11 Januari 2016

My Dearest Jilid 2 Chapter V




MY DEAREST
JILID 2 CHAPTER V
SENYUMAN, TANGISAN, DAN PERMINTAAN TERAKHIR

Bagian Pertama
Savila bergerak cepat memutari Anggelina, dia menyiapkan sembilan bola api biru disekelilingnya.

Sedangkan Anggelina hanya berdiam diri melirik Savila dengan tatapan tajam, tangan kirinya terlihat ia angkat ke arah kakaknya yang tak sadarkan diri. Gadis berambut putih itu terlihat sedang membuat benteng es yang sangat kuat di sekitar tubuh Kakaknya.

Nine Tails Flame Fox!” geram Savila menembakan sembilan bola api itu ke arah Anggelina.

Saat dipertengahan jalan menuju Anggelina, sembilan bola api tersebut berubah menjadi sembilan rubah api yang sangat panas dan ganas.

Mereka berlari sangat cepat menuju Anggelina. Melihat hal itu, Anggelina hanya terdiam dan mengangkat perisai Aegisnya ke depan. Perisai besar itu terlihat sudah siap melindungi dirinya.

Dalam sekejap, serangan Savila menghilang tak berbekas saat menyentuh perisai Aegis miliknya. Seolah-olah serangan tersebut terhisap oleh perisai legenda tersebut.

“Ehh ..., ap-apa yang terjadi!?” Savila sangat terkejut melihat kejadian tersebut, wajahnya terlihat sedikit ketakutan menatap perisai Anggelina yang menyerap kemampuannya.

Anggelina mulai duduk jongkok menyentuh dataran esnya. Dalam kurun waktu yang cukup cepat muncul lah puluhan es tajam yang berwarna ungu kehitaman merambat cepat ke arah Savila.

Chill breeze ....” 

Savila bergerak cepat berusaha menghindari serangannya. Wajahnya menggambarkan  kalau dirinya sedang terdesak.

Tapi sayang, es Anggelina terlalu cepat dengan jangkauan yang sangat luas. Dalam sekejap tubuh Savila terkena puluhan bahkan ratusan tusukan es dari Anggelina.

Meski es tersebut hanya menembus tubuh Savila, Savila malah memasang wajah yang semakin khawatir. Dia berusaha menghindari es tersebut dengan menguraikan tubuhnya kembali, akan tapi.

Anggelina telah berada diatasnya, melayang jatuh sambil membawa perisai raksasanya. Dia mengangkat perisainya ke arah Savila. Perisai besar tersebut sudah siap menimpa tubuh Savila yang sedang terurai menjadi api.

Se-serangan fisik?!!” Savila telihat sangat ketakutan dalam batinnya.

“Sudah kuduga!! Elementer sepertimu sangat lemah terhadap kontak fisik!”

“Sial –“ Savila sungguh berteriak ketakutan.

BUUUUAAARRRRKKKK!!!!!!

Terdengar benturan yang sangat keras karena kejadian tersebut, tubuh Savila benar-benar tertimpa oleh perisai besar tersebut..

“AKKHHH!!!” teriaknya merintih kesakitan.

“....”
  
“Apa kamu pernah merasakan seranganmu sendiri?” tanya Anggelina tersenyum bahagia. Senyuman yang bagi Savila terlihat sangat mengerikan.

“Eh?” Savila hanya terdiam terkejut saat Anggelina berkata seperti itu.

“Ja-jangan katakan? –“ lanjutnya sangat ketakutan.

Release!!” teriak Anggelina, lalu munculah beberapa ledakan beturut-turut dibalik perisainya.

JLEEEGARRRR!!! BWAAARRAR!!! BUAWAARRRRR!!BWARARRRRR!!!

Ledakan tersebut cukup besar dan dahsyat hingga membuat tanah bergemetar. Ledakan yang datang dari balik perisai Anggelina, ledakan yang langsung mengarah ke arah Savila yang masih tertimpa.

Setelah ledakan dashyat itu, Anggelina melompat mundur beberapa meter dari tempat sebelumnya, dia mulai memegang kepalanya, menutup sebelah matanya sambil menundukan kepalanya. Wajahnya terlihat kesakitan.

Savila hanya terus terlentang di tanah dan menghadap langit yang mulai berubah warna. Sekujur tubuhnya dipenuhi luka bakar yang sangat hebat, beberapa tulang dalam tubuhnya sudah dipastikan hancur karena serangan tersebut.

Wajahnya melukiskan kalau dirinya sudah diambang batas. Dirinya seakan-akan sudah siap untuk pergi meninggalkan dunia ini.

“De-dengan ini berakhir ...,” Anggelina terus memegang kepalanya, matanya secara perlahan kembali terlihat normal.

Dia melepaskan pegangan dari perisai raksasanya, mulai terdengar suara benturan perisai dengan dataran esnya yang cukup keras.

DUUAANNG!!

Tapi tiba-tiba Savila bangkit kembali, meski tubuhnya sudah hancur, kesadarannya masih tetap ada. Dia menggunakan kemampuan Pyrokinesis-nya dan membuat tubuhnya seperti elemen api.

Dia melayang di udara dan menatap tajam Anggelina, tatapanya sangat tajam seakan-akan dia sangat murka pada Anggelina.

“Ka-kau masih ingin bertarung? Meski tubuhnmu sudah hancur seperti itu?!!” Anggelina terus memegang kepalanya seolah sedang mempertahankan kesadarannya.

“Sampai nyawaku menghilang ..., aku tidak akan pernah menyerah, tidak akan pernah berhenti untuk mengambil nyawamu!!” teriak Savila amat murka.

“Begitu ..., kali ini aku benar-benar harus membunuhmu!” Anggelina terlihat marah, matanya kembali berwarna hitam. Secara perlahan dia mengangkat kembali perisai Aegis-nya yang sangat besar.

Giant Fiery Shuriken!!” teriak Savila lalu memembuat sebuah shuriken api biru yang cukup besar. Dia melemparkan shuriken tersebut ke arah Anggelina.

Anggelina kembali mengangkat perisai besarnya dan menahan serangan Savila tersebut. Seperti serangan sebelumnya, shuriken api milik Savila kembali terhisap oleh perisai Aegis Anggelina.

Setelah itu Anggelina mengangkat tangan kirinya ke arah Savila, wajahnya terlihat marah sambil berkonsentrasi mengeluarkan skillnya.

Thousands of Ice Spikes ...,” geramnya sambil memejamkan mata untuk sesaat.

Dalam sekejap dataran es milik Anggelina mulai bereaksi dan muncul ribuan paku es yang bergerak sangat cepat ke arah Savila. Tubuh Savila seketika tertembus oleh ribuan paku es tersebut, dia kesulitan berubah menjadi elemen api karena perbedaan suhu yang sangat tinggi.

Anggelina mendorong tubuhnya sendiri dengan menggunakan tiang es yang dia buat di atas pijakannya. Dia mendorong tubuhnya ke arah Savila cukup cepat. Lalu setelah itu dia menampar pipi savila dengan tangan kanannya.

PLAKKKK!!!

“Aku sudah tau kelemahanmu ..., Elementer dalam tubuhmu tidak akan aktif lagi jika mendapatkan serangan fisik seperti ini, kan?” senyum sombong dari Anggelina.

“Ib-iblis!!” geram Savila sungguh menatap tajam Anggelina, aura kemurkaan benar-benar keluar darinya.

Dia menendang perut Savila dan mendapatkan lompatan cukup jauh ke belakang. Anggelina kembali berpijak di dataran esnya dan melihat kembali tubuh Savila yang sudah menjadi normal.

Darah merah benar-benar mengalir melewati paku es yang Anggelina buat, seluruh tubuh Savila benar-benar terlihat mengerikan karena mendapatkan tusukan ribuan paku es milik Anggelina.

Anggelina hanya bisa tersenyum lalu melepaskan perisai Aegis-nya ke dataran esnya.

DUANG!!!

Dia kembali jongkok dan menempelkan kedua tangannya pada dataran esnya. Gadis berambut putih itu mulai tersenyum sedih sambil berkata.

“Ini adalah akhirnya.”

“Uhuk uhuk uhuk!!” Savila terlihat kesakitan dan mengeluarkan batuk darah. Tubuhnya terlihat sedang di pasung oleh ribuah paku es milik Anggelina.

Iceberg!!!” teriak Anggelina, lalu terdengar suara angin yang cukup kencang. Angin tersebut berkumpul ditempat yang sama, yakni di atas kepala Savila.

Lalu terlihatlah sebuah bongkahan es yang maha besar di atas Savila, bongkahan es yang hampir mirip seperti gunung kecil dan siap menimpa gadis yang sudah sekarat itu.

Apa ini akhirnya ...?” Savila bergumam kesakitan dalam hati, dia memejamkan matanya, menangis karena ketidakberdayaannya.

“Rasakan itu!!” teriak Anggelina sangat kesal.

Bersamaan dengan teriakannya tersebut, bongkahan esnya mulai jatuh sangat cepat ke arah Savila. Mustahil bagi Savila untuk bisa bertahan hidup setelah mendapatkan serangan seperti itu, apalagi tubuh Savila benar-benar sudah berantakan.

Tanpa mendapatkan serangan itu juga dia sudah dapat dipastikan akan mati karena kehilangan darah yang sangat banyak.

Tapi takdir berkata lain, bongkahan es milik Anggelina dihancurkan oleh tombak kristal yang sangat besar. Tombak itu melayang jatuh dari atas menghancurkan bongkahan es Anggelina secara vertikal.

BUARKGHHH!!!!

Setelah menghancurkan bongkahan es tersebut, tombak kristal tersebut bergerak cepat ke arah Anggelina yang sedang lengah.

WUSHHHH!!! SLASHH!!

Anggelina menghindari serangan tersebut dengan tidak sempurna, alhasil sebagian perutnya terkena serangan tombak tersebut dan mengeluarkan darah yang cukup banyak.

“Si-siapa?” tanya Anggelina kesakitan sambil melihat ke atas. Darah merah mulai mengucur dari perutnya.

Dari atas bangunan kosong tersebut, terlihat seorang gadis melompat jatuh ke arah Anggelina dan Savila.

Dia mendarat dengan cara memperlambat gravitasi bumi, dia menggunakan ekornya yang terbuat dari kristal untuk membuat gravitasi bumi menjadi lambat.

Delapan ekornya yang sangat panjang jatuh terlebih dahulu menyentuh tanah, dan membuat sang penggunanya tidak mendapatkan benturan sedikitpun. Bagaikan sebuah trampolin yang sangat aneh.

Terlihat rupa dari gadis tersebut, rambut pendek dengan warna merah cerah dengan mata ruby yang cukup besar. Dia terlihat sangat marah menatap tajam Anggelina.

“Si-siapa kau ...?” Anggelina terlihat kesakitan sambil mulai memegang perutnya.

“Sudah kuduga kalau situasinya akan seperti ini! Aku akan ikut membantumu, Kak!!” teriak gadis tersebut melirik Savila yang sekarat.

Savila membuka matanya secara perlahan, mulai melihat gadis tersebut dan betapa terkejutnya dirinya.

“Sac-Sacca ...?! Ke-kenapa ka-kau –“ Savila terlihat sangat terkejut khawatir, perkataannya terpotong karena dia mengeluarkan batuk darah.

“Uhuk!!”

“Kakak!!” Sacca terlihat sangat khawatir melihat kakaknya, dia memotong ribuan paku es Anggelina dengan sangat mudah dengan ekor kristalnya.

“Mengerikannya ...!! Sesuai dengan julukanmu, hatimu sangat dingin!!” geram sangat kesal Sacca sambil memeluk kakaknya, dia benar-benar melirik tajam pada Anggelina.

“Sac-Sacca ce-cepat pergi dari sini!“ khawatir Savila yang terlihat menyedihkan. Dalam kondisinya seperti itu, dia masih memikirkan nyawa adiknya yang sedang terancam.

“Tenang saja Kak, aku akan memberikan waktu untuk Kakak. Sekarang Kakak beristirahat saja,” Sacca terlihat khawatir lalu menyandarkan tubuh Savila pada tembok bangunan.

“Di-dia berbeda dengan musuh yang kita lawan sebelum-sebelumnya, Sacca!! Dia –“

“Aku tau, paling tidak aku bisa bertahan sampai Ayah dan para dewan sampai ke sini,” senyum sedih sang adik.

“Haah? Apa mereka akan dat –“

“Ya ..., Ayah dan para kineser terkuat dari ras kita akan datang ke sini! Ayah bukan tidak percaya pada kekuatan Kakak, tapi dia sangat khawatir padamu. Dia sudah tau, kalau akan sangat mustahil bagimu untuk mengalahkan Keina.”

“Ay-ayah ...,” Savila tersenyum mengeluarkan air matanya.

“Kakak istirahat saja. Biar aku saja yang akan melawannya sekarang!!” teriak Sacca melihat Anggelina yang kesakitan memegang perutnya. Anggelina secara perlahan membekukan luka dalam perutnya agar darah dalam tubuhnya tidak terus keluar.


***

Bagian Kedua 
Sacca menembakkan delapan belas jarum kristal ke arah Anggelina, dia menggunakan skill Needles Crystal.

Sambil memegang perutnya yang terluka, Anggelina mengangkat tangan kanannya yang memegang perisai Aegis. Dia kembali melindungi dirinya dengan perisai besar tersebut.

SYUUT!! SYUTT!!

Serangan Sacca tersebut dengan seketika terhisap seperti halnya serangan kakaknya. Sacca yang melihat hal tersebut langsung terkejut dan mundur beberapa langkah,

“Ke-kenapa?”

Needles Ice!” teriak Anggelina dibalik perisainya, secara perlahan muncul lah 20 jarum es yang melayang disekitar Anggelina. Jarum es amat tajam yang sudah siap menghancurkan musuhnya.

“Hoooo peniru, kah?” senyum Sacca terlihat khawatir.

Anggelina yang mendengar pernyataan Sacca mulai keluar dari balik perisainya, dia tersenyum dan berkata.

“Benarkah ..., Release!!”

Dibalik perisainya tiba-tiba muncul delapan belas jarum kristal. Ya, itu adalah serangan yang dikeluarkan Sacca sebelumnya. Semua jarum es dan jarum kristal serentak bergerak  ke arah Sacca.

“Ke-keparat ...!” geram Sacca lalu memutar tubuhnya untuk melindungi diri. Karena putarannya yang sangat cepat, semua serangan Anggelina di pantulkan oleh delapan ekor kristalnya.

“Hooo ..., lalu bagaimana dengan ini?!” geram Anggelina lalu membuat tiga tombak es di sekitarnya. Dia menembakkan tiga tombak es besar itu ke arah Sacca.

Sacca terdiam lalu memalingkan tubuhnya, dia melirik sinis Anggela dan berkata.

“Aku memang bukan Elementer, tapi jangan remehkan aku!!”

Bersamaan dengan teriakannya tersebut, tombak es besar milik Anggelina dipotong dengan mudah oleh tiga ekor kristalnya. Setelah itu Sacca berlari ke arah Anggelina.

Anggelina mulai bersiaga menatap gadis bermata ruby itu.

Sambil terus berlari, Sacca juga menyiapkan dua buah pedang kristal di tangan kanan dan kirinya.

Anggelina berjalan mundur dengan wajah serius untuk bertahan. Dia mulai mengangkat perisainya ke depan dan berharap dapat melindungi dirinya dari serangan Sacca.

Tapi sayang, Sacca malah melompati perisai Anggelina. Dia mendarat dibelakang Anggelina dengan sempurna. Adik Savila itu mulai menebas punggung Anggelina sebanyak dua kali hingga terlihat luka yang berbentuk tanda silang.

SYATT!! SYATTT!!

Anggelina memasang wajah kesakitan. Dia berbalik cukup cepat dan menggerakkan darahnya sendiri. Dirinya membuat tombak tajam dari darah yang ia bekukan.

Dia menusuk perut Sacca dengan sangat cepat.

JLEB!!

“Akhh ...,” Sacca terlihat kesakitan, darah merah mulai membasahi bajunya. Pandangannya mulai kabur dengan ekspresi kemarahan masih terlihat jelas dari wajahnya.

“Mati kau!!!” teriak Anggelina lalu melepaskan perisainya, dan menyentuh tanah esnya.

Ratusan paku es merambat sangat cepat ke arah Sacca, tidak ada waktu bagi Sacca untuk menghindari serangan tersebut. Tubuhnya terlalu lemah karena serangan sebelumnya, tapi.

Tiba-tiba muncul sebuah gerbang dimensi dihadapan Sacca, otomatis ratusan paku tersebut menjadi berpindah dimensi dan tidak mengenai Sacca.

Anggelina terlihat khawatir lalu lekas mengambil perisainya, dia segera berbalik ke belakang dan menahan ratusan paku esnya. Ya, serangan paku es milik Anggelina dipindahkan ke arah belakang Anggelina.

Ha-hampir ...,” Anggelina terlihat khawatir ketakutan.

“Ka-Kak Smith!!” Sacca menangis bahagia. Dia berteriak pada seseorang yang berada di belakang Anggelina.

Terlihat seorang lelaki berambut coklat dengan warna mata merah muda, dia berjalan pelan menuju Savila yang tidak sadarkan diri.

“Mengerikan ...,” khawatir Smith memandang sedih Savila yang terluka parah.

Si-siapa lagi?” Anggelina dalam batinnya, pandangannya benar-benar sudah terlihat lelah baik karena luka yang dia terima maupun karena kehabisan tenaga.

“Keina ...!” geram Smith menatap tajam Anggelina.

“Si-siapa lagi kau?! Kenapa –“

“Hooo jadi itu yah sang iblis?!”

“Jadi dia sang hati dingin yang membantai keluarga Skyline ...,” geram beberapa orang bermunculan hingga mengelilingi Anggelina.

Mereka semua memasang wajah yang sama, wajah kekesalan, wajah kemurkaan pada Anggelina.

Se-sebenarnya apa salahku?! “ Anggelina terlihat ingin menangis sambil memandang orang-orang yang mengengelilinginya.

“Baiklah ..., saatnya pengekesekusian ...!! Smith, kamu sudah menggunakan sihir penghalang di daerah sekitar?” tanya seorang lelaki tua berjalan menghampiri Anggelina.

“Sudah ..., aku sudah melakukanny –“

“Ay-ayah, berhati-hatilah!!” teriak Savila dengan pandangan buram.

“Savila? Kamu sudah sadar?!” Smith terlihat terkejut melihat Savila.

“Y-ya, ak-aku –“

“Sudah jangan banyak bicara dulu, biar aku sembuhkan lukamu itu ...,” seorang gadis berambut hitam berjalan pelan menuju Savila, dia muncul dibalik lelaki yang dipanggil Ayah oleh Savila dan Sacca.

Ke-kenapa dengan mereka? Apa aku benar-benar sudah membuat masalah yang sangat besar?! Aku harus mundur, dan memprioritaskan keselamatan Kakak ...,” Anggelina dalam batinnya, wajahnya benar-benar terlihat khawatir.

Anggelina seketika berlari menghampiri benjolan es, tempat kakaknya berlindung. Dia berniat melarikan diri karena tau jika dirinya tidak akan menang melawan mereka sekaligus, tapi.

“Jangan biarkan dia kabur!!” teriak Smith sangat kesal.

Tho-Thousands Crystal Sword!!!” teriak sangat kesal Sacca dengan darah merah mulai keluar dari mulutnya.

Bersama teriakannya muncul lah ratusan bahkan ribuan pedang kristal disekitarnya. Seluruh pedang tersebut bergerak amat cepat ke arah Anggelina.

Anggelina lekas mengangkat perisainya besarnya, dia beniat melindungi dirinya kembali dengan perisai Aegisnya.

Tapi tiba-tiba ....

JLEB..JLEB..JLEB...JLEB!!

Ratusan bahkan ribuan pedang tersebut menusuk punggungnya, arah serangan Sacca berpindah menjadi ke belakang Anggelina dengan dimensi yang dibuat oleh Smith.

Seluruh belakang tubuhnya tertusuk oleh ratusan pedang tersebut, sisa dari pedang tersebut menancap pada belakang perisai Aegisnya.

Anggelina memalingkan wajahnya secara perlahan, wajahnya benar-benar terlihat terkejut dengan darah mulai menetes dari mulutnya.

“Eh ...?”

“Jangan lupakan aku, bodoh!!” teriak kesal Smith merendahkan Anggelina.

Anggelina terjatuh ke depan, perisai Aegisnya pun terjatuh dan akhirnya menghilang. Wajahnya menggambarkan kalau ajalnya sudah mendekati dirinya.

Ke-kenapa ini bisa terjadi?! Apa kesalahanku?!”

“Apa dia mati?” tanya Sacca terlihat khawatir.

“Masih belum, dia –“  khawatir gadis berambut hitam sambil mengobati Savila. Perkataanya terhentikan oleh teriakan Anggelina.

Blizzard!!!” teriak Anggelina menggunakan skill terkuatnya, dia melayang di udara. Seketika suhu udara menjadi sangat dingin. Anggelina berniat mendatangkan badai es pada kota tersebut, badai es yang sangat tajam dan menyakitkan.

Bli-Blizzard?! Apa dia mau menggunakan skill cyrcokinesis yang mengerikan itu?!” Sacca bergemetar ketakutan.

“Apa yang harus kita lakukan, Alex?!” tanya khawatir Smith pada Ayah Savila dan Sacca.

“Tak akan kubiarkan!! Judgement Fairy!!” teriak Alex menempelkan kedua tangannya. Dia menggerakkan beberapa besi yang berada di dalam bangunan kosong tersebut, besi tersebut meluncur cepat ke arah Anggelina, tapi sayang besi tersebut malah terpental karena pelindung es milik Anggelina.

“Sial –“ Alex terlihat khawatir menatap tajam Anggelina yang terus melayang ke atas. Suhu disekitarnya mulai menurun secara signifikan.

“Biar aku bantu ayah ...!! Ancient Skill: Purgation Ancient Flame!!” teriak Savila berubah kembali menjadi mode terkuatnya, dia memaksakan tubuhnya yang benar-benar sudah berantakan.

“Tunggu Savila!! Tubuhmu belum sepenuhnya –“

“Tak apa!! Demi balas dendam keluarga Skyline, akan kulakukan apapun!! MESKI AKU HARUS MATI!!!”

Blue Dragon Flame!!!” teriak Savila menembakan bola api yang maha besar ke arah Anggelina, bola api tersebut seketika berubah menjadi naga ganas yang siap membakar apapun di depannya.

BUAAARSHHHH!!!!

Pertahanan es milik Anggelina dihancurkan oleh serangan Savila tersebut, Anggelina hanya terdiam terkejut tidak percaya, dia menangis melirik pertahanannya yang hancur.

Eh ...!?”

“SEKARANG AYAH......!!!” teriak Savila sangat keras menundukkan kepala.

Judgement Fairy!!!” Alex mengeluarkan skill sebelumnya. Wajahnya sungguh terlihat kesal menatap Anggelina.

Beberapa besi tersebut melesat cepat ke arah Anggelina. Salah satunya menusuk dadanya, lalu besi yang lainnya membentuk sebuah lambang salib yang cukup besar di belakang Anggelina.

“Sacca!!!” teriak Alex sangat kesal.

“Aku tau ayah!!” Sacca mengangkat tangan kanannya yang bergemetar ke arah Anggelina. Dia mengeluarkan dua paku sangat tajam yang terbuat dari kristal ke arah Anggelina.

Masing-masing paku tersebut bergerak ke telapak tangan kanan dan kiri Anggelina. Maka terlihatlah Anggelina yang sedang dipasung oleh mereka, Anggelina terlihat akan di eksekusi oleh mereka.

Anggelina membuka matanya yang sangat berat, pandangannya terlihat lemah melihat orang-orang disekitarnya.

Di-dimana ak-aku?”

“Kita langsung penggal saja kepalanya!!”

“Tidak ..., kita langsung bakar saja Keina ini!!”

Keina? Ohh iya ..., aku telah melawan orang-orang ini. Mereka sedang mengejarku karena wajahku yang sangat mirip dengan gadis bernama Keina –“

“Tunggu dulu!! Wajahku sangat mirip dengannya?! Mungkinkah Keina itu –“ Anggelina bergumam terkejut dalam hatinya.

“Sekarang rasakan hukumannya, Keina!! Kamu harus mendapatkan pembalasan dari ras kami!!”

Aaahhh ..., jadi begitu .... Jadi gadis yang mereka cari adalah mamah. Sayang sekali, beberapa hari yang lalu aku sangat senang karena akhirnya dapat melihatnya .... Tapi sepertinya memang tidak mungkin yah? Pada akhirnya aku tidak bisa melihat dirinya.”Anggelina memejamkan matanya, dia mulai mengeluarkan air mata kesedihan.

“Keina!! Apa kau menyesali perbuatanmu itu?!”

 “Aku juga mulai mengingat beberapa kenangan dengannya. Saat aku kecil, dia selalu membacakan buku cerita untukku, meski aku melupakan wajahnya, aku yakin kalau dia adalah mamah. Kenapa aku harus mengingatnya sekarang, mengingatnya saat ajalku akan menjemputku?!” Anggelina terus menitiskan air matanya, bukan tangisan kesakitan tapi tangisan penyesalan yang amat dalam.

Di-dia menangis? Ti-tidak mungkin!!” Alex terkejut dalam hati melihat Anggelina yang menangis.

“Karena kamu menyesali perbuatanmu, kami akan mengabulkan permintaanmu yang terakhir,” Smith tersenyum sombong pada Anggelina yang menangis.

“Ak-aku uhuk ..., punya permintaan ...,” Anggelina, nada bicaranya terbata-bata karena batuk darah.

“Apa itu? Cepat katakan!”

“Ak-aku memang Keina yang kalian cari ... jadi – uhuk ... jika kalian bertemu dengan aku yang lainnya, maksudku seseorang yang sangat mirip dengan wajahku. Bi-bisakah kalian melepaskannya? Melepaskan mamah –, maksudku gadis itu ..., dia adalah anakku yang berasa – ... hah hah, berasal dari masa depan ...,” Anggelina nada bicaranya mulai melemah, pandangannya terlihat sangat lemah. Tapi meski begitu dia mulai tersenyum tulus, tersenyum mengeluarkan air mata yang sangat banyak.

Tung-tunggu dulu!!! Dia tersenyum?! Mustahil !! Seharusnya dia tidak akan pernah menunjukan ekspresi itu lagi, hatinya seharusnya sudah hancur setelah kepergian adiknya!!” Alex benar-benar terkejut melihat rekasi Anggelina

“Baiklah, kami tidak akan melakukannya!! Lagipula kamu hanya membual, kan? –“

“Tidak aku se-serius ...! Uhuk uhuk ..., ak-aku mohon .... Dan juga tolong lepaskan Anggela, Savila. Dia tidak ada hubungannya dengan ini ...,” lirik Anggelina melihat Savila yang dibantu berdiri oleh gadis berambut hitam.

Savila hanya terdiam menatap tajam Anggelina, dia sudah menyiapkan tombak api biru dibelakang tubuhnya.

“Bi-bisa aku membakarnnya sekarang?!” tanya Savila sambil menatap tajam Anggelina.

“Bakar saja!!” teriak beberapa orang yang lainnya.

“Baiklah, apa kamu sudah menyiapkan teleportnya Kak Smith?”

“Ya ..., setelah tombak itu menembus perutnya, tombakmu itu akan meledak dashyat, kan? Bernar-benar skill yang mengerikan.”

“Ba-bagus kalau begitu,” senyum Savila yang masih mempertahankan kesadarannya.

“Tunggu Savila –“Alex terlihat sangat khawatir mencoba menghentikan putrinya, tapi sudah terlambat .... tombak api tersebut sudah melesat dan menancap pada perut Anggelina. Anggelina hanya bisa berteriak kesakitan, dia mengeluarkan batuk darah semakin parah.

“AKKKHHH ...!! Uhuk uhuk! Hah hah hah ....”

“Baiklah kita berteleport sekarang, kita akan meninggalkan Keina dan pengawalnnya.“ Smith langsung melakukan teleport pada semua teman-temannya, termasuk Savila, Alex, dan Sacca.

Beberapa detik sebelum ledakan terjadi, Anggelina hanya menundukan kepalanya menangis ketakutan. Dia mulai menggerakkan jemarinya yang manis ke arah benjolan es, tempat kakaknya yang bersembunyi.

Ma-maaf Kak ..., paling tidak aku bisa melindungimu untuk terakhir kalinya. Lagipula kematianku tidak sia-sia, kan? Meski aku tidak bisa bertemu dengannya, memeluk dirinya, mendapatkan kasih sayang darinya lagi. Aku sudah bisa membebaskan Mamah dari orang-orang berbahaya itu ..., aku anak yang baik kan, Kak?!” Anggelina terus menangis, lalu dataran es disekitarnya bergerak dan berkumpul pada benjolan tersebut. Anggelina seolah-olah membuat benteng es yang tak tertembus untuk Kakaknya.

Ces.... ces..... cess....

Tombak api milik Savila mulai menunjukan tanda-tanda ledakan. Anggelina terkejut melihat tanda-tanda tersebut, dia menyadari kalau kematiannya sudah datang.

Dia semakin menangis dan mulai mengutarakan permintaan terakhirnya. “Aku tidak menginginkan ini terjadi, tapi mau bagaimana lagi ..., sesungguhnya aku sangat takut, benar-benar takut! Aku ingin bertemu mereka, kedua orang tua kita. Tapi mau bagaimana lagi juga ...., ajalku sudah datang. Tolong ucapkan salam saja pada mereka berdua, yah Kak? Ucapkan kalau aku menyayangi mereka meski mereka meninggalkan kita sejak kecil ...,” senyum Anggelina, dia menjatuhkan air matanya ke tanah. Dan saat air mata itu jatuh menetes ke tanah, muncul lah sebuah ledakan api biru yang maha dasyat.

BOOOOOOMMMMMMMM!!!!! DUUUWAAAAAARRRRR!!!!

Semua orang normal tidak dapat melihat ledakan tersebut karena Smith telah melakukan sihir penghalang. Tapi tidak bagi beberapa Kineser, khususnya ras Arcdemons.

Secara kebetulan, di atas ledakan tersebut terlihat sebuah kapal Australia yang sedang melewati negara Indonesia. Di dalamnya terlihat Keina dan temannya yang berambut hijau.

Keina terdiam bergemetar melihat ledakan tersebut, tatapannya benar-benar kosong seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Kakak, kenapa?” tanya temannya yang khawatir.

“Aku turun!” geram Keina kesal, dia mulai berdiri dari tempat duduknya.

“Tunggu!! Kita tidak bisa Kak, memangnya ada apa dengan ledakan itu?!” tanya gadis tersebut sangat khawatir.

Keina menghiraukan perkataannya, dia berjalan sangat cepat menuju pintu keluar pesawat. Beberapa petugas dan pramugari sudah melarangnya, tapi dia bersikeras ingin turun. Wajahnya menggambarkan kalau dia sangat khawatir ketakutan.

Pada akhirnya Keina melompat dari kapal, temannya juga ikut menyusulnya dari belakang. Beberapa orang berteriak ketakutan akan tindakan dua gadis yang tidak normal itu. Sedangkan mereka berdua bergerak cepat ke arah ledakan api biru itu dengan gravitasi milik Keina.

Lalu beberapa menit kemudian setelah ledakan itu menghilang, terlihat Keina dan temannya yang sudah sampai di tempat kejadian, tempat pertarungan yang sangat tragis dan tidak seimbang.

Mereka berdua sampai di lapangan tempat Anggelina dan yang lainnya bertarung.

“Kak Keina, ini ...,” khawatir teman Keina mengkerutkan dahinya.

“Ya seharusnya tempat ini sudah musnah karena pertarungan.”

“Sihir ras Half-elf, kah? Sihir pembentukan yang mengembalikan segala benda yang ada di dalam sihir penghalang.”

“Benar benar menyedihkan, pertarungan mereka sangat tidak seimbang. Para petinggi ras Half-elf melawan bocah-bocah dari ras kita ...,” senyum meremehkan Keina melihat situasi sekitar.

“Ras kita? Arcdemons?!!! Kurang ajar mereka ...! Berani sekali membantai  –“

“Apa boleh buat, yang lemah akan tersingkir dari dunia ini.” Jelas Keina sambil berjalan pelan pada sebuah besi berbentuk salib, tempat Anggelina sebelumnya di eksekusi.

“Aku tau kalau bocah-bocah dari ras kita itu akan kalah, tapi bagaimana dengan kondisi merek –“

“Salah satunya mati ..., dia mati dieksekusi oleh mereka. Sungguh gadis yang malang, aku masih bisa mencium aroma kematiannya.”

“Lalu –“

“Dan yang satunya lagi sekarat, mungkin dia akan menyusul temannya. Benar-benar ironis ...,” Keina dengan nada sedikit arogan.

Di-dingin seperti biasanya, bahkan setelah dia menyaksikan pembantaian ini, dia tidak peduli..”

La-lalu kenapa kita datang kesini? Kita –“

“Entahlah, aku juga tidak tau....” Keina berbalik dan memalingkan wajahnya. Dia menyembunyikan wajahnya dari temannya.

"Ehhh!?” temannya hanya terdiam keheranan.

“Ay-ayo kita pergi ...,” Keina sedikit gugup seolah menahan tangis. Untuk sesaat dia juga melihat benjolan es tempat Anggela berlindung

“Y-ya Kakak benar, kita tidak mempunyai waktu lagi.”

Keina tidak menjawab pernyataan temannya, dia berjalan cukup cepat sambil menutup mulutnya.

Ketika temannya tidak melihat wajahnya, disaat tidak ada seorangpun yang berjalan melewat di depannya.

Terlihat wajah Keina yang amat sangat sedih, dia mulai mengeluarkan air mata yang sangat banyak. Dalam kondisi seperti itu, dia mulai bergumam kesal, marah, sedih, dan frustasi dalam hatinya.

Ap-apaa ini?!! Hatiku benar-benar sakit, aku tidak kuat berdiam cukup lama di lapangan itu!! Entah kenapa aku merasa frustasi karena kehilangan seseorang .... Sakit hati ini terasa lebih buruk saat aku kehilangan Corona ....”

Ya, untuk pertama kalinya Keina yang dijuluki hati dingin selama tiga tahun itu mulai kembali menunjukan ekspresinya, ekspresi sedih seorang ibu yang kehilangan anak kesayangannya.

Seberapa keras dia mencoba menahan tangisannya, seberapa keras dia untuk tidak bersedih, dia tetap tidak dapat membohongi perasaannya. Perasaannya benar-benar hancur dan kesedihannya malah terus dan terus semakin bertambah.

Lalu di atap bangunan kosong tersebut, terlihat seorang gadis berambut merah muda yang sedang menatap sedih Keina yang menangis. Ya, dia adalah Halsy Aeldra, dia mulai bergumam cukup sedih melirik seorang lelaki disampingnya.

“Aku tak akan meminta maaf pada siapapun, El.”

“Ya, aku tau. Ini semua demi hari yang kamu inginkan datang,” senyum sedih El mengalihkan pandangan.

“El ...,” Halsy mulai menundukkan kepala.

“Ya?”

“Jangan sampai Anggela mengetahui kabar tentang kematian adiknya ....”

“Ya aku tau itu, akan sangat merepotkan jika dia melakukan kemampuan Overrun lagi. Di masa ini tidak ada Kineser yang bisa menghapus ingatan seperti Ray dan Hanafi.”

“Bukan itu yang kutakutkan ..., kineser seperti itu tidak akan mempan lagi pada Anggela. Kali ini kesedihannya terlalu dalam untuk dia tanggung, kemungkinan besar dia akan ...,” Halsy memejamkan matanya. Dia berjalan di udara dan sebuah gerbang dimensi baru terbuka.

“Apa maksudmu?! Apa kamu ingin mengatakan kalau adiknya lebih berharga darimu?!!”El sungguh terkejut, dia menatap Halsy yang terus berjalan menuju gerbang dimensi.

Di saat El berkata seperti itu, Halsy langsung menghentikan langkahnya untuk sesaat. Setelah itu dia berjalan kembali menuju gerbang dimensi baru itu.

Empress, jawab aku!! Mustahil dia akan mencapai tahap itu!! Saat dia kehilanganmu juga, dia hanya mencapai –“

“Diamlah ...!! Kamu tidak mengetahuinya ...,” lirik Halsy, dia menatap tajam El dibelakangnya.

“Mengetahui, mengetahui apa?” El hanya berwajah khawatir.

“Kamu, bahkan semua orang di dunia ini tidak akan pernah tau betapa berharganya Anggelina bagi Anggela.”

“Eh? Ap-apa maksud perkataan it –“

“Jika saja Anggelina bukan adik kandungnya, jika saja mereka tidak memiliki ikatan saudara sedarah ..., mungkin sudah jelas kalau Anggela akan memilih dirinya daripada diriku...”


 "Eh ...?" 

***

My Dearest Jilid 2 Chapter V Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.