31 Januari 2016

Fate/Apocrypha Jilid 1 Bab 4 Bahasa Indonesia



FATE/APOCRYPHA
JILID 1 BAB 4


Pria itu begitu berotot.
Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, hanya kata tersebutlah yang pantas digunakan. Siapa pun yang melihat pria seukuran raksasa ini—yang tingginya lebih dari 2 meter—akan membuat mata mereka tertuju pada tubuh kokohnya yang luar biasa. Perasaan putus asa hanya akan meningkat saat kau menengadahkan kepalamu untuk mencoba menebak tingginya.
Dari bekas-bekas luka yang tak terhitung jumlahnya pada kulitnya yang pucat, seseorang dapat dengan mudah membayangkan seberapa banyak latihan dan pertempuran yang telah dia lalui. Namun, terlihat jelas bahwa tidak satu pun luka yang benar-benar menembus kulitnya.
Lagipula, apa gunanya menggunakan pisau pengupas pada sebuah bola metal? Tubuh pria itu sendiri adalah kumpulan baja. Pedang yang tajam mungkin saja mengiris kulitnya—bahkan membuatnya mengeluarkan darah—tapi hanya sampai di situ.
Lengannya sendiri hampir menyamai ukuran seekor buaya. Tidak ada yang menutupi otot-otot dadanya, tapi sudah jelas kekekaran tubuhnya adalah pelindungnya. Kaki-kakinya yang berat memiliki kekuatan seekor Mammoth.
Tali-tali kulit membelit erat di sekitar seluruh tubuhnya termasuk wajah, tapi dia tidak kelihatan menderita. Malahan, pria itu tersenyum seakan menikmatinya—dia seakan bertanya, apa hanya ini yang menahanku? Tentu saja, tali di sekitar pinggangnya dan di antara kakinya tidak bisa dianggap perlindungan sama sekali.
Tidak masalah; tubuhnya bukanlah sesuatu yang dapat dipakaikan sebuah baju pelindung. Malahan hal tersebut tidak dibutuhkan karena kumpulan ototnya yang begiru besar.
Pria tersebut masuk menembus hutan di timur Trifas saat matahari tenggelam. Bagi yang melihatya, seekor ikan yang berjalan di tanah mungkin lebih bisa dipercaya; dia begitu kontras di antara kerimbunan alam yang mengelilinginya.
Dia adalah Berserker Merah.
“Bisakah kau berhenti, Berserker?!”
Seseorang sedang mengejar orang brutal yang lepas ini. Melompat dari dahan ke dahan, seorang gadis berpakaian hijau memanggil Berserker lagi dan lagi. Matanya yang dingin dan tajam terlihat berkilat seperti binatang. Rambutnya tergerai panjang dan tidak disisir, sama sekali tidak menampakkan kelembutan seperti sutra yang bisa ditemukan dari antara kelahiran bangsawan; akan tetapi, penampilan ini cocok dengan seseorang yang memiliki tampang seperti kucing. Ya…dia mungkin cukup baik menjadi makhluk buas cantik dalam sosok manusia.
Berserker terkekeh dan menjawab perkataanya tanpa menghentikan langkah sama sekali.
“Ha ha ha! Aku tidak akan menanggapi perintah tersebut, Archer. Aku harus pergi ke kastil itu, di mana para penindas berada.”
Archer berteriak kesal.
“Dasar bodoh! Kita cuma menunggu waktunya tiba! Kenapa kau tidak mengerti?”
Tetapi, Berserker tidak berhenti. Dia terus berjalan, satu langkah kuat yang diikuti langkah lainnya. Dia sudah berjalan selama dua hari, dan dilihat oleh pejalan kaki lebih dari beberapa kali. Archer hanya bisa berharap bahwa si pendeta licik sudah menguasai keadaan.
“Untukku, kata ‘tunggu’ itu tidak ada.”
Begitulah—Archer memutuskan untuk menyerah terhadapnya. Lebih tepatnya, melihat bahwa dia tidak bisa membujuk orang tersebut, dia memilih untuk fokus mendukung pria itu sebagai gantinya, seperti yang diperintahkan.
Pada akhirnya, dia hanyalah orang gila…tugas ini di luar kemampuanku.”
Dia menghela napas saat bergumam pada dirinya sendiri—tapi dia dijawab oleh orang lain.
“Kurasa begitu…karena itulah di seorang Berserker.”
Archer melihat ke atas ke arah sumber suara; di salah satu dahan ada seorang pria berdiri dengan senyum riang di wajahnya. Dia menyenangkan untuk dilihat—tapi bukan dengan cara para ksatria tua yang melembutkan hati para wanita bangsawan dengan sopan santun mereka. Matanya serupa dengan burung pemangsa, dia kuat dan perawakanya tegap, dan dia bebas dari penampilan kasar macam apa pun. Dia terlihat seperti seorang pahlawan yang hebat—yang dipuja dan dikagumi baik oleh pria maupun wanita, tua maupun muda, yang menghargainya.
Dia adalah Rider Merah —pria yang, menurut Master Assassin, dapat menandingi Karna yang tak terkalahkan.
“Rider…apa kau menyarankan supaya kita membiarkan dia?”
Dia mengangkat bahu dan membalas.
“Apakah kita punya pilihan? Satu-satunya hal yang dia pikirkan adalah pertarungan. Kaulah yang aneh di sini, mencoba berbicara padanya meski tahu itu.”
“Aku cukup terampil dalam menahan makhluk buas liar. Aku melakukan hal yang menyolok dengan meletakkan sebuah tongkat melewati lututnya dan berhasil dengan itu, tapi…”
Kalau dia melakukan hal itu, tidak diragukan lagi Berserker akan mengubah jalannya dan menginjaknya sebagai ganti.
“Yah, aku senang kau memutuskan untuk tidak melakukannya.”
“Jadi, kenapa kau datang?”
Rider menyeringai ramah, seakan dia sudah menunggu gadis itu menanyakannya.
“Apa lagi? Aku ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja.”
“Benar.”
Archer tidak menunjukkan rasa malu-malu, terkejut, atau bahkan marah. Dia hanya tidak bereaksi sama sekali pada perkataannya—meskipun perkataan tersebut, muncul dari seorang yang seperti Rider, seharusnya bisa membuat seseorang tersipu-sipu bahkan untuk seorang istri yang setia.
Tapi bagi Archer, yang telah hidup liar bersama makhluk buas, kata-kata yang menggoda sama sekali tidak ada artinya. Rider menggaruk-garuk kepalanya dengan kikuk saat gadis itu mengabaikan serangan jitunya dengan santai. Dia terbatuk dan kembali ke misinya semula.
“Lagipula…kita diberikan peran sebagai penyerang jarak jauh: membantu Berserker jika dibutuhkan, dan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin.”
“Musuh sudah di depan mata. Aku berani bilang dia akan mencapai benteng dalam beberapa jam. Tidak diragukan lagi dia akan dicegat sebelum sampai di sana.”
“Huh…yah, untuk berjaga-jaga, mari berharap pada Melas supaya mereka menganugerahi kita dengan kehadiran mereka.”
Baik Archer dan Rider adalah pemburu dan pejuang hebat. Mereka tidak berilusi tentang memenangkan sebuah pertarungan melawan tujuh Servant yang berjaga dengan hanya sekitar setengah dari jumlah mereka.
“Menghentikan Berserker semacam ini setidaknya memerlukan dua Servant—kalau mereka tidak mengirimkan seluruh pasukan.”
Ya—menghentikan orang itu akan memerlukan usaha yang tidak main-main.
“Tapi…dia benar-benar melampaui pemahaman yang kita miliki mengenai apa itu seorang Berserker.”
“Aku setuju dengan itu. Kau akan berpikir bahwa Mad Enhancementnya itu rendah, melihat bagaimana kita dapat berbicara dengan dia…”
Akan tetapi, Mad Enhancement dari Berserker Merah adalah sesuatu yang tidak tetap. Memang mungkin untuk berbicara dengannya, tapi mustahil untuk berkomunikasi sepenuhnya. Dia tidak melawan perintah hanya karena dia tidak memahaminya. Bahkan sebuah perintah yang diberikan dengan Command Spell tidak lebih dari sebuah beban untuk menahannya; dua Command Spell diperlukan untuk menghentikannya.
“Gladiator Thracian dan simbol dari pemberontakkan, Spartacus…benar-benar pria yang keras kepala.”
Spartacus adalah seorang budak Roma dan seorang gladiator yang melarikan diri dengan tujuh puluh delapan rekannya. Dia kemudian memukul mundur suatu serangan pasukan yang terdiri dari hampir tiga ratus orang, menjadi seorang pahlawan dan menginspirasi pemberontakan bersenjata dari para budak di banyak tempat. Pada akhirnya, dia dikhianati oleh bajak laut yang diandalkannya dan dipenggal oleh legiun Roma—tapi sampai saat itu, dia tidak pernah kalah dalam satu pertempuran pun. Dia tetap bersinar menjadi simbol pengharapan bagi perdagangan budak.
Dia membenci semua penindas, keinginannya bertempur membara oleh mereka yang memiliki kekuatan. Warrior gila ini melawan para majikan untuk melindungi yang lemah—merawat mereka, menyembuhkan mereka—tapi terlebih lagi dari apa pun yang ada, untuk berdiri menantang mereka. Itulah Berserker Merah.
“Di mana tungganganmu, Rider?”
“Yah, kita di sini untuk mengumpulkan informasi… tidak perlu memberikan mereka apa pun sebagai balasannya. Aku menjauhkan mereka dari ini.”
“Hmm… Kurasa itu tidak akan terbukti merepotkanmu. Apa senjatamu—apakah itu pedang, atau tombak?”
“Sebatang tombak, tentu.”
Rider dan Archer meneruskan pengejaran terhadap Berserker yang lepas; tidak mungkin mereka bisa kehilangan jejak langkahnya yang lamban dan mantap.
“Ngomong-ngomong, Archer, ada satu hal yang ingin kutanyakan…”
“Bertanyalah kalau begitu.”
“Apakah kau pernah melihat wajah Master?”
“Tidak… Aku hanya pernah bertemu mediator Masterku… si pendeta.”
Begitu dia dipanggil, Archer menyadari bahwa pria yang berdiri di hadapannya bukanlah Masternya. Lagipula, yang jelas adalah seorang Servant sedang berdiri di sisinya, dan yang paling penting, dia sama sekali tidak merasakan hubungan dengannya.
“Aku juga belum. Kalau begitu, kurasa seperti itulah yang bisa diduga dari sekumpulan penyihir…”
“Walau begitu… ini tetap aneh. Tapi, mempertimbangkan apa yang sedang menunggu di depan kita pada akhirnya, mungkin hal itu dilakukan karena terpaksa…”
Dalam Perang Besar Holy Grail ini, masalah terbesar bukanlah kekalahan, tapi kemenangan—dan apa yang menyertainya. Kelompok mana pun yang menang, tidak mungkin ketujuh Servant-nya akan tetap tersisa—tapi juga sangatlah tinggi kemungkinan bahwa hanya satu saja yang selamat. Pada akhirnya, Holy Grail hanya akan mengabulkan keinginan dari satu Master dan satu Servant. Begitu kemenangannya jelas, perpecahan akan dimulai.
Siapakah penyihir yang tidak bertujuan untuk mencapai [Swirl of Origin] yang berada di luar dunia ini, di mana semua masa depan dan masa lalu terekam? Dengan kemungkinan semacam itu ada dalam Holy Grail di hadapan mereka, bahkan rekan terdekat akan dengan senang membantai satu sama lain. Servant juga tentunya bukanlah pengecualian; satu-satunya cara agar keinginan mereka dikabulkan adalah dengan mengakhiri sesama sekutu mereka. Karena itu, persekutuan mana pun hanya akan berlangsung hingga pihak pemenangnya ditentukan.
“…Karena itulah penolakan mereka muncul di depan kita.”
“Aku tidak berpikir demikian. Mereka harusnya setidaknya muncul… Aku mau tidak mau jadi mencurigai si pendeta dan Servantnya.”
“Maksudmu si Assassin… Semiramis, bukan?”
Baik Archer dan Rider menjadi kehilangan kata-kata saat bertemu mereka, Assassin dengan terang-terangan memberi tahu nama aslinya.
“Aku adalah Assassin, terlebih lagi… sebuah keberadaan yang tidak stabil sejak awal. Biarlah namaku yang sebenarnya menjadi bukti dari kesediaanku untuk bekerjasama dalam pertempuran.”
Begitulah yang dia nyatakan, dengan sedikit ironis, tapi baik Rider maupun Archer memercayainya. Udara busuk yang menyelimuti sekelilingnya hanya mengundang kejengkelan dan rasa tidak percaya dari para pejuang sejati ini.
“Itu benar, Semiramis… ratu Assyria. Kenapa dengan mengenakan sebuah mahkota selalu membuatmu berubah menjadi orang hina yang sombong? Raja-raja atau para ratu, apa pun itu—aku tidak tahan dengan mereka.”
“Hal semacam itulah yang terjadi dari orang yang dilayani orang lain. Seperti yang diduga dari seseorang di posisi mereka… tidak ada yang perlu kau ambil hati.”
Tiga jam berlalu. Matahari sudah tenggelam, hutan menjadi diselimuti oleh kegelapan. Gerakan mantap Berserker terhenti.
“Apakah itu musuh?”
“Ya… tapi mereka bukan Servant.”
Seperti yang ditunjukkan Archer, apa yang berdiri di depan Berserker adalah penyerang jarak dekat Yggdmillennia: para homunculus petarung dan golem perunggu besar yang mengintai Berserker. Ada lebih dari seratus.
“Haruskah kita membantunya?”
Rider menyarankan, terdengar cukup tidak bersemangat. Lagipula, mereka tidak sedang menghadapi Servant; jadi apa ada yang bisa dibantu? Sebagai gantinya, kedua Servant itu memilih untuk mengamati.


Pertarungan antara pasukan dari Hitam dan Berserker Merah betul-betul tidak seimbang. Tombak berkepala kapak para homunculus menusuk bahunya. Tinju dari golem-golem diarahkan pada wajahnya, menyerang secara langsung dengan kekuatan yang cukup untuk menghancurkan baja. Akan tetapi, serangan-serangan ini tidak membuat senyuman hilang dari wajah Berserker. Yang ada, seringainya malah melebar.
Berserker tidak berusaha untuk menghindari serangan mereka sejak awal. Malahan, dia menerima rasa sakit itu untuk bergerak mendekati mereka.
Dia menerima semua pukulan mereka lagi dan lagi, hanya menerima semuanya. Tidak peduli rasa sakit dan luka, ekspresinya selalu terlihat seperti orang yang begitu gembira. Segera, bahkan penyerangnya—para homunculus yang tak kenal lelah dan para golem—ragu-ragu dan berhenti. Itulah saat Berserker bergerak.
“Boneka-boneka penindas yang menyedihkan—semoga kalian setidaknya menemukan kedamaian di pedang dan tinjuku.”
Berserker menyambar wajah dari salah satu golem dengan tangannya, tanpa susah payah melemparkan ke samping kosntruksi setinggi tiga meter tersebut dan menghancurkan para homunculus malang yang sedang berdiri di mana golem tersebut mendarat.
“Ya, kau juga!”
Sambil mengatakan ini, dia mengayunkan pedangnya dalam lengkungan besar—dan para homunculus yang terdekat kehilangan setengah tubuh bagian atasnya. Dia memberikan sebuah pukulan pada satu golem yang melawan, melumat kepala perunggunya yang diperkuat.
Berserker terus-menerus bersikap liar. Membentangkan kedua lengannya lebar-lebar, dia terang-terangan bergerak maju. Merangkul lima golem sekaligus, dia membungkuk ke belakang dan membalikkan beberapa ton perunggu ke tanah, menghancurkan tengkorak mereka.
Pria tersebut adalah bencana berjalan. Setiap tebasan dan pukulan menghasilkan lebih banyak mayat dan puing-puing. Tapi yang menjadi mimpi buruk sebenarnya adalah senyum tak tergoyahkan di wajahnya saat dia mengayunkan pedang dan tinjunya. Bahkan para homunculus, dengan emosi mereka yang sedikit, menjadi terpengaruh oleh kegilaannya dan melarikan diri dari pertempuran.
Mengoyak-ngoyak golem yang terakhir hingga menjadi berkeping-keping, Berserker melihat sekeliling pada jejak-jejak kehancuran dan pembantaian yang dia lakukan. Mengangguk puas, dan mulai berjalan lagi.


“Dia tersenyum…”
“Ya…”
Archer dan Rider bertukar pandang, karakteristik mereka menjadi gelisah karena baru saja menyaksikan sesuatu yang amat tidak menyenangkan. Merupakan hal yang alamiah bahwa Berserker telah bertarung dan menang; mereka tidak melihat kesengsaraan yang telah dia tebarkan itu mencemaskan atau mengesankan. Namun, bagaimana Berserker itu berseri-seri dari awal hingga akhir tersebut membuat tulang belakang mereka membeku.
“Yah… Heroic Spirit seperti itu sudah jelas tidak bisa menjadi yang lain selain Berserker.”
Kalau dia menunjukkan setidaknya lebih menunjukkan amarah, Archer dan Rider mungkin akan percaya bahwa dia memiliki sedikit alasan. Tapi dia tidak, dia bertarung, dia membunuh, dan dia menghancurkan, semua hal tersebut sambil menyunggingkan sebuah senyuman yang memesona.
“Tidak salah lagi, dia telah menunjukkan kekuatannya yang sejati; tanpa kekuatan Noble Phantasm, tindakannya tidak dapat dihentikan.”
“Huh… Menurut perhitunganmu, apakah kau pikir dia bisa menumbangkan setidaknya satu Servant?”
“Kita akan melihatnya. Itu tidak akan bisa terpikirkan selama Noble Phantasm-nya bisa bertindak dengan bebas…”
“Itulah masalah terbesarnya, bukan? Membiarkan dia ‘bertindak dengan bebas” dengan Noble Phantasm-nya…”
Meskipun mereka adalah sekutu, fraksi Servants Merah tidak sepenuhnya mengetahui Noble Phantasm satu sama lain—kecuali untuk Berserker, yang sudah dijelaskan oleh Masternya.
Ini karena Noble Phantasm-nya—Howl of the Wounded Beast [Crying Warmonger]—memiliki semacam fungsi abnormal yang dalam Perang Holy Grail normal, akan benar-benar membuat keselamatannya menjadi mustahil.
“…Tapi, kalau Servants Hitam menyerangnya terus menerus tanpa berpikir, ini mungkin akan sangat menarik.”
Ya. Dengan Noble Phantasm tersebut—memungkinkan dia untuk menjadi lebih kuat seiring semakin banyaknya serangan yang dia terima—mungkin saja Perang Besar ini dapat diselesaikan dalam satu malam.
“Hm…”
Hidung Archer menegang tidak nyaman; bau logam dan minyak mesin adalah bau busuk tak tertahankan bagi gadis yang lebih mirip hewan daripada manusia.
“Ada apa?”
“Kita diperhatikan. Servant Hitam sedang mendekat.”
Indera Archer jauh melampaui Rider. Kalau dia benar, mereka akan segera bertemu dengan musuh.
“Persiapkan dirimu…”
“Mengerti.”
Kedua Servant tersebut memanggil senjata mereka masing-masing.
Tombak yang Rider panggil sangat berbeda dari senjata Lancer. Besi Lancer yang sangat panjang dilengkapi dengan ujung yang tajam dan sangat berat, yang bisa membawa kehancuran. Akan tetapi, tombak Rider adalah hasil pekerjaan yang sederhana dan kuat dan cocok untuk pertarungan jarak dekat. Dari cara dia memegangnya dengan ringan pada satu tangan, benda tersebut juga bisa dilemparkan.
Rider berniat untuk menantang lawan pada jarak dekat tanpa menggunakan senjatanya yang biasa, yaitu ‘tunggangan’nya; walaupun yang dia lakukan benar-benar beresiko, tekanan udara yang dia pancarkan membuktikan betapa menonjolnya dia di antara para pahlawan lainnya.
Sementara itu, Archer seperti biasa mengeluarkan sebuah busur—sebuah senjata bergaya Barat berwarna hitam kelam dan lebih besar daripada tingginya. Ini adalah busur surga yang dikatakan diberikan padanya oleh Artemis, dewi perburuan; nama busur ini adalah Tauropolos, salah satu dari gelarnya, si pembunuh babi hutan. Busur ini adalah senjata langka yang cocok untuk seorang pemanah. Tidak ada satu pun yang tidak dapat ditembusnya.
“Aku akan mundur dan membantumu dan Berserker dari jauh.”
Archer dengan segera mundur ke dalam bayangan hutan. Meskipun Rider mengawasinya pergi dan dapat merasakannya, dia tidak lagi tahu di mana tepatnya dia berada; untuk seorang pemburu yang tidak ada bandingannya itu, menyatu dengan hutan adalah tugas yang mudah.
“Baiklah, kalau begitu… waktunya untuk melakukan beberapa ronde.”
Pada akhirnya, bahkan mata Rider dapat dengan jelas melihat dua sosok bayangan yang perlahan mendekat dari kedalaman hutan. Dia merasakan bahwa mereka berdua adalah Servant. Kelihatannya, musuh mereka berpikir bahwa hanya dengan dua Servant itu cukup untuk menumbangkannya.
“Kalian meremehkanku, Servant Hitam… atau apakah kalian pikir kalian punya kesempatan menang melawanku tanpa mengirimkan seluruh pasukanmu?”
Rider mengejek dengan penuh percaya diri. Meskipun tidak menggunakan senjata utamanya, dia dipenuhi dengan hasrat membara untuk bertarung.
Aaaa…”
“…”
Dua Servant muncul. Yang satu adalah Berserker Hitam—seorang gadis yang memegang sebuah gada tempur raksasa—dan yang lannya adalah Saber, yang terlibat dalam pertarungan sengit dengan Lancer semalam hingga hampir menjelang fajar.
“Hei, kalian di situ—Saber dan Berserker, benar?”
Saber mengangguk tanpa kata dan Berserker bersuara menegaskan.
“Aku adalah Rider Merah. Oh, kalian tidak perlu khawatir—aku belum kehilangan kudaku bahkan sebelum perang dimulai. Hanya saja akan sia-sia untuk mengeluarkannya hanya untuk melawan dua musuh. Aku lebih suka menungganginya untuk melawan semua ketujuh-tujuhnya dalam satu waktu.”
Rider berkata dengan menyebalkan. Dengan kata lain…
Tidak ada satu pun dari kalian yang pantas untuk melawnkuku. Datangilah aku dengan kekuatan penuh kalau kalian ingin melihat seberapa mampunya aku.
Akan tetapi, yang dia hadapi juga adalah sesama Heroic Spirit dengan harga diri tinggi. Si Berserker mengerang lebih keras; Saber mengangkat alisnya, terlihat marah. Hawa pembunuhnya sendiri dapat meremukkan jantung dari orang biasa—tapi Rider dengan santai menerima tatapan mereka yang mematikan. Menghadapi sisi buas binatang dan kehadiran yang menekan dari seorang pahlawan sejati di sisi lain, Rider terus tersenyum pongah.
Niat membunuh dan rasa kebencian penuh permusuhan—pria tersebut sudah terlalu terbiasa untuk dihadapkan pada kedua hal tersebut. Bagi sang pahlawan yang hanya menganggap sahabat sejati dan  wanita yang begitu mencintainya-lah orang yang penting baginya, hal ini hanyalah angin sepoi-sepoi.
Tidak ada yang berubah—hanya waktu di mana mereka berada dan senjata yang mereka gunakan. Ini akan selalu sama… dan dia akan selalu menebas mereka seakan-akan mereka bukanlah apa-apa.
Seperti itulah perjuangan Rider Merah menjalani hidupnya.
“Datanglah… Akan kubuat kalian merasakan seperti apa petarung yang sesungguhnya.”
Dia menyiagakan tombaknya—dan rasa haus darahnya menghancurkan suasana. Saber berdiri di tempatnya dengan berani, dan akal buatan Berserker memampukannya untuk menahannya dengan mudah, tapi manusia normal mana pun semangatnya akan hancur berkeping-keping.
Tiga—dengan begitu hitungan mundurnya pun dimulai.
Hutan yang lebat ini tidak cocok untuk mengayunkan pedang dan tombak.
Dua—dan udaranya membeku dengan cara yang sama sekali seperti biasanya.
Tapi, di tempat ini, tombak jauh lebih unggul daripada senjata mana pun dalam satu hal: hujaman. Dengan tombak-pembantai pahlawan ini, dia dapat menusuk jantung dan menembus tengkorak dengan setiap serangan, Rider tidak merasa dirugikan sama sekali.
Satu—dan sang waktu itu sendiri berhenti sebelum meledak.
Dan di atas semuanya, dengan salah satu pemanah terkenal di dunia di belakangnya, tidak ada satu pun yang bisa menggoyahkan keberaniannya.
Nol.
Segala sesuatu yang kasar dan tak murni terhempas jauh, tersapu ke sekeliling saat mereka melangkah maju dan melompat, mengayunkan pedang, gada, dan tombak.

Barisan depan dari homunculus dan golem tidak berarti apa-apa di hadapan Berserker Merah, karena langsung bisa diubah kembali dalam sekali serang. Akan tetapi, Servant Hitam tidak gentar. Bagaimanapun, seperti itulah yang seharusnya Heroic Spirit lakukan dalam pertempuran. Tidak ada hal yang mengejutkan.
“Yah…pembantaian seperti itu sangat abnormal, kalau menanyakan padaku…”
“Pemandangan yang mengerikan. Heroic Spirit itu tidak bertarung dengan kemampuannya, tapi hanya menjagal musuh dengan kekuatan yang dia banggakan dengan buas. Tidak diperlukan tekhnik, atau penilaian—hal ini seakan-akan dia dilahirkan untuk bertarung dan membunuh. Mungkin kelas Berserker sama sekali tidak memperkuatnya… mungkin dia tidak cocok untuk kelas mana pun sejak awal.”
Archer menyetujui gumaman Rider.
Yang mengepung kedua orang itu adalah sepasukan golem yang tidak sebanding dengan barisan depan yang dikirimkan lebih awal tadi. Malahan, lebih dari setengah golem-golem tersebut dibentuk saat kekuatan tempur Yggdmillenia telah digerakkan untuk operasi ini.
“Aku bertanya-tanya apakah dia akan membunuhku dan kau seperti itu juga.”
“Sudah jelas itu mungkin dengan kekuatan yang tidak masuk akal seperti itu. Jangan biarkan dia menyerangmu langsung.”
“Yah, baiklah… Akan kulakukan apa yang kubisa.”
Tidak ada semangat dalam suara Rider. Menghadapi rasa tidak tertarik yang jelas-jelas terlihat, Archer dengan lembut berbisik ke telinganya.
“Aku mengerti kalau kau bingung, tapi kalau hal tidak diinginkan terjadi, dan kau kalah di sini… dia tidak bisa diselamatkan. Apa kau mengerti?”
“A-Aku tahu itu!”
Rider menegakkan dirinya, menyemangati dirinya sendiri berkat omelan Archer. Dia menaikkan tombak emasnya yang dihias indah, seakan menantang Berserker untuk mendatanginya.
“Bagaimana pun, kaulah yang harus menyadari tugas yang paling berbahaya, Rider. Ingat—tetaplah waspada.”
Si pemanah itu berubah menjadi bentuk spiritual, kembali ke puncak tembok benteng di mana seharusnya dia berada. Ditinggal sendirian, Rider menghela napas dan bergumam pada dirinya sendiri.
“Ya ampun… Aku benar-benar berharap tidak mendapat pekerjaan seperti ini… langsung menghadapi bahaya? Kau pasti bercanda… yah, kurasa aku tidak punya pilihan!”
Ujar Rider, dengan begitu riang—dan sebuah getaran muncul dari kedalaman hutan yang menjawab panggilannya, datang mendekat dan mendekat. Akan tetapi, sumber dari keributan itu masih tenggelam dalam kegelapan malam, tak terlihat.
Apakah dia di sini…?
Sebuah kesunyian mendadak menyapa mereka. Keributan tersebut berhenti, dan hanya desiran angin yang mendatangi mereka. Akan tetapi, seorang Berserker tidak dapat menutupi keberadaannya; sekalipun dia tidak terlihat, sudah jelas bahwa dia di sana.
Yakin bahwa musuhnya berada dekat, Rider melangkah maju.
“Wahai para penindas, waktu kalian telah mendekat! Kebanggaan kalian akan musnah, rasa bangga akan kekuasaan kalian akan ditaklukkan!”
Saat itulah Berserker muncul, menyibakkan dahan dan pohon.
“Ugh…”
Untuk waktu yang begitu singkat, Rider ingi meninggalkan tempat ini.
Dia tidak takut dengan raksasa-raksasa; dia pernah menghadapi banyak Caligorante bersenjata, dan mengaraknya di sekeliling jalan. Dia tidak takut pada orang-orang berwajah keras atau makhluk buas yang mengamuk. Tapi senyum lembut di wajah orang yang luar biasa besar ini begitu…menakutkan.
Ya, kenyataan bahwa dia sedang tersenyum adalah yang paling menyeramkan. Tersenyum di tengah-tengah musuh menunjukkan bahwa entah karena begitu percaya diri dengan dirinya sendiri, atau begitu gila sehingga dia tidak lagi peduli siapa yang lebih unggul.
Raksasa tersebut tingginya dua meter dan bersenjatakan sebilah gladius. Dari pertemuan sebelumnya, itu adalah bukti bahwa tinjunya snediri memiliki kekuatan yang besar. Lebih dari itu, ketangguhannya bukan main-main. Kemungkinan besar, bahkan meskipun Rider dapat melukainya, dia tidak akan dapat membunuhnya.
Dengan kata lain, Rider tidak dapat berharap dapat melukainya. Bagaimana pun, dia memahami bahwa ujung dari tombaknya telah dipercayakan padanya—dia harus maju memimpin.
“Tapi, yah…karena itulah aku dipanggil, ‘kan? Mau bagaimana lagi kalau begitu. Ayo!”
Dengan cengiran lebar dan berani di wajahnya untuk menandingi Berserker, Rider mengacungkan tombak emasnya.
“Biar mereka yang ada kejauhan mendengar suaraku! Mendekatlah dan saksikan kehebatanku! Karena aku adalah Astolfo, salah satu dari Kedua Belas Paladin Charlamagne… persiapkan dirimu!”
Itu adalah kalimat yang ingin namun tak sempat dia katakan untuk waktu yang lama, dan dia meneriakannya selantang yang dia bisa. Pada akhirnya, dia bahkan menyatakan rahasianya tanpa pikir panjang, tapi, untungnya, lawannya tidak memiliki kapasitas mental untuk membentuk strategi berdasarkan nama sebenarnya.
“Hahahaha! Bagus. Kesombongan yang hebat. Akan kuhancurkan di bawah tumitku!”
Berserker tertawa sambil maju menyerang, tidak disangka lincah walaupun berukuran besar, mengamuk seperti seekor babi hutan liar.
"Hahahahahahahahahahahahahaha!"
Dia mengayunkan pedangnya tinggi-tinggi dan menjatuhkannya ke bawah. Itu adalah serangan kuat yang sepertinya dapat melumat Rider yang kecil, yang mengelak dengan mudah.
Guh…?!
Akan tetapi, itu adalah salah satu serangan yang meski dapat dihindari pun tidak ada artinya. Serangan Berserker menghempaskan tanah, mendorong mundur Rider hanya dengan kekuatan serangannya saja.
“Owww…serangan yang mengerikan.”
Rider meringis dan bangkit berdiri, menggosok punggungnya yang terkena. Masih tidak ada rasa takut di matanya.
Dia sedang menghadapi seorang musuh yang dapat menghempaskannya hanya dengan satu sentuhan, melampauinya dengan kekuatan tak terasah, terbukti melawan semua tekhniknya. Akan tetapi, Astolfo adalah seorang Heroic Spirit… seorang paladin yang gagah berani dari Charlamagne, yang akal sehatnya telah menguap, dan seorang petualang yang terbang ke pelosok-pelosok dunia, menciptakan banyak legenda. Selama perjalanannya, dia telah memenangkan begitu banyak [Mystic Code]—serulingnya, grimoire-nya, hippogriff-nya, dan tombak emasnya yang berkilauan.
“Datanglah, dan…ayo tunjukkan pada mereka apa yang bisa kau lakukan, Argalia!”
Rider melesat maju. Bahkan tanpa tunggangannya, serangannya bagaikan sambaran kilat.
Akan tetapi, untuk Berserker yang kehilangan hampir semua emosinya, serangan Rider adalah sebuah kebahagiaan, dan hampir jelas bukanlah ketakutan. Pastinya, semakin kuat serangannya—semakin dalam keputus-asaannya—semakin menyenangkan serangan balik Berserker nantinya. Meskipun tombak tersebut menembusnya, Berserker akan melancarkan tikaman balasan cepatnya tanpa cela.
Yakin dengan dirinya, Berserker mengangkat pedangnya lagi, memadatkan otot-otot perutnya hingga sekeras baja.
“Down With a Touch [Trap of Argalia]!”
Namun, membunuh bukanlah niat utama dari tombak Rider.
Sebatang tombak tetaplah sebatang tombak, tentu saja. Jika dihujamkan ke musuh, itu akan membuatnya berdarah. Jika menembus jantung, itu akan membunuh. Tapi tombak ini tidak lebih dari sebuah tombak kavaleri; kekuatannya tidak diperkuat dengan kekuatan supranatural, dan benda ini tidak memiliki keunikan khusus apapun untuk menembus semua pertahanan. Tombak ini tidak ditakdirkan untuk menembus jantung musuh bagaimana pun caranya. Meskipun begitu, kekuatan tombak ini mematikan dalam pertempuran.
Berserker bergetar hebat saat dia merasakan tubuhnya ambruk. Tanah kokoh yang dipijaknya dengan kuat menghilang, menyebabkannya untuk sesaat melupakan pedang yang seharusnya dia ayunkan ke bawah. Tetap saja, senyuman itu bertahan di wajahnya. Dia sama sekali tidak merasa terkejut. Tapi tidak peduli sekeras apa pun dia berusaha, mustahil baginya untuk membalikkan keadaannya yang tidak masuk akal.
Trap of Argalia, penamaan sembarangan Noble Phantasm Rider, adalah sebuah tombak yang hanya dapat melakukan apa yang namanya gambarkan. Menurut legenda, tombak kesayangan dari pangeran Cathay Argalia menyebabkan siapa pun yang menyentuhnya terjatuh—dan bagi ksatria berpakaian baju perang lengkap di medan pertarungan, sebuah kejatuhan tidak terelakkan lagi akan mengakibatkan kematian. Selain dari itu, tidak sulit untuk membayangkan banyaknya kemenangan dari menggunakan tombak ini yang diberikan kepada penggunanya dalam turnamen-turnamen pertempuran di atas kuda yang megah itu.
Digunakan pada seorang Servant, Noble Phantasm ini menyadari legendanya dengan secara paksa mengembalikan targetnya ke bentuk spiritual dari lutut ke bawah. Tidak peduli di mana tombaknya mengenai—sekalipun itu pada baju tempur yang dijalin dari mana (kekuatan sihir)—supplai prana ke bagian tubuh tersebut akan terputus secara fisik, membuatnya secara sementara tidak mungkin untuk mengambil bentuk nyata.
Meskipun demikian, senjata seperti itu tidak akan cukup untuk menghentikan Berserker. Dia masih memiliki tubuh bagian lutut ke atas; dia akan tetap menyeret dirinya sendiri untuk mengalahkan lawannya.
“Menghilangkan kakiku tidak akan menghentikanku.”
“Oh, aku yakin tentang itu…karena itulah kami akan menghentikanmu sekarang. tangkap dia!”
Bersamaan dengan perkataan Rider, para golem yang bersiap-siap kemudian menyerang Berserker secara bersamaan. Para golem, dengan masing-masing berat lebih dari satu ton, mencoba menimpa dan menahan lengannya. Akan tetapi, Berserker menghajar balik mereka dengan mudahnya, mengayunkan lengannya dengan liar. Bagian tubuh atas golem pecah karena tinjunya—tapi kekuatan dari konstruksinya, bahkan dalam keadaan tanpa kepala, mereka tidak akan seluruhnya kehilangan fungsinya.
Bekerja bagaikan sepasukan semut yang mengerumuni mangsa mereka, para golem membanjiri Berserker. Tapi mangsa mereka bukanlah hewan yang tak berdaya, dan gigitan tanpa henti mereka tidak dapat menghentikan raksasa itu.
Berserker tidak berhenti. Bahkan setelah kehilangan kakinya, dia tanpa pikir panjang tetap melanjutkan menuju kastil.
“Hahaha! Ya! Hebat! Pasukan musuh bagaikan kabut, menutupiku dengan luka dari kepala ke kaki! Ya, ini…ini adalah lagu yang layak saat kemenangan tiba!”
Golem menutupi setiap bagian dari tubuhnya, gabungan berat tubuh mereka menggandakan berat dirinya sendiri. Diselimuti oleh kumpulan batu dan perunggu, dia terus maju.
Jauh, jauh, lebih jauh. Berserker Merah mungkin orang yang bodoh, tapi dia tidak sekedar berkhayal. Kulitnya, telinganya, matanya, lidahnya—dia tahu bahwa para penindas sedang menunggunya.
“Usaha yang mengagumkan. Kau tidak perlu merasa malu, Caster…golem-golemmu bekerja dengan baik. Hanya saja, Berserker itu yang abnormal.”
“……!”
Berserker mempercepat dirinya. Merenggut lepas para golem yang menutupi wajahnya, dia melihat sendiri siapa yang berdiri di hadapannya.
“Kau…”
“Ya, Berserker dari fraksi Merah. Kalau kau mencari sang penindas—maka akulah salah satu pimpinan mereka.”
“Ahh… ahhhh… ahhhhhhhhhhhhh!”
Berserker merentangkan tangannya dengan gembira. Tinggal sedikit lagi, dan dia akan dapat mencapai kepala si penindas. Kegembiraan dan kemuliaan selalu datang setelah awan menghilang dan penderitaan berakhir. Tidak ada kecacatan dalam logika si pejuang gila itu. Itu benar-benar sempurna.
Akan tetapi, dia telah melupakan satu fakta yang penting. Apa yang sedang menantinya pada akhir dari penderitaannya adalah kematian yang kejam dan tragis.
Lancer—Vlad III—mengawasi dengan tatapan dingin saat Berserker mengamuk. Dia adalah pahlawan yang memerintah Rumania dengan tangan besi dan dengan kejamnya membantai semua yang menentangnya. Dan musuhnya, dengan rasa takut di hati mereka, memanggilnya…
Lord of Execution [Kaziklu Bey].”
Ucap Lancer, dan tanah di sekitar pun menonjol keluar.
“Aku akan…menghancurkanmu, penindas!”
Berserker tidak goyah sama sekali meskipun dibebani oleh berat para golem. Dia menaikkan tangannya yang memegang pedang—tapi kemudian ditembus oleh pancang runcing. Tidak peduli apakah dia dapat merasakan sakitnya, pancang tersebut tetap menghentikan pergerakannya melawan kehendaknya.
“Aku telah menghabiskan seluruh hidupku untuk bertempur melawan pemberontak sepertimu. Aku menghancurkan mereka, meninggalkan daging mereka membusuk di pancangku…”
Pancang sepanjang beberapa meter menembus Berserker, bersama-sama dengan para golem. Lancer tidak menyerang lebih jauh untuk menuju inti spiritual Berserker. Meskipun secara aktif dia menghindari untuk membunuh Berserker, dia melihat bahwa ia tidak perlu repot-repot menahan diri lagi.

Akan sangat disayangkan jika Berserker tewas, tapi kalau tidak—hanya setingkat lebih dalam lagi neraka yang menunggunya.
Kakinya berubah menjadi tak kasat mata, tubuhnya ditutupi golem-golem yang tak terhitung banyaknya, seluruh tubuhya kecuali jantung dan otaknya ditikam oleh pancang-pancang tersebut—dan Berserker tetap saja bergerak untuk menundukkan sang penindas yang tepat berada di hadapannya. Aksinya tidak lagi dapat digambarkan dengan kata-kata seperti ‘kebencian’ atau ‘kepastian’.
Ya, ini adalah keyakinannya. Karena inilah Lancer mengorbankan setengah dari golem-golemnya untuk memastikan: apakah dia hanyalah seorang barbar bodoh yang hanya ingin memberontak terhadap kekuasaan—atau seorang pria yang, meskipun dalam kegilaannya, telah mengukir batas yang tidak bisa dilewati, sebuah tekad tak tergoyahkan di dalam hatinya.
Lancer menggangguk puas dan berkata dengan tenang.
“…Aku mengerti sekarang setelah berhadapan langsung denganmu. Pemberontakanmu adalah perwujudan dari noble spirit-mu. Yang kuat akan selalu menginjak-injak yang lemah… tapi kau bertempur karena kau tidak dapat menerimanya. Kau bertarung hingga kau mengubah yang kuat menjadi yang lemah.”
Dia bertarung demi pihak yang lemah. Si pejuang gila yang tidak akan sampai sejauh ini hanya karena alasan demi orang lain. Tidak, itu hanya karena…
“Apakah kau memimpikan sebuah dunia di mana semua orang itu sama? Akan tetapi mimpimu itu hanyalah angan-angan semata. Untuk pertama kalinya… Aku merasa aku harus menunjukkan rasa hormatku pada mereka yang kami sebut pemberontak.”
Lancer menjentikkan jarinya, dan Caster yang berada di sisinya melangkah maju.
“Tapi, sayang untukmu… kami akan mengubah arah dari pemberontakanmu. Berseker Merah—kau adalah milik kami sekarang.”
“……”
Senyum menghilang dari wajah Berserker. Sebagai gantinya, ekspresinya menjadi kemurkaan dengan niat membunuh. Apa yang Lancer katakan barusan berarti satu hal—perbudakan. Bagi berserker, itu adalah penghinaan yang lebih besar daripada kematian. Itu adalah keputusasaan itu sendiri.
“Sekarang, kalau begitu…”
Caster dengan tidak bersemangat memberikan perintah pada para golem yang menekan Berserker ke bawah. Secara serentak, mereka berubah menjadi bentuk cair yang melilitkan diri ke Berserker dan pancang. Bahkan pahlawan pemberontak tidak akan dapat meloloskan diri dari penjara batu ini.
“Kuserahkan pembedahannya padamu, Caster.”
“Baik, tuan…”
Dengan begitu, Lancer kehilangan semua minatnya terhadap Berserker. Dia sekarang adalah salah satu dari anak buah Lancer, menujukan perlawanannya bukan kepada Hitam, tapi kepada Merah. Hanya itu yang perlu diketahuinya.
Sementara Lancer berjalan menjauh, Rider memanggilnya.
“Yah, kelihatannya kau tidak membutuhkanku lagi di sini! Aku akan pergi!”
Rider dengan cepat berubah menjadi bentuk spiritual dan kembali ke benteng. Pada dasarnya, dia ingin mengambil kesempatan dari situasi ini. Tidak ada seorang pun yang akan merepotkan diri mereka dengan satu homunculus saat ini; ini adalah kesempatan terbesar mereka.
øøøøø


Pria ini adalah angin ribut. Dia tak tertandingi.
Rider Merah tertawa mengejek serangan sengit Saber dan Berserker. Kedua Servant itu melancarkan serangan mereka dengan serempak, mengarah ke atas dan ke bawah.
Rider melengkungkan tubuhnya dan melompat. Dengan tombak pendek satu-satunya, dia menangkis kedua serangan tersebut dengan mulusnya.
Lemah!
Pada saat bersamaan, dia melontarkan sebuah tendangan. Dia tidak bertarung seperti kebiasaan seorang ksatria, tapi kemampuan bela diri yang terasah sepenuhnya di medan pertempuran.
Berserker terpental tapi berhasil menahan dirinya. Dia mengerang tidak senang, dan sebuah suara gemeretak aneh memenuhi udara. Akan tetapi, Rider sepertinya tidak memerhatikannya saat dia bertukar serangan dengan Saber sekali lagi.
Tidak ada satu luka pun pada mereka berdua, dan kedua serangan mereka ditiadakan. Dengan blood armor-nya, Siegfried tidak dapat terluka dengan serangan yang bukan tingkat B ke atas—yang memungkinkannya bertarung secara seimbang untuk sementara. Tapi kalau Noble Phantasm Rider ini mampu untuk menembus darah naga…
Apa yang kau lakukan, Saber?! Tidak ada segores pun luka padanya! Gunakan Noble Phantasm-mu! Gunakan!’
Dia tidak punya pilihan selain mengabaikan desakan Masternya. Rider belum bertarung secara serius, dan teka-teki dari kekebalannya belum terungkap. Mungkin dia memiliki Noble Phantasm dengan kekuatan yang sama dengannya—atau mungkin dia mempunyai sesuatu yang bahkan lebih kuat. Bahkan mungkin saja dia tidak dapat menerima serangan tanpa kondisi tertentu.
Jika Saber menunjukkan Noble Phantasm-nya sekarang, itu bisa berarti mengungkapkan identitasnya, dan itu sudah jelas akan menjadi hambatan di pertempuran yang akan datang. Melenyapkan Rider saat ini pastinya akan terbukti menjadi sebuah keuntungan luar biasa—tapi bagaimana kalau dia tidak kalah?
Sulit untuk dikatakan. Saber akan menjadi orang bodoh yang menggunakan Noble Phantasm-nya sepenuhnya hanya untuk membesarkan namanya. Belum lagi, kalau Rider berhasil melarikan diri dari pertempuran sebelum Saber mengakhirinya, identitas Saber akan sepenuhnya diketahui oleh fraksi Merah. Setelah itu, mereka semua akan tahu untuk menargetkan ke titik kelemahannya: punggungnya.
Saber tidak keberatan untuk berlaku seolah-olah tidak tahu malu, tapi dia tidak ingin bertindak bodoh. Dia hanya bisa membiarkan perintah tersebut lewat, tidak dilakukan. Dia ingin Masternya mengerti. Saat dalam keadaan normal, dia akan menggunakan kata-kata untuk menjelaskan sepenuhnya, tapi dia tidak punya kesempatan untuk itu saat ini.
Rider melompat mundur, kelihatannya ingin memulai dari awal.
“Ini tidak akan ke mana-mana, huh.”
“…”
Seperti yang dijanjikan, Saber tidak membuka mulutnya. Rider kelihatan cukup kesal dengan kurangnya respon.
“Kau benar-benar orang yang brengsek, ya? Laki-laki yang tidak tertawa saat di medan pertempuran, mungkin akan melupakannya saat mereka mencapai Elysium. Dunia ini cukup suram, hingga busuk dan bernanah—kau seharusnya mencoba untuk tertawa sedikit…”
Dia tidak setuju. Terkadang, tawa di wajah musuh menjadi sesuatu yang tidak lebih dari sikap merendahkan diri. Sebuah antusiasme penuh keriangan dalam duel karena saling menerima kekuatan satu sama lain adalah persoalan yang sepenuhnya berbeda dengan mengolok-olok mayat si kalah.
Menghadapi penolakan tanpa kata-kata dari Saber, Rider tertawa kecil.
“…sebelum kau mati. Kau tahu?”
Dalam sekejap mata, sebuah anak panah tak terlihat, terbang lebih cepat daripada suara, mengarah langsung ke dada Saber.
Saber terhempas mundur, terjungkir balik, dan menabrak beberapa pohon.
Uu…?!”
Berserker tidak dapat bersuara sedikit pun. Akan tetapi, dia segera mengerti apa yang terjadi; serangan yang tadi datang berasal dari seorang Servant yang berada jauh di belakang Rider. Pikirannya tenang dan cepat. Sebuah serangan dari jarak jauh, tidak terdapat kekuatan supranatural tapi murni kekuatan fisik… dengan kata lain, pekerjaan seorang Archer!
Kelihatannya Servant yang tersembunyi itu telah mengawasi pertarungan antara mereka dan Rider dengan seksama, menyadari bahwa serangan biasa tidak akan menyakiti Saber, dan menarik busurnya hingga ke batasnya untuk membuat serangan fisik dengan tingkat yang lebih tinggi. Tembakkan tersebut sudah jelas melampaui tingkat A, dan karena itu menembus kemampuan pertahanan Saber.
Akan tetapi, masalahnya adalah serangan tersebut datang begitu jauh sehingga kedua Servant itu tidak ada yang bisa mendeteksinya. Dan mereka sedang berdiri di tengah-tengah tanah lapang yang terbuka lebar; malam telah turun dan pepohonan yang mengelilingi mereka begitu lebat dan rapat. Dari sejauh itu—bahkan sekalipun yang mengawasi dapat melihat dalam kegelapan—Saber sudah pasti kelihatan tidak lebih besar dari titik yang bergerak.
Tapi serangan tersebut mengenai titik sasarannya. Itulah kenyataan yang paling mengerikan. Sebuah serangan jarak jauh yang ekstrim dengan tingkat A untuk kerusakan; daya penglihatan yang diperlukan untuk membidik sasaran dengan penglihatan mendekati nol; dan presisi yang begitu luar biasa untuk melancarkan serangan tepat semacam itu… mungkin, ada pemanah yang bisa memiliki semua kemampuan ini. Tapi, berapa banyak yang bisa melakukan itu semua secara terus menerus…?
Rider tiba-tiba berwajah masam saat dia melihat melewati Berserker ke hutan yang ada di belakangnya, dan mendecakkan lidah.
“Kelihatannya sudah tamat untuk Berserker kita. Tapi kau masih ada di sini, gadis cantik… dan ini baru akan adil untuk kita berhadapan satu sama lain, bukan begitu?”
Rider Merah, dengan senyum riang namun kejam, mempererat genggamannya pada tombak. Bahkan gadis tanpa rasa takut itu pun merasakan sesuatu penting dan mendasar pada ekspresi pria itu.
Dia paham sepenuhnya dari pertarungan mereka sebelumnya bahwa serangannya tidaklah ‘cukup’. Dia tidak dapat mencederainya dengan cara apa pun juga.
“Berapa lama menurutmu Melas di sana perlu waktu untuk pulih? Sepuluh detik? Dua puluh? Yah… itu tidak bisa lebih cepat daripada tombakku.”
Melarikan diri, melawan, menyerah… semua pilihannya diabaikan.
Berserker menggertakkan giginya, tidak memiliki pilihan selain menyerah terhadap keadaan terdesaknya saat ini. Atau… kalau dia harus mati pada akhirnya, mungkin dia bisa melepaskan seluruh Noble Phantasm-nya.
Dipaksa untuk membuat keputusan, Berserker menggeram saat dia menguatkan tekadnya. Dia akan menggunakan seluruh kekuatannya untuk menundukkan Rider…
Tapi, begitu pertimbangan itu memasuki pikirannya, situasinya berbalik total. Dia merasakan gelombang besar prana muncul dari belakangnya dan membuatnya secara refleks membalikkan badan. Itu adalah Saber, yang menghunuskan pedang besarnya dengan kesakitan.
øøøøø


Gordes kehilangan kesabarannya. Saber tidak hanya mengabaikan sarannya, tapi bahkan membiarkan pertahanannya melemah dan terkena serangan. Kelihatannya Rider Merah begitu ulet. Sejauh yang bisa dia perkirakan lewat indera familiarnya, parameternya juga sangat tinggi. Dengan Berserker musuh yang kini dalam genggaman, kememangan akan lebih dipastikan untuk Yggdmillennia kalau mereka dapat mengalahkan Rider ini.
“Saber! Saber! Gunakan Noble Phantasm-mu! Gunakan!”
Tidak ada Servant yang mendengarkan seruan Gordes itu. Dia sendirian, terkunci di dalam ruangannya saat dia terus memberikan arahannya.
Seorang Master yang normal tidak mengganggu dengan memberikan instruksi-instruksi rinci saat pertarungan. Itu karena mereka memiliki keyakinan penuh pada Servant mereka dalam hal pertempuran. Setidaknya, seorang Servant memiliki kemampuan dan pengalaman langsung yang jauh lebih besar daripada seorang penyihir. Seorang Master yang normal hanya akan membicarakan mengenai strategi.
Selain Saber dan Gordes, para Master dan Servant Hitam lainnya telah membangun hubungan mereka. Archer dan Fiore telah sepenuhnya terbuka satu sama lain, bertingkah lebih seperti seorang guru dan seorang murid pada umumnya. Lancer tidak ada masalah dengan Darnic selama dia melayaninya dengan setia. Celenike kesulitan dengan sifat kurang menahan dirinya Rider, tapi dia juga mendapati hatinya telah terpikat dengan kemurnian dan kepolosannya, dan mereka kelihatannya tidak akan memutuskan kontrak mereka selain karena kematian. Berserker Caules setia dan, setelah beberapa diskusi apa adanya antara Master dan Servant, Berserker mau untuk bekerja sama dengannya. Dan, tentu saja, Roche mengagumi Caster Merah dari lubuk hatinya.
Namun Gordes telah mengabaikan semua kesempatan untuk berkomunikasi dengan Servantnya setelah pemanggilan terjadi. Dia tidak mencoba untuk memahaminya, hanya takut pada pengungkapan nama aslinya.
Hatinya berada di tempat yang tepat. Akan tetapi, sikapnya terbukti menjadi kesalahan yang paling mengerikan… karena Gordes sama sekali tidak mengerti apa yang Saber sedang pikirkan.
Apa yang dia rasakan saat ini? Kecewa? Ingin memberontak? Ingin membunuh? Dipermalukan? Atau malah dia tidak merasakan apa pun?
Mereka seharusnya berbicara—mengenai pandangan mereka, tujuan dan keyakinan mereka. Mendengarkan perkataan satu sama lain adalah hal yang setidaknya harus mereka lakukan. Tapi Gordes menolak. Dia mencoba memperlakukan Servantnya sebagai sebuah aksesori, salah satu alat perang.
Apakah harga dirinya-lah yang membuatnya melakukan ini? Tidak bisakah dia singkirkan saja gagasan bahwa seorang Servant itu tidak lebih dari sekedar familiar lainnya?
Apapun itu, hal tersebut yang membuatnya dikuasai kegelisahan konyol selama pertempuran dengan Lancer, dan sekarang dengan Rider; mereka gagal, dan terus gagal, untuk meraih kemenangan saat situasinya berubah menjadi tidak menguntungkan.
Kalau saja dia memilih untuk mengawasi bagian belakang Servantnya… atau mungkin, seandainya ini adalah Perang Holy Grail yang biasa, di mana setiap Master dan setiap Servant terus-menerus diawasi enam lainnya…
…dia tidak akan pernah mencoba sesuatu yang bodoh seperti yang akan dia lakukan sekarang.
Akan tetapi, Gordes sedang mengawasi pertempuran di tempat yang aman. Sekalipun Saber dihancurkan, dan kehormatannya ternoda; dia tidak akan berada dalam bahaya secara fisik. Pemikiran tidak masuk akal ini, satu demi satu, semakin menumpuk dan mendorong Gordes pada satu keputusan…
…Saber! Aku memerintahkanmu dengan Command Spell…! Gunakan Noble Phantasm-mu untuk mengalahkan Rider!
Perkataan Gordes mencapai Servant-nya dengan jelas. Sekalipun Saber berada di sisi lain dunia, kata-kata yang disampaikan dengan kekuatan Command Spell akan mengukirkan diri mereka langsung ke jiwanya.
“…?!”
Secara alamiah, Saber terkejut. Dia berbalik dan menatap kastil—tapi, tentu saja, dia tidak dapat melihat Gordes. Dia mengacungkan senjatanya, melepaskan kekuatannya yang tersimpan. Permata hijau yang menghiasi gagang pedangnya bersinar, saat bilahnya mulai memancarkan cahaya jingga yang membelah malam.
Ugh…!”
Tidak… dia tidak boleh menggunakan Noble Phantasm-nya di sini. Begitu dia mengucapkan nama aslinya, identitasnya sudah jelas akan diketahui; lagipula, hanya satu Heroic Spirit di dunia ini yang memegang pedang besar phantasmal Balmung. Begitu identitasnya terungkap, titik kelemahannya juga akan diketahui. Dia akan langsung kehilangan setiap kesempatan yang dia miliki.
Jika ada kesempatan untuknya mengalahkan Rider, maka mungkin dia tidak akan menolak menggunakan Noble Phantasm-nya. Akan tetapi, Rider secara  efektif abadi, dan Saber tidak dapat membayangkan bahwa Noble Phantasm-nya bisa berhasil padanya.
Perlindungan Rider bukanlah sesuatu yang bisa ditembus dengan kekuatan semata. Sesuatu yang lebih dibutuhkan. Hal itu bisa saja seseorang perlu menggunakan api atau halilintar untuk melawannya. Itu bisa saja didasarkan pada kondisi tertentu; mungkin kekebalan Rider bisa ditiadakan di dalam hutan, atau malam hari.
Ada beberapa Heroic Spirit dengan kekebalan dalam legenda-legenda semacam itu. Sebagai contoh—walaupun ini bukanlah sebuah anekdot mengenai seorang Heroic Spirit—Dewa Perang Indra pernah bersumpah kepada naga Vrirtra untuk tidak menyakitinya dengan senjata apapun yang terbuat dari kayu, batu, atau logam, kering atau basah, juga tidak menyerangnya saat siang atau pun malam. Indra kemudian mengalahkan Vritra pada senja hari menggunakan bukan kayu atau batu maupun logam, kering atau basah, tapi dengan selajur buih lautan.
Keabadian sepenuhnya tidaklah ada.
Mereka mungkin adalah Heroic Spirit, tapi mereka tidak bisa melewati batasan mereka sebagai manusia. Seseorang yang mampu dalam hal itu—sebuah keberadaan di luar akal sehat—tidak dapat dipanggil sebagai Servant dalam Perang Holy Grail sejak awal. Hal tersebut berlaku untuk Saber; selain serangan yang melampaui tingkat B, ada juga titik kelemahan di punggungnya di mana darah naga tidak menyentuhnya. Bahkan Servant terlemah dapat membunuhnya jika mengincar bagian itu.
Keabadian macam apa yang dimiliki Rider? Master atau bukan…bergantung pada kekuatan semata untuk menyelesaikan masalah tanpa terlebih dahulu memecahkan teka-teki ini adalah tindakan seseorang yang tolol.
Saber melawan dengan seluruh kekuatannya. Akan tetapi, sebuah perintah yang diberikan dengan Command Spell adalah absolut. Prana memenuhi pedangnya dan dia mulai menaikkannya perlahan-lahan.
“Apa…? Saber…?!”
Rider menyadarinya. Bahkan dia terlihat cukup terkejut saat Saber mengangkat tinggi pedangnya dan mulai melepaskan Noble Phantasm-nya. Akan tetapi, seulas senyuman muncul di wajahnya, seakan mengejek.
Saber tidak lagi bisa memprotes masalah apakah dia sebaiknya mengerahkan senjatanya. Menilai dari cengiran Rider, kelihatannya ketakutan terbesarnya sudah diketahui dan kegetirannya semakin mendalam. Akan tetapi, dia tidak dapat menghentikan tangannya sendiri. Dia harus memutuskan—dan Saber, sambil menggertakkan giginya, mencurahkan semua kekuatannya pada satu serangan ini.
Felling [Bal-]
“Baiklah, kalau begitu… Saber…!”
Gelombang prana terkumpul. Untuk waktu yang singkat, malam yang menelan hutan menjadi fajar, diterangi oleh cahaya dari Nibelungs—pedang suci yang membunuh naga.
Akan tetapi, Rider menyeringai percaya diri, bersikap merendahkan. Benci untuk mengakuinya, Saber tahu bahwa satu serangan ini tidak akan berdampak padanya.
…of the Sky… [-mun-].”
Dia hanya bisa berharap bahwa serangan ini setidaknya dapat memberikan beberapa petunjuk misteri tentang Rider…
‘Aku memerintahkanmu dengan Command Spell! Jangan gunakan Noble Phantasm-mu!
Tepat saat suku kata terakhit akan meluncur dari mulutnya, Masternya mengeluarkan Command Spell lain. Hanya ada satu cara untuk membatalkan perintah yang diberikan dengan Command Spell, dan itu adalah dengan menggunakan Command Spell lainnya.
Saber terjatuh pada satu lututnya, tidak mampu untuk tetap berdiri. Mungkin itu karena begitu kuatnya Command Spell yang terjadi padanya. Rider mengangkat bahu dengan kecewa.
“Ada apa ini, kalau begitu? Tidak jadi menggunakannya? Yah, kurasa kau menyimpan sejumlah prana dengan begini, tapi itu membebanimu bagaimanapun juga. Kau tadi diperintahkan dengan sebuah Command Spell, ya ‘kan?”
Rider menatap dengki ke arah Master di belakang Saber.
“Ha! Dasar tolol! Jadi dia memerintahkanmu untuk mengaktifkan Noble Phantasm-mu dengan Command Spell, lalu menggunakan Command Spell lainnya untuk menghentikannya? Apakah dia tidak tahu bahwa menggunakan Command Spell adalah tindakan paling berbahaya dalam Perang Holy Grail?”
Saber tidak membalas. Rider sepenuhnya benar. Walau begitu, selama ikatan antara Master dan Servant tetap kuat, situasinya bisa diatasi—tapi Saber belum pernah merasakan hubungan semacam itu antara Masternya dengan dirinya.
“Yah, aku tidak bisa mengkritiknya, tidak di saat Masterku sendiri mengendap-endap di dalam lubang di suatu tempat. Haah… kau seharusnya setidaknya menyebutkan keseluruhan nama…”
Ucapan Rider terhenti saat dia dan Saber menatap satu sama lain tanpa kata-kata. Darah mengalir—tapi bukan dari Saber.
Pria itu telah mengelak dari setiap tebasan dan ayunan, tubuhnya bahkan menghentikan Noble Phantasm. Akan tetapi, bahu Rider jelas-jelas berdarah.
Guh…!”
Dalam sekejap, seakan bersinkronisasi dengan anak panah, Berserker lari ke depan—tidak ke arah Rider, tapi ke Archer Merah yang tak terlihat.
Di sisi lain, Rider menarik anak panah yang menancap pada dirinya. Memegangi lengannya yang tertusuk seakan mempertahankan dirinya pada kenyataan, Rider bertanya dengan suara rendah.
“Siapa di situ…?”
Dia tidak lagi memperhatikan Saber atau Berserker.
Berserker memancarkan prana dengan hebatnya di belakangnya, seakan dia sedang menutup jarak antara dirinya dengan Archer. Dia tidak begitu banyak berlari saat melayang, kaki-kakinya hampir-hampir tidak menyentuh tanah saat dia menendang pepohonan dan dahan-dahan, semakin mempercepat.
Alasan dari peningkatan kecepatannya adalah Noble Phantasm-nya— Maiden’s Chastity [Bridal Chest].
Ini bukan senjata yang hanya untuk menggada musuhnya; malahan itu hanyalah fungsi sampingannya. Kemampuan sebenarnya dari Noble Phantasm-nya adalah untuk menyerap prana. Di Perang Holy Grail mana pun—perjuangan beresiko antara Servant dan magi—mengubah prana akan berakhir menyebar ke mana-mana, pada akhirnya menghilang ke atmosfir.
Noble Phantasm-nya, ‘jantung’ dari monster Frankestein, memiliki kemampuan untuk menyerap kelebihan prana. Kumpulan energi ini dapat kemudian dialirkan melalui jantung Berserker dan ke Magic Circuit, bahkan memungkinkan dia untuk menyaingi [Prana Burst]. Tentu saja, ini bukan senjata pamungkas—tapi mengambil bentuk sebagai Servant Berseker, siapa pun akan terdesak untuk menemukan senjata yang lebih sesuai. Untuk kelas yang memakai habis prana dalam waktu singkat saat diaktifkan sepenuhnya, Noble Phantasm ini memampukan dia untuk bertarung seperti gerakan mesin yang tiada henti.
Dia mungkin terlihat cenderung menyerang begitu saja, tapi Berserker sebenarnya diberikan alasan kuat kenapa dia harus mengincar Archer Merah. Barusan, sebelum Rider terkena serangan di bahunya oleh panah itu, Berserker secara telepatis terhubung.
Dengar baik-baik. Aku akan menangani anak panah musuh dan juga Rider. Pastikan secepatnya menuju Archer lawan.
Berserker mengerang tidak setuju. Itu tidak akan berhasil—tidak ada yang berhasil terhadap Rider.
Anak panahku akan terbukti sebagai pengecualian. Melawannya secara langsung mungkin sesuatu yang di luar kemampuanku—tapi tolong, percayalah padaku.”
Berserker tidak memprotes lebih jauh. Dia tidak punya pilihan sejak awal; untuk saat ini, dia mungkin sebaiknya melakukan seperti yang dikatakan Archer.
Begitu anak panah Archer menancap di bahu Rider, Berserker berlari maju tanpa ragu-ragu.
Ooooooooooooooooooooooooooooooh!”
Berserker meraung saat dia mengamuk dan melesat maju.
Tujuannya—si pemanah licik yang sedang bersembunyi dan membidik dari dalam kegelapan. Dia akan menyeretanya keluar ke cahaya bulan, dan mengurung tujuannya…!
øøøøø


Archer Hitam, berdiri di atas dinding tebal Benteng Millennia, merasa lega saat anak panahnya menembus Rider sesuai perkiraan.
“Master, tolong biarkan Saber mundur. Tidak ada yang bisa dilakukannya untuk melawan Rider.”
“Baiklah… Akan kuberi tahu Kakek.”
Segera setelah Fiore menghubungi Darnic, Saber berubah menjadi bentuk spiritual dan menghilang.
Mereka telah mencegah yang terburuk; Noble Phantasm-nya tidak sepenuhnya aktif. Ada kemungkinan bahwa identitasnya tidak terungkap. Akan tetapi, harga yang dibayar terlalu besar.
Command Spell—hak penuh untuk memberi perintah—bukan hanya untuk memaksakan perintah. Dengan prana begitu besar yang terkandung dalam Command Spell, adalah hal yang mungkin untuk memunculkan sejumlah kekuatan ajaib. Akan tetapi, mereka sudah menggunakan dua. Kelihatannya, hanya ada tinggal satu Command Spell yang tersisa pada Gordes.
“Aku khawatir terhadap serangan lebih jauh, Master… Kau sebaiknya mundur. Panggilah aku dengan Command Spell kalau kau ada keperluan mendesak.”
Fiore memiringkan kepalanya dengan anggun dan membalas.
“Aku mengerti, Archer… Semoga beruntung.”
Dia terlihat pucat dan sangat kebingungan. Archer menyunggingkan senyum lembut untuk menenangkannya.
“Tidak akan apa-apa, Fiore. Bagaimanapun juga, aku adalah Servant-mu.”
Fiore pergi, dan Archer melayangkan pandangannya ke kedalaman hutan luas tersebut—ke arah Rider dan Archer musuh. Dia menarik busurnya dan membidik Rider, membiarkan semua pikirannya lenyap terlupakan dan memusatkan dirinya sepenuhnya pada busurnya. Sosok seorang pemanah yang sangat sempurna, begitu indah seperti bintang-bintang di langit.
Bagaimana pun juga… orang ini, lembut bagaikan laut yang tenang, adalah pemanah paling terkenal di dunia. Setiap anak panah yang dia lepaskan itu sama cepatnya seperti bintang jatuh.
øøøøø


“Dasar tolol. Apakah tidak pernah terpikirkan olehmu untuk menyadari waktu yang paling menguntungkan untuk melepaskan Noble Phantasm Saber?”
Gordes hanya dapat menundukkan kepalanya, tidak dapat berargumen melawan perkataan dingin Darnic. Malu, putus asa, amarah—semua emosi ini dan lebih banyak lagi bercampur menjadi satu dan menyebar ke dalam hati dan pikirannya.
Begitu Darnic menerima pesan mendesak dari Archer, dia dengan segera mendatangi Gordes dan memaksanya untuk menggunakan Command Spell. Tanpa peringatan dari Archer—bahwa “Noble Phantasm Saber tidak akan berhasil pada Rider”—Saber akan mengungkapkan nama aslinya hanya untuk serangan yang sia-sia.
Dua Command Spell… yang berhasil kau lakukan hanyalah menyiak-nyiakan dua Command Spell. Dan itu pilihan yang masih lebih baik daripada membeberkan nama asli Saber.”
Strategi mereka berkisar pada mempertahankan kerahasiaan Saber hingga saat dirasa perlu untuk melepaskan Noble Phantasm-nya. Ini adalah keputusan Darnic bahwa mereka harus terus menyembunyikan satu-satunya rahasia umum Siegfried sampai Assassin dan kemampuan [Menyembunyikan Keberadaan]nya terlepas dari permainan.
Mereka hampir kehilangan segalanya karena tindakan Gordes yang tak terkontrol. Rider Merah mungkin mendapatkan nama sebenarnya Saber. Sekalipun tidak, apapun hasil pengamatan yang Rider dapatkan dapat memberikan petunjuk pada pihak lawan tentang siapa sebenarnya Saber. Kemungkinan besar Saber telah dicurigai.
“Munculkan Saber di sini.”
“…”
Tanpa berkata-kata, Gordes membiarkan Saber mewujud di sebelahnya. Saber berlutut dengan hormat di hadapan Gordes dan Darnic.
“Tenanglah, Saber. Aku hanya ingin menanyakanmu ini: apakah Rider musuh menyadari namamu yang sebenarnya?”
“Jawab dia, Saber…”
Menerima perkataan Gordes sebagai tanda setuju, Saber berbicara.
“Aku tidak sepenuhnya melepaskan Noble Phantasm-ku. Bukanlah hal yang mustahil untuk membuat dugaan berdasarkan penampilan dan armorku, tapi…”
“…kau yakin bahwa kemungkinannya rendah.”
Saber mengangguk. Darnic menghela napas kuat-kuat.
“Tapi tetap saja, kemungkinan tersebut ada… setidaknya, kita sebaiknya menyuruh seseorang untuk menjagamu sepanjang waktu mulai sekarang.”
Setelah mempertimbangkannya, Darnic memutuskan Rider. Archer bertindak sebagai komandan dan harus memberikan perintah dan arahan. Raja mereka, Lancer; Caster; semuanya pilihan yang buruk. Assassin belum muncul. Dengan demikian, Rider yang bebas adalah pilihan terbaik untuk berdiri di samping Saber di garis depan.
‘Tuan Darnic, jika boleh aku…’
Sebuah suara memanggil saat Darnic sedang berpikir keras. Caster telah berbicara dengannya lewat telepati.
‘Ada apa?’
Homunculus yang telah kucari-cari…kelihatannya Rider memimpinnya keluar dan mencoba melarikan diri. Homunculus itu adalah sumber daya yang berharga. Aku ingin segera mendapatkannya kembali sebisa mungkin…’
‘Apa…?’
Darnic kebingungan dengan tindakan Rider yang tak terduga. Melarikan diri bersama seorang homunculus? Bahkan pengkhianatan palsu akan lebih mudah untuk dimengerti.
‘Aku tidak tahu kenapa, tapi homunculus tersebut…’
‘Kenapa begitu berharga?’
‘Dia adalah kandidat yang mungkin untuk [core].’
‘Oh? Kalau begitu…Akan kukirimkan seorang Servant untuk mengejar mereka.’
Terima kasih banyak, Caster mengucapkan perkataan pamitnya. Darnic segera memerintahkan Gordes yang senggang untuk mengejar Rider bersama Saber dan membawa kembali homunculus tersebut. Jika mereka beruntung, dan dapat digunakan sebagai ‘core’ seperti yang disarankan Caster, maka mereka sebaiknya mengamankannya. Walaupun jelas-jelas terlihat tidak senang dengan kemudahan tugas tersebut, Gordes tidak berani untuk melawan perintah dari kepala keluarga dan mulai melacak pasangan tersebut.
Tentunya, pelarian homunculus tersebut adalah perkembangan yang mengejutkan. Siapa yang dapat menduga sebuah penyedia prana lemah—yang bahkan bukan model petarung—dapat berhasil menghancurkan wadah kaca dengan thaumaturgy? Tapi ini hanyalah seorang homunculus. Dia tidak dapat mencapai apapun sendirian. Selain itu, secara fisik dia cacat. Homunculus tersebut sama sekali tidak membayangkan hal itu. Membiarkannya melarikan diri membuat sedikit perbedaan.
Akan tetapi, dalam hal ini… mereka harus mendapatkannya kembali meskipun mereka harus menggunakan seorang Servant.
Walau begitu, kenapa Rider membantu homunculus ini untuk melarikan diri? Dia sudah jelas tidak dapat berencana untuk meloloskan dirinya sendiri. Dia adalah seorang Servant; potonglah jalur prananya dan dia akan menjadi familiar yang kebingungan sebagaimana mestinya, tidak dapat selamat dengan usahanya sendiri.
Darnic tidak dapat memahami apa yang Rider sedang lakukan. Apakah dia sedang mencoba untuk menyelematkan  homunculus tersebut? Bagaimana? Apakah dia benar-benar yakin sampah semacam itu dapat berbaur dengan dunia normal…?
Bagi sang penyihir yang sudah hidup lebih dari seratus tahun, ini adalah omong kosong yang tidak bisa dipahami.
øøøøø


Pengguna pedang, tombak, kegilaan, thaumaturgy, assassination—para Servant diberikan beragam kelas. Akan tetapi, hanya pengguna busur yang memiliki ‘kekuatan’ tersembunyi.
Malahan, itu adalah tekhnik yang pasti dimiliki siapa pun yang hidup dengan busur. Ini adalah sebuah keahlian yang mereka miliki secara alamiah, tidak peduli apa kelas atau kemampuannya. Mudahnya: semakin kuat ditarik, semakin kuat tembakkannya. Terlebih lagi, busur yang digunakan oleh Archer Merah berasal dari dewi pemburu sendiri. Dengan berharap, dengan membidik, dengan menarik tali busur dengan segenap kekuatan di tubuhnya, menarik hingga melampaui batas—busur tersebut akan mengenai dengan kekuatan para dewa.
Semua manusia memiliki dosa awal yang bahkan para orang suci harus mempertanggungjawabkannya. Akan tetapi, ini adalah sebuah ketidaksadaran, tindakan secara insting dari binatang buas. Orang-orang mengatakan bahwa dosa ini adalah ‘memburu’… dan gadis ini, busur dan anak panahnya adalah alat untuk melakukannya.
Dia adalah ahli perburuan, dilahirkan oleh anugerah dari Artemis. Kemampuannya busurnya begitu hebat, sosok tangkasnya tidak tertandingi oleh kecepatan siapa pun. Dia adalah Atalanta—pemburu terhebat dari mitologi Yunani.
Sekarang, dia tidak sedang menarik busurnya sampai sekuat sebelumnya. Sebagai gantinya, dia menitik beratkan pada kecepatan. Masalahnya adalah seberapa cepat dia dapat mengunci posisi, menarik, dan melepaskan anak panahnya.
Si Berserker Hitam, tidak seperti Saber, tidak terlindung; tidak dengan kekuatan dewa, ataupun iblis, atau apapun selain itu. Setiap serangan yang dia tembakkan akan menembus.
“Bodoh…apa kau sudah benar-benar jadi gila?”
Archer membiarkan dirinya melakukan beberapa tembakan yang tidak tepat sasaran saat Berserker terus mendekat. Lagipula, tidak peduli seberapa cepatnya Berserker berlari, ada jarak yang signifikan antara mereka. Hanya dengan bantuan dari Command Spell dia dapat mendekat dalam sekejap. Semakin dekat Berserker, semakin dekat dia dengan kematian.
“Kau akan membayar kesembronoanmu…”
Bidikan Archer sudah tepat. Sebuah busur yang tidak dibidikkan dengan tangan semata tapi dengan inderanya. Tidak peduli secepat apa sasarannya, panahnya akan menembus jantungnya.
“…dalam darah!”
Anak panah yang dia lepaskan berwarna hitam, baik untuk menghapus semua kemungkinan terdeteksi di pertempuran malam hari. Belum lagi panah ini melesat lebih cepat daripada suara. Hanya perlu sekejap baginya untuk melihat anak panahnya muncul dari dada mangsanya, dan semuanya akan selesai.
Tetapi…
Itu… tidak mungkin…
Akhirnya, Archer Merah mengerti. Dia dipaksa untuk menyadarinya. Dalam Perang Besar Holy Grail, ada dua Servant di setiap kelas. Dengan demikian—pihak lawan juga memiliki seorang Archer dengan level yang sama dengannya.
Anak panahku ditembak jatuh…?!
Archer tertegun selama beberapa saat atas kejadian tak terduga ini. Kalau Berserker mengelak dari serangan itu, dia sudah pasti akan menerimanya; sebagai seorang pemburu, adalah hal langka bagi mangsa untuk tiba-tiba duduk. Kalau Berserker balik membalas, dia akan mengerti; sebagai seorang pemburu, adalah hal yang alamiah kalau mangsa yang akan kau bunuh merespon seperti itu.
Akan tetapi, bukanlah sebuah kebetulan bahwa anak panahnya dihalangi. Hal tersebut tidak dilakukan oleh mangsanya. Tidak, itu berasal dari orang ketiga yang berada di luar perburuan sepenuhnya. Itu mungkin hanya bisa dilakukan oleh Archer Hitam.
“Bagaimana mungkin…?!”
Archer tidak pernah merasa begitu dipermalukan. Bagaiamana bisa tembakkanku dipatahkan oleh orang lain…?!
“…Oooooooooaaaaaaaaaahh!
“Sial, dia cepat…!”
Dia mengenyahkan semua pikiran tentang rasa malunya. Saat ini, dia pasti merasakan Berserker yang sedang mendekat. Sebagai ganti keindahan dan tekhnik, dia memilih serangan serempak sederhana untuk serangan berikutnya. Tiga anak panah muncul dalam sekejap di tangannya dan dia membidik Berserker. Anak panahnya bukanlah Noble Phantasm; mereka sama sekali tidak memiliki fungsi khusus seperti melacak musuh dengan bebas. Dengan kata lain, dia bertujuan untuk menang lewat kuantitas daripada kualitas.
Tentu saja, begitu setiap dari anak panah ini mengenai sasarannya, itu akan berarti kekalahan bagi musuh. Ketiga anak panah yang dia tarik itu dibidikkan pada dada, kepala dan kaki Berserker—semua titik vital—dengan tepat. Bahkan sekalipun serangan pertama tidak mengakhiri Berserker, kalau bisa memperlambatnya sementara Archer menarik busurnya lagi… Dengan persiapan yang sempurna dan semua kemungkinan kekalahan dihilangkan, sang pemburu melepaskan anak-anak panahnya.
Sayangnya, ‘kesempurnaan’ hanyalah sebuah bayangan. Pikirannya begitu yakin bahwa dia berada dalam kondisi sempurna, tapi, memperhatikan kepalanya, perlawanannya yang terlalu awal hanya menunjukkan ketakutannya akan kekalahan.
Gaaaaaah!”
Berserker menangkis hanya satu anak panah sedangkan dua yang lainnya kena. Anak panah menembus kaki dan dadanya, tapi dia sama tidak bereaksi. Bagaimanapun, dia adalah homunculus Frankenstein, sebuah makhluk ciptaan; dia dapat mengontrol reseptor rasa sakitnya dengan mudah. Selama cedera yang didapatnya tidak menghambat pergerakan tubuhnya, dia tidak bisa diperlambat—apalagi dihentikan.
“Hmph…”
Dalam sekejap, Archer Merah memutuskan untuk meninggalkan pertempuran. Heroic Spirit dengan harga diri lebih, akan mempertimbangkan untuk tetap di tempatnya dan berjuang demi keunggulan, dan Archer masih percaya diri bahwa dia bisa mengalahkan Berserker. Tapi dia adalah seorang makhluk buas, dan baginya, kebanggaan adalah sesuatu yang sama tidak bernilainya dengan daging bangkai yang menjadi makanan serigala-serigala. Dia memutuskan untuk mundur tanpa ragu-ragu. Tujuan dari penyerangan ini hanyalah untuk membantu Berserker. Begitu tugas diakhiri, tidak ada alasan baginya untuk tetap di situ.
Dia tidak mengkhawatirkan Rider; dia sudah pasti memiliki caranya sendiri untuk mundur. Memanggul busurnya, dia menegaskan pada Berserker Hitam.
“Kita akan bertemu lagi, pejuang gila…”
Dia berbalik dan melesat maju. Melihat tidak ada lagi serangan datang dari jarak jauh, Berserker mengejar secepat mungkin.
Akan tetapi, Atalanta terkenal memiliki kaki yang paling tangkas di mitologi Yunani. Setiap peminang yang tertarik pada kecantikan liarnya harus menyelesaikan balapan dengannya, berharap untuk menang dan memperistrinya, tapi mereka semua dikalahkan oleh kaki gesitnya dan dipanah hingga mati. Bahkan Berseker tidak dapat mengharapkan bantuan prana dari Bridal Chest untuk mengisi perbedaan kemampuan fisik antara mereka. Archer Merah dengan cepat menghilang dari pandangan Berserker. Dia berkeliling ke mana-mana dengan sesal untuk sesaat sebelum akhirnya dia mengakui bahwa dia telah melarikan diri. Berseker mengerang tidak senang. Tentu saja, lolongannya tidak akan mengembalikannya; Berserker menyerah terhadap pengejaran tersebut dan dengan cepat berbalik mundur.
øøøøø


“…!”
Rider Merah terkejut—bukan karena rasa malu, tapi karena senang. Dia benar-benar bersyukur bahwa di Perang Besar Holy Grail ini, dia menemukan seseorang yang mampu melukainya. Archer Hitam memiliki kemampuan hebat dengan busurnya; memalukan untuk berpikiran bahwa tidak ada seorang pun yang dapat melampaui Archer di sisinya.

Archer musuh menyerang lagi. Berdasarkan dari riakan udara dan desingan tipis angin, itu adalah lima anak panah yang dilepaskan dengan cepat berturut-turut. Cukup mudah untuk menghindarinya dengan melompat mundur—tapi dua kali terakhir dia mencoba hal itu, tindakannya telah terbaca dan dia tertusuk lebih banyak anak panah.
Apakah Archer Merah dapat membaca pikirannya? Apakah dia atau Noble Phantasm-nya memiliki semacam kemampuan untuk memprediksi? Bagaimanapun juga, Rider tidak dapat bergerak selangkah pun, apalagi mengejar Berserker Hitam.
Tapi yang paling penting, anak panah Archer menembus perlindungan Rider—yang berarti Archer tersebut keberadaannya sama dengannya. Rider yakin bahwa Archer Hitam itu—diperlengkapi dengan garis keturunan dan kemampuan—dapat menjadi musuh terbesarnya di perang ini.
Menghadapi serangan yang ketiga, Rider tanpa takut melangkah maju—tapi niatnya dengan tepat terbaca lagi. Sebelum dia menyadarinya, anak panah lainnya menancap di lututnya. Rasa sakit yang dirasakannya dengan jelas karena benda tersebut—sesuatu yang tidak dia rasakan untuk waktu yang sangat lama—menjadikannya mustahil untuk Rider menahan nafsunya yang meningkat.
“Haha… hahahahaha! Ya, ini! Ini mengagumkan, Archer! Jadi kau bisa melukaiku! Kau bisa membunuhku! Ini pastilah takdir yang mempertemukan kita! Wahai para Dewa Olympus, semoga kalian memberikan keagungan dan kehormatan pada pertempuran ini!”
Akan tetapi, akan sangat disesalkan jika mereka bertanding demi membuktikan keunggulannya di sini ketika Rider bahkan tidak sedang menunggangi apa pun. Akan menjadi hal yang disayangkan untuk menyelesaikan duel mereka di hutan yang terpencil, tanpa siapapun yang menyaksikan kehebatan mereka.
Dengan Berserker tim mereka yang telah dikalahkan, dan Archer yang mundur, hanya ada sedikit alasan baginya untuk tetap berada di tempat itu dan melakukannya seorang diri. Rider meletakkan jarinya di mulut dan bersiul; sebuah kereta perang yang ditarik tiga kuda mengagumkan dengan segera muncul dari langit dan berdiam di sebelahnya.
Melompat ke sisi pengendara, Rider berseru.
“Kita akan menyelesaikan ini lain waktu, Archer Hitam! Kali berikutnya—aku akan melihat siapa kau sebenarnya!”
Dengan sebuah suara lecutan cambuk, kuda-kuda tersebut mengangkat kepalanya dan meringkik, berderap pergi dengan gagah menuju langit dengan kekuatan penuh. Jelas bahwa Rider tidak melarikan diri; dia menunda perang tersebut untuk kali berikutnya.
øøøøø


Si penerima di sisi lain, Archer, juga tersenyum. Akan tetapi, senyuman terkesan pahit.
“Aku mengerti… Kurasa ini tidaklah mustahi di Perang Holy Grail, tapi… kelihatannya takdir terkadang menunjukkan taringnya bahkan pada mereka yang sudah mati.”
Archer Hitam mengenalnya; dia tahu identitas dari Rider Merah.
Servant tersebut terkenal sebagai salah satu pahlawan terbesar dalam sejarah, dengan begitu banyak legenda berdasarkan ketenarannya. Kemungkinan besar, dia adalah satu-satunya teladan yang sebenarnya di antara para peserta Perang Besar ini.
Diberkahi dan diagungkan oleh para Dewa Olympus, pria tersebut dapat kebal dan menangkis semua jenis serangan. Intinya, dia tidak dapat dikalahkan dengan serangan fisik atau bahkan serangan ‘normal’ para Servant.
Hanya mereka yang memiliki [Kedewaan]—mereka yang seperti dirinya, yang di pembuluh darahnya mengalir darah dari seorang dewa—yang diijinkan untuk melukainya. Di antara ketujuh Servant Hitam, hanya Chiron yang memiliki sifat ini. Dengan kata lain, tidak akan ada kemenangan dalam Perang Besar ini tanpa dirinya secara pribadi mengalahkan Rider Merah.
Akan tetapi, kelihatannya Rider tidak menyadari identitas Archer. Memang benar, kebanggaan tanpa batasnya merupakan kekurangan terbesarnya sebagai seorang pejuang. Tentu saja, tidak ada seorang pun yang pernah memanfaatkan kekurangan tersebut; cacat kecil itu hanya sedikit artinya ketika seseorang dihancurkan oleh kekuatannya yang tidak terkira.
Walau begitu, kali ini kebanggaan tersebut menjadi racun yang merenggut nyawanya. Tidak hanya Archer dapat melukainya—tapi dia mengetahui nama aslinya, dan titik kelemahan terbesarnya.
“Tidak peduli rasa sakit yang kau terima untuk menutupi identitasmu… ada satu sisi dalam akal sehal yang tidak akan pernah kau lewati. Nama aslimu tidak tersamar dari orang yang mengenalmu ketika hidup.
Rider adalah pahlawan yang kuat dan luar biasa. Karena itulah mengapa Perang Besar ini akan menghancurkannya.
øøøøø


Homunculus tersebut melatih jalannya saat seorang Rider yang-kehabisan-napas, muncul dengan sedikit terluka, tiba-tiba menghempas pintu hingga terbuka. Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya ke homunculus itu.
“Sekarang saat yang tepat. Ayo kita lakukan ini!”
Homunculus itu dengan segera memahami situasinya; dia meraih tangan Rider dan mereka berlari keluar bersama. Ini terasa lebih mudah daripada bergerak yang biasanya—mungkin karena Rider menariknya. Sayangnya, karena dia masih cukup rapuh, pelarian mereka menjadi lamban.
Mereka berpapasan dengan beberapa homunculi saat mereka lari menuruni aula-aula, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang menantang Rider atau pelarian tersebut. Malahan, homunculi itu mengawasi mereka pergi dengan tatapan mata dingin yang tersirat dengan sedikit emosi—rasa kasihan, dan harapan yang samar-samar.
Para golem, akan tetapi, tidak memperlakukan mereka dengan cara yang sama. Golem pengawas Roche, yang ditingkatkan kemampuannya di bawah bimbingan Caster, berlari dengan cepat di sepanjang jalan batu dalam pengejaran yang hati-hati. Pada dasarnya, mereka tidak berani mengganggu Rider. Caster sendiri juga tidak terlihat berniat untuk mengikuti mereka; bagaimanapun, ini sama sekali bukan bagian dari tugasnya.
Tersengal-sengal, kedua orang itu akhirnya berhasil melarikan diri dari kastil. Saat mereka melewati gerbang belakang dari tembok bagian timur, mereka melihat sungai yang berarus cepat. Aliran air berlumpur, seperti banjir yang tanpa henti, sudah jelas dipasang secara thaumaturgy. Di sisi lain sungai adalah  sebuah gunung terjal yang kelihatannya sangat sulit untuk didaki. Akan tetapi, di situlah di mana kebebasan berada. Sebuah kebebasan dengan kebahagiaan samar dan kenyataan yang kejam—tapi itu cukup berharga untuk dijalani.
“Hm… pastikan kau tidak melepaskan tanganku, oke?”
Homunculus tersebut menggelengkan kepalanya. Area di sekelilingnya sudah jelas simpang siur dengan jebakan thaumaturgy dan perbatasan. Mereka akan menjadi masalah kecil bagi seorang Servant, tapi tidak sama halnya dengan homunculus; hanya butuh kurang dari sepuluh menit untuk mereka melakukannya dengan produk cacat ini, karena siapapun yang menggunakan thaumaturgy akan membuatnya sekarat. Akan tetapi, Astolfo penuh percaya diri saat dia terkekeh.
“Karena itulah aku punya ini. Tadaaaaa!”
Dia mengeluarkan sebuah buku tebal bersampul kulit. Huruf-huruf dan bentuk yang ada di sampulnya sudah pudar dan cukup aus, tapi bahkan homunculus tersebut dapat mengetahui bahwa buku itu berkaitan dengan sihir.
“Dulu sekali, aku diselamatkan oleh nona Logistilla. Dia kemudian memberiku ini. Hanya dengan membawanya, ini membuatku dapat melewati segala macam thaumaturgy!”
Itu hebat, kata homunculus itu dengan keheranan. Kelihatannya ini adalah salah satu dari Noble Phantasm-nya yang lain. Si paladin Astolfo telah melakukan petualangan kapan pun suasana hatinya sedang bagus, dengan banyak prestasi atas namanya, dan bahkan mencapai bulan pada akhirnya. Pada dasarnya, dia mempunyai Noble Phantasm langka.
“Hanya ada… satu masalah kecil… Aku, hehe, tidak ingat Noble Phantasm ini disebut apa…”
Rider meringis malu saat dia dengan tenang memberitahukan kenyataan konyolnya.
“Tapi tidak masalah! Biasanya, aku hanya perlu memegang bukunya untuk mendapatkan efeknya. Setidaknya, tidak ada penyihir modern yang dapat dapat melukaiku… walaupun ini mungkin berbeda untuk seseorang yang bukan berasal dari era modern, seperti Caster.”
…Atau mungkin sesuatu yang dekat secara tak terbatas pada sihir seperti [Reality Marble]. Akan tetapi, daerah terikat dari tipe tersebut tidak dapat dijabarkan seperti ini. Selain itu, kenapa mereka menggunakan sihir hebat semacam itu untuk mengejar satu homunculus?
“Umm… apa ya itu…? Universal <Luna>… Magic <Break>… G-Guide <Manual>… sepertinya? Kelihatanya begitu, tapi…”
Kau… sebaiknya mungkin mencoba untuk mengingatnya sebelum pertempuran dimulai, homunculus menyarankannya. Itu akan sangat konyol jika dia kalah dalam perang ini tanpa pernah mengingat nama dari salah satu Noble Phantasm-nya.
“Kurasa begitu… baiklah, ayo.”
Rider menggenggam erat tangan homunculus itu dan melompat maju. Air di sungai mencoba untuk menghalangi mereka dengan menyelimuti mereka, tapi kemudian ditolak oleh buku tersebut dengan sedikit menyolok.
“Bagaimana perasaanmu? Bisakah kau berjalan?”
Sedikit, balas homunculus itu, menolak gerak-gerik Rider untuk menggendongnya. Homunculus ingin berjalan dengan kedua kakinya sendiri, setidaknya sampai dia tidak bisa berjalan lagi.
“Hmph… Archer mengajarimu itu, bukan?”
Rider bergumam, kedengarannya semacam ketidakpuasan. Dia kelihatannya cukup tidak senang bahwa hanya dengan beberapa menit yang Archer habiskan dengan homunculus tersebut sudah cukup untuk meyakinkan dia mengikuti ajarannya.
“Baiklah, aku akan berada di sisimu sampai kau memberitahu sebaliknya.”
Homunculus itu mulai berjalan. Sekalipun kakinya tidak terlalu terbebani, staminanya adalah masalah lain. Pastinya, semakin dia lelah, semakin lambat langkahnya. Tumit dan pahanya mulai berkeriat-keriut serta melengking.
“Apa kau tidak apa-apa?” Rider bertanya lagi dan lagi, dan sekalipun homunculus tersebut berkeras, hanya sebanyak itu yang bisa dia lakukan dengan latihan satu malam. Setelah sejam, homunculus itu tidak lagi dapat mengambil satu langkah lain tanpa bersandar pada bahu Rider.
“Aku merasa kau telah melakukannya dengan baik.”
Rider menghiburnya sambil dengan mantap menavigasi jalur gunung melewati kegelapan. Saat homunculus tersebut melihat ke atas, dia tidak dapat melihat satu bintang pun di langit. Mungkin ada semacam thaumaturgy di suatu tempat yang menyebabkan mereka yang terkena hal tersebut menjadi kehilangan kesadaran arah. Kemungkinan besar, kompas dan peta tidak berguna juga di sini. Akan tetapi, Rider terus berjalan lurus, seakan dia yakin dengan jalannya.
“Bukankah kau senang aku ada di sini bersamamu?”
Rider menyunggingkan seulas senyuman bangga. Aku tidak akan dapat melihat senyum ini lagi besok, pikir homunculus tersebut dengan rasa sesal. Rider akan kembali ke Perang Besar—dan dia akan harus memikirkan tentang bagaimana caranya dia menjalani hidup. Kemungkinan besar dia akan mati; juga adalah yang sangat mungkin bahwa Perang Holy Grail ini akan menghabisinya. Dengan semua kemungkinan itu, ini mungkin akan menjadi kali terakhir mereka melihat satu sama lain dalam keadaan hidup.
Rider adalah seorang pahlawan, seorang petualang, dan yang paling penting— seorang Servant, dipanggil ke masa ini untuk bertempur. Dia adalah sebuah keberadaan yang berbeda dari homunculus yang diciptakan untuk dibuang.
“Ada yang kau pikirkan?”
Homunculus mengelak sebagai responnya. Tidak ada orang yang perlu mendengarkan perasaan rasa tidak berharga dan rendah dirinya.
Tidak ada satu suara pun di dalam hutan yang gelap. Dia hampir tidak dapat mendengar apapun, bahkan tidak satu pekik burung pun, kecuali gemeresak dari dahan-dahan dan rerumputan yang bergoyang. Apakah ini semacam serangan balasan melawan familiar? Hutan sepenuhnya ditutupi dengan penghalang.
“Ahh… ini membuatku teringat kembali! Apakah kau tahu kalau aku tadinya diubah menjadi sebatang pohon?”
Rider melihat ke atas dan tertawa saat dia mengatakan tentang kegagalannya di masa lalu.
Sekalipun banyak kisah hebat mengenai Astolfo, dikatakan bahwa dia membuat kesalahan sama banyaknya. Dia terus-terusan kalah di turnamen menunggang, menjadi korban dari banyak jebakan thaumaturgy dan bahkan kalah—hanya dalam hitungan jam—alasan dia ditahan di bulan. Akan tetapi, Astolfo tidak pernah goyah; dia tidak terlihat menganggap kegagalan atau kekalahannya sebagai kesalahan besar sejak awal.
“Bukanlah hal yang buruk menjadi sebatang pohon, kau tahu. Semuanya terasa tenang dan damai. Burung-burung akan duduk di lenganku tanpa memedulikan dunia. Dan para rusa dan serigala serta makhluk semacamnya tidak keberatan datang mendekatiku.”
Ada berapa banyak orang di dunia ini yang dapat berpikir seperti dia? Orang yang normal akan hanya merasa putus asa atas nasib semacam itu. Akan tetapi—mungkin karena watak lapang dadanya sejak lahir—Rider selalu hidup dengan positif.
“Jadi, apa yang kau inginkan untuk menjalani hidupmu mulai sekarang?”
Tak diduga, Rider memberikan pertanyaan sulit padanya. Archer telah menanyakan homunculus hal yang sama. Akan tetapi, pada saat itu, kehidupan itu sendiri adalah tujuannya; dia tidak memiliki kemewahan untuk memikirkan bagaimana menjalaninya. Hanya itulah jawaban yang bisa dia berikan.
Hutan tempat mereka berada sama halnya dengan kehidupannya sendiri—tenggelam dalam kegelapan dan bayangan. Dia berkelana tanpa arah atau tujuan, hanya berjuang untuk tetap tegak lurus di jalurnya.
“Aku mengerti…yah, kuharap kau akan segera menemukan jalan keluarnya.”
Ya, aku benar-benar berharap demikian… Kuharap bahwa ke depannya, kita dapat berbicara sepenuh hati.
Rider berhenti. Genggamannya pada tangan homunculus tersebut mengencang, membuatnya kesakitan.
Saber sedang menghalangi jalan mereka bersama dengan Masternya, Gordes. Mereka pasti telah pergi lebih awal untuk menunggu mereka. Saber tak berekspresi seperti biasa, sementara Gordes memelototi mereka berdua dengan ketidaksukaan yang jelas. Rider menghela napas dan berkata.
“Apakah kau yakin kau tidak sedang menyimpan satu atau dua rahasia dariku? Kau bukan seorang Servant atau semacamnya, bukan?”
Kurasa tidak, pikir homunculus tersebut. Akan tetapi, itu adalah hal yang sulit bahkan bagi Rider untuk dipercaya. Bagaimanapun, kenapa juga mereka sampai sejauh ini untuk satu homunculus saja?
Gordes tidak menyembunyikan rasa tidak senangnya saat berkata.
“Kami tidak bisa membiarkan homunculus tersebut kabur. Menyingkirlah, Rider.”
Akan tetapi, sudah jelas Rider tidak akan begitu saja menerimanya.
“Tidak.”
Rider menolak perkataan Gordes begitu saja, begitu cepatnya sampai dia tidak terlihat sempat mempertimbangkannya. Gordes menjadi semakin jengkel, menggertakkan gigi-giginya untuk mengontrol emosi.
“Saber, tahan Rider. Kau bisa melakukan itu, bukan?”
Sesuai yang diperintahkan, Saber melangkah maju.
“Hah? Apa? Apakah Mastermu sudah gila?”
Diam seperti biasa, Saber melangkah maju menghadapi Rider dalam satu gerakan lalu mencengkeram lengan dan lehernya, menariknya menjauh dari homunculus tersebut dan memaksanya berbaring di tanah. Kehilangan penopang, homunculus itu ambruk seperti sebuah boneka tali yang terputus talinya.
“Apa…?!”
Perbedaan kekuatannya terlalu besar di antara kedua Servant tersebut. Rider menendang dan memukul-mukul dengan kakinya sekalipun Saber menahannya.
“Tu-Tunggu, hentikan! Lepaskan aku, Saber! Lepaskan aku!”
“Beraninya Darnic mengirimku untuk tugas seremeh ini…”
Homunculus itu terbaring di tanah saat dia melihat ke arah Gordes. Matanya tidak menunjukkan kebencian ataupun mencari belas kasihan. Malahan, makhluk non-organik itu, lensanya yang memantul menatap langsung pada manusia yang dipanggil Gordes.
“…!”
Gordes mendecakkan lidah dan mencengkeram salah satu dari pergelangan tangan kurus si homunculus. Tindakan itu terkandung jejak rasa dorongan frustrasi dan rasa takut.
Kenapa aku harus takut pada satu homunculus ini…? Ini tidak bisa dimaafkan, sebagai seorang penyihir
“Kau sudah membuatku cukup kerepotan… Caster akan menghancurkanmu dan memanfaatkanmu untuk golem. Kau seharusnya berterima kasih padanya. Dia akan mengubah tubuh rapuh ini menjadi tubuh yang dibentuk dari batu.”
Hanya ada kesunyian. Homunculus tersebut mengarungi endapan benak dan pikirannya yang lelah. Pergelangan tangannya ditahan, begitu ketat sehingga rasanya seperti akan berderak terlepas; pria di hadapannya telah menangkapnya. Itu pasti berada di bawah arahan Caster. Dia tidak mengerti mengapa mereka begitu keras kepala mengenai dirinya. Meski demikian, kalau-seperti yang Gordes sarankan—itu adalah takdirnya untuk dihancurkan, maka dia harus membuat sebuah pilihan kalau dia mau meloloskan diri dari situasi ini.
Akan tetapi, pilihan itu adalah sesuatu yang tidak bisa dilakukan homunculus—karena itu adalah sebuah keputusan yang hanya makhluk hidup, dengan jalan mereka yang jelas menuju masa depan, dapat putuskan. Lagipula, bagaimana bisa keberadaan sementara seperti dirinya bertahan hidup dengan menginjak-injak hidup orang lain? Itu akan bertentangan dengan tatanan alam.
Tepat sebelum dia berhenti melawan sepenuhnya, teriakan Rider menusuk telinganya.
Dasar bodoh! Apa yang sedang kau pikirkan?! Jangan ragu! Jangan menyerah! Kau ingin hidup, ‘kan? Kau bilang kau tidak ingin mati! Jadi tetaplah berusaha sampai napas terakhir! Kau punya hak itu! Tidak peduli apa yang orang lain katakan—Aku, Astolfo, akan menerimamu!”
Kata-katanya memaksa menarik pikiran homunculus yang runtuh untuk kembali. Ya… setidaknya, bukankah dia sudah membuat keputusan untuk ‘hidup’? Tidak peduli kemalangan apa yang mungkin memperosokkan hidupnya, dia berharap untuk hidup—sehingga dia dapat berdiri di hadapan orang yang telah menyelamatkannya tanpa ada sedikit pun rasa malu.
Terkejut dengan ledakan emosi yang tiba-tiba, Gordes menoleh dan berteriak para Rider sebagai gantinya. Homunculus itu mencoba memahami cara yang sesuai; apa yang dia butuhkan sekarang adalah bentuk apapun dari ‘kehancuran’. Dia membuat keputusan—untuk mencurahkan segenap kekuatan yang dia miliki pada pergelangan tangannya yang tertahan dan membunuh penyihir di hadapannya.
Magic Circuitnya dipercepat sampai ke titik hampir membakar dagingnya. Itu sama halnya dengan saat dia memecahkan kaca yang diperkuat. Dia memperkirakan komposisi dari tubuh manusia, menyelaraskan dirinya sendiri dengan hal tersebut dan menargetkan untuk menghancurkannya.
“Apa…?”
Gordes menyadari penambahan tenaga dari Magic Circuitnya dan menatapnya dengan terguncang. Homunculus tak bernama mencengkeram lengannya dan mempersiapkan dirinya saat dia merangkai permulaan kata-katanya.
Logic path\open [Straβe gehen]…!”
Prana yang mengalir melalui seluruh tubuhnya diubah menjadi sebuah bentuk yang paling cocok untuk mencabik daging dan menghancurkan tulang. Telapak tangannya menjadi laras pistol—sarung sebuah pedang—dan yang ditembakkan adalah sebutir peluru atau mungkin bilah yang tidak hanya akan menghancurkan lengan Gordes, tapi melahap jantungnya tanpa ampun.
“Ugh… Shapeshift iron arm [Anamorphism eisen arm]!”
Seruan mantera Gordes menembus kekurangan fatal dari sihir homuncukus, yang membawa kehancuran dengan tepat mengubah bentuk energi berdasarkan komposisi target. Gordes hanya butuh mengubah komposisi itu sendiri, dan sihirnya akan menjadi sedikit lebih banyak daripada sebuah ledakan skala kecil.
Mereka benar-benar begitu tidak seimbang. Homunculus—sebuah produk gagal yang dibuang dari alkimia Einzbern yang layak—secara fatal tidak kompatibel dengan seseorang yang benar-benar mempelajari sihir seperti itu.
Gordes meringkuk saat menghadapi ledakan yang dimaksudkan untuk membunuhnya. Tapi setelah pelarian yang panjang, homunculus itu telah mencapai batas daya tahan tubuhnya.
“Kau…kurang ajar…!”
Gordes gemetar karena marah. Dia sebenarnya tidak terluka; rasa sakitnya sudah berkurang dan lukanya hanya membutuhkan beberapa detik untuk sembuh dengan sihir. Masalahnya, walau begitu, adalah dia terluka oleh apa yang seharusnya tidak lebih daripada sebuah baterai prana—dan dengan sebuah serangan yang tidak salah lagi dimaksudkan untuk menghabisinya.
Dia mencoba membunuhku…!
Gordes benar. Dengan caranya sendiri, homunculus itu memancarkan niat membunuh yang sangat banyak sebelum melepaskan manteranya. Itu adalah sebuah pemberontakan yang mustahil. Mangsa yang seharusnya dia lahap dan habisi tiba-tiba berbalik dan menggigitnya.
Di atas semuanya adalah tekanan yang Gordes telah alami—ini adalah yang terburuk, pukulan final.
“Cukup! Kau akan mencoba membunuhku?! Seorang homunculus?! Membunuhku?! Tidak akan pernah! Tidak, tidak, tidak…!”
Setengah gila, Gordes menendang homunculus tersebut dengan marah. Perintah Darnic telah sepenuhnya dia lupakan. Suaranya terdengar menusuk-nusuk dan melengking, dengan semua kebanggaan dan keeleganan seorang penyihir yang dicampakkan ke pinggiran.
Gordes bertindak semakin jauh. Tinju besinya dipukul dan dipukulkan lagi ke tubuh lemas homunculus.
Homunculus itu telah mendekati ajalnya saat dia menggunakan sihir. Dia tidak punya kekuatan yang tersisa dan berbaring telungkup pada tanah yang dingin.
Ah…aku akan mati, homunculus menyadari di alam bawah sadarnya. Bahkan kalau pun dengan semacam keajaiban Gordes mengampuninya, dia tidak lagi bisa melakukan apapun. Bagaimanapun, tinju barusan telah menghancurkan jantungnya. Menilai dari ekspresi kegilaan di wajah Gordes, sepertinya juga tidak mungkin dia dalam suasana hati yang bagus untuk memaafkan.
Tidak memiliki pilihan lain, homunculus tersebut menyerah. Pada akhirnya, tidak peduli kartu apa yang dia mainkan, apa yang telah dia lakukan hanya terlalu menyedihkan…
“Hentikan dia, Saber! Hentikan Mastermu! Cepat…!”
Saber tetap terdiam. Rider mencoba sekuat tenaga untuk mengenyahkan lengan Saber, tapi lengan itu tidak bergerak sedikit pun. Rider menatap langsung ke mata Saber dan berseru.
“Kita mengambil wujud di dunia ini supaya keinginan kita terpenuhi… tapi itu tidak berarti kita hanya dapat menerima apapun yang terjadi! Apakah kau sudah lupa bagaimana menjadi seorang pahlawan?! Aku belum! Aku adalah Servant Rider… tapi tadinya adalah paladin dari Charlemagne, Astolfo! Dan aku tidak akan meninggalkan dia! Tidak akan!”
Tangan Saber berkedut.
* * *


Aroma dari tanah, rumput, dan hutan memenuhi rongga hidung homunculus. Rasanya tidak terlalu buruk untuk matiditutupi lumpur, pikirnya. Setidaknya, dia akan mati dengan langit yang membentang luas di atas kepalanya, dan bumi yang lapang di bawahnya. Ini mungkin akhir yang lebih menyenangkan daripada yang menunggu para homunculi yang ada di istana, pikirnya.
Sekalipun emosinya terkuras terhadap hal-hal lainnya, terukir dalam dirinya sebuah perasaan bersalah dan penyesalan terhadap Rider. Dia merasa menyesal karena semua bantuan Rider menjadi sia-sia.
Gordes berdiri di hadapannya. Homunculus itu tidak satu keputusan pun seakan membiarkan aliran membawanya ke mana dia akan pergi. Dia membuka mulutnya dan terengah-engah seakan baru saja berlari pendek.
Pandangannya berkabut—mungkin karena rasa takut, atau putus asa—dan dia senang bahwa dia tidak lagi dapat melihat tinju yang mendekatinya.
Dan begitulah homunculus tak bernama, lahir ke dunia tanpa tujuan, sekarang akan mati dengan cara yang sama. Begitulah seharusnya akhirnya.
“Hentikan, Master.”
Saber meletakkan tangannya dengan erat pada bahu Gordes. Gordes berbalik dengan tidak percaya. Saber telah mengabaikan perintahnya untuk menahan Rider dan sebagai menghadapinya. Rider bergegas menuju ke samping homunculus dengan panik.
“Apa yang tadi kau katakan, Saber?”
“Kubilang, hentikan. Jika mungkin, aku ingin kau menyembuhkannya dan membiarkan dia pergi.”
“Apa yang kau katakan?”
Suara Gordes terdengar gemetar. Begitu marahnya sampai dia tidak lagi memiliki ekspresi di wajahnya. Akan tetapi, dia menarik napas dalam-dalam dan berbicara dengan nada tegas seorang Master.
“Jangan katakan omong kosong seperti itu, Saber…kenapa kita harus menyembuhkan dan melepaskannya?”
“Aku memohon kebaikanmu, Master. Kita tidak akan rugi jika memberikan dia kebebasan.”
“Cukup. Diamlah.”
“Master...”
“Diam! Diam diam diam! Kau adalah Servantku, bukan? Jadi ikuti perintahku! Hanya sekedar familiar tidak diperkenankan untuk memberiku pendapat apapun! Diam saja dan lakukan apa kuperintahkan!”
Sampai ke tahap ini, Gordes memelototi Saber dengan rasa permusuhan yang jelas.
Cacing pengkhianat ini akan membangkang Masternya sendiri!
Dia benar-benar menyesal telah menggunakan Command Spell kedua.
‘Pahlawan’ apanya! ‘Servant’ apanya! Dia bahkan tidak bisa melakukan perintah yang paling sederhana…!
“Apakah kau tidak akan menyelamatkan dia?”
“Kubilang di…!”
Dalam sekejap, kesadaran Gordes melayang jauh oleh tinju Saber yang terbenam ke abdomennya. Sepenuhnya mengabaikan Gordes yang ambruk, Saber membalikkan punggungnya dan melihat langsung pada Rider yang memegangi tangan homunculus itu.
“Saber…?”
Tanpa menjawab panggilan Rider, Saber mendekati mereka berdua sambil melucuti jalinan lempeng pelatnya, pedang, dan bahkan baju besinya, bertelanjang dada.
Saber berlutut di hadapan homunculus yang sekarat. Rider memelototinya dengan marah.
“Sangat terlambat… terlalu lambat, sialan! Kenapa kau butuh waktu yang lama?! Kita seharusnya bisa menghentikan kebodohan Master itu sebelum dia melakukan apapun!”
Adalah yang lumrah bagi Rider untuk menyesalkannya. Saber seharusnya bisa menghentikkan Masternya secepat mungkin. Bahkan dia tidak akan sebodoh itu untuk menggunakan sebuah Command Spell di sini. Jika Saber melakukan apapun yang dia bisa, dia pasti akan mencegah kematian dari homunculus itu. Dia mengangguk sedih.
“Ya… kau benar. Sekali lagi, aku telah melenceng ke jalur yang salah. Dalam keraguan dan kebingunganku, aku telah memilih pilihan yang terburuk.”
Itu tidak berbeda dengan saat itu… dia tadinya berpikir bahwa tindakannya akan dapat mengakhiri konflik.
Dia selalu membuat keputusan yang salah pada saat-saat yang paling kritis. Terikat pada hasratnya sendiri, dia mencoba untuk mengabaikan orang lemah yang meringkuk ketakutan di hadapannya. Dia tidak mencari keselamatan untuk dirinya sendiri—jadi dia mengesampingkan tangisan hening dari mereka yang mengalaminya. Kejahatan dan kekejaaman semacam itu sudah jelas bukanlah hal yang telah dia perjuangkan.
Akankah dia mengulangi kesalahan yang sama bahkan di kehidupan yang kedua? Jantung Saber menyesak dalam penyesalan dan kebencian terhadap diri sendiri.
“Walau begitu… masih ada sebuah kesempatan. Ini belum berakhir.”
“Kau pikir aku akan percaya padamu…?!”
Kemarahan Rider berkobar lagi atas perkataannya yang konyol itu. Saat itu juga, dia mengepalkan tinju dan mencoba untuk memukulnya—tapi kemudian membeku.
“Apa…?!”
Suara tersebut amat sangat tidak menyenangkan, seperti robekan rumput yang panjang dan tebal. Dan menyembur ke segala arah, adalah darah, darah, darah…
Itu semua berasal dari dada Saber.
Saber merobek terbuka sebuah lubang dengan kedua tangannya. Semua pikiran kekerasan terlupakan, Rider yang terkejut hanya dapat menyaksikan pemandangan asing tersebut terbentang saat Saber mengeluarkan bagian dalam tubuhnya sendiri.
“Apa yang kau…?”
“Mungkin ini tidak cukup untuk menebus dosa-dosaku. Malahan, aku mungkin hanya akan membebaninya dengan nasib hina dan akhir sebelum waktunya yang sama sepertiku. Tapi… nyawa ini adalah sesuatu yang seharusnya kuberikan padanya.”
Jantung yang Saber keluarkan berwarna begitu merah menyala. Mengangkat homunculus dengan satu tangan, dia membuatnya menelan jantung itu.
Tindakannya begitu tidak nyata… tidak masuk akal, tapi tidak irasional. Jantung yang ditelan itu pada akhirnya mencapai di mana seharusnya jantung tersebut berada dan mulai berdegup dengan kencang. Dia hidup. Homunculus itu tidak diragukan lagi telah dibangkitkan.
Akan tetapi, itu semua adalah pertukaran yang sebanding. Harga dari menyelamatkan homunculus tak bernama itu harus dibayar oleh Saber. Dia harus menyerahkan Holy Grail, menyerahkan kehidupan keduanya—dan menyerahkan semua keinginannya.
“Kenapa… kenapa kau…?”
Tanya Rider, tertegun. Saber tersenyum lembut padanya.
“Terima kasih, Rider. Aku hampir saja kehilangan arah dari hal yang sedang kucari.”
Kaki Saber mulai berubah menjadi partikel-partikel berwarna keemasan. Dia tidak sedang berubah menjadi wujud spiritualnya, tapi menjadi ketiadaan. Saat dia kehilangan jalurnya untuk tetap berada di dunia saat ini, dia sekarang harus berpisah dari sini dan menghilang. Inti spiritual seorang Servant berada pada jantung dan kepalanya; mencabiknya keluar sendiri, dia hanya dapat menghilang.
Saber sedang menderita kematian kedua. Tidak ada cara lain mengatakannya. Pasti ada begitu banyak hal yang belum dia capai. Akan tetapi, Saber terlihat begitu damai.
“Tidak, Saber… kau tidak bisa! Saber! Jangan pergi!”
Rider berteriak padanya dengan campuran rasa tidak percaya, sedih, dan marah di wajahnya. Saat dia gemetar dan menahan air matanya, Rider terlihat bagi seluruh dunia seperti seorang gadis yang cantik. Orang-orang yang telah bertempur di sampingnya pasti telah melakukan apa pun yang mereka bisa untuk membuatnya terkesan…
Memikirkan hal-hal remeh semacam itu bahkan dalam keadaan seperti ini… aku pasti sangat begitu bodoh daripada yang kubayangkan.
Sebuah senyum pahit muncul di wajah Saber.
“Kenapa kau melakukannya…?”
Meskipun terdapat kepedihan di suara Rider, Saber tidak berniat untuk menjelaskan motifnya. Bagaimana bisa seseorang semurni Rider mengerti penderitaannya? Yang ada, dia hanya akan merasa malu kalau dia berbicara omong kosong pada saat-saat kematiannya.
Akan tetapi, ada satu hal yang Siegfried yakini.
Ya… ini adalah akhir yang bagus…
Saat dia berbisik pada dirinya sendiri, Saber menghilang. Untuk sesaat, Rider duduk di atas tanah dalam keadaan setengah sadar, sampai homunculus mulai terbatuk. Dia cepat-cepat memeriksa nadinya dan menekankan telinganya pada dadanya. Dia dapat merasakan denyut kehidupan yang nyata dan kuat.
“Kau hidup… ya… terima kasih… terima kasih, terima kasih…!”
Rider menekan tangan homunculus tersebut ke pipinya, mengabaikan darah dan tanah. Dia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi. Dia hanya ingin mengekspresikan rasa leganya atas peralihan peristiwa yang membahagiakan ini. Setelah semua ini, Rider Hitam tidak memiliki alasan apapun. Dia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi dalam perang nantinya. Lebih spesifiknya… dia sama sekali lupa dengan kenyataan bahwa kelompoknya telah kehilangan Sabernya dan sekarang berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan.

Astolfo yang lugu hanya merayakan dan menangis. Dia tidak memikirkan tentang serangan yang datang; bahkan sekalipun iya, dia hanya berpikiran bahwa pertama-tama sebaiknya dia merayakan keselamatan homunculus.
“Ahh…”
Rider sangat begitu bahagia saat mendengar suara kecil yang muncul—bukan darinya, tapi dari homunculus yang tak sadarkan diri.
“Apa kau tidak apa-apa?! Kau tidak apa-apa, ‘kan?! Bisakah kau berdiri? Baiklah, bagus! Sekarang kau bisa…”
Rider tidak dapat mengatakan kata lainnya. Saat menutup matanya tadi, dia telah melewatkan perubahan yang dialami tubuh homunculus tersebut.
“Apa… yang telah terjadi padaku?”
Homunculus itu berhasil mengangkat bagian atas tubuhnya dari tanah, matanya dipenuhi keheranan.
Itu hampir tidak bisa membantu. Homunculus tak bernama itu telah menjadi sebuah keberadaan yang tidak pernah sekalipun muncul dalam sejarah besar alkimia.
Dan dengan begitu, sejak awal Perang Besar Holy Grail telah menuju kekacauan dengan kehilangan yang cepat atas Saber Hitam. Segalanya hanya akan berlanjut di luar kendali mulai sekarang.
* * *


Tempat ini dulunya adalah tamanku di masa lalu… Aerial Gardens of Vanity [Hanging Gardens of Babylon]. Ini sudah sangat lama… Yah, apa yang kau dapatkan dari itu, Master?”
Shirou mendesah kagum pada perkataan Semiramis. Konstruksi bangunan begitu besar yang tak terbayangkan berdiri di hadapannya, terbentuk dari susunan sistematis massa yang mengambang, lantai-lantai marmer dan banyak pilar. Setiap jenis kehidupan tanaman saling menjerat dan menjalin dalam perpaduan ketidakteraturan yang menyakitkan mata dan keindahan yang mewah.
Hal ini kurang menyerupai sebuah taman dan lebih mengarah pada sebuah benteng… dan kurang menyerupai sebuah benteng dan lebih seperti senjata yang mengambang. Tidak salah lagi; taman angkasa ini adalah sebuah istana terbang.
“Hebat… dan aku yakin permintaanku sudah selesai?”
“Tentu saja, Masterku… mari kita aktifkan Taman ini begitu Rider dan Archer kembali. Para Servant Hitam yang malang itu pasti akan kehilangan semangat mereka saat mereka menyaksikan ini!”
Assassin tertawa kecil dengan girang.
“Terima kasih. Ini adalah kesempatan emas untuk kita, dengan lenyapnya Saber karena masalah yang tak diketahui. Tidak diragukan lagi Saber di pihak kita akan bergerak maju juga.”
“Ini akan menjadi pertempuran yang sengit, kalau begitu… ya, sebuah konflik yang tidak pernah terlihat sebelumnya, muncul dari setiap mitos masa lampau!”
Walaupun fraksi Hitam dengan cepat kehilangan Sabernya, mereka masih memiliki enam Servant. Fraksi Merah juga telah kehilangan Berserker. Tentu saja, kehilangan seorang Saber adalah kerugian yang besar. Akan tetapi, keadaan dapat berubah kapan saja.
“Bagaimanapun juga, pertempuran berikutnya akan menentukan apakah kita bisa mendapatkan Greater Grail.”
Suara Shirou membuktikan tekadnya—dan secara kontras, ketenangan yang tak dapat digambarkan; itu adalah sebuah rasa tidak berbelas sehingga dia dapat menghabisi semua yang menentangnya bagaimanapun caranya.
Untuk dapat meraih keinginannya dengan kedua tangannya, dia tidak akan ragu untuk merampas dan menjarah sampai dia mendapatkan segala sesuatu yang dia butuhkan. Hal itu sama sekali bukan kekejaman—tapi hanya tindakan dari kemauan sekeras baja yang tak tergoyahkan.
Dahulu sekali, anak laki-laki itu bertanya: kenapa, kenapa kita tidak diperbolehkan…? Tidak ada keselamatan—hanya ada sapuan rasa putus asa dan penyesalan.
Kali ini, dia akan mendapatkan Holy Grail dan menyerahkan seluruh dirinya untuk mempertanyakan Dia.
Apakah keinginanku layak untuk berkatmu?
“Ayo, Assassin. Aku tidak akan membiarkan tragedi itu terjadi lagi… Greater Grail adalah milik kita.”
Shirou menatap langit yang tinggi dan cerah dengan mata yang penuh dengan ketetapan hati.
Bahkan saat ini, anak laki-laki itu membawa mimpi tersebut dalam hatinya.

Fate/Apocrypha Jilid 1 Bab 4 Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.