27 Desember 2015

Date A Live Jilid 9 Bab 10 LN Bahasa Indonesia




BAB X
Gugur - Keputusasaan Telah Hancur


BAGIAN PERTAMA

“Tsk-----“

Setelah Ellen membunyikan lidahnya dalam kekesalan, dia memadatkan Territory-nya dan berlari dengan kecepatan yang sangat hebat. Setelah Ellen melintasi jalan, semua penduduk membuka mata mereka dengan terkejut tapi, dia tidak memiliki waktu untuk memperhatikan hal itu. Dia hanya memikirkan satu hal untuk terus berlari menuju tempat tujuannya.

Arah Ellen menuju ke timur---------kearah menuju hotel tempat Westcott sedang menginap.

Dengan kecepatan seperti ini, waktu yang dibutuhkan untuk sampai kesana------sekitar 30 menit. Dia tidak tahu persis kapan waktu [Tubrukan] itu akan terjadi tapi, memikirkan tentang jarak dari Kota Tenguu setelah itu, benar-benar sesuatu yang tidak memungkinkan.

“-----Aku tidak punya pilihan”

Ellen mempertajam konsetrasinya sebelum membuat sebuah perintah didalam otaknya.

Dengan seketika, tubuh Ellen membuat cahaya pucat dan dengan seketika seluruh tubuhnya telah dilengkapi dengan CR-unit platinum <Pendragon>. DIbandingkan dengan beberapa saat yang lalu, sebuah maryoku yang tersusun lebih tebal pada Territory telah menyebar.

Ellen menghentakan kakinya pada tanah dan mengaktifkan mesin pendorong yang terpasang di punggungnya sebelum terbang tinggi di langit. Dia lalu terbang lurus kearah tempat tujuannya dengan seperti itu.

Disaat itu, sebuah panggilan datang dari in-cam internal yang sudah disediakan oleh unit.

“Kepala ek-eksekutif Mathers! Apa yang baru saja terjadi!?”

Dia adalah seorang bawahan yang diperintahkan untuk menunggu diluar ketika Ellen masuk ke rumah kediaman Itsuka. Dia mungkin terkejut karena Ellen berlari keluar rumah dengan mendadak. Ellen mengarahkan pandangannya kedepan disaat meningkatkan kecepatannya dan menjawab kembali.

“Ini keadaan darurat. Saat ini, sebuah satelit buatan <DSA-IV> yang mana telah direncanakan saat ini akan dijatuhkan ke Kota Tenguu. Dan juga, ini datang dari-------“

Setelah mendengarkan penjelasan lebih lanjut, Bawahannya mengeluarkan suara dengan penuh keheranan.

“Ap-apa…………..bukankah ini digunakkan untuk mengalahkan Roh, kenapa mereka melakukan itu……….! Dan juga kepala eksekutif tidak diizinkan untuk mengetahui tentang rencana itu-------“

“Tidak, tujuannya bukan untuk menghancurkan Roh, tapi Ike”

“Huh………..!? Wes-Westcott MD…………!? Apa maksudnya semua itu!?”

Bawahannya berkata seperti itu dengan cara berbicara yang terkejut. Ini sangatlah wajar. Itu karena pedang yang digenggam DEM, sekarang telah diarahkan pada puncaknya.

“Ada laporan dari markas pusat baru saja tadi. Kelihatannya dewan direktur yang membuat permintaan pemecatan pada Ike beberapa hari yang lalu menjadi semakin liar”

Setelah dia mengatakan itu, Ellen membunyikan lidahnya. ------seperti yang aku pikirkan, Aku seharusnya memotong kepala mereka daripada tangan mereka di saat kejadian itu.

Akhirnya, sebelum rencana dijalankan, Kelihatannya anggota dewan ketakutan karena Westcott dan membocorkan informasi kepada tim eksekutif Ke-2. Keputusan itu tidak dapat dianggap sebagai sebuah keputusan yang bijak tapi--------jika dia mencoba untuk membocorkan rencana ini, seharusnya dia memberitahunya dari awal. Ellen merasa ingin mengutuk mereka.

Meskipun begitu, sekarang bukan saatnya untuk melakukan sesuatu seperti itu. Dia harus melindungi Westcott secepat mungkin dan pergi menjauh sebisa mungkin dari tempat ini.

“------Aku akan pergi ketempat Ike. Kalian semua, dimohon evakuasi agar tidak terkena dampak ledakan. Setelah itu, carilah energi Reiha yang dapat terdeteksi di daerah sekitar dan jika kau menemukan Roh yang terkena ledakan, ambilah kristal saphira dari tubuh mereka”

“Ro-roger…………….!”

Setelah meninggalkan jawaban seperti itu, bawahannya menutup panggilan.

Meskipun begitu, dia tidak mengharapkan apapun bahkan jika hal itu ada hubungannya dengan para Roh. Selama mereka terlibat dengan <Ratatoskr>, <DSA-IV> akan terdeteksi sebelum sampai ke titik bahaya zona udara bagaimanapun juga, dan jika itu terjadi, hal yang harus mereka lakukan adalah melindungi para Roh dengan kapal udara sebelum pergi ke daerah aman. Lebih jelasnya, telepon genggam Itsuka Shidou berbunyi pada saat itu karena mungkin untuk memberitahu dia tentang hal ini juga.

“…………….”

Dan, disaat terbang dengan lurus di langit. Ellen mengangkat halisnya dengan terkejut.

Alasannya sangat sederhana. Dari semua tempat, Uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu-------suara dari sirene mulai berbunyi sampai masuk kedalam telinganya.

“Alarm gempa luar angkasa……jangan bilang, Roh?”

Dia berbicara seperti itu tapi bagaimanapun, dia menyadari kemungkinan lain.

---tidak perduli seberapa sulit untuk menghiraukan Westcott, jika mereka menjatuhkan satelit buatan di Kota Negara Jepang maka tidak perduli bahkan jika itu adalah DEM company, mereka tidak akan bisa melarikan diri dengan mudah. Jika itu adalah masalahnya, dewan direktur tidak akan mencapai tujuan mereka untuk mengambil alih perusahaan.

Jika masalahnya seperti itu, anggota dewan berencana untuk menyangkal semua ini karena gempa luar angkasa. Aku mengerti, ini adalah hal yang masuk akal.

“Aku tidak akan membiarkan mereka”

Setelah Ellen menggertakan giginya, dia pergi kearah Westcott dengan kecepatan penuh.
  
* * *
  
BAGIAN KEDUA

Belum lama setelah Ellen meninggalkan rumah kediaman Itsuka, alarm gempa luar angkasa menggema sepanjang kota dan suara penduduk sekitar yang sedang evakuasi dapat terdengar.

“Alarm gempa luar angkasa? Di waktu seperti ini!?”

“Tidak, kau salah”

Ketika Shidou melihat keluar jendela dengan terkejut, Kotori mengatakan itu melalui telepon.

“Kita tidak mendeteksi getaran apapun di daerah terdekat………………jika ini adalah informasi palsu hal ini terjadi di waktu yang tepat-------ini adalah pekerjaan seseorang yang berencana untuk menyangkal semua ini pada gempa luar angkasa atas semua kerusakan yang dibuat oleh satelit buatan”

“Menyangkal semua ini pada gempa luar angkasa………..tunggu, kenapa mereka melakukan itu!?”

“……….ini pasti DEM company”

Kotori mengatakan itu seakan-akan dia sedang menggertakan giginya. Bagaimanapun, Shidou mengangkat kedua halisnya.

“Tu-tunggu sebentar. DEM…………..? bukankah itu tidak mungkin?”

“Kau begitu yakin mengatakan hal aneh seperti itu. Organisasi yang melakukan hal seperti ini, memiliki hak untuk mengatur semuanya dan mungkin mereka memiliki masalah kesehatan karena ada beberapa bagian  yang hilang dari dalam kepala mereka, tidak ada hal apapun yang dapat aku pikirkan” 

““Tidak, itu memang benar tapi…………”

Shidou menceritakan semua kejadian yang baru saja terjadi sebelumnya.

Tentang kejadian saat Ellen berada disini ketika Shidou masuk kedalam rumah. Dan juga-------ketika Ellen berlari keluar dari rumah, dengan panik.



------Beberapa saat kemudian

“Ellen Mathers? Sangat benar jika hal itu sangat aneh……………jika rencana ini adalah untuk menghancurkan semua roh maka, tidak mungkin dia tidak mengetahui rencana ini………..tidak, selain hal itu………….”

Kotori berkeluh kesah dengan sangat keberatan. Bagaimanapun, dia dengan cepat menyadari bahwa hal itu bukanlah hal yang harus terus dipikirkan. Dia mengumpulkan kembali ketenangannya dan melanjutkan kalimatnya.

“Bagaimanapun juga! Sangatlah berbahaya jika kau terus berada disitu. Kita dengan cepat akan menjemputmu dengan <Fraxinus> jadi, pergilah keluar”

“A-aah……… bagaimana dengan Tohka dan yang lainnya?”

“Jangan khawatir. Persiapan jalan untuk melarikan diri dari bawah tanah baru saja disiapkan. Kita dengan cepat akan sampai disana setelah kita menjemputmu Shidou”

“Aku mengerti. Kalau begitu------“

Shidou lalu memegang pundaknya ketika dia akan menjawab.

“Melarikan diri dari bawah tanah? Bukankah fasilitas itu tidak memiliki ketahanan yang sama dengan shelter?”

Ketika Shidou mengatakan itu, Kotori mengambil nafas dalam-dalam seakan jika dia membuat detakan jantung sebelum menjawab.

“------Ya, itu benar. Hampir tidak diragukan jika shelter hanya dapat menahan gempa luar angkasa yang mencapai rank B atau kurang dari itu”

“………..tunggu sebentar. Itu artinya-----“

“Jika dipikirkan dengan normal, itu tidak akan menjadi masalah. Tapi, ada sesuatu yang menggangguku”

“Sesuatu yang mengganggumu………………?”

“Ya. ------kita mendeteksi sedikit pembacaan Maryoku datang dari satelit buatan”

Shidou mengangkat kedua halisnya karena kalimat Kotori.

“Ap-apa artinya itu?”

“Kita masih tidak tahu penjelasan lebih lanjutnya. Tapi-------sangat sulit untuk dpikirkan  DEM mencoba membiarkan rongsokan satelit buatan jatuh begitu saja. Kita sedang berpikir jika mereka sedang membuat pemecahan  atmosfir menggunakan beberapa metode. Kau harus memikirkan kemungkinan terburuknya”

“Kemungkinan………terburuk”

“…………ya. Shelter pertama kali dibuat di dunia ini 30 tahun yang lalu, prioritas utama shelter dibuat adalah agar semua kerusakan yang dibuat oleh gempa luar angkasa tidak memakan korban jiwa. Pada dasarnya, sejak kegiatan observasi gempa luar angkasa telah dilakukan, diatas tanah, dibawah permukaan laut dan langit, kemungkinan yang paling tinggi untuk menghindari dampak kerusakan adalah dengan bersembunyi dibawah tanah”

Tapi, Kotori melanjutkan kalimatnya.

“Masalah yang sekarang adalah cerita yang berbeda”

“Jika satelit buatan jatuh tepat diatas shelter maka………….apa kau ingin mengatakan kalau orang-orang yang ada didalamnya tidak akan selamat!?”

“………seperti yang aku bilang, Kita masih tidak tahu penjelasan lebih lanjutnya. Tapi, tolong mengertilah kalau kemungkinan terburuk itu ada”

“…………..! Apa-apaan itu semua! Hanya karena target mereka adalah Roh, bukankah ini terlalu berlebihan…………!”

Setelah Shidou berteriak sambil mengepalkan tangannya dengan keras, Kotori lagi-lagi berkeluh kesah dengan sangat keberatan.

“Aku masih tidak mengerti-----hal itu”

“…………eh?”

“DEM juga tahu jika kita memiliki kapal udara. Jika target mereka adalah para Toh maka, aku tidak berpikir kalau mereka akan memilih metode yang tidak pasti”

“La-lalu, Apa artinya semua ini………..”

“Aku tidak bisa mengatakan apapun untuk saat ini. Mungkin mereka orang-orang idiot sedang mengalami stress berat sampai-sampai membuat keputusan yang tidak masuk akal seperti itu atau, mereka kehilangan akal sehat mereka, atau mungkin------mereka memiliki tujuan lain”

“Tujuan……………”

Shidou terteguk. Apa yang sebenarnya terjadi, hanya karena ingin mencapai [Tujuan] mereka saja, mereka sampai nekat membuat ribuan korban?

“-----Aku mengerti perasaanmu tapi, tolong cepatlah bergegas. Kita sudah membuang-buang waktu karena terus-menerus seperti ini”

Kotori mengatakan itu dengan tidak sabar. Bagaimanapun, Shidou tetap terdiam.

“Tu-tunggu sebentar. Apakah ada cara lain!? Jika semuanya terus seperti ini, meskipun kita selamat, orang-orang yang berada di kota akan-----“

“Tolong dengarkan aku sampai selesai”

Kotori memotong kalimat Shidou dan berkata seperti itu dengan membujuk.

“Aku tidak ingin melihat semua penduduk mati begitu saja. Aku memiliki sebuah ide”

“! Be-benarkah!?”

“Ya. ------ini sangatlah sederhana. Sebelum satelit buatan menghancurkan kota, kita akan menembaknya dengan senjata utama <Fraxinus>. Jika kita melakukan itu, bahkan jika itu sampai membuat ledakan dari satelit aktif, dan dampak ledakan atau potongannya jatuh ketanah, shelter yang ada dibawah tanah akan baik-baik saja……….mungkin permukaan tanah diatas shelter menjadi sedikit hancur tapi, ini sama seperti dampak gempa luar angkasa, mereka pasti akan bersyukur jika mereka selamat bahkan meskipun yang terselamatkan itu hanyalah nyawa mereka sendiri. Kita akan membiarkan tim perbaikan JGSDF berkerja dengan keras untuk membereskan sisanya”

“Aku mengerti……….jika itu adalah masalahnya!”

“Kau sudah puas? Kalau begitu cepatlah bergegas”

“Aah!”

Shidou mengangguk sebelum memutuskan panggilan telepon dan bergegas pergi kedepan gerbang rumah setelah memakai kembali sepatunya.

Dan------di saat itu, *Koron* sesuatu berbunyi dari saku Shidou saat dia duduk untuk memakai kembali sepatunya.

“Hn………?”

Ketika dia mencarinya, dia melihat sebuah chupa chups dengan bungkus berwarna merah.-----itu adalah benda yang Natsumi jatuhkan ketika dia menyamar menjadi Kotori saat di fasilitas bawah tanah.

“Ah------“

Ketika dia melihat benda itu. Shidou memikirkan beberapa kemungkinan. Dia terdiam di tempat itu untuk beberapa waktu dan menjadi tercengang.

itu benar. Shidou telah melupakan sesuatu. Memang benar jika penduduk disekitar lingkungan rumahnya telah berevakuasi menuju shelter karena gempa luar angkasa. Semuanya akan baik-baik saja jika <Fraxinus> berhasil menghancurkan semua satelit buatan tersebut.

Tapi-------masih ada satu orang. Telah melarikan diri dari fasilitas bawah tanah, hanya ada satu orang yang masih berkeliaran di atas permukaan.

Ketika Shidou berhenti didepan gerbang, suara ritme mulai terdengar lagi dari telepon genggamnya. Setelah dia menekan tombol untuk menjawab panggilan, dia bisa mendengar suara Kotori yang mana suara sentakan tercampur di kalimatnya.

“Hey, apa yang sedang kau lakukan Shidou. Aku sudah memberitahumu tidak ada waktu………….”

“Kotori”

Kotori berbicara dengan tidak sabar, dan lalu berhenti. Mungkin dia merasakan ada sesuatu yang telah terjadi pada Shidou, Kotori melanjutkan kalimatnya dengan ragu-ragu.

“Ada apa, apa yang terjadi?”

“Aah. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu …………apa kau telah membawa Tohka dan yang lainnya?”

“Hah? Kenapa lagi.-------aah, apa kau sedang memikirkan membawa semuanya ke tempat yang aman sebelum diriku? Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, kita akan mengamankan semuanya dengan baik”

“Tidak………Masih ada hal yang harus aku lakukan disini tidak perduli bagaimanapun itu”

Ketika Shidou mengatakan itu, Kotori berteriak [Haaa!?] dengan penuh kemarahan.

“Aku sudah bilang kalau ini darurat, apa kau tidak mendengarkan!? Aku tidak tahu apa yang ingin kau lakukan tapi, ini tidak bagus jika kau membahayakan hidupmu seperti itu dan terutama-----“

“Ini soal Natsumi”

“……..uh”

Kotori terkejut mendengar kalimat Shidou.

“Kalian semua masih belum menemukan Natsumi, kan………….?”

Ya. Ini akan menjadi masalah besar jika dia masih ada di permukaan.

Orang biasa akan berlari menuju shelter ketika alarm gempa luar angkasa berbunyi. Ini sangatlah wajar. Tapi untuk Natsumi yang mana adalah seorang Roh, dia tidak dapat berpikir apakah iya atau tidak dia akan mengerti tanda alarm itu. Natsumi yang mana awalnya dikarantina di fasilitas bawah tanah, membuat Shidou berpikir jika tidak mungkin Natsumi akan kembali kedalam shelter, karena shelter adalah bawah tanah juga, seperti fasilitas karantina.

“Itu…………tapi, Natsumi bukanlah orang bodoh! Bahkan jika dia tidak evakuasi menuju shelter, ada kemungkinan jika dia sudah melarikan diri sangat jauh---------dan bahkan jika ledakan dan pecahan satelit buatan jatuh, dia adalah Roh kau tahu!? Dia akan melindungi dirinya sendiri dari hal berbahaya seperti itu!”

“Itu mungkin benar. Tapi………….luka yang Natsumi dapatkan dari Ellen belum sepenuhnya sembuh. Itu akan sangat berbahaya”

“……………………uh”

Kotori berkeluh kesah keberatan sebelum, menjadi terdiam. Seakan-akan jika Shidou membuat sebuah permohonan, Shidou mengeluarkan suaranya pada Kotori yang mana sedang berada di sisi lain telepon selulernya.

“Aku mohon…………………Bisakah kau membiarkanku mencari Natsumi sampai saat-saat terakhir? Mungkin ini terlihat tidak masuk akal. Tidak………………kemungkinan akan hal itu masihlah tinggi. Tapi, selama Natsumi dalam keadaan bahaya, Aku tidak bisa………………membiarkan hal itu”

Ketika Shidou mengatakan itu saat mengepalkan tangannya, Kotori tetap terdiam untuk beberapa waktu sebelum-----

“……………..haaa”

Seperti itu, dia membuat desahan seakan-akan jika dia menyerah.

“…………….Aku mengerti. kau tidak akan mendengarkanku bahkan jika aku berbicara banyak”

“Kotori…….!”

“Dan juga, batasan waktunya sampai kita selesai mempersiapkan serangan balik kita. Aku tidak mengizinkanmu lebih lama dari itu. Satu hal lagi, kau harus memakai Incam-mu agar kita dapat berkomunikasi denganmu”

“Aah, Aku mengerti”

“Kalau begitu, cepatlah dan pergi. Kita akan mencoba menggunakkan kamera otomatis yang masih aktif untuk mencari keberadaan Natsumi juga. Ini akan menjadi masalah kecuali jika kau memikirkan beberapa hal”

“Baiklah…………! Kotori!”

“Apa”

“Terima kasih”

Saat Shidou mengatakan itu, Kotori *fuun* mendengus lewat panggilan telepon.

“…………..Itu adalah kalimatku. Aku merasa panik dan kehilangan pengawasan pada hal yang penting. Aku mengandalkanmu, Shidou”

Setelah Shidou menghadapkan kepalanya kebawah, dia mengambil chupa chups yang belum lama terjatuh di koridor beberapa waktu yang lalu kedalam sakunya dan pergi keluar rumah.

Mungkin evakuasi penduduk di daerah sekitar rumahnya hampir akan selesai; sampai tidak ada tanda-tanda siapapun yang yang dapat terlihat disekitar jalan, yang hanya tersisa hanyalah isyarat dari kehadiran banyak orang beberapa saat yang lalu; ini benar-benar kesunyian yang luar biasa. Shidou berjalan disekitar kota tanpa ada siapapun, dia sudah berkali-kali melakukan komunikasi dengan para Roh tapi, tidak perduli berapa kali dia mengalami hal ini, seperti yang diduga dia tidak dapat membuat dirinya sendiri menikmati perasaan aneh semacam ini.

Tapi, sekarang bukanlah waktunya untuk membuat senyuman masam. Shidou berlari di jalanan kota sambil mengambil nafas dengan dalam, dia lalu mengeluarkan suaranya seakan-akan jika dia ingin membuat suara gema di daerah sekitar.

“--------Natsumi!!!”

Suara Shidou menggema disekitar kesunyian tidak wajar yang mana terjadi di daerah tempat tinggal penduduk kota ini. Tapi tentu saja-------tidak ada jawaban sedikitpun.

Bagaimanapun, ini semua diluar perkiraan Shidou. Dia tidak menghiraukan hal itu dan terus menggetarkan kerongkongannya.

“Jika kau ada disekitar sini, dengarkanlah aku! Beberapa jam lagi, pecahan satelit buatan yang tak terhitung jumlahnya akan jatuh disekitar daerah ini! Sangatlah berbahaya jika kau terus berada di permukaan! Kau harus bergegas dan evakuasi! Itulah alasannya, Kita tidak memiliki banyak waktu! Kumohon pergilah bersamaku! Kita tidak akan menguncimu kedalam sebuah ruangan! Sampai semuanya selesai, kau bisa pergi kemana saja seperti yang kau mau! Kumohon!”

Teriakan Shidou menggema di sekitar jalanan kota tempat para penduduk tinggal, dan menghilang perlahan. Tidak ada jawaban seperti yang diduga.

Tapi, Shidou tidak berpikir kalau ini adalah tindakan yang sia-sia.

Dia tidak mengetahui keberadaan Natsumi. Seperti yang Kotori katakan, dia mungkin sudah melarikan diri ke tempat lain, atau dia mungkin sudah bergabung dengan para penduduk dan berada di bawah tanah saat ini.

Bagaimanapun, Natsumi masih berada diatas permukaan---------dan kemungkinan juga dia masih berada di daerah Kota Tenguu, dia tersandung ketika memikirkan kemungkinan bahwa dia memiliki rasa dendam karena terkurung didalam bawah tanah, dia mungkin sedang mempermainkan Shidou sambil bersembunyi di suatu tempat.

Bertaruh pada kemungkinan kecil itu, dia mulai berteriak lagi.

“Aku tidak perduli sekalipun jika kau membeciku! Tolong bersembunyilah di Shelter dengan penduduk atau melarikan diri ke kota lain secepat yang kau bisa! Hal terburuk akan datang pada yang terburuk------kau bisa kabur ke dunia lain! Bagaimanapun juga, sangat berbahaya untuk terus diam di kota ini! Aku mohon padamu! Pergilah dari sini!”

Berteriak sambil berlari membuat memaksakan sebuah beban besar dalam paru-parunya. Bahkan sekarang ini dia tidak memiliki hasil apapun sejauh ini, paru-parunya terasa sakit dan sangat sulit baginya untuk bernafas.

Tapi, Shidou tidak menghentikan kakinya. Mungkin, Natsumi tidak bersembunyi disekitar tempat ini.

Dalam keinginan agar suara Shidou dapat mencapai menuju tempat Natsumi berada, dia kembali mengambil nafas dalam-dalam.
  
* * *
  
BAGIAN KETIGA

“------Natsumi! Aku mohon! Jawab aku jika kau mendengarkanku!”

Shidou berteriak berkali-kali sampai tak terhitung jumlahnya disaat berlari di kota yang kosong ini.

“…………………”

Natsumi terdiam saat mendengar suara itu.

Lebih jelasnya, Shidou masih berpikir kalau Natsumi masih ada disekitar tempat ini dan juga saat ini Natsumi dapat memperhatikan Shidou.---------sebenarnya, pemikiran Shidou benar.

“Natsumi! Natsumi! Apa kau disini!? Natsumi!”

Suara memohon Shidou menggema disekitar kota.

Suaranya terdengar serak dan nafasnya terdengar lemas. Dia terlihat sangat menyedihkan

Bagaimanapun, Shidou tidak berhenti untuk berteriak. Ketika dia tersandung sebuah batu, dia dengan cepat berdiri kembali dan mulai berteriak memanggil nama Natsumi lagi dan lagi.

---Kenapa kau melakukannya sampai sejauh itu.

Hanya saja disaat sebelum Natsumi mencoba menjawab kata-kata itu, dia menahan keinginan itu.

Ini tidak seperti dia berpikir kalau Shidou akan mencari dimana posisinya saat ini jika Natsumi mengeluarkan suaranya. Semua ini sangatlah sederhana; Nastumi sudah tahu jawabannya bahkan jika dia tidak mengeluarkan kalimat-kalimat itu.

---kenapa?

Dia bersungguh-sungguh ingin melindungi Natsumi.

Pecahan dari satelit buatan akan jatuh ke daerah ini. Apa yang Shidou katakan lebih jelasnya adalah sebuah kebenaran. Dan juga dia melihat para penduduk yang ada disekitar kota berevakuasi, tidak diragukan lagi ini adalah semacam bencana yang sudah diprediksi.

Tentu saja jika itu adalah masalah utamanya maka, ada kemungkinan untuk berpikir jika organisasi yang ada dibelakang Shidou dan yang lainnya, menyalakan alarm agar membuat Natsumi keluar tapi------mendengarkan sedikit suara yang datang dari Shidou dan Kotori yang sedang berkomunikasi melalui telepon saat ini, kemungkinan itu sangatlah tidak mungkin.

Shidou tidak memikirkan bahaya apa yang akan menimpa dirinya dan tanpa ada alasan yang jelas, Mungkin jika Natsumi masih belum ditemukan olehnya; dia akan terus mencarinya sendirian disekitar kota yang mana tidak ada seorang pun yang bersamanya.

“Uu………….”

Ketika dia memikirkan hal itu, perasaan aneh lagi-lagi meluas didalam dadanya.

Ini terasa sangat ringan, berputar-putar, dan tidak wajar, dan perasaan ini mengganggu dirinya.

---Saat pertama kali Natsumi datang ke dunia ini diam-diam. Tidak ada siapapun yang memperhatikan Natsumi.

Natsumi sangat membenci hal itu. Dia mencoba untuk berbicara dengan siapapun; dia mencoba untuk berbaur dan berharap dikenal oleh seseorang. Itulah kenapa------dia menggunakan kekuatan <Haniel> untuk menata ulang penampilan dirinya sendiri.

Ketika Natsumi berubah menjadi one-san yang cantik, semua orang menjadi ramah padanya. Semua orang akan merasa kagum pada Natsumi dan mendengar apa yang dia katakan. Tapi-------tidak perduli berapa kalipun ini terjadi, perasaan Natsumi tidak pernah merasa puas.

Akhirnya, tidak akan ada satupun yang melihat Natsumi. Dan juga akhirnya, tidak akan ada yang mengenali Natsumi. Perasaan itu tetaplah kuat, dibandingkan apa yang dia rasakan.

Tapi saat ini, hanya Shidou-lah satu-satunya yang ingin melihat [Natsumi Asli] yang tidak diketahui siapapun.

---Dia mencoba untuk melihat Natsumi yang telah ditolak semua orang.

“……………”

Satu persatu kejadian yang telah dialaminya melayang dikepala Natsumi.

Fakta bahwa Shidou melindungi dirinya ketika Ellen menyerang.

Fakta bahwa semua orang merubah Natsumi.

Fakta bahwa dia membuatku berpikir kalau aku sangatlah manis.

---Dan fakta bahwa dia ingin mengenal seseorang sepertiku.

“………….Jangan bilang, Aku”

Dia tidak ingin memikirkan hal itu terus-menerus.

Natsumi-----tidak ingin Shidou mati.

Tanpa disadari, dia tidak memperdulikan lagi fakta bahwa Shidou telah melihat rahasia miliknya. Lebih jelasnya, dia sangatlah senang karena ada seseorang yang bersungguh-sungguh ingin melihat dirinya yang sebenarnya.

“------Natsumi!”

“………….., …………….”

Pada saat ketika namanya dipanggil, dia hampir mengeluarkan suaranya dengan seketika.

Dia tidak perduli lagi jika dia mengeluarkan suaranya. Jika itu terjadi, Shidou akan benar-benar menemukan Natsumi. Akan lebih baik jika mereka berdua pergi ketempat yang lebih aman.

Bagaimanapun, sekarang Natsumi mengkhawatirkan hal itu, dia tidak dapat memirkirkan apa yang harus dia lakukan dengan emosi barunya yang saat ini dia miliki.

“Se-semuanya akan baik-baik saja…….baik-baik saja”

Dia mengatakan kalimat itu dengan suara kecil yang mana membuat dirinya tidak dapat ditemukan oleh Shidou.

Jika Shidou berevakuasi saat pecahan satelit itu akan jatuh. Tidak diragukan lagi jika organisasi yang ada dibelakang Shidou akan melakukan sesuatu sama seperti saat mereka menolong Natsumi.

Natsumi meneguhkan [Semuanya akan baik-baik saja, semuanya akan baik-baik saja] didalam hatinya seakan-akan jika dia membiarkan dirinya mendengar kalimat itu disaat, berdoa agar Shidou menyerah untuk mencari Natsumi secepat mungkin dan sesegera mungkin berevakuasi ke tempat yang aman.

* * *
  
BAGIAN KEEMPAT

“Ada laporan datang dari fasilitas bawah tanah D3, Tohka-chan dan yang lainnya sudah berada disana!”

“Pengumpulan dari 13 orang yang mengiringi anggota organisasi sudah lengkap!”

“Tembok dari fasilitas telah tertutup dengan remote kendali!”

Setelah mendengarkan permintaan Shidou, 20 menit setelah mengirimnya keluar menuju kota yang saat ini kosong. Kotori membuka mulutnya setelah mengkonfirmasi laporan dari para kru yang berada di dok utama kapal udara.

“Baiklah------Bagaimana soal posisi Shidou saat ini?”

“Shidou-kun saat ini berlari kearah utara jalan utama pada distrik ketiga. Kelihatannya dia sedang menuju ke arah sekolah”

“Bagaimana, apa kita sudah menemukan posisi Natsumi dari kamera otomatis?”

“Sayang sekali, kita tidak menemukannya”

“Aku mengerti”

Kotori membuat jawaban singkat. Dia berpikir jika mencari Natsumi yang mana mempunyai kekuatan transformasi tidaklah semudah itu.

Dan,

“! Komandan! Satelit buatan mulai dijatuhkan!”

Normalnya, ketika satelit buatan jatuh, ini secara berangsur-angsur akan melawan tekanan orbit dan akan berputar-putar disekitar bumi, lalu perlahan-lahan karena ketinggian dari gravitasi dan atmosfer, mengakibatkan benda itu terbakar ketika melawan tekanan yang hebat dari stratosfir.

Tapi dalam ikon yang ditampilkan pada monitor, kelihatannya satelit buatan, jatuh dengan tegak lurus kearah bumi seakan-akan jika ada sesuatu yang mendorongnya dalam garis vertikal.------ini benar-benar tidak wajar.

“------Jadi sudah dimulai yah”

Setelah Kotori membasahi bibirnya, dia membuat salah satu tangannya tegak lurus menunjuk kedepan dan membuat sebuah perintah kepada para kru.

“Perhitungkan titik prediksi jatuhnya satelit buatan dengan cepat! Aktifkan paralel Ar-008, dan transmisikan mesin no.3 sampai no.5, juga lepaskan pengunci daya <Mystletainn> agar siap siaga menembak! Setelah kita menjemput Shidou, kita akan pergi ke titik jatuhnya satelit buatan dan hancurkan targetnya!”

Sebenarnya, menentukan titik jatuhnya satelit buatan dengan tepat sangatlah sulit. Tapi, jika mereka menggunakan tenaga kalkulasi dari AI yang terpasang didalam <Fraxinus> maka ini sangatlah memungkinkan untuk memperhitungkan titik jatuhnya meskipun ada sedikit kesalahan beberapa kilometer.

“Baiklah! Ar-008, no.3, no.4, no.5, telah mulai mengaktifkan Maryoku!”

“Titik prediksi jatuhnya satelit buatan sudah ditentukan! Satelit buatan akan jatuh disekitar daerah selatan Kota Tenguu!”

Setelah dia mendengar laporan dari Mikimoto, Kotori membunyikan lidahnya.

“Tsk, posisi Shidou dengan diluar dugaan berada di dekat daerah titik jatuhnya satelit buatan”

Satu-satunya cara agar mereka dapat menggunakan alat teleportasi <Fraxinus>, adalah disaat ketika target tepat berada dibawah tanpa ada objek yang menghalangi. Yang mana artinya; mereka harus bergerak tepat diatas target jika mereka ingin menjemput seseorang yang berada di permukaan bumi.

Tapi meskipun begitu, selama disana ada sebuah kemungkinan ledakan dari satelit buatan akan aktif diwaktu yang bersamaan dengan tabrakan, ini bukanlah rencana yang bagus untuk <Fraxinus> untuk mendekat pada target. Setelah menjemput Shidou pada tempat dimana dia berada yang berdekatan dengan titik prediksi ledakan, ada keharusan yang mereka lakukan untuk menjaga jarak dan juga persiapan untuk serangan balik untuk menghancurkan satelit buatan.

“Berapakah waktu yang tersisa setelah kita bergerak ke titik penjemputan Shidou?”

“Waktu yang tersisa sekitar…………5 menit 30 detik!”

“Kemungkinannya sangat rendah, memikirkan soal persiapan untuk serangan balik. Dimohon untuk bergerak dengan kecepatan penuh”

“Roger!”

Di waktu yang sama saat Kawagoe menjawab, dok utama kapal udara dilingkupi dengan suara rendah nada pemantauan-------<Fraxinus> yang awalnya melayang di udara saja, mulai bergerak.

Setelah memberitahu hal itu, dia membuat perintah lainnya.

“Hubungi Shidou”

“Roger”

Nakatsugawa mengoperasikan konsol. Dan lalu, pada monitor utama, Shidou yang sedang berlari disekitar kota yang mana sedang mencari Natsumi ditampilkan pada layar.

Dia menarik penghubung suara mendekati bibirnya dan mengirim suaranya pada Incam milik Shidou.

“Shidou, apa kau bisa mendengarku?”

Shidou yang ditampilkan didalam layar mulai membuat sedikit reaksi dan berhenti berlari.

“……….a-ahh………aku bisa, mendengarmu………..”

Menekan Incam dengan jarinya, Shidou menjawab sambil bernafas kelelahan. Suaranya sesak seperti saat seseorang kedinginan. Kelihatannya dia sudah berlari sangat lama sambil terus-menerus memanggil nama Natsumi.

Dia agak merasa bekeluh kesah untuk mengatakan kalimat selanjutnya ketika dia melihat Shidou seperti itu. Tapi, dia tidak dapat mengizinkan Shidou untuk terus mencari Natsumi. Dia sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengumpulkan kembali ketenangannya sebelum mengeluarkan suaranya pada penghubung suara.

“Maafkan aku, ini sudah sampai batas waktunya. Kita akan bergegas kesana untuk menjemputmu jadi, jangan bergerak dari tempat itu”

“Ap……………Waktu……….batasnya…….!? Aku mohon, sedikit lagi-----“

“Tidak. Kau sudah berjanji”

“Ta-tapi”

Shidou menentang. Kotori *crack* menggigit chupa chups-nya.

“Jangan membuatku mengatakannya lagi……………..jangan memikirkan orang yang ingin kau lindungi didalam hidupmu saja, kau juga harus memikirkan keselamatanmu”

Ketika Kotori mengatakan itu, Shidou terdiam beberapa waktu sebelum membuat desahan kecil.

“………………, …………….Aku mengerti. Maaf, aku terlalu keras kepala”

“Tidak terlalu. Aku berterima kasih kau telah berusaha sekeras itu”

Setelah Kotori menyilangkan kedua tangannya saat mengatakan hal itu, dia lalu melihat kembali pada monitor.

Disaat dia melakukan hal itu, sirene yang memberitahukan keadaan darurat mulai menggema dari pengeras suara yang terpasang di dok utama kapal udara.

“Uh, apa yang terjadi!?”

“In-ini………….Kecepatan jatuh dari satelit buatan tiba-tiba saja meningkat tinggi!”

“Apa kau bilang……………!?”

Di waktu yang sama saat Kotori mengangkat kedua halisnya, satelit buatan ditampilkan pada monitor. Layar persegi dengan panel surya terpasang di setiap sisinya. Dan juga diujungnya, ada beberapa objek tak berbentuk yang mengelilingi. Kelihatannya bagian itu adalah alat yang berguna sebagai pemicu kecepatan. Sangatlah jelas jika itu bukanlah satelit buatan biasa.

“Kuh……apa itu……….!?”

Kotori membuka matanya lebar-lebar dan membiarkan keringat dingin jatuh ke pipinya. Kelihatannya mereka benar-benar serius sampai sejauh itu untuk membuat kerusakan besar ketika satelit tersebut jatuh. Atau mungkin-----mereka menyadari keberadaan <Fraxinus> di kota Tenguu, dan mereka mewaspadai kemungkinan serangan balik dari <Ratatoskr>.

Tidak perduli manakah yang benar dari salah satu hal itu, tidak diragukan lagi jika keadaan seperti ini adalah sesuatu yang tidak bagus untuk Kotori dan yang lainnya. Dia memukul penyangga tangan kursi komandan sambil berdiri dan memantulkan suaranya disekitar dok kapal utama.

“Cepatlah hitung waktu penjemputan kita, apa kita masih memiliki waktu untuk menjemput Shidou!?”

“………., …………….., sudah tidak bisa dihitung lagi! Ji-jika dilihat dari perhitungan prediksinya, kita tidak akan berhasil jika tidak memulai serangan baliknya sekarang!”

“Kuh……………!”

Kotori menyimpangkan wajahnya dengan kesulitan. Tapi, dia dengan cepat membenamkan diri dalam pikirannya dan

“……….Shidou, maafkan aku, tapi ada masalah dengan rencananya”

“Eh?”

“Kita tidak dapat menjemputmu. ------tapi, jika kita menghancurkan satelit buatan sekarang, tidak akan ada kerusakan yang akan mengenai bawah tanah ataupun shelter. Cepatlah, segera berevakuasi ke shelter terdekat”

“------, aah, Aku mengerti. Jangan khawatirkan aku. -----aku mengandalkanmu”

Dia mungkin sudah menebak bagaimana situasinya saat ini dari suara Kotori. Shidou tidak menanyakan apapun lagi dan berkata seperti itu. Kotori menahan suara gemetarannya, disaat [Ya] mengangguk sebelum memutuskan transmisi komunikasinya.

“Ko-komandan………….”

“………Tidak ada masalah. Yang lebih penting, kita mulai persiapan serangan baliknya.-------kita harus mengenai dan menghancurkan satelit itu dengan akurat”

“Ro-roger!”

Para kru berteriak dan mengoperasikan konsol. <Fraxinus> mengubah arah tujuan terbangnya dan pergi kearah titik serangan baliknya.

“………kuh”

Kotori menggertakan giginya dan mengepalkan tangannya dengan keras.

Keputusan Kotori bisa dianggap benar. Jika mereka memprioritaskan menjemput Shidou adalah yang paling terpenting, ini akan menjadi sangat tidak mungkin bagi <Fraxinus> untuk menyerang balik dan hasilnya, banyak orang yang akan kehilangan nyawa mereka. Tapi-------

“----komandan!”

Dan setelah beberapa lama berpikir, suara Shiizaki menggetarkan gendang telinga Kotori .

“Kita telah sampai di titik serangan balik!”

“Target akan sampai pada titik yang telah ditentukan dalam 30 detik!”

“Ar-008 telah selesai mengisi Maryoku! Kita dapat menembak sekarang!”

Suara dari kru menggema di dok utama kapal. Kotori menggeleng-gelengkan kepalanya untuk membuang semua pemikiran yang tak perlu sebelum, melihat lurus kearah monitor.

Dan seakan-akan untuk menyesuaikan dirinya dengan hitungan mundur yang ditampilkan dipinggiran layar, dia mengikuti hitungan angkanya dengan menghitung didalam hatinya juga dan ketika target telihat didalam layar dengan sangat tepat------dia mengeluarkan suaranya.

“-------<Mystletainn>! Tembak!”

Di waktu yang sama saat Kotori berteriak, aliran yang kuat dari Maryoku ditembakan melalui meriam <Fraxinus>.

Gugus besar dari Maryoku dilepaskan dari Realizer besar yang terpasang didalam kapal udara dengan tepat mengenai pada target yang ditampilkan ditengah-tengah layar dan meledakkannya.

Ini adalah perhitungan yang tepat. Ada beberapa kru membuat pose yang meyakinkan bahkan meskipun mereka belum memastikan apakah satelit buatan benar-benar hancur atau tidak.

Tapi-------

“Apa……….!?”

Disaat-saat selanjutnya, Kotori membuat ekspresi yang luar biasa sambil mengeluarkan suara yang mencemaskan

Bagaimanapun itu sangatlah wajar. Disaat titik temu meriam Maryoku mengenai tepat pada satelit buatan, kelihatannya tembakan tersebut hanya menembus satu sisi dari panel surya dan daya dorongnya saja sebelum menghilang diatas langit.

Meskipun satelit buatan kehilangan keseimbangan karena tergibas oleh meriam maryoku-------satelit buatan tetap akan untuk jatuh Seakan-akan jika benda itu terdorong oleh gravitasi.

“Ap-apa itu………!”

“Itu terlihat seperti, sebuah Territory……..”

Kannazuki yang mana berdiri disebelah kursi komandan adalah salah satu orang yang menjawab teriakan Kotori. DIa menempatkan tangannya di dagu dan *Fuumu* berkeluh keberatan.

“Territory kau bilang……..!?”

Kotori berteriak dan-------disaat itu, dia menemukan titik kejanggalan didalam satelit buatan dengan melihatnya melalui layar monitor.

Objek lingkaran yang telah ditembus oleh <Mystletainn>.

Didalamnya, bentuk wajah yang familiar mengintip keluar.

“Itu…………<Bandersnatch>……..!?”

Ya. boneka mekanik milik DEM <Bandersnatch>. Lebih jelasnya, itu adalah unit yang sangat serupa dengan wizard. Benda itu dapat menggunakan Realizer tanpa bantuan seorang Wizard, dan juga benda itu dapat membuat Territory; itu adalah senjata tak berawak milik DEM.

Benda itu dimasukan kedalam satelit buatan.

“Tidak mungkin-----mereka mempunyai metode semacam itu……..!”

Memperhatikan hal itu, Kotori mulai memahami garis luar dari satelit buatan dengan seketika.

Kemungkinan besar DEM Company membuat <Bandersnatch> dengan bentuk yang telah dikustomisasi dan membuatnya masuk kedalam satelit buatan yang mana direncakan untuk mengaturnya.

Bahkan jika satelit buatan meluncur dengan kecepatan yang tinggi, sangatlah mungkin untuk memperbesar kecepatannya karena ada sebuah unit yang telah dipasang Realizer.

Dan dengan <Bandersnatch> yang terpasang didalamnya dapat mengartikan------sangatlah mungkin membuat Territory disekitar satelit buatan.

“Aku mengerti…………….Itulah alasan mengapa satelit buatan tidak terkena kerusakan yang besar ketika menabrak lapisan stratosfir…………!”

Setelah Kotori membunyikan lidahnya dalam kekesalan, dia mendengar suara dari Reine yang menggesekan konsolnya.

“………Ini bukanlah situasi yang bagus. Jika satelit buatan milik DEM yang mana mempunyai ukuran dan massa sebesar itu menghantam daratan,  Itu akan mengakibatkan ledakan buatan yang sangat dashyat dan semua faktor itu akan diperkuat oleh Territory <Bandersnatch>…………..”

*Kaa* suara dari tombol dapat terdengear dan sebuah angka ditampilkan pada layar.

“…………..Aku tidak tahu persis berapakah jumlahnya jadi, ini adalah sebuah perkiraan tapi…..lebih jelasnya, ini hampir sama seperti reaktor taktis”

“……………………!!”

Mendengar kalimat itu, Kotori mengambil nafas dalam-dalam.

Dia berencana memperkirakan kemungkinan terburuknya------Tapi kenyataanya, hal itu benar-benar melewati batas pemikirannya. Jika benda seperti itu menghantam daratan, Kota Tenguu seluruhnya akan berubah menjadi daratan yang benar-benar hancur.

Didalam dok kapal udara, Kannazuki membuat wajah yang kesulitan sambil memegang dagunya.

“-----ini sangatlah janggal”

“Ada apa”

“Tidak, hanya saja, tak dapat terpikirkan Territory yang dibuat oleh Realizer dari <Bandersnatch> akan menangkis <Mystletainn>”

“Itu artinya……tidak, bagaimanapun juga, menghancurkan satelit buatan adalah prioritas utama kita! Isi ulang kembali Maryoku! Kita harus melakukannya sebelum satelit buatan menghantam daratan------Kyaaa!?”

Dengan seketika, kapal udara <Fraxinus> bergetar dan kalimat Kotori terpotong.

“Apa yang terjadi!?”

“Ini adalah sebuah bombardir! Realizer berkurang 15 persen!”

“Sebuah bombardir………..?”

“Gambarnya telah ditampilkan!”

Diwaktu yang sama saat Minowa mengeluarkan suaranya, gambar dari langit ditampilkan melalui monitor. Memikirkan apa yang akan muncul, sebuah kapal udara yang lebih besar dari <Fraxinus> melayang disana. Bahkan jika ini tersusun dalam jalur yang lurus, benda itu memiliki penyangga yang mana membuat mereka berpikir tembakan mereka sudahlah tepat. Alat yang familiar dengan DEM, senjata yang bentuknya rumit terpasang di kapal udara tersebut.

“Itu----DEM”

“Kuh…………..jadi itulah alasannya mengapa serangan meriam kita tidak menghancurkan satelit buatan”

Kotori menggertakan giginya dalam penyesalan. Lebih jelasnya, mereka sudah yakin bahwa satelit buatan akan berhasil dihancurkan.

Mereka tidak tahu penjelasan lebih lanjutnya tentang mesin kapal udara musuh tapi-------sangatlah benar bahwa kapal udara itu cukuplah kuat untuk mentransmisikan titik spontan pada Territory untuk menangkis <Mystletainn >. Mereka tidak dapat menghancurkan satelit buatan sampai mereka melakukan sesuatu pada kapal musuh. Disisi lain, jika mereka melakukan hal itu, satelit buatan akan menghantam daratan.

“Komandan……..!”

Hasilnya mungkin mudah sekali untuk ditebak. Para kru membuat wajah yang kebingungan sambil mengangkat wajah mereka.

Bagaimanapun. Setelah Kotori membuat desahan kecil dalam sikap yang sangat tenang, dia duduk kembali pada kursi komandan.

“Kannazuki, Aku serahkan ini padamu.-----kita akan menggunakan <Gungnir>”

Ketika Kotori mengatakan itu, semuanya mengejangkan halis mereka.

“…………apa kau tidak akan apa-apa melakukan itu, Kotori”

“Ya. Ini tidak seperti aku akan menembaknya dengan seluruh kekuatan Reiryoku miliku. Dan aku tidak akan mengambil kekuatan regrenerasi Shidou sekarang”

Setelah Kotori menjawab pertanyaan Reine, dia lalu mengarahkan pandangannya kearah Kannazuki.

“Jangan sampai meleset, Kannazuki”

“Serahkan padaku”

Kannazuki mengatakan itu saat berdiri tegak. Setelah Kotori mengangguk dalam kepuasan, dia lalu menempatkan telapak tangannya pada alat verifikasi yang terpasang disisi konsol.

Ketika dia melakukan itu, kursi komandan yang di duduki Kotori, menggeser kebelakang dan kebawah seakan-akan jika kursinya tersedot kedalam tanah.

Dan setelah beberapa detik, Kotori yang mana sedang duduk di kursi berada diluar area terbuka.

Ruangan ini berbentuk lingkaran dengan radius 3 meter. Dan juga kondisi lingkungan luar dapat terlihat pada tembok transparan ruangan ini, dia merasakan delusi seakan-akan jika dia melayang di udara.

Tapi, Kotori tidak memiliki waktu untuk bersantai menikmati rasanya berjalan diatas udara yang tenang ini sekarang. Setelah Kotori melompat dari kursi komandan, dia berdiri ditengah-tengah lingkaran dan mengeluarkan nafas yang tipis sambil menenangkan hatinya.



“Baiklah kalau begitu, kita mulai.-----Perangku”



Didalam ruang lingkup kesadaranya, dia merasa dililit oleh benang yang tipis.

Dia membayangkan api panas yang membara melapisi seluruh tubuhnya.

Tidak lama kemudian, khayalan itu berubah menjadi kenyataan dan ketika Kotori memikirkan tentang sebuah putaran api yang melapisi dirinya, api itu berubah membentuk sebuah pakaian sihir. Dan setelah itu, api membara melingkup sampai keatas rambut Kotori dan-----tanduk dari iblis muncul di kedua sisi kepalanya.

--Astral Dress. Armor absolut yang dikenakan Roh.

Beberapa bulan yang lalu, reiryoku Kotori telah disegel oleh Shidou tapi, jika dia mencoba mengendalikan keadaan mentalnya, ini menjadi sangat memungkinkan untuk mengembalikan reiryoku miliknya dari Shidou secara spontan.

Meskipun begitu, jika dia mengambil kekuatan miliknya 100 persen, akan ada sebuah bahaya yang akan dialami kesadarannya karena dimakan oleh kekuatan itu sendiri. Dengan menjamin reiryoku miliknya pada tingkat tertentu, dia hampir dapat menggunakanya dengan bebas dan menjaga batasan astral dress yang dilepaskan.

“<Camael>”

Setelah Kotori dengan tenang mengatakan itu, api dikonsentrasikan pada tangan Kotori dan api itu berubah menjadi kapak-tempur yang besar.

Disaat itu, sebuah ledakan menggema dan kapal sedikit bergetar.

Lebih jelasnya karena mereka mendapatkan serangan dari bagian depan kapal udara musuh. Kelihatannya territory yang tebal sedang melindungi kapal ini sekarang tapi, jika waktu terbuang lebih banyak lagi, maka <Fraxinus> akan mendapat kerusakan sebelum satelit buatan menghantam. Kotori mengangkat <Camael> disaat mengeluarkan suaranya.

“----[Megido]!”

Ketika dia melakukan itu, bentuk silinder dari <Camael> berubah dan terpasang pada tangan Kotori dengan sempurna. Bentuknya terlihat seperti-----meriam yang besar. Meriam besar yang mana terlihat tidak pas pada tubuh kecil Kotori, terpasang pada tangan kanan Kotori.

Dan di waktu yang sama, konektor besar seperti perlengkapan tambahan terbuka didepannya. Ketika Kotori menyentuhnya dengan ujung <Camael>, suara elektronik kecil terdengar berbunyi dan <Camael> telah menyatu dengan konektor.

“Ayo kita lakukan, Kannazuki”

“Ya, kapanpun yang kau mau”

Ketika Kotori mengatakan itu, dia dapat mendengar suara Kannazuki dari pengeras suara.

Setelah memastikan hal itu, Kotori mengkonsentrasikan pikirannya dan mengumpulkan reiryoku miliknya didalam [Megido].

Ya. Jika mereka dapat memantulkan tembakan meriam Maryoku <Mystletainn> maka, hanya ada satu metode lagi yang tersisa.

Meriam Reiryoku Roh <Gungnir>.

Seperti namanya, dia dapat mengkonversi kekuatan Roh dan melepaskan dentuman serangan yang luar biasa; ini adalah senjata terkuat <Fraxinus>.

---kekuatan disekitar tubuhnya,

“Sekarang! Meriam Reiryoku Roh <Gungnir>!”

“Tembak!!”

Diwaktu yang sama saat suara Kannazuki menggema dari suara speaker, Meriam Roh mengeluarkan tembakannya dari meriam besar yang terpasang ditengah-tengah <Fraxinus>.

Itu seperti. Sesuatu yang tidak dapat disebut sebagai meriam laser ataupun sinar cahaya.

Dapat dikatakan jika itu-------sebuah kepulan.

Kepulan cahaya besar membuat sebuah reiryoku yang tebal, menembak tepat kearah satelit buatan dari <Fraxinus> seperti garis lurus yang terhubung.

Jika satelit buatan tertembus dengan kepulan dari reiryoku ini maka, sesuatu akan terjadi pada target.

Dengan seketika, sebuah gambaran ditampilkan pada monitor.

Saat tembakan mengenai target, satelit buatan lagi-lagi menstabilkan arahnya dan mengeluarkan Territory disekitarnya.

Tapi, setelah serangan <Gungnir> mengenai satelit buatan seketika--------satelit buatan yang jatuh kearah kota Tenguu telah dihancurkan tanpa ada bayangan ataupun pecahan yang tersisa.

Ledakan. Sejumlah pecahan. Semua kerusakan yang telah diprediksi, menjadi tepat tanpa ada bekas sedikitpun dengan serangan sederhana yang tinggi.

“-----Target, dihancurkan! Rencana sukses!”

Suara para kru menggema melalui pengeras suara. Setelah mendengar itu, lutut Kotori jatuh ke lantai.

“Haa…………haa……………”

Sakit kepala ringan dan kesadaran Kotori melemah. Mungkin karena, dia menggunakan kekuatan Rohnya, tekanan kehancuran yang misterius mulai melahap jiwa Kotori seakan-akan jika hal itu membakarnya.

Inilah alasannya kenapa mereka tidak dapat menggunakan <Gungnir> terus menerus yang mana memegang kekuatan yang luar biasa. Untuk beberapa alasan, kesadaran Kotori dimakan oleh tekanan kerusakan itu, jika begitu Kotori akan menjadi ancaman untuk <Fraxinus>. Oleh karena itu, mereka hanya dapat menembakan meriam utama jika saat dalam keadaan terdesak.

Kotori mengambil nafas dalam-dalam sambil menghilangkan kekuatan <Camael> dan melepaskan Astral dress miliknya. Dia lalu duduk dibawah seperti itu.

Dia lalu mengeluarkan suaranya untuk berbicara pada para kru yang berada di dok utama.

“Kerja bagus. Tapi kita masih belum bisa istirahat. Kita harus melakukan sesuatu pada kapal musuh-----“

Tapi, disaat itu.

Seakan-akan memotong suara Kotori, suara yang sangat berisik dari alarm darurat menggema.

“…………., apa yang terjadi! Apakah kapal musuh melakukan sesuatu!?”

“Ti-tidak! Bukan itu! I-ini------“

Diwaktu yang sama saat kru mengatakan itu, gambaran radar ditampilkan pada bagian tembok yang menunjukan pemandangan langit.

Melihat sesuatu yang terbaca pada radar------dia menarik nafas dengan terkejut.

“Apa………….ini adalah------satelit buatan lainnya………..!?”

Ya. Pembacaan yang sama dengan salah satu benda yang dihancurkan telah muncul kembali diatas udara <Fraxinus>.

“Tidak mungkin-------jangan bilang padaku kalau yang pertama itu adalah umpan…….!?”

Kotori menyimpangkan wajahnya dalam kemarahan.

Lebih jelasnya musuh telah telah menyiapkan beberapa satelit buatan dari awal, sepertinya mereka telah mengetahui jika <Ratatoskr> memiliki kapal udara dan mereka memiliki cara untuk menghancurkan satelit buatan. Kotori menggertakan giginya sebelum menempatkan tanganya di lutut dan mengambil tenaga untuk berdiri dari tempat itu.

“Jika itu mau kalian…………! Satu kali lagi……….!”

“…………tidak, kau tidak bisa, Kotori. Menggunakan kembali <Gungnir> akan membuat dampak buruk yang besar untukmu dan <Fraxinus>”

Ketika Kotori mengangkat tanganya untuk menggunakan <Camael> kembali, Reine mengatakan itu.

Dengan seketika, suara ledakan lainnya menggema dan kapal udara bergetar lebih keras dari sebelumnya.

“Kuh…………..!”

Serangan dari kapal udara musuh mungkin meningkat. Ini sangatlah berbahaya untuk terus bertahan.
Ini adalah situasi buruk yang sedang terpikirkan. Bahkan sekarang saat satelit buatan kedua jatuh ketanah, mereka tidak dapat menembakan <Gungnir> dan mereka tidak dapat menghancurkan territory kapal udara musuh dengan <Mystletainn >. Tidak, bahkan sebelum itu, jika mereka memusatkan serangannya pada satelit buatan maka, <Fraxinus> akan hancur lebih dulu.

“Apa yang harus kita------“

Ketika Kotori kehilangan pilihan untuk beberapa saat, dia dapat mendengar pintu dari dok utama terbuka dari pengeras suara.

“Mu…………….Ap-apa yang terjadi”

Setelah memastikan mereka aman saat ini, Tohka dan perempuan lainnya memasuki dok utama kapal udara. Mungkin Tohka melihat dok utama yang sedang kacau, kapal udara musuh yang ditampilkan pada monitor dan juga gambaran dari satelit buatan kedua yang sedang jatuh menuju daratan; dia mengeluarkan suaranya dengan terkejut.

“Ah-Ahnoo……..ada apa ini……….”

“Uhhaa. Apa kau tidak merasa jika kita sedang dalam keadaan terjepit?”

“Kuku………..sungguh menyedihkan. Untuk berpikir kalian panik dalam keadaan seperti ini”

“Setuju. Kalian semua harusnya tenang”

“Ah-re? Apakah yang sedang ada dilayar itu adalah satelit buatan yang diberitahu pada kita? Bagaimanapun juga……….kelihatannya benda itu masih akan jatuh……….”

Mengikuti Tohka, yang lainnya juga memasuki dok utama kapal udara, Yoshino, [Yoshinon], Kaguya, Yuzuru, dan Miku; mereka semua mengatakan kalimat itu.

“Ka-kalian semua……….!”

Setelah Kotori membuka lebar matanya dan menjawab kembali, Tohka menjawab dengan keheranan.

“Kotori? Dimana kau? Aku tidak melihat Shidou tapi, apa ini……….”

Kotori menarik nafas dengan tidak teratur karena pertanyaan Tohka.

Mungkin dia merasakan sesuatu dari sikap Kotori, Tohka membuat ekspresi yang sedikit tegang.

“-----Kotori, ada apa. Tolong beritahu aku. Apa ada sesuatu yang bisa aku bantu?”

“…………”

Kotori menggertakan giginya. Para Roh adalah target yang harus dilindung. Bahkan jika ada sebuah masalah, <Ratatoskr> tidak bisa mengirim mereka ke tempat yang berbahaya.

Tapi-----Shidou ada dibawah.

Jika mereka tahu bahwa satelit buatan masih akan jatuh maka, Shidou, kakaknya tanpa diragukan lagi tidak akan selamat.

Komandan dan adik perempuan.

Kedua posisi yang berlawanan satu sama lain------ Kotori membuka mulutnya dengan setengah sadar.

“Tolong……….semuanya. Orang bodoh itu………..kakakku satu-satunya…….lindungi dia…………!”
  
* * *
  
BAGIAN KELIMA

“Batas waktu……………hah.....”

Setelah transmisi dari Kotori diputuskan, Shidou melihat kebawah dan mengepalkan tangannya dengan keras.

Dengan seketika, dia menolak permintaan Kotori padanya untuk evakuasi dan pemikiran untuk mencari Natsumi menggores pikirannya. Bahkan jika dia terkena luka berat karena terkena pecahan dan ledakan satelit buatan, jika Shidou yang mana memiliki kekuatan perlindungan dari Kotori maka, dia tidak akan mati begitu saja dan mungkin akan hidup kembali.

Tapi, ketika dia memikirkan hal itu, kalimat Kotori teringat kembali didalam pikiran Shidou.

(------jangan memikirkan orang yang ingin kau lindungi didalam hidupmu saja, kau juga harus memikirkan keselamatanmu)

“Itu benar……maafkan aku, Kotori”

Shidou mengatakan itu seakan-akan jika dia berpikir kembali, dan mengangkat wajahnya.

Dia telah berteriak sambil berlari disekitar kota sejauh ini. Jika Natsumi memperhatikan Shidou maka, Natsumi mungkin melarikan diri setelah menyadari situasi meresahkan ini. Saat ini Shidou hanya bisa berdoa.

Shidou mempertajam pandangannya dan, mencari shelter umum terdekat. Disaat waktu ketika alarm gempa luar angkasa berbunyi, tanda melalui papan digital mulai ditampilkan disetiap pinggiran shelter terdekat.

Setelah Shidou memastikan arah menuju shelter bawah tanah terdekat, dia mencoba berteriak lagi ditempat sekitarnya.

“---Natsumi! Aku sekarang akan berevakuasi ke shelter bawah tanah! jika kau tidak tahu jalan menuju shelter, ikuti aku!”
Jawabannya……..tidak ada sama sekali, seperti yang dia duga.

“Ya!?”

Shidou berharap suaranya tersampaikan pada Natsumi dan berlari kearah shelter.

Sejak dia berlari disekitar kota untuk mencari Natsumi, sangatlah sulit baginya untuk bernafas, dan kakinya terasa sakit. Tapi dia tidak bisa berhenti. Dia tidak tahu berapa banyak waktu yang tersisa untuknya. Jika Kotori dan yang lainnya menghancurkan satelit buatan maka, sebuah ledakan kemungkinan akan terjadi. Sebelum itu terjadi, dia harus berlari kedalam shelter------dan jika Natsumi menyembunyikan dirinya sendiri sambil mengikuti Shidou maka, Natsumi kemungkinan akan masuk kedalam shelter juga.

Dia memohon pada tubuhnya yang mana ingin berhenti dan bagaimanapun juga mencoba untuk mencapai shelter terdekat.
Setelah beberapa waktu berlalu sejak alarm berbunyi, gerbang utama telah tertutup. Tapi, dasarnya jenis shelter umum ini akan menyediakan gerbang darurat untuk pengungsi yang terlambat seperti Shidou. Dia pergi ke shelter gerbang darurat.

“Fuu…….akhirnya”

Setelah sampai ke gerbang darurat, Shidou membuat desahan kecil sebelum melihat keatas.

“Natsumi! kesini! tidak apa-apa untuk menyembunyikan dirimu! Sebelum pecahan satelit------“

Dia lalu mengangkat dagunya agar suaranya dapat terdengar lebih keras, setelah meinggalkan permohonan terakhir.

Tapi.

“Eh……….?”

Shidou menghentikan tubuhnya disana.

Alasannya sangat sederhana. Ketika dia mengangkat wajahnya, dia melihat beberapa bayangan kecil datang dari awan yang tebal.

“Itu-----“

Shidou membuka lebar matanya dalam kekagetan dengan seketika tapi, dia dengan cepat menyadari ciri-cirinya.-----itu adalah satelit buatan yang Kotori beritahu padanya.

“Oi, Kau bercanda kan………?”

Shidou mengeluarkan suara gemetarannya dengan tekanan dari tenggorokannya.
Itu sangatlah wajar. Itu karena, saat ini benda itu jatuh kebawah kearah Kota Tenguu berada-----gugus besar yang terbuat dari besi.

JIka satelit buatan jatuh kebawah menghantam tanah seperti itu, shelter disekitar tidak akan aman ataupun selamat. Dia mengingat kembali apa yang Kotori katakan beberapa menit yang lalu. Shidou merasakan sesuatu yang dingin meluas di sekitar perutnya.

"Jangan bilang, <Fraxinus> gagal menghancurkannya…………..!?"

Shidou mengeluarkan suaranya kearah Incam dengan panik.

“Kotori! Oi, Kotori! Apa yang terjadi!?”

Ketika dia bertanya seperti itu, dia dapat mendengar sebuah suara dengan kebisingan yang tercampur dari Incam.

“-----dou!? Saat ini, kapal musuh…………., ………….gagal menembak………, …….saat ini-----“

“Eh!? Ap-apa yang kau katakan!?”

Dia bertanya lagi tapi, diwaktu yang sama saat dia mendengar beberapa suara ledakan, dia tidak dapat mendengar suara apapun lagi dari Incam.

Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, dia akhirnya dapat mengerti jika beberapa situasi darurat terjadi diatas udara.

Setelah Shidou menarik nafasnya dengan sesak, dia melihat kembali keatas langit.

Bayangan hitam itu perlahan-lahan-----semakin membesar.

“…………….Sialan!”

Setelah Shidou berteriak seperti itu, dia tidak memasuki shelter dan berlari dari tempat itu.

Bahkan jika dia masuk ke shelter sekarang, semua itu akan sia-sia jika satelit buatan tidak dihancurkan dan jatuh kearah Kota. Seluruh daerah Kota akan terbakar karena ledakan dan hantaman satelit buatan, dan orang-orang yang akan berevakuasi kedalam shelter akan mati juga.

Tonomachi, Ai, Mai, Mii dan teman sekelasnya, wali kelasnya Tama-chan-sensei, tetangganya yang selalu memberi salam setiap pagi, orang-orang yang selalu ada di daerah perbelanjaan yang selalu baik padanya………………..nyawa yang tak terhitung jumlahnya akan musnah dengan seketika.

“Aku tidak akan membiarkan………….hal seperti itu terjadi…………!”

DIa melihat keatas langit sambil menggetarkan tenggorokannya dan berlari kearah tepat dibawah satelit buatan akan jatuh.

Utamanya, Shidou tidak dapat berpikir dia dapat melakukan sesuatu pada satelit buatan dengan kekuatannya sendiri. Tapi, tidak ada siapapun lagi selain dirinya yang berada di permukaan. Jika Shidou menyerah maka disaat itu, semua orang akan benar-benar kehilangan nyawa mereka. Shidou tidak ingin hal seperti itu terjadi.

“………….!”

Tapi meskipun begitu, kecepatan jatuh satelit buatan sangatlah hebat. Itu semakin membesar setiap mata berkedip-----dan seluruh gambaran dapat terlihat pada mata Shidou.

“Kuh…………….!”

Shidou berlari sambil menggertakan giginya.

Jika hal ini dibiarkan----ini tidaklah bagus. Bahkan jika dia sampai ke titik dimana satelit buatan akan jatuh, semua akan berakhir untuk Shidou dan seluruh isi kota karena terkena ledakan.

--Kekuatan.

Dia harus memiliki kekuatan yang cukup besar untuk menghancurkan perwujudan dari keputus asaan yang datang dari atas langit itu dalam satu serangan.

Tapi meskipun begitu, Shidou adalah manusia biasa…………...sekalipun dia berjalan disekitar kehidupan yang penuh dengan ketidak beruntungan, dia masihlah manusia. Jika berpikir dengan logis, tidak mungkin dia memiliki kekuatan seperti itu.
Tapi. Bahkan jika Shidou tidak memilikinya------jika kekuatan para Roh telah disegel oleh Shidou maka.......

“Aku mohon padamu…………..hanya aku yang ada disini! Tolong pinjamkan aku kekuatanmu………!”

Setelah Shidou berteriak, dia mengangkat tangan kanannya. Seakan-akan jika dia mencoba berpegang teguh pada sesuatu hal yang tidak mungkin.-----atau mungkin-----dia memahami sesuatu.

Dan lalu. Hanya ada satu hal didalam hatinya. Dia hanya menggambarkan harapan untuk melindungi semua orang.

“-----Aku mohon padamu………<Sandalphon>!”

Dengan cepat disaat dia melakukan itu, cahaya yang terang menyilaukan pandangan Shidou dan------sebuah perasaan memegang sesuatu di tangan kanannya telah terwujud. Ketika cahaya itu mulai hilang, sebuah pedang besar yang mengeluarkan cahaya redup muncul di tangan Shidou.

Malaikat <Sandalphon>. Pedang absolut yang Tohka miliki.

“……..! Aku berhasil!”

Shidou mengeluarkan suaranya tanpa disengaja. Ini adalah malaikat yang telah dia  panggil beberapa waktu sampai sekarang. Ini adalah pertama kalinya dia dapat menggenggam <Sandalphon> atas kemauannya sendiri.

“Dengan ini aku dapat-----!”

Setelah Shidou mempertajam pandangannya, dia menghentikan kakinya dan melihat pada satelit buatan sambil membuat posisi kuda-kuda dengan <Sandalphon> menggunakan kedua tangannya.

Dia mengeluarkan nafas dengan perlahan dan menenangkan hatinya. Dia membuang semua keraguan dan hanya berpikir untuk melindungi semuanya. Shidou lalu mengayunkan <Sandalphon>----dan membuat sebuah garis kearah langit.

“Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa-----!”

Cahaya meluap keluar dari pedang <Sandalphon> dan Shidou lalu mengarahkan cahaya itu ke langit seakan-akan jika dia mengikuti seorang ahli pedang. Serangan absolut dari malaikat yang kuat. Tidak perduli jika sekalipun lawan memiliki territory; ini sangatlah mudah bagi sebuah tebasan Malaikat untuk menembus.

Tapi.

“Ap……….!”

Shidou membuka lebar matanya.

Disaat ketika serangan yang dilepaskan Shidou mencapai satelit buatan, tebasan itu berganti arah dengan tidak wajar sebelum mengenai satelit buatan.

Satelit buatan masihlah sangat kuat. Benda itu menyebarkan bunyi yang gemuruh disaat, mendekati daratan untuk menghantam Kota Tenguu.

“Sial…….! Sedikit lagi-----“

Setelah Shidou menggertakan giginya, dia mengangkat kembali <Sandalphon>. Tapi disaat itu, rasa kesakitan yang sangat berat merambat keseluruh tubuhnya dan salah satu lututnya jatuh kebawah setelah menyimpangkan wajahnya dalam refleks.

“A-gah………..”

Ini adalah bayarannya untuk menggunakan kekuatan dari Malaikat yang mana terlalu berlebihan untuk manusia. Seluruh tubuh Shidou menjadi sangat kelelahan hanya karena melakukan tebasan satu kali.

Setelah itu, sebuah perasaan terbakar seakan-akan jika dia dilemparkan kedalam api mulai menyerang tubuhnya. Ini adalah kekuatan regrenerasi api yang dia dapatkan karena telah menyegel Kotori tapi, ini hanya dapat menyembuhkan luka di tubuh Shidou setengahnya saja.

“Guh-------!”

Wajahnya tercelup dalam kesakitan dan dia memusatkan tenaga pada tangan kanannya agar tidak melepaskan <Sandalphon> dari genggamannya.

Tapi, disaat dia melakukan itu, satelit buatan masih mencoba untuk menghantam daratan. Jika dia menunggu tubuhnya sampai pulih maka, semuanya akan berakhir sebelum dia mengeluarkan serangan selanjutnya. Didalam kesakitan dan rasa panas yang mana hampir menyebabkan dirinya mati rasa, Shidou bagaimanapun juga mencoba untuk berdiri dengan kedua kakinya.

“Kuh, ah, ah ah………….!”

Dia mengangkat <Sandalphon> dengan seluruh kemampuannya. Bagaimanapun, satelit buatan masihlah menunjukan bentuk besarnya kearah pandangan Shidou. Lebih jelasnya dalam 10 detik, seluruh Kota Tenguu akan menjadi daratan yang terbakar.

“A-Ahhhhhhhhhhhhhhh!”

Shidou dengan berani mengayunkan <Sandalphon>. Tapi, tidaklah mungkin baginya untuk menggunakan kekuatan Malaikat setelah kehilangan konsentrasinya. Ujung dari <Sandalphon> membelah langit dengan sia-sia dan membuat suara yang keras ketika menyentuh daratan.

Tapi, Shidou tidak menyerah. Dia terus menggenggam erat <Sandalphon> bahkan jika serabut ototnya tegang, tulangnya patah dan seluruh tubuhnya terbakar dalam panas sampai ini sembuh sepenuhnya.

“Sialan….Aku tidak akan membiarkan ini……….!”

Dia menahan tenaganya pada kaki ketika dia akan jatuh.

Jika Shidou menyerah, orang-orang yang sedang berada di shelter akan terbunuh. Dia tidak ingin sesuatu seperti itu terjadi.

“Tempat…………tinggalku……...Kota-ku….! Tidak akan kubiarkan………..Hancuuuuurrr!”

Shidou memusatkan tenaga keseluruh tubuhnya dan mengayunkan <Sandalphon>. Tebasan dari pedang berubah menjadi sebuah cahaya dan meregang kearah satelit buatan seakan-akan jika mencoba untuk menelannya. Tapi-----serangan itu tidak dapat menghancurkan Territory satelit buatan.

--tapi disaat itu.

“……………..!?”

Shidou dengan terkejut mengejangkan pundaknya.

Disaat Shidou mengayunkan pedangnya, angin dingin mendadak saja muncul dengan seketika.

Angin dingin yang mendadak muncul terasa seperti musim dingin akan tiba. Tapi dengan seketika, Shidou menyadari sesuatu yang sangat familiar dari perasaan itu.

“Ini------“

Shidou melihat keatas langit dan kehilangan nafasnya.

Satelit buatan berhenti diatas langit beberapa ratus meter dari daratan.

Tidak-----lebih jelasnya, sebuah tembok yang tersusun dari es sebuah dan tekanan tiupan yang mana terasa seperti angin yang berhembus keatas, baru saja menghentikan satelit buatan yang akan menghantam daratan dengan mengeluarkan daya tolak.

“-----Shidou-san!”

Suara yang sangat familiar menggema dari belakang. Shidou menggerakan tubuhnya yang penuh dengan rasa sakit dan berbalik.

Setelah berbalik, Yoshino dapat terlihat oleh Shidou sedang berada disana sambil memegang sebuah Malaikat yang terlihat seperti kelinci raksasa.

“Yoshino……..kenapa kau ada disini!?”

“Kuku, bukan Yoshino saja sendirian”

“Tidak puas. Aku berharap kau melihat karya hebat dari Yuzuru dan Kaguya”

Dia lalu mendengar dua suara datang dari langit. Ketika dia melihat keatas, dia menemukan Yamai bersaudara melayang di langit sambil menggunakan astral dress dan kekuatan Malaikat mereka yang saat ini terbatas. Kelihatannya Yoshino dan Yamai bersaudara telah menahan satelit buatan yang akan menghantam Kota dalam waktu yang singkat.

“Shidou!”

“Darling!”

Suara selanjutnya menggema, itu adalah suara Tohka dan Miku. Mereka semua menggunakan astral dress yang dilapisi dengan cahaya pucat dan Tohka memegang sebuah pedang di tangannya dengan bentuk yang sama seperti senjata yang digenggam oleh Shidou.

“Tohka…….Miku……..!”

Tohka mengangguk, ketika Shidou mengatakan itu dengan wajah terkejut.

“Umu, kita mendengar jika Shidou dan yang lainnya dalam bahaya jadi, kita dengan cepat mengunakkan mesin teleport untuk datang kesini. Aku bersyukur kita tepat waktu”

“Aku mengerti……….bagaimana dengan Kotori dan lainnya?”

Ketika Shidou bertanya, Miku adalah salah satu orang yang mengeluarkan suaranya saat ini.

“Mereka bertempur dengan kapal udara musuh. Aku pikir semua akan baik-baik saja jika kita mengandalkan mereka”

Dia percaya setelah mendengar kalimat itu. Mungkin karena gangguan DEM, <Fraxinus> gagal menghancurkan satelit buatan dan transmisi komunikasi terputus saat ini.

Meskipun dia mengkhawatirkan keadaan <Fraxinus> tapi, dia hanya bisa percaya pada Kotori dan yang lainnya sekarang. Dia melihat kembali pada Tohka, Yoshino, Yamai bersaudara, Dan juga Miku dengan sedikit menundukan kepalanya.

“Maaf……..membuat kallian menyelamatkanku. Terus terang saja, kupikir aku akan mati”

“Apa yang kau katakan. Bukankah Shidou adalah orang yang menyelamatkan kami. Kami memiliki hutang untuk balas budi dan kami akan membayarnya pada keadaan seperti ini”

Setelah Tohka mengatakan itu, semuanya menunjukan rasa setuju.

“Kalian………”

Dan ketika Shidou melihat pada wajah mereka, Yoshino dan Yamai bersaudara tiba-tiba saja menyimpangkan wajah mereka.

“Ah……..!”

“Kuh, apa yang terjadi, tiba-tiba saja suasana menjadi lebih bersemangat”

“Marah. Aku tidak ingin merasakan atmosfirnya”

Kelihatannya <Bandersnatch> hasil kustomisasi  yang menyatu dengan satelit buatan meningkatkan kecepatannya. Satelit buatan yang telah tertahan mencoba mendekati daratan lagi.

Ketika Miku melihat itu, dia melebarkan kedua tangannya dan lalu menyilangkan kedua tangannya didepan badannya.

“Aku………tidak akan membiarkan hal itu terjadi!”

Setelah Miku membuat sebuah garis ditangannya, sebuah tombol kunci lagu dari cahaya muncul didepanya. Dan dibelakang Miku, piano besar seperti bentuk organ muncul.

“<Gabriel>-----[March]!”

Diwaktu yang sama ketika dia berteriak, jari kecil Miku mulai berdansa dengan fasih diatas tombol kunci lagu cahaya. Ketika dia melakukan hal itu, irama yang megah menggema-------angin dan es yang menahan satelit buatan menjadi lebih kuat.

“Luar biasa………….desu”

“Kuku, lagu ini sangatlah hebat seperti yang aku duga. Darahku mendidih dan rasanya membuat tubuhku berdansa…..!”
“Penuh keberanian. Bantuan yang bagu”

Yoshino dan Yamai bersaudara memantulkan suara mereka. Kekuatan yang Miku miliki adalah Malaikat pengendali lagu <Gabriel>. Dengan hanya mengganti irama lagunya saat dimainkan, sangatlah memungkinkan untuk membuat beberapa jenis dampak pada targetnya.

Mendengarkan lagu itu, orang-orang yang mendengar irama keberanian dari [March] menjadi dapat merasakan jika hati dan tubuh mereka menjadi lebih kuat dan membuat mereka dapat menggunakan kekuatannya, lebih kuat dari biasanya.

Merasakan kekuatan yang menguap didalam tubuhnya juga, Shidou mengepalkan erat tangannya.

“Baiklah………jika seperti ini! Tohka, tolong aku! Kita akan menghancurkan benda besar itu! Kita bisa melakukannya jika kita berdua menebas!”

Ya. Saat ini dan Ditempat ini, Shidou dan Tohka, ada 2 <Sandalphon> sekarang. Jika mereka menyerang di waktu yang bersamaan maka, tidak diragukan lagi mereka dapat menghancurkan Teritorry musuh.

Bagaimanapun, Tohka menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah penuh keraguan.

“Tidak, Kita tidak bisa”

“Tidak bisa………..? Ke-kenapa kita tidak bisa?”

“Mu………….Aku tidak mengerti tapi, Kotori bilang kita tidak bisa. Kelihatannya benda itu memiliki ledakan buatan yang terpasang didalamnya, ledakan itu dengan otomatis akan diaktifkan jika kita menghancurkannya. Itulah kenapa, kita harus menghancurkannya diatas langit”

“-----uh, a- Aku mengerti…..!”

Apa yang Tohka katakan memang benar. Berkat Yoshino, Kaguya dan Yuzuru, mereka memperlambat kecepatan jatuhnya tapi, satelit buatan masih memiliki kemampuan untuk meledakan diri. Jika ledakan ini dekat dengan daratan maka, shelter yang berada dibawah tidak akan mampu bertahan.

“Ka-kalau begitu apa yang harus kita----“

Shidou bergumam dengan penuh kesulitan, dan Yamai bersaudara menggemakan suara mereka dari langit.

“Kuku, Alasannya sangat sederhana. Jika kita tidak bisa menghancurkannya maka, kita hanya perlu mendorongnya keatas langit”

“Setuju. Hanya itulah satu-satunya cara”

“Apa………kau bisa melakukannya!?”

Ketika Shidou bertanya seperti itu, Kaguya dan Yuzuru melihat satu sama lain sebelum, *nii* tersenyum.

“Ku-Kuku………….kau pikir kita ini apa. Kita adalah anak dari badai yang mana dapat meniup jauh apapun, Yamai”

“Melaksanakan. Serahkan hal ini pada Yuzuru dan Kaguya. Kita akan melempar jauh benda kecil itu”

Setelah mengatakan itu dengan penuh percaya diri, mereka berdua mengangguk.

Tapi, ada keringat dingin keraguan yang keluar dari pipi mereka, dan dia dapat melihat kalau mereka hanya meyakinkan diri mereka sendiri dengan berani. Itu sangatlah wajar. Satelit buatan bisa dengan mudah diperkirakan memiliki berat beberapa ton. Dan juga, satelit buatan memiliki daya pendorong agar jatuh dengan cepat. Semua akan berhasil jika mereka menggunakkan kekuatan mereka sepenuhnya tapi, Kaguya dan Yuzuru masih tetap dalam keadaan dimana Reiryoku mereka masih tersegel oleh Shidou. Tidak ada cara untuk mereka mendorong benda itu dengan mudah.

Bagaimanapun, Yamai bersaudara tidak membuat komplain sedikitpun dan setelah mengangguk kecil, mereka berdua mengangkat kedua tangan mereka.

“Fuun……….oke, ayo kita lakukan Yuzuru”

“Menjawab. Kapanpun yang kau mau”

Diwaktu yang sama ketika mereka berdua mengatakan itu, putaran angin disekitar berubah menjadi semakin kuat dan menjadi satu. Papan tanda, tanda jalan, lampu rambu lalu lintas dan benda lainnya tersedot disaat berubah menjadi tornado besar.

“Uu, ooo, ryahhhhhhhh!”

“Dengan Seluruh Kemampuan. Teiiyaa----“

Mereka berdua lalu mengangkat kedua tangan mereka keatas dan satelit buatan sedikit demi sedikit terdorong keatas.

“O-ooh……….!”

Kemampuan mereka sedikit bekerja pada satelit buatan. Shidou tiba-tiba saja mengepalkan keras tangannya dengan tidak sengaja.

Tapi, disaat itu. Dia melihat objek kecil sepeti misil terbang kearah Yamai bersaudara di langit, dengan tepat mengenai punggung mereka dan sebuah ledakan muncul.

“………..agah!”

“Kesakitan. Uguhh”

Di waktu yang sama saat Yamai bersaudara berteriak dalam suara kesakitan di langit, angin yang mereka buat mulai melemah dan satelit buatan yang mana terdorong keatas mencoba jatuh kembali.

“Kaguya! Yuzuru!”

Setelah Shidou memanggil nama mereka berdua, asap pekat menyelimuti mereka dan Yamai bersaudara terlihat memiliki memar ringan pada penampilan mereka. Kelihatannya mereka baik-baik saja, meskipun mereka sedang dalam keadaan terbatas, Astraldress yang mereka gunakan dan angin yang berada disekitar mereka secara alami melindungi keduanya.

“Guh………Apa itu! Menghalangi kita seperti itu……..!”

“Kasar. Sangat mengganggu”

Yamai bersaudara melihat keatas langit.

Shidou membuka lebar matanya untuk mengetahui apa yang sedang mereka lihat diatas dan-----menarik nafas dengan terkejut.

“Ap……….., itu…………!”

Diatas langit yang membentang, sejumlah <Bandersnatch> mulai mendekat kearah Shidou dan para Roh. Shidou tidak tahu seberapa banyak jumlah <Bandersnatch> yang ada disana tapi, dapat diperkirakan jika jumlah mereka sekitar 50 unit. Mereka semua memiliki CR-unit yang terpasang di tangan dan kaki mereka yang mana membuat mereka siap untuk bertarung.

Jika dipikirkan kembali, diatas langit sekarang dapat terlihat kapal udara DEM. Lebih jelasnya tim <Bandersnatch> telah dikirimkan melalui kapal udara itu.------dalam tugas untuk menyingkirkan Shidou dan Roh lainnya yang mana sedang menghalangi satelit buatan agar tidak menghantam daratan.

Sekumpulan <Bandersnatch> mengepung dari atas, bawah, kiri, dan kanan di langit, mereka melancarkan serangan mereka pada Yamai bersaudara (yang mana telah membuat satelit buatan terdorong keatas), Yoshino (yang mana telah membekukan Teritorry satelit buatan), Miku (yang sedang meningkatkan kekuatan mereka dengan kemampuannya) dan juga pada Shidou dan Tohka (yang mana sedang menunggu waktu mereka untuk menghancurkan satelit buatan).

“Kuh-------Hati-hati, semuanya!”

Di waktu yang sama saat Shidou berteriak, kumpulan <Bandersnatch> mulai berpencar di langit dan menembakkan misil kecil pada waktu yang bersamaan.

Tapi, semuanya baru saja mencoba untuk menahan jatuhnya satelit buatan, mereka tidak sanggup untuk menahan semua itu. Yoshino dengan udara dingin, Yamai dengan angin dan Miku dengan suara yang membuat pertahanan terus-menerus, mereka semua mencoba untuk menahan tapi, mereka tidak dapat sepenuhnya menghancurkan satelit buatan. Satu ledakan membuat misil disekitar ikut meledak juga, hal itu menyebabkan sebuah getaran disekitar atmosfir bersamaan dengan api yang keluar dari ledakan.

“Kyaa………….!”

“Guee!”

“Kesakitan. Ukyuu……….”

“Tu-tunggu! Apa iniii!”

Teriakan mereka semua dapat terdengar dan juga tembok dari angin dan es yang mengehentikan jatuhnya satelit buatan mulai retak.

“Semuanya!”

“Nu…….! Terkutuklah!”

Menjadi satu-satunya orang yang berhasil menghancurkan setiap misil yang mencoba mendekatinya, Tohka *kii* mempertajam pandangannya sebelum mengangkat kakinya dan menginjak tanah dengan keras.

Dia lalu melompat keatas langit dalam garis lurus dan dia membelah satu persatu <Bandersnatch> yang mana telah menyerang Yoshino dan lainnya.

“Sekarang, Kaguya, Yuzuru! Satelit buatan------Uguh!”

Bagaimanapun, jumlah dari musuh terlalu banyak untuk ditangani oleh satu orang. Musuh yang mana mengepung dari keempat sisi, dengan seketika mendorong Tohka dengan mengeluarkan misil kecil dan senapan laser seakan-akan jika mereka mencoba menjaga jarak dan menjauhkan Tohka.

“Guh………!”

“Tohka! Kuh…..”

Disaat beteriak-----Shidou melompat kebelakan. Alasannya sangat sederhana. Itu karena sebuah <Bandersnatch> datang menyerang dengan mengayunkan pedang lasernya.

“Kau………..!”

Setelah Shidou memusatkan tenaganya pada tangan yang mana memegang pedang, dia lalu mengayunkan <Sandalphon>. Bagian atas dan bagian bawah dari <Bandersnatch> didepannya yang mana terbelah dengan rapih dan jatuh kebawah dengan tubuh yang terbelah.

Bagaimanapun, Keseraman sebenarnya dari <Bandersnatch> adalah jumlah dan kombinasi serangannya. Mereka tidak akan perduli jika kawan mereka gugur dan semua boneka ini tidak takut untuk mati dan akan mencoba terus menyerang.

“Kuh------“

Shidou mencoba kembali untuk menghindari serangan, menahannya, dan menunggu waktu untuk menyerang balik jika ada kesempatan tapi------dia sudah mencapai batas kemampuannya.

Tentu saja, tidak akan mungkin <Bandersnatch> akan memberi ampun dan rasa kasihan pada Shidou. Iblis pencabut nyawa tanpa ekspresi itu tidak akan membiarkan kesempatan bagus mereka terbuang begitu saja dan datang kearah Shidou.

“! Shidou!”

“Darling……….!?”

Tohka dan Roh lainnya menyadari hal itu dan mengeluarkan suara mereka tapi, mereka telah dikepung oleh banyak <Bandersnatch> juga. Bahkan jika mereka mencoba untuk berlari kearah Shidou, hal itu sangatlah sulit karena mereka telah dikepung.

<Bandersnatch> berdiri didepan Shidou dan mengayunkan pedang lasernya.

“Sialan……!”

“Shidou!”

Disaat Tohka berterika------<Bandersnatch> mengayunkan pedangnya kebawah tepat didepan mata Shidou.
                                                                                                                  
* * *

BAGIAN KEENAM

“Ike!”

Didalam ruangan dari Hotel yang berlokasi di daerah selatan Kota Tenguu, Westcott melihat kebelakang pada suara yang tiba-tiba saja memanggil namanya.

Meskipun begitu, dibelakang Westcott bukanlah pintu masuk ruangan tapi disana adalah jendela besar yang menunjukan pemandangan Kota Tenguu. Jika berpikir dengan logis, seharusnya disana tidak akan ada suara yang memanggil.

Tapi, dia dengan seketika menyadari situasinya disaat dia melihat kebelakang. Menggunakan CR-unit dan melayang di udara, Ellen memanggil Westcott melalui kaca yang dia belah. Lebih jelasnya, dia sangat benci jika harus masuk lewat lobi Hotel dan akhirnya memilih untuk terbang kearah ruangan itu.

“Hey, Ellen. itu adalah pintu masuk yang unik, tapi ini sedikit keras”

Ketika Westcott mengatakan itu disaat melihat pada potongan indah dari kaca yang terpotong, Ellen memasuki ruangan melalui celah kaca yang dia buat.

“Sekarang bukanlah waktunya untuk bercanda. Tolong cepat bergegas. Para pemberontak itu berencana untuk membunuhmu”

“Aah, Aku sudah mengetahuinya. Mereka baru saja memberitahuku beberapa saat yang lalu”

Westcott mengangkat sisi bibirnya sebelum tertawa kecil.

“Aku tidak pernah berpikir jika Murdoch memiliki keberanian dan perintah kekuasaan sebesar itu. Sangatlah menarik, dia membuat satelit buatan menjadi seorang pembunuh. Tidak tidak, Aku terlalu meremehkan dia. Dia benar-benar hebat. Aku harus memujinya jika aku kembali ke Britania nanti”

“…………Ike”

Ellen mengatakan itu seakan-akan jika dia tidak senang melihat sikap senang Westcott.

“Bagaimanapun juga, sangatlah berbahaya untuk terus berada disini. Aku akan mempertahankan Territory-ku disaat terbang menjauh dari tempat ini. Tolong siapkan semua barang yang kau butuhkan”

“Semuanya akan baik-baik saja. ini bukanlah masalah yang besar”

“………………., itu memang benar jika aku ada bersamamu, sangat memungkinkan untuk menahan kerusakan dengan Territory. Tapi, kita harus pergi”

“Tidak, sebelum itu, Aku sudah memprediksi rencana Murdoch semuanya akan gagal”

Ketika Westcott mengatakan itu, Ellen mengangkat kedua halisnya dengan curiga.

“Apa maksudmu”

“----ini adalah Kota Tenguu, disini ada tempat tinggal Itsuka Shidou dan fondasi dari kehidupan sehari-hari para Roh. Dan juga, tidak diragukan lagi, pasti kapal udara <Ratatoskr> ada disini juga. Jika mereka semua ada disini maka, mereka kemungkinan akan mengatasi semua ini. Itu karena------organisasi yang Elliot buat”

“…………..”

Disaat dia membawa nama Elliot, dia menyadari jika wajah Ellen berubah menjadi sangat tidak senang.

“Aku tidak percaya ini. Apa kau berhenti disini hanya karena alasan itu?”

“Aah. Apa tidak boleh?”

“Sungguh. Apa kau tidak mengerti seberapa pentingnya dirimu?”

“Fumu………….”

“Ike”

Ellen mengatakan itu dengan nada mengancam. Westcott membuat desahan kecil sebelum sedikit mengangkat kedua tangannya.

“Aku mengerti. Kalau begitu ayo kita lakukan. Sangatlah benar jika ini adalah satu kesempatan dari seribu kesempatan. Murdoch sangatlah teliti. Dia dapat berpikir dengan cermat untuk membuat 2 atau 3 metode. Itulah kenapa------“

Disaat dia melihat kearah Ellen ----Westcott melihat kebelakang ditengah ruangan itu.

Disana, ada satu perempuan berdiri yang mana tidak mengatakan kata-kata apapun saat ini.

“Kita kirim dia”

“………………., dia kau bilang”

“Aah. Tidakkah kau berpikir jika ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengetes kekuatan <Modred>”

Setelah Westcott mengatakan itu, dia lalu melihat pada perempuan itu sambil bertanya padanya.

“-----Aku ingin kau menunjukan kekuatanmua. Bagaimana?”

“………………”

Perempuan itu tidak mengatakan apa-apa dan hanya mengangguk.

* * *

BAGIAN KETUJUH

“………, ……, …..…”

Natsumi mencoba untuk mengatur nafas berantakannya.

*Dokun**Dokun*. Jantungnya berdetak dengan cepat. Seperti langkah kaki raksasa, bergetar didalam gendang telinga Natsumi.
Ini adalah hal yang tak ada gunanya untuk dipikirkan alasan apa yang Shidou, dan semua kawannya pikirkan.

Semuanya setengah baik-baik saja. Kelihatannya Tohka dan yang lainnya sudah evakuasi dan Shidou telah diberitahu oleh Kotori, dan dengan terus terang pergi ke shelter. Semuanya telah berjalan seperti apa yang Natsumi telah rencanakan.

Tapi, ketika dia melihat Shidou menyadari sesuatu dan berlari ke daerah sekitar Kota, Shidou mencoba untuk menghentikan satelit buatan yang sangat besar.

---Dan sekarang, sebuah ancaman mulai datang menghampiri keselematan Shidou.

Mereka mencoba untuk mendorong satelit buatan keatas langit, ketika teman-teman Shidou melakukannya, sejumlah mesin boneka bernama <Bandersnatch> datang dan mulai menyerang Shidou dan yang lainnya.

<Bandersnatch> mengangkat pedangnya kearah Shidou yang mana sedang terjatuh. Jika pedang yang penuh dengan kekuatan Maryoku itu diayunkan kebawah, tubuh Shidou kemungkinan akan terbelah dengan mudah. Natsumi mengingat kembali rasa sakit ketika perutnya ditebas oleh Ellen dan membuatnya gemetar.

“A-ah………”

Shidou benar-benar akan mati jika hal ini dibiarkan begitu saja. Ketika dia memikirkan hal itu, dibandingkan rasa sakit yang dia rasakan karena Ellen, Natsumi merasakan kesakitan yang lebih mendalam didalam dadanya.

Semuanya akan baik-baik saja, semuanya akan baik-baik saja, dan dia terus-menerus mengulang kalimat itu didalam hatinya seakan-akan agar membuat dirinya mendengar hal itu. Bagaimanapun juga semuanya akan baik-baik saja. Bahkan jika Natsumi tidak menolongnya, Shidou tidak akan mati.

Tohka dan yang lainnya akan menyelamatkan dia. Shidou memiliki banyak teman yang dapat dia percaya.

“………………semuanya akan baik-baik saja……..bagaimanapun juga seseorang akan melindunginya, kan……..? Cepatlah………”

Disaat mengatakan kalimat itu dengan suara yang pelan, dia menunggu seseorang untuk melindungi Shidou.

Tapi karena Tohka, Yoshino, Yamai bersaudara dan Miku sedang dikepung <Bandersnatch>, mereka tidak dapat berlari menghampiri Shidou. Ditambah juga, dia memikirkan sesuatu saat mereka bilang jika saat ini Kotori dan yang lainnya tengah berada didalam pertarungan di langit dengan DEM.

“Cepatlah…………seseorang………seseorang”

Bagaimanapun juga Natsumi menyimpangkan wajahnya disaat hatinya bergetar disertai dengan rasa sesak sambil mengatakan hal itu-------tidak ada siapapun yang menolongnya. <Bandersnatch> mengayunkan pedangnya kebawah tepat kearah Shidou.

“Seseorang……seseorang……!”

Pada saat itu, Natsumi akhirnya menyadari, disana tidak ada satupun kehadiran [Seseorang] di tempat itu.



“Apa………..!?”

Shidou membuka matanya dengan terkejut.

Dihadapan Shidou yang mana saat ini tidak dapat bergerak, <Bandersnatch> mengayunkan pedangnya kebawah dan dengan seketika------

Sesuatu didalam saku Shidou menggeliat.

Dia berpikir jika itu adalah telepon genggamnya yang mendapat panggilan dari seseorang. Tapi-----semua itu salah. Chupa chups yang Shidou ambil saat di fasilitas bawah tanah melompat keluar dari saku bajunya dengan cepat dan melindungi Shidou dari serangan <Bandersnatch> dengan bentuk kecilnya.

“Heh……………? Pe-permen……….?”

Dia membuka mulutnya dengan kebingungan melihat kejadian tak terduga itu.

Itu sangatlah wajar. Benda yang cukup kecil untuk digenggam telapak tangan Shidou melayang tepat dihadapannya dan mencoba menangkis serangan pedang laser disaat menyebaran cahaya maryoku. Kata lebih jelasnya adalah dia terkejut melihat hal itu.

Sebelum mulai mengeluarkan cahaya pucat, Chupa chups itu memantulkan pedang laser milik boneka robot tersebut, hingga akhirnya membuat pedang itu menghancurkan kepala <Bandersnatch>. Beberapa saat kemudian bayangan kecil itu berubah semakin membesar.

Setelah beberapa detik, perempuan dengan tubuh kecil mungil (sebesar tubuh Yoshino) menggunakan astral dress seperti penyihir berdiri disana.

“Ap----Natsumi!?”

Shidou berteriak dengan tidak sengaja. Ya, itu adalah Roh yang Shidou cari saat berlari disekitar daerah kota.

Memang benar jika dia pergi keluar dari fasilitas bawah tanah maka, dia kemungkinan akan mencari tempat yang mana dapat membuatnya memperhatikan pergerakan Shidou…….dia memikirkan sesuatu seperti itu tapi, dia tidak pernah berpikir jika Natsumi bersembunyi didalam sakunya.

“Natsumi, kau------“

Ketika Shidou mengatakan itu, Natsumi masih tetap, tidak mengarahkan pandangannya pada Shidou dan sedikit membuka mulutnya.

“……….patlah”

“Eh?”

“………..cepatlah. Kau ingin menghancurkan benda besar itu kan”

Setelah mengatakan itu, dia menggunakan bagian depan topi untuk menyembunyikan wajahnya disaat memalingkan pandanganya dari Shidou.

Tapi, itu sudah cukup bagi Shidou. Tentu saja, ada kesulitan dan usaha untuk membuat Natsumi menjadi kawan yang dapat dipercaya. Tapi lebih dari itu, tidak perduli apa alasannya mengapa Natsumi tidak membuka hatinya pada Shidou dan yang lainnya, dia sangatlah senang disaat Natsumi mengatakan mencoba untuk membantu.

“……………ou!”

Shidou mengangguk, dan memusatkan tenaga pada tangannya yang sedang menggenggam <Sandalphon>.

Tapi-----

“Kyaaaa!”

Di waktu yang sama, ketika dia menyadari bahwa dia mendengar suara teriakan Miku dating dari belakang, irama lagu keberanian yang menguap tiba-tiba saja terpotong.

Kelihatannya, dia tidak dapat melanjutkan irama lagunya karena serangan <Bandersnatch>. Miku melompat kebelakang dan mulai menyerang sekumpulan <Bandersnatch> dengan [Suara]-nya.

Disaat Miku melakukan itu, tembok dari es yang sedang menahan satelit buatan mulai retak dan mulai jatuh. Dan dalam waktu yang bersamaan, angin yang berputar disekitar juga mulai kehilangan energinya.

“Apa……………!?”

Reiryoku Yamai bersaudara dan Yoshino yang mana semakin menguat karena irama lagu Miku kemungkinan tidak dapat mempertahankan tembok es itu karena iramanya telah berhenti. Satelit buatan lagi-lagi mulai mengeluarkan daya dorongnya dan mencoba menghantam daratan.

“Shidou!”

Disaat itu, setelah menghancurkan beberapa <Bandersnatch> dilangit, Tohka pergi kearah Shidou dan Natsumi.

“Apa kau baik-baik saja, Shidou!”

“A-aah………Aku tidak apa-apa. Yang lebih penting----“

Ketika Shidou melihat keatas kearah satelit buatan, Tohka mengangguk dengan tegang.

“Umu………tapi, apa yang harus kita lakukan!? Jika kita menghancurkan itu disini, ledakan besar akan mengenai daratan, iya kan!?”

“………….fuun”

Setelah Tohka mengatakan itu dengan panik, Natsumi menggerutu.

“……………bagaimanapun juga, hancurkan saja benda itu sekarang. Tidakkah kalian berdua memiliki pedang hebat itu”

“Tidak, benda itu memiliki sesuatu yang disebut-sebut sebagai ledakan buatan didalamnya------“

“Fuun”

Hanya saja ketika Shidou mengatakan itu, Natsumi menggerutu dengan tidak senang.

Dia lalu mengangkat tangannya keatas dan berteriak.

“-----<Haniel>!”

Ketika dia melakukan itu, sebuah jelmaan Malaikat berbentuk sapu muncul di tangannya dan ketika Shidou melihat ujung dari sapu itu terbuka, cahaya yang sangat terang bersinar disekitar tempat itu.

“Uwah…………!?”

“Nu!”

Shidou dan Tohka menutup mata mereka dalam refleks dengan seketika.

Selanjutnya, disaat mereka membuka mata mereka.

“Apa………….”

Shidou melihat keatas langit, dan membuka matanya dengan terkejut.

Itu sangatlah wajar. Karena, satelit buatan yang melayang di udara beberapa meter dari daratan telah berubah menjadi masskot Tuan Babi gendut yang besar.

Tidak diragukan lagi jika itu adalah kekuatan transformasi milik <Haniel>. Shidou dengan seketika melihat pada Natsumi.

Di pertengahan oktober. Dia mengingat kembali waktu disaat pertama kali bertemu Natsumi. Pada waktu itu, Natsumi merubah penampilan anggota AST menjadi sebuah masskot dan merubah misil menjadi wortel, seperti saat ini.
Dan bahkan ketika misil wortel itu jatuh ke tanah, ledakan misil wortel itu hanya meledak seperti komik dari manga.
Tentu saja, kekuatan ledakan dari satelit buatan telah berubah, tetapi tidak semua benda dapat diperkecil dengan kekuatan <Haniel>, meskipun begitu, mungkin dengan ini------!

“Ayo, cepatlah………..!”

Natsumi mengatakan itu dengan agak kesulitan. Disana masih ada babi besar yang akan menghantam Kota Tenguu. Kekuatan ledakan benda itu sebagai bom telah berubah drastis tapi, jika benda sebesar itu sampai ke daratan maka, hantaman yang luar biasa akan terjadi.

Tapi, ini tidak merubah fakta jika satelit buatan dapat dihancurkan. Setelah Shidou menyampaikan rasa terima kasihnya pada Natsumi, Shidou mengalihkan pandangannya kearah Tohka.

“Ayo kita lakukan, Tohka!”

“Umu! Kapanpun yang kau mau!”

Setelah Shidou dan Tohka melihat satu sama lain dan mengangguk, mereka berdua bersiap untuk mengayunkan <Sandalphon> bersama-sama kearah target.

Awalnya, malaikat ini hanya memiliki satu eksistensi. Ini adalah [Sebuah keajaiban yang memiliki bentuk] yang mana benar-benar tidak ada satupun yang dapat menentang hal itu.

Dengan keajaiban itu, Shidou dan Tohka mengayunkan kebawah pedang mereka dengan bersama-sama.

“Uoooooooooooooou!”

“Haaaaaaaaaaaaaaaaa!”

Tebasan cahaya dari pedang yang dibuat oleh Shidou dan Tohka, membuat tanda silang dilangit dan meledak pada target.

Bagaimanapun, mungkin karena benda itu masih memiliki kekuatan <Bandersnatch>, sekalipun bentuknya berubah, benda itu masih memiliki territory untuk menangkis serangan yang dibuat oleh mereka berdua.

“Guh……….!”

Ini adalah serangan dari kekuatan Malaikat. Sangatlah tidak mungkin territory <Bandersnatch> dapat menahan serangan itu dengan mudah. Tapi, tidak hanya Tohka saja yang kelelahan melawan <Bandersnatch>; menjadi orang biasa yang dapat menggunakkan kekuatan Malaikat milik Roh-----tubuh Shidou telah mencapai batas kemampuannya karena kekuatan yang dia gunakan berkali-kali. Serangan itu sedikit merusak territory dan mendekati Babi besar itu seakan-akan jika serangan itu menggetarkan sedikit benda besar itu.

“Kuh------!”

Sedikit lagi. Sungguh, sedikit lagi pasti berhasil. Bagaimanapun, dia tidak dapat memenuhi kalimat "sedikit lagi" itu, tidak perduli apa yang dia coba lakukan.

Antara Yoshino atau Kaguya atau Yuzuru atau Miku. Jika salah satu dari mereka dapat memberikan bantuan maka kemungkinan besar benda itu akan hancur tapi-------Yoshino dan yang lainnya masih dikepung oleh sejumlah <Bandersnatch> dan tidak dapat bergerak.

“Jika, ini, terus menerus seperti ini------“

Shidou membuat ekspresi kekesalan dan salah satu lututnya jatuh ke tanah.

“<Haniel>!”

Natsumi mengangkat sapu yang digenggam oleh tangan kanannya dan berteriak lagi.

Karena dia melihat Shidou dan Tohka tidak dapat menghancurkan Tuan Babi besar itu, dia berencana untuk merubah bentuk benda besar itu lagi. Tidak, bukan seperti itu------ dia akan melakukan itu dari awal jika itu memungkinkan. Lalu apa yang sedang dia……….

Ketika Shidou memikirkan hal itu, Natsumi lalu melanjutkan kalimat yang dia teriakkan.

“------[Kaleidoscope]”

Dengan seketika.

Jelmaan Malaikat berbentuk sapu yang dipegang oleh Natsumi mulai berubah.

Seluruh permukaan sapu ditutupi dengan warna misterius seperti pantulan warna prisma dan beberapa saat kemudian.

“Huh……….!?”

Shidou membuka lebar matanya dengan terkejut ketika dia melihat itu ditangan Natsumi.

Itu adalah [pedang].

Pedang dengan lebar yang hampir sama seperti lebar tubuh Natsumi. Pedang itu memiliki penyangga emas yang berkilau dan gagang hitam. Ya-----


---Pedang Malaikat <Sandalphon> ada disana.


“Apa yang kau lakukan pada Shidou…………! Satu-satunya orang yang boleh mengganggunya----------hanyalah akuuuuuuuu!”

Setelah Natsumi berteriak, dia lalu mengayunkan dengan keras dengan kemampuannya <Sandalphon> kearah Tuan Babi.

“<Sandalphon>………….!”

Ketika dia melakukan itu, pedang dilapisi dengan cahaya dan Natsumi melakukan gerakan serangan pada target seakan-akan jika dia mengikuti gerakan ahli pedang.

Tidak hanya bentuknya saja. Tidak diragukan lagi pedang yang Natsumi buat memiliki kekuatan yang sama seperti <Sandalphon> yang asli.

Shidou, Tohka dan juga----Natsumi.



Serangan <Sandalphon> dari mereka bertiga, menyerang beruntun kearah territory target.

Territory yang mengelilingi Tuan Babi, membuat suara seakan-akan jika tembok tipis itu retak-----dan benar-benar hancur.

Jika Territory telah hancur, tidak ada lagi yang akan melindungi maskkot itu yang mana hanya memiliki ukuran yang besar. Territory telah hancur berkat serangan pedang yang mereka bertiga lakukan, Tuan Babi membuat suara khas komuk seperti didalam manga dan mengeluarkan------banyak sekali chupa chups bertebaran kebawah seperti hujan.

* * *

BAGIAN KEDELAPAN

“Shidou……….san!”

“Kuku, kau berhasil”

“Setuju. Hebat sekali”

“Aah, darling sangat keren--”

Setelah berhasil menghancurkan satelit buatan. Setelah menghancurkan semua <Bandersnatch>, Yoshino, Kaguya, Yuzuru dan Miku pergi kearah Shidou, Tohka dan Natsumi. Kelihatannya mereka sedikit terluka tapi, mereka baik-baik saja.

Setelah Shidou mendesah lega melihat keadaan saat ini, dia lalu menundukan kepalanya kearah semuanya.

“Semuanya…………..terima kasih. Jika hanya aku…………..aku tidak dapat menyelamatkan semuanya yang ada di Kota. Sungguh, terima kasih banyak”

Ketika Shidou mengatakan itu, mereka semua yang ada disana menggeleng-gelengkan kepala mereka.

“Aku sudah memberitahumu Shidou. Kita semua mencoba untuk menolongmu”

“Aku juga, menyukai…………..kota ini”

“Ufufu, aku juga berpikir seperti itu. Biarkan kami ikut membatu sebanyak apapun”

“Fuu……….yah, ini adalah tanda rasa terima kasih. Jika tidak begitu, kita semua tidak akan ada disini sekarang”

“Setuju. Meskipun sebanyak ini belumlah cukup untuk membalas kebaikanmu”

“Itu benar. Aku akan sangat senang ketika aku menulis lagu baru, sekalipun hanya darling saja yang mendengarnya”

Setelah mengatakan itu, semuanya *nii* tersenyum. Shidou menggaruk pipinya disaat membuat senyum yang masam dan-----berkata [Terima kasih] lagi.

Tapi, disekitar mereka, disana ada satu orang yang tidak mengatakan apa-apa dan kelihatannya akan pergi dari tempat itu.-----dia adalah Natsumi.

“Natsumi!”

“………………..!”

Ketika Shidou mengatakannya, Natsumi membuat kejangan dengan pundaknya dan berdiri disana.

Dia lalu melihat perlahan-lahan kearah Shidou dan yang lainnya, dan *fuun* menggerutu dengan sikap seakan-akan jika dia sedikit takut.

“……….Ad-ada apa. Apa kau mencoba untuk mengatakan seharusnya aku datang lebih cepat? Atau mungkin, kau ingin bilang jika aku sangatlah mengganggu ketika berubah menjadi permen dan bersembunyi di sakumu……….?”

Lagi-lagi pemikiran buruk, dia mengatakan itu. Setelah Shidou membuat senyum masam pada sikap Natsumi yang tidak pernah berubah itu, dia *fuu* membuat desahan.

“------Aku senang kau selamat”

“Eh………”

Ketika Shidou mengatakan itu, Natsumi membuka lebar matanya dan masih berdiri disana.

“Ap-apa…….yang telah kau katakan. Aku…………..bersembunyi semauku…………..dan terus membuat masalah untukmu……….”

Disaat mengatakan itu dengan kesulitan, tubuh Natsumi mulai sedikit gemetaran.

“Bahkan sebelum itu………Aku melakukan banyak hal yang buruk sekali pada kalian semua……..tapi meskipun begitu, kenapa, kenapa………….”

Kalimat yang dia katakan mulai bercampur dengan suara tersedu-sedu. Air mata yang sangat banyak mulai berjatuhan dari mata zamrud hijaunya dan suaranya semakin besar.

“Apa………yang sebenarnya kalian lakukan, kalian semua………! Apa kalian bodoh, apa kalian bodoh…….!? Aku tidak mengerti…..! Kenapa, kenapa kalian semua sampai………..!”

Bagian akhir dari kalimat bukanlah sebuah kata. Air mata mengalir di pipinya dan dia mulai menangis dengan keras.

“U-ue…………,ku, uaa,aaaaaaaaaaaaa, uaaaaaaah-----“

“O-oi, Natsumi………”

Shidou tidak pernah berpikir jika dia akan menangis. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, Shidou menggerakan tangannya dengan tergesa-gesa untuk menenangkan Natsumi. Mungkin karena mereka menyadari situasi ini, Tohka dan yang lainnya mencoba untuk membuat tenang Natsumi agar berhenti menangis juga.

Tapi, Natsumi tidak berhenti menangis dan---------melanjutkan, menggemakan tangisannya diiringi suara.

“Ma……….maaf………..Aku melakukan sangat banyak hal buruk……………..menyebabkan masalah untuk semuanya………maaf……………kalian telah berbuat baik padaku tapi…………..Aku minta maaf telah mengatakan hal-hal yang buruk………..”

Bahkan meskipun dia menangis tersedu-sedu, Natsumi terus berbicara. Dia terus melanjutkan kalimatnya seakan-akan jika dia mencoba untuk melepaskan semua emosi yang telah terkumpul dalam hatinya sampai sekarang.

“Ketika kalian semua memijatku………Aku sangat senang……….ketika kalian semua memotong rambutku…………Aku sangat senang………., ketika kalian semua memilihkan pakaian untukku…….Aku sangat senang……….., ketika kalian semua menata rias wajahku…………Aku sangat senang………uh, ketika semua orang bilang jika aku sangatlah manis…………Aku sangat senang………..!”

“Bahkan……..ketika Aku merasa senang………….aku tidak mengatakannya pada waktu itu…………maaf………….”
Natsumi melihat pada Shidou dengan mata yang agak merah karena menangis.


“……….Terima…………kasih”


Setelah Shidou membuka lebar matanya, dia melihat pada Tohka dan yang lainnya. Tohka dan Roh lainnya juga membuat ekspresi yang sama.

Tapi, dengan seketika mereka mengatakan sesuatu dan melihat Natsumi.

“Jangan khawatir. Kita berterima kasih juga. Tanpa kau, Aku tidak akan berpikir kalau semua ini akan berhasil”

“……….dan juga, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Bagaimanapun juga dia selalu memperdulikanku”

“Aku mengerti”

Setelah Shidou mengatakan itu, dia membuat desahan kecil sebelum mengulurkan tangan kanannya pada Natsumi.

“Errr……….soal itu. Aku berjanji padamu kau bisa pergi kemana saja yang kau mau setelah semua ini selesai……….”

Setelah mengatakan itu, Shidou kali ini melihat pada mata Natsumi.

“-----Bisakah kita………..menjadi teman?”

“……………..uh”

Natsumi menarik nafasnya dengan terkejut dan melihat pada Shidou, Tohka dan yang lainnya.
Setelah itu, perlahan-----dalam sikap yang agak kaku, Natsumi menggenggam tangan Shidou sebelum, mengangguk.

“U………u……….u………uaaaaaaaaaaaaa, uaaaaaaaaaaaaaa”

Dan lagi-lagi, air mata mulai mengalir dan dia mulai menangis lagi.

“Aaah--, oh darling, kau membuat Natsumi-chan menangis lagi--”

“Hu-huuh!?”

Miku mengatakan itu sambil menggodanya. Shidou mengejangkan pundaknya.

“Aku tidak akan membiarkan Natsumi-chan diganggu orang seperti itu. Oleh karena itu, Natsumi-chan ayo kita menjadi teman juga—“

“Mu! Shidou, jangan membuat Natsumi menangis. Ayo kita berteman juga!”

“A-ah-no……..err…….a-aku juga…….”

“Yoshinon juga---! Yoshinon juga---!”

“Kuku, sangatlah berbahaya jika membiarkan tubuhmu diberikan pada Shidou. Baiklah, Natsumi. Aku mengizinkanmu untuk menjadi saudara perempuanku”

“Setuju. Tidak ada yang tahu jenis tindakan mesum apakah yang Shidou akan lakukan padamu. Yuzuru dan yang lainnya akan melindungimu.

Dan, melanjutkan kata-kata Miku, semua mulai berbaur dengan Natsumi juga. Shidou tidak bisa menahan semua ini dan mengeluarkan suaranya.

“O-oi, kalian semua! Jangan berbicara hal-hal yang membuat kesalah pahaman tentangku!”

Setelah Shidou berteriak, semuanya mulai tertawa.

Shidou lalu melihat kearah Natsumi-----dan disana masih ada air mata yang tersisa di pipi Natsumi, Shidou membuat ekspresi seakan-akan jika dia melihat sesuatu yang baru pertama kali dia lihat.

Itu adalah------senyuman yang sangat manis.

Date A Live Jilid 9 Bab 10 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.