16 Januari 2016

Fate/Apocrypha Jilid 1 Bab 3 Bahasa Indonesia



FATE/APOCRYPHA
JILID 1 BAB 3


—“Kebaikan, Kerendahan Hati, Kejujuran, Kemurnian, Keyakinan—hanya hal-hal itulah yang dimiliki hati Gadis itu.”
Place du Vieux Marché, Rouen
  
...Kata-kata kutukan mendatanginya seperti sebuah melodi dari negara yang sangat jauh, namun dia tidak begitu memedulikannya. Akan menjadi sebuah kebohongan kalau dia berkata tidak merasakan sakit—tapi rasa sakit itu adalah sesuatu yang dia dapat tahan.
Dia juga merasa sedikit takut. Emosi seperti kekecewaan dan penyesalan telah ditinggalkannya sejak dia memutuskan untuk bertempur. Semua itu tidak akan lagi dirasakannya.
Dia tidak ingin menjadi ragu-ragu, jadi dia berjalan tanpa goyah sedikit pun. Tanpa sadar, tangannya meraih ke dadanya—tapi salib miliknya sudah dirampas darinya. Tidak ada lagi apa pun yang dapat menyokong hatinya. Karena hal ini, dia merasakan sedikit kesedihan.
Tepat saat dia menyadari ini, seorang pria Inggris berlari ke arahnya dan dengan penuh hormat, dia mengangkat sebuah salib kayu yang terlihat seakan baru saja dipoles. Dia diam-diam berterima kasih pada pria tersebut. Saat orang tersebut berlutut, air mata mengalir menuruni wajahnya. Di antara penghukuman tersebut, masih ada orang-orang yang akan menangis untuknya.
Saat caci-maki bagaikan melodi dari negeri-negeri yang jauh, dukacita bagaikan lagu pengantar tidur seorang ibu.
Tangannya terikat pada sebatang tonggak kayu tinggi di belakangnya—agak ketat, mungkin untuk mengingatkannya bahwa tidak akan ada penangguhan hukuman mati. Tapi apakah ada artinya melarikan diri setelah sampai sejauh ini?
Sang pendeta menyelesaikan pembacaan keputusan terakhirnya dan kemudian melemparkan sebuah obor, yang kemudian perlahan membara di bawah kakinya. Mereka percaya bahwa kehilangan raga adalah kengerian terbesar… Bagi mereka, ini adalah hukuman terkejam dari semuanya.
Api membakar kulitnya, menghanguskan dagingnya dan mengarangkan tulang-tulangnya. Lagi dan lagi, dia menyebut nama Tuhan dan Bunda Suci.
…Doa-doamu adalah kebohongan.
Tanpa henti, mereka mencelanya dengan kata-kata makian. Namun dia merasa itu aneh… karena sebuah doa bukanlah hal yang benar atau salah. Sebuah doa hanyalah doa, tidak lebih. Intinya tidak berubah berdasarkan kepada siapa kau berdoa.
Dia ingin mengatakan ini pada mereka tapi tidak ada suara yang muncul darinya. Tiba-tiba, pemandangan di hadapannya menjadi salah satu yang berasal dari masa lalunya. Itu adalah sebuah desa kecil… dengan sebuah keluarga yang biasa. Dia melihat dirinya sendiri, si bodoh yang selalu melarikan diri dan mengesampingkan segalanya.
Ya… Mungkin dia sudah bertindak bodoh. Sejak awal, dia sudah tahu kalau semua yang dia lakukan akan berakhir seperti ini. Dialah yang paling mengerti takdir ini lebih daripada siapa pun di sekelilingnya.
…Semuanya tidak akan berakhir seperti ini kalau saja kau mengabaikannya.
Itulah yang sebenarnya. Kalau saja dia menutup telinga dari suara tersebut dan meninggalkan prajurit-prajurit itu dalam ratapan mereka—keselamatan apa yang mungkin mereka dapatkan? — dia akan menjalani kehidupannya, menikah dan hidup dengan suami dan anak. Itu akan menjadi hal yang alamiah. Dia tahu bahwa dia dulunya memiliki masa depan semacam itu juga.
Tapi, dia mengabaikan hal tersebut karena ingin menjalani jalan takdir yang berbeda.
Dia memilih untuk mengangkat pedang, mengenakan baju tempur, menaikkan sebuah standar dan menunggangi seekor kuda ke garis depan pertempuran.
…Apakah kau tahu bahwa akan berakhir seperti ini?
Ya. Tentu saja dia tahu. Dia tahu hal itu selama dia terus bergerak maju, akhir seperti ini akan mendatanginya. Jadi tentu saja, orang lain akan mencela kebodohannya. Akan tetapi, dia sendiri tidak akan pernah berhenti mengolok-olok dirinya sendiri.
“Masih ada nyawa yang dapat kuselamatkan… jadi tidak ada yang salah dengan takdir yang kujalani ini.”
Bayangan-bayangan ini—dari masa lalu, dari masa depan yang mustahil, bahkan dari kenyataan yang kejam—tidak berarti di hadapan doa-doanya.
Dia hanya berdoa—dan menyerahkan dirinya. Sekalipun orang lain mengutuki apa yang telah dia lakukan sebagai kesalahan… setidaknya, aku tidak akan mengkhianati diriku sendiri.
Dia tidak melihat ke belakang pada jalan yang tidak dia jalani, atau mendambakan sebuah masa depan dengan seseorang yang tadinya dia pilih… hanya berharap untuk istirahat yang sunyi.
Bahkan di tengah-tengah pembantaian brutal semacam itu, satu-satunya hal yang berada di hatinya hingga akhir adalah sebuah doa—tak ternoda dengan penyesalan, hanya terisi dengan kesungguhan.
…Oh Tuhan, kuserahkan diriku pada-Mu…
Itulah kata-kata terakhirya. Kesadarannya padam dan dia dilepaskan dari semua penderitaan.
Mimpi gadis itu berakhir di hadapan kenyataan. Tapi itu bukanlah sepenuhnya akhir. Ya, mimpi dari gadis itu telah berakhir… tapi mimpi dari La Pucelle baru saja dimulai.
PENCARIAN……DIMULAI
PENCARIAN……SELESAI
KECOCOKAN SEMPURNA.
BENTUK FISIK……COCOK
BENTUK SPIRITUAL……COCOK
KEPRIBADIAN……COCOK
PRANA……COCOK
MEMULAI KEPEMILIKAN LEWAT PENGUNCIAN KEPRIBADIAN SEMENTARA DAN INSTALASI SPIRITUAL HEROIC SPIRIT.
IZIN KEPRIBADIAN SEBELUMNYA……DITERIMA
BACK-UP ANATOMI DASAR ANTAR AREA……DIMULAI
INSTALASI SELESAI
MEMULAI ADAPTASI BENTUK FISIK DAN BENTUK SPIRITUAL
PENETAPAN SKILL CLASS……DIMULAI.
MULAI PENYISIPAN DATA BERKAITAN DENGAN SEMUA HEROIC SPIRIT ERA MODERN YANG DIBUTUHKAN
BACKUP……SELESAI
PENETAPAN SKILL CLASS {SAINTHOOD} OPSI {HOLY SHROUD CREATION} DIPILIH
PENYISIPAN DATA YANG DIBUTUHKAN SELESAI
ADAPTASI SELESAI
SEMUA SELESAI
PENGENALAN CLASS {RULER} SERVANT SELESAI
Dia membuka matanya. Maksud dari pemanggilannya sangat tidak biasa… Tidak ada pemanggilan terdahulu yang pemanggilannya begitu lemah menghubungkan ke dunia saat ini. Apakah ini karena Perang Besar Holy Grail begitu tidak beraturan?
Gadis tersebut entah bagaimana berhasil mewujud di dunia. Tidak ada masalah dengan dengan spesifikasinya, malahan… tubuh ini tidak salah lagi adalah tubuh seorang gadis Perancis. Terlebih lagi, dia memiliki sebagian besar ingatan dia. Akan tetapi, daripada disebut memiliki dua kepribadian dalam satu tubuh—yang biasanya disebut sebagai kepribadian ganda—akan lebih akurat untuk mengatakan bahwa kedua kepribadian tersebut telah bergabung menjadi satu. Mungkin karena ketajaman dan kedalaman keyakinannya, dia telah mengakui dan sepenuhnya menerima ‘La Pucelle’ dalam dirinya.
“…Tolong pinjamkan tubuhmu sebentar, Laeticia.”
Gadis tersebut berkata pada si pemilik tubuh.
Setelah memutuskan tugas pertamanya, gadis tersebut menyapa teman’nya’—bergerak ke ranjang lainnya dan mengguncangkannya. Setelah mengerang sedikit, dia bangun dan menggosok matanya, terlihat setengah bangun.
Mmm…A-apa…?”
Dia jelas-jelas mengantuk sehingga gadis itu merasa tak enak karena membangunkannya, tapi dia berkata dengan jelas.
“Aku akan pergi dari sini untuk sementara waktu.”
Mungkin karena tidak menyadari keseriusan dari kata-kata gadis itu, dia kembali terjatuh ke ranjang sambil melambai-lambaikan tangannya sebagai tanda selamat jalan—kemudian melemparkan seprainya beberapa detik kemudian lalu berseru.
“Apa yang baru saja kau katakan?!”
“Maaf karena aku pergi tiba-tiba, tapi waktunya mendesak.”
“Apa? Mendesak? Apa-apaan ini, tiba-tiba sekali—kau baru saja berkata ‘Selamat malam’ dan ‘sampai bertemu besok’! Apa yang kau katakan?!”
Gadis itu menatap pada temannya yang kebingungan—dan berisik— dengan sungguh-sungguh dan mengatakan tiga hal:
‘Aku akan melakukan perjalanan panjang.’
‘Aku benar-benar harus pergi.’
‘Jangan khawatir.’
Temannya mendengarkan kata-kata tersebut dengan ekspresi kosong, mulutnya menggantung terbuka, tapi akhirnya mengangguk mengerti.
“Baiklah…mau bagaimana lagi kalau kau benar-benar harus…”
“Itu benar. Aku akan menjelaskan ini pada para guru.”
“Yah, oke… Selamat malam kalau begitu.”
“Selamat malam.”
Gadis itu tidak menggunakan sihir untuk memberikan sugesti pada temannya. Tapi sebagai Servant Ruler, dia memiliki kemampuan untuk membuat orang lain percaya pada perkataannya.
Dia mengatakan pada para guru dan temannya bahwa dia harus melakukan perjalanan dan membuat mereka mengerti bahwa itu benar-benar penting. Dia mungkin bersikap begitu mendesak daripada seharusnya, tapi tidak ada cara lain—jadi dia menghela napas dan mengesampingkan kekhawatiran tersebut.
Untungnya, pemilik dari tubuh ini tinggal di sebuah asrama yang jauh dari orang tuanya. Kelihatannya, tidak mungkin mereka menyadari kepergiannya sekalipun dia pergi selama sebulan.
Mengemas sehelai pakaian ganti, passportnya dan beberapa buku teks ke dalam tas, dia meninggalkan asrama. Pemilik tubuh ini… Laeticia masih seorang murid. Dia, di sisi lain, datang dari lahan pertanian dan tidak pernah mendapat kesempatan untuk belajar membaca dan menulis—aneh sekali bisa mendapat pengetahuan tentang bahasa modern, berkat Holy Grail.
“…Tapi ini semua tetaplah aneh.”
Dia seharusnya telah dipanggil seperti Servant lainnya—mewujud di kota di mana pertempuran akan berlangsung tanpa perlu meminjam tubuh fisik orang lain.
Walau begitu, dia telah dipanggil kali ini dengan memasuki tubuh orang lain dan terlebih lagi, dia telah dipanggil di tanah kelahirannya—kota Perancis yang masih memiliki sisa-sisa masa lalunya.
Di samping itu, Ruler seharusnya menjadi Servant kedelapan yang dipanggilnamun kali ini, dia adalah Servant yang kelima belas. Di antara semua Perang Holy Grail di masa lalu, skala perang kali ini kemungkinan besar adalah yang terbesar. Mungkin ada sebuah kecelakaan selama Perang Holy Grail yang lalu…
Biar bagaimana pun—karena telah dipanggil—gadis ini memutuskan untuk mengatasi semua kesulitan untuk menjalankan misinya.
Dia adalah Jeanne d’Arc—seorang Servant tanpa Master dari class [Ruler], dan pengendali mutlak dari Perang Holy Grail.

Dan begitulah, Ruler langsung menuju ke bandara dengan bis malam dan turun di Bucharest, Romania. Seandainya dia dapat berubah ke bentuk spiritualnya… tapi sepertinya itu juga mustahil untuknya. Tidak ada pilihan, dia memutuskan untuk memakai uangnya sendiri—atau tepatnya, milik Laeticia—untuk membeli secarik tiket pesawat. Mungkin aku dapat membuat sebuah permintaan ke Gereja atau Asosiasi nanti, pikirnya, sedikit murung.
Di pesawat, dia memilah-milah pengetahuan yang didapatkannya. Dia memahami tempat yang akan menjadi medan pertempuran—kota kecil Trifas di Romania. Pemilik Kedua dari tanah tersebut, Yggdmillenia, adalah yang mengatur Perang Besar ini. Berdiri sebagai lawan mereka ada para penyihir dari Clock Tower, dari sanalah Yggdmillenia melepaskan diri. Tapi masalahnya dengan situasi saat ini adalah ini bukanlah perang bebas antara ketujuh Servant, tapi sebuah konflik dalam skala yang belum pernah terjadi dari kedua sisi mereka bertujuh.
Sangatlah langka bagi sebuah duel sampai mati antara para Servant untuk meninggalkan bangunan-bangunan hancur setelah pertempuran. Dan ini adalah pertarungan tujuh lawan tujuh… Adalah hal yang menakutkan hanya dengan memikirkan jenis kehancuran seperti apa yang akan diakibatkan oleh konfrontasi penuh antara kedua pihak.
Apakah skala konflik inikah alasan mengapa dia dipanggil sebagai seorang Ruler? Apakah dia dipanggil oleh Greater Grail, takut akan ancaman keruntuhan total dalam Perang Holy Grail ini?
Dia tidak tahu… dan sekarang bukanlah waktunya untuk berspekulasi.
Pertama-tama, dia harus mencapai Trifas—semuanya dimulai di situ.

Menghabiskan waktunya satu setengah hari untuk mencapai Bandara Internasional Henri Coandă di Bucharest, termasuk saat untuk transfer dan menunggu. Saat itu tepat melewati tengah hari—awan kelabu gelap tebal memenuhi langit yang memucat, seakan berada di ambang tangisan.
Meskipun dia telah diberikan pengetahuan mengenai bandara ini, dibangun dengan teknik konstruksi terbaru, tetap saja hal tersebut seperti novel baginya.
Kaki-kakinya terasa berat, mungkin karena dia telah duduk sepanjang waktu. Selama perjalanan udara yang panjang, dia menghabiskan separuh dari waktunya untuk memikirkan Perang Besar, dan menggunakan separuh waktu lainnya berdoa untuk perjalanan yang aman. Berkat pengetahuannya sebagai seorang Servant, dia sepenuhnya mengerti tentang apa itu alat transportasi pesawat. Tapi ini berbeda halnya dengan masuk ke dalamnya. Kenyataannya, dia sama sekali tidak mengerti mengapa logam berat ini dapat terbang mengarungi udara… Malahan, dia benar-benar senang bahwa mereka tidak jatuh dari langit.
Pemandangan seorang gadis tak berdaya semacam itu yang terhuyung-huyung dengan sebuah tas di tangannya pastilah merupakan sasaran paling mudah di dunia untuk para manusia brengsek yang berkeliaran di sekitar bandara… tapi mereka bahkan tidak pernah berpikir untuk menyentuhnya. Mereka bukanlah manusia sejelek itu yang akan menjahati seorang gadis polos.
Trifas berada di timur laut. Dia harus menggunakan semacam alat transportasi untuk bisa ke sana, baik menaiki bis atau menumpang…
“…Hmph.”
Begitu dia menjejakkan kaki keluar bandara, ada begitu banyak tatapan tertuju menyerbu Ruler.
Akan tetapi, dia dapat mendeteksi bahwa tidak ada Servant dalam batasan kisaran deteksinya yang berpusat pada dirinya—dalam radius sepuluh kilometer.
Ruler dapat meniadakan bahkan skill [Presence Concealment] Assassin. Kalau dia tidak bisa merasakan kemampuan deteksi kuat apapun selain merasakan tatapan orang lain…
“…Kalau begitu pasti diawasi dari jauh, atau familiar.”
Umumnya, ada dua metode di mana sihir dapat membuat seseorang melihat dari jarak jauh. Yang pertama adalah pengamatan jarak jauh—menggunakan bola kristal, cermin atau semacamnya untuk mengamati dari lokasi yang jauh. Selama ada semacam bentuk mediumnya, kau bisa mengamati dari luar bahkan dari tempat kerjamu yang aman. Karena itulah, kebanyakan penyihir menguasai sihir jenis ini.
Cara lainnya adalah dengan menggunakan seekor familiar—menciptakan makhluk hidup tiruan dengan memodifikasi hewan kecil atau organisme. Dengan menggabungkan jalur sebab-akibat antara majikan dan familiar, seseorang dapat berbagi kelima inderanya. Ini juga dianggap sebagai jenis sihir dasar untuk kebanyakan penyihir.
Memeriksa langit yang kelabu, Ruler menyadari tak terhitung banyaknya burung merpati melihat ke arahnya. Itu bisa kelihatan seakan mereka adalah familiar—tapi, sejauh yang dia bisa, dia tidak dapat melihat cahaya kepintaran di mata mereka. Biasanya, dengan diberikan rambut atau darah dari seorang penyihir, makhluk yang menjadi familiar mendapatkan sedikit kepandaian. Walaupun tidak bisa berbicara banyak, kecerdasannya seharusnya bisa terdeteksi.
Akan tetapi mereka terlihat seperti burung merpati biasa bagi siapa pun, sekalipun tidak salah mereka sedang mengamati dirinya. Apakah mereka sedang dikendalikan oleh pengaruh hipnotis? Itu akan menjadi metode yang berputar-putar.
Ruler memelototi, pertama ke arah darimana dia diamati, kemudian pada burung-burung merpati tersebut. Tatapannya tidak mengandung prana atau kekuatan apapun, tapi itu membuat pikirannya menjadi jelas.
Sensasi diamati menghilang, dan burung-burung merpati tersebut terbang semua secara bersamaan. Ruler menghela napas saat dia memastikan ini.
Intinya, seorang Ruler tidak turut serta dalam Perang Holy Grail… Akan tetapi, karena posisinya menuntut untuk mengadili Servant dan Master yang menyalahi aturan, kekuatan tempur yang sesuai dibutuhkan.
Tidak banyak yang memiliki pengalaman dengan Perang Holy Grail dua atau tiga kali dan bahkan di antaranya, diragukan bahwa ada satu pun yang pernah berpatisipasi dalam perang di mana seorang Ruler bermanifestasi. Mungkin mereka ingin mengukur kekuatan dari Servant semacam itu.
“Lagi dan lagi, sepertinya perang kali ini membutuhkan penilaian yang sulit dariku…”
Perang Besar kali ini hanya memiliki satu titik besar yang menguntungkan Ruler—keempat belas Servant terbagi secara rata dalam dua kelompok, Noir dan Rouge. Dengan kata lain, ini menghindarkan skenario di mana keempat belas Servant bergerak secara sendiri-sendiri. Adalah sebuah mimpi buruk hanya dengan membayangkan seluruh Servant tersebut mengamuk sesuka hati—yang terburuk, mereka dapat menghancurkan seluruh kota.
“Apapun yang terjadi, pertama-tama aku harus menuju ke Trifas…”
Berbisik pada dirinya sendiri, Ruler mulai mencari sebuah bis, hanya untuk menemukan bahwa tidak ada yang langsung menuju Trifas. Pertama-tama, dia harus menuju Sighisoara dan melanjutkan dari sana. Tapi sepertinya tidak akan ada bis ke Sighisoara sampai besok. Tidak ada pilihan lain, Ruler bertanya ke sekitar untuk mencari apakah ada orang yang menuju ke Trifas. Pada akhirnya, seorang pria tua kurus yang mengenakan kacamata dan sebuah topi pemburu berkata bahwa dia dapat membawanya serta.
“Ya, aku menuju ke Trifas seorang diri.”
“Jadi, bisakah kau…?”
“Tapi Trifas bukan tempat wisata, kau tahu. Mereka memiliki kastil besar yang hebat—tapi, cukup konyol, itu adalah area pribadi dan tidak bisa dimasuki. Kalau kau tertarik dengan sejarah, maka Sighisora adalah tempat yang lebih baik untuk didatangi, karena itu adalah tempat yang menjadi tempat kelahiran Vlad Tepes dan lainnya…”
“Aku punya keluarga yang sedang menungguku di Trifas. Bisakah kau membantuku?”
“Yah, baiklah, kalau begitu ceritanya. Tapi aku punya beberapa bawaan rapuh yang harus kusimpan di kursi penumpang, jadi inilah masalahnya. Kau tidak keberatan untuk duduk di bagian bak belakang, ‘kan?”
“Sama sekali tidak. Terima kasih atas kebaikanmu.”
Berdoalah kepada Tuhanmu supaya tidak hujan.”
Pria tua itu tertawa saat merangkak naik ke belakang truk.
“Ya, aku akan melakukannya.”
Ruler membalas dengan sungguh-sungguh. Sudah tentu, dia bisa berdoa sedikit saat berkaitan dengan cuaca.
Setelah beberapa kali bunyi bantingan, seperti yang bisa didapatkan seseorang dari menendang barel metal kosong, truk tersebut menjadi stabil dan mulai bergerak. Saat truk tersebut menderu, Ruler melihat pemandangan Bucharest yang melintas.


Truk itu bergetar dengan suara gedebuk. Beberapa asap hitam mulai muncul dari knalpot.
“Ya……sangat berbeda dengan kuda.”
Ada perbedaan tertentu antara guncangan alami dari seekor kuda dan getaran berulang sebuah mesin—mungkin, sebagai ganti kecepatan dan daya tahan, mereka harus menukarnya dengan rasa kenyamanan. Dia mengingat kuda putih yang pernah melintasi medan pertempuran bersamanya. Seekor kuda yang bagus… tapi menghilang saat pertempuran di Compiegne. Kemungkinan besar terbunuh, tapi mungkin berhasil menemukan penunggang yang baru.
Saat truk itu perlahan meningkatkan kecepatannya, beberapa peti kayu yang dibawa truk tersebut di bagian belakangnya mulai bergoyang-goyang. Mengejutkannya, truk tersebut bergerak dengan kecepatan yang sama dengan seekor kuda sekarang—tapi hal ini mungkin karena kinerja truk ini sudah mulai menurun. Jika kendaraan ini diibaratkan sebagai seekor kuda, maka itu adalah kuda yang sudah mendekati masa pensiun.
Tentu saja, kendaraan ini sama sekali tidak mirip seekor kuda, karena sebuah mobil tidak akan kehabisan napas di tengah jalan. Truk bergerak menuju Trifas dalam kecepatan lambat namun stabil.
“Permisi, pak. Berapa lama untuk sampai ke Trifas?”
Ruler memanggil si pak tua yang sedang bersenandung di kursi pengemudi.
“Hmm… kalau seperti ini, mungkin sekitar dua belas jam.”
“Apakah akan selama itu?”
“Yah, kita harus berhenti untuk beristirahat di beberapa tempat.”
“Aku mengerti…Kalau memang begitu.”
Ruler merasa sedikit berkecil hati, tapi seketika, dia memutuskan untuk mengeluarkan sebuah buku teks dari tasnya.
“Memikirkan seorang petani biasa sepertiku akan mendapatkan kesempatan belajar… Dunia ini menjadi begitu indah.”
Akan tetapi, sementara Holy Grail  telah menganugerahinya dengan pengetahuan yang dia butuhkan untuk selamat di dunia modern, itu tidak sampai mengajarinya tentang isi dari buku ini. Dengan kata lain, Ruler hanya tahu sebanyak gadis yang dia masuki.
“…Je n’ai aucune ideée .
Ruler memulai dengan buku teks matematika, saat sebuah perasaan perkiraan sengsara memenuhinya.
* * *


Jalur Cepat Transylvania adalah satu-satunya jalan tol nasional yang bisa mencapai Trifas, yang bahkan tidak terdapat di jalur kereta. Jarang ada kendaraan bermotor apapun yang menuju ‘perhentian terakhir’ yaitu Trifas. Lebih dari setengah lampu lalu lintas yang berbaris di kedua sisi jalan sudah rusak. Bahkan pemerintah memutuskan terlebih dahulu untuk memangkas budget di sini, kemungkinan karena kurangnya keluhan dari para pengemudi.
Cahaya bulan yang redup gagal untuk terus menerangi jalanan dan rambu-rambu lalu lintas. Dalam keadaan ini, hanya perasaan dari aspal yang dapat siap memberitahukanmu apakah kau mengendarai di jalur yang tepat.
…Menurut laporan dari burung-burung merpati, Ruler telah memutuskan—untuk beberapa alasan—menumpang ke Trifas, bahkan tanpa berubah menjadi spiritual.
Dia tidak perlu untuk mengejar dan menangkapnya—hanya berbaring menunggu kendaraannya lewat. Karena itulah Lancer Merah telah menunggu di jalur cepat dalam bentuk fisik, siap untuk melakukan yang diperintahkan.
Bagi Lancer, tidak ada hal seperti ‘suka’ dan ‘tidak suka’ pada perintah yang sudah diberikan. Dia bahkan akan menghindar mempertimbangkan perintah yang diberikan berkaitan dengan situasi saat tersebut. Kenyataan bahwa dia melayani Master yang memanggilnya adalah hal yang paling penting.
Akan tetapi, dia merasakan sedikit was-was berkaitan dengan perintah kali ini. Dia telah diberikan tugas, untuk tidak membunuh Master musuh ataupun Servant musuh, atau bahkan penduduk tak bersalah untuk memulihkan prananya—tapi untuk menghabisi Ruler, Servant kelima belas yang telah ditugasi untuk memimpin perang ini. Dia tidak ada pilihan selain menerima instruksi Masternya.
Sejak awal, Servant dari class Ruler tidak seharusnya mendukung salah satu pihak. Mereka hanya mengawasi pelanggaran aturan dan menjatuhkan hukuman, untuk menghindari situasi di perang Holy Grail itu sendiri jadi tidak terlaksana.
Kemungkinan besar Ruler telah ditetapkan untuk dilenyapkan karena menghindari hukuman yang diakibatkan semacam pelanggaran aturan… tapi ini keputusan yang terlalu cepat jika begitu masalahnya. Akan tetapi dia tidak bisa menemukan alasan lain untuk tugasnya ini.
Bagaimana pun, perintah adalah perintah dan Lancer bukanlah pihak yang bisa menyampaikan keberatan. Malahan, pemikiran semacam itu telah dihapus dari pikirannya.
Begitu diperintahkan untuk membunuh—dia hanya perlu melakukan pembantaiannya tanpa belas kasihan.
Seekor burung merpati mendarat di bahunya dan segera terbang menjauh saat dia menarik secarik kertas dari paruhnya. Itu pastilah seekor peliharaan dari Assassin.
Sama halnya dengan Caster dari fraksi Merah yang adalah seorang Servant unik, Assassin Merah sudah jelas bukanlah sosok yang biasa. Meskipun mengambil sosok seorang Assassin, sang Ratu Asyiria memiliki skill yang begitu langka sebagai seorang [Double Summon] dan dapat berfungsi sebagai seorang Caster juga. Karena itu, Assassin dapat menjalankan peran Caster saat Caster itu sendiri gagal melakukannya.
“…Hmph.”
Pesannya sangat singkat—hanya dengan jenis kendaraan dan nomor lisensi pada platnya. Itu lebih dari cukup baginya untuk menemui targetnya.
Lancer duduk di atas rambu lalu lintas besar di jalur cepat, menjulurkan satu kaki keluar dan menunggu Ruler mendekat. Sejujurnya, dia tidak tahu jenis apakah Servant targetnya ini, sebenarnya. Greater Grail kemungkinan telah mengamankan semua informasi berkaitan dengan Ruler.
Servant Ruler dipilih oleh Greater Grail untuk mengambil tugas mengendalikan Perang Holy Grail. Sebagai semacam pengawas, seorang Ruler dapat menjatuhkan penalti pada mereka yang terlibat di luar konflik. Akan tetapi, kekuatan ini adalah hal yang sepele dibandingkan dengan yang dimiliki oleh sang pengawas, seorang manusia yang sesungguhnya. Yang lebih penting adalah Ruler memiliki ‘hak istimewa’ yang sesuai dengan perannya sebagai pengendali satu-satunya dalam keseluruhan Perang Holy Grail. Menjatuhkan seorang Ruler akan menjadi hal yang paling sulit dilakukan—alasan kuat mengapa seorang Servant semacam itu sepadan untuk dihadapi.
Di kejauhan, Lancer dapat melihat samar-samar lampu sorot dari sebuah mobil.

Dia telah tertidur selama tiga jam sepanjang perjalanan. Truk yang membawa Ruler akhirnya mulai mendekati Trifas saat Ruler mendeteksi seorang Servant di beberapa kilometer di depan mereka.
Dalam sekejap, alarm di benaknya muncul.
Dia adalah bahaya! Servant itu begitu membahayakan!
“Hentikan mobilnya di sini!”
Kata Ruler pada si pak tua, memaksa truk itu berhenti.
“Apa maksud…”
“Tolong tunggu sampai pagi sebelum mengemudi lagi. Tidak apa-apa, aku akan berjalan dari sini.”
Setelah membuat pria yang mengerutkan dahinya itu mengerti dan berpisah dengannya, gadis itu menyambar tasnya dan berlari dengan kecepatan tinggi. Mungkin sebuah medan pembatas yang mencegah masuknya pihak lain telah dimunculkan—setelah maju beberapa kilometer, dia bahkan tidak merasakan keberadaan dari hewan apapun, apalagi mobil.
Menaruh tasnya, dia segera bertransformasi ke pakaian perangnya yang sepantasnya. Pakaian pelindung dari sihir membungkusnya. Situasinya mungkin lebih kritis dari yang dia bayangkan—cukup untuk memunculkan keinginan bertempur dalam diri Ruler.
“…Servant Ruler, aku mengerti.”
Sebuah suara terdengar dari atasnya. Melihat ke atas, apa yang dia lihat adalah seorang pemuda yang sedang menunggunya, berlutut pada satu kaki di atas sebuah rambu lalu lintas jalur cepat.
Rambutnya panjang, tak teratur dan begitu putih sampai terlihat transparan. Tatapannya tajan seperti sebilah pedang baja, dan sebuah batu merah terbenam dalam dadanya yang terbuka yang sama-sama menampilkan kilauan yang memikat. Tapi apa yang paling menarik perhatian daripada yang lain adalah apa yang membungkus—atau tepatnya, telah menyatu dengan—seluruh tubuhnya: satu set armor emas yang memancarkan cahaya suci.
Sementara setiap bagiannya itu indah, begitu dikombinasikan dengan pria tersebut, segalanya memancarkan lebih banyak keganasan daripada daya pikat. Benar-benar pria yang aneh.
Ruler mengawasinya tanpa mengendurkan kewaspadaannya sedikit pun, dan berkata.
“Kau adalah… Lancer Merah, ‘kan?”
“Oh? Jadi kau bisa menerka hal semacam itu bahkan tanpa melihat senjataku.”
Terdengar cukup berminat, pria itu—Lancer—mengangguk.
“Tentu saja. Dan aku juga tahu nama sejatimu juga—Heroic Spirit Karna.”
“…”
Sepertinya nama itu cukup untuk membuat Lancer berdiri.
Karna begitu dikenal sebagai pahlawan tak terkalahkan dari Mahābhārata, sebuah kisah epik kuno India. Dilahirkan ke dunia lewat Dewa Matahari Surya dan manusia wanita Kunti, dia diberkahi dengan satu set armor sebagai kepastian garis keturunannya. Karna dilahirkan menjadi seorang pahlawan hebat.
“Aku mengerti… Ya, tidak diragukan lagi kau adalah Ruler. Kau bisa mengetahui nama sejatiku saat aku bahkan belum mengeluarkan tombakku adalah buktinya.”
“Itu benar. Jadi, Lancer, apa yang kau lakukan di sini?”
“…Bukanlah hal yang bijak untuk menanyakan hal yang sudah kau pahami benar. Kehadiranku di sini sudah jelas—ini adalah deklarasi perang.”
Meskipun  dia sudah yakin bahwa hal inilah alasannya, tetap saja ini membuat Ruler tertekan saat mendengarnya secara terang-terangan.
“Tidak, kau dan Mastermulah yang tidak bijak. Apa untungnya membunuhku pada saat ini?”
“Aku tidak tahu.”
Lancer membalas singkat dengan menolak tegas segala bentuk komunikasi. Dia melanjutkan.
“Tapi ini adalah perintah untukku membunuhmu di sini. Hanya itu—aku bertindak hanya berdasarkan kontrak.”
Dalam sekejap, sebuah cahaya putih-kebiruan terlihat menembus tangan kanan Lancer. Akan tetapi. Doa hanya memunculkan bentuk dari objek yang seharusnya sudah berada di sana sejak awal.
Itu adalah tombak yang besar, jauh lebih panjang dari pria itu sendiri dalam hal panjangnya. Tombak itu begitu besar sampai sepertinya tidak mungkin bagi seorang manusia untuk memegangnya, dan penampilan hebat itu pada dasarnya adalah pekerjaan seni. Itu hanya dapat digambarkan sebagai senjata yang dianugerahi oleh para Dewa.
“Lancer…!”
“Aku datang. Sayangnya berdasarkan ‘hak istimewa’mu sebagai Ruler, aku tidak boleh meremehkanmu. Biarlah serangan pertamaku menentukan duel kita.”
Mata Ruler melebar saat kekuatan sihir pria itu dengan segera meluap—Lancer berencana untuk tidak bertukar serangan tapi dengan pasti melepaskan nama sejati dari Noble Phantasm-nya. Itu akan berdampak sebelum dia dapat menggunakan ‘hak istimewa’nya…!
Ugh…!”
Mempersiapkan dirinya, dia memanggil senjatanya, yang biasanya… dan pada saat yang sama, merasakan keberadaan seorang Servant kedua.
“Lakukan, Saber!”
Pada saat yang sama, seorang pria dengan suara berat berteriak dan pilar logam yang menyangga rambu terbelah dua dalam sekali tebas. Tempat di mana Lancer berdiri sekarang dengan cepat rubuh—tapi tentu saja, itu tidak cukup untuk menggoyahkan seorang Servant. Lancer melompat dan mendarat mantap di atas apel, sepenuhnya siaga.
“Kau…”
Bisik Lancer Merah, suaranya seperti angin dingin, saat dia menolehkan wajahnya menghadap Saber yang baru saja tiba. Di sebelah Saber berdiri seorang pria gemuk, yang memelototi Lancer dengan rasa takut dan permusuhan yang jelas. Kelihatannya dia adalah Master Saber.
“Kau adalah Saber Hitam, ‘kan. Kau sudah pasti bukanlah Berserker atau Assassin—tidak dengan tekanan semacam itu yang muncul dari pedang mengesankan itu.”
Saber yang menghadapinya menganggukkan kepala tanpa kata-kata.
“Hmm… jadi sasaranmu adalah Ruler juga.”
Lancer meliriknya sekilas. Sasaran mereka mungkin sama sepertinya, tapi tujuan mereka sepertinya bukanlah untuk melenyapkan tapi untuk menangkapnya. Sisi manapun yang mendapatkan Ruler yang bersikap netral akan tidak diragukan lagi memperoleh keuntungan besar.
Master Saber—mungkin bertindak sebagai semacam juru bicara—mengambil satu langkah mau pada Ruler dan dengan hormat mengulurkan tangannya.
“Kau sepertinya berada dalam masalah, Wahai Ruler.”
Ruler mengangguk sedikit menyetujui.
“Kau adalah Master Saber dari fraksi hitan, bukan?”
“Ya… Namaku adalah Gordes Musik Yggdmillennia, dan aku berpatisipasi dalam Perang Besar Holy Grail ini sebagai Master dari Saber Hitam. Sekarang…”
Pipinya melebar membentuk seringaian, Gordes menujukan salah satu jarinya pada Lancer dan meneriakkan tuduhannya.
“Lancer busuk dari fraksi Merah! Kami telah menyaksikan usahamu untuk membunuh Ruler! Berencana untuk menghabisi Heroic Spirit yang memandu Perang Holy Grail  jelas-jelas adalah sebuah pelanggaran hukum. Ini tidak bisa diampuni hanya dengan hukuman… Berdiri dan bersiaplah untuk menerima hukuman yang diberikan Saber dan Ruler!”
Perkataannya adalah dakwaan sekaligus sebuah ajakan untuk bekerja sama. Di mata Gordes, kekuatan dari Noble Phantasm yang akan Lancer lepaskan tidak dapat dibiarkan. Untuk saat ini, adalah hal yang bijaksana untuk bertempur bersama Ruler—dengan ‘hak istimewa’ tak tertandinginya—untuk mengalahkan Lancer.
Serangan Lancer sebelumnya sudah jelas diarahkan pada Ruler. Adalah hal yang normal bahwa Ruler akan menerima rencananya… atau begitulah yang Gordes simpulkan.
Akan tetapi, Ruler melemparkan lirikan tajam pada Gordes pada saat dia mendengar perkataannya.
“Saber Hitam, dan Lancer Merah—aku tidak keberatan mengenai pertarungan antara kalian berdua di sini. Aku tidak akan terlibat, kupastikan itu.”
“…Hah?”
Ruler dengan dingin menyatakannya pada Gordes yang kebingungan.
“Lancer yang berusaha untuk membunuhku sama sekali tidak ada kaitannya dengan pertarungan antara mereka berdua. Sebagai Ruler, ini adalah tugasku untuk melindungi arah dari konflik ini.”
Gordes bersuara rendah tanpa kata-kata. Dia tidak dapat mengerti apa nilainya dari Servant ini berdasarkan penilaian gadis itu. Apakah dia benar-benar berencana untuk menunggu di sini sampai salah satu dari mereka yang mencoba membunuhnya selesai bertarung?
“Hmph… jadi kau mencoba untuk mengalihkan situasnya dengan membuatku menghadapi dua lawan? Apakah kemenangan hanyalah satu-satunya hal yang kau pedulikan? Benar-benar rendah—walaupun kurasa ini juga adalah salah satu bentuk dari peperangan. Ini hanya membuat sedikit perbedaan untukku.”
Sepenuhnya tenang dan yakin, Lancer menyatakan bahwa dia tidak ada masalah dengan menghadapi kedua Servant secara bersamaan. Perkataannya menjelaskan rasa percaya dirinya yang sangat besar. Dia berbicara bukan karena tinggi kesombongan atau kecongkakan, karena baginya, ini jelas sebuah kenyataan bahwa dia tidak bisa dikalahkan.
“Apa…?”
Gordes kehilangan kata-kata, terkejut baik dengan penghinaan dan perkataan tenang Lancer, bahkan meskipun Lancer berdiri di hadapan Servant yang Gordes begitu yakini.
Keterkejutannya segera berubah menjadi kebencian, Gordes berteriak sikap menantang penuh amarah.
“Bunuh dia, Saber! Hancurkan Lancer tersebut sampai menjadi tanah!”
Saber—yang tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun selama ini—menganguk ringan pada perkataan Masternya dan melangkah maju, tak ada rasa takut ataupun keragua dalam langkahnya.
“… Baiklah. Duel ini adalah milik kita, Saber Hitam.”
Saat dia membisikkan ini, Lancer melihat sesuatu pada wajah ahli pedang itu—sebuah senyuman yang begitu samar dan selintas yang sulit bagi siapa pun untuk memahaminya. Untuk sekejap, bibir Siegfried mencibir.
Pandangan Saber tiba-tiba dipenuhi dengan kenangan. Tapi apa yang bisa Saber ini—yang jelas berasal dari jaman dan wilayah berbeda—membuatnya teringat?
“Aku pernah bertemu dengan seorang pria sepertimu sekali. Dia memiliki tatapan yang sama denganmu.”
Entah untuk alasan apa, Lancer memutuskan untuk mengatakan beberapa kata dengannya. Saber mengangguk ringan, seakan mendesaknya untuk melanjutkan.
“Tidak diragukan lagi dia adalah seorang pahlawan. Dan dirimu yang menatapku dengan mata yang sama… Pertarungan antara kita ini bukanlah kebetulan, tapi merupakan sebuah takdir.”
Hasrat Lancer untuk bertarung membara bagaikan kobaran api biru. Semacam tekanan yang sunyi mulai menggelegak dalam pedang Saber yang tak berkata-kata. Bau terbakar memenuhi udara, seakan sedang terpanggang di bawah matahari. Sulit untuk dikatakan apakah itu berasal dari kedua senjata tersebut atau dari semangat bertarung yang kuat dari kedua Servant yang saling berbenturan satu sama lain.
Apapun alasannya, Lancer dapat melihat satu kenyataan jelas dari hal ini.
Aku mengerti. Jadi kau berharap untuk bertarung melawanku juga…
Keyakinan itu memberikan kegembiraan besar bagi Lancer. Ya… tidak ada apa pun yang dapat menghalangi mereka sekarang. Mereka akan bertarung, dan membunuh, sampai akhir.
Kami berdua sama-sama Heroic Spirit… pria gila yang berjalan pada jalur kami masing-masing meskipun menuju akhir yang pahit saat kami terus bertarung. Bahkan sekalipun kami mendapatkan hidup kedua dan mewujud di zaman sekarang, tidak ada yang akan bisa mengubah keyakinan kami ini!
Mereka tidak meraung. Mereka tidak berteriak atau memekik. Malahan, jiwa mereka berubah menjadi putih panas dan membakar daratan di sekitar mereka.
Ruler dan Gordes dalam diam mundur dari tempat mereka berdiri. Api yang berkobar berbicara secara langsung kepada naluri mereka sebagai makhluk hidup, mempeingatkan mereka bahwa mereka terlalu dekat.
Akhirnya—saat Ruler dan Gordes akhirnya mundur ke tempat yang mereka anggap adalah lokasi yang aman—kedua orang itu memulai duel mereka dan dengan demikian, Perang Besar Holy Grail dalam bentuk yang seharusnya: sebuah pertarungan sampai mati antara kedua Servant.
…Tombaknya menderu, membelah udara.
…Pedangnya memekik, menjerit bersama angin.
Mereka berbentrokan. Bunga-bunga api terbang melintasi udara seperti jiwa yang tersesat saat kedua kekuatan besar saling melawan satu sama lain.
Bahkan tidak perlu dikatakan lagi bahwa Lancer dan tombaknya memiliki keuntungan dalam hal jarak. Kepala dari senjata itu sendiri lebih dari satu meter dalam panjang yang menakutkan. Akan tetapi, memiliki senjata dengan jarak yang lebih lebar secara alamiah memperlambat kecepatan serangan. Sejumlah kecil waktu hilang dengan setiap tusukan saat tombak tersebut harus ditarik kembali.
Tentu saja, gerakan tombak Lancer sesuai dengan Karna, yang namanya menggema di setiap sudut dunia. Menjadi tidak lebih daripada seorang Master, kemungkinan besar bahwa Gordes tidak dapat memahami apa yang sedang terjadi di hadapannya.
Namun rentetan hujaman tombak ini—yang terlihat seperti membentuk dinding batu yang sulit ditembus—diterima oleh Siegfried, sang Pembantai Naga dari Netherland, yang kemampuan pedangnya sudah lama melampaui umat manusia. Memanfaatkan secara penuh setiap celah antara tusukan, dia mulai memendekkan jarak satu langkah setiap waktu.
Akan tetapi, bahkan untuk seorang pendekar pedang hebat, ini bukanlah sekedar hal biasa karena setiap serangan tombak itu dapat menangkisnya tanpa masalah. Ini semakin mustahil untuk sepenuhnya menerima secara konstan serangan dari seorang ahli tombak yang sudah menapak begitu jauh ke tingkatan para dewa.
Walau begitu, Saber dengan tenang melanjutkan serangannya—sebuah tindakan yang mengejutkannya begitu sembrono yang bahkan bagi Ruler, yang tahu tentang legendanya, ingin berseru memintanya berhenti.
‘Tidak ada usaha, tidak ada hasil’. ‘Menemukan hidup melalui kematian’. Kata-kata ini sendiri secara brutal terdengar sederhana. Akan tetapi, banyak kesulitan terletak saat melakukannya secara langsung, dan kebanyakan yang mencobanya hanya akan berakhir sebagai mayat yang tenggelam dalam lumpur.
Saber mengambil selangkah lebih jauh lainnya. Memanuverkan pedangnya dengan kemungkinan gerak terkecil, dia menangkis rentetan serangan tombak tersebut. Akan tetapi, itu jauh dari cukup. Beberapa serangan terhubung langsung dengan titik-titik vitalnya. Arterinya tersayat lebar, dan keningnya tertusuk—tapi itu ternyata tidak terjadi.
“…?!”
Lancer dengan segera mundur dari kejadian aneh tersebut. Setelah berada pada jarak tertentu, dia melihat Saber dengan dingin.
“Luka-luka tersebut dangkal.”
Lancer telah mengenainya, tidak hanya sekali, tapi tujuh puluh delapan kali—dengan setiap serangannya berada pada titik vital. Tetapi Saber tetap dengan tenang memegang pedangnya.
Itu bukanlah seakan dia tidak menerima luka apa pun, tapi kedangkalannya dari setiap hasilnya terlalu aneh. Dengan jumlah dari kekuatan Lancer yang ditempatkannya pada tombak, lengannya seharusnya telah tercabik dan matanya seharusnya sudah tercungkil keluar.
Akan tetapi, berkat sihir penyembuhan Gordes, semua luka Saber tertutup dalam sesaat, membuktikan bahwa luka-luka tersebut cukup dangkal yang membuatnya mungkin untuk segera beregenerasi.
Tapi itu tidaklah mungkin. Itu sama sekali tidak logis, dengan kata lain mustahil, jika Saber entah bagaimana berhasil menghadapi rentetan serangan tombaknya sebelumnya. Tapi menerima begitu sedikit luka sekalipun telah terkena serangan langsung seperti itu tidaklah mungkin…
Ini adalah sebuah kemustahilan, dan pada saat yang sama, sebuah fenomena yang pastinya terjadi—jadi pastilah ada alasannya. Sebuah alasan kenapa Saber Hitam tidak terluka parah… mungkin dia adalah manusia yang disenangi para dewa, sama seperti Rider dari pihaknya sendiri, atau telah melatih tubuhnya sampai seperti ini, atau…
“Ah…Aku mengerti. Akhirnya, aku paham.”
Sebuah perasaan keagungan—sesuatu yang Lancer tidak rasakan untuk waktu yang lama—menempati hatinya. Ya… Saber ini benar-benar sama dengan dirinya.
Tentu saja, Saber merasa terkejut seperti Lancer. Dia memiliki Blood Armor of the Evil Dragon [Armor of Fafnir]—sebuah kemampuan curang yang menghidupkan kembali legenda dari seorang pahlawan yang dibasuh dalam darah naga, meniadakan semua serangan tingkat B ke bawah.
Dengan kata lain, itu seharusnya mustahil bagi Saber untuk terluka dalam keadaan seperti ini… tidak dengan tombak itu, yang hanya digunakan sebagai bagian biasa dari peralatan perangnya dan tidak teraktivasi secara penuh sebagai sebuah Noble Phantasm.
Namun setiap dari tujuh puluh delapan serangan Lancer telah memberi dampak padanya. Lukanya cukup ringan untuk segera disembuhkan oleh sihir Masternya… tapi itu lebih daripada cukup untuk menakuti Siegfried.
Itu berarti tombak Lancer memiliki kekuatan yang sebanding dengan serangan tingkat A. Tapi sementara tombak itu sendiri sudah jelas adalah permata langka, benda tersebut tidak pernah bisa menembus tubuh naga dan mendaratkan serangannya begitu saja. Kekuatan penghancur Lancer muncul dari tenaga fisik luar biasa dan teknik luar biasanya.
Mengagumkan…
Saber mempertahankan penampilannya dengan membiarkan rasa senangnya muncul dari dalam dirinya. Bahkan semasa hidupnya, dia tidak pernah bertarung dengan sosok hebat seperti ini. Semenjak mengalahkan naga yang telah menyebabkan begitu banyak penduduk desa ketakutan, Siegfried telah menciptakan begitu banyak legenda berkat tubuh abadinya… tapi dia sudah lama kehilangan sensasi berjuang melawan kematian… menyerempetkan jiwanya sampai titik di mana tidak ada jalan kembali.
Dengan tubuh kebal terhadap semua jenis serangan, Siegfried bisa dengan mudah membantai musuhnya tanpa memikirkan tindakannya. Tidak pernah ada perjuangan. Itu hampir sama dengan sebentuk pekerjaan.
Tapi pertarungan ini tidaklah seperti itu.
Menyaksikan tombaknya yang ganas menyerbu dragon armor-ku… kekuatan ajaibnya…
Berapa banyak legenda yang pria ini telah ciptakan? Berapa banyak kesulitan yang telah dia lalui?
Pemikiran itu memenuhi Saber dengan kekaguman. Dan sepertinya ahli tombak di hadapannya juga berpendapat sama.
Dalam keheningan, mereka saling mengangguk satu sama lain—dan menenggelamkan diri mereka dalam duel sekali lagi.
Tombak tersebut diacungkan kembali pada Saber. Di antara mereka, ada hasrat untuk bertarung, untuk bertempur dan untuk membunuh—dua keinginan yang sekeras baja.
Saber memperbaiki posisi berdiri dengan pedang besarnya. Lancer menggenggam tombak dengan kedua tangannya.
Malam ini tak berbulan, tak bercahaya… tapi itu bukan masalah, karena matahari dari semangat yang tinggi dan angin yang dingin menerangi mereka—dan kedua Heroic Spirit yang tak biasa ini beradu senjata sekali lagi.

“Grgh…”
Gordes menggertakkan giginya saat dia menonton pertarungan mati-matian antara Saber Hitam dan Lancer Merah. Tidak ada kesempatan untuknya menggunakan sihirnya—Master dari pihak lawan bahkan tidak ada di tempat kejadian.
Tapi apa yang paling tidak menyenangkannya adalah kenyataan bahwa Saber-nya—pahlawan hebat Siegfried, Saber terkuat yang dapat mengabaikan serangan apa pun di bawah tingkatan B—tidak menang.
Bahkan Saber tidak dapat sepenuhnya bertahan melawan serangan Lancer. Dia harus meminta pertolongan gadis itu.
“Wahai Ruler, kumohon padamu. Setidaknya, ajari kami nama sejatinya—“
“Aku tidak bisa. Itu akan bertentangan dengan posisiku sebagai Servant netral.”
Ruler membalas dengan tajam. Gordes dengan keras kepala melanjutkan.
“Tapi dia mencoba untuk membunuhmu! Jika Servant Hitam kalah di sini, kau akan menjadi targetnya lagi. Kita harus—“
“Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, hal tersebut tidak ada kaitannya dengan ini. Aku dipanggil sebagai seorang Ruler—aku tidak bisa membiarkan persoalan pribadiku mengotori pertarungan mereka.”
“…!”
Ketidaksabaran Gordes muncul kembali. Mereka sedang menyaksikan, tentu saja mereka melakukannya—Darnic dan yang lainnya, lewat sihir untuk melihat dari jarak jauh dan familiar.
Mereka sedang mengawasinya, Master bodoh yang hanya dapat berdiri mematung ditempat karena sepenuhnya didominasi oleh keberadaan dari dua Servant saja, tidak dapat memberikan perintah sedikit pun atau membantu dengan keahlian apa pun.
Ini tidak masuk akal! Bukankah kita sedang bertempur dalam Perang Holy Grail? Bukankah ini adalah kompetisi tertinggi untuk sihir yang diputuskan di antara dua Master dan Servant? Di mana Master musuh? Kenapa dia tidak di sini? Apakah dia takut kehilangan nyawa? Keluar dan biarkan aku menghadapimu! Aku akan menghancurkanmu!
“Tunjukkan dirimu, Master Merah! Biarlah Gordes Musik Yggdmillenia melihat seperti apa tindakah anjing dari Asosiasi! Kau sedang menyaksikan ini, ‘kan? Iya, bukan?!”
Tidak ada balasan. Tidak ada yang memperhatikannya—baik Servantnya sendiri, ataupun Lancer serta Ruler.
Sensasi diabaikan begitu saja membuat Gordes merasakan sesuatu yang sudah tidak dia dirasakan untuk waktu yang lama—rasa malu, dan terhina.
—Aku harus melakukan sesuatu.
—Aku pasti mempunyai kekuatan untuk melakukan sesuatu.
—Benar. Ya, benar, tepat di sisiku.
Gordes melihat pada bagian belakang tangan kanannya. Ya, bukti bahwa dia adalah seorang Master tepat berada di situ—ikatan antara dia dan Servantnya, Command Spell yang terukir oleh sejumlah besar prana.
Itu benar—menggunakan Command Spell ini, dan Servant tersebut dengan mudahnya berada di bawah kendalinya. Gordes tidak boleh lupa bahwa Servantnya bukanlah seorang pahlawan. Dia tidak lebih dari sekedar boneka.
Dia tidak bisa membiarkan dirinya tidak melakukan apapun selain menyaksikan Servantnya bertarung dengan kekaguman semata. Sebagai seorang Master, bukankah dia seharusnya menemukan kemenangan lewat suatu keahlian dan penilaian yang tenang?
Akan tetapi, bahkan Gordes cukup tenang untuk menyadari bahwa situasi saat ini bukanlah sesuatu yang dapat dia ikut campuri. Mungkin lebih tepat dikatakan bahwa dia hanya terlalu terintimidasi.
Setiap tusukan Lancer bagaikan sebuah tembakan meriam, melesat dengan hembusan yang kuat.
Pedang emas Saber menebas angin dan membelah kegelapan.
Setiap serangan bertemu dengan lawannya, saling menjalin dan menyebar menjadi bunga-bunga api. Puncak dari para ahli pedang dan ahli tombak melanjutkan perjuangan mereka meraih dominasi.
Keunggulan dari teknik Lancer sedikit melampaui Saber, tapi Saber lebih tangguh dalam hal tubuhnya. Semua hal dipertimbangkan, mereka kurang atau lebih sama dalam adu kekuatan. Sekejap kelengahan dapat membuat jantung mereka tertembus atau kepala yang terpenggal.
Siapa pun akan kesulitan untuk mengatakan siapa yang lebih unggul, tapi ada persoalan yang berkaitan dengan Gordes. Karena sihir penyembuhan Masternya, Saber dapat selalu pulih dari luka-lukanya. Akan tetapi, kemampuan Lancer sendiri untuk pemulihan juga bisa dipertimbangkan, sekalipun dia sendirian. Dia pasti terikat kuat dengan Masternya dan disediakan prana dalam jumlah banyak.
Dentang suara baja berbenturan terdengar untuk kesepuluh ribu kalinya.
Mereka diselimuti dengan lebih dari seribu cahaya, menyembuhkan luka-lukanya.
Akhirnya, kedua kesatria tersebut berhenti, tapi bukan karena kelelahan. Bagi para pahlawan tanpa tandiangan ini, bahkan tiga hari pertarungan tidak akan melelahkan mereka. Tapi waktu tidak menunggu siapa pun—dan langit gelap gulita telah menjadi berwarna biru gelap pucat.
Kenyataannya, beberapa jam telah berlalu sejak mereka memulai. Mereka berdua tidak menggunakan Noble Phantasm mereka—bahkan juga tidak memiliki kesempatan untuk menyebutkan nama sejati mereka.
“Kalau seperti ini, kita akan bertarung di bawah matahari, sekalipun itu sedikit bermasalah untukku. Bagaimana denganmu dan Mastermu yang kelelahan?”
“…”
Saber menjauhkan pedangnya, terdiam hingga akhir. Gordes mencoba untuk mengatakan sesuatu tapi kata-kata tidak dapat keluar. Dihancurkan oleh tekad dari kedua petarung tersebut, dia secara naluriah tahu bahwa tidak ada tempat bagi orang sepertinya untuk membuka mulut.
Setelah sedikit ragu-ragu, Saber—yang terikat untuk diam oleh Masternya—juga memutuskan untuk berbicara.
“Aku berani berharap bahwa pertemuan kita berikutnya akan membiarkan kita untuk bertarung sepuas hati.”
Ada rasa penasaran yang jelas dalam kata-katanya. Lancer Merah, Karna, tidak tahu apapun mengenai apa yang ada di balik cerita kepahlawanan Siegfried yang hebat. Akan tetapi, sesuatu dalam kata-kata tersebut memberikan kesan padanya. Dengan sebuah anggukan ringan, Lancer menunjukkan persetujuannya—itu adalah apa yang dia sendiri diam-diam inginkan, bagaimanapun juga.
Untuk menyebutnya janji atau sumpah akan menjadi sebuah pernyataan yang berlebihan. Keduanya mengerti dan melihat satu sama lain sebagai Servant musuh. Tapi itu menjadi alasan kuat bagi mereka untuk berbagi perasaan ini.
“Harus kukatakan…keberuntungan memihakku. Aku bersyukur dari dalam hatiku bahwa pertempuran pertamaku adalah denganmu, Saber Hitam.”
Perkataan menyetujui dari Lancer melebihi apapun. Di antara mereka terdapat ikatan yag muncul antara pejuang—yang hampir lugu, harapan yang dewasa bahwa satu sama lain hanya akan dapat dijatuhkan oleh mereka sendiri.
“Selamat tinggal, Saber.”
“…”
Saber melihatnya pergi tanpa sepatah kata pun. Mendadak, Lancer berubah menjadi bentuk spiritual dan menghilang. Langit mulai menjadi berwarna ungu cerah, menandakan fajar.
“…Sebuah pertempuran yang hebat. Seperti yang bisa diduga dari pahlawan terbesar dari Jerman.”
Saber menangguk diam pada pujian Ruler.
Gordes memelototi Saber karena untuk sesaat berbicara begitu saja, tapi menarik dirinya sendiri dan menghadap Ruler sekali lagi.
“Wahai Ruler, maukah kau ikut dengan kami sekarang? Kalau kau bermaksud untuk melanjutkan memantau perang ini di Trifas, aku dapat menjamin bahwa Benteng Millennia akan menjadi yang paling menyambut seorang tamu seperti—“
“Aku harus menolaknya. Itu akan bertentangan dengan sikap tidak memihakku. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku—kekuatan deteksiku berkali-kali lipat jauh melebihi seorang Servant normal. Aku akan bisa menempuh jalanku sendiri ke pertempuran mana pun yang terjadi di dalam Trifas.”
Ruler menolak dengan kasar. Perang Holy Grail kali adalah bentrokan yang tak pernah terjadi sebelumnya antara dua kekuatan—yang untuk alasan apapun dia tidak dapat muncul mendukung salah satu pihak.
“…Kita pergi, Saber.”
Jelas dari rasa tidak senang dalam nada suara Gordes bahwa tujuannya sejak awal adalah untuk mengamankan Ruler, tapi rencananya menjadi kacau karena Lancer. Dan sekalipun Sabernya dapat dengan paksa menahan Ruler, dia kehabisan waktu. Bagaimanapun, Gordes adalah seorang penyihir. Dia tidak akan pernah bertindak sebodoh itu dengan bertarung bersama seorang Servant di siang hari terang.
Dengan Saber dalam bentuk spiritual, Gorden membalikkan punggung ke Ruler—bahunya gemetar karena malu.
Dengan kepergian Gordes, Ruler sekali lagi melihat jejak-jejak kehancuran yang dibuat oleh kedua pria tersebut. Tidak ada kesadaran, tidak ada keteraturan dan tidak ada arah dalam kehancuran tersebut—bukti bahwa itu tidak disebabkan oleh niat jahat, tapi murni hanya bekas dari duel yang sepatutnya. Ya… rambu lalu lintas yang terbelah dan lubang di tanah, terlihat seperti benturan sebuah meteorit, muncul hanya karena gelombang kejut dari pertarungan.
Syukurlah tempat ini bukan sebuah jembatan, pikir Ruler. Jika tempat ini adalah jembatan, sudah dipastikan akan hancur lebur akibat pertarungan mereka. Pertarungan itu memang tidak akan membunuh seorang Servant, tapi rekonstruksinya akan memerlukan waktu yang sangat lama. Hal itulah yang akan sangat disesalkan.
Bagaimanapun, pertarungan antara Saber Hitam dan Lancer Merah berakhir seri. Keduanya tidak menderita luka parah atau menghabiskan energi berjumlah besar. Pertarungan ini hanyalah sebuah kericuhan kecil—tidak lebih dari sebuah perkelahian.
Namun, tetap saja perkelahian kecil itu mengakibatkan pemandangan seperti ini.
Mulai sekarang, perang hanya akan semakin meningkat, dan beberapa Servant serta Master kemungkinan akan melanggar aturan. Apakah karena itu dia—Servant Ruler, Jeanne d’Arc—dipanggil untuk mengawasi?
Tidak yakin, dia tidak dapat menyangkal kemungkinan tersebut ataupun memercayainya sepenuhnya, gemuruh dari dalam dirinya mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah dalam ‘Perang Besar Holy Grail’ ini.
“…Tidak ada gunanya memikirkan itu sekarang. Aku hanya dapat mencoba yang terbaik.”
Ruler berkata pada dirinya sendiri seraya mengetatkan tinjunya. Kemudian, karena agak merasa malu dengan berdiri memakai zirah lengkap dalam cahaya matahari pagi, dia cepat-cepat melepaskan jalinan zirah sihir itu dan menggantinya kembali dengan baju yang biasa.
Di bawah langit yang berwarna ungu samar, gadis tersebut kembali ke jalan, mengambil tasnya dan mulai berjalan perlahan menuju Trifas.
* * *


Mereka sedang memanggilku.
Ini menyakitkan… Selamatkan kami… dari rasa sakit ini…

Tangisan mereka semua, kurang lebih, mengulang-ulang tiga hal ini—tapi apa yang mereka kurang dalam hal keragaman, mereka bentuk dalam suara samar. Panggilan tanpa suara mereka untuk keselamatan, jeritan mereka yang mengatakan rasa sakit dan penderitaan—itu semua adalah suara dari ketidakberdayaan, isakan takut akan kematian, kehancuran dan kewalahan oleh takdir mereka sendiri.
Tidak… mereka tidak sedang memanggilku, pikirnya. Mereka hanya menjerit—dan dia dapat mendengar semuanya.
Itu adalah tragedi yang sebenarnya. Seandainya mereka sedang memohon seseorang menjadi penyelamat mereka, maka mereka setidaknya masih memiliki harapan akan pembebasan mereka. Tapi mereka hanya berseru-seru, dengan tiada seorang pun menjawab mereka… suara mereka melebur menjauh menjadi keheningan.
Lalu, bagaimana denganku…?
Dan kemudian, dia terbangun dari mimpinya. Dia membuka matanya dan melihat tubuhnya sendiri. Ya… itu tidak lebih daripada sebuah mimpi; tangan kecilnya tidak dapat memegang sebilah pedang, dan Magic Circuit kelas pertamanya mengancam untuk mencabik tubuhnya sendiri jika dia mencoba untuk menggunakan sihir.
Dia tidak punya kekuatan untuk menyelamatkan siapapun. Tidak ada kekuatan untuk meraih tangan orang lain. Karena dia hanyalah seorang homunculus yang terlahir beberapa bulan lalu. Dia lahir untuk menjadi baterai yang menyediakan prana untuk para Servant, yang artinya kematian.
Siapa yang memanggilnya walau begitu? Apakah itu gadis di sebelah kanannya? Pria di sebelah kirinya? Atau mereka yang di sisi lain yang tidak bisa mengambil wujud manusia?
Tapi dari siapapun itu berasal, tidak ada hal yang bisa dia lakukan. Pengetahuan yang Holy Grail berikan padanya membuatnya mengerti bahwa seberapa pentingnya peran yang dia—dan mereka—akan jalankan.
Hanya ada satu hal penting yang dibutuhkan para Servant untuk menjelma di dunia ini: prana. Jadi dalam prakteknya, Servant terkuat adalah yang memiliki kuantitas prana terbesar.
Tidak peduli betapa hebatnya Noble Phantasm seorang Servant, tanpa prana yang cukup, mereka beresiko binasa saat menyebut nama sejatinya dan membangkitkan Noble Phantasmnya.
Di sisi lain, sementara Noble Phantasm yang membutuhkan sedikit prana dan mungkin secara logika lebih lemah, hal terebut dapat digunakan berulang kali tanpa mengkhawatirkan persoalan prana. Dibandingkan dengan senapan yang berbilik-bilik dan melepaskan satu tembakan, sebuah busur yang dapat selalu mengisi kembali suplai anak panahnya sudah jelas lebih menguntungkan.
Karena itu, semakin banyak prana yang Master miliki, semakin besar kelebihan yang mereka punya. Di bagian itulah Yggdmillennia atur untuk membalik keadaan musuh-musuh mereka.
Ide mereka sederhana, dan kejam: gunakan prana dari pihak ketiga, peras hingga ke tetes terakhir sampai mereka berubah menjadi mayat. Mereka tidak menggunakan manusia normal untuk tujuan ini—tidak untuk alasan etis, tentunya—tapi hanya karena itu akan membuatnya sulit untuk ditutupi… sama halnya dengan sulitnya mengumpulkan jumlah penyihir yang cukup untuk dikorbankan. Tapi siapa yang akan berduka untuk seorang homunculus? Mereka menghabiskan uang dan usaha, tapi sedikit masalah.
Dengan mencuri dari Einzberns dan kediaman alkemis lainnya, mereka telah mempelajari teknik yang, bagi seorang ahli, dapat dikatakan sebagai permainan anak-anak—tapi itu lebih dari cukup untuk menciptakan baterai hidup yang hanya berguna sebagai suplai prana.
Yggdmillennia telah mempertaruhkan segalanya pada Perang Holy Grail ini dan mereka, pada homunculus adalah kuncinya.
Tidak peduli seberapa besar Noble Phantasm, mereka ada untuk mengisi kembali prana dalam sekejap. Ini juga membuat para Master bebas menggunakan sihir mereka sebisa mungkin tanpa khawatir untuk mensuplai Servant mereka.
Baik bagi Master dan Servant, ini adalah situasi yang terbaik… mengesampingkan mereka yang berada di belakang layar yang mengorbankan nyawa mereka.
“Itu benar… aku tidak bisa membantu satu pun dari mereka.”
Menyelamatkan mereka adalah sebuah mimpi. Dia hanya bisa tidak menghiraukan tangisan mereka. Lagipula, dia bahkan tidak tahu akan jadi apa dirinya.
※※※※※


Ini adalah suasana tenang sebelum badai. Para Master dan Servant di Benteng Millennia sedang menghabiskan waktu senggang mereka yang sedikit.
Sejak pemanggilannya, sudah menjadi tugas Archer untuk mendorong kursi roda Fiore. Bahkan dibandingkan dengan yang lain, mereka berdua memiliki kecocokan besar antara satu sama lain. Fiore memercayai Archer sepenuhnya dan menghabiskan hampir setiap waktu bangun dengannya.
“Apakah ini yang kau inginkan?”
“Ya, terima kasih.”
Fiore melihat sekali lagi larutan obat yang Archer sodorkan padanya, sebelum menelannya dalam satu tegukan. Itu adalah penghilang rasa sakit yang membantu mengurangi rasa sakit pada kakinya yang tak bernyawa. Sebagai efek sampingnya, obat tersebut meliputinya dengan rasa kantuk. Tidak masalah untuk beristirahat sejenak, pikirnya memutuskan.
Saat dia menunggu obatnya bekerja, tiba-tiba terlintas di pikirannya bahwa ada satu pertanyaan penting yang tidak pernah dia tanyakan pada Servantnya.
“Archer… kalau kuingat, aku tidak pernah menanyakan padamu apa sebenarnya harapanmu.”
Fiore belum menanyakan padanya apa yang kemungkinan menjadi hal penting bagi Servant—apa yang mereka harapkan dari Grail. Dia mencoba menanyakannya sejak awal, tapi menurut Archer: ‘itu adalah sesuatu yang kecil, dan tidak akan membuat masalah bagi siapapun. Ayo bicarakan ini lain kali.’
Pada saat itu, Fiore menunda masalah tersebut, karena Archer mungkin adalah satu-satunya Servant yang integritasnya adalah masalah harga diri, tapi dengan pertempuran yang akan segera dimulai, dia merasa bahwa inilah saatnya untuk mengetahui jawabannya.
“Maksudmu apa yang akan kuminta pada Holy Grail? Itu…bohong kalau kubilang tidak ada.”
Archer kelihatan cukup kebingungan, enggan untuk bicara. Di antara kelompok ‘Hitam’, keinginan Lancer diberikan prioritas tertinggi. Sementara setiap Servant memiliki niatnya masing-masing dan akan mengamati sebuah kesempatan untuk menyampaikan permohonan mereka para Grail, dan itu jelas memerlukan kemenangan dari Perang Besar ini. Pertama-tama, mereka harus memfokuskan perhatian mereka pada pertempuran dengan kelompok ‘Merah’.
Mungkin Archer risau bahwa dengan membicarakan harapannya secara terang-terangan akan menyebabkan perpecahan dalam kelompok ‘Hitam’. Fiore menggelengkan kepalanya dan meyakinkan dia sebaliknya.
“Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun. Aku adalah Mastermu… tentu saja aku akan menempatkan keinginanmu di atas yang lainnya.”
“Terima kasih, Master… dan kuharap kau tidak akan menganggap jawabanku ini menggelikan.”
“Tentu saja tidak.”
Archer menurunkan wajahnya sedikit malu.
“Ini hanyalah keegoisanku semata… tapi aku berharap supaya para dewa mengembalikan apa yang telah mereka anugerahkan padaku.”
“Para dewa…? Maksudmu…?”
“Ya… Aku berharap untuk mendapatkan kembali [Keabadian] yang kuberikan pada Prometheus.”
Pastinya, Fiore telah membaca legenda Chiron setelah memanggilnya. Dari kelahirannya yang tidak biasa sampai pengajarannya kepada banyak pahlawan, Chiron meninggalkan banyak legenda—tapi yang paling terkenal dari semuanya adalah saat yang membuatnya menjadi gugusan bintang Sagitarius.
Terperangkap dalam konflik antara sang pahlawan Herkules dan sesamanya Centaurus, Chiron tidak sengaja dipanah oleh Herkules dengan anak panah yang ujungnya dilumuri racun Hydra.
Menjadi makhluk abadi, Chiron tidak dapat mati dan karena itu terus menerus menderita kesakitan karena racun tersebut. Pada akhirnya, dia menyerahkan keabadiannya pada Zeus untuk diberikan para Prometheus, dan akhirnya mati dalam damai. Menyesali kematiannya, Zeus memberinya sebuah tempat di langit sebagai sang Archer.
“Aku tidak merindukan keabadianku—tapi itu adalah pemberian untukku dari ayah dan ibuku. Melepaskannya adalah penyangkalan atas apa adanya diriku.”
Pria itu berbicara tenang tentang harapannya.
“Tapi, Archer, orang tuamu…”
Fiore dengan cepat menutup mulut; berbicara lebih dari ini akan membuat pria itu malu. menurut legenda, Chiron lahir dari pelindung hasil panen dan bumi, Cronus, dalam bentuk seekor kuda, dan nymph bernama Philyra. Malu akan penampilan anaknya—setengah manusia dan setengah kuda—Philyra berubah wujud menjadi sebatang pohon Linden.
Ayah dan ibu Chiron tidak pernah menyayanginya; dia sendiri pasti tahu ini lebih baik dari siapapun.
Archer dengan tenang menatap langsung pada mata Fiore, tatapannya tidak tergoyahkan.
“Itu benar… mereka tidak pernah mencintaiku. Tapi itu adalah bukti bahwa darah mereka mengalir di pembuluh darahku, dan aku berharap itu dikembalikan.”
Dia bergumam, terlihat cukup menyesal.
“Aku tidak bisa menyangkal bahwa itu adalah permintaan yang egois. Itu mengubahku yang bukan apa-apa menjadi abadi sekali lagi. Tapi…”
Itu adalah ikatan tipis yang menghubungkan dia dengan mereka.
“Archer… harapanku sendiri juga sama. Aku hanya ingin menggunakan Grail untuk menyembuhkan kakiku.”
Cacat Fiore Forvedge Yggdmillennia sangat berdampak pada sihirnya. Magic Circuitnya berada di kedua kakinya—tapi sebuah cacat pada Circuitnya sejak lahir membuatnya memiliki dua kaki yang lumpuh sepenuhnya, dan terkadang membuatnya merasakan rasa sakit yang luar biasa.
Tentu saja, menyembuhkan kakinya mungkin saja dilakukan. Akan tetapi, hal itu akan melibatkan penghilangan Circuit dari kakinya. Dengan kata lain, artinya menyerah akan kehidupannya sebagai seorang penyihir.
Mempelajari seni teknik manusia dan pembangkitan spiritual, Fiore telah belajar cara untuk menggantikan fungsi dari kakinya. Pembangkitannya dapat mengambil tugas dari kakinya, dan dia akan dapat terbang dengan sebuah sapu. Tapi itu tidak sama dengan berjalan dengan kedua kakinya sendiri. Akan tetapi, sebagai penerus dari rumah Forvedge, dia tidak bisa—dan tidak akan—membuang sihirnya.
Karena itulah dia hanya dapat mengandalkan Grail untuk tetap mempertahankan Magic Circuitnya sebagaimana mestinya, dan mengembalikan seluruh fungsi kakinya. Ya… harapannya benar-benar sebuah kemewahan.
“Aku mengerti. Harapanmu adalah sebuah keajaiban sehingga kau tidak perlu melakukan pengorbanan juga.”
“Itu benar… hasratku sendiri adalah hal yang sepele dibanding dengan keinginanmu yang sungguh-sungguh. Ini memalukan, bukan? Betapa rendahnya aku.”
“Kau pikir begitu? Aku bisa mengerti baik beban dari membuang keahlian seseorang, dan kebahagiaan dari berdiri dengan kedua kakimu sendiri di atas permukaan Gaia. Kau tidak perlu merasa malu.”
Tapi jelas karena itu, pikir Fiore.
Dia tahu di dalam hatinya bahwa menyuarakan harapannya akan membuat Archer menghiburnya seperti ini. Dia tidak berbohong, tentunya. Itulah harapannya yang sebenarnya—dan dia benar-benar merasa bahwa keinginannya itu tidak lebih dari sekedar kemewahan. Akan tetapi, dia telah memutuskan sebagai seorang penyihir untuk mendapatkan pengabul keinginan maha kuasa tersebut. Tidak ada alasan untuk menyatakannya dalam cara yang lemah, seakan untuk mengundang rasa belas kasihan.
Tapi itulah bagaimana caranya dia mengatakan keinginannya: dengan kikuk, tanpa kepercayaan diri, dan dengan rasa malu. Kenapa dia merasa seperti itu tentang kondisinya sejak lahir? Dia bersikap sederhana dan lemah gemulai untuk menghindar dari mengekspresikan apa yang benar-benar dia rasakan. Dia tidak pernah berpikir dia akan merasa malu akan sikap ini… sampai sekarang.
“Terima kasih, Archer.”
Kata Fiore, merona. Dia ingin Archer memujinya, lebih dari siapapun. Dia ingin pria tersebut meletakkan tangan di kepalanya, dan membisikkan kata-kata baik di telinganya. Tapi dia membenci dirinya sendiri karena tanpa sadar mencoba untuk mendapatkan simpati.
Ya… betapa rendahnya aku.
Tetap saja, dia tersenyum pada perkataan Archer. Membawa perasaan ini dalam hatinya—sesuatu yang bukan perasaan tertarik ataupun cinta, sesuatu yang sepertinya lebih murni dan sekaligus sedikit rumit—Fiore menutup matanya dengan lembut.
“Aku bisa merasakan obatnya bekerja, Archer. Kau bisa pergi.”
“Ya, Master.”
Tanpa suara, Archer meninggalkan kamar Fiore.

Caules Forvedge Yggdmillennia tidak pernah ingin bergabung dalam Perang Holy Grail sejak awal. Kenyataannya, dia bahkan tidak pernah ingin menjadi seorang penyihir.
Dia memang menyukai sihir itu sendiri—itu bukanlah hal yang setiap hari dapat seseorang miliki untuk bersenang-senang karena mempunyai sesuatu yang absurd, secara sains adalah fenomena mustahil yang dimiliki oleh seseorang. Tapi dia tidak pernah ingin untuk mencurahkan seluruh hidupnya pada hal tersebut.
Di samping itu, penyihir adalah manusia yang menjadi sesuatu yang rendah—mereka menjadi benar-benar tidak manusiawi. Kasarnya, dia tidak ingin diperlihatkan pada dunia sebagai semacam monster yang dapat membantai ratusan orang demi penelitian, seperti yang penyihir biasa lakukan di abad pertengahan.
Seorang penyihir adalah seorang pencari, dihilangkan dari rasa sentimental, belas kasihan atau jenis perkataan baik lainnya. Jalurnya bukanlah yang Caules ingin jalani.
Alasan kenapa Caules mulai mempelajari sihir adalah sesuatu yang menggelikan; dia ada hanya sebagai ‘pengganti’ untuk Fiore. Bukan karena Caules tidak menginginkan ini untuk dirinya sendiri. Takdir dari seluruh klannya adalah beban berat bagi bahunya, tapi satu-satunya hal yang diperlukannya untuk mempelajari sihirnya, adalah hal yang cukup sederhana.
Berbulan-bulan telah berlalu saat Fiore menjadi kepala dari keluarga Forvedge dan, pada akhirnya, mendekati posisi tertinggi dari seluruh klan Yggdmillennia. Saat itulah Caules juga memutuskan untuk menjelajahi jalan lain. Dia dapat baik menghabiskan sisa hidupnya sebagai penyihir kecil yang tidak pernah mencapai satu hal pun—atau dia dapat mengejar jalan hidup yang lain. Saat itulah Perang Holy Grail datang secara tiba-tiba, membebaninya.
Awalnya, dia bertugas sebagai pendukung Fiore. Akan tetapi, saat dia tiba di Romania, tanda dari Command Spell mulai muncul. Caules tidak lagi bisa berkata apapun mengenai ini—dia harus berpatisipasi dalam Perang Holy Grail sebagai seorang Master, tidak peduli berapa banyak tatapan penuh dendam dari yang lainnya, penyihir yang lebih berpengalaman mengganggunya.
Dengan keberuntungan, mereka dengan cepat mendapatkan relik suci yang dibutuhkan sebagai katalis. Fiore dapat membeli [Frankenstein’s blueprints] dari seorang penyihir lepas yang menjadi kenalannya.
Pemanggilannya sendiri adalah sebuah kesuksesan. Bahkan kesulitan terbesar bagi Servant Berserker—pengeluaran prana yang sangat besar—memiliki sebuah solusi dengan persediaan homunculi, dan Noble Phantasmnya sendiri yang dapat membantu dalam menyediakan prana.
Hanya ada satu masalah tersisa sekarang.
“Apakah dia…benar-benar sekuat itu?”
Itu adalah pertanyaan sederhana namun sangat penting. Berserker dari tingkat [Mad Enhancement]—nama sejatinya Frankenstein—secara mengejutkan rendah. Sementara kehilangan kebanyakan kemampuan berbahasanya, dia masih bisa memisahkan antara teman dan lawan, dan dapat berkomunikasi dengan ide-ide sederhana.
Akan tetapi… dia sama sekali tidak memiliki sedikit pun ide mengapa Frankenstein, seorang pria raksasa yang seharusnya berdiri setinggi dua meter—muncul dalam bentuk seorang gadis muda—dan yang rupanya imut malahan. Apa yang terjadi dengan Boris Karloff dan Robert de Niro? Awalnya, dia berpikir telah secara tak sengaja memanggil seorang pengantin, tapi tidak salah lagi; sepertinya dia benar-benar adalah Frankenstein—atau, lebih tepatnya, homunculus yang diciptakan oleh Frankenstein.
Bisakah gadis ini bertarung? Itulah yang menggangu Caules pada saat ini.
Tidak memedulikan beban Masternya, gadis itu lebih suka untuk tetap dalam bentuk fisik, berkeliaran di sekitar istana. Tentu saja, Caules memiliki otoritas untuk memerintahkan dia menjadi bentuk apapun, tapi dia memilih untuk tidak memaksakan masalah tersebut dan membuatnya kesal (setelah erangan kesal gadis itu mulai bergema di kepalanya).
Sebagai hasilnya, sang Master membiarkan Servantnya melakukan keinginannya.
…Selain itu tidak ada kemungkinan gadis tersebut akan menjadi liar. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya di kebun, memetiki bunga atau melihat langit. Terkadang, Rider akan mencoba untuk berbicara dengannya, sekalipun dia jarang menanggapinya—dan bahkan saat dia meladeninya, itu lebih karena jengkel.
Caules memiliki kebanggaannya sendiri sebagai seorang Master. Kalau mereka bisa berkomunikasi, mereka mungkin bisa berbicara baik-baik. Jika mungkin, dia ingin gadis itu mengerti tentang hierarki antara Master dan  Servant.
Karena itu, Caules bertekad untuk berbicara dengan Berserker Hitam.
Bergerak ke halaman, dia menemukan Berserker sedang memetik bunga-bunga di taman. Bohong kalau dia tidak merasa pemandangan tersebut cukup menakutkan, tapi Caules akhirnya membuat sebuah suara kecil untuk menyemangati dirinya sendiri sebelum melangkah maju.
“H-Hei, kau.”
Caules memulai dengan sebuah lambaian tangan dan sapaan ringan. Berserker memberi Masternya sebuah lirikan sekilas sebelum kembali memunggunginya. Dia jelas-jelas memutuskan untuk mengabaikannya, yang cukup membuatnya kesal, tapi tidak akan ada yang bisa diselesaikannya kalau pergi sekarang. Dia harus berpendirian mantap dan berbicara dengan gadis itu dengan benar.
Dia menarik napas dalam-dalam… dan mengatakan kata-kata pertamanya.
“Uh, aku hanya bilang… maaf.”
Dia menundukkan kepalanya meminta maaf, niat otoritasnya mengkhianatinya. Berserker menatap Caules sekali lagi.
“Maksudku, untuk yang lalu saat aku keceplosan menyebutkan nama sejatimu.”
Uuuu…”
Dia tiba-tiba memberi erangan tanda tidak senang. Jadi itulah yang mengganggunya, Caules menyadarinya. Sepertinya Berserker merasakan semacam frustrasi terhadap dirinya.
“Kita tidak akan tahu apakah mereka akan kembali sebagai musuh kali berikutnya. Jadi, aku minta maaf.”
Uu…”
Berserker mengangguk. Gerutuannya tidak terdengar sekesal sebelumnya. Mungkin dia merasa tenang setelah mengetahui bahwa Caules mengerti apa [yang mengikuti] Perang Holy Grail.
“Ngomong-ngomong, karena itulah kurasa kita seharusnya hanya fokus untuk selamat dalam Perang Holy Grail ini. Bagaimana denganmu?”
Berserker, menggenggam bunga yang ada di tangannya dengan erat, mengangguk tanpa kata untuk menunjukkan persetujuannya.
“Baiklah, ayo mulai dengan mengenal diri kita, kalau begitu.”
“…?”
Berserker memiringkan kepalanya ke satu sisi. Caules menjelaskan.
“Aku melihat beberapa detail tentangmu sebelum pemanggilan. Tapi legenda tidak selalu benar, dan satu perbedaan saja dapat membuat situasi kritis. Jadi, karena itulah aku akan mengatakan padamu apa yang kutahu tentangmu, dan kau akan memperbaiki jika aku membuat kesalahan.”
Berserker menundukkan kepalanya, secara mengejutkan bersikap bersungguh-sungguh.

Victor Frankenstein tadinya adalah seorang murid ilmu sains tentang alam. Terobsesi dengan ilusi untuk membuat ‘manusia yang ideal’, dia menghabiskan waktu dua tahun untuk menjahit potongan-potongan daging tak bernyawa, dan berhasil memberikan kehidupan ke dalamnya.
Idealismenya adalah untuk melahirkan sesosok manusia rupawan dan bijak, sempurna dalam segala bidang. Akan tetapi, apa yang dia ciptakan adalah sebuah monster menjijikkan. Dalam perasaan teror, Frankenstein membongkarnya lagi dan membiarkannya begitu saja…
Tapi sekalipun menjadi kepingan-kepingan, monster tersebut tetaplah hidup. Menyambungkan kembali dan memperbaiki dirinya sendiri, monster tersebut dengan begitu keras kepalanya mengejar Frankenstein yang melarikan diri ke Geneva, Switzerland—sebuah pengejaran hebat yang terbentuk dari rasa benci dan kekaguman.
Dia memohon pada Frankenstein, yang dia anggap sebagai ayahnya.
Aku tidak pernah ingin mengganggumu…tapi saat kau menciptakanku, kau hanya membuat diriku.
Aku sendirian, dan rasanya tersiksa…sangat menderita…itu menyakitkan. Jadi, tolong, hanya sekali lagi. Tolong ciptakan satu lagi diriku. Yang bisa melakukannya, hanya kau.
Tolong… berikan aku seorang pasangan.
Frankenstein menolaknya mentah-mentah. Ini bukan masalah bisa atau tidak bisa. Dia telah menempatkan seluruh fokusnya untuk menciptakan homunculus yang ada di hadapannya—dan sebagai hasilnya adalah kelahiran makhluk yang mengerikan. Tidak terpikirkan bahkan untuk mempertimbangkan membuat yang kedua.
Berhenti sejenak, Caules melirik Berserker. Dia tidak mengerti apakah Victor Frankenstein memiliki selera keindahan yang aneh—atau gadis ini memiliki sebuah kecemaran yang tak bisa ditutupi meskipun paras yang cantik.
Semakin dokter tersebut menolaknya lagi dan lagi, monster tersebut semakin menyadari kebenarannya, dan jatuh dalam keputusasaan yang mendalam.
Tapi, tidak peduli apa yang terjadi, haruslah dia yang menciptakan yang lainnya.
Jadi monster tersebut membunuh: mereka yang dikenal Frankenstein, mereka yang tidak ada kaitannya sekalipun, dan pada akhirnya, bahkan tunangan Frankenstein tercinta. Dan tetap saja, Frankenstein terus melarikan diri dari monster tersebut, menolaknya sampai akhir.
Pria muda yang begitu hidup dan bercahaya telah lama hilang. Dengan kerapuhan dari seorang pria tua, Frankenstein mati dalam kegilaan, dengan pahit menyesali segalanya hingga hembusan napasnya yang terakhir.
Monster tersebut tidak lagi memiliki siapa pun untuk dibenci. Pria yang melihatnya sebagai monster tidak lagi ada.
Dia berpisah dengan Walton, pria yang menyaksikan saat-saat terakhir Frankenstein, dan bepergian menuju ke tempat paling ujung di utara. Kemudian, dia membuat sebuah tumpukan kayu dan membakar dirinya sendiri.
Semoga abuku dapat tersebar melewati lautan…
Jadi berakhirlah monster yang terlahir dari khayalan Frankenstein.

Caules mengakhiri kisahnya mengenai kehidupan lampau Berserker. Gadis itu tidak menyelanya sekalipun. Apakah itu semua benar, atau dia hanya tidak peduli?
“Jadi… harapanmu, Berserker, adalah [seorang pasangan dari jenis yang sama denganmu], ya?”
Uu…
Dia menganggukan kepalanya ke atas dan ke bawah. Kelihatannya dia benar.
“Dan homunculus di istana… mereka tidak cukup tampan, ya? Maksudku, mereka sangat mirip denganmu…”
“…”
Berserker hanya menyorongkan bunga di tangannya ke wajah Caules. Itu tidak begitu menyakitinya saat mengejutkannya.
“Kuanggap itu sebagai tidak, kalau begitu”
Berserker mengangguk kuat-kuat. Dengan caranya sendiri, ada sebuah garis yang dia tidak mau lewati.
Tiba-tiba, dia menatap langsung ke wajah Caules, mata kelabunya mengintip dari celah-celah di antara rambut panjangnya, tangannya menarik-nariknya ringan.
“Kau ingin tahu apa keinginanku?”
Berserker menganggukkan kepalanya naik turun. Caules berpikir. Itu akan cukup beralasan untuk mengatakan bahwa dia ingin mencapai Root, dan permasalahan tersebut akan selesai. Keingiannya adalah sesuatu yang akan membuat para penyihir rela memberikan nyawanya. Dan Berserker, yang telah dianugerahi sejumlah pengetahuan oleh Holy Grail, tidak akan merasa ini adalah hal yang patut dipertanyakan.
Tapi Caules tidak suka berbohong.
“Yah, sebenarnya, aku belum memutuskannya.”
“…”
Gadis itu memelototinya. Caules menggaruk-garuk kepalanya, terlihat menyesal.
Aku bukannya tidak punya keinginan. Aku juga seorang penyihir, tentu saja aku ingin mencapai Root dan segalanya…tapi, kurasa, ada hal-hal lain yang kuinginkan.”
Bisakah Root dengan begitu mudah dicapai, sekalipun dengan pengabul keinginan yang begitu hebat seperti Grail? Caules sangat meragukannya. Tentunya, hal akan menjadi langkah pertamanya untuk mencapai tujuan. Tapi jalan tersebut masih sangat jauh.
“Lagipula, aku tidak akan tahu sampai kita sampai ke titik tersebut. Sebagai contohnya, kalau saudariku tewas dalam peperangan, aku mungkin akan ingin membangkitkannya. Sesuatu seperti itu akan menulis ulang keinginanku sendiri. Saudari yang kupunya saat ini lebih berarti bagiku daripada Root yang akan kucapai dalam seratus tahun.”
Yah… bukan berarti dia akan membangkitkanku kalau aku mati, pikir Caules.
Di tengah-tengah pikirannya yang sedang linglung, Berserker membuat suara rendah. Sepertinya dia menyetujuinya, setidaknya sampai tingkatan tertentu.
“Tidak masalah selama kau mengerti. Aku akan kembali ke ruanganku sekarang.”
Caules berdiri, tapi Berserker menarik kemejanya. Saat berbalik, dia tiba-tiba menemukan setangkai bunga disodorkan ke wajahnya.
“Kau…ingin aku menerima ini?”
Berserker mengangguk, dan Caules menerimanya dengan rasa terima kasih. Setelah itu, dia mulai memetiki bunga lagi. Dan setelah itu, melihat dia mulai mencabiknya menjadi serpihan, Caules mundur dengan terburu-buru. Tidak ada danau di sini—dan dia tidak akan dapat menghentikan gadis itu kalau dia melemparnya.

Lidah dingin Celenike Icecolle Yggdmillennia perlahan-lahan merayapi sekitar tengkuk leher Rider.
“Hei…”
Dia sedang berbaring telentang di tempat tidur, dengan kedua tangan terikat oleh tali kulit. Baju besi dan bagian-bagian dari pelindungnya telah dilepaskan, memperlihatkan dadanya yang telanjang, tulang selangka dan kulitnya yang putih. Itu adalah posisi yang sangat sugestif.
Celenike merapatkan tubuhnya di atasnya, pipinya bersemu merah dan menatap penuh nafsu pada bulu mata pria itu… bibirnya… tubuhnya…
Akan tetapi, ekspresi Rider tidak terlihat malu atau kesakitan, tapi sama sekali bosan. Dia berkata, terdengar muak.
“Bisakah kau hentikan?”
“Tidak. Kau begitu indah… Aku bisa mencicipimu sepanjang hari dan tidak akan merasa bosan.”
“Tapi aku akan bosan.”
“Aku tidak peduli. Yang penting adalah apa yang kuinginkan.”
Rider mengeluarkan suara jengkel. Setiap hari sejak dia dipanggil, tanpa gagal, Masternya akan bermain-main dengan tubuhnya. Permainannya adalah cinta yang mesum—jari-jemari dan lidah licinya akan menelusuri tubuhnya, tapi itu tidak pernah cara menunjukkan romansa yang ‘normal’.
Yang ada, dia merasa dia sedang dicintai sebagai hasil karya seni—dan dia ragu banyak manusia yang akan menutupi lukisan dan ukiran patung dengan air liur mereka sendiri.
“Kau benar-benar mempesona…”
Celenike mendesah kagum. Biasanya, dia tidak akan ragu-ragu untuk memeluk siapapun yang mengatakan hal tersebut padanya—pria maupun wanita—tapi Rider tidak begitu senang mendengar ini dari wanita tersebut.
Itu adalah sedikit kemurahan hati yang diberikan wanita itu sehingga dia belum melakukan sesuatu yang impulsif dan bodoh seperti memasang sebuah Command Spell untuk memaksanya… tapi itu dapat berubah kalau mereka sama-sama masih hidup begitu hasil pertempuran telah diputuskan. Sebagai bentuk dari sihir, Command Spell dapat ditangkis dengan Magic Resistance—tapi bahkan dengan skill tingkat A-nya, dia masih hanya dapat melawan satu perintah. Jika wanita ini menggunakan dua, dia tidak akan punya pilihan selain mematuhinya.
Sekarang, jika dia dapat menghabiskan sebuah Command Spell pada hal lain, itu merupakn aebuah perintah yang tak berguna…
Memalukan sekali… Kenapa pisauku tidak bisa mengirismu?”
Celenike melakukan observasi yang mengganggu.
“Aku dipanggil untuk bertarung, kau tahu… Oh, sudah hampir waktunya.”
Tepat waktu—Rider merobek ikatannya dan berdiri. Celenike, terdorong minggir, cemberut memprotes.
“Apakah benar-benar tidak membuatmu tertarik?”
“Bukan itu yang jadi masalahnya.”
“Seperti yang dikatakan legenda… Astolfo benar-benar seorang mata keranjang.”
“Tidak ada hubungannya dengan ini! Ya ampun…”
Apa yang wanita itu katakan mungkin benar, tapi maksud sebenarnya dia akan melakukan percintaan dengan gadis yang dia inginkan, di saat yang dia inginkan—yang tidak bisa lebih jauh dari dikejar dengan paksa oleh seorang wanita.
Dan dari semuanya, bau kematian yang mengikuti penyihir tersebut begitu tajam. Dia mungkin telah berlumuran dan bermandikan darah semenjak dia lahir. Dia dapat menggunakan parfum dan membasuh dirinya dari aroma itu, tapi kematian itu sendiri tidak akan pernah meninggalkan dia.
Dia lahir dari keluarga Icecolle, garis keturunan yang cukup tua dari para praktisi sihir hitam. Dipaksa untuk melarikan diri dari perburuan penyihir yang mengenaskan pada Abad Pertengahan—dari Eropa barat sampai ke Siberia—mereka kehilangan fondasi dari sihir mereka dan pada akhirnya jatuh dalam kemunduran.
Celenike adalah anak pertama yang dilahirkan dari garis keturunan yang membusuk dalam waktu yang lama. Para tetuanya, yang mendedikasikan hidup mereka untuk menyempurnakan sihir hitam, memanjakannya dan mencurahkan semua ajaran yang mereka miliki padanya.
Sihir hitam memerlukan pengaturan tertentu, yaitu, seseorang yang tidak akan ragu untuk memotong-motong kurban hidup. Seseorang yang tidak akan goyah dalam memanjatkan doanya sampai jumlah pengorbanan yang dibutuhkan—dari keturunan hewan dan manusia, manusia unggul dan beragam hewan, pria-pria dan hewan-hewan tua, yang sedang hamil dan yang belum dilahirkan—tercapai.
Dia telah diajari untuk menampilkan dirinya secara eksternal, dan mengontrol dirinya secara internal. Karena hanya dengan satu kegagalan, seseorang akan kehilangan dirinya sendiri dalam kegembiraan sebuah pembantaian.
Pembantaian, tapi hanya ketika pembantaian dibutuhkan. Rasa sakit, tapi hanya ketika rasa sakit dibutuhkan.
Celenike adalah seorang praktisi yang luar biasa. Ketika dia mempersembahkan kurbannya, kemauan sekeras besinya menekan semua emosi dan membuatnya mampu melakukan ritual kejam sebanyak apapun.
Dia benar-benar memiliki kontrol atas keinginannya yang besar. Bagaimanapun, rasa senang setelah menyakiti dan kegembiraan setelah menyiksa seseorang adalah hal paling berbahaya bagi mereka yang mempraktekkan sihir hitam.
Karena itulah hasrat Celenike terdorong keluar kapan pun saat dia tidak sedang bertindak sebagai seorang penyihir. Tidak ada satu pun yang pernah menghabiskan satu malam dengannya dan tetap utuh.
Dia akan mengambil seorang anak laki-laki, yang lugu akan dunia, dan mencemari serta menodai setiap bagian dari tubuhnya, menjilat setiap air mata penderitaannya. Dia mengubah sihir hitam menjadi hidup, berjalan pada garis antara seorang penyihir dan seorang pengguna. Dia melakukan aksinya yang dapat berakhir dengan dirinya yang berlumuran darah. Keberadaan semacam itulah iblis yang dipanggil Celenike Icecolle Yggdmillenia.
Satu-satunya alasan kenapa dia tidak pernah melewati batas ‘mencintai’ Servant yang dia panggil adalah karena perbedaan absolut dalam hal kekuatan di antara mereka. Rider, bagaimanapun juga, seorang Servant—bukan sesuatu yang bisa dia perlakukan kejam. Sebagai seorang penyihir, dia juga mengerti bahwa sampai perang berakhir, Astolfo harus dapat menggunakan kekuatannya sepenuhnya.
Begitu perang berakhir, walau begitu… dia begitu ragu bahwa dia akan kehilangan semua hambatan dan memberikan semua yang wanita itu inginkan. Menggunakan Command Spell-nya, dia dapat menodai Heroic Spirit ini, yang hanya dapat digambarkan dengan kata ‘indah’, dan memenuhinya dengan rasa malu.
Dia tidak bisa ceroboh karena konflik kedua yang akan berkisar pada Holy Grail. Satu-satunya hal yang diinginkannya adalah untuk bersama Astolfo.
Perasaan cintanya cukup… sangat… rumit.
“Ada yang harus kudatangi. Permisi.”
Celenike berbaring di tempat tidur, dengan malas mengawasi Astolfo yang terburu-buru mengganti bajunya.
“Kau tidak berpikir untuk pergi keluar lagi, ‘kan?”
“Mm, semacam itu.”
“Kau belum membuat masalah dengan orang-orang di kota, ya ‘kan?”
“Aku hanya keluar untuk bersenang-senang. Lagipula aku kembali ke dunia dengan sesosok tubuh. Apa masalahnya bermain-main sedikit sampai perang dimulai?”
Dia bahkan tidak dapat mengatakan padanya betapa salahnya hal tersebut. Seorang Servant menghabiskan waktunya di luar untuk bermain-main sama halnya dengan mengabaikan tugasnya. Tapi Celenike tahu bahwa ini bukanlah sesuatu yang bisa dia perbaiki dengan sebuah omelan. Dia menggerutu dengan sedikit pasrah.
“Tentu saja, itu salah. Kalau Darnic marah, aku yang kena…”
“Maaf! Aku akan pergi sekarang!”
Celenike mengamati saat Rider pergi—dan kemudian menyadarinya.
Semburat kemerahan dan tanda malu-malu di wajahnya membuatnya lebih terlihat  seakan dia akan menemui seseorang yang dia sayangi.

“Pertama-tama, kurasa kau sebaiknya keluar dari sarang yang terkutuk dan jahat ini secepat mungkin!”
Saran Rider yang terus terang menunjukkan sebuah kesalahan. Mereka baru saja mulai berbicara dan homunculus tersebut merasa cukup terkejut, menyadari dengan jelas kegilaan Astolfo.
Tapi… melarikan diri? Melarikan diri ke mana?
“Ke manapun selain di sini. Masalah ini tidak akan bisa lebih buruk lagi, ya ‘kan?”
Dia benar, pikir homunculus. Tapi bagaimana caranya dia meloloskan diri?
“Yah, ayo jangan buang-buang waktu! Kita dapat menunggang tunggangan kesayanganku untuk keluar dari sini! Kalau kita tidak melakukan apapun, Masterku mungkin akan memanggilku lagi.”
Tunggangan Rider? Ya, itu bisa berhasil… tapi tunggangan Astolfo adalah…
“Oh? Kau tahu hippogriff-ku?”
Dia tahu, sebagai bagian dari pengetahuan dari Perang Besar ini. Astolfo telah muncul dalam berbagai legenda di atas tunggangan seperti seekor grifon dan Rabicano yang terkenal, tapi yang paling terkenal di antaranya adalah sesuatu yang tak terbayangkan di dunia ini—hippofgriff.
Kuda khayalan ini adalah hewan buas Magis yang lahir dari gabungan seekor grifon dan seekor kuda. Dengan bagian tubuh atasnya ada elang dan tubuh bagian bawahnya adalah kuda, keturunan dari kedua hewan ini adalah sesuatu yang seharusnya tidak mungkin.
Yah… itu tidak terlalu masalah untuk saat ini. Masalahnya lebih berada pada kenyataan bahwa hippogriff hampir dapat dipastikan adalah Noble Phantasm Rider. Dengan menggunakan itu, Rider akan menghabiskan begitu banyak prana—dan nantinya homunculi-lah yang harus menanggungnya. Bahkan sekalipun mengesampingkan itu, penggunaan prana sebanyak itu mau tidak mau mengarah ke penggunaan Noble Phantasm.
“Tapi hippogriff itu sangat cepat, kau tahu! Dia seperti whuuuuuuuush! Kita akan pergi secepat yang kita bisa, kemudian aku tinggal whuuuuuuuush saat aku pulang! Aku tidak berpikir dia akan menggunakan prana sebanyak itu hanya untuk terbang.”
Meskipun Rider berupaya untuk merundingkan kecepatan hippogriffnya lewat berbagai jenis gestur tubuh, dia tidak bisa menerima rencana ini.
“Oh, baiklah. Hmm, apa yang akan kita lakukan kalau begitu? Mungkin kita sebaiknya mendiskusikan ini dengan Chiron.”
Dia tiba-tiba keceplosan mengatakan nama sejati Archer. Saat homunculus tersebut memperingatkannya, wajah Rider dengan cepat menjadi pucat. Kelihatannya dia memang menyadarinya, sampai tingkatan tertentu, bahwa itu adalah ide yang buruk.
“Hah? Oh, benar! Maaf! Lupakan yang kukatakan tadi!”
Lagipula informasi tersebut tidak begitu berguna untuknya.
“Fuuh. Bagus, bagus. Jangan sampai yang lain tahu, oke?”
Dia dapat melihat sedikit rasa sesal pada Rider saat Servant tersebut tertawa terbahak-bahak. Jika fraksi lawan berhasil untuk menahan Servant ini, mereka pasti akan mendominasi musuh garis depan pengintaian mereka. Begitulah yang dipikirkan homunculus.
Setelah berpikir beberapa saat, Rider memberikan sebuah saran.
“Bagaimana dengan ini? Pertempuran antara para Servant akan segera dimulai. Di tengah-tengah semua pertarungan itu, akan sulit untuk mengetahui satu homunculus yang meloloskan diri, bukan begitu? Dan sekalipun kita ketahuan, mereka tidak akan punya sumberdaya untuk mengejar kita. Jadi, aku akan menunggu waktu yang tepat untuk membuatmu keluar dari tempat ini.”
Itu adalah rencana yang mantap, benar-benar kebalikan dari ide sebelumnya.
“Ya, itu seharusnya bisa, Rider.”
Homunculus tersebut menegang pada perkataan Archer. Servant tersebut telah membuka, melewati dan menutup pintu, dan bergerak ke belakang Rider tanpa homunculus sadari.
Di sisi lain, Rider tidak terlihat terkejut dan sepertinya sudah mengetahui keberadaannya. Dia menolehkan kepalanya ke arah Archer yang sedang berdiri di belakangnya.
“Kau juga merasa begitu, Archer?”
“Ya, aku Archer… tolong jangan panggil aku ‘Chiron’ tanpa sengaja lagi.”
“Baiklah, aku mengerti… Maaf. Aku benar-benar menyesal mengenai hal itu.”
Archer duduk pada meja tulis dan menatap homunculus.
“Kau takut.”
“Yah, tentu saja. Siapa yang tidak akan takut pada orang-orang seperti kita?”
Rider menyela. Sebenarnya, homunculus tidak begitu takut lagi pada Rider, tapi dia memutuskan untuk tidak memperdebatkan masalah ini.
“Kalau begitu, aku akan menambahkan satu lagi rasa takut padamu. Aku akan berkata sejelas mungkin—setidaknya, kau hanya punya waktu tiga tahun lagi untuk hidup.”
Archer tanpa rasa kasihan memastikan kenyataan kejam tersebut. Homunculus mengangguk mengerti pernyataan Archer tersebut pada sisi tempat tidurnya, mengukirnya dalam benaknya.
“Kalau kau hanya seorang anak kecil, aku akan menyesalkannya dan memberikan rasa simpatiku. Akan tetapi, kau adalah seorang homunculus—dengan kata lain, kau terlahir lengkap. Karena itulah kau sekarang harus memikirkan dirimu sendiri.”
Memikirkan apa? Homunculus bertanya. Archer menatapnya langsung dengan matanya yang tajam menusuk.
“Pikirkan bagaimana kau akan hidup.”
Bagi homunculus, ini sepertinya sebuah tugas yang akan mustahil dilakukan seumur hidupnya.
Hidup itu sendiri sudah merupakan keajaiban baginya. Bagaimana mungkin dia tahu bagaimana menjalaninya? Akan tetapi, Archer menyatakan dengan tegas.
“Walau begitu, kau harus memikirkannya. Kalau kau tidak melakukannya, maka bagaimana caranya hidupmu jadi berbeda—atau berakhir dengan cara yang berbeda—sekalipun kau selamat dari perang ini? Tidak akan ada artinya sama sekali.”
“Yah, kupikir dapat hidup itu sendiri adalah sebuah anugerah…”
Rider menggerutu dengan suara rendah.
“Itu tidak cukup.”
Archer mengesampingkan pendapat Rider dengan sebuah sahutan pendek.
Homunculus tidak dapat menanggapi perkataan Archer. Dia tidak tahu bagaimana caranya. Apa yang mungkin bisa dia pikirkan? Bagaimana seharusnya dia memikirkannya? Dia merasa seperti sebuah dahan yang terjatuh, hanyut di lautan.
“Yah… kau selalu bisa bertanya pada yang lainnya. Untungnya, Rider di sini untuk membantumu. Tanyalah dia, kalau ada sesuatu yang tidak jelas bagimu.”
“Tunggu, kenapa tiba-tiba ini melibatkanku?”
“Itulah yang dimaksud dengan mengambil tanggung jawab, Rider. Oh ya, dan satu hal lagi—mulailah dengan belajar berjalan. Kakimu menjadi terlalu lembut. Begitu kau bisa berjalan, kau mungkin dapat menggunakan sihir sederhana. Itu seharusnya mengurangi beban pada fisikmu.”
Homunculus itu tidak lagi merasa memiliki beban di pikirannya, mungkin karena tujuan jelas dan dapat dipahami yang diberikan padanya. Bagaimanapun, dia yang belajar berjalan tidak akan mengganggu siapa pun. Bahkan, dia bisa mulai belajar sekarang.
Archer berdiri dan menepuk pundak Rider.
“Ayo kita pergi, Rider. Aku akan mengunci pintunya. Tidak akan ada seorang pun yang berani menerabas masuk ke ruangan ini selama pertemuan.”
“Baiklah…”
Rider berdiri juga, terlihat kesal. Dia jelas-jelas tidak puas, tapi homunculus tidak bisa mengetahui penyebabnya.
“Sampai ketemu lagi, kalau begitu. Aku akan kembali, oke?”
Berhati-hatilah, kata homunculus saat dia melihat mereka pergi, dan Rider melambaikan tangannya, anehnya terlihat senang. Segera setelah pintu ditutup, dia mulai beraksi. Untuk saat ini—dia harus mulai berjalan.
Kedua kakinya mencengkeram lantai dengan erat. Kaki-kakinya kecil dan lembut, tapi mereka dapat menyokong tubuhnya—untuk waktu yang singkat, setidaknya. Dia mengambil satu langkah dan merasa sedikit kesakitan. Kakinya kotor. Akan tetapi, kali ini, dia tidak digerakkan oleh dorongan tak terkendali. Dengan berjalan sebagai satu-satunya tujuannya, dia tidak akan kehilangan arah.
Untuk saat ini, aku akan berjalan—berjalan, sampai aku tidak lagi bisa mengambil langkah lainnya.

Sementara itu, Rider dengan segera menjadi kesal lagi saat mereka berjalan menuruni gang.
“Bukankah kau terlalu keras padanya?”
“Dan kau terlalu lembut. Aku hanya berharap untuk memberikan keseimbangan.”
Archer tersenyum saat membalas, tapi Rider merajuk dan menggerutu.
“Bukankah kau juga berlaku lembut pada Mastermu?”
“Ah, karena itukah suasana hatimu menjadi masam? Rider… cara yang paling baik untuk mendidik itu berbeda tergantung orangnya. Masterku bekerja keras untuk menghilangkan cacat yang dibawanya sejak lahir, seakan itu adalah persoalan antara hidup dan mati. Tapi, bagi seorang penyihir, dia telah menerima hal tersebut seakan itu adalah hal yang seharusnya. Dia akan hancur, suatu hari nanti, jika tidak ada seseorang yang memuji usahanya, tanpa syarat.”
“Jadi kau pikir homunculus tidak berusaha keras?”
“Dia tidak mengerti perbedaan antara usaha dan bermalas-malasan sejak awal. Mempertimbangkan waktu hidupnya yang pendek, dia tidak bisa dibiarkan bermalas-malasan. Itu hanya akan mengarah pada penyesalan nantinya.”
Rider menggerutu, tapi menjadi terdiam dan tidak berbicara lebih jauh lagi.
“Tentu saja… kau memanjakannya adalah masalah lain. Tanpa ada seseorang untuk diandalkan, diragukan bahwa dia dapat melarikan diri dari tempat ini. Akan tetapi, jangan sampai lupa kenapa kau dipanggil ke sini sebagai seorang Servant.”
“Kau terdengar seperti seorang guru atau semacamnya.”
“Oh, tapi aku memang seorang guru.”
Archer menjawab dengan ringan dan mencoba untuk meletakkan sebelah tangannya pada kepala Rider, tapi Rider yang jengkel menepisnya minggir.
Kelihatannya mereka berdua adalah yang terakhir tiba di ruang tahta. Dengan tanda dari Darnic, Caster memanipulasi Menorah untuk memperlihatkan sebuah pemandangan dari luar benteng. Teknik ini, memanfaatkan golem di udara sebagai media komunikasi, jauh melampaui jangkauan penglihatan maksimal dari sihir pemantauan jarak jauh yang digunakan penyihir.
Pemandangan tersebut yang ditunjukkan oleh Golem cukup sulit untuk dijelaskan—itu adalah seorang pria besar setengah telanjang dan terlihat agak bodoh, berderap melewati hutan.
Darnic-lah yang pertama kali berbicara.
“Para prajurit Yggdmillennia—menurut Caster, Servant ini telah mendesak melewati hutan sepanjang hari tanpa henti, langsung mengarah ke istana ini.”
Yang lain terkejut. Mereka berada dalam peperangan, tentu saja, jadi sudah jelas bahwa mereka akan diserang oleh seorang Servant—tapi seharusnya ada beberapa serangan sekaligus, beberapa menyergap dan yang lainnya menyerang dari garis depan. Dan beberapa, seperti Lancer Merah, akan melakukan tugas lainnya juga.
Tapi tidak terlihat ada bawahan apapun di sekitar Servant ini—yang berarti dia maju ke benteng seorang diri. Itu adalah sebuah tindakan yang jelas-jelas bodoh—tapi ada satu class Servant yang akan dengan tenangnya melakukan hal itu.
“Menurut penilainku, itu ada Berserker Merah. Kemungkinan besar, dia memiliki tingkatan tinggi dalam Mad Enhancement—mengamuk dalam keinginannya menghadapi musuh.
Berserker yang dipanggil itu akan memiliki variasi tingkatan dari Mad Enhancement berdasarkan anekdot dari kehidupan lampau mereka. Mereka yang dengan tingkatan rendah tidak akan menerima dorongan besar pada parameternya, tapi dapat berbicara dan berkomunikasi dengan yang lainnya sampai tingkatan tertentu. Mereka yang dengan tingkatan tinggi dapat mengharapkan peningkatan besar dalam parameternya, tapi akan menjadi mustahil bagi mereka untuk bahkan mengikuti perintah, apalagi bertukar pikiran.
“Apa yang akan kita lakukan, Kakek?”
“Kita tidak akan membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja, tentunya. Mengirim tiga Servant seharusnya cukup. Tapi, hal ini menciptakan sebuah kesempatan yang bagus—kalau semuanya berjalan dengan baik, kita mungkin dapat membuat sebuah pion dari Berserker Merah ini.”
Dengan pernyataan Darnic ini, sebuah gelombang bisikan menyapu aula. Lancer menunggu sampai keributan tersebut menghilang sebelum bertanya dengan tenang.
“Biarkan kami mendengar ringkasan rencanamu ini. Karena itulah kau telah mengumpulkan semua Servant di sini, ya ‘kan?”
“Ya, tuanku.”
Di bawah arahan Darnic, cara untuk menangkap Berserker Merah dibentuk. Dikatakan bahwa Berserker bergerak cepat pada jalur terpendek yang bisa dia capai, tapi dengan kecepatannya yang relatif lambat, hal itu masih akan terjadi sekitar satu atau dua hari sebelum kedatangannya.
Kemenangan sudah jelas—masalahnya adalah bagaimana caranya untuk mendapatkan sasaran yang ditangkap. Apakah enam Servant cukup untuk menahan pria semacam itu?
* * *


Tiba di Trifas pada saat fajar, Ruler pertama-tama mencoba untuk menemukan tempat menginap, tapi dia menghadapi kesulitan yang tak terduga.
Seperti yang pak tua itu katakan; Trifas tidak memiliki atraksi turis seperti apapun. Hanya ada tiga hotel, dan semuanya penuh.
“Ini adalah yang pertama kalinya bagi kami juga… Saya benar-benar minta maaf.”
Berbalik dari penjaga hotel yang meminta maaf, Ruler melirik pada pria dan wanita yang bercakap-cakap di lobi. Dari reaksi tipis prana, itu kelihatannya mereka adalah penyihir—anggota dari Yggdmillennia, kemungkinan besarnya. Mereka semua mungkin tinggal di hotel-hotel di Trifas.
“Tidak apa-apa kalau itu masalahnya. Apakah kau ada ide di mana lagi aku bisa menginap?”
“Mungkin anda bisa mencoba di gereja?”
Ya—ada gereja. Ruler merasa cukup malu karena dia tidak memikirkan hal tersebut sejak awal. Semua pengetahuan modern ini pasti telah membuatnya bingung. Gereja seharusnya adalah tempat pertama yang dia kunjungi.
Setelah menanyakan arahnya pada resepsionis , dia mulai berjalan ke gereja. Mungkin dia kebetulan terdengar saat di hotel; dia dapat mendeteksi beberapa orang lainnya membuntutinya.
“Mereka seharusnya lebih penuh perhatian… Aku adalah seorang Servant, bukan seorang penyihir…”
Ini kemungkinan dikarenakan pakaian kasual yang dia sedang kenakan. Dan, sayangnya, wujud spiritual yang para Servant harusnya umumnya dapat miliki adalah hal yang mustahil baginya, karena dia memasuki inangnya.
Bagaimanapun, mereka tahu bahwa dia akan tingal di gereja. Dan, demi inangnya, dia  akan lebih suka tidak tidur di udara terbuka. Tak memiliki pilihan lain, Ruler menuju ke gereja. Dia mengetuk pintu sebuah gereja kecil dari kayu, meminta untuk tinggal di sini selama beberapa hari, dan suster tersebut setuju dengan senang hati.
“Aku minta maaf, tapi kami hanya memiliki loteng yang tersisa. Apa itu tidak masalah?”
Dia tidak berada pada posisi di mana dia dapat menuntut kemewahan—dan dia tidak begitu memedulikannya sejak awal.
“Tempat apapun di mana aku dapat berbaring sudah cukup. Terima kasih banyak.”
Alma Petresia adalah nama suster tersebut. Wanita lembut ini benar-benar cocok sebagai seseorang yang dibesarkan di tempat yang indah ini—seorang wanita yang memerlukan tidak lebih daripada cinta dari Tuhan.
“Silakan, lewat sini.”
Alma menawarkan untuk menunjukkan jalannya, dan Ruler mengikuti dia ke lantai dua dan menaiki tangga yang menuju ke loteng.
“Apakah kau seorang turis?”
“Tidak, aku di sini untuk mempelajari sejarah Romania abad pertengahan.”
“Kalau begitu, Sighisoara mungkin akan lebih cocok dengan yang kau butuhkan. Ada cukup banyak bangunan dari Abad Pertengahan yang masih berdiri di sini, tapi aku tidak yakin semuanya memiliki nilai historis yang cukup banyak.”
“Orang lain sudah menyelidiki Sighisoara.”
“Oh, aku mengerti. Ya, kurasa belum banyak pengunjung yang pergi ke Trifas.”
Pada akhir tangga yang berderit, mereka mencapai loteng. Ruangan tersebut jarang digunakan menurut suster itu, tapi tidak ada setitik debu atau pun tanah ditemukan pada tempat tidur dan lampu. Ruangan itu sepertinya telah dibersihkan secara rutin.
“Aku dapat menyiapkan makanan juga, kalau kau mau.”
“Oh, tidak—pola makanku tidak beraturan. Aku sebaiknya tidak merepotkanmu.”
Selain tidak dapat mengambil wujud spiritual, gadis tersebut juga harus makan. Dia tidak akan mati karena kekurangan makanan seperti manusia biasa umumnya—tapi kondisi fisik gadis itu akan memburuk karena kelaparan. Kenyataannya, karena dia tidak makan apapun untuk sementara ini, perutnya mulasi terasa perih.
Sebenarnya, dia merasa sangat bersyukur atas saran Alma, karena dia akan menjadi ceroboh untuk meminta hal semacam itu—diberikan kemungkinan bahwa dia akan menyelinap keluar saat malam hari.
Tidak apa-apa. Kau hanya perlu menghangatkannya lagi.”
Menghangatkannya…?”
Ruler memiringkan kepalanya sedikit. Suster tersebut melihatnya dengan aneh.
Benar… dengan microwave?”
“Oh…ya. Microwave.”
Ya, tentu saja—tidak perlu untuk menyalakan api hanya untuk menghangatkan makanan.
“Sekalipun aku akan sangat menikmati berbagi makananku dengan orang lain.”
Setelah mempertimbangkannya dengan cepat, Ruler memutuskan untuk menerima tawarannya. Kalau suster tersebut memanggilnya dan dia menanggapi, mereka akan makan bersama; jika tidak, maka dia akan menyimpan bagiannya di dalam lemari es. Itu adalah perjanjian yang mereka buat. Itu tidak akan terlalu merepotkan bagi mereka berdua.
“Baiklah, kalau begitu…oh, aku lupa satu hal yang sangat penting. Bolehkah aku tahu siapa namamu?”
“Ah, ya. Silakan, panggil namaku Jeanne.”
Dia siap memberikan nama aslinya. Ruler tidak terlalu memberikan penekanan pada kerahasiaannya. Dia tidak keberatan secara pribadi, dan hal tersebut sulit untuk mewakili kelemahan dengan jelas, seperti yang terjadi pada Saber Hitam.
“Jeanne… itu adalah sebuah nama yang indah.”
“Terima kasih. Sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan. Jika ada waktu sebelum jam makan kita… bolehkah aku masuk ke kapel untuk berdoa?”
“Ya, tentu saja—karena itulah tempat itu ada.”
Ruler menyimpan barang-barangnya di loteng. Setelah itu, dia turun, berlutut di depan altar, melipat kedua tangannya, menundukkan kepalanya sedikit, dan menutup matanya.
Itu tidak terasa berbeda dari ketika dia masih hidup. Begitu dia mulai berdoa, dia menjadi terpisah dari dunia—terhapus dari masa lalu, masa depan, dan kenyataan itu sendiri. Dia berada di situ bukan untuk alasan tertentu, tapi hanya untuk mempersembahkan doanya pada Tuhan. Dengan melakukan hal itu, jalan yang harus dia ambil akan diperbaiki.
Baginya, setiap detik doanya itu sama pentingnya dengan setiap tarikan napasnya; sehari tidak akan berlalu tanpa dirinya berdoa. Terlahir di keluarga jelata, Jeanne tidak pernah tahu isi dari banyak buku doa. Dia sudah berusaha keras untuk mempelajarinya, tapi sepertinya dia terlahir dengan ketidakmampuan untuk membaca atau menulis. Paling berhasil yang pernah dia lakukan adalah belajar bagaimana membuat tanda tangan. Sementara dia mengkhawatirkan hal ini, pada akhirnya, dia memutuskan bahwa dia harus lebih banyak berdoa pada Tuhan. Saat dia mengingatnya, salah satu dari rekannya yang menunggang di sisinya, Gilles, pernah tertawa dan berjanji bahwa itu jauh lebih dari cukup…
“Jeanne?”
Terlintas dalam benaknya bahwa dia telah berlutut berdoa untuk waktu yang cukup lama. Suster tersebut berkata padanya, terlihat sungkan.
“Maaf aku mengganggu.”
“Oh, tidak—aku terbiasa mengosongkan pikiranku dan lupa waktu terlepas dari diriku sendiri. Aku tidak mau membuat diriku kelaparan sampai tidak sadarkan diri.”
“Baguslah aku memanggilmu kalau begitu. Makan malam siap—ayo makan.”
“Aku mengerti. Terima kasih.”
Alma mengantarnya ke ruang makan. Terdapat satu set meja dan kursi yang terbuat dari kayu oak, cocok dengan gereja kecil.
“Apakah akan ada orang lain yang bergabung dengan kita?”
“Oh, aku hanya seorang diri di sini. Mereka belum memutuskan siapapun untuk meneruskan Bapa Luxter sejak dia meninggal lima tahun yang lalu.”
Sejak awal, Trifas adalah kota kecil dengan populasi kurang dari dua puluh ribu jiwa. Dan telah ada gereja lain yang dibangun juga. Saat ini, pengunjung kapel kecil ini adalah para lansia yang tinggal di dekat sini. Walaupun Ruler tidak percaya ada perbedaan apapun antara tempat-tempat ibadah, baik itu besar maupun kecil.
“Sekarang, akankah kita mengucapkan syukur kita?”
“Ya, mari.”
Setelah mereka selesai menyiapkan meja makan, Alma dan Ruler memposisikan diri mereka saling berseberangan satu sama lain dan membisikkan doa syukur mereka. Saat mereka selesai, rasa laparnya telah mencapai puncak. Dengan pisau dan garpu di tangan, Ruler memotong sesuap dari sarmale kukus (kubis gulung Romania) dan menyuapkannya ke mulutnya. Begitu dia melakukannya, rasa manis, asam kubis, tomat dan daging cincang yang juicy mengenai indera perasanya.
“Bagaimana?”
“Ini… enak sekali.”
Ruler hanya memberikan sebuah jawaban singkat sebelum menikmati makanannya. Dengan setiap gigitan, perutnya yang mengerut semakin melebar—dan semakin dia makan, semakin besar perutnya, membuatnya mau lagi dan lagi. Itu adalah lingkaran kejam dari peningkatan rasa lapar.
“Masih ada lagi, kalau kau mau.”
“Ya, tolong.”
Jeanne membalas dengan segera, tanpa keraguan. Menjadi putri seorang petani, dia menyombongkan diri memiliki nafsu makan yang melebihi sebuah pertandingan dengan para berandal rakus yang setingkat dan tercatat. Bumbu sederhana dari hidangan Romania juga begitu cocok dengan seleranya.
Ruler makan hingga dia kenyang, begitu senangnya sehingga dia berseri-seri pada suster yang membuatkan makanan tersebut untuknya. Setelah itu, dia meminjam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Begitu malam turun, penyihir dan para Servant akan bergerak. Saat itulah ketika pekerjaan Ruler yang sebenarnya dimulai.
* * *


Langit berwarna kelabu seperti biasanya. Menurut laporan cuaca, akan ada sedikit hujan saat malam. Shishigou Kairi dan Saber berjalan di sepanjang jalan-jalan Trifas—tapi bukan untuk bersenang-senang tentunya. Mereka sedang memantau kota untuk menentukan lokasi yang cocok dan tidak cocok untuk bertarung.
Tapi satu tempat yang cocok bukan berarti bisa digunakan. Trifas secara literal berada di bawah kekuasaan musuh, itu akan menjadi hal yang pasti karena ada anggota klan yang bersembunyi di antara orang banyak. Juga kemungkinan besar ada jebakan yang telah dipersiapkan pada lokasi yang ideal—sama halnya dengan malam sebelumnya. Dan, seperti yang diperkirakan, mereka menemukan sejumlah lahan yang dibatasi—beberapa dengan kemampuan deteksi, yang lain dengan beragam pengalihan—tersembunyi di antara tempat-tempat yang mereka periksa.
“Sial…”
“Segalanya tidak berjalan baik, Master?”
Dari atas sebuah dinding, Saber memanggil Shishigou Kairi saat dia merangkak dengan tangan dan kakinya, mencari cara untuk menghancurkan lahan yang dibatasi. Suaranya sama sekali tanpa tanda-tanda simpati.
Shishigou mendesah dan memutuskan untuk mengabaikan lokasi ini juga. Akan merepotkan hanya untuk mengamankan wilayah kecil ini.
“Apa yang lebih baik untukmu, Saber? Tanah datar atau gang?”
Hmm… tanah datar, kurasa. Aku sudah pernah mengatakan ini sebelumnya juga, tapi Noble Phantasmku yang sebenarnya adalah anti-army armament. Semakin terbuka tempatnya, semakin banyak ruang di mana aku bisa berusaha sebaik mungkin. Lahan kosong akan menjadi yang paling menguntungkan.”
“Kalau begitu, mungkin akan lebih baik kalau kita melakukan pertarungan di luar.”
“Di luar?”
“Benteng Millennia mengelilingi sebagian dari Trifas di dalam dindingnya. Di luar dindingnya adalah beragam konstruksi bangunan, jumlah yang terus meningkat selama tiga ratus tahun atau begitulah. Istananya berlokasi di ujung paling timur dari sisi utara kota. Di luar itu terdapat sebuah hutan luas dan padang rumput yang lebih jauh ke timur—sekalipun mereka berada di ujung tebing curam lainnya. Pasti sulit untuk menyusup memasuki istana dengan cara itu.”
“Tunggu mereka mendatangi kita.”
“Aku mengerti. Itu akan jauh lebih baik untukku juga—lebih baik daripada bertarung di kota yang sempit ini.”
“Ya. Trifas hanyalah sekumpulan rumah-rumah rakyat sipil yang telah berdesakkan sejak abad keenam belas—sekalipun itu tidak akan menjadi masalah saat kau bisa saja merobohkankan semuanya.”
“Apa? Tentu saja itu sebuah masalah.”
“Yah… kalau sudah begitu, semuanya—baik itu mereka teman atau musuh—ingin menang, tidak peduli apa yang diperlukan.”
Penyihir adalah mereka yang tidak terikat dengan logika manusia. Selama mereka melindungi satu aturan kerahasiaan yang mendasar, mereka bisa mengorbankan rakyat sipil sebanyak yang mereka mau.
Tentu saja, seseorang harus menjadi penengah dalam semua hal ini. Satu kematian mungkin menyebabkan sedikit lebih banyak dukacita bagi orang-orang di sekitar mereka—tapi saat satu kematian menjadi sepuluh kematian, atau seratus kematian, institusi publik akan bertindak. Dan jika situasinya mustahil untuk diungkap satu orang, Asosiasi akan bertindak. Karena itulah pertarungan dilakukan saat malam hari, dan kenapa lahan harus diberi pelindung sebelum pertempuran untuk melindungi manusia-manusia normal.
Tapi ini adalah Perang Besar Holy Grail. Apakah benar-benar ada sebuah pilihan di mana kota ini seharusnya dikorbankan pada para pahlawan mitos dan legenda tersebut, yang dipanggil kemari untuk mengamuk sesuka hati mereka? Di samping itu, setiap tongkat dan batu di Trifas adalah milik Yggdmillennia.
Saber secara tak terduga tetap tenang. Shishigou yang penasaran berbalik dan melihat bahwa dia jelas-jelas kesal.
“Aku tidak akan setuju untuk itu.”
“Setuju untuk apa?”
“Mengorbankan rakyat jelata. Kenapa penyihir tidak bisa mengerti logika sesederhana itu?”
Saber jelas-jelas meludah jijik.
“Yah, memang begitulah mereka.”
“Menjijikkan. Aku tidak akan pernah sampai serendah itu, Master.”
“Yah, yah… kita akan mencoba untuk tidak melibatkan para rakyat jelata, Yang Mulia.”
Kaki-kaki Saber, berayun-ayun maju mundur dari atas dinding, tiba-tiba berhenti.
“Apa… barusan kau memanggilku?”
“Hm? Kubilang ‘Yang Mulia’. Yah, karena kaulah yang memanggil mereka sebagai ‘rakyat jelata’. Hanya orang-orang dari golongan tinggi yang memiliki kekuasaan yang melakukan itu. Dan bukankah itu adalah harapanmu untuk menjadi seorang raja? Apa salahnya dengan memanggilmu itu sekarang kalau kau akan menjadi raja pada akhirnya?”
Wajah Saber membeku.
“Ku… kurasa tidak.”
“Jadi, bagaimanapun—keputusanmu adalah melibatkan orang-orang biasa sesedikit mungkin. Benar bukan?”
Memerlukan beberapa kali batuk sebelum Saber dapat mengembalikan lagi wajahnya yang kaku. Saat dia berdiri di atas dinding, dengan angkuh dan bangga, sang raja melihat ke bawah pada Shishigou dan menyatakan.
“Itu benar! Dan aku tidak akan menyerang mereka untuk memulihkan pranaku juga.”
“Yah, aku paham. Kita akan bekerja berdasarkan itu.”
Shishigou adalah seorang penyihir sepenuhnya. Pastinya, kedua tindakan itu telah tergabung dalam strateginya, sebagai tindakan berjaga-jaga. Akan tetapi, jika potongan terpenting dari tindakan yang dikatakan tersebut—Servant itu sendiri—menolak untuk ambil bagian di dalamnya, maka mau bagaimana lagi. Semuanya berjalan lancar dan baik kalau Servant itu sendiri berharap untuk memulihkan prana dengan cara itu, tapi dia tidak mau, maka sebaiknya masalahnya seharusnya tidak ditekankan.
Kebijakan Shishigou adalah tidak mengharuskan Saber bertindak sesuai kemauannya. Dia membiarkan Saber bertindak sesuai kemauannya, untuknya.
Dalam Perang Holy Grail yang biasa, ada sedikit pilihan bagi Master dan Servant untuk menyerahkan hidup mereka di tangan satu sama lain; itu adalah sebuah keharusan, entah mereka berbagi ikatan atau tidak, saat mereka dikepung oleh enam pasang musuh lainnya. Untuk kali ini, walau begitu, Servant memiliki kesempatan yang sangat tinggi untuk menghindarkan kematian dari Master mereka. Dalam kasus ekstrim, seorang servant yang selamat bahkan dapat mengkhianati sekutunya sendiri bagi seorang Master tanpa Servant di pihak lain.
Apakah ini berarti bahwa Master yang tidak membangun sebuah hubungan yang saling memercayai dengan Servantnya hanya akan menerima sebuah belati di punggungnya karena tindakannya—terutama dalam kasus Saber Merah ini, yang melihat hubungan Master-Servant hanya sebagai sebuah ‘kontrak’. Jika pernah merasa bahwa ada perbedaan antara cara pandang mereka, atau bahwa aliansi tersebut tidak cocok menguntungkannya, dia kemungkinan besar akan membuang Masternya ke sisi seberang.
Itu tidak akan menjadi sebuah pengkhianatan, tapi dibuang. Itu hanya cocok untuk seseorang yang akan menjadi raja.
“Tunggu sebentar… apa kau mengolok-olokku…?”
“Sedikit berimajinasi, rajaku. Bagaimanapun, tempat ini tidak bagus. Berikutnya, kita akan…”
Mereka berdua sama-sama mengalihkan mata mereka ke langit pada suara pekikan dan kepakan sayap-sayap. Seekor merpati menjatuhkan secarik kertas di kaki mereka dan terbang pergi. Hanya sesama penerima bantuan mereka—Bapa Shirou dan Assassin—yang akan memberikan sesuatu di sepanjang jalan ini.
“Sebuah pesan, heh…”
Segera setelah dia membacanya, wajah Shishigou menjadi suram. Berita buruk, aku mengerti—pikir Saber saat dia melompat turun dari dinding dan mengintip isi pesan itu.
Berserker telah menjadi liar dan bergerak maju ke istana’…?”
“Hei, jangan kencang-kencang!”
Shishigou segera menghentikannya. Itu bukanlah sesuatu yang seharusnya dikatakan di tengah siang bolong. Akan tetapi, Saber menyahutinya dengan tenang.
“Apa yang bisa orang luar mungkin mengerti dari perkatan tersebut selain sebagai omong kosong? Yang lebih penting, apa yang mereka maksud dengan ‘menjadi liar’?”
“Yah… Akan kujelaskan nanti begitu kita kembali ke tempat kerja.”
“Jelaskan sekarang.
Saber yang keras kepala menolak untuk dialihkan. Secara terang-terangan, Shishigou menatapnya dan menghela napas, tapi gadis itu tidak peduli sama sekali.
“Kelihatannya, Berserker kita memiliki tingkat Mad Enhancement yang sangat unik. Mereka dapat berbicara dengannya, jadi mereka tadinya berpikir dapat mengkomunikasikan rencana, tapi…”
Shishigou merentangkan lengannya lebar-lebar.
“…dia tidak mengerti sama sekali. Berserker tidak akan mengubah pikirannya, tidak peduli apa yang mereka katakan padanya, dan dia tidak akan berhenti. Jadi, dia sekarang pergi untuk menyelesaikan tujuannya.”
“Hah… dan tujuan itu adalah?”
“Sebuah pertempuran, mungkin. Yah, apa ada yang lain? Ini gawat.”
“Kenapa itu gawat?”
Shishigou menatapnya tak percaya.
“Ini adalah sebuah perang antara tujuh melawan tujuh. Kalau dia pergi menyerang seorang diri—dia akan mati, sudah pasti. Dan kemudian ini akan menjadi tujuh melawan enam. Tanpa ada apapun yang dapat menggantikan tempat dari seorang Servant, kita pasti akan dalam kondisi yang tidak menguntungkan.”
Sebagai sebuah aturan, mereka seharusnya tidak mengirimkan kekuatan tempur mereka satu per satu. Kenyataan bahwa mereka tidak memiliki bala bantuan yang tersedia hanya memperkuat hal tersebut. Dan walalu begitu, Berserker telah mulai mengamuk. Kalau mereka tidak menemukan cara untuk menyelamatkannya, Berserker Merah kemungkinan besar akan mati.
Bagi Shishigou—Master dari fraksi Merah—ini adalah berita yang cukup mencemaskan. Di sisi lain, saat ini Servantnya tidak lagi terlihat tertarik setelah dia tahu keseluruhan ceritanya.
“Apakah itu masalah? Dia hanya sekedar seorang Berserker, dan para Berserker akan selalu menemui ajalnya dalam perang seperti ini. Ini hanya masalah waktu. Kurasa kita biarkan saja dia.”
Mengatakan ini, dia menggigit apel yang Shishigou belikan untuknya dari pasar—dan kemudian dia segera memberengut dan mengoperkannya pada Shishigou.
“Benar-benar barang sampah… kau bisa mengambilnya lagi.”
“Kau tahu kalau kau itu sama sekali tak menyenangkan, ‘kan…? Ya ampun, ini sampah.”
Shishigou mencoba segigit juga, dan memberengut.

Begitu Alma tertidur, Ruler meninggalkan loteng dan melangkah keluar. Trifas pada malam hari kembali menjadi sunyi senyap. Akan tetapi, bau mayat dan prana yang dibawa oleh udara dari dunia lain, adalah bukti bahwa di jalan-jalan ini sedang diadakan sebuah Perang Holy Grail.
Ruler mencelupkan tangan kanannya ke dalam air suci yang terkumpul di gereja, dan memercikkannya ke udara. Air tersebut bercahaya redup dan kemudian mulai dengan lancarnya menggambar sebuah peta tiga dimensi kota itu. Ini adalah salah satu dari banyak hak khusus yang diberikan pada pelaksana Perang: fungsi untuk menemukan para Servant.
Pencariannya membuahkan hasil. Hanya ada satu Servant fraksi Merah yang dipastikan berada di Trifas.
“Hmm…”
Menelengkan kepalanya, dia memperluas jangkauan deteksi. Enam Servant berkumpul di Benteng Millennia. Mereka semua adalah fraksi Hitam.
“Enam Servant Merah menghilang… dan satu Hitam juga…?”
Kelihatannya fraksi Merah menjauh dari kota dan mengawasi dari kejauhan, mengerti bahwa setiap bagain dari Trifas adalah area musuh. Kalau begitu, satu Servant tersebut mungkin adalah pengintai.
Apakah itu berarti satu Servant fraksi Hitam sedang melakukan hal yang sama? Kemungkinan besar, fraksi Merah telah menempatkan diri di dekat Sighisoara. Sebenarnya, Perang Holy Grail hanya berlangsung dalam satu kota saja. Itu bisa dianggap sebagai pelanggaran bila peserta ditempatkan di kota tetangga.
“Tapi, berdasarkan situasi, kurasa mereka tidak memiliki pilihan mengenai masalah ini.”
Lagipula, tanah ini dikendalikan oleh fraksi Hitam. Tidak seperti Fuyuki, di mana ketiga keluarga besar diperbolehkan untuk membentuk sebuah keadilan, satu klan saja adalah kekuatan mutlak di sini.
Tanpa menyebut ukuran kota yang kecil, di mana jalan-jalan pedesaan kelihatannya dilarang untuk dikembangkan lebih jauh. Lagi, tidak seperti Fuyuki, ada sedikit kekurangan tempat di mana penyihir dari luar dapat bersembunyi. Sebaliknya, Yggdmillennia hanya perlu bertahan di dalam benteng mereka yang tak tergoyahkan.
Pemilik dari Greater Grail atau bukan, situasinya hanya terlalu tidak seimbang. Setidaknya, dia sebaiknya membiarkan mereka berkemah di luar Trifas.
Jalan-jalannya tenang sampai ke tingkat yang menganggu. Biasanya, seharusnya sudah ada satu atau dua pertempuran kecil…
“…tapi selama satu sisi tidak membuat pergerakan, yang lainnya juga tidak akan melakukannya.”
Mungkin ini akan menjadi malam yang tenang.
Seakan berada dalam pertempuran terbuka melawan pikirannya, para Servant di dalam istana mulai bergerak. Mereka menuju bukan ke jalan-jalan, tapi keluar dari kota.
“Hutan…”
Dia mengubah area pencarian ke hutan yang memenuhi area timur Trifas. Dia memastikan kehadiran tiga Servant.
Kelihatannya mereka berencana untuk bertempur jauh dari jalan-jalan, seakan untuk menjaga kedamaian di kota.
“Yah, selama penduduk selamat…”
Sekalipun kehancuran lingkungan adalah masalah tersendiri. Semoga, hutan tidak akan berakhir dengan terbakar habis oleh Lancer Merah….
Begitulah yang Ruler pikirkan, saat dia meninggalkan jalan dan bergerak menuju ke hutan.

***

Fate/Apocrypha Jilid 1 Bab 3 Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.