04 Januari 2016

My Dearest Jilid 2 Chapter IV



MY DEAREST
JILID 2 CHAPTER IV
PEMBALASAN RAS HALF ELF

Bagian Pertama
Anggelina terlihat berdiri ketakutan, kakinya benar-benar bergemetar sangat hebat. Sesekali juga dia melihat tubuh kakaknya yang terluka parah dan tidak sadarkan diri.

“Apa ini? Kenapa kamu sangat lemah?!” geram kesal Savila menatap tajam Anggelina.

“Ak-aku tidak mengerti ..., ke-kenapa kau menyerang kami?” Anggelina benar-benar menangis ketakutan.

“Aku tidak berniat menyerangnya, dia saja yang menghalangiku untuk membunuhmu,” senyum meremehkan Savila melirik Anggela.

“La-lalu kenapa kamu ingin membunuhku?!! Apa aku sudah berbuat salah padamu?!!” teriak Anggelina kepada Savila.

“Haaah?! Kamu masih bertanya seperti itu?!” geram Savila sangat marah pada Anggelina, dia mulai melangkahkan kakinya mendekati Anggelina yang ketakutan.

“Ja-jangan mendekat!” teriak Anggelina ketakutan, dia tersungkur jatuh kebelakang sambil terus menangis.

“Apa kamu sudah melupakan tindakan kejimu itu, hah?!!”

“Ti-tindakan keji?” Anggelina terlihat kebingungan sambil terus menangis.

“Ja-jangan bercanda!! Seberapa dinginnya hatimu itu sampai melupakan pembantaian yang kamu lakukan!!” teriak kesal Savila sambil menembakkan bola api ke arah kanan kepala Anggelina.

WUSSSH!!! DUUAAR!!

Bola apinya benar-benar sangat dekat dan hampir mengenai kepala Anggelina, sedangkan Anggelina hanya terdiam ketakutan sambil memejamkan matanya.

“Ak-aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan!! Aku dan kakak berasal dari masa depan, seharusnya kami tidak memiliki masalah apapun di masa ini!!” teriak Anggelina ketakutan sambil terus memejamkan matanya.

“Ma-masa depan?!!” Savila terlihat benar-benar marah, pandangannya benar-benar tajam menatap Anggelina yang ketakutan.

Di sekitar tubuh Savila juga terlihat aura merah yang sangat besar, auran yang bagaikan sebuah kobaran api yang sedang membara.

“APA KAMU MASIH BERCANDA DENGANKU, KEINA!!!” teriak Savila sangat kencang menutup matanya.

Bersamaan dengan teriakanya, kobaran api merah langsung membakar beberapa bagian tubuhnya. Mungkin lebih tepatnya api tersebut langsung muncul dari beberapa bagian tubuh Savila.

Anggelina hanya terdiam terkejut mendengar nama yang dikatakan oleh Savila, dia seperti merasakan rindu yang sangat hebat saat Savila berkata seperti itu.

“Keina?! Ak-aku Anggelina .... Anggelina Dwiputri!! Aku bukan orang yang bernama Keina!!” teriak Anggelina sedikit ketakutan, dia telah menghentikan tangisannya.

“Anggelina.....? Sampai kapan kamu mau memakai nama itu?!”

“Itu memang nama asliku!! Lagipula siapa itu Keina?! Aku ti-tidak mengenalnya ....”

“Begitu ..., jadi begitu ....” Savila terlihat lebih tenang, dia memejamkan matanya dan beberapa kobaran apinya mulai mengecil dan menghilang.

“Ka-kamu mempercayaiku ...?” Anggelina sambil berdiri dari tanah, dia terlihat bahagia saat Savila terlihat lebih tenang.

“Jadi kamu ingin melupakan masa lalumu, dan berubah menjadi orang lain?! Benar-benar sesuai dengan sifatmu, Keina ....”

“Eh?”

“KAMU BENAR-BENAR SEPERTI IBLIS!!!” teriak sangat kesal Savila, lalu dalam seketika kobaran api muncul menjadi lebih hebat dari sebelumnya.

Tubuh Savila terbakar oleh api biru yang sangat besar tersebut, mata Savila berwarna putih bagaikan cahaya yang sangat indah. Dia melayang di udara dan sudah siap menghabisi Anggelina yang terkejut ketakutan.

Ancient Skill: Purgation Ancient Flame!”

“Tung-tunggu!” Anggelina terlihat ketakutan lalu mundur beberapa langkah.

“Aku tidak akan memaafkanmu! Tidak akan, tak akan pernah mengampunimu!! Akan kubinasakan dirimu dengan membakar seluruh dosa di dalam tubuhmu itu!!” geram sangat kesal Savila, dia melayang menghampiri Anggelina yang kembali tersungkur jatuh ketakutan.

“Ku-kumohon percayalah!! Ak-aku bukan Keina yang kamu cari, aku berasal dari –“

“Meski kamu sekarang telah menjadi orang lain, kamu harus tetap mendapatkan pembalasannya!! Pembalasan dari ras kami, ras Half-elf!

Kamu sudah membuat dewa kami murka dengan membantai seluruh anggota keluarga terhormat, keluarga yang dihormati oleh semua keluarga ras Half-elf. Salah satu dari tiga keluarga bangsawan kelas S, keluarga Skyline!!

“Half-elf ...? Sk-Skyline?! Tunggu! Di masa depan ada Rin dan Ray! Mereka juga anggota keluarga Skylin –“

“Sampai kapan kamu mau bersandiwara menyedihkan seperti itu!! Diamlah dan terima saja hukuman dari ras kami!!”

Saat Savila berniat membakar Anggelina yang terdiam ketakutan, tiba-tiba datang sebuah Railgun yang menembus jantungnya Savila. Railgun tersebut benar-benar menembus tubuh Savila hingga membuat Savila dan Anggelina terkejut.

“Kakak?!” Anggelina menangis melihat kakaknya yang sudah sadarkan diri.

Anggela terlihat sangat berantakan karena serangan Savila sebelumnya, dia benar-benar mendapatkan luka bakar yang cukup serius disekujur tubuhnya.

Tapi meskipun kondisi tubuhnya seperti itu, tatapan Anggela benar-benar sangat tajam melihat Savila. Dia benar-benar terlihat marah pada Savila karena telah membuat adiknya menangis ketakutan.

“Aah?” Savila berbalik melihat Anggela. Tubuhnya yang berlubang karena serangan  Anggela tiba-tiba sembuh, lebih tepatnya serangannya tadi seperti hanya melewati tubuhnya saja yang bagaikan kobaran api.

Ak-aku berniat menggunakan Ultimate railgun, tapi kenapa yang keluar malah railgun biasa?! Apa ini cuman perasaanku saja ..., aku merasa kemampuanku benar-benar menurun drastis!”

“Kamu masih hidup ...? Seharusnya kamu berpura-pura mati saja tadi,” senyum Savila meremehkan Anggela.

“Biar aku katakan ini!! Tidak ada seorang pun yang boleh membuat Anggelina menangis seperti itu, kecuali diriku!! Jika ada orang lain yang berani malakukannya ..., akan kubunuh orang itu!!” geram sangat kesal Anggela sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Kakak ...,” senyum Anggelina menangis gembira melihat Kakaknya.

“Begitu, kah?” senyum Savila yang mengerikan, tatapannya cukup tajam menatap Anggela yang terlihat berantakan.

***

Bagian Kedua 
DUAARR!!! DUARRR!!

Anggela terlihat berusaha keras menghindari beberapa bola api biru milik Savila. Wajahnya benar-benar terlihat sangat khawatir. Beberapa tetesan darah pada kepalanya yang masih baru menandakan kalau dirinya benar-benar sudah kewalahan melawan Savila.

“Ada apa, Anggela? Bukankah kamu ingin membunuhku?!” geram kesal Savila tersenyum mengerikan.

Dia melayang kesana kemari, seperti halnya sebuah api besar yang melayang di udara. Berbanding terbalik dengan kondisi Anggela yang memprihatinkan, Savila malah terlihat segar bugar. Beberapa serangan Anggela sebelumnya benar-benar tidak berpengaruh padanya.

Photon Sword ...,” geram kesal Anggela sambil menghindari puluhan bola api Savila. Dia membentuk pedang listrik yang cukup panjang di tangan kanannya, setelah itu dia kembali menggunakan percepatan listriknya untuk bergerak ke arah belakang Savila.

Dia menebas tubuh Savila secara vertikal dari kanan ke kiri hingga tubuhnya terbelah menjadi dua. Tapi kembali lagi, serangan Anggela seperti hanya melewati tubuhnya saja, lalu setelah itu tubuh Savila menjadi terurai menjadi gumpalan api yang siap meledak.

Lagi?!!” Anggela sangat terkejut dalam hatinya. Dia menghantarkan listriknya melewati hambatan udara menuju besi di tembok bangunan. Tubuhnya tertarik menuju tembok tersebut dan Anggela terhindar kembali dari ledakan api milik Savila.

DUUUAAARRR!!!!

Dia tertarik sangat cepat menuju tembok demi menghindari ledakan yang berbahaya tersebut, tubuhnya menghantam tembok bangunan dengan cukup keras.

DUAAKK!!

Si-sial!!” geramnya memasang wajah kesakitan, luka disekujur tubuhnya menjadi bertambah karena peristiwa singkat tersebut.

“Ada apa dengan tubuhmu itu?!! Apa kau benar-benar tipe Pyrokinesis?!”

“Aku memang tipe Pyrokinesis ...,” senyum Savila melayang di atas kepala Anggela.

“Lalu ada apa dengan tubuhmu itu!! Kenapa tubuhmu sangat aneh, serangan apapun selalu saja melewati tubuhmu!!”

“Hah?” Savila terlihat heran menatap Anggela.

“Hei Anggela ..., aku pikir kamu itu sangat bodoh tapi, bisa aku bertanya sesuatu padamu?” lanjutnya bertanya penasaran.

“Ap-apa?” Anggela terlihat gugup ketakutan.

Savila yang sebelumnya berada diatas kepala Anggela tiba-tiba menghilang, dan dalam hitungan lebih dari 5 detik detik saja, dia telah berada di hadapan Anggela. Wajahnya benar-benar sangat dekat dengan Anggela, mereka bagaikan hampir ingin berciuman.

“Apa ini pertama kalinya kamu melawan Elementer?” senyum Savila yang sangat meremehkan Anggela.

El-Elementer? Ap-apa itu? Anggela terlihat sangat gugup ketakutan.

“Sudah kuduga ...,” Savila mengeluh lalu kembali menghilang dari hadapannya Anggela. Dia kembali berubah menjadi elemen api dan mundur beberapa meter dari Anggela.

“Membuang tenaga saja ...,” dia mematikan api birunya dan terlihat kembali menjadi manusia biasa.

“Tu-tunggu apa itu –“

“Aku pikir kamu sedang mempersiapkan sesuatu dan berusaha menyerangku dengan serangan yang berbahaya. Tapi ternyata begitu ..., kamu bahkan tidak tau tentang Unification.”

Eh?”

Tidak ada gunanya melanjutkan pertarungan ini. Kemampuan kita benar-benar bagaikan langit dan bumi, kamu memiliki kemungkinan 0% untuk menang dariku.”

“Apa –“ geram sangat kesal Anggela, dia mulai berdiri kembali.

“Jangan dengarkan dia, Kak!! Dia hanya memprovokasi dirimu!!”teriak Anggelina.

“Aku tidak akan terprovokasi olehnya, Anggelina! Aku akan mengalahkannya sekarang juga!!” senyum Anggela yang penuh dengan percaya diri.

“Kamu tidak mengerti ..., betapa kuatnya kami, para Elementer,” senyum sombong Savila.

“Apa bedanya?!” teriak Anggelina kesal.

“Hah?” Savila terkejut mendengar perkataan Anggelina.

“Kak Anggela itu kineser tingkat akhir, jika dia lebih serius melawanmu. Kamu akan langsung kalah olehnya!!” teriak Anggelina.

“Dia tingkat akhir? Hahahahahahaaha ...,”  Savila tertawa hebat mendengar pernyataan Anggelina.

“Ke-kenapa kamu malah tertawa?! Aku serius!!” teriak kesal Anggelina.

“Ka-kamu serius, Keina?! Kamu juga seharusnya tau betapa mengerikannya tingkat akhir itu. Di dunia ini hanya tiga orang yang mencapai tingkatan seperti itu! Putri dan Pangeran dari ras kami yang kamu bunuh, dan kepala keluarga dari ras kalian, Astaroth.”

“Jadi ..., mustahil anak ini mencapai tingkatan mengerikan seperti itu!!” lanjutnya sambil terus tertawa hebat.

“Tapi itu benar!! Kak Anggela –“

“Dia hanya tingkat empat! Aku sudah mengamati semua serangan dan gerakannya,” senyum Savila melirik sinis Anggela.

Ak-aku tidak bisa menyangkalnya. Kemampuanku benar-benar menurun drastis, aku tidak bisa menggunakan Ancient weapon atau skill tingkat tinggi lainnya! Kemampuanku benar-benar berkurang setengahnya.”

“Itu tidak benar kan, Kak?” tanya Anggelina khawatir melihat Kakaknya.

“Itu benar Anggelina, entah kenapa kemampuanku menjadi sangat lemah ...,” khawatir Anggela menundukan kepalanya.

“Kak Anggela ....” Anggelina terkejut khawatir melihat kakanya.

“Tapi tenang saja! Aku akan mengalahkannya!!” Anggela memasang wajah serius pada Savila, wajah percaya diri Anggela benar-benar berbanding terbalik dengan kondisi tubuhnya yang sudah berantakan.

“Begitu ..., sepertinya kamu masih belum mengerti tentang perbedaan kekuatan kita. Jika tau seperti ini aku hanya akan menculiknya saja. Aku tidak menyangka kalau kalian berdua selemah ini,” senyum sedih Savila melihat Anggela lalu Anggelina.

“Berisik!!” teriak kesal Anggela, dia menggunakan percepatan listriknya untuk memukul Savila dengan Knock Bolt.

Savila tidak bergerak sedikitpun dari pijakannya dan hanya memejamkan matanya, dia seperti sudah siap menerima semua serangan dari Anggela.

“Akan kuperlihatkan betapa mengerikannya kekuatan Elementer dari ras kami –“ Savila perkataanya terhentikan karena mendapatkan pukulan listrik milik Anggela.

BUAAKK!!! BUSHH!!

Wajahnya hancur, lebih tepatnya terurai menjadi elemen api. Tubuhnya juga ikut terurai dan bergerak pelan melewati tubuh Anggela.

Dalam sekejap saja Savila telah berdiri dibelakang Anggela, dia tersenyum dan menyentuh pelan kepala Anggela.

Shivers ...,” senyum Savila sambil terus melihat punggung Anggela.

Dalam sekejap seluruh permukaan kulit Anggela berubah menjadi warna merah seperti sedang demam, keringatnya benar-benar bercucuran dari seluruh tubuh Anggela.

Anggela pingsan karena suhu tubuhnya yang sangat tinggi. Kemampuan Savila tersebut benar-benar membuat suhu dalam tubuh Anggela meningkat secara drastis.

Setelah itu Savila menendang keras punggung Anggela dengan kaki kanannya hingga dia jatuh tersungkur beberapa meter dihadapan adiknya.

Anggelina hanya bisa menangis melihat Kakaknya yang terluka parah karena melindungi dirinya. Dia sesekali memanggil nama kakaknya sambil terus menangis.

In-ini salahku! Seharusnya aku yang melindungi Kakak, jika saja aku tau lebih awal tentang kemampuan Kakak yang menurun drastis.” Anggelina bergumam kesal dalam hatinya.

“Aku akan membunuhnya saja, dia hanya akan menghalangiku saja di kemudian hari,” Savila sambil mempersiapkan delapan bola api yang cukup besar disekitarnya.

“Ja-jangan!! Jangan bunuh dia!!” teriak Anggelina sambil menangis ketakutan.

“Semakin aku melihat wajahmu itu, semakin ingin pula aku membunuh dirinya!! Jika dia sangat beharga bagimu, maka aku akan membunuhnya secara khusus!!” geram kesal Savila, lalu tubuhnya kembali berubah menjadi api biru.

Delapan bola api juga berubah menjadi lebih besar dan berubah menjadi warna biru. Kekuatan bola api tersebut benar-benar berlipat ganda dan terlihat mengerikan.

Skill pertahanan es milik Anggelina sepertinya akan mustahil untuk bisa menahan serangan tersebut.

“Tunggu, hentikan itu!!” Anggelina berteriak ketakutan pada Savila.

“Selamat tinggal ..., Anggela!” senyum sedih Savila menembakan bola apinya, lalu terdengarlah ledakan yang maha besar, ledakan tersebut membuat beberapa orang yang sangat jauh dari tempat tersebut terkejut ketakutan.

BUAWAAARRRRRR!!!!! DUARRRAARRR!!!

Cukup jauh dari tempat Anggela dan yang lainnya, benua lain yang berada di selatan, negara Australia.

Di sebuah bandara lokal negara tersebut, terlihat seorang gadis berambut putih yang sangat mirip dengan Anggelina. Wajahnya tidak terlihat jelas karena dia memakai kacamata berwarna hitam.

Lalu disampingnya terlihat juga seorang gadis muda berambut hijau, dia membawa dua tas yang cukup besar di kedua tangannya.

Gadis berambut putih itu tiba-tiba menghentikan langkahnya dan hal tersebut membuat gadis disampingnya ikut berhenti.

Kak Keina ..., ada apa?”

“Ti-tidak ...,” gadis bernama Keina tersebut terlihat khawatir, secara perlahan dia memegang dadanya.

“Begitu ..., ya sudah, ayo kita bergegas. Kita tidak punya waktu lagi.”

“Ya ..., aku tau!” jawab Keina lalu berjalan kembali, gadis disampingnya pun ikut berjalan kembali mengikuti Keina.

Keina terus berjalan sambil terus memegang dadanya, wajahnya terlihat sangat khawatir. Dia terus berjalan dan bergumam sedih dalam hatinya.

Pe-perasaan gelisah apa ini?! Aku merasa kalau aku akan kehilangan seseorang yang berharga lagi! Tapi siapa? Setelah Corona mati, dunia seakan berubah menjadi abu-abu bagiku. Karena alasan itulah aku menutup hatiku pada semua orang di dunia ini.”

~~

Beberapa menit setelah ledakan tersebut. Tiba-tiba dari kobaran api biru milik Savila, muncul sebuah gumpalan asap hitam, mungkin lebih tepatnya aura kegelapan.

Savila hanya terdiam bergemetar melihat fenomena tersebut, dia benar-benar terlihat ketakutan melihat aura hitam tersebut.

Ka-kamu pasti bercanda, kan?!” Savila bergumam ketakutan lalu berjalan mundur satu langkah.

Setelah kobaran api tersebut semakin mengecil dan menghilang, terlihatlah pusat dari aura hitam tersebut.

Ya, pusat aura tersebut berasal dari Anggelina. Wilayah disekitar Anggelina berubah menjadi dataran es yang berwarna ungu kegelapan, wajahnya menggambarkan kalau dia sangat marah.

Matanya berwarna hitam dengan bola mata berwarna merah muda seperti iblis. Dia memegang sebuah perisai yang maha besar disampingnya, perisai tersebut lebih besar dari tubuhnya sendiri.

Ov-overrun ...?! Aku tidak menyangka kalau lelaki bernama Anggela itu sangat berharga baginya ...,” Savila terdiam ketakutan, dia berjalan mundur beberapa langkah.

“Bukankah sudah kubilang hentikan, kan? Apa kamu ingin kubunuh, HAH?!” teriak Anggelina, dia mengangkat perisai besar tersebut dengan sangat mudah. Warna biru kehitaman dengan sebuah lambang medusa terlihat dalam perisai tersebut.

Kemampuan Overrun ..., dan Ancient Weapon, Aegis! Benar-benar kombinasi yang buruk! Aku sendiri belum tentu yakin bisa mengatasi putri yang mengamuk ini ..., tapi ini yang terbaik, akhirnya dia serius juga!!” 

“Kamu sudah melakukannya yah, Keina. Sekarang aku tidak akan segan lagi padamu!! Ancient Skill: Purgation Ancient Flame!” teriak Savila dan berubah kembali menjadi mode terkuatnya.


***

My Dearest Jilid 2 Chapter IV Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.