14 Desember 2015

My Dearest Jilid 2 Chapter I



MY DEAREST JILID 2
CHAPTER I
AWAL YANG BARU

Bagian Pertama 
Anggela terbangun dari tidur panjangnya, dia menolehkan kepalanya ke kanan berniat mencari tahu letak keberadaanya saat ini. Terlihat sebuah ruangan yang asing baginya, dinding rumah berwarna cat putih yang sudah cukup tua dengan beberapa hiasan foto keluarga.

“Dimana aku?” Anggela mencoba bangun dari tempat tidurnya dan memegang kepalanya yang masih terasa pusing. Dia mulai turun dari tempat tidur, berjalan pelan menghampiri jendela ruangan tersebut.

“Aahhh ..., aku ingat, aku telah kembali ke masa lalu.” Anggela bergumam sambil melihat pemandangan sekitar.

Terlihat pemandangan hijau yang cukup indah, hamparan persawahan yang luas, beberapa gubuk kecil, dan beberapa petani yang sedang bekerja.

Krekkk....

Terdengar bunyi pintu yang terbuka, seorang lelaki paruh baya dengan kumis yang cukup tebal memasuki ruangan tersebut. Dia terkejut bahagia melihat Anggela yang sudah sadar.

“Akhirnya kamu sadar juga nak, adikmu benar-benar khawatir karena kamu yang belum siuman juga.”

“Adikku? Anggelina?”

“Ya, dia sekarang sedang di ladang, membantu para petani.” Lelaki paruh baya tersebut tersenyum melihat Anggela.

“Bisa bawa aku kesana? Ke tempat Anggelina.” Anggela berjalan pelan menghampiri lelaki tersebut.

“Tentu saja, aku akan menunjukan –“

“Ma-maaf bisa aku tau namamu? Rasanya aneh jika kita bisa akrab tapi tidak mengetahui nama satu sama lain.”

“Nama saya Asep, kepala desa di daerah ini.”

“Ohhh ...., saya Anggela, salam kenal.”

“Sa-salam kenal juga.” Asep terlihat gugup saat Anggela mengucapkan kata tersebut.

“Oh iya Pak Asep? Berapa lama aku tidak sadarkan diri?”

“Tiga hari, seharusnya kamu lapar, kan? Apa kamu ingin makan terlebih dahulu?”

“Tidak, aku tidak ingin merepotkanmu lebih jauh. Tolong antarkan saja aku ke tempat Anggelina berada.”

“Baiklah ...., ikuti aku,” senyum Asep sambil berjalan keluar ruangan, sedangkan Anggela hanya berjalan mengikutinya.

Mereka berdua terlihat berjalan di pinggiran sawah. Pemandangan indah yang berwarna hijau lah yang dilihat Anggela saat itu. Udara yang masih segar, suasana alam yang asri benar-benar terasa oleh Anggela saat dia berjalan bersama Asep.

Asep hanya tersenyum melihat Anggela yang terkagum-kagum menikmati suasana alam.

“Apa ini pertama kali kamu datang ke pedesaan?” Asep tersenyum membuka pembicaraan.

“Y-ya, ini pertama kalinya bagiku.”

“Bukankah sangat nyaman?”

“Ya ..., hatiku terasa tentram.”

Selama perjalanan mereka bercakap-cakap, saling mengenal satu sama, dan tidak terasa kalau mereka sudah sampai ditempat tujuan.

Terlihat Anggelina yang sedang beristirahat dengan gadis lainnya. Dia bercakap-cakap dengan gadis yang seumurannya.

“Anggelina!” teriak Asep dari kejauhan.

Anggelina berbalik dan melihatnya, wajahnya lansung bahagia ketika dia melihat Asep, mungkin lebih tepatnya melihat Anggela, Kakak kandungnya. Dia berteriak dan berlari cepat menghampiri mereka berdua.

“Kak Anggela!”

Anggela hanya tersenyum melihat tingkah adiknya yang seperti anak-anak.

“Kakak sudah bangun?” tanya Anggelina yang tersenyum bahagia.

“Apa aku harus menjawabnya....? Jika aku belum bangun, mana mungkin aku bisa berdiri disini.”

“Hahahahahahaha.”

“Kenapa kamu malah tertawa.” Anggela memasang wajah keheranan.

“Tak apa, aku hanya senang saja haha.”

“Begitu ...., maaf Anggelina, kakak bangun terlalu lama. Kakak dengar kalau kakak tidur selama –“

“Tak apa kak! Yang penting Kakak selamat.” Anggelina memeluk Anggela, dia menitiskan air mata kebahagiaan.

“.....” Melihat tingkah keduanya, semua orang disana hanya menatap penasaran Anggela dan adiknya.

“Emmm maaf ...., apa kalian benar-benar saudara kandung?” tanya seorang gadis dibelakang Anggelina. Gadis yang sebelumnya sedang bercakap-cakap dengan Anggelina.

“Aku juga penasaran, apa kalian benar-benar saudara kandung?” tanya Asep khawatir.

Mereka pasti tidak percaya, wajar saja ..., wajahku tidak mirip dengan Anggelina,” senyum Anggela dalam hati.

“Kami benar-benar saudara kandung kok! Meski mukanya jelek, dia adalah Kakak kembar aku!” teriak Anggelina menunjuk muka Anggela, dan tentu saja seluruh orang yang berada disekitarnya dalam sekejap melihat Anggela.

“Jelek?” tanya beberapa orang kebingungan.

Je-jelek? Dia memang mengesalkan seperti biasanya.” Anggela bergumam kesal menutup matanya.

“Hey Anggelina, kenapa kamu ini –“ geram kesal Anggela tetapi.

“Kami tidak mempermasalahkan wajah kalian, lagipula Anggela tidak jelek. Dia cukup tampan, malahan sangat tampan menurut kami.”

“Begitukah? Bukankah bagus Kak, mereka bilang kalau Kakak tampan! Sebenarnya aku juga berpikir seperti itu, berpikir kalau Kak Anggela cukup tampan ....., mungkin,” Anggelina menepak punggung Anggela, dan untuk sesaat dia memalingkan wajahnya.

“Aku tidak senang mendapat pujian darimu, dan apa maksud kata mungkin tadi, hah!?” geram kesal Anggela melirik sinis adik kembarnya.

“Bu-bukan apa-apa kak, itu hanya kiasan.”

“Kiasan? Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Bagus kalau kakak tidak mengerti, yang lebih penting kenapa kalian menganggap kami bukan saudara kandung? Kalian tidak mempermasalahkan wajah kami, tapi kenapa kalian ragu? Padahal warna rambutku sama dengannya.” Anggelina terlihat berpikir.

“Penampilan kalian berdua sangat menarik dan mempunyai aura tersendiri. Kamu sangat cantik, dan  kakakmu juga sangat tampan. Sikap kalian lebih mirip seperti sepasang kekasih daripada saudara kandung, bagaikan sang pangeran dan sang putri.”

“Ak-aku dan Kak Anggela sepasang kekasih?! Ahahahahaha, itu tidak mungkin, ya kan Kak?!” Anggelina terlhat sangat gugup sambil memukul keras punggung Anggela. Wajah Anggelina saat itu benar-benar memerah.

Duaak!!

“Apa yang kamu lakukan!!” teriak Anggela sambil merintih kesakitan.

“Ma-maaf Kak, Anggelina gak sengaja.” Anggelina terlihat menyesal.

“Ya tak apa, lain kali awas jika kamu mengulanginya!”

“Yaaa.” Anggelina menundukan kepalanya.

“Jadi ...., bisa aku tau namamu?” tanya Anggela melihat teman barunya Anggelina.

“Aaahh ..., maaf atas ketidaksopananku, namaku Suci.”

“Suci, kah? Kamu juga terlihat cantik kok ..... Rambut hitammu, kulit berwarna sawo matangmu itu menandakan kalau kamu orang Asia asli,” senyum Anggela.

“Be-benarkah? Ka-kamu pasti hanya menggodaku, kan?” Suci terlihat gugup karena perkataan Anggela.

“Aku tidak tau apa aku menggodamu, tapi aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan,” senyum Anggela melihat kembali Suci.

“Berhenti menggodanya kak, bukankah banyak yang harus kamu jelaskan padaku?” senyum sinis Anggelina pada kakaknya dan berjalan menjauhi mereka.

“Iya, sebenarnya ada yang harus kubicarakan denganmu, Anggelina.” Anggela berjalan mengikuti adiknya, lalu untuk sesaat dia berbalik dan berkata, “Aku ingin berbicara dengannya sebentar, kalian bisa mengabaikan kami.”

“Ya ba-baiklah,” jawab Asep dan Suci.

Anggela dan adiknya berjalan pelan melewati persawahaan, mereka terlihat sedang menikmati suasana alam saat itu. Meski matahari sudah meninggi, kicauan beberapa burung masih terdengar saat itu. Lalu ditengahnya suasana hening, Anggelina mulai bergumam tersenyum.

“Jadi seperti ini yah pedesaan itu, jadi ini tempat yang kakek ceritakan dulu.”

“Aku juga baru pertama kali datang ke pedesaan, suasananya terasa sangat menenangkan,” Anggela memejamkan matanya dan untuk sesaat menghentikan langkah kakinya.

“Kak?” tanya Anggelina khawatir, dia juga menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Anggela.

“Hmmm?”

“Aku ingin menanyakan tenta –“

“Kita sudah kembali ke masa lalu Anggelina,” Anggela menjawab pelan pertanyaan adiknya yang belum terselesaikan, dia terus menutup matanya seolah-olah sedang menikmati angin yang bertiup pelan.

Wushhh.......

“Aku tau itu, tapi kenapa? Kenapa kita bisa kembali ke masa lalu?!”

“Itu yang aku tidak tau, tapi ada satu hal yang mungkin kutau pasti.”

“Ap-apa?”

“Pasti ada alasan kenapa kita bisa sampai ke masa ini, pasti ada suatu takdir besar yang kita hadapi di masa ini.”

“Ak-aku juga sempat berpikir seperti itu, tapi apakah kita dapat kembali, apa kita dapat kembali ke masa depan?”

“Entahlah ...., aku juga tidak tau.” Anggela membuka mata dan menatap khawatir adiknya.

“Kakak juga tidak tau? Lalu kita harus bagaimana sekarang?! Tinggal disini? Tinggal di desa ini selamanya?! Aku tidak mau itu Kak! Aku ingin bertemu dengan Kak Keisha dan yang lainnya!”

“Aku juga tidak mau. Kita tidak punya pilihan lain selain bergerak maju, pertama-tama kita harus mencari informasi tentang dunia ini, mencari orang yang berasal dari masa depan seperti kita. Mungkin Kak Keisha dan yang lainnya juga mengalami nasib seperti kita.”

“Bergerak maju? Mencari informasi?! Bagaimana caranya?!”

“Siapkan dirimu Anggelina, perjalanan kita akan sangat panjang. Kita akan mencari tau alasan kita didatangkan ke masa ini, kita akan mencari tahu cara pulang ke masa depan.”

“Apa kita akan meninggalkan desa ini?” khawatir Anggela bertanya.

“Jika kamu ingin tinggal disini, aku tidak akan melarangmu.”

“Ak-aku ikut!! Aku pasti ikut Kak Anggela kemanapun!”

“Baguslah, lalu hal yang pertama kita lakukan adalah kita harus berpamitan pada mereka.”

“Ya, kita harus mengucapkan selamat tinggal pada Suci dan yang lainnya.” Anggelina terlihat sedih.

“Jangan bersedih, mungkin suatu saat nanti kita akan bertemu kembali dengan mereka.”

“Ya.”

***

Bagian Kedua 
Di sebuah ruangan yang cukup sederhana, ruangan yang terlihat seperti ruang tamu. Terlihat Anggela dan Anggelina yang sedang melakukan pembicaraan serius dengan Asep, kepala desa dari daerah tersebut.

Asep secara perlahan mengangkat tangan kanannya, dia mempersilahkan Anggela dan Anggelina untuk menerima jamuannya.

“Silahkan ....”

Anggela hanya tersenyum dan menolak lembut jamuan dari Asep.

“Iya pak terima kasih, tapi saya tidak haus.”

“Ak-aku juga pak.” Anggelina tersenyum manis.

“Ap-apa kalian tidak suka kopi?” Asep terlihat sedih menatap keduanya.

“Tidak, bukan seperti itu pak. Kami hanya tidak ingin merepotkan bapak lebih jauh,” khawatir Anggela.

“Kalian sama sekali tidak merepotkan kami. Jika kalian ingin, kalian bisa tinggal disini selama yang kalian mau.”

“Terima kasih atas kebaikan bapak, tapi kami harus pergi. Kami harus mencari seseorang,” senyum Anggela.

“Mencari seseorang?” tanya Asep penasaran dan mengkerutkan dahinya.

“Ya, seseorang seperti kami, seseorang yang berasal dari masa depan!” Anggelina langsung menjawab.

“Anggelina!” teriak kesal Anggela pada adiknya yang keceplosan.

“Ma-maaf Kak ...., ak-aku tidak sengaja.”

Anggela terlihat khawatir dan menundukkan kepala.

“Ya sudahlah –“ Anggela terlihat masih kesal memejamkan mata, tapi perkataanya tersanggah oleh lelaki tua di depannya.

“Seseorang dari masa depan, yah? Tiga tahun yang lalu juga ada yang mengaku dari masa depan, dia juga sama seperti kalian. Dia muncul secara tiba-tiba di desa kami.

“Be-benarkah?!” tanya Anggelina terkejut gembira, dia berdiri menatap tajam Asep.

“Ya, tapi apa kalian ini benar-benar dari masa depan?!”

“Ya kami dari masa depan!! Lau siapa dia?! Cepat katakan –“ paksa Anggelina yang penuh harapan.

“Anggelina .....,” senyum Anggela menatap tajam adiknya. Nadanya terdengar sangat berat seolah menahan amarah.

“Ya-yaa ...”

Anggelina hanya memasang wajah khawatir, perlahan dia memalingkan wajah dari kakaknya yang tersenyum padanya.

Gadis berambut putih itu kembali duduk sambil menundukkan kepalanya.

“Maaf atas sikap dari Adikku yang kurang sopan .... Tapi bisa kami tau dimana dia sekarang? Seseorang yang mengaku dari masa depan itu?” tanya Anggela sambil memegang kepala adiknya.

“Dia berada di Bandung, ibu kota Jawab Barat.”

“Bandung? Bi-bisa kami tau dimana itu?”

“Hmmm ...., cukup sulit menjelaskannya, apa kalian ingin pergi kesana?”

“Ya ..., kami ingin pergi kesana, mencari orang yang mengaku dari masa depan itu,” Anggela tersenyum.

“Jika kalian ingin, kalian bisa pergi bersamaku nanti pagi? Aku akan mengantar kalian.”

“Benarkah?! Apa kamu ingin mengantar –“ Anggelina terlihat antusias, tapi.

“Tung-tunggu bukankah itu terlalu merepotkan untuk anda?! Kami hanya ingin tau arahnya saja, anda tidak usah mengantar –“

“Tak apa, aku juga memiliki beberapa urusan disana.”

“Benarkah?” tanya Anggela.

“Ya, jika kalian ingin ikut ...., aku akan dengan senang hati membawa kalian.”

“Ka-kakak!” Anggelina tersenyum bahagia melihat Kakaknya.

“Ba-baiklah, aku terima tawaran anda. Mohon maaf karena merepotkanmu sekali lagi!”

“Tak apa. Sudah kubilang kalian tidak merepotkanku, kok!” Asep tersenyum bahagia.

Anggela hanya tersenyum melihat sikap baik dari kepala desa itu. Dia tidak menyangka kalau orang-orang di masa lalu sangat baik seperti ini.

Hanya sedikit orang yang memiliki sifat seperti ini di masa depan, orang-orang di masa depan kebanyakan mementingkan kepentingan diri mereka sendiri.

~~~

Besok pagi pun tiba, pagi yang menjadi awal bagi Anggela dan Anggelina memulai perjalanan mereka.

Suhu dingin, kicauan burung, dan pancaran sinar matahari yang hangat telah membangunkan mereka berdua, membangunkan sang kembar dari alam mimpinya.

Meski mereka saudara kandung, mereka tetap tidur secara terpisah, terhalang oleh sebuah tembok yang cukup kuat.

Krekkk .....!

Anggela membuka pintu ruangan tempat adiknya tertidur. Dia tersenyum dan berkata,

“Anggelina sudah pagi, cepatlah bangun atau kakak tinggalkan kamu di desa ini.”

Anggelina yang mendengar perkataan tersebut langsung terbangun dari tidurnya. Wajahnya menggambarkan kalau dirinya masih belum sepenuhnya kembali ke dunia nyata.

Wajah Anggelina seketika berubah menjadi wajah sedih dan hampir mengeluarkan air mata, seolah-olah kata yang baru dikatakan oleh kakaknya telah menyakiti hatinya. Dengan wajah sedih itu dia berkata.

“Ka-kakak, jangan tinggalkan aku ....”

Anggela segera berjalan pelan menghampiri Anggelina, lalu dia secara perlahan mengusap pelan kepala Adiknya. Dia tersenyum dan berkata.

“Kakak bohong, jangan masukan ke dalam hati dong.”

Wajah gembira langsung terlihat dari Anggelina saat kakanya berkata seperti itu. Dia tersenyum manis sambil turun dari tempat tidurnya. Sedangkan Anggela mulai berjalan menuju pintu keluar sambil menutup matanya.

“30 menit, kakak kasih kamu waktu 30 menit untuk bersiap-siap.”

“Siap!” senyum manis Anggelina.

Anggela berjalan ke arah ruang tamu. Dia duduk di atas kursi dan kembali memikirkan tentangnya, tentang gadis yang dicintainya, gadis yang paling berharga dalam hidupnya. Dia berpikir keras tentang alasan Halsy melakukan semua itu.

Dia juga berpikir, “apa kedatangan kami ke dunia ini juga ulah Halsy?”

Wajah serius Anggela yang memikirkan tentang Halsy tiba-tiba dihancurkan kembali oleh Anggelina. Dia menepuk pundak Anggela sambil berkata.

“Aku sudah siap Kak!”

Anggela yang cukup terkejut mulai tersadar dari pikirannya. Dia secara perlahan berdiri dan berjalan pelan menuju pintu keluar.

“Ayo kita pergi Anggelina.”

“Emmm,” senyum Anggelina menganggukkan kepalanya.

Mereka akhirnya berangkat, Anggela dan Anggelina akhirnya memulai perjalanan mereka.

Mereka menaiki sebuah kendaraan besar yang berwarna kuning. Orang-orang di masa ini menyebut kendaraan besar berwarna kuning itu dengan sebutan mobil truk.

Selama perjalanan, Anggela dan Anggelina hanya terdiam melihat-lihat pemandangan sekitar. Terlihat tatapan dari mereka berdua yang terkagum-kagum melihat keindahan alam sekitar.

Jalan sempit dekat dengan tebing curam dilewati mereka. Lalu dibawah tebing tersebut terlihat hamparan sawah yang amat luas. Hal tersebut membuat perasaan kagum sekaligus takut bagi Anggelina.

Dia sesekali memegang erat lengan baju kakaknya, sedangkan Anggela hanya tersenyum melihat tingkah adiknya yang kekanak-kanakan.

Tiga puluh menit telah terlewat, akhirnya Anggela sampai di tempat tujuan yakni kota Bandung. Dia dan Anggelina bergegas turun dari mobil Asep ketika dia mengetahui kalau dirinya sudah sampai di kota tujuannya.

“Tu-tunggu, kamu tidak usah terburu-buru seperti itu.”

Asep terlihat khawatir menatap si kembar turun dari mobilnya.

“Tak apa pak, kami merasa tidak enak karena terus merepotkan bapak. Ya kan, Anggelina?” senyum Anggela.

“Iy-iya, kami tidak enak selalu merepotkan Bapak.”

Khawatir Anggelina yang memejamkan matanya.

“Astaga, sudah kubilang, kalian tidak merepotkanku kok .... Tapi jika ini keinginan kalian, aku tidak bisa berbuat apa-apa,” keluh Asep memejamkan mata.

“Terima kasih bantuan anda selama ini, pak!” Anggela sedikit menundukkan kepalanya. Dirinya sungguh berterima kasih pada lelaki berkumis itu.

“Tak apa tak apa, jika kalian memerlukan bantuanku. Mampirlah ke kota Garut, aku pasti akan membantu kalian disana.”

“Ba-baiklah!”

Setelah perpisahan yang cukup singkat tersebut, Anggela dan Anggelina kembali melanjutkan perjalanannya. Meski mereka tidak tau tujuan mereka saat ini, mereka tetap terus berjalan ke depan.

Tentu saja karena wajah, warna rambut, dan aura bangsawan mereka. Mereka menjadi pusat perhatian pada sebuah pusat perbelanjaan.

Tatapan kagum dan tatapan penasaran benar-benar diberikan beberapa pengunjung pada keduanya.

“Cantiknya ...., artis luar negeri, kah?”

“Siapa siapa? Siapa mereka?”

“Orang asing?”

“Auranya beda sekali.”

Anggela hanya terus berjalan. Dia mengabaikan perkataan dan lirikan para pengunjung yang menatap mereka berdua. Dia terus berjalan melewati pusat perbelanjaan tanpa peduli dengan pandangan atau perkataan sekitarnya.

Tapi sebaliknya dengan Anggelina, dia hanya terus memegang erat tangan kakaknya, wajahnya terlihat kalau dia tergangu, mungkin sangat terganggu. Dia terlihat ketakutan karena mendapatkan tatapan para pengunjung yang sangat banyak.

“Ka-kakak ....”

Anggelina semakin memegang erat tangan kanan kakaknya.

“Abaikan mereka, Anggelina,” datar Anggela dengan pandangat ke depan.

“Ta-tapi orang-orang itu terlihat menakutkan, mereka terlihat mau me-memakanku.” Anggelina melirik khawatir sekitarnya.

“Mereka hanya mengangumi,” senyum Anggela memejamkan mata.

“Be-benarkah? Ta-tapi ini sangat berbeda saat aku berada di HoK.”

“Begitu.” Anggela tersenyum melirik adiknya.

Pada akhirnya mereka keluar dari pusat perbelanjaan tersebut. Mereka beristirahat di taman kota dan duduk di sebuah kursi sambil memasang wajah yang sangat kelelahan.

“Kakak, sebenarnya kita ini mau kemana sih?” keluh Anggelina tak senang, dirinya terlihat memejamkan mata karena kelelahan.

“Entahlah, Kakak juga hanya terus berjalan,” senyum Anggela sambil bersandar pada kursi yang ia duduki.

“Aku lapar ...,” keluh Anggelina mulai ikut bersandar seperti kakaknya.

“Kakak juga.”

“Nanti malam kita tidur dimana, kak? Jangan bilang kalau kita tidur di luar? “

“Mau bagaimana lagi Anggelina, kita tidak punya tempat tinggal disini .... Jadi –“
  
“Jika kalian tidak keberatan, kalian boleh menginap ditempatku.”

Seorang gadis cantik berambut coklat yang terurai panjang tiba-tiba datang menghampiri mereka. Warna matanya sangat mirip dengan warna rambutnya. Dia perlahan duduk di samping Anggelina.

“Eh?” Anggelina dan Anggela terdiam terkejut melihat gadis tersebut.

“Bukannya eh ..... kalian mau tidak? Aku tidak memaksa kok,” senyum gadis itu yang menawan.

“Ke-kenapa?” tanya khawatir Anggela melirik gadis itu.

“Ap-apa aku dan Kak Anggela mengenal anda?” lanjut Anggelina melirik gadis itu.

“Tidak, ini pertama kalinya kita bertemu. Tapi ...., aku punya alasan tersendiri mengundang kalian ke rumahku.” Gadis tersebut tersenyum sedih memejamkan matanya

“Ap-apa itu?” tanya khawatir Anggela

“Bukan hal yang penting ....,” senyum sedih gadis itu membuka matanya.

“Tapi apa kalian mau mengunjungi rumahku terlebih dahulu?” lanjutnya melihat Anggela dan Anggelina.

“Baiklah,” senyum Anggelina bahagia.

“Tu-tunggu Anggelina!! –“ khawatir Anggela melirik gadis itu.

“Tak apa kak, bukankah kurang sopan menolak kebaikan seseorang.”

Anggelina hanya tersenyum melihat kakaknya.

“Y-ya kamu tidak salah ...,” Anggela hanya memalingkan wajahnya.

Pada akhirnya, mereka berjalan pelan mengikuti wanita tersebut. Ketika perjalanan suasana terasa sangat hening hingga sang gadis itu memulai percakapan. Dia tersenyum melihat Anggela dan Anggelina.

“Rumahku dekat kok, sebentar lagi sampai.”

“Y-ya,” jawab gugup keduanya.

“Ngomong-ngomong, bisa aku tau nama kalian berdua?” senyum wanita tersebut melihat Anggela dan Anggelina.

“Sa-saya Anggelina, dan ini Kakak saya, Anggela,” senyum manis Anggelina sambil melirik Anggela.

“Anggela dan Anggelina, yah? Kalian berdua terlihat berbeda dengan yang lainnya, kalian sangat menawan.”

“Te-terima kasih atas pujiannya ...., tapi bisa aku tau nama anda nyonya?” tanya Anggela penasaran.

“Namaku? Ahhh iya ..., aku belum memperkenalkan namaku, bodohnya diriku.”

“Jadi?” Anggelina terlihat penasaran.

“Baiklah, perkenalkan nama saya ...... Hana Aeldra. Senang berkenalan dengan kalian berdua,” senyum wanita tersebut memejamkan matanya.

Seketika Anggela langsung terdiam menatap terkejut wanita tersebut, dia juga tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.

Dia hanya berkata cukup pelan melihat Hana yang terlihat kebingungan melihat sikapnya.

Ae-Aeldra ....?!”


***

My Dearest Jilid 2 Chapter I Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Farhan Ariq Rahmani

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.