29 Desember 2015

My Dearest Jilid 2 Chapter III



MY DEARESTJILID 2 
CHAPTER III
KEADAAN YANG MENGKHAWATIRKAN


Bagian Pertama
Beberapa hari setelah pertemuan Anggelina dengan Savila.
Sekitar jam 07:00 PM di kediaman Hana Aeldra. Terlihat Anggelina yang sedang meminum coklat panasnya, dia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimbut yang cukup tebal.
Disampingnya terlihat Anggela yang memakai pakaian cukup terbuka, dia terus menonton TV seperti halnya Anggelina. Terlihat juga cemilan berupa es krim rasa vanila dalam sebuah gelasnya.
Hana yang baru berjalan memasuki ruang tengah hanya terdiam kebingungan melihat tingkah mereka berdua. Dia tersenyum melihat kondisi Anggelina dan Anggela yang saling bertentangan, mereka bagaikan kutub utara yang dingin dan padang pasir yang panas.
“Ada apa dengan kalian berdua? Ini bukan musim dingin atau musim panas, kan?” senyum khawatir Hana melihat keduanya.
“Ma-maaf Kak Hana, Anggelina hanya tidak tahan dingin...,” senyum gadis berambut putih itu sambil menyimpan coklat panasnya.
“Kamu tidak tahan dingin? Meski kamu tipe Crycokinesis? Aneh sekali,“lirik Anggela meledek adiknya.
“Ap-apa boleh buat! Aku memang tidak tahan dengan udara dingin!” teriak kesal Anggelina.
“Sudah sudah, jangan bertengkar,” senyum Hana mulai duduk di samping Anggela.
“....”
“Bagaimana dengan sekolah kalian?” lanjutnya bertanya melihat Anggelina dan Anggela.
“Aku baik-baik saja, Kak. tapi kak Anggela hanya tiduran di kelas saja!” tunjuk Anggelina pada kakaknya.
“Eh? Benarkah? Padahal laporan nilai kemarin Anggela mendapatkan nilai yang lebih tinggi darimu, Anggelina.”
“Kalau itu tentu saja, jangan membandingkanku dengan kakak dalam hal pemahaman. Sudah jelas dia lebih cepat pintar dariku.”
“Anggelina, kenapa kamu selalu berlebihan seperti it –“ lirik kesal Anggela pada adiknya.
“Tapi itu kenyataan, kan? Diantara aku, kak Keisha, dan Kak Anggela. Kakak lah yang paling jenius! kak Keisha juga berkata seperti itu.”
“Kak Keisha?” Hana terlihat kebingungan melihat Anggelina.
“Oh, itu kakak tertua kami.”
“Begitu, tapi aku tidak menyangka kalau kalian sangat jenius. Benar-benar diluar perkiraanku,” senyum Hana cukup terkejut.
“Apa Kakak bangga pada kami sekarang?!” Anggelina terlihat gembira melihat Hana.
“Aku memang bangga dengan hasil kalian yang sungguh menakjubkan. Kalian bahkan langsung menduduki posisi pertama dan kedua di sekolah tersebut. Tapi ..., aku akan lebih bangga lagi jika kalian mendapatkan pengalaman dalam sekolah kalian sekarang,” senyum Hana sambil memejamkan matanya.
Anggela dan Anggelina hanya terdiam terkejut. Perkataan Hana yang cukup sederhana tersebut membuat mereka berdua terdiam tanpa sepatah kata apapun.
Dan tentu saja secara otomatis suasana menjadi sangat hening, Anggelina dan Anggela hanya terus terdiam melihat Hana yang sedang memejamkan matanya.
“Eh? Apa perkataanku ada yang salah? Apa perkataanku menyinggung kalian berdua?” Hana membuka matanya, dia terlihat khawatir melihat Anggelina dan Anggela yang terdiam.
“Ti-tidak Kak! Ak-aku hanya tersentuh dengan perkataan Kakak tadi ..., aku tidak menyangka kalau Kakak sangat memperhatikan kami berdua,” Anggelina terlihat gugup.
“Aku juga cukup terkejut,” Anggela memejamkan matanya dan memakan es krim vanilanya.
“Begitu, syukurlah ..., aku pikir kalau aku sudah mengatakan hal yang egois,” senyum Hana.
Mereka terus bercengkrama sambil menonton televisi, sesekali mereka juga tertawa bahagia saat melihat film lucu yang di tayangkan oleh televisi. Mereka benar-benar terlihat bagaikan sebuah keluarga yang bahagia.
Malam semakin larut, wajah Anggela dan yang lainnya terlihat semakin lelah karena aktivitas yang mereka lakukan hari tersebut.
“Sepertinya sudah waktunya,” Hana sambil berdiri dari tempat duduknya.
“Kamu benar, Kak,” senyum Anggela melirik Anggelina yang sudah tidak kuat menahan kantuknya. 
“Anggelina, ayo ...,” senyum Hana lalu berjalan ke arah kamarnya. 
“Emmm.” Anggelina berdiri lalu mengikuti Hana. Sedangkan Anggela berjalan menuju kamar yang berbeda, kamar lelaki yang sebelumnya digunakan oleh adik kandung Hana. 
~~

Esok harinya datang, hangatnya mentari kembali menyapa Anggela dan yang lainnya. Anggela terbangun oleh kicauan burung dan teriknya matahari, dia turun dari kasurnya dan berjalan pelan menuju kamar mandi.
Saat dia ingin membuka pintu kamar mandi, tiba-tiba tangannya tidak sengaja bersentuhan dengan Anggelina. Mereka berdua memasang wajah yang sama, Anggela dan Anggelina memasang wajah yang seakan-akan setengah jiwanya masih di alam lain.
“Ah?” Anggela mulai tersadar dan melihat Anggelina.
“Ka-kakak ...?” Anggelina mengusap-ngusap matanya, dia terlihat seperti memastikan bahwa orang yang sedang berhadapan dengannya adalah kakak kandungnya.
“Memangnya siapa lagi?” Anggela mengeluh kesal dan berbalik, dia mulai berjalan menuju ruang tamu.
“Aku duluan yah, Kak?”
“Iya iya, cepatlah ..., aku tidak mau kesiangan.”
“Ehh ..., sejak kapan Kak Anggela jadi rajin –“
“Aku tidak mau kena omelan guru, cepatlah Anggelina! Atau kakak yang duluan!” Anggela terlihat kesal dan melihat adiknya.
“Cerewetnya..., iya aku mau masuk sekarang!” Anggelina sambil membuka pintu kamar mandi.
Anggela hanya duduk di kursi sambil menunggu adiknya selesai mandi, sesekali dia tertidur kembali dengan handuk yang menutupi mukanya.
~~
KREKKK!!
Beberapa menit setelah kejadian tersebut, suasana yang sebelumnya cukup damai berubah drastis menjadi suasana yang cukup tegang. Pintu rumah Hana terbuka cukup cepat,terlihat Anggela yang sedang berlari diikuti dengan adiknya
“Cepat Anggelina! Kita hampir terlambat.” Anggela terlihat khawatir sambil terus berlari.
“Memangnya salah siapa kita bisa terlambat?! Kenapa kakak malah tidur kembali di atas sofa!” Anggelina sangat kesal sambil terus berlari mengejar kakaknya.
“Sudah jangan membahas masalah yang sepele seperti itu! “
“Masalah sepele ...?! Arghh...!! Pokoknya aku tidak mau tahu!! Jika aku terlambat, semuanya karena Kakak, semuanya salah Kakak!!”
“Berisiknya ..., cepatlah, kamu tidak mau terlambat, kan?
“Kakak yang berisik!!”
Mereka berlari sangat cepat menuju sekolah, mereka berharap kalau mereka bisa sampai tepat waktu. Anggela dan Anggelina mulai terbiasa hidup di masa tersebut, mereka sedikit demi sedikit melupakan misi utamanya datang ke kota Bandung.
Bel masuk telah berbunyi. Bunyi bel tersebut menggema cukup keras ketika Anggela dan Anggelina melewati gerbang sekolah. Benar-benar suatu kebetulan yang diharapkan oleh keduanya kalau mereka bisa tepat waktu sampai ke sekolah.
“Ki-kita tepat waktu ..., hah hah hah...,” Anggelina mengambil nafas kelelahan.
“Ayo Anggelina..., pertarungan masih belum selesai, kita harus berlari lagi menuju kelas.”
“Ka-kakak benar .... Kelas kita kan dilantai tiga.”
“Iya, sekarang pertarungan yang sesungguhnya .... Kita harus menaiki tangga dua kali.”
“Aku lelah Kak..., gendong aku!”pinta Anggelina pada kakaknya.
“Haah?! Apa kamu anak kecil? Jangan manja seperti itu!!”
“Memangnya ini salah siapa?!”
“Cepatlah, kenapa kamu masih membahas masalah itu lagi!” Anggela lalu menarik tangan adiknya dan kembali berlari.
Anggelina pun ikut berlari mengikuti kakaknya, dia bergumam sinis sambil memalingkan wajahnya, “menyebalkan....”
“Apa katamu?!”
“Tidak, bukan apa-apa,” senyum manis Anggelina melihat kakaknya.
Mereka akhirnya sampai di kelas. Tapi untung saja karena guru yang mengajar belum sampai di kelas. Mereka hanya bernafas lega sambil beristirahat di atas bangkunya.
Sesekali para siswa memandang siswa kembar tersebut, mereka tersenyum keheranan melihat Anggela dan Anggelina yang bersikap seperti itu.
Pelajaran baru pun dimulai, tidak ada yang berbeda dari hari biasanya. Anggelina seperti biasa menjawab pertanyaan guru sangat cepat dan tepat, dan seperti biasanya juga Anggela hanya tiduran di atas bangkunya.
Bel istirahat berbunyi, lalu setelah Anggelina pergi ke kantin dan memakan makanannya. Anggelina mengambil kursinya dan duduk di dekat bangku kakaknya, dia bertanya dengan nada khawatir.
“Kak ..., apa Kakak tidak merasa kalau kita sedang diawasi?”
“Tentu saja kakak merasakannya..., tiap hari kita selalu menjadi pusat perhatian, kan?” senyum Anggela pada adiknya.
“Bu-bukan itu Kak, maksudku diawasi oleh musuh ..., aura yang seperti ingin membunuh kita.”
“Aku tidak merasakannya, itu mungkin cuman perasaanmu saja,” senyum Anggela melihat adiknya.
“Tidak kak! Aku yakin kalau kita sedang dibuntuti!! Mungkin dia juga Kineser,” khawatir Anggelina.
TING TONG!
“....”
“Baiklah ..., kita akan menangkap orang itu. Jadi pergilah dari mejaku, bel masuk sudah mau berbunyi,” sinis Anggela.
“Iya, iya!” Anggelina terlihat kesal, dia berjalan kembali ke tempat duduknya sambil menarik kursinya.
* * *
 Bagian Kedua
Anggelina dan Anggela terlihat berjalan pelan di jalanan yang sangat sepi, mereka berdua yang masih memakai seragam sekolahnya menandakan kalau mereka belum pulang ke rumah Hana. Wajah mereka berdua terlihat khawatir sambil sesekali melirik ke kanan dan ke kiri.
Mereka menghentikan langkahnya di lapangan gedung kosong yang sangat sepi.
“Ka-kamu benar Anggelina, aku merasa kalau kita sedang diawasi,” bisik Anggela melirik adiknya.
“Benar, kan? Bukankah auranya seperti aura pembunuh?”
“Iya, auranya dipenuhi oleh kebencian.”
“Se-sekarang bagaimana Kak?”tanya khawatir Anggelina pada sang kakak.
“Bagaimana? Tentu saja kita selesaikan dia sekarang juga. Lagipula tempat ini sangat sepi, jadi cocok untuk menjadi area pertarungan.”
“Tapi –“
“Siapapun dirimu, keluarlah!! Aku tau kau juga Kineser. Apa kau memiliki urusan dengan kami?!” teriak Anggela cukup kesal.
Dibalik bangunan yang sudah kosong, terlihat seorang gadis yang keluar. Ya, gadis tersebut adalah Savila. Wajahnya menggambarkan kalau dirinya sedang sangat marah.
Aahhh.... gadis yang waktu itu!!” Anggelina cukup terkejut dan bergumam dalam hatinya.
“Siapa kau?!” tanya Anggela kesal.
“Aku tidak mempunyai urusan denganmu! Pergilah dari sini sekarang juga, anak muda,” jawab Savila terlihat serius.
“Haah?! Lalu kenapa kamu memata-matai –“
“Aku mempunyai urusan dengan iblis itu!” lirik Savila sangat tajam pada Anggelina.
“Ib-iblis?! Apa maksud perkataanmu it –“ Anggelina terlihat kesal.
“Haah?! Bukankah wajar jika aku memanggilmu seperti itu?! Apa kamu melupakan kejahatan yang kamu perbuat beberapa bulan yang lalu?!”
“Hei dengarkan aku! Aku baru saja sampai ke masa ini satu bulan yang lalu! Mana mungkin –“
WUUUUUUSSHHHH!!! DUARRRRR!!!
Perkataan Anggelina terpotong karena medapatkan serangan bola api yang sangat besar. Anggela dan Anggelina tidak sempat menghindari serangan tersebut, dan terkena ledakan api tersebut.
Tapi saat kobaran api itu menghilang. Terlihat benteng es yang cukup besar melindungi mereka berdua. Ya, Anggelina menggunakan pertahanan benteng esnya untuk melindungi dirinya dan kakaknya.
“Ap-apa maksudnya itu?!” teriak kesal Anggelina pada Savila.
“Sudah kuduga kamu yang asli!” Savila sungguh menatap tajam Anggelina. Dia mulai berjalan cepat menghampirinya.
“Aku yang asli? Apa maksudm –“ khawatir Anggelina, tapi perkataan lekas terpotong oleh teriakan Savila yang amat keras.
“AKAN KUBUNUH KAMU DISINI, IBLIS!!” Savila mulai berlari menghampiri Anggelina. Terlihat dua bola api yang besar ditangan kanan dan kirinya.
Akan tetapi.
DUAK!!! DUMMM!!!!
Savila mendapatkan tendangan keras dari Anggela. Anggela menggunakan percepatan listriknya untuk menghampiri Savila. Setelah itu dia menendang kepala Savila secara vertikal dari atas ke bawah dengan kaki kanannya.
Kepala Savila terbentur sangat keras ke tanah hingga kepalanya kembali lagi ke atas. Dan saat kepala Savila kembali ke atas, Anggela mulai memukul keras wajahnya Savila dengan tangan kanannya.
DUAKK!! WUINGGGGGG!!! DUARRRR!!!
Savila melayang menabrak dinding gedung kosong tersebut, wajahnya terlihat sangat kesakitan sambil melihat Anggela dengan tatapan tajam.
“Jika kau berani menyentuh Anggelina, akan kubunuh kau!!” kesal Anggela menatap tajam Savila.
Dia bukan Kineser biasa, kecepatannya hampir menyamai Tuan El,” batin Savila tersenyum dalam hati. Dia mulai berdiri dan membersihkan bajunya yang kotor.
Serangan Anggela yang amat kuat tadi tak membuat gadis berambut merah darah itu ketakutan sedikitpun.
“Siapa namamu tadi ...?” tanya Savila tersenyum melihat Anggela.
“Anggela ..., Anggela Dwiputra.”
“Anggela Dwiputra, kamu juga Arcdemons, kan?” senyum Savila menatap rendah Anggela..
“Ba-bagaimana kau mengetahuinya?!”
“Sudah kuduga ..., jadi begitu yah,” senyum Savila sambil melakukan peregangan pada tubuhnya.
Jadi dia pengawalnya, yah?! Sudah jelas kalau putri mahkota Arcdemons mempunyai pengawal. Bodohnya diriku...,” senyum Savila dalam hati sambil melihat Anggela.
“Baiklah..., aku hanya perlu mengalahkanmu, kan?” senyum Savila mengerikan.
“Justru sebaliknya, aku yang akan –“
DUARRRR!!!!
Tiba-tiba muncul sebuah ledakan api yang cukup besar di tempat Anggela berpijak. Tapi, bagi Anggela serangan seperti itu tidak dapat mengenainya. Dia menggunakan kembali  percepatan listriknya ke arah Savila.

Dia menendang keras perut Savila dengan lututnya, lalu setelah itu dia berniat memukul kembali wajahnya.
Akan tetapi, setelah dia menendang perut Savila, wajah Anggela berubah menjadi sangat pucat. Dia mulai memegang lehernya seolah-olah jika dirinya sedang kesulitan bernafas.
Se-sesak...!!” batinnya kesakitan.
“Ka-kakak ...?” Anggelina mulai terlihat khawatir melihat kakaknya.
Dari kobaran api serangan pertama Savila. Mulai terlihat kobaran apinya yang secara perlahan berubah bentuk menjadi sesuatu, kobaranapi tersebut seperti membentuk seseorang.
“Ap-apa ya-yang terjadi?” Anggela terlihat kewalahan karena tidak bisa bernafas. Dia melirik ke belakangnya, melihat kobaran api yang terlihat aneh tersebut.
Kobaran api tersebut tiba-tiba berubah menjadi Savila, dia tersenyum meremehkan Anggela yang terlihat kesakitan.
Eh dia disana? Lalu, orang yang aku tendang siapa?” Anggela terlihat sangat khawatir melihat seseorang dihadapannya, melihat seseorang yang dia tendang.
Wajahnya memang seperti Savila, tapi sayanganya dia tidak memiliki berat, dia hanyalah sebuah ilusi yang terbuat dari gas oksigen. Ya, itu merupakan gas yang dibuat Savila dengan kemampuannya.
“Pernah dengar ledakan oksigen?”
Jangan katakan? –“ Anggela terlihat sangat khawatir. Dia berniat menggunakan skillDivider untuk menguraikan serangan Savila.
Tapi untuk beberapa alasan yang tidak ia ketahui, dia tidak dapat menggunakannya. Dan pada akhirnya.
Click ...!
Dummy Explosions...,” senyum Savila sambil menjentikan jarinya, lalu terdengar lah ledakan yang sangat besar dari tempat Anggela.
DUUUUUUARRRRR!!!!
“....” Anggelina sang adik hanya menatap kosong ledakan itu.
Anggela benar-benar terkena ledakan tersebut secara telak. Dia terbang melayang ke atas dengan luka bakar yang cukup parah di sekujur tubuhnya. Matanya yang berwarna putih menandakan kalau dirinya sudah tidak sadarkan diri.
“KAKAAK!!” teriak Anggelina menangis ketakutan.
“Baiklah ..., saatnya serangan terakhir,” Savila menjatuhkan tubuhnya ke belakang, tapi saat dia hampir menyentuh tanah. Tubuhnya langsung terurai dan berubah menjadi sekumpulan api.
Api tersebut melayang cukup cepat menghampiri tubuh Anggela yang masih melayang.
Ap-ap-apa yang dia lakukan tadi?!!” Anggelina sangat terkejut melihat Savila yang bertransfromasi menjadi elemen api. Kedua tangannya masih terlihat bergemetar ketakutan.
Dalam sekejap Savila telah menduduki tubuh Anggela yang tidak sadarkan diri, kemudian dia memegang kerah baju Anggela dengan tangan kirinya.
Savila mengangkat tangan kananya seakan-akan sudah siap memukul Anggela. Muncul juga tiga bola api di sekitar tangan kanan Savila, bola tersebut berputar sangat cepat mengelilingi tangan Savila.
Dia hanya tersenyum sambil berkata.
“Baiklah ini akhirnya..., Maelstrom Explosions!” Savila melayangkan pukulannya ke arah wajah Anggela, tapi.
“Tidak akan kubiarkan!! GIANT ICE SPEARS ALLOW!!!!” teriak Anggelina menangis, dia mengeluarkan lima tombak es yang sangat besar ke arah Savila.
“Tcih..., menganggu saja!” Savila mengurungkan pukulannya ke arah wajah Anggela. Dia kembali berubah menjadi elemen api, dan bergerak cepat ke arah serangan Anggelina.
Dia menggunakan skill Maelstrom Explosions tersebut ke salah satu tombak es milik Anggelina yang paling depan, lalu terjadilah ....
DUARRRRR!!! WOAHSSHH WOASHH WOASHSHH!!
Langsung muncul sebuah ledakan api yang sangat besar, bersamaan dengan ledakan tersebut, muncul juga sebuah tornado api yang sangat panas membakar apapun yang didepannya. Radius tornado tersebut sekitar 5m ke depan.
Semua tombak es milik Anggelina dibakarnya dengan sangat cepat. Anggelina yang terlihat ketakutan mulai menggunakan benteng es nya sebanyak tiga lapis.
Dua benteng es Anggelina benar-benar dihancurkan oleh skill Savila tersebut. Sedangkan benteng es terakhirnya sudah terlihat rapuh dan hampir saja hancur seperti benteng-benteng di depannya.
Kini Anggelina hanya terdiam bergemetar, dia menundukan kepalanya, wajahnya benar-benar terlihat menangis ketakutan.
Ap-apa-apaan gadis in-ini?! Di-dia sangat kuat, bahkan Kak Anggela yang tingkat akhir saja bisa dikalahkan dengan mudah olehnya ....”
“....”
“Se-sebenarnya seberapa kuat kineser di masa ini?!”lanjut batinnya ketakutan melihat Savila yang mulai berjalan menghampirinya.
  
* * *

My Dearest Jilid 2 Chapter III Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.