16 Desember 2015

Mondaiji-tachi Jilid 3 Bab 6 LN Bahasa Indonesia



MONDAIJI-TACHI GA ISEKAI KARA KURU SOUDESU YÕ
JILID 3 BAB 6

Bagian 1
—Tahun 201X, 5 Mei. Di depan pintu panti asuhan CANARIA.

Beberapa hari setelah menerima berita bahwa Canaria meninggalkan pesan wasiat.

Sakamaki Izayoi datang ke agensi sosial [Panti Asuhan CANARIA].

Berdiri di depan bangunan yang berwarna putih menyilaukan berlawanan dengan sekelilingnya, Izayoi berdiri dengan lengan yang bertolak pinggang saat dia melihatnya.

“Panti Asuhan CANARIA…… Sudah lama sejak terakhir kali aku kembali ke tempat ini.”

Izayoi tertawa parau saat dia melihat jalan masuknya. Didirikan sebagai bangunan berlantai lima, penampilannya yang putih bersih mungkin akan memberikan kesan yang keliru menjadi seperti bangungan tempat penelitian organisasi bagi orang-orang yang melihatnya untuk pertama kali.

Tapi saat melihatnya lebih dekat akan kesan tersebut terbukti salah karena dindingnya ditutupi oleh grafiti coretan anak-anak kecil.

Walau begitu, Canaria berkeras bahwa warna dindingnya harus putih bersih. Dan alasannya adalah—

“Karena itu akan membuat anak-anak dapat bermain sesuka hatinya.”

……Dengan kata lain, itu untuk membuatnya lebih mudah dirusak makanya mereka memilih warna catnya putih.

Izayoi juga turut serta merusaknya dulu, tapi dia dengan cepat merasa bosan dengan itu.

“Sudah lama sejak aku terakhir kali melihat mereka. Mungkin ide bagus untuk menemui bocah-bocah itu……oh?”

Tangan Izayoi berada di pintu tepat saat itu, ketika pintunya terbuka sendiri dari dalam sebelum tangannya melakukan hal tersebut.

Dan pada saat yang sama, dua anak-anak, seorang laki-laki dan perempuan datang keluar menyambutnya.

“Hei, Iza-nii! Homura dan aku sudah menunggu lama!”

“Aku tidak menunggu……Selamat datang kembali, Iza-nii.”

“Nn. Terima kasih atas sambutannya, Suzuka, Homura.”

Izayoi membentangkan lengannya untuk membalas hangat mereka. Sama seperti Izayoi, mereka diasuh oleh panti asuhan CANARIA saat mereka masih kanak-kanak.

Gadis berkulit coklat yang sehat dan gaya rambut yang berbentuk mirip nanas adalah Ayazato Suzuka.

Sementara bocah laki-laki berkacamata dengan rambut berantakan adalah Saigou Homura.

Sementara Suzuka berjuang keras untuk memanjat ke punggung Izayoi, Homura menelengkan kepalanya dan bertanya:

“Bagaimana headphone yang kubuat?”

“Masih bekerja dengan baik.”

“Benarkah? Oke.”

“Iza-nii, ada sesuatu yang lebih penting. Pengacara aneh itu masih berada di sini. Dia benar-benar menyeramkan~ cepat selesaikan urusan dengannya dan usir dia.”

Suzuka menggerakkan tangannya dengan liar saat dia duduk di bahu Izayoi.

“Oi! Oi! Itu adalah tamu untukku, ‘kan? Tamu yang menginap selama dua atau tiga hari tanpa pergi seharusnya bukanlah hal yang baru untuk kalian.”

“Itu tidak salah……tapi Paman kali ini…bagaimana aku mengatakannya…Amat Sangat Menyeramkan sampai-sampai dia dapat membuat orang merasa itu adalah rasa horor dari pembawaan alamiah [Orang Genit].”

“Genit?”

“Yah. Walaupun dia termasuk cukup tampan dengan setelan hitam yang cocok dengannya, tapi dia berkata begini padaku: ‘Nona, maukah kau minum teh denganku? Sambil membicarakan pernikahan.’ Itu benar-benar menyeramkan. Dan kelihatannya dia juga telah mengatakan hal yang sama pada yang lainnya.”

“……Oh? Kalau begitu, kurasa aku benar-benar merasa tidak enak.”

Izayoi memegang tumit Suzuka yang sedang duduk mengangkang di bahunya dan mengangkatnya dengan paksa.

Suzuka yang kehilangan keseimbangan berseru *Kyaa~* saat dia terjatuh dari bahu Izayoi hanya setelah berputar-putar 3 kali.

Pergi meninggalkannya di belakang, Izayoi memasuki panti asuhan CANARIA.

Seorang wanita tengah baya yang sedang berada di balik konter melihatnya dan dengan segera memperlihatkan raut wajah jijik.

“……Lama tak bertemu, Izayoi-san.”

“Tidak perlu terlihat jijik begitu. Aku akan segera pergi begitu mendapatkan surat wasiat terakhir itu.”

“Akan sangat bagus kalau kau bisa melakukannya. Dan aku sudah membantu menyelesaikan prosedur pengunduran diri dari sekolah.”

“Oh, benarkah. Maaf merepotkanmu tentang hal itu. Dan tamuku?”

“Tuan tersebut berkata bahwa dia akan berjalan-jalan di sekitar bangunan ini. Aku akan memberitahumu saat dia kembali. Jadi duduk dan tunggulah di tempat penerima tamu untuk saat ini.”

“Oh begitukah?” Izayoi melambaikan tangan pada wanita di balik meja tersebut sebelum duduk dengan segera.

Tepat ketika dia baru duduk, sepasang tangan mungil menggapai dari belakangnya dan memeluk leher Izayoi.

“Hei, hei, Iza-nii, bagaimana dengan si pengacara genit itu?”

“Kudengar dia sedang berjalan-jalan di sekitar sini. Kurasa dia pasti sedang mencoba menggoda bocah-bocah yang lainnya?”

“Hah?! Benarkah?! Kalau begitu semuanya sedang dalam bahaya!”

Suzuka berlari cepat-cepat dengan rambut yang berayun-ayun naik turun.

Setelah mengamatinya pergi, Izayoi bersandar pada kursi untuk mengistirahatkan tubuhnya pada benda itu.

Akan tetapi, kedamaian dengan segera rusak oleh Homura si rambut berantakan yang melompat ke kursi di sebelahnya.

“Ini hasil kerjaku yang baru.”

“Ah?”

“Headphone Number 2 yang sudah selesai, [Crescent Moon No.2]. Untukmu.”

Meskipun headphone tersebut diciptakan oleh Homura yang baru saja menginjak usianya yang ke 10 tahun ini, penampilan benda itu sangat bagus dan di bagian penutup telinganya telah diberikan tanda ciri khasnya di atas permukaannya—sebuah simbol lidah api.

Meskipun Homura adalah seseorang yang sedikit bicara, tapi saat berhubungan dengan membuat keperluan sehari-hari atau peralatan, dia akan mencurahkan segenap usaha yang seharusnya tidak ditemukan pada seorang anak kecil.

Memutar-mutar headphone tersebut, Izayoi menyunggingkan senyuman simpul pada Homura.

“Sekalipun kau mengatakan ini untukku,……Karena kau ingin memberi sesuatu, bukankah seharusnya itu adalah benda lain daripada sepasang headphone? Apakah perlu untuk memberi barang dengan jenis yang sama lagi?”

“Tapi Iza-nii tidak menggunakan barang-barang seperti jam atau semacamya.”

“Itu benar. Tapi peta bintang yang kau buat waktu itu juga sangat bagus. Itu masih berada di kamarku sampai sekarang.”

“……Itu hanya bisa selesai dengan bantuan dari Canaria-sensei. Aku tidak akan bisa menyelesaikannya sendiri.”

Homura menundukkan kepalanya sedikit.

Izayoi memalingkan kepala sambil sebuah decakan “Cih!” terlepas dari bibirnya.

“Canaria-sensei……benar-benar sudah meninggal, ya? Kupikir dia tidak akan mati apapun yang terjadi.”

“Dia meninggal karena penyakit dan tidak ada pilihan lain, ya ‘kan? Terlebih lagi, penyakit tersebut tidak diketahui penyebabnya. Sekalipun Canaria adalah Ibu yang bodoh, dia tidak akan bisa menghindar dari hal tersebut.”

“……Nn.”

Homura menundukkan kepalanya lebih dalam, tertekan.

Izayoi menunjukkan raut wajah terganggu seakan ada sebuah pekerjaan yang membosankan saat dia mengangkat kepalanya untuk melihat ke langit-langit, sebelum memakaikan headphone baru tersebut di kepalanya.

“Huh? Oi, Homura. Bukankah ikat kepala benda ini sedikit terlalu panjang? Semuanya berayun-ayun di kepalaku, kau tahu?”

“Tidak masalah. Kau hanya perlu untuk menahan bagian dudukan telinganya ke telingamu dan menekan tombol kontrol penyetelan di sebelahnya, dan benda itu akan menyesuaikan bentuknya dengan kepalamu. Kau bisa bilang ini adalah produk yang sangat ramah konsumen dengan memikirkan kenyamanan pemakainya.”

“Hmm? Bagian yang kau fokuskan sangat menarik.”

*Ka-Ching!* Saat bagian ikat kepalanya terlipat, dudukan telinganya menekan erat ke telinga Izayoi.

“Oh, aku mengerti……Tapi ini sedikit terlalu ketat untukku. Ini mungkin malah menyebabkan suaranya teredam dan tidak terdengar jelas sebagaimana harusnya.”

“Uhh……Kalau begitu aku akan menyesuaikannya untukmu. Sini, berikan padaku sebentar.”

Izayoi melepasnya dan akan memberikannya pada Homura—tapi tangannya membeku.

Karena penampilan headphone yang dia lepaskan dari kepalanya berbeda dari sebelumnya.

“……Oi, Homura. Ada apa dengan penampilan headphone ini?”

“Itu adalah hasil dari penyesuaian ikat kepalanya. Tali kepala yang terlipat saat penyesuaian akan selalu berakhir seperti itu tidak peduli bagaimana aku mengutak-atiknya, dan itulah hasilnya.”

“Tidak. Bukan begitu masalahnya. Coba kau lihat sendiri baik-baik. Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, mainan ini terlihat seperti nekomimi1.”

“Nn. [Crescent Moon No.2] akan menggunakan kelebihan dari penyesuaian ikat kepalanya untuk membentuk telinga kucing. Itu pasti akan laris di kalangan perempuan.”

“Oh? Jadi maksudmu aku terlihat seperti seorang perempuan?”

“Iza-nii adalah iklan berjalanku. Kau harus selalu memakai headphoneku dan membantuku memasarkan seri [Crescent Moon]ku.”

“Oi,oi, memanfaatkanku sebagai modelmu harganya lumayan mahal, tahu?”

“Kalau begitu aku akan membayarnya pada saat aku menjadi  terkenal.”

Homura bangkit dari kursi tempat penerima tamu setelah membalas singkat. Mungkin pergi untuk memodifikasi headphone nekomimi itu.

Setelah berdiri dan berjalan sedikit dengan memunggungi Izayoi, dia tiba-tiba berhenti dan menoleh ke belakang.

“……Aku akan kembali ke kamarku. Apa perlu kubawa tas-tasmu ke atas juga?”

“Huh? Oh ya, kedengarannya bagus. Aku akan mampir nanti untuk mengambilnya juga headphonenya.”

“Baiklah. Aku akan menunggumu mampir kalau begitu.”

Homura membawa tas-tas tersebut dan benar-benar pergi kali ini.

Sendirian sekali lagi, Izayoi membiarkan dirinya melesak ke kursi lagi.

[……Tidak ada yang berubah sekalipun aku sudah pergi selama setahun.]

Izayoi menatap noda di langit-langit dan menyunggingkan senyuman miris.


—Panti asuhan CANARIA beroperasi dengan alasan untuk merawat anak-anak yatim piatu dan dengan tujuan untuk menemukan orang tua angkat bagi mereka. Tapi kenyataannya sangat berbeda.

Ini adalah tempat di mana anak-anak yang dicap sebagai anak-anak bermasalah berkumpul karena orang-orang normal tidak dapat memenuhi kebutuhan khusus mereka —Bahkan dengan penjelasan semacam itu, ini masih terdengar mirip dengan sebuah organisasi lembaga sosial anak-anak pada umumnya.

Tapi kata ‘khusus’ di sini memiliki arti yang sangat berbeda untuk mereka.

Itu bukan sebuah kata yang menggambarkan latar belakang keluarga mereka, tapi itu bermakna bahwa setiap dan semua anak laki-laki dan perempuan di sini diberkahi dengan bakat atau kemampuan luar biasa. Dan itulah apa yang Canaria pikirkan untuk dicapai saat dia memutuskan untuk menempatkan Izayoi di bawah perlindungannya.

Walau mungkin seperti itu, tidak ada anak laki-laki maupun perempuan yang memiliki kekuatan luar biasa yang sama seperti Izayoi miliki dalam dirinya. Ketika dibandingkan dengannya, kelebihan mereka pastinya akan terlihat seperti kemampuan biasa.

Sebagai contoh, Saigou Homura. Selama itu adalah sesuatu yang bisa dipisah-pisahkan dengan kedua tangannya, dia akan dapat menganalisa struktur bagian dalamnya dan komponen dari peralatan tersebut. Dan dengan waktu yang cukup, dia akan dapat merakit sebuah komputer dari berbagai suku cadang.

Anak muda itu memiliki kemampuan hebat dalam [pemahaman], [merakit ulang] dan [kreativitas] dan hal tersebut begitu menakutkan bagi orang-orang biasa sehingga mereka mengirimnya ke panti asuhan CANARIA.

[……Tapi orang yang akan menerima anak-anak khusus ini, Canaria sudah tidak ada di sini lagi. Dan panti asuhan CANARIA ini mungkin akan berakhir pada generasi Homura dan Suzuka.]

Izayoi mendapati dirinya terhanyut dalam kesedihan yang sangat tidak seperti dirinya yang biasa dan hal tersebut membuat senyum mirisnya semakin dalam.

Melihat jam dinding digital untuk memastikan waktu, dia menyadari lima belas menit telah berlalu berpikir bahwa ini bukan rencana bagus untuk tetap menunggu, Izayoi bangkit berdiri dari kursi.

Saat itulah, dia merasakan sebuah kehadiran di belakangnya.

“—Kau adalah Sakamaki Izayoi-chan, ya ‘kan?”

“……”

Izayoi terkejut dalam hatinya.

Dia tidak tahu seberapa jauh mereka berdiri satu sama lain karena dia belum menolehkan kepalanya, tapi jaraknya seharusnya sekitar lima meter. Sekalipun dia sedang berpikir mendalam barusan, tetap saja ini adalah pertama kalinya ada seseorang yang berhasil sedekat ini dengan Izayoi tanpa dirinya merasakan keberadaan mereka.

[Oh?......Kelihatannya dia lebih menarik daripada yang digambarkan rumor.]

Memikirkannya lebih rinci, dia menyadari bahwa tidak ada apapun yang mengejutkan.

Jika orang tersebut adalah pengacara yang dipekerjakan Canaria untuk menyampaikan wasiatnya, tidak diragukan lagi bahwa dia bukanlah orang biasa.

Izayoi yang mulai merasa tertarik pada orang ini yang berdiri di belakangnya, dengan senang menolehkan wajah padanya.

“……”

Tapi dia kehilangan kata-kata sekali lagi.

Suzuka bilang bahwa orang ini adalah seorang [Paman Aneh Bersetelan Hitam]. Dan dia melihat bahwa gadis itu benar mengenai hal tersebut.

Tapi bukan itu masalah utamanya. Itu adalah caranya berpakaian yang tidak sesuai dengan pakaian sehari-hari orang-orang di negeri Jepang: Sehelai jas berekor ganda dengan topi bundar dan sebuah kacamata berbingkai tunggal2.

Pria yang terlihat berusia sekitar dua puluh lima tahun dengan pakaian yang dapat digambarkan sebagai seorang [Tuan Inggris Palsu Bersetelan 3 Lapis] tersebut sedang menatap Izayoi sambil tersenyum.

“……Ah, benar. Kau kelihatannya punya selera yang bagus untuk topi bundar hitam itu.”

“Nn? Oh, terima kasih. Tapi sebelum memuji, aku ingin kau menjawab pertanyaanku. Apakah kau adalah Sakamaki Izayoi-chan?”

“Itu benar.”

Sambil menjawab pertanyaan dari orang tersebut, Izayoi juga meneliti dengan cermat pria berjas ekor itu.

Sekalipun dia terlihat berusia sekitar dua puluh lima tahun, tapi sikap yang ditunjukkannya terlihat lebih tua dari usia tersebut dan terlatih dengan baik. Penampilan raut wajah yang terlihat sangat sesuai dengan fisiknya nampak membuatnya terasa menyenangkan.

Tapi kesan yang orang-orang tidak akan dapat lewatkan pasti adalah matanya yang memiliki tatapan membara di balik kacamata berbingkai tunggal itu.

Izayoi tadinya berpikir bahwa orang tersebut sedang menilainya, tapi sepertinya tidaklah begitu. Karena Izayoi dapat mengenalinya setelah mendapat tatapan menghakimi dari orang-orang dewasa sejak usia sangat muda, dia dengan segera menyadari bahwa dia sama sekali tidak merasakan perasaan tidak menyenangkan seperti itu yang biasanya muncul dari tatapan semacam itu.

Tatapan yang mantap dan kuat dari mata di balik kacamata berbingkai tunggal tersebut membuat Izayoi merasa seakan dia sedang dibaca bagaikan sebuah buku yang terbuka.

“……tatapan yang sangat tidak menyenangkan.”

“Haha. Aku sudah berkali-kali dikatakan begitu. Canaria juga berkata demikian saat dia pertama kali bertemu denganku.”

“Kurasa begitu. Jadi, di mana wasiatnya?”

“Aku sudah meminjam sebuah kamar untuk memberikannya padamu di situ. Lagipula, dengan banyaknya benda tersebut, terlalu berat untuk kubawa kemana-mana.”

Pria berjas ekor itu melangkah menuju bagian dalam bangunan itu.

Izayoi dengan diam mengikuti di belakangnya.

Matahari di bulan Mei tidak begitu terik karena awan yang menutupi langit dan membuat cahaya matahari terasa hangat dan nyaman. Angin juga terasa sedikit sejuk di kulit.

Rentang temperatur harian melebar bersamaan dengan bertemunya musim berikutnya yang telah tiba. Saat angin bertiup melewati koridor-koridor, kelembapan di dalamnya merupakan tanda umum dari akan datangnya hujan.

Izayoi menatap ke atas ke langit musim panas yang menggelap saat dia melanjutkan menelusuri koridor tersebut. Saat akhirnya mencapai kamar yang menjadi tujuan mereka, Izayoi yang mengikuti pria berjas ekor itu menuju kamar yang diisi oleh setumpuk besar kertas di tengah-tengah ruangan. Dan hal tersebut segera menimbulkan respon tidak sabar darinya.

“Oi! Apa itu semacam novel?”

“Kurasa itu adalah autobiografinya sendiri? Bagaimanapun, kau adalah anak angkatnya jadi kau punya kewajiban untuk menyerah pada nasibmu dan membacanya seperti anak yang baik.”

Memindahkan sebuah kursi mendekat ke jendela, pria berjas ekor itu menarik turun topi bundarnya saat dia duduk di atasnya tanpa mengatakan apapun lagi.

……Dia malah mengesampingkan tugasnya untuk tidur siang? Bahkan Izayoi kehilangan kata-kata karena pemandangan ini dan hanya dapat melongo sesaat. Tapi alasan hari ini bukanlah karena pria itu dan Izayoi menyerah dengan duduk di meja.

Dengan patuh, dia melepaskan tali yang mengikat kertas pembungkus parsel setinggi lebih dari 10 meter dan mempersiapkan dirinya untuk mulai membaca autobiografi Canaria —dengan perlahan—

Bagian 2
—[Kota Bawah Tanah Underwood]. Kamar Kasukabe Yō.

Setelah meninggalkan ruang penerima tamu, semua orang memutuskan untuk kembali kamar masing-masing untuk membongkar bawaan mereka dan pergi ke arah yang berbeda.

Kembali ke kamarnya, Yō langsung rubuh ke ranjang yang terbuat dari lubang akar Pohon Air yang diisi dengan sesuatu yang mirip dengan anyaman atap jerami. Walau demikian, itu tidak terasa seakan dia langsung menjatuhkan dirinya ke sisa-sisa akar pohon.

Tapi dia berbaring di atas sehelai seprai putih yang menutupi akar pohon.

“……aroma dari akar pohon dan anyaman jerami.”

Yō menikmati aroma yang menenangkan itu dan hampir terhanyut tidur saat itu juga.

Meskipun kelopak mata sayunya begitu berat dengan keinginan untuk tidur, Yō mengangkat kepalanya tiba-tiba seakan dia baru teringat sesuatu.

“……Tidak bisa. Tidak ada waktu untuk tidur.”

Itu benar. Yō telah tiba di Sisi Selatan dengan tekad kuat dan janji untuk ditepati. Meskipun ini mungkin mustahil untuk mendapatkan seratus teman baru, tapi kalau dia tidak mengenal lebih banyak Eudemon dari berbagai jenis, dia tidak akan bisa menunjukkan wajahnya pada Izayoi yang telah memberikan haknya padanya.

“……Ngomong-ngomong soal itu, apakah Izayoi sudah menemukan headphonenya sekarang?”

Yō tiba-tiba memikirkan headphone yang Izayoi selalu pakai di kepalanya. Dia juga teringat dengan logo yang mirip Lidah Api yang ada di headphone itu juga.

Logo tersebut sama dengan merek yang ayahnya sukai.

[Ayah bilang itu adalah sebuah [Barang antik yang indah yang tak tergantikan dan tidak bisa ditemukan saat ini]……Mungkinkah headphone Izayoi juga sama?]

Mungkin karena alasan itulah yang membuat Izayoi mencarinya mati-matian. Walau begitu, saat mereka bertiga dipanggil ke dunia Little Garden ini, semua barang yang mereka bawa bersama dengan mereka juga menjadi benda yang unik dan tak tergantikan…

“…..Nn, memikirkannya saja tidak akan menghasilkan apa pun. Aku akan menanyainya saat kembali nanti.”

Yō memutuskan untuk mengubah arah pikirannya. Lebih baik daripada mengkhawatirkan Izayoi, Yō ingin memprioritaskan janji yang mereka miliki. Untungnya Kucing Calico telah pergi berjalan-jalan dan belum kembali. Kalau dia ingin bergerak sendiri, hanya ini satu-satunya kesempatan untuknya.

“Pertama-tama, berganti baju dan kemudian menuju keluar ke pinggiran kota. Alam liar yang tersedia seharusnya memiliki banyak jenis Eudemon.”

Yō membuat suara bergemeresak di dalam tasnya saat dia akhirnya bisa membongkarnya.

Dari sudut pandang kehidupan pribadi, Yō tidak membutuhkan benda-benda mewah.

Karena itulah tasnya kecil dan seharusnya hanya bisa membawa sedikit barang-barang yang dibutuhkan—dengan demikian, saat dia menemukan sebuah benda yang tidak dia ingat, muncul di dalam tasnya, pikiran Yō saat itu juga menjadi kosong.

“……Huh……”

Bagaimana……Dia akhirnya berhasil mengerahkan gumaman rendah.

‘Benda itu’ yang terjatuh dari tasnya……sudah pasti……Sudah pasti bukanlah sesuatu yang seharusnya muncul dengan barang lain dari dalam tasnya, terutama untuk Yō.

“Eh……Huh? Huh?”

Efek kejutan mendadak tersebut menyebabkan Yō merasa pening saat dia berdiri dan kepalanya membentur pilar yang ada di tengah-tengah kamar.

Tapi dia tidak mempedulikan rasa sakitnya. Itu karena…….karena……penampakan sebuah benda semacam itu dalam barang bawaannya sudah pasti akan menyebabkan orang-orang mengganggap bahwa dia dengan sengaja melakukan kecurangan untuk mendapatkan——

“Yō-san! Ini darurat!”

*Bang* Kuro Usagi tiba-tiba menyerbu masuk ke dalam kamar dengan mendobrak pintu secara paksa. Yō cepat-cepat menyembunyikan benda tersebut di belakangnya dengan tergesa-gesa.

Akan tetapi, bersamaan dengan suara keras tersebut, sekelilingnya mulai bergetar dengan hebat, menyebabkan Yō terjatuh ke belakang pada bokongnya dengan posisi duduk.

“Wa……Gempa…..Gempa bumi?”

“Bukan! Ini adalah serangan! [Underwood] saat ini sedang diserang oleh sisa-sisa kelompok Raja Iblis! Kita juga harus segera memberikan bantuan—“

—Perkataan Kuro Usagi terhenti saat dia tiba-tiba menutup mulutnya rapat-rapat.

Ini disebabkan benda yang terjatuh di belakang Yō yang menatap mantap. Dan benda itu adalah headphone Izayoi.

“Yō…Yō-san? Kenapa headphone Izayoi di sini……”

“Bukan……Bukan begitu!”

Yo menjadi semakin kebingungan. Ini bisa dimengerti karena dia sama sekali tidak tahu apa pun.

Sekalipun dia ingin membela diri, kepribadiannya yang pendiam merupakan sebuah beban baginya dan dia tidak tahu apa lagi yang harus dikatakan, membuat sebuah kesunyian canggung di antara mereka.

Tepat saat Kuro Usagi tidak bisa menahannya lagi dan akan memecahkan kesunyian tersebut——Sebuah lengan besar menerobos melewati dinding asrama dan berada tepat di antara mereka.


“Kya!”

Mereka berdua terhempas melayang pada saat yang bersamaan. Yō mencoba untuk memperkirakan situasi di luar dari lubang di dinding tapi dia menemukan dirinya menatap sebuah mata besar yang melihat ke dalam dari sisi ujungnya.

Yō tidak dapat menahan insting alamiahnya untuk melompat menjauh. Sementara si penyerang tidak terganggu oleh reaksinya dan menggunakan lengan besarnya untuk menyapu seluruh asrama dari fondasinya.

“Yō-san!”

Kuro Usagi menangkap Yō yang kehilangan keseimbangan dengan lengannya, kelihatannya melindunginya sambil melompat keluar dari asrama.

Menyaksikan ukuran sebenarnya dari si penyerang untuk pertama kali, Yō mengatakan dengan suara rendah dan bergetar:

“Ti….Titan!”

Itu benar—Sesosok tubuh besar dengan tinggi sekitar sepuluh meter muncul di hadapannya. Lengannya yang memegang sebuah pedang panjang, setebal dan sekokoh batang pohon besar.

Sebuah tatapan menakutkan muncul dari balik topeng di mana dua buah lubang dibuat untuk matanya.

Kuro Usagi melihat para Titan tersebut dan bersiap-siap untuk bertempur.

YES. Mereka adalah [Humanoid Eudemon]— juga dikenal sebagai suku Titan!”

“Gahouhouhouhouhouhouhouhouhouhouhouhouhou----!”

Titan-titan yang mengenakan topengnya mengibaskan rambutnya sambil meraung mengerikan sebelum mulai melancarkan serangan pada mereka.

Tempat itu ditebas dengan pedang besar yang telah menciptakan sebuah lubang dan getarannya mengguncang seluruh kota Bawah Tanah. Dinding luar juga mulai runtuh akibat dampaknya. Jika bukan karena akar Pohon Besar yang menopangnya, dinding-dinding tersebut sudah lama roboh.

Yō menghindari tebasan pedang besar tersebut saat dia bertanya pada Kuro Usagi:

“Kau bilang ini semua adalah kelompok Sisa-sisa dari Raja Iblis. Apakah mungkin  [Authority Host Master]-nya……”

“Tidak! Penjahat-penjahat ini mengabaikan aturan dari Gift Game dan telah melancarkan serangan langsung! Dan mereka semua adalah contoh dari organisasi yang rusak!”

Kemarahan terlihat jelas dalam jawaban Kuro Usagi. Gift Game adalah salah satu dari beberapa peraturan yang ada di dalam Little Garden yang memberikan banyak kebebasan. Tindakan kasar yang tidak sesuai dengan aturan tersebut sudah pasti menyebabkan dirinya terbakar amarah dalam hatinya.

Saat mereka menghindari tebasan lain dari pedang besar tersebut, mereka mendengar suara Asuka dari belakang.

“Kasukabe-san! Kuro Usagi! Apa kalian baik-baik saja?!”

“Kami baik-baik saja!”

Kuro Usagi membuka mulut untuk membalas Asuka dan Asuka mengangguk mengiyakan.

Asuka kemudian mengangkat Gift Card-nya saat dia bermaksud untuk memanggil Deen. Namun dihentikan oleh Kuro Usagi yang kebingungan.

“Tunggu……Tolong tunggu sebentar, Asuka-san! Kalau Deen dan Titan mulai bertempur di dalam Kota Bawah Tanah ini, seluruh kota pasti akan hancur lebur!”

“Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Tolong menuju ke bagian atas dengan Yō-san! Ada lebih banyak suku Titan yang menyerang di luar! Tolong serahkan kota ini pada Kuro Usagi!”

Kuro Usagi mengangkat Vajra-nya yang mengeluarkan ribuan kelebatan petir saat dia menyelesaikan kalimatnya.

Titan bertopeng itu tidak dapat menghindar dari serangan balasan tersebut dan meraung saat menubruk tanah.

Akan tetapi, detik berikutnya, tiga Titan lainnya melompat turun dari atas.

“Gahouhouhouhouhouhouhouhouhouhouhouhouhou----!”

*Boom!* Para Titan yang melompat turun tersebut melemparkan sebuah rantai pada Kuro Usagi untuk mencoba menahan pergerakannya. Akan tetapi, Kuro Usagi memiliki kekuatan kaki yang sebanding dengan Izayoi.

Berkelit melalui celah dari rantai yang dilemparkan ke posisi awalnya, dia melompat ke depan klan Titan itu dan menghujaninya dengan petir dari [Mock Divinity.Vajra] untuk merobohkan mereka.

“Tenang saja! Lawan selevel ini tidak akan pernah menjadi tandingan Kuro Usagi, tidak peduli sebanyak apa mereka! Kalian berdua, tolong bantu lainnya di luar!”

“A…..Aku mengerti!”

Asuka berseru menyetujui saat Yō membentuk sebuah pusaran angin yang menerbangkan Asuka ke luar. Pada saat itu sebelum dia sendiri terbang ke permukaan, Yō melirik ke bawah dan melihat asrama yang hancur.

“……Wu!”

Sebuah perasaan panik menyebabkan dada Yō menjadi sesak. Melihat dari tingkat kehancurannya, headphone tersebut seharusnya tidak dapat tetap utuh tanpa goresan. Begitu headphonenya rusak, akan menjadi lebih sulit baginya untuk membuktikan ketidakbersalahannya.

Jika kesalahpahaman tidak diselesaikan, saat-saat menyenangkan yang mereka miliki sampai saat ini akan menguap bagaikan gelembung sabun---

“Kasukabe—san! Ke permukaan!”

“Nn……Oke!”

Suara Asuka menarik pikiran Yō kembali ke kenyataan dan mereka meninggalkan Kota Bawah Tanah bersama-sama menuju permukaan

Saat jangkauan pandangan mereka meluas, situasi akibat peperangan terlihat jelas di depan mata mereka.

Gema suara senjata perunggu yang saling berbenturan satu sama lain terdengar melintasi daratan dan tepi sungai.

Tirai langit malam diterangi oleh lidah-lidah api yang muncul bertebaran di sana-sini.

Suara ledakan yang memekakkan telinga dari panah-panah api yang ditembakkan oleh satu sama lain terpantul oleh dinding pelindung yang diciptakan pusaran angin.

Area bawah dari [Underwood] juga terlibat dalam pertempuran menggunakan keajaiban yang terkonsentrasi—[Gift].

“Si……situasinya sepertinya lebih parah dari yang kubayangkan!”

Meskipun suku Titan setidaknya ada sekitar kurang lebih dua ratus, tapi lawan mereka hanya dapat menahan salah satunya dengan sepuluh orang. Menghadapi serangan dari seorang Titan, membutuhkan banyak Beastman dan Eudemon untuk menyerangnya bersama supaya dapat berhasil menghentikan laju musuh.

Sekalipun situasinya seperti yang digambarkan di atas, jumlah penghuni [Underwood] lebih lebih banyak dan mereka seharusnya masih berada dalam posisi yang menguntungkan. Akan tetapi, kekacauan medan peperangan terisi dengan banyak pandangan yang berbeda.

“Orang-orang yang ada di Pohon Besar! Matikan apinya! Lawan kita memiliki penglihatan malam yang buruk!”

“Tidak bisa! Ada juga anggota [Two Wings] yang memiliki penglihatan malam yang buruk!”

“Siapa peduli! Kita hanya akan memberi lawan kita kesempatan menang kalau kita tetap seperti ini!”

“Kita harus menemukan penjaga yang seharusnya memperingatkan kita tentang penyerangan ini dan memastikan apakah dia benar-benar melakukan pekerjaannya!”

Kekacauan ini seperti penyakit menular yang dengan cepatnya menyebar ke barisan pertahanan. Situasinya begitu lepas kontrol. Penduduk [Underwood] hanyalah kerumunan tak beraturan yang terlibat dalam pertempuran yang bersifat individual.

[Tidak. Kita seharusnya fokus pada keadaan yang ada saat ini!]

Yō memutuskan rangkaian pemikirannya untuk mengubah sudut pandangnya. Karena stuasinya separah ini, tidak ada waktu baginya untuk terus-menerus berkutat pada masalah lain.

“Asuka, ayo temukan Sala untuk mengendalikan situasinya terlebih dahulu……”

“Kurasa itu mustahil.”

Asuka segera membalas. Melihat ke arah yang ditunjukkan Asuka, Yō melihat satu sosok yang bercahaya dan membara di langit malam.

Itu adalah Sala yang sedang terbang di langit dengan Sayap Membara-nya dan ada anggota klan Titan yang mengejar tanpa henti.

Meskipun mereka bertiga sekilas terlihat lebih kecil daripada Titan lainnya, tapi selain dari topeng yang pada Titan tersebut kenakan, mereka memiliki mahkota emas yang menghiasi kepala mereka, sceptre3 atau tongkat panjang yang menjadi bagian aksesorisnya, yang dengan jelas menandakan mereka berbeda dari Titan lainnya dalam hal kesan keberadaannya.

“Mereka bertiga yang sedang bertarung dengan Sala seharusnya adalah pasukan utama dari penyerbu. Kalau kita turut serta di dalamnya dan mengganggu keseimbangannya, tidak tahu apakah itu akan menjadi hal lebih baik atau malah buruk. Untuk saat ini, pastikan kekacauan situasi pertempuran di bawah terlebih dulu.”

“Aku mengerti. Bagaimana caranya kita melakukannya?”

Tiba-tiba ditanyai Yō seperti itu, Asuka berpikir sesaat sambil mengamati garis pertahanan Kota.

“……Tidak bisa membiarkan mereka menerobos ke dalam Kota… Turunkan saja aku di tempat yang hampir ditembus.”

“Kau yakin?”

“Nn. Aku akan memanggil Deen saat turun untuk membuat pengalihan dan kesempatan pada musuh dan memanfaatkan momen kejutan itu untuk melancarkan serangan.”

“Oke. Kuserahkan padamu.”

Pakaian formal warna merah Asuka berkibar saat dia turun ke medan pertempuran dan dia mengeluarkan Gift Card-nya sambil berteriak di tengah keramaian perang:

“Datanglah padaku! Deen!”

Mengikuti panggilan Asuka, sebuah susunan lingkaran sihir tanpa tanda muncul di langit.

Dan dari tengah-tengah susunan lingkaran tersebut, sebuah boneka besar berbaju tempur baja yang sama tingginya dengan para Titan muncul dan jatuh ke tanah.

Dampak dari benturan itu menyebabkan permukaa tanah berguncang dan membentuk sebuah kawah besar di kakinya.

“---DEEEEEEEEEeeeeEEEEEEEN!”

Gema dari raungan tersebut bergaung di malam terang bulan saat itu.

Sosok tersebut menyebabkan suku Titan, Gryphon, dan beastman lainnya gemetar ketakutan.

Karena kemunculan tiba boneka baja merah, pertempuran berhenti untuk sesaat ketika mereka tidak bisa mengetahui dari pihak manakah makhluk itu. Mengambil kesempatan tersebut, Asuka meneriakkan perintahnya.

“Lumpuhkan mereka dengan raunganmu! Dan ratakan musuh-musuhmu!”

“---DEEEEEEEEEeeeeEEEEEEEN!”

Dean menjejakkan kaki ke tanah dan mulai menyerang. Menyambar dua kepala bertopeng dari dua Titan dalam jangkauannya, dia membenturkan bagian belakang tengkoraknya.

Para pejuang dari suku Titan sontak menggeram marah.

“Gahouhouhouhouhouhou—!”

Para Titan berusaha melarikan diri dari cengkeraman lengan baja itu, tapi kekuatan tidak biasa Deen tidak terpengaruh oleh usaha semacam itu. Tidak melepaskan pegangannya pada Titan yang ada di tangan kanan dan kirinya, dia terus membenturkannya berulang kali sampai lawannya kehilangan kesadaran.

Dan dengan itu, Deen mengangkat seorang Titan yang tak sadarkan diri.

“Lemparkan dia!”

DEEEEEEEEEeeeeEEEEEEEN!”

Di bawah perintah Asuka, Deen melemparkan Titan di salah satu tangannya ke Titan lain.

Titan tersebuth pastinya terlalu terpaku untuk menyadari apa yang sedang terjadi. Kelihatannya mereka tidak memikirkan kemungkinan bahwa rekan mereka dapat dilempar ke udara dengan lengan dan kaki mengelepak seakan sedang menari di tengah udara dan bertabrakan langsung dengan dadanya.

Kedua Titan yang membelit satu sama lain kelihat menjadi telah menjadi semacam tumbler4 saat mereka berguling-guling dan memantul sepajang jalan menuju tengah-tengah sungai besar.

Menyaksikan pertarungan hebat tersebut dari udara, Yō telah lupa untuk memberikan banduan dan hanya ternganga keheranan.

“Deen……benar-benar luas biasa.”

Yo telah mendengar bagaimana Deen mengatasi dengan cepat anak-anak buah Raja Iblis sebelumnya dan telah memperkirakan berapa besar kekuatan yang diperlukan untuk melakukan hal itu.

Tapi kemampuan yang sesungguhnya jauh melampaui imajinasinya. Para pejuang dari suku Titan sama sekali tidak berkutik menghadapi boneka Baja Merah dalam kekuatan penuhnya. Dan makhluk sudah menumbangkan tiga dari suku Titan saat ini.

Pertunjukan heroik itu menambah semangat dari barisan pertahanan [Underwood].

Melihatnya sebagai titik balik kemenangan, seseorang di Pohon Besar membentangkan bendera Aliansi [Draco Greif] dan cahaya obor meneranginya.

Salsa juga mulai mempercepat pergulatannya dengan ketiga Titan tersebut dan mengibaskan rambut merahnya yang terlihat terbakar oleh nyala api di belakangnya saat dia berteriak:

“Jika kalian membiarkan tamu-tamu kita melindungi [Host], ini akan menjadi hal memalukan seumur hidup kita! Semua anggota Aliansi [Draco Greif]! Berdirilah tegap dan pertahankan posisi kalian masing-masing dan ubah haluan!”

Raungan menyemangati dari para pejuang meledak di medan pertempuran saat mereka membalas olokannya dengan penuh semangat. Beragam Komunitas yang telah kembali berpikir jernih mulai berkumpul di formasi mereka masing-masing di bawah Bendera dan mulai melanjutkan misi mereka masing-masing.

[One Horn] dan [Five Claws] bergerak maju ke garis depan dan meraung saat mereka menyerang para penyerbu.

[Two Wings] dan [Four Footed] menarik kereta-kereta perang beroda dua saat mereka menyediakan bantuan.

[Three Tails] dan [Six Scars] bertugas untuk mengangkut mereka yang terluka dari garis depan dan menyediakan item bantuan.

Menghadapi anggota-anggota [Draco Greif] yang menjadi lebih terorganisir dalam serangan mereka, suku Titan perlahan didorong mundur dan mulai mengundurkan diri juga.

Yō yang sedang mengamati situasi perang berpikir bahwa hasilnya sudah jelas saat itu. Tetapi—

Pada detik itu, suara dari instrumen bersenar yang dimainkan dapat terdengar dari medan pertempuran.

“……Huh?”

Yō tidak dapat bereaksi tepat waktu saat kabut pekat mulai menutupi sekelilingnya. Medan perang di bawahnya juga diselimuti kabut.

Kabut yang aneh bahkan muncul di depan mata Yō saat dia berada sekitar seratus meter dari permukaan tanah.

Dan itu membuat daya penglihatanya menjadi tak berguna.

“Kenapa tiba-tiba……”

“Oh, tidak!”

Yō mendadak menyentakkan kepalanya turun untuk melihat ke bawah.

Tiga Titan yang tadinya menjadikan Sasala sasaran, sekarang menargetkan Asuka dan Deen saat mereka melancarkan serangan mereka. Dan membuatnya menjadi lebih buruk adalah kenyataan bahwa anggota suku Titan lainnya telah melemparkan banyak rantai ke sekeliling tubuh Deen, untuk memperlambat aksinya.

Bila pergerakan Deen seluruhny terkunci, Asuka akan menjadi tak terlindung”

“Asuka—!”

Yō membungkus dirinya dengan pusaran angin saat dia melesat turun. Menempatkan seluruh energinya untuk meningkatkan kecepatannya hingga tingkat maksimum, Yō kemudian mengakses informasi yang tersimpan di dalam [Genome Tree] untuk meningkatkan beratnya menjadi hewan terberat yang terekam yang telah menjadi temannya.

Mengeluarkan seluruh kekuatannya pada serangan yang telah menciptakan banyak gelombang kejut saat dia turun…

“Gahouhouhohouhouhou—!”

Akan tetapi, dia tersapu ke samping oleh lengan besar yang menubruk sisi tubuhnya.

“……APA?!”

Itu adalah gerakan mudah seakan sedang memukul seekor lalat.

Titan bermahkota dan bertopeng itu dengan mudah menangkis serangan yang dikerahkan Yō sekuat tenaga.

Yō berhasil menarik dirinya untuk membentuk pertahanan melindungi dirinya sendiri, meskipun dengan penuh kesulitan dan dia berbenturan dengan permukaan sungai besar, melompat-lompat sepanjang permukaannya sebelum mendarat di sisi lain dari tepi sungai. Karena dia menggunakan angin untuk meredam benturannya, dia tidak mengalami luka serius apa pun. Jika itu adalah permukaan tanah yang mengenainya pertama kali, tidak bisa dikatakan berapa serius cedera yang mungkin akan dialaminya.

Terlebih lagi, alasan kenapa dia dapat menahan serangan tersebut tanpa terluka adalah karena fakta bahwa tubuh Yō diperkuat melebihi manusia normal.

[Kalau Asuka yang menerima serangan semacam itu……]

Tentunya—tubuh rampingnya akan babak belur.

Yō menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengenyahkan skenario terburuk yang mungkin terjadi dari kepalanya.

Membentuk sebuah pusaran angin untuk mulai terbang, Yō mencoba untuk segera kembali ke sisi Asuka secepat mungkin.

Meskipun Yō memiliki penglihatan seperti seekor elang, tapi jangkauan penglihatan di permukaan tanah begitu buruk dengan segala sesuatunya diselimuti kabut. Bahkan sekalipun dia terbang dekat dengan permukaan tanah dengan kecepatan maksimalnya, dia hanya dapat mengandalkan telinganya yang mendengar suara tajam logam yang berbenturan serta raungan dari suku Titan. Sebagai tambahan penglihatan yang minim, dia juga menjadi kebingungan dengan bau-baunya dan itu jelas bahwa ini adalah Gift yang digunakan oleh para penyerbu.

[Kalau seperti ini……]

Yō tiba-tiba menukik naik dengan cepat dan berhenti di tengah udara.

Karena kabut adalah hasil dari kekuatan Gift, kita hanya bisa menggunakan kekuatan Gift untuk mengatasinya.

Melebarkan lengannya, Yō mulai mengumpulkan semua angin di telapak tangannya.

[Meskipun aku belum pernah mencoba trik apapun selain terbang……tapi aku yakin aku akan bisa melakukannya—!]

Jika dia tidak berhasil, nyawa Asuka akan berada dalam bahaya.

“Si…Sial……Lenyapkan semuanya—!”

Tornado yang bergerak sepanjang permukaan air sungai mengeluarkan suara bergemuruh saat mulai bergerak maju. Dan tidak lama kemudian angin tersebut mulai menyerap semua kabut di sepanjang corong anginnya dan terbang menuju langit.

Meskipun ide tersebut cerdik, tapi hal tersebut kurang efektif dan kepekatan kabutnya tidak menunjukkan tanda-tanda menghilang. Yō mulai berpikir bahwa usahanya sia-sia ketika telinganya menangkap gerungan Eudemon yang menyaksikan aksinya.

“---GEYAAAAAAAAAAaaaaaaaaaaaa!”

Sepertinya merespon Yō, medan perang tiba-tiba dipenuhi sejumlah besar pusaran angin. Meskipun geraman Eudemon tidak dapat dimengerti oleh orang yang dalam kurang dalam kapasitasnya untuk berbicara dalam bahasa mereka, tapi semua bahasa itu dapat dimengerti oleh telinga Yō.

[Itu adalah Gry dan rekan-rekannya……]

Berterima kasih padanya dalam hati, Yō mengambil kesempatan untuk bergegas lari maju sementara kabutnya menghilang.

Tepat saat dia berdoa begitu keras supaya dapat tiba tepat waktu ketika dia mencapai medan perang—

Dia menemukan Asuka yang masih baik-baik saja, membuat Yō merasa seakan usahanya sia-sia.

“Asuka!”

“Ka……Kasukabe-san……Waa!”

Yō merasa begitu lega sampai dia lupa untuk menghentikan kecepatannya, menabrak Asuka dan mereka terjatuh ke tanah. Meskipun untungnya Asuka berada di atas permukaan tanah dan tidak di atas bahu Deen sehingga tragedi tersebut tidak terjadi, tapi dia tetap saja tidak dapat menghindar terjatuh pada bokongnya.

“Ini hebat! Bisa melewati situasi semacam ini tanpa terluka sedikit pun. Kau benar-benar hebat, Asuka!”

“Walaupun aku benar-benar ingin menjawabnya dengan [Tentu saja, apa perlu kau tanyakan lagi?], tapi kenyataannya, itu bukan aku yang mengalahkan musuh-musuh tersebut.”

“Eh?”

“……Lihatlah sekelilingmu dan kau akan mengerti.”

Di bawah desakan suara Asuka yang sungguh-sungguh, Yō melihat ke sekitarya untuk memastikan situasi.

Kabutnya menghilang dan bayangan dari sesosok manusia menjadi semakin terlihat. Sedangkan untuk suku Titan—

“—Bagaimana mungkin……”

Ketika kabutnya menghilang, dia menyadari bahwa suku Titan—telah dihancurkan.

Mereka telah dihabisi oleh sebilah pedang yang membelah dengan rapi tengkorak, leher, jantung mereka, dan tidak ada satu pun yang dibiarkan selain menjadi jasad di tanah. Pasukan utama dari para penyerbu seharusnya juga berada di antara yang tewas, trio yang mengenakan mahkota dan aksesoris seperti sceptre.

……Yō tadinya yakin bahwa dia tiba di sisi Asuka dalam semenit.

Tapi suku Titan di bagian medan peperangan ini telah disapu habis dengan jenis tekhnik yang sama.

“Mungkinkah……semua suku Titan……oleh satu orang……siapa dia ini?”

Kenyataan ini merupakan sebuah pukulan besar untuk Yō saat dia menarik nafas tajam.

Mampu menyapu habis suku Titan dalam waktu sesingkat itu. Hal tersebut sudah pasti adalah sebuah kejadian yang jauh melampaui imajinasi seseorang.

Di antara orang-orang yang Yō tahu, hanya satu yang dapat berhasil mengalahkan monster ini—

“—Kau tidak terluka, ‘kan?”

“Eh……Eh?”

Yō segera tersadar. Sekalipun dia meningkatan kewaspadaannya karena suara yang mendadak tersebut, dia dengan cepat mengenyahkannya pada detik berikutnya. Ini sudah jelas bukan karena keinginannya untuk menghilangkannya.

Tapi itu karena Yō dapat mengerti dengan sekali lihat—Sekalipun pemilik suara itu bukanlah seorang beastman, juga bukan seorang Eudemon ataupun Lesser Dragon.

Itu adalah dia, wanita inilah yang membunuh semua anggota suku Titan.

“……”

Orang tersebut memiliki sebuah ornamen rambut berwarna hitam yang mengikat rambut putih bersihnya yang indah.

Pakaian formal berwarna putih yang terlihat memberi kesan sangat bijaksana pada dirinya juga tergambarkan oleh baju pelindung berwarna putih keperakan yang dihias dengan sangat indah.

Sebuah topeng berwarna hitam-putih menutupi setengah wajahnya dari bagian atas.

Terlihat seperti seorang sosok yang hanya terdiri dari dua warna, putih dan hitam, dia saat ini benar-benar basah kuyup dalam cipratan darah para Titan.

“……Kaukah yang mengalahkan para Titan?”

“……”

Wanita bertopeng itu hanya melirik mereka berdua untuk memastikan keselamatan mereka dengan matanya tanpa menjawab. Setelah itu, dia kemudian memalingkan wajah dari Yō dan Asuka saat dia meninggalkan tempat kejadian hanya dengan satu bagian yang tidak terkena darah, yaitu jepit rambut hitamnya dan ayunan rambut ekor kuda panjang yang diikat oleh hiasan rambut itu.

Yō menatap punggung wanita itu dengan kehilangan kata-kata, sementara Asuka menopang tubuhnya bangkit lalu berkata dengan nada getir:

“Wanita itu……sangat kuat.”

Bahkan Asuka yang memiliki harga diri yang begitu tinggi mengakuinya dengan mudah begitu saja, sudah jelas orang tersebut memiliki kekuatan melimpah yang pastinya membuat orang lain merasa tidak ada apa-apanya. Dan tidak perlu dikatakan lagi bahwa mereka mungkin akan bertemu dengannya sebagai lawan di Game Festival Panen. Berpikir mengenai hal itu, mereka berdua sama sekali tidak dapat merasa benar-benar senang dapat lolos dengan aman.


Tepat saat mereka menundukkan kepala dengan murung, bel yang menginformasikan semua orang tentang akhir dari pertempuran berdentang.

Kabut pekat yang tadinya menutupi langit berbintang [Underwood[ juga telah lenyap oleh usaha Yō dan Eudemon lainnya.

Mengangkat matanya pada langit berbintang, Yō menegakkan punggungnya saat dia menghirup udara segara yang datang dari sungai, sambil melihat bulan purnama yang baru lewat sehari dari masa purnama penuhnya.

“—Ah.”

Yō teringat pada headphone yang dia tinggalkan di asrama dan mendadak hawa dingin sepertinya melewati tulang belikatnya. Dengan keringat dingin sambil membentuk sebuah pusaran angin, Yō bergegas kembali ke asrama.

Footnote
1.  Nekomimi: Telinga kucing
2.  … jas berekor ganda dengan topi bowling atasan bundar dan sebuah kacamata berbingkai tunggal : Bila kesulitan membayangkannya, bisa melihat kostum Sebastian Michaelis dan Tanaka-san dari manga “Kuroshitsuji” (Black Butler) sebagai referensi (^_^;)
3.  Sceptre : Tongkat berhias yang menjadi sebuah simbol yang dipegang oleh seorang pemimpin sebagai benda lambang kerajaan atau pemerintahan.
4.  Tumbler: Sebuah mainan yang berdiri kembali setelah terjatuh karena berat yang ada di bagian bawah mainan tersebut yang berbentuk oval. Jika dilempar pada sisi tertentu, benda ini akan terus berputar karena momentumnya.

Mondaiji-tachi Jilid 3 Bab 6 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.