22 Desember 2015

My Dearest Jilid 2 Chapter II

MY DEAREST JILID 2
CHAPTER II
HANA

Bagian Pertama 
Anggelina mulai tersadar dengan sikap aneh yang diberikan kakaknya. Dia mulai teringat dengan nama gadis yang bertunangan dengan Kakaknya. 

“Aeldra? Jika dipikir-pikir, nama belakang tunangan kakak juga bernama Aeldra,” batinnya melirik khawatir Anggela.

“Ya Aeldra ..., memangnya kenapa?” tanya Hana kebingungan.

“Tidak bukan apa-ap –“

“Kak Hana, apa kakak kenal dengan Halsy Aeldra?!” Anggelina langsung bertanya penasaran.

“Anggelina?!” teriak Anggela cukup terkejut.

“Tidak, aku baru pertama kali mendengar nama itu,” senyum gadis bernama Hana itu.

“Be-benar juga ..., kita kan berada di masa lalu, “ pelan Anggelina terlihat berpikir.

“Memangnya kenapa dengan nama itu?”

“Tidak, tidak ada apa-apa.” Anggelina menggelengkan kepalanya sangat cepat.

“Begitu ..., ya sudahlah, ayo kita lanjutkan perjalanan kita ..., rumahku sudah dekat kok.” Hana kembali berjalan menuju rumahnya.

“Y-ya.” Anggelina terlihat gugup, lalu mendekati kakaknya yang berjalan dibelakangnya.

“Kakak ..., mungkinkah dia?” bisik pelan Anggelina pada sang kakak.

“Entahlah, kakak juga tidak tau nama orang tua Halsy ..., tapi jika dia memiliki nama belakang Aeldra, kemungkinan besar kalau dia adalah ibu kandungnya.”

“....” Anggelina hanya memasang wajah khawatir melirik kakaknya yang terus menatap Hana.

Beberapa menit telah terlewat, Anggela dan Anggelina akhirnya sampai di kediaman gadis yang diduga menjadi orang tua Halsy di masa depan.

Mereka perlahan memasuki rumah yang terlihat sangat mewah tersebut. Tetapi meskipun  rumahnya sangat besar, halamannya cukup luas ..., tidak ada satupun orang yang terlihat dalam rumah tersebut.

Rumahnya bagaikan rumah yang ditinggalkan, suasana terasa dingin tanpa ada seorang pun yang menyambut kedatangan mereka.

“Kak Hana, apa kamu tinggal sendiri?”

“Ya ..., sekarang aku tinggal sendiri,” senyum sedih Hana melihat Anggelina.

“Sekarang? Berarti di masa lalu –“

“Enam bulan yang lalu aku tinggal bersama adikku, tapi sayangnya ....” Hana terlihat bersedih dan hampir menangis, tetapi dia segera mengganti topik pembicaraan agar kesedihannya dapat hilang.

“Silahkan silahkan! Jangan sungkan, kita tidak bisa mengobrol di depan pintu seperti ini, kan?” senyum Hana memejamkan matanya.

Dia perlahan membuka pintu rumahnya,

Krekkk ....

Suasana heninglah yang mereka dapatkan saat memasuki rumahnya, Hana hanya bisa tersenyum sedih sambil mempersilahkan duduk Anggela dan Anggelina.

“Ma-maaf rumahku terlihat membosankan, kalian bisa duduk dimana kalian suka ..., anggap saja seperti rumah sendiri.”

“Te-terima kasih ..., tapi apa ini alasan anda mengundang kami ke rumah anda?”

“Ya ..., tahukah kalian? Orang tua kami sudah meninggal sejak aku berumur delapan tahun.”

“Be-begitu.” Anggelina terlihat sedih, lalu berjalan pelan dan duduk di sofa yang terlihat mewah.

“Maaf aku akan menyiapkan minuman untuk kalian.” Hana bergegas menuju dapur.

“Aaahh ..., anda tidak perlu melakukan itu!” teriak Anggela cukup keras ke arah dapur.

“Tak apa! Aku juga akan menyiapkan makanan, kalian pasti lapar, kan?!” Hana membalas teriakannya.

“Tu-tunggu, bukankah itu terlalu merepot –“

“Terima kasih Kak Hana!!” teriak Anggelina memotong perkataan Anggela

“Sama-sama!!” teriak Hana dari arah dapur.

“Anggelina, kenapa kau –“

“Kita terima saja niat baik darinya, lagipula dia itu mertua kakak, kan?”

“Hah!? Kita masih belum tau dengan jelas, apa dia ibunya Halsy atau tidak!”

“Tapi nama belakangnya sama Kak! Sudah jelas kalau mereka berdua memiliki ikatan keluarga.”

Disaat mereka sedang berdebat, tiba-tiba Hana datang membawa makanan dan minuman yang cukup mewah. Dia terlihat telah mengganti pakaiannya.

“Maaf membuat kalian menunggu, silahkan,” Hana meletakkan makanan dan minuman di atas meja dekat Anggelina.

“Terima kasih, aku akan menerima kebaikan anda,”senyum manis Anggelina melihat Hana.

“Silahkan silahkan.”

“Ayo Kak, Kak Anggela juga duduk disini.”

“Ya ya ...,” Anggela mulai duduk di samping Anggelina.

Mereka akhirnya menyantap hidangan yang telah disiapkan oleh Hana. Anggela dan Anggelina terlihat menikmati makanan yang dibuat oleh Hana tersebut, sedangkan Hana hanya tersenyum melihat Anggela dan Anggelina yang memakan makanannya.

“Bisa aku tau, kalian berasal dari negara mana?” senyum Hana bertanya pada Anggelina dan Anggela.

“Kami dari barat, negara Denmark.”

“Denmark?! Waah ..., bukankah itu cukup jauh?! Kenapa kalian repot-repot datang ke negara ini?”

“An-anu kami mencari seseorang yang mengaku dari masa depan.” Anggelina terlihat gugup.

“Seseorang dari masa depan?” Hana memasang wajah berpikir keras.

“Hmm ..., kalau tidak salah, tiga tahun lalu ada seorang gadis yang mengaku dari masa depan. Dia sempat menghebohkan semua penduduk kota.”

“Siapa? Siapa namanya?!” Anggela terlihat penasaran sambil berdiri dari kursinya.

“Hahahaha, tenanglah ..., kamu habiskan dulu makananmu, setelah itu kita lanjutkan pembicaraan kita ini.” Hana lalu berdiri dan berjalan ke arah kamarnya.

Disaat Hana telah meninggalkan ruangan tempat Anggela dan Anggelina berada. Anggelina mulai memakan makanan yang dihidangkan oleh Hana kembali, begitu pula dengan Kakaknya Anggela. Anggela juga mulai memakan makanannya sambil membuka pembicaraan yang baru.

“Anggelina ....”

“Ya?”

“Kita harus mempersiapkan diri kita ....”

“Dari apa? Apa kita akan menemui musuh yang kuat?” khawatir Anggelina bertanya.

“Bukan itu ..., kemungkinan besar, kita akan bertemu kembali dengan orang tua kita di masa ini,” senyum Anggela melirik adiknya.

Setelah mendengar perkataan Kakaknya, seketika Anggelina hanya terdiam terkejut. Dia berhenti memakan makanan dan melihat Kakaknya dengan tatapan sedih.

“Benarkah ...? Apa aku bisa melihat Ayah dan Ibu!?”

“Ya mungkin saja,” senyum Anggela menghentikan pekerjaannya dan mengusap pelan kepala adiknya.

“Aku ingin tau siapa nama ayah dan ibu kita, seperti apa rupanya, bagaimana sifatnya?”

“Sejujurnya aku juga tidak mengingatnya ..., hanya kak Keisha yang mengingat tentang mereka.”

“Lalu bagaimana cara kita agar bisa mengenali orang tua kita di masa ini?“

“Entahlah, aku juga tidak tau. Tapi satu hal yang aku ketahui adalah ..., kamu sangat mirip dengan ibumu, Anggelina. Bahkan kak Keisha pun berkata seperti itu.”

“Jadi jika kita bisa menemukan seseorang yang mirip denganku, kita akan bertemu dengan ibu kita?!”

“Ya,” senyum Anggela.

Tap tap tap ...!

“Maaf, membuat kalian menunggu..... ada yang harus kulakukan di dalam kamarku,”senyum Hana yang berjalan pelan memasuki ruang tamu.

Dia duduk manis dihadapan Anggela dan Anggelina, lalu dia memberikan dua buah formulir tentang pendaftaran sekolah pada Anggela dan Anggelina.

“Ap-apa ini?!” tanya Anggela kebingungan.

“Ini? Tentu saja pendaftaran sekolah, mulai besok kalian akan bersekolah.”

“Maksud kak Anggela adalah, apa maksudnya ini!? Kenapa kami harus bersekolah!?” Anggelina sambil berdiri dari tempat duduknya.

“Apa kalian sedang mencari gadis yang berasal dari masa depan itu?”

“Ya, kami sedang mencarinya. Tapi apa hubungannya –“

“Dia ada di kota ini ...,” senyum Hana memejamkan mata.

“Benarkah! Kalau begitu –“

“Tapi kota Bandung cukup luas, kalian tidak dapat menemukannya dalam kurun waktu satu atau dua hari.”

“Tak apa, kami memiliki banyak waktu,” senyum Anggela berdiri dari tempat duduknya.

“Bukan itu yang aku permasalahkan. Dimana kalian akan tinggal nanti? Bagaimana kebutuhan kalian? Makanan? Membersihkan tubuh kalian? Dan tempat untuk tidur kalian? Kalian butuh tempat tinggal sementara ketika kalian mencari gadis itu.”

“Di-dia benar Kak.” Anggelina menatap khawatir Kakaknya.

Anggela hanya terdiam berpikir, dia tidak bisa menjawab pernyataan Hana maupun Anggelina.

“Tinggalah dirumahku,” senyum Hana yang menawan melihat Anggela dan Anggelina.

“Kita bisa bekerja ..., mencari uang dan memenuhi kebutuhan kita. Kita tidak mau berhutang budi pada orang lain terlalu banyak.”Anggela terlihat yakin melihat Hana.

“Memang benar aku ini hanya orang lain bagi kalian ..., tapi aku merasa kalau aku harus melakukan sesuatu untuk kalian berdua. Aku tidak tau pasti, tapi kalian terlihat seperti keluargaku. Khususnya kamu Anggela, sifatmu sangat mirip dengan adikku.”

“Kakak ...?” tanya khawatir Anggelina melihat kakaknya. Tatapanya seolah-olah mengatakan kalau dia ingin kakaknya menerima tawaran Hana.

“Tapi ....“ Anggela masih terlihat cemas.

“Tentu saja aku tidak berniat membiarkan kalian tinggal disini secara gratis,” senyum sedih Hana.

“Benarkah?!” tanya Anggela dan Anggelina terlihat bahagia.

“Apa yang harus kami lakukan?!” tanya Anggelina bersemangat.

“Ini,” senyum Hana sambil memperlihatkan formulir sekolah pada Anggela dan Anggelina.

“Isi formulir ini, dan kamu harus bersekolah. Itulah pekerjaan kalian,” senyum Hana memejamkan matanya.

“Lalu apa untungnya untuk anda?! Anda tidak akan mendapatkan apa-apa jika kami bekerja seperti ini. Lagipula, bukankah anda akan mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk ini?!” Anggela terlihat kesal.

“Benar yang dikatakan kakak! Aku merasa tidak enak jika seperti in –“

“Ini keputusanku, jika kalian tidak mau ..., kalian bisa menolaknya, dan tidak perlu melakukan pekerjaan ini. Tapi tenang saja, meski kalian menolak permintaanku ini, kalian masih bisa tinggal di rumahku.”

“Kak?” lirik khawatir Anggelina.

“Baik aku mengerti ...,” Anggela mengeluh dan membuang nafas.

“Kalian menerimanya? Syukurlah,” senyum Hana melihat keduanya..

Hana memberikan kedua formulir itu pada Anggelina dan Anggela.

Sambil mengisi fomulir, Anggela mulai berbicara kembali.

“Hanya sampai kami menemukannya, ya?”

“Ya ..., setelah kalian menemukan orang yang berasal dari masa depan itu, kalian bisa melakukan apapun yang kalian mau, meneruskan sekolahnya atau berhenti dari sekolah tersebut.”

Suasana menjadi hening kembali, Anggelina dan Anggela terus mengisi formulir tersebut, sedangkan Hana hanya tersenyum melihat mereka berdua yang menulis.

Lalu tiba-tiba.

“Aahhh!!” teriak Hana cukup ketakutan.

“Kenapa Kak Hana?!” tanya kaget Anggelina.

“Ak-aku lupa, sekarang kan ada sinetron baru yang akan tayang hari ini!”

“Si-sinetron? Ap-apa itu?” Anggelina terlihat kebingungan.

“Emm ..., mungkin semacam film harian di negara kalian?” Hana memasang wajah tidak yakin, wajahnya masih terlihat khawatir.

Dia perlahan mengambil benda yang diduga untuk menyalakan televisi. Dengan cukup cepat dia mengarahkan benda tersebut ke arah televisi, dan menekannya cukup cepat.

Tapi sayangnya tidak ada reaksi dari televisi tersebut dan itu hanya membuat Hana terlihat semakin ketakutan.

“Kenapa? Kenapa tidak menyala?!” Hana terlihat sedikit panik sambil terus menekan benda tersebut.

“Kak Hana? Apa yang Kakak lakukan?” Anggelina bertanya kembali.

“Aku sedang menyalakan televisi, tapi tidak mau menyala! Apa sedang mati lampu?” Hana berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju saklar untuk menyalakan lampu ruangan tersebut. Dia menekan tombol yang diduga untuk menghidupkan lampu ruang tamu.

“Tidak menyala?! Arghhh ..., apa yang sebenarnya dilakukan orang-orang itu? Kenapa malah mematikan listrik di saat penting seperti ini?!”

“Listrik? Kakak hanya butuh listrik, kan?” tanya Anggelina tersenyum.

“Ya, memangnya kenapa?”

“Kak Anggela!” senyum Anggelina melihat Kakanya.

“Iya iya ..., Kak Hana dimana tempatnya?” tanya Anggela lalu berdiri dari tempat duduknya.

“Maksudmu stop kontak? Disini!” tunjuk Hana pada sebuah benda yang menempel pada dinding.

“Baiklah ...,” Anggela memejamkan matanya lalu terlihat berkonsentai.

Secara perlahan beberapa percikan listrik disekitar tubuhnya muncul. Hana hanya terdiam terkejut tidak percaya, dia benar-benar terkejut melihat kemampuan Anggela.

“Tung-tunggu? Ap-apa itu?!”

Hana mencoba memecahkan konsentrasi Anggela, tapi tidak berhasil. Anggela akhirnya  sukses mengeluarkan kemampuan electrokinesisnya, dia memberikan listrik pada stopkontak yang dikatakan oleh Hana.

“Selesai Kak,” senyum Anggelina.

“Selesai apanya?! Sebenarnya apa yang dia lakukan tadi?!” tanya ketakutan Hana menunjuk Anggela.

“Apa? Tentu saja kakak hanya menghantarkan listrik dari dalam tubuhnya pada rumah Kak Hana, coba kakak nyalakan televisinya, pasti akan menyala kok,” jelas Anggelina menunjuk televisi.

“Aku tau itu! Tapi kenapa dia bisa melakukannya?! Bukankah itu sangat aneh?!” Hana terlihat panik.

“Aneh? Kami Kineser, dan Kak Anggela tipe Electrokinesis. Bukankah itu wajar –“

“Tunggu Anggelina!” Anggela terlihat khawatir melihat Hana.

“Ka-Kak Hana, apa kamu pernah mendengar julukan Kineser?”

“Belum, aku belum pernah dengan julukan itu! Aku baru kali ini melihat fenomena ini!”

“Sudah kuduga ..., maaf membuat Kak Hana ketakutan.”

“Apa maksudnya sudah kuduga, Kak?” Anggelina terlihat penasaran.

“Kemungkinan besar di masa ini Kineser masih belum diketahui oleh dunia. Mereka masih bergerak dalam bayang-bayang masyarakat.”

“Be-begitu.”

“Jadi Anggelina, kita harus menahan kemampuan kita ini. Jangan pernah memperlihatkannya pada orang lain, kecuali sesama Kineser. Dan untuk Kak Hana, tolong jangan sebarkan insiden tadi. Jika insiden tadi terbongkar, kami akan berada dalam masalah yang cukup serius.”

“Aku tidak akan mengatakannya, tapi bisa aku bertanya sesuatu pada kalian?”

“Apa Kak?” Anggelina dan Anggela bersamaan.

Di masa ini, kalian tadi mengatakan itu dengan jelas .... Kalian pasti berasal dari masa depan, kan?”

“Maaf menyembunyikannya darimu , Kak.” Anggelina tersenyum.

“Kami hanya tidak ingin Kakak terkejut setelah mendengar kenyataan kami, tapi...” senyum Anggela.

“Kami memang berasal dari masa depan,” jelas kompak keduanya melihat Hana Aeldra.

***

Bagian Kedua 
Sudah beberapa Anggela dan Anggelina memasuki sekolah barunya, mungkin hampir sebulan penuh mereka sudah bersekolah. Tapi, mereka masih belum menemukan hasil yang memuaskan. Mereka masih belum menemukan seseorang yang mereka cari, yakni gadis misterius yang berasal dari masa depan.

Dan seperti biasanya, suasana menjadi sedikit berisik saat Anggela dan Anggelina berjalan melewati lorong sekolah. Para siswa dan siswi menatap kagum mereka berdua, mereka bagaikan siswa populer di sekolah tersebut.

Tidak mengherankan, fisik mereka khususnya rambut mereka yang berwarna putih benar-benar berbeda dengan yang lainnya.

“Apa mereka benar-benar saudara kandung?” bisik para siswa yang masih tedengar oleh Anggela dan Anggelina.

“Aku dengar-dengar sih iya ..., mereka benar-benar saudara kandung, bahkan kembar.”

“Kalau begitu aku punya kesempatan dong!”

“Mustahil-mustahil! Mereka sangat berbeda dengan kita, kamu pasti merasakan aura yang berbeda dari mereka, kan?”

“Iya aku merasakannya, tapi kenapa mereka memasuki sekolah ini?”

“Entah –“

“Maaf ..., kalian tidak perlu memperlakukan kami secara khusus seperti itu, kami sama seperti kalian kok. Mari kita berteman ...,” senyum Anggelina memotong pembicaraan siswa tersebut. Anggelina tiba-tiba berada di depan para siswa yang bergerombol tersebut.

“Y-ya.” Jawab sangat gugup dari para siswa tersebut.

“Anggelina, cepatlah ..., kita harus segera pulang. Kali ini kita harus menemukannya!” teriak kesal Anggela pada adiknya. Lalu Anggela berjalan melewati pintu keluar sekolah.

“Iya iya Kak!” Anggelina sedikit kesal melirik Kakaknya.

“Baiklah, sampai bertemu besok!” lanjut Anggelina tersenyum lalu berjalan cepat mengikuti Kakaknya.

Para siswa yang mendapatkan senyuman Anggelina hanya terdiam seperti patung, terlihat wajah mereka yang benar-benar memerah.

Ca-cantiknya ....”

“Ba-baiknyaa ....”

“I-imutnya ....”

Seperti itulah isi pikiran para siswa tersebut sambil melihat Anggelina yang berjalan cepat mengikuti Kakaknya.

“Kak, tunggu!”

“Cepatlah Anggelina, kita tidak bisa bersantai seperti ini! Kemungkinan satu hari yang kita lewati di masa ini, sama dengan satu hari yang kita lewati di masa depan. Bagaimana jika –“

“Tapi sekarang kita berada di masa ini Kak, sekarang kita hidup di masa ini .... Kita nikmati saja kehidupan ini walau pun ini bukan tempat kita seharusnya.” Anggelina bergumam sedih sambil menarik baju belakang Kakaknya.

“Anggelina ...,” senyum Anggela lalu berbalik melihat adiknya. Perlahan dia mengusap lembut kepala adiknya, dia berkata sambil memejamkan matanya.

“Kamu benar ..., maaf Anggelina, kakak terlalu berambisi untuk menemukan gadis itu. Kakak hanya berpikir kalau gadis itu kemungkinan besar adalah Halsy.”

“Tak apa Kak, aku juga mengerti. Yang lebih penting, bisakah kita libur untuk satu hari ini? Ayo kita berjalan-jalan di kota ini Kak!” ajak Anggelina.

“Ya, kamu benar. Sesekali kita harus berlibur ..., “ senyum Anggela melihat adiknya.

“Yeah!!“ Anggelina terlihat bahagia lalu berjalan melewati Anggela.

“Ayo Kak ...,” lanjutnya mengulurkan tangannya pada Anggela.

“Ya,” Anggela sambil memegang tangan adiknya.

Mereka berdua berjalan-jalan melewati perkotaan, mereka saling bergandengan tangan dan memasang wajah yang penuh kegembiraan.

Beberapa orang sesekali memperhatikan mereka berdua yang memiliki paras yang sangat bagus. Beberapa orang juga bahkan mengira kalau Anggela dan Anggelina merupakan sepasang kekasih yang sedang kasmaran.

Waktu terasa berjalan sangat cepat, suhu yang sebelumnya sangat hangat berubah menjadi  lebih dingin, langit yang berwarna biru muda berubah menjadi berwarna orange. 

Beberapa orang juga telah kembali pulang ke rumah mereka masing-masing. Kini Anggela dan Anggelina hanya duduk di taman kota, mereka beristirahat karena kelelahan.

“Anggelina ....”

“Hemm?” Anggelina terlihat bahagia saat dia menatap kakaknya. Sedangkan Anggela hanya terus menutup matanya, dia seolah-olah sedang menahan kesal.

“Kita hanya berniat berjalan-jalan saja, kan?”

“Iya, kita hanya berjalan-jalan saja. Memangnya kenapa?”

“Kenapa dengan gigimu! Lalu kenapa kamu malah membeli belanjaan sebanyak ini!!” geram kesal Anggela sambil menunjuk belanjaan di belakang kursi mereka. Belanjaan yang sangat banyak seperti parfum, baju, tas, dan yang lainnya.

“Itu hanya sovenir Kak, kita –“

“Sovenir? Lalu kenapa membeli sebanyak itu!”

“Emm ..., oh iya! Aku kan gak punya baju banyak di masa ini. Jadi aku harus membeli beberapa.”

“Aku bisa mengerti dengan pakaian dan yang lainnya, karena itu penting. Tapi kenapa harus parfum, make up, dan game juga kamu beli?! Ini bukan jalan-jalan lagi namanya, kamu hanya ingin berbelanja kan?!”

“Hehehehe ...,” Anggelina tertawa kecil mengalihkan pandangannya.

“Malah ketawa, dasar ...! Dan juga kenapa harus aku yang mengangkat semua belanjaanmu?!” keluh Anggela terlihat kelelahan.

“Bukankah itu tugas lelaki? Mengangkat barang belanjaan perempuan?”

“Siapa yang bilang?” tanya Anggela datar.

“Aku.” Anggelina menunjuk dirinya sendiri.

“Apa kamu bodoh?”

“Hahahahaha ..., tapi Kakak juga pasti pernah melakukan ini, kan? Mengangkat barang belanjaan seorang gadis.”

“Belum, aku belum pernah melakukannya.”

“Ehhh ..., lalu bagaimana dengan Kak Halsy? Apa Kakak tidak pernah –“

“Dia berbeda dengan kalian, berbeda dengan gadis pada umumnya. Dia tidak mau menyusahkan orang lain meski orang itu kekasihnya sendiri. Aku sering menawarkan diri untuk membawa barang belanjaanya, tapi dia selalu menolak keras.” Anggela tersenyum sedih.

“Be-benarkah?”

“Iya benar, dia sangat aneh ..., amat sangat sulit bagi orang-orang untuk membantu dirinya, dia selalu menolak kebaikan orang lain dan menganggap kalau dirinya hanya akan menyusahkan orang lain.

Tapi di sisi lain dia rela mengorbakan apapun demi membantu orang lain .... Hartanya, kehormatannya, bahkan nyawanya sendiri dia akan lakukan. Benar-benar kebaikan yang mengerikan.”

“Bu-bukankah itu sangat mengerikan, Kak? Apa dia tidak peduli pada dirinya sendiri?” Anggelina terlihat sangat khawatir.

“Tidak, dia mengabaikan dirinya sendiri dan lebih memperhatikan orang lain. Maka dari itulah aku yang memperhatikan dirinya, akulah yang menjaganya ...,” Anggela memejamkan matanya.

“Tapi aku malah gagal ...,” lanjutnya amat sedih dan menundukkan kepala. Dirinya benar-benar terlihat frustasi.

“Kakak ...,” Anggelina hanya terdiam sedih melihat Kakaknya yang bersedih.

“Maaf maaf, ayo kita pulang ...,” senyum Anggela yang dipaksakan, dia berdiri dari kursinya dan mengangkat barang belanjaan Anggelina.

“Biar aku saja Kak, aku merasa tidak enak –“

“Apa kamu juga ingin bersikap seperti dirinya?!” kesal Anggela.

“Ti-tidak, bukan begitu Kak –“

“Dengarkan aku Anggelina ..., jangan pernah bersifat baik seperti Halsy. Kebaikan yang berlebihan benar-benar sifat yang paling kubenci.”

“Lalu jika kakak membenci sifatnya, kenapa Kak Anggela malah bertunangan dengannya?”

“Karena aku mencintainya, aku siap menerima apapun yang ada pada dirinya. Meski aku sangat membenci sifatnya ..., tapi tetap saja dia adalah gadis yang paling berharga dalam hidupku,” senyum Anggela melihat adiknya, lalu dia berjalan pelan menuju pintu keluar taman.

Jadi kakak sangat mencintai kekasihnya yah ..., dia masih mencintainya bahkan setelah kekasihnya telah menyerang dirinya,” batin Anggelina, dia memegang dadanya dengan tangan kirinya. Dia memasang wajah sedih pada Anggela, wajah sedih yang terlihat habis dicampakkan.

“Ayo Anggelina! Sebentar lagi langit gelap, kita harus segera pulang.”

“Emm, iya Kak,” senyum sedih Anggelina berjalan pelan menghampiri Kakaknya.

Pagi hari pun datang, hari yang baru bagi semua orang.

Anggela dan Anggelina berjalan melewati pintu masuk kelas. Ya, mereka satu kelas dalam sekolah tersebut. Suasana menjadi sangat berbeda saat keduanya memasuki kelas.

Suasana yang sebelumnya sangat berisik menjadi hening dalam sekejap. Semua siswa melihat mereka berdua.

Siswa laki-laki melihat Anggelina, dan siswa perempuan melihat Anggela.

Begini lagi? Mau sampai kapan ini berlanjut, padahal sudah lebih dari tiga minggu kami bersekolah disini.” Anggela mengeluh dalam hatinya, dia berjalan melewati para siswa perempuan yang melihatnya.

Dia duduk di kursi paling belakang yang berada di tengah. Sedangkan Anggelina hanya mengikuti kakaknya dan duduk di samping kursi kakanya.

Selama pelajaran Anggela hanya tiduran di atas bangkunya, dia sama sekali tidak memperhatikan pelajaran kelas.

Berbanding terbalik dengan Anggela, Anggelina sang adik terlihat sangat antusias mengikuti pelajaran. Dia menjawab sangat cepat saat sang guru menanyakan beberapa pertanyaan pada seluruh murid.

Ya, pelajaran yang didapatkan oleh Anggela dan Anggelina bagaikan pelajaran SD di masa depan. Bahkan orang normal dari masa depan juga akan dapat dengan mudah mengikuti pelajaran di masa itu, apalagi jika kineser tingkat atas seperti mereka.

Kenapa dia harus seserius seperti itu?” Anggela bergumam sedikit kesal melirik adiknya.

“Anggela! Bapak perhatikan selama ini kamu hanya tiduran saja di kelas! Coba kerjakan soal –“

Anggela lekas berdiri dan mengerjakan soal tersebut sangat cepat. Di papan tulis terlihat rumus yang panjang dengan hasil yang sangat akurat sampai angka desimal terkecil, benar-benar hasil yang bagaikan sebuah pengerjaan kalkulator.

“Be-benar ...,” Guru tersebut terdiam terkejut dan bergumam dalam hati. “Level mereka berdua benar-benar sangat jauh dari yang lainnya. Kenapa mereka harus bersekolah disini?”

Anggela kembali berjalan pelan dan duduk di kursinya, dia kembali tiduran di atas mejanya. Para siswa perempuan menjadi sangat kagum padanya termasuk adiknya sendiri. Dan para siswa lelaki menjadi semakin iri padanya.

“Kakak kamu heb –“ bisik pelan Anggelina.

“Kenapa kamu juga memasang wajah bodoh seperti itu? Aku tidak mengerti kenapa mereka semua –“

Ting Tong!!

Perkataan Anggela terhentikan oleh suara bel istirahat yang cukup keras. Karena mendengar bel istirahat berbunyi, pelajaran pun dihentikan, dan para murid mulai berhamburan keluar kelas,

“Anggelina, tolong seperti biasa,” senyum Anggela melihat sang adik.

“Roti keju, yah? Ok ...,” senyum manis Anggelina lalu pergi keluar kelas bersama siswi lainnya.

Anggelina memang sudah cukup akrab dengan siswi-siswi yang lain, berbeda sekali dengan Anggela yang seperti menjaga jarak dengan para siswa.

Di pintu masuk masih di sekolah yang sama, terlihat seorang gadis dengan rambut bergelombang panjang berwarna merah darah memasuki gerbang.

Gadis tersebut disambut hangat oleh kepala sekolah dan para guru-guru senior. Dia bagaikan orang yang benar-benar penting sampai-sampai di sambut oleh para petinggi sekolah.

Membosankan, semoga ini tidak lama ..., aku harus pergi ke Berlin secepatnya.” Gadis tersebut mengeluh dalam hati.

“Si-silahkan Nyonya Savila, lewat sini ...,” kepala sekolah terlihat segan menunjukan jalan.

“Ohhh terima kasih,” senyum manis gadis yang dipanggil Savila.

Cantiknya ...,” gumam beberapa guru melihat Savila.

Mereka berjalan melewati lorong menuju ruang kepala sekolah. Di arah berlawanan, terlihat juga Anggelina yang berjalan di lorong tersebut, dan tentu saja tujuannya adalah kantin sekolah.

Anggelina terlihat tertawa bersama teman-temannya, dia bercanda tawa dengan teman-temannya hingga wajahnya terlihat sangat bahagia.

Savila yang merasa terganggu mulai melirik para siswa tersebut, melihat Anggelina dan yang lainnya.

Dalam sekejap Savila menghentikan langkahnya, tubuhnya bergemetar, dia memasang wajah yang seakan tidak percaya saat melihat Anggelina.

Saat mereka berpapasan, Savila tiba-tiba mundur satu langkah dan hampir terjatuh karena ketakutan. Sedangkan Anggelina hanya kebingungan melirik Savila.

Lalu setelah cukup jauh jarak diantara mereka, jarak antara Anggelina dan Savila. Mereka berdua mulai mengajukan pertanyaan yang sama pada orang-orang terdekatnya.

Siapa gadis itu?” tanya Anggelina dan Savila bersamaan.

“Dia mungkin gadis yang menjadi pemeriksa untuk sekolah kami. Apa sekolah kami masuk tidaknya menjadi sekolah internasional,” jawab teman Anggelina.

“Ooohh gitu, ya udah kita ke kantin,” senyum manis Anggelina lalu berjalan kembali.

“....”

“Dia murid yang baru pindah ke sini tiga minggu yang lalu, namanya Anggelina.” jawab sang kepala sekolah melihat Savila.

Anggelina?!! Kamu pasti bercanda, kan?!!” gumam sangat kesal Savila dalam hatinya, dia benar-benar mengepalkan kedua tangannya.

Wajah Savila berubah menjadi wajah yang penuh dengan kemarahan, dia berjalan sangat cepat menuju pintu keluar sekolah.

“Tung-tunggu Nyonya Savila –“ Kepala sekolah sungguh terlihat khawatir mengejar gadis berambut merah darah itu.

“Kalian masuk kriteria! Sekolah kalian lulus!!” teriak kesal Savila melirik sang kepala sekolah. Setelah itu dia keluar dari gedung sekolah dan menaiki mobil sport mewahnya.

“Eh?” Kepala sekolah dan para guru senior hanya terdiam kebingungan.

Di dalam mobil Sportnya Savila langsung mengeluarkan Handphone yang terlihat sangat canggih. Dia mulai menghubungi seseorang.

“Sambungkan pada para dewan!”

“Maaf Nyonya ..., akses tersebut hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertent –“ jawab seorang wanita yang masih muda.

“Aku Savila Dreamheart!! Cepatlah bodoh!!” teriak sangat kesal Savila.

“Tu-tuan putri?!! Ma-maaf atas ketidaksopana –“ Wanita tersebut terlihat sangat ketakutan ketika mendengar nama Savila.

“Astaga cepatlah!! Apa kau mau kubunuh, hah?!”

“Ba-baiklah.” Wanita tersebut terlihat sangat ketakutan, lalu menyambungkan telepon tersebut secara tergesa-gesa.

“Savila ...?” tanya seorang lelaki tua.

“Iya ini aku Ayah! Aku sudah menemukannya....!”

“Menemukan? Menemukan apa?”

“Sang Frigidity dari ras Arcdemons!”

“Be-benarkah?! Kamu tidak salah orang, kan?!” tanya lelaki tua itu sangat terkejut.

“Aku yakin sekali!! Wajahnya dan warna rambutnya benar-benar sangat mirip!”

“Begitu yah ..., kalau begitu terus amati dia, tunggu kami! Kami akan datang –“

“Biar aku sendiri saja Ayah. Biar aku sendiri saja yang memusnahkannya, membinasakan dirinya!!”

“Aku tau kamu itu sangat kuat Savila, tapi kamu harus bersabar–“

“Ayah! Apa ayah sudah lupa perbuatan apa yang sudah dia lakukan?! Kejahatannya benar-benar tidak dapat diampuni!! Kita harus segera membinasakannya!!”

“Aku tau itu, kejahatannya benar-benar membuat dewa kita murka. Tapi tolong jangan sampai lengah Savila, kita harus –“

“Jika bisa, tangkap dia hidup-hidup Kak! Kita akan membuat dia mendapatkan ganjarannya. Kita akan menyiksanya sampai dia mati!!” teriak seorang gadis merebut telepon sang Ayah, nada bicaranya terdengar emosi seperti Savila.

“Sacca?! Tentu, jika saja aku bisa menangkap dia hidup-hidup. Tapi sepertinya itu mustahil ..., dia adalah Crycokineser terkuat di era ini. Aku akan membakarnya saja dengan api nerakaku ini! Akan kubuat dia merasakan akibatnya karena berurusan dengan ras kita!”

“Ya ..., dia harus mendapatkan ganjarannya!! Dan satu hal lagi Kak.”

“Apa, Sacca?”

“Jangan mati ...,” Sacca sang adik terlihat cukup khawatir.

“Tidak akan pernah. Aku tidak akan mati dengan mudah,” senyum sombong Savila lalu menutup teleponnya.

Anggelina......?! Hmph, nama yang sangat buruk ..., penyamaranmu dapat dengan mudah aku ketahui, Putri kedua dari keluarga Deviluck!

***

My Dearest Jilid 2 Chapter II Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Farhan Ariq Rahmani

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.