01 Desember 2015

Clockwork Planet Jilid 1 Epilog LN Bahasa Indonesia



Clockwork Planet
EPILOG
RE-START (00:00)

Naoto dan RyuZU berjalan di sepanjang jalan sambil berpegangan tangan.
Marie dan Halter mengikuti mereka dari belakang.
Lokasi mereka adalah Grid Kyoto, tingkat ke-27 menara inti, di tangga spiral menuju area terdalam.
Jalur ini kelihatan seolah-olah jalur ini akan menuju jauh ke bawah tanah. Jalur ini sempit, dan sedikit gelap. Bisa dibilang, jalur ini adalah mulut sebuah gua yang menuju neraka.
“Apa ini jalan yang benar, RyuZU?”
“Ya. Benar.”
Naoto tidak menunjukkan rasa takut apapun saat dia menuju ke neraka, dia kelihatan bersemangat saat dia berjalan ke depan.
Ada sebuah alasan sederhana.
Alasannya adalah–
Saat Naoto buru-buru menuruni tangga spiral itu, bibirnya mulai mengendur.
“Tepat di depan kita adalah–adik perempuan RyuZU, AnchoR! Sebuah automata dengan kapabilitas super tinggi…!”
Dia kelihatan siap untuk memonopolinya.
“Master Naoto!”
“Eh? Woah!”
RyuZU tiba-tiba memanggil dan mencengkram tangan Naoto.
Tapi Naoto tidak bisa berhenti karena kelebihan momentum.
Dia terpeleset–dan tubuhnya terlempar keluar tangga.
“–!!”
Keringat dingin mengucur dari seluruh tubuhnya.
Tangga spiral itu rusak di pertengahan jalan, dan ujungnya telah menjadi gua menuju neraka sungguhan. Jika RyuZU tidak mengulurkan tangannya, Naoto akan jatuh ke dalam neraka tadi.
“Hei hei, hati-hati. Kau baru saja berhasil menyelamatkan nyawamu.”
Halter bercanda sambil mencengkram kerah Naoto dan menariknya naik.
“A-Aku selamat…”
Naoto merasa lega karena rasa kokoh di bawah kakinya, dan bicara dengan ragu,
“Tidak, tunggu sebentar. Harusnya ada jalan disini, dan adik RyuZU ada di dalam, kan? Sekarang, jalannya rusak. Apa yang terjadi?”
“…Sepertinya jalannya ambruk karena guncangan dari penghapusan tadi.”
Marie berlutut untuk memeriksa bagian tangga spiral yang terputus, dan menjawab,
Setelah mendengar hal ini, Naoto kelihatan seolah-olah dunia akan berakhir,
“I-I…itu itu tidak mungkin…mengapa, tinggal sedikit lagi—si-sial, SIAAAALAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN”
Itu adalah tangisan jiwa.
Dia mengeluarkan suara penuh derita yang akan menyeret siapapun menuju neraka, dan berlutut di lantai.
Dia menangis.
Dia menjerit keras, mengabaikan imejnya saat dia mengayunkan tinjunya ke tangga spiral itu.
Apa yang lahir di dalam neraka gelap di dekatnya adalah penderitaan yang terlalu kuat, dan di hadapan penderitaan itu, dia merasa seberapa kecil dirinya itu saat penderitaan tersebut terus menyiksa jiwa remaja berumur 16 tahun miliknya itu.
Berteriaklah sampai tenggorokanku kering.
Hancurkan setiap sel di dalam tubuhku karena aku gagal menyelamatkan dia.
Anak yang menyelamatkan 20 juta jiwa merasakan keputusasaan yang mendalam karena dia gagal menyelamatkan nyawa satu automata, dan dalam rasa bersalahnya yang besar itu, mau tidak mau dia hanya bisa menjerit dan menangis.
Marie bergumam saat dia melihat Naoto sedang berduka seperti itu,
“Biarpun kau terus menangis dan berteriak seperti itu…”
“Diam! Apa kau mengerti rasa sakit yang kualami ini? Aku baru saja kehilangan hadiah terhebat umat manusia yang tidak bisa dibandingkan dengan milyaran nyawa orang–!”
“Aku akan mengabaikan hadiah terhebat umat manusia yang kau katakan tadi–!”
Marie menekan pelipisnya sendiri,
“Tapi jika ada automata seperti itu disini, benda itu harusnya sudah dipindahkan, kan?”
“–Eh?”
Naoto berhenti menangis dan mengangkat kepalanya sambil terkejut.
Marie melihat ke atas tangga spiral itu, dan berkata,
“Sudah diputuskan kalau tempat ini akan diambrukkan. Jika ada sebuah seri Initial-Y disini, ‘militer’ seharusnya tahu nilai automata tersebut…kecil kemungkinan kalau mereka hanya akan meninggalkannya disini.”
RyuZU mengangguk tanda setuju dengan kata-kata Marie,
“–Ya. Bahkan orang-orang itu yang memilih metode penghapusan sembrono untuk kota ini, dan yang tingkat kecerdasannya di bawah orang-orang idiot sampai-sampai orang idiot sendiri akan marah besar saat dibandingkan dengan mereka, gadis itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah mereka dapatkan. Namun, jika mereka tidak memahami nilai keberadaannya, hamba harus mencurigai apakah mereka benar-benar punya otak. Hamba sungguh berpikir kalau pandangan Master Marie sangat masuk akal.”
Naoto merasa skeptis mengenai kata-kata itu, dan bertanya,
“…Tunggu, RyuZU, kalau begitu, apa kau sudah mengira hal ini sejak awal?”
“Ah, tolong maafkan hamba, Master Naoto. Hamba saat ini sedang bertanya-tanya apakah ‘otak anda itu tidak ada’.”
Setelah melihat RyuZU membungkuk dengan wajah tidak terkesan, Naoto menurunkan bahunya dengan sedih.
Dia ambruk ke lantai, dan bergumam saat dia melihat lubang menuju bagian dalam planet, neraka itu sendiri,
“…A-apa yang sedang kulakukan…mengambil resiko sebesar itu dan membuat RyuZU dalam bahaya.”
“Tapi itu tidak buruk. Setidaknya kau berhasil menyelamatkan 20 juta jiwa.”
“Itu tidak bagus sama sekali!”
Naoto melotot ke arah Marie dengan tatapan penuh dendam sambil berteriak,
Dia mengingat kembali peristiwa yang terjadi hari ini.
Hari ini cukup baik. Dia berkencan dengan RyuZU, menikmati keimutannya, dan dimarahi olehnya–Sebuah ingatan yang menghangatkan hati dan penuh kebahagiaan.
Apa yang terjadi setelah itu? Setelah dia bertemu dengan gadis sialan yang gila dan suka kekerasan, dia dengan segera jatuh dari Surga menuju Neraka. Dia tertipu oleh semua retorika yang gadis itu buat, terperangkap di tengah-tengah badai, dan setelah melalui banyak situasi yang mengancam nyawa, dia berakhir dalam keadaan menyedihkan seperti ini.
“Aku melalui semua itu tanpa alasan yang bagus…sialan!”
“Berhenti mengeluh. Toh kau berhasil mengubah takdir planet ini.”
Saat Naoto menghela napas panjang, Marie berkata dengan riang.
Dan kemudian,
“Dan kau membantuku memutuskan sesuatu.”
“…Ha?”
Naoto mengeluarkan teriakan terkejut.
Namun, Marie mengabaikan Naoto saat dia membalikkan badannya untuk melihat pria besar di sampingnya.
“Halter.”
Dia berkata.
“Hm?”
“Aku akan melanjutkannya.”
Saat Marie tersenyum lembut, Halter menghela napasnya,
“…Aku tidak akan menghentikanmu, tapi satu pertanyaan saja–apa benar tidak apa-apa?”
Wajah Marie tetap seberani sebelumnya saat menghadapai pertanyaan Halter.
Dia memantapkan kakinya di anak tangga dan tangannya diletakkan di pinggulnya sambil membusungkan dadanya dengan angkuh, tubuh mungilnya berdiri tegak saat dia menghadap Halter.
Mata zamrudnya hanya menunjukkan harapan dan kepercayaan diri.
Itu adalah sebuah mimpi.
Itu adalah kehendak yang tolol dan nostalgis tapi juga terhormat, yang hanya bisa dilihat anak kecil.
Halter menyaksikan kilatan matanya yang teguh, dan merasa iri saat dia tersenyum masam, kemudian mengangguk dan berkata,
“…Baiklah aku akan mengikutimu sampai saat terakhir, Profesor Marie.”
Marie mengangguk puas, dan Naoto, yang berdiri di bawah mereka, memiringkan kepalanya,
“Ngomong-ngomong, apa yang kalian bicarakan…?”
“Ini urusanku–bukan, urusan kita.”
Marie menoleh ke arah Naoto dengan senyuman nakal.
“Maaf Naoto, tapi mengenai rekomendasi ke akademi, kau anggap hal itu tidak pernah terjadi saja oke?”
“Eh?”
Naoto tidak bisa memahami Marie dan dia berseru tak percaya.
Setelah melihat reaksi pemuda itu, Marie membalikkan badannya dengan bibirnya yang melengkung.
Marie melangkah pergi dengan elegan, membiarkan punggungnya yang kecil tapi juga lebar dilihat Naoto saat mantel musim panasnya tersibak. Kemudian Halter mengikutinya dari belakang.
“Hei, Marie?”
Marie melambaikan tangan kecilnya pada Naoto tanpa membalikkan badannya.
Dia berkata dengan riang,
“–Sampai jumpa lagi, Naoto.”
“Master Naoto, ini adalah gerakan ‘ahhn’.”
…Bagaimana aku menjelaskan situasi saat ini? Naoto tanpa sadar bertanya-tanya.
Sebuah peristiwa terjadi saat istirahat makan siang, di sebuah kelas di SMA Tadasu no Mori.
Para siswa yang membawa kotak makanannya sendiri daripada pergi ke kafetaria sedang menikmati makan siang mereka di tempat biasa.
Dan diantara mereka, Naoto dan RyuZU memilih hal yang sama di tengah ruang kelas.
Seminggu berlalu sejak insiden itu.
Penghapusan, konspirasi antara ‘Militer” dan ‘Guild”, krisis RyuZU, dan adiknya–
Semuanya kembali normal dalam seminggu, seakan-akan mimpi buruk telah usai.
Benar, semuanya kembali normal.
Dia sudah terbiasa melihat mata kosong dan jentikan lidah dari teman-teman sekelasnya.
Dia kembali ke kehidupan sehari-harinya, kembali seperti saat dia belum bertemu Marie.
Jika dia harus berkata begitu–
“Master Naoto, apa telinga anda tidak merasa tidak enak? Atau mata anda? Atau pikiran anda?”
Naoto menutup matanya saat dia ditanyai begitu.
Meja mereka disatukan, dan RyuZU membuka kotak makan buatan sendiri yang dia buat dengan susah payah, terlalu menempel pada Naoto, dan membuat suasana manis dan panas yang memuakkan saat RyuZU mengambil lauk sambil berkata,
“Master Naoto, ‘Ah’.”
–Mati sana.
Naoto tidak bisa menahan tatapan protes tanpa kata yang memenuhi kelasnya, dan hanya bisa menelan lauk yang disajikan padanya dengan kasar.
Benar, jika dia harus menyinggung hal yang berbeda, hal itu berupa RYuZU yang mengikuti sekolah dengan sikap seolah biasa saja, dan juga sebuah skandal yang belum pernah terjadi sebelumnya yang diliput 24 jam.
–Sebuah konspirasi gagal untuk mengambrukkan Kyoto.
Berdasarkan laporan anonim yang dikirim ke banyak studio, ‘pemerintah’, ‘militer’, dan ‘Meister Guild’ telah bersekongkol untuk menghancurkan sebuah kota dan membantai 20 juta penduduk. Setelah fakta ini bocor ke publik, seluruh dunia jatuh dalam kekacauan.
Laporan ini tidak hanya membocorkan informasi relevan yang berhubungan dengan insiden itu sendiri, laporan itu juga mengungkapkan sejumlah besar informasi yang jelas dirahasiakan dan laporan internal mencurigakan lainnya.
Informasi tersebut termasuk kebenaran dari insiden pembunuhan bersejarah, detail negosiasi antara pemerintah dan perusahaan-perusahaan, daftar mata-mata yang memasuki negara tertentu, pangkalan rahasia ‘militer’ yang tidak pernah ditulis di peta, senjata illegal milik mereka yang melanggar perjanjian, beberapa anggota ‘guild’ yang melakukan eksperimen manusia secara rahasia, dan lain-lain…
Perdana Menteri Jepang telah mengakui penghapusan yang coba dilakukan oleh ‘militer’, dan dia bertanggungjawab akan hal itu.
“Tidak salah lagi ini adalah sebuah serangan teroris.”
Seorang komentator terkenal di studio tertentu mengindikasikan begitu.
“Sebuah penghapusan tentunya adalah masalah serius, tapi apa yang terjadi disini itu terlalu berlebihan.”
Dan kata-kata ini menyebabkan banyak kontroversi dan kritikan tajam.
Selain itu, pada siaran televisi pagi tertentu, koresponden asing Limonz mendadak pingsan dan dikirim ke rumah sakit setelah sebuah rekaman bocor; rekaman itu melibatkan dirinya yang memerintahkan orang lain untuk membunuh teknisi jam muda yang jenius Marie Bell Breguet, umur 16 tahun, dan untuk menutupi insiden itu. Hasilnya, Penyokong Limonz, Perusahaan Vachron, menjadi diawasi, dan mengalami beberapa keributan dan boikot, mengakibatkan penurunan bisnis berjangka lama bagi mereka.
Namun, dalam seluruh angin ribut skandal yang menyapu dunia ini, hanya keluarga Breguet yang berhasil tetap selamat–karena ada sebuah cerita romantis seorang Putri Presiden Perusahaan yang dibunuh saat mencoba menyelamatkan kota sampai saat-saat terakhirnya.
Entah kenapa, imej gadis blonde yang kasar dan sedang tersenyum dengan riang memasuki pikiran Naoto setelah semua keributan ini, tapi–
“…Ah, bodoh amat.”
Bagi Naoto, yang tidak peduli dengan kejadian di dunia ini, peristiwa-peristiwa ini tidak membuatnya terlalu khawatir.
Dengan kata lain, semuanya kembali normal, selain dari adanya RyuZU bersamanya.
..Walaupun itulah masalah terbesarnya.
“Master Naoto, karena anda tidak belajar, hamba rasa otak anda sudah rusak atau semacamnya–”
Dan saat RyuZU memberinya lauk lain, Naoto berkata,
“Oi! Setidaknya bisakah sadari pandangan dari sekeliling! Jika stres bisa membunuh, aku akan–”
Di titik ini, Naoto menelan kata-katanya kembali.
RyuZU seperti biasanya, tersenyum anggun dan santai.
Di momen itu, sepertinya Naoto telah menyadari sesuatu. Dia mulai memahami ‘keinginan bebas’ RyuZU–hal menakjubkan mengenai ‘hati sungguhan’ yang dimiliki automata.
–Anda berani tidak memakannya saat hamba membuat makanan ini untuk anda, Master Naoto?
“Maaf. Aku akan menghabiskannya.”
“Mengapa tidak anda lakukan sejak tadi? Apa ini permainan stres?”
“Bukan! Ada pandangan membunuh dari semuanya di kelas saat ini, tahu!? Yang benar saja…”
Di momen ini,
Naoto membeku saat dia melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Entah mengapa, seorang pria paruh baya berkepala botak dengan tinggi lebih dari 2m berdiri di luar ruang kelas, kemudian mengintip ke seluruh kelas dengan pandangan tajam yang tidak cocok dimiliki seseorang yang bekerja di lapangan pendidikan.
…Apa itu?
Semuanya berhenti mengobrol karena tekanan tanpa kata-kata ini.
Pria itu melewati ambang pintu, dan berjalan gugup menuju meja guru.
Dia bukanlah seorang guru.
Perlu digarisbawahi juga kalau dia itu bukan orang Jepang.
Yang lebih perlu digarisbawahi adalah sebagian tubuhnya bukanlah tubuh manusia.
Tubuh berotot pria itu dibalut setelan kelabu dan sebuah kacamata hitam tebal terpasang di atas hidungnya. Bibir sinisnya tertutup rapat dan menunjukkan pesona maskulin seperti bintanang liar yang berbahaya.
Selain itu, ada suara sibernetik yang ditingkatkan yang hanya bisa didengar Naoto.
Pria itu berkata,
“Ah, ini mendadak, tapi namaku Vainney Halter dan saat ini aku adalah wali kelas ini mulai dari sekarang. Aku tidak tertarik pada bocah, jadi buang saja surat cinta atau permintaan kencan untukku ke tempat sampah. Ada pertanyaan lain?”
“…Lagi ngapain lo?”
Naoto tanpa sadar bicara dalam dialeknya.
Entah kenapa dia telah memprediksi hal ini, Naoto memegang kepalanya; namun yang mengerikan adalah rangkaian peristiwa mengejutkan ini belum berakhir.
Saat dia melihat para siswa terdiam setelah ditekan olehnya, Halter mengangguk.
Dia terdengar seperti dia berasal dari sebuah batalion militer tertentu saat dia berkata,
“Untuk mengefektifkan waktu, aku akan mengenalkan siswa pindahan baru pada semuanya—masuk.”
“Baiklah.”
Matahari telah datang. Naoto berpikir begitu.
Seorang gadis pirang berkulit putih memasuki kelas.
Rambut pirang cerahnya diikat menjadi dua dan tergerai di belakang telinganya. Mata zamrudnya yang besar bercahaya kuat di atas kulit lembutnya.
Gadis itu mengenakan seragam standar dengan elegan saat dia berdiri di podium dengan sopan.
Ukuran tubuhnya mirip dengan Naoto, tapi harga diri dan rasa percaya dirinya yang meluap membuat gadis itu kelihatan jauh lebih tinggi.
Semua siswa terpaku karena mereka seolah-olah melihat seorang pemimpin agung dengan pancaran cahaya di belakangnya.
Naoto juga tidak bisa berkata apapun.
Gadis itu tersenyum, dan dengan cepat bicara riang.
“Namaku Maribel Halter. Orang-orang bilang kalau kami mirip, tapi aku berbeda dari orang itu. Panggil saja Marie jika kalian mau. Mohon bantuannya.”
Setelah mengatakan hal itu, dia membuat sebuah isyarat elegan.
Dan di momen itu, mata zamrud yang melirik ke arah Naoto berkedip seperti seekor predator yang melihat mangsanya.
Tentu saja–tidak peduli cara orang-orang melihat situasi ini, orang ini adalah Marie Bell Breguet.
Tubuh Naoto tidak bisa bergerak saat dia menatap Marie dengan kosong.
“……Nggak, beneran, lagi ngapain lo?”
Dia tanpa sadar bicara dengan dialek aslinya–kemudian berteriak.
Sepulang sekolah, ada 4 sosok manusia di atap SMA Tadasu no Mori ini, dimana jarang orang-orang berkumpul.
Karena langit merah yang dipisahkan oleh ‘Equator Spring’, siluet hitam menara ini kelihatan sangat amat mencolok saat matahari terbenam.
Naoto berhadapan dengan gadis yang memanggil dirinya Maribel Halter saat gadis itu bersandar di pagar atap dan melihat jalanan Kyoto, Naoto menghela napas dan berkata,
“…Jadi, bisa jelaskan apa yang terjadi?”
“Hah? Bukannya sudah kubilang kalau kita akan bertemu lagi?”
“Tidak mungkin aku mengira kata-kata itu sebagai tanda kalau kau akan pindah ke sekolahku!”
Marie membalikkan badannya, dan tersenyum lebar,
“Kau terkejut, kan? Iya kan?”
“Kau benar-benar menyebalkan!!”
Naoto melengkungkan bibirnya dan melirik ke arah Marie,
“Aku akan bilang ini kalau kau tidak tahu. Publik mengira kalau kau sudah terbunuh.”
“Tentu saja aku tahu. Akulah orang yang membocorkannya!”
Marie melebarkan lengannya sambil tersenyum jahat.
“Berkat hal itu, seluruh dunia sedang dalam kekacauan besar! Memuaskan sekali melihat orang-orang tak berguna dan mengganggu itu saling menyalahkan satu sama lain dan melarikan diri mereka! Sangat menyenangkan! Heehee♪!”
“Oi, jangan keras-keras.”
Halter menepuk ringan kepala botaknya sambil berbisik,
“Kami sudah memperkirakan kalau kau akan membocorkan insiden ini ke media, tapi aku tidak pernah mengira kalau kau membocorkan semua informasi tanpa memedulikan kerahasiannya begitu saja. Apa kau ini iblis atau semacamnya?”
“Apa kau bodoh? Mengapa orang mati memikirkan hal-hal seperti itu?”
“Para politisi dan tentara di dunia telah dipenggal kepalanya, tahu?”
“Memangnya nasib orang-orang rendahan macam mereka itu urusanku? Aku melakukannya karena alasan itu, tahu?”
“…Kalau begitu, apa tujuanmu?”
RyuZU menatap curiga pada Marie.
“Saya tidak tertarik mengenai perbuatan anda, Master Marie, tapi saya akan merespons dengan balasan fisik jika anda berniat untuk menggunakan Master Naoto untuk alasan yang aneh-aneh.”
“Hah, itu bukan cara yang bagus untuk mengatakan sesuatu, kan? Aku hanya berharap dia sedikit membantuku.”
“Membantu…?”
Naoto bergumam, dia merasa curiga. Kemudian Marie mengacungkan jarinya.
“Sederhana saja.”
Marie berkata,

“–Hanya untuk menyelamatkan dunia.”

“…………………………………Apa?”
Setelah keheningan yang panjang, Naoto mengangkat alisnya.
Di tengah-tengah rasa suka citanya, Marie melanjutkan,
“Aku membocorkan semua dalang yang kutahu kali ini, tapi itu cuma ujung gunung es. Masih banyak segala jenis konspirasi licik, korban yang ditutup-tutupi, dan anomali kota.
“…Terus?”
“Aku berniat untuk memasuki tempat-tempat seperti itu yang tidak dipedulikan orang-orang karena politik atau persekongkolan dan memperbaiki semua kerusakan itu sesuai yang kumau, dan menghentikan semuanya seperti yang baru saja terjadi kali ini. Aku tidak akan mendapat hadiah maupun ucapan terimakasih apapun, tapi merasa senang mengenai hal itu pastinya sesuatu yang pantas, kan?”
Naoto berkata,
“Kau ini kenapa? Kau punya chuunibyou atau semacamnya?”
“Lebih tepatnya, masa berontak. Aku akan melawan balik masyarakat busuk ini.”
Rock on. Marie mengisyaratkan itu.
Naoto menatap dingin padanya, dan bertanya,
“…Ini tidak ada hubungannya denganku, tapi apa alasanmu pindah ke sekolah ini?”
“Yah, alasannya sih banyak, tapi alasan terbesarnya adalah kamuflase.”
“Kamuflase…?”
Setelah melihat Naoto memiringkan kepalanya, Marie tersenyum lebar,
“Apa kau tahu pijakan sempurna untuk mengejar mimpimu?”
Naoto memiringkan kepalanya.
“Tidak.”
“Pijakan itu–adalah menjadi seorang teroris!”
Marie melanjutkan dan tersenyum berbahaya,
“Tidak ada tanggungjawab, tidak ada batasan. Yang kuperlukan hanyalah menyatakan sebuah cita-cita konyol dan membuat keributan.”
“…Bukannya itu terlalu tidak beralasan.”
“Tidak apa-apa. Anak-anak memang berhak untuk bicara semaunya.”

–Marie Bell Breguet tidak pernah menyatakan pikirannya yang sebenarnya.
Dan dia tidak pernah sanggup melakukannya.
Karena itu terlalu konyol. Sampai titik ini, impiannya hanyalah sebuah cita-cita yang konyol dan tidak mungkin tercapai.
Barangkali dia dapat menyelamatkan ‘Clockwork Planet’ ini.
Barangkali dia dapat memperbaiki seluruh planet yang ada di ambang antara kehancuran dan usia lanjut ini.
Barangkali dia dapat meniru desain planet ini yang telah lama menghilang.
Barangkali dia dapat mencapai taraf yang diduduki ‘Y’, yang tidak pernah bisa diraih oleh siapapun.
Dia punya firasat jika dia bekerja bersama dengan Naoto, dia bisa memenuhi mimpi ini–inilah alasannya yang sebenarnya.

“Yah, identitasku sebagai seorang siswa hanyalah bonus. Karena tawaran ke akademi hilang seperti kertas kosong, aku akan mengajarimu secara pribadi sebagai kompensasi. Berterimakasihlah, tahu?”
“Hm…yah, aku berterimakasih mengenai hal itu–hei? Tunggu, aku harus mengikutimu?”
“Tentu saja. Aku akan menggunakan tubuhmu sebagai biaya pelajarannya.”
“Pastinya ada batasan soal penawaran semacam itu kan!?”
…Saat dia menyaksikan senda gurau mereka.
Halter bertanya-tanya.
Apa tuan putri itu menyadari hal ini?
Tak diragukan lagi, sederhananya, keputusannya itu berarti dia mengambil ‘tempat dewa’.
 
 Si jenius itu dan si berbakat itu tentunya telah melangkah menuju alam itu.
Di hadapan fakta seperti itu, Halter mau tidak mau mengingat kembali mimpi nostalgis yang dia miliki saat dia masih muda–tapi keraguan yang dia miliki tentu saja…
“Ya ampun. Sepertinya aku mulai menua…”
Dia menggaruk kepalanya dan menghela napas.
Dan, dia bcara pada automata yang menyaksikan Naoto dan Marie dari jarak yang sedikit jauh,
“…Hei, Missy, RyuZU.”
“Biarpun saya ingin menyalahkanmu mengenai sikapmu yang cukup sok kenal, ada apa?”
“Seberapa banyak yang kau tahu?”
“Jadi bahkan inti dari kata-katamu juga dibentuk oleh sampah, dasar tambalan sampah. Kau sudah belajar untuk bicara dengan spesifik kan?”
Setelah mendengar lidah beracunnya, Halter tersenyum kecut dan bertanya,
“Saat itu kau bilang kalau Naoto pasti akan melakukannya. Apa kau sudah memahami semuanya yang telah terjadi?”
–Setiap aspek sangat amat hebat.
‘Kejeniusan’ Marie, ‘kekuatan super’ Naoto, dan ‘Gir Imajiner’ RyuZU.
Grid ini akan jatuh ke bawah tanah jika salah satu saja dari mereka tidak memiliki aspek itu.
Sedikit deviasi apapun dari momen saat kontainer itu terjatuh tidak akan menyebabkan hasil seperti itu.
–Yang lebih penting, automata inilah yang membawa Naoto ke menara inti.
Pukulan telaknya adalah petunjuk keberadaan ‘AnchoR’, yang menyebabkan Naoto mengambil keputusannya.
Tapi automata ini jelas tahu kalau ‘AnchoR’ tidak akan ada disana.
Seharusnya begitu.
“Sepertinya kau salah di suatu tempat. Saya adalah ‘Yourslave’–bukan orang yang menuntun jalan.”
…Pada akhirnya, bisakah sebuah automata berbohong?
Saat Halter menyipitkan matanya dan penasaran mengenai hal itu, RyuZU hanya tersenyum sedikit,
“Tapi, bagaimana kalau ini? apa kau tahu istilah–‘gir takdir’?”
“…”
Terbentang menembus langit adalah sumber tenaga yang menggerakkan semua gir di planet ini.
RyuZU mendongak ke arah ‘equator spring’ yang menggunakan tarikan gravitasi Bulan, dan melanjutkan kata-katanya.
“Dunia ini dibangun hanya menggunakan gir–kalau begitu, saya merasa kalau gir seperti itu memang ada. Struktur tubuh saya tidak mengandung hal yang kebetulan; semuanya berjalan sesuai yang diperlukan–inilah yang saya pikirkan sebagai automata.”
–Filosofi automata.

Kata-kata itu berdering di pikiran Halter seperti setengah mekanis.
Dia menantikan dua jenius (idiot) yang mungkin bisa mengubah dunia ini.
“Ah, Naoto. Kau boleh merasa senang. Aku punya beberapa berita disini. Sepertinya ada sebuah anomali di Tokyo.”
“…Apa kau bisa bilang alasan mengapa aku harus merasa senang mengenai hal itu?”
“Sebenarnya, AnchoR mungkin telah dipindahkan kesana.”
“Baiklah, buka sampanyenya! Malam ini kita berpesta! Kita juga harus bersiap-siap untuk perjalanannya!”

…Ya ampun.
Halter tersenyum kecut.
“Ngomong-ngomong, bagaimanapun takdir akan membimbing kita, kurasa bukan hal yang buruk untuk sedikit mengantisipasinya, kan?”
Hari dimana dunia berakhir–dan terlahir kembali. Pikiran seperti itu berlarian di pikirannya.
Dengan perasaan nostalgia dan antisipasi, Halter menggosok kepala botaknya saat dia menantikan masa depan ini dengan sedikit harapan.


—Tik tok, tik tok.

Gir itu terus berputar.

Dengan teratur, mekanis, tidak berhenti sama sekali.

Dan juga, mereka melanutkan menghitung waktu yang terus ada.

Bahkan jika jam berhenti, itu tidak berarti apa-apa.

Bahkan ketika rusak atau bengkok, roda waktu akan terus berputar.

Dengan teratur, mekanis, tidak berhenti sama sekali.


Tik tok, tik tok—


–Mereka hanya ada untuk terus berputar ke arah yang seharusnya mereka lalui.

Clockwork Planet Jilid 1 Epilog LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.