18 Januari 2016

My Dearest Jilid 2 Chapter VI


MY DEAREST
JILID 2 CHAPTER VI
IKATAN YANG MENGHALANGI

Bagian Pertama 
Dimana aku..... ?

Kulihat seorang gadis manis dengan rambut pendek berwarna putih bersih di depanku, matanya terlihat biru seperti batu sapphire, dia memakai baju one piece berwarna merah muda.

Sesekali dia bersembunyi di balik rok seorang wanita dewasa. Wajahnya benar-benar terlihat khawatir ketakutan menatapku.

Anggelina ..., kenapa kamu malu-malu seperti itu? Dia ini kakak kembar kamu loh,” jelas wanita dewasa tesebut.

Aku berniat melihat wajah wanita tersebut tapi aneh, benar-benar aneh. Wajahnya tidak ada, wajahnya tertutupi oleh cahaya yang cukup terang.

“Ak-ak-aku Anggelina ...,” jelas gadis tersebut, nada bicaranya benar-benar terlihat ketakutan.

Tiba-tiba tanganku bergerak sendiri, tangan kecil seperti seorang anak yang masih berumur 4 tahun.

“Aku Anggela!” kata tersebut langsung keluar dari mulutku, aku bisa melihat pemandangan ini tapi aku tidak bisa menggerakkan seluruh badanku.

Aku mengerti, aku mulai mengerti dengan keadaanku saat ini. Ini pasti hanya kilasan balik dari ingatanku, ingatan tentang pertemuan pertama kami. Pertemuanku dengan cinta pertamaku, yakni adikku sendiri.

Saat itu aku masih belum mengetahuinya, saat itu aku masih belum paham akan ikatan kami yang menghalangi rasa cinta kami. Ikatan saudara, ikatan saudara kandung yang menghantui kami hingga akhir hayat kami.

Seberapa keras kami berusaha untuk menentangnya, menyangkalnya, tidak memperdulikannya ..., kami tetap tidak bisa untuk terus bersama, tidak bisa mendapatkan ikatan yang lebih tinggi lagi.

Hanya sebatas ikatan kakak beraadik, hanya ikatan keluarga yang memiliki darah yang sama.

“Manisnya ..., apa dia benar-benar adikku, Ayah?!” gadis yang lebih tua dariku tiba-tiba muncul di belakangku. Ya dia adalah Kakak perempuanku, Keisha.

Kak Keisha berjalan cukup cepat menghampiri Anggelina yang terlihat ketakutan, dia tersenyum dan mengulurkan tangannya,

“Anggelina, main sama Kakak yuk!”

Anggelina hanya terdiam semakin ketakutan, dia semakin memegang erat rok ibunya, dirinya terlihat ingin menangis sambil berkata,

“Ma-mamah ....”

“Aahhh ..., sayang jangan takut, mereka itu saudara kamu. Cup cup ..., jangan nangis ...” Anggelina mulai diangkat oleh wanita dewasa tersebut. Dia dimanja oleh ibu kami.

Sejak masih bayi Anggelina dan aku sudah dibesarkan di tempat yang berbeda. Aku tinggal bersama kakak dan ayahku di daerah Dealendra, sedangkan gadis berambut putih pendek itu tinggal bersama ibu kami di daerah Frosy.

Bukan berarti hubungan orang tua kami tidak akur atau sebagainya, ibuku dan ayahku memiliki pekerjaan yang tidak bisa mereka tinggalkan. Masing-masing dari mereka harus tetap tinggal di daerahnya masing-masing.

Maka dari itulah, mereka berdua memutuskan untuk mengurus kami secara terpisah.

Bukan hal aneh jika aku jatuh cinta pada Anggelina, adikku sendiri. Dia cantik, manis, lemah lembut, dan menggemaskan. Dia benar-benar mirip wanita idealku saat itu.

Saat pertama kali aku bertemu dengannya, aku langsung memandangnya sebagai wanita, bukan adik kandungku sendiri, bukan sebagai saudara kembarku sendiri.

“Kak Keisha, jangan membuat dia menangis ...!” aku berteriak cukup kencang saat itu.

“Eh? Apa aku sudah berbuat kesalahan, Ayah?” tanya Keisha sedih, dia melihat Ayah yang sedang berdiri dibelakangku.

“Hahahahaha, enggak kok. Kamu tidak buat kesalahan apapun. Tapi kamu harus berikan sedikit waktu untuk Anggelina. Bagi Anggelina, kalian berdua ini seperti orang asing.”

“Kenapa?! Padahal aku Kakaknya!!” Kak Keisha memasang cemberut yang lucu.

“Kalena ini peltemuan peltama baginya Kak, dia belum pelnah beltemu dengan kita sejak masih bayi ...,” aku berbicara memotong perkataan ayahku, dan untuk sesaat ayah dan ibuku melihat ke arahku, mereka menatap terkejut diriku.

“Kamu benar Serraph, dia memang anak pintar,” senyum ibu kami sambil menurunkan Anggelina dari pangkuannya.

“Tentu saja Keina, dia sangat mirip denganku, kan?” senyum ayah sambil memegang dadanya.

“Enak saja!! Rambutnya berwarna putih sepertiku,  sudah jelas kalau dia mirip sekali denganku!”

Di saat orang tua kami berdebat seperti itu, diriku yang masih kecil mulai berjalan menghampiri Anggelina yang telihat kebingungan. Aku lekas memegang tangan manisnya dan berlari meninggalkan mereka.

“Ayo ...!” ajakku padanya, mungkin saat itu aku tersenyum saat mengatakannya.

Anggelina hanya tersenyum menganggukan kepala, kedua pipinya memerah sambil menatapku. Dia mulai berlari mengikutiku. Kami berlari memasuki kamar kakakku Keisha.

“Anggelina, aku punya sesuatu yang menalik ...,” jelasku sambil melepaskan tangan Anggelina, lalu berjalan cepat menuju kotak mainan milik kakakku.

Saat itu Anggelina hanya duduk di atas lantai, sesekali dia melihat-lihat setiap sudut kamar kakakku.

“Anggelina!!”

“Em, y-ya?!” Anggelina berbalik melihatku, wajahnya cukup terkejut karena teriakanku.

“Ta – da!!” aku berteriak dan memperlihatkan sebuah buku cerita bergambar milik Kakakku.

“Woahhh!!” Anggelina terlihat gembira, matanya terlihat berbinar-binar menatap buku bergambar yang aku genggam.

“Lihat! Pelempuan yang menjadi putli di buku belgambal ini sangat milip sekali denganmu.”

“Kakak benal! Pangelan yang belada di buku belgambal juga terlihat milip dengan Kakak.”

“Benalkah? Mungkin bena, Hahahahaha.”

“Hahahaahaha ....” Anggelina tertawa bahagia.

“Ayo kita baca.”

“Emm,” Anggelina menganggukan kepalanya.

Aku masih mengingatnya, mengingat jelas cerita yang aku baca bersama adikku saat itu. Cerita yang bagiku cukup menyedihkan, cerita yang menurutku kurang bagus karena akhir cerita yang sangat menyedihkan.

Cerita itu bercerita tentang putri yang malang, putri yang ditinggal pergi oleh ayahnya yang meninggal dalam perang, ditinggal oleh sang ibu yang dibunuh secara keji oleh pembunuh bayaran.

Dia ditinggal pergi oleh keluarganya sejak umurnya sangat belia, saat dia masih kecil dia sudah hidup sendirian di istana tersebut. Hanya para penjaga dan para pelayan kerajaan tersebut yang terus bersama dirinya.

Aku juga masih ingat betapa terasingkan kerajaan miliknya, kerajaan yang semakin lama semakin kecil. Kerajaan tanpa raja? Sudah pasti kerajaan tersebut tidak akan stabil, dan terus semakin mendekati kehancuran.

Krekkk ...!

Terdengar suara pintu kamar terbuka, pandanganku saat itu terpaling dari buku bergambar ke pintu kamar yang berada di belakangku.

Aku melihat kakaku Keisha yang berjalan masuk mendekatik kami, wajahnya tersenyum melihat kami yang sedang membaca buku bergambar.

“Ka-Kak Keisha?” Anggelina terlihat gugup ketakutan, saat dia berkata seperti itu wajahnya benar-benar terlihat lucu. Aku masih mengingat jelas, aku yakin kalau saat itu wajahku benar-benar memerah.

“Kyyaaa ..., lucunya!!” Keisha berlari cepat ke arah Anggelina, dia memeluk Anggelina seperti layaknya boneka.

“Ka-kakak ..., ka-kau membuat Anggelina gugup ketakutan!” terlontar kalimat langsung dari mulutku saat itu, nada bicara yang gugup sudah aku duga kalau saat itu jantung berdetak cukup cepat.

“Bukankah kamu juga gugup Anggela, wajahmu memerah ...,” senyum manis Keisha menggodaku.

“Ak-aku tidak gu-gug –“

“Anggela apa kamu menyukai adikmu ini?” senyum Keisha melirik Anggelina.

“Su-sudah sewajarnya aku menyukainya! Di-di-dia adikku!”

Aku berkata seperti itu dengan wajah yang memerah, aku berkata seperti itu dengan nada yang sangat gugup, aku berkata seperti itu dengan kedua tanganku yang bergemetaran. Ya, rasa cintaku pada Anggelina sudah salah, benar-benar salah.

“Kalau kamu Anggelina ...?” senyum Keisha memejamkan matanya sambil terus memeluk Anggelina.

“Me-meski ini peltama ka-kalinya bertemu, aku me-me-menyukainya ...,” Anggelina terlihat sangat gugup, wajahnya memerah sambil memainkan jemarinya yang manis.

Jika tidak ada Kak Keisha saat itu, jika tidak ada dirinya saat itu, aku mungkin akan terus memelihara perasaan ini padanya, perasaan ini mungkin akan terus dan terus semakin kuat.

“Kakak sudah tau akan seperti ini ...,” senyum sedih Kak Keisha saat itu.

“Eh ...?” Aku dan Anggelina hanya bertanya kebingungan padanya.

“Kalian saling menyayangi, kan?”

“Iy-iya ...,” jawab kami berdua sangat gugup.

“Tapi kalian tidak bisa seperti itu, sayang ...,” Keisha tersenyum, dia melepaskan pelukannya dan mengusap pelan kepala kami berdua, kepalaku dan Anggelina.

“Kenap –“

“Kalian bisa saling menyayangi tapi ..., hanya sebatas saudara, hanya sebatas ikatan keluarga sedarah, tidak bisa lebih dari itu, tidak boleh ada rasa cinta yang lainnya ....”

Aku dan Anggelina hanya terdiam mendengar perkataanya saat itu, kami tidak bisa menyangkalnya. Memang benar saat itu kami sudah saling jatuh cinta pada pandangan pertama.

Seperti yang kukatakan. Saat pertama kali bertemu dengan Anggelina. Aku tidak melihat dia sebagai adikku, tapi sebagai orang lain, wanita yang memiliki paras cantik yang bukan kuanggap sebagai adikku. Mungkin Anggelina juga berpikir seperti itu, seperti diriku.

“Buang perasaan cinta itu sebelum terlambat, kalian masih belum cukup dewasa untuk mengerti tentang betapa tragisnya cinta antara saudara sedarah.”

Ya dia mengetahuinya, Kak Keisha mengetahui kondisi kami saat itu. Dia bertindak cepat agar rasa ini tidak terus tumbuh. Dia mungkin berpikir jika kami sudah dewasa, kami akan semakin sulit dipisahkah.

“Baca buku cerita yang kalian pegang itu sampai akhir, kalian pasti akan mengerti maksud Kakak ....” senyum Kak Keisha lalu berjalan menuju pintu keluar.

Setelah mendengar perkataanya, aku dan Anggelina lekas melanjutkan membaca buku cerita hingga akhir.

Sesuai dengan pernyataanku sebelumnya, akhirnya benar-benar menyedihkan, terlalu menyedihkan bagiku.

Aku sempat berpikir seperti ini saat itu, jika awalan yang menyedihkan pasti akan memiliki akhiran yang menyenangkan.

Tapi tidak berlaku bagi cerita ini, cerita dengan judul Lost prince. Sang putri yang kesepian bertemu dengan pangeran yang tampan, pangeran yang berasal dari kerajaan terbesar kedua di benua tersebut.

Mereka sering bertemu secara rahasia karena anggota keluarga dari kerajaan sang pangeran tidak setuju dengan hubungan mereka bedua.

Tapi itu tidak membuat hubungan mereka rusak sedikitpun, mereka terus percaya kalau mereka adalah pasangan yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan.

Hingga sebuah kabar yang tidak mengenakkan datang pada mereka, berita pahit bagi mereka berdua yang diberikan oleh keluarga Sang Pangeran, fakta yang benar-benar mengejutkan mereka berdua.

Fakta tentang hubungan mereka yang ternyata saudara kandung, dan yang lebih parahnya lagi mereka adalah saudara kembar.

Karena berita tersebut, tidak hanya keluarga pangeran saja yang menentang hubungan mereka, tetapi keluarga sang putri juga ikut menentang hubungan mereka. Mereka juga membenarkan kalau ciri-ciri sang pangeran sangat mirip dengan tuan muda mereka dulu.

Hubungan mereka sempat tergangu, sempat hampir kandas di tengah jalan karena masalah tersebut. Tapi pada akhirnya mereka tidak peduli, mereka memutuskan untuk terus hidup bersama. Bukan sebagai saudara kandung, tetapi sebagai sepasang kekasih.

Mereka tidak peduli dengan peringatan dari kedua keluarga mereka dan terus melangkah maju. Sungguh tindakan yang membuat Dewa marah, tindakan mereka telah membuat Dewa murka.

Pada akhirnya malapetaka pun terjadi ..., Sang pangeran di bunuh secara keji di depan sang putri, dia dibunuh oleh pembunuh misterius yang datang pada malam hari.

Sang putri yang melihat hal tersebut hanya bisa berteriak menangis ketakutan, mentalnya seketika hancur dan sisa hidup putri kesepian tersebut harus dikurung di kamarnya sendiri karna kejiwaannya tergangu.

***

Bagian Kedua 
Aku terbangun, diriku di masa lalu terbangun oleh sentuhan lembut seorang wanita dewasa. Aku berniat melihatnya, melihat dia yang mengusap lembut kepalaku.

Silau, benar-benar silau wajahnya, aku tidak bisa melihat wajahnya yang terhalangi oleh cahaya yang sangat terang.

“Anggela, sudah pagi ..., mau sampai kapan kamu tidur? Kita kan mau jalan-jalan.”

Jelas wanita tersebut, dia mungkin tersenyum melihatku. Aku mengingatnya, saat itu aku benar-benar senang karena rencana jalan-jalan ini merupakan hal yang pertama bagi keluargaku.

Diriku di masa lalu lekas berlari menuju kamar mandi. Aku yang berlari sangat cepat menandakan kalau diriku saat itu sangat bersemangat.

Waktu bergerak cukup cepat hingga kami sampai di tempat tujuan. Hamparan pantai putih dengan udara dan air laut yang masih asri mulai terlihat oleh kami. Tempat ini merupakan pantai pribadi milik seseorang, mungkin teman Ayah.

Kak Keisha terlihat lebih dewasa dengan mengawasiku dan Anggelina lebih protektif. Entah dia khawatir jika terjadi sesuatu pada kami atau dia hanya khawatir dengan hubungan kami yang ditakutkan berkembang.

Aku berjalan cukup cepat menghampiri ombak yang sedang menerjang ke arahku.

DWHUSSSHHH.....

Kakiku yang dingin oleh air laut dengan hangatnya pancaran matahari membuatku saat itu merasa tenang.

Sesekali aku melihat ke belakangku, melihat adikku yang manis. Dia hanya maju mundur ketakutan mengikuti ombak. Benar-benar lucu tingkahnya, benar-benar lucu wajah khawatir yang ia perlihatkan saat itu.

“Kamu kenapa Anggelina ...?” senyum Kak Keisha yang menghampiri dirinya.

“Iya, aneh sekali ...,” aku ikut berjalan menghampiri adikku itu.

“Ap-apa Kak Anggela dan Kak Keisha tidak takut?“

“Takut?” tanyaku dan Kak Keisha bersamaan sambil melihat satu sama lain.

“Emm ...,” Anggelina menganggukkan kepalanya.

“Takut kenapa?” tanya Keisha tersenyum keheranan.

“Dengan benda itu!” Anggelina menunjuk ombak yang menghampiri dirinya.

“Tunggu ..., kenapa kamu bisa takut dengan ombak? Kamu lucu sekali Anggelina, Hahahahaha!!”

“Anggela kenapa kamu malah metertawakan adikmu sendiri?” Kak Keisha terlihat sedikit kesal.

“Habis dia lucu sekali, Kak! Masa ombak bisa membuatnya ketakutan, Hahahahaha” saat itu aku tertawa lepas sambil memegang perutku. Sedangkan Anggelina hanya terdiam sedih seakan sudah siap mengeluarkan air matanya.

“Anggela!” teriak Kak Keisha yang marah

“Iya iya Kak, maaf ....”

Kak Keisha mulai mengangkat tangannya, dia mengusap pelan kepala Anggelina. Dia tersenyum dan bertanya.

“Kenapa ombak bisa membuatmu takut, sayang?”

“Bu-bukankah ombak itu sangat menakutkan? Mereka seperti menarik kaki kita ke dalam lautan. Mereka seolah-olah sedang berusaha memisahkan kita,” jelas Anggelina sedih, wajah kesedihan yang benar-benar sangat manis menurutku.

“Hahahaha, mereka bukan mencoba memisahkan kita, sayang. Mereka hanya tertarik dengan kemanisanmu saja. Tapi ..., mereka tidak akan pernah bisa memisahkan kita, Kakak ada bersamamu,” senyum Keisha memeluk adiknya. Itu tidak aneh bagiku, Kak Keisha memang benar-benar menyayangi Anggelina. Bahkan ayah dan ibu pun sudah tahu akan hal itu.

“Bukankah munculnya pasang surut air laut dikarenakan bulan, Kak? Kenapa –“ pelanku, tapi perkataanku langsung terpotong oleh kakak tertuaku.

“Anggela ...,” geram Kak Keisha, suara pelan dengan nada yang amat dalam lah yang keluar dari mulutnya.

“Baiklah baiklah, aku akan pergi –“ jelasku dengan nada malas tapi terpotong oleh teriakan seorang penjaga pantai yang jauh dibelakang kami. Teriakannya terdengar amat keras dengan nada khawatir ketakutan.

“AWAS, TSUNAMI!!”

“Eh?” aku terkejut dan berbalik melihat orang tersebut.

“Ayah –“ Kak Keisha terlihat panik melihat orang tua kami yang berada di bibir pantai, tapi perkataanya terpotong oleh ibu kami yang berteriak sangat khawatir ketakutan.

“KEISHA ..!! BAWA ADIK-ADIKMU KESINI, CEPAT!!”

“Iya Mah!!” Kak Keisha terlihat panik sambil berlari ke arahku. Dia berlari cukup cepat sambil menarik Anggelina yang mulai menangis ketakutan.

Saat Kak Keisha berlari ke arahku, aku melihat ombak yang begitu besar di belakangnya .... Enam –tidak, mungkin sekitar delapan meter tinggi ombak itu. Aku tidak bisa menggerakkan badanku, badanku benar-benar terasa lemas saat itu.

“Anggela cepat!!” Kak Keisha menarik tanganku, dia menarik kami berdua ke bibir pantai. Ketika Anggelina menangis ketakutan, aku hanya terdiam sambil melihat ombak yang sangat besar itu. Aku sempat berpikir jika saat itu lah akhir dari hidupku, tapi ....

Tundra mode: Ice Age ...!!”

WUSHHHH!!!!!! JWUBBBBB!!

Seketika ombak berhenti, lautan berubah menjadi dataran es yang sangat luas setelah kami mencapai bibir pantai. Kulihat ibu kami terduduk dekat bibir pantai, dia menyentuh air laut yang berada di dekatnya.

Tunggu dulu, dia menghentikan bencana alam? Apa manusia benar-benar bisa melakukan hal seperti itu?

Kak Keisha, aku, dan Anggelina dibawa oleh ayah kami menuju f-car. F-car yang cukup mewah berwarna putih. Dia memasukan kami ke dalam f-car dan berkata.

“Ayah akan pergi menyusul Ibu kalian, dia tidak bisa menahan ombak itu lebih lama lagi. Jadi kalian pergilah duluan, kami akan menyusul.”

“Tidak Papah! Aku ingin bersama Mamah!“ Anggelina menangis kencang dan ketakutan.

“Iya kenapa kalian tidak ikut saja bersama kami!” Kak Keisha ikut menangis menatap ayah kami.

“Tenang saja ..., aku akan menyusul kalian nanti,” jelas Ayah kami, dia tersenyum saat itu. Aku mengingatnya dengan jelas meski tidak mengingat wajahnya.

Setelah itu kami pergi meninggalkan orang tua kami dengan flying car. Lalu setelah cukup jauh dari bibir pantai, tiba-tiba dataran es yang dibuat oleh ibu kami seketika hancur, dan tsunami yang sebelumnya terhentikan kembali datang dengan sangat ganas.

Seketika sebagain daratan langsung tersapu bersih oleh tsunami itu, termasuk tempat Ayah dan Ibuku. Kak Keisha menangis histeris melihat kejadian tersebut, sedangkan Anggelina langsung pingsan karena terguncang.

Aku hanya terdiam menatap dinding f-car, aku yakin kalau tatapanku saat itu kosong. Aku mungkin terlihat kuat saat itu, tapi aku tau kalau hatiku saat itu pasti hancur karena insiden itu, mungkin itu juga alasan hingga aku bisa melupakan wajah orang tua kami.


Beberapa hari setelahnya, kakek angkat kami datang. Dia masuk ke rumah kami dan memasang wajah sedih pada kami bertiga.

“Ikutlah dengan Kakek ... Keisha, Anggela, Anggelina ...”

“Tidak kek, aku titip Anggela dan Anggelina saja. Tolong rawat mereka berdua, aku sudah cukup besar untuk hidup sendir –“

“Keisha ..!! Kamu ini masih berumur 10 tahun! Mana mungkin kamu –“

“Aku juga tetap tinggal kek! Aku tidak akan meninggalkan Kak Keisha dan rumah ini!” jelasku saat itu.

“Aku tau pola pikirmu sangat dewasa Anggela, tapi bagaimanapun kalian ini masih anak-anak! Lihat ..., Anggelina saja bisa seperti itu! Apa kalian tidak sedih!?” jelas kakek sambil melihat Anggelina yang duduk di kursi sofa, tatapannya masih kosong seolah dia masih belum mempercayai kematian orang tua kami.

“Tolong titip Anggelina ....” jelas Kak Keisha melirik sedih dirikku.

“Iya, tak apa aku berpisah dengannya selama sementara,” jelasku saat itu.

Aku ingin menghentikannya, menghentikan kakek yang membawa pergi Anggelina. Tapi tubuhku tidak dapat kugerakkan, tubuhku benar-benar tidak mau bergerak!! Ayo bergerak Anggela!! Jangan biarkan dia membawanya.

Aku mencoba menggerakkan tubuhku sekuat tenaga, tapi tetap percuma saja, ini hanya sebuah ingatan masa lalu, hanya sebuah ingatan tentang kilas balik perpisahanku dengan Anggelina.

Aku ingin berteriak memanggil namanya, memangil adikku, cinta pertamaku itu, tapi ....

“ANGGELINAAAA!”

Aku terbangun, sebuah mimpi!? Apa semua itu hanya mimpi?

Tentu saja ..., bodohnya diriku. Aku hanya memegang kepalaku yang masih terasa pusing, mulai melihat seisi ruangan yang tidak aku kenal.

“Dimana aku?”

Aku bergumam sendiri, mencari tahu keberadaanku. Saat aku ingin turun dari kasur dan mencari seseorang, tiba-tiba ....

DUAAARRR!!!! WUINGGG!!!

Pintu yang tepat berada di samping kananku dihancurkan dengan seorang gadis melayang melewati wajahku. Tubuhnya benar-benar hampir mengenaiku, aku hanya terdiam terkejut melihat kejadian yang sangat singkat tersebut.

DUAAKKK!!!!

Dia terbentur sangat keras pada dinding, dia memasang wajah yang menderita kesakitan.

“Hey hey ..., apa guild Euthopia memang selemah ini?”

“Entahlah, dari tadi kita hanya melawan Kineser tingkat 1 saja ..., benar-benar membosankan!”

Terlihat beberapa orang memasuki ruangan, mereka berjalan pelan melewati pintu yang dihancurkan dengan mudah.

“Ka-kau sudah sadar ...? Syu-syukurlah ..., sekarang, ce-cepat pergi dari sini! Jangan biarkan usaha Master kami sia-sia!” jelas gadis tersebut, tubuhnya benar-benar dipenuhi oleh luka yang cukup parah. Darah merah benar-benar terlihat mengerikan disekujur tubuhnya.

“Begitu ..., jadi kamu dan kelompokmu lah yang sudah menolongku ...,” senyumku lalu berdiri dan berbalik menghadap orang-orang yang menyerang gadis tersebut.

“Tung-tunggu dulu apa kau mau melawan mereka?!! Mereka dari guild Lonelybird! Ka-kamu pasti akan –“

BOOM!!! Shhh ....

Railgun ...,” senyumku sambil menembakkan sebuah railgun ke salah satu orang-orang tersebut, tembakannya sengaja aku buat meleset agar mereka berpikir dua kali untuk melawanku.

Mereka hanya terdiam seperti patung, wajahnya benar-benar terlihat terkejut ketakutan.

“Ap-apa it-itu?” tanya gadis tersebut memasang wajah yang sangat terkejut, dia mulai berdiri dengan kaki yang bergemetar.

“Hanya tembakan kecil ...,” senyumku memejamkan mata.

“Te-temmbakan kecil?! Tembakan kecil apanya –“

“Ummm, nona? Bisakah aku membalas budi padamu dan kelompokmu?” senyumku menolehkan kepala melihat gadis tersebut.

Terlihat wajah yang cukup cantik dengan rambut hitam terurai panjang, warna bola matanya pun benar-benar berwarna hitam seperti rambutnya. Dia memasang wajah yang terkejut ketakutan melihatku, dia memasang wajah yang sangat penasaran tentang diriku.

“Si-siapa sebenarnya kau?”

“Aku ...? Hanya seorang lelaki yang ingin membalas budi ....” senyumku memejamkan mata.

***

My Dearest Jilid 2 Chapter VI Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.