31 Desember 2015

Samayou Shinki no Duelist Jilid 1 - Bab 3




SAMAYOU SHINKI NO DUELIST 
JILID 1 BAB 3
SKY’S OATH LEGION

 Labirin bawah tanah dengan kedalaman yang tidak diketahui - Great GateMagna Porta.
Tiga lantai pertama labirin telah diamankan oleh Gereja Lima Kudus.
Lampu batu cahaya dipasang di sepanjang dinding, dan ksatria Gereja berpatroli di koridor. Beberapa Void Beast yang ditemukan di lantai ini dapat dengan mudah dimusnahkan.
Bagi petualang berpengalaman, berjalan di lantai ini tidak lebih berbahaya daripada berjalan-jalan ringan setelah makan malam*.
[TL: Intinya gampang banget.]
"Ke-Kenapa? Seorang ... Shinki ... seharusnya ... "
Tina sudah sangat kehabisan napas, tapi sepertinya dia tidak bisa melakukan apapun selain mengeluh. Meskipun daya tahan nya sangat rendah, karena jalan yang mereka naiki tidak seterjal mendaki gunung, perjalanan itu tidak sepenuhnya menghabiskan tenaganya.
"Hanya ... menerima ... reliquia ... sebagai persembahan!"
"Yaah, tapi saat ini tidak ada yang memberimu persembahan, kan? Itulah kenapa kamu harus pergi dan mencarinya sendiri. "
Yuuki meminta izin petualang sementara dari Gereja atas nama Tina.
Pemegang izin sementara harus ditemani oleh si penjamin izin itu setiap kali memasuki labirin. Dibutuhkannya izin petualang penuh dari staf pendukung seperti pekerja konstruksi maupun personil transportasi adalah sesuatu yang sangat sulit, sehingga menyebabkan terciptanya sistem ini.
Saat mereka sampai di lantai tiga, Yuuki mengisyaratkan kalau dia sekarang bisa beristirahat, Tina bersandar di dinding batu sebelum perlahan meluncur ke bawah untuk duduk di lantai.
"Se-sedikit ... lagi ..."
"Di sini saja tidak apa-apa. Kamu tahu, bukannya kamu sudah pernah berkeliaran di labirin? Lantai itu seharusnya jauh lebih sulit. "
"Maksudmu saat aku menyelamatkan makhluk tidak tahu diri itu? Sejujurnya aku tidak terlalu ingat;  saat itu aku merasa sangat putus asa. Aku bahkan tidak ingat sudah naik berapa lantai... "
"Dan itulah kenapa kamu perlu sedikit latihan. –Ngomong-omong, seberapa banyak yang kamu ketahui tentang labirin? "
Tina berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Di sini terdapat reliquia."
"Itu saja?"
"Un, reliquia mengandung kekuatan suci yang merupakan sumber kekuatan Tina."
"Luar biasa egois, tapi memang benar. –Tapi ada satu hal: tidak semua yang kamu temukan di sini mengandung kekuatan suci. Terus, hal-hal yang bisa dilakukan sangat bervariasi tergatung jumlah kekuatan suci yang mereka miliki. Orang biasa berbeda denganmu - kami tidak bisa begitu saja merasakan kekuatan suci, tapi dengan menilai penampilan luar dari reliquia, kami bisa membuat perkiraan tentang berapa banyak kekuatan suci yang tersimpan ".
Kota ini penuh dengan toko yang menilaiappraisal dan membeli reliquia.
Gereja dan Oath Legions, tentu saja, organisasi terbesar seperti itu, tapi terkadang, toko swasta bisa menawarkan penilaian yang lebih akurat sehingga harganya menjadi lebih tinggi bagi penjual. Untuk alasan itu, pemilik toko kecil mengandalkan kemampuan penilaian mereka untuk mendapatkan kesan baik - katalis untuk mendapatkan lebih banyak pelanggan dan bisnis.
"Beberapa jenis Void Beasts memiliki kebiasaan untuk mengumpulkan reliquia. Umumnya, semakin kuat Void Beast, semakin kuat reliquia yang suka dikumpulkannya. Demi mendapatkan reliquia itulah kenapa mereka harus mengalahkan Void Beast itu. "
Dengan demikian, mereka yang ingin cepat kaya tentu mencari rekan yang kuat untuk meminimalkan bahaya yang mereka hadapi. Akibatnya, petualang kelas atas adalah sesuatu yang sangat dicari.
"Hmm, jadi alasan Master memasuki labirin seorang diri adalah karena kamu hanyalah kelas sembilan? Tidak ada orang yang mau membentuk kelompok denganmu? "
"... Kamu benar-benar tidak bisa menahan diri, ya? Tapi ya, kamu benar. "
Hampir tidak ada siswa peringkat rendah diantara siswa peserta pelatihan lainnya. Dan tentu saja dia tidak pernah diajak untuk bergabung ke kelompok manapun.
Satu-satunya pengecualian adalah Alfred, si orang aneh.
"Aku tidak telalu mempermasalahkannya. Aku selalu mengandalkan diriku sendiri. Malahan, tujuanku adalah agar jangan sampai terlibat pertarungan dengan Void Beast. –Ngomong-omong, aku dengar Shinki tidak bisa melukai orang lain. Apa itu juga termasuk pada Void Beast? "

"Ya. Ada penghalang kuat untuk melukai orang lain yang ditanamkan dalam diri kami. Meskipun begitu, kami masih bisa mempertahankan diri dengan perisai pelindung, menahan gerakan mereka dengan kekuatan mukjizat, atau bahkan memindahkan mereka ke suatu tempat yang jauh-- "
"Dan untuk melakukan semua itu, kamu harus melahap reliquia dulu. Hmm. –Aku penasaran, apakah ada cara untuk meningkatkan kekuatanmu, tetapi sepertinya kekuatanmu tidak cocok untuk menjelajah. "
"Itu sebabnya Shinki harus bergantung pada reliqua persembahan para petualang. –Benar juga, itu mengingatkanku. Semakin kuat petualang, semakin kuat reliquia yang mereka miliki, kan? Kalau benar, berarti si Stefan yang kemarin itu pasti cukup kuat, kan? "
"Ah, maksudmu tombak itu?"
"Ya, kekuatan suci yang terkandung didalamnya sangat banyak. Aku pikir bahkan kekuatan sucinya cukup untuk memanggil Duelist ... "
"Itu adalah senjata suci Dragon Fang. Apakah Kamu tahu itu? "
"Aku tahu."
Ada suatu jenis reliquia yang dikenal sebagai Dragon Fang Gem.
Bentuknya, jumlah luar biasa kekuatan suci yang dikandung, fakta bahwa hanya terdapat dua belas jenis, atau fakta bahwa benda itu masing-masing dijaga oleh Void Beast besar dan mengerikan yang dikenal sebagai Void Dragon – itulah yang disebutkan dalam legenda. Yuuki, tentu saja, tidak lebih tahu dari orang lain bagaimana untuk mendapatkannya.
Senjata suci Dragon Fang dibuat oleh Shinki, yang menggunakan kekuatan suci ditambah dengan Dragon Fang Gem sehingga terbentuk senjata tersebut. Itu adalah senjata reliquia legendaris yang paling langka.
Keunggulan dari senjata tersebut adalah ketajaman mereka yang luar biasa, ringan, dan daya tahannya yang sangat kuat. Reliquia jenis tersebut awalnya tidak memiliki bentuk, dan bentuknya akan menyesuaikan dengan kehendak tuannya.
Mungkin bukti terbesar dari kekuatannya adalah kemampuan senjata-senjata itu yang bahkan mampu menembus perisai suciscutum.
Shinki, Duelist mereka, dan beberapa Void beast tingkat tinggi memiliki perisai pelindung tak terlihat yang dikenal sebagai perisai suciscutum. Sesuai dengan namanya, itu adalah perisai yang sangat kuat. Selain reliquia yang memiliki kekuatan suci yang sangat besar, maka takkan bisa menembus perisai suciscutum. Perisai suciscuutm dari Shinki adalah yang paling kuat, dan konon katanya hanya senjata suci Dragon Fang yang mampu menembusnya.
Senjata pribadi dari kelima Duelists adalah senjata suci Dragon Fang. Jika ada tambahan senjata suci Dragon Fang yang didapat, konon Shinki akan memberikannya pada petualang dengan kekuatan dan kemampuan yang luar biasa. Dari sudut pandang seorang petualang, pemberian senjata suci Dragon Fang adalah bukti kekuatan mutlak dan juga bukti kepercayaan dari Shinki - suatu kehormatan yang paling tinggi.
Tombak yang dipakai oleh Stefan kemungkinan hadiah dari Shinki yang Menyangga Langit.
Itu menunjukkan bahwa Shinki tersebut merasa dirinya layak untuk senjata tersebut. Dengan kata lain, bahwa orang mengerikan itu memang benar-benar terbaik dari yang terbaik.
"Itu ... mungkin sangat mahal, kan? Tombak itu? "
"Pastinya, puncak dari reliquia kelas pertama - harta yang tak ternilai harganya. Tapi takkan ada orang yang akan mau menjualnya. Kalau aku menjual semua benda yang ku miliki, semua yang ada di toko, itu bahkan takkan senilai dengan ornamen di gagang tombak itu. "
"Oh ..."
"Begitulah, berhenti bermimpi, dan bekerja keras untuk mendapatkan uang sedikit demi sedikit. Labirin memiliki tanaman obat dan benda lain yang sangat berharga. Pertama, fokus pada mempelajari jenis dan tempat tumbuh setiap tanaman. --Baiklah, sudah saatnya kita untuk segera jalan lagi. "
"Ah, tu-tunggu aku, Master!"
Tina besandar pada sebuah batu besar di sampingnya dan segera berdiri, panik mengejar Yuuki.
---
Mereka terus berjalan sampai akhirnya sampai di tangga menuju lantai keempat, akhirnya bertemu dengan sekelompok petualang bermasalah yang berjalan kembali.
"Apa ada masalah? Apa seekor Void Beast muncul atau semacamnya?" Yuuki mendekati seseorang dan bertanya.
Kecelakaan jarang terjadi di lantai ini, jadi ketika kecelakaan besar atau hal-hal aneh terjadi, petualang akan berusaha untuk menyebarkan berita itu. Itu adalah aturan tidak tertulis bagi mereka.
"Ah, bukan. Beberapa petualang bertengkar di depan tangga. Keduanya  dari Oath Legion. Jadi kami tidak bisa lewat. "
"Oh wow. Itu pasti sangat menjengkelkan. "
Yuuki mengucapkan terima kasih pada petualang yang kembali itu dan berbalik ke Tina.
"Bukan Void Beast, tapi pertarungan antar petualang."
"Kenapa petualang saling bertarung? Apa ada yang berusaha mencuri sesuatu dari orang lain? "
"Hal itu memang terkadang terjadi, tapi kali ini--"
Yuuki berpikir sejenak, dan kemudian melanjutkan.
"Bagaimana ya? Ayo kita lihat saja. Mungkin ada baiknya kamu melihat sesuatu seperti ini setidaknya sekali."
Saat mereka berjalan mendekati tangga menuju lantai keempat, mereka mendengar suara dari keributan yang sedang berlangsung.
Seperti yang mereka dengar, ada dua kelompok yang saling menatap satu sama lain, dan di ambang saling menyerang.
Karena disini adalah bagian dari lantai pemulaan, ada cukup banyak penonton berkumpul.
Menemukan celah di kerumunan penonton, Tina memaksa maju ke depan untuk mencari sudut pandang yang lebih baik-- Tiba-tiba, dia mengerutkan keningnya.
"Bukannya mereka ... orang-orang yang kemarin?"
"Kelihatannya begitu."
Pihak pertama yang terlibat adalah Sky Oath Legion, atau tepatnya, kelompok yang mengunjungi toko Yuuki sehari sebelumnya.
Stefan, pemimpin kelompok; Jahar, dengan pedang yang sangat besar; Bertolt, menatap ganas seperti biasanya; dan dua orang cleric.
"Kelompok yang satunya kelihatannya dari Star Oath Legion?"
Dengan kata lain, mereka adalah bawahan langsung dari "Shinki yang Menyebarkan Bintang," itu yang Yuuki pikir, berdasarkan lambang yang terpampang di baju jirah mereka. Tiga orang berdiri di depan, dengan dua orang di belakang. Susunan kelompok mereka sama dengan Stefan.
"Berbeda dengan petualang lepas, antar Oath Legions sangat bermusuhan satu sama lain. Dalam labirin, mereka memiliki wilayah kekuasaan masing-masing. Kebanyakan, anggota Legion akan berusaha agar tidak memasuki wilayah Legion lain, dan selalu berusaha untuk bersikap baik saat berada di wilayah legion lain. Meskipun begitu, bagaimanapun juga, konflik kecil selalu terjadi di perbatasan wilayah; hal ini memang sesuatu yang sering terjadi. "
"Bodoh sekali..."
"Menurutku juga begitu, tapi konflik seperti itu tak ada habisnya. Mungkin itu karma bagi manusia. –Bagaimanapun juga, daerah ini seharusnya berada di bawah kekuasaan Sky Oath Legion - dengan kata lain, daerah kekuasaan Stefan. Pasti anggota Sky Legion yang memulai masalah ini. "
Meskipun Gereja mengajarkan kerjasama antar Legion, untuk suatu alasan malah hal itu yang menyebabkan terjadinya perselisihan di antara mereka. Itu adalah fakta sederhana kalau mereka bersaing sengit dalam mengumpulkan reliquia.
Gereja sangat memahami pergerakan setiap Legion. Dengan kata lain, dimusnahkannya kelompok Bertolt , insiden dengan hanya satu orang yang kembali – walaupun hanya berkat keberuntungan, tentu saja diketahui semua legion lain. Bahkan Yuuki, seorang pedagang pinggiran juga mengetahui berita itu, oleh sebab itu, apa yang sekarang sedang terjadi bukanlah sesuatu yang aneh.
Itu bukan karena mereka benar-benar ingin mencari keributan; mereka hanya memanfaatkan kesempatan ini untuk mengejek pihak lain - untuk mempermalukan mereka. Adanya orang-orang yang termotivasi oleh hal-hal seperti itu tidak sulit untuk dibayangkan.
Alasan konflik kecil sering terjadi  adalah karena setiap pihak yang terlibat tidak ingin membiarkan hal-hal itu berkembang terlalu jauh; mereka tahu kapan harus berhenti ... tapi sekarang—
"Ngomong apa lu, cuk?!" seseorang dari Star Oath Legion berteriak.
"Aku berkata apa adanya. Cecunguk macam kalian mencoba menghalangiku, kalian terlalu melebih-lebihkan kemampuan kalian. Minggir. "Stefan memerintah dengan acuh.
Dia tidak berusaha untuk menutupi hinaannya.
"—Coba saja kalau bisa. Tapi biar kuperingatkan, kamu mungkin akan kehilangan nyawamu, dasar bocah tolol."
Bibirnya tersenyum mengejek, anggota lain mengacungkan pedangnya.
Yuuki menyadari kalau dia mengenal orang-orang dari Star Oath Legion. Dia adalah si raksasa dan rekan legionnya yang Yuuki temui saat dia membawa siswa kelas pemula untuk mengunjungi labirin.
Teriakan dan sorak-sorai dari kerumunan penonton menjadi pertanda, lalu dia sedikit mengerutkan dahinya.
Teriakan "Mati lu, bajingan!" Dan "Akan kubunuh kau!" sudah sangat umum dalam keadaan seperti ini, walaupun tentu saja kenyataan tak pernah berjalan samapi sejauh  itu. Jika setiap sengketa berubah menjadi pembunuhan, takkan ada yang tersisa. Abaikan membunuh, tidak ada orang yang ingin terbunuh karena alasan sepele.
Mereka tahu kapan harus berhenti, jadi permasalahan seperti itu umumnya tetap berjalan dalam batasan. Kedua pihak akan saling memancing amarah pihak lain, lalu memastikan untuk tercapainya kompromi sebelum hal itu berkembang terlalu jauh. Itu juga adalah aturan tidak tertulis.
Walaupun begitu, ada saat dimana salah satu pihak tidak tahu kapan harus berhenti.
"Shinki menekankan kerjasama antara Legion, jadi bukankah itu berarti kita ini teman? Kenapa kita harus bermusuhan seperti ini?" tanya Stefan dengan sopan.
"Teman? Peduli setan, tolol. Satu-satunya caramu untuk lewat adalah dengan melangkahi mayatku!"
Mungkin berusaha untuk mengintimidasi Stefan, Jumbo maju sambil mengangkat pedangnya.
Dia tidak sempat untuk mengayunkan senjatanya, karena pada detik berikutnya, dia sudah berubah menjadi dua potongan daging tak bernyawa.
"Lambat."
Jahar segera melesat dan melepaskan serangan yang sangat cepat dengan pedang besar yang biasanya diletakkan di bahunya.
"-!"
Yuuki mendengar Tina yang berdiri di sampingnya, menghirup nafas tajam.
Orang-orang dari Star Oath Legion memilih lawan yang salah.
"Menghunuskan senjata berarti kamu juga sudah bersiap untuk mati!" Jahar tertawa.
Beberapa penonton mengerutkan keningnya dan pergi, tapi sebagian besar tetap disana, meneriakkan sorak-sorai gembira. "Kematian” bukanlah sesuatu yang asing bagi seorang petualang. Terlebih, apa yang baru saja mereka saksikan adalah pembantaian sepihak dengan perbedaan kekuatan yang sangat besar, tapi takkan berdampak apapun pada mereka - dengan kata lain, hiburan.
Dua orang petarung garis depan yang tersisa  dari Star Legion terkejut dan ketakutan, tapi akhirnya mereka menarik pedang mereka juga. Keberanian untuk bertahan dalam menghadapi ancaman antara hidup dan mati  adalah ciri khas seorang petualang, terlebih bagi mereka, itu adalah bukti kebanggaan mereka sebagai anggota legion.
Tapi, untuk saat  ini, itu hanyalah aksi bunuh diri mereka. Perbedaan kekuatan antara mereka bukanlah salah satu yang bisa diatasi dengan keberanian semata.
Tidak memakan waktu lama sebelum kedua orang itu juga terbunuh. Yang pertama dipotong sekalian dengan baju jirahnya oleh Jahar. Yang satunya, lengannya dipotong oleh scimitar milik Bertolt. Memohon belas kasihan, kepalanya dibelah dua dengan tebasan yang dimulai di mulut dan memotong melalui tengkoraknya.
Kedua cleric yang masih hidup dari Star Legion roboh ke tanah, membeku karena ketakutan.
"Hei Stefan, ayo kita bunuh mereka kedua itu juga. Tidak apa-apa, kan? "
Stefan menghela napas, tanpa kata mengungkapkan pemahaman dan persetujuannya. Bertolt mengangkat senjatanya yang masih berlumur darah, dengan bibirnya melengkung menyeringai sadis. Jika dibandingkan dengan Jahar yang bertarung dengan ganasnya, Bertolt memberi kesan jauh lebih kejam.
“Baiklah. Siapa yang mau duluan?”
Kedua Cleric yang dengan panik berusaha lari untuk menyelamatkan diri mereka,berlari sekuat tenaga untuk menaiki tangga. Dengan jarak itu, mereka takkan sempat menggunakan kekuatan mereka. Pertarungan jarak pendek jelas bukan pilihan. Sayangnya, bahkan jika tubuh mereka ingin kabur, ketakutan menguasai tubuh mereka.
Melihat sikap menyedihkan mereka, Bertolt merasa sangat senang, tertawa sambil mengangkat senjatanya—
Berhenti! Dasar bodoh!”
“...Hah?”
Tiba-tiba, sosok mungil berlari mendekat, menempatkan dirinya diantara scimitar dan calon korbannya.
“...Si idiot itu!”
Dengan segenap kekuatannya, Yuuki menggapai leher Tina dan menariknya. Di saat yang sama, dia menendang pedang yang terayun dengan kakinya, menghempaskan pedang itu dari jalurnya. Scimitar milik Bertolt melewati rambut Tina saat terayun ke bawah.
“Kamu TIDAK boleh menyerang orang yang tidak ingin bertarung!” Tina berteriak sambil menggeliat di cengkraman Yuuki. “Jika kamu seorang petualang, bersainglah layaknya seorang petualang – dengan hasil! Apa kamu tidak punya harga diri?!”
“Ngomong apaan lu, dasar bocah idiot. ... tunggu, rasanya aku pernah melihatmu di suatu tempat?”
“Aku bukan bocah!”
Tina melepaskan diri dari cengkraman Yuuki dan sambil membusungkan dadanya dia menatap langsung tatapan bertolt.
“...”
Bertolt terkedip dua kali, tiga kali--- dia tertawa terbahak-bahak.
“HAHAHAHAHAHA... Aku ingat. Si bocah dari toko amburadul itu. Kalau gak salah, kau itu, apa itu, hilang ingatan?”
“Aku tidak—“
Bertolt mengabaikan terikan Tina dan berjalan menuju Yuuki, bertolt mencengkeramnya denga telapak tangannya.
“Apa kau ingat apa yang kubilang kemarin, Tuan Toko Sampah? Bukankah sudah kuperingatkan untuk latih dia lebih baik?”
Saat Yuuki akan menjawab, dia dipukul tepat di wajahnya, mulutnya dipenuhi dengan rasa besi.
“Dan bukanya kau barusan menendang pedangku?”
“Itu, yaah, aku hanya berusaha melindungi anak ini dan secara kebetulan menendangnya...”
“Aku tahu ITU! Walaupun pengin mana mungkin kau bisa ngelakuin hal kaya gitu! Tapi ingat baik-baik--- aku gak peduli gimana hal itu terjadi. Tapi kenyataan kalau kaki busukmu menyentuh senjataku tak bisa ku abaikan!”
Tinjunya berayun sekali lagi.
“Yang benar saja, emangnya kau pikir siapa yang menajaga kota ini tetap ada?! Cepat ajari bocah itu!”
Emosinya sudah menghilang, Bertolt melepaskan Yuuki. Lalu meludah, dia berbalik dan pergi.
“M-Master—“
Tina menatap Yuuki dengan wajah yang hampir manangis sebelum berbalik menatap Stefan dengan tajam.
“Bukannya kamu pemimpin kelompok itu?! Kenapa kamu membiarkan hal kejam seperti itu?!”
Sebenarnya dia tidak mengharapkan jawaban, tapi Stefan menjawab dengan ekspresi datarnya.
“Kekuatan adalah segalanya. –Itulah hukum di dalam labirin.”
Setelah itu, tidak tertarik lagi, dia berbalik dan pergi. Jahar menatap tertarik pada Tina sebelum berbalik dan mengikuti Stefan. Kedua cleric berjalan mengikutinya dan Bertolt di paling belakang. Dia menendang kedua mayat yang di bunuhnya sebelum meghilang turun ke lantai berikutnya.
Cleric dari Star Legion yang bertahan hidup memanfaatkan keributan tadi untuk melarikan diri.
Saat kerumunan penonton menyebar, labirin kembali ke keadaan yang semestinya. Selain darah dan mayat yang berserakan di lantai.
“... Apa kamu sudah merasa tenang?”
Saat Yuuki menanyakan hal itu, Tina mengangkat wajahnya, wajahnya terlihat marah.
“M-Mana mungkin aku bisa tenang?! Kenapa kamu tidak mengatakan apapun? S-Si sombong, tak tahu diri itu—“
Dia bahkan tak bisa menyelesaikan kalimatnya karena amarahnya.
“Karena berkat kerja keras mereka mengumpulkan reliquia bagi para shinki sehingga kota kita tetap ada. Jika berhadapan dengan kedikdayaan Oath Legion, takkan ada yang berani menentang.”
“Dan kamu tidak memperdulikan hinaan mereka padamu, Master?”
“Pebisnis hanya bertindak setelah minimbang untung ruginya. Berhadapan dengan mereka tak memberimu keuntungan sepeserpun.”
“Tetap saja!”
Tina menghentakkan kaki mungilnya ke tanah berulang kali.
“Bahkan jika kamu tidak ingin melakukan apapun, kamu tidak perlu menghentikan Tina! Kenapa kamu menghentikanku?! Itu bukan seperti si Bertolt itu bisa melukaiku!”
Tidak peduli seberapa kuat seorang petualang, dia takkan bisa melukai Tina tanpa senjata suci Dragon Fang. Bahkan jika dia menyerang dengan sekuat tenaga, hasil yang didapat hanyalah mati rasa di jemarinya.
“Tapi Stefan memilikinya, senjata suci Dragon fang.”
Bukan seperti si Stefan akan begitu saja menusuk gadis kecil di depan keramaian.
“Bagaimanapun juga, jika kamu diserang dan tidak terluka sedikitpun, itu pasti akan sangat aneh, kan? Manusia takut pada hal yang tidak mereka ketahui. Seperti kemarin, saat kamu menolong Bertolt, dia pikir kamu adakah Void Beast. Apa kamu ingin hal itu terulang lagi?”
“...”
“Si bodoh yang menghunuskan pedangnya duluan mati karena hal itu. Tapi untuk terus membunuh setelah itu memang agak berlebihan. Jika tidak ada yang melakukan sesuatu, mungkin aku akan berusaha melakukan sesuatu untuk menarik perhatian mereka agar mereka beerhenti. –Intinya, kamu menyelamatkan dua orang hari ini. Anggap saja seperti itu.”
“...Tapi...” Tina menolak, berlinang air mata, tidak tahu bagaimana harus meluapkan perasaannya. “Tapi manusia membunuh orang lain, dan kerumunan itu bersorak gembira menyaksikan hal itu! Di hadapan Tina! Tina, seorang shinki yang bertugas untuk melindungi manusia! –Apa  para petualang memang seperti itu? Bagaimana mungkin aku bisa menerimanya? Apa aku juga harus menerima semua itu?”
“...”
Yuuki tidak bisa mengatakan apapun. Pertanyaan itu bukanlah sesuatu yang bisa dia jawab.
Beberapa waktu berselang sebelum akhirnyaTina menghela nafas.
“...maafkan aku. Kamu melindungiku, Master. –Apa tadi itu sakit?”
Menjulurkan tangan mungilnya, Tina membersihkan dengan lembut darah di bibir Yuuki.
“Tidak usah khawatir. Ini tidak ada apa-apanya.”
“Jika aku punya kekuatan suci, aku bisa dengan mudah menyembuhkannya. Tina benar-benar tidak berdaya.”
Senyum tina dipenuhi dengan kesedihan.
“...Untuk melakukan hal seperti itu, apakah tidak ada hukuman?”
“Memang seperti itulah labirin.”
Saling membunuh adalah sesutu yang sangat dilarang di dalam kota. Ksatria gereja akan segera menangkap pelaku dan segera menyelidiki masalah itu.
Tapi, pada kenyataannya hukum yang sebagian besar dipakai di permukaan(kota) tidak berlaku di bawah tanah(labirin). Sudah menjadi kebiasaan kalau apapun yang terjadi di dalam labirin akan di anggap sebagai kecelakaan. Bahkan jika terjadi pembunuhan, akan  sangat sulit bagi ksatria gereja untuk turun dan mencari pelakunya. Meminta mereka untuk menyelidiki kematian yang tak terhitung jumlahnya di dalam labirin bahkan lebih tidak masuk akal lagi.
“Kekuatan adalah segalanya. –Seperti itulah labirin.”
Perkataan Stefan sangat tepat. Setidaknya, perkataan itu sesuai dengan kenyataan di lapangan.
“Bagaimanapun juga, karena aku tidak terlalu suka dengan saling membunuh seperti ini, jadi aku hanya berkeliaran kesana kemari sambil mencari bahan uang.”
Yuuki tertawa menghina dirinya sendiri.
Walaupun kenyataan takkan selalu berjalan sepeti itu—
“...Master? Ada apa?”
Mendengar suara Tina, dia kembali tersadar.
“Ah... tidak ada apa-apa. Ayo pergi? Tidak ada gunanya tetap berada di sini. Disini termasuk lantai permulaan jadi ksatria gereja pasti akan segera datang untuk mengurus mayat-mayat itu.”
Mayat yang terbunuh di kedalaman labirin takkan seberuntung ini, dan akan menjadi makanan bagi Void Beast.
Baik Orison manusia maupun mukjizat dari shinki takkan bisa menghidupkan kembali yang telah mati. Itu juga, salah satu kenyataan dunia ini.
“Umm... di saat seperti ini, bagaimana orang-orang mengucapkan belasungkawanya?”
“Yaah, aku hanya tahu hal yang sederhana. Ayo kita coba.”
Yuuki menghadap ketiga mayat petualang, dan menggambar pentagram dan berdoa sejenak.
“Wahai Tuhan di surga ,Tuhan pencipta segala. Hamba mohon terimalah pengikut pemberani-Mu ini di sisi-Mu. Semoga nama mereka tertulis di buku takdir dan dapat berisitirahat dengan tenang selamanya—“

※※※
“...Kejam sekali.”
Franka mengucapkan rasa simpatinya.
Dia sedang  memperhatikan cerita Tina, yang sedang menceritakan kejadian yang terjadi kemarin, saat mereka terlibat dalam sengketa antara Oath Legion.
“Franka... a-apa kamu, umm, apa kamu juga menyukai perkelahian seperti itu ?”
“Tentu saja tidak.
Aku yakin Yuuki sudah memberitahumu, kan? Mereka yang saling bermusuhan hanyalah anggota Oath Legion. Kami hanyalah petualang lepas, jadi kami hanya  mengurus pekerjaan kecil. Tapi kamu harus tahu, bahkan jika seorang petualang tidak pernah bertarung melawan petualang lain, ancaman kematian tetap ada. Memang tempat seperti itulah labirin.”
Disergap oleh Void Beast, jebakan tak terduga, kecelakan yang tak disengaja, kematian bisa disebabkan oleh banyak hal.
Tapi, di sisi lain, potensi hasilnya sangat besar. Contohnya saja gadis muda sepert dirinya mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. –itu yang Franka pikir.
Kedua gadis itu berbincang sambil menelusuri jalan raya. Tujuan mereka adalah bagian atas kota, atau tepatnya alun-alun besar dekat katedral.
Karena Tina sebelumnya menyatakan keinginannya untuk menonton pertunjukan wayang, setelah berbincang mereka memutuskan untuk menontonnya bersama. Sepertinya sekarang sedang diadakan pertunjukan wayang di alun-alun, jadi mereka berdua dengan senang hati berjalan ke sana.
Karena jalannya menuju ke arah gunung, jalanannya agak menanjak, walaupun tidak terlalu tajam.
“Ayahku dulu juga anggota Oath Legion. Tapi, dia terlibat kecelakan saat menjelajah... Sudah tiga tahun sejak kejadian itu.”
“Begitu...” Tina menjawabnya dengan ekspresi sedih.
Meskipun sikapnya terlihat sedikit aneh, Franka tetap merasa kalau dia anak yang baik.
“Ah, maaf. Tolong jangan terlalu dipikirkan. Sekarang hal itu hanyalah kenangan masa lalu bagiku. Tapi, saat itu, aku tenggelam dalam rasa sedih yang mendalam. –Itulah saat Yuuki menyelamatkanku.”
“Master menyelamatkanmu?”
“Ibuku meninggal saat aku masih sangat kecil, dan semua saudaraku sudah pergi merantau... saat itu, saat aku ditinggal sorang diri, aku terlibat dalam suatu kejadian yang buruk.”
Itu bukanlah sesuatu yang perlu dia rahasiakan, tidak apa-apa untuk memberitahukannya pada Tina. Setelah mencapai keputusan itu, Franka melanjutkan ceritanya.
“Ayahku meminjam uang.”
Ayah Franka suka membantu orang lain, dan bahkan sering membantu bawahannya, sampai-sampai menanggung hutang mereka. Dia adalah orang yang akan dengan mudahnya menghamburkan uangnya demi orang lain. Bukan karena dia seenaknya meminjamkan uang tanpa perhitungan, tapi karena kematiannya yang mendadak, dia tidak mampu melunasi semua hutang-hutangnya.
Beberapa saat setelah ayahnya meninggal, orang yang meminjamkan uang datang ke rumahnya. Saat Franka melihat jumlah uang yang dipinjam ayahnya, dia hampir pingsan.
“...walaupun dia berkata kalau semua itu karena bunga, aku sama sekali tidak tahu kalau semua perhitungannya benar atau tidak. Bahkan jika mereka memang berniat untuk menipuku, aku tidak punya bukti apapun. Terlebih, saat itu aku sama sekali tidak tahu menahu tentang uang. Hari demi hari mereka terus menanyakan tentang uangnya padaku... terlebih, aku sama sekali tidak punya uang. Apapun benda di rumah yang bisa dijual, semuanya kujual.”
Di rumahnya juga terdapat beberapa reliquia peninggalan ayahnya. Sepertinya dia mempersiapkannya untuk menunjang kebutuhan Franka, untuk digunakan saat sesuatu yang tak di duga terjadi. Si penghutang memaksanya untuk menjual semua reliquia itu untuk melunasi hutangnya. Karena semua reliquia itu secara teknis masih milik Franka, tentu saja Franka juga ikut saat penilaian reliquia. Masalahnya adalah, si penjaga toko mengatakan kalau harganya sangat murah.
“Aku pikir hal itu sangat tidak mungkin. Ayahku adalah seorang petualang yang hebat, tidak mungkin dia melakukan kesalahan sepele seperti itu. Tapi aku tidak tahu apapun tentang reliquia, jadi aku tidak bisa mengatakan apapun.”
Bahkan jika dia menjual semua reliquia itu, hutangnya masih tetap tersisa. Hal yang tersisa untuk dijual hanyalah rumahnya... dan diri Fanka. Itulah yang mereka(debtcollector) katakan pada Franka.
Jual tubuhmu”. Itu adalah sesuatu yang tidak diketahui oleh franka, tapi dia kurang lebih memahami apa yang mereka maksud. Kakinya lemas kehilangan tenaga.
Dan saat itu—
“Oh, wow, reliquia yang lumayan bagus.”
Sebuah suara tiba-tiba terdengar.
Menolehkan kepalanya, dia melihat seorang anak berdiri di pintu toko. Dia hanya terlihat seperti anak dua-tiga tahun lebih tua darinya, orang asing.
“Hampir semua itu kurang lebih reliquia kelas dua, kan? Berapa banyak mereka menawarnya? Terutama gauntletnya pasti sangat mahal. Untuk seorang petarungwarrior, benda itu layak dihargai sekitar 2000, tidak 3000 denar.”
“Hey, siapa kau?!” si penilai dari toko berteriak, dan segera mengambil reliquia milik ayah Franka.
Sepertinya dia berusaha menghalangi pandangan anak itu.
“Ah, aku bekerja di toko sebelah sana. Aku hanya kebetulan lewat dan melihat kalian sedang melakukan semacam penilaian. Aku juga masih dalam masa pelatihan, dan aku berpikir untuk mampir kemari siapa tahu ada sesuatu yang bisa kubeli, hahaha.”
Si anak tertawa ringan. Franka merasa sesuatu yang janggal dari tawanya itu.
“Kami sedang sibuk! Pergi sono, dasar bocah!”
Si penghutang, seseorang bertubuh besar, berteriak untuk menakutinya, berjalan mendekat dan mendorong anak itu dengan kuat. Dengan suara yang keras, dia terguling dan jatuh ke tanah.
--si tubuh besar itu.
“Ya ampun, itu tadi cara berguling yang luar biasa. Apa kamu baik-baik saja? –Ah tidak, keliahatanya dia pingsan.”
Terlihat jelas kalau orang itu tidak terpelesat, tapi memang benar kalau orang itu sudah pingsan.
“...Kau itu si bocah dari toko Boris, kan?” si penilai bertanya dengan tajam.
Benar. Dan aku juga mengenalmu. Ah ya, reliquia itu, coba cepat katakan berapa penawaranmu. Apakah penilaianku atau penilaianmu yang lebih akurat,bagaimana kalau kita gunakan kesempatan ini untuk mengujinya?”
“Apa dia Master?”
Ya, dia adalah Yuuki. –kelihatannya, saat kamu melakukan penilaian, sudah umum untuk meminta penilaian dari beberapa tempat sebagai perbandingan.”
Untuk memastikan agar Franka tidak melakukan hal itu, di penghutang dengan sengaja ikut serta dan membawanya ke toko itu. sejak awal, si penghutang dan si penjaga toko sudah melakukan kesepakatan.
Dan pada akhirnya, Franka membayar 60% hutangnya. Si pernghutang berjanji takkan menagih uang padanya lagi.
--itulah kesepakatan yang dicapai setelah si penghutang itu berbicara dengan Boris.
Sisa hutangnya dibayar oleh Boris. Franka memberikan reliquia milik ayahnya sebagai jaminan, dan sebagai gantinya dia mendapatkan uang untuk melunasi hutangnya.
Itulah saat dimana dia diberitahu oleh Yuuki kalau dia bisa mencari uang sebagai petualang. Dan tentu saja Yuuki sudah memasuki sekolah pelatihan petualang. Franka segera berpindah sekolah dan mulai berlatih sebagai petualang. Tidak lama kemudian Yuuki memperkenalkannya pada Alfred.
Sekarang Franka perlahan sedang berusaha untuk membeli kembali reliquia milik ayahnya. Tapi sebagian besar masih belum bisa dibelinya.
“Dan hal itu tetap terbawa sampai sekarang. Itulah kenapa selamanya aku akan berhutang budi pada Yuuki-san dan mendiang Boris-san.”
“Jadi begitu...”
Tina sejak tadi memperhatikan cerita Franka, dan sekarang dia mengangguk paham.
“Jadi itu alasan kenapa Franka menyukai Master.”
“A-Apa? K-k-kenapa, kenapa kamu...”
“Setiap kali Franka berbicara dengan atau tentang Master, kamu selalu terlihat sangat senang. Itu sesuatu yang sangat indah. Aku juga merasa senang melihatnya.
“T-Tina-chan, kamu, um... apa kamu tidak menyukai Yuuki-san?”
“Tina juga menyukai Master. Meskipun dia tidak terlalu ramah, tapi belakangan ini aku menyadari kalau dia sebenarnya cukup baik. Master benar-benar orang yang menarik.”
Franka merasa kalau penilaian Tina tentang Yuuki sangat tepat.
Meskipun begitu—
(Sepertinya ‘suka’ yang Tina maksud agak berbeda denganku, yah?)
Belakangan ini dia merasa kalau perasaan Tina masih kurang dewasa.
--Meskipun dia merasa lega karena hal itu, dia juga merasa sedikit bersalah.
Karena memang pada kenyataannya Franka merasa sedikit cemburu pada Tina yang tinggal bersama dengan Yuuki.
“...Takkan ada lowongan untuk pelayan menginap lagi, kan?”
“Hmmm? Apa kamu juga ingin menjadi pedagang Franka? Kelihatannya itu pekerjaan yang cukup keras. Master selalu menatap buku siang dan malam dan selalu berkata sesuatu tentang uang dan pajak atau semacamnya.”
“Berbagi penderitaan juga salah satu bentuk dari kebahagiaan, tahu?”
“Maaf karena sudah menghabiskan banyak waktumu,” katanya(Yuuki).
“Tidak apa-apa. Selama aku bisa selalu berada di sisimu, itu sudah lebih dari cukup bagiku,” katanya(Franka) sambil tertawa.
---Ah, sangat indah.
Terlalu indah. Lewat perbincangan sederhana itu, bibit-bibit cinta akan tumbuh. Dari berbagai impian “kehidupan bahagia kami selamanya”, hal itu termasuk dalam jajaran peringkat atas. Dia harus berusaha untuk terus mengingatnya.
Franka tetawa sendiri.
“---Umm, apakah hal itu memang sangat menyenangkan.. menjadi seorang petulang?”
“...Hmm?”
Pertanyaan tiba-tiba Tina membangunkan Franka dari mimpi indahnya.
“Oh, itu, umm. –Yaah. Aku sendiri melakukannya bukan karena aku menyukainya, jadi mungkin tidak, aku pikir tidak terlalu menyenangkan. Kenapa kamu menanyakannya?”
“Yaah, bukannya kamu terpaksa menjadi petualang karena kematian ayahmu? Apa kamu pernah mengutuk takdir, mengutuk shinki? Seharusnya ada banyak jalan untuk mencari uang, tanpa harus menginjakkan kaki ke labirin.”
“Oh, tidak, tidak. Hal ini aku sendiri yang menentukannya. Bukan cuma untuk mengumpulkan uang, tapi aku juga bisa mengikuti jejak ayahku, jadi aku tidak membencinya. Ada juga alasan lain.”
Franka tersenyum. Memang benar kalau dia tidak pernah menyesali keputusannya.
“Memasuki labirin adalah pekerjaan. Dengan kata lain, jalan hidup. Shinki-sama memberkati hidup kita, termasuk labirin—sesuatu seperti itu?”
“...Jadi tiap orang berbeda. Begitu.” Gumam Tina.
Franka merasa kalau gumam Tina berkaitan tentang pembunuhan antar anggota Oath Legion. Karena dia sendiri menyaksikan kejadian itu, dia pasti juga merasa sedih. Umumnya memang seperti itu.
(Oath Legion, kah...)
Franka merasa kesedihan yang mendalam melandanya.
Belakangan ini, setiap kali dia mendengar hal itu, di teringat kembali sesuatu yang tak ingin dia ingat, hal yang tak ingin dia pikirkan. Saat kenangan itu datang, berbagai perasaan yang tersemat di dalam dirinya akan muncul; keraguan dan kecurigaan, kemarahan dan kesedihan, dan juga berbagai perasaan dan emosi negatif lainnya.
(Tidak, tidak. hari ini tujuannya adalah untuk menonoton pertunjukan wayang bersama Tina-chan, untuk bersenang-senang.)
Saat dia meyakinkan dirinya akan hal itu dia berkata dengan riang.
“Lihat, alun-alunnya sudah terlihat.”
“Oooh... itu lho, pemandangan disini terlihat cukup berbeda dari pemandangan pada bagian pertokoan.”
“Oh, benar juga, kamu hilang ingatan. Alun-alun kota berada di dekat katedral. Di gunung terdapat kuil dimana para Shinki-sama tinggal. Kamu tahu kan kalau jumlahnya ada lima?”
“Ooo, jadi begitu... Franka, apa kamu pernah bertemu dengan Shinki?”
“Belum pernah. Jangankan bertemu shinki-sama, aku bahkan belum pernah melihat seorang duelist.”
Franka tidak bisa mempertahankan senyuman di wajahnya.
Hal itu menunjukkan seseorang yang belum pernah bertemu dengan  shinki. Dia pernah mendengar kabar kalau duelist kadang terlihat di dalam labirin, meskipun dia sendiri belum pernah melihatnya. Tepatnya lebih karena mereka hanya bisa ditemukan jauh di kedalaman labirin.
Meskipun begitu, dia selalu merasakan keberadaan mereka di dekatnya.
Entah itu perisai yang menahan laju The Devourer, iklim yang berubah, melimpahnya makanan, semua hal itu menunjukkan berkah dari kekuatan shiki. Rumor mengatakan kalau ada seseorang yang mempersembahkan langsung reliquia pada shinki di kuil mereka, dia bisa meminta mukjizat untuk diberkatkan pada dirinya sendiri.
Kehidupan shinki dan kesejahteraan masyarakat saling berkaitan erat satu sama lain.
“Oooh, sepertinya pertunjukannya masih belum di mulai!” Tina berteriak bahagia, mempercepat langakah kakinya.
Pertunjukkan takkan dimulai sebelum lonceng jam 1 berbunyi. Tidak perlu terburu-buru,” Franka memanggil Tina sambil mengejarnya.
---
“Hah—Lelahnya—“ Jahar mengeluh dengan keras saat dia keluar dari katedral. “Apa-apaan itu? Tulis ini, tulis itu, stempel ini, stempel itu, urus ini, urus itu, lagian kenapa masuk labirin saja harus ngurus kaya gituan?”
“Karena kita adalah anggota Sky Oath Legion,” Jawab Stefan.
Lantai terdalam yang pernah dicapai sejauh ini adalah lantai 62, itulah rekor pencapaian Sky Oath Legion.
Mereka baru saja menyerahkan berkas laporan pada gereja lima kudus untuk menuju area tersebut. Tujuan yang mereka katakan adalah untuk membuat peta area dan sekalian memastikan keberadaan makhluk Void Beast humanoid yang pernah di lihat oleh Bertolt. Pasukan elit Oat Legion bisa dianggap sebagai keberadaan yang sangat berharga jika berkataitan dengan kelangsungan umat manusia. Itulah kenapa, untuk menghindari kerugian, mereka harus memberitahukan pihak gereja tentang rencana pergerakan mereka. Karena gereja terus mengawasai pergerakan mereka, jika terjadi putus kontak atau adanya kelompok yang mengalami luka serius, pertolongan bisa segera dikirimkan.
Kalau kita pingin ke sana ya langung ke sana saja. Lagian orang-orang dari gereja itu bergantung pada kita, kenapa kita harus hormat pada mereka dan meminta bantuan?”
“Tugas kita kali ini sangat penting. Apa saja yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kemungkinan keberhasilan misi ini, tidak perduli seberapa menyebalkannya hal itu, tetap layak dilakukan.”
Pernyataan mereka tentang membuat peta area dan mencari Void Beast tidaklah bohong, hanya saja itu bukanlah tujuan utama perjalanan kali ini.
--Bukan, apa yang mereka cari kali ini adalah harta paling berharga yang ada di dunia ini, Snow white Dragon fang Gem(singkatnya, mutiara naga putih).
Bertolt, satu-satunya korban selamat dari kelompoknya, melaporkan keberadaan harta itu.
Stefan memasukkannya ke dalam kelompoknya, dan meminta izin untuk memburu dan mendapatkan reliquia paling berarga ini. Permintaan itu sudah di kabulkan. Untuk tujuan itu ‘Shinki yang menyangga langit’ memulihkan kembali lengan Bertolt dan menempatkannyadi kelompok Stefan.
Informasi tentang Dragon Fang Gem tentu saja sangat dirahasiakan. Oath Legion lain tidak boleh bergerak untuk mencarinya lebih dulu.
Cuma penasaran, apa kau benar-benar percaya sama Bertolt? Dragon Fang Gem itu cuma mitos, kan?”
“Dia adalah tipe orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri, kalau dia berniat untuk berbohong, ada banyak kebohongan lain yang lebih aman untuk dia katakan.”
Meskipun dia juga berada disana saat Bertolt menyatakan laporannya, orang yang memanggilnya adalah atasannya. Dia hanyalah anak buah yang mengikuti perintah.
“Begitu... Tapi, menurutku hal ini hanya menyia-nyiakan banyak waktu.”
“Kamu sendiri yang bilang ingin ikut karena kamu sedang bosan. –ayo kembali.”
Prajurit dengan pedang yang sangat besar ini belum lama sebelumnya hanyalah seorang petualang biasa. Menggunakan seni pedang yang bertentangan dengan tubuh rampingnya, dia memenangkan setiap pertarungan dan dengan segera mencapai posisi puncak dengan hanya mengandalkan kekuatannya. Sekarang dia adalah seorang petualang kelas tiga.
Tapi emosinya sangat sulit daitur dan seraing kali dia terlibat keributan. Bukannya dia bisa dengan mudah terpicu kerusuhan, tapi dia yang sengaja mudah memicu kerusuhan itu. Dia memang harus dijaga baik-baik agar tetap terkendali.
Alun-alun di siang hari sangatlah ramai. Keluar dari katedral, mereka melihat sesuatu seperti panggung pertunjukkan wayang di hadapan mereka. Berdasarkan dari banyaknya penonton, sepertinya pertunjukannya baru mau di mulai.
---
Di saat yang bersamaan, Franka dan Tina sudah menempati tempat duduk mereka sebagai penonotn di depan panggung.
Judul pertunjukkan yang akan ditampilkan kali ini adalah “Snow Blade King Vs. Black Demon.” (Raja pedang salju melawan Iblis hitam)
“Oh ya Franka, master bilang kamu sangat memahami cerita ini...”
“Ya. Aku tidak yakin kalau aku bisa menyebutnya sebagai sangat memahaminya, tapi aku memang sangat menyukainya. Aku sering datang untuk menontonnya.”
“Jadi ini menceritakan tentang apa? Saat kemarin aku menontonnya, petunjukannya sudah setengah jalan. Jadi aku cukup bingung,” kata Tina.
Tiba-tiba matanya terbelalak lebar saat menyadari sesuatu.
“Eh, tapi itu akan merusak keseruannya kalau aku sudah mengetahuinya, lupakan pertanyaanku tadi.”
Franka tidak bisa menahan tawanya. Meskipun hilang ingatakan bukanlah sesuatu yang pantas ditertawakan, tapi melihat ekspresi Tina tentang sesuatu yang seharusnya sudah dia lihat membuatnya tidak bisa menahan dirinya.
“Ada benarnya juga. Kalau begitu, bagaimana kalau aku menceritakan sedikit latar belakang tentang Snow Blade King?”
Silahkan.”
“Konon dia hidup ratusan tahun yang lalu. Dia memiliki tubuh yang ramping dan selalu memakai pakaian sederhana. Dari catatan yang ada, katanya dia cukup muda, masih remaja tepatnya.”
Karena itu, si aktor selalu menggambarkannya sebagai sosok anak muda dengan tampang biasa. Tapi penggambarannya agak berbeda dengan versi Franka.
“Kamu mungkin tidak percaya jika melihat  dari penampilan luarnya, tapi dia sangatlah kuat. Dia sangat cepat sampai-sampai kamu takkan bisa mengikuti pergerakannya. Dan saat mereka menyadari gerakannya, Void Beast pasti sudah terpotong bekeping-keping. Senjata yang digunakan—“
“Ah, aku tahu. Sebuah pedang yang seputih salju.”
“Benar. Saat dia dipanggil oleh shinki untuk menjadi duelistnya, hal pertama yang dilakukannya adalah mengalahkan Snow Void Dragon, dimana dia mendapatkan sebuah Dragon Fang Gem. Senjata  suci Snow White Dragon Fang terbentuk dan menjadi ciri khasnya.”
“Ohhh~”
“Karena duelist tidak menua, sampai beberapa puluh tahun yang lalu, orang-orang cukup sering bertemu dengan mereka. Untuk menceritakan perjalan hidup mereka akan memakan sangat banyak waktu. Karena itu, cerita tentang Snow Blade King memiliki banyak versi. Cerita kali ini adalah cerita tentang pertarungan terakhirnya melawan musuh terbesarnya, cerita yang sangat menegangakan! Diantara berbagai duelist yang ada saat ini, dia pasti berada di posis pertama atau kedua. Dan juga, ada banyak kolompok lain yang menceritakan hal yang sama. Menikmati berbagai legenda itu dari berbagai sudut pandang itu sangat menyenangkan.”
“Begitu—“
“Tapi jujur saja, akhir kisah Snow Blade King cukup tragis. Konon dia memancing kemarahan shinki  dan mati mengenaskan. Itulah kenapa tidak banyak yang mengisahkan kejadian itu. Menyaksikannya hanya akan membuatmu pusing. Oh, ngomong-omong, kata orang-orang saat ini setiap shinki memiliki duelistnya masing-masing. Ah, aku harap aku bisa melihatnya setidaknya sekali, siapa tahu kalau aku akan punya kesempatan itu selama hidupku? Kekuatan mereka sangat jauh berebeda dibandingkan dengan para petualang kelas satu. Tidak ada yang tahu darimana mereka datang dan kemana mereka pergi, mereka memang benar-benar pahalawan dengan penuh misteri. Dan misteri yang mereka bawa itulah yang menyebabkan orang-orang sangat tertarik pada mereka, dan dengan begitu kami berusaha untuk terus mewariskan legenda itu pada generasi mendatang. Hmm, apa ada masalah?”
Franka menyadari kalau Tina dari tadi menatapnya dengan ekspresi aneh.
“Kamu... tidak perlu terlalu berendah hati. Aku pikir kamu cukup sangat memahaminya.”
“B-begitu? Itu lho, aku—“
Suara tenang lonceng katedral memotong perkataan Franka.
“Oh, pertunjukannya dimulai.”
Suara loncengnya masih belum berhenti tapi salah seorang wayang sudah muncul dan mulai menceritakan bagian pembukaannya.
Pada saat itu—
Sebuah kilatan pedang perak bergerak dengan sangat cepat.
--menghujam langsung ke kepala Tina.
---
Dentuman lonceng gereja menunjukkan sekarang sudah satu jam setelah tengah hari.
Stefan dengan malas melihat ke area sekitarnya, bosan. –tiba-tiba dia menyadari sesuatu – Jahar menghilang.
“...Pergi kemana lagi dia?”
Disini bukanlah labirin, tapi di kota. Dia tidak sedang mencari masalah, kan? –dan saat pemikiran itu terlintas di kepala stefan, dia merasa penyesalan yang mendalam karena kenaifannya.
Dia berlari menuju ke arah teriakan dan menemukan Jahar berlari menuju kerumunan sambil menghunuskan pedang kesayangannya.
Suara ledakan terengar dan debu berterbangan kemana-mana.
Dan saat debunya menghilang, dia melihat Jahar yang sedang mengangkat pedangnya, berdiri di sana. Di depannya adalah seorang gadis kecil yang menatap tajam padanya.
“Haha, kau tidak sedikitpun merasa takut heh, nona kecil. Lumayan bernyali juga kau, aku akui itu. Kalau tidak salah namamu adalah Tina?”
“...Kamu pikir apa yang sudah kamu lakukan?”
“Tidak ada, tidak ada. Aku hanya ingin menyapamu. Aku menyukai orang dengan mental baja. Saat kamu berteriak pada si idiot Bertolt kemarin, aku pikir kamu layak menjadi incaranku.”
Nada santainya menimbulkan perasaan yang mendalam pada gadis itu.
Stefan ingat dia, gadis dari toko sampah itu.
“...Jangan membuat keributan di kota, Jahar. Ayo pergi.”
Oke~ jawab Jahar, dengan patuh mengikutinya.
“Tunggu—“
“Berhenti sekarang juga!”
Suara Tina tenggelam oleh suara orang lain yang berusaha menghentikan Stefan.
--suara yang tidak asing. Dari awal Stefan sudah berniat untuk mengabaikan keberadaan orang itu, tapi sekarang dia sudah dipanggil langsung olehnya.
Pemilik suara itu berjalan pelan sebelum berhenti tepat di depan Stefan.
“Anak buahmu baru saja mencoba melukai temanku, dan kamu pergi begitu saja hanya dengan meminta maaf seperti itu?”
“Tidak ada yang terluka, tidak ada yang bersalah.” Jahar menyela dari samping Stefan.
Franka mengabaikannya dan tetap menatap Stefan.
“—Kebetulan sekali, aku ingin bertanya sesuatu. Bertolt bergabung dengan kelompokmu, apa itu ide darimu?”
“--!”
Franka berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya. Dengan mata yang dipenuhi dengan kemarahan dan kesedihan, dia terus menatap stefan.
“...”
“...Aku pikir apa boleh buat kalau kita tumbuh secara terpisah. Karena dunia tempat kita tinggal memang jauh berbeda. –selama ini, aku selalu berkata pada diriku, lihat ke depan, melangkah maju, lepaskan semua kebencian. Tapi hal ini, aku sama sekali tidak bisa memahaminya!”
“...”
“Kenapa kamu menjadikannya rekanmu? Kenapa kamu membiarkannya menjadi anggota kelompokmu, seseorang dimana kamu mempercayakan hidupmu?”
Franka terus berbicara, memaksakan setiap perkataannya.
“Jangan bilang kalau kalian berdua memang bekerja sama untuk membunuh ayahku? –Jawab aku, Nii-san”
“Tidak ada tuduhan resmi tentang hal itu, jadi aku tidak punya alasan untuk menjawabnya.”
“Satu-satunya orang yang berkuasa untuk menahannya adalah ketua kelompok, yaitu ayahku! Bagaimana mungkin orang yang sudah mati menangkap seseorang yang melakukan kejahantan?! Nii-san—kenapa kamu tidak melakukan apapun, Nii-san? Ayahku adalah gurumu! Bukankah kalian berdua dekat? Apa kamu benar-benar tidak merasakan apapun?”
Menjawab rentetan tuduhan itu, stefan hanya punya satu jawabann.
“...Tidak peduli apa alasan kematiannya. Mereka yang meninggal di dalam labirin hanya memiliki satu hal untuk di salahkan, yaitu kelemahan mereka sendiri. Itu saja.”
Perkataan dingin Stefan tak berperasaan seperti biasanya. Berbalik, dia meninggalkan Franka yang terdiam.
---
“Ah, itu dia mereka. Yuuki-san, disini.”
Franka berdiri di depan pintu masuk labirin, melambai dengan semangat pada Yuuki.
Saat Yuuki mau pulang ke rumah setelah menyelesaikan pekerjaannya untuk sekolah pelatihan, salah seorang pengajar menyampaikan surat dari Alfred padanya. Dia ditemani oleh Tina yang merasa sangat bosan terus berada di toko.
“Maaf membuat kalian tiba-tiba harus datang kemari.” Alfred meminta maaf.
“Ini juga bagian dari pekerjaan. Selama aku mendapatkan sesuatu sebagai gantinya, tidak masalah. –Ngomong-omong, ada perlu apa? Jarang-jarang kamu memanggilku seperti ini, paman.”
“Aku menemukan sesuatu di dalam labirin, aku ingin kamu memeriksanya.”
“Oh, kenapa kamu tidak membawanya ke toko saja?”
“Justru karena aku tidak bisa melakukannya makannya aku memanggilmu kesini. Itu bukan sesuatu yang bisa di pindahkan.”
“Tidak bisa dipindahkan? Apa itu?”
“Akan lebih mudah kalau kamu melihatnya sendiri. Bagaimana kalau kita berangkat sekarang. Aku akan membayarmu. Tujuan kita berada di lantai tiga. –Mmm, di sekitar mana ya?”
“Di dekat tangga,” kata franka, sambil memerikasa peta.
“Jadi kami ingin kalian pergi kesana Yuuki-san, Tina. Oh, tidak perlu khawatir, kami akan melindungi kalian.”
---
“Maaf ya tentang yang kemarin, bagaimana kalau kita kembali lain kali?” Franka berkata pada Tina sambil berjalan.
“Tidak usah khawatir. Itu bukan salahmu.” Kata Tina dengan marahnya.
Karena kejadian itu, pertunjukan wayangnya dibatalkan.
Saat Jahar dari Sky Oath Legion mengayunkan pedangnya pada Tina, menimbulkan keributan yang besar. Keributan itu mencakup keseluruhan alun-alun kota, dan pihak pertunjukan wayang memutuskan untuk membatalkan jadwal pertunjukan siang itu.
Saat Tina kembali sambil sangat marah, Yuuki bertanya apa yang terjadi. Sepertinya hal itu sepenuhnya kesalahan dari pihak satunya, meskipun dia sendiri ragu apakah kejadian itu akan terjadi kalau dia juga berada di sana.
Saat perselisihan antara Franka dan Stefan mereda, Franka berkata pada Tina kalau dia merasa tidak enak badan pulang duluan—seperti itulah yang dikatakan Tina.
“Apa sekarang kamu sudah baik-baik saja, Franka?”
“Ah, ya, aku baik-baik saja. Maaf karena membuatmu khawatir. Aku sudah sangat sehat, lihat?”
Franka berputar layaknya sedang menari.
“Walaupun disini masih di lantai awal, kita tidak boleh lengah. Ingat, kita berkewajiban untuk melindungi mereka berdua.” Alfred mengingatkan.
Franka terlihat agak aneh. Dia terlihat terlalu bahagia, sampai-sampai terkesan seperti sedang pura-pura.
--Apa itu cuma perasaaanku?
Setelah berjalan tidak terlalu lama, mereka sampai di lantai ke tiga tanpa masalah.
“Terus, apa yang ingin kamu tunjukan padaku?”
“Ini, ini. Batu besar ini. Aku pikir ini semacam tugu(stele)?”
Alfred menunjuk pada batu besar nan tipis yang berada di dekat dinding. Tingginya sekitar sama seperti tinggi orang dewasa. Sepenuhnya terutup oleh lumut, benda itu terkesan seperti telah berada disana puluhan bahkan ratusan tahun.
Meskipun penampilannya sangat mirip dengan tugu, benda itu tidak memiliki ukiran yang biasanya berada di sana.
“Aku yang pertama menemukannya,” kata Franka sambil mengangkat tangannya. “Coba kamu sentuh.”
Yuuki menyentuhnya seperti yang dia minta, dan dia terkejut saat menyentuhnya.
Benda itu tidak terasa dingin layaknya batu yang dia tahu, tapi terasa agak hangat saat dia menyentuhnya. Terlebih benda itu terasa sedikit berdetak.
“…Apa ini?”
“Aneh, kan? Apa ada legenda atau semacamnya tentang benda ini? Aku pikir kamu mungkin tahu sesuatu.”
“Hmm, aku tidak tahu apapun tentang benda seperti ini. Ayo kita coba periksa dulu siapa tahu ada sesuatu yang bisa kupahami.”
Alfred berkata silahkan sambil bergeser ke samping.
“Rasanya sangat menegangkan, kan? Menemukan hal baru seperti ini.”
“Kalau ini memang benar-benar penemuan baru, bahkan mungkin kamu akan mendapakan sesuatu.”
Saat system atau alat batu ditemukan, pihak gereja akan memberikan si penemu itu penghargaan kecil. Informasi yang seharusnya dibagikan harus dibagikan, yang nantinya akan menjadi dasar pengetahuan petualang.
Syarat yang diperlukan untuk melaporkannya pada pihak gereja adalah mereka harus memastikan terlebih dahulu benda apa yang ditemukan itu.
Yuuki memanggil Tina dan berlutut di depan tugu itu.
Yuuki berkata kalau dia tidak yakin dengan fungsi benda itu dan meminta mereka agar sedikit menjauh. Dengan itu, Franka dan Alfred mundur beberapa langkah.
“…Apa kamu merasakan kekuatan suci dari benda ini?” Yuuki berbisik pada telinga Tina.
Tina mengangguk sebagai tanda persetujuannya.
“Bukan hanya itu, kekuatan sucinya juga sangat kuat. Tapi—“
Tina menggelengkan kepalanya kebingungan.
“Terakhir kali kesini aku tidak merasakan sesuatu seperti ini.”
“Terakhir kali?”
“Terakhir kali saat Master mambawaku kesini. Saat orang jahat dari Oath Legion saling bertarung.”
Yuuki mengangguk paham. Beberapa hari sebelumnya mereka kemari untuk mengumpulkan tanaman obat. Tina terlibat dalam pertikaian Stefan, dan dia(Yuuki) mendapatkan bogem mentah dari bertolt.
“Jujur saja, mengingat tentang kekejaman mereka membuatku sangat marah—“
“Oi oi, kita kesini bukan untuk membahas hal itu lagi. Kita kesini untuk memeriksa benda ini, ingat?”
“Oh, benar juga. –Apa kamu lupa Master? Saat itu Tina beristirahat disini.”
Kalau tidak salah… karena merasa sangat kelelahan, dia beristirahat sejenak disini.
“Tina beristirahat tepat di sekitar sana.”
Jari mungil Tina menunjuk ke arah kepingan batu itu.
“Aku pasti akan merasakan apapun yang memiliki kekuatan suci jika sedekat ini.”
“Apa mungkin benda itu terlewat karena kamu sedang sangat kelelahan”
“Master, jika ada orang yang memukul lonceng satu meter dari telingamu, apa ada kemungkinan kamu tidak mendengarnya? Bahkan sekarang aku bisa merasakan kekuatan suci terpancar dari benda itu. Tidak mungkin kalau aku melewatkannya.”
“Kalau begitu, benda ini muncul baru-baru ini, setelah kita pergi. Benda ini pasti mulai bekerja sekitar saat itu.”
Mereka cukup dekat dengan tangga. Disini adalah tempat dimana petualang biasa lewat. Bahkan jika hanya seorang petualang biasa tanpa kemampuan untuk merasakan kekuatan suci seperti Tina, kalau benda ini sudah lama aktif seperti ini, seharusnya benda ini sudah lama ditemukan.
“Yang benar saja, apa-apaan benda ini? Setiap benda yang mengandung kekuatan suci pasti memiliki semacam fungsi… apa kamu tahu sesuatu, Tina?”
“Hmm… kamu tahu, benda ini terasa sangat tidak asing…”
Si Shinki itu berpikir keras.
“Laju kekuatan suci sepertinya mengarah kesini. Rasanya seperti naik dari jauh di kedalaman labirin sebelumnya akkhirnya mencapai batu ini…”
“Mencapai…”
Kata itu memberikan semacam petunjuk pada Yuuki.
“Tina.”
“A-ada apa, Master?”
“Aku ingin kamu berpikir keras, oke? Terakhir kali kita kesini, apa kamu menyentuh batu itu?”
“Hmm? Baiklah…”
Tina bergumam menjawabnya sambil berjalan di sekitar batu itu dan berlutut.
“Ya, kemarin Tina duduk di sini, terus Master bilang kalau waktu istirahat kita sudah selesai, jadi aku segera berdiri—Oh.”
Tangannya tanpa sengaja menyentuh batu itu sebagai pegangan.
“Sudah kuduga. Kamu yang menyebabkan hal ini. Apa kamu ingat? Ruangan tempat kamu dilahirkan kemungkinan memiliki sesuatu seperti ini juga.”
“Eh? –Ah, benar juga!” Tina menepukkan tangannya.
“Dinding di dekat tempat Tina dilahirkan. Jadi begitu, itulah kenapa aku merasa tidak asing dengan benda ini.”
“Sepertinya benda ini semacam alat teleportasi. Setengah bagiannya. Aku pikir tujuannya adalah agar kamu bisa segera mencapai Solitus tepat setelah kamu dilahirkan. –Apa kamu bisa mencari sumber dari kekuatan sucinya?”
“Tentu saja! Serahkan saja padaku!”
Tina mengangguk dengan semangatnya. Dan menempatkan tangannya pada tugu batu itu.
“Kekuatan sucinya mengalir dari suatu tempat di bawah. Saat mencapai batu ini, kekuatan sucinya terpecah sebelum kembali lagi kebawah. Aku tidak bisa merasakan dengan pasti sumber asalnya di bawah sana, benda itu sangat berlawanan. –Oh, aku mengerti sekarang. Benda ini adalah pintu keluarnya. Penggunaannya membutuhkan kontak dengan orang-orang tertentu. Jumlah orang dan jaraknya bisa di atur.”
“Jika keduanya bekerja, maka kamu bisa berpindah langsung ke lantai tiga dari kedalaman labirin. Dari apa yang kamu katakan tentang aliran kekuatan sucinya, sepertinya benda ini hanya bisa digunakan untuk perjalanan satu arah. Itulah kenapa benda ini tidak bisa diguanakan saat ini.”
“…Jadi Tina sudah mengambil jalan memutar yang saaaangat jauh?”
“Sayangnya, iya.”
Memanggil Duelistnya setelah dilahirkan, lalu menggukan alat teleportasi itu untuk mencapai kota. Itulah jalan yang disiapkan untuknya. Tapi, dia malah menyelamatkan Bertolt dan selanjutkan diselamatkan oleh Yuuki. Benar-benar perjalanan memutar yang sangat jauh. Tapi itu bukan salahnya.
“Aku malah harus tersesat dan berkeliaran di labirin. Sayang sekali… tapi yaah. Seorang Shinki tidak seharusnya terikat dengan masa lalu.”
“Itu tidak berlaku untuk para Shinki, tapi hanya berlaku untukmu.”
“Silahkan puji aku lebih banyak lagi.”
Saat dia ingin mengatakan kalau tidak ada hal yang bisa dipuji darinya, dia tiba-tiba menyadari sesuatu tentang tugu itu.
“…Apa ini?”
Jauh di bawah muka tugu itu terdapat semacam goresan.  Hampir seperti seseorang telah mengukirnya dengan pisau belati atau semacamnya. Tandanya terlihat masih baru.
Saat dilihat baik-baik… bukankah itu emblem dari “Shinki yang menyangga langit.”
“Gimana, apa kalian sudah memahami sesuatu?” Alfred memanggilnya dari kejauhan.
“Oh, kami sudah selesai. Kalian bisa kemari.”
Saat mereka berdua mendekat, Yuuki menceritakan pada mereka tentang apa yang telah dia pelajari, kalau benda itu adalah bagian dari alat teleportasi, dan yang itu hanyalah sebagian alatnya, bagian yang tidak bisa berdiri sendiri.
“Jadi bagian lainnya berada di jauh bawah sana, yah. Kalau begitu, apa boleh buat.”
“Ah, sayang sekali kalau begitu.” Kata Franka sambil tersenyum kecut.
“Aku pikir pihak gereja akan tertarik untuk memerikasanya. Aku cukup yakin kalau mereka akan tetap memberikan pengharagaan atas penemuan ini. –Ngomong-omong, paman, apa kamu yang membuat tanda ini?”
Yuuki menunjuk pada ukiran yang terdapat pada tugu itu dengan jarinya agar yang lainnya juga melihatnya. Alfred mengerutkan keningnya.
“Aku takkan melakukan hal seperti itu, dan aku juga takkan membiarkan siapapun melakukannya.”
Saat memeriksa sesuatu yang tidak diketahui, lebih baik sebisa mungkin untuk tidak menyentuhnya. Setiap kerusakan yang terjadi akan mengurangi nilainya, dan bahkan jika hal itu tidak terjadi, ada juga kemungkinan untuk mengaktifkan suatu fungsi yang tidak diketahui karena kecerobohan.
“Saat kami pertama menemukannya, aku yakin tidak ada sesuatu seperti ini. Kami bertemu petualang yang sedang kembali ke kota dan memintanya untuk menyampaikan pesan padamu. Setelah itu, kami memeriksanya sedikit lagi sebelum kembali ke permukaan untuk menemui kalian… Tunggu, jangan-jangan—“
Alfred sepertinya menyadari sesuatu sambil mengerutkan keningnya. Dari suatu tempat yang tidak terlalu jauh, terdengar suara langkah kaki yang diikuti dengan suara monoton.
“Tolong kalian pergi. Tempat ini berada dibawah kekuasaan kami.”
Stefan menatap mereka dengan tatapan tanpa emosi. Selain bertolt dan anggota kelompoknya, dia juga bersama banyak petualang lain.
“…”
Semua ekspresi menghilang dari wajah Franka.
“Kami yang menemukan benda ini duluan, tahu?” Alfred menjawab dengan tenang. “Mereka yang pertama menemukannya memiliki hak atas temuannya itu.”
“Kecuali, sayangnya kami yang pertama menemukannya, Alfred-san.” Bertolt menanggapinya dengan senyum menjijikan.
“—Ah. Rat(tikus/penghianat), ya?” kata Alfred pelan, manatap pada petualang yang berkumpul di belakang Stefan. Mereka bersembunyi dari tatapannya.
‘Rat’ mengacu pada petualang kelas rendah yang ahli dalam bertukar informasi dengan sesamanya, atau mereka yang menyelinap dari tepian untuk mencuri buah kerja orang lain. Tidak mustahil untuk mempekerjakan mereka, baik untuk mengintai petulang lain maupun untuk mengganggu kerja mereka.
Mereka mengikuti kelompok Alfred dan akhirnya juga menemukan tugu batu itu. Saat Franka dan Alfred pergi, mereka mengukirkan tanda di tugu itu dan segera pergi untuk melapor pada tuan mereka.
“Benar-benar sayang sekali memang. Tapi tanda di tugu itu sudah menjadi buktinya. Jadi, bagaimana kalau kalian menurut dan pergi dari sini?”
“I-itu tidak  masuk akal!” Tina berteriak, berjalan maju.
Yuuki tidak sempat menahannya. Menjadi semakin marah, dia berteriak lagi.
“Apa yang memberimu hak—“
“Haha, kau benar-benar manis saat marah, nona kecil.” Jahar tertawa.
Tina menelan kata yang ingin dikatakannya dan mundur satu langkah. Sepertinya dia tidak tahu bagaimana untuk menangani orang itu.
Yuuki berdiri di depan Tina untuk melindunginya dan mengeluh.
“Bisa tolong jangan menakut-nakuitnya? Kami kemari hanya untuk memeriksanya, kami bukan siapa-siapa.”
“Aku tahu. Benda ini itu semacam alat teleportasi. Terima kasih karena telah mengurangi masalah kami,” kata bertolt mengejek.
Dia tidak berniat memeriksanya untuk mereka, tapi memang begitulah kenyataan yang terjadi.
“Jangan pikir aku mau berurusan dengan masalah ini lebih lama lagi. Diam dan cepat pergi.”
“Hey, bukankah itu berarti aku bekerja tanpa bayaran. Setidaknya—“
Tiba-tiba darah bercucuran dari telinga kiri Yuuki.
“Master!”
“Yuuki-san!”
Kedua suara itu berteriak secara bersamaan. Scimitar bertolt terhunus, dialah yang menyerang Yuuki.
“Bukankah aku sudah bilang untuk diam? Anjing yang tidak mendengarkan kata tuannya pantas diberi pelajaran!”
Sikapnya sangat tidak masuk akal. Yuuki menghela nafas lagi dan menyerah.
“Aku pikir saat kau bertemu anjing yang lebih lemah darimu, kau pasti selalu bersikap sok gitu, dasar kotoran buangan.”
“Ngomong apa lu?! Pengin mati lu, jahar?”
“Hentikan.”
Stefan dengan tenang menghentikan mereka bedua sebelum menatap Alfred.
“Tidak peduli bagaimana kejadian sebenarnya, kamu harus mengamankan tempat penemuan terlebih dahulu. Memeriksanya bisa dilakukan setelah hal itu dipenuhi. Itu adalah sesuatu yang petualang lepas seperti kalian takkan mampu lakukan. Ini adalah pekerjaan bagi mereka yang memegang kekuasaan, yaitu Oath Legion. Sebaiknya kalian cepat pergi.”
Mendengarnnya memang akan membuat siapapun marah, tapi kenyataannya memang begitu.
Walaupun Alfred dan petulang lainnya yang menemukannya lebih dahulu, jika mereka yang bertugas untuk memeriksanya, maka prosesnya pasti akan sangat lama. Tidak banyak yang bisa mereka lakukan selain menyerahkannya pada gereja atau Oath Legion.
Inti permasalahannya adalah, apakah mereka mau memberikan penghoramatan dan pengharagaan yang diberikan pada penemu pertamanya?
“… bagaimanapun juga, ini memang salahku karena tidak memikirkan kalau seseorang akan mencuri penemuan kita seperti ini.” Alfred mengeluh.
Tidak punya pilihan lain, dia mengangkat bahunya.
“Lupakan saja. Tidak ada gunanya meributkan hal seperti ini.”
“Terima kasih,” Stefan menjawab datar.
Ini adalah hasil yang tidak bisa dihindari. Bahkan jika mereka berniat bertarung melawan Oath Legion, tidak ada sesuatu yang akan mereka dapatkan. Yuuki memegang lengan Tina yang merasa tidak puas, dan mengikuti mereka pergi.
Saat itu—
“Kekuatan, kan?” sebuah suara terdengar.
“Bukankah itu kata-kata kesukaanmu? Kekuatan adalah segalanya. Benarkan, Ste~fan-san?”
Franka lah yang mengatakannya.
Yuuki lupa untuk bernafas. Di kelompok mereka, dia adalah orang yang paling membenci pertikaian, tapi sekarang dia menatap orang lain dengan penuh amarah.
Stefan merengut. Hal itu memang sangat tidak terduga, tapi ekspresinya berubah.
“—Disini, kekuatan adalah segalanya. Ya, aku memang pernah mengatakannya.”
“Kalau begitu, jika aku bisa mengalahkanmu, apa kamu bersedia mengabaikan prinsip bodoh itu?”
“Bahkan jika aku kalah, itu hanya menunjukkan kalau masih terlalu lemah. Itu tidak berarti kalau bertujuan untuk mendapatkan kekuatan adalah sesuatu yang salah. Bagaimanapun juga, pada kenyataannya, mustahil bagimu untuk mengalahkanku.”
“Kenapa kamu bisa mengatakan sesuatu itu mustahil tanpa mencobanya…”
Stefan menyela perkataan Franka dengan kalimatnya.
“Besok pagi, kelompokku akan menjelajah ke lantai enam puluhan. Aku berada di posisi yang kamu bahkan takkan bisa memimpikannya. Sadari ketidakmampuanmu.”
“…”
Franka terus menatap tajam padanya.
“Selama kamu terus menjadi petualang, kamu akan terus berada di bawahku. Satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah dengan berhenti menjadi petualang.”
---
“Yang tadi itu benar-benar sangat kelewatan.”
“Yaah, kalau boleh jujur, memang benar, aku setuju. Ini, makanlah.”
Mereka duduk di sudut restoran. Di atas meja di depan mereka terdapat makanan yang sangat banyak.
“—Whoa, daging panggang ini sangat luar biasa, Master! Jauh lebih enak dari yang biasanya kita makan di rumah!”
Tina, yang tidak tahu apa itu menahan diri, makan dengan rakus layaknya orang yang belum makan berhari-hari. Tidak lama sebelumnya, dia sedang sangat marah karena sikap kelompok Stefan dan terus menggerutu. Tapi sekarang dia merasa sangat bahagia.
Shinki ini sama sekali tidak tahu sopan santun… Yuuki mengeluh di dalam hatinya. Mungkin dia perlu mengajarinya tentang tata karma.
“Oh, kalian tidak usah khawatir tentang uang, Aku yang traktir.”
“Apa yang aku khawatirkan adalah apa yang terjadi setelah itu. Ini pasti juga berlaku menggunakan hukum pedagang.”
“Aku sudah menyia-nyiakan waktumu. Anggap saja ini sebagai permintaan maafku.”
“Yaah, aku menghargai hal itu, tapi jika itu memang benar-benar tujuanmu, kamu takkan meninggalkan Franka.”
Saat Yuuki dan Tina kembali ke took, setelah bekerja tanpa hasil, Alfred mampir dan mengajak mereka makan malam bersama. Tidak mungkin kalau ini cuma sekedar makanan permintaan maaf.
Alfred terdiam sejenak untuk berpikir sejenak dan bertanya, “Yuuki, bagaimana pendapatmu tentang balas dendam?”
Yuuki merengut dan menatap wajah Alfred, mencari pertanda dari ekspresi wajahnya. Wajahnya tenang dan tertawa seperti biasanya, tidak sedikitpun ada kejanggalan.
“Kenapa kamu tiba-tiba menanyakannya, paman? Jangan bilang kalau kamu berniat untuk membunuh seseorang.”
“Tepat sekali. Anggap saja, anggota keluargaku telah dibunuh dan aku berpikir untuk membalas dendam. Apa kamu akan menghentikanku?”
“Tidak. Selama kamu tidak melibatkan orang lain,  silahkan saja membalas dendam dan akhirnya ditahan. Satu-satunya penyesalanku adalah kehilangan pelangganku yang berharga.”
Alfred tersenyum kecut.
“Jawaban itu memang khas kamu banget, tapi sayangnya, aku serius. Aku akan bertanya langsung. Jawab aku, Yuuki, jika seseorang yang dekat denganmu berniat untuk balas dendam, apa yang akan kamu lakukan?”
“…Jika dendam mereka sudah sangat dalam sampai mereka ingin membunuhnya, itu adalah pilihan mereka. Satu-satunya yang berhak menghentikannya adalah orang itu sendiri. Setidaknya, aku takkan memintanya untuk berhenti.”
Hah… Alfred menggaruk kepalanya sambil mengeluh. Lalu dia melanjutkan, “Hey, Bukankah menurutmu Franka itu cantik? Sifatnya baik dan dia juga pandai memasak. Pria yang mendapatkannya pasti sangat beruntung.”
“Ngomong apa lagi kamu, paman? Aku tidak mengerti.”
“Bahkan jika pilihannya adalah miliknya sendiri, tapi jika seseorang yang penting baginya mengatakan sesuatu, aku yakin dia akan berubah.”
“…Jadi dia yang ingin membalas dendam?”
“Aku tidak tau apakah dia berencana melakukannya sejauh itu.”
Alfred menenggak semua jus di gelasnya. Yuuki pernah dengar kalau dia tidak pernah menyentuh alcohol.
“Kamu tahu kan kalau ayahnya meninggal di dalam labirin? Yaah, sebenarnya, orang-orang bilang kalau dia dibunuh.”
Pihak keamanan gereja tidak menangani apa yang terjadi di dalam labirin. Dari semua kecelakaan yang menyebabkan banyak petualang kehilangan nyawanya di dalam labirin, tidak diragukan lagi setidaknya terjadi beberapa ‘kecelakaan’ atau ‘serangan Void Beast’ yang sebenarnya adalah kasus pembunuhan.
“Dan pelakunya?”
“Masih belum jelas. Belum ada bukti pasti yang ditemukan. Tapi, saat itu Stefan dan Bertolt berada dalam kelompok itu.”
Yuuki berpikir tentang si muka datar pengguna tombak dan si brutal pengguna scimitar. Memang benar kalau mereka bukan orang yang segan untuk melukai orang lain.
“Khususnya Bertolt. Orang itu memiliki reputasi buruk saat itu. Walaupun kemampuan berpedangnya memang tidak main-main, tapi dia terkenal suka mencuri reliquia, mengganggu petualang lain, dan menggunakan semua trik kotor untuk mendapatkan keuntungan. Aku cukup yakin kalau rat yang tadi itu bekerja untuknya. Pengaruhnya baik di labirin maupun kota cukup besar. Walaupun begitu, aku tidak berpikir kalau kita cukup layak untuk diintai. Hari ini kita hanya kebetulan sedang sial.”
“Sepertinya kamu cukup paham tentang hal itu?”
“Ya, aku tidak berniat untuk menyembunyikannya, jadi akan kukatakan langsung padamu, dulunya aku adalah anggota Oath Legion.”
Saat dia mengatakannya, Alfred pikir kalau dia akan tersenyum mengejek… tapi dia tidak tersenyum sedikitpun.
“Ada banyak hal yang tidak ingin kulakukan jadi aku keluar. Saat aku disana, ayah Franka sering menjagaku. Alasanku menjadi mentor adalah karena beliau.”
“Saat Franka mendengar tentang kematian ayahnya, bukannya dia diberitahu kalau ayahnya meninggal karena kecelakaan? Kenapa dia berpikir kalau ayahnya dibunuh?”
“Yaah, dia pasti juga punya alasannya. Yang tidak aku pahami adalah apakah dia mengetahuinya baru-baru ini atau apakah dia sudah lama mengetahuinya. Masalahanya adalah, belakangan ini, dia bersikap sangat aneh. Bahkan hari ini dia sampai menantang Stefan. Padahal setahuku, belakangan ini mereka tidak terlalu banyak berkomunikasi.”
“—Dari caramu mengatakannya, apa dulunya mereka akrab?”
“Mereka itu bersaudara, kan?” Tina tiba-tiba ikut dalam pembicaraan, pipinya dipenuhi oleh daging ayam. “Kemarin, Franka memanggilnya ‘Nii-san’, tapi dengan eskpresi wajah yang mengerikan.”
“Benar. Franka adalah setengah adik Stefan dari ibunya. Aku pikir mereka berbeda dua tahun. Ibu mereka dulunya adalah nyonya di keluarga Klose, tapi dia akhirnya menikah dengan ayah Franka. Dia sudah lama meninggal karena penyakit.”
[TL: satu ibu beda ayah… BtW, NTR?]
“Ohh…”
“Walaupun Stefan dibesarkan di keluarga Klose, saat ibunya masih hidup, dia sering datang untuk menemuinya, dan dengan begitu dia bertemu Franka. Saat itu, sepertinya hubungan mereka cukup baik.”
“Jadi kenapa dia berkata padanya seperti itu?”
“Itulah kenapa aku bilang dia bersikap aneh belakangan ini. Saat mereka datang ke tokomu kemarin, dia tidak bersikap seperti itu. Mereka juga sering bertemu di akademi, tapi aku belum pernah mendengar terjadi pertikaian antara mereka. Aku yakin kurangnya interaksi mereka takkan cukup untuk memicu kemarahan seperti itu. Aku pikir hubungan mereka memang agak tidak stabi. Tapi hari ini… dia terang-terangan menyalahkannya…”
Memang, ucapannya hari ini lebih seperti menyalahkannya bukan lagi menuduhnya.
“Hmm…”
Yuuki berpikir sejenak.
“Mungkin dia menemukan semacam bukti kuat kalau Stefan terlibat dalam pembunuhan ayahnya?”
“Jujur saja, dia memang sangat mencurigakan. Bukan Cuma dia berada di tempat kejadian, tapi pemilik sebelumnya Tombak Blue WaterAmnis adalah ayah Franka.”
Tombak itu sendiri adalah senjata suci dragon fang yang digunakan Stefan.
“Senjata itu adalah benda kepemilikan Sky Oath Legion. Setiap orang yang memilikinya dipilih dari anggota legion oleh Shinki.”
“Dan saat pemiliknya meninggal, senjata itu diturunkan pada kendidat selanjutnya. Dengan kata lain, dialah si kandidat itu pada saat itu.”
“Benar. Bisa dibilang, itu adalah motifnya. Walaupun begitu, belum ada bukti pasti. Tapi, berdasarkan sikap Franka, itu bukan lagi sikap ‘curiga’ tapi lebih ke tuntutan. Dia pasti mengetahui sesuatu. Karena gadis itu selalu terasa gelisah atau setidaknya tidak suka berterung.”
Jadi apa yang sebenarnya dia ketahui belakangan ini? Bagaimanapun juga, apa memang semudah itu untuk mengetahui sesuatu dari kejadian yang terjadi bertahun-tahun yang lalu? Apa ada cara untuk memeriksanya?
---Yuuki tiba-tiba menyadarinya. Ada cara untuk memeriksanya.
“…Untuk sekarang kita kesampingkan hal itu dulu. Terus, apa yang kamu inginkan dariku? Apa kamu memintaku untuk berkata padanya ‘jangan terlalu memikirkan tentang kematian ayahmu atau pembunuhnya, lupakan saja semua itu’?”
“Apa kamu tidak ingin menjadi pengikatnya?”
“Pengikat?”
“Sederhananya sesuatu tentang untung rugi, bidang keahlianmu. Jika berkaitan tentang membalas dendam, tidak peduli kamu membunuh maupun terbunuh, saat kamu menapakkan kakimu di dunia pertumpahan darah, takkan ada jalan kembali. Sesuatu yang hilang tetaplah hilang. Jika kita bisa mengembalikannya ke bagian sini, aku pikir itu yang terbaik. Jadi, bagaimana menurutmu? Aku tahu kalau kamu berusaha menjaga jarakmu, tapi bagaimana kalau kamu mencoba untuk memperpendek jarakmu dengannya? Dia sangat menyukaimu, tahu. Aku yakin kamu juga sudah menyadarinya, kan?”
“…”
Dia mengatakannya, tapi Yuuki tahu kalau dia sudah lama mengetahuinya.
Pada awalnya dia berniat untuk ikut campur, tapi setelah dipikir lagi, dia memutuskan kalau lebih baik dia tidak melakukannya.
“Aku pikir aku aku si ‘no’
“Kenapa?”
“Dia memang pelangganku yang berharga, dan bukan berarti aku membencinya. Walaupun begitu, tidak ada alasan bagiku untuk ikut campur. Sederhananya, tidak ada untunganya bagiku.”
“—Master!”
Alfred belum bisa mengatakan apapun untuk menanggapinya tapi sudah terpotong oleh teriakan Tina.
“Kamu sangat keterlaluan! Caramu mengatakannya… itu sangat kejam…”
“Bagaimana ya? Pemikiran yang terbenam dalam hati mereka dan cara hidup yang mereka pilih itu jauh lebih rumit dari yang kamu pikirkan, Tina. Franka ingin membalas dendam karena pembunuhan ayahnya… jika kamu memintaku untuk menanggung tanggung jawab untuk menghilangkan kebencian itu, maka aku tidak yakin kalau aku akan mampu melakukannya. Dan aku juga tidak punya alasan untuk melakukannya.”
“T-tapi—“
“Lupakan saja, Tina-chan. Aku yang sudah meminta terlalu banyak,” kata Alferd sambil tertawa pahit. “Meminta sesorang untuk menerima perasaan orang lain bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan, tapi aku malah melakukannya. Aku sudah membicarakan hal ini dengannya, tapi dia tetap berkata ‘tidak ada apa-apa’. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Sepertinya dia sudah membulatkan tekadnya.”
“…”
“Bagaimanapun juga, apa kamu bisa berjanji setidaknya untuk berbicara dengannya?”
Dari awal sampai akhir, Alfred sudah bisa membayangkan keseluruhan alur pembicaraan. Tina menatap Yuuki dengan wajah marah.
Yuuki hanya bisa mengeluh.

Samayou Shinki no Duelist Jilid 1 - Bab 3 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: h kim

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.