Ma-mati? Kenapa kamu setenang itu?” Anggela terlihat khawatir.

“Semenjak aku bergabung dengan Guild ini, aku sudah siap menerima kosekuensi –“

“Ya ya berisik, kemana temanmu yang lainnya!? Kemana Master yang kamu banggakan tad –“

“Sejujurnya, sebagian temanku sudah dibunuh oleh mereka tadi ..., lalu Master dan Kineser kuat dari Guild kami juga sedang berada di luar negeri, mereka tidak tau kalau kami diserang –“ jelas Ai terlihat sedih.

Seketika wajah Anggela berubah menjadi kesal, dia berjalan cepat menghampiri Ai dan mengangkat tubuhnya yang penuh luka.

“Ap-apa yang kamu lakukan!?” AI terlihat gugup dan wajahnya mulai memerah.

“Kamu harus ke rumah sakit! Dimana rumah sakit terdekat!?” Anggela sambil mulai berlari menuju pintu keluar.

Sebelum dia mencapai pintu keluar, dia melihat puluhan orang-orang yang mati cukup menggenaskan, mereka semua adalah teman guild Ai.

“Tung-tunggu, aku tidak mempunyai uang untuk berobat, aku –“

“Berisiknya!! Cepat katakan dimana rumah sakit terdekat!!?”

“Ba-baiklah ..., setelah kita melewati pintu keluar, kamu belok kiri dan tinggal lurus saja,” Ai dengan wajah yang masih memerah.

“Baik mengerti!” senyum Anggela melirik Ai yang terus menatap dirinya.

Mereka berlari di jalanan dengan kondisi Ai yang cukup kritis, beberapa orang ..., mungkin semua orang yang mereka lewati sesekali memperhatikan mereka. Ada yang memasang wajah cukup terkejut, ada yang memasang wajah penasaran, ada juga yang memasang wajah sedih bersimpatik.

Setelah sampai di rumah sakit, Ai lekas dimasukan ke ruangan yang disebut UGD, dan Anggela hanya bisa menunggu diluar sambil berpikir kembali tentang beberapa hal.

Guild, kah? Jadi di masa ini ada sebuah Guild bagi para Kineser ...?”

“Dan juga, dimana Anggelina...? Sebenarnya apa yang sudah terjadi setelah aku pingsan!?”Anggela terlihat khawatir kebingungan memegang kepalanya dengan salah satu tangannya.

Lalu beberapa menit kemudian....

Krekkkk ..., suara pintu ruangan operasi terbuka, bersamaan dengan suara pintu tersebut muncul seorang dokter yang membawa sebuah berkas laporan.

“Bagaimana kondisinya!?” Anggela berjalan cepat menghampiri dokter tersebut. Wajahnya masih terlihat cukup khawatir.

“Maaf, apa kamu keluarganya!?” sang dokter menghentikan langkahnya, dan bertanya cukup keheranan.

“Y-ya, aku keluarganya ....”

“Be-benarkah!? Tapi sepertinya kalian berasal dari negara yang berbed –“

“Hu-hubungan keluarga kami cukup rumit,” jawab Anggela sedikit gugup.

“Ka-kalau bergitu aku tidak akan bertanya lagi ...,” jawab dokter itu gugup. Dirinya merasa bersalah.

“Jadi bagaimana kondisinya?”

“Yah selama aku memeriksanya, tidak ada luka yang cukup berarti. Setelah beristirahat di rumah sakit beberapa hari, dia bisa pulang.”

“Begitu...,” senyum Anggela cukup lega.

“Lalu untuk urusan administrasi, bisa aku tau dimana tempatnya? Dan juga bagaimana prosesnya?” lanjut Anggela memasang wajah serius.

“Kamu bisa melakukan proses administrasi di dekat pintu masuk. Jika kamu ingin bertanya tentang bagaimana prosesnya, kamu tinggal bilang saja pada petugas disana...,” senyum dokter tersebut lalu mulai melangkah.

“Baiklah, terima kasih.”

Anggela berjalan menuju tempat administrasi yang sebelumnya ditunjukan oleh dokter tersebut. Dia melakukan pembayaran dengan kartu yang sebelumnya ia terima dari Kak Hana.

Jika dipikir-pikir sudah berapa hari aku tidak saadarkan diri? Aku merasa tidak enak jika membuat Kak Hana khawatir.”

“Tuan? Totalnya delapan juta tujuh ratus ribu rupiah...,” jelas petugas Administrasi.

Dan sebenarnya dimana Anggelina, apa dia sudah tertangkap oleh wanita it –“ Anggela terlihat menghiraukan perkataan petugas tersebut dan terus bergumam dalam hatinya.

Tuan!?”

“Aaahhh maaf, berapa totalnya?”

“Totalnya delapan juta tujuh ratus ribu rupiah...,” jelas pengurus administrasi sedikit kesal.

“Ini ..., apa aku bisa membayar dengan ini?” Anggela memberikan sebuah kartu berwarna kuning keemasan, kartu yang terlihat indah dan berkilau.

“Maaf tuan, kami tidak mengenal kartu in –“

“Tu-tu-tunggu dulu!!” teriak salah seorang petugas administrasi yang terlihat sudah tua, dia terlihat mengepalai petugas administrasi yang lainnya karena pakaiannya yang cukup berbeda.

“Kenapa Pak Kepala –“ petugas tersebut terlihat kebingungan karena mendengar pernyataan atasannya.

“Mu-mungkinkah itu G-Card!?”

“G-Card? Y-ya aku tidak tau namanya, tapi Kak Hana sendiri yang memberikan ini padaku.”

“Ma-maaf atas ketidaksopanan pelayanan kami. Kami akan segera meproses pembayarannya, Tuan!” jelas sang kepala petugas menundukan kepalanya.

“Aahh, tidak apa...! Memangnya seberharga itukah kartu emas yang kubawa?”

“Anda membawa ini, tapi tidak mengerti seberharganya kartu ini!?”

“Ma-maaf..., sebenarnya ini pemberian dari seseorang.”

“Begitu.... Pasti seseorang yang kamu maksud itu termasuk dari delapan keluarga besar di dunia.”

“Delapan keluarga besar?”

“Iya, hanya merekalah yang berhak memiliki kartu ini. Beberapa nama keluarga yang kutahu adalah Liviandra dari jerman dan Anatasha dari Inggris.”

“Begitu yah,” senyum Anggela sedikit terkejut.



***

Bagian Kedua:

Krekkk!

Suara pintu kamar mulai terbuka. Beberapa saat setelah suara pintu itu, mulai terdengar suara seorang gadis dengan nada yang cukup lembut.

“Ah, Anggela....,” senyum Ai.Gadis berambut hitam itu terlihat berbaring sambil melihat Anggela yang berjalan menghampirinya. Dia berniat bangun dari tempat tidurnya, tetapi.

“Sudahlah jangan bangun dulu, kamu masih harus banyak istirahat, kan?”

“Wow, Gentleman...,” senyum Ai yang menggoda Anggela.

“Apa-apaan tatapanmu itu? Membuatku merasa tidak nyaman saja,” Anggela berwajah khawatir sambil duduk didekat Ai.

“Hey Anggela....”

“Apa?”

“Kenapa kemarin kau menolongku dan membawaku ke rumah sakit ini?”

“Tentu saja karena balas budi, lagipula aku tak bisa meninggalkan seorang gadis yang terluka begitu saja.”

“Hmm, jadi kamu menganggapku seorang gadis yah?”

“Ap-apa aku salah? Apa jangan-jangan kamu laki-laki yang melakukan trans –“

“Ya enggak lah!! Aku gadis normal, seorang gadis tulen dari lahir!”

“Benarkah?” wajah Anggela terlihat cukup ragu.

“Kenapa kau malah memasang wajah itu ...,” datar Ai pada Anggela

“Maaf maaf, aku hanya bercanda,” senyum Anggela kembali sambil menutup matanya sesaat.

“Tapi sungguhdisayangkan ...,” pelan Ai.

“Disayangkan kenapa?”

“Jika saja kau menjawab kalau kau menyukaiku pada pandangan pertama. Mungkin aku akan lebih senang,” senyum Ai dengan wajah yang memerah.

Anggela hanya terdiam cukup terkejut. Lelaki berambut putih itu seketika berdiri dan memalingkan wajahnya cukup cepat.

“Buhu ... –“

“Buhu?!” Anggela bertanya penasaran melirik Ai.

“Bwhahahaahaha,” Ai langsung tertawa hebat sambil memegang perutnya. Air mata kebahagiaan mulai menetes melewati pipinya.

“Ka-kau menggodaku!?”

“Tentu saja! Mana mungkin aku bisa jatuh cinta pada orang yang baru aku kenal dua hari? Hahahhahahaha...!”

“Sialan –“

“Tapi jujur, untuk sesaat kamu membuat hatiku bergetar sedikit, waktu itu kamu sedikit mengaggumkan ....” pelan Ai sambil menutup wajahnya dengan selimbut.

“Eh...?” Anggela terlihat sedikit terkejut.

“Ha-hanya sedikit yah! Sedikit!!” teriak Ai dibalik selimbutnya.

“Ya ya, terimakasih atas pujianmu yang setengah-setengah itu!”

“Apa maksudmu pujian yang setengah –“

Krek, pintu kamar kembali terbuka cukup cepat. Seorang gadis terlihat berlari cepat melewati pintu itu.Nada teriakannya terdengar dipenuhi kekhawatiran.

“Ai-chan?!”

Seorang gadis berambut kuning lemon mulai terlihat. Rupa dari gadis tersebut cukup menawan, matanya cukup sipit. Dia berjalan memasuki ruangan tersebut. Wajahnya terlihat sangat khawatir sambil berjalan cepat menghampiri Ai.

“Kak Arisa!?” Ai terlihat terkejut sambil keluar dari selimbutnya.

“Ai-chan! Syukurlah kamu selamat!?” tangis gadis yang dipanggil Arisa, dia memeluk erat tubuh Ai.

“Si-siapa!?” Anggela terlihat terkejut melihat peristiwa yang cukup cepat tersebut.

“Di-dia Arisa Yuuki, Kineser tipe Chlorokinesis tingkat 3, dia adalah wakil master guild kam –“

“Tunggu Ai-chan!? Kenapa kamu menceritakan masalah ini pada rakyat biasa!?”

“Tenang Kak, dia juga seorang Kineser! Namanya –“ senyum Ai tapi perkataanya terhentikan oleh Anggela.

“Anggela Dwiputra, Kineser tipe Electrokinesis tingkat veteran..., salam kenal,” senyum Anggela sedikit menundukan kepalanya.

Ve-veteran !?” tanya Ai dan Arisa yang kebingungan.

“Mungkin kalian bisa menyebutnya dengan tingkatan empat –“

“Em-empat!?” teriak Arisa dan Ai bersamaan, mereka berdua benar-benar terlihat terkejut menatap Anggela.

“Y-ya sebenarnya itu hanya setengah kemampuanku, tingkat kineserku yang sebenarnya –“

“Tunggu bocah!! Jika kamu ingin sombong itu ada batasnya!! Mustahil lelaki ingusan sepertimu mencapai tingkatan itu!!“

“Ap-apa maksudmu itu? –“ Anggela terlihat kebingungan. Wajahnya terlihat sedikit kesal.

“Tung-tunggu Kak, mungkin dia benar ....” Ai mulai memasang wajah berpikir sambil memejamkan mata.

“Apa maksudmu, Ai!? Apa kamu ingin bilang kalau bocah ini setingkat dengan Master kit–“

“Kemampuannya benar-benar sangat hebat, Kak! Dia mengalahkan kineser tingkat dua hanya sekali serang saj –“

“Tapi mustahil itu Ai! Hanya empat orang didunia ini yang mencapai tingkat tertinggi itu!! Shalsa-sama, Silica-sama, Alcoty, dan Eisha.”

“Tung-tunggu? Apa kamu tadi menyebut kalau tingkat empat adalah tingkat tertinggi!?” Anggela sangat terkejut mendengar pernyataan Arisa.

“Iya tentu saja!”

“Tapi bagaimana dengan gadis bernama Savila!? Dia –“

“Siapa itu?”

“Eh? Apa kamu tidak mengenalnya? Dia mengatakan dirinya sebagai Elementer dari ras Half-elf!”

Elementer? Half-elf!? Apa yang kau bicarakan!? Apa kau sedang mengigau!?

Ka-kau serius tidak tahu apapun tentang mereka?”

“Tidak!”

“Kalau kamu, Ai?” Anggela melirik Ai yang terlihat kebingungan.Sedangkan Ai hanya menggelengkan kepalanya denganwajah keheranan.

Jangan katakan kalau Ras Half-Elf dan Arcdemons menyembunyikan keberadaanya dari ras manusia ...!? Si-sial!! Jika begini, aku akan semakin kesulitan mencari jejak Anggelina!”

Anggela, kenapa kamu terlihat khawatir?” Ai bertanya cukup khawatir.

“Tidak ada, tidak apa-apa ...,” senyum Anggela yang dipaksakan. Tapi wajah khawatirnya masih terlihat jelas darinya.

“An-anu Anggela, kah? Bisa aku bertanya sesuatu padamu?”tanya Arisa mulai menatap Anggela.

“Apa?”

“Kamu seorang lelaki, kan?” wajah Arisa menjadi terlihat serius.

Anggela hanya terdiam dan menatap Arisa dengan tatapan datar, Ai terlihat berusaha keras menahan tawanya. Suasana untuk sesaat terasa sangat hening karena pertanyaan Arisa itu.

“Ke-kenapa kamu tidak menjawabnya!? Apa jangan-jangan kalau kamu ini seorang gadis –“ Arisa terlihat khawatir, tapi perkataanya lekas terpotong oleh pernyataan Anggela.

“Pertanyaanmu benar-benar tidak perlu kujawab, nyonya ....” Anggela memasang wajah datar.

“Ke-kenapa!? Aku hanya ingin memastikan saja!? Aku hanya –“

“Sudah jelas aku lelaki!! Kenapa dengan matamu itu!? Apa kamu tidak bisa melihat fisikku ini!?” geram sangat kesal Anggela, dia merubah total wajah datarnya.

“Ka-karena namamu aneh....”

“Benar kan Kak!? Namanya benar-benar seperti perempuan, hahaha,” Ai terlihat tertawa puas sambil menutup matanya.

“Aneh, benar-benar aneh,” Arisa melihat Anggela secara prihatin.

“Aku tidak butuh rasa prihatin dari orang yang menghinaku!!” Anggela terlihat kesal sambil menunjuk Arisa.

“Hahahahahahahahaha!! –“ Ai tertawa semakin keras.

“Dan juga kau!! Berhentilah tertawa seperti orang gila!! Kita sekarang ada di rumah sakit tau!!” teriak kesal Anggela.

“Aku pikir kamu juga harus diam Anggela, kamu berteriak seperti orang yang sedang kesurupan.”

“Ahh, sudahlah!! Aku mau pergi dari sin –“ geramkesal Anggela berjalan cepat ke arah pintu keluar sambil menundukkan kepalanya. Tapi tiba-tiba, langkahnya terhentikan. Langkah lelaki beambut itu terhalang oleh seorang gadis cantik berambut putih dihadapannya.

“Anggela, kah?” tanya gadis tersebut tersenyum melihat Anggela.

“Siapa –“ Anggelamulai mengangkat kepalanya berniat melihat gadis itu. Tapi dirinya seketika terdiam saat melihat wajahnya.

Tangannya bergemetar, mulutnya mulai terbuka dengan wajah yang benar-benar terkejut mulai ia perlihatkan. Anggela mulai bertanya dengan nada yang terbata-bata cukup khawatir.

“Ha-Hal-Halsy ...?”

“Halsy!?” tanya gadis tersebut kebingungan dan sedikit memiringkan kepala.

“Aah, maaf! Ak-aku hanya salah orang ...,” khawatir Anggela memegang kepalanya. Wajahnya mulai terlihat sedih kembali.

“Begitu ..., maaf jika wajahku mengingatkanmu pada ingatan yang buruk. Yang lebih penting, perkenalkan namakuShalsabilla Anatasha ...,” senyum gadis tersebut membungkukkan badannya.

Wajah gadis tersebut benar-benar sangat mirip dengan Halsy Aeldra. Hanya saja bentuk dan warna rambutnya yang cukup berbeda. Gadis tersebut memakai sebuah dress berwarna merah, mata berwarna biru, dengan apple hair berwarna hijau tua.

“Ma-master!?” tanya Ai dan Arisa terkejut melihat Shalsa.

“Ai ..., kamu baik-baik saja? Ma-maaf, aku datang terlamb –“ Shalsaterlihat sedih menatap Ai.

“Tak apa master!! Aku baik-baik saja ...!!” Ai tersenyum kegirangan melihat gadis bernama Shalsa itu.

“Begitu, syukurlah ...,” senyum Shalsa memejamkan matanya seakan lega.

“Anggela, bisa ikut aku sebentar ...? Ada yang mau kubicarakan denganmu,” Shalsa berjalan keluar pintu, lalu Anggela mengikutinya sambil berkata.

”Apa ini berhubungan dengan Anggelina?”

“Anggelina?” lirik Shalsa kebingungan, dia menghentikan langkahnya.

“Ohh bukan yah? Lalu tentang apa?“ Anggela ikut menghentikan langkahnya.

“Bukan hal yang penting untukmu, tapi ini sangat penting bagi kami ....”

“Kami?” pelan Anggela penasaran.

“Risa ..., tolong jaga Ai sebentar yah ...,” jelas Shalsa melirik Arisa.

“Ya baik, Master!”

“Maaf merepotkanmu lagi...,” senyum sedih Shalsa pada Arisa, setelah itu dia berjalan pergi melewati pintu keluar yang diikuti oleh Anggela.

“Kau tak perlu memikirkannya, Sha-chan...,” jawab pelan Arisa memejamkan matanya, dia tersenyum bahagia.

Setelah cukup jauh dari ruangan Ai, Shalsa seketika menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan memasang wajah sedih melihat Anggela.

Anggela hanya terlihat kebingungan melihat Shalsa yang memasang wajah sedih, dia berniat bertanya akan alasan Shalsa memasang wajah tersebut,tapi.

“To-tolong bantu Guild kami!!” teriak Shalsa cukup keras. Bersamaan dengan permintaannya tersebut, dia membungkukkan punggungnya dihadapan Anggela.

“Eh –, Eeehh?!!” Anggela terlihat sangat terkejut sambil berjalan mundur satu langkah.Anggela benar-benar terkejut melihat permintaan gadis anggun yang menundukan kepalanya dihadapannya itu.


***

My Dearest Jilid 2 Chapter VII Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.